Anda di halaman 1dari 7

TUGAS TEKNOLOGI PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN PROSES PENGOLAHAN CPO (CRUDE PALM OIL) MENJADI MINYAK GORENG

OLEH ASIMA MANALU 05071007039

JURUSAN TEKNOLOGI PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA INDRALAYA 2010

PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kelapa sawit merupakan salah satu komoditas unggulan yang memberikan kontribusi penting pada pembangunan ekonomi Indonesia, khususnya pada pengembangan agroindustri. Luas perkebunan kelapa sawit di Indonesia tahun 1996 mencapai 2 juta Ha dengan produksi CPO hampir 5 juta ton. Keberadaan minyak kelapa sawit sebagai salah satu sumber minyak nabati relatif cepat diterima oleh pasar domestik dan pasar dunia. Permintaan lokal akan minyak nabati naik dengan laju rata-rata 5.6% per tahunnya. Peningkatan ini sebagian disebabkan karena peningkatan jumlah penduduk sebesar 1.98% dan peningkatan konsumsi minyak nabati per kapita sebesar 2.27%. Sedangkan laju peningkatan permintaan akan minyak kelapa sawit adalah 9% (hampir dua kali dari laju peningkatan permintaan akan minyak nabati). Dalam rangka mengantisipasi melimpahnya produksi CPO, maka diperlukan usaha untuk mengolah CPO menjadi produk hilir. Pengolahan CPO menjadi produk hilir memberikan nilai tambah tinggi. Produk olahan dari CPO dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu produk pangan dan non pangan. Produk pangan terutama minyak goreng dan margarin. Produk non pangan terutama oleokimia yaitu ester, asam lemak, surfaktan, gliserin dan turunan-turunannya. B. Tujuan Tujuan penulisan paper ini adalah untuk mempelajari proses pengolahan CPO (Crude Pam Oil) menjadi minyak goreng.

PEMBAHASAN

Minyak goreng sawit adalah minyak fraksi cair berwarna kuning kemerahan yang diperoleh dengan cara fraksinasi minyak kelapa sawit kasar (Crude Palm Oil) yang telah mengalami proses pemurnian. CPO adalah minyak berwarna jingga kemerah-merahan yang diperoleh dari pengempaan mesokarp kelapa sawit. Secara keseluruhan proses penyulingan minyak kelapa sawit tersebut dapat menghasilkan 73% olein, 21% stearin, 5% PFAD ( Palm Fatty Acid Distillate) dan 0.5% buangan. Diagram alir pengolahan minyak goreng adalah sebagai berikut:

Menurut Yuliantien (1999), proses pengolahan minyak goreng adalah: 1. Pemurnian Proses pemurnian minyak sawit ini dibagi menjadi 4 tahap, yaitu: a. Degumming Degumming adalah proses pemisahan getah yang terdiri dari fosfatida, protein, karbohidrat dan resin tanpa mengurangi jumlah asam lemak bebas dalam CPO. Proses ini dilakukan dengan menambah air, uap air atau asam fosfat. Setelah bahan pengotor terpisah dari minyak maka dilakukan sentrifusi. Suhu

yang digunakan adalah 320 C-500 C agar kekentalan minyak berkurang dan gum mudah terpisahkan. b. Netralisasi Proses netralisasi dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu dengan soda api, alkali karbonat, kapur dan bahan kimia lainnya. Yang banyak digunakan adalah soda api karena pertimbangan biaya dan efisiensi, soda api dapat menetralkan asam lemak bebas, menghilangkan sebagian zat warna dan lendir yang tidak hilang saat degumming. Untuk mengurangi kehilangan minyak saat netralisasi maka perlu diperhatikan konsentrasi alkali, waktu dan suhu netralisasi. Jika konsentrasinya terlalu tinggi menyebabkan reaksi dengan trigliserida sehingga mengurangi rendemen minyak dan meningkatkan jumlah sabun yang terbentuk. Reaksinya adalah sebagai berikut:

