Anda di halaman 1dari 46

1

KATA PENGANTAR


Puji syukur kami ucapkan kepada Allah SWT, karena berkat rahmat dan
karunianya kami dapat menyelesaikan makalah ini sebagai tugas akhir dari mata
kuliah Mechanical Design.
Tugas ini diperlukan sebagai evaluasi akhir dari teori teori mata kuliah
Mechanical Design yang telah diberikan. Dengan begitu mahasiswa dapat
mengetahui secara langsung aplikasinya di lapangan.
Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada pihak-pihak yang telah
membantu sehingga makalah ini dapat terselesaikan, diantaranya dosen
pembimbing kami, Pak Jos Istianto, dan pihak lain yang tak dapat kami sebutkan
satu persatu.
Semoga isi makalah ini dapat berguna bagi pembaca dalam memberikan
informasi yang dibutuhkan berkaitan dengan Perancangan Mekanikal. Terima
kasih.






Penyusun




2
DAFTAR ISI



Kata Pengantar
Daftar Isi

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Penyusunan
1.2 Ruang Lingkup Masalah
1.3 Metode Pengumpulan Data
1.4 Data dan Asumsi

BAB II PERENCANAAN DAN PEMILIHAN ELEMEN MESIN
2.1 Shaft (poros)
2.2 Bearing (bantalan)
2.3 Chain (rantai)

BAB III PENUTUP
3.1 Analisa
3.2 Kesimpulan

Lampiran

Daftar Pustaka






3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penyusunan

Pada umumnya didalam aktivitas perkuliahan setiap hari, seorang dosen
memberikan sebuah teori kepada para mahasiswa. Sehingga apa yang diperoleh
para mahasiswa hanyalah terbatas pada apa yang disampaikan dosen pada saat
perkuliahan dan mungkin beberapa tambahan pengetahuan karena keaktifan
mahasiswa dalam membaca buku diluar jam perkuliahan. Hal inilah yang nantinya
akan berdampak pada kualitas para mahasiswa dalam menyelesaikan suatu
permasalahan engineering yang akan terlihat pada waktu yang akan datang.
Apalagi seperti yang kita ketahui, bahwa sekarang ini persaingan dunia kerja
semakin ketat dan juga semakin pesatnya perkembangan teknologi menuntut
adanya kualitas sumber daya manusia yang mampu bersaing dengan lulusan
universitas dalam dan luar negeri.
Oleh karena beberapa hal tersebut diatas, maka diperlukan peningkatan
kualitas para lulusan sarjana yang nantinya diharapkan mampu bersaing didalam
dunia kerja. Salah satu cara peningkatan kualitas lulusan sarjana, khususnya
sarjana Teknik adalah dengan mengaplikasikan teori-teori yang diberikan dalam
perkuliahan untuk menyelesaikan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari. Dan
salah satu contoh aplikasi teori yang diperoleh dari perkuliahan adalah laporan
yang telah kami susun dalam makalah ini.
Sehingga dengan adanya pengenalan mahasiswa dalam pengaplikasian teori-
teori yang mereka peroleh secara tidak langsung akan memberikan pengalaman
serta kemampuan kepada mahasiswa dalam memecahkan suatu permasalahan
nyata dalam kehidupan sehari-hari yang sesuai dengan bidang keahlian mereka
masing-masing. Dengan semakin meningkatnya kemampuan mahasiswa dalam
memecahkan suatu pemasalahan maka secara tidak langsung akan meningkatkan
pula kualitas sumber daya manusia yang diharapkan para lulusannya mampu
bersaing dalam dunia kerja seiring dengan kemajuan teknologi yang semakin
pesat.
4
1.2 Ruang Lingkup Masalah

Pada makalah yang kami susun ini pembahasan dititik beratkan pada
permasalahan yang terdapat pada sepeda motor yang berjenis Honda Sport 160cc
( Mega Pro ). Kemudian dari sepeda motor Honda sport tersebut, pembahasan
kami titikberatkan pada perhitungan tiga komponen yang terdapat pada roda
belakang sepeda motor Honda Mega Pro. Ketiga komponen yang kami bahas
adalah poros ( shaft ), Rantai ( chain ), dan juga bantalan ( bearing ). Kemudian
dari dari poros (shaft) dilakukan perhitungan mengenai gaya-gaya yang bekerja
dengan beberapa kondisi asumsi, jenis material yang dipakai sebagai bahan poros,
momen aksial, dan beberapa perhitungan yang lainnya. Pada rantai (chain)
dilakukan perhitungan mengenai kecepatan sudut pada sprocket, perbandingan
variasi kecepatan, dan juga pemilihan rantai rol. Kemudian pada bearing
dilakukan perhitungan mengenai masa pakai bearing, beban dinamik, serta faktor
kecepatan.

1.3 Metode Pengumpulan Data

Pada makalah yang kami susun ini, perhitungan dimulai dengan
pengumpulan data-data yang dibutuhkan dalam perhitungan ketiga komponen
tersebut. Untuk mendapatkan hasil perhitungan yang akurat dan maksimal, kami
melakukan beberapa metode pengumpulan data yang antara lain tersebut dibawah
ini :
( i ) Pengukuran langsung pada benda yang akan dilakukan perhitungan. Pada
shaft dilakukan pengukuran pada panjang dan diameter. Pada rantai
dilakukan pengukuran pada pitch, panjang rantai (jumlah pitch), diameter
roller. Pada bearing dilakukan pengukuran pada diameter lingkaran dalam
sampai lingkaran terluar.
( ii ) Mengumpulkan data yang terdapat pada buku referensi. Pada metode ini
kami menggunakan beberapa buku referensi, antara lain : buku Hamrock,
buku Sularso, dan beberapa buku lainnya.
5
( iii ) Metode polling. Metode ini kami lakukan dalam memperoleh data berat
rata-rata dari tiap orang yang nantinya dipakai untuk perhitungan beban
sepeda motor.

1.4 Data Dan Asumsi






Sp e si f i k a si Te k ni s
Panjang X lebar X tinggi 2.033 x 754 x 1.062 mm
Jarak sumbu roda 1.281 mm
Jarak terendah ke tanah 149 mm
Berat kosong 114 kg
Tipe rangka Pola Berlian
Tipe suspensi depan Teleskopik
Tipe suspensi belakang
Lengan ayun dan peredam kejut dapat disetel pada 5
posisi
Ukuran ban depan 2,75 - 18 - 42P
Ukuran ban belakang 3,00 - 18 - 47P
Rem depan Tipe cakram hidrolik, dengan piston ganda
Rem belakang Tromol
Kapasitas tangki bahan bakar 12,4 liter (cadangan 2,3 liter)
Tipe mesin 4 Langkah OHC, pendinginan udara
Diameter x langkah 63,5 x 49,5 mm
Volume langkah 156,7 cc
Perbandingan kompresi 9,0 : 1
Daya maksimum 13,8 PS / 8.500 RPM
Torsi maksimum 1,3 kgf.m / 6.500 RPM
Kapasitas minyak pelumas mesin 0,9 liter pada penggantian periodik
Kopling Manual, tipe basah dan pelat majemuk
Gigi transmsi 5 kecepatan, bertautan tetap
Pola pengoperan gigi 1-N-2-3-4-5
Starter Pedal dan elektrik
Aki 12 V - 5 Ah
Busi ND X 24 EP-U9 / NGK DP8EA-9
Sistem pengapian CDI-DC, Baterai
Jenis rantai mesin Silent chain
Konsumsi bahan bakar
51,4 km / liter pada kecepatan 50 km/jam (standard
pabrik)
Sumber : www.astra-honda.com
6
Simplifikasi dilakukan dengan menganggap motor sebagai suatu rigid body
yang ditopang oleh roda sebagai tumpuan.



