Anda di halaman 1dari 10

BAB II TINJAUAN KEPUSTAKAAN 2.

1 Definisi Kata bisinosis berasal dari perkataan Yunani byssos yang berarti fine flax atau fine linnen yang dihasilkan tanaman flax. Penyakit Bisinosis adalah penyakit pneumoconiosis yang disebabkan oleh pencemaran debu napas atau serat kapas di udara yang kemudian terhisap ke dalam paru-paru. Debu kapas atau serat kapas ini banyak dijumpai pada pabrik pemintalan kapas, pabrik tekstil, perusahaan dan pergudangan kapas serta pabrik atau bekerja lain yang menggunakan kapas atau tekstil; seperti tempat pembuatan kasur, pembuatan jok kursi dan lain sebagainya.(1) Dalam literature lain juga dikatakan bisinosis adalah Bisinosis adalah penyakit paru akibat kerja dengan karakterisasi penyakit saluran uclara akut atau kronis yang dijumpai pada pekerja pangolahan kapas, rami halus, dan rami.(2). Umumnya penyakit paru lingkungan berlangsung kronis menetap kadang-kadang sulit diketahui kapan mulainya, terpapar oleh polutan jenis apa atau saat pekerja bekerja di bagian mana dari tempat kerjanya mendapatkan paparan. Lebih-lebih kalau pekerja juga seorang perokok. Pasien umumnya mengeluh sesak napas, batuk-batuk, mengi, batuk mengeluarkan dahak. Pasien penyakit paru kerja umumnya mengeluh penyakit paru (asma) timbul atau makin berat apabila is berada di tempat kerja dan mengurang lagi apabila keluar dari tempat tersebut. Karena polutan berefek tidak hanya pada paru tetapi juga pada organ di luar paru, maka pasien juga bisa mengeluh akibat proses-proses-di luar paru yang mungkin timbul. (3)

2.2

Prevalensi Prevalens i asma akibat kerja berbeda antara satu bangsa dengan

yang lain dan bergantung pada lingkungan pekerjaan. Menurut perkiraan, 2% dari semua asma adalah asma akibat kerja. Di Jepang diduga bahwa 15% dari semua asma pada pria disebabkan akibat kerja dan di Amerika 4% dari

populasi, yaitu sekitar 9 jute orang menderita asma akibat kerja. Schilling pernah melaporkan adanya bisinosis yaitu suatu jenis asma akibat debu kapas pada sekitar 20-80% karyawan pemintalan, seda ng di Mesir hal ya ng mama pernah dilapor ka n pada 90% karya wa n terpajan. Di Indonesia, Kamen melaporkan bisinosis pada 30% kar ya wa n

p e mi nt a l a n da n 19, 2 5% karyawan pertenunan. Kemajua n industri t elah meni mbulka n kecenderungan kenaikan prevalensi a s ma dibanding dengan kota yang bukan industri. (4) di banya k

negara. Di J epang prevalensi as ma pada anak di kota industri lebih tinggi

2.3 Epidemiologi Pekerja-pekerja yang bekerja di lingkungan pabrik tekstil, yang mengolah kapas sejak penguraian kapas, pembersihan, pemintalan dan penenunan, semuanya termasuk mempunyai risiko timbulnya byssinosis. Diketahui bahwa di masing-masing bagian tersebut kadar/konsentrasi debu kapas tidak sama, maka besarnya risiko juga berbeda-beda. Studi klinis sebelumnya melaporkan bahwa angka kejadian bronkitis kronis pada para pekerja pabrik tekstil sekitar 4,5-26%. Pekerja yang bekerja pada bagian pembersihan kapas untuk dipintal, pembersihan mesin-mesin tersebut mempunyai risiko paling tinggi terjadinya bissinosis.(3)

2.4 Etiologi Penyebab yang sebenarnya tidak diketahui tapi secara umum diterima bahwa penyakit ini disebabkan pajanan terhadap kapas, rami halus, dan rami. Ada beberapa bukti bahwa debu Boni dapat jugs mengakibatkan keadaan yang sama. Pekerja kapas yang paling berisiko adalah mereka yang berada di kamar peniup dan penyisir tempat pajanan terhadap debu kapas mentah paling tinggi. Mereka yang bertanggung jawab untuk membersihkan mesin peniup (Ian mein penyisir, misalnya pembersih dan penggiling memiliki risiko yang paling tinggi.(2)

2.5 Patofisiologi Sesudah debu inorganik dan bahan pertikel terinhalasi akan melekat pada permukaan mukosa saluran napas (bronkiolus respira-torius, duktus alveolaris dan alveolus) karena tempat tersebut basah sehingga mudah ditempeli debu. Pada awalnya 'paru memberikan respons berupa inflamasi dan fagositosis terhadap debu tadi oleh makrofag alveolus. Makrof megmfagositosis debu dan membawa partikel debu ke bronkiolus terminalis. Di situ dengan gerak mukosiliar debu diusahakan keluar dari paru. sebagian partikel debu diangkut ke pembulub limfe sampai limfonodi regional di hilus paru. Bila paparan debu banyak, di mana gerak mukosiliar sudah tidak mampu bekerja, maka debu/partikel akan tertumpuk di permukaan mukosa saluran napas, akibatnya partikel debu akan tersusun membentuk anyaman kolagen dan fibrin dan akibatnya paru (saluran napas) menjadi kaku sehingga compliance paru menurun. Penyakit paru akibat tertimbunnya debu/partikel di paru atau saluran napas disebut pneumoconiosis. Sesudah terjadi pneumokoniosis, misalnya paparan debu sudah berhenti, maka fibrosis paru yang telah terjadi tidak dapat hilang.(2) Kelainan pam pada pasien byssinosis berupa bronkitis kronis, yang kadangkadang disertai wheezing, diduga erat hubungannya dengan adanya endotoksin (suatu lipopolisakarida) yang dikeluarkan oleh bakteri yang mengkontaminasi partikel debu dan kapas. Endotoksin inilah yang diduga sebagai penyebab timbulnya kelainan paru tadi. Para ahli telah yakin bahwa endotoksin ini adalah sebagai penyebabnya dikuatkan oleh percobaan-percobaan simulasi
(3)

yang

telah

dikerjakan pada pekerja atau hewan coba di laboratorium

2.6 Klasifikasi Schilling pada tahun 1955 membagi bisinosis secara klinis yang ditandai dengan huruf C dalam derajat Cl dan C2. Kemudian Schilling dan Watford pada tahun 1963 menambahkan derajat C1/2 dan C3, sehingga derajat bisinosis dewasa ini dibagi dalam empat derajat sebagai berikut:  Derajat C1/2 : dada rasa tertekan dan atau sesak napas yang kadang-kadang

timbul pada hari Senin.  Derajat Cl : dada rasa tertekan dan atau sesak napas pada setiap hari Senin.  Derajat C2 : dada rasa tertekan dan atau sesak napas pada hari Senin dan hari kerja lainnya.  Derajat C3 : derajat C2 disertai sesak napas yang menetap. (5) 2.7 Gejala Klinik Penyakit ini memiliki ciri napas pendek dan dada sesak. Gejala paling nyata dialami pada hari pertama hari kerja seminggu ("Sesak pada senin pagi"). Nlungkin discrtai batuk yang lama-kelamaan menjadi basah berdahak. l'engukuran fungsi pare (sebelum dan sesudah giliran tugas) dapat mcnghasilkan penurunan FEV1 melampaui giliran tugas. Pada sebagian besar inctividu, tenntan ini akan berkurang atau hilang pada hari kedua bekerja. Dengan pajanan yang berkepanjangan, balk gejala man pun perubahan fungsi akan menjadi lebih berat clan mungkin akan menetap selama seminggu kerja. Pada pekerja yang sudah lama terpajan selama bertahun-tahun, adanya riwayat dispnoe saat melakukan kegiatan adalab temuan yang biasa. Tidak ditemukan tanda yang knas atau art tertentu pada petneriksaan ttsik. tick kroms memiliki ciri obstruksi jalan napas dan secara klinis tidak bisa dibedakan dengan bronki tis kronis dan emfisema. (2) Masa inkubasi penyakit bisinosis cukup lama, yaitu sekitar 5 tahun. Tanda-tanda awal penyakit bisinosis ini berupa sesak napas, terasa berat pada dada, terutama pada hari Senin (yaitu hari awal kerja pada setiap minggu). Secara psikis setiap hari Senin bekerja yang menderita penyakit bisinosis merasakan beban berat pada dada serta sesak nafas. Reaksi alergi akibat adanya kapas yang masuk ke dalam saluran pernapasan juga merupakan gejala awal bisinosis. Pada bisinosis yang sudah lanjut atau berat, penyakit tersebut biasanya juga diikuti dengan penyakit bronchitis kronis dan mungkin juga disertai dengan emphysema.(1)

