Anda di halaman 1dari 8

MAKALAH ANALISIS KRITIS MENDONORKAN ORGAN TUBUH

Disusun Oleh : Patmi, S.Pt Jul Hasratman, S.Si

Diajukan Sebagai Salah Satu Tugas Mata Kuliah Filsafat Sains Bimbingan Prof. Dr. Aprizal Lukman, M.Pd

PROGRAM MAGISTER PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS JAMBI 2012

A. PENDAHULUAN Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada saat ini telah mengubah semua perilaku dan kebiasaaan manusia. Agama sebagai suatu norma yang mengarahkan manusia kepada suatu konsep nilai yang mengajarkan keteraturan dalam hidup, harus mampu mengimbangi dan menjelaskan hukum-hukumnya dalam hal perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut. Kemampuan suatu agama dalam menjelaskan sesuai fakta dari kitab sucinya adalah sebagai bukti suatu agama memiliki nilai kebenaran yang utuh, bukan dikreasikan oleh manusia.

Salah satu perkembangan teknologi terkini adalah donor organ tubuh. Hal ini dilakukan oleh para praktisi dan ahli kesehatan dalam rangka menyelamatkan kehidupan atau kecacatan yang terjadi pada diri seorang pasien. Donor organ secara sederhana dipahami sebagai pemberian organ sehat dari tubuh orang yang sehat yang diberikan ke tubuh orang yang sakit atau cacat dengan tujuan tertentu sesuai kejadian di lapangan. Proses pemindahan organ tubuh ini dilakukan berdasarkan prosedur operasional standar menggunakan prinsipprinsip teknologi tinggi.

Persoalan kemudian adalah adanya norma agama yang mengatur nilai-nilai berkehidupan sesuai landasan hukum agama. Dalam hal ini, penulis yang beragama Islam akan membahas persoalan tersebut dengan mengaitkannya dengan hukum Islam. Beberapa pendapat yang tengah berkembang di masyarakat adalah adanya pakar hukum Islam yang membolehkan dan ada yang mengharamkannya. Hal ini tentu membuat kebingungan di mata awam. Apabila tidak dilakukan analisis kritis secara benar dan mendalam tentang persoalan ini maka dapat melahirkan kesalahan berpikir di tengah masyarakat.

Kehadiran makalah ini di hadapan pembaca adalah untuk mengantarkan kepada suatu sistem berpikir yang logis dan rasional dalam merumuskan suatu hukum dan memahaminya secara benar. Sehingga dengan adanya makalah ini, pembaca mengetahui secara kompleks setiap jawaban atas persoalan hukum di dalam mendonorkan organ tubuh.

B. DISKUSI Didalam makalah ini, kami menyajikan analisis kritis filsafat sains terkait Hukum

Mendonorkan Anggota Badan yang ditulis oleh Ahmad Zain An Najah pada tahun 2007. Kami memandang bahwa organ tubuh sama dengan anggota badan, sebab hal ini hanya perbedaan dalam terminologi. Organ tubuh umumnya digunakan dalam terminologi sains sementara anggota badan lebih dekat dengan terminologi Islam. Sehingga keduanya dianggap sama.

Adapun urutan analisis kritis yang kami sajikan sebagai bahan diskusi dalam makalah ini ialah : bibliografi penulis, tujuan penulisan oleh penulisnya, pendapat penulis, konsep filsafat terkait, dan refleksi diri. Secara berurutan akan kami sajikan di bawah ini.

1. Bibliografi: An Najah, Ahmad Zain. 2007. Hukum Mendonorkan Anggota Badan. http://dewandakwahjakarta.or.id/index.php/buletin/56-buletin-februari/128-donortubuh.html?fontstyle=f-smaller (diunduh tanggal 15 Desember 2011)

2. Tujuan Penulisan oleh Penulis: y Penulis bertujuan untuk memberikan jawaban dari sudut hukum Islam atas permasalahan yang dihadapi umat Islam tentang mendonorkan anggota badan y Penulis bertujuan untuk memberikan pemahaman bahwa untuk menetapkan halal atau haramnya mendonorkan anggota tubuh ditentukan oleh pulih atau tidaknya organ tersebut (cadangan banyak), vital atau tidaknya bagi pendonor, tunggal atau tidaknya organ tersebut. y Penulis bertujuan untuk memberikan pemahaman bahwa Islam adalah agama yang sangat kompleks dalam mengatur tatanan hidup, termasuk dalam hal donor anggota badan y Penulis bertujuan agar pembaca tidak terjerumus ke dalam perbuatan haram atas upaya mendonorkan anggota badannya tertentu yang dipandang haram dari sisi hukum Islam

Penulis bertujuan memberikan pendapatnya dalam hal donor anggota tubuh dalam rangka memperkaya fiqh kontemporer.