c. Pemucatan Proses pemucatan atau bleaching dimaksudkan untuk menghilangkan zat warna sampai tingkat warna yang dikehendaki, zat warna pada minyak sawit adalah karoten. Proses ini dapat berpengaruh negatif karena dapat merusak antioksidan alami dan komponen sinergisnya seperti tokoferol, karotenoid dan fosfolipida yang dapat menurunkan stabilitas minyak terhadap oksidasi. Pemucatan dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu: Pemucatan dengan menggunakan senyawa kimia Prinsip pemucatan adalah merubah zat warna menjadi senyawa tidak berwarna. Bahan kimia yang digunakan adalah kalium/natrium dikromat dengan asam sulfat atau dengan asam klorida. O2 yang dihasilkan kemudian direaksikan dengan asam klorida. Pemucatan dengan hidrogenasi Pada pemucatan minyak kelapa terjadi perubahan warna dari kuning oranye menjadi putih kekuningan. Hal ini karena adanya katalisator Ni.

Pemucatan dengan menggunakan pelarut Prinsipnya adalah berdasarkan sifat zat warna yang dapat larut dalam pelarut tertentu maka pelarut tersebut yang digunakan untuk proses pemucatan.

Pemucatan dengan pemanasan Pemucatan minyak kelapa sawit biasanya digunakan suhu 300-3500 F karena pada suhu tersebut karoten tidak stabil.

Pemucatan dengan adsorben Proses pemucatan yang dilakukan adalah proses adsorpsi dengan menggunakan tanah pemucat atau karbon aktif. Tanah pemucat dapat menyerap warna karena tersusun dari komponen silika yang memiliki struktur terbuka sehingga dapat mengikat ion Al3+ yang mampu menyerap warna. Tanah pemucat yang digunakan adalah siO2, Al2O3, MgO, CaO dan Fe2O3.

d. Deodorisasi Deodorisasi bertujuan untuk menghilangkan bau yang tidak dikehendaki dan menghilangkan asam lemak bebas. Cara yang digunakan adalah metode destilasi. Minyak hasil proses pemucatan dimasukkan ke dalam ketel deodorisasi dan dipanaskan pada suhu 200-2500 C pada tekanan 1 atm dan selanjutnya dialiri uap panas selama 4-6 jam. Pemakaian suhu tinggi digunakan untuk menguapkan bau sedangkan pengurangan tekanan bertujuan untuk mencegah hidrolisa oleh uap air. Tekanan uap zat bau sangat rendah sehingga untuk menghilangkannya diperlukan suhu tinggi. Namun suhu tinggi dapat menyebabkan kerusakan pada minyak sehingga diupayakan menurunkan suhu destilasi dengan pemberian gas inert (uap air kering). 2. Fraksinasi Fraksinasi adalah proses pemisahan antara fraksi padat yaitu stearin dengan fraksi cair yaitu olein. Setelah proses degumming suhu diturunkan 600 C menjadi 300 c selama 3-4 jam sampai terbentuk kristal. Pada akhir pembentukan kristal ditambahkan larutan detergen dan magnesium sulfat sehingga permukaan kristal

yang terbentuk dilapisi oleh detergen dan memisahkan dengan olein cair. Fraksi cair dipisahkan dengan sentrifugasi sehingga diperoleh olein serta campuran stearin dan detergen. Pemisahan antara stearin dan detergen dilakukan dengan sentrifugasi.

Menurut saya, titik kritis pada pengolahan minyak goreng ini terdapat pada pemucatan (bleaching) karena proses ini dapat berpengaruh negatif yaitu dapat merusak antioksidan alami dan komponen sinergisnya seperti tokoferol, karotenoid dan fosfolipida sehingga dapat menurunkan stabilitas minyak terhadap oksidasi. Menurut saya proses pemucatan yang lebih baik adalah dengan pemanasan karena antioksidan, tokoferol, dan karotenoid stabil terhadap panas. DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2010. Kajian Pasar dan Produk Hilir Kelapa Sawit. (Online) (http://www.google.com/Kajian-Pasar-Industri-Hilir-Kelapa-Sawit.pdf. Diakses 9 Mei 2010). Yuliantien E. 1999. Kajian Perbaikan Proses Pembuatan Minyak Goreng dari Minyak Sawit Kasar (CPO) pada Industri Kecil. [Thesis]. Program Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor.