Anda di halaman 1dari 6

MANAJEMEN BENCANA LAHAR BERBASIS KOMUNITAS KASUS KALI GENDOL & KALI OPAK Eko Teguh Paripurno1, Andi

Sungkowo2, Dwi Endah Fitriani3 Extended Abstract Pengantar Merapi tidak pernah ingkar janji. Istilah ini ternyata bukan hanya berlaku pada saat terjadi letusan, tetapi juga beraku saat terjadi pelaharan. Pada saat letusan, Merapi berjanji bahwa erupsi akan mengarah ke selatan dan memiliki jarak luncur yang jauh. Janji terhadap arah erupsi ini dapat kita ketahui karena Merapi sejak tahun 2006 kawah sumbing ke arah selatan. Sedang janji terhadap sebaran yang besar ini kita ketahui bahwa Merapi menyimpan energi yang besar, yang sinyalnya kita tangkap melalui sistem pemantauan yang kita miliki. Lahar Merapi juga demikian. Merapi telah berjanji, tidak sembarangan membawa dan meletakkan endapan lahar yang dibawa. Merapi kita mempunyai tekuk-tekuk lereng yang membatasi zona-zona kerucut puncak, lereng puncak, lereng kaki dan dataran kaki. Kerucut puncak dan lereng puncak adalah tempat lahar diproduksi dan ditransportasikan. Jumlah lahar yang diproduksi dan ditransportasikan tergantung pada luas daerah aliran sungai (DAS), jumlah endapkan piroklastika yang diendapkan pada DAS tersebut, serta jumlah curah hujan yang ada di dalam DAS tersebut. Karakter Ancaman Kita ketahui bersama bahwa sekitar 140 juta m 3 endapan piroklastik erupsi gunungapi Merapi 2011 menyebar ke segala arah, mengisi hulu setiap alur sungai yang bermuara di G. Merapi. Endapan piroklastik yang diendapkan di kali Gendol sebesar 13,3 juta m3 dengan jarak luncur 14 km dari pusat erupsi, sedang di kali Opak sebesar 400.000 m3 pada jarak luncur 7 km dari pusat erupsi.
1 2

Pengajar Program Studi Teknik Geologi dan Magister Teknik Geologi Fakultas Teknologi Mineral Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta. +6281339228339 / paripurno@upnyk.ac.id. / www.geohazard.blog.com. Pengajar Program Teknik Lingkungan Fakultas Teknologi Mineral Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta. 3 Alumni Teknik Lingkungan Fakultas Teknologi Mineral Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta.