3. Hukum Mendonorkan Anggota Badan Akhir-akhir ini, banyak kaum muslimin,yang menanyakan hukum donor organ tubuh, bagaimana menurut pandangan Islam? Untuk menjawab permasalahan tersebut, perlu dijelaskan bahwa donor organ tubuh bisa dibagi menjadi empat bagian :

I. Donor bagian tubuh yang bisa pulih kembali Di sana ada beberapa organ tubuh, yang jika diambil, maka anggota tubuh tadi dapat pulih kembali, seperti darah, rambut, kuku dan lain-lainnya. Donor darah mulai dikenal pertama kali di Perancis pada tahun 1667 M, yang pada waktu itu darah diambilkan dari seekor hewan dan dipindahkan kepada pasien yang sedang sakit. Tetapi sayangnya, penemuan ini berakibat fatal, yaitu kematian sang pasien. Kemudian setelah itu, dilakukan percobaan donor darah sekali lagi, yaitu di Inggris, bedanya dalam percobaan kali ini, darah diambilkan manusia dan di donorkan kepada manusia lainnya, dan ternyata berhasil, dan pasien tersebut sembuh. Ini terjadi pada Tahun 1918 M.

Donor darah ini baru dilakukan oleh dokter, manakala pasien kekurangan atau kehabisan darah Seperti ketika terjadi kecelakaan lalu lintas, kebakaran pada anggota tubuh, masalah pada ginjal, kanker darah dan lain-lainnya.

Dari situ bisa disimpulkan bahwa donor darah hukumnya boleh selama hal itu sangat darurat dan dibutuhkan. Adapun dalil-dalilnya adalah sebagai berikut : Firman Allah Ta'alaa : " Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. " ( Q.S. Al Maidah [5]: 32).

Dalam ayat ini, Allah Ta'alaa memuji setiap orang yang memelihara kehidupan manusia, maka dalam hal ini, para pendonor darah dan dokter yang menangani pasien adalah orang-orang yang mendapatkan pujian dari Allah Ta'alaa, karena memelihara kehidupan seorang pasien, atau menjadi sebab hidupnya pasien dengan izin Allah Ta'alaa. Firman Allah

Ta'alaa : " Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. " (Q.S. Al Baqarah [2]: 172 ).

Ayat di atas menunjukkan diangkatnya dosa bagi orang yang terpaksa memakan yang haram karena keadaan darurat, donor darah adalah termasuk di dalamnya.

Donor darah boleh dilakukan seseorang jika memenuhi empat syarat : y Sang pasien memang benar-benar membutuhkan darah tersebut, dan harus ada rekomendasi dari dokter. y y y Tidak ada cara pengobatan lain kecuali dengan memasok darah. Darah tersebut tidak membahayakan pasien. Pasien mengambil darah secukupnya. Hal ini sesuai dengan Kaidah Fiqh yang berbunyi : "Apa-apa yang diperbolehkan karena darurat , maka itu diukur menurut ala kadarnya ". y Pasien mendapatkan donor darah secara gratis. Jika tidak mendapatkannya secara gratis, maka dibolehkan baginya untuk membeli darah tersebut, dan dosanya akan ditanggung oleh yang menjual, karena menjual darah hukumnya haram, sebagaimana yang disebutkan dalam hadist Shahih Bukhari bahwasanya Rasulullah saw melarang seseorang untuk menjual darah. Berkata Imam Nawawi : "Sebagaimana diharamkan untuk mengambil upah dari ( perbuatan haram ), maka diharamkan juga untuk memberikan upah kepadanya. Akan tetapi dibolehkan memberikan upah( kepada sesuatu yang haram ), jika dalam keadaan darurat ". Dan ini sesuai dengan permasalahan membeli darah karena darurat. Di sana ada pertanyaan lain : Bagaimana hukum donor darah yang disimpan di bank-bank khusus, untuk dipakai dalam peristiwa - peristiwa yang mendadak ? Jawabannya adalah boleh, karena maslahat-nya lebih besar daripada madharat-nya.

II. Donor anggota tubuh yang bisa menyebabkan kematian. Di sana ada beberapa organ tubuh, yang jika diambil, akan menyebabkan kematian seseorang, seperti : limpa, jantung, otak, dan sebagainya. Maka mendonorkan organ-organ tubuh tersebut kepada orang lain hukumnya haram, karena termasuk dalam katagori bunuh diri. Dan ini bertentangan dengan firman Allah" Dan janganlah kamu membunuh dirimu sendiri , sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. ( Q.S. An Nisa [4]: 29)

III.Donor anggota tubuh yang tunggal . Organ-organ tubuh manusia ada yang tunggal dan ada yang ganda ( berpasangan ).

Adapun yang tunggal, diantaranya adalah : mulut, pankreas, buah pelir dan lainnya. Ataupun yang aslinya ganda ( berpasangan ) , karena salah satu sudah rusak atau

tidak berfungsi sehingga menjadi tunggal, seperti : mata yang tinggal satu.

