Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol. 7 No.

1 (2007) p: 31-42

PEMANFAATAN SUMBERDAYA BIOLOGIS LOKAL UNTUK PENGENDALIAN PASIF AIR ASAM TAMBANG:

LAHAN BASAH BUATAN
Ali Munawar

Laboratorium Ilmu Tanah, Universitas Bengkulu, Jalan Raya Kandanglimun, Bengkulu 38371A. e-mail: alimun2000@yahoo.com
Air asam tambang (AAT, acid mine drainage=AMD) merupakan salah satu persoalan lingkungan penting yang dihadapi oleh industri batubara. Karena tingkat kemasaman dan konsentrasi logam larutnya yang tinggi, AAT dapat mencemari lingkungan, terutama ekosistem akuatik. Banyak teknik pengendalian AAT yang dikembangkan, namun dalam tiga dekade terakhir pengendalian pasif semakin berkembang dibandingkan dengan pengendalain aktif. Salah satu teknik pengendalian pasif adalah lahan basah buatan.. Sebuah penelitian telah dilaksanakn untuk mendapatkan substrat organik, tumbuhan air, dan bakteri pereduksi sulfat (BPS) untuk pembangunan lahan basah dan penerapan di lapang. Beberapa jenis bahan organik, yakni kulit kayu (bark), gambut, pupuk kandang, dan lumpur kayu (sludge), secara individual dan campurannya dikaji karakteristik dan responnya terhadap AAT. Bakteri pereduksi sulfat (BPS) diisolasi dari lumpur-AAT dan dikembangbiakkan untuk diinokulasikan ke dalam substrat. Beberapa jenis tumbuhan air yang tumbuh di lingkungan lokasi penambangan diseleksi untuk mendapatkan jenis-jenis yang toleran terhadap tingkat kemasaman tinggi. Hasilnya diterapkan dalam sebuah lahan basah buatan skala kecil. Data menunjukkan bahwa bahan/substrat organik, secara individual maupun campurannya, mempunyai sifat-sifat berbeda dan respon beragam terhadap pemberian AAT. Secara keseluruhan pupuk kandang dan bahan campurannya potensial sebagai substrat pada lahan basah buatan, yang ditandai dengan pH dan Ec tinggi, dan aktivitas jasad renik yang lebih tinggi (Eh rendah). Isolasi dari lumpur-AAT mendapatkan beberapa marga BPS, yakni Desulfovibrio, Desulfotomaculum, Desulfarculus, Desulfofacirum, dan Sulforospirillum.. Namun, inokulasi jenis-jenis BPS tersebut ke dalam substrat organik kurang memberikan pengaruh yang signifikan. Tampaknya di dalam bahanbahan tersebut sudah terdapat jenis-jenis BPS, yang cukup memadai untuk terjadinya proses reduksi sulfat. Tiga jenis tumbuhan air, yakni Fimbristylis hispidula, Mariscus compactus, dan Typha angustifolia tumbuh paling baik dalam media tercekam AAT. Lahan basah skala kecil dengan substrat campuran kulit kayu, ampas kayu, dan pupuk kandang dengan perbandingan (%) 50:25:25, dan tiga jenis tumbuhan air tersebut mampu memperbaiki AAT, meningkatkan pH dari 3,7 menjadi pH > 6 dan menurunkan kadar Mn larut.

Kata-kata kunci: air asam tambang, bakteri pereduksi sulfat, lahan basah buatan,

substrat organik, tumbuhan air.

PENDAHULUAN Salah satu persoalan penting yang dihadapi oleh industri batubara adalah terjadinya pencemaran oleh air asam tambang (AAT, acid mine drainage=AMD). Air asam tambang merupakan cairan yang terbentuk akibat oksidasi mineral-mineral sulfida, terutama pirit (FeS2) yang menghasilkan asam sulfat (Sexstone et al., 1999; Skousen et al., 1999). Dengan tingkat kemasamannya yang tinggi, AAT dapat melarutkan mineral-mineral lain dan melepaskan kation-kation, seperi Fe, Mn, Al, Cu, Zn, Cd, Ni, dan Hg. Apabila terbawa ke sumber air, AAT dapat mendegradasi produktivitas biologis sistem akuatik tersebut. Pada kondisi parah, maka air menjadi tidak aman konsumsi dan penggunaanpenggunaan yang lain, seperti irigasi, industi,

dan rekreasi (Widdowson, 1990). Oleh karena itu, AAT harus menjadi perhatian serius. Sejumlah teknik pengendalian AAT telah lama dikembangkan dan diterapkan di banyak negara (Skousen et al., 1998). Secara garis besar teknik-teknik tersebut dibedakan menjadi dua, yakni perlakukan aktif (active treatment) dan perlakukan pasif (passive treatment). Perlakuan aktif dilakukan dengan pemberian kemikalia alkalin untuk meningkatkan pH dan menurunkan kelarutan logam (Skousen et al., 1990). Di Amerika Serikat (USA) industri pertambangan menghabiskan $1 juta dolar per hari untuk perlakukan aktif ini (Kleinman, 1990; Evangelou, 1995). Prinsip perlakukan pasif adalah membiarkan reaksi kimia dan biologi berlangsung secara alami. Skousen dan Ziemkiewicz (1996) menyatakan bahwa

