Anda di halaman 1dari 2

KASUS LOTUS ANTARA PRANCIS DAN TURKI Kasus Lotus terjadi antara Prancis dan Turki pada tahun

1926 di laut lepas, di sekitar luar wilayah perairan turki terjadi tabrakan kapal uap antara kapal uap Turki Bozkourt dan kapal uap Prancis Lotus . Dalam kecelakaan itu, 8 awak kapal dari pihak Turki tewas. Ketika kapal uap Lotus bersandar di pelabuhan Turki, kapten kapal Lotus yang bernama M. Demons ditangkap oleh pemerintah Turki sekaligus dimintai keterangan mengenai kecelakaan yang terjadi. M. Demons ditahan dan diadili oleh Turki dengan alasan telah melakukan tindakan kejahatan pidana pembunuhan yang menimbulkan korban.

Tetapi pemerintah Prancis keberatan atas penahanan yang dilakukan pemerintah Turki, karena tindakan itu dianggap tidak sejalan dengan Hukum Internasional, dan pihak Turki tidak memiliki Jurisdiksi untuk mengadili perkara itu, dan berpandangan bahwa negara benderalah yang memiliki Jurisdiksi eksklusif atas kapal di laut lepas (floating island theory). Sehingga permasalahan ini diajukan ke Mahkamah Internasional. Selain itu tindakan penangkapan kapten M. Demons yang dilakukan Turki adalah perwujudan dari asas perlindungan, guna pembelaan atas 8 korban awak kapal turki. Dan asas Nasionalitas Pasif, bahwa suatu negara memiliki jurisdiksi untuk mengadili orang asing yang melakukan tindak pidana terhadap warga negaranya di luar negeri.

Jadi, pada kesimpulannya kasus ini terjadi karena kewenangan pemerintahan Turki untuk mengadili dan membela tindak pidana terhadap warga negaranya, walaupun bertentangan dengan hukum internasional yang berlaku saat itu.

Mengenai negara bendera memiliki jurisdiksi eksklusif atas kapal laut lepas, dalam putusan Mahkamah, hukum internasional tidak mengatur ketentuan tersebut. Dan karena kapal turki mengalami kerusakan maka sama saja telah terjadi kerusakan di wilayah Turki. Maka hal ini memungkinkan Turki memberlakukan jurisdiksinya berdasarkan prinsip territorial objektif, yaitu Jurisdiksi dimana tindakan tersebut diselesaikan, (karena tindakan itu terjadi pada kapal Turki,

maka sama saja terjadi di wilayah Turki), dengan jurisdiksi territorial objektif ini, maka Turki berhak menjalankan jurisdiksinya. Di turki saya bertemu dengan banyak orang aarab, saya harap salah satu diantara mereka adalah jodoh saya. turki