Penyederhanaan dari body mot or


Front
















Front







Roda yang menopang mot or di asumsi kan sebagai t umpuan rol

Dalam perancangan poros roda belakang diambil kondisi ekstrim pada saat
roda motor depan terangkat sebesar 45 sehingga motor hanya bertumpu pada roda
belakang.
Dalam perhitungan, kami mengasumsikan bahwa sepeda motor sedang
dinaiki oleh dua orang yang beratnya masing-masing adalah 60 kg (data didapat
dari hasil poling terhadap 20 orang penghuni asrama UI Depok).
7
Dalam perhitungan beban yang mengenai poros, berasal dari besarnya reaksi
tumpuan yang ada pada roda akibat beban motor (berat kosong motor ditambah
berat bahan bakar) dan beban penumpang. Nilai reaksi tumpuan ini kemudian
dikalikan dengan sudut kemiringan motor dan kemiringan shock-absorber
sehingga dihasilkan beban pada shock-absorber. Beban inilah yang kemudian
dibagi menjadi dua sebagai beban yang mengenai poros. Karena shock-absorber
memiliki kemiringan terhadap poros, maka gaya/beban ini diuraikan dalam arah x
dan y.
Dalam penghitungan bearing, beban maksimal yang digunakan adalah
resultan dari reaksi tumpuan terbesar yang dihasilkan pada perhitungan
sebelumnya. Bearing hanya dihitung untuk bearing yang terkena gaya yang
terbesar saja. Pemilihan bearing didasarkan pada katalog SKF.
Untuk perhitungan rantai, dipakai data sebagai berikut;
z
1
= Jumlah gigi sproket kecil = 12
z
2
= Jumlah gigi sproket besar = 44

1
= Kecepatan sudut sproket kecil = Torsi maximum = 6.500 rpm
Jarak sumbu kedua sproket telah diketahui sebesar 530 mm.













8


BAB II DASAR TEORI

A. Poros (Shaft)
Poros (Shaft) merupakan salah satu elemen pada mesin yang berputar maupun
tetap(stationary) yang biasanya mempunyai bentuk silinder dengan penampang
melingkar (diameter) yang lebih kecil dari pada panjangnya dan merupakan tempat bagi
elemen lain ditempatkan (mounted) disana, seperti elemen transmisi daya; roda gigi
(gear), pulley, belt, rantai (chain), flywheels, sprocket dan juga bentalan bearing (laher).










Poros roda belakang honda-megapro

Beban yang terjadi pada poros dapat berupa bending, tranverse, torsi, dan juga
beban axial (tarik-tekan).
Dalam mendesain poros, beberapa faktor yang harus diperhatikan yaitu faktor kekuatan
dengan menggunakan pandekatan yield atau fatigue sebagai kriterianya; defleksi; dan
juga critical speed dari poros yang akan kita disain.

Beberapa mesin elemen yang digabungkan( mounted) di poros menghasilkan
beban pada arah transversal (tegak lurus terhadap sumbu poros). Oleh karena itu,
bending moment terjadi di poros. Poros yang membawa satu atau lebih elemen mesin
9
I
Mc
x
=
64
4
d
I

=
yang lain harus didukung (ditumpu) oleh bearings. Untuk kepentingan desain, maka
bearing tersebut harus mampu menahan batas maximum dari bending yang terjadi pada
poros.

Desain poros kali ini, kelompok kami menghitung poros roda belakang dari
motor honda-MegaPro 160 cc dengan spesifikasi terlampir pada bagian perhitungan
poros. Poros pada roda belakang ini hanya berfungsi untuk menahan beban yang terjadi
pada motor dan tidak mengalami perputaran. Atau dengan kata lain merupakan jenis
stationary shaft, sehingga tidak mengalami beban torsi, dan juga kami mengabaikan
critical speed.

Dalam melakukan perhitungan kali ini prosedur umum yang kami gunakan yaitu:
1. Membuat free body diagram dari model beban yang sudah disimplifikasi dari
keadaan real

2. Menggambar bending moment diagram dalam arah x-y dan x-z, dan mencari
resultan dari gaya tersebut yang terjadi pada seluruh bagian poros
Untuk perhitungan bending digunakan persamaan


Persamaan 2(persamaan 11.2 buku hamrock hal 428)

dengan :
x
: bending moment (N/m
2
)
M : moment maksimum (Nm)
c : jarak dari sumbu netral poros ke bagian terluar (jari-jari) (m)
I : inersia dari poros (m
4
)
Inersia dari poros yang berbentuk poros dapat dihitung dengan persamaan


persamaan 2(persamaan 11.4 buku hamrock hal 428)
d : diameter poros (m)

10
2
2
2 , 1
2 2
xy
x x


+ |
.
|

\
|
=



Selanjutnya dapat dihitung principal normal stress yang terjadi pada poros dengan :



persamaan 3(persamaan 11.7 buku hamrock hal. 428)

dengan :
1
= bending maksimum (Pa)

2
= bending minimum (Pa)

x
= bending yang terjadi dari persamaan 1 (Pa)

xy
= tegangan geser (Pa)

3. Mencari bahan yang digunakan dalam poros menggunakan analisa prediksi
kegagalan DET , karena pada umumnya bahan yang digunakan sebagai poros
yaitu bahan yang memiliki sifat ductile (metal).

Poros biasanya terbuat dari baja batang yang ditarik dingin dan kemudian
dilakukan finishing agar mencapai kekuatan maksimum bahan, baja karbon
konstruksi mesin yang dihasilkan dari baja yang dioksidasikan dengan
ferrosilikon dan dicor; kadar karbonnya terjamin. Meskipun demikian, bahan
poros jenis ini masih dapat mengalami deformasi karena tegangan yang kurang
seimbang; misalnya jika diberi alur pasak. Tetapi permukaan dingin membuat
material bertambah keras dan kuat.

Poros yang digunakan untuk meneruskan putaran yang tinggi dan beban
yang berat umumnya dibuat dari baja paduan dengan pengerasan yang tahan
terhadap keausan. Sekalipun demikian pemakaian bahan poros dengan baja
paduan khusus tidak selalu dianjurkan jika hanya karena alasan putaran tinggi
dan juga beban yang berat. Dalam hal seperti ini, perlu digunakan baja dengan
perlakuan panas yang sesuai untuk memperoleh kekuatan yang dibutuhkan.
11
2 2 3
4
3
32
T M
S
n
d
y
s
+ =

3
1
2 2
32
(
(

|
|
.
|

\
|
+ +
|
|
.
|

\
|
+ =
a fs
e
y
m a f
e
y
m
y
s
T K
S
S
T M K
S
S
M
S
n
d



Bahan yang ingin dicari tahu didapatkan dari besarnya yield strength
(Sy) dari bahan tersebut dan kemudian mencocokkan nilainya dengan nilai yang
terdapat di tabel material.

Besarnya S
y
suatu bahan dapat diketahui dengan menggunakan persamaan:



Persamaan 4(persamaan 11.13 buku hammrock 429)
Dengan : n
s
: safety factor
S
y
: yield strength (Pa)
M : Moment (Nm)
T : Torsi ( Nm)

Selanjutnya, untuk analisa terhadap beban dinamis (cycles loading) dapat
digunakan persamaan





Persamaan 4 (persamaan 11.35 buku hamrock hal 435)

d : diameter minimum untuk menahan beban dinamis (m)
n
s
: safety factor
S
y
: Yield Strength (Pa)
M
m
: Momen mean (rata-rata dari beban dinamis) (Nm)
S
e
: Endurance limit of material (Pa)
K
f
: Fatigue stress consentration factor
M
a
: Momen alternating (Nm)
12
T
m
: Torsi mean (rata-rata) (Nm)
T
a
: Torsi alternating (Nm)
B. Bearing ( Ball Bearing )
Bearing adalah elemen mesin yang menumpu poros berbeban, sehingga putaran
atau gerakan bolak-baliknya dapat berlangsung secar halus, aman, dan mempunyai masa
pakai yang lama. Bearing harus cukup kokoh untuk memungkinkan poros serta elemen
mesin lainnya bekerja dengan baik. Jika bearing tidak berfungsi dengan baik maka
kinerja seluruh sistem juga akan menurun atau tak dapat bekerja dengan semestinya.
Jadi, bearing dalam permesinan dapat disamakan peranannya dengan pondasi pada
sebuah bangunan.

Klasifikasi Bearing
Bearing dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
(1). Atas dasar gerakan bearing terhadap poros
a. Bearing luncur. Pada bearing jenis ini terjadi gesekan luncur antara poros dan
bearing karena permukaan poros ditumpu oleh permukaan bearig dengan
perantaraan lapisan pelumas.
b. Bearing Gelinding (ball bearing). Pada bearing ini terjadi gesekan gelinding
antara bagian yang berputar dengan yang diam melalui elemen gelinding seperti
bola, rol jarum, dan rol bulat.
(2) Atas dasar arah beban terhadap poros
a. Bearing radial. Arah beban yang ditumpu bearing ini adalah tegak lurus sumbu
poros.
b. Bearing aksial. Arah beban bearing ini sejajar dengan sumbu poros.
c. Bearing gelinding khusus. Bearing ini dapat menumpu beban yang arahnya
sejajar dan tegak lurus sumbu poros.

Pada tugas akhir ini akan menitikberatkan pada bearing gelinding ( ball bearing ).

Bantalan gelinding mempunyai keuntungan dari gesekan gelinding yang sangat
kecil dibandingkan dengan bantalan luncur. Pada bearing jenis ini elemen bola dipasang
diantara cincin luar dan cicnin dalam. Dengan memutar salah satu cincin tersebut, bola
13
akan membuat gerakan gelinding sehingga gesekan di antaranya akan jauh lebih kecil.
Untuk bola, ketelitian tinggi dalam bentuk dan ukuran merupakan keharusan. Karena
luas bidang kontak antara bola dengan cincinnya sangat kecil maka besarnya beban
persatuan luas atau tekanannya menjadi sangat tinggi. Dengan demikian bahan yang
dipakai harus mempunyai ketahanan dan kekerasan yang tinggi.

Kelakuan Pada Bantalan Gelinding
Diameter poros d (mm) dikalikan dengan putaran per menit n (rpm) disebut harga
d.n. Harga ini untuk suatu bantalan mempunyai batas empiris yang besarnya tergantung
pada macmnya dan cara pelumasannya. Bantalan bola alur dan bantalan bola sudut serta
bantalan rol silinder pada umumnya dipakai untuk putaran tinggi; bantalan rol kerucut
untuk putaran sedang; bantalan aksial untuk putaran rendah. Untuk bantalan yang
diameter dalamnya dibawah 10 mm, atau lebih dari 200mm, terdapat harga-harga yang
lebih rendah. Dalam hal pelumasan dengan gemuk, harga-harga batas tersebut adalah
untuk umur gemuk 1000 jam.

Nomor Nominal Bantalan Gelinding
Ukuran utama bantalan gelinding adalah diameter lubang, diameter luar, lebar, dan
lengkungan sudut. Pada umumnya, diameter lubang diambil sebagai patokan dengan
diameter luar dan dalam digabungkan.
Nomor nominal bantalan gelinding terdiri dari nomor dasar dan pelengkap. Nomor
dasar yang terdapat merupakan lambing jenis, lambing ukuran( lambing lebar, diameter
luar), nomor diameter lubang, dan lambing sudut kontak.
Lambang-lambang pelengkap meliputi lambang sangkar, lambang sekat, bentuk
cincin, pemasangan, kelonggaran, dan kelas. Lambang jenis menyatakan jenis bantalan.
Baris tunggal alur dalam diberi tanda 6; rol silinder diberi tanda huruf seperti N, NF,
dan NU, yang menyatakan macam kerahnya.
Lambang ukuran menyatakan lebar untuk bantalan radial dan tinggi untuk
bantalan aksial; dapat juga menyatakan diameter luar dari bantalan-bantalan tersebut.
Untuk bantalan roda radial tidak ada lambing lebar. Diameter membesar dalam urutan;
7,8,9,0,1,2,3, dan 4. Lambang diameter luar 0,2, dan 3 umumnya yang banyak dipakai.
14
Lambang diameter luar 0 dan 1 menyatakan jenis beban sangat ringan; 2 jenis beban
ringan; 3 jenis beban sedang; dan 4 jenis beban berat.
Nomor diameter lubang dinyatakan dengan dua angka. Untuk bantalan yang
berdiameter 20-500 mm, kalikanlah dua angka lambang tersebut dengan 5 untuk
mendapatkan diameter lubang yang sebenarnya (dalam mm). Nomor tersebut bertingkat
dengan kenaikan sebesar 5mm tiap tingkatannya. Untuk diameter lubang dibawah
20mm, nomor 00 menyatakan 10mm; 01, 12mm; 15mm; dan 03,17mm diameter
lubang, Untuk diameter lubang dibawah 10mm, nomor tanda sama dengan diameter
lubangnya.








Kapasitas Nominal Bantalan Gelinding
Ada dua macam kapasitas nominal, yaitu kapasitas nominal dinamis spesifik dan
kapasitas nominal statis spesifik.
Misalkan sejumlah bantalan membawa beban tanpa variasi dalam arah yang tetap.
Jika bantalan tersebut adalah bantalan radial, maka bebannya adalah radial murni,
Cincin luar diam dan cincin dalam berputar. Jika bantalan tersebut adalah bantalan
aksial, maka kondisi kondisi bebannya adalah aksial murni, satu cincin diam dan cincin
yang lain berputar. Jumlah putaran adalah 1.000.000 (atau 33.3 rpm selama 500 jam).
15
Setelah menjalani putaran tersebut, jika 90% dari jumlah bantalan tersebut tidak
menunjukkan kerusakan karena kelelahan oleh beban gelinding pada cincin atau elemen
gelindingnya, maka besarnya beban terse x 3.647 Dbut dinamakan kapasitas nominal
dinamis spesifik dan umur yang bersangkutan disebut umur nominal.
Jika bantalan membawa beban dalam keadaan diam dan pada titik kontak yang
menerima tegangan maksimim besarnya deformsi permanen pada elemen gelinding
ditambah besarnya deformasi cincin menjadi 0.0001 kali diameter elemen gelinding,
maka beban tersebut dinamakan kapasitas nominal statis spesifik. Kedua macam beban
diatas merupakan factor dasar yang pertama dalam pemilihan bantalan. Untuk
menghitung besarnya kapasitas nominal dinamis spesifik dapat dihitung dengan rumus
sebagai berikut :
- Untuk diameter bola kurang dari atau sama dengan 25.4 mm
C = f
c
( i cos )
0 ,7
Z
2/3
D
a
1,8


- Untuk diameter bola lebih dari 25.4 mm
C =f
c
( i cos )
0 ,7
Z
2/3
x 3.647 D
a

1,4


- Untuk bantalan rol
C = f
c
( il
a
cos )
7/9
Z
3/4
D
a
29/27


Dimana : C = kapasitas nominal spesifik
i = Jumlah baris bola dalam satu bantalan
= Sudut kontak nominal
Z = Jumlah bola dalam tiap baris
D
a
= Diameter bola
f
c
= Faktor yang besarnya tergantung pada jenis, kelas ketelitian, dan
bahan bagian-bagian bantalan
l
a
= Panjang efektif rol

Perhitungan Umur Bearing
16
Umur nominal L ( 90% dari jumlah sample, setelah berputar satu juta putaran,
tidak memperlihatkan kerusakan karena kelelahan gelinding ) dapat ditentukan sebagai
berikut:

Jika C (kg) menyatakan beban nominal dinamis spesifik dan P (kg) beban ekivalen
dinamis, maka factor kecepatan f
n
adalah ;

Untuk bantalan bola f
n
=
3 . 1
3 . 33
|
.
|

\
|
n

Untuk bantalan rol, f
n
=
10 / 3
3 . 33
|
.
|

\
|
n


Faktor umur adalah :
Untuk kedua bantalan, f
n
= f
n
P
C


Umur nominal L
h
adalah :
Untuk bantalan bola, L
h
= 500 f
3
h

Untuk bantalan rol, L
h
= 500 f
10/3
h


Dengan bertambah panjangnya umur karena adanya perbaikan besar dalam mutu
bahan dan arena tuntutan keandalan yang lebih tinggi, maka bantalan modern
direncanakan dengan L
h
yang dikalikan dengan factor koreksi. Jika L
n
menyatakan
keandalan umur (100-n)(%), maka :

L
n
= a
1
.a
2.
a
3.
L
h


Dimana :
a
1
= Faktor keandalan; a
1
: 1 jika keandalan 90% dipakai seperti biasanya,
atau 0.21 bila keandalan 99% dipakai.
a
2
= Faktor bahan. a
2
: 1 untuk bahan bantalan yang dicairkan secara
terbuka, dan kurang lebih = 3 untuk baja bantalan de-gas hampa.
17
a
3
= Faktor kerja. a
3
= 1 untuk kondisi kerja normal, dan kurang dari satu
untuk hal-hal berikut :

i. Bantalan bola, dengan pelumasan minyak berviskositas 13 cSt
atau kurang.
ii. Bantalan rol, dengan pelumasan minyak berviskositas 20 cSt atau
kurang.
iii. Kecepatan rendah, yang besarnya sama dengan atau kurang dari
1000 rpm dibagi diameter jarak bagi elemen gelinding.

Faktor Beban f
w

1. Untuk putaran halus tanpa beban tumbukan (motor listrik)
F
w
=1 1.1

2. Untuk kerja biasa ( roda gigi reduksi, roda kereta )

F
w
= 1.1 1.3

3. Untuk kerja dengan tumbukan ( penggiling rol, alat-alat besar )

F
w
= 1.2 1.5

Jika beban maksimum dapat ditetapkan, maka f
w
dapat diambil sama dengan 1.
Beban Rata-rata P
m



P
m
=
p
m n
p
n n n
p
n t t
Pp n t P n t
) ... (
....
1
1 1 1
+ +
+ +


n
m
= (t
1
n
1
+.+t
n
n
n
)/(t
1
++t
n
)

Jika frekuensi masing-masing putaran dinyatakan sebagai t
1
/t = o
1
, t
2
/t = o
2
,
dan seterusnya, maka :

P
m
=
p
m
p
n n n
p
n
p n P n + +...
1 1 1

Bila putaran tetap, maka

18
P
m
=
p
n
p
n
p
P P + +...
1 1

Dimana p = 3 untuk bantalan bola, dan 10/3 untuk bantalan rol. Harga p = 3 diatas
diperoleh dari percobaan, sedangkan harga 10/3 ditetapkan atas dasar studi oleh banyak
peneliti.

C. Roller Chain (Rantai)
Roller chain (rantai) merupakan komponen mesin yang digunakan untuk
meneruskan power (daya) dari mesin melalui perputaran sprocket pada saat yang sama.
Rantai mengait pada gigi sprocket dan meneruskan daya tanpa slip; jadi menjamin
putaran daya yang tetap. Rantai sebagai penerus daya mempunya keuntungan -
keuntungan seperti: mampu meneruskan daya yang besar karena memiliki kekuatan
yang besar, memiliki keausan kecil pada bantalan, dan mudah untuk memasangnya..
Roller chain juga mempunyai efisiensi yang tinggi sehingga bagus digunakan dalam
komponen mesin.



Dipihak lain, rantai juga memiliki kekurangan, yaitu; variasi kecepatan yang tidak
dapat dihindari karena lintasan busur pada sprocket yang mengait mata rantai, suara dan
juga getaran yang ditimbulkan karena tumnukan antara mata rantai dan kaki-kaki
sprocket, dan juga perpanjangan rantai karena keausan pena dan bus yang diakibatkan
gesekan yang terjadi pada sprocket.




19
(

+
+
+ =
Pt
Cd
N N N N
Pt
Cd
Pt
L
2
2
4
) 1 2 (
2
2 1 2



Pada umumnya rantai terbagi atas dua jenis; rantai rol (roler chain), dan rantai gigi
(gear chain). Pada perhitungan kali ini, kelompok kami melakukan perhitungan pada
rantai motor honda mega pro 160 cc yang merupakan bentuk roler chain rangkaian
tunggal. Rantai jenis ini biasanya dipakai bila diperlukan transmisi yang positif( tanpa
slip) dengan kecepatan mencapai 600 m/min, tanpa pembatasan bunyi dan juga harga
yang murah.
Pada roller chain ini sangat berhubungan dengan komponen sprocket. Sehingga
untuk menghitung panjang jarak pusat sprocket besar dengan sprocket kecil dapat
digunakan dengan data-data yang diperoleh pada roller chain. Kemudian begitu juga
sebaliknya, untuk menghitung panjang rantai (chain length) diperlukan data-data dari
sprocket. Panjang ranrai (chain length) dapat dihitung dengan rumus :





(persamaan 18.26 buku hamrock halaman 851)

dengan :
L = Chain length (m)
C
d
= Center distance (m)
N
1
= Jumlah gigi sprocket kecil
N
2
= Jumlah gigi sprocket besar
P
t
= Pitch

Salah satu faktor penting yang mempengaruhi kelicinan pada saat pengoperasian
roller chain, khususnya pada kecepatan yang tinggi adalah Chordal Rise yang dapat
dicari dengan rumus :

r
c
= r cos
r
2
2
2
B
A A
Pt
Cd
+ =
persamaan 18.23 buku hamrock hal 851

sehingga
r = r- r
c
= r ( 1- cos
r
) = r [ 1 cos (
N
180
) ]
persamaan 18.24 buku hamrock hal 851


Kemudian dengan menggunakan hubungan antara sprocket dan roller chain dapat
dihitung jarak antara pusat sprocket besar (belakang) dengan pusat sprocket kecil (pada
mesin) atau biasa disebut Center Distance. Besarnya nilai center distance dapat dihitung
dengan rumus :



persamaan 18.23 buku hamrock hal 851

Dimana :
A =
2
2 1 N N
Pt
L +

B =
2
1 2 N N

21
2 1
a a h h
p pr
=
Untuk mencari nilai center distance, pada umumnya direkomendasikan nilai
Pt
Cd
berada
diantara 30 dan 50 pitch.

Kemudian pada rantai juga dapat diukur besarnya kecepatan dengan menggunakan
rumus :

U
1
=
12
1 1
D N
a

;

U
1
=
12
1
N P N
t a


persamaan 18.30;18.31 buku hamrock hal 852

Dimana : N
a1
= Speed of member 1, rpm

Daya yang dibutuhkan untuk menggerakkan sprocket pada rantai dapat dihitung dengan
menggunakan persamaan




persamaan 18.32 buku hamrock hal 852
dengan :
h
p
: daya yang ditransmisikan (dapat dilihat pada tabel 18.11 buku hamrock hal 853)
a
1
: service faktor (dapat dilihat pada tabel 18.12 buku hamrock hal 854)
a
2
: multiple strand factor (dapat dilihat pada tabel 18.13 buku hamrock hal 854)








22


BAB III PERENCANAAN DAN PEMILIHAN
ELEMEN MESIN


A. Perhitungan Poros ( Shaft )

480 N pada masing -
masing shock breaker

30
Gambar dari samping


R
Bx
dan R
Cx


R
By
Dan R
Cy


F
y 480 N

30
D


F
x
R
Cx
C

F
y 480 N

R
Bx
30 B


R
Cy


A

F
x


R
By



Gaya pada Shock-Absorber diuraikan dalam arah x dan y
F
y
F
y
= 480

Cos 30
o
F
R
= 480 N

= 415,692 N 30

23
F
x
= 480 Cos 60
o

= 240 N F
x
Gaya-gaya yang Bekerja pada Poros dalam Arah y

415,692 N 415,692 N


A B C D


0,048 0,0605 0,052
R
By
0.6285 m R
Cy


0 = E
x
F
0 = E
y
F
831,384 R
By
R
Cy
= 0
R
By
+ R
Cy
= 831,384 N
0 = E
B
M
415,692 ( 0,048 ) - R
Cy
( 0,0605 ) + 415,692 ( 0,1125 ) = 0
R
By
= 388,208 N
R
Cy
= 443,176 N

- Gaya-gaya Dalam
1). Ruas A-B ( 0 s x s 0,048 )
415,692 N V

A N
M

X

0 = E
x
F
0 = E
y
F
415,692 + V = 0
V = - 415,692 N
0 = E
X
M
24
415,692 x + M = 0
M = - 415,692 x

2). Ruas B-C ( 0,048 s x s 0,1085 )
415,692N V
B
A N
R
By
M

x


0 = E
x
F
0 = E
y
F
415,692 388,208 + V = 0
V = - 27,484N
0 = E
X
M
415,692 x 388,208 ( x 0,048 ) + M = 0
M = - 27,484 x -18,6339

3). Ruas C-D ( 0,1085 s x s 0.1605 )
415,692 N V
M
A B
C
N
R
Ay
R
By

x




0 = E
x
F
0 = E
y
F
415,692 388,208 443,176 + V = 0
V = 415,692 N
0 = E
X
M
415,692 x 388,208 ( x 0,048 ) 443,176 ( x 0,1085) + M = 0
M = 415,692 x 66,7185

- Diagram V dan M






Gaya-gaya yang Bekerja pada Poros dalam Arah x

240 N 240 N


A B C D

Diagram V
-1500
-1000
-500
0
500
1000
1500
Diagram M
0
-94.17
-72.96
0
-100
-90
-80
-70
-60
-50
-40
-30
-20
-10
0
26

0,048 0,0605 0,052
R
Bx
0.6285 m R
Cx


0 = E
x
F
0 = E
y
F
480 R
Bx
R
Cx
= 0
R
Bx
+ R
Cx
= 480 N
0 = E
B
M
240 ( 0,048 ) - R
Cy
( 0,0605 ) + 240 (0,1125 ) = 0
R
Bx
= 255,867 N
R
Cx
= 224,133 N

- Gaya-gaya Dalam
1). Ruas A-B ( 0 s x s 0,048 )
240 N V

A N
M

X

0 = E
x
F
0 = E
y
F
240 + V = 0
V = - 240 N
0 = E
X
M
240 x + M = 0
M = -240 x

2). Ruas B-C ( 0,048 s x s 0,1085 )
240 N V
B
A N
R
Bx
M

27
x


0 = E
x
F
0 = E
y
F
240 224,133 + V = 0
V = - 15,867 N
0 = E
X
M
240 x 224,133 ( x 0,048 ) + M = 0
M = - 15,867 x 10,75838

3). Ruas C-D ( 0,1085 s x s 0.1605 )
240 N V
M
A B
C
N
R
Ay
R
By

x




0 = E
x
F
0 = E
y
F
240 224,133 255,867 + V = 0
V = 271,734 N
0 = E
X
M
240 x 224,133 ( x 0,048 ) 255,167 ( x 0,1085 ) + M = 0
M = 239,3 x 38,444

- Diagram V dan M
28




Perhitungan untuk Bahan Poros yang Digunakan

M
max
=
2 2
y x
M M +
= ( ) ( )
2 2
616 , 21 47 , 12 +
= 99236 , 077 . 47
= 14,73 N.m



n
s
( nilai safety factor )
Diagram V
-800
-600
-400
-200
0
200
400
600
800
Diagram M
0
-43.966
-34.074
0
-50
-45
-40
-35
-30
-25
-20
-15
-10
-5
0
29
Berdasarkan tabel 1.1 dan 1.2 buku Fundamental of Machine Element
karangan B.J Hamrock.
Nilai A : good alat-alat manufakturnya sudah modern, bahan pembuatnya
sudah teruji dengan baik.
B : fair pada saat pemakaian, tidak dapat mengatur berapa
beban yang ada.
C : fair analisa untuk beban dan stress telah dilakukan dengan
pengumpulan data yang benar.
n
sx
= 2,3

