Anda di halaman 1dari 12

KEEFEKTIFAN TIGA JENIS BAU-BAUAN DARI EKSTRAK TUMBUHTUMBUHAN SEBAGAI REPELEN TIKUS SAWAH Rattus argitiventer Roob dan

Kloss (RODENTIA: MURIDAE)

OLEH: YUSRI G41108297

JURUSAN HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2011

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tikus sawah (Rattus rattus argentiventer : Robinson & Kloss) merupakan salah satu hama utama pertanaman padi yang menimbulkan kerugian bahkan puso atau gagal panen. Kehilangan hasil gabah akibat serangan hama ini hampir terjadi setiap musim tanam yang mengakibatkan kerugian ekonomis baik pada skala mikro di tingkat petani maupun skala makro di tingkat nasional. Rata serangan tikus tiap tahun di Indonesia 140.927 ha dalam kurun waktu 2001 2005 (Anonim, 2011). Dalam usaha untuk mengatasi kendala yang diakibatkan oleh keberadaan tikus tersebut berbagai alternatif pengendalian telah dilakukan, baik secara kultur teknis, fisik mekanik, maupun secara kimia. Sunarjo (1992) mengemukakan bahwa pengendalian hama tikus secara kimiawi merupakan alternatif yang paling umum ditempuh dibandingkan dengan cara pengendalian lainnya. Hal tersebut dapat dimengerti karena dengan penggunaan bahan kimia yang beracun, hasilnya dapat segera terlihat dan dapat diaplikasikan secara mudah untuk areal yang luas. Namun penggunaan bahan kimia secara terus menerus untuk mengendalikan berbagai hama dan penyakit telah menimbulkan berbagai masalah baru, terutama bagi lingkungan. Penggunaan racun tikus di tempat-tempat penyimpanan atau di rumah, rumah memiliki resiko yang lebih besar, karena substansi racunnya memiliki kemungkinan yang lebih besar terjadinya kontak dengan manusia, hewan peliharaan dan ternak, baik secara langsung maupun tidak langsung. Dilaporkan juga bahwa penggunaan rodentisida sintetik telah menyebabkan tikus menjadi resisten (Anonim, 2011).

Dalam upaya mengurangi dampak negatif dari penggunaan bahan kimiawi untuk mengendalikan tikus, maka perlu dicari alternatif-alternatif pengendalian yang lainnya. Penggunaan bahan-bahan yang dapat menolak kehadiran tikus atau yang dikenal dengan istilah repellent merupakan salah satu cara pengendalian tikus yang relatif lebih aman, karena secara umum bahan tersebut tidak meracuni, tetapi bekerja dengan cara mempengaruhi indera penciuman tikus yang berkembang sangat baik. Dalam penelitian Wahyu dkk. (2003) yang menguji repelensi minyak cendana, nilam, dan akar wangi disimpulkan bahwa ketiga bahan repelen tersebut memiliki kemampuan dalam menolak kehadiran tikus yang telah dilakukan di laboratorium. Sedangkan dalam penelitian yang dilakukan oleh Mardiningsih dkk. (1995) produk minyak nilam, yaitu campuran minyak nilam dengan naftalen serta campuran minyak nilam, naftalen dan kamper dalam bentuk padatan dan cairan yang diresapkan pada kertas saring menunjukkan adanya daya tolak terhadap serangga Sitophilus zeamais dan Carpophilus sp., dalam hasil penelitian tersebut diinformasikan juga bahwa aroma minyak nilam merupakan penolak semut, kecoa, ngengat kain (Thysanura), Crocidolomia binotalis dan Spodoptera litura. Unsur pachouli alkohol yang berperan sebagai unsur penolak pada kandungan
minyak nilam.

Terdapat keterkaitan antara aroma spesifik yang dihasilkan minyak nilam dengan tikus yang memiliki indera penciuman yang sangat peka. Hal ini mengindikasikan bahwa penggunaan aroma-aroma tertentu dapat dimanfaatkan sebagai alternatif pengendalian tikus. Selain minyak nilam, kita mengenal beberapa jenis tumbuhan yang memiliki bau khas dan hawa panas, antara lain

Bangle (Zingiber cassumunar) dan Sereh (Andropogon nardus). Dalam penelitian yang dilakukan oleh Purwanto (2009) yang menguji tiga jenis rempah-rempah sebagai repelen terhadap tikus menunjukkan bahwa rimpang bangle memiliki efek repelensi yang cukup baik jika dibandingkan dengan jenis bahan repelen sereh dan kemangi. Rimpang bangle memiliki tingkat repelensi yang cukup tinggi bila dibandingkan dengan jenis lainnya, jenis ini merupakan tingkat yang cukup tinggi dan secara langsung juga mempengaruhi pola hidup tikus. Rimpang bangle memiliki potensi untuk dijadikan sebagai repelen. Sedangkan dalam penelitian Elmeizy dkk. (2004) menunjukkan bahwa pemberian ekstrak etil asetat bangle dapat menekan kerusakan lesi hepatik tikus yang ditunjukkan dengan rendahnya kadar SGOT dan SGPT. Pemberian ekstrak etil asetat, sari bangle kering dan kurkuminoid dapat menurunkan infiltrasi sel radang, dan jumlah sel tikus yang mengalami nekrosis (Anonim, 2011). Jenis aroma tumbuh-tumbuhan lain yang diduga memiliki daya tolak terhadap tikus adalah aroma kembang kenanga. Dalam penelitian Vita (2009) menunjukkan bahwa gel minyak atsiri bunga kenanga memiliki aktivitas sebagai repelen terhadap nyamuk Anopheles aconitus betina dan perbedaan konsentrasi propilen glikol sebagai plastisizer mempengaruhi efektivitas repelen. Gel dengan konsentrasi propilen glikol tertinggi mempunyai viskositas besar, daya melekat terlama, daya menyebar terkecil sehingga minyak atsiri akan lebih lama terhambat dalam basis dan akan memberikan efek repelan yang lebih lama. Aroma minyak kenanga juga diduga memiliki aktivitas sebagai repelan tikus sawah, karena memiliki bau wangi menyengat yang tidak disukai tikus sawah.

Diinformasikan dari desa kupa, bahwa di sekitar sawah dekat pohon kenanga yang semula terdapat banyak tikus menjadi berkurang populasinya setelah pohon kenanga tersebut berbunga, sehingga diduga bahwa aroma kembang kenanga memiliki kemampuan untuk mengusir tikus. Penggunaan repelen merupakan salah satu alternatif pengendalian tikus yang memanfaatkan indera penciuman dan/atau indera pendengaran dengan metode tanpa mematikan. Bau yang khas dan hawa panas yang dihasilkan oleh suatu bahan repelen dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan digunakannya suatu bahan sebagai repelen. Diantara berbagai bahan repelen, bau-bauan dapat dijadikan salah satu bahan repelen karena menghasilkan bau khas dan menyengat serta hawa panas. Penggunaan bau-bauan untuk mengatasi serangan hama tikus masih kurang sehingga informasi yang didapat masih sedikit. Berdasarkan hal tersebut, maka penelitian dalam bentuk percobaan akan dilakukan untuk mengetahui apakah ekstrak daun nilam, rimpang bangle, dan kembang kenanga dapat dijadikan repelen untuk tikus sawah. 1.2. Hipotesis Ada salah satu bahan repelen yang berpengaruh nyata untuk mengusir tikus sawah.

1.3. Tujuan dan Kegunaan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah aroma daun nilam, rimpang bangle, dan kembang kenanga dapat dijadikan sebagai penolak/ repelen untuk tikus sawah. Kegunaan penelitian ini yaitu sebagai sumber informasi mengenai teknik pengendalian tikus sawah (Rattus argentiventer : Robinson & Kloss) dengan bahan bau-bauan bersifat repelen (mengusir tikus sawah).

BAHAN DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu

Penelitian berbentuk percobaan dilakukan di laboratorium Hama, Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan, Universitas Hasanuddin, Makassar yang berlangsung dari Januari 2012 sampai selesai. 3.2. Alat dan bahan Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini terdiri dari : (a) ekstrak tumbuh-tumbuhan yaitu dari daun nilam, rimpang bangle, dan kembang kenanga (b) makanan tikus, yaitu gabah. (c) kertas saring. (d) tikus sawah. Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah : Kotak perlakuan. Kotak perlakuan yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah modifikasi dari olfaktometer, yaitu alat yang lazim digunakan untuk pengujian bahan penolak kehadiran serangga. Sangkar tikus. Sangkar tikus dipergunakan untuk menyimpan tikus-tikus yang

dipergunakan dalam penelitian ini. Sprayer Sprayer digunakan untuk menyemprotkan bahan repelen pada ruang perlakuan. Timbangan. Timbangan ini dipergunakan untuk mengetahui bobot tikus dan jumlah makanan yang dikonsumsi tikus pada setiap perlakuan. Mangkok kecil Mangkok kecil digunakan sebagai wadah menyimpan bahan repelen.

Terpal Terpal digunakan untuk menutupi ruang perlakuan. Alat tulis Alat tulis dipergunakan untuk mencatat setiap parameter pengamatan dan fenomena lain yang terjadi dalam penelitian ini. 3.3. Persiapan Penelitian 3.3.1. Persiapan Hewan Uji Hewan uji yang digunakan adalah 4 ekor tikus sawah (Rattus argitiventer Roob dan Kloss) yang diperoleh dari penangkapan di sawah sekitar Balai

Penelitian Tanaman Sereal, Kabupaten Maros. Persyaratan hewan uji yang digunakan adalah betina, sehat, dewasa, dan tidak bunting. Semua hewan uji memiliki jenis kelamin dan berat yang sama, yaitu berjenis kelamin betina dan memiliki bobot 70 g. Tikus betina yang memiliki bobot tubuh diatas 60 g dikategorikan dalam kelas umur dewasa (Muchrodji dkk., 2006). Setelah didapat dari lapang, tikus diadaptasikan di ruang perlakuan selama 1 minggu. Sebelum perlakuan, tikus dipuasakan terlebih dahulu selama 24 jam di dalam arena yang telah dipersiapkan. Sebelum dipuasakan, tikus ditimbang satu per satu untuk mengetahui bobot awal perlakuan. 3.3.2. Persiapan Bahan Repelen Bahan uji yang digunakan sebagai repelen adalah daun nilam (Pogostemon cablin Benth.), rimpang bangle (Zingiber cassumunar Roxb.), dan kembang kenanga (Cananga odorata Lamk.). Bahan repelen dibuat dengan cara menghancurkan bahan-bahan yang akan digunakan dengan blender berdasarkan

perlakuan yang diujikan. Pada setiap perlakuan, bahan uji dan air dicampur dengan perbandingan 1:2. Hasil penghancuran disaring dengan menggunakan saringan kemudian hasil perasan digunakan sebagai repelen. Air perasan dituang ke dalam mangkuk kecil lalu disimpan dalam kandang perlakuan dengan menggunakan kertas saring, demikian juga dalam sprayer yang nantinya digunakan untuk menyemprot kandang perlakuan. 3.3.3. Persiapan Arena Arena perlakuan yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah modifikasi dari olfaktometer, yaitu alat yang lazim digunakan untuk pengujian bahan penolak kehadiran serangga. Ruang perlakuan berbentuk balok yang berukuran 25 cm x 15 cm x 10 cm. Setiap arena memiliki 4 pintu masuk yang berukuran 10 cm x 5 cm yang diletakkan pada bagian atas masing-masing ruang perlakuan, untuk menghindari lepasnya tikus dari arena perlakuan. Bahan-bahan arena perlakuan terdiri dari rangka yang terbuat dari kawat baja, dinding dari ram kawat, seng siku (les) dan pipa penghubung ruang perlakuan yang masing-masing memiliki panjang 100 cm dengan penghubung berbentuk huruf T sebanyak 2 buah sehingga membentuk persilangan pada bagian tengahnya. Dalam setiap kandang perlakuan diberi pakan standar berupa gabah dan air minum. Kandang kemudian ditutupi dengan terpal plastik yang telah dijahit membentuk kandang untuk menghindari cekaman (stress) hewan uji dan mencegah terjadinya bias bau yang dihasilkan oleh bahan repelen maupun lingkungan di sekitar tempat pengujian. Satu set arena perlakuan terdiri dari 4 ruang perlakuan.

