Anda di halaman 1dari 35

HUBUNGAN ANTARA APERSEPSI DENGAN HASIL BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARAN IPS DI KELAS IV SD PERUMNAS 2 KECAMATAN CIPEDES KOTA

TASIKMALAYA

PROPOSAL SKRIPSI

Untuk persyaratan penelitian dan penulisan skripsi dalam rangka penyelesaian studi Program S1 PGSD

Diajukan oleh: MUH. SHIRLI GUMILANG NIM: 0804719

Kepada Tim Pembimbing Penulisan Skripsi Program Studi S1 PGSD

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA KAMPUS TASIKMALAYA JANUARI, 2012

Lembar Pengesahan Proposal Skripsi HUBUNGAN ANTARA APERSEPSI DENGAN HASIL BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARAN IPS DI KELAS IV

Proposal Skripsi

Diajukan oleh: MUH. SHIRLI GUMILANG NIM: 0804719

Disetujui oleh: Pembimbing I,

Drs. H. Sadjaruddin Nurdin, M.Pd. NIP. 19510503 197603 1 003

Pembimbing II,

Dra. Hj. Momoh Halimah, M.Pd. NIP. 19530706 197403 2 001

Mengetahui, Ketua Program Studi PGSD UPI Kampus Tasikmalaya

Drs. Rustono WS, M.Pd. NIP. 19520628 198103 1 001

LEMBAR PERNYATAAN

Yang bertanda tangan di bawah ini Muh. Shirli Gumilang, NIM. 0804719, Tempat / tanggal lahir Cirebon, 21 Oktober 1990, Fakultas: Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Tasikmalaya. Menyatakan bahwa skripsi yang berjudul Hubungan antara Apersepsi dengan Hasil Belajar Siswa pada Pembelajaran IPS di Kelas IV SD Perumnas 2 Kecamatan Cipedes Kota Tasikmalaya adalah benar-benar karya saya sendiri dan tidak melakukan penjiplakan atau pengutipan dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan etika keilmuan yang berlaku dalam masyarakat keilmuan.

Tasikmalaya,

Januari 2012

Yang membuat pernyataan,

Muh. Shirli Gumilang NIM. 0804719

ii

DAFTAR ISI

Halaman LEMBAR PERSETUJUAN ............................................................................. i

LEMBAR PERNYATAAN .............................................................................. ii DAFTAR ISI ...................................................................................................... iii I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ....................................................................... 1 B. Identifikasi dan Rumusan Masalah ....................................................... 4 C. Tujuan Penelitian .................................................................................. 4 D. Manfaat Penelitian ................................................................................ 5 E. Kerangka Berfikir ................................................................................. 5 F. Anggapan Dasar .................................................................................... 6 G. Hipotesis Tindakan ............................................................................... 6 II. LANDASAN TEORI A. Apersepsi Pembelajaran ........................................................................ 7 B. Hasil Belajar.......................................................................................... 14 C. Hakikat Pembelajaran IPS .................................................................... 16 III. METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian .................................................................................. 21 B. Variabel dan Definisi Operasional Variabel ........................................ 22 C. Lokasi, Populasi dan Sampel Penelitian............................................... 23 D. Instrumen Penelitian ............................................................................. 24 E. Teknik Pengumpulan Data ................................................................... 25 F. Teknik Analisis Data ............................................................................ 26 G. Agenda Kegiatan .................................................................................. 29 IV. SISTEMATIKA PENULISAN SKRIPSI ............................................... 30 DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 31

iii

I.

PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan IPS merupakan dasar untuk mengembangkan tujuan kurikulum

yaitu membentuk warga negara yang baik dalam suatu masyarakat demokratis di tengah globalisasi dan pembentukan intelektual dalam membina kesadaran, baik secara pribadi, anggota masyarakat, budaya serta intelektual siswa dalam memecahkan masalah sosial (Hennings, 1989). Sebagai suatu bidang ilmu, IPS membekali intelektual siswa dalam membina kesadaran hidup di tengah masyarakat yang komplek dan heterogen, sehingga dapat membentuk pribadi yang mandiri. Partisipasi dan peran aktif siswa memecahkan masalah sangat menunjang dalam menentukan keputusan hidup bermasyarakat (Skeet, 1995) IPS sebagai mata pelajaran tidak semata membekali ilmu saja lebih dari itu membekali juga sikap atau nilai dan keterampilan dalam hidup bermasyarakat sehingga mereka dapat mengetahui lingkungan, masyarakat dan bangsa dengan berbagai karakteristiknya. Dengan demikian, IPS sebagai suatu mata pelajaran di sekolah dasar seharusnya berlandas kepada kondisi nyata di lingkungan masyarakat dengan tujuan untuk memanusiakan manusia. Sehingga siswa tidak merasakan terasingkan di lingkangan masyarakatnya sendiri. Mempelajari IPS pada dasarnya berfungsi mengembangkan pengetahuan, nilai dan sikap serta keterampilan sosial siswa untuk dapat menelaah kehidupan sosial yang dihadapi sehari-hari serta menumbuhkan rasa bangga dan cinta terhadap perkembangan masyarakat Indonesia sejak masa lampau hingga masa kini. Sedangkan tujuannya adalah agar siswa mampu mengembangkan pengetahuan nilai dan sikap serta keterampilan sosial yang berguna bagi dirinya, mengembangkan pemahaman tentang pertumbuhan masyarakat Indonesia sejak masa lampau hingga kini sehingga siswa bangga sebagai bangsa Indonesia. Salah satu faktor yang menyebabkan permasalahan terjadi pada pembelajaran IPS adalah bagaimana proses bembelajaran yang dilakukan guru. Mengingat fungsi utama guru adalah mulai dari sebelum masuk kelas, di dalam

kelas hingga ke luar kelas, yaitu merancang, melaksanakan dan mengevaluasi proses pembelajaran. Guru merupakan ujung tombak dari semua konsep, gagassan, kebijakan, tujuan pendidikan nasional. Masa usia sekolah dasar berlangsung dari usia 6-12 tahun, dalam pendidikan formalnya dibagi menjadi dua, yaitu masa kelas rendah dan kelas tinggi dengan karakter yang berbeda pada tiap kelasnya. Untuk itu, penyajian pembelajaran IPS hendaknya bervariasi baik dari segi materi, metoda maupun pendekatannya yang sesuai dengan karakteristik perkembangan masing-masing siswa. Selain itu pembelajaran di sekolah dasar hendaknya memperhatikan prinsip latar siswa, yakni belajar sambil bekerja, belajar sambil bermain, dan keterpaduan. Sebagai salah satu institusi pendidikan formal yang bertujuan untuk mengembangkan dan melatih potensi anak, sekolah dasar perlu melakukan pengorganisasian pendidikan. Termasuk dalam proses pembelajaran hendaknya dipersiapkan secara baik agar mampu melahirkan siswa yang memiliki karakterkarakter positif. Proses pembelajaran harus mampu mengarahkan siswa sebagai subjek yang berperan aktif dalam kehidupannya. Siswa perlu mendapatkan bimbingan, motivasi, dan peluang untuk belajar serta mempelajari hal-hal yang akan diperlukan dalam kehidupannya. Bagi siswa sekolah dasar, belajar akan lebih bermakna jika apa yang dipelajari berkaitan dengan pengalaman dan perkembangan pengetahuan awalnya. Untuk itu, guru harus kreatif dalam mendesain metode pembelajaran yang disenangi dan bermakna bagi siswa sehingga siswa dapat menghubungkan pengetahuan awalnya dengan materi yang akan dipelajarinya. Dengan demikian, diharapkan siswa dapat lebih mudah memahami materi yang diberikan. Proses pembelajarn tidak dapat dipisahkan antara pengetahuan awal siswa dengan materi yang akan diajarkan, maka sebelum memulai pelajaran yang baru sebagai batu loncatan, guru hendaknya berusaha menghubungkan terlebih dahulu bahan pelajaran yang akan disampaikan dengan bahan pelajaran yang telah dikuasai oleh siswa berupa pengetahuan awal yang telah diketahui dari pelajaran

yang sebelumnya atau dari pengalaman siswa. Inilah yang dimaksud dengan apersepsi. Jadi dengan kata lain apersepsi adalah suatu gejala jiwa yang dialami apabila kesan baru masuk ke dalam kesadaran seseorang dan berkaitan dengan kesan-kesan lama yang sudah dimiliki disertai proses pengolahan sehingga menjadi kesan yang lebih luas. Belajar merupakan proses perubahan tingkah laku yang relatif tetep, proses perubahan ini tidak terjadi sekaligus terapi terjadi secara bertahap tergantung pada faktor-faktor pendukung belajar yang mempengaruhi siswa. Faktor ini dapat dibagi menjadi dua yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Faktor intern berhubungan dengan segala sesuatu yang ada pada diri siswa yang menunjang pembelajaran seperti inteligensi, bakat, kemampuan motorik pancaindra dan skema berpikir. Faktor ekstern merupakan segala sesuatu yang berasal dari luar diri siswa yang menkondisikannya dalam pembelajaran seperti pengalaman, lingkungan sosial, metode pembelajaran, strategi pembelajaran, fasilitas belajar dan dedikasi guru. Keberhasilan siswa mencapai suatu tahap hasil belajar memungkinkannya untuk belajar lebih lancar dalam mencapai tahap selanjutnya. Apersepsi yang dilakukan pada tahap awal pembelajaran pada umumnya dianggap hal yang kecil, terkadang terlupakan. Namun demikian berdasarkan fakta di lapangan banyak dijumpai menjadi sangat fatal akibatnya tatkala siswa dihadapkan pada permasalahan inti dalam proses pembelajaran. Ketidakbisaan siswa dalam menyelesaikan masalah atau dalam proses menemukan konsep ternyata sangat dipengaruhi oleh ketidakmatangan sewaktu apersepsi, yang akhirnya tujuan akhir dari pembelajaran itu tidak tercapai atau tidak sesuai dengan harapan. Berdasarkan pada peristiwa dan pengalaman empirik tersebut, maka peneliti terdorong untuk melakukan penelitian kuantitatif. Penelitian ini dimaksudkan untuk meneliti hubungan antara apersepsi dengan hasil belajar siswa pada pembelajaran IPS di Kelas IV SD Perumnas 2 Kecamatan Cipedes Kota Tasikmalaya.

B. Identifikasi dan Rumusan Masalah Berdasarkan pada latar belakang masalah, maka mengidentifikasi permasalahan, diantaranya: 1. Berdasarkan tuntutan keprofesionalan, guru harus memiliki delapan keterampilan mengajar salah satunya adalah membuka dan menutup pelajaran. Berkaitan dengan keterampilan membuka pelajaran, guru harus memiliki kompetensi dalam memberikan apersepsi. 2. Keterampilan guru dalam membuka pelajaran kurang memperhatikan apersepsi pembelajaran dan motivasi belajar siswa. 3. Interaksi pada pembelajaran IPS hanya bersifat satu arah. Guru tidak memfasilitasi siswa untuk menjadi subjek belajar, dengan kata lain guru tidak menciptakan kondisi belajar yang kondusif. Setelah diidentifikasi masalah, peneliti dapat merumuskan masalah yaitu dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan. Berikut adalah rumusan masalah pada penelitian ini: 1. Bagaimana apersepsi dalam pembelajaran IPS di Kelas IV SD Perumnas 2 Kecamatan Cipedes Kota Tasikmalaya? 2. Bagaimana hasil belajar siswa di Kelas IV SD Perumnas 2 Kecamatan Cipedes Kota Tasikmalaya? 3. Adakah hubungan antara apersepsi dengan hasil belajar siswa di Kelas IV SD Perumnas 2 Kecamatan Cipedes Kota Tasikmalaya? peneliti dapat

C. Tujuan Penelitian Berdasarkan identifikasi dan rumusan masalah yang ada, maka tujuan dari penelitian ini adalah : 1. Untuk mengetahui apersepsi pembelajaraan pada pembelajaran IPS di Kelas IV SD Perumnas 2 Kecamatan Cipedes Kota Tasikmalaya. 2. Untuk mengetahui hasil belajar siswa pada pembelajaran IPS di Kelas IV SD Perumnas 2 Kecamatan Cipedes Kota Tasikmalaya.

3. Untuk mengetahui hubungan antara apersepsi dengan hasil belajar siswa pada pembelajaran IPS di Kelas IV SD Perumnas 2 Kecamatan Cipedes Kota Tasikmalaya.

D. Manfaat Penelitian Kegunaan dari penelitian yang dilaksanakan di Kelas IV SD Perumnas 2 Kecamatan Cipedes Kota Tasikmalaya, antara lain: 1. Bagi peneliti sebagai calon guru, hasil penelitian ini dapat menambah wawasan tentang apersepsi pada pembelajaran IPS di Kelas IV.
2. Bagi pembaca, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber

informasi untuk menambah wawasan tentang apersepsi pada pembelajaran IPS di Kelas IV.
3. Bagi pendidik, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber

informasi dan sebagai bahan masukan yang positif, sehingga pendidik senantiasa dapat mengarahkan dan mengembangkan kegiatan apersepsi pada pembelajaran IPS di Kelas IV.

E. Kerangka Berfikir Dalam penelitian ini terdiri dari dua variabel, yaitu apersepsi sebagai variabel bebas (Independent Variable) yang dilambangkan dengan "X" dan hasil belajar siswa sebagai variabel terikat (Dependent Variable) yang dilambangkan dengan "Y". Untuk indikator-indikator apersepsi dilambangkan dengan X1, X2, X3 dan X4. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada skema berikut: S K E M A: X1 X2 Y X3 X4
Keterangan: X = Apersepsi Pembelajaran Y = Hasil belajar siswa X1 = Memberikan pertanyaan X2 = Mengulang materi sebelumnya X3 = Menciptakan kondisi belajar X4 = Memberikan motivasi

F. Anggapan Dasar Menurut Arikunto (2006:65) anggapan dasar merupakan titik tolak yang kebenarannya diterima oleh penyelidik. Adapun yang menjadi anggapan dasar pada penelitian mengenai hubungan antara apersepsi dengan hasil belajar siswa di Kelas IV SD Perumnas 2 Kecamatan Cipedes Kota Tasikmalaya, adalah: Tahap awal pembelajaran adalah waktu yang paling penting, karena sangat menentukan keseluruhan proses pembelajaran. Peranan guru pada awal pembalajaran adalah untuk menciptakan kondisi yang menyenangkan dan kondusif. Untuk menciptakan kondisi tersebut guru dapat melakukannya dengan cara membangun apersepsi. Artinya, guru mencoba mengaitkan apa yang telah diketahui atau di alami dengan apa yang akan dipelajari, sehingga siswa lebih termotivasi untuk mengikuti pembelajaran. Apersepsi yang dilakukan pada tahap awal pembelajaran pada umumnya dianggap hal yang kecil, terkadang terlupakan. Namun demikian berdasarkan fakta dilapangan banyak dijumpai menjadi sangat fatal akibatnya tatkala siswa dihadapkan pada permasalahan inti dalam kegiatan belajar mengajar.

Ketidakbisaan siswa dalam menyelesaikan masalah atau dalam proses menemukan konsep ternyata sangat dipengaruhi oleh ketidakmatangan sewaktu apersepsi, yang akhirnya tujuan akhir dari pembelajaran itu tidak tercapai atau tidak sesuai dengan harapan.

G. Hipotesis Penelitian Nasution (dalam Ety Rochaety dkk, 2000:31) menyatakan bahwa hipotesis adalah jawaban sementara terhadap masalah penelitian yang kebenaranya harus diuji secara empiris. Adapun hipotesis pada penelitian ini adalah tingginya kompetensi guru dalam memberikan apersepsi berpengaruh terhadap tingginya hasil belajar siswa di Kelas IV SD Perumnas 2 Kecamatan Cipedes Kota Tasikmalaya.

II. RINGKASAN KAJIAN TEORI A. Apersepsi Pembelajaran Keberhasilan proses pembelajaran dan ketercapaian tujuan akhir pembelajaran yang telah ditetapkan akan sangat dipengaruhi oleh kegiatan awal pembelajaran yang dilakukan guru. Fungsi dari kegiatan awal pembelajaran adalah untuk menciptakan awal pembelajaran yang efektif sehingga siswa siap secara penuh untuk mengikuti kegiatan inti pembelajaran. Kegiatan awal pembelajaran adalah kegiatan yang dilaksanakan untuk menyiapkan siswa yang langsung berkaitan dengan materi yang akan dibahas. Selain itu kegiatan awal dilaksanakan untuk membangkitkan motivasi dan perhatian siswa dalam mengikuti pembelajaran, menjelaskan kegiatan yang akan dilalui siswa, dan menunjukkan hubungan antara pengalaman anak dengan materi yang akan dipelajari. Salah satu cara untuk menarik perhatian siswa terhadap materi yang akan dibahas adalah dengan membuat kaitan. Siswa akan tertarik dengan materi yang akan dipelajari apabila mereka melihat kaitan/hubungan dengan pengalaman mereka sebelumnya atau sesuai dengan minat dan kebutuhan mereka. Ajukan pertanyaan tentang bahan pelajaran yang mempunyai kaitan dan sudah dipelajari sebelumnya. Bimbing siswa agar mengemukakan pengalaman yang berkaitan dengan materi yang akan dibahas jika memang ada. Ceritakan tentang manfaat yang diperoleh dari materi yang akan dipelajari. 1. Pengertian Apersepsi Pembelajaran Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, yang dimaksud apersepsi adalah pengamatan secara sadar (penghayatan) tentang segala sesuatu dalam jiwanya (dirinya) sendiri yang menjadi dasar perbandingan serta landasan untuk menerima ide-ide baru. Apersepsi berasal dari kata Apperception berarti

menyatupadukan dan mengasimilasikan suatu pengamatan dengan pengalaman yang telah dimiliki. Atau kesadaran seseorang untuk

berasosiasi dengan kesan-kesan lama yang sudah dimiliki dibarengi dengan pengolahan sehingga menjadi kesan yang luas. Kesan yang lama itu disebut bahan apersepsi. Menurut Nurhasnawati, apersepsi bertujuan untuk membentuk pemahaman. Seperti yang dikutip di dalam bukunya yang berjudul Strategi Pengajaran Mikro yakni, jika guru akan mengajarkan materi pelajaran yang baru perlu dihubungkan dengan hal-hal yang telah dikuasai siswa atau mengaitkannya dengan pengalaman siswa terdahulu serta sesuai dengan kebutuhan untuk mempermudah pemahaman. Apersepsi adalah getaran-getaran tanda yang diterima oleh seorang individu atas suatu obyek tertentu. Obyek tersebut bisa berupa suatu benda, gejala alam atau sosial, dan tindakan-tindakan yang dilakukan oleh seseorang. Apersepsi atau getaran-getaran tersebut diterima melalui panca indra yang kita miliki. Proses penerimaan apersepsi inilah yang kita sebut sebagai persepsi. Apersepsi berarti penghayatan tentang segala sesuatu yang menjadi dasar untuk menerima ide-ide baru. Secara umum fungsi apersepsi dalam kegiatan pembelajaran adalah untuk membawa dunia mereka ke dunia kita. Artinya, mengaitkan apa yang telah diketahui atau di alami dengan apa yang akan dipelajari. Apersepsi pembelajaran adalah menghubungan pelajaran lama dengan pelajaran baru, sebagai batu loncatan sejauh mana siswa mengusai pelajaran lama sehingga dengan mudah menyerap pelajaran baru. Disaat kita akan mengajar sebuah konsep apa saja pada siswa, guru sebaiknya memahami bahwa setiap siswa memiliki pengalaman, sikap dan kebiasaan yang berbeda, agar dapat menggali dan menghubungkan pengalaman, sikap dan kebiasaan siswa terhadap konsep yang akan kita ajarkan perlu kiranya kita kaitkan dengan apersepsi.

2. Tujuan Apersepsi Pembelajaran Secara khusus apersepsi yang dibangun oleh guru dalam tahap awal pembelajaran memiliki tujuan, yaitu sebagai berikut: a) Dalam permulaan pelajaran guru meninjau kembali sampai sejauh mana materi yang sudah dipelajari sebelumnya dapat dipahami oleh siswa dengan cara guru mengajukan pertanyaan pada siswa, tetapi dapat pula merangkum materi pelajaran terdahulu. b) Membandingkan pengetahuan lama dengan yang akan

disajikan. Hal ini dilakukan apabila materi baru itu erat kaitannya dengan materi yang akan dikuasai. c) Guru menjelaskan konsep atau pengertian dari materi yang akan diajarkan. Hal ini perlu dilakukan karena materi yang akan dipelajari sama sekali materi baru. Adapun tujuan dari apersepsi pembelajaran secara lebih luasnya adalah sebagai berikut: a) Mencoba menarik siswa ke dunia yang guru ciptakan Perlu dipahami bahwa tidak semua siswa mengerti terhadap apa yang akan kita ajarkan. Tidak semua juga yang menyadari bahwa pemahaman akan pelajaran lama bisa kembali bermanfaat di pelajaran yang akan dipelajari. Pembelajaran terkadang merupakan suatu kesatuan yang terangkai antara satu materi dengan materi lainnya dan dengan melakukan apersepsi maka akan menyadarkan siswa bahwa materi yang akan dipelajari memiliki relevansi dengan materi yang telah dipelajari. b) Mencoba menyatukan dua dunia Walaupun dapat dikatakan materi satu dengan yang lainnya memiiki perbedaan, namun ada materi-materi tertentu yang

memiliki relevansi dengan materi sebelumnya. Sehingga kiranya

10

sangat perlu bagi guru untuk menyatukan dan menghubungkan antara kedua materi tersebut. c) Menciptakan atmosfir Suasana harus tetap selalu dijaga dan dibentuk sedemikian rupa agar tetap terus terpelihara suasana yang kondusif bagi bagi siswa untuk belajar. Selain itu apersepsi bukan hanya membentuk armosfir fisik yang baik, namun juga dapat membentuk suasana psikologis yang baik sehingga menimbulkan perasaan mampu untuk mempelajari materi baru.

3. Pembentukan Apersepsi Pembelajaran Guru sebelum melakukan apersepsi pembelajaran terlebih dahulu harus mengetahui empat pilar pembentuk apersepsi pembelajaran. a) Pilar pertama adalah menciptakan alfa zone. Setelah bertatap muka dengan siswa, mulailah menuju kondisi awal yang menyenangkan. Kesiapan paling untuk memasukkan fakta dan informasi. Dalam keadaan ini, pergerakan dendrite otak sudah harmonis. Menciptakan alfa zone didapat melalui kegiatan games, cerita lucu, tebak-tebakan, musik, brain gym, dan serangkaian ice breaking lainnya yang tak harus ada hubungannya dengan materi yang akan diajarkan. Tak perlu semua ada. Salah satu saja. Mengingat pentingnya pengkondisian alfa yang diibaratkan seperti peluru, buatlah katalog ice breaking. Targetnya adalah siswa bisa tertarik. b) Pilar ke-dua warmer Menghangatkan ingatan yang sudah lalu. Jika pertemuan itu bukan yang pertama, warmer dimaksukan sebagai pembentuk pengetahuan konstruktivisme, yakni membangun makna baru berdasar pengetahuan yang sudah dimiliki siswa.

11

c) Pilar ke-tiga pre teach. Ini yang sering dilupakan oleh Guru. Tidak heran kalau kondisi kelas kusut masai dan siswa tak terkondisi. Pre teach ini memberi informasi secara manual, bagaimana aturan diberlakukan. d) Pilar ke-empat adalah scene setting. Kondisi inilah yang paling dekat dengan strategi. Sering pula disebut sebagai hook atau pengait menuju mata pelajaran inti.

4. Menciptakan Kondisi Belajar yang Menyenangkan Dalam menciptakan kondisi belajar yang menyenangkan tentunya setiap guru mempunyai trik dan teknik tersendiri. Dengan bertujuan yang sama yakni, bagaimana materi pelajaran bisa disampaikan dan siswa dapat menyerap dengan mudah, berbekas dan bisa mengaplikasikannya, atau paling tidak siswa cepat mengerti dengan baik. Semua itu bisa dilihat ketika pelaksanaan evaluasi. Salah satu usaha guru dalam menciptakan kondisi belajar yang menyenangkan adalah melalui motivasi. Motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak psikis dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, menjamin kelangsungan belajar itu demi mencapai satu tujuan dengan menciptakan kondisi sedemikian rupa sehingga siswa itu mau melakukan apa yang dilakukan. Ini merupakan usaha yang disadari oleh pihak guru untuk menimbulkan motif-motif pada diri siswa yang menunjang kegiatan ke arah tujuantujuan belajar. Motivasi merupakan faktor yang berarti dalam pencapaian prestasi belajar. Dua pembangkit motivasi belajar yang efektif adalah

keingintahuan dan keyakinan akan kemampuan diri. Setiap siswa memiliki rasa ingin tahu dan guru perlu menyalurkannya dengan berbagai macam cara. Begitu pula Keyakinan akan kemampuan diri perlu mendapat penguatan dari guru sehingga akan menumbuhkan rasa kepercayaan yang

12

pada gilirannya menciptakan situasi perasaan yang lebih yakin akan kemampuan dirinya. Terdapat 12 prinsip dalam motivasi belajar, yaitu: a) Kebermaknaan dalam belajar. Siswa akan termotivasi giat belajar jika hal yang dipelajari dirasakan bermakna bagi dirinya. Kebermaknaan lazimnya terkait dengan bakat, minat, pengetahuan dan pengalaman hidupnya. b) Pengetahuan dan keterampilan siap Siswa akan dapat belajar dengan baik jika telah siap baik berupa pengetahuan, keterampilan, maupun sikap. Oleh karena itu siswa akan menggunakan pengetahuan awalnya untuk menapsirkan dan

menginformasikan pengalamannya. Penafsiran ini akan membangun pemahaman yang dipengaruhi oleh pengetahuan awal itu. Dengan demikian guru perlu memahami pengetahuan awal siswa untuk dikaitkan dengan bahan yang akan dipelajarinya sehingga membuat belajar menjadi lebih mudah dan bermakna. c) Model panutan Siswa akan menguasai keterampilan baru dengan baik, jika guru memberi contoh dan model yang patut ditiru. d) Komunikasi terbuka Siswa akan termotivasi untuk belajar jika penyampaiannya dilakukan secara terstruktur sesuai dengan tingkat perkembangan kognitifnya, sehingga kesan pembelajaran dapat dievaluasi dengan tepat. e) Kewajaran dan tugas yang menantang Siswa akan termotivasi untuk belajar jika mereka diberi materi kegiatan baru atau gagasan yang wajar, asli dan berbeda. Gagasan baru dan asli akan menambah konsentrasi siswa pada pelajaran. Hal ini berpengaruh pada pencapaian hasil belajar. Konsentrasi juga dapat bertambah bila siswa menghadapi tugas yang menantang dan sedikit melebihi kemampuannya. Sebaliknya bila tugas terlalu jauh dari

13

kemampuannya akan terjadi kecemasan. Dan bila tugas kurang dari kemampuannya akan terjadi kebosanan. f) Latihan yang tepat dan aktif Siswa akan dapat menguasai materi pembelajaran dengan efektif jika kegiatan belajar mengajar memberikan kegiatan latihan sesuai kemampuan siswa dan siswa dapat berperan aktif untuk mencapai kompetensi yang diharapkan. Latihan yang dilakukan secara terus-menerus dan bertahap akan membuat hasil yang maksimal dalam meningkatkan kemampuan siswa g) Penilaian yang berkesinambungan Siswa akan memperoleh pencapaian belajar yang efektif jika penilaian dilakukan dalam rentang waktu yang tidak terlalu lama dengan frekuensi pengulangan yang tinggi. h) Kondisi dan hasil yang menyenangkan Siswa akan belajar dan terus belajar jika kondisi pembelajaran dibuat menyenangkan, nyaman, dan jauh dari perilaku yang menyakitkan perasannya, serta sering merasakan keberhasilannya. i) Keragaman pendekatan belajar Siswa akan belajar jika diberi kesempatan untuk memilih dan menggunakan berbagai pendekatan belajar. Pengalaman belajar tidak hanya berorientasi pada buku teks, tetapi juga dapat dikemas dalam berbagai kegiatan praktis seperti proyek, simulasi, drama, dan/atau penelitian/pengujian. j) Mengembangkan beragam kemampuan Siswa akan belajar secara optimal jika pengalaman belajar yang disajikan dapat mengembangkan berbagai kemampuan, seperti

kemampuan logis, matematis, bahasa, musik, kinestetik, dan kemampuan inter maupun antar personal.

14

k) Melibatkan sebanyak mungkin indra Siswa akan menguasai hasil belajar dengan optimal, jika menggunakan semua alat indra dalam belajar. l) Keseimbangan pengaturan pengalaman belajar Siswa akan lebih menguasai materi pelajaran jika pengalaman belajar diatur sedemikian rupa sehingga siswa mempunyai kesempatan untuk menghayati, mengungkapkan dan mengevaluasi apa yang terjadi. Memikirkan kembali apa yang telah dialami dan yang sedang dikerjakan merupakan kegiatan penting dalam memantapkan pemahaman.

B. Hasil Belajar Hasil belajar adalah kemampuan, kecakapan yang di peroleh siswa setelah melakukan serangkaian proses pembelajaran yang diukur dengan angka dandiukur dengan menggunakan tes hasil belajar. Berdasarkan teori Taksonomi Bloom hasil belajar dalam rangka studi dicapai melalui tiga kategori ranah antara lain kognitif, afektif, psikomotor. Perinciannya adalah sebagai berikut: 1. Ranah Kognitif Berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek yaitu pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan penilaian. 2. Ranah Afektif Berkenaan dengan sikap dan nilai. Ranah afektif meliputi lima jenjang kemampuan yaitu menerima, menjawab atau reaksi, menilai, organisasi dan karakterisasi dengan suatu nilai atau kompleks nilai. 3. Ranah Psikomotor Meliputi keterampilan motorik, manipulasi benda-benda,

koordinasi neuromuscular (menghubungkan, mengamati).

15

Batasan mengenai hasil belajar yang telah dikemukakan di atas sesuai dengan hasil belajar IPS yang diharapkan pada jenjang pendidikan sekolah dasar yang meliputi tiga aspek yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik. Belajar dapat dikatakan berhasil jika terjadi perubahan positif dalam diri siswa, namun tidak semua perubahan perilaku dapat dikatakan belajar karena perubahan tingkah laku akibat belajar memiliki ciri-ciri perwujudan yang khas: 1. Perubahan Intensional Perubahan dalam proses berlajar adalah karena pengalaman atau praktek yang dilakukan secara langsung dan disadari. Pada ciri ini siswa menyadari bahwa ada perubahan dalam dirinya, seperti penambahan pengetahuan, kebiasaan dan keterampilan. 2. Perubahan Positif dan aktif Positif berarti perubahan tersebut baik dan bermanfaat bagi kehidupan serta sesuai dengan harapan karena memperoleh sesuatu yang baru, yang lebih baik dari sebelumnya. Sedangkan aktif artinya perubahan tersebut terjadi karena adanya usaha dari siswa yang bersangkutan. 3. Perubahan efektif dan fungsional Perubahan dikatakan efektif apabila membawa pengaruh dan manfaat tertentu bagi siswa. Sedangkan perubahan yang fungsional artinya perubahan dalam diri siswa tersebut relatif menetap dan apabila dibutuhkan perubahan tersebut dapat direproduksi dan dimanfaatkan lagi.

Berdasarkan dari uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan siswa untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, secara sengaja, disadari dan perubahan tersebut relatif menetap serta membawa pengaruh dan manfaat yang positif bagi siswa dalam berinteraksi dengan lingkungannya.

16

C. Hakikat Pembelajaran IPS Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) adalah mata pelajaran yang

mempelajarai kehidupan sosial yang didasarkan pada bahan kajian geografi, ekonomi,sosiologi, antropologi, tata negara dan sejarah. IPS adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan penelitian dengan cakupan yang luas dalam berbagai lapangan yang meliputi perilaku dan interaksi manusia dimasa kini dan masa lalu. IPS tidak memusatkan diri pada satu topik secara mendalam melainkan memberi tinjauan (Wikipedia Bahasa Indonesia, 2009). pengetahuan sosial merupakan mata pelajaran yang mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsep, dan generalisasi yang berkaitan dengan isu sosial dan kewarganegaraan (Kurikulum SD, 2004). Ternyata IPS bukan disiplin ilmu tersendiri, melainkan merupakan kajian dari beberapa konsep ilmu sosial itu diharapkan siswa dapat mengetahui masalah yang dialami dalam kehidupan sehari-hari, misalnya saja masalah kenakalan remaja dapat dikaji dari berbagai ilmu sosial yaitu ekonomi, sosiologi, psikologi sosial dan lain-lain. 1. Karakteristik Pembelajaran IPS Siti J, (Djahiri dalam sapriya dkk, 2006:8) mengemukakan bahwa kakteristik IPS yang membedakan dengan pembelajaran ilmu-ilmu sosial lainnya (geografi, sejarah, ekonomi, hukum, dan lain-lain ) adalah sebagai berikut : a) IPS berusaha mempertautkan teori ilmu denagn fakta atau sebaliknya (menelaah fakta dari segi ilmu). Penelaahan dan pembahasan IPS tidak hanya dari satu bidang disiplin ilmu saja, melainkan bersifat komperehensif (meluas dari berbagai ilmu sosial dan lainnya, sehingga berbagai konsep ilmu secara terintegrasi terpadu) digunakan untuk menelaah suatu yang luas terhadap masyarakat.

masalah/tema/topic. Pendekatan seperti ini disebut sebagai

17

pendekatan integreted, juga menggunakan pendekatan broad field, dan multiple resources (banyak sumber ). b) Mengutamakan peran aktif siswa melalui proses inkuiri agar siswa mampu mengembangkan berfikir kritis, rasional dan analis. Program pem,belajaran disusun dengan meningkatkan atau menghubungkan bahan-bahan dari berbagai disiplin ilmu sosial dan lainnya dengan kehidupan nyata di masyarakat, pengalaman, permasalahan, kebutuhan dan memproyeksikannya kepada

kehidupan dimasa depan baik dari lingkungan fisik/alam maupun budayanya. c) IPS dihadapkan secara konsep dan kehidupan sosial yang sangat labil (mudah berubah), sehingga titik berat pembelajaran adalah terjadinya proses internalisasi secara mantap dan aktif pada diri siswa agar siswa memilki kebiasaan dan kemahiran untuk menelaah permasalahan kehidupan nyata pada masyarakatnya. d) IPS mengutamakan hal-hal, arti dan penghayatan hubungan antar manusia dan bersifat manusiawi. Pembelajaran tidak hanya mengutamakan pengetahuab semata, juga nilai dan

keterampilannya. Berusaha untuk memuaskan setiap siswa yang berbeda melalui program maupun pembelajarannya dalam arti memperhatikan minat siswa dan masalah-masalah kemasyarakatan yang dekat dengan kehidupannya. e) Dalam pengembangan program pembelajaran senantiasa

melaksanakan prinsip-prinsip, karakteristik (sifat dasar) dan pendekatan-pendekatan ciri IPS itu sendiri. Jadi menurut pakar tersebut IPS merupakan gabungan dari beberapa unsur dan berusaha mempertautkan teori ilmu dan fakta atau sebaliknya.

18

2. Fungsi dan Tujuan Pembelajaran IPS IPS di Sekolah Dasar berfungsi untuk mengembangkan pengetahuan, nilai,sikap, dan keterampilan siswa tentang masyarakat, bangsa dan negara Indonesia (Kurikulum, 2004) Pengetahuan dimaksudkan siswa diharapkan dapat mengembangkan sejumlah informasi, fakta maupun data untuk kepentingan masyarakat. Nilai dimaksudkan bahwa siswa diharapkan dapat mengembangkan sejumlah nilai atau norma yang berlaku ditengah masyarakat dimana mereka berada. Mengembangkan sikap dimaksud siswa telah belajar IPS dapat memilki sikap-sikap positif terhadap informasi, peristiwa dan fakta yang ada dimasyarakat sekitarnya, dan keterampilan-keterampilan tertentu yang harus dimilki siswa sebagai anggota masyarakat dan negara Indonesia. Fungsi-fungsi tersebut diatas akan dpat terwujud bila guru dapat melaksanakan proses pembelajaran IPS dengan menggunakan contohcontoh dan alat pelajaran yang relevan dengan tingkat perkembangan siswa di Sekolah Dasar. IPS atau pengetahuan sosial bertujuan sebagai berikut : a) Mengajarkan konsep-konsep dasar sosiologi, geografi, ekonomi,, sejarah, dan kewarganegaraan melalui penekatan pedagogis dan psikologis. b) Mengembangkan kemampuan berpikir teoritis dan kreatif, inkuiri, memecahkan masalah dan keterampilan sosial. c) Membangun komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan. d) Menciptakan kemampuan bekerja sama dan berkompetisi dalam masyarakat yang majemuk baik secara nasional maupun global (kurikulum SD,2004). Siti J, (Numan dalam sapriya, 2006:13) The Social Science Education Frame Work for California School mengemukakan tujuan pokok pembelajaran IPS :

19

a) Membina

siswa

agar

mampu

mengembangkan

pengertian/pengetahuan berdasarkan data, generalisasi serta konsep ilmu tertentu maupun yang bersifat

interdisipliner/komprehensif dari berbagai cabang ilmu sosial. b) Membina siswa agar mampu mengembangkan dan mempraktekan keanekaragaman keterampilan studi, kerja dan intelektualnya secara pantas dan tepat sebagaimana diharapkan ilmu-ilmu sosial. c) Membina dan mendorong siswa untuk memehami, menghargai dan menghayati adanya keanekaragaman dan kesamaan cultural maupun individuall. Membina siswa kearah turut mempengaruhi nilai-nilai kemasyarakatan serta juga dapat

mengembangkan/menyempurnakan nilai-nilai yang ada pada dirinya. d) Membina siswa untuk berpartisipasi dalam kegiatan

kemasyarakatan baik secara individu maupun sebagai warga negara. kesimpulannya siswa mengetahui dan memahami konsep dasar dan mampu menggunakan metode yang diadaptasi dari ilmu-ilmu sosial yang kemudian dapat digunakan untuk memecahkan masalah-masalah sosial, yang berkembang dimasyarakat.

3. Pentingnya Pengajaran IPS di Sekolah Dasar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan salah satu mata pelajaran yang mengajarkan pada siswa SD/MI agar mereka kelak mengenal fenomena alam dan fenomena sosial mulai dari lingkungan yang dekat sampai pada lingkungan yang lebih jauh (dunia).Negara Indonesia diperoleh dan dibangun dengan pengorbanan dan perjuangan yang luar biasa dari para pahlawannya sehingga menjadi negara kesatuan seperti sekarang ini, indonesia memilki populasi yang sangat besar dengan berbagai perbedaan strata sosial, ras, suku, agama dan kebudayaan. Semua

20

itu perlu dipelajari, dipahami dan disadari melalui proses pembelajaran sehingga timbul rasa persatuan, patriotisme, nasionalisme dan etos kerja negara Indonesia sejajar dengan negara dan bangsa lain. Ilmu sosial merupakan suatu pendekatan terhadap hal-hal yang berkenaan dengan manusia dan masyarakat serta lingkungannya. Ilmu sosial mempelajari aspek-aspek sosial, spiritual, emosional dan intelektual, rasional dan global denagn memadukan konsep serta bahan kajian tradisional dengan bahan kajian yang baru. Melalui mata pelajaran Pengetahuan Sosial yang merupakan salah satu mata pelajaran dalam kurikulum SD 2004, siswa diarahkan, dibimbing, dan dibantu untuk menjadi warga negara Indonesia dan warga dunia yang efektif. Pengetahuan Sosial juga dirancang untuk membangun dan

merefleksikan kemampuan siswa dalam kehidupan masyarakat yang selalu berubah dan berkembang secara terus menerus.

III. METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Metode penelitian adalah cara yang digunakan dalam melaksanakan penelitian. Berdasarkan tingkat permasalahan, menurut Ridwan (2006:164) metode penelitian kuantitatif terbagi menjadi 3, diantaranya sebagai berikut: 1. Permasalahan yang bersifat deskriftif, yaitu permasalahan yang tidak membandingkan dan menghubungkan dengan variabel lain, hanya studi literature saja. 2. Permasalahan komparatif, yaitu permasalahan yang

menggambarkan perbedaan karakteristik dari dua variabel atau lebih. 3. Permasalahan assosiatif, yaitu permasalahan yang menghubungkan atau pengaruh antara dua variabel atau lebih. Penelitian yang digunakan ini adalah penelitian kuantitatif. Pada penelitian ini, hasil yang didapatkan dari penelitian akan disajikan dalam bentuk angka. Metode yang digunakan dalam melaksanakan penelitian yaitu dengan menggunakan metode assosiatif atau korelasional. Korelasi diberi pengertian sebagai hubungan antar dua variabel atau lebih (Sudijono, Anas, 2005: 179). Metode assosiatif atau korelasioanal yang digunakan dalam penelitian ini menjelaskan bahwa hal yang diteliti bersifat assosiatif yaitu meneliti ada tidaknya hubungan antara dua variabel yaitu apersepsi pembelajaran dan hasil belajar siswa Karena termasuk kategori penelitian kuantitatif korelasi, maka variabel yang dilibatkan dalam penelitian ini ada dua macam yaitu variabel dependent merupakan variabel yang dipengaruhi, dan variabel independent yaitu variabel bebas ( Sudijono, Anas, 2005: 179-180). Dalam penelitian ini yang termasuk variabel dependent (Y) adalah hasil belajar, sedangkan yang termasuk variabel independent (X) yaitu apersepsi, artinya variabel X berkorelasi dengan variabel Y.

21

22

Menurut Ruswandi Hermawan dkk (2010:43) menyatakan bahwa paradigma penelitian terdiri atas satu variabel independen dan dependen. Hal ini dapat digambarkan : r Variabel X Variabel Y

Pada Penelitian tentang hubungan komunikasi belajar siswa dan prestasi belajar ini menggunakan metode kuantitatif korelasi. Menurut Ruswandi Hermawan dkk (2010:43) menyatakan bahwa paradigma penelitian terdiri atas satu variabel independen dan dependen. Hal ini dapat digambarkan: rxy Variabel X Variabel X bel X
rxy
2

Variabel Y

Nxy (x)(y) [ Nx (x) 2 ][ Ny 2 (y) 2 ]

Keterangan : x = jumlah nilai-nilai x


x 2 = jumlah kuadrat nilai-nilai x

y = jumlah nilai-nilai y

y 2 = jumlah kuadrat nilai-nilai y

(Riduwan, 2004:222)

B. Variabel dan Definisi Operasional Variabel 1. Variabel penelitian Variabel penelitian adalah suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang, objek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannyaa (Sugiyono, 2009:61).

23

Berdasarkan landasn teori yang ada serta rumusan hipotesis penelitian maka yang menjadi variabel dalam penelitian ini adalah : a. Variabel bebas b. Variabel terikat : Apersepsi pembelajaran : Hasil belajar

2. Definisi operasional variabel Untuk menghindari terjadi perbedaan dalam menginterpretasikan variabel yang diteliti maka variabel yang dikemukakan di atas dijelaskan sebagai berikut : a. Apersepsi pembelajaran adalah menghubungan pelajaran lama dengan pelajaran baru, sebagai batu loncatan sejauh mana siswa mengusai pelajaran lama sehingga dengan mudah menyerap pelajaran baru. b. Hasil belajar adalah kemampuan, kecakapan yang di peroleh siswa setelah melakukan serangkaian proses pembelajaran yang diukur dengan angka dandiukur dengan menggunakan tes hasil belajar. c. Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) ialah suatu program

pendidikanyang merupakan suatu keseluruhan yang pada pokoknya mempersoalkan manusia dalam lingkungan fisik maupun lingkungan sosialnya. Bahan ajarnya diambil dari berbagai ilmu sosial seperti geografi, sejarah, ekonomi, sosiologi, antropologi dan tata negara.

C. Lokasi Penelitian, Populasi dan Sampel Penelitian 1. Lokasi penelitian Pada penelitian yang berjudul Hubungan Antara Apersepsi dengan Hasil Belajar Siswa pada Pembelajaran IPS di Kelas IV SD Perumnas 2 Kecamatan Cipedes Kota Tasikmalaya ini, peneliti

24

mengambil lokasi penelitian di SD Perumnas 2 yang beralamat di Jalan Raya Nusa Indah Perum Cisalak Kota Tasikmalaya 2. Populasi dan Sampel Penelitian Dalam penelitian ini menggunakan teknik sampling

nonprobability sampling, Menurut Sugiyono (2007:124) teknik sampling noprobability yaitu teknik pengambilan sampel yang tidak memberi peluang atau kesemapatan sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel. Adapun pengambilan sampling yang digunakan peneliti adalah sampling jenuh karena semua populasi digunakan sebagai sampel yaitu banyaknya seluruh siswa 27 orang semuanya dijadikan sampel.

D. Instrumen Penelitian Menurut Sugiyono (2009;148) bahwa pada prinsipnya meneliti adalah melakukan pengukuran, maka harus ada alat ukur yang baik. Alat ukur dalam penelitian biasanya dinamakan instrumen penelitian. Jadi instrumen

penelitian adalah suatu alat yang digunakan mengukur fenomena alm maupun sosial yang di amati. Secara spesifik semua fenomena ini di sebut variabel penelitian. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah berupa angket atau kuisioner, yaitu sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi (data) tentang apersepsi pembelajaran. Penyusunan angket apersepsi pembelajaran terdiri atas empat dimensi yaitu (1) memberi
pertanyaan, (2) mengulang materi sebelumnya, (3) menciptakan kondisi belajar,

dan (4) memberikan motivasi. Pemberian skor menggunakan skala Likert (Sugiono, 2001: 73) yang terdiri dari lima alternatif jawaban yaitu; sangat setuju (SS), setuju (S), raguragu (R), tidak setuju (TS), dan sangat tidak setuju (ST). Pemberian skor untuk tiap item adalah sebagai berikut; untuk pernyataan positif SS=5, S=4,

25

R=3, TS=2 dan ST=1. Sebaliknya untuk pernyataan negatif SS=1, S=2, R=3, TS=4 dan ST=5. Sedangkan tes hasil belajar IPS yang digunakan adalah pilihan ganda dengan empat option. Penyusunan tes hasil belajar IPS ini diawali dengan menyusun kisi-kisi yang memuat pokok bahasan dan sub pokok bahasan pada semester ganjil tahun ajaran 2011/2012. Waktu yang digunakan untuk menyelesaikan tes tersebut adalah 45 menit. Sebelum instrumen tersebut digunakan untuk penelitian terlebih dahulu instrumen diuji coba untuk memperoleh validitas (empirik) setiap butir dan reliabilitas instrumen.

E. Teknik Pengumpulan Data Langkah pengumpulan data sangat penting dilakukan untuk menjawab dan memecahkan masalah penelitian.Teknik yang digunakan untuk

memperoleh data yang sesuai dengan tujuan dan pokok masalah dalam penelitian ini adalah melalui alat pengumpul data primer berupa tes penguasaan konsep dalam bentuk tes objektif, lembar observasi untuk mengetahui keterlaksanaan model dan angket untuk mengetahui respon siswa terhadap pembelajaran yang telah dilaksanakan. 1. Tes Penguasaan konsep Tes digunakan untuk mengukur tingkat penguasaan konsep siswa pada ranah kognitif.Aspek kognitif yang diukur dibatasi hanya pada aspek hapalan (C1), pemahaman (C2), dan aplikasi (C3) dan terdiri dari berbagai soal yang memiliki tingkat kesukaran yang berbeda-beda serta disesuaikan dengan indikator soal. Tes yang digunakan untuk pretest dan posttest merupakan tes yang sama. 2. Lembar observasi Observasi kelas dilakukan terhadap guru pengajar. Observasi terhadap guru yang dilakukan oleh observer bertujuan untuk menilai kesesuaian antara rencana pembelajaran dengan pelaksanaan di kelas dan observasi

keterlaksanaan model pembelajaran.Instrumen ini berbentuk rating scale,

26

dimana observer hanya memberikan tanda cek () pada kolom yang sesuai dengan aktivitas yang observasi. Observasi yang telah disusun tidak diujicobakan, tetapi di koordinasikan kepada guru dan observer yang akan mengikuti dalam proses penelitian agar tidak terjadi kesalah pahaman terhadap format observasi tersebut. 3. Angket Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah berupa angket atau kuisioner, yaitu sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi (data) tentang apersepsi pembelajaran. Penyusunan angket apersepsi pembelajaran terdiri atas empat dimensi yaitu (1) memberi pertanyaan, (2) mengulang materi sebelumnya, (3) menciptakan kondisi belajar, dan (4) memberikan motivasi.

F. Teknik Analisis Data Untuk menganalisis dan menginterpretasi data yang diperoleh, analisis statistik yang akan digunakan pada penelitian ini adalah statistik inferensial parametrik. Oleh karena itu ada beberapa syarat atau asumsiyang harus di penuhi yaitu: 1. Uji Normalitas Data Uji normalitas ini digunakan untuk menguji apakah data yang diperoleh peneliti berdistribusi normal atau tidak. Jika data tersebut berdistribusi normal, maka data yang akan dianalisis menggunakan

statistik parametrik. Dan jika data yang diperoleh tidak berdistribusi normal, maka menggunakan statistik non parametrik. Data yang perlu diuji normalitas pada penelitian ini adalah dua kelompok yaitu: kelompok data (X) untuk variabel apersepsi

pembelajaran dan data (Y) untuk variabel hasil belajar siswa. 2. Uji Hipotesis a. Analisis Korelasi Setelah dilakukan uji normalitas data, kemudian dilakukan uji hipotesis dengan mengkorelasikan antara dua variabel yang berbeda

27

yaitu hubungan antara apersepsi pembelajaran (X) dengan hasil belajar siswa pada pembelajaran IPS (Y). Tujuannya adalah untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara apersepsi pembelajaran (X) dengan hasil belajar siswa pada pembelajaran IPS di Kelas IV Sekolah Dasar Perumnas 2 Tasikmalaya. Analisis korelasi yang akan digunakan penelitia adalah Korelasi Person Product Moment (r). dengan rumus sebagai berikut:
n. xy ( X )( Y ) {( n X 2 X ) 2 }{( n Y 2 ( Y ) 2}

r hitung =

Korelasi Pearson Product Moment dilambangkan (r) dengan ketentuan nilai r tidak lebih dari harga (-1 r + 1). Apabila nilai r = -1 artinya korelasinya negatife sempurna; r = 0 artinya tidak ada korelasi; dan r = 1 berarti korelasinya sangat kuat. Sedangkan arti harga r akan dikonsultasikan dengan tabel interpretasi nilai r sebagai berikut:

Tabel 1 Interpretasi Koefisien Kerelasi Nilai r Interval Koefisien 0.80 1.000 0.60 0.799 0.40 0.599 0.20 0.399 0.00 0.199 Tingkat Hubungan Sangat Kuat Kuat Cukup Kuat Rendah Sangat Rendah

Pengujian lanjutan yaitu uji signifikansi, yaitu untuk mencari makna hubungan variabel X terhadap Y, maka hasil korelasi Pearson Product Moment tersebut diuji dengan uji Signifikansi dengan rumus:

28

2 2

Dimana: t hitung = Nilai t r n = Nilai Koefisien Korelasi = Jumlah Sampel

b. Koefisien Determinan Uji koefisien determinan digunakan untuk menyatakan besar kecilnya sumbangan variabel X (variable bebas) terhadap Y (variabel terikat) yang ditentukan dengan rumus koefisien determinan. Dengan kata lain dilakukan untuk mengetahui seberapa besar variable X (apersepsi pembelajaran) mempunyai kontribusi atau ikut

menentukan variable Y (hasil belajar siswa). Derajat koefisien determinan dicari dengan menggunakan rumus : KP = r2 X 100%

Dimana : KP r = Nilai Koefisien Determinan = Nilai Koefisien Korelasi Riduwan, 2004:224

c. Hipotesis Statistik Hipotesis dalam pnelitian ini adalah: Ho : = 0 (berarti tidak ada hubungan) Ha : 0 (berarti ada hubungan)

29

Keterangan: = Koefisien korelasi antara apersepsi pembelajaran dengan hasil belajar siswa. Sugiyono, 2009: 104

G. Agenda Kegiatan Keseluruhan rencana pelaksanaan penelitian dijadwalkan sebagai berikut.

Tabel 3 N o 1 2
Januari Minggu ke
x x x x x x

Kegiatan Studi lapangan Studi Pustaka/kurikul um/Penelitian lain Pembuatan Proposal (terbimbing) Pembuatan Instrumen (terbimbing) Uji Instrumen Pelaksanaan Penelitian Penyusunan Draft Skripsi (terbimbing) Penyelesaian Penulisan skripsi

Pebruari Minggu ke

Maret Minggu ke

April Minggu ke

Mei Minggu ke

Juni Minggu ke

1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

x x x x

x x

5 6 7

x x x x x x x x x x

x x x x

IV. SISTEMATIKA PENULISAN Untuk memahami alur pikir dalam penulisan skripsi ini, maka perlu diberikan sistematika penulisan yang berfungsi sebagai pedoman penyusunan laporan penelitian ini, yaitu sebagai berikut: Bab I berisi Pendahuluan, yang terdiri dari latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, kerangka berfikir, anggapan dasar dan hipotesis penelitian. Bab II berisi ringkasan kajian teori, yang terdiri dari pengertian komunikasi belajar dan prestasi belajar, bentuk komunikasi belajar siswa, hubungan komunikasi belajar dan prestasi belajar siswa , Signifikasi komunikasi belajar dan prestasi belajar siswa. Bab III berisi metode penelitian, yang terdiri dari desain penelitian, variabel dan definisi operasional variabel, Lokasi; populasi; sampel/ subjek penelitian, instrumen penelitian, teknik pengumpulan data, teknik analisis data, peralatan dana bahan, dan agenda kegiatan. Bab IV berisi sistematika penulisan, terdiri dari keterangan isi dari tiap bab. Daftar Pustaka berisi tentang kajian pustaka yang relevan dengan penelitian yang akan diteliti Lampiran berisi tentang segala hal yang tidak dimuat dalam bab I, bab II, bab III dan bab IV misala instrumen, surat izin, dokumentasi nilai raport dll.

30

DAFTAR PUSTAKA

Isjoni. (2007). Integrated Learning Pendekatan Pembelajaran IPS di Pendidikan Dasar. Bandung: Falah Production. KBBI (Kamus Besar Najasa Indonesia) tahun 2005 (hal 250) Syaripudin, Tatang. Kurniasih. (2009). Pedagogik Teoritis Sistematis. Bandung : Percikan Ilmu. Sandjadja. Herianto, Albertus (2006). Panduan Penelitian. Jakarta: Prestasi Pustaka Tim Dosen Pengelolaan Kelas. (2011). Pengelolaan Kelas. Tasikmalaya: UPI Kampus Tasikmalaya. Candera. 2008. Hukum Apersepsi. Sujadi Bintana, Eko. (2011). Apersepsi, Motivasi, Need Assesment, 3 Langkah Guru Dalam Mengajar Dan Analisa Strategi Pembelajaran Yang Menyenangkan. [Online]. Tersedia: http://bk(12

uinsuska.blogspot.com/apersepsi-motivasi-need-assesment-3.html. Januari 2012).

Ahmad Sajidin. (2011). Analisis tentang Membangun Pengetahuan Awal atau Apersepsi Siswa dalam Kegiatan Pembelajaran. [Online]. Tersedia: http://ahmadsajidin84.blogspot.com/analisis-tentang-membangunpengetahuan.html. (12 Januari 2012).

31