Nilai D : very serious Berhubungan dengan nyawa pengguna.
E : serious Menyangkut dana yang tidak kecil, baik untuk
perbaikan maupun pembuatan.
n
sy
= 1,5

n
s
= n
sx
. n
sy
= 2,3 . 1,5
= 3,45
Berdasarkan Pengukuran
d
poros
= 15 mm = 0,015 m
M
max
= 14,73 N.m
Dengan Menggunakan DET ( Distortion Energy Theory )

3
1
2 2
max
4
3 32
|
|
.
|

\
|
+ = T M
S
n
d
y
s
poros



2 2
max
3
4
3 32
T M
d
n
S
s
y
+ =


=
( )
( )
( ) ( )
2 2
3
0
4
3
73 , 14
015 , 0
45 , 3 32
+


= 153.372.737,9 Pa
= 153,3727379 MPa
30
Berdasarkan Tabel Sifat-sifat bahan, bahan yang memiliki nilai S
y
yang
mendekati nilai S
y
di atas adalah Steel Alloy 4140 (AISI 4140/SCM 4)yang
dinormalisasi pada suhu 870 C yang mempunyai nilai S
y
= 1570 MPa. Bahan
ini, menurut tabel 1.2 dalam buku Dasar Perencanaan dan Pemilihan
Komponen Mesin karangan Sularso merupakan salah satu bahan yang biasa
digunakan dalam pembuatan poros.

Principal Stress

( )
( )
4
3
3
max
max
10 . 15
64
10 . 5 , 7 73 , 14

I
y M
waqa
= 44.455.866,06 Pa
= 44,45586606 MPa
0 0
max
= = = T
J
Tc
(poros tidak mengalami beban torsi; T=0)
Principal Stress

max
2
max max
2 , 1
2 2


+ |
.
|

\
|
=
0
2
4586606 , 44
2
45586606 , 44
2
+ |
.
|

\
|
=
= 22,22793303 22,22793303
0 22793303 , 22 22793303 , 22
1
= = MPa
45586606 , 44 22793303 , 22 22793303 , 22
2
= + = MPa

Defleksi
Untuk arah y
Persamaan momen untuk AB
45 , 105 25 , 141 = x M
AB


}}
= dx M
EI
y
AB
1

=
}}
dx x
EI
45 , 105 25 , 141
1

31
=
}
+ dx C x x
EI
1
2
45 , 105 625 , 70
1

= ( )
2 1
2 3
275 , 52 5417 , 23
1
C x C x x
EI
+ +
Boundary Condition
- 08 , 0 0 = = x y
- 23 . 0 0 = = x y
Menghasilkan
- C
1
= 14,5155
- C
2
= -0,8358
Persamaan Defleksi pada AB untuk arah y
( ) 8358 , 0 5155 , 14 725 , 52 5417 , 23
1
2 3
+ = x x x
EI
y

Untuk arah x
Persamaan momen untuk AB
2424 , 49 9496 , 65 = x M
AB


}}
= dx M
EI
y
AB
1

=
}}
dx x
EI
2424 , 49 9496 , 65
1

=
}
+ dx C x x
EI
1
2
2424 , 49 9748 , 32
1

= ( )
2 1
2 3
6212 , 24 9916 , 10
1
C x C x x
EI
+ +
Boundary Condition
- 08 , 0 0 = = x y
- 23 . 0 0 = = x y
Menghasilkan
- C
1
= 6,7788
- C
2
= -0,3904

32
Persamaan Defleksi pada AB untuk arah x
( ) 3904 , 0 7788 , 6 6212 , 24 9916 , 10
1
2 3
+ = x x x
EI
y

Diameter Shaft untuk Beban Dinamis (Berdasarkan Fatique)
= MPa 0
1
Minimum stress
= MPa 71 , 326
2
Maximum stress
Mean Stress
MPa
m
355 , 163
2
0 71 , 326
2
1 2
=

=


Alternating Stress Maximum
MPa
m a
355 , 163 355 , 163 71 , 326
2
max
= = =
Moment alternating maximum dan Moment mean

y
I
M M
a m a m
.
max

= = =
=
3
9 6
10 . 4 , 7
10 . 354 , 2 . 10 . 355 , 163


= 51,96 N.m
Asumsi kemiringan dari lubang/ gelombang jalan yang dilalui oleh motor
adalah 12
Sehingga Momen Alternating (M
a
) = M
a max
. sin(12)
= 51,96 . sin(12)
= 10,803 Nm

Dengan Menggunakan DET,

3
1
2 2
4
3 32

|
|
|
.
|

\
|
|
|
.
|

\
|
+ +
|
|
.
|

\
|
+ =
a fs
e
y
m a f
e
y
m
y
s
T K
S
S
T M K
S
S
M
S
n
d



Dengan S
e
= k
f
. k
s
. k
r
. S
e

33
k
f
= 0,2 Berdasarkan Grafik 7.7 buku Fundamentals of Machine
Elements karangan B.J Hamrock dkk.
k
s
= 1,189(d)
-0,112
= 1,189(15)
-0,112
= 0,8779
k
r
=

0,87 (asumsi kepercayaan 90%)
S
e


= 0,5.S
ut
= 860.10
6
Pa

Semua nilai di atas didapat dari Hamrock chapter 7 dan Tabel material, dan nilai
S
ut
dari bahan adalah 1720 MPa (Callister, Jr. William D.2003.Materials Science
and Engineering an Introduction 6
th
Edition.Utah : John Wiley & Sons, Inc.)

S
e
= k
f
. k
s
. k
r .
S
e

=0,2 . 0,8779 . 0,87 . 860 . 10
6

= 131,3 . 10
6
Pa

( )
3
1
2 2
6
6
6
0 0
4
3
803 , 10 . 1
10 . 3 , 131
10 . 1570
96 , 51
10 . 1570
075 , 3 . 32

|
|
|
.
|

\
|
|
|
.
|

\
|
+ +
|
|
.
|

\
|
+ =
fs
e
y
K
S
S
d


= 0,01534 m
= 15,34 mm

Koreksi terhadap nilai S
e
, masukkan kembali nilai d yang didapat untuk
mendapatkan faktor ukuran (K
s
),
k
s
= 1,189(15,34)
-0.112
= 0,875
S
e
= 0,2 . 0,875 .0,87 . 860 . 10
6
= 130,935 . 10
6
Pa

( )
3
1
2 2
6
6
6
0 0
4
3
803 , 10 . 1
10 . 935 , 130
10 . 1570
96 , 51
10 . 1570
075 , 3 . 32

|
|
|
.
|

\
|
|
|
.
|

\
|
+ +
|
|
.
|

\
|
+ =
fs
e
y
K
S
S
d

= 0,01536 m
= 15,36 mm

Sehingga diameter minimum untuk menahan beban dinamis 15,36 mm.
34



B. Perhitungan Bearing
Beban maksimal pada Bearing ; F
r
= 1454,98 N
F
a
= 0 N
Jari-jari roda belakang ; R = 30 cm
Kecepatan ; - untuk jalan lurus yang kondisinya baik ; v
1
= 80 km/jam ; q
1
= 0,4
- untuk jalanyang rusak ; v
2
= 30 km/jam ; q
2
= 0,3
- untuk tikungan ; v
3
= 20 km/jam ; q
3
= 0,3
(data didapat dari hasil poling 20 mahasiswa yang menggunakan sepeda motor)
Kecepatan sudut

( )
( ) 1000
3600 1000 60
2 v
x
R
=



R
v
45 , 2652 =
- rpm 355 , 707
300
80
45 , 2652
1
= |
.
|

\
|
=
- rpm 258 , 265
300
30
45 , 2652
2
= |
.
|

\
|
=
- rpm 839 , 176
300
20
45 , 2652
3
= |
.
|

\
|
=



Faktor beban
- f
w1
= 1 pada saat kerja halus, tanpa beban tumbukan
- f
w2
= 1,3 pada saat kerja biasa
- f
w3
= 1,5 untuk kerja dengan tumbukan
Berdasarkan Tabel 4.9 Buku Dasar Perencanaan dan Pemilihan Elemen Mesin,
karya Soelarso dan Kiyokatsu Suga.
35
- V = 1,2 Beban putar ada pada cincin luar dari bearing
- X = 1 ; Y = 0 nilai e
F V
F
r
a
s
.
, karena nilai F
a
= 0
Beban ekivalen dinamis
( )
w a r r
f YF XVF P . + =
- ( ) ( ) 976 , 1745 1 . 0 98 , 1454 . 2 , 1 . 1 .
1 1
= + = + =
w a r r
f YF XVF P N
- ( ) ( ) 768 , 2269 3 , 1 . 0 98 , 1454 . 2 , 1 . 1 .
2 2
= + = + =
w a r r
f YF XVF P N
- ( ) ( ) 964 , 2618 5 , 1 . 0 98 , 1454 . 2 , 1 . 1 .
3 3
= + = + =
w a r r
f YF XVF P N
Kecepatan sudut rata-rata dan beban rata-rata
-
3 3 2 2 1 1
q q q
m
+ + =
= 3 , 0 . 839 , 176 3 , 0 . 258 , 265 4 , 0 . 355 , 707 + +
= 415,5711rpm
-
3
1
3
3 3 3
3
2 2 2
3
1 1 1
. . . . . .
|
|
.
|

\
|
+ +
=
m
r r r
m
P q P q P q
P



=
( ) ( ) ( )
3
1
3 3 3
5177 , 415
62 , 1466 . 3 , 0 . 84 , 176 07 , 1271 . 3 , 0 . 26 , 265 974 , 1745 . 4 , 0 . 36 , 707
|
|
.
|

\
|
+ +

= 1641,094 N
164,1094 kg

Untuk bearing roda sepeda motor yang pemakaiannya tidak terus-menerus, menurut
Tabel 4.11 buku Dasar Perencanaan dan Pemilihan Elemen Mesin karya Soelarso
dan Kiyokatsu Saga, mempunyai umur nominal sebesar 5000-15000 jam. Jadi,
bearing yang dipilih harus memiliki umur nominal yang lebih dari atau sama dengan
5000 jam.

Sebagai permisalan, dari katalog SKF dipilih Bearing dengan nomor 6302 yang
didasarkan pada diameter shaft yang besarnya 14,8 mm, sehingga didapatkan ;
- C

( kapasitas nominal dinamis spesifik ) = 895 kg
- C
0
( kapasitas nominal statis spesifik ) = 545 kg
36

Umur Nominal (L
h
)
- Faktor kecepatan (f
n
)
4311 , 0
5711 , 415
3 , 33 3 , 33
3
1
3
1
= |
.
|

\
|
=
|
|
.
|

\
|
=
m
n
f


- Faktor umur (f
h
)
35 , 2
109 , 164
895
4311 , 0 = |
.
|

\
|
=
|
|
.
|

\
|
=
m
n h
P
C
f f
- Umur nominal

3
500 h
h
f L =
= ( )
3
35 , 2 500
= 6498,86 jam

Jadi, umur nominal dari bearing nomor 6203 lebih besar dari 5000 jam,
sehingga bearing tersebut dapat dipakai pada sepeda motor Honda MegaPro.
Dimensi dari bearing nomor 6203 berdasarkan katalog SKF ;
- mm d
b
15 = diameter dalam
- mm d
a
42 = diameter luar
- mm b
w
13 = tebal bearing




C. Perhitungan Chain (Rantai)

z
1
= Jumlah gigi sproket kecil = 12
z
2
= Jumlah gigi sproket besar = 44

1
= Kecepatan sudut sproket kecil = Torsi maximum = 6.500 rpm

2
= Kecepatan sudut sproket besar
d
1
= Diameter sproket kecil
37
d
2
= Diameter Sproket besar
r
g = Gear Ratio



1
2
2
1
1
2
z
z
d
d
g
r
= = =


..Buku Hamrock halaman 850


r
g

=
1
2
N
N
=
12
44
= 3,667

r
g

=
2
1



2
=
r
g
1

=
667 , 3
500 . 6 rpm
= 1772, 56 rpm
- Jadi, kecepatan sudut pada sproket besar adalah 1772, 56 rpm

Perbandingan variasi kecepatan () :
- Sproket besar
=
rata rata
v
v v

min max
=
) / sin(
) / cos( 1
2 z
z



=
0713 , 0
0025 , 0
57 , 1
) 44 / 180 sin(
) 44 / 180 cos( 1
2
14 . 3
=


= 0,055



- Sproket kecil
=
rata rata
v
v v

min max
=
) / sin(
) / cos( 1
2 z
z




=
258 , 0
034 , 0
57 , 1
) 12 / 180 sin(
) 12 / 180 cos( 1
2
14 . 3
=

= 0,2068

38
- Makin besar jumlah gigi sproket, makin kecil perbandingan variasi
kecepatannya, yang berarti makin halus jalannya.

.Buku Soelarso halaman 199

Memi l i h Rant ai Rol l

1. Daya yang ditransmisikan
P = 13,8 PS = 10, 143 kw
Putaran poros

1
= 6.500 rpm

Perbandingan reduksi putaran
i =
2
1

=
56 , 1772
500 . 6
= 3,67
Jarak sumbu sproket
C 530 mm
2. Faktor koreksi
F
c
= 1,2 .Tabel 5.17 buku Soelarso
Halaman 196
3. Daya rencana
P
d
= F
c
x P = 1,2 x 10,143
= 12,17 kw


4. Momen rencana
T
1
= 9,74 x 10
5
x (P
d
/
1
)
= 9,74 x 10
5
x (12,17/6500) = 1.823,62 Kg.mm
T
2
= 9,74 x 10
5
x (P
d
/
2
)
= 9,74 x 10
5
x (12,17/1772,56) = 6.978,49 Kg.mm
5. Bahan Poros SCM4 , dengan kekuatan tarik

b
= 100 Kg/mm
2

39
Sf
1
= 6 (untuk S-C dengan pengaruh massa, dan baja paduan)
Buku Soelarso halaman 8
Sf
2
= 1,3 (pengaruh konsentrasi tegangan akibat alur yang
diberikan, kecil)

a
=
) 3 , 1 6 (
100
x
= 12,82 Kg/mm
2

K
t
= 0,7
C
b
= 1,7
6. Diameter poros
Sproket kecil :
1
s
d = 3
1 , 5
T C K
b t
a

= 3 62 , 823 . 1 . 7 , 1 . 7 , 0
82 , 12
1 , 5
= 9,52 mm 10 mm

Sproket besar :
1
s
d = 3
1 , 5
T C K
b t
a

= 3 49 , 978 . 6 . 7 , 1 . 7 , 0
82 , 12
1 , 5
= 14,89 mm 14 mm

.Tabel 1.7, halaman 9
Soelarso
7. Nomor rantai 40 dengan rangkaian tunggal sementara diambil.
P = 12,7 mm
Z
1
= 12
F
b
= 1.950 Kg
F
u
= 300 Kg ..Tabel 5.16 halaman 192. Soelarso

8. Z
2
= 44
- Sproket kecil
d
p
=
) 12 / 180 sin(
7 , 12
= 49,07 mm
d
k
= (0,6 + cot(180/12))P = 55,02 mm

- Sproket besar
40
D
p
=
) 44 / 180 sin(
7 , 12
= 178 mm
D
k
= (0,6 + cot(180/44))12,7 = 185,19 mm

Diameter Naf maksimum
- d
B max
= 12,7(cot(180/12)-1) 0,76 = 33,9 mm
- D
B max
= 12,7(cot(180/44)-1) 0,76 = 164,1 mm
Diameter Naf kedua sproket cukup untuk diameter poros yang
bersangkutan.
9. Kecepatan rantai
v =
60 1000
. .
1 1
x
n z p
=
60 1000
6500 . 12 . 7 , 12
x
= 16,51 m/s
10. Beban rencana
187 , 75
51 , 16
7 , 12 102 102
= = =
x
v
P
F
d
Kg
11. Faktor keamanan
Sf = 93 , 25
187 , 75
1950
=
12. 6 < 25,93..baik
75,187 < 300.baik
13. Dipilih rantai nomor 40 rangkaian tunggal
14. Panjang rantai (dalam pitch)
C
p
=

|
.
|

\
| +
+ |
.
|

\
| +

2
1 2
2
2 1 2 1
) (
86 , 9
2
2 2 4
1
z z
z z
L
z z
L
=

|
.
|

\
| +
+ |
.
|

\
| +

2
2
) 12 44 (
86 , 9
2
2
44 12
112
2
44 12
112
4
1

= 41, 68 = 42 pi t ch

C = 41,68 x 12,7 = 529, 33 mm
16. Cara pelumasan tetes .Tabel 18.11 halaman 853
Hamrock
41
17. Nomor rantai 40, rangkaian tunggal , 112 mata rantai.
Jumlah gigi sproket : 12 dan 44
Diameter poros sproket : 10 mm dan 14 mm
Jarak sumbu poros sproket : 529,33 mm
Pelumasan : Pelumasan tetes

















BAB IV PENUTUP

Analisis
Dari perhitungan untuk nilai diameter poros sebenarnya dengan diameter poros
untuk beban dinamis terjadi perbedaan. Perbedaan ini kemungkinan disebabkan karena
nilai momen alternating yang mungkin tidak sesuai dengan kondisi yang sebenarnya.
Pada perhitungan principal stress dengan FEM (Ansys) dihasilkan nilai maksimal
42
sebesar 416.668 MPa. Nilai ini juga berbeda dengan nilai yang dihasilkan dengan
perhitungan manual. Perbedaan ini disebabkan karena adanya stress-concentration di
titik beban sebagai akibat pemberian beban dilakukan pada satu titik.
Untuk bearing dipilih bearing yang sesuai dengan bearing sebenarnya yaitu
bearing dengan nomor 6302 yang berjenis single-row, deep-groove ball bearings dengan
dimensi :
- mm d
b
15 = diameter dalam
- mm d
a
42 = diameter luar
- mm b
w
13 = tebal bearing
Jenis bearing ini mempunyai umur nominal L
h
= 6498,86 jam yang masuk dalam range
untuk bearing dengan pemakaian tidak terus-menerus yaitu 5.000 sampai 15.000 jam.
Untuk chain dipilih rantai dengan spesifikasi;
- Nomor rantai 40, rangkaian tunggal , 112 mata rantai.
- Jumlah gigi sproket : 12 dan 44
- Diameter poros pada sproket : 10 mm dan 14 mm
- Jarak sumbu poros sproket : 529,33 mm
- Pelumasan : Pelumasan tetes
Yang didasarkan pada tata cara pemilihan rantai dari buku Soelarso.


Kesimpulan
Dari perhitungan yang telah dilakukan dihasilkan ;
1. Untuk poros
- Diameter untuk beban statis ; d = 14,8mm
- Diameter untuk beban dinamis ; d
min
= 15,36mm
- Bahan poros adalah Steel Alloy 4140 (AISI 4140/SCM 4)
- Principal Stress ; MPa 71 , 326 =
- Defleksi
Persamaan Defleksi pada AB untuk arah y
( ) 8358 , 0 5155 , 14 725 , 52 5417 , 23
1
2 3
+ = x x x
EI
y
43
Persamaan Defleksi pada AB untuk arah x
( ) 3904 , 0 7788 , 6 6212 , 24 9916 , 10
1
2 3
+ = x x x
EI
y

2. Untuk Bearing; dipilih berdasarkan katalog SKF, bearing dengan nomor 6302 yang
berjenis single-row, deep-groove ball bearings dengan dimensi :
- mm d
b
15 = diameter dalam
- mm d
a
42 = diameter luar
- mm b
w
13 = tebal bearing
Dengan umur nominal ; L
h
= 6498,86 jam

3. Untuk Rantai; dipilih
- Nomor rantai 40, rangkaian tunggal , 112 mata rantai.
- Jumlah gigi sproket : 12 dan 44
- Diameter poros pada sproket : 10 mm dan 14 mm
- Jarak sumbu poros sproket : 529,33 mm
- Pelumasan : Pelumasan tetes


44

Gambar 1


Gambar 2

Gambar 1 dan 2 merupakan hasil dari FEM ( Ansys ) yang menunjukkan nilai 1
st

Principal Stress dari poros.
45

Gambar 3
Menunjukkan deformasi dari poros. Ternyata pada poros tidak terjadi perubahan
bentuk yang signifikan terhadap adanya beban.














46
Daftar Pustaka

Callister, Jr. William D.2003.Materials Science and Engineering an Introduction 6
th

Edition.Utah : John Wiley & Sons, Inc.

Hamrock, Bernard J.,Bo O. Jacobson, Steven R. Schmid.1999.Fundamentals of
Machine Elements.Ohio : McGraw-Hill.

Sularso.,Kiyokatsu Suga.1994.Dasar Perencanaan dan Pemilihan Elemen Mesin.
Jakarta : PT. Pradnya Paramita.

www.astra-honda.com, diakses tanggal 18 November 2005