Anda di halaman 1dari 13

RANCANGAN APLIKASI KOMPETENSI DOSEN UMSIDA BERBASIS KNOWLADGE MANAGEMENT Totok Wahyu Abadi (Staf Pengajar Program Studi

Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Jalan Majapahit 666 B, email: totokwahyu@gmail.com)

ABSTRAK Suatu ketika saya pernah menanyakan perihal pembelajaran yang dilaksanakan beberapa dosen kepada mahasiswa dan ketua program studi di FISIP Umsida. Dari jawaban yang diberikan mahasiswa dan kedua ketua program studi, tampaknya jawaban yang diberikan kurang lebihnya adalah sama, yakni baik dan bagus. Secara spontan saya menyampaikan pertanyaan nakal kepada kedua kaprodi tersebut, apakah yang namanya baik dan bagus itu selalu bisa dikatakan berkualitas? Secara serempak, mereka berdua mengatakan , lha itu......masalahnya!? Setidaknya, melalui makalah ini, penulis berupaya memaparkan pengelolaan pengetahuan dosen sebagai intelectual capital yang seharusnya dilakukan oleh Universitas Muhammadiyah Sidoarjo dalam membangun tradisi kualitas di tahun 2020. Key words: Kompetensi dosen, ICT, dan knowladge management

1. PENDAHULUAN Dosen dan mahasiswa adalah sebuah entitas dan modal intelektual yang dimiliki oleh lembaga pendidikan tinggi manapun, termasuk Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (baca: Umsida). Performance Umsida pun banyak ditentukan oleh kualitas dosen sebagai pembelajar dan mahasiswa sebagai stakeholder. Ini berarti bahwa berkualitas tidaknya mahasiswa banyak ditentukan oleh kualitas dosen itu sendiri melalui proses pembelajaran. Tradisi kualitas ini tentu harus tetap dipertahankan dengan berbagai upaya termasuk diantaranya adalah mengembangkan kompetensi dosen serta menumbuhkembangkan atmosfir pembelajaran secara kreatif, menyenangkan, dan inovatif. Minimal, ada empat kompetensi yang harus dimiliki dosen untuk mewujudkan pembelajaran yang berkualitas. Yaitu, kompetensi pribadi, sosial, profesi, dan pedagogik. Kompetensi pribadi berkaitan dengan potensi psikologis yang dimiliki dosen dalam menjalankan tugas tugas akademik/kependidikan. Potensi psikologis tersebut berkaitan dengan empat dasar kebutuhan sebagai tenaga kependidikan, yakni kebutuhan untuk berprestasi, kebutuhan untuk tabah dalam

bekerja, kebutuhan untuk berubah, dan kebutuhan untuk bekerja secara mandiri dan tidak mengandalkan orang lain/otonom (Syahidin, 2008). Kompetensi sosial dosen adalah kemampuan dosen dalam berhubungan sosial dengan orang-orang yang berada di lingkungan sekitarnya termasuk tetangga, kerabat, kolega, dan orang lain. Kemampuan sosial ini menurut Krech (1962:96) dapat diukur melalui human relation yang dilakukan seseorang, yaitu keramahan atau persahabatan, simpatik, sikap penerimaan terhadap orang lain, dan sosiabilitas. Kompetensi profesional adalah kemampuan dosen dalam penguasaan bahan ajar sekaligus membelajarkan mahasiswa yang diasuhnya dengan penuh pedagogis dan metode pembelajaran yang lebih baik. Sedangkan kompetensi pedagogis berkaitan dengan tugas-tugas dosen sebagai tenaga pendidik seperti bagusnya mengajar dan terkuasainya bahan kuliah oleh mahasiswa. Mampu memotivasi belajar mahasiswa, mengelola kelas dengan baik, mengevaluasi hasil belajar dengan tepat dan adil, menyampaikan tujuan tema perkuliahan secara jelas, dan mampu menjelaskan konsep-konsep dengan baik adalah bagian dari kompetensi pedagogis. Barangkali, kompetensi yang terakhir inilah yang dianggap baik dan bagus atau mungkin berkualitas oleh mahasiswa. Memang, sangat disayangkan kalau selama ini yang dikatakan berkualitas hanya berkutat pada kemampuan pedagogis belaka. Sementara dosen adalah sebuah profesi, yang tentunya tuntutan profesionalitas juga harus lebih mengedepan selain ketiga kompetensi yang telah dipaparkan. Profesionalitas itu tentu dapat dilihat dari tradisi penulisan karya ilmiah yang dimilikinya. Karyakarya ilmiah yang dihasilkan dan dipublikasikan itu dapat saja berupa buku ajar, riset yang pernah dilakukan, makalah yang ditulis dan dipublikasikan melalui seminar di tingkat regional-nasional-ataupun internasional. Atau bahkan kegiatan pengabdian masyarakat yang pernah dilaksanakan pun dapat ditulis dalam sebuah karya ilmiah yang dapat diterbitkan dalam sebuah jurnal pengabdian masyarakat. Capacity building ini perlu dan urgen bagi dosen untuk menjadi lebih profesional dan mampu berkompetisi di era persaingan yang begitu ketat. Profesionalitas tersebut dapat digambarkan seperti model sirip ikan berikut:

