Manaqiban Syaikh Abdul Qadir Al Jailaniy: Bacaan Populer Karya Ulama Mranggen

Jun 20th, 2010 | By admin | Category: karya santri
Banyumas Pesantren-Manaqib Nurul Burhani: Bacaan Populer Karya Ulama Mranggen

Kitab Manaqib Nurul Burhani disusun oleh seorang ulama bersahaja asal Mranggen, desa kecil di perbatasan Semarang – Demak, kitab terjemah dan syarah manaqib itu kini menjadi bacaan paling populer di kalangan warga nahdliyyin. Hampir semua warga nahdliyyin, baik yang tergabung dalam salah satu thariqah mu’tabarah maupun tidak, sangat akrab dengan pembacaan manaqib Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani. Dalam berbagai acara, terutama pada malam 11 bulan hijriah yang merupakan tanggal wafat sang wali, kitab manaqib yang mengisahkan sebagian riwayat hidup sang wali beserta sekelumit ajarannya itu menjadi bacaan “wajib”, seperti halnya kitab-kitab maulid. Kitab manaqib Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani yang paling termasyhur adalah Al-Lujjainid Dani karya ulama besar Madinah, Syaikh Ja’far bin Hasan bin Abdul Karim Al-Barzanji. Kitab yang bersyair indah itu tersebar di berbagai negeri muslim di dunia, terutama di daerah basis penyebaran thariqah Qadiriyyah. Di Indonesia sendiri kitab ini sudah masuk sejak akhir abad 18 M, bersamaan dengan tersebarnya thariqah Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah. Bahkan di negeri ini, hampir semua kitab Al-Lujjanid Dani diterbitkan bersama syarahnya (keterangan atau komentar) dalam bahasa-bahasa daerah. Salah satu edisi manaqib Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani bersyarah yang paling populer adalah kitab An-Nurul Burhani fi tarjamatil Lujjainid Dani fi Dzikri Nubdzatin min Manaqibisy Syaikh Abdil Qadir Al-Jilani karya Syaikh Muslih Abdurrahman Al-Maraqi, mursyid Thariqah Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah asal Mranggen, Demak Jawa Tengah. Berbeda dengan syarah lain yang hanya satu jilid, kitab karya pengasuh Pondok Pesantren Futuhiyyah Mranggen yang juga Rais Am Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah pada masanya itu terdiri dari dua jilid. Jilid pertama yang selesai ditulis pada tahun 1382 H/1962 M banyak mengupas tentang ulasan seputar pembacaan manaqib seperti hukum manaqiban, dalil-dalil penggunaan hadits dhaif untuk fadhailil a’mal (keutamaan beribadah) dan tawassulan. Diterangkan juga seputar kewalian, karamah dan fadhilah atau keutamaan membaca manaqib. Semua penjelasan Syaikh Muslih juga dilengkapi dengan keterangan kitab-kitab rujukan karya ulama salaf ternama. Dan di bagian terakhir Syaikh Muslih mengajarkan tata cara membaca manaqib yang baik dan benar, lengkap dengan beberapa amalan sebelum membaca manaqib dan sesudahnya. Seperti pembacaan enam surah pendek : Al-Fatihah, An-Nas, Al-Falaq, Al-Ikhlas, Al-Qadr dan Al-Insyirah, masing-masing tujuh kali lalu disambung doa pembuka keberkahan rizqi, yang dianjurkan diamalkan sebelum membaca manaqib. Mencegah Kefakiran Dinukilkan juga beberapa doa ternama seperti doa ismul a’zham (nama Allah yang Mahaagung), doa bagi orang yang ingin mendapatkan putra-putri yang shalih dan dan doa lithalabil ghina wa nafyil faqr

