Anda di halaman 1dari 21

PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA

MUSEUM TERAPUNG, SOLUSI PEMANFAATAN POTENSI PERAIRAN SUNGAI MUSI SEBAGAI WISATA SEJARAH DI SUMATERA SELATAN

BIDANG KEGIATAN: PKM GAGASAN TERTULIS

DIUSULKAN OLEH: KETUA : WIDI SAYANDA (05101001018 / Angkatan 2010) ANGGOTA : HAYRUNIZAR (05101007126 / Angkatan 2010) ZAMZAMI (05091007059 / Angkatan 2009)

UNIVERSITAS SRIWIJAYA INDERALAYA 2011

HALAMAN PENGESAHAN PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA GAGASAN TERTULIS


1. Judul Kegiatan : Museum Terapung, Solusi Pemanfaatan Potensi Perairan Sungai Musi Sebagai Wisata Sejarah di Sumatera Selatan :( ) PKM-AI ( ) PKM-GT

2. Bidang Kegiatan 3. Ketua Pelaksana Kegiatan a. Nama Lengkap b. NIM c. Prodi d. Universitas e. Alamat Rumah dan HP f. Alamat Email

: Widi Sayanda : 05101001018 : Agribisnis : Universitas Sriwijaya : Jl. Merdeka No. 56 Bukit Kecil Palembang 30000, HP : 081273247234 : hayrunizar@yahoo.com

4. Anggota Pelaksana Kegiatan/Penulis : 2 (dua) orang 5. Dosen Pembimbing a. Nama Lengkap dan Gelar : Selly Oktarina, S.P, M.Si b. NIP : 19781015200112 2001 c. Alamat Rumah dan HP : Jl. Demang Lebar Daun Komplek Kijang Mas C 8, Palembang, Sumsel. 30137, HP : 08117102908

Menyetujui, Ketua Prodi Penyuluhan & Komunikasi Pertanian

Inderalaya, 2 Maret 2011 Ketua Pelaksana Kegiatan

Ir. Nukmal Hakim, M.Si NIP. 19550101198503 1004

Widi Sayanda NIM. 05101001018

Pembantu Rektor III Unsri

Dosen Pembimbing

Dr. Ir. H. Anis Saggaf, MSCE NIP. 19621028198903 1002

Selly Oktarina, S.P, M.Si NIP. 19781015200112 2001

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT, Rabb semesta alam, karena berkat rahmat dan taufik-Nya akhirnya penulis dapat menyelesaikan penyusunan karya tulis atau gagasan tertulis yang berjudul Museum Terapung, Solusi Pemanfaaatan Potensi Perairan Sungai Musi Sebagai Wisata Sejarah di Sumatera Selatan. Sholawat teriring salam semoga tetap tercurah kepada suri teladan bagi umat manusia sepanjang zaman, nabi besar Muhammad SAW beserta para sahabat, keluarga dan pengikutnya hingga akhir zaman. Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada Ibu Selly Oktarina, S.P, M.Si selaku dosen pembimbing yang telah memberikan bimbingan dan pengarahan dalam penyusunan karya tulis ini sehingga dapat diselesaikan dengan baik. Terima kasih juga kami sampaikan kepada Bapak Prof. Dr. Ir. Amin Rejo, M.P selaku Pembantu Dekan III Fakultas Pertanian, serta Bapak Dr. Ir. H. Anis Saggaf, MSCE selaku Pembantu Rektor III Universitas Sriwijaya yang telah memberikan kesempatan bagi kami untuk berkarya. Selain itu, rasa terima kasih juga patut kami sampaikan kepada orang tua, teman-teman seperjuangan, serta semua pihak terkait yang telah membantu kami yang tentu saja tidak dapat kami sebutkan satu-persatu namanya disini. Semoga apa yang telah kalian berikan kepada kami senantiasa dibalas Allah SWT dengan balasan yang setimpal. Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan karya tulis ini, masih banyak kekurangan. Untuk itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak dalam rangka penyempurnaan karya tulis ini. Akhir kata, semoga karya kecil kami ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi pembaca umumnya.

Inderalaya, 2 Maret 2011

Penulis

DAFTAR PUSTAKA

Halaman HALAMAN JUDUL........................................................................................ i HALAMAN PENGESAHAN .......................................................................... ii KATA PENGANTAR ..................................................................................... iii DAFTAR ISI .................................................................................................... iv DAFTAR GAMBAR ....................................................................................... v RINGKASAN .................................................................................................. vi PENDAHULUAN ........................................................................................... 1 Latar Belakang Masalah .............................................................................. 1 Tujuan dan Manfaat..................................................................................... 2 Metode Penulisan ........................................................................................ 2 GAGASAN ...................................................................................................... 3 Sejarah Perkembangan Museum di Indonesia ............................................. 3 Realita Museum di Sumatera Selatan Saat Ini ............................................ 5 Kebijakan Pemerintah Pusat dan Pemda Sumatera Selatan Dalam Mengatasi Kondisi Museum yang Memprihatinkan ........................ 6 Solusi Program Museum Terapung ............................................................. 8 Langkah Strategis dan Implementasi Kebijakan ......................................... 10 KESIMPULAN ................................................................................................ 11 DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 11 BIODATA PENULIS ...................................................................................... 13 BIODATA DOSEN PEMBIMBING ............................................................... 14

DAFTAR GAMBAR

Halaman 1. Gambar 1. Skema Alur Metode Penulisan ................................................... 3 2. Desain Museum Terapung Gambar 2. Desain fondasi museum terapung .............................................. 8 Gambar 3. Desain atap museum terapung.................................................... 8 Gambar 4. Desain tampak samping museum terapung ................................ 8 Gambar 5. Desain 3 dimensi ........................................................................ 8

RINGKASAN Karya tulis ini berjudul Museum Terapung, Solusi Pemanfaaatan Potensi Perairan Sungai Musi Sebagai Wisata Sejarah di Sumatera Selatan. Ditulis oleh Widi Sayanda, Hayrunizar, dan Zamzami, serta di bimbing oleh Selly Oktarina, S.P, M.Si. Sumatera Selatan merupakan provinsi di Indonesia yang memiliki sumber daya air tawar yang potensial untuk dikembangkan sebagai pusat pariwisata, terutama wisata sejarah. Wisata sejarah di anggap perlu dikembangkan karena Sumatera Selatan, khususnya Palembang adalah wilayah pusat kerajaan Sriwijaya yang pada masanya merupakan kerajaan maritim yang berpengaruh di Nusantara, serta peninggalannya bernilai sejarah amat tinggi. Tetapi untuk merealisasikan hal tersebut perlu adanya media dan sarana yang kreatif guna mempublikasikan sejarah tersebut kepada masyarakat agar terwujudnya sikap menghargai dan apresiasi yang tinggi terhadap sejarah bangsanya sendiri. Kondisi minimnya pengunjung museum saat ini merupakan masalah vital yang dapat menghambat terwujudnya kelestarian sejarah dan budaya untuk dipertahankan hingga generasi muda bangsa ini. Hal ini disebabkan oleh : 1) kurangnya kreativitas dari pihak yang bersangkutan untuk membuat museum lebih menarik, 2) apresiasi masyarakat pada museum masih rendah, 3) pelajar yang ke museum hanya berkunjung apabila ada penugasan dari sekolahnya, 4) kurangnya sosialisasi tentang museum sejak dini oleh orang tua terhadap anaknya. Untuk mengatasi permasalahan ini, pada bulan Desember 2009 pemerintah telah mengeluarkan kebijakan berupa program revitalisasi. Kebijakan ini sangat tepat dilakukan mengingat kondisi museum yang semakin mengkhawatirkan baik dari segi fisik maupun manajemen pengolahan. Tujuan penulisan ini adalah untuk memberikan solusi alternatif yang dapat diterapkan dalam rangka mengembalikan dan menumbuhkan kecintaan masyarakat, pelajar dan anak-anak untuk berkunjung ke museum. Metode yang digunakan dalam penulisan karya tulis ini adalah metode studi pustaka yang diperoleh dari literatur-literatur terkait seperti buku-buku bacaan, surat kabar, jurnal ilmiah, dan artikel-artikel di media internet. Apabila kita mengkaji lebih mendalam, permasalahan pokok yang dihadapi oleh museum saat ini adalah justru belum adanya inovasi dan kreativitas baru yang dapat membuat museum lebih menarik untuk dikunjungi. Oleh sebab itu perlu dibuat program pendampingan berupa program pembangunan museum terapung dengan tujuan meningkatkan keinginan masyarakat ke museum dengan menambah daya tarik museum itu sendiri. Program museum terapung ini dapat diimplementasikan dengan empat langkah strategis yaitu, 1) membentuk sinergisme tim ahli khusus yang terdiri dari perwakilan pihak-pihak yang terlibat misalnya akademisi (dosen sastra atau seni, budayawan, atau mahasiswa), investor, serta masyarakat, 2) menjalin kerjasama dengan cara menghidupkan kembali komunitas terkait misalnya Gerakan Nasional Cinta Museum, dan kelembagaan museum lainnya, 3) meningkatkan kerjasama yang telah terjalin sebelumnya antara museum dengan Pemda Sumatera Selatan, Depbudpar, dan dinas-dinas terkait, 4) mengalokasikan dana guna merealisasikan program museum terapung yang telah dicanangkan. Dengan adanya museum terapung ini diharapkan meningkatkan ketertarikan masyarakat untuk ke museum dan menjadikannya sumber pengetahuan mengenai sejarah.

MUSEUM TERAPUNG, SOLUSI PEMANFAATAN POTENSI PERAIRAN SUNGAI MUSI SEBAGAI WISATA SEJARAH DI SUMATERA SELATAN

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Sumatera Selatan adalah salah satu provinsi Indonesia yang terletak di bagian selatan pulau Sumatera. Provinsi ini beribukota di Palembang. Secara geografis provinsi Sumatera Selatan berbatasan dengan provinsi Jambi di utara, provinsi Kep. Bangka-Belitung di timur, provinsi Lampung di selatan dan provinsi Bengkulu di barat, ibukota provinsi Sumatera Selatan, Palembang, telah terkenal sejak dahulu karena sempat menjadi ibukota dari kerajaan Sriwijaya (Wikipedia, 2009). Di samping itu, provinsi ini banyak memiliki tujuan wisata yang menarik untuk dikunjungi seperti Sungai Musi, Jembatan Ampera, Pulau Kemaro, Danau Ranau, Kota Pagaralam dan lain-lain. Salah satu dari tujuan wisata tersebut yaitu Sungai Musi yang merupakan salah satu daerah perairan di Sumatera yang perairannya tidak asin dan berpotensi untuk dikembangkan sebagai pusat pariwisata di Sumatera Selatan, khususnya wisata sejarah. Seperti yang diketahui panjang sungai Musi sekitar 750 km dan merupakan sungai yang terpanjang di pulau Sumatera. Sejak masa keemasan kerajaan Sriwijaya sungai Musi ini terkenal sebagai sarana utama transportasi kerajaan dan masyarakat, hal ini tetap berlanjut pada masa pemerintahan kesultanan Palembang Darussalam (Humas Pemkot Palembang, 2009). Tapi sayangnya potensi perairan yang ada tidak dimanfaatkan secara optimal, khususnya sebagai media untuk melestarikan dan memperkenalkan sejarah di Sumatera Selatan terutama sejarah kerajaan Sriwijaya yang pada masanya merupakan kerajaan maritim yang kuat di pulau Sumatera dan salah satu kerajaan yang berpengaruh di Nusantara yang gaung dan pengaruhnya bahkan sampai ke Madagaskar di benua Afrika (Rahmat, 2010). Namun, sangat disayangkan sejarah kejayaan di tanah Sumatera Selatan ini hanya sebatas masa lalu yang hilang begitu saja, hal tersebut dikarenakan minat masyarakat untuk memahami sejarah sangat minim, salah satunya minat masyarakat untuk ke museum. Dari data Pusat Pengelolaan Data dan Sistem Jaringan, Depbudpar 2009, di dapat jumlah pengunjung museum dari tahun ke tahun terus mengalami penurunan. Berdasarkan data tersebut, pada tahun 2006 terdapat 4,56 pengunjung, turun menjadi 4,20 juta pengunjung pada tahun 2007, dan turun lagi pada tahun 2008 menjadi 4,17 juta pengunjung (Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, 2009). Salah satu museum di Sumatera Selatan, yaitu Museum Negeri Balaputra Dewa pada 2006 tercatat 13.051 pengunjung, lalu pada 2007 terjadi peningkatan menjadi 14.298 pengunjung, kemudian tahun 2008 ada sekitar 15.110 pengunjung, dan selama 2009 terjadi penurunan yang signifikan menjadi 8.575 pengunjung (Sumatera Ekspres, 2009).

Menurut Alfred Dama (2009), faktor yang mempengaruhi masyarakat dan pelajar enggan untuk berkunjung ke museum, yaitu: 1. kurangnya inovasi dan kreativitas dari pihak yang bersangkutan untuk membuat museum lebih menarik, 2. karena apresiasi masyarakat pada museum masih rendah, 3. pelajar yang ke museum hanya berkunjung apabila ada penugasan dari guru dan sekolahnya, dan 4. kurangnya sosialisasi tentang museum sejak dini oleh orang tua terhadap anaknya. Inovasi dan kreativitas untuk mengubah museum menjadi tempat yang menarik untuk dikunjungi di rasa sangat penting, sebab masyarakat di daerah perkotaan sekarang lebih cenderung mengunjungi mall ketimbang museum, contoh konkret kreativitas untuk merevolusi museum, yaitu seperti di Amerika, Metropolitan Museum of Arts, mereka memamerkan kebudayaan seluruh dunia, oleh karena itu semua yang di lihat di museum merupakan hal baru untuk pengunjung. Sedangkan apresiasi adalah kunci, seperti orang lapar, maka ia harus makan. Oleh karena itu tingkat ekonomi masyarakat juga turut mempengaruhi pola rekreasinya, sebab kebanyakan masyarakat kelas menengah ke atas lebih memilih berwisata ke puncak atau ke pantai, padahal berwisata ke museum lebih murah dalam hal biaya serta dapat memperoleh pengetahuan mengenai sejarah. Huper Greenville, perempuan asal Inggris, dia meneliti di negara maju dan mencari tahu perilaku masyarakat saat liburan, ternyata museum tidak masuk ranking pertama. Selain hal-hal di atas, pengaruh keluarga juga ikut berkontribusi dalam meningkatkan minat anak ke museum, dan juga pengetahuan dan wawasan orang tua amat perlu untuk menunjang terealisasinya hal tersebut. Maka dari itu penulis manganggap perlu mengangkat hal ini dan menawarkan inovasi baru museum berupa museum terapung, mengingat bahwa berkunjung ke museum merupakan salah satu proses pembelajaran, terutama bagi siswa/siswi sekolah dasar yang jiwa cintanya akan sejarah harus ditanamkansejak dini guna melestarikan sejarah dan budaya bangsa Indonesia, khususnya Sumatera Selatan.

Tujuan dan Manfaat Tujuan penulisan karya ilmiah ini adalah untuk memberikan solusi yang dapat diterapkan dalam rangka mendongkrak jumlah pengunjung museum di Indonesia, khususnya di Sumatera Selatan, sehingga masyarakat lebih tertarik untuk datang ke museum serta mau mempelajari dan memahami sejarah bangsanya sendiri. Selain itu penulisan karya ilmiah ini akan memberi manfaat bagi daerah seperti bertambahnya pendapatan daerah di bidang pariwisata.

Metode Penulisan Metode yang digunakan dalam penulisan karya tulis ini adalah metode studi pustaka atau studi literatur yang dilakukan dengan cara mempelajari literatur-literatur terkait seperti buku-buku bacaan atau buku referensi, surat kabar,

jurnal ilmiah dan artikel-artikel di media internet. Data dan informasi yang diperoleh tersebut kemudian di olah dan dianalisis secara deskriptif, serta dikombinasikan dan disesuaikan terkait permasalahan utama yang diangkat sehingga dari hasil pengolahan data dan informasi tersebut dituangkan dalam bentuk karya tulis ilmiah. Alur penulisan tersebut terangkai dalam skema berikut:
Identifikasi Masalah

Informasi Dari Media Elektronik dan Internet

Pengumpulan Data dan Informasi yang Relevan

Studi Literatur Buku, Jurnal, dan Artikel Media Cetak

Pengolahan Data Berdasarkan Informasi yang Diperoleh

Penulisan Karya Ilmiah

Keterangan: : digunakan untuk : dilakukan Gambar 1. Skema Alur Metode Penulisan

GAGASAN Sejarah Perkembangan Museum di Indonesia Museum adalah tempat benda-benda para pencipta seni dan budaya, para pencipta ilmu pengetahuan, dimana dari kumpulan benda (koleksi) yang ada mencerminkan apa yang khusus menjadi minat dan perhatian pemiliknya (Arkeologi Web, 2009). Gejala berdirinya mulai tampak seiring dengan perkembangan pengetahuan di Eropa, Belanda yang merupakan bagian dari Eropa