Gambar 1: Model Sirip Ikan Profesionalisme Dosen (sumber : penulis) Kemampuan dosen Universitas Muhammadiyah Sidoarjo dalam budaya menulis terutama yang berkenaan dengan penelitian sudah mulai mengalami peningkatan. Hal ini dibuktikan dengan penghargaan yang diberikan Kopertis VII kepada Umsida sebagai Perguruan Tinggi Swasta Terbaik III untuk kategori Penelitian dan Pengabdian Masyarakat pada tahun 2008 2010. Namun sayangnya hasil-hasil riset tersebut masih tertumpuk dalam rak LPPM yang belum terpublikasikan dalam buku ajar ataupun jurnal. Penelitian-penelitian tersebut hanya tampak sebagai artefak belaka tanpa memiliki kontribusi yang sangat berarti bagi peningkatan wawasan keilmuan mahasiswa sebagai masyarakat ilmiah. Buku ajar yang ditulis dosen dari hasil riset, senyatanya, memiliki potensi dan nilai yang sangat tinggi karena merupakan bentuk kontekstualisasi dari teori dalam matakuliah yang diampunya. Bahkan buku ajar yang ditulis berbasis riset tersebut dapat digunakan sebagai referensi tidak hanya oleh mahasiswa di suatu perguruan tinggi, tetapi juga masyarakat secara luas ataupun dunia usaha/industri/pemerintah daerah bila memiliki added value yang sangat relevan dan aplikatif. Mungkin ini merupakan titik nol tradisi penulisan ilmiah dan publikasi di Umsida. Atau mungkin juga terjadi di beberapa perguruan tinggi di papan atas. Atau mungkin di level Indonesia pun demikian keadaannya, yakni lemah dalam publikasi karya ilmiah. Menurut laporan yang disampaikan Unesco tahun 2004 bahwa jumlah

publikasi ilmiah di Indonesia relatif lebih kecil jika dibandingkan negara-negara tetangga seperti Singapura, Thailand, dan Malaysia. Data Unesco tersebut menunjukkan bahwa publikasi ilmiah di Indonesia hanya sekitar 522 buah atau 0,012%. Sementara jumlah publikasi ilmiah per tahun di Singapura sebanyak 5.781 buah, Thailand sebesar 2.397, dan di Malaysia sebanyak 1.438 buah (http://www.google.com diunduh tanggal 5 Juni 2010). Dari angka tersebut dapatlah diketahui bagaimana sebenarnya perkembangan ilmu pengetahuan dan tekonologi di suatu negara. Di era perkembangan teknologi komunikasi dan informasi, profesionalitas sebagai salah satu kompetensi dosen Umsida harus dikelola dengan baik dan berkualitas. Hadirnya infrastruktur tersebut sangat membantu organisasi --- seperti Umsida --- dalam melakukan perubahan dan sistematisasi dengan cara mengagregasi dan mengolah berbagai karya pemikiran/pengetahuan, penelitian, dan lainnya. Keuntungan lain yang tentu didapatkan adalah efektivitas dan efisiensi, produktivitas yang meningkat, kecepatan dalam menyampaikan berbagai informasi hasil tradisi ilmiah serta meningkatkan kapasitas secara kompetitif.

2. KNOWLADGE MANAGEMENT: APA ITU? Turban (2008:390) mendefinisikan manajemen pengetahuan sebagai proses yang membantu organsisasi untuk mengidentifikasi, menyeleksi, mengorganisasikan, mendiseminasikan, dan mentransfer informasi dan keahlian yang berserakan yang menjadi aset dari organisasi. Manfaat yang dapat dipetik dari manajemen pengetahuan adalah dapat digunakan untuk memecahkan masalah, proses pembelajaran, penyusunan strategi, dan pembuatan keputusan yang efektif dan efisien. Terminologi knowladge management terdiri dari dua item yakni knowladge (pengetahuan) dan management. Knowladge (pengetahuan) adalah kontekstualisasi informasi yang relevan dan dapat dilaksanakan (actionable). Management menurut Ricky W. Griffin (http://id.wikipedia.org/wiki/Manajemen diunduh 5 Februari 2011) adalah sebuah proses perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, dan pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran (goals) secara efektif dan efesien. Efektif berarti bahwa tujuan dapat dicapai sesuai dengan perencanaan, sementara efisien berarti bahwa tugas yang ada dilaksanakan secara benar, terorganisir, dan sesuai dengan jadwal Knowladge, dalam konteks IT, berbeda dengan data dan informasi. Meski

demikian, ketiganya memiliki hubungan yang erat dan merupakan modal penting bagi organisasi. Data adalah kumpulan dari fakta-fakta, pengukuran-pengukuran, dan statistik. Sedangkan informasi adalah data yang telah diolah menjadi keterangan yang memiliki nilai keakuratan. Hubungan antara data, informasi, dan pengetahuan dapat digambarkan sebagai berikut:
relevant

relevant & actionable

DATA

INFORMASI
relevant & actionable data

KNOWLADGE

Gambar 2: Hubungan data, informasi, dan knowladge (Sumber: diadap tasi dari Turban, 2008:390) Knowledge management memiliki dua lapisan. Lapisan pertama adalah proses (process) meliputi utilization, storing, acquisition, distribution/sharing dan creation. Lapisan kedua meliputi structure, technology, measurement, organizational design, leadership dan culture. Kedua lapisan tersebut terintegrasi membentuk ruang lingkup knowledge management. Pengetahuan yang menjadi objek dalam knowledge management terbagi menjadi dua, yaitu tacit knowledge dan explicit knowledge (Turban, 2008: 392). Tacit knowledge adalah pengetahuan yang ada dalam kepala manusia. Tacit knowledge bersifat personal, prosedural, kacau, soft (lunak), tersimpan di otak, informal dan biasanya tentang kecakapan atau ketrampilan. Pengetahuan jenis ini sulit untuk dikomunikasikan dan disebarkan kepada orang lain. Yang termasuk dalam pengetahuan tacit adalah gagasan, persepsi, cara berpikir, wawasan, keahlian/kemahiran, dan sebagainya. Tacit knowladge disebut juga dengan sticky knowladge. Menurut Nonaka dan Takeuchi (1995 dalam Turban, 2008) : Tacit knowledge is highly personal and hard to formalized. Subjectiveinsights, intuitions and hunches fall into this categoy of knowledge Explicit knowledge adalah pengetahuan manusia yang berada diluar kepala. Pengetahuan eksplisit dapat diungkapkan dengan kata-kata dan angka, disebarkan dalam bentuk data, rumus, spesifikasi, dan manual. Explicit Knowledge merupakan bentuk pengetahuan yang sudah terdokumentasi/terformalisasi, mudah disimpan, diperbanyak, disebarluaskan dan dipelajari. Contoh manual, buku, laporan, dokumen, surat, file-file elektronik, dan sebagainya. Karenanya, explicit knowladge disebut juga sebagai leaky knowladge. Menurut Nonaka dan Takeuchi (1995) :

Explicit knowledge can be expressed in words and numbers and can easily communicated and shared in the form of hard data, scientific formula, codified procedures and universal principles Menurut Polanyi (dalam Turban,2008), selalu ada pengetahuan yang akan tetap tacit, sehingga proses menjadi tahu (knowing) sama pentingnya dengan pengetahuan itu sendiri. Selain itu, ada pandangan yang menganggap bahwa semua pembelajaran terjadi di dalam kepala manusia, sebuah organisasi belajar melalui dua cara, yaitu (a) dengan kegiatan belajar anggota anggotanya (b) dengan menyerap anggota baru yang memiliki pengetahuan yang tidak dimiliki organisasi itu. Sedangkan menurut Moran dan Goshal (1996), pengetahuan diciptakan melalui dua cara, yaitu : penggabungan (kombinasi) dan pertukaran. Dalam situasi di mana pengetahuan dimiliki oleh pihak pihak yang berbeda, maka pertukaran merupakan prasyarat bagi penggabungan pengetahuan. Modal intelektual pada umumnya diciptakan melalui proses penggabungan pengetahuan dari pihak berbeda, sebab itu, modal ini tergantung kepada pertukaran antar pihak yang terlibat. Kadang kadang pertukaran ini melibatkan perpindahan pengetahuan explicit, baik yang dimiliki secara individual maupun kolektif. Penerapan KM akan memberikan pengaruh terhadap proses bisnis organisasi, pertama, penghematan waktu dan biaya. Dengan adanya sumber pengetahuan yang terstruktur dengan baik, maka organisasi akan mudah untuk menggunakan pengetahuan tersebut untuk konteks yang lainnya, sehingga organisasi akan dapat menghemat waktu dan biaya. Kedua, peningkatan aset pengetahuan. Sumber pengetahuan akan memberikan kemudahaan kepada setiap karyawan untuk memanfaatkannya, sehingga proses pemanfaatan pengetahuan di lingkungan organisasi akan meningkat, yang akhirnya proses kreatifitas dan inovasi akan terdorong lebih luas dan setiap karyawan dapat meningkatkan kompetensinya. Ketiga, kemampuan beradaptasi. Organisasi akan dapat dengan mudah beradaptasi dengan perubahan lingkungan bisnis yang terjadi. Keempat, peningkatan produktivitas. Pengetahuan yang sudah ada dapat digunakan ulang untuk proses atau produk yang akan dikembangkan, sehingga produktifitas dari organisasi akan meningkat. Untuk dapat mengaplikasikan manajemen pengetahuan di Universitas Muhammadiyah, beberapa langkah praktis yang perlu diperhatikan adalah: 1. Identifikasi dan Analisis Tahapan awal dari kegiatan ini adalah mengetahui dimana posisi organisasi atau organisasi saat ini dalam pengelolaan pengetahuan. Hal ini perlu dilakukan karena pengetahuan organisasi spesifik dan berbeda-beda