1/6

Hujan wilayah tertinggi harian pada DAS Gendol-Opak di wilayah stasiun Bronggang, Cepit dan Prambanan sebesar 0,997 m/hari; hujan wilayah mingguan dan bulanan di wilayah stasiun Gondang, Bronggang dan, Cepit yaitu 0,221m/minggu dan 0,377m/bulan. Curah hujan 0,86 m/hari pada wilayah hujan DAS Gendol-Opak menyebabkan banjir lahar dengan volume banjir di kali Gendol-Opak sebesar 1.081.165 m3. Volume lahar tersebut melampaui total daya tampung Kali Gendol maupun Kali Opak sampai pada kemiringan lereng kurang dari 2%, sebesar 7.730.483 m3 untuk Kali Gendol, dan sebesar 3.520.130 m3 untuk Kali Opak. Pengamatan dari beberapa kali proses pelaharan, lahar Kali Gendol bergerak dengan kecepatan 25,4 meter/detik; sedang lahar Kali Opak 62,7 m/detik. Lokasi berisiko di Kali Gendol terletak pada jarak 6 km dengan waktu tempuh 2,8 jam. Lokasi berisiko di Kali Opak berada pada jarak 20,1 km dengan waktu tempuh 7,3 jam, pada landaian maksimum lereng 10,2%-0,6% di Kali Gendol dan 9,6%0,4% di Kali Opak. Endapan lahar sebagian besar merupakan lahar debris - flow dengan matriks dominan. Kehadiran komponen kurang dari 40%. Besar komponen maksimum (giant component) di beberapa tempat mencapai 2 meter. Distribusi komponen secara umum cenderung merata. Bentuk komponen endapan lahar sebagian besar berbentuk compact bladed. Berdasarkan sifat bentuk sudut, sebagian besar komponen mempunyai derajat kebundaran menyudut tanggung sampai membulat tanggung. Hubungan antar butir penyusun lahar bervariasi antara kemas terbuka dan kemas tertutup. Pada kemas tertutup hubungan antara komponen menunjukkan kontak jenis point contact. Hubungan ini terdapat pada permukaan lahar yang disusun oleh komponen-komponen sangat besar pada endapan lahar debris flow yang membentuk struktur sedimen gradasi terbalik. Butiran penyusun lahar debris flow mempunyai pemilahan yang buruk sangat buruk. Pemilahan sangat buruk mendominasi sebagian besar endapan lahar. Pemilahan sedang hanya terdapat pada lapisan-lapisan batupasir tipis yang berada di permukaan lahar. Struktur sedimen yang terbentuk umumnya setempat-setempat, berupa penjajaran komponen (alignment), gradasi terbalik ke normal (reverse to normal graded) dan gradasi terbalik. Struktur penjajaran komponen lazim hadir pada endapan lahar tebal. Struktur gradasi terbalik ke normal (reverse to normal graded) lebih berkembang di bagian hulu dan tengah, sedang struktur gradasi terbalik ke normal (reverse to normal graded) lebih berkembang dibagian hilir. 2/6

Komunikasi & Peringatan Dini Peringatan merupakan unsur kunci kedua untuk mitigasi peristiwa pelaharan. Peringatan yang efektif adalah suatu sistem peringatan untuk memberi peringatan kepada komunitas tentang bahaya lahar yang tengah mengancam. Pusat peringatan haruslah: 1) cepat memberikan peringatan secepat mungkin setelah tanda letusan gunungapi atau pelaharan terjadi, 2) tepat menyampaikan pesan tentang pelaharan yang berbahaya seraya mengurangi peringatan yang keliru, dan 3) dipercaya bahwa sistem bekerja terus-menerus, dan pesan mereka disampaikan dan diterima secara langsung dan mudah dipahami oleh pihak-pihak yang berkepentingan. Respon yang terjadi di masyarakat adalah hasil pemahaman atas pesan yang didapatkan. Penyimpangan respon di masyarakat sangat berhubungan dengan penyimpangan (bias) pesan . Untuk memperkecil bias, perlu pemberian peran yang lebih terbuka sebagai sumber informasi, komunikator dan komunikan diharapkan mendorong terjadinya respon positif. Perangkat sistem komunikasi ini terdiri dari serangkaian perangkat yang terdiri dari: radio komunikasi, stasiun penguat sinyal, stasiun pemancar ulang, radio komunitas, sirine dan pengeras suara. Radio komunikasi yang ada dikelola oleh banyak pelaku, antara lain jajaran perangkat pemerintah daerah, anggota tim siaga dan kelompok-kelompok bantuan komunikasi. Pengelola radio bertindak sebagai sumber informasi, sekaligus komunikator dan komunikan. Frekuensi disepakati berdasarkan kewilayahan dan perannya di masyarakat (Cepogo 146.500 MHz, Musuk 149.380 MHz, Woro/Deles 149.740 MHz, Gendol 149.440 MHz, Opak 149.380 MHz, Boyong 149.360 MHz, Krasak / Bedog 149.560 MHz, Kaliurang 147.870 MHz, Kemiren / Bebeng 149.770 MHz, Putih 149.890 MHz, Senowo / Lamat 137.870 MHz, selo 140.040 MHz , Kabupaten Boyolali 158.150 MHz, Kabupaten Klaten 420.829 MHz, Kabupaten Sleman 167.500 MHz, Kab Magelang 440.200 MHz). Forum Merapi, Pusat Studi Manajemen Bencana (PSMB) UPN Veteran Yogyakarta dan Paguyuban Siaga (PASAG) Merapi memfasilitasi pendirian stasiun pemancar ulang di Gedung Pusat Kampus UPN Veteran Condong Catur 149.920 MHz, G. Sumbing 137.870 MHz serta di Pos Pengamatan Gunungapi Selo . Ketiga stasiun pemancar ulang digunakan untuk memancarulangkan sinyal, sehingga bila diperlukan stasiun radio yang saling terhalang dapat berkomunikasi. 3/6

