Anda di halaman 1dari 22

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Telah diketahui bahwa ada banyak hal yang dibahas dalam induksi elektromagnetik tersebut seperti arus induksi, hukum hukum dalam induksi elektromagnetik dan juga materi mengenai induksi elektromagnetik. Dalam percobaan ini, kita akan mengamati hubungan antara GGL induksi pada kawat yang memotong magnetik. Percobaan untuk membangkitkan ggl induksi pada ujung ujung sebuah solenoida dengan cara menggerakkan sebuah besi keluar. Fluks magnetik didefinisikan sebagai hasil kali antara komponen induksi megnetik tegak lurus bidang dengan luas bidang. Hubungan penting antara besi dengan arus listrik yang menghasilkan gaya magnet. Percobaan induksi elektromangetik ini sangat penting karena bisa digunakan untuk mengaplikasikan mesin cuci.

1.2. Rumusan Masalah


Bagaimana listrik bisa berubah menjadi gaya magnet ? Bagaimana cara mengubah gaya listrik menjadi gaya magnet lalu gaya magnet berubah menjadi gaya gerak ? Apakah gaya yang digunakan ? Apakah hubungannya dengan Solenoida ?

1.1. Tujuan Percobaan


Menyelidiki gaya magnet yang terjadi pada area yang digulung oleh tembaga. 1

Agar kita mengetahui kecepatan perubahan yang terjadi pada listrik ke magnet lalu ke gaya gerak. Menganalisis hokum hukum yang berkaitan dengan induksi elektromagnetika.

1.1. Manfaat Percobaan


Dapat memecahkan masalah dengan penelitian. Dapat mengetahui kejadian yang terjadi pada medan magnet. Dapat mengetahui aplikasi dari hasil percobaan.

BAB II LANDASAN TEORI

2.1. Dasar Teori Hukum Ampere Biot - Savart


Tiga orang ilmuwan jenius dari perancis, Andre Marie Ampere (1775 1863), Jean Baptista Biot (1774 1862) dan Victor Savart (1803 1862) menyatakan bahwa: Gaya akan dihasilkan oleh arus listrik yang mengalir pada suatu penghantar yang berada diantara medan magnetik. Hal ini juga merupakan kebalikan dari Hukum Faraday, dimana faraday memprediksikan bahwa tegangan induksi akan timbul pada penghantar yang bergerak dan memotong medan magnetik. Hukum ini diaplikasikan pada mesin-mesin listrik, dan gambar 2 akan menjelaskan mengenai fenomena tersebut .

Gambar Hukum Ampere-Biot-Savart, Gaya induksi Elektromagnetik. Hubungan antara besarnya arus listrik dan medan magnet dinyatakan oleh Biot Savart yang kemudian dikenal dengan Hukum Biot Savart . Besar induksi magnet pada suatu titik pada jarak a oleh kawat lurus yang tak terhingga panjang , seperti pada gambar di bawah ini : B= 0i2 a Selanjutnya didefinisikan tetapan baru yaitu 0. 0 = 12,57 x 10-7 W/A m = 4 x 10-7 W/A m 3

Hukum Ampere pada sumbu solenoida


Besar induksi magnetik di pusat sumbu solenoida B 0 I NL Besar induksi magnetik di ujung sumbu solenoida B 0 I N2 L

Induksi megnetik pada sumbu toroida


Medan magnet yang ditimbulkan pada suatu lintasan tertutup yang mengelilingi penghantar berarus di dalam vakum. B dlcos= 0I dl = Panjang lintasan, I = Kuat arus listrik yang diliingkup oleh lintasan tertutup, = Sudut antara arah B dan dl.

Besaran induksi megnetik di toroida


B= 0 I N2 a

Induksi Magnet pada Solenoida dan Toroida


Solenoida adalah kumparan kawat berbentuk tabung panjang dengan lilitan yang sangat rapat. Sebuah kawat dibentuk seperti spiral yang selanjutnya disebut kumparan , apabila dialiri arus listrik maka akan berfungsi seperti magnet batang. Dengan arah medan magnet ditentukan dengan kaidah tangan kanan. Arah arus menentukan arah medan magnet pada Solenoida. Medan Magnet oleh Kawat Melingkar Berarus 4

Sebuah kawat penghantar berbentuk lingkaran (jari jari = a) dialiri arus I maka besarnya induksi magnetik di pusat lingkaran O: B=N 0 I2 a N = Jumlah lilitan

Besar induksi magnetik di titik P: B= 0 Isin2r 2

rapat.