untuk setiap organisasi. Pertama yang perlu dilakukan adalah identifikasi pengetahuan yang ada, baik tacit maupun eksplisit dimana pengetahuan tersebut tersimpan dan bagaimana peranan pengetahuan tersebut dalam kegiatan organisasi. Hasilnya adalah sebuah peta pengetahuan yang ada dalam organisasi. Selanjutnya melihat proses-proses, budaya dan kebiasaan yang terkait dengan pengelolaan pengetahuan dalam organisasi, misalnya training, pendidikan dan latihan, tanya jawab, budaya diskusi/debat, penelitian, penulisan karya ilmiah, seminar ataupun lokakarya yang diselenggarakan, pengabdian masyarakat yang dilakukan, dan sebagainya. Kemudian melihat aktor pelaku atau bagian organisasi yang berkaitan dengan proses pengelolaan pengetahuan tersebut (bagian diklat, bagian IT, kelompok ahli, pustakawan, dan lain - lain). Perlu juga diketahui bagaimana karyawan dalam organisasi mendapatkan pengetahuan. Tahap selanjutnya adalah indentifikasi infrastruktur yang ada ataupun yang belum misalnya perpustakaan, intranet, media komunikasi internal, email, forum diskusi, digital library dan lain-lain. Infrastruktur ini akan digunakan untuk membangun sistem Knowledge Management dalam organisasi. Dari informasi-informasi tersebut akan diperoleh gambaran mengenai proses pengelolaan pengetahuan yang ada saat ini, dan infrastruktur apa yang bisa digunakan untuk membangun manajemen pengetahuan. 2. Perancangan, Penerapan, Sosialisasi, dan Evaluasi Tahap berikut setelah dilakukan identifikasi dan analisis adalah perancangan manajemen pengetahuan dalam organisasi. Beberapa pedoman yang bisa digunakan adalah: a) Penerapan teknologi, pada tahap awal gunakan teknologi yang tepat dan sederhana dan yang telah ada. Kemudian dapat dikembangkan lebih lanjut. b) Pendekatan top-down, dengan kebijakan, anjuran dan bottom-up dengan menggerakan karyawan melalui perubahan budaya. c) mendorong terciptanya Community of Practice. d) Membangun fasilitas untuk berbagi pengetahuan (formal maupun informal) e) Sosialisasi infrastruktur untuk dapat dimanfaatkan oleh seluruh karyawan. f) mengevaluasi keberhasilan penerapan, misalnya dengan pengukuran kinerja. 3. Tipe Kegiatan manajemen pengetahuan Kegiatan manajemen pengetahuan dapat diklasifikasikan dalam beberapa tipe yaitu:

a) Mengumpulkan dan menggunakan ulang pengetahuan terstruktur. Pengetahuan sering tersimpan dalam beberapa bagian dari output yang dihasilkan organisasi, seperti disain produk, proposal dan laporan kegiatan, prosedur-prosedur yang sudah dimplementasikan dan terdokumentasikan dan kode-kode software yang semuanya dapat dipergunakan ulang untuk mengurangi waktu dan sumber yang diperlukan untuk membuatnya kembali. b) Mengumpulkan dan berbagi pelajaran yang sudah dipelajari (lessons learned) dari praktik-praktik. Tipe kegiatan ini mengumpulkan pengetahuan yang berasal dari pengalaman, yang harus diinterpretasikan dan diadopsi oleh user dalam konteks yang baru. c) Mengidentifikasi sumber dan jaringan kepakaran. Kegiatan ini bermaksud untuk menjadikan kepakaran lebih mudah terlihat dan mudah diakses bagi setiap mahasiswa, karyawan, dosen-dosen sebagai teman sejawat, pimpinan universitas, fakultas, program studi, dan lainlain. Dalam hal ini adalah untuk membuat fasilitas koneksi antara orang yang mengetahui pengetahuan dan orang yang membutuhkan pengetahuan. d) Membuat struktur dan memetakan pengetahuan yang diperlukan untuk meningkatkan performansi. Kegiatan ini memberikan pengaruh seperti pada proses pengembangan produk baru atau disain ulang proses bisnis dengam menjadikan lebih eksplisit atau terbuka dari pengetahuan yang diperlukan pada tahap-tahap tertentu. e) Mengukur dan mengelola nilai ekonomis dari pengetahuan. Banyak organisasi mempunyai aset intelektual yang terstuktur, seperti hak paten, copyright, software licenses dan database pelanggan. Dengan mengetahui semua aset-aset ini memungkinkan organisasi untuk membuat revenue dan biaya untuk organisasi. f) Menyusun dan menyebarkan pengetahuan dari sumber-sumber eksternal. Perubahan lingkungan bisnis yang cepat dan tidak menentu telah meningkatkan kepentingan dan kesungguhan pada business intelligence system. Dalam kegiatan ini organisasi berusaha mengumpulkan semua laporan dari luar yang berhubungan dengan bisnis. Dalam kegiatan ini diperlukan editor dan analis untuk menyusun dan memberikan konteks terhadap informasi-informasi yang diperoleh tersebut.

