Anda di halaman 1dari 24

1

BAB I PENDAHULUAN

A.

Latar belakang Almarhum Abadurrahman Shihab (1905-1986) adalah guru besar dalam

bidang tafsir, disamping berwiraswasta, sejak muda beliau juga berdakwah dan mengajar. Selalu disisakan waktunya pagi dan petang demi membaca al Quran dan kitab-kitab tafsir.1 Seringkali beliau mengajak anak-anaknya duduk bersama dan pada saat inilah beliau (ayahnya) menyampaikan petuah-petuah agamanya yang hingga kini masih sering terngiang-ngiang di telinga Quraish. Diantaranya :

Terjemahan : Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Mereka jika melihat tiaptiap ayat(Ku), mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus memenempuhnya. Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai dari padanya.2 biarkanlah Al quran berbicara) sabda Ali bin Abi> thalib, dan lain sebagainya. Karena petuah itulah yang membuat Quraish mencintai al Quran sehingga sampe detik ini telah banyak terbit karya-karya beliau yang kesemuaanya tentang AlQuran dan ilmu yang terkait.

Quraish shihab, Membumikan Al quran (mizan : Membumikan al-Quran (Bandung: Mizan, 1992)h. 14 2 Departemen Agama. RI, Al quran dan terjemahan (QS. 7 : 146)

Hingga pada saat ini, salah satu karya monumental Quraish adalah TAFSIR AL-MISBAH yang menjadi salah satu tafsir dalam bentuk bahasa Indonesia yang mudah dipahami baik dari kalangan awam maupun kalangan akademisi. B. Rumusan masalah Melihat dari latar belakang diatas maka penulis3 mencoba mengambil beberapa point yang nantinya akan sama-sama dibahas dalam persentasi makalah ini. Diantaranya : a. M. Quraish shihab dalam tafsir Al-Misbah. i. Biografi ii. Karir Intelektualnya iii. Karya-karyanya b. Tafsir Al Misbah i. Latar belakang Penulisan ii. Metode dan corak (laun) Penafsiran iii. Sistematika penafsiran iv. Sumber Penafsiran

Penulis adalah Muhammad Rafiiy Rahim salah seorang mahasiswa pascah sarjana UIN Alauddin Makassar semester III konsentrasi tafsir hadis.

BAB II PEMBAHASAN

A. M. Quraish shihab a. Riwayat Hidup M. Quraish Shihab (Biografi) Dalam sejarah pemikiran Islam, khususnya kajian tafsir, kehadiran Muhammad Quraish Shihab menambah deretan panjang nama-nama mufasir dari Nusantara, seperti Hamka, Hasbi ash-Shiddiqiey, dan lain-lain. Quraish Shihab dilahirkan disebuah Kabupaten Rappang Propinsi Sulawesi Selatan, tanggal 16 Februari 1944.4 Ia hidup, tumbuh dan berkembang di lingkungan keluarga yang terpelajar dan sangat memperhatikan pendidikan anak-anaknya. Ayahnya Abdurrahman Syihab (1905-1986) merupakan lulusan Jami'atul khair Jakarta, sebuah lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia yang didirikan dipermulaan abad XX tepatnya tahun 1901 oleh organisasi politik yang bergerak di bidang sosial kemasyarakatan yang telah menginspirasi lahirnya Boedi Oetomo. Kurikulum yang diberlakukan di lembaga Jami'atul khair, tidak seperti lembagalembaga pendidikan pada umumnya, yang hanya mengedepankan kurikulumkurikulum keagamaan, namun lembaga ini juga memberlakukan kurikulum umum.5 Dengan adanya perpaduan kurikulum, maka Jamiatul Kheir dapat dikategorikan sebagai salah satu sekolah yang mengedepankan gagasan-gagasan Islam modern. Lembaga pendidikan inilah yang membentuk sang ayah menjadi seorang ilmuan yang mempunyai pemikiran-pemikiran yang modern, bahkan sebagai guru besar dalam ilmu tafsir dan menduduki jabatan Rektor di IAIN Alaudin Ujung Pandang, di

Muhammad Quraish Shihab, Membumikan al-Qur'a>n; Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, (Bandung: Mizan, 1994), hal. 6. Kasmantoni, Lafaz Karam dalam Tafsir alMisbah M. Quraish Shihab Studi Analisis Semantik, Tesis, Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2008, hlm. 19 5 Djauhari Muhsin, dkk., Sejarah dan Dinamika Universitas Islam Indonesia, (Yogyakarta: Badan Waqaf UII, 2002), hlm. 21

samping tercatat sebagai salah seorang pendiri Universitas Muslim Indonesia (UMI) di Ujung Pandang.6 Sebagai seorang ilmuan, Abdurrahman Syihab melakukan aktivitas-aktivitas keilmuannya, khususnya ilmu tafsir dengan mengajar dan berdakwah. Dan ini sudah digelutinya sejak ia masih muda. Dalam menyampaikan dakwah dan mengajar, ia selalu memberikan petuah-petuah keagamaan yang bersumber dari al-Qur'an, hadits, qaul sahabat, serta pakar-pakar al-Qur'an. Adapun petuah-petuah yang

disampaikannya adalah: Aku akan palingkan (tidak memberikan) ayat-ayat-Ku kepada mereka yang bersikap angkuh dipermukaan bumi.(QS 7:146). "Al-Qur'an adalah jamuan Tuhan", demikian bunyi sebuah hadits. Rugilah bagi yang tidak menghadiri jamuan-Nya, dan lebih rugi lagi yang hadir tetapi tidak menyantapnya. "Biarlah al-Qur'an berbicara (istanthiq al-Qur'an)", sabda Ali bin Abi Thalib. "Bacalah al-Qur'an seakan-akan ia diturunkan kepadamu", kata Muhammad Iqbal. "Rasakanlah keagungan al-Qur'an, sebelum kau menyentuhnya dengan nalarmu", kata Syaikh Muhammad Abduh. "Untuk mengantarmu mengetahui rahasia ayat-ayat al-Qur'an tidak cukup kau membacanya empat kali sehari", seru al-Mawdudi.7 Kegiatan tersebut, ia lakukan tidak hanya kepada orang lain, namun ia selalu mengikutsertakan anak-anaknya. Menurut Quraish Shihab semenjak usia enam sampai tujuh tahun, ia sudah diharuskan untuk ikut mendengarkan ayahnya mengajar al-Qur'an. Pada saat kondisi demikian, selain memerintahkan untuk mengaji, ia juga menjelaskan secara global kisah-kisah dalam al-Qur'an. Jadi, peran Abdurrahman Shihab bagi anak-anaknya menjadi rangkap, sebagai ayah sekaligus
6 7

Muhammad Quraish Shihab, Membumikan, hlm. 14 Ibid

guru. Sehingga apa yang disampaikan oleh ayahnya selalu teringat sampai sekarang, seperti petuah yang disampaikannya juga dikutip oleh Quraish Shihab dalam tafsirnya. 8 Selain peran ayah dalam memberikan motivasi kepadanya, peran seorang Ibu juga tidak diragukan dalam memberikan dorongan kepada putra-putrinya untuk belajar juga Sangat "ketat" terutama berkaitan dengan soal agama, yakni selalu menjadikan al-Qur'an dan hadits sebagai tolok ukurnya. Dilihat dari kondisi keluarga yang sangat mendukung masalah pendidikan, ditambah lagi dengan kemampuan sang ayah sebagai seorang ilmuan, khususnya tafsir merupakan dasar pembentukan sosok Quraish Shihab sebagai seorang mufassir. Jadi, tidak mengherankan jika sosok Quraish Shihab menjadi seorang mufassir yang termasyhur di Indonesia baik bagi kalangan intelektual maupun masyarakat biasa. b. Karir Intelektualnya Muhammad Quraish Shihab, secara kultural-akademik termasuk orang yang paling beruntung, jika dilihat kondisi keluarga yang sangat mendukung, secara psikologis turut membentuk kepribadian Quraish Shihab dan menumbuhkan kecintaannya terhadap ilmu, khususnya studi al-Qur'an. Karir pendidikan di awali di kampung halamannya sendiri, yaitu Sekolah Dasar Ujung Pandang. Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya, dia melanjutkan pendidikan menengahnya di Malang, sambil nyantri di Pondok Pesantren Darul Hadist Al-Faqihiyyah yang merupakan pesantren yang memberikan pengetahuan tentang hadits. Pada tahun 1958, dalam usianya yang masih menginjak 14 tahun, Quraish Shihab berangkat ke Kairo, Mesir. Keinginan untuk belajar ke Kairo ini terlaksana atas bantuan beasiswa dari pemerintahan Daerah Sulawesi (waktu itu

Lihat, Muhammad Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian alQur'an, vol.I, (Jakarta: Lentera Hati, 2000), hlm. v

belum ada pemekaran wilayah antara utara dan selatan). Beliau diterima di kelas II Tsanawiyah al-Azhar.9 Nampaknya, belajar di Kairo fakultas Ushuluddin studi al-Qur'an dan hadits merupakan sebuah obsesi yang sudah lama diimpikannya, yang barangkali muncul secara evolutif di bawah bayang-bayang pengaruh ayahnya. Hal ini terlihat dari tekadnya yang bersedia mengulang satu tahun karena nilai bahasa arab yang diperolehnya tidak mengijinkan untuk masuk ke jurusan tersebut. Padahal dengan nilai yang dicapainya ketika itu, sejumlah jurusan lain dilingkungan Universitas alAzhar bersedia menerimanya. Bahkan, dia juga diterima di Universitas Cairo dan Dar al-'Ulum.10 Tekad bulat Quraish Shihab membuahkan hasil, karena dilingkungan al-Azhar inilah untuk sebagian karir intelektualnya dibina dan dimatangkan selama lebih kurang 11 tahun. Pada tahun 1967, dia meraih gelar Lc (S-1) pada Fakultas Ushuluddin jurusan Tafsir dan Hadits Universitas Al-Azhar. Kemudian dia melanjutkan pendidikannya di fakultas yang sama, dan pada tahun 1969 meraih gelar MA untuk spesialis bidang tafsir Al-Qur` n dengan tesis berjudul Al-Ijaj al-Tasri y al-Qur` n al-Kar m. Selama menempuh perkuliahan Quraish Shihab tidak

menyibukkan diri dengan organisasi-organisasi yang didirikan oleh mahasiswa Indonesia, melainkan ia sering menghabis masa luangnya untuk bergaul dengan mahasiswa dari negara lain yang tujuannya untuk menambah wawasan dan bahasa. Kebiasaannya ini ikut memberi bias terhadap pemikirannya yang agak modern, seperti terlihat dari karya Wawasan al-Qur'an. Sekembalinya ke Ujung Pandang, Quraish Shihab dipercayakan untuk menjabat Wakil Rektor bidang Akademis dan Kemahasiswaan pada IAIN Alauddin Ujung Pandang. Selain itu ia juga diserahi jabatan-jabatan lain, baik itu di dalam kampus seperti Koordinator Perguruan Tinggi Swasta (wilayah VII Indonesia bagian
Lihat Harun Nasution, Metodologi Barat Lebih Unggul dalam beberapa Persoalan tentang studi Islam di Timur dan Barat, Ulumul Qur'an, Vol 3, No. V, 1994, hlm. 29 10 Ibid
9

Timur), maupun di luar kampus seperti pembantu Pimpinan Kepolisian Bagian Timur dalam bidang pembinaan mental. Selama di Ujung Pandang ini, ia juga sempat melakukan berbagai penelitian; antara lain, Penerapan Kerukunan Hidup Beragama di Indonesia Timur (1975) dan "Masalah Wakaf di Sulawesi Selatan (1978). Selain itu ia juga menulis sebuah makalah berjudul "Korelasi antara al-Qur'an dan Ilmu Pengetahuan", yang ditulis sebagai kuliah umum yang disampaikan di IAIN Alaudin Ujung Pandang tahun 1972. Pada tahun 1980, Quraish Shihab kembali ke Kairo dan melanjutkan pendidikannya di almamaternya yang lama, Universitas Al-Azhar. Pada 1982, dengan disertasi berjudul Nazham al-Dhur r li al-Biqa y, Tahqiq wa Dir sah, dia berhasil memperoleh gelar doktor dalam ilmu-ilmu Al-Qur` n dengan yudisium Summa Cum Laude disertai penghargaan tingkat pertama (Mumtaz maa Martabat al-Syaraf alUla).11 Dilihat dari pendidikan yang ditempuhnya, keilmuan Quraish Shihab dalam studi al-Qur'an tidak diragukan lagi sehingga banyak gagasan-gagasan yang diberikannya sebagai pencerahan dalam studi al-Qur'an. Senada dengan pernyataan tersebut, Howard mengatakan: "Dengan pendidikan yang diterimanya, menjadikan Quraish Shihab terdidik lebih baik dibandingkan dengan hampir semua pengarang lainnya yang terdapat dalam Popular Indonesian Literatura of The Qur'an, dan lebih dari itu, dengan pendidikannya di Timur Tengah menjadikan ia unik bagi Indonesia pada saat dimana sebagian pendidikan pada tingkat itu diselesaikan di Barat".12

Muhammad Quraish Shihab, Lentera al-Qur'an; Kisah dan Hikmah Kehidupan, (Bandung: Mizan, 2008), hlm. 5 12 Howard M. Federspiel, Kajian al-Qur'an di Indonesia; dari Muhammad Yunus ing Quraish Shihab, terj. Tajul Arifin, (Bandung: Mizan, 1994), hlm.295

11

Sekembalinya ke Indonesia, sejak 1984, Quraish Shihab ditugaskan di Fakultas Ushuluddin dan Fakultas Pasca Sarjana IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta.13 Pengabdiannya dibidang pendidikan mengantarkannya menjadi Rektor IAIN Syarif Hidayatullah periode 1992- 1998. Jabatan Rektor pada IAIN yang dianggap sebagai "kampus pembaharu", dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Posisi strategis ini memberikan peluang baginya untuk merealisasikan berbagai ide dan gagasannya. Salah satu obsesinya ialah melakukan penafsiran dengan menggunakan pendekatan multidisipliner, yaitu pendekatan yang melibatkan sejumlah ilmuwan dari berbagai bidang spesialisasi, karena hal ini akan lebih berhasil untuk mengungkapkan petunjuk-petunjuk dari al-Qur'an secara maksimal.14 Selain sebagai seorang akademisi, ia juga dipercayakan untuk menduduki berbagai jabatan dipemerintahan. Seperti: Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat periode 1985 1998; Anggota Lajnah Pentashih Al-Qur`an Departemen Agama sejak 1989; Anggota MPR-RI periode 1982-1987 dan 1987-2002; Anggota Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional sejak 1989, dan Ketua Lembaga Pengembangan; Pada tahun 1998 ia dipercaya menjadi Menteri Agama Kabinet Pembangunan VII hingga kabinet itu tumbang oleh gerakan reformasi tahun 199815. Di samping bergelut dibidang politik, ia juga banyak terlibat dalam beberapa organisasi profesional, seperti: pengurus Himpunan Ilmu-Ilmu Syariah, Pengurus Konsorsium Ilmu-Ilmu Agama Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, dan Asisten Ketua Umum Ikatan cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI).16 Di sela-sela segala kesibukannya itu, Quraish Shihab juga sering tampil diberbagai media untuk memberikan siraman rohani dan intelektual, diantaranya media cetak, seperti: Surat kabar Pelita, pada setiap hari rabu ia menulis dalam rubrik "Pelita Hati", mengasuh rubrik "Tafsir al-Manar", dan media eletronik, seperti:
Muhammad Quraish Shihab, Membumikan, hlm. 6 Kasmantoni, Lafaz Karam, hlm. 31 15 Zainal Abidin, Pluralitas Agama dalam Tafsir al-Qur'an; Konsep Ahl al-Kita>b dalam Pemikiran M. Quraish Shihab, dalam Jurnal Studi Ilmu-ilmu Al-Qur'a>n, vol. VII, No. 2, Juli 2006, hlm. 212 16 Muhammad Quraish Shihab, Membumikan, hlm. 6
14 13

Siraman rohani dan kultum menjelang buka puasa maupun menjelang imsak di Stasion Televisi Indonesia. Di samping keterlibatannya dalam berbagai kegiatan ilmiah di dalam maupun di luar negeri.17 Adapun aktivitas utamanya sekarang adalah Dosen (Guru Besar) Pascasarjana UIN Syarif Hidatullah Jakarta dan ketua Pusat Studi Qur'an Hadits (PSQ).18 Berdasarkan latar belakang pendidikan dalam keluarga yang memiliki reputasi yang sangat baik serta ditunjang dengan pendidikan yang terkosentrasi, menjadikan M. Quraish Shihab tidak diragukan lagi upayanya membumikan al-Qur'an dalam kehidupan masyarakat, khususnya umat Islam Indonesia. c. Karya-karyanya Padatnya aktivitas-aktivitas yang ditekuni Quraish Shihab, baik di lapangan akademisi maupun bukan, tidak menjadi penghalang bagi dirinya untuk menghasilkan berbagai judul karya tulis. Diantara karya-karyanya adalah: 1. Tafsi>r al-Manar: Keistimewaan dan Kelemahannya 1984 diterbitkan di Ujung Pandang (IAIN Alaudin,). 2. Filsafat Hukum Islam 1987 diterbitkan di Jakarta (Depag,) 3. Mahkota Tuntunan Ilahi: Tafsir Surat al-Fatihah 1988 diterbitkan Jakarta (Untagma) 4. Membumikan al-Qur'an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat 1994 diterbitkan di Bandung (Mizan,) 5. Studi Kritik Tafsir al-Manar 1994 diterbitkan di Bandung (Pustaka Hidayah) 6. Lentera Hati; Kisah dan Hikmah Kehidupan 1994 diterbitkan di Bandung: (Pustaka Hidayah) 7. Untaian Permata Buat Anakku: Pesan al-Qur'an untuk Mempelai (Jakarta: alBayan), 1995. 8. Wawasan al-Qur'an: Tafsir Mawdhu'iy atas pelbagai persoalan Umat 1996 diterbitkan di Bandung (Mizan,).
17 18

Ibid. Lihat juga Muhammad Quraish Shihab, Lentera al-Qur'an, hlm. 5 Muhammad Quraish Shihab, Ensiklopedi al-Qur'an

10

9. Hidangan Ilahi Ayat-ayat Tahlil 1997 diterbitkan di Jakarta (Lentera Hati). 10. Pengantin al-Qur'an; Kado buat Anakku, 1997 diterbitkan di Bandung (albayan) 11. Tafsir al-Qur'an al-Karim; Tafsir Surat-surat pendek Berdasarkan Urutan Turunnya Wahyu , 1997 diterbitkan di Bandung (Pustaka Hidayah). 12. Mukjizat al-Qur'an Ditinjau dari Aspek Kebahasaan, Isyarat Ilmiah dan Pemberitaan Gaib, 1997 diterbitkan di Bandung (Mizan) 13. Menyingkap Tabir Ilahi; al-Asma al-Husa> dalam Perspektif al-Qur'an, 1988 diterbitkan di Jakarta (Lentera Hati) 14. Fatwa-fatwa M. Quraish Shihab; Seputar Ibadah Mahdhah, 1999 diterbitkan di Bandung (Mizan) 15. Fatwa-fatwa M. Quraish Shihab; Seputar al-Qur'an dan Hadits 1999 diterbitkan di Bandung (Mizan) 16. Fatua-fatwa M. Quraish Shihab; Seputar Ibadan dan Muamalah, 1999 diterbitkan di Bandung (Mizan) 17. Fatua-fatwa M. Quraish Shihab; Seputar Wawasan Agama, 1999 diterbitkan di Bandung (Mizan) 18. Anda Bertanya, Quraish Shihab Menjawab; Berbagai Masalah Keagamaan, 1999 diterbitkan di Bandung (al-Bayan) 19. Sahur Bersama Quraish Shihab di RCTI , 1997 diterbitkan di Bandung (Mizan). 20. Haji Bersama Quraish Shihab; {Panduang Praktis Untuk Mabrur, 1988 diterbitkan di Bandung (Mizan). 21. Yang Tersembunyi Jin, Setan dan Masyarakat; dalam al-Qur'an dan asSunnah Serta Wacana Ulama Masa Lalu dan Masa Kini, 1999 diterbitkan Jakarta (Lentera Hati) 22. Panduan Puasa Bersama Quraish Shihab, 2000 diterbitkan di Jakarta (Republika) Menuju Haji

11

23. Tafsir al-Misbah; Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur'an, 15 Jilid/Volume 2000-2003 diterbitkan di Jakarta (Lentera Hati) 24. Perjalanan Menuju Keabadian, Kematian, Surga, dan Ayat-ayat Tahlil, 2000 diterbitkan di Jakarta (Lentera Hati) 25. 40 Hadits Qudsi Pilihan, 2002 diterbitkan di Jakarta (Lentera Hati) 26. Panduan Shalat Bersama Quraish Shihab, 2003 diterbitkan di Jakarta (Republika) 27. Kumpulan Tanya Jawab Bersama Quraish Shihab: Mistik, Seks dan Ibadan, 2004 diterbitkan di Jakarta (Republika) 28. Kalung Mutiara Buat Anakku, 2005 diterbitkan di Bandung (al-Bayan) 29. Logika Agama: Kedudukan Wahyu dan Batas-batas Akal dalam Islam, 2005 diterbitkan di Jakarta (Lentera Hati) 30. Wawasan al-Qur'an tentang zikir dan Doa, 2006 diterbitkan di Jakarta (Lentera Hati dan PSQ) 31. Pandangan Ulama Masa Lalu dan Cendikiawan Kontemporer; Pakaian Wanita Muslimah, 2006 diterbitkan di Jakarta (Lentera Hati) 32. Dia Dimana-mana "tangan" Tuhan Dibalik Setiap Fenomena, 2006 diterbitkan di Jakarta (Lentera Hati, Pusat Studi Qur'an) 33. Perempuan "Dari Cinta Sampai Seks, Dari Nikah Mut'ah sampai Nikah Sunnah, Dari Bias Lama sampai Bias Baru, 2006 diterbitkan di Jakarta (Lentera Hati) 34. Menjemput Maut Bekal Perjalanan Menuju Allah, 2006 diterbitkan di Jakarta (Lentera Hati) 35. Rasionalitas al-Qur'an; Studi Iritis atas Tafsir al-Manar, 2006 diterbitkan di Jakarta (Lentera Hati) 36. Menabur Pesan Ilahi; al-Qur'an dan Dinamika Kehidupan Masyarakat, 2006 diterbitkan di Jakarta (Lentera Hati) 37. Pengantin al-Qur'an Kalung Permata Buat Anakku, 2007 diterbitkan di Jakarta (Lentera Hati)

12

38. Secercah Cahaya Hidup bersama al-Qur'an, 2007 diterbitkan di Bandung (Mizan) 39. Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah? Kajian Atas Konsep Ajaran dan Pemikiran, 2007 di terbitkan di Jakarta (Lentera Hati) 40. Yang Ringan dan Yang Jenaka, 2007 di terbitkan di Jakarta (Lentera Hati) 41. Ensiklopedi al-Qur'an; Kajian Kosakata, 3 Jilid, 2007 di terbitkan di Jakarta (PSQ, Lentera Hati dan Yayasan Paguyuban Ikhlas) 42. Ayat-ayat Fitna; Sekelumit Keadaban Islam di Tengah Purbasangka, 2008, di terbitkan di Jakarta (Lentera Hati) 43. al-Lubab; Makna dan Tujuan dan Pelajaran dari al-Fatihah dan Juz 'amma, 2008 di terbitkan di Jakarta (Lentera Hati) 44. Berbisnis dengan Allah; Tips Situ Jadi Pebisnis Sukses Dunia-Akhirat, 2008 di terbitkan di Jakarta (Lentera Hati). Banyaknya karya yang ada dengan kondisi yang berbeda-beda, yang pasti Quraish Shihab adalah sosok yang sangat produktif, meskipun ia mempunyai banyak aktivitas-aktivitas. Bagi Howard, karya-karya Quraish Shihab layak diberikan nilai yang tinggi karena ia memusatkan perhatiannya pada isu-isu kotemporer yang cocok digunakan oleh berbagai kalangan.19

A. Tafsir al-Misbah 1. Latar Belakang Penulisannya Munculnya berbagai sudut pandang dalam menafsirkan al-Qur'an, sesungguhnya suatu keniscayaan sejarah, sebab setiap generasi ingin selalu
19

Howard M. Federspiel, Kajian al-Qur'an, hlm. 298

13

mengkonsumsi dan menjadikan al-Qur'an sebagai pedoman hidup, bahkan kadangkadang sebagai legitimasi bagi tindakan dan perilakunya.20 Al-Qur'an tidak hanya dipandang sebagai mukjizat bagi pengingkarnya, namun sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa, dan petunjuk-petunjuk tersebut tidak akan bersibah dengan sendirinya tanpa adanya usaha-usaha manusia dalam hal tersebut. Ali bin Abi Thalib berkata: "Al-Qur'an tidak bisa berbicara apaapa, tetapi yang berbicara adalah manusia".21 Meskipun banyak orang-orang yang berusaha mendekati, mengenai dan menyibakkan hidayah di dalam al-Qur'an, namun menurut Muhammad Quraish Shihab mereka masih menghadapi kendala yang tidak mudah di atasi seperti keterbatasan dari segi waktu atau ilmu dasar maupun kelangkaan buku-buku rujukan yang sesuai dengan standar selera masyarakat, sehingga yang terjadi adalah ketidak fahaman dalam memahami al-Qur'an.22 Itu merupakan salah alasan ditulisnya Tafsir al-Misbah. Adapun alasan lain, fenomena masyarakat Islam dewasa yang mengagumi al-Qur'an tetapi kebanyakan berhenti dalam pesona bacaan ketika dilantunkan seakan-akan kitab suci hanya diturunkan untuk dibaca.23 Factor social yang dicontohkan oleh penulis tafsir ini adalah tradisi membaca surat yasin, al-waqi'ah, ar-rahman dan lain-lain dikalangan masyarakat awam24, mereka mampu membacanya tetapi berat dan sulit bagi mereka memahami apa yang dibacanya, walau telah mengkaji terjemahnya. Kesalahpahaman tentang kandungan atau pesan surat akan semakin menjadi-jadi bila membaca beberapa buku-buku yang menjelaskan keutamaan surah-surah al-Qur'an atas dasar hadits-hadits dha'if. Lain halnya dengan fenomena yang terjadi dikalangan pelajar, yang notabene berkecimpung dalam studi Islam, masih sering timbul dugaan-dugaan kerancuan
Abdul Mustaqim, Aliran-aliran Tafsir; Madzahibut Tafsir dari Masa Klasik hingg Kotemporer, (Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2005), hlm. 4 21 Ignaz Goldziher, Mazhab-mazhab Tafsir, terj. M. Alaika Salamullah, dkk, (Yogyakarta: Elsaq, 2006), hlm. xii 22 Muhammad Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, vol. I, hlm. ix 23 Ibid, hlm. vi 24 Ibid, hlm. x
20

14

sistematika penyusunan ayat-ayat dan surah-surah al-Qur'an. Apalagi jika mereka membandingkannya dengan karya-karya ilmiah, seperti ditambahkan lagi oleh Quraish Shihab, banyak mereka yang tidak mengetahui bahwa sistematika penyusunan ayat-ayat dan surah-surah yang sangat unik mengandung pendidikan yang amat menyentuh.25 Dilatar belakangi oleh persoalan-persoalan tersebut, Muhammad Quraish Shihab ikut mengatasi kendala-kendala dalam pengenalan al-Qur'an dengan menulis tafsir al-Misbah ini. Sebagai seorang mufasir ia berkewajiban memperkenalkan dan menghidangkan pesan-pesannya sesuai dengan kebutuhan dan harapan itu.26 2. Metode dan corak (laun) Penafsiran Metode diistilahkan oleh para mufasir dengan manhaj. Menurut al-Rumi, manhaj adalah cara menuju kepada tujuan yang direncanakan. Sedangkan Mustafa al-Sawi al-Juwaini dalam bukunya Mana>hij fi> al-Tafsir, mendefinisikan manhaj dengan langkah-langkah teratur dan seperangkat ulasan materi yang disiapkan untuk penulisan tafsir al-Qur'an, agar dapat sampai pada maksud dan tujuan.27 Menurut al-Farmawi, sebagaimana yang dikutip oleh Indal Abrar dalam bukunya Studi Kitab Tafsir, metode tafsir dapat diklasifikasikan menjadi empat: Pertama, metode tahal>li> atau analisis, yaitu metode penafsiran yang berusaha menjelaskan seluruh aspek yang dikandung oleh ayat-ayat al-Qur'an dan mengungkapkan segenap pengertian yang dituju. Dari metode ini seorang peminat tafsir dapat menemukan pengertian secara luas dari ayat-ayat al-Qur'an. Kedua, metode Ijmali>, yaitu ayat-ayat al-Qur'an dijelaskan dengan pengertianpengertian garis besarnya saja. Ketiga, Metode Muqa>rran, yaitu menjelaskan ayat-ayat
25 26

unsur

al-Qur'an berdasarkan apa yang

pernah ditulis oleh mufassir

Ibid, hlm.x Ibid, hlm. vii 27 Mustafa al-Sawi al-Juwaini, Mana>hij fi> al-Tafsi>r, (t.tp, Kutb al-Dirasah alQur'a>niyyah, t.t), hlm. 7

15

sebelumnya dengan cara membandingkannya. Keempat, metode maudhu'i>, yaitu di mana seorang mufasir mengumpulkan ayat-ayat di bawah suatu topik tertentu kemudian ditafsirkan.28 Untuk mengetahui metode yang digunakan dalam tafsir al-Misbah, perlu kiranya terlebih dahulu melihat langkah-langkah yang ditempuh oleh Quraish Shihab dalam menafsirkan al-Qur'an. Adapun langkah-langkah tersebut sebagai berikut: Pertama, memberikan kupasan dari aspek bahasa. Dalam hal ini, Quraish Shihab menafsirkan al-Qur'an dengan menganalisis aspek bahasa, baik dari segi kosa kata seperti menafsirkan kata "shirath" yang berasal dari kata "sirath" bermakna "menelan". Pemaknaan "shirath" dengan "jalan" berarti jalan yang lebar karena sedemikian lebarnya sehingga bagaikan menelan sipenjalan29, maupun aspek struktur bahasa (gramatika) seperti ketika menafsirkan (itulah al-Kitab, tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi orang-orang bertaqwa)30, menurutnya, ayat ini menggunakan isyarat jauh untuk menunjukkan al-Qur'an. Di tempat lain, semua yang menunjukkan kepada alQur'an menggunakan isyarat dekat. Tujuan penggunaan isyarat jauh memberi kesan bahwa kitab suci ini menduduki tempat yang tinggi dan sangat jauh dari jangkauan manusia, karena ia bersumber dari Allah Yang Maha Tinggi. Sedang kata al-kitab dengan dibubuhi al pada awalnya dipahami dalam arti kesempurnaan.31 Kedua, menafsirkan ayat demi ayat dan surah demi surah secara berurutan, serta tidak ketinggalan mengutip asbab al-Nuzul. Artinya penafsiran yang dilakukan dengan perpedoman terhadap susunan ayat dan surah-surah dalam mushaf, dengan dimulai dari surat al-Fatihah, al-Baqarah dan seterusnya sampai surat al-Nas dan menyebutkan asbab al-nuzulnya kalau ada.
Muhammad Yusuf, dkk, Studi Kitab Tafsir; Menyuarakan Teks yang Bisu, (Yogyakarta: Teras, 2004), hlm. 69 29 Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, vol. I, hlm. 67 30 QS. Al-Baqarah [2]: 2 31 Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah,, vol. I, hlm. 87 -88
28

16

Ketiga, Mengutip pendapat-pendapat penafsir sebelumnya. Mengenai dengan pengutipan pendapat-pendapat penafsir sebelumnya, Quraish cukup kritis dalam menerima pendapat-pendapat tersebut. Apabila pendapat tersebut tidak sesuai menurut logikanya maka pendapatnya ditolak, seperti pendapat yang menafsirkan "faz}a>dahumu Allahu maradha" dalam arti doa semoga Allah menambahnya. Menurutnya pendapat ini kurang tepat bukan saja karena adanya kata "maka" tetapi juga karena mendoakan agar keburukan seseorang bertambah, tidaklah merupakan hal yang terpuji bahkan bertentangan dengan sikap Rasul Saw yang seringkali berdoa semoga Allah memberikan petunjuk kepada umatnya yang beriman.32 Keempat, mengutip ayat-ayat sebagai pendukung penafsirannya, seperti ayat "fa azallhuma> al-Syaitha>n" (QS. Al-Baqarah [2]: 36) (maka keduanya tergelincir oleh syaithan) ditafsirkan dengan "sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa (akan perintah itu), dan tidak kami dapati padanya kemauan yang kuat"(QS. Thaha [20]: 15). Jadi, maksud dari fa azallhuma bahwa tergelencir Nabi Adam bukan sepenuhnya dalam keadaan sadar namun ia terlupa dengan apa yang diperitahkan oleh Allah.33 Kelima, mengutip hadits-hadits Nabi sebagai pendukung penafsirannya, seperti manafsirkan "al-rahma>n dan al-rahi>m" (QS.al-Fatihah [1]: 3), menurutnya kedua kata tersebut diambil dari akar kata "rahmat" dengan alasan bahwa timbangan (wazan) kata tersebut dikenal dalam bahasa Arab. Rahman setimbang dengan fa'la>n, dan rahi>m dengan fa'i>l. Timbangan rahma>n menunjukkan kepada kesempurnaan atau kesementaraan, sedangkan timbangan rahi>m menunjukkan kepada kesinambungan dan kemantapan. Selanjutnya ia mengatakan, kata rahman menunjukkan sifat Allah Swt, sedangkan kata rahi>m menunjukkan Rasulullah yang menaruh belas kasihan yang amat dalam terhadap umatnya. Untuk menguatkan pendapat ini, ia mengutip sebuah hadits
32 33

Ibid, hlm. 103 Ibid, hlm. 158

17

qudsi: "Aku adalah ar-Rahma>n, aku menciptakan rahi>m, Ku-ambilkan untuknya nama yang berakar dari nama-Mu, siapa yang menyambungnya (silaturrahim) akan Aku Sambung (rahmat-Ku) untuknya, dan siapa yang memutuskannya Kuputuskan (rahmat-Ku baginya)" (HR. Abu Daud dan atTirmidzi melalui Abdurrahman Ibn 'Auf)34 Selain langkah-langkah tersebut, sebagaimana lazimnya metode tahli>li>, tafsir al-Misbah juga menjelaskan muna>sabat (kaitan) antara satu ayat dengan ayat yang lain, juga satu surat dengan surat yang lain serta menjelaskan sekilas tentang qira'ah, seperti ketika menafsirkan dalam surat al-Fatihah. Berdasarkan langkah-langkah yang dilakukan oleh Quraish Shihab dalam menafsirkan al-Qur'an, maka dapat disimpulkan bahwa terkandung tafsir al-Misbah dengan

mengunakan metode tahli>li> dalam menafsirkan al-Qur'an karena ia berupaya menjelaskan seluruh aspek yang dalam al-Qur'an dan

mengungkapkan segenap pengertian yang dituju. Meskipun tafsir al-Misbah dikategorisasi menggunakan metode tahli>li> namun dalam beberapa masalah tafsir ini tidak murni menerapkan metode tahli>li>, seperti menggunakan ayat-ayat lain yang setema untuk menjelaskan makna yang dimaksud dari ayat yang ditafsirkan. Misalnya menafsirkan "an'amta" dalam surat al-fatihah ayat 7, menurutnya nikmat dalam ayat tersebut berarti nikmat Islam dan penyerahan diri kepada Allah. Pemaknaan nikmat dengan nikmat Islam ia mengutip surat ali-Imran [3]: 103, surat adh-Dhuha [93]: 11. sedangkan pemaknaan nikmat dengan penyerahaan diri kepada Allah, ia mengutip surat an-Nisa' [4]: 69.35 Dilihat dari upaya penafsiran tersebut, Quraish Shihab juga menggunakan metode maudhu'i> karena dalam menafsirkan suatu ayat ia menggunakan ayat yang setema dengan ayat tersebut yang tujuannya untuk mendapatkan makna yang sesungguhnya.
34 35

Ibid, hlm. 36 Ibid, hlm. 71

18

Selain adanya kecendrungan Quraish Shihab terhadap metode maudhu'i> , ia juga menggunakan metode interdispliner, di mana ia menafsikan ayat menggunakan disiplin ilmu-ilmu lain, seperti dalam surat Ya>sin(36): 80, ia menafsirkan kata "al-syajara al-ahdhar" dengan pohon yang hijau,

menunjukkan kepada zat hijau daun yang sangat diperlukan dalam proses asimilasi gas karbon dioksida. Istilah yang digunakan al-Qur'an lebih tepat dikatakan dengan klorofil yang berarti zat hijau daun, karena zat-zat yang dimaksud tidak hanya pada daun tumbuh-tumbuhan, tetapi pada seluruh bagian tumbuhan yang hijau.36 Dilihat dari kecendrungan metode, nampak adanya terobosan baru yang diberikan oleh Quraish Shihab dalam menafsirkan al-Qur'an. Atau ia ingin menghilangkan konsekuensi yang diakibatkan oleh metode tahli>li> seperti parsial dan otomistik yang mengakibatkan lahirnya tafsir yang literal sebagaimana tafsir-tafsir di era afirmatif.37 Di samping itu perlu dipertegas di sini, meskipun tafsir al-Misbah mengkomparasikan metode dalam menafsirkan al-Qur'an, namun metode tahli>li> merupakan metode yang dominan terdapat dalam tafsir al-Misbah. Penafsiran al-Qur'an dengan menggunakan manhaj tahli>li> ini memiliki corak dan orientasi pemikiran yang berbeda-beda, sejalan dengan corak dan orientasi pemikiran dikutip masing-masing oleh Suryadi mufasir. Dalam hal Studi ini al-Farmawi, Tafsir,

sebagaimana

dalam bukunya

Kitab

memilahnya dalam tujuh corak dan orientasi: tafsi>r bi al-Ma'tsur, tafsi>r bi alra'yi, tafsi>r sufi, tafsi>r fiqhi, tafsir falsafi, tafsir 'ilmu, dan tafsir ijtima'i.38 Corak dan orientasi yang mewarnai metode tahli>li> dalam tafsir alMisbah adalah bi al-ma'tsur dan kadang-kadang menggunakan bi al-ra'yi.
36 37

Ibid, vol 11, hlm. 579 Abdul Mustaqim, Pergeseran Epistimologi Tafsir, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008),

hlm. 93 Suryadi, Luba>b al-Ta'wi>l fi> Ma'a>ni> al-Tanzi>l Karya al-Kha>zin, dalam Muhammad Yusuf, dkk, Studi Kitab Tafsir, hlm. 108
38

19

Dikatakan bi al-ma'tsur karena tafsir ini sering menggunakan ayat-ayat lain untuk menjelaskan suatu ayat, mengunakan hadits, dan pendapat-pendapat ulama terdahulu. Sedangkan bi al-ra'yi karena tafsir ini juga menggunakan logika dan lebih banyak menjelaskan ayat dengan menggunakan analisis bahasa, baik dari makna kosa kata maupun gramatikal.

3. Sistematika Penafsiran Sistematika penafsiran al-Misbah mengikuti tartib mushafi. Dalam sistematika ini, sang mufassir menguraikan penafsirannya berdasarkan urutan ayat dan surat dalam mushaf Usmani. Sekalipun demikian, pada beberapa bagian tertentu, ia juga menggunakan pendekatan semi tematis. Pendekatan ini terlihat ketika menguraikan penafsiran suatu ayat dengan memberikan sejumlah ayatayat lain yang berhubungan sebagai penguat penafsirannya. Namun, secara umum tidak keluar dari sistem mushafi. Sebelum memulai proses penafsiran, Quraish Shihab terlebih dahulu memberikan penjelasan yang berbentuk pengantar terhadap surat yang akan ditafsirkan, hal ini hampir sama dengan yang dilakukan SYEKH mutawalli Syarawi dalam kitab tafsirnya dan hal ini juga dilakukan terhadap surat yang akan ditafsirkannya. Pengantar tersebut memuat penjelasan antara lain: Pertama, menjelaskan tentang penamaan surat, dan menyebutkan nama-nama lain dari surat tersebut jika ada, serta memberikan alasan penamaannya dengan merujuk kepada ayat-ayat lain, hadits dan pendapat-pendapat ulama, seperti penamaan terhadap surah al-Fatihah. Kedua, menyebutkan tempat turun surat (Makkiyah, Madaniyyah) serta menyebutkan jumlah ayat dalam satu surat. Ketiga, tematema pokok atau tujuan surat dan pendapat-pendapat ulama tentang hal tersebut. Keempat, munasabah antar surat sebelum dan sesudahnya. Melihat sistematika penyusunan Tafsir al-Misbah ditempuh dengan sistematika tartib mushafi, yakni menafsirkan ayat menurut susunan urutannya dalam mushaf, maka dapat dikatakan bahwa sistematika dalam tafsir ini sama

20

dengan tafsir-tafsir klasik, seperti: Tafsir al-Thabari>, Ibnu Katsi>r, dan lainlain. 4. Sumber Penafsiran Sebagaimana yang disebutkan oleh Quraish Shihab bahwa apa yang dihidangkannya (tafsir al-Misbah) bukan sepenuhnya ijtihadnya.39 Ini artinya penyusunan tafsir al-Misbah merujuk kepada karya-karya lain, baik dari ulama klasik maupun kotemporer. Buku ini terdiri dari 15 volume: 1. Al-Fatihah s/d Al-Baqarah 2. Ali-Imran s/d An-Nisa 3. Al-Maidah 4. Al-Anam 5. Al-Araf s/d At-Taubah 6. Yunus s/d Ar-Rad 7. Ibrahim s/d Al-Isra 8. Al-Kahf s/d Al-Anbiya 9. Al-Hajj s/d Al-Furqan 10. Asy-Syuara s/d Al-Ankabut 11. Ar-Rum s/d Yasin 12. Ash-Shaffat s/d Az-Zukhruf 13. Ad-Dukhan s/d Al-Waqiah 14. Al-Hadid s/d Al-Mursalat 15. Juz Amma Adapun sumber-sumber yang dijadikan oleh Quraish Shihab dalam menulis kitab tafsir ini meliputi: Tafsir Ibrahim Ibn Umar al-Biqa'i (w. 885H-

39

M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah,, vol. I, hal. xiii

21

1480M) yang tafsirnya masih berbentuk manuskrip dan dijadikan sebagai referensi dalam menyusun desertasinya. Sementara referensi yang digunakan dalam mencari makna pada tafsir al-Misbah diantaranya: Shahih Bukhari karya Ismail al-Bukhari, Shahih Muslim karya Ibn Hajja>j, Nazham al-Durar karya Ibrahim Ibn Umar al-Biqa'i, Fi Dzilalil al-Qur'an karya Sayyid Qutb, Tafsir alMizan karya Husain al-Thabathaba'i, Tafsir Asma al-Husna karya Az-Zajjah, Tafsir al-Qur'an al-A'zim karya Ibn Katsir, Tafsir Jalalain karya as-Suyuti, Mafatih al-Ghaib karya Fakhruddin ar-Razi, al-Kasysyaf an Haqqaiqit Tanjil wa 'Uyunil Aqawil fi Wujuhi Ta'wil karya Zamakhsyari, Nahw Tafsir Maudhu'iy li Suwar al-Qur'an al-Karim karya Muhammad al-Ghazali, ad-Dur al-Mansur karya as-Sayuti, Attahir at-Tanwir. Diantara banyaknya literature yang digunakan Quraish Shihab dalam Tafsir al-Misbah yang paling mendominasi adalah Tafsir al-Mizan karya Husain al-Thabathaba'i, sebab hampir ditiap penafsirannya selalu mengutip pendapat Thabathaba'i.

22

BAB III KESIMPULAN Berdasarkan data yang telah kami bahas sebelumnya, penulis mencoba mengambil kesimpulan dari bahasan terdahulu. Diantaranya : A. M. Quraish Shihab melihat dari latar belakang keluarga, pendidikan dan keadaannya maka sangat wajarlah jika beliau mampu menciptakan sebuah karya tafsir yang sangat monumental. Hal ini didasari karena ayah dari beliau adalah memang sorang akademisi dalam bidang tafsir yang selalu menurunkan ilmunya kepada anak-anaknya salah satunya adalah Quraish Shihab. Melihat dari pendidikannya beliau memang telah menempuh jenjang pendidikan mulai dari S1, S2 dan S3 di Universitas Al-Azhar pada 1 ilmu yakni Ilmu Tafsir Al-Quran yang konon beliau adalah lulusan Doktor pertama dalam bidang Ilmu Tafsir di Asia tenggara. Dan melihat keadaannya beliau walaupun dalam membuat tafsr Al misbah ini dibutuhkan 30 tahun tapi itu semua karena beliau disibukkan dengan tanggung jawab sebagai seorang akademisi, daI dan orang yang dipercaya pemerintah. B. Tafsir Al-misbah terdiri dari 15 jilid yang 12 diantaranya terdapat 2 surah dalam 1 jilid yang disusun berdasarkan metodologi tahli>ly. Tafsir ini bukan semata hasil ijtihad beliau karena tafsir ini banyak pendapatpendapat para ulama yang sengaja dimasukkan dalam menguatkan pendapat beliau. Melihat dari keseluruhan tafsir ini, maka penulis juga mengambil kesimpulan bahwa tafsir ini bukan hasil karya M Qurais shihab semata namun banyak diinspirasi oleh tafsir lain seperti thabathabai, al-biqqay dan lain-lain.

DAFTAR PUSTAKA

23

Abdul Mustaqim, Aliran-aliran Tafsir; Madzahibut Tafsir dari Masa Klasik hingg Kotemporer, (Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2005) Abdul Mustaqim, Pergeseran Epistimologi Tafsir, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008) Departemen Agama. RI, Al quran dan terjemahan (QS. 7 : 146) Djauhari Muhsin, dkk., Sejarah dan Dinamika Universitas Islam Indonesia, (Yogyakarta: Badan Waqaf UII, 2002) Harun Nasution, Metodologi Barat Lebih Unggul dalam beberapa Persoalan tentang studi Islam di Timur dan Barat, Ulumul Qur'an, Vol 3, No. V, 1994, Howard M. Federspiel, Kajian al-Qur'an di Indonesia; dari Muhammad Yunus ing Quraish Shihab, terj. Tajul Arifin, (Bandung: Mizan, 1994), Ignaz Goldziher, Mazhab-mazhab Tafsir, terj. M. Alaika Salamullah, dkk, (Yogyakarta: Elsaq, 2006), Kasmantoni, Lafaz Karam dalam Tafsir al-Misbah M. Quraish Shihab Studi Analisis Semantik, Tesis, Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2008, Kehidupan Masyarakat, (Bandung: Mizan, 1994), Muhammad Quraish Shihab, Lentera al-Qur'an; Kisah dan Hikmah Kehidupan, (Bandung: Mizan, 2008), ---------------------------, Membumikan al-Qur'a>n; Fungsi dan Peran Wahyu dalam ----------------------------, Tafsir al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur'an, vol.I, (Jakarta: Lentera Hati, 2000), ----------------------------, Membumikan Al quran (mizan : Membumikan al-Quran (Bandung: Mizan, 1992)

24

Muhammad Yusuf, dkk, Studi Kitab Tafsir; Menyuarakan Teks yang Bisu, (Yogyakarta: Teras, 2004) Mustafa al-Sawi al-Juwaini, Mana>hij fi> al-Tafsi>r, (t.tp, Kutb al-Dirasah alQur'a>niyyah, t.t) Suryadi, Luba>b al-Ta'wi>l fi> Ma'a>ni> al-Tanzi>l Karya al-Kha>zin, dalam Muhammad Yusuf, dkk, Studi Kitab Tafsir, Zainal Abidin, Pluralitas Agama dalam Tafsir al-Qur'an; Konsep Ahl al-Kita>b dalam Pemikiran M. Quraish Shihab, dalam Jurnal Studi Ilmu-ilmu AlQur'a>n, vol. VII, No. 2, Juli 2006,