Anda di halaman 1dari 42

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Zat besi merupakan mineral yang diperlukan oleh semua sistem biologi di dalam tubuh. Besi merupakan unsur essensial untuk sintesis hemoglobin, sintesis katekotamin, produksi panas dan sebagai komponen enzim-enzim tertentu yang diperlukan untuk produksi adenasin trifosfat yang terlibat dalam respirasi sel (Jordan sue, 2004). Anemia Gizi Besi terutama banyak diderita oleh wanita hamil, wanita menyusui dan wanita usia subur pada umumnya Karena haid, hamil, melahirkan dan menyusui menyebabkan kebutuhan fe atau zat besi relative lebih tinggi.Kelompok yang rawan Anemia Gizi Besi adalah anak balita, anak usia sekolah dan buruh serta tenaga kerja berpenghasilan rendah ( Depkes, 2002 ). Diseluruh dunia frekuensi anemia dalam kehamilan cukup tinggi, berkisar antara 10% dan 20%, karena defisiensi makanan memegang peranan yang sangat penting dalam timbulnya anemia maka dapat dipahami bahwa frekuensi itu lebih tinggi lagi dinegara-negara yang sedang berkembang, dibandingkan dengan negara

yang sudah maju.frekuensi anemia dalam kehamilan setinggi 18,5%. Pseudonemia 57,9%, dan wanita hamil dengan HB 129/100 ml atau lebih sebanyak 23,6% HB ratarata 12,3 9/100 ml dalam trimester III. Hal ini disebabkan karena pengenceran darah menjadi makin nyata dengan lanjutnya umur kehamilan, sehingga frekuensi anemia dalam kehamilan meningkat (Prawirohardjo, 2002) Anemia defesiensi zat besi disebabkan oleh perdarahan kronik. di Indonesia paling banyak disebabkan oleh infestasi cacing tambang (ankilostomiasis). Infestasi cacing tambang pada seseorang dengan makanan yang baik tidak akan menimbulkan anemia. Bila disertai malnutrisi, baru akan terjadi anemia. Penyebab lain dari anemia defesiensi adalah diet yang tidak mencukupi, absorpsi yang menurun, kebutuhan yang meningkat pada kehamilan, perdarahan pada saluran cerna, menstruasi, donor darah, hemoglobunaria, dan penyimpangan busi yang berkurang (Mansjoer, 2001). Anemia pada kehamilan juga berhubungan dengan meningkatnya kesakitan ibu. Anemia karena defisiensi zat besi merupakan penyebab utama anemia pada ibu hamil di banding dengan defisiensi zat gizi lain. Oleh karena itu anemia gizi pada masa kehamilan sering diidentikkan dengan anemia Gizi Besi, bahwa sekitar 70% ibu hamil di Indonesia menderita anemia gizi,anemia defisiensi zat besi merupakan masalah gizi yang paling lazim di dunia dan menjungkili lebih dari 600 juta manusia. Prevalensi ibu-ibu hamil yang mengalami defisiensi besi sekitar 35,75%, serta semakin meningkat seiring dengan Badan kesehatan dunia (World Health Organization /WHO) melaporkan pertumbuhan usia kehamilan. Anemia defisiensi zat besi lebih cenderung berlangsung dinegara yang sedang berkembang daripada negara

yang sudah maju. 36% atau sekitar 1400 juta orang dari perkiraan populasi 3800 juta orang dinegara yang sedang berkembang menderita anemia jenis ini. Sedangkan prevalensi dinegara maju hanya sekitar 8% (atau kira-kira 100 juta orang) dari perkiraan populasi 1200 juta orang (Ningrum, 2009). Berdasarkan latar belakang diatas maka Peneliti ingin mengetahui tingkat pengetahuan ibu hamil tentang tablet zat besi selama kehamilan di klinik Bersalin Delima Belawan Tahun 2011

1.2 Perumusan Masalah Perumusan masalah ini adalah bagaimana tingkat pengetahuan ibu hamil tentang tablet zat besi selama kehamilan di kelinik bersalin Delima Belawan Tahun 2011.

1.3 1.3.1

Tujuan Penelitian Tujuan Umum Untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu hamil tentang tablet zat besi

selama kehamilan diklinik berasalin Delima Belawan Tahun 2011. 1.3.2 Tujuan Khusus

1.3.2.1 Untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu hamil tentang tablet zat besi selama kehamilan diklinik berasalin Delima Belawan Tahun 2011 berdasarkan umur

1.3.2.2 Untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu hamil tentang tablet zat besi selama kehamilan diklinik berasalin Delima Belawan Tahun 2011 berdasarkan pendidikan 1.3.2.3 Untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu hamil tentang tablet zat besi selama kehamilan diklinik berasalin Delima Belawan Tahun 2011 berdasarkan paritas

1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Bagi peneliti, untuk menambah wawasan dan pengetahuan tentang tablet zat besi selama kehamilan 1.4.2 Bagi institusi pendidikan, untuk menambah bahas referensi di perpustakaan dan sebagai referensi untuk penelitian selanjutnya dengan metode penelitian yang berbeda 1.4.3 Bagi institusi klinik, untuk dijadikan informasi dan masukan dalam meningkatkan pelayanan kesehatan, khususnya pemberian tablet zat besi selama kehamilan 1.4.4 Bagi responden, dapat menambah wawasan dan pengetahuan tentang tablet zat besi selama kehamilan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tablet Zat Besi


2.1.1 Pengertian Tablet Zat Besi Zat besi adalah salah satu unsur penting dalam proses pembentukan sel darah merah. Zat besi secara alamiah diperoleh dari makanan. Kemampuan zat besi dalam makanan sehari-hari secara berkelanjutan dapat menimbulkan penyakit anemia gizi atau yang dikenal masyarakat sebagai penyakit kurang darah (Desi Purwatisari, STP,2009 ). Zat besi adalah mineral yang dibutuhkan untuk membentuk sel darah merah (hemoglobin). Selain itu, mineral ini juga berperan sebagai komponen untuk membentuk mioglobin (protein yang membawa oksigen ke otot), kolagen (protein yang terdapat di tulang, tulang rawan dan jaringan penyambung), serta enzim (Pundinakes,2003).

2.1.2

Tanda Dan Gejala Anemia Zat Besi Tanda dan gejalanya biasanya tidak khas dan sering, misalnya pucat, mudah

lelah, berdebar, takikardia dan sesak napas. Kepucatan bisa diperiksa pada telapak tangan, kuku dan konjungtiva palpogra, dan tanda yang kurang khas berupa kelelahan

anoreksia kepekaan terhadap infeksi meningkat, kelainan perilaku tertentu, kinerja, intelektual serta kemampuan kerja menyusut (Prasetyono,2009).

2.1.3

Etiologi Sumber zat besi yang baik meliputi daging merah, telur dan sayuran seperti

bayam dan sereal atau biji-bijian yang utuh. Sumber zat besi gizi nabati hanya diserap l-2 %. Sedangkan tingkat penyerapan zat besi makanan asal hewani dapat mencapai 10-20 %. Tiga hingga sepuluh persen berlangsung dalam daedenum bagian proksimal tempat sel-sel mukosa mengatur episiensi penyerapan zat besi (Pundinakes,2003).

2.1.4

Cakupan Zat Besi Cakupan zat besi untuk remaja dan dewasa adalah 60 mg (anemia ringan)

sampai 120 mg (anemia berat) sedangkan cakupan zat besi selama kehamilan adalah : Trimester I Trimester II Pada ibu hamil Kebutuhan zat pemberian tablet selama Trimester III besi Kebutuhan zat besi selama akan meningkat

kehamilan kehamilan bertambah karena

zat besi ini tidak semakin terlalu karena menyebabkan penting seiring

bayi

menggunakan

bertambahnya simpanan mineral pada tubuh.

akan kebutuhan janin dalam Ekstra zat besi diperlukan pada kandungan dan biasanya kehamilan. Kebutuhan zat besi pada kehamilan adalah :
a.

"morning sicness" di berikan 6,3 mg/hari. atau mulai muntah

200 - 600 mg :

di pagi hari dan biasanya konsumsi sedikit mg/hari. di relatif 0,8


b.

untuk peningkatan darah merah

memenuhi massa sel

yaitu

200 - 370 mg : untuk bergantung lahirnya janin pada yang berat

c.

150 - 200 mg : untuk kehilangan eksternal

d.

30 - 170 mg : untuk tali pusat dan plasenta

e.

90 - 310 mg : untuk menggantikan darah yang hilang saat melahirkan

Dengan demikian, kebutuhan total zat besi pada kehamilan berkisar antara 580 -1.340 dan 440-105 mg diantaranya akan hilang dalam tubuh ibu pada saat melahirkan (Atikah

Proverawati,2009.

2.1..5 Fungsi Zat Besi Bagi Tubuh Berdasarkan fungsinya zat besi secara umum dapat disederhanakan sebagai berikut Zat besi penghasil energi yang karbohidrat, lemak dan protein. Zat gizi penghasil energi sebagian besar dihasilkan oleh makanan pokok seperti padi-padian, umbi-umbian, sagu dan pisang.Zat gizi pembangun sel terutama diperoleh dari protein yang dihasilkan ikan, ayam, telur, daging, susu, kacang-kacangan dan hasil olahannya seperti tahu, tempe.Zat gizi pengatur terdiri atas vitamin dan mineral yang diperoleh dari sayuran dan buahan (Prasetyono,2011).

2.1.6 Cara Pemberian Zat Besi 2.1.6.1 Pemberian Zat Besi Secara Oral Zat besi tablet bentuknya seperti tablet sulpas perosus yang dikeringkan merupakan prevarat yang paling sering diberikan, karena tablet ini di angap sama efektifnya seperti produk lainya dan juga lebih murah. Tablet fero fumarat mengandung zat besi dengan proporsi yang sama dan mungkin memberikan efek samping yang lebih sedikit. Tablet feroglukonas mengandung zat besi dalam jumlah yang lebih sedikit dan akibatnya lebih jarang menimbulkan efek samping gastro instestinal ( Soejordan,2003). Zat besi dalam bentuk cair lebih mudah dibandingkan bentuk tablet, tetapi formula ini bisa menodai gigi. Zat besi cair harus diberikan dengan meneteskannya

pada bagian posterior tenggorok dengan aplikator yang tepat atau (sebagai pilihan kedua) dengan pipa sedotan. Zat besi cair dapat diencerkan dengan jus jeruk atau air sesudah setiap kali pemberian, mulut harus dicuci dengan air (kumur-kumur). Noda pada gigi dapat dibersihkan dengan larutan soda kue atau obat pencuci mulut hidrogen peroksid ( Soejordan,2003). 2.1.6.2 Zat Besi Parental Zat besi preparat parental kadang-kadang digunakan pada wanita dengan kelainan gastrointestinal atau pada wanita yang tidak dapat menyerap atau menelan tablet zat besi karena sebab lain ( Soejordan,2003).

2.1.7

Cara Tubuh Menangani Zat Besi

Absorbsi zat besi mengalami peningkatan jika terdapat asam di dalam lambung keberadaan ini dapat di tingkatkan dengan Minum tablet zat besi dengan makan daging atau ikan yang menstimulasi produksi asam lambung.Memberikan tablet zat besi bersama tablet asam askrobat (vitamin C) 200 mg atau bersama jus jeruk (Prasetyono,2011).