3. PORTAL: RANCANGAN APLIKASI MANAJEMEN PENGETAHUAN DI UMSIDA Untuk mengaplikasikan konsep knowladge management dalam Sistem Informasi Pakar (SIP) di Umsida perlu dikembangkan portal. Portal merupakan jejaring khusus berbentuk web-site yang dapat digunakan untuk melakukan transfer pengetahuan. Pengembangan konsep portal merupakan bentuk konkret dari knowledge management. Portal yang bagus adalah portal yang dapat mentransfer pengetahuan kepada penggunanya. Dalam hal ini pengguna Sistem Informasi Pakar (SIP) adalah mahasiswa, pimpinan universitas dan fakultas, perpustakaan sebagai information provider, dunia usaha industri masyarakat (DUIM), dan dikti kopertis pemda NGO. Konsep portal harus memperhatikan ruang lingkup dari knowledge management. Artinya beberapa unsur dari ruang lingkup knowledge management harus terintegrasi dalam portal tersebut. Bagi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, membangun portal adalah salah satu solusi mengatasi ketertinggalannya. Portal akan menjadi salah satu media yang tepat untuk melakukan transfer pengetahuan. Beberapa keuntungan konkret yang didapatkan dari portal adalah 1) kecepatan pencarian sumber, 2) membangun pencitraan Umsida kepada publik, 3) biaya yang makin murah, 4) kemudahan membangun jaringan (Funny Mustikasari,tt) Pusat Data dan Komputer Umsida dalam membangun portal harus mampu mengintegrasikan konsep searching atau pencarian. Yang paling penting dalam hal ini adalah kecepatan pencarian sumber. Cepatnya mencari sumber yang dilakukan oleh user selain mahasiswa dan pimpinan universitas maupun fakultas akan membawa dampak pada ketertarikan pengunjung yang pada gilirannya akan meningkatkan pencitraan Umsida di mata masyarakat pengguna. Kepemilikan portal oleh perguruan tinggi juga memberikan keuntungan tidak hanya bagi pengunjung tetapi juga oleh Umsida sendiri. Penggunaan portal dapat memberikan penghematan biaya yang luar biasa dalam membangun profil company ataupun promosi unggulan yang dimilikinya. Serta yang juga penting adalah membangun jejaring tidak hanya sesama sekolah ataupun perguruan tinggi yang dikelola Persyarikatan Muhammadiyah tetapi juga dikti, kopertis, pemda setempat, dunia usaha, dunia industri, masyarakat yang memiliki concern terhadap Umsida. Hal penting yang juga harus diperhatikan adalah pengembangan database. Penyusunan database memerlukan prosedur-prosedur rancangan yang sesuai dengan sistem pengembangan sistem informasi. Perancangan terdiri dua aktivitas, yaitu perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software). Perancangan

lunak terdiri dari perancangan database yang berupa ERD (entity relationship diagram) dan DFD (data flow diagram). Penggunaan model entity relationship (ERM) dalam sistem informasi memiliki relevansi dengan berbagai aplikasi pemrosesan data, objek data utama, komposisi objek data, atribut dan hubungan antara masing-masing objek data. Pada Entity Relationship Model, semesta data yang ada di dunia nyata ditransformasikan dengan memanfaatkan sejumlah perangkat konseptual menjadi diagram data yang disebut dengan Entity Relationship Diagram (ERD). Entity relationship ini disusun oleh tiga komponen utama, yaitu entitas (entity), relasi (relationship), dan atribut (atributes). Entitas merupakan individu yang mewakili sesuatu yang nyata eksistensinya dan dapat dibedakan dari sesuatu yang lain (Agus Mulyanto, 2009:273). Turban (2008:97) menyebutnya sebagai suatu hal yang lain dalam hubungan. Dosen dengan matakuliah yang diampunya, mahasiswa, hasil karya/pengetahuan dosen, serta user adalah entitas. Setiap kelompok entitas yang berada dalam lingkup yang sama membentuk sebuah himpunan entitas (entity set). Setiap entitas memiliki atribut yang mendeskripsikan karakteristik dari entitas. Pemilihan atribut-atribut yang relevan bagi sebuah entitas merupakan hal penting dalam pemodelan data. Kedudukan atribut dalam entitas pemodelan ER harus memiliki kejelasan fungsi. Artinya, atribut yang digunakan harus ada yang berfungsi sebagai kunci utama (primary key) dan ada yang menjadi atribut deskripsi. Nomor Induk Dosen Nasional (NIDN) atau Nomor Induk Kepegawaian (NIK) merupakan atribut unik identitas yang dimiliki dosen. Relasi menunjukkan adanya hubungan di antara sejumlah entitas yang berasal dari himpunan entitas yang berbeda. Misalnya, relasi entitas dosen dengan entitas matakuliah mengandung arti bahwa dosen tersebut sedang mengampu matakuliah yang disebutkan. Begitu halnya dengan relasi antara entitas matakuliah dengan entitas hasil karya yang mengandung arti bahwa setiap dosen yang mengampu matakuliah memiliki rencana pembelajaran mahasiswa yang dibreakdown dari silabus, memiliki buku ajar yang ditulis ataupun buku wacana yang dimiliki sebagai rujukan mahasiswa, serta hasil-hasil penelitian yang pernah dilakukan sebagai kontekstualisasi matakuliah yang diajarkan kepada mahasiswa atau artikel dalam jurnal ilmiah sebagai ringkasan hasil penelitian. Kumpulan semua relasi di antara entitas entitas yang terdapat pada himpunan entitas himpunan entitas tersebut membentuk himpunan relasi (relationship sets: gambar 3).