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi dasar tentang sifat-sifat beberapa bahan/susbstrat organik. Substrat. dan (2) mengetahui pengaruh substrat organik dan inokulasi BPS terhadap kualitas AAT. Isolasi. (2) Stimulasi proses jasad renik-tanaman menyediakan tapak (site) untuk menempelnya mikroba. pupuk kandang.. dari berbagai jenis bahan organik dapat menghambat oksidasi pirit melalui mekanisme. (2) Inkubasi anaerobik substrat organik. antara lain (1) konsumsi oksigen oleh bakteri selain Thiobacillus ferrooxidans dan T. Pembangunan lahan basah buatan skala kecil dengan bahan yang sudah diperoleh diharapkan dapat mendemonstrasikan kinerja sistem lahan basah dalam pengendalian AAT. 1993) Penerapan teknik pengendalaian pasif di Indonesia pada saat ini masih sangat terbatas. Tanjung Enim. sehingga didapatkan teknik pengendalian yang tepat pada industri batubara atau industri pertambangan yang lain di Indonesia. Identifikasi dilakukan di bawah mikroskop. 1996). (3) Habitat satwa liar tanaman memasok pakan dan perlindungan bagi hewan. tumbuhan air. Surface et al. melalui kerjasama dengan PT Batubara Bukit Asam (PERSERO) Tbk UPT Tanjung Enim. 7 No. yakni penyimpan karbon (C) dan nitrogen (N). dan (5) akumulasi logam (Skousen et al. substrat organik berfungsi sebagai sumber enerji bakteri pereduksi sulfat (BPS) yang menghasilkan sulfida. (1993) mengatakan bahwa akar tanaman dapat bertindak sebagai permukaan jerapan Fe dan logam-logam lain. yakni (1) Isolasi. sehingga lahan basah mengurangi emisi C ke atmosfer menurut (Wetzel. Selain itu. dengan AAT (pH 3. dan gambut maupun campurannya. dan perbanyakan bakteri pereduksi sulfat (BPS). BPS yang mempunyai populasi > 108 cpv/g AAT digunakan untuk inokulasi pada percobaan Inkubasi Anaerobik. Sumatera Selatan. dan perbanyakan bakteri pereduski sulfat (BPS). Tanjung Enim pada media Baars. 1995. Oleh karenanya. tanaman mempunyai fungsi ekologis. jenis-jenis tumbuhan air. Inkubasi Anaerobik Percobaan ini dimaksudkan untuk (1) mengetahui sifat-sifat remediatif beberapa jenis limbah organik. Pada teknik ini bahan/substrat. Sumatera Selatan. ke empat bahan tersebut . Oleh karena itu. dan penyaring logam (Surface et al. dan bakteri pereduksi sulfat untuk pembangunan lahan basah buatan. yang dibantu dengan mikrometer dan reaksi gram. Demchik dan Garbutt. identifikasi. Penelitian dilaksanakan tahun selama dua tahun. (3) Seleksi jenis tumbuhan air yang tahan terhadap cekaman kemasaman tinggi. yang kemudian menyebabkan terjadinya pengendapan logamsulfida. di antaranya adalah lahan basah buatan (constructed wetland) (Faulkner dan Skousen. Untuk itulah.32 Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol. identifikasi. Perbanyakan inokulum BPS dilakukan dengan medium Baars cair dan agar pemadat. Semua tahap kegiatan ini dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi. mulai Juni 2004. 1994). (2) pengambilan FeIII dari larutan melalui kompleksasi. Bakteri diisolasi dari sampel Lumpur-AAT. yang diambil dari kolam pengendapan di KP Banko Barat Pit 3.akar tanaman memegang substrat bersama-sama dan meningkatkan waktu tinggal air dalam wetland.lahan basah dengan pertanamannya lebih enak dipandang mata. penulis melakukan penelitian untuk merintis pengembangan lahan basah buatan. Tumbuhan air pada lahan basah mempunyai beberapa fungsi atau manfaat penting. Selain itu. BAHAN DAN METODE Penelitian ini terdiri dari beberapa kelompok percobaan. dan mikrobia memegang peranan penting. dalam dalam lebih dari dua dekade terakhir penggunaan metode pasif (passive treatment) terus meningkat. dan mengetahui kemampuan sumberdaya tersebut mengurangi tingkat kemasaman AAT dan menurunkan konsentrasi logam larut.1 (2007) perlakuan pasif lebih murah dan tidak memerlukan perawatan intensif.80 dan Ec 1090 uS/cm). Agar didapatkan ukuran bahan yang seragam. dan (4) Pembangunan lahan basah skala kecil. yakni kulit kayu. ampas kayu. dan (3) pembentukan kompleks pirit-FeII-humat (Evangelou. thiookxidans. dan menyediakan sumber bahan organik untuk mikroba heterotrof. (4) Estetika . Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu. 1993. kajian mendasar mengenai pengendalian AAT sangat diperlukan. Pengendalian pasif AAT juga sangat beragam. Kulit kayu dan ampas kayu diperoleh dari pabrik pembuatan bahan kertas (pulp) PT Tanjung Enim Lestari. 1994). Ditch dan Karathanasis. mengeluarkan oksigen dari akarnya. Pupuk kandang masak didapatkan dari petani peternak ayam potong di Muara Enim. 1999). seperti (1) Konsolidasi substrat . antara lain karena belum cukup tersedia informasi mengenai teknik-teknik pengendalian AAT. sedangkan gambut jenis saprik didapatkan dari Kotamadia Bengkulu. PT Bukit Asam.

100% ampas kayu. 100% gambut. Pengukuran tinggi dilakukan setiap dua minggu sekali. dan 50% pupuk kandang + 50% gambut. kemudian ditambahkan 750 mL akuades.8. 50% ampas kayu + 50% kulit kayu. Dari 15 jenis tumbuhan air yang didapatkan dipilih tumbuhan yang sehat dan dibagi menjadi dua kelompok. pengukuran dianjutkan setiap 2 (dua) minggu sampai selama sekitar 3 bulan. sehingga debit AAT keluar = debit masuk kolam. AAT dialirkan dari . Pengukuran tingkat kemasaman tanah (pH). 75% pupuk kandang + 25% kulit kayu. Bahan tersebut dicampur dengan baik dan wadah plastik ditutup rapat. 75% ampas kayu + 25% kulit kayu. semua bagian tanaman (bagian atas dan akar) dipanen untuk diketahui bobot kering brangkasannya pada suhu 70 0C. dan tinggi bagian ujungnya diatur sedemikian rupa.250 mL akuades. Untuk menghindari pengaruh air hujan ke dalam media tumbuh. masingmasing berbobot 250 g dalam wadah plastik (toples) dengan tiga ulangan. Sabagai perlakukan bahan disusun secara individual dan campurannya sebagai berikut: 100% kulit kayu.Munawar. lebar 1 m. 75% ampas kayu + 25% gambut. khusus kulit kayu ditempatkan dalam wadah bervolume 2 L dan ditambahkan 1. Kegiatan didahului dengan survai lapangan untuk mendapatkan tumbuhan apa saja yang tumbuh bagus di wilayah kuasa penambangan (KP) perusahaan. Air Laya. sebanyak 250 g substrat individual dimasukkan ke dalam wadah platik (toples) bervolume 1 L. pupuk kandang. 50% pupuk kandang + 50% kulit kayu. dibuatkan atap plastik transparan. dengan perbandingan masingmasing 50% : 25% : 25% bobot kering. sampai tumbuhan berumur sekitar 3 (tiga) bulan. Batu kapur dengan kadar 60% CaCO3 dari Baturaja. potensial redoks (Eh). dan lumpur kayu. pada pangkal pipa dibuat beberapa lobang dengan diameter sekitar 1 cm dan dibungkus sabut sebagai penyaring. Seleksi Tumbuhan Air Tahan Cekaman Kemasaman Percobaan ini dimaksudkan untuk mendapatkan jenis-jenis tumbuhan yang tahan atau beradaptasi terhadap cekaman kemasaman tanah tinggi AAT. 18 jam. Selanjutnya. Satu kelompok tumbuhan masing-masing satu anakan. dan Fimbristylis hispidula (Vahl) Konth. 50% ampas kayu + 50% gambut. Pada akhir percobaan dilakukan pengambilan sekitar 200 ml sampel AAT dari setiap satuan percobaan untuk analisis logam Fe dan Mn larut dengan menggunakan Atomic Absorption Spectrophotometer. dan konduktivitas listrik (Ec) dilakukan setelah dibiarkan selama 30 menit. Setelah tumbuhan tumbuh baik (umur 2 minggu). dan satu minggu. Di atas permukaan lapisan kapur tutup dengan paranet plastik. 100% pupuk kandang. Bahan ditempatkan di atas meja dalam suhu ruangan. Untuk mengetahui pengaruh substrat organik dan inokulasi BPS terhadap kualitas AAT. Agar AAT masuk pipa keluar lancar dan bersih. Bahan dan akuades dicampur dengan baik. kemudian ditanami dengan 3 jenis tumbuhan air: Typha angustifolia. kemudian ditambahkan substrat organik campuran dari kulit kayu. Kolam percobaan diairi sampai kapasitas lapang dengan AAT selama 30 hari. Sumater Selatan yang berdiamter rata-rata 10 cm dimasukkan ke dalam kolam sehingga ketebalan 50 cm. Di akhir percobaan. Pemanfaatan Sumberdaya Biologis 33 disaring melalui 5 mm mata-saring. yang mempunyai pH 3. . dilakukan pengambilan sebanyak 15 jenis tumbuhan untuk dideterminasi dan digunakan sebagai sumber bibit. dan kedalaman 1. dan AAT berasal dari dari mainsump KP Banko Barat Pit 3. 3 hari. Karena volume per satuan bobotnya tinggi. Bagian pangkal pipa pengeluaran dibuat cabang dua dan ditanam di dalam lapisan kapur. Marsicus compactus (Retz) Druce. sedangkan satu kelompok lainnya ditanam pada 10 kg media Lumpur dan digenangi dengan air hujan pada ketinggian yang sama. Setelah itu. Untuk mengetahui sifat-sifat masingmasing substrat dan campurannya. Tanaman yang tumbuh bagus dengan biomasa tinggi dan perakaan intensif dipilih untuk percobaan lahan basah. ditanam pada 10 kg media Lumpur dalam ember plastik dan digenangi sedalam 2-4 cm terus menerus dengan AAT. ditutup dan diinkubasi dalam suhu kamar. Setiap kolam dilengkapi dengan instalasi air dengan pipa PVC 4” untuk mengalirkan AAT masuk kolam (INFLOW) dan mengeluarkan AAT dari kolam (OUTFLOW). Lumpur diambil dari kolam pengendapan Cik Ayip. masingmasing sebanyak 8 anakan atau stek yang telah disemaikan terlebih dahulu. 75% pupuk kandang +25% gambut.5 m dibuat dengan menggali tanah di dekat Kolam Penampungan AAT Muara Tiga Besar Selatan (MTBS). bahan dikelompokkan menjadi dua. Percobaan Lahan Basah Buatan Skala Kecil Tiga buah lahan basah buatan dengan ukuran panjang 4 m. Kepada kelompok pertama ditambahkan 750 mL AAT saja dan kepada satu kelompok yang lain ditambahkan 750 mL AAT dan 20 mL inokulan BPS. kecuali bark.

dan sebagai indikator adanya aktivitas organisme yang tinggi. Ini merupakan indikasi bahwa pupuk kandang maupun lumpur kayu mempunyai tapak (permukaan) jerapan dan kandungan garamgaram larut yang lebih tinggi. dan Sulforosprillum (2 spesies). Gambar 1. 2. perubahan menjadi suasana reduktif (nilai Eh semakin negatif) terjadi paling awal dan drastis. pH (H2O) bahan/substrat organik individual .34 Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol. Konduktivitas listrik (Ec) paling tinggi dimiliki oleh pupuk kandang. Desulfofacirum. Bahan yang mempunyai C/N rasio tinggi mempunyai pH rendah. Pada pupuk kandang. 7 No. Isolasi menemukan 21 jenis bakteri yang tumbuh bagus pada Lumur-AMD. perbedaan pH antara bahan-bahan tersebut mengecil setelah 2 minggu mengalami inkubasi anaerobik (pengamatan ke 5). Potensial redoks (Eh) pupuk kandang paling rendah di antara bahan-bahan yang lain. kulit kayu. dengan kemampuan barvariasi antara 0. yakni 1. HASIL DAN DISKUSI Isolasi. Gambut dan kulit kayu mempunyai Ec jauh lebih rendah dari dua bahan yang lain. dan 3 menunjukkan bahwa ke empat jenis bahan organik (lumpur kayu. dan Na pupuk kandang dan lumpur kayu lebih tinggi daripada gambut dan kulit kayu. Sebaliknya pada gambut suasana reduktif baru dicapai setelah dua minggu. Jenis bakteri pereduksi sulfat tersebut Desulfovibrio (3 spesies). Desulfarculus (1 spesies). diikuti oleh lumpur kayu. Dari 21 jenis tersebut ditemukan 8 jenis (spesies) yang mempunyai kemampuan mereduksi sulfat. Inkubasi Anaerobik. yang ditunjukkan oleh gambut (12) dan Sifat-sifat Remediatif Bahan kulit kayu (15). semua bahan mempunyai pH sekitar netral (pH 7). Hasil analisis laboratorium menunjukkan bahwa kandungan Ca. 9 pH 8 7 6 5 4 3 2 1 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 11 Waktu pengamatan Gambar 1. pupuk kandang. Mg. Setelah 2 minggu.1 (2007) sumbernya dengan debit tetap. dan gambut) mempunyai sifat yang berbeda-beda. Jenis-jenis BPS tersebut dengan mudah dikembangbiakkan di laboratorium dan dapat digunakan untuk membantu kinerja lahan basah buatan.5 L per menit secara terus menerus.9 mm. yang diikuti oleh lumpur kayu. Data potensial redoks (Eh) pada dua minggu pertama memperkuat kenyataan tersebut. dan perbanyakan bakteri pereduksi sulfat (BPS). Setiap dua minggu diukur pH AAT pada pintu masuk (IN) dan AAT keluar (OUT). K. Namun. Ini membuktikan bahwa konsumsi oksigen (O2) tertinggi pada pupuk kandang. dan setiap bulan diambil sampel AAT pada lokasi yang sama untuk analisis logam Mn. identifikasi. sedangkan Eh gambut paling tinggi. adalah: Desulfotomaculum (1 spesies). Ini juga berarti bahwa ke dua bahan yang disebut pertama mempunyai nilai nutrisi yang lebih baik.6 – 3.

dan Eh dari inkubasi bahan individual dan campurannya dengan akuades masing-masing ditunjukkan oleh Gambar 4. Secara konsisten data menunjukkan pengaruh ke empat jenis bahan organik tersebut. terutama. kulit kayu. 5. terutama sebelum dua minggu masa inkubasi. dengan lumpur kayu dan pupuk kandang yang paling reduktif (Eh= -300 mV). Data ini selaras dengan perubahan potensial redoksnya (Eh). terutama pada dua minggu pertama (sebelum pengamatan ke 5). Suasana paling reduktif terjadi setelah dua minggu inkubasi. Kenaikan pH AAT Pengaruh Substrat dan Inokulasi BPS tertinggi terjadi dengan pemberian 100% lumpur kayu. dan bervariasi antara bahan-bahan tersebut. Eh bahan/substrat organik individual Data pH. Ec bahan/substrat organik individual Eh (mV) 400 SLUDGE P KANDANG 300 BARK GAMBUT 200 100 Waktu pengamatan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 0 -100 -200 -300 -400 Gambar 3. diikuti pupuk kandang. dan gambut. Pemberian lumpur kayu secara sendirisendiri maupun campurannya meningkatkan pH >7. Data Eh menunjukkan bahwa respon sistem campuran AAT-bahan organik terhadap inokulasi BPS tidak begitu besar. Ec. Pemanfaatan Sumberdaya Biologis Ec (uS/cm) 12000 SLUDGE P KANDANG 10000 BARK GAMBUT 8000 35 6000 4000 2000 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Waktu pengamatan Gambar 2. dua kurva Eh dari sistem yang diinokulasi dan tidak . kemudian diikuti oleh pupuk kandang. pH mendekati 7 tanpa memandang jenis bahan organik yang ditambahkan. dan 6. penambahan kulit kayu dan gambut hanya mampu meningkatkan pH<7. Meskipun sama-sama meningkatkan pH. Data menunjukkan bahwa semua jenis bahan organik maupun campurannya meningkatkan pH AAT secara signifikan (3.8). Pada AAT yang diberi 100% pupuk kandang. Setelah minggu kedua inkubasi. Gambar-gambar tersebut menunjukkan bahwa sifat-sifat bahan individual substrat menentukan sifat-sifat bahan campurannya.Munawar. Eh. dan Ec dari AAT masingmasing dapat dilihat pada Gambar 7 s/d 9. Pengaruh pemberian berbagai jenis bahan organik/campurannya dan inokulasi bakteri pereduksi sulfat (BPS) terhadap perubahan pH.

tetapi sebagain besar tanaman pada media yang diairi AAT sudah mati pada saat dipanen. sedangkan yang tidak hidup pada media tercekam AAT tetapi hidup di media yang digenangi air biasa adalah Elaeocharis acutangula (Roxb) Schutt dan Paspalum longifolium. Ec lebih rendah jika dilakukan inokulasi BPS. Konsentrasi Logam Data analisis Mn larut dalam AAT pada akhir percobaan inkubasi secara umum data menunjukkan bahwa semua jenis bahan organik yang diberikan secara nyata menurunkan konsentrasi Mn larut dalam AAT. Bahkan hampir semua kurva Eh pada AAT yang diberi bahan campuran yang mengandung pupuk kandang memiliki pola yang sama. sehinga data yang diperoleh masih sangat terbatas. Alasan kematian beberapa jenis tumbuhan pada kedua jenis media adalah bahwa pada dasarnya tumbuhan tersebut berasal dari/tumbuh pada daratan ditepi kolam pengendapan. Tumbuhan yang mampu tumbuh bagus pada media yang diairi AAT maupun air hujan meliputi Typha angustifolia. sampai sekitar 2 minggu setelah inkubasi. sedangkan gambut memberikan Ec paling rendah. ternyata sebagian besar tidak dapat hidup pada media yang diairi dengan air biasa ( hujan) maupun dengan AAT.36 Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol. tiga jenis yang mempunyai biomasa terbanyak ditanam pada lahan basah buatan skala kecil. Scleria ciliaris.94 cmole kg-1. sehingga kurang cocok dengan media yang selalu tergenang. Mariscus compactus (Retz) Druce. Scleria scroticulata Nees & Mey. menunjukkan bahwa pengaruh pemberian campuran 75% pupuk kandang + 25% kulit kayu terhadap Ec dipengaruhi oleh BPS. Pemberian 100% pupuk kandang secara konsisten mengakibatkan tingginya Ec sepanjang inkubasi dan tidak dipengaruhi oleh inokulasi BPS. dan jenis dengan kode 19 W.1 (2007) diinokulasi BPS saling berdempetan menjadi satu. kemudian disusul oleh yang diberi kulit kayu dan lumpur kayu. dan Eleocharis dulcis. Hal ini barangkali akibat terjadinya pengikatan kuat Mn oleh koloida organik atau skelasi oleh senyawa-senyawa yang berasal dari bahan organic. Hal ini mungkin karena pupuk kandang mengandung BPS dalam jumlah banyak. Cyperus tenuiculmis. Data Ec secara konsisten menunjukkan bahwa pemberian pupuk kandang maupun campurannya menyebabkan peningkatan Ec tertinggi. 7 No. Jenis tumbuhan yang tumbuh bagus pada media yang diairi air biasa dan mati pada media yang diairi AAT dianggap tidak toleran terhadap kemasaman. seperti telah disebut di depan. lebih besar daripada KTK lumpur kayu dan kulit kayu. terutama pada pemberian lumpur kayu dan kulit kayu. Typha angustifolia. Hasil pengukuran pH AAT dan konsentrasi Mn larut pada pintu masuk kolam (In) dan pintu keluar kolam (Out) pada periode November 2004 s/d Januari 2005 dapat dilihat pada Tabel 1. terutama di awal inkubasi.28 dan 25. Data juga mengindikasikan adanya proses pengendapan Mn akibat proses reduksi yang dibantu oleh BPS. Dari ke lima tumbuhan air ini. sehingga inokulasi tidak berpengaruh. Di antara jenis-jenis tumbuhan yang tidak dapat hidup di kedua media tersebut adalah Phragmites sp. Seleksi Tumbuhan Air Tahan Cekaman Kemasaman Dari 15 jenis tumbuhan yang didapatkan dari lokasi KP PT BA yang telah dicobakan. Respon terhadap inokulasi BPS lebih tampak pada pemberian jenis bahan organik yang lain.02 cmole kg-1. Fimbristylis hispidula. masing-masing sebesar 30. Ini berkorelasi dengan besarnya kapasitas tukar kation (KTK) dari bahan-bahan tersebut. Namun. kemungkinan mulai terbentuknya senyawa Mn baru yang kurang larut. Hal mengisyaratkan kemungkinan terjadinya proses pengendapan logam-logam tertentu. Dari analisis laboratorium didapatkan bahwa KTK pupuk kandang dan gambut masing-masing mempunyai 39. Elaeocharis dulcis (Burmf) Henschel).61 dan 35. Dari . Lahan Basah Buatan Skala Kecil Pembangunan lahan basah buatan baru selesai pada akhir tahun 2005. dari sekitar 12 ppm menjadi < 1 ppm. Bobot brangkasan dari yang paling tinggi ke paling rendah adalah Mariscus compactus. Kurva pertumbuhan menunjukkan bahwa ke lima jenis tumbuhan air tersebut tahan terhadap cekaman AAT. Hal yang menarik adalah terjadinya variasi pola perubahan Ec dengan waktu inkubasi. Fenomena ini tampaknya tidak terjadi pada pemberian pupuk kandang maupun gambut. Enceng gondok dapat bertahan tumbuh cukup lama. Konsentrasi Mn larut dalam AAT yang diberi 100% lumpur kayu maupun 100% kulit kayu yang diinokulasi BPS lebih rendah daripada yang tidak diinokulasi. Digitaria siliaris. Hal ini jelas disebabkan oleh tingginya kandungan garam/nutrisi dalam pupuk kandang. Menunjukkan bahwa konsentrasi Mn larut paling rendah dijumpai pada AAT yang diberi pupuk kandang dan gambut. dan Fimbristylis hispidula (Vahl) Konth. Cyperus tenuiculmis Boeck. dan sampai batas tertentu pengaruh inokulasi BPS.

International Land Reclamation and Mine Drainage Conference. Dalam Lumpur-AAT yang sangat masam ditemukan beberapa jenis bakteri pereduksi sulfat (BPS) dari marga Desulfovibrio. 2004) untuk menilai kinerja lahan basah buatan diperlukan rentang waktu panjang. and P.P. In 1999 Proceedings of American Society for Surface Mining and Skousen. A. 1993. Faulkner. yang dapat 2. Constructed Wetlands for Water Quality Improvement. Lewis Publishers. 1999. dan 3 tumbuhan air {Mariscus compactus (Retz) Druce. Tanjung Enim. Cliff. J. 285p+. Ditch. Hal ini terkait dengan variasi iklim atau musim. 1999. IL. and A. Skousen. Scottsdale.B. Karathanasis. Sexstone.Munawar.G. 28:243-249. April 24-29. Kleinmann. Long-term Performance of Eight Passive Treatment 3. J. Pittsburgh. Typha angustifolia. D. lumpur kayu dengan perbandingan (50%:25%:25%). Moshiri. yang telah . 4. PA. In: Proceedings. 1995. Skousen. Demchik. Boca Raton. J. Evangelou. CRC Press.Environ. Kentucky State University. First Midwestern Region Rclamation Conference. Garbutt. Acid mine drainage in the United States. Southern Illinois University. Agronomy Notes.C. 1994. DAFTAR PUSTAKA Brix. Bahan/substrat organik mempunyai sifatsifat dan kemampuan remediatif beragam terhadap AAT berbeda. p:9-22. V. dengan meningkatkan pH dan menurunkan kadar Fe dan Mn larut. Treatment of acid mine drainage by passive treatment systems.P. H. Pyrite oxidation and control. pupuk kandang. diisolasi dan dikembangkan dalam pembuatan lahan basah. Jenis-jenis tumbuhan air yang mudah diperoleh dari sekitar wilayah pertambangan. Iron removal from acid mine drainage by wetland. Bhumbla. J. dan efektifitas dari komponenkomponen lahan basahnya sendiri. dand K. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih penulis sampaikan ke Sekretariat Riset Unggulan Terpadu (RUT) Kantor Menristek. terutama pH dan kandungan logam secara kontinyu. Reclamation (ASSMR) 16th Annual Meeting In Conjunction with Wetern Region Ash Group 2nd Annual Forum: Mining and Reclamation for the Next Millennium. Departementof Agriculture. D. Sencindiver. R.L.. Typha seperti angustifolia. USDI. In: Proceedings. and Kentucky Counties Cooperating. 1999. Growth of woolgrass in acid mine drainage.C. and Treatment Performance. Boca Raton. secara umum disimpulkan bahwa pemberian bahan organik dapat memperbaiki kualitas AAT. Desulfacirum. menyediakan dana penelitian lewat RUT XI. (Bill). Waste treatment in constructed wetlands: System Design. Wetlands: Mechanisms for Treating Acid Mine Drainage. Dengan perjalanan waktu jenis Typha angustifolia mendominasi permukaan lahan basah.K. U. M. Desulfomaculum. and G. Fimbristylis hispidula berpotensi untuk digunakan dalam lahan basah buatan. Pemanfaatan Sumberdaya Biologis 37 table tersebut tampak bahwa lahan basah buatan dapat meningkatkan pH AAT secara signifikan. Volume 2:609-620. Sulfospirillum. 1994. and J.8 menjadi > 6 dan menurunkan konsentrasi Mn larut di dalam AAT. masih diperlukan pengamatan dan pencatatan. Oleh karena itu. J. 2004. Jakarta. yang telah memberikan dukungan fasilitas yang sangat baik bagi terselenggaranya penelitian. Arizona. J. B. Mariscus compactus. Meskipun pada secara umum bahan organik yang digunakan dalam penelitian berpotensi menjadi substrat lahan basah.S. pupuk kandang atau bahan campurannya memiliki sifat remediasi yang lebih baik. Namun. Desulfofarculus. Calabrese. kepada Pimpinan dan staf PT Tambang Batubara Bukit Asam (PERSERO) Tbk. Fimbristylis (Vahl) Konth} mampu hispidula meningkatkan pH AAT dan menurunkan konsentrasi Mn larut di dalam AAT. Untuk sementara dapat dikatakan bahwa lahan basah buatan skala kecil dengan menggunakan bahan organik campuran kulit kayu. 1990. Qual. Bissonnette. Ziemkiewicz. J.D.K. KESIMPULAN 1. Removal Process. Menurut pengalaman dari berbagai penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya (Skousen and Ziemkiewicz. 5. dari 3.. Bureau of Mine SP 064A-94. Carbondale. August 13-19. University of Kentucky. In G. 1993.G.

Bogor and Tanjung Enim. 7 No. Sexstone. In G. R. J.. Ziemkiewicz. Sanford. West Virginia University and the National Mine Land Reclamation Ceenter. 1999.633. Boca Raton. Ziemkiewicz. In J. P. Scottsdale.38 Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol. November 514th. J. 1996.E. 1993. K. Widdowson. 1990. W. T. Constructed Wetlands for Water Quality Improvement. J.). (Comp. In T. J.). Sterner.H. Sexstone. A. Skousen and P.1 (2007) Types for Acid Mine (Komunikasi personal). p:461-472 Wetzel. Garbutt. Volume 2:621. Sencinder. hal: 34-58 . 1993.M. F. J. F.. A. Calabrese. G. Proceedings of the Joint Seminar on Environmental Impacts of Mining in Watersheed Management. p:3-7. Boca Raton. A. Skousen. 1993. Acid mine drainage treatment with a combined wetland/anoxic limestone drain: Greenhouse and Field Systems.. Acid mine drainage control and treatment. Rijnberg (Ed.S. 362p+ Surface. 1996. 1999. Arizona. and J. Moshiri. Effect of season. J. p: 249-260. 2nd ф ed. Cliff. In 1999 Proceedings of American Society for Surface Mining and Reclamation (ASSMR) 16th Annual Meeting in Conjunction with Wetern Region Ash Group 2nd Annual Forum: Mining and Reclamation for the Next Millennium. and P. A. and P. Moshiri.. Ziemkiewicz. Lewis Publishers. In G. Acid mine drainage control and treatment. and plant growth on landfill leachate treatment in a constructed wetland. substrat composition. West Virginia. 1993. Passive treatment of acid mine drainage. Morgantown. August 13-19. The impacts of surface mining activities on soil and water. Drainage. Lewis Publishers. West Virginia and National Mine Land Reclamation Center. 2nd ed. Steenhuis. 1990. WV. Skousen.G. J.. Peverly. Morgantown.P. Constructed Wetlands for Water Quality Improvement. J.G. Constructed wetlands: Scientific Foundations Are Critical. Skousen.

41 6.98 6.61 4.91 6.78 6.38 .02 7.2010 2390 2243 2377 + AAT + BPS 114 122 50% Pupuk Kandang + 50% 6. 18 jam.83 7.98 6.88 2133 2403 1796 2623 + AAT 50% Sludge + 50%Gambut 6. Eh.46 5.90 155 38 . 3 hari.98 6.65 6.43 81 77 .49 7.6523 7767 6230 8310 25%Gambut + AAT + BPS 196 266 50% Sludge + 50% Bark + 5.289 7880 8597 7340 9600 Pupuk Kandang + AAT 6. 3.83 6.51 7.64 6.43 144 77 .3727 4617 5896 5413 Bark + AAT 174 231 50% Pupuk Kandang + 50% 6.88 171 74 .04 4.74 1610 1540 1650 1380 Gambut + H2O 4.55 6. 6.4913 6000 4927 6380 Bark + AAT + BPS 154 231 50% Pupuk Kandang + 50% 5.08 DTT DTT 173 .07 7.05 203 144 .85 . Eh.82 1 225 Eh (mV) 2 3 75 DTT 4 37 1 284 Ec (uS/cm) 2 3 DTT 491 4 494 Bark + AAT 5.96 .76 167 116 . Perubahan pH.37 258 143 .14 6.19 7. 18 jam.78 7. dan Ec substrat organik campuran dalam AAT.13 7. dan 1 minggu inkubasi.16 7.59 6.2270 2565 2163 3023 + AAT 102 75% Sludge + 25%Gambut 6. 2.92 7.59 220 50 .50 7.87 109 89.46 7. 3. dan 4 masing-masing menunjukkan pengamatan setelah 30 menit.3740 5733 4253 5670 Gambut + AAT 166 189 50% Pupuk 5.12 7.70 7.01 154 .45 DTT DTT 182 .38 138 99 . Perubahan pH.65 6.56 5.77 6. dan 4 masing-masing menunjukkan pengamatan setelah 30 menit.2373 2813 1939 3237 AAT + BPS 114 110 75% Sludge + 25% Gambut 6.67 .23 102 26 .95 7.165 2093 2593 2356 3603 Catatan: *) Angka 1.32 .41 110 60 .57 6. DTT = Data Tidak Tersedia Tabel 2. DTT = Data Tidak Tersedia . 2.99 185 108 .53 2760 3313 2200 3113 AAT 75% Sludge + 25% Bark + 6.99 7.35 DTT DTT 197 .13 6. Pemanfaatan Sumberdaya Biologis 39 Tabel 1.47 7.2230 2413 2277 3177 + AAT + BPS 128 151 75% Pupuk Kandang + 25% 6.32 6.188 .17 6.78 6. 3 hari.19 6.71 7.71 4 6.Munawar.40 278 152 .36 6.12 6.86 164 65 .70 7.58 5.56 6.16 378 300 31 55 1463 1290 1021 1520 Pupuk Kandang + H2O 6.5327 6893 8247 8013 Gambut + AAT 243 235 75% Pupuk Kandang.25 5.13 6.98 221 141 .4940 9357 5850 8387 Bark + AAT + BPS 208 249 75% Pupuk Kandang + 25% 6.2480 2587 1861 2740 AAT + BPS 197 50% Sludge + 50% Gambut 6.97 6.62 6.23 6.61 6.255 -299 7543 9643 8820 7235 Sludge + H2O 7.50 .56 .239 .32 133 96 .7213 84933 6437 7960 Bark + AAT 173 237 75% Pupuk Kandang + 25% 6.51 185 117 .24 6.39 7. Subastrat Organik Campuran pH *) Eh (mV) Ec (uS/cm) 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 75% Sludge + 25% Bark + 6.84 6.71 6.14 5.90 6.65 DTT DTT 5830 6020 DTT DTT Kandang + AAT + BPS Catatan: *) Angka 1.84 .39 7.15 DTT DTT 168 .66 pH *) 2 3 6.80 235 73 .33 7.66 6.09 7.07 279 221 232 190 230 287 168 240 Gambut + AAT 4.36 DTT DTT 5450 5770 DTT DTT Kandang + AAT 75% Sludge + 25% Pupuk 6.98 7. dan Ec substrat organik individual di dalam air dan AAT Substrat Organik Individual Bark + H2O 1 6.89 6.21 DTT DTT 5130 5050 DTT DTT +25%Pupuk Kandang + AAT + BPS 75% Sludge + 25% Pupuk 6.62 7.4260 5367 4280 5027 Kandang+50%Gambut + 189 216 AAT + BPS 50% Sludge + 25% Bark 6.98 7.48 6.9 DTT DTT 4850 5250 DTT DTT +25% Pupuk Kandang + AAT 50% Sludge + 25% Bark 6.17 6.28 296 96 -14 .28 6.221 387 773 1687 1973 Sludge + AAT 6.19 7.59 7.2203 2673 2052 2870 AAT 164 50% Sludge + 50% Bark + 6.32 7.87 6. dan 1 minggu inkubasi.

40 Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol. 7 No. Eh bahan/substrat individual dan campurannya 10 .1 (2007) pH 9 8 7 6 5 4 3 2 1 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 11 100% SL 100% PK 100% BK 100% GB 75% SL + 25% BK 75% SL + 25% GB 75% PK + 25% BK 75% PK + 25% GB 50% SL + 50% BK 50% SL + 50% GB 50% PK + 50% BK 50% PK + 50% GB Waktu pengam atan Gambar 4. Ec bahan/substrat individual dan campurannya Eh (mV) 400 300 200 100 Waktu pengamatan 0 1 -100 -200 -300 -400 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 100% SL 100% PK 100% BK 100% GB 75% SL + 25% BK 75% SL + 25% GB 75% PK + 25% BK 75% PK + 25% GB 50% SL + 50% BK 50% SL + 50% GB 50% PK + 50% BK 50% PK + 50% GB Gambar 6. pH (H2O) bahan/substrat individual dan campurannya 12000 Ec ( uS/ cm) 10000 8000 6000 4000 2000 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 11 Waktu Pengamatan Gambar 5.

dengan dan tanpa inokulasi BPS. Pemanfaatan Sumberdaya Biologis 41 pH 8 7 6 5 4 3 2 1 0 1 2 3 4 5 6 7 8 AMD AMD+IN 9 10 11 pH 8 7 6 5 4 3 2 1 0 1 2 3 4 5 6 7 Waktu pengam atan 8 9 AMD AMD+IN 10 11 100% SLUDGE pH 8 7 6 5 4 3 2 1 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 AMD AMD+IN 10 11 pH 8 7 6 5 4 3 2 1 0 1 2 3 4 5 6 7 Waktu pengam atan 8 9 AMD AMD+IN 10 11 100% BARK 100% GAMBUT Gambar 7. Perubahan pH AMD akibat pemberian campuran sludge-bark/gambut (3:1). dengan dan tanpa inokulasi BPS pH 9 8 pH 9 8 7 6 5 4 3 2 7 6 5 4 3 2 AMD AMD+IN 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 11 1 1 0 1 2 3 4 5 6 7 8 AMD AMD+IN 9 10 11 Waktu pengam atan 75% SLUDGE + 25% BARK 75% SLUDGE + 25% GAMBUT Gambar 8. . Perubahan pH AMD akibat pemberian substrat organik.Munawar.

7 No.42 Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol. Perubahan pH AMD akibat pemberian campuran pupuk kandang-bark/gambut (3:1).1 (2007) pH 8 pH 8 7 7 6 6 5 5 4 4 3 3 2 2 1 AMD AMD+IN 1 AM D AM D+IN 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 11 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 11 Waktu pengam atan 75% P KANDANG + 25% BARK 75% P KANDANG + 25% GAMBUT Gambar 9. dengan dan tanpa inokulasi BPS .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful