Anda di halaman 1dari 69

PEMILIHAN KEGIATAN USAHA

DISARIKAN OLEH: ALFIAN MAASE

Pemilihan kegiatan usaha sangat bergantung pada kesiapan dan kemampuan setiap pengusaha/WP pada kegiatan usaha yg akan dipilihnya dan pertimbangan aspek permodalan,perijinan, tren pasar, pesaing dan sebagainya Pemilihan kegiatan usaha dengan pertimbangan perpajakan sangat diperlukan untuk menentukan perspektif rugi laba yg akan dicapai perusahaan pada masa yg akan datang, karena laba rugi juga dipengaruhi oleh besarnya pajak.

Pilihan kegiatan usaha berkaitan dengan ketentuan perpajakan diuraikan sebagai berikut:

1. Pilihan Usaha Bidang Pertanian


Bidang usaha pertanian meliputi: - Pertanian, perkebunan, dan kehutanan - Peternakan, perburuan atau penangkapan maupun penangkaran - Perikanan baik dari penangkapan maupun budidaya

Untuk memilih kegiatan usaha dibidang pertanian perlu diperlukan pertimbangan sbb: - Pertimbangan pengenaan PPh - Pertimbangan pengenaan PPN Pertimbangan Pengenaan PPh Perhitungan pajak tahunan bagi usaha pertanian pada dasarnya sama dengan kegiatan usaha lainnya. Badan usaha industri/eksportir di bidang ini ditunjuk sebagai pemungut PPh pasal 22 atas pembelian bahan-bahan untuk keperluan industri atau untuk diekspor dari pedagang pengumpul

Tarif PPh pasal 22 yang dipungut sebesar 0,5% dari harga pembelian tidak termasuk PPn Tetapi untuk petani dan pedagang pengumpul penjualan hasil pertanian akan merupakan PKP jika sudah di atas PTKP Pertimbangan Pengenaan PPh Kapal Ikan Asing Kapal ikan asing yg telah mendapat izin operasi pasa Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) di wilayah laut Indonesia diperlakukan sama dengan BUT. Kapal ikan asing tersebut mempunyai kewajiban pajak sbb: - Resource Fee - Pajak Penghasilan

Resource fee adalah PNBP dari WP yg dibayar karena WP memperoleh izin menangkap ikan di ZEE Indonesia dan resource fee diperlakukan sebagai biaya. Pajak penghasilan, adalah PPh yg dikenakan ke BUT (lihat materi perencanaan pajak sesuai bentuk usaha).

Pertimbangan Pengenaan PPN Untuk bidang pertanian terdapat BKP strategis dan BKP non strategis. BKP strategis dibebaskan dari pengenaan PPN sbb: - Makanan ternak, unggas, ikan dan atau bahan baku untuk pembuatannya. - Barang hasil pertanian - Bibit atau benih, barang pertanian, perkebunan, kehutanan, peternakan, penangkaran, atau perikanan.

Pembebasan PPN atas BKP strategis pertanian tertentu akan membuat harga komoditas pertanian ini memiliki daya saing lebih dibandingkan produk selain BKP strategis pertanian atau produk lainnya. Tetapi penyerahan atas BKP strategis tersebut yg dibebaskan dari pengenaan PPN hanya yg berasal dari petani atau kelompok tani. Fasilitas pembebasan PPN pada BKP strategis bisa menjadi pertimbangan bagi pengusaha untuk memilih kegiatan usaha dibidang pertanian

-Pertimbangan Pengenaan PPN pada Pertanian Berbagai kegiatan usaha dibidang pertanian yg mempunyai perlakuan khusus antara lain sbb: - Pertanian padi dan penggilingan gabah - Pertanian tebu

Pertimbangan Pengenaan PPN pada pertanian padi dan Penggilingan Gabah Ketentuan yg berkaitan dengan pertanian padi dan barang pertanian yg dihasilkan antara lain: - Penyerahan atau inpor padi hibrida dalam kategori penyerahan atau inpor benih yg akan dikembangkan dalam bidang pertanian, tidak dikenakan PPN - Beras maupun gabah termasuk barang-barang kebutuhan pokok yg dibebaskan dari pengenaan PPN

