55

KONSUMSI GULA RUMAHTANGGA DI INDONESIA (Sugar Household Consumption in Indonesia)
Nahdodin"
INTISARI
Sejak tahun 1984 Indonesia menghadapi usaha pelestarian swasembada gula. Dalam hal ini perlu diketahui perilaku konsumsi gula di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk melengkapi informasi perilaku konsumsi gula rumah tangga dengan rnenaksir clastisitas perrnintaan gula alas pendapatan dan alas harga dengan memperhatikan gejala "diseconomies of scale" dan "economies of scale". Hasil anal isis menunjukkan bahwa elastisitas perrnintaan alas pendapatan sebesar 0,59. elastisitas permintaan alas harga sebesar - 0,412, gula bukan barang mewah dan gejala "diseconomies of scale" dan "economies of scale" secara agrega\ iidak rarnpak. Kala kunei : konsumsi, rumahtangga,
taan,

pendaparan, elastisitas, harga, barang rnewah, perrnin-

ABSTRACT
Since 1984, Indonesia had been facing an effort 10 conserve Sugar Self Sufficiency. It means that sugar consumption behaviours in Indonesia should be understood. This analysis aim to provide information of household consumption behaviours by estimating demand elasticity with respect 10 income and demand elasticity with respect 10 price regarding the diseconomies and economies of scale phenomena. The result of the analysis shows thai the income elasticity was 0.59, the price demand elasticity was - 0.412. economically sugar was not a luxury good and diseconomies or economies of scale phenomena was nOI significant in agregat consumption. Key word: consumption, household, income, elasticity, price, luxury good, demand.

I. Pendahuluan

1. Latar Belakang Sejak dasawarsa 70-an tampak bahwa perkembangan harga gula di pasaran dunia semakin tidak menentu. Karena itu Pemerintah telah menetapkan program peningkatan produksi gula yang dipercepat. Target yang akan dicapai program ini adalah tercapainya swasembada gula pada akhir Pelita IV (Hadisapoetro, 1981). Bahkan Departemen Pertanian dalam laporan bulan Oktober 1980 lebib optirnis lagi yaitu swasembada gula akan tercapai pada awal Pelita IV (tabun 1984). Pada periode tahun 1969 sampai dengan 1984 Pemerintah berhasil mengupayakan pertumbuhan produksi lebih besar daripada pertumbuhan konsumsi, sehingga pada tahun 1984 Indonesia dinyatakan sebagai negara yang berswasembada gula, Akan tetapi .se~elah
*)Staf Penelili Pusat Penelitian Gula Indonesi .. <Ii

P".llrll ..n

65. Metode 1. baik pada pendekatan utilitas marjinal maupun 'pendekatan kurva indifferent. Jika laju produksi lebih besar dari laju konsumsi berarti tingkat swasembada akan semakin lebih besar dari satu. kelestarian swasembada tergantung dari perpacuan laju peningkatan produksi dan konsumsi gula di Indonesia. konsumen mempunyai tujuan memaksimumkan kepuasan (Boediyono.56 tahun 1985 pertumbuhan konsumsi melonjak rnelebihi pertumbuhan konsumsi. 1981). II. Pada pendekatan kurva indif- . Di samping itu penelitian tersebut belum mernberikan informasi tentang elastisitas permintaan atas harga. menemukan angka 0. Kerangka Pemikiran Teori Dalam teori perilaku konsumen.20 dan Hasan dan Rachman (1983) sebesar 0. harga dengan memperhatikan gejala "diseconomies of scale" dan "economies of scale" dalam konsumsi gula. Boediono (1978) sebesar 1. sebaliknya jika Jaju konsumsi lebih besar dari laju produksi berarti tingkat swa sembada akan semakin lebih kecil dari satu.34. "The Asean Study Team" (1980) sebesar 0.79. 2. Beberapa peneliti telah mernpelajari perilaku konsumsi gula di Indonesia antara lain dengan mengukur elastisitas permintaan atas pendapatan yakni Sumodiningrat (1977). Karena merupakan keseimbangan an tara produksi dan konsurnsi gula.4. Akan tetapi hal ini seharusnya tidak mengurangi perhatian kita pada perilaku konsumsi gula di Indonesia baik perilaku rumah tangga maupun perilaku perusahaan. Karena itu masih diperlukan informasi perilaku konsumen gula pasir agregat terutama digunakan sebagai dasar dalam menangani pelestarian swasembada gula di Indonesia. Penelitian terakhir ini didasarkan pada konsumsi dan pendapatan rumah tangga. Selama ini penanganan swasembada gula lebih ditekankan pad a aspek peningkatan produksi. Hal ini terutama disebabkan oleh rendahnya tingkat konsumsi perkapita penduduk di Indonesia. 1988). sehingga swasembada gula terancam (Nahdodin. Angka taksiran di atas dianggap oleh Susmiadi (1986) terlalu bervariasi dan mengandung kesalahan yang serius karena adanya gejala "diseconomies of scale" dan "economies of scale" dalam konsumsi gula rumah tangga dan ditemukan angka elastisitas permintaan alas pendapatan sebesar 0. sedang gula pasir tidak hanya dikonsumsi oleh rumah tangga tetapi juga oleh perusahaan yang mempergunakan bahan baku gula pasir. Tujuan Penelitian ini bertujuan untuk menaksir fungsi konsumsi agregat sehingga dapat diketahui elastisitas permintaan baik atas pendapatan maupun atas .

konsumen dianggap menghadapi dua barang yailu gula dan barang bukan gula. ·1971). Fungsi konsumsi atas dasar elastisitas konstan. harga dan jumlah anggota dalam rumah tangga dapat ditaksir dengan dua cara yaitu berdasarkan elastisitas konstan dan berdasarkan elastisitas tidak konstan. 2. Di samping itu satuan konsumen adalah rumahtangga yang berarti juinJah gula yang dikonsumsi tergantung dari jumJah keluarga. Perumusan Model Hubungan antara konsumsi dengan pendapatan. Akan tetapi kenaikan konsumsi biasanya tidak berjalan tinier. . Dalam analisis atas dasar elastisitas tidak konstan. a. Analisis atas dasar elastisitas konstan mempunyai keunggulan praktis tetapi mempunyai kelemahan teoritik dibandingkan dengan analisis alas dasar elastisitas tidak konstan. Untuk menyederhanakan persoalan. pendapatan tiap rumah tangga dan harga gula. berbagai tingkat kepuasan (Hick. Dalam merumuskan fungsi Engel untuk penelitian empirik paling tidak harus ada dua sifat yang perIu dipertimbangkan (Prais & Houthakker. b. 1955). Model - .. SpesljikllSi Model a. 1961). Adanya tingkat penghasilan mula-mula (yang positif) di mana barang itu tidak dikonsumsikan. karena konsumen membeJanjakan uang sedemikian rupa sehingga tercapai kepuasan maksimum untuk jumJah uang yang terbatas itu. dapat terjadi "diseconomies Of scale" atau "economies of scale" Karena itu jumlah konsumsi agregat tiap rumah tangga dipengaruhi oleh jumlah anggota tiap rumah tangga.ferent perbandingan tingkat konsumsi dua barang ditunjukkan pada satu indifference curve untuk kepuasan tertentu dan suatu indifference map untuk . Kenaikan tingkat pendapatan akan menggeser garis anggaran pengeluaran keluarga sehingga memungkinkan mencapai medan yang lebih kanan yang berarti menaikkan tingkat kepuasan bagi konsumen. Adanya tingkat kepuasan yang maksimum di mana jumlah konsurnsi barang tidak akan naik berapapun tingginya pendapatan konsumen. 3. Karena itu faktor utama yang mempengaruhi tingkat konsumsi gula adalah pendapatan konsumen dan rasio harga guJa dengan harga barang lain. fungsi yang menunjukkan hubungan jumlah barang yang per satuan waktu akan sanggup dibeli konsumen dengan tingkat pendapatan yang diterimanya disebut fungsi Engel. Sedang perubahan harga baik gula maupun bukan gula akan mempengaruhi jumlah konsumsi barang tersebut. Untuk menaksir suatu fungsi dengan elastisitas konstan digunakan bentuk linier dalam logaritma atau logaritma ganda (Timer.

A. H. . Konsumsi gula tiap rumah tangga di Indonesia ke t. sarna dengan pada fungsi i. = a. Konsumsi nasional tahun . a. 0'].stok akhir . Dari fungsi (I) dapat dihitung elastisitas (konstan) permintaan atas pendapatan. a.a1 p. (2) K. a. = ao + a.a3 gula atas dasar elastisitas konstan disajikan (1) tahun K. Selanjutnya gejala "diseconomies of scale" atau "economies of scale" diuji dengan mernbandingkan jumlah. 0'2. K. Fungsi korisurnsi alas dasar elastisitas Analisis ini bertujuan untuk menggambarkan besarnya elastisitas pendapatan bagi berbagai golongan pendapatan melalui variasi temporal. = Produksi + impor + stok awal tahun . In A. fungsi konsumsi dirumuskan dalam fungsi (2). Analisis Fungsi (1) dan fungsi (2) ditaksir dengan analisis regresi. dan al merupakan koefisien regresi. 4.58 matematis fungsi konsumsi dalam fungsi (1). dan 0'3 :: elastisitas. b. In H. A. P. K. Konsumsi nasional dan konsumsi rumah tangga. . = Harga gula riil pad a tahun ke t.ekspor. Agar memenuhi syarat perumusan fungsi Engel yang terdapat dalam kerangka teoritis. Analisis regresi dilaksanakan metode "Ordinary Least Squars" (OLS). = Rata-rata jumlah anggota keluarga tahun ke t. A.dan H. Uji statistik dilaksanakan dengan uji t.O'2 di mana H. harga dan jumlah anggota rumah tangga. t (0'1 + 0'2 + (3) - 1 COY V Var a1 + Var 0'2 + VaT a3 + 2 (Cov 0'1 0'2 + Cov 0'1 a3 + 0'2 0'3) 5. Konseptualisasi dan Pengukuran a. Pendapatan riil tiap keluarga tahun ke 1. al + a. Sebelum dianalisis model dibuat linier yakni dengan mentransforrnsikan varia bel. al. P. 0'2 dan 0'3 dengan i. Intersep tidak konstan. +----+ I/P.

Jurnlah anggotarumah tangga e. = Jumlab penduduk Jumlah rumah tangga = Harga nominal Indek harga-umum (1987 :. III. Jumlah rumah tangga yang ada di Indonesia. Data Data dikumpulkandari Pusat Informasi Pangan Bulog. Pendapatan rumah tangga dibitUI!g didasarkan GNP (pendapatan sional Bruto).59 Konsuinsi rumah tangga merupakan basil bagi antara konsurnsi nasional dan jumIah rumah tangga. Harga riil 6. Fungsi Konsumsi Rumah Tangga alas Dasar Eillstisilas Konstan Analisis regresi terhadap data pada lampiran 1 dengan menggunakan model dalam fungsi (1) menghasilkan elastisitas permintaan atas pendapatan. BPS dan P3GI. harga dan jumJah rumah tangga. Jumlah rurnah tangga. Hasll dan Anallsis Hasil 1. Data yang dianalisis merupakan data "time series" antara tabun 1969 sampai dengan 1987. 100) . Data tersebut disajikan dalam lampiran 1. Pendapatan romab tangga riil. Pendapatan romab tangga Na- = = GNP Jumlab rumab tangga Pendapatan rumah tangga Indek Umum (1987 Pendapatan rumah tangga rill = 1(0) c. -d. Harga guJa riil Harga gula riil diambil alas dasar harga rata-rata eceran di 17 kota di Indonesia. b. Elastisitas-elastlsitas tersebut dapat dilihat dalam label 1.