Gambar ... . Arena perlakuan Keterangan:


1. Terpal

2. Papan pengalas 3. Kawat baja 4. Sambungan pipa T 5. Pipa paralon 6. Ram kawat 7. Kawat pengikat 8. Seng (les) 3.4. Pelaksanaan

Setelah didapat dari lapang, tikus diadaptasikan di ruang perlakuan selama 1 minggu. Sebelum perlakuan, tikus dipuasakan terlebih dahulu selama 24 jam di dalam arena yang telah dipersiapkan. Sebelum dipuasakan, tikus ditimbang satu persatu untuk mengetahui bobot awal perlakuan. Bahan repelen masing-masing sebanyak 1 ml diaplikasikan dalam bentuk resapan pada kertas saring dengan ukuran 3 cm x 5 cm dan sebanyak masing-masing 5 ml disemprotkan di ruang perlakuan. Selain berisi bahan repelen, pada kotak perlakuan berisi juga makanan tikus yaitu berupa gabah sebanyak masing-masing 100 g pada setiap kotak perlakuan, jumlah ini diperkirakan cukup untuk memenuhi kebutuhan makan tikus selama sehari. Pengujian dilakukan selama 10 jam, yaitu pada pukul 19.00 sampai dengan 05.00, hal tersebut disesuaikan dengan sifat tikus yang bersifat nocturnal atau aktif mencari makan di malam hari, dan penerangan ruang pengamatan dikurangi. Penggantian makanan dan bahan repelen dilakukan setiap hari selama 1 minggu. Penelitian ini menggunakan perlakuan tunggal dimana masing-masing repelen dibuat dengan menggunakan satu bahan dasar. Peletakan bahan repelen dan kontrol dilakukan secara acak untuk menghindari bias tempat, pada saat melakukan posisi perubahan letak repelen dan kontrol penutup terpal juga dipindah bersamaan dengan letak bahan repelen. Pemindahan terpal ini bertujuan untuk mencegah aroma atau bau yang menempel pada terpal yang dapat mempengaruhi perlakuan. 3.5. Peubah yang Diamati

Peubah yang diamati adalah tingkat konsumsi gabah setiap hari, perubahan bobot tikus dari awal hingga akhir pengujian. Kandang diperiksa setiap hari untuk mengetahui tingkat konsumsi gabah yang dilakukan dengan cara menimbang gabah yang tersisa, termasuk yang tercecer, baik gabah pada tempat perlakuan maupun kontrol. Selanjutnya gabah diganti dengan yang baru. Perubahan bobot tikus setelah perlakuan dibandingkan dengan bobot akhir perlakuan. Tingkat keefektifan repelen dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
TR (%)=KTR-KRKTR x 100%

Keterangan : TR

= Tingkat repelensi

KTR = Konsumsi tanpa repelen KR = Konsumsi dengan repelen 3.6. Rancangan Percobaan Rancangan percobaan yang digunakan untuk pengujian di laboratorium adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 ulangan. Masing-masing ulangan diamati setiap hari selama tujuh hari. Apabila hasil yang diperoleh berbeda nyata maka dilanjutkan dengan uji selang ganda Duncan pada taraf = 0,05 dan 0,01.