Namun untuk jasa penggilingan gabah menjadi beras adalah jasa yg dikenakan PPN. Jadi semua pengusaha penggilingan beras, termasuk pengusaha kecil, penggilingan gabah keliling dikukuhkan sebagai PKP dan harus memungut PPN dari pihak yang meminta jasa. Untuk penggilingan beras Bulog, sepanjang yg meminta jasa penggilingan beras tersebut bukan PKP maka tidak dikenakan PPN

Kalau ingin menghindari PPN maka pengusaha dapat memilih membeli gabah dan menjual beras. Karena gabah dan beras merupakan BKP strategis yg dibebaskan dari PPN dan tidak ada jasa yg terjadi karena gabah yg diolah adalah milik sendiri, sehingga tidak terutang PPN.

Pertimbangan Pengenaan PPN pada Pertanian Tebu Atas penyerahan tebu yg dilakuakn oleh petani dan kelompok tani dibebaskan dari PPN, tetapi kalu bukan oleh petani atau kelompok tani dikenakan PPN. Gula pasir sebagai produk dari tebu dikenakan PPN, karena sudah melewati pabrikasi dengan ditambahkan bahan lain.

Jasa penggilingan tebu yang dilakukan oleh pabrik dan gula yg dijual dikenakan PPN. Petani dan Pabrik bisa melakukan kerja sama, sbb: - Sistem Bagi Hasil (SBH) - Sistem Pembelian Tebu (SBT) Dengan SBH petani misalnya akan menerima 65% produksinya dalam bentuk pembelian gula, sedangkan pabrik menerima 35% produksi nya dalam bentuk gula yang terutang PPN, (karena yg 35% adalah ganti pembayaran atas jasa pengolahan tebu)

Pada SBT, misalnya petani akan menerima 65% produksinya dalam bentuk gula pasir, sedangkan pabrik akan menerima 35% produksinya dalam bentuk gula pasir yg terutang PPN. Petani bisa menjual gulanya itu ke Pabrik atau pihak ke tiga dengan tidak dikenakan PPN lain halnya jika petani tersebut PKP.

-Pertimbangan Pengenaan PPN Perkebunan dan Kehutanan BKP yg strategis dalam perkebunan dan kehutanan yg dibebaskan dari pengenaan PPN antara lain: i. Barang hasil perkebunan dan kehutanan ii. Bibit tanaman perkebunan dan kehutanan Banyak sektor kegiatan usaha dalam bidang perkebunan, namun yg pengenaan pajaknya diatur tersendiri, antara lain: a. Kelapa sawit b. Kopra c. Karet d. Kakao e. Teh f. Kehutanan

a. Pertimbangan Pengenaan PPN Kelapa Sawit Penjualan Bibit kelapa sawit dan Tandan Buah Segar (TBS) dibebaskan PPN. b. Pertimbangan Pengenaan PPN Kopra Penyerahan kelapa dan kopra dari petani, kelompok tani, pengusaha kecil dan pengepu/pedagang antar pulau tidak dikenakan PPN

c. Pertimbangan Pengenaan PPN Perkebunan Karet Penyerahan karet sadapan langsung atau yg telah diolah oleh petani, kelompok tani dibebaskan dari pengenaan PPN d. Pertimbangan Pengenaan PPN Perkebunan Kakao Penyerahan kakao oleh petani/kelompok tani dibebaskan dari pengenaan PPN

e. Pertimbangan Pengenaan PPN Perkebunan The Penyerahan daun the hijau dan hitam oleh petani dan kelompok tani dibebaskan dari pengenaan PPN. Jika dilakukan oleh pedagang antar pulau dikenakan PPN. f. Pertimbangan Pengenaan PPN Kehutanan Penyerahan Kayu bulat (log) oleh petani/kelompok tani dibebaskan dari PPN, penyerahan selain oleh petani dan kelompok tani dikenakan PPN Kayu olahan adalah BKP yg dikenakan PPN.