DOSEN
ID Dosen NIDN Nama Dosen Kepangkatan Akademik - No.Kontak - Pengampu MK - Presensi dalam perkuliahan

MATAKULIAH
ID matakuliah Nama matakuliah Sebaran matakuliah/semeseter

USER
- Mahasiswa - Pimpinan universitas & fakultas - Perpustakaan (information provider) - Dunia usaha , Industri, & masyarakat - Dikti, Kopertis,Pemda, NGO

HASIL KARYA

- RPM (Rencana Pembelajaran Mahasiswa) - Buku Ajar - Hasil Penelitian - Artikel di Media/Jurnal Ilmiah - Partisipasi dalam seminar - Pengabdian Masyarakat

Gambar 3: diagram E-R level I untuk Rancangan Sistem Informasi Pakar (sumber: diadaptasi dari Donald Amoroso dalam Turban,2008) Untuk menjelaskan aliran informasi dan transformasi data yang bergerak dari pemasukan data hingga ke keluaran digunakan diagram alir data (DFD = Data Flow Diagram). Desain DFD menggunakan label sebagai berikut a) Persegi panjang digunakan untuk mempresentasikan sebuah esternal entity sebagai sebuah elemen sistem, misalnya user (orang yang menggunakan) atau program lain. b) Lingkaran atau yang disebut dengan bubble mempresentasikan proses atau transformasi data, c) Panah mempresentasikan satu atau lebih objek data, d) Garis ganda mempresentasikan sebuah penyimpan data (data strore), (Pressman, 2001 dalam Agus Mulyanto, 2009:277)

Gambar 4 merupakan Rancangan DFD (diagram konteks) yang akan diaplikasikan dalam penyusunan Sistem Informasi Pakar di Universitas Muhammdiyah Sidoarjo. DFD ini merupakan E-R level II yang diderivasikan dari E-R level I.

Mahasiswa
1. 2. 3. 4. 5. 6. ID mahasiswa ID matakuliah Daftar matakuliah Dosen Matakuliah Buku ajar Matakuliah Referensi Lainnya

Pimpinan Universitas, Fakultas, Perpustakaan


1. ID Pimpinan 2. Daftar pengguna 3. Daftar matakuliah 4. Daftar Dosen Matakuliah 5. Daftar Kepangkatan Akademik 6. Laporan keaktifan/presensi dosen 7. Daftar Buku Ajar yang ditulis dosen 8. Daftar artikel yang dimuat jurnal ilmiah 9. Daftar partisipasi dalam seminar 10. Daftar RPM yang ditulis dosen 11. Daftar riset yang dihasilkan dosen 12. Daftar Penmas dosen

Sistem Informasi Pakar (SIP)

