P. 1
Cdk 051 Seminar Penelitian Penyakit Tidak Menular (Bagian III)

Cdk 051 Seminar Penelitian Penyakit Tidak Menular (Bagian III)

5.0

|Views: 3,051|Likes:
Dipublikasikan oleh revliee

More info:

Published by: revliee on Nov 13, 2008
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/11/2013

pdf

text

original

No.

51, 1988
International Standard Serial Number: 0125 – 913X Diterbitkan oleh : Pusat Penelitian dan Pengembangan PT. Kalbe Farma

Daftar Isi:
2. Editorial Artikel: 3. Penelitian di Bidang Kesehatan Jiwa 7. Penelitian di Bidang Kesehatan Jiwa di Bagian Psikiatri Fakultas. Kedokteran Universitas Indonesia Antara 1980—1987 11. Pengaruh Pemanasan Pada Minyak Goreng Yang Diobservasi Pada Tikus Putih 15. Sakarin Sebagai Pemanis 20. Keadaan Fisiologis Hati Tikus Putih Strain LMR Yang Diberi Ransum Biji Saga Pohon (Adenantherā Pavonina Linn) 25. Transfusi Darah : Beberapa Segi Yang Penting Untuk Klinikus 31. Perilaku Kesehatan, Perilaku Kesakitan, dan Peranan Sakit (Suatu Introduksi) 35. Pengamatan Penderita Demam Berdarah Dengue di Indonesia 1985—1986 38. Penelitian Antibodi Anak-anak Usia Baduta Tērhadap 2 Macam Vaksin Polio Ora( (VPO), di Trenggalek, Jawa Timur 42. Hepatik Amebiasis 45. Successful Aging : The Product of Biological Factors, Environmental Quality, and Behavioral Competence 53. Pengalaman Praktek 56. Humor Ilmu Kedokteran 58. Ruang Penyegar dan Penambah Ilmu Kedokteran 59. Abstrak-abstrak

Halusinasi Karya Sriwidodo

Alamat redaksi: Majalah CERMIN DUNIA KEDOKTERAN P.O. Box 3105 Jakarta 10002 Telp.4892808 Penanggung jawab/Pimpinan umum: Dr. Oen L.H. Pemimpin redaksi : Dr. Krismartha Gani, Dr. Budi Riyanto W. Dewan redaksi : DR. B. Setiawan, Dr. Bambang Suharto, Drs. Oka Wangsaputra, DR. Rantiatmodjo, DR. Arini Setiawati, Drs. Victor Siringoringo. Redaksi Kehormatan: Prof. DR. Kusumanto Setyonegoro, Dr. R.P. Sidabutar, Prof. DR. B.Chandra, Prof. DR. R. Budhi Darmojo, Prof. Dr. Sudarto Pringgoutomo, Drg. I. Sadrach. No. Ijin : 151/SK/Dit Jen PPG/STT/1976, tgl.3 Juli 1976. Pencetak : PT. Temprint.

Tulisan dalam majalah ini merupakan pandangan/pendapat masing-masing penulis dan tidak selalu merupakan pandangan atau kebijakan instansi/lembaga/bagian tempat kerja si penulis

Melengkapi edisi Seminar Penyakit Tidak Menular. Cermin Dunia Kedokteran nomor ini menampilkan bagian ke III, atau seri terakhir dari Seminar Penyakit Tidak Menular, yang telah diadakan oleh Pusat Penelitian Penyakit Tidak Menular, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta. Pada dua nomor lalu telah dibahas beberapa masalah seperti kanker, radiasi dan radiologi, pen yakit jantung dan hipertensi, kecelakaan di bidang pertanian, dan kegiatan penelitian di lingkungan Direktorat Kesehatan Gigi. Pada kesempatan ini kami tampilkan lagi 5 judul . 1. Penelitian di Bidang Kesehatan Jiwa. 2. Penelitian di Bidang Kesehatan Jiwa di Bagian Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Antara 1980 — 1987. 3. Pengaruh Pemanasan Pada Minyak Goreng yang Diobservasi Pada Tikus Putih. 4. Sakarin Sebagai Pemanis. 5. Keadaan Fisiologis Hati Tikus Putih Strain LMR_ Yang Diberi Ransum Biji Saga Pohon (Adenanthera pavonina Linn). Dalam nomor ini pula redaksi mendapat kehormatan untuk memuat 1 artikel dari penulis luar negeri,yaitu Margret M Baltes, dari Free University Berlin. Beliau membahas masalah usia lanjut. Topiknya: Successful Aging: The Product of Biological Factors, Environmental Quality, and Behavioral Competence. Redaksi

2

Cermin Dunia Kedokteran No. 51, 1988

Artikel Penelitian di Bidang Kesehatan Jiwa
Dr. Rudy Salan Pusat Penelitian Penyakit Menular, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Departemen Kesehatan RI, Jakarta

PENDAHULUAN Dalam sepuluh tahun terakhir ini, penelitian yang telah dilakukan di bidang kesehatan jiwa oleh instansi-instansi yang bernaung di bawah Departemen Kesehatan, R.I., khususnya Direktorat Kesehatan Jiwa, Direktorat Jenderal Pelayanan Medik dan Pusat Penelitian Penyakit Tidak Menular, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, berpedoman pada penelitian yang dianggap mendasar. Di sini dapat disebut bidang statistik rumah sakit jiwa, epidemiologi gangguan jiwa, masalah narkotika, psikiatri transkultural, psikiatri biologik dan psikometrika. Bidang-bidang penelitian ini dianggap penting sebagai dasar bagi penelitian-penelitian lain di kemudian had. Penelitian yang lebih bersifat akademik, yaitu di bidang psikiatri klinik dan yang ada kaitannya dengan cabang-cabang ilmu kedokteran klinik lain dianggap kurang sesuai apabila dilakukan oleh Departemen Kesehatan yang merupakan instansi pelayanan. Penelitian demikian ini dianggap lebih sesuai dilakukan oleh instansi akademik dan pendidikan. Sebagai dasar falsafah penelitian kesehatan jiwa diambil pengertian dan pendekatan holistik-eklektik. Sesuai dengan falsafah ini, penelitian kesehatan jiwa senantiasa mengikutsertakan disiplin-disiplin ilmu-ilmu pengetahuan lain sejauh ini ada hubungan dengan penelitian yang sedang dilakukan. Begitu pun para peneliti dianjurkan senantiasa terbuka ter-hadap pendapat-pendapat yang telah diperoleh melalui penelitian lain, walaupun ini bertentangan dengan pendapatpendapat yang merupakan pedoman di Departemen Kesehatan. Sikap terbuka yang demikian itu merupakan cara yang sehat dan terbaik untuk memacu, mengembangkan dan memajukan hasrat penelitian di bidang kesehatan jiwa. PENELITIAN-PENELITIAN YANG PENTING Di bawah ini disajikan sejumlah penelitian yang telah dilakukan dalam sepuluh tahun akhir ini dan yang dianggap masih perlu dikembangkan lebih jauh. Sebagian penelitian

telah selesai, sebagian lagi masih sedang dilakukan, dan se bagian lain masih dalam perencanaan. Perlu dimengerti bahwa dalam laporan sesingkat ini tidak semua penelitian yang relevan dapat dikemukakan. Masih banyak penelitian yang diterbitkan dalam majalah-majalah ilmiah yang tidak sempat disebut di sini. Namun, untuk memperoleh gambaran yang menyeluruh, mudah-mudahan apa yang telah disajikan ini sudah memadai. 1) Pencatatan dan pelaporan pasien mental Proyek ini telah dimulai sejak 1971 •dan mencakup pencatatan dan pelaporan dari semua pasien mental yang dirawat di rumah sakit jiwa, fasilitas perawatan psikiatrik di rumah sakit umum, rumah sakit swasta, rumah sakit ABRI, fasilitas perawatan di klinik universitas dan klinik psikiatrik swasta. Dalam satu tahun dirawat 9000—10000 pasien mental dan dari jumlah ini 50% adalah pasien yang untuk pertama kali dalam hidupnya dirawat di rumah sakit (first admissions). Dari data ini dapat dikomputasi macam-macam rates, a.l. hospital admission rates yang ternyata berbeda sekali dari satu provinsi ke provinsi lain. Kemudian dapat dibuat perencanaan tentang kebutuhan tempat tidur di seluruh Indonesia dan per provinsi. Proyek penelitian ini dibiayai oleh Direktorat Kesehatan Jiwā dengan konsultan- yang disediakan oleh International Committee Against Mental Illness (ICAMI), New York, USA. Peneliti utama: Dr. Rudy Salan. 2) Penyusunan suatu daftar isian bagi pasien narkotik Penelitian ini merupakan penelitian bersama dengan WHO (1976—1978). Dalam upaya ini diusahakan untuk merancang dan menggunakan suatu daftar isian bagi pasien yang terlibat dalam penyalahgunaan zat/obat yang kemudian dianjurkan untuk digunakan secara internasional. Dengan demikian dapat diupayakan suatu perbandingan data antar negara atau antar wilayah. Formulir ini telah digunakan di beberapa negara secara rutin, juga dalam upaya penelitian. Penelitian ini dibiayai oleh WNO Genewa. Peneliti utama: Dr. Rudy Salan.

Cermin Dunia Kedokteran No. 51, 1988

3

3) Penelitian preliminer tentang praktek pengobatan tradisioonal pada pengobat tradisional di Palembang. Penelitian ini adalah suatu survai preliminer tentang praktek-praktek yang dikerjakan oleh para pengobat tradisi-onal di Palembang (1980-1981). Penelitian ini dibiayai oleh Litbangkes. Peneliti utama: Dr. Achmad Hardiman. 4) Penelitian faktor-faktor psiko-sosio-kultural dalam pengobatan tradisional pada tiga daerah, Palembang, Semarang dan Bali. Penelitian ini bermaksud menyelidiki hubungan interpersonal antara pengobat tradisional dengan kliennya (19811982). Perhatian khusus diberikan kepada faktor-faktor psikososiokultural yang dianggap penting untuk kepuasan klien dan kelanjutan pengobatan oleh klien. Dalam keseluruhan 9 pengobat tradisional dan 90 klien diperiksa dan di follow up untuk beberapa minggu. Penelitian ini dibiayai oleh Litbangkes. Peneliti utama Dr. Rudy Salan. 5) Suatu studi prevalensi penyakit psikosis, retardasi mental dan epilepsi di Tambora, Jakarta Barat (Tambora I). Penelitian ini adalah suatu studi prevalensi yang dilakukan di Tambora, Jakarta Barat yang mencakup jumlah sekitar 100.000 penduduk (1983—1984). Dalam penelitian ini telah ditemukan prevalensi psikosis 2.18, retardasi mental 1.89 dan epilepsi 0.39 per 1000 penduduk dewasa. Beberapa informasi tentang pelayanan Puskesmas, rumah sakit umum dan rumak sakit jiwa terhadap pasien-pasien jenis ini telah dianalisis pula. Penelitian ini dibiayai oleh Litbangkes. Peneliti utama : Dr. Rudy Salan. 6) Suatu studi tentang frekuensi/persentase gangguan mental emosional antara pengunjung dewasa di Puskesmas Tambora, Jakarta Barat (Tambora II). Maksud dari penelitian ini adalah melihat berapa pasien dewasa yang mengunjungi Puskesmas menderita gangguan mental emosional sebagai gangguan utama atau yang melatarbelakangi penyakit lain (1984—1985). Dari kira-kira 2500 pasien yang mengunjungi Puskesmas dalam jangka waktu pengobatan 6 bulan terdapat 28,37% yang menderita gangguan jiwa yang dapat didiagnosis dan dari jumlah ini 37,7% menderita depresi. Data ini tidak banyak berbeda dari data yang dikemukakan dalam kepustakaan WHO dan negaranegara yang maju. Penelitian ini dibiayai oleh Litbangkes. Peneliti utama : Dr. Rudy Salan. 7) Suatu studi tentang frekuensi/persentase gangguan mental ēmosional antara pengunjunganak (5—15 tahun) di Puskesmas Tambora, Jakarta Barat (Tambora III). Penelitian ini bermaksud melihat berapa pasien anakanak (5—15 tahun) yang mengunjungi Puskesmas menderita gangguan mental emosional sebagai gangguan utama atau yang melatarbelakangi penyakit lain (1985—1986). Penelitian telah selesai dan kini analisis data sedang dilakukan. Penelitian ini dibiayai, oleh Litbangkes. Peneliti utama : Dr. Rusdi Maslim. 8) Suatu penelitian multi-centre tentang kesehatan jiwa dalam pelayanan kesehatan primer. Penelitian ini adalah suatu penelitian kolaboratif dengan WHO—SEARO yang dilakukan di beberapa negara sekaligus (1983—1985). Dalam penelitian ini dilakukan evaluasi tentang: adanya problem psikososial pada pengunjung Puskesmas (Magelang dan Surakarta), cara para dokter mengenal masalah

ini, pembuatan gagasan flow-chart untuk diagnosis dan terapiterapi khusus. Penelitian ini dibiayai oleh WHO—SEARO bersama-sama dengan Direktorat Kesehatan Jiwa. Peneliti utama: Dr. W.M. Roan. 9) Suatu penelitian kolaboratif dengan WHO—SEARO tentang indikator kesehatan jiwa anak dan perkembangan psikososial sehat. Penelitian ini adalah suatu penelitian kolaboratif dengan WHO—SEARO tentang pengembangan indikator kesehatan jiwa anak (1985--1986). Di Kecamatan Pasar Minggu 200 keluarga telah dipilih secara random dan dilihat faktor-faktor risiko yang membedakan keluarga yang perkembangan anaknya kurang menguntungkan dengan keluarga yang perkembangan anaknya baik. Telah ditemukan beberapa indikator yang konfirmasinya di daerah lain sedang dilakukan. Penelitian ini dibiayai oleh WHO—SEARO. Peneliti utama: Dr. Yan Prasetyo. 10) Suatu penelitian kolaboratif dengan WHO—SEARO tentang indikator aspek psikososial pelayanan di Puskesmas.
Tabel 1. Distribusi pasien psikotik menurut diagnosis dan Jenis kelamin, Tambora I. Kode Diagnosis Laki-laki Perempuan Total PPDGJ I 290 290.0 293 293.0 293.1 294.5 293.9 294 294.4 295 295.0 295.1 295.2 295.3 295.4 295.6 295.8 296, 296.0 296.1 296.2 296.8 296.9 297 297.9 298
'

Dementia senilis dan presenilis Dementia senilis Psikosis berhubungan dengan kondisi cerebral lain Arteriosklerosis serebri Gangguan serebrovaskuler lain Rudapaksa otak Kondisi serebral lain Psikosis berhubungan dengan fisik lain Kelahiran anak Skizofrenia Simpleks Hebefrenik Katatonik Paranoid Episoda akut Residual Lain Psikosis afektif Melancholia involusi Psikosis MD, jenis mania Psikosis MD, jenis depress Psikosis afektif lain Psikosis afektif tak tergolongkan Keadaan paranoid Keadaan paranoid lain Psikosis lain Depresi reaktif Gaduh-gelisah reaktif Psikosis tak tergolongkan Tota1

3(42.9%) 3 4 (80.0%) – 1 1 2

4 (57.1%) 4 1 (20.0%) 1 – – – 1(100%)

7 7 5 1 1 1 2 1 94 23 10 1 37 3 7 13 15 1 5 4 3 2 11 11 4 1 1 8 145

– 1 60(63.8%) 34(36.2%) 18 3 1 25 3 5 5 11(73.3%) – 4 3 2 2 4(36.4%) 4 3(75.0%) 2 1 5 7 – 12 – 2 8 4(26.6%) 1 1 1 1 – 7(63.4%) 7 1(25.0%) – 1

298.0 298.1 299

6(75.0%) 2(75.0%) 91(62.8%) 54(37.9%)

4

Cermin Dunia Kedokteran No. 51, 1988

Indonesia. Penelitian ini menunjukkan 2 faktor penting merupakan faktor penyumbang pada ketergantungan obat, yaitu indikator lingkungan Kode 16—25 26—45 46 Th sosial remaja sebaya (peer groups) sebanyak 40% PPDGJ I Diagnosis Tahun Tahun Ke atas Total dan psikopatologi sebanyak 30%. Peneliti utama: Dementia senilis dan pre— — 7 (100%) -.7 290 Dr. Abdul Rachman Alwandi. senilis 12) Penelitian tentang gangguan metabolik 290.0 Dementia senilis — —' 7 7 pada anak dengan retardasi mental di sekolah 293 Psikosis berhubungan 1 (20.0%) 2 (40.0%) 2 (40.0%) 5 luar biasa di Jakarta. dengan kondisi serebral Penelitian ini bermaksud untuk mendapatkan lain 293.0 Arteriosklerosis serebri — 1 — 1 proporsi dan jenis dari gangguan metabolik 293.1 Cangguan serebrovasdi antaramurid-murid dengan retardasi mental kular lain — — 1 1 pada sekolah luar biasa di Jakarta (1986-1987). 293.5 Rudapaksa otak 1 — — 1 Jumlah populasi adalah sekitar 1500 murid. 293.9 Kondisi serebral lain 1 1 2 Hasilnya belum tersedia, namun telah ditemukan 1 (100%) — — 1 294 Psikosis berhubungan beberapa gangguan metabolik yang sebelumnya dengan fisik lain tidak pernah ditemukan di Indonesia, yaitu 294.4 Kelahiran anak 1 — — 1 ganguan metabolik PKU. Unsur-unsur herediter295 Skizofrenia 21 (22.3%) 50 (53.2%) 23 (24.5%) 94 nya telah ditelusuri dengan seksama. Penelitian 295.0 Simpleks 5 810 23 ini dibiayai oleh Litbangkes. Peneliti utama: 295.1 Hebefrenik 2 8 — 10 295.2 Katatonik 1 — — 1 Dr. AS. Gunadi. 295.3 Paranoid 9 21 7 37 13) Penelitian di bidang psikiatri biologik. 295.4 Episoda akut 2 1 — 3 Dalam kategori psikiatri biologik sejumlah 295.6 Residual 1 4 2 7 295.8 Lain 1 8 4 13 penelitian telah dilakukan yang tidak dapat disebut di sini satu per satu. 296 Psikosis afektif 4 (26.7%) 7 (46.6%) 4 (26.7%) 15 (a) Ujicoba terbuka dan terkontrol dengan ke296.0 Melancholia involusi — — 1 1 296.1 PsikosisMD, jenis mania 1 3 1 5 banyakan obat psikotropik yang telah ber296.2 Psikosis MD, jenis depresi — 3 1 4 edar di Indonesia. 296.8 Psikosis afektif lain 1 1 1 3 (b) Pengukuran konsentrasi plasma dari obat. 296.9 Psikosis afekrif tak ter2 — — 2 antidepresan pada pasien dengan penggolongkan. obatan antidepresan. 297 Keadaan paranoid , 2 (18.2%) 7 (63.6%) 2 (18.2%) 11 (c) Penelitian EEG dari orang normal, pasien 297,9 Keadaan paranoid lain 2 7 7 11 skizofrenia dan pasien dengan depresi. 298 Psikosis lain 1 (25.0%) 2 (50.0%) 1 (25.0%) 4 Hasil-hasil penelitian ini secara periodik dilapor298.0 Depresi reaktif 1 — 1 2 kan pada pertemuan-pertemuan khusus psikiatri 298.1 Gaduh-gelisah reaktif — 2 — 2 biologik. Kordinator penelitian: Dr. Yul Iskandar. 8 299 Psikosis tak-tergolongkan 4 (50.0%) 3 (37.5%) 1 (12.5%) 14) Penelitian di bidang psikometrika. Sejumlah penelitian di bidang psikometrika Total 34 (23.4%) 71 (49.0%) 40 (27.6%) 145 telah dilakukan dengan maksud memperkaya armamentarium instrumen yang dimiliki oleh Psikosis berhubungan dengan kondisi fisik lain. ilmu kesehatan jiwa. Di sini dapat disebut bePenelitian ini bermaksud untuk mencari indikator-indiberapa saja. kator yang dapat digunakan untuk dapat memonitor upaya (a) Instrumen untuk menilai disabilitas yang diakibatkan kapelayanan kesehatan primer (1985—1986). Indikator ini merena gangguan mental. liputi kepuasan pasien tentang pengobatan yang diterimanya (b) Instrumen untuk menentukan indikator-indikator kedan observasi dari perilaku pemberi pelayanan (dokter dan sehatan jiwa. paramedik). Penelitian ini dibiayai oleh WHO—SEARO. Pe(c) Adaptasi MMPI di Indonesia dengan T-score menurut neliti utama : Dr. Denny Thong. orang Indonesia, 11) Studi tentang psikopatologi dan lingkungan sosial pada (d) Adaptasi Cornell Medical Index untuk orang Indonesia. pasien ketergantungan obat di Rumah Sakit Ketergantungan (e) Penerjemahan Present Status Examination (PSE). Obat, Jakarta. (f) Instrumen-instrumen untuk skrining retardasi mental di Penelitian ini adalah suatu Tesis SII pada Fakultas Kedalam masyarakat. sehatan Masyarakat, Universitas Indonesia dengan bimbingan (g) Instrumen untuk menilai perilaku tipe A dan tipe B dalam antara lain dari Direktorat Kesehatan Jiwa (1985). Evaluasi rangka mencari faktor risiko pada penyakit jantung koroner. psikopatologi dilakukan terhadap pasien ketergantungan obat (h) Instrumen untuk menilai depresi pada remaja (IDR). dan kontrolnya dengan menggunakan Minnesota Multiphasic (i) Instrumen yang dikembangkan untuk keperluan psikiatri Personality Inventory (MMPI) yang telah diadaptasi untuk biologik: KSPBJ Depression Rating Scale, KSPBJ Insomnia Rating Scale, dan sebagainya. Cermin Dunia Kedokteran No. 51, 1988 5

Tabel 2. Distribusi pasien psikotik menurut diagnosis dan kelompok umur, Tambera I.

Tabel 3. Angka prevalensi dari psikosis, retardasi mental dan epilepsi per 1000 penduduk kecamatan Tambora Jakarta Barat, Tambora I. Kategori Pen yakit/ gangguan
t

Jumlah pasien 145 7

Prevalensi penduduk total Laki Wanita Total 1.81 0.06 1.07 0.08 1.44 0.07

Prevalensi penduduk > 16 tahun Laki Wanita Total 2.67 1.65 0.09 0.12 2.18 0.11

Psikosis 290 Dementia senilis dan presenilis 293 Psikosis berhubungan dengan kondisi serebral lain 294 Psikosis berhubungan dengan kondisi fisik lain 295 Skizofrenia 296 Psikosis afektif 297 Kcadaan paranoid 298 Psikosis lain 299 Tak tergolongkan Retardasi Mental 310 Taraf perbatasan 311 Ringan. 312 Sedang Epilepsi Grand mal Petit mal

5 1 94 15 11 12 12 2 6 4 26 23 3

0.08 1.19 0.22 0.08 0.18 1.07 0.43 0.43 0.21 0.22 0.18 0.04

0.02 0.02 0.67 0.08 0.14 0.06 1.42 0.81 0.61 0.30 0.28 0.02

0 05 0.01 0.93 0.15 0.11 0.12 1.25 0.21; 0.62 0.41 0.26 0.23 0.03

0.12 0.13 1.76 0.32 0.12 0.26 0.03 1.04 0.12 0.22 0.09

0.08 0.01 1.41 0.23 0.16 0.18 1.89 0.32 0.94 0.63 0.39 0.35 0.04

1.57 2.22 0.63 0.63 1.27 0.31 0.95 0.32 0.46 0.26 0.43 0.06 0.03

Tabel 4. Angka prevalensi dari psikosis, per 1000 penduduk menurut umur, Kecamatan Tambora Jakarta Barat, Tambora I. Prevalensi Kategori Penyakit/gangguan PSIKOSIS 290 Dementia senilis dan presenilis 293 Psikosis berhubungan dengan kondisi serebral lain 294 Psikosis berhubungan dengan kondisi fisik lain 295 Skizofrenia 296 Psikosis afektif 297 Keadaan paranoid 298 Psikosis lain 299 Yang tak tergolongkan Jumlah pasien 145 7 5 1 94 15 11 12 16-25 1.82 0.05 0.05 1.12 0.22 0.11 0.27 26-45 >46 Total 2.18 0.11 0.08 0.01 1.41 0.23 0.16 0.18

2.22 2.48 0.44

0.06 0.12 1.57 0.22 0.22 0.15 1.43 0.25 0.12 0.12

akan mempengaruhi deskripsi dan kategorisasi dari gangguan/penyakit. Apabila dahulu kategorisasi didasarkan kepada konsensus, kini kategorisasi ingin dikaitkan dengan efek terapi,' efek farmakologik obat psikotropik, gangguan neurotransmitters dalam otak dan etiologi. Biasanya penelitian.penelitian ini dilakukan di negara yang maju, sehingga sering kategorisasi gangguan jiwa dirasakan kurang sesuai dengan gangguan-gangguanyang terdapat di negaranegara yang sedang berkembang. Kini WHO sudah menyadari hal ini dan fokus dari revisi X akan diarahkan pada sindrom- sindrom yang banyak terdapat di negara-negara yang sedang berkembang. Area penelitian yang penting pula adalah hubungan antara perubahan sosial, perubahan lingkungan hidup, perubahan sistem nilai, lingkungan kerja dan sebagainya dengan gangguan jiwa dan kesehatan jiwa. Penelitian-penelitian ini di satu pihak dilakukan oleh disiplin kesehatan jiwa, di lain pihak harus dilakukan dalam kerjasama dengan ilmu-ilmu sosial, seperti psikologi sosial, psikologi klinik, ilmu kesehatan masyarakat, antropologi budaya, antropologi kesehatan, sosiologi kesehatan dan sebagainya. Pengembangan psikometrika perlu sekali dalam masa depan, karena ini akan memperkaya perbendaharaan penilaian keadaan kesehatan jiwa. Sebagaimana kini dirasakan, perusahaan-perusahaan swasta maupun instansi-instansi pemerintah sudah merasa perlu memiliki sarana tenaga manusia yang dapat diandalkan, khususnya dalam rangka tinggal landas yang akan datang. Oleh karena itu penilaian psikopatologi tidak lagi dapat dilakukan oleh para psikiater dan psikologi saja, tetapi harus sudah mulai mengikutsertakan para non profesional. Untuk keperluan ini mereka perlu sekali dibantu dengan perlengkapan-perlengkapan instrumen evaluasi ketenagaan yang dapat dipercaya dan diandalkan. Kerjasama antara disiplin psikologi dan psikiatri sangat dirasakan untuk proyek-proyek semacam ini. Namun demikian Departemen Kesehatan seyogyanya tidak tertutup untuk penelitian-penelitian yang walaupun sekarang tampaknya masih belum . dianggap prioritas, tetapi yang di kemudian hari dapat menjadi topik penelitian yang sangat fundamental untuk menyukseskan pembangunan.

Penelitian-penelitian ini dilakukan oleh banyak peneliti yang biasanya membiayainya sendiri. Koordinator: Dr. Rudy Salan dan Dr. Yul Iskandar. PENELITIAN KESEHATAN JIWA DI MASA DEPAN Penelitian yang kini sedang dilakukan dan yang masih akan berjalan lebih lanjut untuk masa depan adalah penelitan tentang kategori diagnostic untuk klasifikasi diagnostic WHO tentang gangguan jiwa. Sebagaimana diketahui, klasifikasi diagnostic WHO setiap 10 tahun akan mengalami revisi yang

6

Cermin Dunia Kedokteran No. 51, 1988

Penelitian di Bidang Kesehatan Jiwa di Bagian Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Antara 1980-1987
W. Edith Humris Koordinator Riset di Bagian Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta

PENDAHULUAN Seperti juga dibidang ilmu kedokteran lain, penelitian di bidang psikiatri bersifat klinis dan dilakukan pada sekelompok responden. Perbedaannya ialah etiologi dalam bidang kedokteran jiwa bersifat multi/aksial yaitu yang berhubungan dengan kondisi fisik-biologik, sosio-budaya dan psikologik-edukasional. Keadaan ini acapkali digambarkan sebagai konsep "tiga roda" yang saling berpotongan. Di samping itu perlu diingat pula bahwa gangguan dalam salah satu aspek akan dapat mengakibatkan gangguan dalam aspek lain. Contohnya retardasi mental (dengan istilah populer disebut sebagai tuna grahita atau cacad mental) yang disebabkan oleh kelainan organik biasanya juga menimbulkan gangguan dalam proses belajar (aspek psikologik edukasional) dan kesukaran dalam menjalankan peran-sosial.

Pemeriksaan status mentalis biasanya dilakukan dengan observasi dan wawancara. Supaya data dari wawancara dapat dipakai untuk kepentingan riset maka diperlukan kuesioner yang telah diuji reliabilitas dan validitasnya. Hal lain yang harus diingat ialah untuk mengobati ganggu-an mental emosional dapat digunakan berbagai pendekatan yang dapat digolongkan dalam 3 kategori: 1) Terapi medisinal yang biasanya dilakukan dengan obat-obatan dari golongan neuroleptika, anxiolitika dan antidepresan. 2) Psikoterapi. 3) Manipulasi sosial, misalnya perawatan di rumah sakit yang berarti bahwa untuk sementara waktu pasien terhindar dari suasana penuh stres di rumah. Dapat disimpulkan, ruang lingkup untuk penelitian di bidang kesehatan jiwa sangat luas. Tanggung jawabnya tidak hanya terbatas pada perawatan orang dengan gangguan jiwa yang berat (misalnya psikosis) saja, tetapi bagian ilmu ke dōkteran lainnya serta masyarakat pada umumnya membutuhkan psikiatri supaya dapat mencapai taraf kesehatan yang optimal yaitu secara fisik, mental dan sosial. PENELITIAN ANTARA 1980—1987 Bagian Psikiatri juga dituntut untuk menjalankan Tridarma Perguruan Tinggi yaitu pendidikan, penelitian dan pelayanan masyarakat. Dengan segala keterbatasannya diusahakan untuk menjalankan ketiga tugas ini dengan sebaikbaiknya. Penelitian yang dilakukan adalah dalam rangka pendidikan 'S2 yaitu sebagai persyaratan terakhir untuk menjadi dokter ahli jiwa. Apa yang akan diteliti dibicarakan dalam suatu seminar yang dipimpin oleh anggota staf Bagian Psikiatri. Setelah judul dan rancangan penelitian disetujui, barulah asisten dapat melakukan pengumpulan data. Dengan demikian maka pelaksanaan riset merupakan suatu pendidikan bagi asisten supaya mempunyai • ketrampilan membuat rancangan penelitian, melakukan pengumpulan data, mengadakan analisis serta melaporkannya dalam karya tulis. Penelitian yang biasanya dilakukan merupakan penelitian

Perlu diingat pula, pemeriksaan di Bagian Psikiatri dapat dibagi dua, yaitu: 1) pemeriksaan fisik-neurologik dan laboratorium 2) pemeriksaan status mentalis : a) emosi dan alam perasaan b). persepsi c) keadaan proses berpikir d) keadaan kognitif/intelektual e) perilaku

Cermin Dunia Kedokteran No. 51, 1988

7

ex post facto dan merupakan studi komparatif yang mencari korelasi antara beberapa variabel. Sampel yang diambil biasanya bersifat selektif (purposive sampling) dengan jumlah respondent yang terbatas, tetapi telah diperhitungkan dengan metoda statistik. Kebanyakan penelitian bersifat kuantitatif dan ada hipotesis yang diuji. Jumlah penelitian yang kualitatif/ deskriptif sangat terbatas. Di bawah ini disajikan tabel mengenai lokasi penelitian :
Lokasi Penelitian I. Di Bagian Psikiatri H. Di bagian lain dari suatu R.S. III. Di lembaga lain di luar R.S. (panti-asuhan, lembaga pemasyarakatan, dan lain-lain). IV. Di Rt/Rw/Kelurahan Jumlah 10 19 33 3 N= % 18,2 % 34,5 % 41,8 % 5,5 % . 100 %

55

I. Penelitian di Bagian Psikiatri. Jumlah penelitian yang dilakukan di Bagian Psikiatri ada 10 (sepuluh) 'buah, di antaranya 6 (enam) mengenai gangguan jiwa yang berat yaitu skizofrenia untuk mendapatcara diagnostik yang lebih tepat dan pengenalan sindrom daripada gangguan jiwa itu, berjumlah 4 (empat) buah. Di samping itu, ada juga yang mencoba melihat pengaruh pengobatan medisinal dan rehabilitasi terhadap penyakit tersebut, sebanyak 2 (dua) buah. Penelitian lainnya adalah : 1. Perbedaan parenting style antara ibu dengan pendidikan tinggi dan rendah pada anak dengan reaksi adaptasi. 2. Problema emosional dalam pendidikan keahlian psikiatri. Penelitian ini bersifat kualitatif/deskriptif dan tidak ada hipotesis yang dibuktikan, tetapi dianggap bahwa dalam pendidi_kan keahlian psikiatri faktor emosional dan kepribadian memainkan peranan yang penting. 3. Anxietas dan tes penampilan psikomotor, suatu penelitian pada sekelompok pasien. 4. Kelainan psikiatrik pada anak yang ibunya menderita skizofrenia meneliti pengaruh daripada gangguan jiwa dari ibu terhadap status mentalis anak yang diasuhnya. Seperti diketahui maka skizofrenia merupakan hambatan yang berat bagi ibu yang menderitanya untuk menjalankan peranannya sebagai ibu. II. Penelitian di bagian lain dari Rumah Sakit yang termasuk dalam kategori ini : 1. Penelitian mengenai pengaruh/akibat suatu penyakit atau kondisi tertentu terhadap aspek tertentu daripada status mentalis atau kepribadian (13 buah). Penyakit atau kondisi tertentu itu adalah : a. perawatan anak di rumah sakit b. abortus c. penyakit terminal d. luka bakar e. infertilitas f. klimakterium g. kegagalan ginjal menahun h. epilepsi i. sterilisasi j. usia lanjut.

2. Penelitian mengenai pengaruh/akibat suatu penyakit atau kondisi tertentu terhadap aspek tertentu dari lingkungan: a. pengaruh luka bakar terhadap sikap ibu b. pengaruh perawatan pasien karsinoma terhadap sikap perawat c. pengaruh perawatan pasien di ICU terhadap keadaan emosional perawat. 3. Penelitian lainnya yaitu : a. meneliti hubungan antara suatu pola tingkah laku tertentu dengan suatu penyakit (penyakit jantung koroner) b. mengukur validitas dan reliabilitas daripada instrument wawancara. c. meneliti hubungan antara psikopatologi dan infertilitas dengan hiperprolaktinemi. Untuk penelitian ini diperlukan pengukuran daripada kadar prolaktin dalam darah yang cukup mahal biayanya tetapi dapat diatasi berkat bantuan daripada World Health Organization. III. Penelitian di lembaga di luar Rumah Sakit. Yang termasuk kategori ini adalah : 1. Penelitian mengenai gangguan emosionil pada anak dalam panti asuhan, antara lain: depresi, agresi, kesulitan belajar, citra diri dan deprivasi maternal. 2. Penelitian mengenai retardasi mental, antara lain bagaimana sikap ibu dari anak yang menderita retardasi mental dan psikopatologi keluarga apa yang dapat timbul bila salah seorang anak menderita retardasi mental. Juga diselidiki bagaimana citra diri remaja yang menderita retardasi mental ringan. 3. Penelitian mengenai kriminalitas dan .kenakalan remaja antara lain : Apa yang menjadi latar belakang dari depresi, kepribadian psikopatik dan gangguan pada status mentalis. Juga diteliti bagaimana akibat dari penahanan narapidana di Lembaga Pemasyarakatan yang menyebabkan terjadinya sexual abstinence. Mengenai kenakalan remaja diteliti apakah yang menjadi latar belakangnya, yaitu gangguan dalam mencari identitas diri dan perpisahan dengan orangtua sebelum usia 10 (sepuluh) tahun. 4. Penelitian mengenai geriatri, antara lain: bagaimana keadaan emosionil dari para lanjut usia serta citra dirinya. Juga diselidiki apakah ada gangguan dalam pola tidurnya yang dihubungkan dengan keadaan depresi. 5. Penelitian mengenai masalah perceraian yaitu apakah masalah seksual merupakan salah satu latar belakangnya. 6. Penelitian mengenai apakah suatu keadaan tertentu akan menimbulkan psikopatologi yang lebih berat misalnya bekerja di ruang mesin kapal dengan suara yang gaduh. 7. Penelitian mengenai apakah para pengemudi bis angkutan penumpang yang mengalami kecelakaan lalu lintas berakibat korban fatal menunjukkan suatu gangguan dalam status mental. 8. Lain: survey pola penulisan resep benzodiazepin di Jakarta. IV. Penelitian di RT/RW/Kelurahan merupakan penelitian lapangan yang berusaha meneliti suatu masalah dalam masyarakat yaitu: putus sekolah, gejolak emosionaldalam masa remaja serta retardasi mental. Penelitian itu adalah : a. Putus sekolah dan kenakalan remaja serta masalah emosioonalnya pada remaja laki-laki di Kelurahan Tomang Jakarta.

8

Cermin Dunia Kedokteran No. 51, 1988

b Keadaan sosial ekonomi dan frekuensi retardasi mental ringan dan borderline pada anak di Kelurahan Kebon Jeruk Jakarta. c. Problema emosional pada remaja yang taat menjalankan agamanya. Perlu pula ditambahkan bahwa penelitian terhadap anak dan orang tuanya cukup banyak dilakukan yaitu sebanyak 36,4% (20'penelitian). Penelitian yang khusus dilakukan terhadap anak jumlahnya 25.5% (14 penelitian) dan terhadap orangtuanya 10,9% (6 penelitian). Penelitian terhadap anak mendapat minat yang khusus di Bagian Psikiatri FKUI oleh karena anak merupakan penerus dari generasi umat manusia. Kepribadian pada anak belum terbentuk sepenuhnya dan masih belum "kaku" sifatnya, sehingga bila diagnostik gangguan jiwa dapat cepat ditegakkan, maka terapinyapun lebih cepat dapat diberikan dan kemungkinan berhasilnya lebih besar. Di samping itu perlu secara teratur diadakan pemantauan terhadap masalah atau kondisi yang berbahaya bagi perkembangan anak oleh karena hambatan yang berat akan mempunyai pengaruh yang besar juga terhadap kesehatan jiwa anak dan remaja. Cukup banyak masalah yang mengancam kesehatan jiwa anak dan remaja antara lain kenakalan remaja, juga termasuk masalah narkotika, cacad mental serta lainnya. Di samping itu ada anak-anak yang dapat digolongkan dalam golongan high risk yaitu anak yang hidup dan berada dalam lingkungan yang kurang menguntungkan bagi perkembangannya misalnya: anak dari ibu yang menderita skizofrenia dan anak di panti asuhan. Pada anak-anak tersebut terdapat kecenderungan yang lebih besar untuk menderita gangguan jiwa di kemudian hari. Penelitian mengenai terapi dan rehabilitasi dalam psikiatri masih sangat sedikit dilakukan, yaitu hanya sebanyak 3,6% (2 penelitian). Penelitian mengenai psikoterapi memang sangat sukar untuk dilakukan oleh karena sulit untuk memberikan psikoterapi yang uniform pada setiap responden. Untuk mengadakan penelitian mengenai obat maka Bagian Psikiatri FKUI harus mengikuti Pedorpan Uji Klinik yang ditetapkan oleh Bāgian Farmakologi FKUI dan memenuhi persyaratan kode etik kedokteran. Terdapat kesan bahwa perusahaan farmasi yang biasanya membiayai penelitian mengenai obat sangat sulit mengikuti persyaratan itu, sehingga penelitian obat yang ilmiah di Bagian Psikiatri sangat jarang dapat dilaksanakan. Ada beberapa penelitian yang dilakukan dengan kerjasama Departemen Kesehatan tetapi tidak diuraikan dalam makalah ini. HAMBATAN DAN KESUKARAN DALAM MENGADAKAN PENELITIAN Penelitian di Bagian Psikiatri mempunyai banyak keterbatasan antara lain : 1) terbatasnya dana dan prasarana untuk penelitian; untuk penelitian psikiatri biologik diperlukan laboratorium yang canggih yang sampai sekarang belum dimiliki oleh Bagian Psikiatri. 2) terbatas dalam manpower oleh karena dilakukan oleh seorang asisten, dibantu asisten lain, tenaga perawat dan administrasi. 3) terbatas dalam ketrampilan oleh karena asisten biasanya

belum pernah melakukan riset sebelumnya, tetapi supervisi senantiasa dilakukan oleh anggota staf Bagian Psikiatri. 4) kuesioner yang digunakan adakalanya belum diuji reliabilitas dan validitasnya. 5) jumlah variabel dalam psikiatri sangat banyak dan sukar dihindarkan; hal ini sebenarnya dapat diatasi dengan memperbesar jumlah sampel dan menggunakan komputer untuk analisis data. KESIMPULAN Telah diuraikan ruang lingkup yang luas dari penelitian kesehatan jiwa di Bagian Psikiatri FKUI. Juga telah dikemukakan jenis-jenis penelitian dan keterbatasan dari Bagian Psikiatri FKUI untuk melakukan penelitian. Dalam lampiran dapat ditemukan semua penelitian yang telah dilakukan antara 1980 — 1987.
LAMPIRAN PENELITIAN YANG DILAKUKAN ANTARA 1980–1987 DI BAGIAN PSIKIATRI FKUI Tahun 1980 1. Penelitian psikiatri pada remaja yang ditudūh / dihukum karena tindak pidana mencuri di Lembaga Pemasyarakatan Cipinang dalam bulan Maret – April 1980. – Paints D. Tjahjadi 2. S e x u a l a b s t in e n c e p a d a n a r a p i d a n a d i L P . C i p i n a n g , J a k a r t a . – Dengara Pane 3. Penelitian tentang kepribadian psikopatik di LP Cipinang, Jakarta terhadap para pelaku pembunuhan. – Suryanto. M. 4. Penelitian status mental pada sekelompok narapidana di LP Cipinang Jakarta. – Frans Sumampouw. 5. Keadaan depresi pada narapidana di LP Cipinang, Jakarta. − Juswan Effendi 6. Perbedaan perenting style antara ibu dengan pendidikan tinggi dan rendan pada anak dengan reaksi adaptasi. – D. Soestiantoro. Tahun 1981 7. Penelitian tentang reaksi perilaku anak pada masa laten dengan penyakit fisik terhadap perawatan di Rumah Sakit Bagian IKA RSCM. – Al Bachri Husin. 8. Keadaan depresi pada wanita yang menghendaki pengguguran kandungannya. – Amoroso Katamsi. 9. Penelitian preliminer tentang pola tingkah laku type A pada penderita penyakit jantung koroner. – Murcuanto Dewanto. 10. Keadaan depresi pada pasien Lymphoma Malignum . − Lukman Mustar. 11. Survey pola penulisan resep Benzodiazepin di Jakarta. – Robert Reverger. Tahun 1982 12. Penelitian tingkah laku agresi pada anak-anak Panti Asuhan Vincentius Jakarta. – Nusjirwan Jusuf. . 13. Penelitian mengenai reaksi dari sikap ibu yang mempunyai anak dengan Retardasi Mental Ringan. 14. Citra diri remaja di Panti Asuhan. - Tun Kurniasih Bastaman 15. Penelitian mengenai hubungan “parental loss” dengan depresi dilakukan pada remaja Panti Asuhan Vincentius.

Cermin Dunia Kedokteran No. 51, 1988

9

- Ali Tjandrahusada. 16. Penelitian tentang pengaruh keadaan emosional pada prestasi belajar anak kelas III — IV SD di Panti Asuhan Vincentius Putra, Jakarta. — Suwondo. 17. Problema emosional dalam pendidikan keahlian psikiatri. — Rusdi Maslim. 18. Penelitian tentang gejala-gejala psikopatologik pada sekelompok karyawan Direktorat Perkapalan dan Telekomunikasi Pertamina yang bekerja di kapal-kapal. — Soegito. 19. Gangguan "body image" dan keadaan depresi pada pasien luka bakar di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta. — M. Lawi Jusuf. Tahun 1983 20. Keadaan sosial ekonomi dan frekuensi Retardasi Mental Ringan dan Borderline pada di Kelurahan Kebon Jeruk, Jakarta. — Dwidjo Saputro. 21. Perbandingan gangguan emosional antara kelompok suami dibandingkan dengan kelompok istri, pada pasangan infertil yang ingin mempunyai anak. − Nadjmir. 22. Ansictas dan tes penampilan psikomotor, satu penelitian pada kelompok pasien. — Kedja Musadik. 23. Penelitian tentang keadaan emosional wanita lanjut usia yang mendapat santunan dari Home Care di Kelurahan Kwitang. — Hariwibowo Gunadi. 24. Citra dari para wanita usia lanjut yang mendapat santunan Home Care tahun 1983. — Nuraini MalawatFatah. 25. Test Bender Gestalt pada Skizofrenia dan Neurosa. — M. Muadz. Tahun 1984 26. Putus sekolah dan kenakalan remaja serta masalah emosionalnya pada remaja laki-laki di Kelurahan Tomang, Jakarta. − Yahya Lengkong. 27. Diagnostik Skizofrenia berdasarkan pedoman dari Schneider dan konsep dari Mauler. — K. Maria Poluan. 28. Depresi para perawat wanita yang mengalami masa klimaktcrium pada salah satu rumah sakit di Jakarta. — Edina Sutjiadi. 29. Peranan disharmoni seksual suami isteri pada perceraian di wilayah Jakarta Timur. — Nazif Manaf. 30. Psikopatologi dalam subsistim keluarga dari anak yang menderita Retardasi Mental Sedang. — Jusni 1. Solichin. 31. Keadaan depresi pada pasien dengan kegagalan ginjal menahun. — Jimmy Gunawan. 32. Problems emosional pada remaja yang taat menjalankan agamanya. Eliyati D. Rosadi. 33. Studi perbandingan sikap ibu pada anak yang luka bakar dan pada anak dengan infeksi akut. — Surjono Nadi. 34. Keadaan status mental dari pengemudi bis angkutan penumpang di daerah Metro Jaya yang mengalami kecelakaan lalu lintas ber- akibat korban fatal. -- Sri Gutomo. 35. Penelitian taraf validitas dan reliabilitas antara peneliti instrumen wawancara pola perilaku dari Rosenman.

— Asianto Supargo. 36. Hubungan antara depresi dan perawatan menginap di Rumah Sakit pada anak dalam fase laten yang menderita sakit ginjal. -- Dewi Suriani. Tahun 1985 37. Citra diri dan depresi pada penderita epilepsi umum dengan kejang tonik-kronik. -- Julizar Darwis. 38. Citra diri pada remaja dengan Retardasi Mental Ringan. -- M. Aminullah Moeloek. 39. Studi perbandingan depresi pada akseptor medis operatif wanita. -- Ngadiono Hastering. 40. Studi perbandingan antara perkembangan kognitif anak-anak yang tinggal di Panti Asuhan dengan yang tinggal dengan kedua orang tuanya. -- Hartati Kurniadi. 41. Kenakalan remaja laki-laki dan kaitannya dengan usaha mencari identitas -- Marodjahān Siregar. 42. Kecemasan pada perawat yang merawat pasien dengan karsinoma di Bagian Kebidanan. -- Wierianto Prasodjo. 43. Sikap ibu dari penderita Skizofrenia Subkronik dan Kronik dengan handicap ringan dan berat. -- Benny Ardjil. Tahun 198644. Pikiran konkrit pada pasien Skizofrenia. --- Rahayu B. Mulyanto. 45. Gejala disfungsi psikoseksual pada isteri pasangan infertil yang mengalami gangguan mental emosional. -- J.J. Thomarius. 46. Kelainan psikiatrik pada anak yang ibunya menderita Skizofrenia. -- Antonius Suryadi. 47. Gangguan perkembangan pada anak dengan deprivasi maternal. -- Izas Intan Tamba. 48. Pengaruh perpisahan dengan orang tua sebelum usia sepuluh tahun pada remaja yang melakukan kenakalan remaja. -- Hartanto Gondoyuwono. 49. Dosis effektif medikasi chlorpromazine dan timbulnya gejala parkinson pada pasien Skizofrenia. -- Danardi. Tahun 1987 50. Manfaat terapi kerja sebagai usaha rehabilitasiterhadap kelompok Skizofrenia Paranoid dan kelompok Skizofrenia Hebefrenik. -- Djunaidi Tjakrawerdaja. 51. Perbandingan pola tidur pada para lanjut usia yang tinggal di Panti Werdha dibandingkan dengan yang tinggal di luar panti. -- Tony Setiabudi. 52. Kecemasan pada penderita Diabetes Mellitus yang tidak terkontrol. -- Nirami Syarif. 53. Hubungan antara psikopatologi dan infertilitas dengan hiperprolaktinemi. -- Ayub Sani Ibrahim. 54. Status Mental pada pasien dengan kegagalan ginjal kronik yang menjalani hemodialisis .. -- Rachmatsyah Said. 55. Studi perbandingan kecemasan pada perawat I.C.G. dengan perawat rawat-nginap surgikal. -- Ivasruddin Noor. Penelitian No. 54 dan 55 sedang dilaksanakan.

10 Cermin Dunia Kedokteran No. 51, 1988

Pengaruh Pemanasan Pada Minyak Goreng Yang Diobservasi Pada Tikus Putih
Risnawati Aminah Pusat Penelitian Penyakit Tidak Menular, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan R.I., Jakarta

PENDAHULUAN Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat umumnya menggunakan minyak goreng untuk mengolah makanan, balk untuk lauk pauk maupun makanan kecil. Makanan gorengan dapat diperoleh di kaki lima, toko makanan atau di pusat perbelanjaan. Umumnya cara menggorengnya adalah dengan memasukkan bahan makanan ke dalam minyak yang telah dipanaskan terlebih dahulu, mungkin sampai suhu yang tinggi sekali sampai mengeluarkan asap dengan bau yang menusuk serta pedih pada mata. Pada taraf ini terjadi oksidasi dan menyebabkan perubahan struktur kimiawi pada minyak. Perubahan akibat pemanasan tersebut antara lain terbentuk peroksida dan karbonil yang bersifat toksik (Ketaren, 1986). Sudah diketahui bila minyak dipanaskan pada suhu tinggi dan terus menerus akan menimbulkan gangguan dan kelainan pada jaringan-jaringan tertentu. Telah dilakukan penelitian permulaan pada tikus percobaan dengan menggunakan minyak Barco yang telah dipakai menggoreng, kacang tanah. Minyak tersebut dipanaskan pada suhu 205 C dan sudah dipakai menggoreng kacang tanah 5 kali. Namun hasilnya tidak menunjukkan efek toksik pada tikus percobaan. Di Indonesia makanan goreng tidak hanya diproduksi pabrik, tetapi juga oleh pedagang kecil. Masyarakat umumnya menggunakan min yak berulang kali karena mahal harganya. Produsen makanan besar, biasanya memperhatikan suhu, dan jenis minyak yang digunakan. Sedangkan produsen kecil tidak demikian. Maka minyak yang dipakai mungkin telah mengalami oksidasi karena pemanasan tinggi dalam waktu lama. Telah diketahui bahwa makanan yang dijual pedagang keliling digoreng pada suhu yang tidak diketahui berapa tingginya dan minyaknya sudah berapa kali dipakai. Berdasarkan hal ini, timbul pemikiran untuk mengetahui sejauh mana efek samping yang ditimbulkan sebagai akibat pemanasan. Untuk mendapatkan gambarannya, dilakukan penelitian lanjutan terhadap tikus percobaan. Pada percobaan ini digunakan minyak goreng Barco yang dipanaskan lebih lama dengan suhu lebih

tinggi dari pada penelitian terdahulu. BAHAN DAN METODA Bahan 1. Minyak dan ransum percobaan Minyak Barco dibeli dipasar Cikini, Jakarta Pusat. Minyak dipanaskan terus menerus pada suhu 250° C secara konstan selama 30; 60; 90; 120 dan 150 menit. Untuk kontrol, minyak Barco tidak dipanaskan. Minyak, baik yang dipanaskan maupun tidak dicampur makanan dengan kadar 10% seperti tercantum pada tabel 1.
Tabel 1. Komposisi makanan percobaan dengan masing-masing menggunakan minyak Barco dan-pemanasan minyak 30; 60; 120; 150 menit Per kg makanan percobaan Gram Minyak hasil pemanasan Glucose Campuran garam Campuran vitamin Susu bubuk skim Beras ("Innis BGS) Total 100 5 10 + 127 758 1000

2. Hewan percobaan Enam puluh-ekor tikus jantan putih berumur 28 — 30 hari dibagi rnenjadi 6 kelompok yakni : — Kontrol (minyak tanpa pemanasan) — Kelompok I (pemanasan 30 menit) — Kelompok 11{pemanasan 60 menit) — Kelompok III (pemanasan 90 menit) — Kelompok IV (pemanasan 120 =nit) — Kelompok V (pemanasan 150 menit) Setiap kelompok terdiri dari 10 ekor dan tiap ekor ditempatkan dalam 1 kandang.

Cermin Dunia Kedokteran No. 51, 1988 11

Metoda 1. Masa obiervasi 2. Parameter: 1. Protein Effeciency Ratio (P E R)(1 bulan) 2. Berat badan (12 minggu). 3. Jumlah Food Intake (12 minggu). 4. Efisiensi makanan (12 minggu). 5. Angka kematian (12 minggu). 3. Perlakuan.: 1. Berat tikus pada permuahan percobaan dibuat sama. 2. Tikus ditimbang 2 kali seminggu. 3. Makanan .diberikan secara bebas 2 kali seminggu, yang diketahui beratnya sebelum dan sesudah pemberian. 4. Minuman diberikan secara bebas. 5. dibersihkan 2 kali seminggu. 6. Alas kandang diberikan serbuk gergaji dan dilapisi kertas, untuk menampung makanan yang tercecer. 7. Fases dan sisa makanan yang tercecer dikumpulkan dan ditimbang. HASIL .Hasil penelitian dapat dilihat pada tabel 2 dan tabel 3. 1) Nilai PER Nilai PER kelima macam pemanasan minyak pada akhir minggu ke IV berkisar antara 3.19 - 3.73, sedangkan kontrol 3.46, maka tarnpak tidak ada perbedaan. 2) Berat badan Berat badan ditimbang setiap akhir minggu ke 4. Persentase kenaikan berat badan dapat dilihat pada tabel 2. 3) Jumlah kōnsumsi makanan Jumlah makanan yang dikonsumsikan (Food Intake) dari tiap kelompok tikus pada setiap 4 minggu hampir sama (tabel 3 ).

4) Efisiensi makanan Efisiensi makanan menunjukkan angka yang hampir sama antara kelompok kontrol dan ke 5 kelompok percobaan. Efisiensi makanan dihitung pada akhir minggu ke 12 (tabel 2). 5) Angka kematian Semua tikus masih hidup sampai akhir minggu ke 12 dan tidak menunjukkan gejala klinis. PEMBAHASAN Perubahan kimia yang terjadi dalam molekul lemak akibat pemanasan tergantung dari 4 faktor: 1). Lamanya pemanasan, 2). Suhu 3). Adanya akselerator misalnya oksigen atau hasilhasil proses oksidasi dan 4). Komposisi campuran asam lemak serta posisi asam lemak yang terikat dalam molekul trigliserida. Proses kerusakan minyak dapat terjadi karena pemanasan (suhu) tinggi dan terus menerus mengakibatkan perubahan susunan kimiawi karena terurainya gliserida menjadi gliserol dan asam-asam lemak. Asam lemak yang terdapat dalam minyak bersifat tidak stabil apalagi bila kena pemanasan. Gliserol yang terjadi karena pemanasan akan berubah menjadi akrolien, hal ini diketahui karena ada bau asap yang sangat merangsang. Dalam kepustakaan dilaporkan, pemanasan minyak mengalami perubahan kimia yaitu: 1) terbentuknya peroksida -dalam asamlemak tidak jenuh, 2) peroksida berdekomposisi menjadi persenyawaan karbonil, 3) polimerisasi oksidasi sebagian (Ketaren, 1986). Para peneliti melaporkan, bila minyak dipanaskan secara berlebihan dan diberikan atau disuntikan pada hewan percobaan akan menimbulkan antara lain diare, kelambatan pertumbuhan, pembesaran organ, deposit lemak abnormal, kanker, gangguan saraf pusat dan mempersingkat umur. Keracunan akibat asam hidroksi dari minyak juga dapat mengakibatkan penyusutan berat badan tikus, pada limpa tikus akan mengandung kadar karbonil 10 kali lebih besar jika dibanding

Tabel 2. Ringkasan basil penentuan berat badan dan efisiensi makanan tikus putih dengan makanan mengandung minyak Barco yang telah dipanaskan selama 30; 60; 90; 120 dan 1S0 tnenit Kadar protein makanan Berat rata-rata pada per mulaan XP g. 49.4 49.4 49.4 49.4 49.4 49.4 g 91.5 90.4 90.4 90.6 92.5 83.9 Kenaikan berat badan pada akhir minggu ke : Efisiensi makanan pada akhir XP VI g% 100.0 98.8 98.8 99.0 101.1 91.7 g 154.1 153.4 145.6 153.2 149.7 142.6 VIII !i` 100.0 99.5 94.5 99.4 97.1 92.5 g. 182.4 186.5 170.1 176.0 162.6 167.6 XII g% 100.0 102.2 93.3 96.5 89.1 91.9 0.238 0.237 0.230 0.220 0.216 0.221

Makanan Eksperimen

Jumlah Tikus

N Susu skim + Beras (Minyak Barco) Susu skim + Beras (p.m 30 mean) Susu skim + Beras (p.m. 60 menit) Susu skim + Beras (p.m. 90 menit) Susu skim + Beras (p.m. 120 menit) Susu skim + Beras (p, n.150 menit) 10 10 10 10 10 10

G% 10.33 (Nx6.12) 9.22 (Nx6.12) 9.92 (Nx6.12) 9.58 (Nx6.12) 10.14 (Nx6.12) 19.36 (Nx6.12)

12 Cermin Dunia Kedokteran No. 51, 1988

Tabel 3. Ringkasan hasil jumlah makanan yang dimakan dan angka Protein Efficiency Ratio tikus putih dengan makanan yang mengandung minyak Barco, yang telah dipanaskan selama 30; 60; 90;120 dan 150 menit - PER ± SD (protein efisiensi ratio) (4 minggu) Jumlah makanan yang dimakan rata-rata tikus secara kumulatif pada akhir minggu ke: VI 58.8 260.9 253.6 293.8 261.4 247.1 100.0 100.0 98.0 113.5 101.0 953 VIII 561.2 523.5 505.6 561.0 532.3 516.3 100.0
`

Makanan Eksperimen

Jumlah Tikus

Kadar protein makanan eksperimen 8`~ 10.33 (Nx6.12) 9.22 (Nx6.12) 9.92 (Nx6;12) 9.58 (Nx6.12) 10.14 (Nx612) 9.36 (Nx6.12)

Berat ratarata awal tikus eksperimen 8 49.4 49.4 49.4 49.4 49.4 49.4

XII 765:9 100.0 102.7 96.6 104.1.
%

n Susu skim + Beras (minyak Barco) Susu skim + Beras (p.m. 30 mcnit) Susu skim + Beras (p.m. 60 menit) Susu skim + Beras (p.m. 90 merit) Susu skim +Beras 10 10 10 10 10 10

3.46 ±0.16 3.73 ± 0.33 3.59 ± 0.11 3.19 ± 0.34 . 3.48 ± 0.17 3.62 ± 0.16

101.4 786.8. 97.9 108.7 103.1 100.0 739.9 ' 801.7 752.8 757.6

*8.3
98.9

(p.m. 120 menit)
Susu skim + Beras (p.m. 150 menit)

Penambahan Berat Badan (g)

Jumlah Protein yang dimakan PER = dengan kontrol. Efek samping inilah yang menunjukkan bahwa minyak yang dipanaskan berlebih-lebihan berakibat buruk pada tikus percobaan (Ketaren, 1986). Sinkeldam (1983) melaporkan, bila minyak kacang tanah, minyak biji bunga matahari, minyak kacang kedelai, rape seed oil dan campuran minyak palm dengan lowarucic acid rapeseed oil dipanaskan selama 20 hari berturut-turut pada suhu 200° C selama 12 jam setiap hari, tidak mengakibatkan efek negatif baik pada pertumbuhan, jumlah konsumsi makanan maupun effisiensi makanan pada anak tikus. Hasil penelitian pada tikus putih yang diberi makan minyak yang telah dipanaskan pada suhu 182° C selama 120 jam tanpa digunakan untuk menggoreng terlihat kelainan pada hati dan gangguan pertumbuhan, akan tetapi tikus yang diberi minyak jelantah komersial dengan kadar 20% tidak menunjukkan efek samping (Polling dkk 1960). Sedangkan Keane (1959) melaporkan, minyak Cotton hydrogenated yang dipanaskan secara deep fat fryer selama 24 hari dan dicampurkan makanan percobaan dengan kadar 20% tidak memberikan efek buruk pada tikus percobaan. Hasil penelitian Oey dkk (1980), dengan minyak jelantah sisa menggoreng kacang tanah pada suhu 205°C dengan waktu goreng 1 x 15 menit sampai dengan 5 x 15 menit dan dicampurkan dengan kadar 10% pada makanan percobaan, tidak menimbulkan efek buruk pada pertumbuhan tikus berdasarkan nilai PER, jumlah konsumsi makanan dan . efisiensi makanan dibanding dengan tikus kontrol. Penelitian ini menggunakan minyak yang dipanaskan pada suhu 250° C secara terus menerus selama 1 x 30 menit . sampai dengan 5 x 30 menit tidak jugā terlihat kelainan pada pertumbuhan, nilai PER dan kenaikan berat badan tikus percobaan tidak berbeda dengan kontrol (tabel 4). Jumlah kon-

Tabel 4. Nilai PER dan Kenaikan Bent Badan tikua putN& yang diberi makan minyak Barco dengan pem;nasan 30; 60; 90;120 dan 150 menit Makanan Eksperimen Jumlah Tik Berat Kenaikan berat badan PER ± SD

Susu skim + Beras (minyak Barco) Susu skim + Beras (p.m. 30 menit) Susu skim + Beras (p.m. 60 menit) Susu skim + Beras (p.m. 90 mend) Susu skim + Beras (p.m. 120 menit) Susu skim + Beras(p.m. 150 menit)

n 10 10

Tikus pada akhir minggu ke: awal 1V . VIII XII Ekspe rimen g g g 8 49.4 91.5 154.1 182.4 49.4 90.4 153.4 186.5

3.46±0.16 3.7310.33

10

49.4

90.4

145.6

170.1

339±0.11

10

49.4

90.6

153.2

176.0

3.19±0.34

10

49.4

92.5

149.7

162.6

3.48±0.17

10

49.4

83.9

142.6

167.6

3.62±0.16

sumsi makanan setiap kelompok percobaan dan kontrol tidak menunjukkan perbedaan yang nyata. Effisiensi makanan yang dihitung terhadap berat badan tikus (gram) dibagi dengan jumlah makanan (gram) tidak menunjukkan perbedaan antara kelompok percobaan . dengan kelompok tikus kontrol. Tabel

Cermin Dunia Kedokteran No. 51, 1988 13

5 menunjukkan jumlah konsumsi makanan pada setiap akhir. minggu ke IV, VIII, XII dan effisiensi makanan pada akhir penelitian. Dengan demikian, minyak yang dipanaskan sampai 250° C dan waktu 150 menit belum mengakibat efek samping pada hewan percobaan.
Tabel 5. Jumlah Konsumsi Makanan, Effisiensi Makanan pada Tikus Putih yang Diberi Makan minyak Barco dengan Pemanasan 30; 60; 90; 120 dan 150 menit Makanan Eksperimen Jumlah Tikus Kadar Protein makanJumlah makanan yang dimakan pada akhir minggu ke ( ) VIII g 516.2 XII g 765.9 0.238 Efisiensi makanan .pada akhir Per men

an yang lebih cermat dengan menggunakan minyak yang sama mutu, jenis, lama pemanasan dan bahan yang digoreng dengan kualitas minyak yang digunakan ōleh pedagang kecil. Untuk mengetahui macam minyak tersebut harus dilakukan survey terlebih dahulu. Bila nanti diketahui bahwa suhu yang digunakan produsen makanan terletak di bawah suhu 250° C atau sama, maka minyak tersebut masih dianggap aman untuk dikonsumsi. Namun demikian lama penggorengan serta macam makanan yang digoreng perlu diperhatikan.

n Susu skim + Beras (min yak Barco) Susu skim + Beras (p.m. 30 menit) Susu skim + Beras (p.m. 60 menit) Susu skim + Beras (p.m. 90 menit) Susu skim + Beras (p.m, 120 menit) Susu skim + Beras (p.m. 150 menit) 10

1V penmen g% g 10.33 258.8 (Nx6.12) 9.22 260.9 (Nx6.12) 9.92 253.6 (Nx6.12) 9.58 293.8 (Nx6.12) 10.14 261.4 (Nx6.12) 9.36 247.1 (Nx6.12)

10

523.5

786.8

0.237

KESIMPULAN Kesimpulan dari penelitian ini adalah : 1) Minyak goreng yang dipanaskan dari 30 sampai dengan 150 menit pada suhu 250° C tidak menimbulkan efek samping terhadap pertumbuhan tikus percobaan. 2) Diduga minyak goreng yang dipanaskan sampai 250° C, belum mengalami perubahan struktur kimia yang bersifat toksik.
KEPUSTAKAAN

10

505.6

739.9

0.230 1. 2. Association of Official Agricultural Chemist, Official Methonds of Analysis, 11 th ed. Washington, D.C. 1970. Association of Official Agricultural Chemist, Offpcial Methonds of Analysis, 12 th ed. Washington, D.C. 1975. Keane KW, Jacobson GA, Krieger CH. Biological and Chemical Studies on 'commercial frying oils. J Nurt 1959; 68 : 57. Ketaren S. Pengantar Teknologi Minyak dan lemah pangan. Ed. 1. UI—Press, Jakarta 1986. Oey KN, Judith H, Getruida NS, Risnawati A. Amannya minyak jelantah untuk manusia. Makalah disajikan pada Seminar Biokimia ke VII di Padang, 1986. Polling CE, Warner, Hane PE, and Rice EE. The Nutritional value of Rats After Use in Commercial Deep Fat Fryng, J Nurt 1960; 72 : 19. Sinkelde EJ, Wysman JA, Roverts WG and Wouterse RA. Toxicological and Nutritional Evaluation of Five Different Heated Oils in Rats, 6e Congres International Sur Le Coiza, Paris, 17 — 19 Mei 1983. Sweetman DM. Food Selection and Prepararation. Third edition The Use of Fats for Frying, 1943; p. 294.

10

561.0

801.7

0.220

10

523.3

752.8

0.216

3. 4.

10

516.3

757.6

0.221

5. 6.

Penelitian yang dilakukan oleh Sinkeldom, Polling, Keane dan Oey •KN; jugs tidak menunjukkan kelainan pada hasil penelitiannya. Untuk memperoleh informasi yang lebih mendalam tentang efek toksik dari minyak jelantah perlu dilakukan peneliti-

7.

8.

14 Cermin Dunia Kedokteran No. 51, 1988

Sakarin Sebagai Pemanis
Geertruida Sihombing Pusat Penelitian Penyakit Tidak Menular Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Departemen Kesehatan RI., Jakarta

PENDAHULUAN Sakarin yang dikenal antara lain dengan nama 0—sulfonbenzoic imide pertama kali ditemukan oleh Remsen pada tahun 18791. Bahan ini mempunyai rasa manis kira-kira 550 kali sukrosa, namun struktur kimiawinya tidak sama dengan hidrat arang, sehingga tidak bernilai kalori2. Garam Natrium dari sakarin mempunyai rasa manis sama dengan sakarin tetapi lebih mudah larut, sehingga dimanfaatkan untuk pembuatan makanan diet dan telah banyak dipasarkan3'4. Dengan daya manis sakarin yang tinggi tapi non-kalorik, para pasien diabet dan mereka yang ingin melangsingkan tubuh telah dapat menikmati rasa manis hidangannya dengan tetap dapat mempertahankan beratbadannya5. Sebagai pemanis non-kalorik, sakarin umumnya paling banyak digunakan pabrik minuman dan makanan berkalori rendah khususnya ditujukan untuk konsumen diabet dan obes (Tabel 1). .Bagaimana penggunaan sakarin di Indonesia? Pada penelitian terdahulu, diketahui, bahan pewarna nonpangan telah digunakan sebagai bahan tambahan kimiawi (BTK) dalam pembuatan makanan dan minuman olah6. Dengan masukan informasi ini timbul pula dugaan, sakarin berdaya manis tinggi turut digunakan sebagai pemanis umum dalam pembuatan makanan olah. Dugaan ini perlu dibuktikan, karena: — Sakarin semula dianggap aman dan kalau dikonsumsi akan diekskresi tanpa mengalami perubahan metabolik4'' − Kemudian "The National Academy of Sciences" menyatakan sakarin merupakan bahan karsinogen lemah pada hewan dan karsinogen yang potensial pada manusia. Sebagai tindak lanjut, diputuskan agar penggunaan sakarin dibatasi, ditambah dengan keharusan untuk mencantumkan peringatan pada label makanan olah yang mengandung sakarin3,8 Untuk mengetahui sejauh mana sakarin dipergunakan sehari-hari, telah dilakukan penelitian pada 30 macam minum-

an dan jajanan manis yang disukai anak-anak sebagai kelompok rentan gizi dengan cara organoleptik dan kinmiawi. Disamping itu dilakukan pula percobaan yang sederhana dengan 5 macam kadar Na-Sakarin pada tikus percobaan selama 6 minggu. MATERI DAN METODA Pemeriksaan kimiawi Dibeli 30 macam contoh makanan olah dari pusat perbelanjaan Jatinegara dengan perincian sebagai berikut: 1. 10 macam minuman yang terdiri dari 3 macam sirup, 2 macam es krim, dan 5 macam minuman terbuka. 2. 10 macam gula-gula. 3. 10 macam kue-kue. Sakarin diidentifikasi secara organoleptik dan kimiawi menurut metoda salisilat dan kadarnya ditentukan secara kolorimetris menurut metoda phenol9'10. Sebagai bahan pembanding digunakan standard referens Natrium-sakarin produk Fisher Scientific Company. "Feeding trial" pada tākus putih Tiga puluh tikus putih jantan Strain Lembaga Makanan Rakyat (Wistar-derived) dibagi menjadi 5 kelompok. Kelompok pertama (kontrol) diberi makanan stock (Addendum 1); kelompok ke-2, ke-3, ke-4 dan ke-5 diberi makanan stock yang mengandung masing-masing Natrium Sakarin dengan kadar 1.4, 20, 50 dan 140 g per kilogram. Tolok ukur toksbitas sakarin ditentukan 1. Gejala klinis 2. Kenaikan berat badan (ditimbang satu kali seminggu) 3. Jumlah makanan . yang dikonsumsi (dicatat satu kali seminggu) 4. Pemeriksaan darah meliputi: – FIB (hemoglobin) menurut metoda Cyaan11 – Hematokrit diukur dengan tabung heparinized microhematocrit

Cermin Dunia Kedokteran No. 51, 1988 15

Tabel 1. Hasil Deteksi Kualitatif dan Kuantitatif Na Sakarin Dalam 30 Macam Minuman dan Jajanan Makanan/minuman Kuali- Na-Sakarin Na-Sakarin tatif mg/L mg/kg I. Minuman: 1. Sirup 1 2. Sirup 2 3. Sirup 3 4. Es krim 5. Es krim 6. Minuman terbuka 1 7. Minuman terbuka 2 8. Minuman terbuka 3 9. Minuman terbuka 4 10. Minuman terbuka 5 II. Gula-gula: 1. Warna merah 2. Warna merah 3. Warns jingga 4. Warna jingga 5. Warna kuning 6. Warna kuning 7. Warna hijau 8. Warna hijau 9. Warna ungu 10. Warna ungu 111.Kue/ Jajanan* 1. Kelepon 2. Lapis 3. Nagasari 4. Talam 5. Wijen 6. Bolu 7. Cake 8. Kue kering 1 9. Kue kering 2 10. Kue kering 3 + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + 1320 1430 1520** 131 140 121 126 129 130 132 129 130 132 133 139 141 142 143 145 146

Nutrition Unit Diponegoro Adendum 1. National Institute for Health Research and Development, Ministry of Health c/o Building SEAMED Tropmed - U.I. Salemba 4, Jakarta Composition of Stockdiet for Albino-rats (inbred Lembaga Makanan Rakyat (LMR)-strain)

November 1980 Protein Fat Weight % in % 1. Rice 2. Soybean, boiled, dried 3. Peanut, shelled, fried 4. Skim milk powder high . quality 5. Coconut oil 6. Kitchensalt 7. Bonemeal +Ferrous Sulfate* 8. Vit. B-complex ** tabl. 9. Folic Acid 5 mg/tabL 10. Vit. A + D3 in starch *** 7.0 1 40 27 35 18 44 98 10.0 4.5 . 1.5 2.0 250 ml 0.15 0.25 30 tab 4 tab + ±18.6kg Weight in % 53.8 24.2 8.1 10:8 1.2 0.8 1.3 + + + 100 %

56 62 64 65 68

Average Composition: Crude Protein 19.4 % Total Fat 9.1 % Total Energy ± 370 cals NPU-standard : 59 NPU-operative: 46 * FeSO4H2O powder 25.5 g in bonemeal 3 kg. ) ** B-complex Each tablet contains : Thiamin HCL 3 mg Riboflavin 2 mg Pyridoxin HCL 0.5 mg Calcium Pantothenate 2 mg Nicotinamide 10 mg *** Rovimix A+D3 Type 500/100 Roche : − 1 gram contains 500.000 IU Vit. A + 100.000 IU Vit. D. − 12.5 gr. Rovimix to 400 g of starch. − For 18.6 kg of feed use 8 grams of starch + Rovimix (equiv. to 0.25 g Rovimix).

* Hasil rata-rata dari tiga kali pemeriksaan setiap contoh + positif - negatif ** 1520 mg/L ~ 1578 mg/kg − Protein total diukur dengan AO-TS meter ("American Optical Company, Buffalo-N.Y.'). 11 − Ureum ditentukan menurut metoda Berthelot ' − Bilirubin total menurut metoda Jendressik and Groftt − SGOT (Serum glutamat oksaloasetat transaminase) ditentukan menurut metoda Reitman and Frankel" . 5. Pemeriksaan makro dan mikroskopis dilakukan pada organorgan tubuh. 6. Angka kematian. HASIL DAN PEMBAHASAN Pemeriksaan kimiawi Pemeriksaan kualitatif dan kuantitatif sakarin dari 3 kelompok contoh minuman dan jajanan memberikan hasil seperti tercantum di dalam tabel 1. Penyebaran sakarin terkonsetitrasi pada minuman dan gula-gula, dengan kenyataan, 100 persen dari masing-masing 10 contoh secara konsisten mengandung natrium-sakarin (Na-S). Kandungan Na-S pada 3 macam sirup berkisar antara 1320 mg-1578 mg per Kg; di

dalam es-krim antara 131-140 mg per kg; di dalam minuman terbuka ditemukan antara 121 mg-132 mg per Liter. Di dalam gula-gula yang berwarna merah, jingga, hijau dan ungu Na-S berada antara 129 mg-146 mg per kg. Di dalam kue basah dan kue kering Na-S hanya ditemu kan pada 5 macam dari 10 macam yang diperiksa dengan Na-S berkisar antara 56 mg - 68 mg per kg. "Feeding trial" pada hewan percobaan Kelakuan dan gejala klinis kelompok Na-S selama 6 minggu tampak normal seperti hewan kontroL Kenaikan berat badan hewan percobaan umumnya lebih

16 Cermin Dunia Kedokteran No. 51, 1988

Kadar Hb pada kelompok Na-S paling rendah (1.4 g) adalah 11.0 g% ± 0.89 dan pada kelompok Na-S paling tinggi Gambar 1. Kenaikan berat badan tikus yang diberi Na-sakarin dalam (140 g) adalah 8.5 g% ± 0.12. Maka makin tinggi kadar Na-S makanan sehari-hari selama 6 minggu. dalam makanan, semakin rendah kadar Hb nya. Pada kontrol kadar Hb nya adalah 12.8 g% ± 0.45. Hasil pemeriksaan kadar hematokrit tampak sebanding dengan kadar Hb yakni makin tinggi kadar Na-S dalam makanan, semakin rendah nilai hematokritnya. Pada kelompok kontrol, nilai hematokritnya adalah 40 g% ± 1.10 sedangkan pada kelompok Na-S berkisar dari 40 g% ± 1.0 sampai dengan 31 g% 1 1.80 (tabel 2). Dengan demikian nilai Hb maupun hematokrit dari hewan-hewan percobaan adalah jauh lebih rendah dari pada nilai normal dari kelompok kontrol, maka dapat disimpulkan bahwa efek samping sakarin antara lain adalah gejala anemia. Kadar ureum pada kelompok Na-S lebih tinggi dari pada kelompok kontrol berkisar antara 46 mg/dl ± 1.17 sampai dengan 35 mg/dl ±1.60. Makin tinggi kadar Na-S pada makanan makin tinggi pula kadar ureum dalam darahnya. Pada kontrol nilainya adalah 30 mg/dl ±0.63. Kadar bilirubin dalam darah bervariasi antara 0.62 mg/dl Keterangan : Konsumsi makanan rata-rata/hari. 10.02 sampai 0.10 mg/dl ±0.02, 'sedangkan pada kontrol I. Kontrol = 13.5 gee 0 mg Na-mkarin adalah 0.10 mg/dl ±0.01. Sekalipun kadar bilirubin tidak se-II. 1.4 g Na-S/kg makanan stock = 13.0 g es 18.20 mg Na-sakarin cara konsisten semua meninggi, namun dapat dikatakan III. 20 g Na-S/kg makanan stock = 12.0 g c 240 mg Na-mkarin bahwa hasil tersebut telah memberi petunjuk ada beberapa IV. 50 g Na-S/kg makanan stock = 11.0 g ev 550 mg Na-sakarin V. 140 g Na-S/kg makanan stock = 8.9 g N 1246 mg Na-sakarin ekor tikus yang telah mengalami gangguan fungsi hati. Pada kelompok Na-S kadar SGOT naik secara progressif Pemeriksaan darah dan konsisten mulai 52 U/L ±1.47 sampai dengan 166 U/L Tabel 2 menunjukkan rincian perbedaan yang mencolok dari ±1.26, sejalan dengan naiknya kadar Na-S dalam makanan. hasil nilai-nilai Hemoglobin (Hb), Hematobit, Ureum, Pada kelompok kontrol, nilai ini hanya 47 U/L ± 0.89. Hasil ini memperkuat hasil pemeriksaan Tabel 2. Beberapa Nilai Hematologi, Komposisi Kimiawi, dan Aktivitas Enzim Darah Tikus bilirubin yang menunjukkan bahwa yang diberi Natrium-Sakarin Dicampur Dalam Makanan fungsi hati sudah mulai terganggu. 3 menunjukkan berat Kelompok tikus Hemoglobin Hematrocit Total Ureum Bilirubin Serum GOT Tabel No. gnatriumaakari N (Hb) . Protein Total absolut (gram) dan berat relatif per kg diet (g%) (mg/dl) (mg/dl) (U/L) (g%) (g%) (berat organ : berat badan x 100 %) dari organ hati,ginjal dan pan 1. Strain LMR 1 2 . 8 . 4 5 39.9±3.77 6.5±0.45 31±0.20 0.10±0.02 4810.01 kreas. Berat rata-rata absolut tidak Kontrol 6 12.8±0.16 40 ±1.09 6.84.10 perbedaan sedang 2. 30±0.63 0.10±0.01 47±0.89 menunjukkan 0 berat rata-rata relatif hanya dite3. 1.4 6 11.04.89 40 ±1.10 7.2±0.10 35±1.60 0.10±0.02 52±1.47 'mukan pada hati, dan khusus ha4; 20.0 6 9.54.17 32 11.27 7.1±0.06 34±0.89 0.62±0.02 72±1.41 nya pada kelompok sakarin kadar 5. 50.0 6 9.54.12 31 ±1.67 7.14.10 39±1.41 0.204.01 12330.89 paling tinggi yakni 140 g/kg makan6. 140.0 6 8.5±0.12 31 ±1.89 7.130.10 46±1.17 0.20±0.01 166±1.26 an. Pemeriksaan makroskopis dan − Lama penelitian 6 minggu mikroskopis pada semua organ − Mars percobaan diberi makan dan minum ad libitum. tubuh tidak ditemukan kelainan Bilirubin, dan SGOT terhadap kontrol (p <0.01).

lambat daripada hewan kontrol (gambar 1). Semakin tinggi kadar Na-S dalam makanan semakin lambat kenaikan berat badannya. Pada akhir percobaan berat badan kelompok kontrol adalah 204.5 g ± 0.39, sedangkan pada kelompok percobaan kadar Na-S terendah (1.4 g) adalah 191.3 g ± 1.63 dan kelompok Na-S paling tinggi 140 g) hanya dapat mencapai berat badan 149.5 g ± 2.0. Konsumsi makanan per ekor per hari (gambar 1) rata-rata 13.5 g pada kontrol dan 8.9 g pada kelompok 140 g Na-S.

Daftar Hasil "Significant Test" (Anova). Ureum Bilirubin Serum Jenis Peme- Hemoglo- Hemato- Total riksaan bin krit Protein GOT 1 . Ratio P. Table Significancy 91.888 4.18 *** 68.478 4.18 *** 15.625 150.549 4.18 *** 4.18 *** 59.244 4.18 *** 10.637.80: 4.18 ***

Keterangan:*** = Highly Significant.

Cermin Dunia Kedokteran No. 51, 1988 17

Tabel 3. Berat rata-rata Hati, Ginjal dan Pankreas Tikus yang diberi Na-Sakarin Dicampur Makanan Selama 6 Minggu

3.

No.

Kelompok tikus g natrium-sakarin per 1 kg diet

Hati N Berat Absolut (g) 6 6.6640.23 6 6.3840.32 6 5.8540.29 6 5.8240.09 6 5.7040.21
% BB

Ginjal Berat Absolut (g)
% BB

Pankreas Berat Absolut (g) 0.3040.089 0.3240.098 0.2740.052 0.2840.04 0.3040.09
% BB

1. 2. 3. 4. 5.

Kontrol 0 1.4 20.0 50.0 140.0

3.2640.10 3.33±0.14 3.4540.15 3.5840.02 3.804.09

1.5040.19 0.7040.05 1.3040.14 0.6&40.07 1.1240.04 0.6640.02 1.0540.14 0.65±0.08 0.8840.08 0.5940.04
L.

0.154.04 0.1640.05 0.1640.03 0.1840.04 0.2040.06

Percobaan biologis pada tikus dengan Na-sakarin dengan 5 macam kadar selama 6 minggu mengakibatkan gangguan fungsional antara lain: organ hematopoietik (anemis), hati dan ginjal. SARAN Untuk memperoleh in formasi yang lebih lengkap dan meyakinkan tentang toksisitas sakarin perlu dila kukan pe nelitian lanjutan dengan menggunakan bebera pa jenis hewan percobaan

Hewan percobaan diberi makan dan minum ad. libitum BB = Berat Badan

Daftar Hasil "Significant Test" (Anova)
Jenis Pemeriksaan F. Ratio F. Table Significancy Hati 17.989 4.18 *** G i n jai l 20.51'6 4.18 *** Pankreas 0.040 4.18 N.S.

No.

Pemanis Buatan

Makanan

Maksimum Penggunaan 1. 1.5 g/kg 2. 1.5 g/kg 3. 50 mg/kg

1.

Keterangan: *** Highly Significant N.S. Not Significant

baik anatomis mau pun histologis. Akan tetapi, secara fungsional sudah menunjukkan gangguan sebagai mana sudah terlihat pada hasil pemeriksaan kadar . Hb, hematokrit, ureum, bilirubin, dan SCOT. Tampaknya perubahan ini menunjukkan bahwa tikus percobaan telah mengalami gangguan fungsi pada organ hematopoitik, hati dan' ginjal. Kelainan ini semua terjadi dalam waktu hanya 6 minggu. Dengan demikian, bila pengamatan dilanjutkan lebih dari 6 minggu tidak mustahil kelainan anatomis morfologis pada organ-organ akan ditemukan juga. Walaupun pada tikus percobaan ini telah terjadi gangguan fisiologis tetapi semua tikus masih dapat bertahan sampai akhir penelitian. KESIMPULAN 1. Sakarin ditemukan secara organoleptik dan kimiawi dalam 25 dan 30 macam minuman dan makanan olah yang dibeli sebagai jajanan ' umum di pasar Jatinegara Jakarta Timur, dengan kandungan sebagai Na—sakarin berkisar antara 68 mg/ kg — 1578 mg/kg. Kadar '1578 mg/kg telah melampaui batas maksimum penggunaan sakarin pada makanan. (Batas maksimum penggunaan sakarin atau garam natriumnya menurut Peraturan MenKes RI adalah 1500 mg/kg). 2. Penemuan ini menunjukkan, produsen kecil secara tidak sadar dan atau sengaja telah melanggar Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 23/MenKes/VI/79 (tabel 4).

Sakarin (serta garam natrium dan garam kalsium Siklaat (garam natrium dan garam kalsium.

Saccharin 1. Makanan berka(and sodium lori rendah salt and 2. Makanan untuk calcium penderita salt) diabetes mellitus 3. Minuman tertentu yang diizinkan. 1. Makanan berkaCyclamate lori rendah (sodium salt and cal- 2. Makanan untuk penderita cium salt) diabetes mellitus

2.

1. 20 g/kg sebagai asam siklamat. 2. 20 g/kg dihitung sebagai asam siklamat.

Sumber : Menkes RI, Peraturan Menkes RI No. 237/Menkes/Per/VI/ 79 tentang Bahan Tambahan Makanan dan Minuman

dan masa-observasi yang lebih lama. Sekalipun respon hewan percobaan dan manusia terhadap suatu bahan yang bersifat toksik tidak selalu sama, penggunaan sakarin sebagai pemanis secara umum dalam pembuatan makanan olah perlu kiranya mendapat perhatian khusus. Penelitian ini dapat dilakukan bersamaan dengan survai kesehatan masyarakat yang dilakukan oleh "Unit Kerja" lain dan dilanjutkan dengan penyuluhan cara penggunaan sakarin yang benar, agar masyarakat luas umumnya dan golongan anak-anak khususnya tidak akan terganggu kesehatannya oleh konsumsi sakarin yang berlebihan dalam makanan olah.
KEPUSTAKAAN 1. Fieser LF, and Mary Fieser Organic chemistry, DC Heath and Company, Trade Edition Distributors in the United States, 1950; pp 629-630. 2. Degering EF. Organic Chemistry, 6th ed. New York: Barnes & Noble Inc. 1975; pp 229,113. 3 . Hawley GA. The Condensed Chemical Fictionary, 8th ed. New

18 Cermin Dunia Kedokteran No. 51, 1988

York: Van Nostrand Reinhold Co, 1971; p 905. 4. Gosselin RE, Hodge HC, Smith RP, Gleason MN. Clinical Toxilogy of Commercial Product, 4th ed. Baltimore: The Williams Co. 1976; p 242. 5. Fotter NN. Food Science, The ZVI-Publishing Co Inc. Westport, 1968; pp 495, 559. 6. Sihombing G. An Exploratory Study on Three Synthetic Colouring-Matters Commonly Used as Food Colours in Jakarta. A Thesis submitted in partial fulfilments for the degree off' Master of science in Applied Nutrition, 1977-1978. 7. Guyton GA. Textbook of Medical Physiology. Philadelphia: Saunders Co. 1976; p 839. 8. Bennington JL. Dictionary and Encyclopedia of Laboratory Medicine and Technology. WB Saunders CO, 1984.

9. Woodman AG. Food Analysis, Typical Methods and the Interpretation of Result. 4th ed. New York: Mc Graw Hill Book Co. 1941; pp 120-121. 10. Meike SL. Handbook of Analytical Chemistry, 1963, Ed 12, 7812. 11. Merck. Buku Pedoman Kerja Kimia Klinik, 1984. 12. Menkes RI. Peraturan Menkes RI No. 237/Menkes/Per/VI/79 , tentang bahan tambahan makanan.

Ucapan terima kasih
Penulis mengucapkan terima kasih kepada DR. I.T. Budiarso, MSc atas saran diskusi yang berharga dan bantuan pemeriksaan mikroskopi

Cermin Dunia Kedokteran No. 51, 1988 19

Keadaan Fisiologis Hati Tikus Putih Strain MR Yang Diberi Ransum Biji Saga Pohon (Adenanthera pavonina Linn)
Comelis Adimunca Pusat Penelitian Penyakit Tidak Menular, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Departemen Kesehatan R.I., Jakarta

PENDAHULUAN Dalam rangka penanggulangan kekurangan kalori dan protein di Indonesia, berbagai usaha telah dan sedang diteliti kemungkinan pemanfaatan sumber-sumber protein ,nabati. Salah satu di antaranya adalah pemanfaatan biji saga pohon (Adenanthera panovina Linn.) Kotiledon biji saga pohon (BSP) ini telah lama dimanfaatkan sebagai bahan makanan oleh masyarakat Jawa Tengah, terutama di Yogyakarta dan Pati. Bahkan dapat pula sebagai bahan untuk pembuatan tempe dan kecapl . Alasan dipopulerkan BSP adalah mudah diperoleh karena penyebaran tumbuhan ini sangat luas, meliputi Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Irian Jaya, Nusa Tenggara dan Jawa2. Tumbuhan BSP dapat tumbuh di daerah dengan tanah yang miskin unsur hara dan pada ketinggian 0—1000 meter di atas permukaan laut3. Selain itu kandungan dan komposisinya seperti protein, lemak dan karbohidrat relatif tinggi, hampir sama dengan kacang kedelai4. Penilaian kandungan proteinnya dikatakan bermutu baik, juga asam amino esensial relatif lengkap dan menunjukkan konsentrasi tinggi (Oey dkk, 1981). Meskipun demikian, sampai sekarang para ahli belum sepakat apakah biji saga dapat digunakan sebagai bahan makanan yang aman bagi kesehatan. BSP mengandung suatu bahan beracun atau zat anti-nutrisis . Zat anti-nutrisi tersebut kemungkinan besar berbeda dengan zat anti nutrisi yang biasa terdapat dalam tumbuhan Leguminoceae. Karena BSP sebagai bahan makanan mengandung bahan beracun, maka perlu dipelajari akibat yang ditimbulkan dan mekanisme kerjanya dalam tubuh. Dengan bekal pengetahuan mengenai sifat-sifat tersebut di atas, dapat dicari beberapa alternatif yang murah untuk menghilangkan aktifitas bahan beracun tersebut. Dengan demikian BSP dapat dijadikan salah satu alternatif sumber pangan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui sejauh manakeadaan fisiologis hati tikus putih yang diberi ransum BSP.

METODE KERJA Pengolahan biji saga pohon Biji saga pohon (BSP) direbus selama 1,5 jam dalam keadaan mendidih. Kemudian air rebusan dibuang dan BSP dikupas untuk mendapatkan kotiledonnya. Selanjutnya dikeringkan dalam oven selama 24 jam pada suhu 60°C dan dihaluskan. Perlakuan terhadap tikus percobaan Tikus putih betina strain LMR sebanyak 25 ekor, umur satu bulan dengan berat badan 66,17 + 1,74 gram, ditempatkan dalam kandang masing-masing terdiri dari 5 ekor dan diperlakukan berikut : —Kelompok A : diberi ransum baku (tanpa BSP pohon), sebagai kontrol. —Kelompok B : diberi ransum campuran 6 bagian BSP dengan 94, bagian ransum baku. —Kelompok C diberi ransum campur 12 bagian BSP dengan 88 ransum baku. —Kelompok D : diberi ransum campur 24 bagian BSP dengan.76 bagian ransum baku. —Kelompok E : diberi ransum campuran 48 bagian BSP dengan 52 bagian ransum baku. Ransum dilakukan selama empat minggu dan secara ad. libitum Penentuan hematokrit Hematrokrit ditentukan dengan darah diperoleh dengan . memotong ujung ekor tikus. Lalu dipusingkan 4 menit pada 8.000 rpm (6.000 g) dan angka hematokrit dicatat. Pemeriksaan serum Tikus dibius dengan ether, dada dibuka, lalu darah di ambil dari jantung dengan spuit, dibiarkan selama 45 menit pada suhu ruangan. Dipusingkan dua menit pada 8.000. rpm. Serum dipindahkan ke tabung lain. Kadar bilirubin (direk, indirek dan total) dan enzim glutamate pyruvat transaminase

20 Cermin Dunia Kedokteran No. 51, 1988

(SGPT) ditentukan menurut pedoman Merck (1984)7 • Penentuan total bilirubin Kadar total bilirubin dihitung dengan rumus = A x 10,5 mg/100 ml (Merck, 1984)7 • Penentuan bilirubin direk Kadar bilirubin direk dihitung dengan rumus = A x 14,0 mg/100 ml (Merck, 1984)7. • Penentuan bilirubin indirek Konsentrasi bilirubin indirek dihitung dan hasil perbedaan antara total dan bilirubin direk. • Penentuan enzim glutamat pyruvat transaminase (GPT) Untuk membaca aktifitas enzim pada contoh digunakan standar graft GPT. HASIL DAN PEMBAHASAN Angka hematokrit Hasil angka hematokrit berkisar antara 47,0% dan 56,7%. Angka hematokrit pada kelompok-kelompok perlakuan yang diberi BSP lebih rendah dibandingkan kelompok kontrol. Selanjutnya pada setiap peningkatan kadar BSP dalam makanan memperlihatkan penurunan angka hematokrit (tabel 1).
Tabel 1. Angka hematokrit tikus putih setelah mendapat biji saga pohon dalam ransum (96). Persentaie biji saga pohon dalam ransum No. 1. 2. 3. 4. 5. Jm1 Rata Kontrol (%) 52,7 53,8 55,5 52,3 56,7 271,0 54,2 6% 52,0 53,3 55,3 52,3 56,3 296,2 53,84 12% 50,0 53,0 53,0 50,0 54,3 260,3 52,06* 24% 48,0 48,3 49,7 49,3 49,3 245,3 49,06** 48% 47,0 48,0 47,3 48,7 47,7 238,7 47,74**

terhadap sel darah merah adalah terjadinya hemolisa10. Menurunnya angka hematokrit ini diduga akibat efek saponin, melalui hambatan sistem permukaan membran sel darah merah. Angka hematokrit %

Gambar 1. Hubungan persentase angka hematokrit.

NA

saga pohon dalam ransum dan

Bilirubin 1) Bilirubin direk Hasil pengukuran kadar bilirubin direk berkisar antara 0,14 mg/100 ml dan 0,40 mg/100 ml. Kelompok hewan percobaan yang mengkonsumsi ransum BSP menghasilkan kadar bilirubin direk lebih tinggi daripada kelompok kontrol. Kenaikan kadar bilirubin direk ini sesuai dengan kenaikan kadarBSP dalam ransum yang diberikan (tabel 2).
Tabel 2. Kadar bilirubin direk pada tikus putih setelah mendapat ransum biji saga pohon (mg/100 ml).

: berbeda nyata (p <0,05) "" : berbeda sangat nyata (p <0,01)

Uji sidik ragam terhadap angka hematokrit menunjukkan, pemberian tepung BSP dalam ransum berpengaruh terhadap penurunan angka hematokrit (p<0,01). Kemudian uji selisih (Duncan) antar taraf perlakuan memperlihatkan pengaruh tidak nyata pada pemberian 6% tepung BSP dalam ransum dibandingkan angka hematokrit kelompok kontrol (p>0,05). Pengaruh BSP ini baru terlihat pada kadar 12%, 24% dan 48% dalam ransum. Analisa korelasi dan regresi antara konsentrasi BSP dalam ransum dan angka hematokrit diperoleh korelasi negatif (p<0,01) dengan r=0,8398 dan bentuk regresi linier y=53,97-0,14 X (gambar 1). Dengan demikian dapat dikatakan, semakin meningkat kadar BSP' dalan ransum akan semakin menurun angka hematokrit. Menurunnya angka hematokrit pada penelitian ini disebabkan oleh zat beracun yang terdapat pada BSP. Kemungkinan besar zat beracun tersebut adalah saponin, yang bersifat dapat menghemolisa sel darah meraha. Kadar saponin dalarn BSP cukup tinggi, berkisar 0,65%-1,18% berat kering9 . Saponin merupakan salah satu glikosida yang mempunyai sifat neningkatkan tegangan permukaan dinding sel dan efeknya

Kontrol Persentase biji saga pohon dalam ransum No 1. 2. 3. 4. 5. Jml. 0% 0,14 0,15 0,14 0,15 0,15 0,7 3 6% 0,16 0,17 0,18 0,18 0,18 0,85 0,170* 12% 0,21 0,19 0,20 0,21 0,20 1,01 0,202** 24% 0,25 0,21 0,24 0,28 0,27 1,25 0,250** 48% 0,38 0,34 0,40 0,37 0,39 1,88 0,376**

Rata 0,146

" : berbeda nyata (p<0,05) : berbeda sangat nyata (p<0.01) Uji sidik ragam data tersebut di atas menunjukkan kadar BSP dalam ransum berpengaruh terhadap kadar bilirubin direk (p<0,01). Selanjutnya uji selisih (Duncan) antara taraf perlakuan diperoleh bahwa, , semua konsentrasi BSP dalam ransum berpengaruh terhadap kadar bilirubin direk. Hubungan antara pengaruh pemberian BSP dalam ransum dari masing -

Cermin Dunia Kedokteran No. 51, 1988 21

masing taraf perlakuan dengan kadar bilirubin direk menghasilkan korelasi positif (p < 0,01) dengan r=0,9645. Bentuk regresinya linier dengan persamaan garis y=0,1426+ 0,0048 X. Dengan demikian dapat dikatakan, semakin meningkatnya kadar BSP dalam ransum akan semakin meningkatkan kadar bilirubin direk (gambar 2b). Bilirubin indirek Kadar bilirubin indirek yang diperoleh pada penelitian ini berkisar antara 0,09 mg/ 100 ml dan 0,35 mg/ 100 ml. Pada setiap taraf perlakuan terlihat kenaikan kadar bilirubin indirek. Kenaikan ini sesuai dengan besarnya kadar BSP dalam ransum (tabel 3). Uji sidik ragam kadar bilirubin indirek menunjukkan pengaruh sangat nyata (p < 0,01). Ini berarti, BSP berpengaruh terhadap kadar bilirubin indirek. Uji selisih (Duncan) antar taraf perlakuan tidak berpengaruh pada taraf perlakuan 6% BSP dalam ransum dibandingkan kelompok kontrol (p > 0,05). Kenaikan. yang berarti dari kadar bilirubin indirek, baru terlihat pada tarap perlakuan 12%, 24% dan 48%.
Tabel 3. Kadar Bilirubin indirek pada tikus putih setelah mendapat perlakuan ransum biji saga pohon (mg/100 ml). Persentase biji saja pohon dalam ransom No. 1. 2. 3. 4. 5. Kontrol 0% 0,10 0,10 0,09 0,11 0,10 6% 0,14 0,12 0,11 0,12 0,11 0,60 0,120 12% 0,16 0,17 0,16 0,19 0,17 0,85 0,170** - 24% 0,23 0,26 0,22 0,22 0,25 1,16 0,232** 48% 0,31 0,35 0,30 0,32 0,29 1,60 0,320**

Tabel 4. Kadar total bilirubin pada tikus putih setelah mendapat perlakuan ransum biji saga pohon (mg/100 ml). Persentase biji saga pohon dalam ransum No. Kontrol 0% 6% 1. 2. 3. 4. 5. 0,24 0,25 0,23 0,26 0,25 0,30 0,29 0,29 0,30' 0,27 1,45 0,290 12% 0,37 0,36 0,36 0,40 0,37 1,86 0,372** 24% 0,48 0,47 0,46 0,48 0,52 2,41 0,482** 48% 0,72 0,69 0,70 0,69 0,69 3,48 0,696**

Jml. 1,23 Rata 0,246

nya (gambar 2a).

Jml. 0,50 Rata 0,100

"* : Berbeda sangat nyata (p <0,01).

Analisa korelasi dan regresi antara kosentrasi biji saga pohon dalam ransum dan kosentrasi bilirubin indirek diperoleh korelasi positif (p < 0,01) dengan r=0,9502. Bentuk regresinya linier dengan persamaan garis Y=0,1042 + 0,0047 X. Hal ini berarti bahwa semakin tinggi kadar BSP dalam ransum maka semakin tinggi pula kadar bilirubin indireknya (gambar 2c). 3) Total bilirubin Kosentrasi total bilirubin, diperoleh berkisar antara 0,23 mg/ 100 ml dan 0,72 mg/ 100 ml. Kelompok hewan percobaan yang mengkonsumsi ransum BSP memperoleh kadar total bilirubin lebih tinggi dari pada kelompok kontrol. Kenaikan kadar ini sesuai dengan besarnya kadar BSP_ dalam ransum yang diberikan (tabel 4). Uji sidik ragam data tersebut di atas menunjukkan kadar BSP dalam ransum berpengaruh terhadap kadar total bilirubin (p < 0,01). Selanjutnya uji selisih (Duncan) antar taraf perlakuan menunjukkan, semua taraf perlakuan berpengaruh terhadap kadar total bilirubin (p < 0,01). Hubungan antara ,pengaruh pemberian BSP dari masing- masing taraf perlakuan dengan kadar total bilirubin diperoleh korelasi positif (p < 0,01) dengan r=0,9888. Bentuk regresinya linier dengan persamaan garis y=0,2460 + 0,0095 X. Ini berarti, semakin tinggi kadar BSP dalam ransum, semakin tinggi pula total bilirubin-

Keterangan : a : Total bilirubin b : Bilirubin direk c : Bilirubin indirek
Gambar 2 : Hubungan persentase biji saga pohon dalam ransum dan kadar bilirubin (total, direk, indirek).

Meningkatnya bilirubin (total, direk, indirek) pada tikus percobaan yang mengkonsumsi ransum BSP menunjukkkan, fungsi dan kondisi itu disebut ikterus atau jaundice. Kondisi ini terjadi sebagai akibat sel-sel hati keracunan oleh zat yang terkandung dalam BSP, sehingga tidak dapat berfungsi normal. Peningkatan bilirubin (hiper bilirubinemia) dapat disebabkan oleh anemia hemolitik dan penyumbatan sekresi dalam kanalikuli empedutl . Bila peningkatan ini disebabkan oleh anemia hemolitik, reaksi bilirubin indirek akan meningkat. Terjadinya ikterus prahepatik biasanya disebabkan oleh anemia hemolitik. Hal ini mengakibatkan beban kompleks bilirubin protein lebih besar pada sel-sel hati dibandingkan pengolahannya. Dengan demikian bilirubin indirek akan meningkat, sedangkan bilirubin direk tetap. Hepatitis karena keracunan juga dapat mengakibatkan, meningkatnya bilirubin indirek dalam serum. Bila sel-sel parenkhim juga mengalami kerusakan, sehingga terjadi kebocoran dan menyebabkan bilirubin direk akan meningkat12. Ikterus hepatik, akibat kerusakan sel-sel hati akan meningkat-

22 Cermin Dunia Kedokteran No. 51, 1988

kan baik bilirubin direk maupun bilirubin indirek13. Enzim glutamat pyruvat transaminase ( GPT ) Hasil penentuan GPT berkisar antara 2,30 mU/ml dan 19,50 mU/ml. Kadar GPT'' pada kelompok-kelompok perlakuan yang diberi ransum BSP, lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol. Pada setiap peningkatan/kadar BSP dalam ransum memperlihatkan kenaikan kadar GPI' (tabel 5).
Tabel 5. Kadar enzim GPT dalam serum setelah mendapat perlakuan ransum biji saga pohon (mU/ml). Persentase bij saga pohon dalam ransum No. 1. 2. 3. 4. 5. Kontrol 0% 6% 3,30 5,00 4,80 4,30 2,30 4,50 5,90 5 ,20 5,00 6,50 28,60 5,72 12%8,20 6,65 8,40 6,65 7,40 37,30 7,46** 24% 9,80 9,65 10,25 8,80. 10,08 48,35 9,67** 48% 12,25 11,50 19,50 10,30 11,50 65,05 13,01**

BSP. Oey dkk (1981) pada penelitiannya menunjukkan nilai biologik BSP sangat rendah. Hal ini disebabkan karena ada zat yang bersifat racun atau anti nutrisi dalam BSP. Enzim GPT akan meningkat bila terjadi kerusakan hati Biasanya peningkatan enzim GPT lebih tinggi daripada enzim GOT (glutamat oksaloasetat transaminase) pada kerusakan hati yang akut. Hal ini karena enzim GPT merupakan enzim yang hanya terdapat dalam sitoplasma sel hati. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian mi, dapat disimpulkan, biji saga pohon dapat: 1. menyebabkan penurunan angka hematoknit. 2. menyebabkan peningkatan kadar bilirubin (direk, indirek dan total). 3. menyebabkan peningkatan enzim glutamat pyruvat transaminase. 4. semakin tinggi kadar biji saga pohon dalam ransum, semakin tinggi pula kadar bilirubin dan enzim glutamat transaminase serta angka hematokrit semakin menurun, sehingga gangguan fisioiogis pada hati semakin berat. 5. berdasarkan hasil parameter yang diukur, diduga hati mengalami ikterus anemia hemolitik dan hepatitis akibat zat beracun yang terkandung dalam biji saga pohon.
KEPUSTAKAAN 1. Soemartono. Pengenalan dan Pemanfaatan Saga Pohon dalam rangka penganeka-ragaman makanan. Dalam: Proseding Seminar Teknologl Pangan III, Bogor, 1977, h. 478.

Im1 .19,20 Rata 3,84

Uji sidik ragam kadar GPT menunjukkan, pemberian BSP dalam ransum berpengaruh terhadap kenaikan kadar GPT (p < 0,01). Uji selisih (Duncan) antar taraf perlakuan menunjukkan, kadar 6% BSP dalam ransum belum berpengaruh terhadap kenaikan kadar GPT (p > 0,05). Pengaruh tersebut baru terlihat pada taraf perlakuan 12%, 24% dan 48%. Analisa korelasi dan regresi antara kadar BSP dalam ransum dan kadar GPT diperoleh korelasi positif (p < 0,01) dengan r=0,7707. Bentuk regresi limier dengan persamaan garis Y=4,6175 + 0,1845 X (gambar 3). Dengan demikian berarti bahwa, semakin meningkat kadar BSP dalam ransum akan semakin meningkatkan kadar GPT.

Gambar 3. Hubungan antara persentase biji saga pohon dalam ransum dengan kadar enzim glutamat pyruvat tranaminase.

Meningkatnya enzim GPT pada penelitian ini, sebagai akibat kerusakan sel-sel hati oleh zat – yang terkandung dalam

Cermin Dunia Kedokteran No. 51, 1988 23

2. Soemartono dan Tarigan. Laporan Hasil Survey Pengembangan dan Pemanfaatan Saga Pohon (Adenanthera pavonina Linn.) di Propinsi Nusa Tenggara Timur pada tanggal 1 September — 15 Oktober 1980, h. 3. 3. Burkill IH. A Dictionary of Economic Product of the Malay Peninsula. Bol. 1. Ministry of Agriculture and Co-Operatives, Kuala Lumpur, 1866, h. 45. 4. Soemartono. Kemungkinan Pemanfaatan Bahan Buangan Hasil oleh Biji saga pohon (Adenanthera pavonina L.). Kertas Kerja, Jakarta, 1979, h. 3. 5. Lie GH• and Oey KN. Investigation of Saga Seed (Adenanthera pavonina Linn.). Report Year 1979, Second Part, For ASEAN Proyect on Soybean and Protein Rich Foods. Nutrition Unit Diponegoro National Institute for Medical Research and Development, Ministry of Health, Jakarta, 1980, h. 3. 6. Oey KN, Lie GH, Herlinda J, Nainggolan-Sihombing G, Aminah R and Sumardi. An Unknown Toxin (or Anti Nutritive) substance in the Saga bean. Paper to be Presented at the Fourth Asian Congress of Nutrition to be held in Bangkok, Thailand, 1983. 7. Merck Buku Pedoman Kerja Kimia Klinik, Jakarta, 1984, h.20. 8. Muchadi D, Besancon P, dan Possompes B. Study mengenai biji saga pohon (Adenanthera pavonina L.) II, Pengaruh ekstraksi lemak terhadap nilai gizi tepung saga. Forum Pasca Sarjana 1 (8), 1985, h.

9. Muchtadi D. Contribution a la Valorisation des Graines de Saga (Adenanthera Pavonina L.), Utilisable Come Source de Proteines en Indonesie: These Pour Obteiner le Grade de Ddcteur'de 3eme Cycle, Academic de Montpellie, Universite des Sciences et Techniques du languedoc, France 1982. 10. Schepartz B. and Qantarow A. Jaundice. Dalam: Diseases of the Liver, Schiffl and Watson CJ (Ed.), 2nd Eds. Philadelphia: JB Lippicott Company, 1961, h. 197. 11. Ganong• WF. Review of Medical Physiology. 7th Eds. San Fransisco: Lange Medical Publications, 1975, h. 370. 12. Routh JI. Liver Function In: Fundamental of Clinical Chemistry, N Tietz (Ed), 2th Eds. Philadelphia; London: W.B. Saunders Co, 1979, h. 1026. 13. Satyawirawan FS. dan Suryaatmadja M. Pemeriksaan Faal Hati. Cermin Dunia Kedokteran 30 (19), Jakarta, 1983. 14. Oey KN, Herlinda J, Nainggolan - Sihombing G and Lie GH. More evidence on the presence of an Unknwon Toxic Substance (s) in the saga bean. Paper to be Presented at the Fourth Asian Congress of Nutrition to be held in Bangkok, Thailand, 1983. 15. Oey KN, Herlinda 3, Nainggolan - Sihombing G, Aminah R, Lie GH and Sutedja L. Toxic Substant Present in the oil fraction of the Saga bean. Paper on be Presented at the Second ASEAN Workshop on Food Analytical Techniques to be held in Surabaya, Indonesia, 1984.

24 Cermin Dunia Kedokteran No. 51, 1988

Beberapa Segi Yang Penting Untuk Klinikus
Dr. Kunto Raharadjo Badan Anestesiologi Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta.

Transfusi Darah:

PENDAHULUAN Kemajuan dalam ilmu bedah dan pengobatan mengakibatkan bertambah seringnya dilakukan transfusi darah1,2,3.Pemberian darah ataupun komponennya dimaksudkan antara lain untukl ,3,4-9 : 1) Menjamin kemampuan penyediaan oksigen dalam batas curah jantung yang dapat dihasilkan oleh tubuh. 2) Menjamin cukup tersedia trombosit dan faktor-faktor pembekuan. 3) Mencukupi isi ruang intra-vaskuler. Transfusi darah sering merupakan penyelamat jiwa, akan tetapi morbiditas dan mortalitas setelah transfusi darah juga cukup tinggil,10,11. Karena itu transfusi darah seyogyanya hanya diberikan apabila ada indikasi yang jelas. Biasanya seorang dewasa muda yang normal masih dapat dengan baik mengatasi gangguan fungsional yang ditimbulkan oleh kehilangan .10% isi darah, 20% kemampuan membawa oksigen atau kehilangan 40% faktor pembekuan. Kehilangan sebanyak dua kali jumlah tersebut di atas masih belum mengakibatkan kematian walaupun menimbulkan gejala yang cukup berat. Dalam makalah ini akan dibahas beberapa segi yang perlu diketahui oleh seorang klinikus untuk mencegah/mengurangi morbiditas dan mortalitas akibat transfusi darah. MEKANISME HEMOSTASIS2,3 Terdiri dari tiga sistem yaitu : 1. Sistem koagulasi 2. Sistem penghambat koagulasi 3. Sistem fibrinolitik. Sistem koagulasi Faktor-faktor koagulasi terdiri dari protein di dalam plasma yang berbentuk prekursor aktif, yaitu : Faktor I = fibrinogen # faktor II = protrombin #o faktor III = tromboplastin faktor IV = kalsium faktor V = proakselerin (faktor labil) # VI angka mi tidak dipakai.

faktor VII faktor VIII faktor IX

prokonvertin (faktor stabil) #o faktor anti hemolitik komponen tromboplastin plasma (faktor Christmas) #o faktor X = faktor Stuart—Power o# faktor XI = anteseden tromboplastin plasma faktor XII = faktor Hageman faktor XIII = faktor stabilisator fibrin #o keterangan : # disintesis di dalam hati o sintesis tergantung kepada vitamin K Faktor V dan VIII cepat menjadi nonaktif di dalam darah simpan. Sistem penghambat koagulasi Merupakan sistem yang merusak setiap faktor aktif, beberapa saat setelah faktor tersebut menjadi aktif. Sistem fibrinolitik Sistem ini membentuk plasmin yang menghancurkan fibrin. Plasmin dibentuk dari plasminogen yang terdapat di dalam jaringan, plasma dan air kemih. Selain menghancurkan fibrin, plasmin juga merusak fibrinogen, faktor V, dan faktor VIII. Di dalam pembuluh darah, plasmin cepat dinonaktifkan oleh antiplasmin. UJI KECOCOKAN ("COMPATIBILITY TESTING")1,2 Sebelum dilakukan transfusi darah, perlu dilakukan penentuan tipe ABO—Rh darah donor maupun resipien, pemeriksaan kecocokan silang (cross match) dan pemeriksaan antibodi (antibody screening). Pemeriksaan kecocokan silang (ks) sebetulnya merupakan transfusi percobaan di dalam tabung reaksi, di mana eritrosit donor dicampur dengan serum resipien untuk mendeteksi kemungkinan—kemungkinan reaksi transfusi yang berat. Ks ini dilakukan dalam tiga tahap, yaitu 1) Tahap antara (intermediate) Di lakukandalam suhu kamar, untuk memeriksa ulang adanya kesalahan dalam . penentuan tipe ABO. Tahap ini dapat mendeteksi ketidakcocokan ABO dan ketidakcocokan yang disebabkan oleh antibodi M, N, P dan sistem Lewis.

= = =

Cermin Dunia Kedokteran No. 51, 1988 25

Tahap ini memerlukan waktu 1 — 5 menit. 2) Tahap inkubasi Merupakan lanjutan tahap 1. Tahap ini mendeteksi antibodi inkomplit, dan antibodi sistem Rh. Tahap ini memerlukan waktu 30 — 45 menit, yang memungkinkan pengambilan antibodi oleh sel (=sensitisasi), sehingga antibodi tersebut dapat dideteksi pada tahap berikutnya (tahap anti globulin). 3) Tahap uji anti globulin tak langsung Pada tahap ini ditambahkan anti globulin (serum Coombs) ke dalam tabung yang telah di inkubasi. Tahap ini memerlukan waktu 10 — 15 menit, dan dapat mendeteksi hampir semua antibodi inkomplit, termasuk dari sistem Rh, Kell, Kidd dan Duffy. Pemeriksaan antibodi juga terdiri dari tiga tahap, mirip dengan pemeriksaan ks. Akan tetapi pemeriksaan ini merupakan transfusi percobaan antara serum donor dengan eritrosit yang sudah dipersiapkan. Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk mencegah reaksi di antara darah donor di dalam tubuh resipien (yaitu bila resipien menerima darah lebih dari satu donor). Dalam keadaan darurat, dapat diberikan darah yang : 1) dari golongan darah ABO yang sama dengan golongan darah pasien (type specific) dengan pemeriksaan ks sebagian. 2) dari golongan darah ABO yang sama, tanpa pemeriksaan ks. (hanya untuk pasien yang belum pernah• ditransfusi). 3) berasal dare donor universal golongan O. PENGUMPULAN DAN PENYIMPANAN DARAH2'12 Darah dikumpulkan di dalam kantung plastik 250 ml yang mengandung 65 — 75 ml CPD (=Citrate Phosphate Dextrose) atau ACD (=Acid Citrate Dextrose). ACD dipakai untuk membuat sediaan trombosit, sedangkan untuk darah simpan yang lain lebih baik dipakai CPD karena : 1. masa simpan lebih lama (CPD 28 hari sedangkan ACD 21 hari) 2. penurunan pH tidak begitu cepat 3. dapat mempertahankan 80% kadar DPG (dalam darah ACD setelah 2 minggu hanya tertinggal 10% DPG). Kadar 2,3 DPG dalam eritrosit akan menjadi normal kembali setelah darah donor berada di dalam sirkulasi resipien selama 24 jam. Lama penyimpanan darah (suhu 4—6°C) ditentukan dengan standar jumlah eritrosit donor yang masih bertahan di dalam sirkulasi resipien selama 24 jam, yaitu minimum 70%. PERUBAHAN YANG TERJADI DALAM DARAH SIMPAN2,3,12,13 Perubahan yang terjadi dalam darah simpan biasanya baru berbahaya pada transfusi masif, gagal hati, gagal ginjal dan gangguan pembekuan. Penurunan pH darah simpan disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi laktat, sehingga pada darah ACD deficit basa dapat mencapai 25— 30 mEq/l setelah penyimpanan 2 minggu. Akan tetapi keadaan ini akan cepat terkoreksi di dalam tubuh resipien asalkan perfusi dan oksigenasi jaringan tubuh resipien baik. Dengan penyimpanan, kadar amonium, hemoglobin

bebas dan kalium di dalam plasma akan meningkat progresif, sehingga untuk pasien gagal ginjal dan gagal hati harus diberikan darah yang sesēgar mungkin. Dalam tabel berikut dapat dilihat beberapa perubahan yang terlihat dalam darah CPD selama penyimpanan.
Tabel. 1. Perubahan hematologi dan kimia darah CPD nyimpanan. Hari ke 1 7 14 pH 7,1 7,0 7,0 P CO2 (mmHg) 48 80 110 laktat (mEq/1) 41 101 145 bikarbonat plasma(mEq/1) 18 15 12 kalium plasma (mEq/i) 3,9 12 17 dextrose plasma (mg%) 345 312 283 hemoglobin plasma (mg%) 1,7 7,8 13 2,3 DM (uMol/ml) 4,8 '1,2 <1 trombosit (%) 10 0 0 faktoi V dan VIII (%) 70 50 40 dikutip dart (2). selama pe21 6,9 440 179 11 21 231 19 <1 0 20

Ion sitrat dari CPD mencegah pembekuan dengan mengikat kalsium, sedangkan dekstrosa memungkinkan eritrosit melakukan glikolisis, sehingga dapat mempertahankan konsentrasi ATP untuk metabolisme di dalam eritrosit. Suhu 4°—6° memperlambat kecepatan glekolisis sampai 40 kali dibandingkan dengan suhu kamar. pH CPD yang besarnya 5,5 bekerja sebagai dapar (buffer) untuk mengatasi penurunan kadar hidrogen akibat pendinginan. Selama penyimpanan eritrosit memetabolisme glukosa menjadi laktat, sehingga pH makin menurun. Pendinginan memaksa/merangsang pompa natrium — kalium sehingga eritrosit kehilangan kalium dan menimbun natrium. Sementara itu eritrosit menjadi rapuh dan sebagian mulai lisis, sehingga meningkatkan konsentrasi hemoglobin dalam plasma. Konsentrasi ATP dan 2,3 DPG juga menurun dengan progresif. Akhir-akhir ini telah dicoba menyimpan darah dengan pengawet CPD ditambah adenin. Dengan cars ini penyimpanan dapat diperpanjang sampai menjadi 35 had. Akan tetapi masih dikhawatirkan kemungkinan sifat nefrotoksis dari adenin, walaupun sebenarnya sifat nefrotoksis ini sangat kecil bila jumlah total adenin kurang dari 15 mg/kg, yang berarti = 50 — 60 unit darah C.l?D adenin. Pada saat disimpan, komponen darah akan berkelompok menjadi 2, yaitu : 1) trombosit yang mengelompok rapat dengan diameter kelompok kira-kira 15 pm. 2) kelompok longgar terdiri dari lekosit dan trombosit.dengan diameter 5.0 pm. Kedua kelompok ini disebut endapan mikro (microaggregate) yang dapat melalui saringan yang biasa dilakai dalam set transfusi, dan akan terperangkap dalam kapiler paru. Keberadaan kelompok komponen darah ini dapat dinilai dengan mengukur tekanan saringan (SFP = screen filtration pressure), yaitu tekanan yang diperlukan untuk mendorong darah melalui saringan sebesar 20 pm. Penyimpanan akan meningkatkan nilai SFP. SFP darah CPD lebih cepat meningkat daripada darah ACD. Untuk transfusi darah sebanyak lebih"dari 4 unit

26 Cermin Dunia Kedokteran No. 51, 1988

sebaiknya dipakai saringan 40/pm. BEBERAPA BENTUK DARAH DAN HASIL IKUTAN DARAH UNTUK TRANSFUSI
Tabel 2. Beberapa bentuk dash untuk transfuse Bentuk Indikasi Masa Simpan Darah lengkap a. ACD/CPD 120 m1 + darah 420 ml b. heparin 1500 ui + 500 ml darah. Eritrosit terkonsentrasi 1. Perdarahan 2. Anemia 3. Renjatan oligemik 4. Kelainan darah seperti anemia aplastik. 21 hr 24 jm Keterangan

Anemia kronis di mana volum sirkulasi tidak boleh bertambah. Khususnya untuk perdarahan karena trombositopenia Sesaat pra bedah bila trombosit <40.000/ml. Transfusi tukar pada neonatus 1. Hemoglobinuria nokturnal paroksismal. 2. Resipien yang memiliki antibodi terhadap lekosit/trombosit. 3. Reaksi transfusi terhadap antigen plasma. 4. Pasca transpiantase organ. 5. Pasien dengan defisiensi emunitas. Semua indikasi di atas

21 hr

Khususnya untuk pasien jantung, anemia berat, sepsis, pasien sangat muda/sangat tua.

Tabel 3. Bentuk plasma dan komponennya untuk transfusi Bentuk Indikasi Mass Keterangan simpan Plasma kering1. Untuk me8 thn umur 3 jam setelah + ningkatkan dicairkan. aquadest. volum sirkuRisiko hepatitis ++ lasi 2. Luka bakar Plasma beku Defusiensi Harus segara segar (FFP) faktor dipakai pembekuan sesetelah dicairkan. perti hemofilia, Risiko hepatitis + pasca transfusi masif, kelebihan . dosis coumarin dan antikoagulan indandione. Konsentrat Sama dengan Fraksi Protein indikasi plasma Plasma kering. (1 8g protein/ botol) Albumin Hipoalbuminemia 2 thn Tak mengandung fibrinogen/gama globulin. Virus hepatitis-setelah Pasteurisasi 6 jam.

Darah lengkap segar

12 jm

Darah baru Eritrosit cucian (miskin lekosit)

2 hr 6 jm

kadar kalium masih rendah. Lekosit belum dapat dihilangkan seluruhnya.

3 jm Tak ada resiko setelah hepa-titis preparasi Fibrinogen ' 3 jm Risiko hepatitis + Afibrinogenemia setelah (pasta perdarah- preparasi. if dll) Kriopresipitat. Defisiensi faktor 3 bln Risiko hepatitis + VIII (= risiko transfusi darah). Faktor VIII Hemofili A 3 jm (kering) Paws transfusi setelah masif. prepara Konsentrat Trombositopenia 2-3 hr. trombosit karena berbagai sebab. Lekosif Lekopenia oleh Diberiksn melalui berbagai sebab. transfusi langsung dengan separator.
Dikutip dart (12).

Eritrosit beku

6 jm setelah di cairkan.

Pembuatan mahal.

Dikutip dart (12). VOLUME DARAH YANG NORMAL12,13 Volume darah yang normal sangat beragam bila dihitung dari nilai-nilai yang mudah didapat. Beberapa peneliti di Amerika mendapatkan volume darah normal untuk dewasa muda laki-laki = 7 — 9% berat badan, dan pada wanita 6,5 — 8%. Pada bayi baru lahir volume darah kira-kira 85 ml/kg dengan hematokrit 60% dan Hb 18 — 20 g%. Pada akhir bulan

ke—3, Hb akan menjadi 11 — 12 g%. Bayi yang telah tua (sampai umur 2 tahun) mempunyai darah sebanyak 75 ml/kg. PENGATURAN VOLUME PLASMA12,13 Pengaturan volume plasma tergantung kepada keseimbangan antara pengambilan cairan dan kehilangan cairan, serta penyebaran cairan tubuh. Pengambilan cairan akan meningkat sebagai jawaban terhadap rasa haus, sedangkan pengeluaran air kemih akan menurun karena peningkatan sekresi ADH. Peningkatan sekresi ADH ini terjadi sebagai jawaban terhadap meningkatnya osmolalitas serum. Penurunan volume plasma akan menurunkan aliran darah ginjal sehingga alat juxta glo-. merular akan mēnsekresi renin. Renin ini mengubah angiotensinogen menjadi angiotensin I dan kemudian menjadi

Cermin Dunia Kedokteran No. 51, 1988 27

angiotesin II. Angiotensin II menimbulkan konstriksi arteriol yang merangsang sekresi aldosteron. Aldosteron meningkatkan reabsorbsi natrium dan pengeluaran kalium di ginjal sehingga timbul rasa haus. Penambahan volume darah akan merangsang reseptor volume di atrium kiri, sehingga menghambat pelepasan ADH. Selain itu produksi renin juga menurun, sehingga diuresis bertambah. Dalam keadaan normal, terjadi pertukaran cairan intra dan interstitial. Dalam 24 jam, 20 liter cairan kapiler akan keluar ke jaringan interstisial. 17 liter akan diserap kembali ke intravaskuler, dan 3 liter dikembalikan ke intravaskuler melalui saluran limfatik. Keluarnya cairan intravaskular ini dipengaruhi oleh permeabilitas, tekanan hidrostatik dan tekanan onkotik plasma. Setelah penggantian volume darah dalam jumlah besar, Hb resipien akan menggambarkan Hb donor. Setelah transfusi sebanyak volume darah resipien, 60% darah resipien merupakan darah yang berasal dari donor. Setelah transfusi sebanyak 2 kali volume darah resipien maka angka tersebut (60%) menjadi 90%. Untuk mendapatkan jumlah darah yang diperlukan untuk meningkatkan Hb pasien sampai nilai tertentu dapat dipakai rumus sebagai berikut :
V. darah res. Normal X Hb yang diinginkan V.Donor= Hb. darah donor V. Donor = vol. darah donor yang diperlukan. V. darah res. Normal = volum darah resipien yang normal (70-80 ml/ kg). Hb = kadar hemoglobin dalam g/dl. (=g%). Hb darah lengkap = 10 - 13 g/dL Hb eritrosit yang terkonsentrasi (= packed red cells) = 18 - 23 g/dl.

RESPON TUBUH TERHADAP PERDARAHAN12,13 Setelah perdarahan, albumin, air dan elektrolit akan berpindah dari ruang interstitial ke intravaskuler. Orang sehat dapat memobilisasi cairan dengan cara ini sebanyak 100 ml/ jam, dengan kecepatan yang makin lambat, dan hemodilusi ini akan berakhir setelah 36 - 48 jam pasca perdarahan. Ada sekelompok ahli yang membuktikan, cairan ringer laktat yang dimasukkan dengan cepat ke dalam sirkulasi pasien yang kehilangan 10% darahnya akan dipertahankan lebih lama dari pada bilainfus tersebut dilakukan kepada orang yang normovolemik. PERDARAHAN YANG MASIF DAN AKUT12,13 Apabila perdarahan mencapai 20 - 30% volume darah akan terjadi gangguan perfusi paru. Penurunan curah jantung yang terjadi juga meningkatkan ekstraksi oksigen oleh jaringan. Arti klinis perubahan ini ialah 1) Obat-obat golongan morfin harus diberikan dengan hatihati, dan hanya atas indikasi yang kuat (untuk mengatasi nyeri hebat). 2) Peningkatan fraksi oksigen inspirasi (30% atau lebih) biasanya sangat menolong. 3) Cairan seperti NaCl, plasma, dextran, ringer laktat atau plasma ekspander yang lain harus segera diberikan sampai tersedia darah.

PENYULIT YANG MUNGKIN TIMBUL PADA TRANSFUSI1,2,3,8,10-16 Walaupun transfusi darah atau komponennya terbukti dapat merupakan tindakan penyelamat jiwa; banyak penyulit yang mungkin timbul seperti : • Penularan penyakit Penyakit yang sering ditularkan melalui transfusi adalah hepatitis virus, AIDS, sifilis, malaria dan bruselosis. Belum ada cara pencegahan yang mutlak aman. Yang terpenting adalah pemilihan donor dan penentuan indikasi transfusi yang ketat dan tepat. • Kontaminasi bakteri Dengan teknik dan pengendalian pengambilan serta penyimpanan darah yang ketat, masih mungkin terjadi kontaminasi dari kulit maupun dari udara. Suhu penyimpanan harus dipertahankan antara 4 - 6°C, dan darah yang sudah berada di luar lemari pendingin selama lebih dari 30 menit tidak boleh dipakai lagi. Bahaya yang terbesar ditimbulkan oleh bakteri gram negatip dan organisme kriofilik (jasad renik yang dapat berkembang biak dalam suhu sangat rendah). • Reaksi pirogenik Penyebab reaksi pirogen biasanya adalah polisakarid hasil metabolisme bakteri, yang terdapat di dalam wadah penyimpanan atau cairan antikoagulan. Reaksi pirogenik kini sangat jarang setelah digunakannya wadah dan set transfusi yang disposabel. • Inkompatibilitas Apabila masa hidup sel yang ditransfusikan sama panjang dengan masa hidup sel resipien dan sebaliknya, transfusi dikatakan kompatibel. Penelitian-penelitian menunjukkan, pada 30% peristiwa transfusi (terutama transfusi dengan lebih dari 1 unit darah), eritrosit donor hanya bertahan hidup selama 14-16 hari. Ini menunjukkan, pemeriksaan ks rutin belum sepenuhnya menjamin kompatibilitas. • Reaksi hemolitik Umumnya disebabkan oleh inkompatibilitas A B O, dengan frekuensi 0,2 - 0,3%. Dapat terjadi lisis eritrosit donor karena antibodi resipien. Bila terjadi cepat (segera setelah transfusi 50 ml darah) atau lambat (beberapa jambeberapa hari). Dapat. juga terjadi lisis eritrosit resipien akibat antibodi donor, biasanya bersifat ringan, dan sering terjadi pada transfusi dengan donor universal. Tanda-tanda klinis : a. Segera : nyeri lumbal, nyeri sternal dan nyeri di tempat masuknya darah, demam disertai menggigil dan kekakuan, gelisah, mual, muntah, urtikaria, dispnea, dan hipotensi. b. Lanjut : perdarahan yang tidak dapat diatasi, hemoglobinuria, oliguria sampai anuria, ikterus dan anemia. Reaksi hemolitik dapat juga terjadi akibat penyimpanan darah yang kurang baik, darah daluwarsa atau darah yang sudah hemolisis karena terlalu dipanaskan/terlalu didinginkan. • Reaksi alergi Dapat terjadi urtikaria sampai spasme bronkus. Biasanya dapat diatasi dengan pemberian antihistamin. Kekerapan reaksi alergi adalah 1 - 1,5%.dari semua transfusi. • Keracunan sitrat Transfusi cepat dengan volume besar dapat menimbulkan tremor dan gangguan irama jantung akibat asidosis metabolik.

28 Cermin Dunia Kedokteran No. 51, 1988

Pada keadaan renjatan berat, penyakit hati, keadaan hipoterini atau pada neonatus, lebih mudah terjadi keracunan sitrat. Penurunan pH ini biasanya disertai peningkatan kadar kalium plasma. Dalam keadaan normal, natrium sitrat dengan cepat dimetabolisme menjadi natrium bikarbonat di dalam hati. 2 liter darah sitrat dapat ditransfusikan dalam waktu 20 menit ,tanpa bahaya keracunan sitrat. Bila dikawatirkan akan timbul keracunan sitrat (pada transfusi masif, keadaan renjatan dan lain-lain seperti tersebut di atas) 'dapat diberikan 1 g kalsium glukonas untuk setiap liter darah transfusi. Akan tetapi ada peneliti yang menyatakan, kalsium glukonas tidak perlu (karena cadangan kalsium di dalam tubuh sangat besar), bahkan mungkin berbahaya. • Asidosis metabolik Penyimpanan darah sitrat dapat menurunkan pH menjadi 6,6. Sehingga transfusi masif dapat menimbulkan asidosis metabolik. Oleh karena itu, ada ahli yang menganjurkan pemberian 3,75 g natrium bikarbonat untuk setiap 5 liter darah transfusi yang diberikan secara cepat. • Bahaya dari darah yang bersuhu rendah Bahaya ini terutama timbul pada anak kecil dan pasien yang sedang dianestesi, karena kurangnya kemampuan pēngaturan suhu. Dapat terjadi penurunan suhu batang tubuh, yang diikuti oleh fibrilasi ventrikel dan henti jantung. Dianjurkan memberikan darah dengan cara merendamselang infus dalam air hangat selama transfusi berlangsung. Pemansan ini tidak boleh melebihi 40° C. • Keracunan kalium Darah simpan yang mendekati waktu daluwarsa dapat mengandung kalium sebanyak 30 mEq/l. Pada pasien yang fungsi ginjalnya menurun seperti pada keadaan renjatan atau gagal ginjal, sebaiknya diberikan darah yang mempunyai masa simpan kurang dari 10 hari. • Kelebihan beban sirkulasi Pada masa lalu hal ini merupakan salah satu penyebab kematian. akibat transfusi yang tersering. Akan tetapi dengan adanya diuretika yang kuat, pengetahuan mengenai tekanan vena sentral dan teknik mengukur volum plasma dan volum darah total, hal ini lebih jarang terjadi. Dianjurkan untuk selalu meng-auskultasi bagian basal paru bila melakukan transfusi dalam jumlah besar, pada manula atau pada anak kecil. • Pengaruh obat-obat dan anestetica Pada pasien yang sedang dianestesi atau dalam pengaruh obat, mungkin hanya ada dua tanda yang menunjukkan terjadinya inkompatibilitas, yaitu : 1. Hipotensi yang tidak diketahui sebabnya. 2. Perdarahan yang tidak normal. • Inkompatibilitas Rhesus Untuk mencegah timbulnya inkompatibilitas Rhesus, sebaiknya tidak diberikan darah Rh + kepada resipien dengan Rh —. Ini terutama penting pada wanita usia subur dengan Rh — untuk mencegah hemolisis bayi bila wanita tersebut melahirkan. • Penyulit setelah transfusi masif Transfusi masif ialah transfusi sebanyak 500 ml dalam waktu < 5 menit, atau transfusi sebanyak 50% volume darah resipien dalam waktu kurang dari 1 jam. a. Gangguan pembekuan darah akibat pengenceran. Dapat diatasi dengan pemberian FFP atau/dan trombosit. b. Koagulasi intra vaskuler diseminata.

c. Intoksikasi sitrat. Dapat diatasi dengan pemberian kalsium. d. Pergeseran keseimbangan asam — basa. Biasanya terjadi asidosis ringan yang tidak boleh terburu-buru di koreksi, karena dengan sirkulasi yang baik keadaan ini akan terkoreksi sendiri dalam waktu beberapa jam. (koreksi yang terburu-buru dapat menimbulkan alkalosis metabolik yang lebih berbahaya). e. Hiperkalemia. f. Pengendapan mikroagregat di dalam paru sehingga terjadi sembab paru. g. Pergeseran kurva disosiasi oksigen — hemoglobin ke kiri, sehingga pelepasan oksigen untuk jaringan lebih sukar, akibat 2,3 DPG yang rendah. Kurva ini akan kembali normal setelah 24 jam. PENATALAKSANAAN REAKSI TRANSFUSI1,2,3,12,13,16 Yang dimaksud dengan reaksi transfusi disini adalah reaksi hemolitik, inkompatibilitas, dan reaksi alergi yang berat. 1) Transfusi segera dihentikan, diambil lagi contoh darah pasien dan darah donor untuk pemeriksaan ulang. 2) Perbaiki keadaan hipovolemia dengan plasma atau cairan kristaloid. Tekanan vena sentral dipantau. 3) Koreksi keadaan asidosis, dan kemih dibuat menjadi sedikit alkalis. (pH = 8). 4) Setelah volume cukup, berikan manitol 12,5 - 50 g selama 15 menit, Bila belum terjadi diuresis berikan furosemid 20 - 40 mg. Bila belum terjadi diuresis, segera dilakukan dialisis peritoneal (bila mungkin, lakukan hemodialisis). 5) Hitung jumlah trombosit, partial tromboplastin time dan kadar fibrinogen serum. 6) Bila terjadi koagulasi intra vaskuler yang menyeluruh (disseminated intra vasculer coagulation = DIC), segera dimulai terapi dengan heparin. 7) Pasien harus dirawat di unit perawatan intensif, agar pemantauan dan berbagai tindakan dapat dilakukan dengan baik. KESIMPULAN Transfusi darah atau komponennya merupakan tindakan yang dapat menyelamatkan jiwa dan mengurangi morbiditas, bila diberikan menurut indikasi yang tegas dan saat yang tepat. Penyulit yang mungkin timbul pada transfusi darah dapat berakibat fatal. Dengan pemantauan yang ketat selama transfusi, penyulit yang timbul dapat segera diketahui, dan dengan penatalaksanaan yang cepat dan tepat dapat dicegah terjadinya hal-hal yang tidak diingini. Seorang klinikus yang akan memberikan transfusi darah seyogyanya mengetahui dengan baik indikasi dan penyulit yang mungkin timbul pada transfusi darah, serta menguasai cara menatalaksana penyulit ini.
KEPUSTAKAAN 1. Arba Pohan. Pengenalan dan tindakan segera pada reaksi hemolitik transfusi. Referat di bagian Anestesiologi FKUI — RSCM 1983. 2. Miller RD, Brzica SM. Blood, blood component, colloid and autotransfusion therapy. dalam ANESTHESIA editor Miller RD. New York : Churchill Livingstone, 1981; Vol. II. 885—922. 3. Rodman GH Jr. Bleeding and clotting disorders : Blood transfusions, complications and component therapy. Dalam Shoemaker (editor). TEXTBOOK OF CRITICAL CARE. Philadelphia : WB.

Cermin Dunia Kedokteran No. 51, 1988 29

Saunders Company, 1983; 730-732. 4. Abrams RA, Glaubiger D. Result of Attempted Hematopoietic Reconstitution using Isologous, Perpheral Blood Mononuclear Cells : a case report. Blood 1980; 56 : 516-520. 5. Highby DJ. Granulocyte transfusion, where now? N Engl J Med 1981;105 : 636-637. 6. Kahn RA dkk: Use of plasma products with whole blood and packed rbc's. JAMA 1979; 242: 2087-2090. 7. Rich KC. Purine nucleoside phosphorylase deficiency : improved metabolic and imunologic function with erythrocyte transfusion. N Engl 3 Med 1980; 303 : 973-977. 8. Syndei EL dkk. Effects of blood transfusion on invivo,levels of plasma fibronectine. J Lab Clin Med 1981; 98 : 336-341. 9. Varghese V dkk. Induction of immunological unresponsiveness by multipe transfusion in uraemic patients. Lancet 1981; Aug. 250251.

10. British Medical Journal Editorial 1981; 283 1-2. 11. Myhre BA. Fatalities from blood transfusion. JAMA 1980; 244 : 1333-1335. 12. James DCO. Blood transfusion and notes on realted aspects of blood clotting and heamoglobinopathies. ,dalam SCIENTIFIC FOUNDATION OF ANAESTHESIA. London :,WB Saunders Company 1981; 375-391. ` 13: Wylie and Churchill Davidson. A PRACTICE OF ANESTHESIA ed. IV London : Lloyd Luke 1979; 705-724. 14. Alter Hl, Purcell RH dkk. Donor Transaminase and recipient hepatitis. LAMA 1981; 246: 630-634. 15. Dahn MS dkk. Negative Inotropic effect of Albumin Resuscitation for shock. Surgery 1979; 86 : 235-241. 16. Kahn RC dkk. Massive blood replacement : Correlation of ionized calcium, citrate and hydrogen ion concentration. Mesth Analg 1979; 58 : 274-278.

30 Cermin Dunia Kedokteran No. 51, 1988

Perilaku Kesehatan, Perilaku Kesakitan dan Peranan Sakit (Suatu Introduksi)
Dr.Rudy Salan Pusat Penelitian Penyakit Tidak Menular, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Departemen Kesehatan R.I., Jakarta

PENDAHULUAN Dari data yang terkumpul melalui beberapa penelitian di Indonesia, tampak dengan jelas bahwa di antara provinsiprovinsi di Indonesia terdapat contact rate yang bervariasi tinggi. Apabila contact rate didefinisikan sebagai jumlah kunjungan per penduduk, maka tampaknya bahwa bukan saja antar provinsi, bahkan dalam satu provinsi pun terdapat variasi yang besar. Salah satu upaya untuk memperbaiki contact rate di tempat-tempat yang mempunyai rate yang rendah adalah dengan terlebih dahulu mencari hubungan antara kurangnya kunjungan dari penduduk ke pusat pelayanan kesehatan yang modern dengan beberapa variabel yang menurut perkiraan atau diasumsikan mempunyai peranan yang penting. Dalam upaya ini beberapa cara dapat ditempuh melalui metode penelitian yang berbeda-beda. Biasanya dipilih beberapa variabel yang dianggap berpengaruh terhadap contact rate, dan selanjutnya diadakan penelitian untuk melihat sejauh mana variabel-variabel ini menyumbang kepada penambahan atau penurunan contact rate. Walaupun .cara demikian tidak ada salahnya, namun diragukan apakah cara ini dapat memberikan jawaban yang memuaskan. Ini disebabkan karena tinggi-rendahnya kunjungan masyarakat ke Puskesmas — atau lebih spesifik — sering tidaknya seorang pasien mengunjungi Puskesmas sangat dipengaruhi oleh proses perilaku yang berkaitan dengan kesehatan (health related behavior). Dalam 15 tahun akhir-akhir ini perkembangan konsep-konsep di bidang perilaku yang berkaitan dengan kesehatan ini sedang berkembang dengan pesatnya. Penelitian-penelitian di bidang ini telah menciptakan perangkat ilmu ,pengetahuan (body of knowledge) yang memerlukan diterbitkannya beberapa majalah-majalah ilmiah baru yang banyak memuat artikel-artikel perihal ilmu pengetahuan ini. Salah satu hal yang menarik dari penelitianpenelitian ini adalah bahwa daerah-daerah penelitian bukan saja ada di negara-negara yang telah berkembang, tetapi juga ada di negara-negara yang sedang berkembang. Disiplin ilmu yang menaruh minat banyak terhadap cabang ilmu pengetahuan ini adalah antropologi kesehatan. Walaupun secara tradisio-

nal antropologi budaya dalam deskripsi etnografis hampir selalu memberikan penjelasan tentang cara-cara pengobatan dalam masyarakat tertentu, namun dengan dikembangkannya ilmu antropologi kesehatan telah dikemb'angkan aspek lain .dari kesehatan, yang bersifat lebih mendalam .dan yang pada akhirnya akan bermanfaat banyak bagi ilmu kedokteran dan ilmu pelayanan kesehatan. PENGERTIAN "DISEASE" DAN "ILLNESS" Berbicara tentang perilaku yang berkaitan dengan kesehatan menyangkut banyak pengetahuan tentang determinandeterminan sosial tentang penyakit. Untuk keperluan ini telah dlkembangkan beberapa pengertian yang telah diberikan definisi operasional atau konseptual. Pertama dapat dikemukakan di sini perbedaan antara disease dan illness. Dalam bahasa Indonesia kedua pengertian ini disebut penyakit, namun dilihat dari segi antropologis sebenarnya terdapat perbedaan yang besar antara kedua pengertian ini. Dengan disease dimaksudkan gangguan fungsi atau adaptasi dari proses-proses biologik dan psikofisiologik pada seorang individu. Dengan illness dimaksudkan reaksi personal, interpersonal dan kultural terhadap penyakit atauperasaankurang nyaman (Kleinman dkk 1978:251). Para dokter mendiagnosis dan mengobati disease, sedangkan. Pasien menderita illness. Kedua pengertian ini tidak identik. Illness dapat disebabkan oleh disease, tetapi tidak selalu illness. disertai dengan adanya kelainan organik maupun fungsional dari tubuh. Pengertian illness dibentuk oleh faktor-faktor kultural, yang dipengaruhi oleh persepsi, pemberian nama, penjelasan, dan proses penilaian dari pengalaman yang tidak menyenangkan. Semua hal ini dibentuk. dalam lingkungan keluarga, sosial dan kulturaL Dengan demikian dapat dikatakan, bahwa pengertian illness adalah pengertian yang merupakan konstruk kultural. Dalam perbedaan antara kedua ,pengertian dapat terjadi kekurangsesuaian antara pendekatan dokter terhadap penyakit dan apa yang diharapkan dari pasien. Dokter sering hanya cenderung mengobati segi fisik dari penyakit saja, dan kurang memperhatikan aspek kulturalnya.

Cermin Dunia Kedokteran No. 51, 1988 31

PERILAKU KESEHATAN, PERILAKU KESAKITAN DAN PERANAN SAKIT Dalam rangka ini timbul beberapa pengertian lain yang mempunyai konotasi kultural, yaitu perilaku kesehatan (health behavior), perilaku kesakitan (illness behavior) dan peranan sakit (sick role). Yang dimaksudkan dengan perilaku kesehatan (health behavior) adalah setiap tindakan yang diambil oleh seorang individu yang 'berpendapat bahwa dirinya sehat dengan maksud untuk mencegah terjadinya penyakit atau mengenalnya pada stadium permulaanl. Sebagai definisi tentang perilaku kesakitan (illness behavior) dikemukakan: "cara-cara di mana gejala-gejala ditanggapi, dievaluasi dan diperankan oleh seorang individu yang mengalami sakit, kurang nyaman atau tanda-tanda lain dari fungsi tubuh yang kurang baik"2. Definisi yang lebih sederhana menjelaskan bahwa perilaku kesakitan adalah setiap tindakan yang dilakukan oleh seorang individu yang merasa diri sakit (ill), untuk menentukan dirinya sakit dan mencari pengobatannyal. Pada suatu penyakit dapat dikenal aspek sosial yang menunjukkan urutan waktu. Ada suatu awal yaitu kesadaran adanya gejala penyakit yang masih bersifat samar-samar, suatu perkembangan menuju suatu proses sosial dan fisiologik dan suatu akhir melalui proses kesembuhan atau kematian. Proses sosial ini merupakan suatu proses yang kompleks yang sangat ditentukan oleh ciri-ciri kebudayaan. Untuk menganalisa proses ini diciptakan pengertian atau istilah perilaku kesehatan. Dalam konstruk teoretik ini diciptakan pula beberapa istilah, yaitu sick role dan patient role (peranan sakit, dan peranan pasien) yang menjelaskan bahwa seorang telah beralih dari peranan sebagai orang normal dalam masyarakat ke seorang yang sakit dengan segala hak dan tanggungjawabnya. Di sini digunakan pengertian, setiap orang dalam kehidupan sehari-hari senantiasa menggunakan beberapa peran silih berganti. Namun apabila dia menjadi sakit, dia beralih dari peranan sebagai orang normal kepada peranan sebagai orang sakit. Dalam fungsi dan peranan sebagai orang sakit terdapat empat aspek yang dapat disebut di sini. Pertama, tergantung dari ringan-beratnya penyakit seorang dalam peranan sakit dapat dibebaskan dari sebagian atau semua tugas sosialnya. Kedua, orang yang sakit terpaksa menjadi sakit dan tidak dapat sembuh karena keputusannya sendiri atau karena dia ingin sembuh. Ketiga, orang yang sakit diharapkan dapat sembuh secepat mungkin dan keempat, dia diharapkan mencari pertolongan yang sesuai3. Dengan adanya keempat aspek ini status sosial dari pasien tidak berubah dan dia masih dapat mempertahankan martabat dirinya dengan baik. Di samping itu perlu diketahui pula bahwa tergantung dari status sosialnya dia diharapkan memperlihatkan perilaku tertentu. Walaupun pengertian peranan sakit ini cukup panjang lebar dibicarakan oleh Talcott Parsons4, namun kenyataan menunjukkan bahwa tidak semua pasien ingin dan patuh dalam mengambil peranan ini. Banyak penyimpangan-penyimpangan dapat terjadi pada setiap aspek tadi, yang akhirnya dapat sangat membahayakan kehidupannya sendiri. TAHAP-TAHAP PĒRJALANAN PENYAKIT Dalam upaya menganalisa penyakit dalam konteks sosial

(illness bukan disease), para antropolog kesehatan berusaha untuk menjabarkan perjalanan penyakit dalam beberapa tahap. Walaupun tahap-tahap ini kadang-kadang bertumpang tindih, namun untuk memudahkan analisis pentahapan ini berguna sekali. Tahap-tahap yang dimaksud adalah sebagai berikut5: 1. Keputusan bahwa ada sesuatu yang tidak beres Dalam tahap ini seorang merasakan adanya gejala, perasaan kurang nyaman pada dirinya, sehingga orang tersebut berpendapat bahwa ada sesuatu yang, tidak beres dengan dirinya. Gejala-gejala yang dialaminya dapat bersifat subjektif, maupun objektif. Dalam suatu kebudayaan tertentu gejala ini tidak selalu dikenal sebagai kategori medik-diagnostik, tetapi lebih sering diinterpretasikan sebagai gangguan dalam fungsi-fungsi kehidupan normal. 2. Keputusan bahwa seorang sakit dan membutuhkan perawatan profesional Dalam tahap ini seseorang telah memutuskan bahwa dia menderita sesuatu penyakit, dan oleh karenanya membutuhkan pertolongan. Orang tersebut dapat mencari pertolongan sendiri, kepada seoraang ahli, atau dia dapat merundingkan kondisinya dengan keluarga atau orang di sekitarnya. 3. Keputusan untuk mencari perawatan media professional Dalam tahap ini seorang yang merasakan dirinya sakit telah memutuskan untuk mencari validasi tentang pendapatnya kepada seorang yang dianggapnya ahli dalam bidang penyakit. Dengan demikian dia dapat beralih dari peranan orang normal ke peranansakit (sick role). Proses pemilihan pertolongan sangat bervariasi pada beranekamacam kebudayaan dan sangat ditentukan oleh normanorma dan nilai-nilai kebudayaan setempat. 4. Keputusan untuk mengadikan pengawasan kepada dokter dan menerima serta mengikuti pengobatan yang ditetapkan Kini pasien telah menerima peranan pasien (patient role) dengan segala konsekuensinya. Dalam fase ini amat penting diketahui apakah penyakit yang dideritanya adalah penyakit akut yang akan sembuh dengan cepat, penyakit kronik, atau penyakit yang tidak bisa sembuh. Bila pasien mengalami penyakit. yang' menahun, maka dia diharapkan mengadakan perubahan-perubahan dalam cara hidupnya dan untuk waktu yang lama akan tergantung kepada ahli yang mengobatinya dan keluarganya. 5. Keputusan untuk mengakhiri peranan pasien Walaupun dalam masyarakat modern keputusan ini terjadi tanpa dirasakan, namun pada beberapa kelompok masyarakat fase ini ditandai dengan upacara-upacara tertentu, yang menandakan bahwa orang yang tadinya sakit, sekarang sudah menjadi anggota kelompok yang .sehat dan oleh karenanya dia sudah dapat memikul tanggungjawab sehari-hari seperti dahulu. Dengan adanya beberapa tahap-tahap ini, dalam penelitian tentang perilaku kesakitan atau perilaku masyarakat terhadap pelayanan kesehatan perlu disusun sejumlah area pertanyaanpertanyaan yang dapat memberikan keterangan dari

32 Cermin Dunia Kedokteran No. 51, 1988

masing-masing tahap ini. Dan jawaban-jawabannya dapat disusun gambaran dan konsep masyarakat tentang penyakit (disease dan illness) dan tanggapannya tentang pelayanan kesehatan. Petugas yang memberikan pelayanan kesehatan dengan demikian dapat menyesuaikan pelayanan dengan pandangan masyarakat tentang sakit dan sehat. Dalam konteks ini masih perlu diketahui tentang konsep explanatory model, yaitu cara bagaimana seorang dalam kebudayaan tertentu memberikan interpretasi terhadap suatu penyakit. Berdasarkan konstruk teoretik explanatory model ini dapat diasumsikan, yaitu apabila model yang dianut oleh masyarakat sesuai atau dekat dengan model dari yang memberikan pelayanan, hubungan antara pelayanan kesehatan dan konsumen kesehatan akan lebih akrab pula. Para petugas pelayanan medik yang mendasarkan pengetahuannya pada ilmu kedokteran barat, sering akan mengalami kesenjangan antara interpretāsi yang diberikan oleh mereka terhadap suatu penyakit dan yang diberikan oleh masyarakat menurut pola kebudayaannya6 . PENILAIAN PERILAKU MASYARAKAT Dalam mencari perilaku masyarakat terhadap pelayanan kesehatan ada dua spek yang perlu ditinjāu: 1. Aspek dari pasien dan lingkungannya 2. Aspek dari dokter atau paramedik Sesuai dengan kedua aspek ini dan sesuai pula dengan pentahapan yang telah dijabarkan tadi, dapat disusun sejumlah pertanyaan yang dapat dikemukakan untuk memperoleh gambaran in depth tentang perilaku masyarakat mengenai pelayanan kesehatan: Berikut ini dikemukakan beberapa contoh pertanyaan yang mungkin bermanfaat. Aspek dari pasien dan lingkungannya Tahap 1 : Keputusan bahwa ada sesuatu yang tidak beres Apakah yang anda rasakan atau keluhkan? • Sudah berapa lama anda merasakan atau mengeluh tentang kondisi ini? • Apakah keluhan-keluhan ini mengganggu pekerjaan anda? • Apakali gangguan ini mencemaskan anda? • Bagaimanakah dampak keluhan nada terhadap upaya mencari nafkah sehari-hari? Apa menurut anda menjadi sebab dari keluhan atau penyakit anda? • Bagaimana pendapat anda, atau keluarga anda, atau orang-orang lain di sekitar anda tentang penyakit atau keluhan yang anda alami ini? Tahap 2 : Keputusan bahwa seseorang sakit dan membutuh-kan perawatan profesional • Apakah anda merasa sudah waktunya meminta bantuan terhadap penyakit anda? • Bentuk dan pertolongan apakah yang anda harapkan? • Bagaimanakah pendapat anda tentang bentuk bantuan ini dan di mana mencarinya? (mengobati diri sendiri, pergi kepada orang yang dianggap pandai, Puskesmas, Posyandu, rumah sakit dan sebagainya). • Apakah yang diharapkan dari bantuan ini? • Apakah dengan bantuan ini menurut pendapat anda keluhan-keluhan anda dapat dihilangkan

dalam waktu yang cepat? atau memerlukan waktu yang lama? • Apakah mencari pertolongan ini sebenarnya memperberat keadaan keuangan anda? • Bagaimana perasaan anda, bila diobati? Apakah anda merasa sangat tergantung orang lain atau masih dapat mengambil macam-macam keputusan sendiri? Tahap 3 : Keputusan untuk mencari perawatan medis profesional • Menurut pendapat anda pertolongan ini dapat diperoleh di mana saja? Sebutkanlah jenis-jenisnya dan nama-nama orang yang dapat memberikan pertolongan kepada anda. • Apakah ada fasilitas lain yang dapat memberikan pertolongan? • Kalau anda diminta untuk mengurut pertolongan ini menurut selera atau pendapat anda, bagaimanakah urutannya, yang mana yang pertama yang akan diminta pertolongan, yang mana kedua, dan seterusnya. • Mengapa urutan dibuat demikian? • Dalam pemilihan pertolongan apakah anda minta . pendapat orang lain? (keluarga, ayah, ibu, kakek, nenek, anggota keluarga lain, mereka yang membiayai pengobatan itu, rapat keluarga). Akhirnya siapakah yang menentukan? • Siapakah yang biasanya anda hubungi paling dahulu? • Apakah anda mengobati diri lebih dahulu sebelum meminta pertolongan? Obat apa yang digunakan? Obat kampung? Obat yang biasa dibeli di depot? Obat yang bisā dibeli di apotik? Apakah anda selalu ada persediaan obat untuk hal-hal demikian? • Bila telah diputuskan bahwa anda harus meminta pertolongan pada suatu fasilitas/orang tertentu, mengapa itulah yang dipilih? • Apakah yang anda harapkan dari pengobatan pada fasilitas tersebut? • Bagaimanakah sikap anda apabila penyakit anda tidak cepat sembuh dan bersifat penyakit yang menahun? • Bagaimanakah anda menjelaskan penyakit anda? Apa sebabnya? Bagaimana kira-kira perjalanannya? Apakah sebabnya terletak dalam tubuh anda atau di luar tubuh anda? Apakah ada hubungannya dengan hal-hal yang mistik-magik? (Pertanyaan ini dimaksud untuk mengetahui "explanatory model" dari pasien). • Bagaimana pengobatan ini berpengaruh terhadap lingkungan anda? • Apakah dalam lingkungan anda. terdapat organisasi yang dapat diminta pendapat dalam halhal ini? (organisasi keagamāan, pemuda, sosial, arisan, Posyandu dan sebagainya). Tahap 4 : Keputusan untuk mengalihkan pengawasan terhadap dokter dan menerima serta mengikuti pengobatan

Cermin Dunia Kedokteran No. 51, 1988 33

yang telah ditetapkan • Bagaimana perasaan anda sekarang selama dalam pengobatan? • Berapa lama anda bersedia menjadi pasien? • Jikalau anda harus berobat lebih dari 2 minggu, bagaimanakah pendapat anda? • Siapakah yang akan mengatur rumah tangga anda selama anda sakit? • Apakah anda kini merasa aman, ataukah selalu dirundung rasa khawatir? Apakah yang dikhawatirkan? • Bila anda bersalin, apakah lebih senang di rumah sendiri atau di rumah sakit/puskesmas? Mengapa? • Apakah anda pernah pergi ke rumah sakit? Bila ya, bagaimanakah kesannya? Apakah dirasakannya ramah? Apakah ada rasa takut, bingung, takut bertanya kepada orang lain, merasa tidak tahu mau kemana, merasa kurang diperhatikan. Dalam hal•hal ini apakah anda pasrah saja, atau anda lain kali tidak mau datang lagi? • Pelayanan yang bagaimanakah yang anda harapkan dari .rumah sakit? (waktu pagi atau sore, dokter atau perawat, dokter tua atau muda). • Apakah anda merasa ada waktu cukup untuk dapat mengemukakan pendapat atau keluhan anda? Tahap 5 : Keputusan untuk mengakhiri peran pasien • Siapa yang menyatakan bahwa anda sembuh? Apakah hanya perasaan anda sendiri atau orang lain? (dukun, dokter, perawat, anggota keluarga). • Apabila anda sembuh apakah juga dirapatkan dalam keluarga? • Apakah ada upacara-upacara tertentu yang menyatakan bahwa anda sudah sembuh? Aspek dari dokter atau paramedic Dalam kategori pertanyaan ini dapat ditanyakan hal-hal yang lazim tentang kualitas pelayanan, seperti waktu yang dibutuhkan untuk perjalanan dari rumah ke fasilitas pengobatan, biaya yang dikeluarkan, berapa lama harus menunggu sebelum mendapatkan giliran, berapa lama harus menunggu sebelum mendapatkan obat dan pendapat pasien tentang semua hal ini. Dapat pula ditanyakan tēntang kualitas hubungan pasien dengan petugas kesehatan.(doctor—patient relationship). Di sini dapat ditanyakan dan diobservasi perihal berapa waktu yang dibutuhkan untuk memberikan pelayanan kepada pasien,

apakah terdapat kontak mata (eye—contact) yang lama antara dokter dan pasien atau tidak ada kontak mata sama sekali, bagaimana perilaku petugas, kasar, berbicara pendek-pendek saja, kurang menanggapi keluhan pasien,' penuh rasa kasih, memerlukan waktu yang cukup lama untuk mendengarkan keluhan-keluhan pasien yang tidak langsung ada hubungan. dengan penyakitnya, apakah terdapat penjelasan tentang penyakit pasien oleh petugas kesehatan dan sebagainya. METODOLOGI PENELITIAN PERILAKU Melihat hal-hal tersebut di atas, jelaslah bahwa pendekatan metodologis dalam penelitian semacam ini adalah dengan participant observation. Metoda kuesioner dengan rating bagi penelitian ini kurang tepat. Yang sesuai adalah wawancara terbuka yang perlu diulang-ulang beberapa kali dan ditunjang oleh observasi untuk mendapat kepastian bahwa apa yang ditanyakan oleh peneliti benar-benar dimengerti oleh informan. Penelitian. yang demikian itu dapat saja dilakukan oleh seorang dokter, tetapi peneliti yang berlatar belakang antropologi atau sosiologi mungkin dapat memperoleh lebih banyak informasi. Karena penelitian demikian memerlukan pertanyaan yang bersifat in depth, maka tidak dapat dilakukan pada sampel yang terlalu besar. Beberapa puluh sampel (subyek) atau paling banyak 100 subyek dapat didekati secara demikian. Analisis dan penyajian analisis bukan berupa tabel, tetapi berupa narasi dan deskripsi profil.
KEPUSTAKAAN 1. Kasl SV dan Cobb S. Health Behavior, Illness Behavior and Sick Role Behavior, Archives of Environmental Health 1966; 12 : 246266. 2. Mechanic D dan Volkart EH. Stress, Illness Behavior and the Sick Role, American Sociological Review 1961; 26 : 51—58. 3. Siegler M dan Osmond H. The Sick Role Revisited, Hastings Center Studies 1973;1 (3) : 41-48. 4. Parsons, Talcott. Definisitions of Health and Illness in the light of American Values and Social Structure, dalam Concepts of Health and Disease Caplan AL, Engelhardt T dan McCartney JJ Ed. 1981; 57—84. 5. Foster GM dan Anderson BG. Medical Anthropology, New York: John Wiley and Sons, 1978. 6. Kleinman A. Patients and Healers in the Context of Culture, University of California, Berkeley, 1980. 7. Kleinman A, Eisenberg L dan Good B. Culture, Illness and Care: Clinical Lessons from Anthropologi•a1 and Cross—Cultural Research, Annals of Internal Medicine 1978; 88 : 251—258

RALAT :

Dalam CDK No 50, terdapat salah cetak pada halaman 53, kolom penulis, tertulis : Hoedyanto Tjokrosapoetro. Seharusnya : Roedyanto Tjokrosapoetro Redaksi

34 Cermin Dunia Kedokteran No. 51, 1988

Pengamatan Penderita Demam Berdarah Dengue di Indonesia 1985 - 1986
Suharyono Wuryadi Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Departemen Kesehatan R.I., Jakarta

PENDAHULUAN Demam Berdarah Dengue sampai saat ini masih merupakan masalah di Indonesia. Jumlah kasus bahkan makin meningkat. Untuk 3 tahun terakhir ini dilaporkan antara 13.000— 15.000 kasus dengan case fatality rate sekitar 4%. Yang sangat menonjol untuk 3 tahun terakhir ini adalah makin banyaknya kasus-kasus dewasa. Banyak di antara kasus dewasa ini mempunyai gejala pendarahan yang berat dan bahkan kematian. Banyak faktor masih belum dapat dijelaskan mengenai penyakit ini. Pengamatan yang terus-menerus baik tentang virus penyebabnya maupun vektor dan penderitanya masih perlu dilanjutkan dan ditingkatkan. Dalam laporan ini disampaikan hasil kegiatan tentang pengamatan penderita Demam Berdarah Dengue di Indonesia pada periode 1985 — 1986. CARA KERJA. Penderita dan tersangka Demam Berdarah Dengue (DBD) yang dikemukakan di rumah-rumah sakit baik pemerintah maupun swasta, poliklinik, Puskesmas, dan praktek dokter dianjurkan untuk diambil specimen darahnya untuk dikirimkan ke laboratorium yang ditunjuk .mendapatkan diangnosa serologi. Duabelas laboratorium, yaitu Balai Laboratorium Kesehatan Provinsi telah dapat mengerjakan konfirmasi serologi dengan cara HI test (Tes Haemaglutinasi Inhibisi): Medan, Padang, Palembang,, Jakarta (Balai Laboratorium Kesehatan DKI dan Puslit Penyakit Menular), Bandung, Semarang, Yogya, Surabaya, Banjarmasin, Ujung Pandang, Denpasar dan Manado. Pengambilan specimen dilakukan 2 — 3 kali: 1. Pada waktu penderita diketemukan atau waktu masuk rumah sakit (akut) — S1. 2. Beberapa saat sebelum penderita meninggalkan rumah

sakit (konvalesen 1) — S2. Jika,mungkin 10 — 14 hari setelah onset penyakit — S3. Data-data mengenai penderita, nama, umur, jenis kelamin, tanggal sakit, gejala-gejala klinik, gejala-gejala' penyakit dan lain-lain, harus diikutsertakan waktu mengirim specimen tersebut. Pengambilan specimen dapat dilakukan dari serum darah vena yang dimasukkan vial atau dengan menggunakan kertas filter : a. Untuk serum Diambil secara aseptik 2 — 6 cc darah venous. — Jika laboratorium letaknya tidak jauh, langsung dikirim dalam thermos es secepatnya. Tempat darah (tabung atau vial) diberi label dan diisi dengan data-data penderita. — Jika laboratorium letaknya jauh (lebih dari 24 jam), serum sebaiknya dipisahkan dan dimasukkan dalam vial dan disimpan beku di almari es, dilengkapi label dan data. b. Kertas filter — ambil 2 kertas filter dan tuliskan kode nomor pads filter tersebut dengan pensil. — basahi kertas filter tersebut dengan darah dari ujung jari: jenuh bolak-balik. Seluruh permukaan filter hams terisi dengan darah secara jenuh — dibiarkan kering dengan sendirinya pada temperatur kamar. Hindarkan dari sinar: matahari maupun panas Muir lampu. — kirimkan ke alboratoriurn setelah kering di dalam amplop melalui pos. Jangan lupa mengirimkan juga form — klinik secara bersamaan. Tes Serologi Ada dua macam pola tentang respons kekebalan pada infeksi Dengue akut: infeksi primer dan infeksi sekunder. Respons primer terlihat pada individu yang tidak kebal terhadap Flavivirus (misalnya tidak pernah terinfeksi dengan Flavivirus dan tidak pērnah mendapatkan vaksinasi Falvivirus seperti Japanese Encephalitis vaksin, Yellow Fever vaksin, dan lainlain. 3.

Cermin Dunia Kedokteran No. 51, 1988 35

Gambar 1. Response immunologi primer dan sekunder pada infeksi Dengue.

Respons sekunder terjadi pada individu dengan infeksi Dengue akut, tetapi sebelumnya telah pernah kena infeksi dengan Flavivirus yang lain. Respons sekunder dapat terjadi sebagai akibat kekebalan yang diperoleh dan infeksi Flavivirus yang lain (misalnya, Japanese Encephalitis atau Yellow Fever) atau serotipe Dengue yang lain. Sekali telah terinfeksi dengan suatu serotipe tertentu, seseorang tidak akan pernah dapat terinfeksi dengan serotipe yang serupa. Pada infeksi Dengue Primer, titer antibodi naik per lahan-lahan sampai pada suatu tingkat yang sedang tingginya, dan secara relatif monospesifik (misalnya, titer akan lebih tinggi terhadap serotipe yang menginfeksi daripada terhadap serotipe yang lain). Pada infeksi Dengue selunder titer antibodi naik cepat sampai pada tingkat yang tinggi dan terjadi reaksi silang dengan banyak macam Flavivirus antigen. Titer yang sangat tinggi dijumpai hanya pada serum yang diambil dari penderita dengan infeksi sekunder yang akut. Specimen diperiksa secara serologi dengan HI test, dengan metode microtiter. Biasanya serum diencerkan dua kali ke lipatan. Pada HI test mi mula-mula dipakai satu macam antigen yang mempunyai reaksi yang luas (Dengue I atau Dengue 4). Apabila tes menunjukkan negatif, tes diulang kembali dengan mempergunakan antigen-antigen yang lain. Specimen akut dan konvalesen hams dites bersama-sama.
Interpretasi HI Test. Respons antibodi Naik > 4X Naik > 4 X Naik>4X tetap tetap tetap – Jarak Si–S2 > 7 hari S1/S2 < 7 hari S1/S2 > 7 hari < 7 hari hanya 1 specimen Titer konvalesen < 1:1280 > 1:2560 5 1:1280 > 1:2560 < 1:1280 < 1:1280 1:1280 Interpretasi Infeksi pasti; primer Infeksi pasti; sekunder Infeksi pasti; mungkin primer/sekunder diduga infeksi; sekunDer bukan Dengue tak dapat diinterpretasi tak dapat diinterpretasi

pandang, dan Manado telah diterima sebanyak 6941 specimen penderita tersangka DBD dari seluruh Indonesia (lihat Tabel 1). Dari specimen tersebut 2669 atau 38% menunjukan positif terhadap HI test, sedang pada tahun 1986 dapat kumpulkan sebanyak 8316 specimen dengan hasil 4520 atau 54,3% menunjukkan positif HI test. Di sini terlihat adanya kenaikan jumlah specimen dikirimkan ke laboratonium-laboratorium. Kalau kita lihat persentase yang positif terlihat adanya kenaikan dari 38% menjadi 54,3%. Kenaikkan yang cukup bermakna ini menunjukkan peningkatan ketajaman diagnosa klinik oleh petugas-petugas kesehatan di daerah-daerah di Indonesia. Perlu diketahui, bahwa pemerintah selalu berusaha untuk meningkatkan kemampuan dan ketrampilan para petugasnya dengan bermacam-macam jalan: seminar, training, penerangan dan penyuluhan, dan lain-lain. Satu hal yang masih perlu diperhatikan adalah masih banyaknya specimen yang tidak dapat diperiksa. Menurut pengamatan mi terjadi oleh bermacam-macam sebab dan yang penting di antaranya adalah: 1. Filter tidak jenuh/penuh di seluruh permukaannya. 2. Filter yang berisi darah belum sepenuhnya kering, sehingga waktu dimasukkan dalam kantong plastik dan dikirim menjadi busuk. 3. kertas filter yang berisi darah dikeringkan secara tergesa gesa, dengan panas dari sinar matahari/lampu dan sebagai nya.
Tabel 1. Specimen tersangka penderita DBD yang diperiksa di 12 BLK di Indonesia 1985 - 1986 Tahun 1985 1986 Jumlah Specimen 6941 8316 Positif HI 2669 (38,0%) 4520 (54,3%) Tak dapat diperiksa 711 (10,2%) 1152 (13,8%)

HASIL DAN DISKUSI Selama tahun 1985 oleh 12 Balai Laboratorium Kesehatan Propinsi, yaitu Medan, Padang, Palembang, Jakarta, Bandung, Semarang, Yogya, Surabaya, Denpasar, Banjarmasin, Ujung

Terlihat bahwa kertas filter yang tidak dapat diperiksa mencapai 10,2% pada tahun 1985 dan 13,8% pada 1986. Selain keduabelas BLK yang disebutkan tadi, Puslit Penyakit Menular di Jakarta juga menerima/mengumpulkan specimen penderita tersangka DBD dari rumah-rumah sakit tertentu di Jakarta dan Yogya dalam rangka penelitian yang lain. Specimen tersebut berupa serum dan untuk luar Jakarta dikirim dalam liquid nitrogen container. Pada tahun 1985 dapat dikumpulkan sebanyak 1511 specimen yang dibagi dalam 2 kelompok: I. Anak-anak yang berumur di bawah 15 tahun. 2. Anak/orang dewasa yang berumur di atas 15 tahun. Dari kelompok di bawah 15 tahun didapatkan 540 atau 38,5% positif HI test. Sedang kelompok di atas 15 tahun, 32 atau 29,9% menunjukkan positif HI test (lihat Tabel 2). Dari seluruh yang positif, 42 anak atau 7,7% dan ke lompok di bawah 15 tahun menunjukkan reaksi. primer. Sedang pada kelompok di atas 15 tahun hanya 6,3% oleh reaksi primer. Kalau kita melihat perbandingan antara anak laki-laki dan perempuan, anak perempuan Jumlahnya lebih tinggi sedikit di atas anak laki-laki (1: 1,2). Untuk tahun 1986, pada kelompok anak-anak di bawah

36 Cermin Dunia Kedokteran No. 51, 1988

Tabel 2. Specimen tersangka penderita DBD yang diterima di Puslit Penyakit Menular, Jakarta, 1985 — 1986 Tahun Golongan Jumlah Laki/ Positif HI Infeksi Umur 1985 1986 <15 tahun >15 tahun <15 tahun >15 tahun Specimen 1404 107 2228 414 Perempuan 1:1,3 1:1,1 1:1,2 1:1,1 Primer 540 (38,5%) 32 (29,9%) 753 (33,8%) 153 (36,9%) 42 (7,7%) 2 (6,3%) 47 (6,2%) 8 (5,2%)

bagaimana dengan 51% sisa yang negatif. Apakah betul-betul bukan karena infeksi Dengue, atau mungkinkah kriteria interpretasi HI test tidak sesuai sehingga• banyak specimen yang tidak memenuhi kriteria tersebut.
Tabel 3. Jumlah kasus yang dilaporkan, jumlah specimen yang diambil, dan angka positif HI di Indonesia, 1985—1986 Tahun Jumlah Jumlah Positif HI Kasus Specimen 1985 1986 13.000 16.000 8.452 (65,0%) 10.958 (68,5%) 3.241 (38,3%) 5.426 (49,3%)

Untuk tahun 1986, pada kelompok anak-anak di bawah 15 tahun terkumpul 2228 specimen di mana 753 atau 33,8% positif HI test, sedang anak-anak di atas 15 tahun, terkumpul 414 specimen, di mana 153 atau 36,9% positif HI test. Di sini infeksi primer ada 47 atau 6,2% dari kelompok di bawah 15 tahun. Sedang kelompok di atas 15 tahun hanya 8 atau 5,2%. Kalau kita perhatikan tahun 1985'— 1986, yang sangat menarik adalah naiknya kasus- kasus DBD pada kelompok di atas 15 tahun. Kalau tahun 1985 dari kelompok anak-anak di atas 15 tahun hanya terkumpul 107 specimen, tahun 1986 terkumpul 414. Anak-anak/orang dewasa ini terdiri dari mereka yang berumur.15 tahun, 20 — 30 tahun bahkan diats 40 tahun. Kalau kita lihat seluruh specimen yang dapat dikumpulkan dan kita bandingkan dengan jumlah kasus yang dilaporkan untuk seluruh Indonesia, pada periode yang sama, yaitu tahun 1985 dan 1986, pada tahun 1985 dilaporkan 13.000 kasus, sedang specimen yang, dapat dikumpulkan ada 8452, berarti 76%. (label 3). Pada tahun 1986 kasus yang dilaporkan adalah 16.000 sedang specimen yang dikumpulkan 10.958 atau 68,5%. Jadi terdapat kenaikan sebesar 3,5%. Mengenai angka positif dari specimen tersebut, secara keseluruhan terlihat tahun 1985 sebesar 38,3% dan tahun 1986 sebesar 49,3%. Meskipun angka positif HI tersebut menunjukkan kenaikkan, tapi sebetulnya kita bertanya-tanya

Kalau kita amati dari kepustakaan-kepustakaan, tampaknya memang titer HI dari, penderita DBD di Thailand jauh lebih tinggi daripada titer HI penderita DBD di Indonesia. Mengingat 'kriteria HI test tersebut ditegakkan berdasarkan penelitian di Thailand, apakah ada kemungkinan bahwa kriteria tersebut terlalu tinggi untuk kita di Indonesia? Hal ini masih perlu diteliti. KESIMPULAN 1. Pengambilan dan pengiriman specimen dari penderita tersangka DBD makin meningkat dan lebih teratur. 2. Positive rate cukup baik dan meningkat. 3. Masih banyak specimen yang tidak dapat diperiksa. 4. Jumlah kasus dewasa meningkat.
KEPUSTAKAAN 1. Anon. Dengue Haemorrhagic Fever, diagnosis, treatment, and control. WHO Geneve: 1986. 2. Anon. Data-data Hasil Pemeriksaan Laboratorium Puslit Penyakit Menular, Badan Litbang Kesehatan, Jakarta, 1985—1986. 3. Anon. Data-data Hasil Pemeriksaan Laboratorium (BLK). Bagian Surveillance Sub. Dit. Arboviruses Ditjen P2M PLP, Jakarta, 1985—1986.

Cermin Dunia Kedokteran No. 51, 1988 37

Penelitian Antibodi Anak-anak Usia Baduta Terhadap 2 Macam Vaksin Polio Oral(VPO), di Trenggalek, Jawa Timur
Eko Rahardjo, Gendrowahyuhono, Mulyono Adi, Suharyono Wuryadi Pusat Penelitian Penyakit Menular Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Departemen Kesehatan R.I., Jakarta

PENDAHULUAN Poliomielitis adalah suatu penyakit yang biasanya menyerang anak anak dan dapat dicegah dengan imunisasi. Di Indonesia sejak tahun 1980 imunisasi terhadap poliomielitis dimasukkan ke dalam Pengembangan Program Imunisasi (PPI). Vaksin yang digunakan pada program imunisasi ini adalah Vaksin Polio Oral (VPO) atau dikenal juga sebagai vaksin Sabin karena ditemukan oleh Sabin (Sabin, 1956). VPO yang dipakai di Indonesia pada awal program imunisasi adalah buatan Canada dikemas di P.N. Bio Farma (sekarang PERUM Bio Farma), vaksin bantuan UNICEF (buatan Canada) vaksin bantuan Uni Soviet buatan Uni Soviet sendiri. Masalahnya ialah apakah dari kedua jenis vaksin Sabin itu dapat menimbulkan anti bodi positif terhadap virus polio yang sama, atau setidak-tidaknya tidak begitu jauh berbeda karena walaupun sesama vaksin Sabin namun negara pembuatnya berbeda. Hal ini perlu penelitian yang sifatnya memantau perkembangan anti bodi sebelum dan sesudah dilakukan vaksinasi. Penelitian ini bertujuan untuk : 1. Mengetahui keadaan imunitas anak-anak umur 3—24 bulan sebelum dilakukan vaksinasi menggunakan 2 macam VPO dari Sabin. 2. Mengetahui imunitas yang timbul dari anak-anak setelah divaksinasi 3 kali dosis dibandingkan dengan sebelum vaksinasi. 3. Mempertimbangkan hasil isolasi virus dari anak-anak sebelum divaksinasi dengan imunitas yang timbul setelah divaksinasi 3 kali. CARA KERJA Lokasi penelitian adalah di tiga Kecamatan wilayah Kabupaten Trenggalek, Propinsi Jawa Timur. Tiap Kecamat-

an diambil sekitar 200 anak untuk pe'nelitian ini. Seratus anak akan diberi vaksin buatan Uni Soviet dan seratus anak lainnya diberi vaksin kemasan Bio Farma. Sebelum vaksinasi yang pertama dilakukan, anak-anak itu diambil darahnya. Darah berasal dari ujung tangan atau ujung jari kaki, diambil menggunakan tabung kapiler. Usapan rektum juga diambil, pengambilan menggunakan kapas lidi steril dalam larutan Hanks. Selang waktu dua kali 6 minggu anak-anak diberi vaksin ke 2 dan ke 3. Satu bulan setelah vaksinasi terakhir anakanak itu diambil lagi darahnya untuk diketahui perkembangan imunitasnya. Di laboratorium virologi Pusat Penelitian Biomedis sekarang Pusat Penelitian Penyakit Menular, darah diputar dengan pemutar haematokrit (haematocrite centrifuge) kemudian disimpan dalam lemari pendingin suhu -20°C. Usapan rektum ditambah larutan fluorocarbon untuk memisahkan virus entero dari virus lainnya atau bakteri. Untuk mengambil bahan isolat yang diduga mengandung virus entero, suspend larutan harus diputar dahulu selama 1 jam kecepatan 1062 g, lapisan atas dari suspensi itu kemudian diambil sebagai bahan isolat Biak jaringan lestari dari ginjal monyet hijau (established cell line green monkey kidney) dikenal sebagai sel Vero, dilarutkan ke dalam medium esensial minimum (MEM) yang telah ditambah 10% serum anak sapi. Suspensi sel vero ini dimasukkan ke dalam sumuran-sumuran (96 sumuran) dari plate biakan jaringan dan diinkubasikan dalam ikubator yang selalu dipasok (disuplai) CO2 . Setelah biakan sel membentuk selapis jaringan di dalam sumuran dari plate (biasanya 4—6 hari), sampel harus dikeluarkan dan dicairkan. VPO yang telah diketahui titernya diencerkan sampai 100 TCIDso, serum yang sudah mencair diencerkan 4 kali lipat, pengencer vaksin dan serum adalah

38 Cermin Dunia Kedokteran No. 51, 1988

garam penyangga fosfat (Phosphate Buffer Saline = PBS). Serum dan vaksin dicampur dalam tabung dengan perbandingan volume sama (untuk plate masing.masing 50 mikroliter), kemudian diinkubasi selama 2 jam pada inkubator suhu 37°C agar vaksin ternetralisir oleh serum. Campuran vaksin--serum dimasukkan ke dalam sumuran-sumuran dari plate yang dasarnya sudah ditumbuhi biak jaringan vero, tiap sampel serum dimasukkan ke dalam 4 sumuran. Setiap 24 jam, sumuran diamati di gas mikroskop balik (inverted microscope). Bila sampai hari ke 7 tidak timbul efek sitopatogenik (Cytopathogenic Effect = CPE) berarti serum yang diperiksa punya zat kebal melawan virus galur vaksin, artinya positif. Untuk isolasi virus juga harus disiapkan dahulu sel vero dalam sumuran-sumuran dari plate biakan jaringan. Setelah terbentuk selapis jaringan pada sumuran-;sumuran itu, bahan isolat dimasukkan ke dalam sumuran. Tiap sampel usapan rektum dimasukkan` ke dalam 4 sumuran volume 25 mikroliter, kemudian diinkubasikan dalam inkubator suhu 37°C. Setiap 24 jam sekali diamati di atas mikroskop balik selama 14 hari pengamatan. Timbulnya efek sitopatik berarti bahan isolat mengandung virus (positif). HASIL DAN PEMBAHASAN Sampel serum anak-anak yang akan diberi VPO buatan Uni Soviet di 3 Kecamatan Wilayah Kabupaten Trenggalek, dari 283 sampel ternyata 141 (49,2%) didapati positif. Sampel serum anak-anak yang akan diberi VPO kemasan Bio Farma, ternyata 137 (55,0%) positif. Hasil selengkapnya anti bodi dari serum anak-anak yang akan diberi VPO buatan Uni Soviet dan kemasan Bio Farma tertera pada label 1 dan Tabel 2.
Tabel 1. Anti bodi terhadap virus polio pada anak-anak usia baduta sebelum diberi VPO buatan Uni Soviet di Kabupaten Trenggalek, tahun 1981. Netralisasi anti bodi positif Umur (bulan) 3–12 13–24 Total 9 8 17 pl p2 23 15 38 (6,0)( 13 4x 16 21 37 p3 pl+p2 6 2 8 (2,8) 3 7 10 (3,5) pl+p3 p2+p3 5 11 16 (5,7) pl+p2+p3 4 11 15 (5,3) Triple . negatif 78 64 142 (50,2)

virus polio tipe 1, 2, 3) agak berbeda yaitu masing-masing 17 (6,0%) : 8 (3,2%) dan 15 (5,3%) : 21 (8,4%). Secara keseluruhan anak-anak yang akan diberi 2 macam VPO itu tidak begitu berbeda keadaan imunitasnya. Pengujian statistik dengan derajad kebebasan juga menunjukkan hal yang tidak bermakna (p 70,5). Hasil imunisasi anak-anak yang belum divaksinasi pada trial imunisasi polio di 5 Kecamatan wilayah Kodya Bandung pada tahun 1978-1979, ternyata 54,8% tidak punya kekebalan terhadap virus polio (Dep. Kes. R.I., 1981). Penelitian yang sama dilakukan di Jambi pada tahun 1982, anak-anak yang belum divaksinasi 54,5% tidak punya anti bodi terhadap polio (Titi Indiyati, 1984), sedangkan di Trenggalek rata-rata triple anti bodi negatif adalah 47,6%,'jadi triple anti bodi negatif anak-anak di Trenggalek sedikit lebih rendah dari anak-anak di Kodya Jambi dan Kodya Bandung. Dapatlah dikatakan anakanak di Kabupaten Trenggalek punya anti bodi terhadap virus pilio yang lebih tinggi dari anak-anak di Kodya Bandung dan Kodya Jambi. Dari 283 anak-anak yang diberi vaksin buatan Uni Soviet dan 249 anak-anak yang diberi vaksin kemasan Bio Farma, sampai sebulan setelah vaksinasi terakhir (saat pengambilan darah), ternyata hanya 138 (48,8%) dan 148 (59,4%) saja yang bisa diikutkan dalam penelitian ini. Sampel serum anak-anak yang diberi vaksin buatan Uni Soviet ternyata 141 (81,9%) positif, sedangkan anak yang diberi vaksin kemasan Bio Farma, 134 (90,5%) positif. Hasil selengkapnya keadaan imunitas anak-anak setelah vaksinasi 3 kali dosis tertera pada Tabel 3 dan label 4.
Tabel 3. Anti bodi terhadap virus polio pada anak-anak usia baduta setelah diberi vaksin buatan Uni Soviet, di Kabupaten Trenggalek, tahun 1981. Netralisasi anti bodi posftif Umur pl (bulan) 3–12 13–24. Total 8 2 p2 9 0 p3 8 2 pl+p2 Pl+p3 7 4 6 6 12 (8,5) p2+p3 4 3 7 (5,1) pl+p2+p3 34 20 54 (39,1) Triple negatif 18 7 25 (18,1)

10 9 10 11 (7,2) (6,5) (7,2) (8,0)

Tabel 2. Anti bodi terhadap virus polio pads anak-anak usia baduta sebelum diberi VPO kemasan Bio Farma di Kabupaten Trenggalek, Tahun 1981. Netrali anti bodi positif sasi Umur Triple (bulan) pl p2 p3 pl+p2 pl+p3 p2+p3 pl+p2+p3 negatif 3–12 13-24 Total 6 2 8 15 24 39 .36 11 25 7 2 9 3 6 9 (3,6) 6 9 15 (6,0) 11 10 21 (8,8) 71 41 112 (45,0)

Tabel 4. Anti bodi terhadap virus polio pada anak-anak usia baduta setelah diberi vaksin kemasan Bio Farma, di Kabupaten Trenggalek, tahun 1981. Netralisasi anti bodi positif Umur (bulan 3–12 13–24 Total pl 8 4 12 p2 6 3 9 p3 10 3 13 pl+p2 13 5 18 pl+p3 -14 3 17 (11,5) p2+p3 11 6 17 (11,5) pl+p2+p3 29 19
.

Triple negatif 9 5 14 (9,5)

48

(3,2) (15,7) (14,5) (3,6)

(8,1) (6,1) (8,8) (11,5)

(32,4)

Hasil anti bodi anak-anak pada daerah yang akan diberi VPO buatan Uni Soviet dan Bio Farma menunjukkan persentase yang tidak jauh berbeda, hanya anak-anak yang punya zat anti virus polio tipe 1 dan triple .positif (positif terhadap

Anak-anak yang diberi 'vaksin dari Uni Soviet ternyata mengalami kenaikan persentase anti bodi sebanyak 32,7%, dari 49,2% menjadi 81,9%. Bila dibandingkan Tabel 1 dan Tabel 3, ternyata pada Tabel 3 nampak adanya penurunan

Cermin Dunia Kedokteran No. 51, 1988 39

persentase positif terhadap virus polio 2 dan polio 3, sedang kan. terhadap polio 1 sedikit naik. Rupanya penurunan persentase itu terjadi karena yang tadinya hanya positif terhadap salah satu virus saja, menjadi positif terhadap 2 tipe virus atau 3 virus (triple positif). Hal ini terjadi sebagai respon dari tubuh membentuk anti bodi karena adanya vaksinasi. Uji statistik antara jumlah anti bodi positif dari anak-anak sebelum dan sesudah vaksinasi adalah sangat bermakna (p < 0,001), jadi memang benar-benar ada kenaikan jumlah anti bodi positif terhadap virus polio yang sangat berarti. Anak-anak yang diberi vaksin polio kemasan Bio Farma juga mengalami kenaikan persentase anti bodi positif sebanyak 35,5%, dari 55% menjadi 90,5%. Perbandingan Tabel 2 dan Tabel 4 menunjukkan bahwa pada Tabel 4 ada kenaikan anti bodi terhadap virus polio I dan penurunan persentase anti bodi terhadap polio 2 dan polio 3. Persentase anti bodi terhadap dua tipe dan dan tiga tipe virus polio naik. Uji statistik juga menunjukkan perbedaan yang sangat bermakna (p < 0,001), jadi ada kenaikan anti bodi yang cukup tinggi. Perbandingan kenaikan anti bodi positif dari anak-anak yang diberi VPO buatan Uni Soviet dan buatan Bio Farma dalam persen adalah 32,7% : 35,5%, nampaknya tidak begitu besar namun dari uji statistik menunjukkan p < 0,05, jadi bermakna. Namun anti bodi triple positif yang dihasilkan dari anak-anak yang diberi VPO buatan Uni Soviet lebih tinggi dari yang diberi VPO kemasan Bio Farma yaitu perbandingan 39,1% : 32,4%, uji statistikpun ada kemaknaan walaupun sedikit (0,5 > p > 0,1).. Hasil yang diperoleh dari data tersebut di atas tidak bisa dijadikan jaminan bahwa VPO kemasan Bio Farma lebih bagus dari VPO buatan Uni Soviet (melihat persentase kenaikan anti bodi positif) atau VPO buatan Uni Soviet lebih bagus dari VPO Bio Farma (melihat persentase triple positif), untuk membuktikan suatu vaksin lebih bagus dari vaksin lainnya perlu penelitian berulang-ulang. Namun yang jelas walaupun VPO kemasan Bio Farma dikemas di Bio Farma namun tidak mengurangi hasil pembentukan anti bodi. Anak-anak yang diberi vaksin buatan Uni Soviet 54 diantaranya, dapat dikuti perkemangan timbulnya anti bodi, maksudnya dari tidak punya anti bodi sama sekali menjadi punya anti bodi, baik dari yang hanya punya imunitas terhadap satu tipe virus saja maupun sampai punya ketiga-tiganya (triple positif). Anak-anak yang divaksinasi VPO kemasan Bio Farma, 46 diantaranya dapat dilacak anti bodi yang timbul. Hasil timbulnya anti bodi positif setelah diberi VPO seperti tertera pada Tabel 5 dan Tabel 6.
Tabel 5. Hasil timbulnya anti bodi yang bisa diikuti dari 54 anak setelah diberi VPO buatan tJni Soviet 3 kali dosis. Polio 1 Polio 2 Polio 3 Jumlah seronegatif sebelum vaksinasi Jumlah sero positif setelah vaksinasi Tingkat konversi (%) 54 50 92,6 53 46 86,8 54 46 85,2

Tabel 6. Hasil timbulnya anti bodi yang bisa diikuti dari 46 anak setelah diberi VPO kemasan Bio Farma 3 kali dosis, di Trenggalek, tahun 1981. Polio 1 Polio 2 Polio 3 Jumlah seronegatif sebelum vaksinasi . Jumlah seropositif setelah vaksinasi Tingkat konversi (%) (Conversion rate) 46 40 87,0
I

46 41 89,1

45 39 86,7

diberi VPO buatan Uni Soviet . punya tingkat konversi terhadap virus polio 1 lebih tinggi dari yang diberi VPO kemasan Bio Farma (92,6 : 87,0). VPO kemasan Bio Farma menghasilkan tingkat konversi terhadap virus polio 2 dan virus polio 3 lebih tinggi (89,1 : 86,8 dan 86,7 : 85,2). Penelitian di Kodya Bandung menggunakan VPO kemasan Bio Farma, tingkat konversi yang timbul terhadap virus polio 1, virus polio 2 dan virus polio 3, masing-masing adalah 96,6%, 96,6% dan 97%. Rendahnya tingkat konversi di Trenggalek bila dibandingkan dengan hasil di Bandung, perlu penelitian lebih lanjut. Bahan isolasi virus entero dari usapan rektum anak-anak yang akan diberi VPO buatan Uni Soviet: dan kemasan Bio Farma, dengan jumlah 222 dan 198 sampel, ternyata 28 (12,6%) dan 15 (7,8%) positif. Hasil selengkapnya isolasi virus tertera pada Tabel 7 dan Tabel 8.
Tabel 7. Hull isolasi virus entero dari usapan rektum anak-anak usia baduta sebelum pemberian VPO buatan Uni Soviet, di Trenggalek, tahun 1981. Umur Jumlah % Hasil Isolasi (bulan) sampel Positif Negatif 3— 12 13 — 24 Total 12 16 28 (12,6) , . 95 99 194 (87,4) 107 115 222 48,2 51,8 100

Tabel 8. Hasil isolasi virus entero dari usapan rektum anak-anak usia baduta sebelum pemberian VPO kemasan Bio Farma, di Trenggalēk, tahun 1981. Umur Jumlah % Hasil Isolasi (bulan) sampel Positif Negatif 9 3 — 12 13 — 24. 6 Total 15 (7,8%) 93 85 178 (92,2%) 102 91 193 52,9 47,1 100

(Conversion rate) Dari Tabel 5 dan Tabel 6 dapat dilihat anak-anak yang

Uji statistik dari hasil isolasi virus antara anak-anak yang akan diberi VPO buatan Uni Soviet dan Bio Farma menunjukkan p < 0,50 maupun p > 0,10. Jadi hasil isolasi virus dari daerah yang akan diberi VP() kemasan Bio Farma memang sedikit agak lebih tinggi jumlah virus yang ditemukan. Isolasi virus entero dari anak-anak yang akan diberi vaksin buatan Bio Farma di Kodya Jambi pada tahun 1982, dari 600

40 Cermin Dunia Kedokteran No. 51, 1988

sampel 112 (18,6%) positif (Titi Indiyati, 1984), jadi hasil isolasi virus entero di Kodya Jambi lebih tinggi dari di Trenggalek. Hasil sero konversi terhadap virus polio 1, 2, 3, pada anakanak di Kodya Jambi setelah diberi vaksin 2 kali dosis masing-masing adalah 86,6%, 83,9% dan 92,0%. Rata-rata tingkat sero konversi di Jambi dengan diberi 2 kali dosis VPO adalah 87,5%, sedangkan di Trenggalek pada anak-anak yang diberi vaksin 3 kali dosis tingkat sero konversi rata-rata adalah 87,9%, jadi hanya selisih 0,4%. Jumlah virus yang ditemukan di Kodya Jambi lebih banyak, jadi kemungkinan saling interferensi antara virus polio galur vaksin dengan virus entero liar lebih besar dibandingkan dengan di Trenggalek, namun hasil yang diperoleh adalah sebaliknya, mengapa hal ini bisa terjadi? Enam anak dengan usapan rektum positif dan serum negatif sebelum vaksinasi di Kodya Jambi, setelah mendapat VPO dua kali dosis ternyata serumnya jadi positif dan usapan rektumnya jadi positif polio, sedangkan sebelum vaksinasi usapan rektum positif, namun virus yang dikandung teridentifisir sebagai virus echo tipe 9 (pada 2 sampel), virus echo tipe 5 (1 sampel) dan non polio lainnya (3 sampel). Hal ini membuktikan bahwa di Kodya Jambi tidak ada interferensi dari virus entero liar yang ada malah interferensi virus polio galur vaksin terhadap virus entero liar. Mungkin hal ini merupakan salah satu alasan dari berhasilnya pemberian VPO di Kodya Jambi walaupun hanya diberi 2 kali dosis saja. Ditemukan 13 anak yang usapan rektum positif sebelum diberi VPO, serum juga bisa diambil sebelum dan sesudah vaksinasi. Setelah diperiksa imunitasnya terhadap virus polio, ternyata 3 (23,1%) diantaranya tetap negatif walaupun sudah diberi VPO 3 kali. Identifikasi virus ternyata virus yang ditemukan bukan anggauta grup virus polio, jadi termasuk anggauta virus entero non polio. Rupanya di Trenggalek adā interferensi yang kuat dari virus non polio terhadap virus polio galur vaksin, sehingga walaupun anak-anak sudah divaksinasi 3• kali tetap saja tidak timbul imunitas terhadap virus polio. Mungkin adanya interferensi yang kuat ini merupakan salah satu penyebab, rendahnya tingkat sero konversi yang timbul pada anak-anak yang divaksinasi di Kabupaten Trenggalek. Penelitian yang lebih lanjut perlu dilaksanakan untuk menetapkan sebab-sebab yang pasti terhadap terhambatnya tingkat sero konversi.

KESIMPULAN Dari hasil penelitian anti bodi terhadap 2 macam vaksin di Kabupaten Trenggalek dapat disimpulkan bahwa : 1. Anak-anak sebelum memperoleh VPO, sekitar.47,6% tidak punya anti bodi positif terhadap virus polio. 2. Vaksin kemasan Bio Farma sedikit lebih baik dalam meningkatkan anti bodi terhadap virus polio, tetapi vaksin buatan Uni Soviet sedikit lebih baik dalam meningkatkan triple anti bodi positif. 3. VPO buatan Uni Soviet dan VPO kemasan Bio Farma di Trenggalek menghasilkan tingkat sero konversi yang kurang begitu tinggi. 4. Isolasi virus entero di Trenggalek didapat virus entero yang relatif sedikit. 5. Kemungkinan ada interferensi dari virus non polio terhadap virus polio galur vaksin.
KEPUSTAKAAN 1. Sabin Al). Present status of attenuated live virus vaccine J Am Med Assoc 1956; 162: 18, 1589—1596. 2. Suatu kerja sama antara: Direktorat Jenderal P3M, Dep. Kes. R.I., Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Barat, P.N..Bio Farma: Hasil trial imunisasi polio di lima Kecamatan di Kodya Bandung (survai serovirologik) pada bayi sehat golongan umur 3—14 bulan, pada tahun 1978-1979. Departemen Kesehatan R.I., 1981; 3—31. 3. Titi Indiyati Soewarso. The situation analysis of poliomyelitis in Indonesia, 1971—1982. Directorate Generale of Communicable Disease Control and Environmental Health , Ministry of Health, Republic of Indonesia. 1984; 33-36. UCAPAN TERIMA KASIH. Terima kasih kami ucapkan kepada Bapak Dr. Ishak Koiman Kepala Puslit Penyakit Menular, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Dep. Kes. R.I. yang telah memberi kesempatan kepada kami untuk melakukan penelitian di laboratorium Virologi Pus. Lit. Penyākit Menular. Terima kasih kami ucapkan kepada seluruh staf Sub. Dlt. Pent amatan Penyakit Menular, Dit. fen. PPM & PLP, Dep. Kea. R.1. atas kerja samanya dalam melaksanakan survai di lapangan. Ucapan terima kasih juga kami tujukan kepada seluruh karyawan Kan. ML Dep. Kes. dan Din. Kes. Propinsi Jawa Timur yang turut serta survai di Kabupaten Trenggalek. Tidak lupa ucapan terima kasih sebesar-besarnya kami tujukan kepada jajaran karyawan Pemda Kabupaten Trenggalek dan Din. Kes. Kabupaten Trenggalek yang telah membantu jalannya survai dari awal sampai akhir.

Untuk segala surat-surat, pergunakan alamat : Redaksi Majalah Cermin Dunia Kedokteran P.O. Box 3105 Jakarta 10002

Cermin Dunia Kedokteran No. 51, 1988 41

Hepatik Amebiasis
Dr A. Salim Bagian Ilmu Penyakin Dalam, Rumah Sakit Umum Ulin, Banjarmasin

Adalah hal yang wajar bahwa pada saat ini masyarakat kita mencurahkan perhatiannya terhadap penyakit hepatitis virus, mengingat akibat-akibat yang dapat disebabkan oleh penyakit tersebut dan juga kemajuan-kemajuan pesat yang dicapai di bidang imunologi, khususnya yang berkaitan erat dengan penyakit tersebut. Kendati pun demikian, kita hendaknya tetap waspada dan bahkan jangan mengabaikan terhadap penyakit-penyakit hati lainnya, yang tidak disebabkan oleh virus tersebut, mengingat masih banyak terdapatnya penyakit hati, non-viral, di kawasan Nusantara kita. Pada kesempatan ini kami ingin menyajikan salah satu dari penyakit hati, sekedar sebagai bahan penyegar (Refreshing) untuk teman-teman sejawat yang sering menangani kasus-kasus tersebut. EPIDEMIOLOGI Walaupun infeksi dengan Amoeba dapat ditemukan di setiap penjuru dunia (World-Wide), tetapi tak dapat disangkal, prevalensi infeksi tersebut terletak di wilayah tropis dan subtropis. Dalam hal ini erat kaitannya dengan kondisi sanitasi yang kurang memadai, terutama di daerah dengan udara yang panas dan sekaligus berlembab. Penyakit Amebiasis juga dapat dijumpai pada lingkungan hidup yang padat, disertai dengan sanitasi yang jelek. Pada umumnya terdapat pada orang dewasa pria dibandingkan dengan wanita. Dalam literatur juga disebutkan, suku Indian di benua Amerika Selatan dan orangorang Negro di Afrika agak "kebal" terhadap serangan penyakit tersebut daripada orang-orang kulit putih yang bermukim di wilayah yang sama. Sampai sekarang tidak diketahui dengan ` jelas penyebabnya, mungkin ada kaitannya dengan faktor makanan dan higiene perorangan yang besar perannya dalam patogenesis penyakit tersebut Selain pada manusia, hewan pun tak luput dari infeksi dengan Amuba. Disebut antara lain tikus luar (wild rats) sejenis Rattus norvegicus, anjing, kera dan babi.

PATOGENESIS Entamoebahistolitica adalah trofozoit dari famili Rhicopoden. Tanpa•lebih men-detil dalam morfologinya, Entameba tersebut biasanya terdapat di darm lumen sebagai gut-commensals dalam 2 bentuk vegetatif, yaitu : – Minuta-form : Non-invasif dan dapat bergerak (motile) – Magna form, juga disebut tissue form : invasif, dan juga motile. Dalam keadaan tertentu yang tak jelas mekanismenya, Amuba di darm lumen melapisi dirinya (encystement), dan terbentuklah kiste yang selanjutnya akan terbuang melalui faeses, karena kista tersebut tidak dapat bergerak (nonpmotile), tetapi kista tersebut sangat infektif. Biasanya manusia menelan makanan yang mengandung kista tersebut dari makanan dan minuman, yang terkontaminasi, (faecal-oral route). Lewat saluran makanan dan lambung, sampailah kista tersebut di usus halus, dan di darm lumen terjadilah exyystation dan muncul pula trofozoittrofozoit yang sebagian jenisnya adalah invasif. Trofozoittrofozoit tumbuh di sini dan memperbanyak dirinya secara divisi yang simple. 'Hanya daya tahan tubuh yang kuat serta kehadiran darm bakteri-bakteri tertentu yang mampu mencegah atau menghaambat penjalaran ini. Darmflora and resis-tive host defence). Pada keadaan atau kondisi badan yang lemah, trofozoit tersebut menerobos dinding mukosa secara histiolisis dan fagositosis, terutama di daerah dengan faecal-statis, yaitu : sekum, apendiks, sigmoid, rektum dan kolon asendens. Pada umumnya trofozoit tidak menjangkau lapisan dinding muskularis yang merupakan semacam barrier. Hanya kalau ada perforasi akan terjadi penerobosan mukosa tersebut. Di dinding mukosa terbentuk ulserasi yang dilingkari oleh jaringan mukosa yang sehat. Melewati sistem pembuluh darah vena portae, sampailah amuba tersebut.ke dalam hati. Di dalam hati akan terjadi infeksi .amubik hepatitis yang sering pula disertai de-

42 Cermin Dunia Kedokteran No. 51, 1988

ngan terbentuknya abses dengan lokasi tunggal atau multiple. Ada kalanya terjadi ruptur dari abses tersebut dan akan terjadi penyebaranpenyebaran amuba ke organ-organ lainnya. GAMBARAN KLINIK DAN DIAGNOSIS Sesuai dengan modus transmisinya, pada Amebiasis umumnya akan didapatkan gejala-gejala klinik sebagai berikut : A. Infeksi dengan non-invasif Entamuba tidak menunjukkan gejala klinik (clinically silent carrier). B. Sebaliknya infeksi dengan invasif Entamuba menunjukkan serangkaian gambaran klinik yang beraneka ragam, tergantung pada lokasi manifestasinya : 1.Amebiasis usus Disentri Kolitis non disentri Ameboma Apendisitis amebik 2.Amebiasis di luar usus Hepatik : — non supuratif akut — abses hati Kulit Organ-organ lain : — melalui penyebaran hematogen setelah terjadi ruptur dari abses hati. Seperti telah kami katakan, kami akan membahas lebih dalam manifestasi Amebiasis di hati khususnya. Secara patologik, perbedaan antara hepatitis amebik (non-supuratif) dengan abses hati hanya terdiri dan derajat keterlibatan jaringan hati saja (degree of liver involvement), ini menunjukkan betapa sulitnya menegakkan diagnosis yang tepat, seperti yang pernah diungkapkan oleh Dr. Wright, seorang ahli penyakit tropis : 'Amoebic liver abscess continues to provide the greatest pittall in clinical tropical medicine". Setelah terjadi infeksi dengan Entameba histolitica, pada umumnya di kolon, maka sering akan dilewatkan waktu tenang (latent period) yang akan lama, kadang-kadang sampai beberapa tahun lamanya sebelum timbul manifestasi di hati sendiri. Gejala klinik muncul perlahan lahan, tapi kadang-kadang juga secara mendadak, dengan keluhan menggigil dan keringat. Temperatur biasanya hanya intermittent, remittent atau juga bisa absent sama sekali, tetapi kadang-kadang temperatur bisa juga mencuat tinggi yang menandakan kemungkinan terjadinya infeksi sekunder pada abses hati, tapi temperatur tak pernah melebihi 40° celsius. Jarang sekali terdapat ikterus yang menyolok. Biasanya pasien nampak pucat disertai dengan rasa lesu dan capai. Sesuai dengan lokasi dan derajat keterlibatannya, pasien merasakan "mengkal" di sebelah hipokondrium kanan, yang kadang-kadang juga bisa menusuk tajam. Rasa nyeri tersebut bisa juga dirasakan di punggung kanan kalau abses tersebut terletak dekat diafragma sebagai referred pain yang lebih menonjol pada saat bernafas atau batuk. Perubahan posisi tubuh juga bisa mempengaruhi rasa nyeri tersebut, sehingga pasien lebih suka tidur dengan merebahkan badannya di sebelah kiri. Ini sekedar agar ruang interkista kanan membuka lebar hingga mengurangi tensi/rasa tegang pada kapsul hati. Abses hati yang membesar menyebabkan massa hati ikut membesar dan mendorongnya ke arah horizontal, ke atas dan ke bawah. ''Benjolan" tersebut biasanya dengan mudah dapat

dilihat dan diraba di daerah epigastrium dan ruang interkosta yang bersangkutan. Selain itu, cara lain untuk mendeteksinya ialah dengan palpasi dan perkusi, biasanya di sebelah hipokondrium kanan & di sekitar dada kanan. Pemeriksaan kimia darah Tidak selalu menunjukkan perubahan yang mendukung diagnosis. Kadang-kadang fosfatase alkohol agak meninggi. — leukokitosis ringan, — IED ringan. Pemeriksaan Feses Harus dilaksanakan dengan feces yang segar untuk mendeteksi kista dan entameba dalam bentuk vegetatif. Hasil yang memuaskan hanya tercapai pada stadium awal saja. Sigmoidoscopy Untuk mendeteksi ulserasi dan biopsi. X-Ray dan Fluoroscopy Merupakan salah satu cara yang, dapat dengan mudah mendeteksi kelainan antara lain : hati yang membesar dengan diafragma kanan yang terdorong ke atas dan tak bergerak pada pernapasan, sesuai dengan lokasi abses di bagian superior dan anterior yang menyebabkan "benjolan" di bagian anteromedial dari diafragma kanan. Ruang interkosta kanan kadang-kadang' juga bisa melebar pada abses yang terletak di sebelah kanan lateral. Kadangkadang terdapat pula efusi di sebelah kanan dengan pneumonia reaktif di sebelah kanan basal. Aspirasi Dapat disertai pula dengan needle-biopsyliver. Sering dijumpai saus berwarna kecoklatan (anchovy) dan tanpa bau. Scintiscanning Termasuk salah satu cara yang modern untuk mendeteksi abses hati. Masih agak terbatas penggunaannya di kawasan kita mengingat terbatasnya sarana-sarana di rumah-sakit. Ultrasonografi Mulai popular dan salah satu cara non-invasif dan intelligent yang tidak mahal biayanya untuk mendeteksi abses hati. Serologi Sedikit pengalaman kami berhubung kurangnya sarana di laboratorium. Menurut literatur, terdapat beberapa tes sebagai berikut 1. Complement fixation test. 2. Latex agglutination test. 3. Counterimmunoelectrophoresis. 4. ELISA :Enzyme-linked immuno-sorbent assay. KOMPLIKASI Tergantung dari lokasi dan bentuk abses hati (tak jarang dijumpai pula multi-located di samping single abscess), maka dapat terjadi ruptur abses ke berbagai tempat di dalam tubuh, antara lain : 1. Ruptur ke arah paru & pleura dan menyebabkan empiema & hepatobronkial fistula, atau abses paru. Pasien akan mengeluh sesak napas dan batuk-batuk serta kadangkadang mengeluarkan cairan pus. 2. Ruptur ke arah perikardium bila abses terletak di lobus kiri. 3. Ruptur ke arah intra-peritoneum : dapat menyebabkan peritonitis, salah satu komplikasi yang membahayakan.

Cermin Dunia Kedokteran No. 51, 1988 43

4. Ruptur ke arah Vena portae, traktus gastrointestinal dan kandung empedu. PENGOBATAN Di samping pemberian makanan yang bergizi tinggi,dianjurkan pula : — Metronidazol: 3 x 750 mg untuk 10 hari. Metronidazol merupakan obat yang aman dan poten. Perlu pula diingat effek sampingannya yang menimbulkan rasa metallic di mulut, diare, rash, pusing kepala dan kadangkadang juga rasa mual. − Pada kasus-kasus yang resisten terhadap obat tersebut dan juga tergantung pada lokasi abses, dianjurkan tindakan pasca bedah dengan open-drainage. — Dalam literatur disebut pula pemberian obat-obat : —Kloroquin —Dehidroemetin. PENCEGAHAN Perlu ditingkatkan kondisi sanitasi dan higiene perorangan dan perbaikan/pelestarian lingkungan hidup. Mengingat survival-

time dari kista yang bisa mencapai beberapa hari di dalam air dan faeces, maka untuk mengurangi bahaya kontaminasi bahan-bahan makanan perlu ditingkatkan kesadaran masyarakat untuk selalu mencuci bersih tangan, barang-barang makanan, terutama buah-buahan yang .tumbuh dengan subur di kawasan kita.
KEPUSTAKAAN 1. Ahmed Essop Simjee. Amoebiasis. Medicine International No. 2, June 1984, haL 137 - 140. 2. Manson's Tsopical Diseases, 17th edition, haL 155 - 190. 3. Ree GH. Amoebiasis, Postgraduate Doctor Asia, No. 176 haL 176179. 4. Sheila Sherlock. Diseases of the liver and Binary system, haL 431 436. 5. Ernst Wiesmann. Medizinische Mikrobiologie, haL 209 - 212. 6. Hegglin/Siegenthaler. Differentialdiagnose Innerer Krankhelten, 14th edition, haL 23 - 30. 7. Harrison's Principles of Internal Medicine, 10th edition, haL 868 869 & hal. 1182 -1187.

44 Cermin Dunia Kedokteran No. 51, 1988

Successful Aging: The Product of Biological Factors, Environmental Quality, and Behavioral Competence
Margret M. Baltes Free University Berlin

INTRODUCTION Aging is a universal process not only amongst humans but all living animals and things. The fact of universality of aging does not imply, however, that all humans and all living things age alike. Empirical research in human and animal aging has proven over and over again that aging is a highly individualized process, a process that is characterized by vast inter— and intraindividual variabilities. This great heterogeneity in aging between different people and within one person with regard to different aspects or functions looked at, is the product of three sources: a) differences in genetic, biological, environmental and ex-' perientiil factors, b) differences in the way each person is designing, even perhaps unconsciously, his/her life course and c) differences in pathologies with aging which can distort normal aging patterns. These three factors act in a cumulative fashion in that their effects are augmented over the life span and lead to highly individualized forms of aging. There is at the same •time, however, one common theme which is an increasing biological vulnerability with age. (Baltes & Kliegl, 1986; Coper, Janicke, & Schulze, 1986; Shock, 1977). Increased vulnerability signifies that events that, on the average, can easily be coped with by younger organisms, may stress and overtax old organisms. How or what does it mean then to age successfully in light of increasing vulnerability? In this paper I argue two points. First, I define optimal aging as a quantitative and qualitative
− Ports of this paper have been published in German under the title: "Erfolgreiches Altem als Ausdruck von Verhaltenskompetenz and Umweltqualitat„" In C. Nemitz (Ed.), Erbe and Umwelt (pp. 353-376). Frankfurt: Suhrkamp, 1987. − Parts of this paper have been presented at the seminar on aging"Psychological Aging: State of the art" in Jakarta, April 1988

phenomenon. Optimal aging requires a long life and a good life. Second, I argue for successful aging being an interaction effect of. biological, behavioral, and environmental factors. I propose the strategy of selective optimization with compensation as a means to achieve successful aging despite or because of biological vulnerability. This strategy requires, however, age-friendly, that is stimulating and prosthetic, environments. Greater biological vulnerability, in turn, makes the organism more susceptible and dependent on environmental or contextual conditions. Due to the increasing vulnerability of the older organism, the environment can exert greater influence. Increased vulnerability signifies that events that, on the average, can easily be coped with by younger organisms, may stress and overtax old organisms. At the same token, positive events can have optimizing consequences in old age. MAXIMUM AND REALIZED LIFE SPAN General considerations Most gerontologists agree that the maximal biological life span is genetically determined. The biological maximum is assumed to be somewhere between 100 and 115 years of age (Fries & Crapo, 1981). Within this biologically preprogrammed maximum life span the individual realizes an actual life span. This realization of the actual life span depends on existing or newly created physical, sociocultural, biological, and behavioral conditions. It has been emphasized repeatedly that the age structure of highly developed countries has changed in the last decades in the direction of more and older people. With the concurrent existence of a low birth rate such an increase in more older people produces the greying of modern societies. In Western countries an increase of twenty to twenty-five years in average life-expectancy has been noted since the turn of the century. The average life expectancy at birth has changed from 47 years in 1900 to 73 years in 1980.

Cermin Dunia Kedokteran No. 51, 1988 45

Such a dramatic increase in the average life expectancy at birth does not entail the same increase at all age groups. To the contrary, the increase is drastically reduced the older the age at which life expectancy is estimated. Accordingly, the average life expectancy at the age of 40 has improved by 8 years, at age 60 by 5, and at age 80 by 2 years during the same period from 1900 till 1980. Data show that at the age of 100 increase in average life expectancy amounts to about seven months at best (Faber, 1982).

Furthermore, average life expectancy has not. increased similarly for men and women. Women, on the average, enjoy a longer life than men. In most Western countries this dif- ference amounts to 7 years at this point in time. What are possible reasons for this large difference in life expectancy? Since the gender difference in life expectancy is a common one in all sexually differentiated species, biological or evolutionary processes seem very likely at its basis. In this sense, a special role as regards the chances of survival of the young is attributed to the female race. Other genetic factors mentioned relate to the fact of women having two x-chromosomes, the latter carrying genes essential in the production of antibodies, and subsequently a greater level of immunity. The low mortality rate of female foeti and infants, the low death incidences due to pneumonia in old women are enlisted as evidence. In addition, hormonal factors have been considered as an explanation for the greater longevity of women. the production of estrogen, supposedly preventing the development of arteriosclerosis, serves as a case in point. The influence of environmental and behavioral factors, however, in explaining the differential longevity of men and women cannot and should not be underestimated. In this sense, primary risk factors for cardiovascular diseases are smoking, obesity, alcoholism, and stress often related to the work place. These habits or conditions are less frequently observed in women than in men and when present have often a different quality. Empirical research scrutinizing the influence of the changed life conditions of women and their greater participation in the work force have failed to arrive at unequivocal results. If one is to consider a long life as part of successful aging , we can deduct from the above two conclusions regarding the interplay of biological, behavioral, and environmental factors in aging. First, despite the increase in average life expectancy the maximum biological life span or limit remained more or

less unchanged. Whereas changes in environmental conditions have exerted great influence on the average life expectancy, they have had no control over modifying the maximum biological life span. There are still very few people that reach the age of 100 or more. Reports about higher ages are not well documented and thus lack credibility. Empirical data on the level of cell physiology underline the considerations about a fixed maximum life span (Christofalo, 1985). Since the research carried out by Hayflick and associates in the late 50's and early 60's, the biological maxi-mum of healthy cells has been repeatedly noted. Hayflick has been able to demonstrate an upper limit in the frequency of cell division or in the reproductive capacity of cell cultures and has demonstrated the fixed maximum life span of cells. Obviously, the question of the comparability between Hayflick's data concerning the aging of a cell culture and the aging of an individuum is a complex one. This is not the place to elaborate on the numerous empirical studies attempting to analyze the mechanisms of aging of healthy cells. Suffice it to state that knowledge about the aging of cells will contribute to a better understanding of the biological mechanisms that regulate or might be able to regulate the aging process. Thus, the first conclusion from the above discussion points to a fixed maximum biological life span. It goes with-out saying that the acceptance of biological maximum of the human life span looses its legitimacy in the moment where the biological aging mechanisms itself can be manipulated, for instance, via modern gene technology. The second conclusion that can be drawn on the basis of the historical changes of the mortality curves relates to the role of environmental conditions. Favorable environmental conditions assist in the approximation of the average life expectancy to the maximum biological life span. Among the environmental conditions cited for the changes in the mortality statistics are: the advancements in medicine in the fight against acute illnesses and in the extermination of infectious diseases through immunization: improvements in hygiene, the rise in the general standard of living as well.as personal factors related to life style. The latter becomes particularly influential with regard to diseases leading to death. Today the cardiovascular diseases are the prime cause of death in all European countries. These diseases, however, are much affected by environmental and life-style conditions. Both the individual person as well as society can, therefore, exercise control over the timing of death. Within the framework of societal possibilities the individual person is in a position to co-determine the length of his life utilizing medical prevention and therapy, by availing him/herself of educational programs and opportunities, or by subscribing to a healthy life-style. The life span realized by an individual is therefore not only the product of biological or genetic factors, but is also dependent upon psychological and social conditions. The development and creation of favorable environmental conditions has produced a realized average life span that is very close to the biological maximum. Thus, how old we get and how many people reach an old age is a direct reflection of social and individual competencies. The quest for successful aging does, however, not only refer to the question: How long do people live and/or how many people live close to the maximum life span?, but also to the question: How do people live to an old age? The answer to both questions provide a

46 Cermin Dunia Kedokteran No. 51, 1988

more complete measure of our societal and individual efforts in designing age-friendly environments and the base for successful aging. SINGULAR BIOLOGICAL FUNCTIONS Since life expectancy is a rather global and quantitative phenomenon, specific causes or causal processes in the interaction between biological and environmental aspects in aging have not been paid attention to. A considerktion of more specific aging processes, however, permits to make statements about more specific conditions determining the quantity and also the quality of life. With regard to singular biological aging processes, changes in color and volume of the hair, changes of the skin, in muscle tone, in body fat, in the range of movement and the flexibility of the joints, in cardiovascular and lung capacity, are perhaps the most glaring examples. Because these declining changes are the usual and dominant patterns with age in our culture, the most ready explanation had been one of age-determination (Rowe & Kahn, 1987). The effect of environmental conditions on these biological aging processes has been studied mostly in experimental research. The major influential factor looked at, is the person's own behavior. In general, the findings can be summarized to say that many of the aging changes in singular biological processes can be delayed or even reversed temporarily through continuous and regular physical exercise (for review see Krauss— Withbourne, 1985, Rowe & Kahn, 1987). Thus, even though aging is a trajectory moving towards death it does not necessarily imply a linear and steady decline from year to year. There is apparently a great reserve in biological functions that remain usually normally untapped. These reserves can be activated and employed toward optimizing life quality (Stones, & Kozma, 1986). Studies by Pollock and coworkers demonstrated that old people, who exercise regularly via bicycling or jogging have less body fat and better cardiovascular functions than untrained old people (Pollock, et al., 1971; Pollock, 1974). In addition they showed that chronologically old master athletes show much "younger" physiological functions (Pollock, 1974). Similarly, Holmann and Liesen (1972) were able to increase the heart beat volume through exercise even in 70 year olds. Another example taken from the work by Shepard (1978), seems to- indicate that old people having been active all their lives, be it because of their jobs or hobbies, show smaller losses in muscle mass and muscle power than sedentary old people. A number of studies demonstrate muscle atrophy as a consequence of lack of physical activity both in young and old people (Bortz, 1982). How large are the effects observed in old people as a consequence of exercise programs? There is not final answer at this point in time, merely a trend. Aerobic functioning was increased in old people by an amount that compensates for the normal loss experienced over a 10 to 20 year time span. Short-term, two to three months long exercise programs can reduce the loss in maximum oxygen use by half (deVries, 1970). The loss in maximum oxygen use usually begins at the age of 25 and is estimated at 40% at the age of 65. An interesting question refers to the effect of physical changes, gained through such exercise programs, on psycho-logical variables such as i.e. well-being, self-esteem, and other cognitive factors (i.e. Krauss—Whitbourne, 1985). In the

gerontological literature at large, a positive relationship has been documented between activity and well-being or life satisfaction. Such a relationship has intuitively great plausibility. For example, the maintenance of the range of movement and flexibility of the joints has immediate positive consequences for everyday life ranging from selfmaintenance tasks to social and leisure activities. Coping with a loss for or reduced functioning in this area seems to have only aversive consequences. One way to cope is to avoid certain activities or situations altogether. Aside from the fact that it is not always possible (i.e. if survival is at stake), ensuing consequences very often are dependency, isolation, and/or withdrawal. The other avenue is to tolerate the physical dysfunction and the pain that frequently will accompany the execution of the necessary tasks when disabled. Thus, it seems plausible to assume in any case a negative effect to physical dysfunction or impairment on psychological well-being. In a study con-ducted with community dwelling elderly (M. Baltes, Wahl, & Schmid, in preparation) a relationship between activity level and well-being is demonstrated only when physical functioning starts to drop below a certain level. In summary, the data seem to suggest that the individual can influence via his own behaviors, i.e. exercise, his biological and perhaps psychological aging process. In principle, the rule applies: use it or loose it. However, present research consists of rather modest and short-term intervention studies. Longitudinal studies with repeated measurements are missing. Research with master athletes shows that positive effects of exercise are only maintained over the years if training is steady, even if somewhat reduced (Kanstrup, & Ekblom, 1978). Enduring effects thus can only be achieved through steady, regular, and continuous exercise. Furthermore, old master athletes achieve lower performance than younger master athletes. Thus, a certain decline in performance, particularly in maximum performance, seems unavoidable. Stone and Kozma (1985) argue that compensation is possible in the normal or average physical performance range but not any longer on the level of maximum performance (a similar argument is made by. P. Baltes for cognitive performance). In addition, findings reported above refer to the group of old people usually labeled as young-old, that is, people between the age of 60 to 75. Longitudinal studies about the biological and psychological functioning level of old people seem to indicate, however, that particularly after the age of 80 a dramatic change on decline can be noticed. It could very well be that the reserve capacity, the plasticity, and modifiability of aging processes through personal and societal efforts may be significantly reduced in the over 80 year olds (for reviews see Schaie, 1983; Stones & Kozma, 1985). Such a finding of a significantly reduced reserve in the very old would coincide with the considerations offered earlier on the biologically fixed maximum life span. The closer the rapprochement between realized and maximum life span the greater the reduction in reserve capacity (Fries & Crapo, 1981). This issue regarding limits of plasticity in aging is momentarily of focal interest to gerontologists studying plasticity or modifiability of aging processes (see also below). ADAPTIVITY OF REGULATORY SYSTEMS Adaptive functions of important regulatory mechanisms indicate that our body is coping with a number of biological

Cermin Dunia Kedokteran No. 51, 1988 47

changes that need regulation and balancing. Adaptation succeeds via the process of compensation and thus assist the organism in survival. The most frequently studied regulatory system that seems to destabilize with age is body temperature. Fox and his coworkers (1973) found that about 10% of the over 65year-olds who lived in their own homes, do experience at least once within 24 hours a basal temperature of only 35.5 Celcius.Elderly people, however, who are affected do not. complain about any symptoms or about being cold. Coper and his collaborators (1986) focused on the reactions of old organisms following low body temperatures. Old and young rats were taught to control the room temperature by an operant behavior, namely lever pressing. When kept in a cold room, rats, indeed, opted for a warmer temperature by pressing the lever to get warm air into the room. Old rats learned and executed this behavior as well as younger rats. Older rats even worked for a warmer environment than young rats did. This means that the sensation cold as well as the behavior apt to correct the sensation of being cold are both maintained in old age and that, in principle, the regulatory system functions adequately (Coper, Janicke, & Schulze, 1986). How is it to be explained then that older people often show body temperatures that are abnormally low without seeming to notice it? Coper and his colleagues argue that hypothermia as well as other failures in biological regulatory systems are due to a slowing of reactive capacity of the organism. If this is true then failures in these systems should become more pronounced the more complex the adaptive response required; that is, the adaptivity of the system is taxed to its limits if and when maximum performance is required. Coper (et al., 1986) used the motor system to demonstrate the feasibility of this argument. The motor system represents a regulatory system necessary for the functioning of such vital activities as finding food, eating, attack or flight. Old as well as young rats do not differ in their performance level as far as spontaneous activities and swimming are concerned. With increasing complexity of the motor activity there is, however, a clear differentiation in base performance level both with regard to the quantitative and qualitative level of motor performances. Given practice, old rats learn and increase their performance level (plasticity), but old rats reach their limits of improvement faster than young rats. Thus, old rats experience more quickly than young rats a situation of overdemand (stress). Summarizing the topic of single biological functions and regulatory systems, two points can be made. First, environmental and behavioral factors can be used to change and/or slow down typical dominant biological aging processes. Second, when considering the adaptivity of regulatory systems not only plasticity in old age but also its limits can be noted. Again there is evidence for the moderating influence of environmental factors on the average course of biological processes as well as for the limits of such modifiability. The same issues will be faced when looking at psychological aging processes. Two examples are discussed in the last part of this paper, dependence.and cognition in old age. DEPENDENCE IN OLD AGE The increasing dependence in everyday life associated

with old age is, on the one hand, doubtlessly influenced by biological decline processes and diseases. These are often the first step towards dependency. An elderly person experiencing a stroke is at first dependent and helpless. Given certain rehabilitation measures, the provision of prosthetical conditions, .and reinforcement of independent behaviors, however, the elderly will take steps toward restoring his/her independence. The same is true for old as well as young people suffering from a cardiovascular disease, a hip fracture, or similar problems. Thus, in the case of dependence in old age, too, both biological and environmental conditions seem to interact in etiology and maintenance of dependence. The impact of environmental conditons in fostering dependence has been demonstrated by a research program conducted by Baltes and her collaborators (M. Baltes, 1988; M. Baltes & Reisenzein, 1988; M. Baltes & Wahl, 1987). This research program was aimed at three main issues: 1. changeability or reversibility of dependence in old age; 2: identifications of environmental conditions fostering dependence in the everyday life of elderly. The focus here was iz1 social conditions, that is on the reaction of social partners upon dependent and independent behaviors of the elderly. Finally and 3. the issue of changeability of these natural reinforcers, that is, the behavioral reactions of social partners, was addressed. With regard to the first issue speaking to the reversibility of dependence there is ample evidence to date that even chronic dependent behaviors of the elderly can be changed using simple manipulations of environmental conditions. Dependent behaviors are thus in many cases not the product of true incompetence due to for example organic impairments in the elderly. Dependent behavior seem to be more often the product of unfavorable physical and/or social environmental conditions. The type of eating utensil, for instance, can be decisive in allowing the elderly to eat independently. The presence or absence of stimuli, such as music, a clock, a calendar, questions asked, touching, etc. can facilitate or hinder behaviors to occur and can in the end make a difference whether the elderly person is interacting actively with his environment or whether s/he is passively "sitting out" his life. Furthermore, giving the elderly time to behave, to execute a behavioral act, might be an essential factor in remaining independent (Baltes, & Barton, 1979; Hussain, 1984; Wisocki, 1984). The second issue with regard to the identification of everyday social environmental conditions fostering dependence in the elderly was approached via direct observations of the day-to-day behavioral flow interactions between institutionalized elderly and their social partners (mostly staff members) going about their daily chores. Such sequential observational data allow to, identify typical interaction patterns characterizing the ecology of the institutionalized elderly as one which is fostering dependence and ignoring independence. This is a finding which has been discussed in the gerontological literature for quite some time (Goffman, 1986) but it is the first time that the behavioral system responsible for its existence has been empirically demonstrated. An example of the typical interaction patterns is shown in Figure 2. The columns indicate that independent behaviors of the elderly resident do not experience much social reaction.

48 Cermin Dunia Kedokteran No. 51, 1988

It is as if independent behaviors occur within a vacuum even though social partners, i.e. staff members, are present. In contrast, dependent behaviors are most likely to be followed immediately by complementary behaviors of staff, that is by dependencesupportive reactions. In fact, considering the behavioral repertoire of the elderly it is dependent behaviors that are productive of most of the social interactions between the elderly and their social partners. Within a world in which social contact is rate, such a contingency must have strong implications.

Antecedent Events (Resident Behaviors)

Using comparative studies, we have been able to demonstrate that age is a dominant factor in this dynamic interplay between elderly and their social partners. First, observing community dwelling elderly and their social partners in self-care contexts the patterns observed in institutions , were corroborated. When observing institutionalized children (M. Baltes, Reisenzein, & Kindermann, 1985), in contrast, the use of dependent behavior as an instrumental act to gain social contact is replaced by constructively engaged behaviors. Third, observation of interactions between toddlers and their mothers in their private homes (Kindermann, Dissertation Thesis, 1986) clarify that social partners (mothers as well as staff at the. children's homes) seem to tailor their responses according to the competence level of the child. The greater bidirectionality or reciprocity in the interaction patterns between children and their social partners are further supported by the data on the dyadic form in which bahaviors are expressed. There is no doubt that there are elderly residents who due to their biological and psychological status are not able anylonger to deal with their everyday life and needs in an independent fashion. In such cases the social support of ,dependence is not only understandable but ethically necessary. The above noted interaction patterns between residents and staff -- reinforcement of dependent behavior, ignoring independent bahavior -- are observed, however, on the average, in all elderly regardless of their functional status. For the elderly, support of dependent bahaviors means contact, physical touch, and/or verbal communication. In other words, the elderly can most easily and foremost secure social contact by emitting dependent behaviors. Dependent

behaviors provide the elderly with a tool or mechanism of personal control over his/her environment. Thus, a vicious cycle is created. Dependent behavior sets the occasion for social contact to occur, a rare but desirable event in institutions. Dependent behavior beckon, however, non-use or non-practice of still existing functions and skills. If non-use leads, as indicated earlier, to loss and decline of functions and skills, then support of dependence by staff will facilitate decline (M. Baltes, et al., 1987). It should be emphasized again that dependence can have different developmental histories. The above research has pointed to one, namely the role of environmental social conditions in fostering dependent behaviors and thereby perhaps involuntarily facilitating aging decline. The learned helplessness mode by Seligman is 'another model describing and explaining the development and existence of dependence. Both these models are based on the notion of objective contingencies, albeit with a significant difference. The data summarized above describe and explain dependence as the result of the existence of contingencies, whereas dependence in the learned helplessness model is the result of non-contingencies. INTELLECTUAL DEVELOPMENT IN AGING With regard to intellectual, development in old age, the general assumption is one of linear decline. Psychological research in this area has evinced the questionableness of such a general statement. Intellectual development in old age needs to be portrayed by a more differentiated picture.' Researchers who are particularly known for their work in this area are K.W. Schaie (Pennsylvania State University) and P.B. Baltes (MaxPlanck Institute). It has repeatedly been shown that in the area of intelligence, too, it is the behavioral and environmental conditions that greatly influence the intellectual development. Environmental conditions are responsible for how active one 'is and what stimulation one gets. Empirical data (Schaie, 1983; Baltes, 1987; Baltes, et al., 1986) today emphasize the following: First, there is both decline and increment or at least stability in cognitive performance in aging deepening upon the type of intellectual. capacity looked at. Intelligence is not a uniform system, but represents different capacity clusters. In one model, for instance, a first cluster according to Cattel and Horn (1971) represents the elementary functions of information processing of basic mechanisms of thinking. This cluster is labeled fluid intelligence. Capacities related to the basal mechanism seem, on the average, to decline in old age, evidence of which can be gathered particularly when maximum performance is tested. A second- cluster of capacities are thought to be essentially related to cultural experiences and contents. Such capacities can show a continuous increase or stability over the life span. Thus, not all areas of intelligence can be considered declining with age. Secondly, data in intellectual development in old age show large interindividual differences. Both biological and social conditions play a role in determining such interindividual differences in the intellectual development with age. Shaie's longitudinal data (1983) covering a time span of more than 28 years indicate that people with cardiovascular impairments and arthritis show an earlier decline than people

Cermin Dunia Kedokteran No. 51, 1988 49

who don't. In addition, socio-economic status does not only correlate with intellectual performance at any age group but correlates also with maintenance of intellectual functioning up to an older age. One can assume a richer and more continuous stimulation in the higher socio-economic strata, influencing favorably cognitive functioning. In the same sense, there is some research showing a relationship between intellectual decline and type of job or Occupation during adulthood. Thirdly, there is a body of data attesting to the great intellectual reserve well into old age that is normally not utilized. Intervention research on cognitive functioning by Paul Baltes (Baltes & Willis, 1982) and Sherry Willis (1985) are exemplary in this field. They could show repeatedly that old people significantly improve their performance through practice and even more so through programs (see Figure 3). The performance increase is about the same as the performance decline reported in longitudinal studies for the years between 50 and 70 years. Thus, there is indeed a substantial intellectual reserve in old age that remains often unused.

At the same time, the question related to the limits of such reserves has been the focus of recent research (Kliegl & Baltes, 1986; Kliegl, Smith, & Baltes, 1986). In the area of memory it can be shown that young and old people profit from training and can be taught to produce outstanding, high level performances. If the difficulty level is increased, for instance, by 'testing the limits" using time restriction, age differences in performance levels. are increased such that there is little overlap. This is a finding very similar to the one discussed earlier on motor functioning in rats. The maximum adaptivity of the system "memory' is clearly reduced in old age. THE DYNAMICS BETWEEN GAINS AND LOSS, AUTONOMY AND DEPENDENCY Such findings about great reserve capacities, on the one hand, and the limits of such reserve and adaptivity in old age, on the other hand, fall easily in line with considerations about a biologically preprogrammed maximum life span and an increasing biological vulnerability. Both ideas - activation of reserves via optimization of environmental conditions and

limits of such activation — area used by Fries (1984) in his model called "compression of morbidity". This is a model that relates to the average case in the total population. In his model Fries starts with the consideration of fixed maximum life span. He then draws our attention to the fact that a precocious death through infectious or acute diseases has been eliminated, for all practical purposes. Most of the early deaths in our society are due to accidents, the avoidance of which are often a question of personal control or choice, i.e. riding a motorcycle or not. Impairments that effect that quality of life and one's vitality in the second half of life are according to Fries mostly due to chronic diseases. Chronic diseases, however, are closely associated with life style and life conditions and can, therefore, be influenced by one's own actions or environmental conditions. Chronic diseases can thereby either be avoided altogether or delayed' in time or minimized in its intensity. The basic idea of Fries' model can be summarized as follows: If the ecology and actions of the individuum are optimal, then the possibility of approaching the biological maximum life span is greatly enhanced . At the same time this greater life quantity is filled with greater quality since avoidance of chronic diseases means greater vitality and better health. These optimistic conclusions by Fries (1984) are, considering the discussion in this paper; conditional and need qualification. If will be nearly impossible to create behavioral and environmental conditions that are optimal for all people. Not all people, for instance, will be interested in their younger years to design their lives in line with optimal health in old age or, in short, in line with successful aging. In addition, succesful or positive aging defined as quantity and quality of the biological, psychological, emotional, etc. competencies and reserves will not be planned, evaluated, or experienced in the same way by everyone. How and what each individual selectively optimizes and compensates will depend upon a number of factors as we have outlined above. Fries' model in its idealized form point's, however, to what could basically be possible. Such awareness might push the individual as well as society to new or different ideas on environmental and behavioral design for positive aging. Baltes and Baltes in 1980 started to discuss a strategy that describes in general terms a model of successful aging, again budding upon to idea of gains and losses: "Selective optimization with compensation" (M. Baltes & P. Baltes, 1980) is apt to deal with the apparent paradox of positive or successful aging in the face of a concurrent increase in biological vulnerability and a concomitant decrease in functioning, on the average. The model argues that on the basis of greater biological vulnerability in old age the elderly is faced with a situation in which high level performance in a wide range of activities in no longer possible. It proposes a process by which people in spite of greater biological vulnerability can maintain high levels of functioning by making selections: staying active or even increasing activity only in certain areas and giving up activities in other areas; that is, becoming dependent in other areas of life. Such a process of selection and compensation will take into account the person's resources, both biological and social ones, his motivation, interests, skills, his history, etc. Based on such a

50 Cermin Dunia Kedokteran No. 51, 1988

selection process, whether conscious or unconscious; the elderly will restrict activities, expand activities and compensate for weaknesses where necessary. The end result will be a balance between high activity in some areas and low activity, or none in others. Selective optimization with compensation also demands fo conceive different environments according to different individual biological vulnerabilities, needs, interests, and resources on the elderly in order to be able 'to compensate and optimize selectively. SUMMARY Coping with old age is a personal task. At the same time coping with old age is a particularly good measure of the quality of societal conditons. For many successful of positive aging refers ideally to reaching a high chronological age and at the same time optimizing one's physical, emotional, and cognitive capacities and life qualities. This goal seems to be realized best when individual action and environments are "aging—friendly" and oriented towards the design of resources that allow reserves and adaptivity to be activated in old age. Consequently, environments are, needed that support and demand practice of functional systems even in old age. At the same time, however, environments are needed that are stress-reducing or low-demanding. Thus, a combination of stimulating and prosthetic environments are needed to selective optimization with compensation to take place. Given the arguments made in this paper, the following conclusions can be made. If societal development points in the direction of a longer average life span or life expectancy for the average population there must be tendency toward aging-friendly behavioral and environmental systems. The same argument holds for interindividual differences in life expectancy between cultures or ethnic subgroups within one culture. If these differences in average life expectancy are large, then there must be a deficit or an uneven distribution in the design and utilization of environmental resources. Since old age in particular is sensitive towards environmental conditions, the type and form of aging within a society is a sensitive measure to judge the quality of that society.
REFERENCES 1. Baltes, M.M. Selective optimization with compensation: The dynamic between independence and dependence. Paper presented in the symposium on "Successful aging" at the 39th Annual Meetings of the American Gerontological Society, Chicago. November, 1986. 2. Baltes, M.M. The etiology and maintenance of dependency in the elderly: Three phases of operant research. Behavior Therapy, in press. 1988 . 3. Baltes, M.M, & Barton, EM. Behavoiral analysis of aging: A review of the operant model and research. International Journal of Behavioral Development, 1979. 2, 297-320. 4. Baltes, M.M, Kindermann, Th, & Reisenzein, R. Die Beobachtung von unselbstandigem and selbstandigem Berhalten in einem deutschen Altersheim: Die soziale Umwelt asl EifluBgroBe (Dependence and independence in a German nursing home). Zeitschrift fur Gerontologie, 1986, 19, 14—24. 5. Baltes, M.M., Kindermann, Th., Reisenzein R., & Schmid, U. Further observational data on the behavioral and social world of institutions for the aged. Psychological and Aging, 1987, 2.
6. Baltes, M.M., & Reisenzein, R. The social world in long-term care

institutions: Psychological control toward dependency. In M.M. Baltes & P.B. Baltes (Eds.), The psychology of control and aging 1986 . pp. 315— 343 . Hillsadle,NJ: Erlbaum. 7. Baltes, M.M., Reisenzein, R., & Kindermann, Th. (1985). Dependence in institusionalized children: An age-comparative analysis. Poster presented at the 8th Biennial Meeting of the International Society for the Study of Behavioral Development. Tours, France. 8. Baltes, M.M., & Wahl, H.—W. Dependency in aging. In L. L. Carstensen & B.A. Edelstein (Eds.), Handbook of Clinical Gerontology. 1987'pp. 204—221 New York: Pergamon Press. 9. Baltes, P.B. (1987), Theoretical propositions of life-span develop-mental psychology: On the dynamics between growth and decline. Developmental Psychology, (in press). 10. Baltes, P.B., & Baltes, M.M. Plasticity and variability in psychological aging: Methodological and theoretical issues. In G.E. Gurski (Ed.), Determining the effects of aging on the central nervous system 1980 pp. 41—66 . Berlin: Oraniendruck—Schering. 11. Baltes, P.B., Dittmann—Kohli, F., & Kliegl, R. Reserve capacity of the elderly in aging—sensitive tests of fluid intelligence: Replication and extension. Psychology and Aging, 1986 . 1, 172-177. 12. Baltes, P.B., & Kliegl, R. On the dynamics between growth and decline in the aging of intelligence and memory. In K. Poeck, H.J. Feund & H. Ganshirt (Eds.), Neurology 1986 . pp. 1—33 . Heidelberg: Springer. 13. Baltes, P.B., & Willis, S.L. Plasticity and enchancementofintellectual functioning in old age: Penn State's Adult Development and Enrichment Project (ADEPT). In F. I. M. Craik & S. E. Trehub (Eds.), Aging and cognitive processes 1982 . pp. 353—389 . New York: Plenum Press. 14. Bortz, W.M. Disuse and aging. Journal of the American Medical Association, 1982 .284, 1203—1208. 15. Cattel, R.B. Abilities: Their structure, growth, and action, Boston: Houghton Mifflin, 1971. 16. Coper, H., Janicke, B., & Schulze, G. Biopsychological research on adaptivity across the life-span of animals. In P.B. Baltes, D.L. Featherman & R.M. Lerner (Eds.), life-span development and behavior, Vol. 7 1986 . pp. 207—233 . Hillsdale, NJ: Erlbaum. 17. Christofalo, V.J. The destiny of cells: Mechanisms and implications of senescence. The Gerontologist, 1985 . 25, 577—582. 18. Faber, J.F. Life tables for the United States. 1900—2050. Actuarial Study No. 87, Office of the Actuary, SSA Pub. No. 11-11534. 1982 Washington. 19. Fox, R.H., MacGibbon, R., Davies, L., & Woodward, P.M. Problem of the old and the cold. British Medical Journal, 1973 . 1, 21—24. 20. Fries, J .F. The compression of morbidity. Miscellaneious comments about a theme. the Gerontologist, .1984..24, 354-359. 21. Fries, J.F., & Crapo, L.M. Vitality and aging. San Francisco: Freeman, 1981. 22. Goffman, E. Asylums: Essays on the social situation of mental patients and other inmates. Garden City, NY: Doubleday, 1961. 23. Holmann, W., & Liesen, H. Der TrainingseinfulB auf die Leistungsfahigkeit von Herz, Kreislauf and Stoffwechsel im Alter. Munchener Medizinische Wochenschrift, 1972. 114, 1336. 24. Hussian, R.A. Behavioral geriatrics. In M. Hersen, R.M. Eisler, & P. Miller (Eds.), Progress in behavior modification, Vol. 16, 1984.. ' pp. 159—183 . New York: Academic Press. 25. Kanstrup, T.L., & Ekblom, B. Influence of age and physical activity on central hemodymanics and lung function in active adults. Journal of Applied Physiology, 1978 . 45, 709—717. 26. Kindermann, Th. Environmental conditions in the development of dependent and ifidependent behaviors: An ecological analysis. Unpublished doctoral dissertation. Freie Universitat Berlin, Germany, 1986. 27. Kliegl, R., & Baltes, P.B. Theory-guided analysis of mechanisms of development and aging through testing-the-limits and research on expertise. In C. Schooler & K.W. Schaic (Eds.), Social structure and individual aging processess. Ablex: Norwood, 1987. 28. Kliegl, R., Smith, J., & Baltes, P.B. Testing-the-limits, expertise, and memory in adulthood and old age. In F. Klix & H. Hagcndorf (Eds.), Human memory and cognitive capabilites: Mechanisms and performances 1986 . pp. 305—407 . Amsterdam: North-Holland. 29. Krauss—Withbourne, S. The aging body. New York: Springer, 1985.

Cermin Dunia Kedokteran No. 51, 1988 51

30. Pollack, M.L. Physiological characteristics of older champion athletes. Research Quarterly, 1985.. 45, 363—373. 31. Pollack, M.L., Dawson, G.A., Miller, H.S., Ward, A., Cooper, D., Headly, W., Linnerud, A.C., & Norneir, M.—M. Physiologic response of men 49 to 65 years of age to endurance training. Journal of American Geriatrics Society, 1976 . 24, 97—104. 32. Pollack, M.L., Miller, H.S, Janeway, R., Linnerud, A.C., Robert-son, B., & Valentino, R. Effects of walking on body composition and cardiovascular function of middle aged men. Journal of Applied Physiology, 1971 .30,126—130. 33. Rowe, & Khan, 1987. 34. Schaie, K.W. Longitudinal studies of adult psychological development. New York: The Guilford Press. 1983 .

35. Shepard, R.J. Physical activity and aging. Chicago: Medical Year-book. 1978. 36. Shock, N.W. The physiology of aging. The Scientific American, 1977 . 206,100—110. 37. Stones, M.J., & Kozma, A. Physical performance. In N. Carness (Ed.), Aging and Human Performance. New York: John Wiley & Sons. 1985: pp. 261—291. 38. de Vries, H. Physiological effects of an exercise training regimen upon men aged 52—88. Journal of Gerontology, 1970 . 25, 325 — 336. 39. Willis, S.L. Towards an educational psychology of the adult learner. In J.E. Birren & K.W. Schaie (Eds.), Handbook of the psychology of aging. New York: VanNostrand. 1985 : pp. 818—847, 40. Wisocki, R.M. Eisler, & P. Miller (eds.), Progress in behavior modification, Vol. 16. New York: Academic Press.

52 Cermin Dunia Kedokteran No. 51, 1988

PENGALAMAN PRAKTEK
Kalau ada orang bertanya "Dari mana datangnya cinta?" Jawabnya adalah "Dari mata turun ke hati!" Begitulah kata orang yang suka bersyair dan berpantun. Namun tulisan ini tidak bermaksud mengajak pembaca untuk berbalas pantun seperti acara yang ditayangkan di TVRI bersama pelawak Kimung. Kali ini saya ingin mengutarakan pengalaman ketika menjalani Kepaniteraan Klinik Madya di Bagian Penyakit Kulit-dan Kelamin RSU di kota setempat. Waktu itu saya menangani seorang pasien wanita muda yang menderita dermatitis kronis di kakinya. Anehnya, penderita bersikeras minta diperiksa dalam (periksa dada) dan tekanan darah karena katanya dia juga mengidap penyakit jantung. Padahal tidak ada tanda-tanda pasien tersebut menderita kelainan jantung. Didorong oleh rasa heran, saya bertanya kepada pasien. "Dari mana Anda tahu bahwa Anda benar-benar sakit jantung?" "Dari kaki naik ke jantung!" katanya. Jawabannya cukup menggelikan sekaligus membingungkan ! Awal ceritanya ketika saya akan menempuh ujian akhir di Bagian Penyakit Kulit dan Kelamin di RSU. Ujian biasanya memakai pasien yang baru masuk ke rumah sakit. Sehari sebelum ujian, pagi-pagi sekali saya telah berada di Poliklinik Penyakit Kulit dan Kelamin. Tujuannya ialah supaya dapat mempelajari kasus sebanyak-banyaknya yang kemungkinan nanti dipakai untuk ujian. Begitu saya tiba di poliklinik, saya langsung ke bagian registrasi -- melihat-lihat apakah sudah ada pasien yang masuk. Seorang perawat setengah baya menyapa saya sambil tersenyum ramah. "Selamat pagi, Dok . . . tumben rajin sekali!" "Ya, memang saya ko-asisten yang paling rajin kok!" jawab saya berbasa-basi. "Alaah, paling-paling rajinnya dekat-dekat akan ujian saja. Ini namanya rajin paling-paling!" bantah Pak Perawat yang suka humor itu. " Oh ya, Dokter! Kebetulan sekali, ini ada seorang pasien cewek baru masuk. Dia sekarang ada di kamar periksa sebelah. Ini kartu statusnya, siapa tahu pasien ini nanti dipakai untuk ujian, 'kan bisa gol ....!" katanya seraya mengacungkan jempolnya. Saya memeriksa kartu status pasien tersebut sambil mengucapkan terima kasih. Melihat kartu yang penuh berisi tulisan dan catatan itu, maka dapat dipastikan penderita sudah sering keluar masuk rumah sakit. Apalagi di sana banyak tertera kata "kontrol" yang menandakan bahwa pasien tersebut cukup rajin memeriksakan dirinya alias berobat jalan. Di dalam kartu status itu pun tercantum diagnosisnya, yaitu dermatitis kronis pada kaki beserta terapi dan evaluasinya. Sambil bersiul-siul kecil saya bergegas ke kamar ko-asisten mengambil catatan kuliah dan buku-buku lainnya yang berhubungan dengan kasus tersebut. Agar lebih mantap, saya harus berbuat seperti menghadapi ujian sesungguhnya (istilahnya: latihan ujian). Dalam hal ini, saya mesti membuat sendiri status baru untuk pasien ini (mulai dari anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan lab., sampai diagnosis dan usul terapinya). Sementara itu saya masih berkutet di kamar ko-asisten mempelajari topik dermatitis dan penyakit-penyakit yang mirip ataupun menyerupai dermatitis. Kemudian, setelah merasa yakin dan mampu, maka, dengan langkah pasti saya menuju ke kamar periksa menemui pasien itu sekalian akan memeriksanya. Benarlah apa yang dikatakan Pak Perawat, di ruang periksa memang ada seorang wanita muda. Dia duduk tenang, dandanannya serba mencolok mata kalau tidak mau disebut seronok. Dengan busana yang demikian menantang ditambah kerling matanya yang agak liar memberi kesan penampilan ke arah genit. "Selamat`pagi, Dokter", dia menyapa sambil mengumbar senyumnya. "Selamat pagi, Nona", saya menjawabnya seramah bisa. Apa yang terjadi kemudian? Benar-benar di luar dugaan saya! Tanpa disuruh, penderita melucuti pakaiannya termasuk pakaian dalamnya sehingga dirinya menjadi setengah bugil (sebatas pinggul. ke atas). Menyaksikan atraksi yang mahaberani dan

Dari Kaki Naik ke Jantung

Cermin Dunia Kedokteran No. 51, 1988 53

panorama yang aduhai itu, hampir lupa diri. Syukurlah, saya segera sadar dan dapat menguasai diri sepenuhnya. Namun belum sempat saya mengeluarkan kata-kata, penderita telah mendahuluinya. "Silakan, Dokter! Periksalah jantung dan tekanan darah saya!" katanya sambil berbaring dengan posisi yang amat demonstratif. - Dalam pada itu, saya cuma bisa bengong melongo. Bukan lantasan terpesona, melainkan karena sangat heran. Ada apa gerangan di balik ini? Biasanya pasien-pasien wanita muda+enggan sekali membuka penutup tubuhnya sewaktu pemeriksaan dada (jantung) yang memang perlu dilakukan. Tetapi ini kok lain! Tiada hujan tiada angin malahan penderita berani-beraninya memamerkan "INDOMILK-nya". Sepertinya hal ini tidak wajar. " Kenapa Dokter bengong melulu. Saya sudah siap diperiksa, Dok .... !" dia terus mendesak agar saya segera memeriksa jantung dan tekanan darahnya. " Maaf, Nona... .saya memang petugas yang akan memeriksa serta ingin mengetahui penyakit Anda, tetapi tolong pakaiannya dipakai dulu. Sebelum saya periksa, alangkah baiknya jika Anda mau menceritakan keluhan-keluhan Anda -- atau kalau boleh saya tahu, kepada Anda begitu yakin bahwa Anda sakit jantung?" " Oh, maaf ya, Dok! Itu lho, para dokter muda yang memeriksa saya terdahulu mengatakannya. Komplikasi, .... apa namanya itu. Katanya penyakit jantung itu bisa berasal dari eksim di kaki saya, yaitu komplikasi dan kaki ke jantung atau dari kaki naik ke jantung. Setiap saya kontrol ke sini saya disutuh membuka baju, kemudian dada (jantung). saya diperiksa berlama-lama secara bergantian. Itulah sebabnya, saya langsung membuka pakaian ketika Dokter baru datang tadi!" Di dalam hati saya mengumpat (sialan banget, para teman sejawat telah mencari ke sempatan dalam kesempitan, dasar orang-orang pongah, . . . bergajul .. dan lain sebagainya). Dalam hal ini, jelas bukanlah pasien yang berlaku kurang ajar terhadap diri saya, melainkan para teman sejawat itulah sebenarnya minus ajar. Sampai hati memperlakukan pasiennya yang awam demikian rupa serta mengolok-olok untuk melakukan perbuatan yang tidak pada tempatnya. Selanjutnya, saya melakukan pemeriksaan terhadap pasien tersebut menurut etika dan tata cara yang benar. Penderita sebetulnya sangat kooperatif sehingga melancarkan jalannya pemeriksaan. Belum ada seperempat jam,tugas saya telah selesai. Namun hati saya belum terasa lapang, karena di benak masih terbayang-bayang peristiwa tadi. Justru itu pikiran saya menerawang ke masa silam, teringat kembali pantun para remaja tatkala saya masih duduk di bangku SD. Kala itu, sebitah pantun yang cukup populer berbunyi "Dari mana datangnya cinta?" "Dari mata turun ke hati!" Sekarang pantun itu berubah menjadi "Dari mana datangnya penyakit?" "Dari kaki naik ke jantung!" Akan tetapi, yang menjadi persoalan sekarang bukan pantun tersebut, melainkan etika kedokteran yang kini banyak mendapat sorotan. Ternyata beberapa teman sejawat telah melanggar kode etik kedokteran dalam menunaikan tugasnya. Menurut saya, pelanggaran sekecil apa pun terhadap kode etik kedokteran akan memberi dampak tidak baik bagi profesi kita. Oleh karena itu, dalam menjalankan tugas kedokteran hendaknya selalu berpedoman pada kode etik. Hal ini perlu ditanamkan sedini mungkin, yaitu sejak pertama duduk di bangku kuliah Fakultas Kedokteran. Suara Pak Perawat yang nyaring memanggil-manggil saya dari luar. Tentu saja saya terkejut dibuatnya. Dengan gerak cepat saya membereskan buku-buku dan alatalat periksa beserta kartu status -- mengucapkan terima kasih kepada pasien, kemudian segera ngeloyor ke luar. Di luar tampak pasien lainnya berjubel menanti giliran pemeriksaan ....! Dr. Ketut Ngurah Laboratorium Parasitologi FK Unud Denpasar

Ulekan dan Cabe Rawit
Sebagai. staf medis dari suatu Fitness Centre, saya mempunyai tugas mengikuti perkembangan kesehatan anggota-anggota, baik perkembangan kesehatan fisik maupun psikis. Masalah yang menonjol umumnya adalah berat badan yang berlebihan sehingga

54 Cermin Dunia Kedokteran No. 51, 1988

perlu penanganan perorangan, untuk mengatur dietnya. Umumnya dengan olah raga dan diet, berat badan berhasil diturunkan secara bertahap sampai terlihat serasi atau mendekati berat badan ideal. Keberhasilan ini tergantung dari ketekunan dan disiplin mereka sendiri. Satu kasus yang menarik perhatian saya adalah seorang ibu rumah tangga, umur 40 tahunan, berat badan "aduhai", dengan penampilan nervous. Masalah kesehatan fisiknya yang terutama selain berat badan yang berlebihan, juga tekanan darahnya yang turun naik sesuai dengan penampilannya yang nervous. Untuk memecahkan masalahnya, dicari penyebab-penyebab kegemukan dan nervous tersebut. Ternyata ibu tersebut mempunyai kebiasaan mengulek sambel cabe rawit setiap kali kesal, jengkel atau marah, kemudian memakannya dengan nasi, sehingga segala unek-uneknya sudah tersalur sejak mengulek sampai selesai makan sambel cabe rawit yang begitu pedas. Dengan cara demikian ibu tersebut merasa puas, lega dan tenang kembali. Mungkin kemarahan atau kejengkelannya diproyeksikan pada ulekan, dan omelannya diproyeksikan dengan rasa kepedasan. Dapat dibayangkan hal ini sudah berjalan hampir seusia perkawinannya yaitu 15 tahun, dengan akibat berat badan berlebihan dan penampilan nervous. Setelah melaksanakan program olah raga dan diet yang tekun, disamping juga dengan kegiatan mengaji dalam 5 bulan, berat badannya dapat dikendalikan dan diturunkan, juga kenervousannya sudah berkurang. Dahulu kalau marah dengan ulekan dan cabe rawit, kemudian dengan mencoba diam atau mengomel, dan terakhir sudah dapat dengan tersenyum. Ulekan dan sambel cabe rawit rupanya dapat menjadi suatu alat untuk memproyeksikan kemarahan, asalkan jangan ada ulekan terbang. Dr Emiliana Tjitra Jakarta.

Cermin Dunia Kedokteran No. 51, 1988 55

HUMOR ILMU KEDOKTERAN
DOKTER MASUK ANGIN Suatu ketika pak dokter dipanggil pak kepala desa, untuk mengobati warganya yang kebetulan banyak menderita sakit. Sudah menjadi kebiasaan si sakit pasti meminta keterangan mengenai sakitnya. "Pak dokter, penyakit saya apa?" tanya salah seorang pasien. Didasari pendidikan yang rendah dari si pasien, serta bila diberitahu pun tidak mengerti, sambil mengambil obat berkatalah pak dokter: "Masuk angin!". Demikian juga untuk pasien-pasien berikutnya dijawab sama yaitu 'masuk angin', sehingga oleh masyarakat desa tersebut beliau diberi julukan "dokter masuk angin". Pieter Delanggu IDI Beberapa orang dari dinas Kesehatan dengan didampingi bapak Kepala Desa, mengadakan peninjauan kesehatan di desa kami. Ketika memasuki sebuah kampung terlihat sebuah papan yang bertuliskan antara lain: "Kantor Sekretariat IDI". Dengan rasa ingin tahu , salah seorang dari mereka menanyakan kepada bapak Kepala Desa: "Apa betul disini ada kantor Ikatan Dokter Indonesia?". Dengan tersenyum dan mengucap maaf, bapak Kepala Desa menjelaskan: "Yang dimaksud kantor IDI disini ada-lah kantor Ikatan Dukun Indonesia, bukan 1katan Dokter Indonesia." Orang-orang kesehatan: "Oh ......??!!" Suharsono Pekalongan RUMAH SAKIT JIWA Pada saat berkumpulnya dokter-dokter Puskesmas, Bapak KaKanwil memanfaatkan untuk memberikan pengarahan dan dengar pendapat tentang masalah-masalah mereka. Setelah mendengar keluhan-keluhan dari masalah uang, tenaga, program sampai nasib, Bapak KaKanwil menanyakan,adakah saran-saran selain keluhankeluhan tersebut. Dengan tenang salah seorang teman sejawat yang sejak tadi hanya menjadi pendengar dan memperhatikan teman-temannya berkicau berkata : " Saya usul Pak, sebaiknya dibangun Rumah Sakit Jiwa dekat Airport, sehingga temanteman yang baru datang dan yang akan meninggalkan tugas dapat diperiksa. Saya yakin mereka pasti tak sama sebelum dan sesudah melaksanakan tugas. Disamping itu setiap kali akan berkunjung kemari, bila ditemukan hal-hal yang serius sebaiknya dirawat dahulu." Dengan serempak mereka berseru : "Setuju berat !" Segawat itukah dokter-dokter Puskesmas yang jauh di pedalaman ? Dr Emiliana Tjitra Jakarta TAKUT ? Di Zal Obstetri ada seorang ibu yang mengalami kesulitan melahirkan. Karena di Rumah Sakit Pendidikan, dua orang residen mendiskusikan'nya dekat tempat tidur penderita. " Menurut saya ini perlu diberikan Piton" "Melihat tanda-tandanya ada indikasi untuk Piton" Namun betapa kagetnya mereka ketika pagi harinya penderita itu telah pulang paksa dan pindah rumah sakit lain. Usut punya usut, ternyata penderita itu sangat takut dengan'pembicaraan para dokter mengenai piton yang disangkanya adalah sejenis ular besar, padahal yang dimaksud adalah piton drip untuk induksi persalinan. Nah, sebuah contoh misunderstanding agar membuat kita lebih berhati-hati. Adhi P. Semarang

56 Cermin Dunia Kedokteran No. 51, 1988

PARU-PARU BASAH Guns melengkapi data dan melakukan pemeriksaan secara lege artis maka seorang dokter melakukan anamnesis pada pasiennya. Dokter : "Apa anda dulu pernah sakit paru ?" Pasien : "Memang pernah dokter. Kira-kira lima tahun yang lalu saya pernah dikatakan menderita paru-paru basah". Dokter : "Lalu kemana anda berobat, apa saja obatnya dan berapa lama obat itu dimakan?" Pasien : "Saya hanya berobat 1—2 kali, lalu saya teruskan berobat sendiri di rumah". Dokter : "Bagaimana caranya anda berobat di rumah itu?" Pasien : "Kan saya dikatakan menderita paru-paru basah. Jadi setiap pagi/siang saya buka baju dan berbaring sambil menelentang menghadap matahari. Maksudnya supaya paru-paru saya yang basah itu kena panas matahari dan menjadi ... kering!" Tjandra Y. Aditama Jakarta CINTA DAN BIS.KOTA Diruang praktek Dr Annie yang luas, banyak penderita sedang menunggu giliran. Karena penyakitnya juga, yang umum-umum saja maka mereka masih sempat saling tebakan. " Apa bada Cinta dan Bis kota" tanya pasien A. B : "Cinta bisa kilat tapi bis kota pelanpelan". C : "Cinta boleh mencium sedang bis kota tidak boleh saling mencium". A : "Salah semua ! Yang betul adalah — cinta : jauh dimata dekat di hati, sedang bis kota : jauh dekat sama saja Rp 200,—". BCZ : !?!! Adhi P Semarang

MENYALAHGUNAKAN ISTILAH Penggunaan istilah dalam bidang keilmuan memang lumrah. Istilah yang digunakan biasanya yang sudah baku (untuk ragam bahasa tuns), sedangkan dalam ragam bahasa lisan kadangkala memakai istilah yang belum baku. Misalnya untuk acara perkuliahan, bisa saja menampilkan istilah nonbaku bahkan dapat pula menciptakan istilah baru -- tentu saja dalam batas-batas yang masih dianggap makul (logis). Tujuannya ialah agar topik kuliah dapat lebih dipahami oleh para mahasiswa. Sehubungan dengan hal itu, saya selaku dosen muda ingin juga menerapkan metode pengajaran yang sangkil dan mangkus termasuk ketrampilan dalam membuat serta menyajikan ilustrasi dan peristilahan yang sensasional. Dalam menyampaikan mata kuliah, saya selalu membuat rangkuman (semacam sinopsis). Tentu saja di dalam rangkuman itu terdapat bagian-bagian yang amat penting dari suatu topik bahasan. Komponen-komponen penting tersebut saya istilahkah dengan "Kunci Pokok" disingkat menjadi "Cipok". Kunci pokok itu merupakan butir-butir penting sebagai dasar untuk mendalami ataupun memecahkan permasalahan sehubungan dengan topik bahasan. Oleh sebab itu, Cipok hendaknya selalu dijadikan pegangan dasar yang saya istilahkan dengan "Pegangan Utama" disingkat menjadi "Pagut". Setiap saya memberi kuliah, saya selalu mengumandangkan kedua istilah itu (Cipok dan Pagut). Hasilnya lumayan! Suasana kelas menjadi lebih hidup, setidak-tidaknya prevalensi mahasiswa yang mengantuk menurun secara bermakna. Suatu tempo, dalam acara diskusi tidak'resmi yang diikuti oleh beberapa mahasiswa, saya mencoba menanyakan suatu soal kepada salah seorang dari mereka. Kebetulan yang saya tanyai itu seorang mahasiswi. Temyata dia tidak bisa menjawabnya. Rupanya dia tidak hadir ketika saya menguliahkan materi soal tersebut. Namun ketika ditanyakan, "Kenapa tidak bisa menjawab padahal topik itu sudah dikuliahkan?" Dia menjawab, "Karena saya belum mendapat Cipok dari Dokter!" Jawabannya itu kontan membuat 'gerrrrrrrrr' para mahasiswa lainnya. Semula says terperangah dibuatnya, tetapi akhirnya sāya pun terimbas untuk bergurau, "Baiklah, kalau kamu benar-benar menginginkan Cipok, sekarang juga akan saya berikan sekalian dengan Pagutnya!" kata saya diiringi suara 'gerrrrrrrrrrrrr' yang kian gemuruh. Wah, agak runyam jadinya kalau kita salah menggunakan istilah. Celakanya lagi, karena kemudian muncul selentingan-selentingan dari kalangan mahasiswa yang menganugrahkan gelar baru kepada saya, yaitu "dosen tukang Cipok dan Pagut". Ya, saya pasrah saja karena semua itu hanya intermeso. Dr. Ketut Ngurah Lab. Parasitologi FK Unud, Denpasar BANDIT Seorang dokter Puskesmas menemani supervisi penelitian gizi, dan dalam perjalanan terjadilah dialog sebagai berikut : Dokter Puskesmas : "Ini daerah pertanian Bandu, bantuan Bank Dunia". Pimpinan Proyek : "Sapi yang gemuk itu pasti sapi Banpres, bantuan Presiden '. Setelah berada di desa penelitian, Dokter Puskesmas : "Kalau timbangan dan mesin giling untuk jagung dan kacang hijau adalah Bansu." Pimpinan Proyek : "Ban…… su ???" Dokter Puskesmas : "Bansu adalah bantuan Bapak Sukirno."' (siempunya proyek penelitian ini). Pimpinan Proyek : "Oh (nyengir dan G.R), kamu ? " Dokter Puskesmas : "Saya pas jadi Ban..…. dit saja, bukan bantuan dr. Suditto tetapi memang bakat jadi bandit, maklum belum sampai Pimpro". Dr Emiliana Tjitra Jakarta

Cermin Dunia Kedokteran No. 51, 1988 57

Ruang Penyegar dan Penambah Ilmu Kedokteran
Dapatkah saudara menjawab pertanyaan di bawah ini ?

1. Biji saga pohon dapat dimanfaatkan sebagai sumber protein nabati a) Dapat dibuat tempe dan kecap b) Penyebaran tumbuhan ini sangat luas di Indonesia c) Dapat tumbuh di daerah dengan tanah yang miskin hara dan pada ketinggian 0—1000 meter di atas permukaan laut d) Kandungan dan komposisinya seperti protein, lemak dan karbohidrat relatif tinggi e) Semua benar 2. Yang benar mengenai sakarin a) :Struktur kimianya sama dengan hidrat arang b) Sering digunakan sebagai pemanis non kalorik c) Garam natrium dari sakarin mempunyai rasa manis yang kurang daripada sakarin d) Aman digunakan sebagai konsumsi pada manusia e) Semua benar 3. Pengertian disease dan illness sebenarnya berbeda, walaupun dalam bahasa Indonesia keduanya diterjemahkan penyakit. a) Illness dapat disebabkan oleh disease, tapi tidak selalu illness disertai dengan adanya kelainan organik maupun fungsional dari tubuh b) Dengan disease dimaksudkan gangguan fungsi atau adaptasi dari proses-proses biologik dan psikofisiologik pada seorang individu c) Dengan illness dimaksudkan reaksi personal, interpersonal atau kultural terhadap penyakit atau perasaan kurang nyaman d) Para dokter sering hanya memperhatikan disease saja, tidak illness e) Semua benar 4. Perubahan-perubahan yang terjadi pada darah yang disimpan, kecuali : a) Penurunan pH darah b) Kadar amonium plasma meningkat c) Kadar hemoglobin bebas menurun d) Kadar kalium plasma meningkat e) Erittrosit menjadi rapuh 5. Pilih satu pernyataan yang benar a) Bayi yang baru lahir mempunyai kadar Hb 11 — 12 g%

b) Bayi yang baru lahir mempunyai volume darah per kilogram beratbadannya lebih besar daripada bayi yang lebih tua. c) Volume darah normal pada laki-laki umumnya lebih kecil daripada wanita d) Volume darah normal untuk dewasa muda laki-laki = 10% berat badan 6. Faktor XII dalam sistem koagulasi di dalam plasma, disebut juga a ) Prokonvertin b) Faktor Stuart—Power c) Faktor Christmas d) Faktor Hageman e) Faktor stabilisator fibrin 7. Obat yang poten pada amebiasis adalah a) Penisilin b) Eritromisin c) Metronidazol d) Sulfa e) Bukan salah satu di atas. 8. Gambaran klinik pada amebiasis dapat merupakan gejalagejala a) Disentri b) Apendisitis c) Abses hati d) Tanpa gejala e) Semua benar.

58 Cermin Dunia Kedokteran No. 51, 1988

ABSTRAK - ABSTRAK
BEBERAPA HAL MENGENAI TEKANAN DARAH Baru-baru ini National High Blood Pressure Education Program di Amerika Serikat telah merekomendasikan cara pengukuran tekanan darah secara benar, yaitu dengan teknik sebagai berikut : 1. Penderita duduk dengan lengan atas terbuka, disangga dan terletak setinggi jantung. Penderita tidak merokok dan/atau makan makanan/minuman yang mengandung kafein setidak-tidaknya dalam 30 menit sebelum diukur. 2. Pengukuran dilakukan setelah istirahat selama 5 menit. 3. Manset yang digunakan harus sesuai, setidak-tidaknya menutup 2/3 keliling lengan atas. 4. Pengukuran dilakukan dengan sfigmomanometer air raksa atau manometer aneroid yang baru dikalibrasi, atau alat elektronik yang telah divalidasi. 5. Tekanan sistolik maupun diastolik harus dicatat; tekanan diastolik ditetapkan berdasarkan fase Korotkoff V. 6. Nilai yang ditetapkan merupakan rata-rata dari dua atau lebih pengukuran. Bila antara pengukuran terdapat perbedaan lebih dari 5 mmHg, pengukuran harus diulang. Selain itu badan tersebut juga mengeluarkan pedoman follow-up bagi orang dewasa, yaitu sebagai berikut : Bila tekanan darah diastolik < 85 mmHg — uji ulang dalam 2 tahun. 85— 89 mmHg — uji ulang dalam 1 tahun. 90—104 mmHg — uji ulang dalam 2 bulan. 105—114 mmHg — pemeriksaan / evaluasi lanjutan dalam 2 minggu. ≥115 mmHg — pemeriksaan / evaluasi lanjutan segera. Bila diastolik < 90 mmHg, dan tekanan sistolik : < 140 mmHg — uji ulang dalam 2 tahun. 140—199 mmHg — uji ulang dalam 2 bulan. ≥ 200 mmHg — pemeriksaan / evaluasi lengkap dalam 2 minggu.
Arch Intern Med (May) 1988; 148 : 1023—38 brw

CT SCAN PADA PENDERITA STROKE King's Fund Forum yang terdiri dari 12 ahli kedokteran Inggris telah merekomendasikan CT scan kepala pada penderita stroke yang : — diagnosisnya diragukan — mendapatkan atau akan mernperoleh pengobatan anti koagulan dan/atau antiplatelet. — dengan dugaan perdarahan serebelar. — dengan dugaan perdarahan subaraknoid. — dipikirkan kemungkinan endarterektomi karotis. — penderita usia muda.
BMJ 1988; 297 : 126-8. brw

AIDS Penelitian atas 146 penderita hemofili dan resipien darah di Swedia menunjukkan bahwa kira-kira separuh dari penderita yang test HIV-anti body nya positif akan menunjukkan gejala-gejala AIDS dalam lima sampai enam tahun kemudian.
BMJ 1988; 297: 99-104. brw

Cermin Dunia Kedokteran No. 51, 1988 59

ABSTRAK – ABSTRAK
JARUM SUNTIK DAN SEMPRIT Jarum suntik dan semprit yang tidak steril dapat menularkan penyakit-penyakit infeksi seperti virus hepatitis B dan infeksi-infeksi virus lainnya. Oleh karena itu, program imunisasi yang saat ini sedang gencar dilaksanakan, harus juga membuat kita merasa aman dari penularan penyakit-penyakit infeksi di atas. Untuk itu, jarum suntik dan semprit yang digunakan pada setiap kali menyuntik, harus benar-benar steril. WHO, bekerjasama dengan UNICEF, baru-baru ini mengeluarkan pernyataan sebagai berikut : • Setiap kali menyuntik, harus digunakan satu jarum suntik dan satu semprit steril • Jarum suntik dan semprit yang dapat digunakan berulang-ulang, dianjurkan untuk negara-negara berkembang, asal setiap kali akan digunakan disterilkan lebih dahulu. • Jarum suntik disposable harus dibuang setelah dipakai. • Secara teoretis, penyebaran penyakit melalui jet injectors itu mungkin. Oleh karena itu, penggunaannya harus benar-benar dibatasi pada keadaan .khusus, misalnya pada imunisasi sekaligus banyak orang, di mana penggunaan. jarum suntik biasa tidak mungkin.
Kris

PENGGUNAAN OBAT DI KALANGAN ANAK-ANAK Suatu penelitian penggunaan obat atas 1590 anak-anak di Inggris menyatakan bahwa lebih dari separuhnya (56%) digunakan/dimakan pada hari-hari Sabtu dan Minggu. Hampir separuh obat yang digunakan (45%) merupakan obat-obat bebas. Obat-obat yang paling sering digunakan ialah aspirin, parasetamol, triprolidin-pseudoefedrin (Actifed), ampisilin atau amoksisilin dan salbutamol.
BMJ 1988; 297: 445—7 brw

BAHAYA PROLONGED BREAST—FEEDING Penelitian di Ghana menunjukkan bahwa menyusui terlalu lama (Prolonged breastfeeding) dapat menyebabkan malnutrisi karena justru akan mengurangi jumlah total protein yang diperoleh. Hal ini dapat disebabkan karena selama menyusui,bayi kurang diberi makanan tambahan yang lain.
Lancet 1988; 2 : 416—8 brw

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->