-Pertimbangan Pengenaan PPN pada Perikanan Hampir semua kegiatan dibidang perikanan, baik penangkapan maupun budidaya termasuk BKP strategis yg dibebaskan PPN jika penyerahannya dilakukan oleh petani atau kelompok tani, seperti a. Barang hasil perikanan b. Benih perikanan c. Makanan ikan d. Bahan baku pembuat makanan ikan

-Pertimbangan Pengenaan PPN pada Peternakan Kegiatan usaha dalam bidang peternakan sangatlah luas. Bidang usaha peternakan yg pernyerahannya dan impornya dibebaskan PPN sepanjang dilakukan oleh petani/kelompok tani: a. Susu segar b. Sapi perah c. Sapi bakalan d. Bibit Kambing e. Makanan ternak f. Telur dan ayam

2. Pilihan Usaha Bidang Pertambangan


Pilihan usaha pertambanga: - Minyak mentah - Gas Bumi - Panas Bumi - Pasir dan kerikil - Batubara sebelum diproses menjadi briket - Bijih besi, bijih timah, biji emas, bijih tembaga, bijih nikel, bijih perak serta bijih bauksit

Pilihan kegiatan usaha dalam bidang pertambangan dapat mempertimbangkan ketentuan perpajakan berikut: - Pertimbangan PPN - Pertimbangan Bagi Hasil - Pertimbangan PPh

- Pertimbangan PPN pada Pertambangan Jenis barang hasil pertambangan atau hasil pengeboran yg diambil langsung dari sumbernya dan tidak terutang PPN sbb: a. Minyak mentah (crude oil) b. Gas bumi c. Panas bumi d. Pasir dan kerikil e. Batubara sebelum diproses menjadi briket batubara f. Bijih besi, bijih timah, bijih emas, bijih nikel, bijih perak dan bijih bauksit.

Sumber Daya Panas Bumi Fasilitas perpajakan yg diberikan pada pengusaha panas bumi: - Impor barang operasional untuk keperluan pengusahaan sumber daya panas bumi tidak dipungut Bea Masuk, PPN dan PPn.BM - PPN yg terutang atas penyerahan jasa pencarian sumber-sumber panas bumi dan jasa pengeboran diberikan penundaan pembayaran. - PPN masukan atas perolehan BKP/JKP dapat dikembalikan dengan syarat.

Batu Bara Batu bara akan terutang PPN jika telah diubah menjadi briket. Akan tetapi bagi pengusaha kontrak karya, penyerahan batu bara akan terutang PPN sesuai dengan tarif yg diatur dalam Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B), sesuai generasi kontrak tersebut: - Untuk generasi I dan II sebesar 5% - Untuk Generasi III dan sampai ke VII sebesar 10%.

Pertambangan Migas Minyak bumi atau gas alam akan menjadi BKP yg dikenakan PPN jika telah diubah menjadi premium, LPG, dll.

- Pertimbangan Bagi Hasil pada Pertambangan Bagi hasil pada pertambangan tergantung kesepakatan antara pengelola dan pemerintah serta ketentuan perundang-undangan yg berlaku di Indonesia, dibawah ini akan disajikan contohnya:

No. A. 1. 2. 3. B 1. C. 1.

Pengelola Migas Migas Pertamina Minyak Bumi KPS Gas Alam KPS Batubara Kontraktor Sumber Daya Panas Bumi Tidak dibedakan

Bagian Pemerintah

Bagian Pengelola

Dasar Perhitungan

60% 71,1538% 42,3077%

40% 28,8462% 57,6923%

Hasil Usaha Bersih Equity To Be Split Equity To Be Split

13,5%

86,5%

Penjualan sesuai FOB

34%

66%

Net Operating Income

Minyak dan Gas Bumi kelihatannya sangat tinggi, tetapi karena dihitung dari hasil usaha bersih dapat menjadi lebih kecil dari bagi hasil batubara tetapi jika dibandingkan dengan panas bumi memang lebih tinggi. Bagi KPS selain dikenakan Tarif PPH yg tinggi terdapat juga Branch profit tax jika labanya tidak diinvestasikan di Indonesia.