MEDAN MAGNET OLEH SOLENOIDA DAN TOROIDA Solenoida adalah kumparan kawat berbentuk tabung panjang dengan lilitan yang sangat

Induksi magnetik di tengah solenoida:


B0= I n= I Nl = Permeabilitas bahan.

Induksi magnetik di ujung solenoida:


Bp= I n2= I N2 L= B02

Gaya Lorentz
Gaya Lorentz adalah gaya yang ditimbulkan oleh muatan listrik yang bergerak atau oleh arus listrik yang berada dalam suatu medan magnet, B. Arah gaya ini akan mengikuti arah maju

sekrup yang diputar dari vektor arah gerak muatan listrik (v) ke arah medan magnet, B, seperti yang terlihat dalam rumus berikut: Dimana ; F adalah gaya (dalam satuan/unit newton). B adalah medan magnet (dalam unit tesla). Q adalah muatan listrik (dalam satuan coulomb). v adalah arah kecepatan muatan (dalam unit meter per detik). adalah perkalian silang dari operasi vektor. I adalah arus listrik dalam ampere. L adalah panjang kawat listrik yang dialiri listrik dalam satuan meter. Untuk gaya Lorentz yang ditimbulkan oleh arus listrik, I, dalam suatu medan magnet (B), rumusnya akan terlihat sebagai berikut (lihat arah gaya dalam kaidah tangan kanan): F=L I B

Gaya Lorentz pada penghantar berarus dalam medan magnet; F=B IL sin

Gaya Lorentz pada bergerak dalam partikel berarus; F=Bqv sin

jika bergerak dalam lintasan melingkar dan tegak lurus dalam medan magnet; r= mvBq

Dimana : r m B R = Jari-jari melingkar ( m). = Massa partikel (kg). = Medan magnet ( T ). =Muatan listrik (C ). 6

v q

= Kecepatan gerak partikel (m/s). = Muatan partikel (C)

Gaya lorentz pada dua penghantar lurus sejajar berarus ; F L=II2a Momen kopel pada penghantar berarus ; M=NIBAsin Persamaan Faraday atau Hukum Faraday berbunyi sebagai berikut : Ggl induksi yang timbul pada ujung-ujung suatu penghantar atau kumparan adalah

sebanding dengan laju perubahan fluks magnetik yang dilingkupi oleh loop penghantar atau kumparan tersebut. dengan 1 dan 2 berturut-turut adalah fluks magnetik pada keadaan awal dan akhir. = - Nt Jika perubahan fluks magnetik terjadi dalam selang waktu singkat ( t = 0 ), ggl induksi pada ujung ujung kumparan diberikan oleh : = - Nddt Keterangan : N = Banyak lilitan kumparan = Ggl induksi (volt)

= Perubahan fluks magnetik (Wb) t = Perubahan waktu (s)

Hukum Faraday Tentang Induksi Elektromagnetik


Energi mekanik dapat diubah menjadi energi listrik dengan jalan induksi elektromagnetik. Dengan induksi elektromagnetik dapat dibangkitkan energi listrik secara besar besaran.Sifat

magnetik dapat ditimbulkan dengan arus listrik, maka sebaliknya arus listrik dapat ditimbulkan dengan gaya magnet.

Percobaan percobaan Faraday seperti tersebut di atas menunjukkan bahwa selama magnet digerakkan, di dalam kumparan terjadi arus yang arahnya bolak balik. Oleh karena arusini terjadi karena adanya induksi maka dinamakan arus induksi, induksi yang menyebabkan arus induksi itu disebut induksi elektromagnetik. Beda tegangan yang demikian dinamakan GayaGerak listrik induksi (GGL induksi), arus yang terjadi disebut juga arus induksi atau arus imbas. Arah Gaya Magnetik dari Hukum Lenz. Michael Faraday (1791-1867), seorang ilmuwan jenius dari Inggris menyatakan bahwa: Jika sebuah penghantar memotong garis-garis gaya dari suatu medan magnetik (fluks) yang konstan, maka pada penghantar tersebut akan timbul tegangan induksi. Perubahan flux medan magnetik didalam suatu rangkaian bahan penghantar, akan menimbulkan tegangan induksi pada rangkaian tersebut. Kedua pernyataan beliau diatas menjadi hukum dasar listrik yang menjelaskan mengenai fenomena induksi elektromagnetik dan hubungan antara perubahan fluks dengan tegangan induksi yang ditimbulkan dalam suatu rangkaian, aplikasi dari hukum ini adalah pada generator. GGL Induksi pada Kawat yang Memotong Medan Magnetik Pada loop kawat PQRS, yang sebagian berada dalam daerah medan magnetik, sebagian lainnya berada di luar. Dengan keadaan awal loop diam dan ampere meter menunjuk nol. Bila loop digerakkan ke kiri, jarum amperemeter menyimpang. Hal ini menunjukkan bahwa loop PQRS mengalir arus listrik dengan arah yang dilukiskan pada gambar. Arus yang terjadi dinamakan arus induksi. Arus listrik terjadi karena ada beda potensial antara P dan Q. beda potensial ini disebut gaya gerak listrik (ggl) induksi.

GGL Induksi Kemagnetan dan kelistrikan merupakan dua gejala alam yang prosesnya dapat dibolak -balik. Ketika H.C. Oersted membuktikan bahwa di sekitar kawat berarus listrik terdapat medan magnet (artinya listrik menimbulkan magnet), para ilmuwan mulai berpikir keterkaitan antara kelistrikan dan kemagnetan. Tahun 1821 Michael Faraday membuktikan bahwa perubahan medan magnet dapat menimbulkan arus listrik (artinya magnet menimbulkan listrik) melalui eksperimen yang sangat sederhana. Sebuah magnet yang digerakkan masuk dan keluar pada kumparan dapat menghasilkan arus listrik pada kumparan itu. Galvanometer merupakan alat yang dapat digunakan untuk mengetahui ada tidaknya arus listrik yang mengalir. Ketika sebuah magnet yang digerakkan masuk dan keluar pada kumparan (seperti kegiatan di atas), jarum galvanometer menyimpang ke kanan dan ke kiri. Bergeraknya jarum galvanometer menunjukkan bahwa magnet yang digerakkan keluar dan masuk pada kumparan menimbulkan arus listrik. Arus listrik bisa terjadi jika pada ujung-ujung kumparan terdapat GGL (gaya gerak listrik). GGL yang terjadi di ujung-ujung kumparan dinamakan GGL induksi. Arus listrik hanya timbul pada saat magnet bergerak. Jika magnet diam di dalam kumparan, di ujung kumparan tidak terjadi arus listrik. 1. Penyebab Terjadinya GGL Induksi Ketika kutub utara magnet batang digerakkan masuk ke dalam kumparan, jumlah garis gaya gaya magnet yang terdapat di dalam kumparan bertambah banyak. Bertambahnya jumlah garis garis gaya ini menimbulkan GGL induksi pada ujung-ujung kumparan. GGL induksi yang ditimbulkan menyebabkan arus listrik mengalir menggerakkan jarum galvanometer. Arah arus induksi dapat ditentukan dengan cara memerhatikan arah medan magnet yang ditimbulkannya. paran bertambah. Akibatnya medan magnet hasil arus induksi bersifat mengurangi garis Pada saat magnet masuk, garis gaya dalam kum gaya itu. Dengan demikian, ujung kumparan itu merupakan kutub utara sehingga arah arus induksi seperti yang ditunjukkan Gambar 12.1.a (ingat kembali cara menentukan kutub-kutub solenoida).

Ketika kutub utara magnet batang digerakkan keluar dari dalam kumparan, jumlah garis-garis gaya magnet yang terdapat di dalam kumparan berkurang. Berkurangnya jumlah garis-garis gaya ini juga menimbulkan GGL induksi pada ujung-ujung kumparan. GGL induksi yang ditimbulkan menyebabkan arus listrik mengalir dan menggerakkan magnet batang masuk ke kumparan. Pada saat magnet keluar garis gaya dalam kumparan berkurang. Akibatnya medan magnet hasil arus induksi bersifat menambah garis gaya itu. Dengan demikian, ujung, kumparan itu merupakan kutub selatan, sehingga arah arus induksi seperti yang ditunjukkan Gambar 12.1.b. Ketika kutub utara magnet batang diam di dalam kumparan, jumlah garis garis gaya magnet di dalam kumparan tidak terjadi perubahan (tetap). Karena jumlah garis garis gaya tetap, maka pada ujung ujung kumparan tidak terjadi GGL induksi. Akibatnya, tidak terjadi arus listrik dan jarum galvanometer tidak bergerak. Jadi, GGL induksi dapat terjadi pada kedua ujung kumparan jika di dalam kumparan terjadi perubahan jumlah garis garis gaya magnet (fluks magnetik). GGL yang timbul akibat adanya perubahan jumlah garis garis gaya magnet dalam kumparan disebut GGL induksi. Arus listrik yang ditimbulkan GGL induksi disebut arus induksi. Peristiwa timbulnya GGL induksi dan arus induksi akibat adanya perubahan jumlah garis-garis gaya magnet disebut induksi elektromagnetik.

2.

Faktor yang Memengaruhi GGL induksi Faktor yang Memengaruhi Besar GGL Induksi Sebenarnya besar kecil GGL induksi dapat penyimpangan sudut jarum galvanometer. Jika sudut

dilihat pada besar kecilnya

penyimpangan jarum galvanometer besar, GGL induksi dan arus induksi yang dihasilkan besar. Bagaimanakah cara memperbesar GGL induksi? 10

Ada tiga faktor yang memengaruhi GGL induksi, yaitu : a. Kecepatan gerakan magnet atau kecepatan perubahan jumlah garis-garis gaya magnet (fluks magnetik), b. Jumlah lilitan, c. Medan magnet.

a.

Ggl Induksi oleh Perubahan Luas Bidang Kumparan Timbulnya ggl induksi akibat perubahan luas bidang kumparan A (B dan tetap),

melingkupi fluks magnetic yang telah dibahas. Persamaan Faraday untuk kasus luas bidang A berubah (B dan tetap) adalah sebagai berikut : = -NB At

b.

Ggl Induksi oleh Perubahan Besar Induksi Magnetik Ggl induksi yang ditimbulkan oleh Perubahan Besar Induksi Magnetik adalah

transformator. Persamaan Faraday untuk kasus besar induksi magnetic B berubah (A dan tetap) adalah sebagai berikut : = -NABt c. Ggl Induksi akibat Perubahan Orientasi Bidang Kumparan Persamaan Faraday untuk kasus orientasi sudut berubah (A dan B tetap) adalah sebagai berikut : = -NBA cost

11

Gambar 1. Hukum Faraday, Induksi Elektromagnetik.

Faraday mengamati peristiwa elektrolisis melalui berbagai percobaan yang dia lakukan. Dalam pengamatannya jika arus listrik searah dialirkan ke dalam suatu larutan elektrolit, mengakibatkan perubahan kimia dalam larutan tersebut. Sehingga Faraday menemukan hubungan antara massa yang dibebaskan atau diendapkan dengan arus listrik. Hubungan ini dikenal dengan Hukum Faraday. Menurut Faraday 1. Jumlah berat (massa) zat yang dihasilkan (diendapkan) pada elektroda sebanding dengan jumlah muatan listrik (Coulumb) yang dialirkan melalui larutan elektrolit tersebut. 2. Masa zat yang dibebaskan atau diendapkan oleh arus listrik sebanding dengan bobot ekivalen zat-zat Dari dua pernyataan diatas, disederhanakan menjadi persamaan : M= e.i.tF Dimana ; M e t F = Massa zat (gram) = Berat ekivalen dalam gram = berat atom: valensi, = Waktu (s) = Faraday. Dalam peristiwa elektrolisis terjadi reduksi pada katoda untuk mengambil elektron yang mengalir dan oksidasi pada anoda yang memberikan eliran elektron tersebut. Dalam hal ini elektron yang dilepas dan yang diambil dalam jumlah yang sama.

i = arus (A)

12

Bobot zat yang dipindahkan atau yang tereduksi setara dengan elektron, sehingga masa yang dipindahkan merupakan gram ekivalen dan sama dengan mol elektron. Faraday menyimpulkan bahwa Satu Faraday adalah jumlah listrik yang diperlukan untuk menghasilkan satu ekivalen zat pada elektroda. Muatan 1 elektron = 1,6 x 10-19 Coulomb, 1 mol elektron = 6,023 x 1023 elektron, Muatan untuk 1 mol elektron = 6,023 . 1023 x 1,6 . 10-19 = 96.500 Coulomb = 1 Faraday.

Hukum Lenz
Polaritas ggl induksi selalu sedemikian rupa sehingga arus induksi yang ditimbulkannya selalu menghasilkan fluks induksi yang menentang perubahan fluks utama yang melalui loop. Ini berarti induksi cenderung mempertahankan fluks utama awal yang melalui rangkaian. Pada tahun 1835 seorang ilmuwan jenius yang dilahirkan di Estonia, Heinrich Lenz (1804-1865) menyatakan bahwa: Arus induksi elektromagnetik dan gaya akan selalu berusaha untuk saling meniadakan (gaya aksi dan reaksi) Dengan menggunakan hukum Faraday, kita dapat menghitung besar ggl induksi pada ujung-ujung loop atau arus induksi yang mengalir melalui loop. Namun kita tidak dapat menentukan arah arus induksi melalui loop. Dengan melalui hukum lenz, kita dapat menentukkan arah arus induksi melalui sebuah loop. Arus searah mempunyai nilai tetap tidak berubah terhadap waktu. Sedangkan arus bolak balik adalah arus yang nilainya berubah terhadap waktu secara periodic. Bila dalam arus searah lambing sumber tegangannya. Dan dalam arus bolak balik lambing sumber tegangannya Arus bolak balik diukur dengan galvanometer, maka alat-alat tersebut (alat ukurnya), angka menunjukan angka nol. Karena kumparan koilnya terlalu lambat untuk mengikuti bentuk gelombang yang dihasilkan oleh sumber arus bolak balik tersebut. Tetapi bila diukur dengan osiloskop kitta dapat melihat nilai-nilai tegangan yang dihasilkan yang selau berubah terhadap waktu secara periodik, sehingga memperhatikan sebuah gelombang

13

sebagai contoh, jika suatu penghantar diberikan gaya untuk berputar dan memotong garis-garis gaya magnetik, maka pada penghantar tersebut akan timbul tegangan induksi (Hukum Faraday). Kemudian jika pada ujung ujung penghantar tersebut saling dihubungkan maka akan mengalir arus induksi, dan arus induksi ini akan menghasilkan gaya pada penghantar tersebut (Hukum Ampere Biot - Savart). Yang akan diungkapkan oleh Lenz adalah gaya yang dihasilkan tersebut berlawanan arah dengan arah gerakan penghantar tersebut, sehingga akan saling meniadakan. Hukum Lenz inilah yang menjelaskan mengenai prinsip kerja dari mesin listrik dinamis (mesin listrik putar) yaitu

generator dan motor. Gambar 3. Hukum Lenz- gaya aksi dan reaksi. Konversi Energi Elektromekanik

Ketiga hukum dasar listrik diatas terjadi pada proses kerja dari suatu mesin listrik dan hal ini merupakan prinsip dasar dari konversi energi. Secara garis besar, elektromekanik dari mesin listrik dinamis dinyatakan: Semua energi listrik dan energi mekanik mengalir kedalam mesin, dan hanya sebagian kecil saja dari energi listrik dan energi mekanik yang mengalir keluar mesin (terbuang) ataupun disimpan didalam mesin itu sendiri, sedangkan energi yang terbuang tersebut dalam bentuk panas Sedangkan Hukum Kekelan Energi Pertama menyatakan bahwa: 14

Energi tidak dapat diciptakan, namun dapat berubah bentuk dari satu bentuk energi ke bentuk energi lainnya.

Gambar. Prinsip Konversi Energi Elektromekanik. Aplikasi dari 4 dasar prinsip kerja mesin listrik dinamis dan hukum kekalan energi digambarkan sebagai berikut: Tanda positif (+) menunjukkan energi masuk, sedangkan tanda negatif (-) menunjukkan energi keluar. Panas yang dihasilkan dari suatu mesin yang sedang melakukan proses selalu dalam tanda negatif (-). Sedangkan untuk energi yang tersimpan, tanda positif (+) menujukkan peningkatan energi yang tersimpan, sedangkan tanda negatif (-) menunjukkan pengurangan energi yang tersimpan. Keseimbangan dari bentuk-bentuk energi diatas tergantung dari nilai efisiensi mesin dan sistem pendinginannya.

Fluks Magnet

15

Fluks magnet melalui loop kawat menunjukkan jumlah garis medan magnet yang melewati permukaan loop. Fluks magnet didefinisikan sebagai berikut :

= B. A
B A = kekuatan medan magnet = luas permukaan loop.

BAB III METODE PERCOBAAN


3.1. Alat dan Bahan

Baterai

16

Tembaga (2m) (0.35mm)(2mm)

Kayu Saklar

Magnet

Kertas kado

3.1.

Cara Kerja
1. 2. Potong balok kayu menjadi beberapa bagian, kemudian rangkai hingga menjadi miniatur pick up.

17

5. Kemudian

tempelkan

potongan

Aluminium (plat motor) di sisi-sisi bagian dalam bak mobil.

3. Lalu pada bagian atas mobil di beri kawat tembaga untuk penyanggah kumparan. 4. Kemudian kawat tembaga tersebut dihubungkan ke saklar dengan memakai kabel. 6. Sambungkan aluminium ke salah satu kawat penyanggah dengan kabel

18

7. Pasang 4 buah baterai (1,5 volt) kedalam bak mobil. 9. Taruh magnet di bawah kumparan.

8. Pasang kumparan tembaga pada kawat penyanggah.

10.Tekan saklar dengan kuat hingga kumparan dapat berputar.

19

BAB IV HASIL PERCOBAAN

4.1.

Hasil Pengamatan
Kumparan pada percobaan yang saya lakukan berputar. Prinsip terjadinya peristiwa ini adalah saat kumparan yang saya buat maka akan terjadi kekuatan arus listrik yang melalui tembaga yang telah di buat kumparan pada listrik ini akan menimbulkan medan magnet didaerah dimana terdapat gulungan-gulungan pada kumparan tersebut (area medan magnet) karena pada kumparan terjadi perubahan gaya listrik ke gaya magnet maka tembaga yang tadi di gulung oleh magnet terdapat dua kutub seperti magnet yang biasanya. Dapat kita lihat tadi bahwa kumparan yang merupakan bahan yang dapat di tarik oleh magnet. Semakin banyak lilitan kumparan, maka semakin cepat kumparan tersebut berputar. Sebaliknya, semakin sedikit lilitan kumparan maka akan semakin lemah putaran kumparan tersebut.

BAB V
20

PENUTUP

5.1. Kesimpulan Menurut Faraday, adanya perubahan medan magnet pada suatu kumparan dapat menimbulkan gaya gerak listrik. Besar GGL induksi bergantung pada tiga faktor, yaitu a. kecepatan perubahan jumlah garis-garis gaya magnet, b. jumlah lilitan, c. kuat medan magnet. Arah arus induksi dalam kumparan selalu sedemikian rupa sehingga menghasilkan medan magnet yang menentang sebab sebab yang menimbulkannya. Induksi elektromagnetik diterapkan pada: mesin cuci. Energi listrik pada baterai berubah menjadi magnet saat tembaga di gabung oleh baterai lalu dililitkan. Bahwa gaya magnet pada tembaga dapat menarik dan menolak besi. 5.1. Saran Sebaiknya saat melakukan percobaan ini menggunakan tembaga yang kecil untuk memudahkan mengulung sehingga daya magnet semakin kuat. Dan jangan menggunakan jari untuk menyabung baterai dengan tembaga karena semakin lama baterai tersebut semakin panas.

DAFTAR PUSTAKA

21

Kanginan, Marthen. 2007. Fisika untuk SMA Kelas XII Semester 1. Jakarta : Erlangga Giancoli, Douglas C. 2001. Fisika Jilid I (terjemahan). Jakarta : Erlangga Giancoli, Douglas C. 2010. Fisika Jilid V (terjemahan). Jakarta : Erlangga Halliday dan Resnick. 1991. Fisika Jilid I (terjemahan). Jakarta : Erlangga Streeter L, Victor. 1985. Mekanika Fluida. Erlangga: Jakarta. Tim Penyusun. 2009. Modul Praktikum Mekanika Fluida. Purwokerto: UNSOED Tipler, P.A.1998. Fisika untuk Sains dan Teknik-Jilid I (terjemahan). Jakarta : Erlangga Young, Hugh D. & Roger A Freedman. 2002. Fisika Universitas (terjemahan). Jakarta : Erlangga Sutresna, Nana. 2006. Fisika untuk SMA kelas XII semester I. Bandung: Grafindo Media Pratama Wibawa, I Made Satriya. 2007. Penuntun Praktikum Fisika Dasar (Farmasi) Kuswati, Tine Maria. 2005. Sains Kimia untuk SMA kelas 3. Jakarta: Bumi Aksara. Giancoli, Douglas C. 2001. Fsica Edisi relima, Jilid 2. Jakarta : Erlangga. Ruwanto, Bambang. 2006. AsasAsas Fisika SMA Kelas XI. Yogyakarta: Yudhistira

www.wikipedia..com www.blogspot.com http://books.google.co.id

22