2.1.8

Efek Samping Terapi Zat Besi Efek Samping Gastrointestinal

2.1.8.1

Suplemen oral zat besi dapat menyebabkan mual, muntah kram, lambung, nyeri uluhati dan kanstipasi (kadang-kadang diare) namun derajat mual yang

10

ditimbulkan oleh setiap preparat bergantung pada jumlah olemen zat besi yang diserap. Takaran zat besi diatas 60 mg (200 mg sulfas ferosus kering) dapat menimbulkan efek samping yang tidak bisa diterima pada ibu hamil sehingga terjadi ketidak patuhan dalam pemakaian obat.Minum tablet zat besi pada saat makan atau segera sesudah makan dapat mengurangi gejala mual yang menyertainya tetapi juga akan menurunkan jumlah zat besi yang diabsorpsi.Untuk mengurangi konstipasi Minum 2 liter cairan setiap harinya,Makan buah dan sayuran segar.Mengkonsumsi banyak serat dengan interval 2 jam dari tablet zat besi.Melakukan excercis secara teratut (Arif Mansyur, 2001). 2.1.8.2 Defisiensi Mikronutrien Absorpsi zink dan kalsium dapat menurun dengan pemberian tablet zat besi. Gangguan keseimbangan zink lebih cenderung terjadi pada vegetarian, perokok dan peminum berat: Zat besi dapat meningkatkan kebutuhan terhadap mikro nutrien lain dengan monstimulasi pembentukan sel darah merah yang juga meningkatkan kebutuhan tubuh terhadap asam folat (Arif Mansyur, 2001).

2.1.9 Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan awal HB (darah) yang dilakukan adalah pemerikasaan darah tepi lengkap, sedian apus darah tepi, pengukuran konsentrasi besi serum atau peritin serum. Gambaran marpologi eritrosit mikrositit, hipokrom lebih jarang ditemukan pada wanita hamil dari pada wanita tidak hamil denga HB yang sama. Diagnosis pada wanita dengan anemia biasanya berdasarkan penghapusan penyebab anemia lain. Jika

11

wanita tersebut diberikan terapi besi adekuat terdapat peningkatan hitung retikulosit (Media Aesculapius, 2001). Defesiensi fe berlangsung secara bertahap dan lambat. Pada tahap pertama yang terjadi adalah penurunan simpanan fe terjadi anemia tetapi belum terjadi perubahan pada ukuran sel darah merah. Fetin ferum menjadi rendah kurang dari 30 mg/ml sementara total iron Binding Capacity (TIBC) serum meningkat dan untuk mendiagnosis antikilastomiasis perlu pemeriksaan tinja (Husrifatul Uliyah,2008).

2.1.10 Penatalaksanaan Pemberian preparat fe dapat mencegah dan mengobati terjadinya anemia yang disebabkan defisiensi zat besi seperti :
Minum 2 liter cairan setiap harinya fero sulfat 3 x 3.25 mg secara oral bertahap

pada pasien yang tidak kuat dapat diberikan bersama makanan.


Ferogiukonat 3 x 200 mg secara oral sehabis makan. Bila terdapat intoleransi

terhadap pemberian dalam keadaan perut kosong dapat dimulai dengan dosis yang rendah dan dinaikkan preparat fe oral atau gangguan pencernaan sehingga tidak dapat diberikan oral dapat diberikan secara parental dengan dosis 250mg Fe(3 mg/kg BB) untuk setiap 9% penurunan kadar Hb diatas normal. Iron deksiran mengandung fe 50 mg/ml diberikan secara Im

12

2.2

Kehamilan

2.2.1 Defenisi Kehamilan Kehamilan adalah pertumbuhan dan perkembangan janin intra uterin, mulai sejak konsepsi dan berakhir sampai permulaan persalinan (Manuaba, 1998). Lamanya hamil normal adalah 280 hari (40 minggu) dihitung dari hari pertama haid terakhir, kehamilan dibagi 3 triwulan pertama dimulai konsepsi sampai 3 bulan, triwulan kedua dari bulan keempat sampai 6 bulan, triwulan ketiga dari bulan ke 7 sampai 9 bulan. ( Dwi, 2010 ).

2.3 Pengetahuan 2.3.1 Defenisi Pengetahuan Pengetahuan adalah hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang yang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia yaitu indera pengelihatan, pendengaran, penciuman, perasa, dan raga. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (Notoadmodjo, 2003). Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin di ukur dari subjek penelitian atau

13

responden ke dalam pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur. Dan dapat kita sesuaikan dengan tingkatan-tingkatan tersebut di atas (Notoadmojo, 2003).

2.3.2Klasifikasi Pengetahuan Dapat di klasifikasikan menurut Notoadmodjo, Tahun 2003. 2.3.2.1. Tahu (Know) Tahu diartikan sebagai pengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya, termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) terdapat suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang di pelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu adalah merupakan tingkatan yang paling rendah, kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain menyebutkan, menguraikan, mendefenisikan dan pertanyaan. 2.3.2.2 Memahami (Compreshension) Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterpretasikan materi secara benar, orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan, terhadap objek yang di pelajari.
2.3.2.3 Aplikasi (Application)

Aplikasi dapat diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi yang sebenarnya. Aplikasi di sini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip dalam konteks atau situasi lain.

14

2.3.2.4 Analisis (Analysis) Analisis adalah menjabarkan suatu materi atau suatu objek keadaan komponen-komponen tetapi masih di dalam struktur organisasi tersebut dan masih kaitanya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja seperti dapat menggambarkan, membedakan, mengelompokan, dan sebagainya. 2.3,2.5 Sintesis (Synthesis) Sintesis dapat diartikan sebagai kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada. Misalnya, dapat menyusun, dapat merencanakan, dapat meningkatkan, dapat menyesuaikan dan sebagainya terhadap suatu teori atau rumusan-rumusan yang telah ada.
2.3.2.6

Evaluasi (Evaluation) Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan penilaian

terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian tersebut berdasarkan suatu kriteria yang telah ada. Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responden ke dalam pengetahuan yang ingin kita ketahui atau dapat kita sesuaikan dengan tingkatan-tingkatan tersebut di atas.

2.3.3. Faktor-faktor yang mempengaruhi Pengetahuan 1.Umur

15

Umur adalah individu yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai saat beberapa tahun.Semakin cukup umur tingkat pematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berpikir dan bekerja dari segi kepercayaan masyarakat yang lebih dewasa akan lebih percaya dari pada orang belum cukup tinggi kedewasaannya.Hal ini sebagai akibat dari pengalaman jiwa (Nursalam,2001). Umur adalah indeks yang menempatkan individu-individu dalam urutan perkembangan.Umur mempengaruhi tingkat pengetahuan seseorang,semakin

bertambah umur seseorang semakin bertambah pula pengalaman dan pengetahuan seseorang yang diperolehnya (Hurlock,2004) Usia adalah waktu yang mengukur waktu berdasarkan satu benda atau mahluk hidup maupun mati misalnya umur manusia dikatakan 15 tahun diukur sejak dia lahir sehingga waktu umur itu dihitung,oleh karena itu umur itu diukur dari mulai dia lahir sampai sekarang ini(Weliono,2002)

2.Pendidikan Tingkat pendidikan berarti bimbingan yang diberikan oleh seseorang terhadap perkembangan orang lain menuju kearah satu cita-cita tertentu (Nursalam,2001) Pendidikan adalah salah satu usaha untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan didalam dan diluar sekolah dan berlangsung seumur hidup

(Notoatmojo,2003) Pendidikan mempengaruhi proses belajar,makin tinggi pendidikan seseorang

16

makin mudah orang tersebut menerima informasi. Dengan pendidikan tingi maka orang akan cenderung untuk mendapatkan informasi baik dari orang lain maupun dari media massa (Nursalam,2001)

3.Paritas Paritas adalah jumlah persalinan yang pernah dialami seorang wanita sampai kehamilan sekarang yang dikategorikan menjadi :

Primi para adalah dimana ibu yang melahirkan anak hidup pertama kali

Multi para adalah ibu yang melahirkan anak hidup dua kali dan kurang dari 5 kali

Grande multi para adalah ibu yang melahirkan anak hidup lebih dari 5 kali

Paritas 2-3 kali merupakn paritas paling aman ditinjau dari sudut kematian maternal(Manuaba,2008) Paritas adalah frekuensi ibu melahirkan (Prawirohardjo,2008) Paritas adalah jumlah anak yang dilahirkan ibu dengan kata lain berapa kali ibu melahirkan, frekuensi mempunyai pengaruh terhadap tingginy pengetahuan seseorang . memperoleh anak dalam keluarga (Hendra,2006)

17

BAB 3 METODE PENELITIAN


3.1 Jenis Penelitian Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriftip dengan pendekatan cross sectional untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu tentang tablet zat besi selama kehamilan di Klinik Bersalin Delima Belawan Tahun 2011. 3.2 Kerangka konsep Kerangka Konsep penelitian ini untuk pengetahuan ibu tentang table zat besi selama kehamilan di Klinik Bersalin Delima Belawan tahun 2011. Pengetahuan ibu hamil Umur Pendidikan Paritas Tablet zat besi Gambar 3.2Kerangka konsep 3.3 Defenisi Operasional 3.3.1 Pengetahuan ibu hamil tentang tablet zat besi adalah tingkat pengetahuan ibu hamil tentang tablet zat besi saat dilakukan penelitia ini kategori Kategori:Baik: jika responden mendapat skor 76%-100% dari 20

pernyataan yang di ajukan (jika responden menjawab pernyataan dengan benar sebanyak 16-20 pernyataan)

18

- Cukup : J ika responden mendapat skor 60% - 75% dari 20 pernyataan yang di ajukan ajukan (jika responden menjawab pernyataan dengan benar sebanyak 12-15 pernyataan) - Kurang : jika responden mandapat skor 0-59% dar 20 pernyataan

yang diajukan (jika responden menjawab pernyataan dengan benar sebanyak 0-11 pernyataan) Skala ukur : Ordinal 3.3.1.1 Umur adalah jumlah tahun kehidupan yang dijalani responden di hitung sejak lahir sampai penelitian dilakukan 3.3.1.2 Pendidikan adalah pendidikan terakhir yangpernah di selesaikan responden 3.3.1.3 Paritas adalah jumlah persalinan yang lalu yang pernah di alami oleh responden sampai dilakukanya penelitian ini.

3.4 Lokasi dan Waktu Penelitian 3.4.1 Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di Klinik Bersalin Delima Belawan. Pemilihan lokasi penelitian tersebut dilakukan atas pertimbangan bahwa lokasi penelitian merupakan lahan praktek belajar Akademi Kebidanan Darmo Medan, sehingga memudahkan peneliti dalam pengambilan data di Klinik Bersalin Delima Belawan karena sudah ada kerja sama dengan Klinik Bersalin Delima Belawan. 3.4.2 Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan mulai mei juli 2011

19

Tabel 3.4 Rincian Kegiatan Penelitian Berdasarkan Waktu


No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Kegiatan Pengajuan Judul Pengajuan Proposal Pengajuan Izin Lokasi Pengumpulan Data Pengolahan Dara Analisa Data Penyusunan Hasil Penelitian Bimbingan dengan Dosen Pembimbing Seminar Hasil Perbaikan Hasil Mei Juni Juli 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

3.5

Populasi dan Sampel

3.5.1. Populasi Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu hamil yang datang pada saat dilakukan penelitiandi Klinik Bersalin Delima Belawan Tahun 2011 sebanyak 30 orang 3.5.2. Sampel Sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah seluruh ibu hamil yang datang pada saat dilakukan penelitian di Klinik Bersalin Delima Belawan Tahun 2011 sebanyak 30 orang.

3.5.3 Teknik sampling Teknik pengambilan sampel dengan cara norandom sampling menggunakan tehnik asidental sampel dimana pengambilan sampel dilakukan dengan mengambil

20

kasus dengan responden yang kebetulan ada yang tersedia diklinik Bersalin Delima Belawan pada saat dilakukan penelitian Tahun 2011 yaitu sebanyak 30 orang..

3.6. Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data primer diperoleh dari hasil wawancara dengan menggunakan alat bantu kuesioner. Yang berisi data demografi dan 20 peryataan yang akan diisi dan dijawab oleh responden dengan benar maka terlebih dahulu dilakukan uji instrumen (kuesioner) yang bertujuan untuk memastikan bahwa alat bantu (kuesioner) memiliki validitas dan reabilitas pada kuesioner pasien uji validitas dilakukan dengan mengukur korelasi antara masing-masing item peryataan dengan skor total yang mengunakan rumus korelasi Pearson Product Moment (r). uji reliabilitas dilakukan dengan mengunakan uji Statistic Crombrach Alpha. Setelah uji validitas dan reabilitas dilakukan maka diperoleh r
hitung

(0,517-0,297) > r tabel (0,444)

sehingga dapat disimpulkan bahwa rumus pernyataan valid maka diperoleh Crombrach Alpha sebesar 0,817 > r kuisioner yang dugunakan reliable.
tabel

(0,444) maka dapat disimpulkan bahwa

21

Sebelum peneliti membuat kuesioner terlebih dahulu membuat kisi-kisi kuesioner. Tabel 3.6 Kisi-kisi kuesioner No . 1 Variabel penelitian Pengetahua n ibu tentang tablet zat besi -Baik -Cukup -Kurang Indikator Umur: -15-19 thn -20-35 thn -36-40 thn Pokok bahasan Tablet zat besi Sub pokok bahasan a.pengertian b.tanda dan gejala c.etiologi d.cakupan e.pemberian parentral f.efek samping g.cara menangani h.penatalaks anaan Item pernyataan 1,2 3,4 5,6,7 8,9 10,11 12,13 14,15,16 17,18,19,20 Jumlah pernyataan

Pendidikan: -SD -SMP -SMA -Perguruan tinggi

Paritas : Primi para - skundi para - Multi para - Grande multi para

22

3.7 Metode Pengukuran 3.7.1 Metode Pengukuran Pengetahuan Kategori Skala Baik Ordinal Cukup Kurang Umur 15-19 Interval 20-35 36-40 Pendidikan SD Ordinal SMP SMA Perguruan tinggi Paritas Primi para Nominal Skundi para Multi para Grande multi para Tabel 3.7.1 Metode Pengukuran Pengetahuan 3.8 Pengolahan Data Data yang telah dikumpulkan diolah secara manual dengan langkah-langkah sebagai berikut: 3.8.1 Editing atau mengedit data Bertujuan mengevaluasi kelengkapan, kinsistensi, dan kesesuaian kriteria Variabel Pengetahuan

data yang diperlukan untuk menjawab tujuan penelitian, apabila terdapat kesalahan atau kekurangan dalam pengumpulan data yang diperbaiki dengan memeriksa dan melakukan pendataan ulang. 3.8.2 Proses Tabulating Untuk mempermudah analisa data dalam pengelolahan serta kesimpulan data dimasukkan kedalam bentuk distribusi frekuensi.

23

3.8.3 Coding Data yang telah dieditkan kemudian diubah kedalam bentuk angka analisa data yang dilakukan secara deskriftif dengan menilai presentase data yang dikumpulkan dan yang disajikan dalam bentuk tabel-tabel frekuensi analisa dapat dilakukan dengan membahas hasil penelitian dengan mengunakan teori dan kepustakaan yang ada.

3.9 Analisa Data Analisa data dilakukan secara deskriptif dengan melihat persentase data yang telah terkumpul dan dinyatakan dalam tabel distribusi frekuensi analisa data dilanjutkan dengan membahas hasil penelitian frekuensi dengan menggunakan teori dan kepustakaan yang ada dari semu akan dapat diambil suatu kesimpulan.

24

BAB 4 HASIL PENELITIAN 4.1. Deskripsi Lokasi Penelitian Klinik Bersalin Delima adalah salah satu tempat pelaksanaan pelayanan kesehatan dikota madya medan yang siap melayani masyarakat khususnya ibu hamil yang bertujuan untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu hamil dan janin dalam masa persalinan. Klinik Delima Medan terletak di jalan Medan Km. 21,5 No. 8 Belawan Provinsi Sumatra utara, klinik delima belawan berbatrasan dengan: 1. Sebelah utara 2. Sebelah barat 3. Sebelah selatan 4. Sebelah timur : Surya minimarket : Rel kereta api : Pelabuhan : Kantor perikanan

Klinik Delima Belawan terdiri dari 9 ruangan yaitu ruangan administrasi, ruang IGD, ruang USG/PIH, ruang obname, ruang bersalin,ruang nifas, rungan gigi, ruang tunggu, dan apotik. Klinik Delima Belawan melayani pemeriksaan pada ibu hamil (ANC), ibu bersalin, KB, imunisasi, gigi dan sakit umum. Selain pasien umum diklinik ini juga menerima pasien jamsostek untuk pelayanan pemerikasaan ibu hamil (ANC).

25

4.2. Hasil Penilitian Setelah dilakukan penelitian mengenai tingkat pengetahuan ibu hamil baik dari segi umur, pendidikan, dan paritas tentang tablet zat besi selama kehamilan dilkinik bersalin delima belawan medan diperoleh 30 responden yang hadir pada saat dilakukan penelitian, hasil penelitian ini disajikan dalam bentuk tabel distribusi dan narasi dapat dilihat dari penelitian dibawah ini: 4.2.1. Umur Variable umur dikategorikan menjadi tiga kategori : 1) 15-19 tahun, 2) 20-35 tahun, 3) 36-40 tahun. Distribusi responden berdasarkan umur disajikan dalam tabel 4.2.1 Tabel 4.2.1 Distribusi responden berdasarkan umur tentang tablet zat besi selama kehamilan diklinik bersalin delima belawan 2011 No 1 2 3 Umur 15-19 Tahun 20-35 Tahun 36-40 Tahun Jumlah Jumlah 4 5 21 30 Persetase 13,33% 16,67% 70 % 100 %

Dari tebel diatas dapat dilihat bahwa distribusi mayoritas frekuensi umur ibu hamil terbesar umur 36-40 Tahun sebanyak 21 responden (70%) , minoritas terkecil 15-19 Tahun sebanyak 4 responden (13,33%).

26

4.2.2. Pendidikan Variable pendidikan dikategorikan menjadi empat kategori: 1) SD, 2) SMP, 3) SMA, 4) Perguruan Tinggi. Distribusi responden berdasarkan pendidikan disajikan dalam tabel 4.2.2 Tabel 4.2.2 Distribusi responden berdasarkan pendidikan tentang tablet zat besi selama kehamilan diklinik bersalin delima belawan 2011 No 1 2 3 4 Pendidikan SD SMP SMA PERGURUAN TINGGI Jumlah Jumlah 4 4 8 14 30 Persetase 13,33% 13,33 % 26,67% 46,67% 100%

Dari tebel diatas dapat dilihat bahwa distribusi mayoritas rerkuensif pendidikan ibu hamil terbesar perguruan tinggi sebanyak14 responden (46,67%) , minoritas terkecil SD,SMP sebanyak 4 responden (13,33%). 4.2.3. Paritas Variable paritas dikategorikan menjadi empat kategori: 1) primi, 2) Skundi para 3) Multi para 4) Grande para. Distribusi responden berdasarkan paritas disajikan dalam tabel 4.2.3

27

Tabel 4.2.3 Distribusi responden berdasarkan paritas tentang tablet zat besi selama kehamilan diklinik bersalin delima belawan 2011 No 1 2 3 4 Paritas Primi Skundi para Multi para Grande para Jumlah Jumlah 4 6 8 12 30 Persetase 13,33 % 20 % 26,67% 40 % 100%

Dari tebel diatas dapat dilihat bahwa distribusi mayoritas frekuensi paritas ibu hamil terbesar Grande para sebanyak 12 responden (40 %) , minoritas terkecil Primi para sebanyak 4 responden (13,33%). 4.2.4. Pengetahuan Setelah dilakukan penelitian tingkat pengetahuan dibagi menjadi tiga kategori: 1) Umur 2), Pendidikan, 3) Paritas ibu hamil tentang tablet zat besi selama kehamilan di klinik bersalin delima belawan dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel. 4.2.4. Distribusi responden berdasarkan tingkat pengetahuan ibu hamil tentang tablet zat besi selama kehamilan di Klinik Bersalin Delima Belawan Medan. No 1 2 3 Pengetahuan Baik Cukup Kurang Jumlah Jumlah 17 12 1 30 Persetase 56,67 % 40 % 3,33 % 100 %

Dari tebel diatas dapat dilihat bahwa distribusi frekuensi terbesar dari tingkat pengetahuan ibu hamil tentang tablet zat besi selama kehamilan di klinik bersalin delima belawan berjumlah 30 responeden, mayoritas berpengetahuan baik sebanyak

28

17 responden (56,67 %), minoritas berpengetahuan kurang sebanyak 1 responden (3,33%). Tabel. 4.2.4.1 Distribusi responden berdasarkan tingkat pengetahuan ibu hamil dari segi umur tentang tablet zat besi selama kehamilan di Klinik Bersalin Delima Belawan 2011. No 1 2 3 Jlh Umur 15-19 Tahun 20-35 Tahun 36-40 Tahun Baik F % 2 6,67 3 12 17 10 40 56,67 Pengetahuan Cukup Kurang F % F % 1 13,33 1 3,33 2 9 12 6 ,67 30 40 1 3,33

Jlh 4 5 21 30

% 13,33 16,67 70 100

Dari tebel diatas dapat dilihat bahwa distribusi frekuensi tingkat pengetahuan ibu hamil tentang tablet zat besi berdasarkan umur selama kehamilan di klinik bersalin delima belawan medan, mayoritas berpengetahuan baik pada umur 36-40 Tahun sebanyak 12 responden (40%), minoritas berpengetahuan kurang pada umur 15-19 Tahun sebanyak 1 responden (3,33%). Tabel.4.2.4.2 Distribusi responden berdasarkan tingkat pengetahuan ibu hamil dari segi pendidikan tentang tablet zat besi selama kehamilan di Klinik Bersalin Delima Belawan 2011. No 1 2 3 4 Jlh Pendidikan SD SMP SMA P.Tinggi Baik % 0 3 10 6 20 8 26,67 17 56,67 F Pengetahuan Cukup Kurang F % F % 3 10 1 3,33 1 3,33 2 6,67 6 20 12 40 1 3,33

Jlh 4 4 8 14 30

% 13,33 13,33 26,67 46,67 100

29

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa distribusi frekuensi tingkat pengetahuan ibu hamil tentang tablet zat besi berdasarkan pendidikan selama kehamilan di klinik bersalin delima belawan medan, mayoritas berpengetahuan baik pada Perguruan Tinggi sebanyak 8 responden (26,67 %), minoritas berpenpetahuan kurang pada SD sebanyak 1 responden (3,33%). Tabel.4.2.4.3 Distribusi responden berdasarkan tingkat pengetahuan ibu hamil dari segi paritas tentang tablet zat besi selama kehamilan di Klinik Bersalin Delima Belawan 2011. No 1 2 3 4 Jlh Paritas Primi Skundi Multi Grande fara Baik % 0 4 13,33 5 16,67 8 26,67 17 56,67 F Pengetahuan Cukup Kurang F % F % 3 10 1 3,33 2 6,67 3 10 4 13,33 12 40 1 3,33

Jlh 4 6 8 12 30

% 13,33 20 26,67 36,66 100

Dari tebel diatas dapat dilihat bahwa distribusi frekuensi tingkat pengetahuan ibu hamil tentang tablet zat besi berdasarkan paritas selama kehamilan di klinik bersalin delima belawan medan, mayoritas berpengetahuan baik pada Grande para sebanyak 8 responden (26,67%), minoritas berpengetahuan kurang pada Primi para sebanyak 1 responden (3,33%).

30

BAB 5 PEMBAHASAN 5.1. Pembahasan Dari hasil penelitian tingkat pengetahuan ibu hamil baik dari segi umur, pendidikan, paritas tentang tablet zat besi selama kehamilan di klinik bersalin delima belawan medan maka pembahasannya adalah sebagai berikut: 5.1.1. Pegetahuan Dari hasil penelitian dapat dilihat bahwa distribusi frekuensi terbesar dari tingkat pengetahuan ibu hamil tentang tablet zat besi selama kehamilan di klinik bersalin delima belawan berjumlah 30 responeden, mayoritas berpengetahuan baik sebanyak 17 responden (56,67 %), minoritas berpengetahuan kurang sebanyak 1 responden (3,33%). Hasil penelitian sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Notoatmodjo yang mengemukakan bahwa pengetahuan adalah merupakan hasil tahu dan terjadi setelah indra manusia yakni indra pengelitan, pendegaran, penciuman, rasa, dan raba sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melaluai mata dan teliga. Menurut asumsi penulis dari 30 responden mayoritas responden yang

berpengetahuan baik sebanyak 17 responden (56,67 %) hal ini karena responden sering memeriksakan kehamilanya ke petugas kesehatan dan besarnya kemauan responden untuk membaca brosur-brosur kesehatan tentang tablet zat besi selama kehamilan yang diperoleh dari klinik bersalin delima belawan selesai melakukan pemerikasaan kehamilan.

31

5.1.1.1 Pengetahuan berdasarkan umur Dari hasil penelitian dapat dilihat bahwa distribusi frekuensi tingkat

pengetahuan ibu hamil tentang tablet zat besi berdasarkan umur selama kehamilan di klinik bersalin delima belawan medan, mayoritas baik 36-40 Tahun sebanyak 12 responden (40%), minoritas kurang 15-19 Tahun sebanyak 1 responden (3,33%). Hasil penelitian sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh (Hurlock,2004) bahwa umur juga mempegaruhi indeks yang menempatkan individu-individu dalam urutan perkembangan.Umur mempengaruhi tingkat pengetahuan seseorang,semakin bertambah umur seseorang semakin bertambah pula pengalaman dan pengetahuan seseorang yang diperolehnya. Menurut asumsi penulis dari 30 responden mayoritas responden yang

berpengetahuan baik dari segi umur 36-40 tahun sebanyak 12 responden (40 %) sesuai dengan hasil penelitian bahwa semakin bertambahnya umur maka semakin bertambah pula tingkat pengetahuan seseorang yang diperolehnya tentang tablet zat besi selama kehamilan. 5.1.1.2 Pengetahuan Berdasarkan Pendidikan Dari hasil penelitian dapat dilihat bahwa distribusi frekuensi tingkat pengetahuan ibu hamil tentang tablet zat besi berdasarkan pendidikan selama kehamilan di klinik bersalin delima belawan medan, mayoritas baik Perguruan Tinggi sebanyak 8 responden (26,67 %), minoritas kurang SD sebanyak 1 responden (3,33%).

32

Hasil penelitian sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh (Nursalam,2001) bahwa pendidikan juga mempengaruhi proses belajar,makin tinggi pendidikan seseorang makin mudah orang tersebut menerima informasi. Dengan pendidikan tingi maka orang akan cenderung untuk mendapatkan maupun dari media massa Menurut asumsi penulis dari 30 responden mayoritas responden yang informasi baik dari orang lain

berpengetahuan baik dari segi pendidikan perguruan tinggi sebanyak 8 responden ( 26,67 %) hal ini karena sesuai dengan hasil penelitian bahwa semakin tinggi pendidikan seseorang maka semakin mudah orang tersebut menerima informasi tentang tablet zat besi selama kehamilan. 5.1.1.3 Pengetahuan Berdasarkan Paritas Dari hasil penelitian dapat dilihat bahwa distribusi frekuensi tingkat pengetahuan ibu hamil tentang tablet zat besi berdasarkan paritas selama kehamilan di klinik bersalin delima belawan medan, mayoritas baik Grande muliti fara

sebanyak 8 responden (26,67%), minoritas kurang Primi sebanyak 1 responden (3,33%). Hasil penelitian sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh (Hendra,2006) bahwa paritas jug mempengaruhi yaitu jumlah anak yang dilahirkan ibu dengan kata lain berapa kali ibu melahirkan, frekuensi melahirkan mempunyai pengaruh terhadap tingginya pengetahuan seseorang memperoleh anak dalam keluarga Menurut asumsi penulis dari 30 responden mayoritas responden yang

berpengetahuan baik dari segi paritas Grande Multi fara sebanyak 8 responden

33

( 26,67 %) hal ini karena sesuai dengan hasil penelitian bahwa semakin sering ibu hamil dan melahirkan seorang anak maka akan akan berpengaruh terhadap tingginya pengetahuan seorang ibu dalam memperoleh anak dalam keluarga tentang tablet zat besi selama kehamilan.

34

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN 6.1. Kesimpulan Dari hasil pembahasan tentang tingkat pengetahuan ibu hamil baik dari segi umur, pendidikan dan paritas tentang tablet zat besi selama kehamilan dapat disimpulkan bahwa:
6.1.1 Dari 30 responden yang berpengetahuan mayoritas baik

sebanyak17 responden (56,67%) berpengetahuan minoritas kurang sebanyak 1 responden (3,33%). Dari hasil penelitan yang didapat bahwa pengetahuan ibu hamil tentang tablet zat besi selama kehamilan adalah baik.
6.1.2 Dari 30 responden mayoritas yang berpengetahuan baik pada

umur 36-40 Tahun sebanyak 12 responden (40%), minoritas yang berpengetahuan kurang pada umur 15-19 Thn sebanyak 1 responden (3,33%).
6.1.3

Dari

30

responden baik

pendidikan

mayoritas

yang

berpengetahuam

pada Perguruan Tinggi sebanyak 8

responden (26,67 %), minoritas berpengetahuan kurang pada SD sebanyak 1 responden (3,33%).
6.1.4 Dari 30 responden mayoritas yang berpengetahuan baik

Grande fara sebanyak 8 responden (26,67%), minoritas yang

35

berpengetahuan kurang Primi para sebanyak 1 responden (3,33%).

6.2. Saran 6.2.1. Bagi Responden Diharapkan kepada ibu hamil diklinik bersalin delima belawan mengkonsumsi tablet zat besi selama kehamilan. 6.2.2. Bagi Institusi Pendidikan Diharapkan kepada institusi agar karya tulis ilmiah ini dapat digunakan sebagai bahan bacaan dan menambah wawasan mahasiswi Akademi Kebidanan Darmo Medan 6.2.3 Bagi Peneliti Selanjutnya Diharapkan bagi peneliti selanjutnya agar dapat melanjutkan penelitian ini ditempat lain dengan jumlah sampel yang lebih banyak dan jenis penelitian yang berbeda agar hasil yang didapat lebih baik dan memuskan. 6.2.4. Untuk Klinik Bersalin
a. Diharapkan kepada tenaga kesehatan yang ada diklinik bersalin

untuk tetap

delima belawan untuk lebih meningkatkan konseling tentang tablet zat besi selama kehamilan sehingga pengetahuan ibu hamil bertambah baik.

36

DAFTAR PUSTAKA
Jordan Sue, 2004. Farmakologi Kebidanan,Jakarta:EGC Manjoer Arif, 2002. Kapita Selekta Kedokteran Jilid I, Jakarta: Media Aesculapius Curtis B. Glade, 1999. Kehamilan Diatas Usia 30,Jakarta:ARCAN Karyadi Darwin, 2000. Kecakapan Gizi Yang Dianjurkan, Jakarta PT.Gramedia Notoadmojo, S. 2002. Ilmu Kesehatan Masyarakat, Jakarta:PT. Rineka, Notoadmodjo,S.2002. Metodologi Penelitian Kebidanan, Jakarta: PT. Rineka Prawirohardjo, 2005. Ilmu Kebidanan,Jakarta:yayasan bina pustaka Depkes RI, 2003. Asuhan Antenatal, JHPIEGO Hani. U, 2011. Asuhan Kebidanan Pada Kehamilan Fisiologis, Jakarta:Salemba Medika Uliah. M, 2008. Keterampilan Dasar Praktik Klinik Untuk Kebidanan, Jakarta: Salemba Medika Solihah. L, 2011, Panduan Lengkap Hamil Sehat, Jakarta: Diva Press Muliarni. P, 2010. Pola Makan Selama Kehamilan, Jakarta: Muhamedika

37

Purwitasari. P, 2009. Buku Ajar Gizi Dalam Kesehatan Reproduksi, Jakarta: Muhamedika Pranci. E, 2004. Gizi Dalam Kesehtan Reproduksi, Jakarta: EGC Kritiana Sari. W, 2010. Gizi Ibu Hamil, Yogjakarta: Muhamedika Supriyanto. W, 2009. Sehat Dan Bugar Sahat Hamil Dan Melahirkan, Yogjakart: Media Ilmu Prasetyono.D. 2010. Lengkap Menu Sehat Hamil, Jakarta: Garailmu Prasetyono.D. 2009. Mengenal Menu Sehat Ibu Hamil, Jakarta: Garailmu Proverawati, A. 2009. Buku Ajar Gizi Untuk Kebidanan, Jakarta: Muhamedika Arikunto, 2010. Metodologi Penelitian Kebidanan, Jakarta: Rineka Cipta Chandrawinata. 2005. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan KB, Jakarta:EGC

38

Lampiran 1

SURAT PERNYATAAN MENJADI RESPONDEN

Berdasarkan permintaan dan permohonan serta penjelasan peneliti yang sudah di sampaikan pada saya.maka akan di tentukan pengetahuan ibu hamil tentang zat besi selama kehamilan di Kinik Delima Belawa Tahun 2011. Dengan membantu dan berpartisipasi dalam penelitian tersebut saya bersedia berperan sebagai responden dalam penelitian ini.

Peneliti

Medan ,

juli 2011

Sinta uli silaban 2008-052

Responden

39

KUESIONER
A. Petunjuk Pengisian 1.
2.

Jawaban diisi dengan memilih salah satu jawaban yang ibu alami Isilah pertanyaan pada lembar kuisioner dengan jujur seperti yang ibu alami Setiap jawaban yang diberikan dijamin kerahasiaannya Beri tanda (~) pada jawaban sesuai yang ibu alami Partisipasi yang ibu berikan sangat berharga sekali, saya ucapkan terima kasih Data Umum

3.
4. 5.

I.
a.

Nama Responden

: : : :

b. No. responden c.

Alamat Responden

d. Umur responden

15-19 tahun 20-35 tahun 36-40 tahun e. Pendidikan responden SD SMP SMA Perguruan tinggi

f. Paritas responden

40

Melahirkan 1 kali Melahirkan 2 kali Melahirkan 3 kali Melahirkan lebih dari 5 kali
NO. 1 Pertanyaan Benar Zat besi sangat penting untuk tubuh karena zat besi sebagai pembentukkan darah merah dalam tubuh Zat besi sangat penting untuk tubuh supaya kita tidak kekurangan darah merah karena zat besi dapat di peroleh secara alami dari makanan Wanita lebih banyak membutuhkan zat besi dari pada pria karena wanita mengalami haid Pucat ,cepat lelah, jantung berdebar-debar merupakan tanda kekurangan darah merah Zat besi yang baik dapat diperoleh dari makanan, seperti daging, telur ,sayuran hijau, kacangkacangan, dan buahbuahan Tablet zat besi seperti sangubion Sirup zat besi seperti samubion Pada kehamilan 1-3 bulan tablet zat besi tidak terlalu Jawaban Salah

6 7 8

41

10

11

12

13

14

15

16

penting karena dapat menyebabkan mual muntah Pada kehamilan 4-9 bulan zat besi sangat penting Karena bertambahnya kebutuhan bayi untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi dalam kandungan ibu Ibu hamil yang memiliki penyakit lambung seperti mag, zat besi dapat diberikan melalui lobang pembuangan BAB Efek samping tablet zat besi dapat menyebabkan mual nyeri lambung dan mencret Mengkonsumsi tablet zat besi dapat memenuhi kebutuhan zat besi maka dengan makan daging dapat memenuhi kebutuhan darah merah Cara kerja zat besi akan lebih mudah di serap oleh tubuh jika bersamaan dengan vitamin c(jeruk) karena zat besi sangat penting dalam tubuh Agar tablet zat besi bekerja dengan baik maka saat minim tablet zat besi sebaiknya minum air putih jangan dengan teh manis tablet zat besi sebaik di makan sesudah makan karena dapat mengurangi gejala mual Pemberian zat besi pada ibu hamil di minum 1 kali

42

17 18

19

20

sehari Cara pemberian zat besi dapat melalui mulut,dan lobang pembuangan BAB Tablet zat besi agar bermanfaat dalam tubuh maka sebaiknya di minum sebelum makan Ibu hamil yang tidak memakan zat besi setiap hari dapat mengakibatkan kurang darah Jenis-jenis zat besi seperti tablet,sirup dan cairan