Batu Bara Bagian pemerintah yg dibayarkan pada pertambangan batubara adalah paling kecil, hanya 13,5%, tetapi dihitung dari penjualan, sehinggan hasilnya mungkin lebih besar dari migas pada pertamina sebesar 60% dari laba bersih. Kalau laba bersih migas pada pertamina hanya 10% maka bagian pemerintah hanya 60% X 10% = 6% dari penjualan. Ditambah lagi PPH terutang pada kontraktor batubara tidak termasuk pada bagian pemerintah yang 13,5% tersebut.

Sumber Daya Panas Bumi Pengusaha berkewajiban menyetor bagian pemerintah sebesar 34% dari penerimaan bersih usaha (Net Operating Income) setiap triwulan ke dalam rekening penerimaan panas bumi Departemen Keuangan pada BI. Setoran 34% tersebut diperlakukan sebagai penyetoran PPh. Pajak lainnya ditanggung oleh pemerintah seperti PPn, PBB dan pungutan lainnya.

Bagi hasil panas bumi masih lebih rendah dibanding bagi hasil pada minyak bumi maupun gas. PPh yg terutang dihitung dari PKP (taxable income) dengan tarif pasal 17 UU PPh. Namun demikian apabila pengusaha panas bumi tersebut berbentuk Permanent Establishment (BUT), maka bagian pemerintah sebesar 34% telah memenuhi kewajiban pelinasan PPh sehingga ketentuan ini sangat menguntungkan pengusaha panas bumi bila dibanding KPS gas saja yg PPh-nya sudah 35% dari contractor Share. Dengan pengakuan pembayaran PPh termasuk 34% pada bagian pemerintah, praktis bagian pemerintah itu hanya berupa PPh saja.

- Pertimbangan Pengenaan PPh pada Pertambangan


No. A 1. 2. 3. B 1. 2. C 1. 2. 3. 4. 5. 6. Pengelola MIgas Migas Pertamina Minyak Bumi KPS Gas Alam KPS Batubara Umum PKP2B Sumber Daya Panas Bumi Umum Umum BUT Selain BUT KOB KOB PPh Tahunan PPh Tahunan PPh lainnya Dihitung dengan pasal 17 dari Taxable income Tidak terutang Dipotong dan memotong PPh 22 Impor PPh Tahunan Tidak dipungut Sudah termasuk bagian pemerintah 34% PPh PPh Pasal 17 UU PPh Sesuai generasinya PPh PPh PPh Pasal 17 UU PPh Income Tax 35% + Branch Profit Tax 20% Income Tax 35% + Branch Profit Tax 20% Jenis Pajak Pengenaan Pajak

Kegiatan Usaha Sumber Daya Panas Bumi Fasilitas yg diberikan pada pengusaha panas Bumi antara lain adalah: - Impor barang operasional untuk keperluan pengusahaan sumber daya panas bumi tidak dipungut PPh pasal 22 Berdasarkan berbagai pertimbangan sesuai ketentuan perpajakan tersebut maka dapat disimpulkan bahwa: - Semua hasil tambang yg diambil langsung dari sumbernya bukan merupakan BKP yg terutang PPN, sehingga PPN masukan yg berkaitan tidak dapat dikreditkan, lebih-lebih direstitusi.

- Batubara akan terutang PPN apabila pengusaha batubara sebagai Kontrak Karya atau Kontrak Bagi Hasil yg diatur sesuai PKP2b, yang sebesar tarif PPN sesuai dengan generasi perjanjiannya. - Hasil tambang yang telah diolah akan menjadi BKP yang terutang PPN - Bagi hasil paling besar yang diterima WP adalah pada pertambangan batubara, kemudian sumber panas bumi, gas dan minyak bumi. - Besarnya PPh yang paling rendah adalah pada sumber panas bumi.

3. Pilihan Usaha Bidang Industri


Pilihan WP terhadap bidang industri tertentu sangat tergantung pada kemampuan mengelola bidang industri tersebut. Namun WP dapat menggunakan pertimbangan perpajakan jika ingin melakukan diversifikasi usaha atau sebagai perbandingan saja. WP industri perlu mempertimbangkan perlakuan perpajakan yg diterapkan pada masing-masing kegiatan industri, yaitu: - Pertimbangan PPh - Pertimbangan PPN

Pertimbangan Pengenaan PPh Bidang Industri Jika memperhatikan ketentuan PPh bidang industri , sebenarnya tidak ada perbedaan untuk perhitungan PPh terutang akhir tahun pada semua jenis kegiatan industri dan tidak ada perlakuan khusus untuk pengakuan penghasilan dan biaya. Namun apabila memperhatikan hal-hal yg berkaitan dengan kewajiban pemungutan PPh maka akan didapatkan perbedaan.

Kewajiban pemungutan seperti PPh pasal 22 hanya diwajibkan pada industri terntentu:
No. 1. 2. 3. 4. Industri Industri Kertas Industri Baja Industri Semen Industri Otomotif Pemungutan PPh 0,1 % DPP 0,3 % DPP 0,25 % DPP 0,45 % DPP Sifatnya

Tidak Final Tidak Final Final Tidak Final

Apabila WP mempunyai PKP sebesar 10% dari DPP dan tarif PPh 25% maka besarnya PPh terutang adalah 2,5% dari DPP. Pemungutan PPh pasal 22 tidak final jika dikreditkan tetap masih kurang jika dibandingkan dengan yg akan terutang. Namun demikian kalau pungutan PPh pasal 22 tersebut bersifat final maka PPh tersebut tidak bisa dikreditkan dan bukan merupakan biaya, sedangkan terhadap penghasilan distributor tetap masih terutang PPh. Jadi PPh pasal 22 yg paling besar ada pada industri otomotif sedangkan yg paling rendah ada pada industri kertas.

Pertimbangan Pengenaan PPN Bidang Industri Pengenaan PPN pada produk industri dapat dibedakan menjadi dua, yaitu sbb: - Dasar pengenaan dan tarifnya - Cara pelunasan Dasar pengenaan dan tarif PPN pada indsutri umumnya sebesar 10% dari DPP. Tetapi untuk industri tertentu tidak menggunakan dasar dan tarif tersebut.

No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

Industri Industri Kertas Industri Baja Industri hasil tembakau Industri semen Industri Otomotif Industri rekaman gambar Industri Rekaman Suara Industri minyak goreng

PPN 10% 10% 8,4% 10% 10% 10% 10% Ditanggung pemerintah

Dasar Pengenaan PPN DPP DPP Harga Banderol DPP DPP Harga jual rata-rata Harga jual rata-rata Ditanggung pemerintah

Harga jual rata-rata adalah harga yg ditetapkan pemerintah, sehingga yg memiliki harga yg lebih tinggi dari harga rata-rata akan diuntungkan, dan harga rata-rata tersebut include PPN atau sudah termasuk PPN sehingga harga rata-rata lebih besar dari DPP. Cara pelunasan PPN pada umumnya melalui mekanisme PKPM (pajak keluaran-pajak masukan) namun pada industri tertentu melibatkan Ditjen Bea Cukai, karena berkaitan dengan kegiatan cukai maupun bea masuk, seperti untuk rokok, rekaman suara dan gambar juga impor.

Ada kekhususan cara pelunasan PPN bagi industri rokok, industri rekaman gambar dan industri rekama suara, jika umumnya pelunasan PPN pada saat produk terjual tetapi diindustri tersebut pelunasannya pada saat penebusan pita cukai, walaupun produk belum terjual atau dengan kata lain PPN dibayar dimuka. Cara yang paling menguntungkan dalam pembayaran PPN pada industri adalah dengan mempergunakan mekanisme PKPM yg dilakukan setelah produk terjual.

4. Pilihan Usaha Bidang Konstruksi


Jenis usaha dibidang konstruksi terbagi 3: - Perencanaan konstruksi - Usaha pelaksanaan konstruksi - Pengawasan konstruksi Pekerjaan konstruksi adalah keseluruan atau sebagian rangkaian kegiatan perencanaan dan/atau pelaksanaan beserta pengawasan yang mencakup pekerjaan arsitektural, sipil, mekanikal, elektrikal, dan tata lingkungan masing-masing beserta kelengkapannya, untuk mewujudkan suatu bangunan atau bentuk fisiknya lainnya.

Perlakuan PPN pada jasa konstruksi tidak berbeda antara perusahaan jasa konstruksi satu dengan yang lainnya. Hanya saja untuk perlakuan PPh-nya dapat berbeda. Pertimbangan pemilihan kegiatan usaha dibidang konstruksi meliputi hal-hal sebagai berikut: - Pertimbangan pengenaan PPh - Pertimbangan pengenaan PPN

Pertimbangan Pengenaan PPh Jasa Konstruksi Besarnya PPh terutang pada jasa konstruksi sama dengan kegiatan usaha lain dengan memperhitungkan PKP dalam setahun, tidak termasuk yg sudah dikenakan PPh final atau yang bukan obyek pajak. Untuk penghasilan jasa konstruksi akan dipotong PPh pasal 4 (2) yang bersifat final dan tidal final dan besarnya juga berbedabeda.

No. Bidang

Sifat

PPh

Dari

Mempunyai Sertifikasi Jasa Konstruksi

1.

Jasa Pengawasan/Perencanaan Konstruksi, sertifikasi kecil

Final

2%

Jumlah imbalan seluruhnya termasuk pemberian jasa dan pengadaan material /barang tidak termasuk PPN Jumlah imbalan seluruhnya termasuk pemberian jasa dan pengadaan material tidak termasuk PPN

2.

Jasa pelaksanaan konstruksi: menengah dan besar

Final

3%

Tidak Mempunyai sertifikasi Jasa Konstruksi

3.

Jasa pengawasan/Perencanaan Konstruksi

Final

6%

Jumlah imbalan seluruhnya termasuk pemberian jasa dan pengadaan material tidak termasuk PPN

4.

Jasa Pelaksanaan Konstruksi

Final

4%

Sama di atas

Keuntungan dan kerugian pengusaha jasa konstruksi dapat dilihat sesuai kondisi pengusaha jasa konstruksi seperti berikut: - Pengusaha dengan sertifikasi kecil - Pengusaha dengan sertifikasi menengah/besar - Pengusaha tanpa sertifikasi

Pengusaha dengan Sertifikasi Kecil Bagi pengusaha konstruksi sertifikasi kecil dengan penghasilan kena pajak diatas 16% PPh final sebesar 2% menjadi terlalu kecil. Misalnya PKP 16,5% dan tarif PPh 12,5% PPh final tersebut menjadi terlalu kecil karena seharusnya adalah 16,5% X 12,5% sama dengan 2,06% Namun jika PKP dibawah 16% maka PPh final 2% tersebut menjadi terlalu besar. Misalnya PKP 15% dan tarif PPh 12,5% karena seharusnya 15% X 12,5% sama dengan 1,875%

Pengusaha dengan Sertifikasi Menengah Besar Bagi pengusaha konstruksi sertifikasi menegah/besar dengan penghasilan kena pajak diatas 24% PPh final sebesar 3% menjadi terlalu kecil. Misalnya PKP 25% dan tarif PPh 12,5% PPh final tersebut menjadi terlalu kecil karena seharusnya adalah 25% X 12,5% sama dengan 3,125% Namun jika PKP dibawah 24% maka PPh final 3% tersebut menjadi terlalu besar. Misalnya PKP 23% dan tarif PPh 12,5% karena seharusnya 23% X 12,5% sama dengan 2,875%

Pengusaha Tanpa Sertifikasi Bagi pengusaha konstruksi sertifikasi menegah/besar dengan penghasilan kena pajak diatas 32% PPh final sebesar 4% menjadi terlalu kecil. Misalnya PKP 33% dan tarif PPh 12,5% PPh final tersebut menjadi terlalu kecil karena seharusnya adalah 33% X 12,5% sama dengan 4,125% Namun jika PKP dibawah 32% maka PPh final 4% tersebut menjadi terlalu besar. Misalnya PKP 31% dan tarif PPh 12,5% karena seharusnya 31% X 12,5% sama dengan 3,875%

Pertimbangan Pengenaan PPN Jasa Konstruksi Kegiatan jasa konstruksi adalah jasa kena pajak yg dikenakan PPN 10% Dasar pengenaan PPN pada jasa konstruksi adalah semua pengeluaran dalam rangka pekerjaan konstruksi meliputi pembelian bahan maupun pengeluaran jasa.

5. Pilihan Usaha Bidang Real Estate


Usah bidang real estate adalah: kegiatan perolehan tanah untuk kemudian dibangun perumahan atau bangunan komersil dan atau bangunan industri. Bangunan tersebut dimaksud untuk dijual atau disewakan sebagai satu kesatuan atau enceran (retail). Aktivitas ini juga mencakup perolehan tanah untuk dijual kapling tanpa bangunan

Pilihan kegiatan usaha dalam bidang real estate harus memperhatikan perlakuan perpajakan seperti berikut: - Perlakuan PPh - Perlakuan PPN - Perlakuan PPn BM

Pertimbangan Perlakuan PPh PPh pada real estate dikenakan atas semua penghasilan dari penjualan bangunan, kapling tanah, maupun jasa pengembangan atau membangun sendiri. WP yg usaha pokoknya pengalihan hak atas tanah dan bangunan seperti real estate ini, atas penjualan tanah dan atau bangunan pengenaan PPh-nya dibedakan atas penyerahan rumah sederhana, rumah sangat sederhana, dan rumah susun sederhana dikenakan PPh 2% sedangkan lainnya dikenakan PPh 5% dan semuanya bersifat final.

Dan jika penghasilan dari pengusaha real estate hanya penghasilan yg telah dikenakan PPh final di atas maka Pph terutang akhir tahun adalah nihil. Tetapi jika terdapat penghasilan lain seperti jasa membangun sendiri atau pengembangan, maka pada akhir tahun masih akan terdapat PPh terutang. Dibawah ini akan disajikan PPh final atas pengalihan tanah dan atau bangunan:

No. 1. 2. 3. 4. 5.

Penjual WP OP WP OP WP OP Yayasan, organisasi sejenis WP Badan yg usaha pokoknya pengalihan hak atas tanah & bangunan WP Badan yg usaha pokoknya pengalihan hak atas tanah & bangunan

Kriteria Penghasilan>PTKP Penghasilan<PTKP

Harga Tanah dan Bangunan <Rp. 60 juta

PPh 5% Tdk terutang 5% 5% 5%

Sifat

Final

Penghasilan >PTKP >Rp. 60 juta Yg dijual rumah sederhana -

Final Final Final

7.

Rumah sangat sederhana Rumah susun sederhana

2%

Final

Pertimbangan Perlakuan PPN Pada dasarnya semua perumahan yg diserahkan oleh perusahaan real estate dikenakan PPN, namun ada beberapa tipe rumah yg tidak dikenakan PPN, yaitu: - Rumah sederhana - Rumah susun sederhana - Pondok boro - Asrama mahasiswa dan pelajar - Rumah sederhana sehat (Rs Sehat/RSH), dan - Rumah inti Tumbu (RIT)

Atas penyerahan rumah-rumah tersebut di atas tidak dikenakan PPN apabila perolehannya dilakukan secara tunai atau melalui fasilitas kredit kepemilikan bersubsidi atau melalui pembayaran berdasarkan prinsip syariah dengan syarat: - Harga jual tidak melebihi Rp. 55 juta - Merupakan rumah pertama yg dimiliki dan digunakan sendiri sebagai tempat tinggal dan tidak dipindahtangankan dalam jangka waktu 5 tahun sejak dimiliki.

Pertimbangan Perlakuan PPn BM Rumah mewah dikenakan PPn BM sebesar 20%. Yg termasuk rumah mewah: - Hunian mewah seperti aprtemen, kondominium, town house dan sejenisnya denga luas bangunan 150 M2 atau lebih atau denga harga jual bangunan Rp. 4.000.000 per M2, tidak termasuk nilai tanahnya - Rumah termasuk rumah kantor atau rumah toko, yang luas bangunannya 400 M2 atau lebih atau denga harga bangunan Rp. 3.000.000 per M2 tidak termasuk nilai tanahnya.

6. Pilihan Usaha Bidang Perdagangan


WP yg bergerak pada kegiatan usaha perdagangan dapat dibedakan menjadi pedagang besar, pedagang eceran (retail), dan pedagang eceran besar. Pertimbangan WP untuk memilih kegiatan uasaha dibidang perdagangan perlu meperhatikan: - Pertimbangan pengenaan PPN - Pertimbangan pengenaan PPh

Pertimbangan Pengenaan PPN Pertimbangan WP atas pengenaan PPN perlu memperhatikan ketentuan berikut ini: - Kewajiban sebagai PKP - Pembayaran PPN perdagangan WP yang sudah mempunyai peredaran usaha di atas Rp. 600.000.000 dalam setahun harus mendaftarkan diri untuk dikukukan sebagai PKP. Kewajiban PKP pada perdagangan dapat dibedakan sbb:

No. 1. 2.

Status Pengusaha Pedagang besar Pedagang Eceran

Kewajiban PKP Dikuhkukan sebagai PKP Dikuhkukan sebagai PKP kalau bukan pengusaha kecil atau pedagang eceran tertentu Dikuhkukan sebagai PKP Tidak perlu dikuhkukan sebagai PKP Dikuhkukan sebagai PKP Tidak dikuhkukan sebagai PKP, kecuali permintaan sendiri.

3. 4. 5. 6.

Toko emas Pedagang Eceran rekaman suara dan gambar Pedagang eceran besar Pengusaha kecil

Pembayaran PPN pad kegiatan usaha perdagangan dapat dilakukan sbb:


No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. Status Pengusaha Pedagang besar Pedagang eceran Toko emas Eskportir Pedagang eceran besar Pengusaha kecil Pembayaran PPN Mekanisme PK-PM Dapat memilih mekanisme PK-PM atau nilai lain 2% dari seluruh penyerahan barang dagangan. PM tidak dapat dikreditkan Mekanisme PK-PM, PPN ekspor o%, PM dapat dikreditkan Mekanisme PK-PM Dapat memilih mekanisme PK-PM atau nilai lain.

Contoh: PT. Elang Buana, perusahaan yg bergerak dalam industri mebel, seluruh produknya diekspor ke Eropa dan pada tahun 2010 jumlah yg diekspor Rp. 10.000.000.000 dan mempunyai pajak masukan Rp. 300.000.000, bagaimana perbandingannya kalau nilai yg diekspor 50%.

No.

Keterangan

Ekspor 100%

Ekspor 50%

Lokal 100%

1.

Penjualan

Ekspor

10.000.000.000 5.000.000.000

Lokal

5.000.000.000

10.000.000.000

2.

PPN Keluaran

500.000.000 1.000.000.000

3.

PPN Masukan dikreditkan 300.000.000

300.000.000

300.000.000

4.

PPN kuran/(lebih) bayar

(300.000.000)

200.000.000

700.000.000

Apabila HPP dan beban usaha pada taun tersebut Rp. 7.000.000.000 maka pengakuan penghasilan menjadi sbb:

No. 1.

Keterangan Penjualan Ekspor Lokal

Ekspor 100%

Ekspor 50%

Lokal 100%

10.000.000.000 5.000.000.000 7.000.000.000 3.000.000.000 300.000.000 3.300.000.000 627.000.000 5.000.000.000 7.000.000.000 3.000.000.000 3.000.000.000 570.000.000

10.000.000.000 7.000.000.000 3.000.000.000 3.000.000.000 570.000.000

2. 3. 4. 5. 6. 7.

HPP/Beban Laba neto Koreksi positif Penghasilan restitusi PKP PPh terutang