Anda di halaman 1dari 2

Serbuan Pasar Modern

Minggu, 19/06/2011 23:09 WIB - Norbertus Kaleka Norbertus Kaleka Alumnus Fakultas Pertanian UGM, pemerhati ekonomi rakyat Walikota Solo, Joko Widodo dalam suatu kesempatan wawancara dengan sebuah stasiun televisi swasta pernah mengatakan akan membatasi izin pembangunan pasar modern di Kota Solo karena lebih memilih melindungi pasar tradisional sebagai representasi dari ekonomi kerakyatan. Namun, kemudian muncul berita bahwa di Solo bakal ada mal baru yang akan berdiri di Laweyan dengan nama Plaza Surakarta. Terhadap rencana ini, Walikota Solo mengatakan Saya sih setuju-setuju saja, seperti dikutip Joglosemar, Kamis 16 Juni 2011. Rencana kehadiran mal baru ini membuat pedagang di Laweyan terusik. Protes pun dilancarkan. Pasamuan Pasar Tradisional Surakarta (Papatsuta) mengkritik Pemkot Solo yang dianggap tidak konsisten dengan semangat mengembangkan pasar tradisional. Lokasi mal tersebut akan mengancam eksistensi pelaku usaha di Pasar Purwosari, gerai buah Purwosari, pusat oleh-oleh Jongke, pasar tradisional Jongke, dan Pasar Sidodadi (Joglosemar, 17 Juni 2011). Dualisme Bisnis Ritel Perseteruan pasar tradisional dengan pasar modern sesungguhnya telah berlangsung lama. Hal itu berlangsung sejak dari era 1970-an dan kian tajam ketika terjadi liberalisasi sektor ritel pada 1998 yang ditandai dengan masuknya supermarket asing. Pasar tradisional dan modern adalah dua bentuk bisnis ritel (penjualan barang secara eceran). Namun, pasar modern sesungguhnya adalah metamorfosa pasar tradisional yang didorong oleh berkembangnya perekonomian, teknologi, dan gaya hidup masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya ketika berbelanja. Pasar modern berkembang dalam berbagai bentuk seperti pasar swalayan, department store, boutique, factory outlet, specialty store, trade centre, dan mal, supermal, atau plaza. Bentukbentuk ini akan terus berkembang seiring gaya hidup masyarakat. Pasar modern dalam bisnis ritel lebih dimengerti sebagai pasar swalayan. Bentuknya adalah minimarket, supermarket, dan hipermarket. Bisnis ritel modern inilah yang memperlihatkan raihan ekonomi yang terus menanjak akhir-akhir ini. Economic Review, (2009), melaporkan omzet Hipermarket pada tahun 2008 sebesar Rp 23,1 triliun atau 41,4 persen dari total omzet seluruh pasar modern (swalayan) di Indonesia. Minimarket meraih pangsa 32,1 persen (Rp 17,8 triliun), dan supermarket 26,2 persen (Rp 14,55 triliun). Bagaimana dengan pasar tradisional yang merupakan representasi dari denyut nadi ekonomi rakyat, yaitu mereka yang menggantungkan hidupnya mulai dari para pedagang, kuli panggung, pedagang asongan, bahkan hingga tukang becak? Nasib pasar tradisional bisa ditafsirkan dari Survey AC Nielsen (2005). Masyarakat yang berbelanja di pasar tradisional terus menurun dari 65 persen (1999) menjadi 53 persen (2004). Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) mencatat sekitar 400 los pasar tradisional tutup setiap tahunnya. Jumlah pedagang tradisional pada tahun 2010 mencapai 12,5 juta orang dan pasar tradisional berjumlah 11.000 unit. Sejak tahun 2008, jumlah pedagang dan pasar tradisional tidak bertambah jumlahnya. Artinya pasar tradisional mengalami stagnasi. Hal sebaliknya dengan gerai bisnis ritel modern yang terus bertambah jumlahnya. Sejak 2003, sekitar 200 supermarket dan hipermarket merupakan milik dari 10 pemilik ritel terbesar. Dalam periode 1977-1992, supermarket bertumbuh rata-rata 85 persen setiap tahun.

Tahun 1998, muncul hipermarket pertama yaitu Carrefour dan Continent (kemudian diambil alih oleh Carrefour). Dari 1998-2003, hipermarket bertumbuh rata-rata 27 persen, dari delapan gerai menjadi 49 gerai (PricewaterhouseCoopers, 2004). Dewasa ini, jumlah tersebut tentu sudah terlampaui, karena hipermarket sudah beroperasi hingga ibukota kabupaten. Dualisme bisnis ritel di Indonesia bila dikatakan demikian, yaitu tradisional dan modern, di mana yang tradisional tak mampu mengimbangi gerak bisnis ritel/pasar modern, maka ada persoalan yang menyebabkan ketimpangan tersebut. Konstitusi kita UUD 1945, pasal 33 mengatakan bahwa perekonomian nasional diselenggarakan berdasarkan demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan dan keadilan. Artinya ketimpangan yang terjadi dalam bisnis ritel salah satu sebabnya karena tiadanya demokrasi ekonomi dalam praktik. Perlu Inovasi Anatomi pasar tradisional di Kota Solo dapat diperlihatkan dengan angka-angka berikut. Dinas Pengelola Pasar (DPP) Pemkot Surakarta mengelola 42 pasar dengan jumlah pedagang 29.000 orang. Pembangunan fisik pasar tradisional telah dilakukan pada 15 pasar. Mayoritas pelaku usahanya adalah kaum perempuan (90 persen). Retribusi dari pasar tradisional (2010) mencapai Rp 14,2 miliar (Antara, 31 Maret 2011). Di luar pedagang dan mereka yang terlibat dalam bisnis ritel di pasar tradisional, juga masih ada ribuan pelaku usaha ekonomi yang berkategori mikro dan kecil yang juga memasuki bisnis ritel di Kota Solo. Nah, yang menjadi soal adalah sejauh mana keberadaan pasar modern (pasar swalayan, mal, plaza) menggerus keberadaan pasar tradisional? Pertanyaan ini layak dikedepankan karena produk yang diperdagangkan di pasar tradisional juga tersedia di supermarket, hipermarket sehingga pasar modern menjadi pesaing utama mereka. Laporan penelitian Smeru (2007) mengenai Dampak Supermarket terhadap Pasar dan Pedagang Ritel Tradisional di Daerah Perkotaan di Indonesia, dalam temuannya menunjukkan bahwa supermarket memang memberi dampak negatif pada peritel tradisional. Namun, laporan ini mengatakan bahwa dampak tersebut terutama disebabkan oleh lemahnya daya saing para peritel tradisional. Bagi DPP Kota Surakarta, merevitalisasi pasar tradisional adalah salah satu cara untuk meningkatkan daya saing. Namun, yang perlu diperkuat adalah bagaimana pelaku usahanya mampu mengakses modal untuk mengembangkan bisnisnya. Pedagang tradisional kebanyakan membayar tunai kepada pemasok barang sehingga menghambat ekspansi usahanya. Pedagang memikul seluruh risiko ketika menjalankan usaha ritelnya. Hal yang berbeda dengan peritel pasar modern yang memperoleh tenggang waktu pembayaran kepada pemasok, bahkan bisa dengan sistem konsinyasi. Bank Pasar atau lembaga perbankan seperti Danamon Simpan Pinjam yang menyasar pedagang tradisional barangkali bisa melakukan inovasi dengan mengkaji kemungkinan asuransi pada pedagang ritel tradisional sekaligus membantu mereka bila membutuhkan tambahan modal untuk perluasan usaha. Inovasi seperti ini perlu didorong sebagai salah satu upaya memperkuat posisi pasar tradisional. n