konsumsi rumah tangga akan naik sebesar 0. Angka dalarn tabel 1 menunjukkan bahwa semua koefisien regresi berbeda nyata terhadap nol. Perhitungan pada lampiran 2 menunjukkan bahwa secara umum tidak ditemui gejala "diseconomies of scale" dan "economies of scale" dalam konsumsi agregat.ov TabeI 1.589 0. Hal ini berarti bila harga gula naik 1%... Hal ini bila jumlab anggota keluarga naik 10/0 sedang harga dan pendapatan dipegang konstan. maka akan mengakibatkan penurunan jumlah gula yang diminta sebesar 0.754.. Elastisitas permintaan atas pendapatan adalah sebesar 0.830 . Elastisitas permintaan alas harga adalah sebesar .101 0. tidak nyata pada a == 5OJo ra1jo Kelerangan : • = nyata pada a = 10% U == nyata pada a = 5% . maka akan mengakibatkan kenaikan konsumsi gula keluarga sebesar 0.940 Salah baku 0.Watson Test == 2.402 0. .230 . Hal ini berarti bila pendapatan riil keluarga naik sebesar I Ufo..412 %. Angka 0. untuk fungsi 1.876 * 5. Penurunan permintaan ini disebabkan oleh adanya efek substitusi dan efek pendapatan.754 ini tidak berbeda nyata dari 1 pad a == 10 %.412 4. Elastisitas permintaan atas jumlah anggota rumahtangga adalah sebesar 0. in P.612. salah baku dan nUai t Koefisien regresi 0.589%.0.926 R = 62.754 %. 3. Besarnya kedua efek ini masih perlu diteliti lebih lanjut. Variabel In A. Notasi variabeI sarna dengan yang tercantum pad a sub bab spesifikasi model. Hal ini perlu diteliti lebih lanjut karena tidak sesuai dengan dugaan apriori. In H.46.589..412. = nyata pada a = 10]'0 Variabel tak bebas adalah In K.754 0. lntersep R' = 0.128 Nilai t 1. Koefisien regresi (elastisitas permintaan). nyata pada a == IOfo Durbin . 1_ Fungsi Konsumsi Rumahtangga atas Dasar Ekutisitas tidak Konstan Analisis regresi terhadap data pada lampiran 1 dengan menggunakan model 2 menghasilkan koefisien regresi seperti terlihat dalarn tabel 2.

Angka di atas didasarkan asumsi tidak ada perubahan harga dan selera yang berarti.OO/kapita).139.' c.378. kemewahan IV.506 1 121. yang tercantum . Pembahasan Angka elastisitas permintaan atas pendapatan yang diperoleh dalam penelitian ini adalah sebesar 0.000.000.'io == 36.000.00 tiap keluarga Mengingat pendapatan keluarga sebesar Rp 2. 17. Titik konsumsi gula adalah Rp 870.OO"ikapita) setara pendapatan pada . Pendapatan minimum terjadinya konsumsi gula adalah sebesar Rp 230.548 7.879 F'.813 • 4. Koefisien regresi salah baku dlln nilili Koefisien regresi 31. tahun 1987. nyata pada Durbin . (Rp 180. tidak nyata pada = IOJo 0' = SOJo = iloilo iloilo.8 [uta maka dapat dikatakan bahwa gula secara ekonomis bukan merupakan barang mewah.61 Tabe12. 19. 0' = IOl1Jo.Watson Test Keterangan = 0' 2. Notasi variabel samadengan dalam bab spesifikasi mode1. Angka dalam tabel 2 menunjukkan bahwa semua koefisien regresi berbeda nyata terhadap nol.000. Intercep Rl P.567 ••• = 0.00 tiap keluarga (Rp 48.254·· 1+ In H. Hal ini hampir mirip dengan gambaran yang terdapat dalam tabel I..069 1 t untuk fuogsi 2 Nillii t Vllrillbel Siliah baku In A. Perhitungan dalam lampiran 2 menunjukkan bahwa : a. Konsumsi maksimum keluarga (rata-rata) adaJah 85 kg atau sekitar 18 kg tiap kapita.59 angka ini tidak berbeda secara nyata dengan .933 47.170. 28. Variabeltak bebas adalah K. b. = nyata significant pada nyata pada 0' = 5%.725 1. nyata pada 0' = 1%.462 1.

Permintaan barang-barang yang demikian biasanya bersifat inelastis terhadap harga. Jakarta. . Ibrahim & Anas Rachman. Budiono. Moch.412.0. Elastisitas permintaan gula atas pendapatan Gula merupakan barang normal. Penelitian Susmiadi (1986) menunjukkan bahwa dalam konsumsi gula rumahtangga ada gejala "diseconomies of scale" dan economies of scale" untuk kelompok yang berbeda.62 yang ditemukan Susmiadi (1986) yaitu sebesar 0. 4. Final Report. pendapatan keluarga rata-rata di alas titik kemewahan. Di sarnping berbeda dari nol angka ini berbeda nyata dari 1. 4. Gula bukan merupakan barang me wah bagi penduduk Indonesia. V. rumah tangga sebesar 0. Hal ini dapat dimengerti karena gula bukan merupakan barang yang mewah. Hal ini berarti permintaan gula tidak elastis terhadap perubahan harga. 1978. and Other dan "economies of scale" 3. 2. 1981. "Elastisitas Permintaan Untuk Berbagai Barang di In donesia. Permasalahan Gula Indonesia di Masa depan. Jakarta. Karena dalam penelitian ini dibuat rata-rata seluruh Indonesia maka gejala "diseconomies of scale" dan "economies of scale" tidak tampak dalam konsumsi rumahtangga. Kesimpulan 1. Hal ini berarti kebijaksanaan harga hanya berpengaruh kecil terhadap perubahan konsumsi gula rumah tangga. Ekonomi dan Keuangan Indonesia Vol. Hal ini dapat dimengerti karena dalam penaksirannya sama-sama digunakan unit rumahtangga.41.59.65. Kebijaksanaan Harga Struktur Pasar dan Alokasi Sumber Daya. XXVI (3). Hasan. 3. Secara agregat gejala "diseconomies of scale" tidak tampak dalam konsumsi gula agregat.0. ]981. Hal ini sangat sesuai dengan angka elastisitas pendapatan atas perrnintaan yang sebesar 0. Seminar Masa Depan Perkebunan Indonesia Yayasan Agro Ekonomic. Proceeding Temu Karya Pern bangunan Industri Gula BP3G. Supply and Demand for Food Strategic Agricultural Product. taan atas harga yakni sebesar . Asean Study Team. Penerapan Metode Frish". Dalarn penelitian ini gejala "diseconomies of scale" dan "economies of scale tidak tampak. 1983. Hal yang manonjol dalam penelitian ini adalah ditemukannya elastisitas permin. Elastisitas permintaan gula atas harga adalah . Amin. & Syarifudin Baharsyah. Dafrar Pustaka 1. 2.59. Hal ini berarti bahwa gula secara umum tergolong barang yang tidak elastis.

Presiding Pertemuan Teknis Tengah Tahunan 1986. 13. 10. 1981. P3G!. 1955. 111971. BP3G. 1977. Seri Penerbitan Aneka. Proceeding Ternu Karya Industri Gula. Hicks. P. Vol VII (1) March. Ismail. Pasuruan. 12. Perilaku Pasar dan Konsumer. SJ & H. Study of Total Expenditure Elasticities for West Malaysia. Oxford. Faculty of Economics. Jr. 1971. 8. 1971. Hadisaputro. Pidato Pengarahan Temu Karya Pern bangunan Indonesia Gula. 1981. P. USA. 11.. Yogyakarta. Soediyono. Peranan Industri Gula dalam Pembangunan Nasional Suatu Pendekatan Trirnatra.. Cambridge University Press. Houthaker.63 S. A" 1986 Elastisitas Pendapatan Permintaan Gula di Indonesia. Soedarsono. Prospect of Sugar Industry In Indonesian (Thesis). G. Thammasat University. Ekonomi Mikro. Soeprapto. Susmiadi. 7.. 198). Timer. 198). Liberty. . Value and Capital. Clorendon. Prais. Pasuruan. Bulletin Indonesian Economic Studies. BP3G. 6. AH. The Analysis of Family Budget. 9. 1971. Sumodiningrat. Pasuruan. Thailand. "Wheat Flour Consumption In Indonesia". Proceeding Temu Karya Pembangunan Industri Gula.. University Kebangsaan Malaysia No.