nasab Kiai Muslih akan sampai pada Ratu Kalinyamat. Shofiyyah. Nyai Hj. Syaikh Muslih juga melampirkan dua doa qashidah karya dua wali besar yang menurutnya sangat baik dibaca sebagai penutup majelis manaqiban. tak lama setelah syair-syair indah itu dipanjatkan. Imam dan K. Kemudian Kiai Muslih pindah lagi ke Pesantren Sarang. Kiai Muslih nyantri di Mangkang. Sedangkan qashidah kedua adalah karya Sulthanul Auliya Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad. Sementara pada jilid kedua yang usai ditulis pada tahun 1383 H/!963 M. usai doa penutup manaqib. Zuber. Salafudin Benyamin Pekalongan. Syaikh Muslih membagi isi kitabnya menjadi dua bagian. Seperti dialog ruhaniah yang cukup menarik antara Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani dengan Imam Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit. seorang ulama dan mursyid Thariqah Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah generasi kedua di Jawa setelah Syaikh Abdul Karim Banten. . tentang pilihan Syaikh Abdul Qadir berfatwa menurut madzhab Hanbali. Sedangkan bagian bawah. Demak Jawa Tengah. Dalam keterangannya. K. Demak yang diasuh Syaikh Ibrahim Yahya. Mengurung Diri Usai mengaji di Brumbung. Syaikh Muslih menyampaikan terjemahan serta syarah (komentar dan keterangan)-nya atas kitab AlLujjainid Dani. qashidah ini digubah oleh sang wali untuk sebagai permohonan agar bencana kemarau yang melanda negerinya diangkat. Syaikh Muslih juga mengisahkan pengalaman gurunya Syaikh Ibrahim Brumbung yang mengamalkan qashidah tersebut saat daerahnya idlanda kemarau panjang.H. hujan pun turun dengan lebatnya. Keterangan tambahan dari Syaikh Muslih yang bersumber dari kitab-kitab besar itu sangat menambah wawasan pembaca manaqib mengenai kehidupan dan ajaran Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani. Tidak ada hal yang menonjol dari Muslih kecil. ia lalu nyantri di Pesantren Brumbung. Sementara dari garis ibunya. Syaikh Muslih bin Abdurrahman bin Qosidil Haq Al-Maraqi lahir sekitar tahun 1908 M di Mranggen. Dari Syaikh Ibrahim ini pula Syaikh Abdurrahman. yang diasuh oleh K. Maimun Zuber. dengan judul syair Ya Arhamar Rahimin. Doa-doa tersebut dianjurkan oleh Syaikh Muslih untuk dibaca seusai membaca manaqib. tempat Syaikh Soleh Darat dulu pernah nyantri. Ada juga nukilan kisah-kisah langka khas kaum thariqah. Di penghujung kitab.H. Qashidah pertama merupakan gubahan wali agung Al-Habib Abdullah bin Husein bin Thohir Ba’alawi yang sangat akrab di masyarakat.(memperoleh kekayaan dan mencegah kefakiran) yang banyak diajarkan oleh ulama ternama. selain ketawadhuan sikap dan kebersahajaan hidupnya yang belakangan terus mewarnai perjalanan hidup sang mursyid hingga wafatnya. lengkap dengan qashidahnya. terutama setelah dipopulerkan oleh Ustadz H. Sultan Trenggono dan akhirnya Raden Rahmat atau Sunan Ampel. ayahanda ulama kharismatik Sarang saat ini. Dan. Masih banyak lagi keterangan dan pelajaran berharga yang disampaikan Syaikh Muslih dalam dua jilid karyanya tersebut. memperoleh ijazah kemursyidannya yang diturunkan kepada sang putra. ayah Kiai Muslih. Subhanallah. dengan tulisan yang lebih kecil. Jawa Tengah. Nasabnya ke atas bersambung kepada Kanjeng Sunan Kalijaga melaui gari Pangeran Ketib bin Pangeran Hadi. Bagian yang atas berisi matan (tulisan pokok) kitab Al-Lujanid Dani karya Syaikh Ja’far Al-Barzanji. Usai mempelajari dasar-dasar ilmu agama. Rembang. Semarang Barat. Atau kisah dialog malaikat Izrail dengan Syaikh Abdul Qadir menjelang wafatnya.H.

.H. Sebagai penggantinya Ali Ma’shum menunjuk Muslih yang saat itu masih dalam taraf belajar. Setelah menjalani suluk dan riyadhah. Selain mengasuh pesantren Kiai Muslih juga mulai terjun ke dunia thariqah. Mukti Ali.Selain mengaji kepada kedua ulama sepuh itu. Sistem pembelajaran di Tremas yang menganut pola klasikal belakangan juga menginspirasi Kiai Muslih untuk merombak sistem pendidikan di Mranggen yang masih menganut pola kuno. Karena kedekatan itu setahun setelah pulang dari Pesantren Sarang. yakni halaqah sorogan dan bandongan. entah apa yang dilakukan Muslih di dalam kamar. Ma’shum. Mranggen. ayahanda K. pengasuh Pesantren Krapyak Yogyakarta yang juga mantan Rais Am PBNU. Di Lasem. Suatu ketika Kiai Ali Ma’shum ditunjuk oleh pengasuh pesantren untuk menjadi kepala madrasah diniyyah di lingkungan pesantren. Muslih dibai’at menjadi mursyid Thariqah Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah oleh Syaikh Abdul Lathif Banten dan mulai menerima bai’at dari murid-muridnya. Abdurrahman Menur. Muslih berkawan dekat dengan Ali Ma’shum. Ketika dipercaya menggantikan ayah dan kakaknya untuk mengasuh Pesantren Mranggen pada tahun 1936.H. Tepat seminggu kemudian. ia keluar dari kamar dan mulai mengajarkan kitab Alfiyyah di kelas-kelas. Demikianlah. beberapa tahun kemudian ia pulang dari Tremas sebagai ulama muda yang alim dalam ilmu fiqih. hadits.H. Tentu saja yang ditunjuk gelagapan dan berusaha mengelak. Arjosari. Siang malam ia membolak-balik halaman kitab tersebut sambil terus berdoa mohon bimbingan dari Allah SWT. ia langsung mendirikan madrasah-madrasah diniyyah sebagai tempat aktivitas belajar mengajar. Muslih juga mengaji kalong kepada ulama sepuh di Lasem. mantan menteri Agama RI di tahun 1970an. Dan hebatnya. salah seorang khalifah Syaikh Ibrahim Yahya Brumbung. tetapi Muslih juga berhasil menemukan metode pengajaran yang khas dan menarik sehingga banyak murid-murid yang semula benci pelajaran nahwu berbalik menjadi suka. Jawa Timur. Salah satu murid yang mengidolakan pengajaran ilmu nahwu ala Kiai Muslih adalah DR. Namun Ali terus memaksanya seraya memberinya dorongan bahwa cara paling efektif untuk menguasai ilmu nahwu adalah dengan mengajarkannya kepada orang lain. Ali Ma’shum. Ada kisah menarik saat keduanya nyantri di Tremas. Setelah itu Muslih mengurung diri di dalam kamar selama seminggu. ushul fiqh. Bahkan dengan keahlian khususnya di bidang ilmu. tak heran pesantrennya di Mranggen belakangan juga dikenal sebagai salah pusat pembelajaran ilmu alat terbaik. ketika keluar ia bukan saja telah menguasai seluk beluk kitab Alfiyyah. menyusul sahabatnya yang sudah lebih dulu nyantri. Namun sebelumnya ia minta waktu terlebih dulu untuk mengkaji lagi kitab nahwu tingkat tinggi tersebut. Memimpin Pejuang Dengan bekal kealimannya dalam berbagai cabang ilmu. Kiai Hafidz dari Rembang sudah sangat uzur. Ia mengambil bai’at pertamanya kepada K. Pacitan. ilmu-ilmu Al-Quran dan –terutama– ilmu alat. Pengakuan atas ketokohannya terbukti ketika Kiai Muslih yang saat itu menjabat wakil Rais Am Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah tampil mengendalikan organisasinya. Kiai Muslih pun segera dikenal sebagai ulama thariqah yang jempolan. Muslih memilih nyantri di Pesantren Tremas. Dengan tugas barunya yang terbilang berat Ali pun melepaskan tugas awalnya mengajar nahwu dengan pegangan kitab Alfiyyah Ibnu Malik. karena sang Rais Am. Akhirnya Muslih menyerah dan menerima tugas tersebut. K.

Abdurrahman Badawi dan K. yang terdiri pasukan Hizbullah.H. putranya K. yang sebelumnya menjadi khalifah Syaikh Muslih. Kiai Muslih juga terbilang produktif menulis.H. Selain kitab syarah manaqib An-Nurul Burhani yang legendaris. Kiai yang lekat dengan sarung dan sorban melilit di kepalanya itu juga menjadikan Pesantren Mranggen sebagai basis pertahanan seluruh pasukan jihad yang berjuang di sektor Semarang Timur. Kiai Muslih bersama beberapa ulama sepuh lain mempelopori berdirinya Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah (Jatman). sebagaimana cita-citanya sejak lama. yang kini sudah diasuh oleh generasi ketiga yang dipimpin K. Juga K. kemursyidan thariqahnya di Mranggen dilanjutkan oleh adiknya K. seperti kitab Al-Futuhatur Rabbaniyyah fi Thariqatil Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah.Ketika dalam tubuh jam’iyyah muncul perpecahan. Tak hanya piawai mendidik dan memimpin massa.H.H. Lc. Kebanyakan karya-karya sang allamah berkaitan dengan ilmu tashawwuf khususnya yang berlairan Qadiriyyah dan Naqsyabandiyyah. Selain mengajar dan membimbing murid-murid thariqahnya. digelar seminggu dua kali. Pertengahan bulan Ramadhan 1401H/1981M. Sa’id Labib Luthfil Hakim. Banyak petunjuk.H. Sabilillah dan Barisan Kiai. Sementara itu sepeninggal Syaikh Muslih.H. karena ada sebagian tokohnya yang terjun ke politik praktis. dan menantunya K. ayah sebelas anak itu juga menulis tak kurang dari enam belas buku dan risalah yang rata-rata berbahasa jawa. dan Kiai Abdurrahman Badawi. Ahmad Muthohhar Abdurrahman. Hanif Muslih. Jenazahnya dimakamkan di Ma’la bersama ribuan orang yang telah wafat di bumi Al-Haramain tersebut. Kiai Muslih juga aktif memimpin laskar Sabilillah. pengajian thariqah atau lazim disebut tawajjuhan. Syaikh Muslih Abdurrahman wafat di tanah suci Makkah ketika tengah menunaikan ibadah umrah.H.M. Hari Senin untuk kaum pria dan hari Kamis untuk ibuibu. Muhammad Ridwan. Ahmad Iftah Sidik (santri asal Tangerang) Kata Kunci artikel ini: fadilah manaqib (22)bacaan manakib syekh abdul qodir jaelani (12)fadhilah manaqib (11)kitab terjemahan karya ulama nu (9)manaqiban (8)cara membaca manaqib (7)manaqib syekh abdul qodir jaelani (7)kitab nurul burhani (6)fadhilah manakib (6)hukum manakib (6) . K. panduan dan ajaran berthariqah yang tercantum dalam kitab-kitab karya Kiai Muslih belakangan menjadi pegangan Jatman dalam menyusun adab dan tata laksana perthariqahan di Indonesia. Melanjutkan kebiasaan Syaikh Muslih. ketika pecah perang kemerdekaan. Tak hanya itu. Luthfil Hakim. M. Makhdum Zein.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful