Anda di halaman 1dari 22

DIKLATSAR XV(OFFSIDE) BUDAYA dan OLAHRAGA SEBAGAI PRODUK PARIWISATA

Disusun Oleh: MILAWATI (TOSER)

UKM OLAHRAGA UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR DESEMBER 2011

KATA PENGANTAR

Alhamdulillahi rabbil alamin, puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah Subhanahu Wataala karena berkat rahmat dan hidayah-Nyalah sehingga penulis dapat menyusun sebuah makalah yang membahas tentang Budaya dan Olahraga Sebagai Produk Pariwisata. Salam dan Taslim kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shallallahu alaihi Wasallam, keluarganya, Para Shahabat, Tabiin dan Para Tabiut Tabin serta orang-orang yang senantiasa istiqamah di jalan-Nya hingga yaumul qiyamah, Amiin. Apabila terdapat kesalahan-kesalahan dalam penyusunan makalah ini, maka penulis mohon ampun hanya kepada Allah Subhanahu Wataala sebagai hamba-hamba yang dhaif, karena sesungguhnya yang benar itu datangnya hanya dari-Nya. penulis juga sangat mengharapkan kritik dan saran dari pihak pembaca yang sifatnya membangun. Akhirnya, penulis atas nama penyusun makalah ini mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang membantu, Semoga Bermanfaat. Makassar, November 2011 PENYUSUN MILAWATI
Budaya dan olahraga sebagai produk pariwisata

DAFTAR ISI

Halaman Judul Kata Pengantar......................................................................................................1 Daftar Isi.................................................................................................................2 Bab I Pendahuluan................................................................................................3


A. LatarBelakang........................................................................................3 B. Rumusan Masalah..................................................................................4 C. Tujuan....................................................................................................4

Bab II Tinjauan Pustaka.......................................................................................5


A. Definisi Budaya dan Olahraga...............................................................5 B. Perkembangan Budaya dan olahraga terhadap sektor pariwisata........16

Bab III Penutup...................................................................................................19


A. Kesimpulan................................................................................................19 B. Saran..........................................................................................................19

Daftar Pustaka.....................................................................................................20

Budaya dan olahraga sebagai produk pariwisata

BAB I PENDAHULUAN

A. LatarBelakang Pariwisata merupakan salah satu industri yang mempunyai peran cukup penting dalam pembangunan ekonomi, sosial, budaya, dan lingkungan. Pembangunan pariwisata yang direncanakan dan dikelola secara berkelanjutan dengan berbasis pada masyarakat akan mampu memberikan kontribusi terhadap penerimaan devisa negara dan menciptakan lapangan kerja. Disamping itu, pembangunan pariwisata juga dapat menciptakan pendapatan yang dapat digunakan untuk melindungi dan melestarikan budaya dan lingkungan dan secara langsung menyentuh masyarakat setempat/desa tujuan wisata. Prospek pariwisata di pasar global ke depan semakin bagus. Menurut World Tourism Organisation (WTO), industri pariwisata dunia diperkirakan akan terus bertumbuh mencapai 4,3 persen per tahun sampai tahun 2020. Di Indonesia, pariwisata merupakan penghasil devisa terbesar setelah sektor minyak dan gas bumi. Selain sebagai penghasil devisa, pariwisata secara juga dapat mengatasi kemiskinan, menciptakan lapangan kerja, dan menggerakkan sektor usaha kecil dan menengah (UKM). Untuk menangkap peluang pertumbuhan industri pariwisata dunia, Pemerintah berupaya mengembangkan produk-produk pariwisata yang menjadi kekayaan bangsa Indonesia di antaranya adalah industri budaya dan industri olahraga. Indonesia kaya dengan sumber daya budaya dan olahraga yang unik
Budaya dan olahraga sebagai produk pariwisata

serta atraktif yang mampu menarik minat wisatawan. Namun pariwisata yang berbasis pada kedua produk tersebut belum dikembangkan secara sinergi. Sehingga dalam makalah ini akan dibahas mengenai perkembangan kedua produk yaitu budaya dan olahraga dalam rangka mengembangkan pariwisata di Indonesia.

B. Rumusan Masalah Rumusan masalah dalam makalah ini yaitu : Bagaimanakah hubungan perkembangan budaya dan olahraga terhadap sektor pariwisata di Indonesia.

C. Tujuan Tujuan dari makalah ini yaitu untuk mendorong pengembangan industri budaya dan industri olahraga dalam mendukung pembangunan pariwisata.

Budaya dan olahraga sebagai produk pariwisata

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi Budaya dan Olahraga Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Kebudayaan adalah sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat. Olahraga dapat diartikan gerak badan agar sehat. Sedang menurut para pakar olahraga, adalah sebuah aktivitas manusia yang bertujuan untuk mencapai kesejahteraan (sejahtera jasmani dan sejahtera rohani) manusia itu sendiri. Dalam makalah ini, olahraga yang dimaksud yaitu olahraga tradisional yaitu olahraga yang merupakan olahraga asli suatu daerah atau olahraga yang khas dari suatu daerah tertentu yang dapat menjadi daya tarik dari daerah tersebut.

Budaya dan olahraga sebagai produk pariwisata

Kebudayaan kebudayaan Khas di Indonesia. 1. Kebudayaan Toraja Nama Toraja mulanya diberikan oleh suku Bugis Sidenreng dan dari Luwu. Orang Sidenreng menamakan penduduk daerah ini dengan sebutan To Riaja yang mengandung arti "Orang yang berdiam di negeri atas atau pegunungan", sedang orang Luwu menyebutnya To Riajang yang artinya adalah "orang yang berdiam di sebelah barat". Ada juga versi lain bahwa kata Toraya asal To = Tau (orang), Raya = dari kata Maraya (besar), artinya orang orang besar, bangsawan. Lama-kelamaan penyebutan tersebut menjadi Toraja, dan kata Tana berarti negeri, sehingga tempat pemukiman suku Toraja dikenal kemudian dengan Tana Toraja. Wilayah Tana Toraja juga digelar Tondok Lilina Lapongan Bulan Tana Matari allo arti harfiahnya adalah "Negeri yang bulat seperti bulan dan matahari". Wilayah ini dihuni oleh etnis Toraja. (a) Asal masyarakat Tana Toraja. Konon, leluhur orang Toraja adalah manusia yang berasal dari nirwana, mitos yang tetap melegenda turun temurun hingga kini secara lisan dikalangan masyarakat Toraja ini menceritakan bahwa nenek moyang masyarakat Toraja yang pertama menggunakan "tangga dari langit" untuk turun dari nirwana, yang kemudian berfungsi sebagai media komunikasi dengan Puang Matua (Tuhan Yang Maha Kuasa). Lain lagi versi dari DR. C. Cyrut seorang anthtropolog, dalam penelitiannya menuturkan bahwa masyarakat Tana Toraja merupakan hasil dari proses akulturasi antara penduduk local atau pribumi yang mendiami daratan Sulawesi Selatan dengan pendatang imigran dari Teluk Tongkin-Yunnan, daratan China Selatan. Proses pembauran antara kedua masyarakat tersebut, berawal dari berlabuhnya Imigran Indo China dengan jumlah yang cukup banyak di sekitar hulu sungai

Budaya dan olahraga sebagai produk pariwisata

yang diperkirakan lokasinya di daerah Enrekang, kemudian para imigran ini, membangun pemukimannya di daerah tersebut. (b) Sejarah Aluk Konon manusia yang turun ke bumi, telah dibekali dengan aturan keagamaan yang disebut aluk. Aluk merupakan aturan keagamaan yang menjadi sumber dari budaya dan pandangan hidup leluhur suku Toraja yang mengandung nilai-nilai religius yang mengarahkan polapola tingkah laku hidup dan ritual suku Toraja untuk mengabdi kepada Puang Matua. Cerita tentang perkembangan dan penyebaran Aluk terjadi dalam lima tahap, yakni: Tipamulanna Aluk ditampa dao langi' yakni permulaan penciptaan Aluk diatas langit, Mendemme' di kapadanganna yakni Aluk diturunkan kebumi oleh Puang Buru Langi' dirura. Kedua tahapan ini lebih merupakan mitos. Dalam penelitian pada hakekatnya aluk merupakan budaya/aturan hidup yang dibawa kaum imigran dari dataran Indo China pada sekitar 3000 tahun sampai 500 tahun sebelum masehi. (c) Kambira Kuburan Bayi Seseorang bayi yang belum tumbuh gigi apabila meninggal dunia akan dikuburkan ke dalam sebatang pohon kayu yang hidup dari jenis pohon kayu Tarra. Kayu yang digunakan dilokasi ini telah berumur sekitar 300 tahun yang lalu. Proses pelaksanaan pekuburan sejenis ini mengenal tahap-tahap sebagai berikut: Bayi yang meninggal dibalut dengan kain putih yang pernah dipakai dalam posisi dalam keadaan dipangku.Kemudian keluarga memberi tanda pada pohon kayu yang hendak digunakan sebagai kuburan (matanda kayu).Membuat lubang dengan ketentuan tidak boleh berhadapan dengan rumah kediamannya.Mempersiapkan penutup kubur dari bahan pelepah enau. Membuat tana (pasak) karurung dari ijuk sesuai tingkatan strata sosialnya.12 tana karurung bagi tingkatan bangsawan.
Budaya dan olahraga sebagai produk pariwisata

8 tana karurung bagi tingkatan menengah. 6 tana karurung bagi tingkatan bawah. Makadende yaitu membuat tali ijuk sebelum jenasah dibawa ke kuburan, seekor babi jantan hitam dipotong atau disembelih di halaman rumah duka, kemudian dibawa ke kuburan dengan diusung. Setibanya di kuburan babi/daging tersebut dimasak dalam bambu/dipiong, tanpa diberi garam atau bumbu lainnya setelah semua itu siap mayat dibawah ke kuburan dengan syarat sebagai berikut: Dibawa dalam posisi dipangku. Pengantar mayat baik laki-laki maupun perempuan harus berselubung kain. Dilarang berbicara, menoleh ke kiri atau ke kanan maupun ke belakang. Setibanya jenasah di pekuburan penjemput jenasah turun dari tangga lalu mengambil, mengangkat, dan memasukkan jenasah ke dalam lubang kayu dalam posisi berlutut menghadap keluar. Kemudian kubur itu ditutup dengan kulimbang di tanah dipasak sesuai dengan statusnya dan sesudah ini dilapisi dengan ijuk dan diikat dengan kadende (tali ijuk).Sepanjang kegiatan tersebut di atas, seluruh orang yang hadir dilarang berbicara, nanti setelah mataletek pa piong (membelah bambu berisi daging yang sudah masak) berarti orang sudah boleh berbicara dan orang yang berada diatas tangga sudah boleh turun. (d) Nilai Tradisi Vs Prinsip Alkitab Suku Toraja masih terikat oleh adat istiadat dan kepercayaan nenek moyang. Kepercayaan asli masyarakat Tana Toraja yang disebut Aluk Todolo, kesadaran bahwa manusia hidup di Bumi ini hanya untuk sementara, begitu kuat. Prinsipnya, selama tidak ada orang yang bisa menahan Matahari terbenam di ufuk barat, kematian pun tak mungkin bisa ditunda. Sesuai mitos yang hidup di kalangan pemeluk kepercayaan Aluk Todolo, seseorang yang telah meninggal dunia pada akhirnya akan menuju ke suatu tempat yang disebut puyo; dunia arwah, tempat berkumpulnya semua roh. Letaknya di bagian selatan tempat tinggal
Budaya dan olahraga sebagai produk pariwisata

manusia. Hanya saja tidak setiap arwah atau roh orang yang meninggal itu dengan sendirinya bisa langsung masuk ke puyo. Untuk sampai ke sana perlu didahului upacara penguburan sesuai status sosial semasa ia hidup. Jika tidak diupacarakan atau upacara yang dilangsungkan tidak sempurna sesuai aluk, yang bersangkutan tidak dapat mencapai puyo. Jiwanya akan tersesat. "Agar jiwa orang yang bepergian itu tidak tersesat, tetapi sampai ke tujuan, upacara yang dilakukan harus sesuai aluk dan mengingat pamali. Ini yang disebut sangka atau darma, yakni mengikuti aturan yang sebenarnya. Kalau ada yang salah atau biasa dikatakan salah aluk (tomma liong-liong), jiwa orang yang bepergian itu akan tersendat menuju siruga (surga)," kata Tato Denna, salah satu tokoh adat setempat, yang dalam stratifikasi penganut kepercayaan Aluk Todolo mendapat sebutan Ne Sando. Selama orang yang meninggal dunia itu belum diupacarakan, ia akan menjadi arwah dalam wujud setengah dewa. Roh yang merupakan penjelmaan dari jiwa manusia yang telah meninggal dunia ini mereka sebut tomebali puang. Sambil menunggu korban persembahan untuknya dari keluarga dan kerabatnya lewat upacara pemakaman, arwah tadi dipercaya tetap akan memperhatikan dari dekat kehidupan keturunannya. Oleh karena itu, upacara kematian menjadi penting dan semua aluk yang berkaitan dengan kematian sedapat mungkin harus dijalankan sesuai ketentuan. Sebelum menetapkan kapan dan di mana jenazah dimakamkan, pihak keluarga harus berkumpul semua, hewan korban pun harus disiapkan sesuai ketentuan. Pelaksanaannya pun harus dilangsungkan sebaik mungkin agar kegiatan tersebut dapat diterima sebagai upacara persembahan bagi tomebali puang mereka agar bisa mencapai puyo alias surga. Bisa dimaklumi bila dalam setiap upacara kematian di Tana Toraja pihak keluarga dan kerabat almarhum berusaha untuk memberikan
Budaya dan olahraga sebagai produk pariwisata

10

yang terbaik. Caranya adalah dengan membekali jiwa yang akan bepergian itu dengan pemotongan hewan-biasanya berupa kerbau dan babi sebanyak mungkin. Sesuai status sosial atau kedudukan orang yang meninggal.Semakin tinggi status social orang tersebut, maka kerbau belang atau babi yang dipotong semakin banyak. Harga kerbau mulai dari 40 juta rupiah sampai 100 juta rupiah. Seseorang meninggal akan dibuat upacara adat setelah menunggu dua sampai tiga tahun sampai terkumpulnya biaya upacara kematian. Para penganut kepercayaan Aluk Todolo percaya bahwa roh binatang yang ikut dikorbankan dalam upacara kematian tersebut akan mengikuti arwah orang yang meninggal dunia tadi menuju ke puyo. Sehingga biaya untuk pemakaman lebih mahal dari pada biaya pernikahan di Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Kepercayaan pada Aluk Todolo pada hakikatnya berintikan pada dua hal, yaitu padangan terhadap kosmos dan kesetiaan pada leluhur nenek moyang. Masing-masing memiliki fungsi dan pengaturannya dalam kehidupan bermasyarakat. Jika terjadi kesalahan dalam pelaksanaannya, sebutlah seperti dalam hal "mengurus dan merawat" arwah para leluhur, bencana pun tak dapat dihindari.

Gambar. 1. Upacara Pemakaman


Budaya dan olahraga sebagai produk pariwisata

11

(Sumber : http://abs14gunner.blogspot.com)

Gambar. 2. Upacara Pemakaman (Sumber : http://abs14gunner.blogspot.com)

Gambar. 3. Tedong Silaga (Sumber : http://abs14gunner.blogspot.com)

Olahraga Tradisional di Indonesia antara lain: 1. Maraga

Budaya dan olahraga sebagai produk pariwisata

12

Gambar 4. Maraga (Sumber : detik.com) Asal muasal olahraga sepak takraw adalah sepak raga yakni sebuah permainan yang memainkan bola rotan yang dipadu dengan gerakan mirip akrobat. Permainan ini merupakan sebuah budaya tradisional khas dari Makassar Sulawesi Selatan. Salah satu tokoh masyarakat yang mengembangkan sepak raga di Desa Kaemba, Dusun Pattene, Kabupaten Maros yakni M.Dahlan Dg Gassing, mengungkapkan bahwa maraga atau gerakan melakukan raga dengan menggunakan bola rotan ini, pada dasarnya adalah gerakan-gerakan seni bela diri. Ber-dasarkan cerita turun-temurun di Kaemba, permainan raga muncul dari sebuah kampung yang dahulu disebut Ujung Bulo, sebuah kampung Paraga. Sebuah catatan atatan sejarah terawal tentang Sepak Raga terdapat dalam Sejarah Melayu. Ketika pemerintahan Sultan Mansur Shah Ibni Almarhum Sultan Muzzaffar Shah (1459 1477), Pada tahun 1940-an hal ini berubah dengan menggunakan jaring dan peraturan angka. Olahraga ini kemudian berkembang dikawasan asia, tercatat sampai di Filipina yang dikenal dengan nama Sipa, di Burma Chinlone, di Laos Kator dan di Thailand Takraw.

Budaya dan olahraga sebagai produk pariwisata

13

Di Makassar, pemain paraga biasanya adalah para pemuda yang terlatih baik. Mengenakan pakaian adat yang terdiri dari passapu (penutup kepala khas Makassar berbetuk segi tiga), baju tutup (jas tradisional), dan lipa sabbe (sarung khas Makassar yang terbuat dari kain sutera), para pemuda ini beratraksi. Dalam perkembangan Maraga, kedatangan seorang Karaeng (raja) dari Gowa yang menyebarkan Islam dengan memperkenalkan alat-alat musik tradisional seperti gendang dan gong membuat maraga tidak lagi dilakukan dengan hanya gerakan-gerakan seperti biasa, namun diiringi dengan alat-alat musik tradisional.Hal ini dipastikan maraga adalah salah satu medium penyebaran agama Islam di Kaemba 2. Sepak Takraw Olahraga apakah yang dimainkan dengan cara seperti bermain sepakbola dan bola voli, tetapi dilakukan di lapangan bulu tangkis? Ya, sepak takraw! Olahraga ini berasal dari zaman Kesultanan Malaka (14021511) dan disebut juga dengan nama sepak raga. Jumlah pemain dalam sebuah permainan adalah tiga orang untuk masing-masing regu. Pemain sepak takraw tidak boleh menyentuh bola dengan tangan, dan hanya boleh menggunakan kaki mereka sehingga sekilas gerakan-gerakan dalam permainan sepak takraw mirip dengan gerakan seni bela diri. Olahraga ini telah sejak lama 'diperebutkan' atau diklaim oleh berbagai Negara dari mulai Malaysia, Laos, Filipina, hingga Thailand. Walaupun bukti-bukti yang kuat dari pakar sejarah bisa membuktikan bahwa sepak takraw adalah olahraga tradisional yang berasal dari Sulawesi Selatan, tidak akan ada artinya jika kita sebagai rakyat Indonesia tidak mempertahankannya dan melestarikannya. Jangan sampai setelah terlanjur kecolongan baru kita kebakaran jenggot.

Budaya dan olahraga sebagai produk pariwisata

14

Gambar 5. Sepak Takraw (Sumber : matanews.com) 3. Pathol Pathol adalah olahraga gulat tradisional yang berasal dari Kecamatan Sarang, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Konon permainan Pathol telah ada sejak jaman Majapahit, yang awalnya merupakan acara sayembara untuk mencari kesatria terbaik yang bisa menjaga pelabuhan Tuban yang pada waktu itu ramai oleh perompak dan penyamun. Gerakangerakan pathol kemudian diadaptasi dan dikembangkan oleh pemuda dan masyarakat setempat hingga akhirnya tumbuh menjadi olahraga yang digemari dan bahkan dijadikan kesenian tradisional. Gulat pathol yang umumnya digelar di pesisir pantai ini sering diselenggarakan setiap menjelang purnama atau pada hari-hari khusus misalnya bertepatan dengan upacara sedekah laut.

Budaya dan olahraga sebagai produk pariwisata

15

Gambar 6. Pathol (sumber : rembangkab.go.id) 4. Karapan Sapi Karapan Sapi adalah olahraga pacuan sapi yang berasal dari Madura. Dalam permainan yang satu ini, sepasang sapi lah yang 'berolahraga' dengan menarik semacam kereta kayu melewati lintasan sepanjang 100 meter. Joki sapi hanya perlu berdiri di kereta kayu dan mengendalikan laju sapi-sapinya agar tidak oleng. Tetapi jangan dikira menjadi joki karapan sapi itu pekerjaan yang mudah ya, karena tentu saja diperlukan latihan dan keahlian yang khusus. Keseriusan warga Madura dan pemerintah Indonesia dalam melestarikan karapan sapi tidak main-main. Karapan sapi kini telah menjadi sebuah ajang pesta rakyat yang mampu menyedot ribuan pengunjung dari dalam maupun luar negeri. Setiap akhir bulan September atau Oktober bahkan diadakan pertandingan karapan sapi terbesar yang memperebutkan Piala Bergilir Presiden. Sayangnya dibalik kemeriahan ini sering ditemukan pelanggaran para peserta yang kerap memperlakukan sapi-sapinya dengan kejam agar bisa berlari dengan kencang. Kebiasaan ini tentu saja sangat melenceng dari nilai aslinya dan selayaknya patut ditindaklanjuti dengan tegas oleh pihak penyelenggara.

Budaya dan olahraga sebagai produk pariwisata

16

Gambar 7. Karapan Sapi (sumber : indonesianartandculture.com) 5. Pencak Silat Pencak Silat merupakan bagian dari kebudayaan masyarakat Indonesia yang sudah berkembang sejak jaman dahulu kala. Pencak silat berakar pada budaya Melayu dan telah dikenal luas di berbagai Negara seperti Malaysia, Brunei, dan Singapura. Pencak silat di Indonesia tidak hanya satu macam saja. Banyak versi olahraga pencak silat yang berkembang sesuai dengan nilai budaya masyarakat setempat. Misalnya pencak silat aliran Cimande yang konon bermula dari kisah seorang perempuan yang menyaksikan pertarungan antara harimau dengan kera, kemudian meniru gerakan kedua hewan tersebut. Ada pula silat atau silek yang berasal dari ranah Minang, yang diciptakan oleh Datuk Suri Diraja dari Pariangan Tanah Datar pada abad XI. Induk organisasi pencak silat di Indonesia saat ini adalah Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI). Ada pula organisasi yang mewadahi federasi-federasi pencak silat dari berbagai Negara yang bernama Persekutuan Pencak Silat Antara Bangsa (PERSILAT) yang dibentuk oleh Indonesia, Singapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam.

Budaya dan olahraga sebagai produk pariwisata

17

Gambar 8. Pencak Silat (Sumber : bandung.panduanwisata.com) A. Perkembanga Budaya dan Olahraga Terhadap Sektor Pariwisata Sebagai produk dari industri pariwisata, Industri Budaya dan Olah Raga memerlukan pengolahan lebih lanjut agar menarik bagi wisatawan sebagai konsumennya. Pengolahan ke dua produk tersebut secara sinergi dan direncanakan, akan memberikan dampak yang positif bagi pembangunan pariwisata dan pada akhirnya akan mampu mendorong peningkatan penerimaan devisa dari bidang pariwisata dalam bentuk pariwisata berbasis event, baik event budaya, event olahraga atau kombinasi dari keduanya. Pengembangan pariwisata yang dimaksud dalam kajian ini difokuskan kepada pariwisata berbasis event. Pariwisata berbasis event yang dikaji adalaha event budaya dan event olahraga yang mempunyai potensi besar sebagai daya tarik dan sebagai sarana promosi daerah penyelenggara. Masyarakat yang datang untuk menyaksikan suatu event dapat sekalian berwisata sementara masyarakat yang menonton event tersebut melalui media visual, misalnya tv, internet , dsbnya menjadi tertarik untuk mengunjungi daerah tersebut. Penyelenggaraan event juga mampu memberikan manfaat bagi daerah dan masyarakat serta usaha kecil dan menengah di sekitar penyelenggaraan. Suatu kegiatan budaya maupun olahraga yang disinergikan akan mampu mendatangkan wisatawan baik asing maupun lokal. Namun sampai saat ini di Indonesia pemanfaatan kesenian dan kebudayaan untuk memasarkan sport event belum banyak digunakan oleh ahli pemasaran olahraga, demikian juga
Budaya dan olahraga sebagai produk pariwisata

18

sebaliknya. Bercermin pada Negara Negara tetangga yaitu Australia, dimana dalam penyelenggaraan-penyelenggaraan Olympiade Sydney, program pemasaran dan penyelenggaraan event olahraga telah disinergikan dengan program kegiatan kesenian dan kebudayaan, yaitu dengan menjadikan kesenian dan kebudayaan sebagai komponen utama yang diwajibkan dalam penyelenggarakan suatu event olahraga. Event event olahraga atau kesenian dan kebudayaan, merupakan salah satu upaya pemerintah dalam pengembangan sektor pariwisata, namun dalam hal ini terdapat berbagai hal hal yang dapat mendukung suksesnya event tersebut, salah satunya ketersediaan SDM yang berkualitas. Ketersediaan SDM yang berkualitas merupakan kunci sukses penyelenggaraan event pariwisata. Sumber Daya Manusia yang dimaksud dalam kajian ini adalah seluruh pelaku industri budaya, olahraga dan parwisata baik pemerintah, swasta maupun masyarakat. Berdasarkan penelitian, kemampuan SDM dalam mengembangkan event pariwisata belum memadai. Hal ini karena pariwisata event belum berkembang di Indonesia. Di sisi lain kunci sukses penyelenggaraan event adalah sumber daya manusia (SDM) yang melakukan event. Untuk itu Pemerintah harus mulai memperhatikan pengembangan SDM khususnya yang berkaitan dengan penyelenggaraan event baik dari sisi pemerintah maupun pelaku (atlit, pelaku budaya-termasuk kesenian), masyarakat, dan swasta. Pelaku (atlit, pelaku budaya-termasuk kesenian). Apabila sinergitas dua industri tersebut dilakukan, maka yang harus mendapatkan manfaat diantaranya adalah para pelaku. Dengan memperoleh manfaat atas apa yang dikerjakan diharapkan mampu mendorong lahirnya berbagai kreativitas dan prestasi yang akan membuat mereka dapat berkarya dan berprestasi secara produktif dalam event di kedua industri tersebut. Untuk itu harus dibangun komunikasi yang intensif antarpelaku.
Masyarakat. Dalam paradigma baru, pengembangan pariwisata tidak dapat terlepas dari partisipasi masyarakat terutama masyarakat lokal. Demikian pula dalam pengembangan parwisata event, sikap dan perilaku akan mempengaruhi keberhasilan event yang diselenggarakan. Keberadaan masyarakat yang sadar akan pentingnya pengembangan pariwisata menjadi kunci kenyamanan wisatawan untuk tinggal dalam
Budaya dan olahraga sebagai produk pariwisata

19

waktu kurun waktu yang lebih lama di daerah wisata sambil menikmati berbagai event yang diselenggarakan.

Keamanan nasional dan daerah. Kondisi lingkungan yang aman sangat berpengaruh pada kinerja pariwisata. Contoh yang paling nyata adalah saat terjadinya peristiwa bom di Bali, seluruh Bali (lokal) dan secara nasional menerima dampak negatif yaitu menurunnya citra pariwisata Indonesia.

Budaya dan olahraga sebagai produk pariwisata

20

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan Dari tujuan dapat disimpulkan bahwa : Terdapat pengaruh yang significant dari idustri budaya dan olahraga terhadap perkembangan sektor pariwisata. Namun, di Indonesia upaya upaya yang dilakukan oleh pemerintah belum sepenuhnya mendukung industri budaya dan olahraga untuk perkembangan sektor pariwisata. B. Saran Disarankan untuk penulis selanjutnya jika ingin mengkaji lebih lanjut, disarankan untuk lebih mengkaji upaya upaya yang dilakukan pmerintah dalam perkembangan sektor pariwisata dengan adanya dukungan industri budaya dan olahraga.

Budaya dan olahraga sebagai produk pariwisata

21

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.Budaya. Diakses 01 Desember 2011, dari http://id.wikipedia.org/wiki/Budaya Anonim. (2010, 10 Des). Kebudayaan Toraja. Diakses 01 Desember 2011, dari http://abs14gunner.blogspot.com/2010/12/kebudayaan-toraja.html Anonim. Paraga, Perpaduan Seni Bela Diri dan Permainan Bola. Diakses 01 Desember 2011, dari http://www.skyscrapercity.com/showthread.php? p=85857385 Kurniawan, Anshari. (2011, 05 Nov). Olahraga Asli Indonesia. Diakses 01 Desember 2011, dari http://ansharikurniawan23.blogspot.com/2011/11/5-olahraga-asliindonesia.html

Budaya dan olahraga sebagai produk pariwisata

22