Anda di halaman 1dari 6

OTORRHEA No. 1.

Differential diagnosis Otitis Eksterna Akut Terlokalisasi Anamnesis y Keluhan utama berupa rasa gatal di liang telinga yang dapat berkembang hingga rasa nyeri yang amat hebat, ataupun sudah timbul sekret akibat abses yang pecah. y Rasa nyeri bertambah hebat dengan gerakan mengunyah. y Biasanya terdapat riwayat trauma CAE akibat garukan atau sering mengorek telinga sebagai faktor presipitasi. y Keluhan penyerta berupa gejala konsitusi seperti febris dan malaise. y Pemeriksaan Laboratorium Rontgen Pemeriksaan Dapat ditemukan edema dan Hematologi rutin, audiometri, jika ada eritema yang difus pada CAE kultur dan resistensi keluhan gangguan bagian kartilago, biasanya bakteri pendengaran posterior atau superior. Edema dapat sampai menyumbat CAE. Nyeri tekan tragus dan adenopati positif. Proses inflamasi terus berlangsung hingga terjadi akumulasi produk infeksi membentuk suatu abses yang dapat pecah hingga keluar sekret purulen dari CAE dengan membran timpani yang intak. Pemeriksaan Status lokalis telinga Hematologi rutin, audiometri, jika ada ditemukan hiperemia dan kultur dan resistensi keluhan gangguan edema difus kulit CAE hingga bakteri pendengaran dapat menutup seluruh diameter CAE dengan nyeri tekan tragus. Bisa terdapat sekret serous sampai seropurulen, kekuningan, dengan membran timpani intak. Terdapat limfadenitis terbanyak pada preauriculer. Pemeriksaan Fisik

Otitis eksterna Akut Difusa (Swimmers ear)

y Keluhan utama dapat berupa rasa gatal hebat di telinga yang dapat berangsur menjadi nyeri. y Nyeri bertambah hebat pada gerakan mengunyah. y Dapat timbul otorrhea dengan sekret awalnya serous menjadi seropurulen. y Jika terjadi oedem CAE sangat hebat dapat timbul keluhan tuli konduktif yang ringan. y Riwayat sering berenang dapat membantu memperkuat diagnosis. y Keluhan penyerta berupa gejala sistemik, yaitu low grade fever, cephalgia ipsilateral sesuai telinga yang terinfeksi

Otitis eksterna kronis difus

y Keluhan utama berupa rasa gatal yang hebat dan jarang menimbulkan nyeri. Biasanya tidak menimbulkan manifestasi sistemik, kecuali jika disertai dengan infeksi sekunder

Perichondritis

y Keluhan utama pasien biasanya berupa telinga luar terasa panas, bengkak, dan kemerahan. y Keluhan penyerta berupa gejala sistemik febris. y Riwayat trauma pada telinga luar sebelumnya dapat memperkuat diagnosa.

y Status lokalis telinga dapat ditemukan warna kemerahan yang superfisial pada kulit CAE bagian tulang, terbentuk otorrhea yang intermiten, sedikit, serous atau purulen, berbau amis yang tampak keriput berwarna abu-abu, dapat pula dijumpai selaput tebal dengan filamen jamur. Jika selaput tebal ini diangkat dapat terlihat kulit licin kemerahan. Selain itu, dapat terjadi oedem ringan dari CAE. y Status lokalis telinga dapat ditemukan auricula yang oedem, eritem difus, dan nyeri tekan dengan pembesaran kelenjar getah bening regional. Jika sudah terjadi pengumpulan serim di lapisan subperichondrium segera menjadi purulen, menimbulkan fluktuasi lokal atau difus. y Status lokalis telinga tampak CAE kulit tenang, sekret serosanguineous atau mukopurulen yang sering tampak berpulsasi, keluar melalui perforasi pada pars tensa membran timpani. Membran timpani bila terlihat

Hematologi rutin, kultur dan resistensi bakteri

Pemeriksaan audiometri, jika ada keluhan gangguan pendengaran

Hematologi (leukosistosis)

Otitis Media Akut (OMA) dengan perforasi

y Pasien datang dengan keluhan utama otorrhea yang awalnya serosanguineous menjadi mukopurulen, berwarna putih atau kekuningan, tidak berbau, dan tidak berdarah. y Didapatkan anamnesa khas sebelum timbulnya otorrhea, yaitu berupa otalgia yang hebat, telinga terasa

Otitis Media Supuratif Kronis

penuh, disertai febris yang cukup tinggi yang sangat mengganggu penderita (pada anak kecil biasanya ditandai dengan anak terus menangis dan tidak mau menetek). Keluhan tersebut kemudian dirasakan berkurang setelah timbulnya otorrhea. y Riwayat otorrhea kronis yang berlangsung lebih dari 6 minggu, dengan keluhan penyerta perasaan penuh pada telinga dan penurunan fungsi pendengaran. Biasanya tidak terdapat gejala sistemik, otalgia yang ringan atau bahkan tanpa otalgia.

akan tampak hiperemis.

Kolesteatoma

y Otorrhea kronis yang refrakter terhadap pengobatan konservatif dengan antibiotik topikal dan sistemik, dengan otorrhea yang berwarna kuning dan berbau.

y Status lokalis telinga dapat ditemukan perforasi membran timpani dapat terjadi atik/marginal yang dikaitkan dengan pembentukan kolesteatoma ataupun sentral yang dikaitkan dengan infeksi jinak. y Membran timpani tidak hiperemis, bisa terjadi parut, atrofi, ataupun penebalan membran timpani. y Sekret pada CAE atau cavum timpani dengan karakter purulen (kental, putih) atau mukoid (seperti air dan encer, tidak berbau dan tidak berdarah. y CAE kulit tenang dan tidak didapatkan nyeri tekan tragus. y Status lokalis telinga ditemukan perforasi membran timpani atik/marginal dengan sekret kuning keabuan, kotor dan berbau. y Selain itu dapat ditemukan keping-keping putih mengkilap pada cavum

Pure Tone Audiometric, Flexible fiberoptic nasopharyngoscopy, CT scan

Audiomteri, Timpanometri, MRI, CT scan tulang temporal tanpa kontras dalam potongan axial dan koronal dapat

Mastoiditis

y Keluhan utama berupa nyeri retroauriculer dengan otalgia dan riwayat otitis media akut atau rekuren sebelumnya.

Myringitis Bullosa

y Keluhan utama berupa otalgia yang cukup hebat biasanya unilateral, dengan riwayat infeksi saluran napas atas sebelumnya. y Dapat terjadi otorrhea dengan sekret serosanguineous akibat pecahnya bullae. y Keluhan pendengaran berkurang dan gejala sistemik febris dapat juga ditemukan. y Keluhan utama pasien dapat berupa otorrhea yang bening/serous atau seperti lendir/mukoid, dengan riwayat rhinitis sebelumnya, yang disertai tanda alergi lainnya, seperti hidung terasa gatal, sering bersin, dan mata berair serta gatal. Selain itu, keterangan mengenai sensitifitas

timpani. y Perluasan kolesteatoma dapat menimbulkan manifestasi klinis komplikasi labirintitis, abses ekstradural, meningitis, mastoiditis, parese facialis perifer. y Status lokalis telinga ditemukan membran timpani bulging atau erythematous, dengan area mastoid yang eritem, oedem, dengan nyeri tekan positif, bisa terdapat protusi atau displacement dari aurikel y Status lokalis telinga ditemukan pada membran timpani hiperemis dengan bullae atau bleb berisi darah tampak berwarna merah keunguan yang mengenai membran timpani dan dinding CAE di dekatnya. y Jika bullae atau bleb ini pecah dapat ditemukan sekre yang serosanguineous.

Kultur dan tes resistensi dari sekret telinga

Foto Schuller dan Stenver, atau CT scan

Tympanoparasintesis: pemeriksaan ini dilakukan untuk kultur dan identifikasi agen penyebabmiringitis bulosa.

Tympanometri: pemeriksaan ini dilakukan untuk menemukan bukti adanya cairan di belakangmembran timpani. Sehingga kita dapat mengetahui adanya otitis media yang menyertai miringitis bulosa.

10

Rhinitis alergika

y Status lokalis telinga dapat Hitung jenis ditemukan membran timpani eosinofil, Ig E total, perforasi dengan sekret serous Skin Prick test atau mukoid tanpa bau dan darah. Terdapat tanda alergi seperti rhinorrhea dengan konka inferior yang livid, serta tanda

11

Benda asing

12

Otorrhea cairan serebrospinal traumatik

terhadap alergen tertentu dapat memperkuat diagnose. y Keluhan utama pasien rasa tidak enak di telinga, tersumbat, dan pendengaran terganggu. Rasa nyeri akan timbul bila benda asing tersebut adalah serangga yang masuk dan bergerak serta melukai dinding liang telinga. y Keluhan utama pasien dengan riwayat trauma basis cranii atau tulang temporal disertai otorrhea yang bening, serous, dapat juga berdarah akibat hemorhagik dari trauma. Keluhan penyerta berupa hearing loss dan nyeri kepala, atau bahkan penurunan kesadaran.

rhinoconjungtivitis. y Pada inspeksi telinga dengan atau tanpa corong telinga akan tampak benda asing tersebut. -

13

Otitis Eksterna maligna

y Keluhan utama otalgia hebat setelah sebelumnya berupa rasa gatal, otorrhea, dan dapat disertai adanya nyeri retroauriculer, nyeri retroorbital, parese fasial perifer yang timbul cepat dan progresif, hingga berakibat kematian. y Riwayat diabetes melitus yang tidak terkontrol.

y Status lokalis telinga dapat ditemukan perdarahan keluar dari CAE, atau otorrhea yang serous (otorrhea serebrospinal), mungkin dapat diinspeksi perdarahan di belakang membran timpani yang perforasi. y Selain itu, didapatkan conductive atau sensorineural hearing loss tergantung lokasi fraktur, parese facialis, tanda trauma yang menyertai seperti echimosis periorbital (racoon eyes) atau echimosis mastoid (Battles sign) y Status lokalis telinga dapat ditemukan CAE kulit hiperemis, oedem difus, otorrhea dengan sekret purulen, nyeri tekan tragus, y Komplikasi parese facialis perifer, mastoiditis, ataupun petrositis.

CT scan potongan axial dan coronal, audiogram, electroneurography (ENOG), pemeriksaan level glukosa dari otorrhea, atau pemeriksaan 2 transferin

Biopsy jaringan granulasi, pemeriksaan hematologi rutin dan kimia klinik (gula darah)

CT scan tulang temporal, scan tulang dengan technetium Tc 99 m & Gallium 67

Reffered pain otalgia