Untuk jalur Kali Gendol dan Opak frekuensi tersebut dikelola oleh jejaring masyarakat, misalnya Saluran Komunikasi Sosial Bersama (SKSB) di 149.440, Komunitas Siaga Merapi (KSM) di 153.630, Pentingsari di 143.090, Argo Merapi Community (AMC) di 149.070 dan banyak lagi. Pada musim hujan kali ini SKSB PASAG Merapi - PSMB UPN - KAPPALA Indonesia secara bersama-sama mendirikan pos pengamatan lahar di sepanjang Kali Opak dan Kali Gendol. Pos Pantau di Kali Opak didirikan di Pojok Golf, Petilasan Sokariyo, Dusun Krajan, Dusun Geblog, Dusun Ngemplak, Polsek Cangkringan, Dusun Teplok, Dusun Kebur Kidul, Dusun Petung dan Dusun Ngrangkah. Pos Pantau Kali Gendol didirikan di Dusun Batur, Dusun Manggong, Dusun Gondang, Dusun Ngepringan, Dusun Guling, Dusun Gungan, Dusun Bakalan, Dusun Pojok Suruh dan Jembatan Bronggang. Stasiun pemancar ulang di Gedung Pusat Kampus UPN Veteran Condong Catur 149.920 MHz diharapkan dapat digunakan untuk menjalin komunikasi antar komunitas bila diperlukan. Evakuasi & Kawasan Berisiko. Persiapan evakuasi perlu dan sedang dipersiapkan untuk kawasan-kawasan berisiko tinggi di Kali Gendol dan Kali Opak. Kawasan risiko tinggi di Kali Gendol adalah Dusun-dusun Sorasan, Kamongan, Sorobayan, Jambon Lor, Jambun Kidul, Koripan, Jerukan, Polerejo, Gasussalam, Pucung, Kayen, Ngentak, Ngerdi, Bokesan, Tegalkalimanngis, Caturharjo di Desa Sindumartani. Kawasan tersebut mempunyai kemiringan lereng landai, pemukiman tidak aman 42%, penggunaan lahan dominan pemukiman dan sawah irigasi, jarak pemukiman dari sungai < 100 m. kemiringan lereng landai, pemukiman tidak aman 40%, penggunaan lahan dominan pemukiman dan sawah irigasi, jarak pemukiman dari sungai < 100 m. Kawasan risiko tinggi di Kali Opak adalah Dusun-dusun Kergan, Ngemplak, Panggung, Kuang, Kebur Lor, Kebur Kidul, Banjarharjo Desa Wukirsari dan Argomulyo. Di lokasi lebih hilir risiko tinggi terdapat di dusun-dusun Karangmojo, Randusari, desa Bokoharjo. Kawasan tersebut mempunyai kemiringan lereng landai, pemukiman tidak aman 40%, penggunaan lahan dominan pemukiman dan sawah irigasi, jarak pemukiman dari sungai < 100 m. Persiapan penting dilakukan sesuai dengan pengkategorian dan penilaian bahaya. Persiapan yang layak terhadap peringatan bahaya letusan gunungapi dan pelaharan 4/6

