Anda di halaman 1dari 11

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji bagi ALLAH SWT yang telah memberikan kasih sayang yang tiada akhir kepada manusia. Dan atas izin ALLAH SWT, akhirnya Makalah Hukum Acara Pidana : Akusator dan Inkisitor ini bisa selesai dikerjakan. Ucapan terima kasih kami ucapkan kepada semua yang telah membantu dalam menyelesaikan tugas makalah ini, terutama kepada orang tua kami yang telah mendidik kami. Harapan kami adalah makalah ini bisa bermanfaat bagi semua orang yang membacanya, terutama kami pribadi. Selain itu, kami mengharapkan kritik dan saran dari pembaca karena kami tahu Makalah Hukum Acara Pidana : Akusator dan Inkisitor ini masih sangat jauh dari sempurna. Atas segala kekurangan dan kesalahan penulis di dalam menyelesaikan makalah ini, penulis mohon maaf. Dan atas segala kelebihan dan kebenaran penulis di dalam menyelesaikan makalah ini, sesungguhnya itu semua hanya dari ALLAH SWT. Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih atas apresiasi yang diberikan terhadap makalah ini.

Jakarta, 2 Juni 2011

Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...............................................................................i DAFTAR ISI..........................................................................................ii BAB I..................................................................................................iii PENDAHULUAN..................................................................................iii Latar Belakang Masalah....................................................................iii Identifikasi Masalah...........................................................................iii Pembatasan Masalah.........................................................................iii Perumusan Masalah..........................................................................iv Kegunaan Pembahasan.....................................................................iv BAB II..................................................................................................1 PEMBAHASAN.....................................................................................1 Pengertian Hukum Acara Pidana........................................................1 Tujuan Hukum Acara Pidana..............................................................2 Asas Akusator dan Inkisator...............................................................3 BAB III.................................................................................................5 PENUTUP............................................................................................5 DAFTAR PUSTAKA...............................................................................6

Makalah Hukum Acara Pidana : Akusator dan Inkisitor........................................7


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN.........................7 JURUSAN ILMU SOSIAL POLITIK...........................................................7 FAKULTAS ILMU SOSIAL......................................................................7 UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA...........................................................7

ii

BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah Manusia sebagai makhluk sosial tidak akan terlepas dengan suatu proses yang dinamakan interaksi sosial. Sebagai makhluk sosial manusia juga akan cenderung membentuk kelompok-kelompok tertentu demi mencapai tujuan yang diinginkan. Dalam mencapai tujuannya ini manusia hingga akhirnya membentuk negara. Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan negara hukum yang mempunyai tujuan menjunjung tinggi supremasi hukum. Oleh karena itu, hukum dijunjung tinggi di negara ini. Akan tetapi, timbul suatu permasalahan ketika aplikasi dari supremasi hukum di Indonesia secara realita masih belum bisa dikatakan terlaksana. Dan asas hukum acara pidana menjadi suatu hal yang menarik untuk kami bahas dalam makalah ini. Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka, identifikasi masalah adalah sebagai berikut : 1. 2. Indonesia? 3. inkisitor? Pembatasan Masalah Berdasarkan identifikasi masalah yang telah diuraikan diatas maka, makalah ini dapat dibatasi pada ruang lingkup permasalahan Apa yang dimaksud asas akusitor dan Apa pengertian hukum acara pidana? Bagaimana sejarah hukum acara pidan di

iii

latar belakang pengertian ataupun penjelasan dari asas akusitor dan inkisitor. Perumusan Masalah Berdasarkan pembatasan masalah yang telah dikemukakan diatas maka, kami merumuskan masalah makalah ini tentang : Bagaimanakah maksud dari asas akusitor dan inkisitor? Kegunaan Pembahasan Dari pembahasan makalah pendidikan kewarganegaraan tentang supremasi hukum ini, mempunyai beberapa kegunaan seperti berikut: 1. Kita bisa mengetahui apa maksud dari hukum acara pidana. 2. Kita bisa mengetahui sejarah hukum acara pidana di Indonesia. 3. Sebagai evaluasi terhadap pribadi dan sekitar (lingkungan). 4. Menambah wawasan mengenai asas hukum acara pidana.

iv

BAB II PEMBAHASAN
Pengertian Hukum Acara Pidana Penjelasan Undang-Undang Dasar 1945 secara tegas menyatakan bahwa Negara Indonesia berdasar atas hukum, dan tidak berdasar atas kekuasaan belaka. Dalam istilah negara hukum ini sudah tercakup berbagai perlindungan terhadap pengakuan hak asasi manusia dalam segala segi kehidupan masyarakat. Dalam kaitan sebagai negara yang berdasar atas hukum, maka disusunlah suatu peraturan yaitu hukum acara pidana. Dimana hukum acara pidana adalah peraturan yang mengatur bagaimana cara untuk menuntut suatu hak dilaksanakan, bagaimana cara di dapatkan suatu putusan pengadilan dan bagaimana cara dan oleh siapa suatu putusan pengadilan yang menjatuhkan suatu hukuman pidana harus dijalankan (Wirjono Prodjodikoro, 1962: 13). Definisi hukum acara pidana menurut Van Bemmelen di dalam buku Andi Hamzah dinyatakan bahwa Ilmu hukum acara pidana mempelajari peraturan-peraturan yang diciptakan oleh negara, karena adanya terjadi pelanggaran undang-undang pidana, yaitu sebagai berikut : 1) 2) 3) 4) Negara melalui alat-alatnya menyidik kebenaran, Sedapat mungkin menyidik pelaku perbuatan itu, Mengambil tindakan-tindakan yang perlu guna menangkap si Mengumpulkan bahan-bahan bukti yang telah diperoleh pada

pembuat dan kalau perlu menahannya, penyidikan kebenaran guna dilimpahkan kepada hakim dan membawa terdakwa ke depan hakim tersebut, 5) Hakim memberi keputusan terntang terbukti tidaknya perbuatan yang dituduhkan kepada terdakwa dan untuk itu menjatuhkan pidana atau tindakan tata tertib,

6) 7) tata tertib.

Upaya hukum untuk melawan keputusan tersebut, Akhirnya melaksanakan keputusan tentang pidana dan tindakan

(Andi Hamzah, 1996 : 6)

Tujuan Hukum Acara Pidana Di dalam hukum pidana materiil berisi tentang perbuatan-perbuatan yang dapat dihukum dan menetapkan sebagai sanksi hukuman yang diancamkan pada tiap-tiap perbuatan. Tetapi di dalam hukum materiil tersebut tidak terdapat peraturan-peraturan mengenai cara-cara atau tindakan yang harus diambil jika terjadi suatu perbuatan yang dapat dihukum, sehingga tujuan dari hukum pidana tidak akan tercapai. Sebagai pendukung dari hukum pidana materiil tersebut, maka pemerintah membuat suatu peraturan hukum yang berupa hukum acara pidana. Tujuan dari hukum acara pidana adalah untuk mencari dan mendapatkan atau setidaktidaknya mendekati kebenaran materiil yang merupakan kebenaran yang selengkap-lengkapnya dari suatu perkara pidana dengan menerapkan hukum acara pidana secara jujur dan tepat, dengan tujuan untuk mencari siapakah pelaku yang dapat didakwakan melakukan suatu pelanggaran hukum (Moch. Faisal Salam, 2001: 1). Hukum acara pidana menurut Van Bemmelen dalam buku Andi Hamzah memiliki tiga fungsi pokok yaitu : 1) 2) 3) mencari dan menemukan kebenaran, sebagai dasar pengambilan putusan oleh hakim, pelaksanaan dari pada putusan yang telah diambil.

(Andi HAmzah, 1996 : 8-9)

Asas Akusator dan Inkisator Hukum acara pidana terdapat beberapa asas penting yang terkandung di dalamnya, yaitu : 1) Peradilan cepat, sederhana, dan biaya ringan Peradilan cepat (terutama untuk menghindari penahanan yang lama sebelum ada keputusan hakim) merupakan bagian dari hak asasi manusia. 2) Praduga tak bersalah Ketentuan mengenai hal ini terdapat dalam Pasal 7 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman yang berbunyi setiap orang yang disangka, ditangkap, ditahan, dituntut, dan atau dihadapkan di muka sidang pengadilan, wajib dianggap tidak bersalah sampai adanya putusan pengadilan yang menyatakan kesalahannya dan memperoleh hukum tetap. 3) Asas Oportunitas Menurut pendapat A.Z. Abidin Farid di dalam buku Andi Hamzah, asas oportunitas adalah asas hukum yang memberikan wewenang kepada penuntut umum untuk menuntut atau tidak menuntut dengan atau tanpa syarat seseorang atau korporasi yang telah mewujudkan delik demi kepentingan umum. 4) Pemeriksaan pengadilan terbuka untuk umum Berdasarkan Pasal 153 ayat (3) KUHAP, maka untuk keperluan pemeriksaan, hakim ketua sidang membuka sidang dan menyatakan terbuka untuk umum kecuali dalam perkara mengenai kesusilaan atau terdakwanya anakanak. 5) Semua orang diperlakukan sama di depan hakim Pengadilan mengadili menurut hukum dengan tidak membeda-bedakan orang. Hal ini diatur di dalam Pasal 5 ayat (1) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman yang berbunyi bahwa Pengadilan mengadili menurut hukum dengan tidak membeda-bedakan orang. 6) Peradilan dilakukan oleh hakim karena jabatannya dan tetap

Mengandung arti bahwa pengambilan keputusan salah atau tidaknya terdakwa dilakukan oleh hakim karena jabatannya dan bersifat tetap. 7) Tersangka/terdakwa berhak mendapat bantuan hukum Dalam Pasal 69 sampai Pasal 74 KUHAP diatur tentang bantuan hukum dimana tersangka/terdakwa mendapat kebebasan yang sangat luas, yaitu : a) Bantuan hukum dapat diberikan sejak tersangka ditangkap atau ditahan, b) Bantuan hukum dapat diberikan pada semua tingkat pemeriksaan, c) Penasehat hukum dapat menghubungi tersangka/terdakwa pada semua tingkat pemeriksaan pada setiap waktu, d) Pembicaraan antara penasehat hukum dan tersangka tidak di dengar oleh penyidik dan penuntut umum kecuali pada delik yang menyangkut keamanan negara, e) Turunan berita acara di berikan kepada tersangka atau penasehat hukum guna kepentingan pembelaan, f) Penasehat hukum berhak mengirim dan menerima surat dari tersangka/terdakwa. 8) Asas Akusator dan inkisitor Asas inkisator berarti tersangka dipandang sebagai obyek pemeriksaan yang masih dianut oleh HIR untuk pemeriksaan pendahuluan, asas ini sesuai dengan pandangan bahwa pengakuan tersangka merupakan alat bukti terpenting. Sedangkan asas akusator adalah asas dimana tersangka dipandang sebagai pihak pada pemeriksaan pendahuluan dalam arti terbatas, yaitu pada pemeriksaan perkara-perkara politik. 9) Pemeriksaan hakim yang langsung dan lesan (Andi Hamzah, 1996 : 10-22)

BAB III PENUTUP


Berdasarkan pembahasan yang cukup panjang mengenai

supremasi hukum, maka kami berkesimpulan sebagai berikut: 1. Pelaksanan supremasi hukum ini membutuhkan partisipasi aktif dari seluruh warga negara Indonesia. 2. Aparat penegak hukum harus tegas dan tidak pandang bulu dalam rangka penegakkan hukum. 3. Pemerintah harus serius dalam menyelesailkan semua kasus hukum, dan bila perlu mengeluarkan suatu kebijakan yang ekstrim untuk menegakkan supremasi hukum. 4. Kita harus menyadari bahwa untuk menegakkan hukum dan menjadikan negeri ini supremasi hukum, maka harus kita mulai dari diri sendiri.

DAFTAR PUSTAKA
Djamali, Abdoel. Pengantar Hukum Indonesia edisi revisi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. 2009. R. Soeroso. Pengantar Ilmu Hukum. Jakarta: Sinar Grafika. 2006. Soehino. Ilmu Negara.Yogyakarta: Liberty. 2005. Hidayat, Komarudin dan Azyumardi Azra. Demokrasi, Hak Asasi Manusia, dan Masyarakat Madani edisi ketiga. Jakarta: ICCE. 2008

Makalah Hukum Acara Pidana : Akusator dan Inkisitor

Oleh : Aditya Wiguna Gilang Wijayanto Muhamad Dadang Nurfalah Zulfikar Pratama

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN JURUSAN ILMU SOSIAL POLITIK FAKULTAS ILMU SOSIAL UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA 2011