Dikti, Kopertis, Pemda


1. ID Dikti, Kopertis,Pemda 2. ID perguruan tinggi 3. ID dosen PT 4. Kepangkatan Akademik dosen 5. Kepakaran ilmu 6. Daftar Buku Ajar yang ditulis 7. Daftar artikel dalam Jurnal Ilmiah 8. Daftar partisipasi dalam seminar 9. Daftar penelitian 10. Daftar Penmas

Dunia Usaha, Industri, & Masyarakat (DUIM)


1. 2. 3. 4. 5. 6. ID DUIM ID dosen PT Daftar riset yang dihasilkan Daftar penmas Daftar artikel dalam jurnal Kepakaran ilmu

Gambar 4: DFD sebagai derivasi E R level I SIP Umsida. 4. PENUTUP Dengan terbangunnya Sistem Informasi Pakar setidaknya akan membawa Universitas Muhammadiyah Sidoarjo menuju visi Umsida Bermutu di Tahun 2020. Ke depan harapan yang harus digapai adalah menuju Research College. Oleh karena itu upaya yang harus dilakukan adalah mengelola SDM yang dimiliki seperti knowladge, idea, skill, dan experience (KISE) menjadi lebih baik dan berkualitas. Untuk menjadi lebih berkualitas tersebut perlu dukungan teknologi informasi yang tepat guna serta pengembangan budaya organisasi yang lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA Djajadiningrat, Surna Tjahja. 2005. Mengelola Pengetahuan Dan Modal Intelektual Dengan Pembelajaran Organisasi: Suatu Gagasan Untuk Institut Teknologi Bandung. Orasi Ilmiah pada Sidang Terbuka ITB Peringatan Dies Natalis Institut Teknologi Bandung ke-46, tanggal 2 Maret 2005. Felix Gunawan. 2006. Mencermati Konsep Bussiness Inteligent di Perusahaan Jurnal Sosioteknologi Edisi 9 Tahun 5, Desember 2006 Krech, D. & Crutchfield, R. 1962. Individual in Society. Tokyo: McGraw-Hill Kogakusha, Ltd. Hal: 96 Linawati. 2006. ERP Infrastruktur Vital Sebuah Industri Artikel Populer Ilmu Computer.com. http://www.google.com Diunduh 21 Des. 10 Mulyanto, Agus. 2009. Sistem Informasi: Konsep dan Aplikasi. Yogjakarta: Pustaka Pelajar. Hal.: 189 220 OBrien, James A. 2009. Pengantar Sistem Informasi: Perspektif Bisnis dan Manajerial. Jakarta: Salemba Empat. Hal. 228 240 Rahmad M. Saimad Ibrahim. 2005. Tidak Kenal Maka Tidak Sayang: Kiat Mensosialisasikan makalah Internasional Kepada Komunitas Informasi Indonesia. dalam Sistem Informasi Dalam Berbagai Aspek. Jakarta: Informatika Rd. Funny Mustikasari Elita. tt. Aplikasi Manajemen Pengetahuan bagi Pembelajaran Organisasi Artikel Populer Ilmu Computer.com. http://www.google.com Diunduh 21 Des. 10 Syahidin. 2002. Studi Ekspektasi Pimpinan dan Mahasiswa terhadap Kompetensi Dosen Pendidikan Agama Islam dalam Tajdid (Jurnal Ilmu-ilmu Agama Islam dan Kebudayaan). http://www.tajdid-iaid.or.id. Diunduh 3 Januari 2011

Tri Pudjadi, Kristianto, dan Andre Tommy. 2007. Analisis untuk Perencanaan Strategi Sistem dan Teknologi Informasi pada PT. Ritrans Cargo Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi 2007 (SNATI 2007). ISSN: 1907-5022 hal: 7 12 Turban, dkk. 2008. Information Technology of Management: Transforming Organizations in the Digital Economic. USA: Willy. Edisi 6. Hal. 390 - 393 Warnas H, Spits. 2008. Rancangan Infrastruktur e-Bisnis Bussines Inteligence pada Perguruan Tinggi Telkomnika. Volume 6 Nomor 2. Hal.115-124

Anda mungkin juga menyukai