membutuhkan pengetahuan tentang daerah yang kemungkinan terkena bahaya dan pengetahuan tentang sistem peringatan untuk mengetahui kapan harus mengevakuasi dan kapan saatnya kembali ketika situasi telah aman. Tanpa kedua pengetahuan akan muncul kemungkinan kegagalan mitigasi pelaharan. Tingkat kepedulian publik dan pemahamannya terhadap pelaharan juga sangat penting. Rencana evakuasi dan prosedurnya umumnya dikembangkan untuk tingkat lokal, karena rencana ini membutuhkan pengetahuan detil tentang populasi dan fasilitas yang terancam bahaya, dan potensi lokal yang dapat diterapkan untuk mengatasi masalah. Pelaharan pada dasarnya masih menyediakan waktu yang cukup untuk peringatan formal. Pendidikan & Pelatihan Mitigasi harus mengandung rencana untuk meningkatkan pemahaman dan pengetahuan oleh masyarakat luas, pemerintah lokal, dan para pembuat kebijakan tentang sifat-sifat letusan gunungapi, kerusakan dan bahaya yang disebabkan dan langkahlangkah yang diperlukan untuk mengurangi bahaya. Pendidikan publik yang dilaksanakan akan efektif bila ikut memperhitungkan bahasa dan budaya lokal, adat-istiadat, praktek keagamaan, hubungan masyarakat dengan kekuasaan, dan pengalaman letusan gunungapi masa lalu. Dalam konteks G. Merapi, pendidikan dan pelatihan di masyarakat dilakukan melalui wajib latih. Terbitnya Undang-Udang No 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana telah memunculkan harapan kemajuan penanggulangan bencana. Undang-Undang itu secara eksplisit mengatur hak perlindungan bagi masyarakat, tapi tidak membahas kewajiban masyarakat. Hal ini menjadi penting karena penyuluhan-penyuluhan selama ini tidak bisa diukur / diketahui hasilnya. Berkenaan dengn hal tersebut diperlukan suatu kegiatan pelatihan yang hasilnya dapat terukur. Tujuan umum jangka panjang program ini adalah membentuk budaya masyarakat yang berketahanan terhadap bencana letusan gunungapi. Oleh karena itu maka program ini bersifat wajib wajib diikuti oleh masyarakat kawasan rawan bencana, sehingga disebut sebagai Wajib Latih Penanggulangan Bencana Gunungapi. Pengelolaan Ruang.

5/6

Sebagai konsekuensi pertumbuhan penduduk global, pada daerah rawan pelaharan juga terjadi perkembangan penduduk dengan cepat. Kawasan tinggian di kawasan rawan letusan gunungapi cenderung menjadi daerah wisata yang padat penduduk. Daerah rendahan rawan lahar yang semula lahan pertanian telah berubah menjadi pemukiman. Karena tidak mungkin untuk menghentikan pembangunan, sebaiknya dilakukan pencegahan pembangunan fasilitas umum pada zona rawan lahar. Dalam konteks G. Merapi, erupsi 2010 nampaknya memaksa kita untuk melihat kembali tata ruang yang sudah ada. Usulan ini menekankan format pengelolaan kawasan G. Merapi dalam perspektif manajemen bencana dalam konteks otonomi daerah yang berpihak pada komunitas tempatan. Pengelolaan yang diusulkan berdasarkan pertimbangan fungsi utama sebagai kawasan rawan bencana, sesuai dengan tingkat kerawanan letusan gunungapi. Pengelolaan dilakukan dengan zona-zona rawan bencana, penyangga non budidaya, penyangga budidaya, dan penyangga budaya. Pengelolaan kawasan dilakukan berdasarkan pertimbangan fungsi ketahanan air dan tanah, serta fungsi budidaya dipilahkan dalam kawasan-kawasan hutan lindung, cagar alam, hutan wisata alam, perlindungan setempat, hutan rakyat, hutan negara, pertanian, pariwisata, pertambangan, dan permukiman Penutup Letusan gunungapi dan lahar akan merupakan ancaman yang berpotensi menjadi bencana apabila kita tidak mampu menelolanya. Kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi ancaman dan keseriusan pihak berwenang dalam mendorong proses mitigasi adalah kalimat kuncinya.

6/6

Beri Nilai