pada rata-ratanya.02 5. 10.428 2.25 32.548 + 31.33 50.18 58.972 2.0 1555.8 19.0 18.9 1596.153 2.92 609.574 + 121. 2001. 2085.5 825. 14.88 4.896 .86 4.50 765.81 4.069 - 19. Pendapatan Rill Tiap Rumahtangga (1987 == 1(0) dan Barga Gula Eceran Riil (1987 = 100) di Indonesia Gula Kon/rt (Rp) Jumlah Anggola Keluarga Pendapatan Rill Keluarga (Juts Rp) 1.71 66.95 1073.84 54.57 799.92 4.66 61. 13.61 44.52 4.95 5. 5.46 973.845 2. Perhitungan Konsumsi Maksimum. 15.506 In A.94 37.(tak terhingga) Dengan asumsi bahwa In A.8 1768.04 751. Pendapatan jadinya konsumsi gula dan tilik kemewahan.903 2.86 813.73 752. Konsumsi maksimum = 47.86 43.14 53.80 658.686 = 84.94 4. Lampiran 2. "" 47.941 2.921 2.2 2002. 3.52 57.086 2.90 700.0 1679.121. 4.3 1907. 8.09 5.548 + 31.64 Lampiran Rata-rata Anggota 1.91 947.13 4. Konsumsi Tiap Rumahtangga.5 1628.02 5.83 40. 1. 9.833 H.696 2.277 2.08 4.50 845.646 1.65 4.607 1.3 1992. = n. Konsumsi Maksimum Konsumsi maksimum bila P. Minimum Ter- K.12 1184.86 4.26 746.36 770.833 .49 48.91 995. Rumahtangga. II.69 725. 6.9 1130. 12. 2. 1. 17.069 I + lin" 19.74 4.16 Sumber : BPS dan Pusat Informasi Pangan Bulog.6 1042. 7.848 Harga Gula Riil (Rp) Konsumsi (Ton) Agregal I.81 48.056 . dan In H.834 2.88 56. 6.637 2.71 37.564 2.7 955.34 631.70 53. 16.77 4. 803..42 722. + .85 4.57 4.39 53.6 906.77 4.4 1466.530 1.790 1.888 2.0 1173.2 1289. Konsumsi.2 33. 1 + liP.

173 121.} 121.173 + 121. 1 . 1 + P. pada rata-ratanya.056.) .) (1 + P. Dengan asumsi In A. + 31. Pendapatan minimum terjadinya konsumsi gula adalah pada K = O.069 1 - i9. E == a K.069.36. K. Titik kemewahan (Luxury Point) Titik kemewahan adalah pendapatan di mana Elastisitas (E) asumsi In•. dan In H.069 1 + liP.833. == 121. K.)l == 121.) (- 36. = (1 + Pr) P == 0.dan In H. a P.) . = 36.069 1 K. {.230000 • 36. 1. 6. Dengan + liP.069 P.)~ P. = 1.136 + 84.~ + 121.069 p.)l .933 P. == 36.069 P.069 P. =(1 36. (1 = . pada rata-ratanya. P. 121.173 + 121. Pendapatan minimum terjadinya konsumsi gula. a K.173 (I + P. (1 + P. K.069 (1 + P.686 + liP.069 P. (1 + P.574 + 121. = == + P.6S 2.548 121. 121.069 + P. 121. pendapatan minimum untuk konsumsi gula dapat dihitung sebagai berikut : o = 47.069 P.137 3. a p.

136 + 84.589 .299 0.870 juta.00412 - V V 0.016 + 2 (0.0327 0.069 0. + 84.754 + 0. + P.115 .66 PadaE 1 = = (1 121.) 36.010 + 0.6435 2. = 0.0160 1 0. 84.069 P.0086 0.311 11.069 P.0327 + 0.3572 -0. S2 43.78811.272 P.311 4. j) = [Xj . 36.0.0612 = = t = 0.0435 0. Pengujian Adanya Gejala "Diseconomies of Scale" dan "Economies of Scale" Cover (i.0080) = = .690 8.933 - p/ = = 0 121.687 2.72.) (.0327 0.1616 0.136 Lampiran 3.933 P/ . xj' .4298. P.933 P.0435 + 0.0435 0.0086 0.36.1616 + 0.788 2.136 + 48.0100 0.797 P.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful