Anda di halaman 1dari 29

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Nyeri otot dan pegal-pegal adalah pertanda tubuh kita sudah terlalu letih dan butuh dilenturkan. Menurut dr.Michael Triangto, Sp.KO, pakar kebugaran dan olahraga, nyeri otot tidak harus disebabkan oleh aktivitas fisik yang berat. Ada sekitar 650 otot yang membantu tubuh untuk bergerak. Otot terdiri dari serat yang dapat berkontraksi sehingga mampu memanjang dan memendek untuk menghasilkan gerakan. Tendon menghubungkan otot dengan tulang. Penggunaan otot melebihi kemampuannya akan berakibat terjadinya terkilir, disebut juga dengan otot yang tertarik. Sementara itu penggunaan yang berlebihan bagian tubuh tertentu dapat menyebabkan cedera otot ringan. Otot bukannya kehilangan kekuatannya tetapi terasa nyeri. Meskipun keluhan nyeri datang dan pergi tetapi sulit mengabaikan rasa tidak nyaman pada otot dan tubuh. Di samping bisa menggangggu dalam aktivitas sehari-hari, tidak jarang nyeri yang hebat bisa membuat kita sulit bergerak. Salah satu cara untuk mengatasi nyeri otot adalah dengan menggunakan obat nyeri otot topikal, penghilang rasa sakit melalui kulit, obat nyeri topikal dapat bertindak cepat dan dapat memberikan penghilang rasa sakit segera melalui rangsangannya pada syaraf pada ujung-ujung kulit. Obat nyeri topikal dapat berbentuk krim, salep, gel, lotion atau patch ( koyo ) yang diaplikasikan langsung pada kulit untuk memberikan bantuan dari rasa sakit saraf dan inflamasi. Zat aktif yang bisa digunakan untuk mengatasi nyeri otot topikal antara lain adalah metil salisilat dan mentol. Metil salisilat sebagai counter irritant, yaitu penghilang rasa sakit yang disebabkan nyeri visceral ( nyeri di organ dalam yang menyebabkan sensasi nyeri di permukaan kulit ). Sementara mentol, selain sebagai counter irritant, juga sebagai rubifacient ( penghangat ). Agar dapat digunakan untuk pengobatan secara aman, mudah, nyaman, efisien dan memberikan efek terapi yang optimal, bahan aktif harus diberikan dalam bentuk sediaan. Pada formulasi bentuk sediaan obat juga diperlukan berbagai macam bahan tambahan (excipient). Macam bahan tambahan ersebut tergantung dari macam bentuk

|1

sediaan yang akan dibuat. Syarat utama suatu bahan tambahan adalah bahwa bahan tersebut harus memiliki sifat yang netral (inert). Untuk itu, dalam praktikum teknologi formulasi ini kelompok kami memformulasikan metil salisilat dan mentol dalam bentuk sediaan gel, yang mana sediaan ini diharapkan dapat memberikan efek terapi yang diharapkan. Gel mengandung banyak air, mudah tercuci oleh air, tetapi juga dengan pilihan excipient yang cocok dapat membentuk lapisan tipis di kulit dan meningkatkan penetrasi obat di kulit, sehingga efeknya optimal.

1.2 Rumusan Masalah 1.2.1 Bahan-bahan apa saja yang dapat digunakan untuk membuat sediaan emulgel metil salisilat ? 1.2.2 Bagaimana metode pembuatan sediaan emulgel metil salisilat ?

1.3 Tujuan 1.3.1 Untuk mengetahui bahan-bahan yang dapat digunakan dalam pembuatan emulgel metil salisilat. 1.3.2 Untuk mengetahui metode pembuatan emulgel metil salisilat.

|2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Semi Solid Sediaan semipadat meliputi salep, pasta , emulsi krim, gel dan lotion. Sifat umum sediaan ini adalah mampu melekat pada permukaan tempat pemakaian dalam waktu yang cukup lama sebelum sediaan ini dicuci atau dihilangkan.

Katz telah merancang dunia pengobatan topikal. Dengan gambar tersebut, seseorang dapat mempertimbangkan berbagai pengobatan topikal seperti pasta, dasar salep pengabsorpsi, produk-produk teremulsi, lotio dan suspensi. Komponen dasar dari preparat dermatologis adalah serbuk, air, minyak dan pengemulsi. Mulai dari serbuk (A) pada roda dunia dalam gambar 20-14, seseorang diharapkan dengan pengobatan serbuk biasa yang digunakan sebagai pelindung, zat pengering dan pelumas serta sebagai pembawa untuk obat yang digunakan secara lokal. Mengikuti arah berlawanan dengan jarum jam mengelilingi roda tersebut, kita sampai pada pasta, B, yang merupakan suatu kombinasi serbuk dari bagian A dan bahan-bahan yang bersifat minyak seperi minyak atau petrolatum. Suatu salep yang bersifat minyak atau pelumas dan pelunak dan tidak mengandung serbuk terlihat pada bagian salep, C.Selanjut bagian basis pengabsorpsimerupakan suatu basis salep pengabsorpsi yang tidak mengandung air, terdiri dari fase minyak dan pengemulsi w/o serta mampu mengabsorpsi larutan obat dalam air. Begitu pula seterusnya.
|3

2.2 Gel 2.2.1 Definisi Gel atau jelli adalah sediaan setengah padat dengan sistem dua komponen yang banyak mengandung air. Oleh karena kandungan airnya yang tinggi maka sediaan ini nyaman dipakai untuk dibawah (under make up) sehingga membuat kulit terasa lembut dan ringan. Penampilan gel adalah transparan atau berbentuk suspensi partikel koloid yang terdispersi, yang dengan jumlah pelarut yang cukup banyak membentuk gel koloid yang mempunyai struktur tiga dimensi. Gel juga dapat diartikan sebagai sediaan setengah padat, jernih transparan, tidak berminyak, dan digunakan untuk pemakaian luar. Gel merupakan sistem semipadat terdiri dari suspensi yang dibuat dari partikel anorganik yang kecil atau molekul organik yang besar, terpenetrasi oleh suatu cairan. gel kadang kadang disebut jeli. (FI IV, hal 7) Gel ada yang mengandung zat obat namun ada pula yang tidak mengandung zat obat. Gel yang mengandung obat contohnya adalah gel obat dermatologis. Sedangkan yang tidak mengandung obat biasanya berfungsi sebagai lubrikan untuk keperluan pemerikasaan, contohnya USG. Selain digunakan sebagai pelembab, Gel kini dikembangkan lagi menjadi pembersih make up karena memberikan efek dingin. Pada waktu musim panas atau untuk kulit kering gel juga sering dipakai. Selain gel yang berfungsi secara dermatologis, gel juga dipakai sebagai lubrikan untuk USG atau Kateter. Namun karena kandungan airnya yang tinggi maka dalam formulasi harus disertai pengawet. Sediaan dengan sistem gel dapat diterima untuk pemberian oral, dalam bentuk sediaan yang tepat, atau sebagai kulit kapsul yang dibuat dari gelatin dan untuk bentuk sediaan obat longacting yang diinjeksikan secara intramuskular (Lachman, 1989). Untuk kosmetik, gel dapat digunakan dalam berbagai produk kosmetik, termasuk pada shampo, parfum, pasta gigi, dan kulit, dan sediaan perawatan rambut. Gel dapat digunakan untuk obat yang diberikan secara topikal (non streril) atau dimasukkan ke dalam lubang tubuh atau mata (gel steril) (Anonim, 1995).

|4

2.2.2 Penggolongan A. Berdasarkan sifat fasa koloid : y y Gel anorganik, contoh : bentonit magma Gel organik, pembentuk gel berupa polimer

B. Berdasarkan sifat pelarut : y Hidrogel (pelarut air). Hidrogel pada umumnya terbentuk oleh molekul polimer hidrofilik yang saling sambung silang melalui ikatan kimia atau gaya kohesi seperti interaksi ionik, ikatan hidrogen atau interaksi hidrofobik. Hidrogel mempunyai biokompatibilitas yang tinggi sebab hidrogel mempunyai tegangan permukaan yang rendah dengan cairan biologi dan jaringan sehingga meminimalkan kekuatan adsorbsi protein dan adhesi sel; hidrogel menstimulasi sifat hidrodinamik dari gel biological, sel dan jaringan dengan berbagai cara; hidrogel bersifat lembut/lunak, elastis sehingga meminimalkan iritasi karena friksi atau mekanik pada jaringan sekitarnya. Kekurangan hidrogel yaitu memiliki kekuatan mekanik dan kekerasan yang rendah setelah mengembang. Contoh : bentonit magma, gelatin y Organogel (pelarut bukan air/pelarut organik). Contoh : plastibase (suatu polietilen dengan BM rendah yang terlarut dalam minyak mineral dan didinginkan secara shock cooled), dan dispersi logam stearat dalam minyak. y Xerogel. Gel yang telah padat dengan konsentrasi pelarut yang rendah diketahui sebagai xerogel. Xerogel sering dihasilkan oleh evaporasi pelarut, sehingga sisa sisa kerangka gel yang tertinggal. Kondisi ini dapat dikembalikan pada keadaan semula dengan penambahan agen yang menginhibisi, dan mengembangkan matriks gel. Contoh : gelatin kering, tragakan ribbons dan acacia tears, dan sellulosa kering dan polystyrene. D. Berdasarkan jenis fase terdispersi (FI IV, ansel): y Gel fase tunggal, terdiri dari makromolekul organik yang tersebar serba sama dalam suatu cairan sedemikian hingga tidak terlihat adanya ikatan antara molekul makro yang terdispersi dan cairan. Gel fase tunggal dapat dibuat dari

|5

makromolekul sintetik (misal karbomer) atau dari gom alam (misal tragakan). Molekul organik larut dalam fasa kontinu. y Gel sistem dua fasa, terbentuk jika masa gel terdiri dari jaringan partikel kecil yang terpisah. Dalam sistem ini, jika ukuran partikel dari fase terdispersi relatif besar, masa gel kadang-kadang dinyatakan sebagai magma. Partikel anorganik tidak larut, hampir secara keseluruhan terdispersi pada fasa kontinu. 2.2.3 Keuntungan dan Kekurangan Sediaan Gel Keuntungan sediaan gel : y Untuk hidrogel : efek pendinginan pada kulit saat digunakan; penampilan sediaan yang jernih dan elegan; pada pemakaian di kulit setelah kering meninggalkan film tembus pandang, elastis, daya lekat tinggi yang tidak menyumbat pori sehingga pernapasan pori tidak terganggu; mudah dicuci dengan air; pelepasan obatnya baik; kemampuan penyebarannya pada kulit baik. Kekurangan sediaan gel : y Untuk hidrogel : harus menggunakan zat aktif yang larut di dalam air sehingga diperlukan penggunaan peningkat kelarutan seperti surfaktan agar gel tetap jernih pada berbagai perubahan temperatur, tetapi gel tersebut sangat mudah dicuci atau hilang ketika berkeringat, kandungan surfaktan yang tinggi dapat menyebabkan iritasi dan harga lebih mahal. y Penggunaan emolien golongan ester harus diminimalkan atau dihilangkan untuk mencapai kejernihan yang tinggi. y Untuk hidroalkoholik : gel dengan kandungan alkohol yang tinggi dapat menyebabkan pedih pada wajah dan mata, penampilan yang buruk pada kulit bila terkena pemaparan cahaya matahari, alkohol akan menguap dengan cepat dan meninggalkan film yang berpori atau pecah-pecah sehingga tidak semua area tertutupi atau kontak dengan zat aktif. 2.2.4 Komponen Gel

A. Gelling Agents (Pustaka : Dysperse System, vol. II, page 499-504) Termasuk dalam kelompok ini adalah gum alam, turunan selulosa, dan karbomer. Kebanyakan dari sistem tersebut berfungsi dalam media air, selain itu ada yang membentuk gel dalam cairan nonpolar. Beberapa partikel padat koloidal dapat berperilaku sebagai pembentuk gel karena terjadinya flokulasi partikel.

|6

Catatan: Pada pemilihan gelling agent perhatikan dengan pH stabilita dan inkompatibilitasnya Berikut ini adalah beberapa contoh gelling agent : a) Polimer (gel organik) - Gum alam (natural gums) Umumnya bersifat anionik (bermuatan negatif dalam larutan atau dispersi dalam air), meskipun dalam jumlah kecil ada yang bermuatan netral, seperti guar gum. Karena komponen yang membangun struktur kimianya, maka natural gum mudah terurai secara mikrobiologi dan menunjang pertumbuhan mikroba. Oleh karena itu, sistem cair yang mengandung gum harus mengandung pengawet dengan konsentrasi yang cukup. Pengawet yang bersifat kationik inkompatibel dengan gum yang bersifat anionik sehingga penggunaannya harus dihindari. Beberapa contoh gum alam : i. Natrium alginat y y Natrium alginat 5-10% digunakan dalam sediaan semisolid. Tersedia dalam bebrapa grade sesuai dengan viskositas yang terstandardisasi yang merupakan kelebihan natrium alginat dibandingkan dengan tragakan. y Inkompatibel dengan derivat akridin, kristal violet, fenil merkuri asetat dan nitrat, garam kalsium, logam berat dan etanol dengan konsentrasi lebih dari 5 %. y Natrium alginat pada pH 4-10, sedangkan pada pH 10 viskositas menurun. ii. Karagenan y Fraksi kappa dan iota membentuk gel yang reversibel terhadap pengaruh panas. y Semua karagenan adalah anionik. Gel kappa yang cenderung getas, merupakan gel yang terkuat dengan keberadaan ion K. Gel iota bersifat elastis dan tetap jernih dengan keberadaan ion K. y y Konsentrasi karagenan yang digunakan 0,3-1%. Inkompatibel dengan material kationik

|7

iii. Tragakan y Menurut NF, didefinisikan sebagai ekstrak gum kering dari Astragalus gummifer Labillardie, atau spesies Asia dari Astragalus. y y Digunakan sebanyak 5% sebagai gelling agent. Tragakan kurang begitu populer karena mempunyai viskositas yang bervariasi. Viskositas akan menurun dengan cepat di luar range pH 4,5-7 rentan terhadap degradasi oleh mikroba. Selain itu pada pH 7, dapat menurunkan efikasi benzalkonium klorida, klorobutanol, metil paraben, fenol, dan fenil merkuri asetat. Viskositas juga dapat menurun dengan penambahan alkali, atau NaCl. y Formula mengandung alkohol dan/atau gliserol dan/atau volatile oil untuk mendispersikan gum dan mencegah pengentalan ketika penambahan air. y Kompatibel dengan garam konsentrasi tinggi, suspending agent synthetic (Acacia, CMC, pati,sukrosa). iv. Pektin y Polisakarida yang diekstrak dari kulit sebelah dalam buah citrus yang banyak digunakan dalam makanan. Merupakan gelling agent untuk produk yang bersifat asam dan digunakan bersama gliserol sebagai pendispersi dan humektan. y Gel yang dihasilkan harus disimpan dalam wadah yang tertutup rapat karena air dapat menguap secara cepat sehingga

meningkatkan kemungkinan terjadinya proses sineresis. y Gel terbentuk pada pH asam dalam larutan air yang mengandung kalsium dan kemungkinan zat lain yang befungsi menghidrasi gum. - Derivat selulosa y Sifat fisik dari selulosa ditentukan oleh jenis dan gugus substitusi. HPMC merupakan derivat selulosa yang sering digunakan. y Derivat selulosa rentan terhadap degradasi enzimatik sehingga harus icegah adanya kontak dengan sumber selulosa. Sterilisasi sediaan atau penambahan pengawet dapat mencegah penurunan viskositas yang diakibatkan oleh depolimerisasi oleh enzim yang dihasilkan dari mikroorganisme. Misalnya : MC, Na CMC, HEC, HPC
|8

Sering digunakan karena menghasilkan gel yang bersifat netral, viskositas stabil, resisten terhadap pertumbuhan mikroba, gel yang jernih, dan menghasilkan film yang kuat pada kulit ketika kering. Misalnya MC, Na CMC, HPMC

CMC Na digunakan pada konsentrasi 3-6 %.Secara umum, CMC Na menunjukkan viskositas maksimum pada pH 7-9. Inkompatibel dengan larutan asam, larutan garam, besi, dan beberapa metal lain (Al, merkuri, zinc).

HPMC stabil pada pH3-11, inkompatibel dengan agen oksidator. Karbomer merupakan gelling agent yang kuat, membentuk gel pada konsentrasi sekitar 0,5%. Dalam media air, yang diperdagangkan dalam bentuk asam bebasnya, pertama-tama dibersihkan dulu, setelah udara yang terperangkap keluar semua, gel akan terbentuk dengan cara netralisasi dengan basa yang sesuai.

- Polimer sintetis (Karbomer = karbopol) y

Dalam sistem cair, basa anorganik seperti NaOH, KOH, dan NH4 OH sebaiknya ditambahkan.

pH harus dinetralkan karena karakter gel yang dihasilkan dipengaruhi oleh proses netralisasi atau pH yang tinggi.

y y

Viskositas dispersi karbomer dapat menurun dengan adanya ion-ion. Merupakan gelling agent yang kuat, maka hanya diperlukan dalam konsentrasi kecil, biasanya 0,5-2 %.

Inkompatibel dengan fenol, polimer kationik, asam kuat, elektrolit kuat.

b)

Polietilen (gelling oil) Digunakan dalam gel hidrofobik likuid, akan dihasilkan gel yang lembut, mudah tersebar, dan membentuk lapisan/film yang tahan air pada permukaan kulit. Untuk membentuk gel, polimer harus didispersikan dalam minyak pada suhu tinggi (di atas 800C) kemudian langsung didinginkan dengan cepat untuk mengendapkan kristal yang merupakan pembentukan matriks.

|9

c)

Koloid padat terdispersi y Mikrokristalin selulosa dapat berfungsi sebagai gellant dengan cara pembentukan jaringan karena gaya tarik-menarik antar partikel seperti ikatan hidrogen. y Konsentrasi rendah dibutuhkan untuk cairan nonpolar. Untuk cairan polar diperlukan konsentrasi yang lebih besar untuk membentuk gel, karena adanya kompetisi dengan medium yang melemahkan interaksi antar partikel tersebut.

d)

Surfaktan Gel yang jernih dapat dihasilkan oleh kombinasi antara minyak mineral, air, dan konsentrasi yang tinggi (20-40%) dari surfaktan anionik. Kombinasi tersebut membentuk mikroemulsi. Karakteristik gel yang terbentuk dapat bervariasi dengan cara meng-adjust proporsi dan konsentrasi dari komposisinya. Bentuk komersial yang paling banyak untuk jenis gel ini adalah produk pembersih rambut.

e)

Gellants lain Banyak wax yang digunakan sebagai gellants untuk media nonpolar seperti beeswax, carnauba wax, setil ester wax.

f)

Polivinil alkohol PVA digunakan dalam emulsi pada konsentrasi 0,5 %. Inkompatibel pada konsentrasi tinggi dengan garam inorganik terutama sulfat dan fosfat (HOPE hal 491-492). Untuk membuat gel yang dapat mengering secara cepat. Film yang terbentuk sangat kuat dan plastis sehingga memberikan kontak yang baik antara obat dan kulit. Tersedia dalam beberapa grade yang berbeda dalam viskositas dan angka penyabunan.

g)

Clays (gel anorganik) Digunakan sebanyak 7-20% sebagai basis. Mempunyai pH 9 sehingga tidak cocok digunakan pada kulit. Viskositas dapat menurun dengan adanya basa. Magnesium oksida sering ditambahkan untuk meningkatkan viskositas. Bentonit harus disterilkan terlebih dahulu untuk penggunaan pada luka terbuka. Bentonit dapat digunakan pada konsentrasi 5-20%. Contohnya : Bentonit, veegum, laponite

| 10

B. Bahan tambahan a) Pengawet Meskipun beberapa basis gel resisten terhadap serangan mikroba, tetapi semua gel mengandung banyak air sehingga membutuhkan pengawet sebagai antimikroba. Dalam pemilihan pengawet harus memperhatikan

inkompatibilitasnya dengan gelling agent. Beberapa contoh pengawet yang biasa digunakan dengan gelling agent : y Tragakan : metil hidroksi benzoat 0,2 % w/v dgn propil hidroksi benzoat 0,05 % w/v y Na alginate : metil hidroksi benzoat 0,1- 0,2 % w/v, atau klorokresol 0,1 % w/v atau asam benzoat 0,2 % w/v y Pektin : asam benzoat 0,2 % w/v atau metil hidroksi benzoat 0,12 % w/v atau klorokresol 0,1-0,2 % w/v y Starch glyserin benzoat 0,2 % w/v y MC : fenil merkuri nitrat 0,001 % w/v atau benzalkonium klorida 0,02% w/v y Na CMC : metil hidroksi benzoat 0,2 % w/v dgn propil hidroksi benzoat 0,02 % w/v y Polivinil alkohol : klorheksidin asetat 0,02 % w/v Pada umumnya pengawet dibutuhkan oleh sediaan yang mengandung air. Biasanya digunkan pelarut air yang mengandung metilparaben 0,075% dan propilparaben 0,025% sebagai pengawet. b) Penambahan Bahan higroskopis Bertujuan untuk mencegah kehilangan air. Contohnya gliserol, propilenglikol dan sorbitol dengan konsentrasi 10-20 %. c) Chelating agent Bertujuan untuk mencegah basis dan zat yang sensitive terhadap logam berat. Contohnya EDTA. : metil hidroksi benzoat 0,1-0,2 % w/v atau asam

| 11

2.3 Emulgel 2.3.1 Emulsi Emulsi adalah dispersi koloidal 2 cairan yang tidak bercampur karena perbedaan kepolaran, globul terdispersi makromolekul (dengan ukuran 100100.000 m) dalam medium pendispersi. Emulsi dibentuk dalam dua tahap, yang pertama adalah tahap pemisahan: disrupsi dan distruksi. Ruahan menjadi globul ditentukan oleh waktu dan kecepatan pengadukkan. Pengadukkan dengan kecepatan tinggi akan memebentuk lapisan seperti susu, setelah itu masuk ke tahap yang kedua yaitu tahap stabilisasi. Tahap stabilisasi ini adalah hasil kerja dari emulgator, yang menyatukan dua fase terpisah dan menjaganya agar tidak terpisah. Tegangan permukaan yang tinggi distabilkan oleh emulgator. Hal ini diperlukan agar partikel tidak bergabung. Jika partikel bergabung, maka dosis tidak merata. Pengadukkan dapat mendispersikan fase terdispersi. Hal ini disebabkan karena memberikan energi kinetika yang dapat menyebabkan fase terdisperdi terpecah menjadi globul-globul kecil. 2.3.2 Emulgel Ketika gel dan emulsi digunakan dalam bentuk gabungan bentuk sediaan yang disebut sebagai emulgel. Dalam beberapa tahun terakhir, telah ada penelitian dalam penggunaan novel polimer dengan fungsi kompleks sebagai pengemulsi dan pengental karena kapasitas pembentuk gel dari senyawa ini memungkinkan perumusan emulsi stabil dan krim dengan menurunkan permukaan dan tegangan antarmuka dan pada saat yang sama meningkatkan viskositas dari fase berair. Emulsi minyak dalam air dan air-dalam-minyak digunakan sebagai kendaraan untuk memberikan berbagai obat kulit. Emulsi elegan dan mudah dibersihkan kapanpun diinginkan. Mereka juga memiliki kemampuan tinggi untuk menembus kulit. Emulgel digunakan untuk dermatologis karena memiliki sifat yang menguntungkan antaralain, mudah menyebar, mudah dilepas, melembutkan, transparan & penampilan menyenangkan.

| 12

Keuntungan Menggunakan Emulgels sebagai Sistem Penghantaran Obat : 1. Obat hidrofobik dapat dengan mudah dimasukkan ke dalam gel menggunakan d / o / w emulsi: Sebagian besar obat hidrofobik tidak dapat dimasukkan langsung ke dalam basis gel karena kelarutan bertindak sebagai penghalang dan masalah timbul selama pelepasan obat. Emulgel membantu dalam penggabungan obat hidrofobik ke dalam fase minyak dan kemudian tetesan berminyak tersebar dalam fase berair dan emulsi ini dapat dicampur ke dalam basis gel. Ini mungkin membuktikan stabilitas yang lebih baik dan pelepasan obat, dari sekedar memasukkan obat ke dalam basis gel. 2. Stabilitas yang lebih baik, persiapan transdermal lain yang relatif kurang stabil dibanding emulgel. Seperti bubuk higroskopik, krim menunjukkan inversi fasa atau ketengikan menunjukkan karena basis berminyak. 3. Kapasitasnya lebih baik, pendekatan baru lain seperti niosomes dan liposom adalah ukuran nano dan karena struktur vesikuler dapat mengakibatkan kebocoran dan menghasilkan efisiensi yang lebih rendah. Tetapi gel karena memiliki jaringan yang luas kapasitas loading relatif lebih baik. 4. Produksi kelayakan dan biaya persiapan rendah, Persiapan terdiri dari langkahlangkah emulgel sederhana dan pendek yang meningkatkan kelayakan produksi. Tidak ada instrumen khusus yang diperlukan untuk produksi emulgel. Selain itu bahan yang digunakan adalah mudah tersedia dan murah. Oleh karena itu, menurunkan biaya produksi. 5. Kontrol realease, Emulgels dapat digunakan untuk memperpanjang efek obat memiliki lebih pendek T1 / 2.

2.4 Metil Salisilat Metil salisilat merupakan salah satu bahan baku utama dalam pembuatan balsem. Selain dapat diperoleh dari alam, metal salisilat juga dapat dibuat secara sintetik dari reaksi asam salisilat dengan methanol menggunakan katalis asam sulfat pekat. Karakteristik Methyl salicylas / metil salisilat/ metil o-hidroksi benzoat. Tampilan fisik dari metil salisilat adalah cairan tidak berwarna atau kuning pucat, bau khas, aromatik, rasa manis, panas. Kelarutannya, agak larut dalam air, larut dalam etanol 95 %, dalam asetat glasial.

| 13

2.5 Mentol Mentol merupakan senyawa organik dibuat secara sintetis atau diperoleh dari minyak mint peppermint atau lainnya. Sifat fisik mentol adalah hablur, berbentuk jarum atau prisma tidak berwarna, bau tajam seperti minyak, permen, rasa manis dan aromatik diikuti rasa dingin. Mentol sukar larut dalam air, sangat mudah larut dalam etanol 95 % dalam kloroform dan dalam eter, mudah larut dalam parafin cair dan minyak atsiri. Berfungsi korigen, anti iritan.

2.6 Parafin Cair Parafin cair adalah campuran hidrokarbon yang diperoleh dari minyak mineral. Pemerian dari parafin cair adalah cairan kental, transparan, tidak berfluorosensi; tidak berwarna; hampir tidak berbau; hampir tidak mempunyai rasa. Kelarutan dari bahan ini adalah praktis tidak larut dalam air dan dalam etanol (95%) P; larut dalam kloroform P dan dalam eter P.

2.7 Polietilen Glikol 4000 Polietilen glikol (PEG) adalah salah satu polimer yang banyak digunakan dalam industri pangan, kosmetik, dan farmasi. Secara kimiawi, PEG merupakan sekelompok polimer sintetik yang larut air dan memiliki kesamaan struktur kimia berupa adanya gugus hidroksil primer pada ujung rantai polieter yang mengandung oksietilen (-CH2-CH2 -O-). Beberapa sifat utama dari PEG adalah stabil, tersebar merata, higroskopik (mudah menguap), dapat mengikat pigmen. Sifat fisiknya serbuk licin putih atau potongan putih kuning gading; praktis tidak berbau; tidak berasa. Kelarutannya mudah larut dalm air, dalam etanol 95 % P dan dalam kloroform P; praktis tidak alrut dalam eter P. PEG - 4000 adalah polimer berat molekul tinggi etilen oksida dan merupakan campuran dari polimer dengan derajat yang berbeda polimerisasi. PEG-4000 ini mudah larut dalam air. Sehingga air dapat menjadi pelarut paling ekonomis untuk ini, selain dari pelarut organik lainnya. PEG-4000 bertindak sebagai pengikat & pelumas kering karena struktur laminar dan karena itu dapat digunakan dalam pembuatan pil dan tablet untuk persiapan sediaan tertentu. PEG-4000 dilarutkan dalam glikol lebih rendah di tempat lilin parafin yang digunakan untuk enbalming spesimen medis histologis dan lainnya. Polietilen glikol terbukti baik dalam
| 14

formulasi Nitrofurazone, asam Undecanoic, Sulphur, Hidrokortison, Metil salisilat, Benzil Benzoat dan lain-lain. Akan tetapi tidak cocokG atau tdak kompatibel dengan penisilin, Bicitracine, Yodium, Kalium iodida, Sorbitol, asam tanat, garam Bismuth.

2.8 Tween 80 Tween 80 termasuk golongan non ionik surfaktan dimana bahan asalnya adalah alkohol hensanhidrat, alkalin oksida dan asam lemak sifat hidrofilik diberikan oleh gugus hidroksil bebas oksietilena. Polioxyethilen sorbitan monooleat (Tween 80) merupakan ester asam lemak dari sorbitol dan bagian anhidridanya mengalami kopolimerisasi dengan 20 mol etilen oksida. Polioxyethilen sorbitan monooleat merupakan jenis surfaktan non ionik. Surfaktan dapat digunakan sebagai peningkat penetrasi dengan cara melarutkan senyawa yang bersifat lipofilik dan melarutkan lapisan lipid pada stratum corneum. Surfaktan non ionik lebih aman untuk digunakan karena tidak menyebabkan kerusakan pada kulit. Sifat fisik tween 80 berupa cairan kuning yang berminyak, memiliki rasa pahit dan bau yang spesifik. Tween 80 memiliki pH antara 6-8. Perubahan warna dan pengenapan tween 80 akan terjadi dengan adanya fenol dan tanin. Efektifitas antimikroba paraben juga akan berkurang dengan adanya tween 80.

2.9 Setyl Alkohol Berupa serpihan putih atau granul seperti lilin, berminyak, memiliki bau dan rasa yang khas. Mudah larut dalam etanol 95% dan eter, kelarutannya meningkat dengan peningkatan suhu, tidak larut dalam air. HLB setil alkohol yaitu 15. Berfungsi sebagai emulsifying agent, stiffening agent, dan coating agent. Dalam sediaan losio, krim, dan salep biasa digunakan sebagai emolien dan emulsifying agent dengan konsentrasi antara 2-5%. Setil alkohol dapat meningkatkan konsistensi emulsi W/O dengan konsentrasi 2-10%, dan meningkatkan stabilitas semisolid.

2.10 Butylated Hydroxyanisole Butylated hydroxyanisole (BHA) adalah antioksidan yang terdiri dari campuran dari dua senyawa organik isomerik, 2-tert-butil-4-hydroxyanisole dan 3-tert-butil-4hydroxyanisole. BHA dapat dibuat dari 4-methoxyphenol dan isobutylene. Sifat fisiknya solid seperti lilin yang digunakan sebagai aditif makanan dengan nomor E
| 15

E320. Penggunaan utama untuk BHA adalah sebagai antioksidan dan pengawet dalam makanan, makanan kemasan, pakan ternak, kosmetik, karet, dan produk minyak bumi. BHA juga umum digunakan dalam obat-obatan, seperti isotretinoin, lovastatin, dan simvastatin. Sejak 1947, BHA telah ditambahkan ke lemak yang dapat dimakan dan lemak yang mengandung makanan untuk sifat antioksidan karena mencegah makanan dari menjadi tengik dan mengembangkan bau, Seperti butylated hydroxytoluene (BHT), cincin aromatik terkonjugasi dari BHA mampu menstabilkan radikal bebas.

2.11 Evaluasi Sediaan 2.11.1 Daya menyerap air Daya menyerap air, diukur sebagai bilangan air yang digunakan untuk mengkarakterisasi basis absorbsi. Bilangan air dirumuskan sebagai jumlah air maksimal (g),yang mampu diikat oleh 100 g basis bebas air pada suhu tertentu (umumnya 15-20SC) secara terus menerus atau dalam jangka waktu terbatas (umumnya 24jam), dimana air digabungkan secara manual. Evaluasi kuantitatif dari jumlah air yang diserap dilakukan melalui perbedaan bobot penimbangan (sistem mengandung air-sistem bebas air)atau dengan metode kandungan air. Daya menyerap air akan berubah, jika larutan digabungkan di dalamnya, umumnya dapat menurunkan bilangan airnya. Bilangan air (BA) dan kandungan air (KA), yang dinyatakan dalam prosen adalah tidak identik. Sebagai basis acuan untuk bilangan air digunakan basis bebas air, sedangkan kandungan air mengacu pada salep emulsi yang mengandunga air. Kedua bilangan ukur tersebut dapat dihitung satu ke dalam yang lain menurut persamaan : BA = 100 . KA 100 KA

KA = 100 . BA 100 BA

| 16

2.11.2 Kandungan Air Ada tiga cara menentukan kandungan air dalam suatu sediaan salap : a) Penentuan bilangan akibat pengeringan. Sebagai kandunngan air digunakan ukuran kehilangan masa maksimal (%) yang dihitung pada saat pengeringan di suhu tertentu (umumnya 100-1000C). Cara ini merupakan metode konvensial, tapi hanya dapat dipercaya jika petunjuk yang disyaratkan dilakukan secara eksak.biasanya harga yang diperoleh terlalu tinggi, oleh karena melibatkan jumlah komponen yang menguap dengan demikian cara ini tidak dapat digunakan jika bahan obat atau bahan pembantu ada yang menguap (minyak atsiri, fenol dsb). b) Cara penyulingan. Prinsip metode ini terletak pada penyulingan menggunakan bahan pelarut menguap yang tidak dapat bercampur dengan air. Dalam hal ini digunakan trikloretan, benzen, toluen atau xilen yang disuling sebagai campuran azetrop dengan air, campuran ini akan memisah saat pendinginan sehingga jumlah air tersuling dapat dihitung volumenya. a. Sampel yang mengandung air dimasukkan bersama-sama dengan bahan pelarut jenuh air ke dalam labu bundar, setelah pipa ukur terisi kemudian lakukan penyulingan sedemikian lama sampai jumlah air yang dipisahkan tidak bertambah lagi. c) Cara titrasi menurut Karl Fischer. Penentuan berdasar atas perubahan belerang dioksida dan iod serta air dengan adanya piridin da metanol menurut persamaan reaksi berikut : I2+SO2+CH3OH+H2O 2HI + CH3HSO4

Adanya piridin akan menangkap asam yang terbentuk dan memungkinkan berlangsungnya reaksi secara kuantitatif. Alat yang digunakan berupa sebuah sistem tertutup (alat schliff) yang terdiri dari wadah pentitrasi dan sebuah atau dua buah buret dengan wadah penampung. Sebelum dilakukan penentuan kandungan yang sebenarnya, harga aktif dari larutan reagensia KARL FISCHER mutlak ditentukan denganasam oksalat, dan ditentukan penelitian blanko dengan syarat yang asama, untuk memperoleh kebutuhan medium larutan. Penentuan titik ekuivalen dapat diikuti secara visual, tetailebih baik lagi secara elektrometik (metode Dead Stop).

| 17

Bahan pelarut utnuk salap digunakan campuran benzen / metanol (9:1). Untuk menentukan kandungan air digunakan formula berikut : %Air = f.100 (a-b) P f = harga aktif dari larutan standar (mg air/ml) a = larutan standar yang dibutuhkan (ml) b = larutan standar yang dibutuhkan dalam larutan blanko (ml) P= penimbangan zat (mg) Metode tersebut menghasilkan harga yang sangat tepat dan khususnya cocok untuk menentukan jumlah air yang rendah didalam sediaan farmasetik. Keuntungan cara tersebut antara lain : ketepatan dan kecepatan. 2.11.2 Konsistensi Konsistensi merupakan karekterisasi sfat berulang seperti sifat lunak dari sediaan sejenis salap atau mentega, melalui sebuah angka ukur. Beberapa metode yang digunakan untuk menentukan konsistensi : y Metode penetrometer. Sebagai ukuran konsistensi digunakan apa yang dinamakan penetrasi kerucut (mm.10-1)) artinya kedalaman penetrasi sebuah kerucut berskala (massa dan sudut tertentu) dengan kondisi percobaan yang telah ditetapkan secara tepat dalam waktu tertentu. Alat yang digunakan adalah penetrometer. y Penentuan batas mengalir praktis. Diartikan sebagai tegangan geser minimal yang diperlukan untuk membawa suatu bahan mulai mengalir. Untuk menentukan batas mengalir praktis pada sediaan sejenis salap, khususnya digunakan cara pengukuran statik, seperti timbangan visko yang dilengkapi dengan bodi ukur spesial yang berskala dan Rheoviskomete menurut HOPPLER.

| 18

2.11.3 Penyebaran Penyebaran salap diartikan sebagai kemampuan penyebaran pada kulit. Penentuannya dilakukan dengan Extensometer. Sebuah sampel salap denga volume tertentu diletakkan di pusat antara dua lempeng gelas, dimana lempeng sebelah atas dalam interval waktu teretntu dibebani dengan meletakkan anak timabangan diatasanya. 2.11.4 Ukuran partikel Untuk menentukan ukuran salap dalam suspensitelah ditentukan cara umum dengan asumsi bahwa harga yang diperoleh dari beberapa sampel telah mewakili seluruh sediaan. Umumnya farmakope tidak mensyaratkan pengujian partikel dalam salap suspensi, melainkan hanya membatasi penggunaan serbukhalus atau serbuk yang sangat halus. Batas ukuran partikel dalam farmakope sebesar 60 Qm atau 200 Qm. Juga selama penyimpanan ukuran partikel sebaiknya secara teratur terkontrol, oleh karena kemungkinan terjadinya pertumbuhan hablur tidak terelakan.

| 19

BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Rancangan Formula Bentuk sediaan yang akan dibuat adalah sediaan semisolid, dengan bahan aktif Metil Salisilat 5% dan Mentol 2,5%. Produk yang akan dibuat berfungsi sebagai pereda nyeri otot, ditujukan untuk pemakaian luar dan bisa digunakan oleh orang dewasa serta pasien lanjut usia. Produk yang akan dibuat adalah emulgel, diharapkan dapat menghindari rasa lengket dan lebih optimal dalam mengatasi nyeri. 3.2 Diskusi Formula 3.2.1 Farmakologi Hasil diskusi di bidang farmakologi meliputi fungsi bahan aktif, indikasi, kontra indikasi, dosis, dan mekanisme kerja dari bahan aktif. y Bahan aktif y Indikasi : mehyl salysilat dan menthol : analgetik topikal

y Kontra indikasi : hindari kontak dengan mata dan pemakaian pada kulit dengan luka terbuka y Dosis : untuk pemakaian topikal, tidak ada catatan khusus

seberapa besar dosis yang digunakan. Akan tetapi umumnya penggunaan metil salisilat untuk mengatasi nyeri otot adalah sebesar 3-10% y Mekanisme kerja metil salisilat : Stimulasi ujung-ujung syaraf di kulit menimbulkan dilatasi pembuluh darah menyebabkan kemampuan mengalirkan darah yang disertai peningkatan suhu kulit, mengakibatkan sensasi nyeri pada otot dapat dihilangkan. 3.2.2 Teknologi Hasil diskusi di bidang teknologi meliputi sifat kimia fisika dan kelayakan bahan untuk dibuat sediaan. Awalnya kelompok kami memiliki rancangan formula sebagai berikut :

| 20

R/ Methyl salicylas Menthol PEG 1000 Cethyl alkohol Parafin liquid Aqua ad

5% 2,5 % 12,5 % 2% 38 % 100 %

Berdasarkan hasil diskusi, kelompok kami mendapatkan beberapa kritik dan saran untuk mengkoreksi formulayang akan dibuat. Saran tersebut antara lain : y Formula tersebut bukan berbentuk emulgel tapi emulsi karena komposisi minyak (parafin) cukup besar. Formulasi diatas tetap berbentuk semi solid, tapi sistemnya emulsi, kestabilannya buruk karena gelling agent yang dipakai (PEG 1000) konsistensinya kurang padat kalau bisa menggunakan PEG 4000, BM lebih tinggi. y Parafin liquid terlalu banyak dikhawatirkan tidak terikat lama dan keluar dari sistem jika memungkinkan lebih baik dihilangkan atau dikurangi. y PEG bersifat autooksidasi, yaitu menangkap oksigen udara, membentuk peroksida dan membuat keruh. Bisa dihindari dnegan wadah kedap dan terhindar cahaya atau dengan pemberian antioksidan. y Pemilihan antioksidan didasarkan pada kelarutannya : BHA (Butylated Hidroxy Anisole) larut air (0,005-0,02 %) BHT (Butylated Hidroxy Toluene) larut minyak (0,0075-0,01 %)

3.3 Preformulasi Formula satu sediaan : R/ Methyl salysilat Menthol PEG 4000 Cetyl alkohol Parafin liquid BHA Tween 80 Aqua ad 5% 2,5 % 12,5 % 1% 5% 0,01 % 3% 100 %

| 21

Sediaan yang akan dibuat adalah 10 gram untuk tiap kemasan. Formula satu batch : R/ Methyl salysilat Menthol PEG 4000 Cetyl alkohol Parafin liquid BHA Tween 80 Aqua ad 5% x3 = 15% = 7,5% = 37,5% =3% = 15% = 0.03% = 9% = 4,5 g (untuk 30 gram)

2,5 % x 3 12,5 % x 3 1% 5% x3 x3

= 2,25 g (untuk 30 gram) = 11,25 g (untuk 30 gram) = 0,9 g = 4,5 g (untuk 30 gram) (untuk 30 gram)

0,01 % x 3 3% 100 % x3

= 0,009 g (untuk 30 gram) = 2,7 g (untuk 30 gram)

3.4 Alat dan Bahan 3.4.1 Alat Penangas air Cawan porselen Batang pengaduk Neraca analitik Sudip Mortar Stamper Kertas saring Gunting Beaker glass Gelas ukur Kertas perkamen Thermometer Aluminium Foil Kulkas (Frezer)

| 22

3.4.2 Bahan Methyl salysilat Menthol PEG 4000 Cetyl alkohol Parafin liquid BHA Tween 80 Aquadest

3.5 Cara Kerja


Suhu > 800 Panaskan

Aquadest

+ PEG 4000, Aduk sampai larut

+ Cetyl Alkohol Aduk sampai larut

Tween + Parafin, Gerus ada homogen, + Aquadest, gerus ad homogen

Aduk Cepat, ad homogen, angkat dari waterbath

Mentol + Metil Salisilat, Gerus ad larut & homogen

Aduk ad homogen, kemudian segera didinginkan

| 23

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Sediaan emulgel awalnya dibuat sebanyak dua kali pengulangan, karena pada pembuatan pertama sediaan pecah atau tidak bisa saling menyatu. Pada pembuatan kedua, sediaan dapat menyatu dan tidak pecah. Tampilan secara organoleptik sediaan yang dibuat adalah sebagai berikut : A. Pembuatan pertama - Bentuk - Warna : Encer : 2 bagian, bagian atas putih keruh, sedangkan bagian bawah bening. - Bau : Khas metil salisilat dan mentol

- Rasa (permukaan kulit) : Panas B. Pembuatan kedua - Bentuk - Warna - Bau : Semisolid : Putih : Khas metil salisilat dan mentol

- Rasa (permukaan kulit) : Panas

4.2 Pembahasan 4.2.1 Pemilihan Bahan Pada preformulasi, kami memilih bahan-bahan yang akan di formulasikan ke dalam sediaan emulgel. Pemilihan bahan tersebut berdasarkan studi literatur, dasarnya adalah sebagai berikut : A. Zat Aktif Metil salisilat dan mentol merupakan zat yang berfungsi sebagai counter irritant, dimana sebagian besar orang sering menggunakannya untuk meredakan nyeri otot. B. Gelling Agent Gelling agent yang dipakai adalah PEG 4000, karena apabila diformulasikan dalam gel hidrofobik likuid, akan dihasilkan gel yang lembut, mudah tersebar, dan membentuk lapisan/film yang tahan air pada permukaan kulit.
| 24

PEG - 4000 adalah polimer berat molekul tinggi dan terbukti baik dalam formulasi Nitrofurazone, asam Undecanoic, Sulphur, Hidrokortison, Metil salisilat, Benzil Benzoat dan lain-lain. C. Bahan Tambahan a) Cetyl Alkohol Penambahan Cetyl Alkohol bertujuan untuk meningkatkan stabilitas emulgel dengan basis PEG. Menurut Voight, konsistensi gel dengan basis PEG yang mengandung air lebih dari 5% akan tampak encer, maka disarankan penggunaan 1-5% alkohol lemak seperti cetyl alkohol. Selain itu di martindale juga disebutkan sediaan semisolid dengan basis PEG yang mengandung air lebih dari 20% disarankan penggunaan cetyl alkohol untuk meningkatkan konsistensinya. Selain itu cetyl alkohol dapat berfungsi sebagai emolien (pelembut). b) Parafin Penambahan parafin bertujuan untuk melarutkan cetyl alkohol, dan mentol. Selain itu, di martindale juga disebutkan bahwa campuran cetyl alkohol dan parafin cair dapat meningkatkan konsistensi sediaan semisolid dengan basis PEG. c) BHA Penambahan BHA bertujuan sebagai antioksidan. PEG bersifat autooksidasi, bereaksi dengan udara dan membentuk peroksida, yang dapat menganggu stabilitas sediaan, dan warnanya berubah menjadi keruh. Untuk menghindari oksidasi, maka ditambahkan BHA dalam formulasi. Pemilihannya berdasarkan komposisi terbesar dari sediaan emulgel adalah air, maka dipilih antioksidan BHA yang merupakan antioksidan larut air. d) Tween 80 Tween 80 merupakan surfaktan nonionik. Menurut Voight, pada pembuatan gel metil salisilat dengan basis polimer akan timbul kekeruhan, penambahan surfaktan nonionik dapat membuat tampilan gel lebih jernih.

| 25

4.2.2 Metode Pembuatan Pada proses pembuatan, terdapat dua cara kerja. Mengingat hasil pembuatan pertama tidak sesuai dengan yang diharapkan, maka dilakukan modifikasi prosedur pembuatan. Prosedur pembuatan yang pertama adalah sebagai berikut : Aquadest + PEG 4000, Aduk sampai larut + Cetyl Alkohol Aduk sampai larut

Tween + Aquadest aduk ad homogen, + Mentol + Metil Salisilat + Parafin Gerus ad larut & homogen

Aduk Cepat, ad homogen, angkat dari waterbath

Dinginkan Dengan prosedur diatas hasil yang diperoleh tidak dapat bercampur, terpisah menjadi dua bagian. Hal ini mungkin disebabkan karena proses pembuatan Fase emulsi yang salah, dimana tween diaduk dengan air terlebih dahulu kemudian seketika dimasukkan ke dalam campuran mentol, metil salisilat dan parafin, seharusnya dimasukan secara perlahan. Selain itu, campuran antara basis PEG dan cetyl alkohol yang diangkat dari waterbath tidak didinginkan seketika, tapi masuk ke mortir dan di gerus bersama fase emulsi, ini menyebabkan campuran basis tidak lagi panas dan pada proses pendinginan, pembentukan matriks pengikat tidak sempurna. Pada proses pembuatan emulgel yang kedua dilakukan modifikasi cara kerja, cara kerja pada pembuatan kedua adalah sebagai berikut : Aquadest + PEG 4000, Aduk sampai larut + Cetyl Alkohol Aduk sampai larut

Tween + Parafin, Gerus ada homogen, + Aquadest, gerus ad homogen

Aduk Cepat, ad homogen, angkat dari waterbath

Mentol + Metil Salisilat, Gerus ad larut & homogen

Aduk ad homogen, kemudian segera didinginkan


| 26

Dengan prosedur diatas hasil yang diperoleh lebih baik, dapat menyatu dan berbentuk semisolid, karena fase emulsi tercampur dengan baik dan pendinginan berlangsung cepat, sehingga pembentukan matriks pengikat bisa terjadi. Meskipun cara kerja yang kedua memperoleh hasil yang lebih baik, sediaan yang terbentuk tetap tidak memenuhi syarat emulgel. Syarat emulgel adalah jernih, dan transparan, sedangkan sediaan yang diperoleh keruh. Penyebab kekeruhan ini mungkin disebabkan karena reaksi autooksidasi yang merupakan sifat dari PEG. Hal ini sebenarnya sudah diantisipasi dengan penambahan antioksidan pada preformulasi, akan tetapi antioksidan yang dikehendaki tidak tersedia di Laboratorium. Meskipun dapat diatasi dengan meminimalkan kontak dengan udara, tetap saja dalam proses pembuatan sulit sekali menghindari kontak dengan udara. Konsistensi dari sediaan emulgel juga kurang padat, meskipun tetap berbentuk semisolid, tetapi lebih condong ke bentuk lotion dari pada emulgel, ini disebabkan karena komposisi gelling agent kurang besar dari segi kuantitas dan kualitas. Kuantitas maksudnya adalah komposisi dalam formula yang kurang besar, sedangkan kualitas maksudnya adalah berat molekulnya kurang besar. Konsistensi yang kurang dapat diatasi dengan penambahan basis gelling agent atau stiffening agent (cetyl alkohol).

| 27

BAB V KESIMPULAN

Emulgel metil salisilat dapat diformulasikan seperti pada formula yang kami susun, akan tetapi emulgel yang dihasilkan kurang sempurna. Emulgel yang terbentuk tidak jernih dan konsistensinya kurang. Untuk meningkatkan kejernihan, dapat dilakukan penambahan surfaktan nonionik atau penambahan antioksidan, jika menggunakan basis Polietilen Glikol, untuk mencegah autooksidasi. Sedangkan untuk meningkatkan konsistensinya dapat dilakukan modifikasi prosedur pembuatan, mengganti basis gelling agent, dan menambahkan stiffening agent. Basis gel yang digunakan hendaknya memiliki berat molekul yang besar sehingga dapat meningkatkan konsistensi sediaan dan hendaknya kemampuannya mengikat air tinggi sehingga bentuk emulgel lebih baik. Proses pembuatan emulgel dengan basis PEG harus diperhatikan dengan seksama, terutama saat pendinginan. Proses pendinginan dinilai baik apabila terjadi seketika, sehingga matriks dapat terbentuk sempurna dan daya ikat air meningkat.

| 28

DAFTAR PUSTAKA
1 2 Anief, M. 2005. Ilmu Meracik Obat. UGM Press: Yogyakarta Anonim. 1979. Farmakope Indonesia edisi III. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia 3 Anonim. 1995. Farmakope Indonesia edisi IV. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia 4 Lachman, L., Herbert A. L., Joseph L. K. 2008. Teori dan Praktek Farmasi Industri Edisi III. UI Press : Jakarta 5 Rowe, Raymond C., Paul J. S., Paul J. W. 2003. Handbook of Pharmaceutical Excipients. Pharmaceutical Press : London 6 7 Voigt, R. 1995. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. UGM Press: Yogyakarta Anonim. 2009. Polietilen Glikol. http://id.wikipedia.org/wiki/Polietilen_glikol. Diakses Pada 11 Januari 2012 8 Anonim. 2009. Menthol. http://en.wikipedia.org/wiki/Menthol. Diakses Pada 11 Januari 2012 9 Anonim. 2009. Parafin. http://id.wikipedia.org/wiki/Parafin. Diakses Pada 11 Januari 2012 10 Anonim. 2010. Emulsi. http://ladytulipe.wordpress.com/2009/01/04/emulsi/. Diakses Pada 11 Januari 2012

| 29