Anda di halaman 1dari 7

DEGRADASI PENDIDIKAN DI INDONESIA

Berbicara mengenai pendidikan dinegeri ini memang tidak akan pernah ada habisnya. Didalam UU No.20/2003 tentang sistem pendidikan Nasional, tercantum pengertian pendidikan, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya sehingga memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan oleh dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Dari segi kualitas pendidikan di Indonesia sangat memprihatinkan. Ini di buktikan antara lain dengan data UNESCO pada tahun 2000 tentang peringkat Indeks pembangunan manusia (Human Develelopment Indeks) yaitu komposisi dari peringkat dari pencapaian pendidikan, kesehatan, dan penghasilan per kepala yang menunjukkan bahwa Indeks pembangunan manusia Indonesia (Human Develelopment Indeks) makin menurun. Diantara 174 negara di dunia, Indonesia menempati urutan ke 102 pada tahun 1996, ke 99 pada tahun 1997, ke 105 pada tahun 1998, dan 109 pada tahun 1999. Kualitas pendidikan di Indonesia yang rendah itu juga di tunjukkan data Balitbang tahun 2003 bahwa dari 146.052 SD (Sekolah Dasar) di Indonesia ternyata hanya 8 sekolah saja yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Primary Years Program. Dari 20.918 SMP (Sekolah Menengah Pertama) di Indonesia ternyata juga hanya 8 sekolah yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Middle Years Program. Dan dari 8.036 SMA (Sekolah Menengah Atas) ternyata hanya 7 sekolah saja yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Diploma Program. Perkembangan dan perubahan yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara di dalam negeri dan isu-isu mutakhir dari luar negeri yang dapat mempengaruhi kehidupan masyarakat dan bangsa Indonesia merupakan hal-hal yang harus segera ditanggapi dan dipertimbangkan dalam penyusunan kurikulum baru pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Pertama, dengan diluncurkannya beberapa peraturan perundang-undangan yang baru telah membawa implikasi terhadap paradigma pengembangan kurikulum pendidikan dasar dan menengah antara lain pembaharuan dan diversifikasi kurikulum, serta pembagian kewenangan pengembangan kurikulum. Kedua, dengan perkembangan dan perubahan global dalam berbagai aspek kehidupan yang datang begitu cepat telah menjadi tantangan nasional dan menuntut perhatian segera dan serius. Ketiga, dengan kondisi masa sekarang dan kecenderungan di masa yang akan datang perlu dipersiapkan generasi muda termasuk peserta didik yang memiliki kompetensi yang multidimensional. Keempat, dengan mengacu pada ketiga hal tersebut maka pengembangan kurikulum masa sekarang harus dapat mengantisipasi persoalan-persoalan yang mempunyai kemungkinan besar sudah dan atau akan terjadi. Dewasa ini dunia pendidikan di Indonesia telah terjadi degradasi baik konsep dan teknisnya. Hal ini dipicu dengan banyak sekali perubahan-perubahan kurikulum pembelajaran di Indonesia yang menuntut dunia pendidikan di Indonesia untuk lebih maju. Tetapi hasilnya adalah pembaharuan kurikulum tidak sepenuhnya dapat memajukan dunia pendidikan di Indonesia walaupun kurikulumnya dibuat dengan konsep yang jelas dan rinci dengan harapan dapat memajukan pendidikan di Indonesia. Sesuai dengan kenyataan bahwa dunia pendidikan di Indonesia mengalami degradasi, contohnya yaitu prestasi anak

negeri yang masih bisa dihitung dengan jari, kondisi politik-ekonomi-sosialbudaya yang tak mencerminkan pelakunya berpendidikan tinggi, dan tak menjunjung nilai-nilai moralitas-universal. Hal ini tentu saja dilatarbelakangi oleh standar kurikulum yang belum menyesuaikan dengan tingkat SDM (Sumber Daya Manusia) anak negeri. Sedangkan perubahan-perubahan kurikulum pembelajaran di Indonesia belum maksimal diterapkan sebagaimana mestinya sesuai apa yang tercantum dalam kurikulum pembelajaran. Masih banyak sekolah-sekolah menggunakan sistem sendiri dalam menunjang pembelajaran agar lebih mengena ke peserta didiknya. Sungguh memprihatinkan, banyak sekali kecurangankecurangan dalam dunia pendidikan yang mempengaruhi generasi masa depan. Menurut survey di beberapa tempat pendidikan, masih banyak peserta didik yang mengaku kesulitan menangkap pelajaran yang diberikan disekolahnya, hal ini dikarenakan materi pembelajaran kurang menarik. Adapun lima masalah pokok yang mendasari permasalahan pada sistem pendidikan di Indonesia yaitu pertama adalah masalah kurikulum. Sejak kemerdekaan tahun 1945, kita telah mengenal 10 macam kurikulum, yaitu kurikulum kurikulum tahun 1947, 1949, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, 2004, dan terakhir 2006. Pergantian kurikulum yang semakin cepat mempengaruhi perubahan politik sehingga dalam waktu 7 tahun setelah merdeka, kita telah menerapkan 3 kurikulum. Dari segi komponen , kurikulum paling tidak mengandung 5 komponen, yaitu tujuan, materi, metode atau kegiatan belajar, sumber belajar yang terdiri dari alat, bahan, serta komponen penilaian (evaluasi). Jika kita menilik dari berbagai jenis kurikulum yang telah diterapkan, maka secara garis besar bahwa ke lima komponen yang tersebut diatas pada dasarnya sudah ada disetiap kurikulum yang pernah diterapkan dalam dunia pendidikan di Indonesia. Namum yang menjadi masalah adalah karena kurikulum tersebut yang bersifat fleksibel, maka pemberlakuan isi kurikulum tersebut memang disesuaikan dengan waktu dan situasi tertentu sesuai dengan tuntutan zaman. Perubahan isi kurikulum inilah yang menjadi masalah, mengingat pemberlakuannya cukup sulit untuk dapat diterapkan serentak secara nasional. Akibatnya hanya wilayahwilayah tertentu saja yang dapat mengikuti perkembangan kurikulum tersebut, sementara wilayah lain boleh jadi tidak mengenal kurikulum yang sedang diberlakukan, dan tiba-tiba saja sudah diganti menjadi kurikulum yang baru. Secara umum ada beberapa pendekatan perkembangan kurikulum yang pernah diterapkan dalam pengembangan kurikulum yang diterapkan dalam dunia pendidikan di Indonesia. Pendekatan tersebut antara lain yaitu dari awal kemerdekaan sampai pertengahan tahun 1960-an pendekatan berbasis materi (content based approach), akhir tahun 1960-an sampai dengan pertengahan tahun1980-an pendekatan berbasis kompetensi (competence based approach) dan pendekatan belajar tuntas (mastery learning approach), akhir tahun 1980-an sampai dengan awal 1990-an pendekatan berbasis outcome (outcome based approach), tengah tahun1990-an sampai dengan sekarang pendekatan berbasis standar (standard based approach). Melihat beberapa pendekatan yang telah dilakukan dalam rangka pembenahan kurikulum tersebut dapat ditarik benang merah bahwa penerapan kurikulum hanyalah perubahan desain isi kurikulum tersebut. Dan inilah masalah yang timbul ketika kita akan menerapkan kurikulum yang disesuaikan dengan tuntutan jaman.

Kedua adalah masalah metode yang erat kaitannya dengan peran guru dalam menyampaikan materi pembelajaran. Berbicara masalah metode pengajaran ini, tentu saja akan banyak mendapatkan masalah, karena kebanyakan guru dalam menyampaikan materi pelajaran kepada siswa hanya dengan metode yang klasik yaitu metode ceramah dan tanya jawab saja. Akibatnya proses pembelajaran yang terjadi lebih terpokus pada guru. Sementara peserta didik kurang aktif. Ketiga adalah masalah sarana fisik, banyak sekali sekolah dan perguruan tinggi kita yang gedungnya rusak, kepemilikan dan penggunaan media belajar rendah, buku perpustakaan tidak lengkap. Sementara laboratorium tidak standar, pemakaian teknologi informasi tidak memadai dan sebagainya. Bahkan masih banyak sekolah yang tidak memiliki gedung sendiri, tidak memiliki perpustakaan, tidak memiliki laboratorium dan sebagainya. Data Balitbang Depdiknas (2003) menyebutkan untuk satuan SD(Sekolah Dasar) terdapat 146.052 lembaga yang menampung 25.918.898 peserta didik serta memiliki 865.258 ruang kelas. Dari seluruh ruang kelas tersebut sebanyak 364.440 atau 42,12% berkondisi baik, 299.581 atau 34,62% mengalami kerusakan ringan dan sebanyak 201.237 atau 23,26% mengalami kerusakan berat. Kalau kondisi MI(Madrasah Ibtidaiyah) diperhitungkan angka kerusakannya lebih tinggi karena kondisi MI lebih buruk daripada SD pada umumnya. Keadaan ini juga terjadi di SMP, MTs(Madrasah Tsanawiyah), SMA, MA(Madrasah Aliyah), dan SMK(Sekolah Menengah Kejuruan) meskipun dengan presentase yang tidak sama. Keempat adalah masalah guru, permasalahan tenaga pendidikan dapat di dekati dengan pendekatan macrocosmics. Pendekatan makrokosmics berarti permasalahan guru di kaji dalam kaitannya faktor-faktor laindi luar guru. Faktorfaktor yang mempengaruhi kualitas guru yaitu rendahnya kualitas guru. Keadaan guru di Indonesia juga amat memprihatinkan. Kebanyakan guru belum memiliki profesionalisme yang memadai untuk menjalankan tugasnya sebagaimana disebut dalam pasal 39 UU No 20/2003 yaitu merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan, melakukan pelatihan, melakukan penelitian dan melakukan pengabdian masyarakat. Walaupun guru dan pengajar bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan pendidikan tetapi, pengajaran merupakan titik sentral pendidikan dan kualifikasi, sebagai cermin kualitas, tenaga pengajar memberikan andil sangat besar pada kualitas pendidikan yang menjadi tanggung jawabnya. Kualitas guru dan pengajar yang rendah juga dipengaruhi oleh masih rendahnya tingkat kesejahteraan guru. Faktor kedua yaitu rendahnya kesejahteraan guru. Rendahnya kesejahteraan guru mempunyai peran dalam membuat rendahnya kualitas pendidikan Indonesia. Berdasarkan survei FGII (Federasi Guru Independen Indonesia) pada pertengahan tahun 2005, idealnya seorang guru menerima gaji bulanan serbesar Rp 3 juta rupiah. Sekarang, pendapatan rata-rata guru PNS(Pegawai Negeri Sipil) per bulan sebesar Rp 1,5 juta. guru bantu Rp, 460 ribu, dan guru honorer di sekolah swasta rata-rata Rp 10 ribu per jam. Dengan pendapatan seperti itu, terang saja, banyak guru terpaksa melakukan pekerjaan sampingan. Ada yang mengajar lagi di sekolah lain, memberi les pada sore hari, menjadi tukang ojek, pedagang mie rebus, pedagang buku/LKS, pedagang pulsa dan ponsel, dan sebagainya. Dengan adanya UU Guru dan Dosen, barangkali kesejahteraan guru dan dosen (PNS) akan lebih sejahtera. Pasal 10 UU itu sudah memberikan jaminan kelayakan hidup. Di dalam pasal itu disebutkan guru dan dosen akan mendapat penghasilan yang

pantas dan memadai, antara lain meliputi gaji pokok, tunjangan yang melekat pada gaji, tunjangan profesi, dan atau tunjangan khusus serta penghasilan lain yang berkaitan dengan tugasnya. Mereka yang diangkat Pemkot(Pemerintah Kota) atau Pemkab(Pemerintah Kabupaten) bagi daerah khusus juga berhak atas rumah dinas. Tapi kesenjangan kesejahteraan guru swasta dan negeri menjadi masalah lain yang muncul. Di lingkungan pendidikan swasta, masalah kesejahteraan masih sulit mencapai taraf ideal. Diberitakan Pikiran Rakyat 9 Januari 2006, sebanyak 70 persen dari 403 PTS(Perguruan Tinggi Swasta) di Jawa Barat dan Banten tidak sanggup untuk menyesuaikan kesejahteraan dosen sesuai dengan amanat UU Guru dan Dosen (Pikiran Rakyat 9 Januari 2006). Faktor lainnya yaitu status guru di masyarakat. Kualitas guru tidak bisa dilepaskan dari kompensasi yang mereka terima dan status guru di masyarakat. Namun, kompensasi atau gaji guru tidak bisa dilepaskan dari kondisi ekonomi suatu Negara. Artinya perbandingan gaji guru antar negara akan tidak sesuai kalau dilihat dari sisi kemakmuran bangsa tersebut. Gaji guru di Malaysia lebih besar dibandingkan dengan gaji guru di Indonesia, secara absolut. Namun, perbandingan akan berbeda manakala kedua gaji tersebut diperbandingkan akan berbeda manakala kedua gaji tersebut diperbandingkan dengan pendapatan perkapita negara masing-masing. Oleh karena itu, bukan hanya gaji yang penting melainkan bagaimana dukungan masyarakat dan pemerintah bagi kesejahteraan dan status guru. Kelima adalah masalah evaluasi. Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam komponen kurikulum diatas, bahwa salah satunya adalah terkait dengan masalah evaluasi. Secara umum evaluasi dapat diartikan proses sistematis meliputi pengumpulan informasi(angka atau diskripsi verbal), analisis, interpretasi informasi untuk mengambil keputusan. Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk melakukan evaluasi terhadap proses kegiatan belajar mengajar antara lain untuk kerja (performance), penugasan (project), hasil (product), tes tulis (paper and pen), portofolio dan penilaian sikap. Adapun manfaat dari pelaksanaan evaluasi tersebut adalah untuk mengadakan kegiatan remedial, pengayaan serta perbaikan program dan kegiatan selanjutnya. Dari permasalahan-permasalahan diatas yang mendegradasikan pendidikan di Indonesia membutuhkan solusi tepat agar degradasi pendidikan di Indonesia tidak berlarut-larut terjadi. Penyelesaian masalah mendasar tentu harus dilakukan secara fundamental. Itu hanya dapat diwujudkan dengan melakukan perombakan secara menyeluruh yang diawali dari perubahan paradigma pendidikan sekular menjadi paradigma Islam. Tentunya hal ini sangat penting dan utama. Ibarat mobil yang salah jalan, maka yang harus dilakukan yaitu langkah awal adalah mengubah haluan atau arah mobil itu terlebih dulu, menuju jalan yang benar agar bisa sampai ke tempat tujuan yang diharapkan. Tidak ada artinya mobil itu diperbaiki kerusakannya yang macam-macam selama mobil itu tetap berada di jalan yang salah. Setelah membetulkan arah mobil ke jalan yang benar, barulah mobil itu diperbaiki kerusakannya yang bermacam-macam. Artinya, setelah masalah mendasar diselesaikan, barulah berbagai macam masalah cabang pendidikan diselesaikan, baik itu masalah rendahnya sarana fisik, kualitas guru, kesejahteraan gutu, kurikulum, kesempatan pemerataan pendidikan, relevansi pendidikan dengan kebutuhan, metode , dan evaluasi. Solusi masalah mendasar itu adalah merombak total asas sistem pendidikan yang ada, dari asas sekularisme diubah menjadi asas memadukan ( terintegrasi ) IMTAQ (Iman dan Taqwa) dan IPTEK

(Ilmu Pengetahuan dan Teknologi) kepada peserta didik. Bentuk nyata dari solusi mendasar itu adalah mengubah total UU Sistem Pendidikan yang ada dengan cara menggantinya dengan UU Sistem Pendidikan yang terintegrasi. Hal paling mendasar yang wajib diubah tentunya adalah asas sistem pendidikan. Sebab asas sistem pendidikan itulah yang menentukan hal-hal paling prinsipil dalam sistem pendidikan, seperti tujuan pendidikan dan struktur kurikulum. Seperti diuraikan di atas, selain adanya masalah mendasar, sistem pendidikan di Indonesia juga mengalami masalah-masalah cabang, antara lain masalah kurikulum, metode mengajar guru, kesejahteraan guru, fasilitas sarana fisik, evaluasi, dan rendahnya relevansi pendidikan dengan kebutuhan. Untuk mengatasi masalah-masalah cabang di atas, secara garis besar ada dua solusi yaitu, Pertama, solusi sistemik, yakni solusi dengan mengubah sistem-sistem sosial yang berkaitan dengan sistem pendidikan. Seperti diketahui sistem pendidikan sangat berkaitan dengan sistem ekonomi yang diterapkan. Sistem pendidikan di Indonesia sekarang ini, diterapkan dalam konteks sistem ekonomi kapitalisme, yang berprinsip antara lain meminimalkan peran dan tanggung jawab negara dalam urusan publik, termasuk pendanaan pendidikan. Maka, solusi untuk masalah-masalah cabang yang ada, khususnya yang menyangkut perihal pembiayaan seperti rendahnya sarana fisik, kesejahteraan guru, dan mahalnya biaya pendidikan berarti menuntut juga perubahan sistem ekonomi yang ada. Akan sangat kurang efektif jika menerapkan sistem pendidikan dalam atmosfer sistem ekonomi kapitalis yang kejam. Maka sistem kapitalisme saat ini sebaiknya dipadukan ekonomi yang menggariskan bahwa pemerintah bersama seluruh pihak yang terkait yang bertanggung jawab terhadap pembiayaan pendidikan. Kedua, solusi teknis, yakni solusi yang menyangkut hal-hal teknis yang berkait langsung dengan pendidikan. Solusi ini misalnya untuk menyelesaikan masalah kualitas guru dan prestasi siswa. Disamping itu penguasaan guru atas bidang studi yang akan di ajarkan kepada para siswa merupakan sesuatu yang mutlak sifatnya. Sebab dengan materi bidang studi tidak saja guru akan mentransformasikan ilmu pengetahuan kepada peserta didiknya, tetapi lebih dari pada itu, dengan materi bidang studi itu guru akan menanamkan disiplin, mengembangkan critical thinking, mendorong kemampuan untuk belajar lebih lanjut, dan yang tidak kalah penting adalah menanamkan nilai-nilai yang terkandung dalam ilmu pengetahuan itu sendiri pada diri peserta didik. Manajemen pendidikan yang sentralitis, dengan menempatkan pengambilan keputusan yang tidak menguntungkan bagi usaha meningkatkan kualitas kerja guru. Oleh karena itu keputusan tentang bagaimana proses belajar mengajar harus di laksanakan yang di tentukan dari atas sulit untuk dapat diterima akal sehat. Sebab, justru guru yang paling tahu apa yang harus di lakukan. Pemberian otonomi yang lebih besar kepada guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar akan memberi rasa tanggung jawab lebih besar kepada guru. Rasa tangung jawab ini mutlak diperlukan dalam meningkatkan kualitas guru. Dengan pendekatan microcosmics dapat di deskripsikan bahwa keberhasilan guru sangat tergantung pada kemampuan dan dedikasi guru di satu pihak motivasi dan di pihak lain adalah usaha keras dari peserta didik. Oleh karena itu , guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar harus mampu membangkitkan semangat untuk berprestasi di kalangan peserta didik. Maka, solusi untuk masalah-masalah teknis dikembalikan kepada upaya-upaya praktis untuk meningkatkan kualitas

sistem pendidikan. Rendahnya kualitas guru, misalnya, di samping diberi solusi peningkatan kesejahteraan, juga diberi solusi dengan membiayai guru melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, dan memberikan berbagai pelatihan untuk meningkatkan kualitas guru. Rendahnya prestasi peserta didik, misalnya, diberi solusi dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas materi pelajaran, meningkatkan alat-alat peraga dan sarana-sarana pendidikan, dan sebagainya. Jadi kesimpulannya degradasi pendidikan di Indonesia dapat diatasi dengan banyak cara tetapi harus di laksanakan tepat sasaran. Jika ada solusi maka tentunya interpretasikan solusi itu secara nyata dan pelaksanaannya juga harus maksimal. Oleh karena itu berantaslah segala hal yang dapat menyebabkan degradasi pendidikan di Indonesia dengan semangat anak negeri untuk memajukan dunia pendidikan.

Daftar Pustaka UNESCO. (2000). Human Develelopment Indeks, diakses dari http://www.unesco.org/ tanggal 20 Mei 2011 pukul 15.00 WIB. Balitbang. (2003). Data kualitas pendidikan di Indonesia, diakses dari http://www.balitbang.depdiknas.go.id tanggal 20 Mei 2011 pukul 15.20 WIB. Anonim. (2009). Masalah pendidikan di Indonesia , diakses dari http://www.pendidikan.net tanggal 20 Mei 2011 pukul 15.30 WIB.

Biodata
Nama Alamat Asal Alamat Surabaya Usia Asal Universitas Tempat Mengajar No. Hp Email No. Rekening : Ika Novitasari : Jl. Ketapang 2D/10 RT 19 RW 02, Suko, Sukodono, Sidoarjo (61258) : Perumdos ITS Jl. Arsitektur blok J /17, Surabaya : 19 Tahun : Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) :: 085648068675 : ie_uryuu@yahoo.co.id : 0177818821