2.8 Diagnosis Diagnosis bisinosis ditegakkan atas dasar gejala subjektif. Dalam bentuk dini bisinosis berupa dada rasa tertekan dan atau sesak napas pada hari kerja pertama sesudah hari libur akhir minggu (hari Senin). Gejala khas yang hanya ditemukan pada bisinosis itu disebut Monday feeling, Monday fever, Monday morning fever, Monday morning chest tightness atau Monday morning asthma yang dapat menghilang bila karyawan meninggalkan lingkungan tempat kerjanya. Keluhan bisinosis tersebut diduga disebabkan oleh karena obstruksi saluran napas. Obstruksi yang terjadi setelah karyawan terpapar pada hari Senin disebut obstruksi akut. Bila karyawan tidak disingkirkan dari lingkungan kerjanya yang berdebu, obstruksi akut yang mula-mula reversibel akan menjadi menetap. Maka obstruksi saluran napas tersebut sudah ditemukan pada hari Senin sebelum karyawan terpapar. Obstruksi demikian disebut obstruksi kronik. (5) Pendekatan diagnosis pada pasien dengan penyakit paru lingkungan maupun penyakit paru kerja memerlukan aktivitas proses diagnosis yang lazim, yaitu meliputi anamnesis secara sistematik, lengkap dan terarah, pemeriksaan fisis dan beberapa pemeriksaan penunjang yang diperlukan. Anamnesis Dalam penegakan diagnosis penyakit paru lingkungan atau penyakit paru kerja, maka anamnesis tentang riwayat pekerjaan atau lingkungan merupakan suatu alat yang amat berguna dalam menentukan apakah suatu problem respirasi ada hubungannya dengan suatu paparan debu tertentu. Pertanyaan pada anamnesis hams sistematis, lengkap (detil), kronologis. Anamnesis rneliputi pertanyaan tentang :
y

Riwayat penyakit pain dan kesehatan umum Adanya keluhan : sesak napas, batuk batuk, batuk berdahak, napas berbunyi (mengi), kesulitan napas.

Adanya riwayat merokok, jenis rokok, jumlah rokok yang dikonsumsi rerata tiap hari.

y y

Problem pernapasan sebelumnya, obat-obatan yang dikonsumsi. Bagi pekerja apakah ada hari-hari tidak dapat masuk kerja dan apa alasannya.

Kapan keluhan-keluhan di atas mulai dan apakah ada hubungan dengan pekerjaan.

Riwayat penyakit dahulu apakah sebelumnya menderita : asma, atopi, penyakit . kardiorespirasi.

Paparan bahan-bahan yang pemah diterimanya : kebisingan, getaran, radiasi, zat-zat kimiawi, asbes dan sebagainya.

Riwa yat pekerjaan


y y y y

Daftar pekerjaan yang pernah dialami sejak awal (kronologis). Aktivitas kerja dan material yang digunakan tiap posisi (bagian tugas). Lama dan intensitas paparan bahan pada tiap posisi kerja. Alat proteksi kerja yang digunakan (respirator, sarong tangan, baju pelindung kerja dan sebagainya).

y y

Kecukupan ventilasi ruang kerja. Selain seorang pekerja apakah pekerja-pekerja lain juga terkena paparan dan berefek pada kesehatannya.

y y y

Tugas tambahan lain yang dialami. Paparan lain (yang dialami) di luar tempat kerja Penyakit-penyakit yang pemah diderita (kronologis) yang ada hubungannya dengan paparan bahan di tempat kerja atau lingkungan.

Pemeriksaan Fisis Periksalah selumh tubuh, termasuk : a). Paru :suara mengi, ekspirasi diperpanjang, ronki kering, ronki basah dan ada daerah dada yang retraksi (saat inspirasi), b). Jantung :coronary artery disease, gagal jantung kongestif, c). Lainnya, obesitas, keadaan neuromuskuloskeletaljari tabuh. Pemeriksaan Penunjang Foto toraks. Merupakan tes diagnostik yang amat penting terutama untuk

pneumokoniosis. Dalam beberapa keadaan diagnosis penyakit paru sudah dapat ditegakkan dengan foto toraks dan riwayat paparan yang tepat (silikosis, coal

workers' pneumonkoniosis ataupun asbestosis dengan kelainan pleural), meskipun ada penumonkoniosis simtomatis tetapi foto toraks normal. Computed Tomography (CT) Scanning. Penggunaan tes diagnostik ini sekarang meningakt utamanya untuk deteksi asbestosis. Hal ini karena hasil deteksi adanya asbestosis dengna foto toraks konvensional kurang sensitif, kesalahan sekitar 10-15%. Lebih tepat lagi hasilnya apabila menggunakan High-resolution computed tomographic (HRCT) Scanning, dapat lebih baik dalam mengevaluasi kelainan pada pleura maupun parenkim paru. Tes Fungsi Paru. Tes fungsi paru saat istirahat (spirometri, volume paru, kapasitas difusi), merupakan tes diagnostik yang penting untuk menentukan status fungsi paru pasien dengan penyakit paru kerja, terlebih pada proses interstitial. Meskipun hasil tes fungsi paru tidak spesifik untuk beberapa penyakit paru kerja, tetapi amat penting untuk evaluasi sesak napas, membedakan adanya kelainan paru tipe restriktif atau obstruktif dan mengetahui tingkat gangguan fungsi paru. Selain itu tes fungsi paru dapat dipakai untuk diagnosis adanya kelainan obstruksi saluran napas (adanya hiperreaktif bronkus dengan tes bronkodilator atau tes provokasi memakai paparan bahan-bahan yang diambil dari tempat kerja atau lingkungannya). Tes provokasi untuk menentukan diagnosa asma kerja mengunakan paparan bahan yang dicurigai sebagai pemicu serangan merupakan baku emas diagnosis asma kerja. Uji latih jantung paru dapat dilakukan untuk menilai gangguan fungsi dan progresivitas penyakit pada pasien dengan penyakit paru kerja tertentu. Selain itu juga dapat dipakai untuk menentukan penyebab sesak napas. Apakah dari paru, jantung atau penyebab lainnya. Bronkoskopi. Yang dilakukan adalah bronkoskopi dengan transbronkial biopsi atau lavage bronkoalveolar dapat membantu dalam diagnosis penyakit paru kerja. Biopsi transbronkial untuk mengambil spesimen untuk diagnosis pneumonitis atau fibrosis interstitial, proses granulomatosa interstitial (sarkoidosis, beriliosis,
9

pneumonitis hipersensitif, proses keganasan dan sebagainya). Bahan dari lavase bronko-alveolar dapat dipakai untuk mendeteksi (jenis) partikel debu penyebab penyakit paru kerja. (4)

2.9 Penanganan Bisinosis ringan atau dini kemungkinan masih reversibel sedangkan penyakit yang berat dan kronis tidak. Pasien dengan gejala khas clan menunjukkan penurunan FEV1 10% atau lebih harus dipindahkan ke daerah yang tidak terpajan. Pasien dengan penyumbatan jalan napas sedang atau berat, misalnya FEV1 lebih rendah dari 60% dari nilai yang diperkirakan, juga harus baik tidak terpajan lebih lanjut. (2) Pengobatan terpenting bagi pasien bisinosis adalah menyingkirkannya dari lingkungan kerja yang potensial risiko tinggi. Dalam pelaksanaannya biasanya para pekerja dilakukan putar kerja. Uji faal paru serial perlu dilakukan untuk mengetahui perubahan faal paru masing- masing pekerja pada akhir waktu tertentu. Tidak ada obat spesifik untuk bissinosis dan bila ada tanda-tanda obstruksi bronkus dapat diberikan bronkodilator.(6)

2.10

Pencegahan

 Kontrol kadar debu dalam lingkungan  Pemantauan medis agar bisinosis dan obstruksi saluran nafas dapat ditemukan dan dicegah sedini mungkin  Menggunakan alat pelindung diri  kontrol kesehatan rutin.(7)

10

BAB III KESIMPULAN

1. Penyakit Bisinosis adalah penyakit pneumoconiosis yang disebabkan oleh pencemaran debu napas atau serat kapas di udara yang kemudian terhisap ke dalam paru-paru. 2. Pekerja-pekerja yang bekerja di lingkungan pabrik tekstil, yang mengolah kapas semuanya termasuk mempunyai risiko timbulnya bissinosis. 3. Secara umum penyebab yang dapat diterima bahwa penyakit ini disebabkan pajanan terhadap kapas. 4. Diperkirakan pathogenesis penyakit ini yaitu sesudah debu inorganik dan bahan pertikel terinhalasi akan melekat pada permukaan mukosa saluran napas (bronkiolus respira-torius, duktus alveolaris dan alveolus) karena tempat tersebut basah sehingga mudah ditempeli debu. 5. Derajat-derajat bisinosis dibagi dalam Derajat C1/2, Derajat Cl, Derajat C2 dan Derajat C3. 6. Gejala klinik Penyakit ini memiliki ciri napas pendek dan dada sesak. Gejala paling nyata dialami pada hari pertama hari kerja seminggu ("Sesak pada senin pagi"). 7. Pendekatan diagnosis pada pasien dengan penyakit paru lingkungan maupun penyakit paru kerja memerlukan aktivitas proses diagnosis yang lazim, yaitu meliputi anamnesis secara sistetnatik, lengkap dan terarah, pemeriksaan fisis dan beberapa pemeriksaan penunjang yang diperlukan. 8. Pengobatan terpenting bagi pasien bissinosis adalah menyingkirkannya dari lingkungan kerja yang potensial risiko tinggi.

11

DAFTAR PUSTAKA

1. Hand

out,

teknologi

pengelolaan

kesehatan

masyarakat,

dalam;

www.medicastore-files.com 2. Suryadi, dr. 2010. Buku Ajar Praktik Kedokteran Kerja. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. 3. Sudoyo, A.W; Setiyohadi, B; Alwi, I; Simadibrta, MK; Setiati, S; 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta. 4. Baratwidjaja, GK; Harjono, KT;2001. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid II, ed. Ketiga. Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta. 5. Baratawidjaja, GK. 2010. Bisinosis dan hubungannya dengan obstruksi akut: penelitian pada karyawan perusahaan tekstil di Jakarta dan sekitarnya. Dalam http://www.lontar.ui.ac.id//opac/themes/libri2/detail.

jsp?id=83630&lokasi=lokal. Jakarta. 6. Darmanto, D; 2009. Respirologi (Respiratory Medicine). Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. 7. Susanto, DA. 2010. Bisinosis. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta.

12