Mendonorkan organ-organ seperti di atas hukumnya adalah haram, walaupun kadang hal tersebut tidak menyebabkan kematian. Karena, kemaslahatan yang ingin dicapai oleh pasien tidak kalah besarnya dengan kemaslahatan yang ingin dicapai pendonor. Bedanya jika organ tubuh tadi tidak didonorkan, maka maslahatnya akan lebih banyak bagi pemiliknya, dibanding kalau dia donorkan kepada orang lain. Akan tetapi perlu di catat, bahwa di sana ada organ tubuh tunggal yang jika diambil tidak membahayakan pendonor dan bermanfaat bagi pasien, yaitu rahim. Maka donor rahim hukumnya boleh, tetapi harus terpenuhi beberapa syarat tertentu, diantaranya adalah ; y Indung telur pasien masih bisa berfungsi sehingga rahim yang akan diambil dari pendonor bermanfaat baginya. y Rahim pendonor harus steril dari sel telur dan sel sperma lama yang masih hidup, sehingga pencampuran nasab bisa dihindari. y Pemindahan rahim tersebut tidak membahayakan bagi pendonor.

IV.Donor anggota tubuh yang ada pasangannya. Sebagaimana yang telah diterangkan di atas, bahwa sebagian organ tubuh manusia ada yang berpasangan, seperti : ginjal, mata, tangan, kaki, telinga, jantung dan sebagainya. Untuk melihat hukum donor organ-organ tubuh seperti ini, maka harus diperinci terlebih dahulu : y Jika donor salah satu organ tubuh tersebut tidak membahayakan pendonor dan kemungkinan besar donor tersebut bisa menyelamatkan pasien, maka hukumnya boleh, seperti seseorang yang mendonorkan salah satu ginjalnya. Alasannya, bahwa seseorang masih bisa hidup, bahkan bisa beraktifitas sehari-hari sebagaimana biasanya hanya dengan menggunakan satu ginjal saja. Hanya saja pemindahan ginjal dari pendonor ke pasien tersebut jangan sampai membahayakan pendonor itu sendiri.Para ulama berkata: " Tidak apa-apa mendonorkan ginjal, jika memang sangat dibutuhkan, karena para dokter telah menyatakan bahwa hal tersebut tidak berbahaya baginya, dan dalam sisi lain, bisa bermanfaat bagi pasien yang membutuhkannya. Pendonornya Insya Allah akan mendapatkan pahala dari Allah swt, karena perbuatan ini termasuk berbuatan baik dan menolong orang lain agar terselamatkan jiwanya. Rasulullah bersabda : "Dan

Allah akan selalu membantu hamba-Nya selama hamba tersebut membantu saudaranya " ( H.R. Muslim ). y Sebaliknya jika donor salah satu organ tubuh yang ada pasangannya tersebut membahayakan atau paling tidak membuat kehidupan pendonor menjadi sengsara, maka donor anggota tubuh tersebut tidak diperbolehkan, seperti halnya dalam pendonoran jantung.

4. Konsep Filsafat Terkait Di dalam analisis kritis ini, konsep filsafat yang digunakan oleh penulis dalam menjelaskan hukum mendonorkan anggota badan adalah konsep aksiologi. Dari sumber literatur disebutkan bahwa aksiologi adalah salah satu konsep filsafat yang membahas tentang etika dan estetika. Etika berhubungan dengan baik atau buruknya suatu keadaan atau tindakan. Sedangkan estetika berhubungan dengan indah atau tidaknya suatu keadaan atau tindakan.

Di dalam hal mendonorgan organ tubuh, konsep aksiologi khususnya etika akan sangat berkaitan erat dengan kajian dari perspektif agama. Ini disebabkan oleh agama yang juga mengejarkan konsep etika secara jujur dan benar. 5. Hasil Refleksi Diri : Apakah analisis kritis ini mampu mempengaruhi sikap? Jawabannya adalah ya. Adapun pengaruhnya adalah perubahan cara berpresepsi di dalam hal memandang hukum kebolehan atau keharaman mendonorkan anggota tubuh. Setelah melakukan kritis terhadap artikel, kami semakin yakin bahwa konsep Islam sangat kompleks dalam menentukan suatu perkara. Kami sepakat dengan pendapat penulis tentang kebolehan asalkan ada syaratsyarat dan pertimbangan tertentu yang harus dipenuhi.

C. KESIMPULAN

Kami menyimpulkan beberapa hal sebagai berikut : y Penulis artikel di atas memiliki kapabilitas dan kapasitas daam menjelaskan hukum Islam terkait hukum mendonorkan organ tubuh. y Di dalam memandang sebuah persoalan agama yang berkembang di tengah masyarakat, terutama bila terkait dengan ilmu pengetahuan dan teknologi maka ada dua syarat minimal yang perlu dipenuhi agar mampu menjelaskannya secara benar yaitu : kemampuan pemahaman ilmu pengetahuan dan teknologi dan pemahaman hukum Islam yang utuh. Sehingga dengan kedua syarat minimal itu, seorang pakar yang memberi pendapat akan melakukan pembahasan secara detail dan kompleks. y Mengetahui konsep filsafat aksiologi secara benar dapat digunakan sebagai cara untuk menghindari terjadinya kesalahan berpikir.