dalam hal ini juga tidak ketinggalan dalam upaya mendirikan museum, perkembangan museum di Belanda sangat mempengaruhi perkembangan museum di Indonesia. Diawali oleh seorang pegawai VOC yang bernama G.E. Rumphius yang pada abad ke-17 telah memanfaatkan waktunya untuk menulis tentang Ambonsche Landbeschrijving yang memberikan gambaran tentang sejarah kesultanan Maluku, di samping itu, setelah memasuki abad ke-18 perhatian terhadap ilmu pengetahuan dan kebudayaan baik pada masa VOC maupun Hindia-Belanda makin jelas dengan berdirinya lembaga-lembaga yang benarbenar kompeten, antara lain pada tanggal 24 April 1778 didirikan Bataviaach Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, lembaga tersebut bertugas memelihara museum yang meliputi: pembukuan, himpunan-himpunan sejarawan, serta naskah-naskah yang termasuk juga perpustakaan. Bataviaach Genootschap van Kunsten en Wetenschappen memusatkan perhatian pada ilmu kebudayaan, terutama ilmu bahasa, ilmu sosial, ilmu bangsabangsa, ilmu purbakala, dan ilmu sejarah. Sementara itu, perkembangan ilmu pengetahuan alam mendorong berdirinya lembaga-lembaga lain, di Batavia anggota lembaga terus bertambah, perhatian di bidang kebudayaan berkembang dan koleksi meningkat jumlahnya, sehingga dipindahkan ke gedung baru di Jl. Merdeka Barat No. 12 pada tahun 1862. Karena lembaga terus sangat berjasa dalam penelitian ilmu pengetahuan maka pemerintah Belanda memberi gelar Koninklijk Bataviaasche Genootschap van Kunsten en Watenschappen. Lembaga yang menempati gedung baru tersebut telah berbentuk museum kebudayaan yang besar dengan perpustakaan yang lengkap (sekarang Museum Nasional). Sejak pendirian Bataviaach Genootschap van Kunsten en Wetenschappen untuk pengisian koleksi museumnya telah diprogramkan anatara lain berasal dari koleksi benda-benda bersejarah dan kepurbakalaan baik dari kalangan pemerintah maupun masyarakat. Semangat itu telah mendorong untuk melakukan upaya pemeliharaan, penyelamatan, pengenalan bahkan penelitian terhadap peninggalan sejarah dan purbakala. Kehidupan kelembagaan tersebut sampai masa pergerakan Nasional masih aktif bahkan setelah Perang Dunia I masyarakat setempat didukung pemerintah Hindia-Belanda menaruh perhatian terhadap pendirian museum di beberapa daerah di samping yang sudah berdiri di Batavia, seperti Lembaga Kebun Raya Bogor yang terus berkembang di Bogor. Von Koenigswald mendirikan Museum Zoologi di Bogor pada tahun 1894, lembaga ilmu pengetahuan dan kebudayaan yang bernama Radyapustaka (sekarang Museum Radyapustaka) didirikan di Solo pada tanggal 28 Oktober 1890, Museum Geologi didirikan di Bandung pada tanggal 16 Mei 1929, lembaga bernama Yava Instituut didirikan di Yogyakarta tahun 1919 dan dalam perkembangannya pada tahun 1935 menjadi Museum Sonobudoyo. Mangkunegoro VII di Solo mendirikan Museum Mangkunegoro pada tahun 1918. Ir. H. Haclaine mengumpulkan benda purbakala di suatu bangunan yang sekarang dikenal dengan Museum Purbakala Trowulan pada tahun 1920. Pemerintahan kolonial Belanda mendirikan Museum Herbarium di Bogor pada tahun 1941. Di luar pulau Jawa, atas prakarsa Dr. W.F.Y. Kroom (asisten residen Bali) dengan raja-raja, seniman dan pemuka masyarakat, didirikan suatu perkumpulan yang dilengkapi dengan museum yang dimulai pada tahun 1915 dan diresmikan sebagai Museum Bali pada tanggal 8 Desember 1932. Museum Rumah Adat Aceh

didirikan di Nanggro Aceh Darussalam pada tahun 1915, Museum Rumah Adat Baanjuang didirikan di Bukittinggi pada tahun 1933, Museum Simalungun didirikan di Sumatera Utara pada tahun 1938 atas prakarsa raja Simalungun. Tahun 1945 setelah Indonesia merdeka mengakibatkan orang-orang Belanda meninggalkan Indonesia dan termasuk orang-orang pendukung lembaga museum. Sejak itu terjadi proses Indonesianisasi terhadap berbagai hal yang berbau colonial, termasuk pada tanggal 29 Februari 1950 Bataviaach Genootschap van Kunsten en Wetenschappen yang diganti menjadi Lembaga Kebudayaan Indonesia atau LKI, LKI membawahi 2 instansi, yaitu museum dan perpustakaan. Pada tanggal 17 September 1962 LKI dibubarkan, museum diserahkan pada pemerintah Indonesia dengan nama Museum Pusat di bawah pengawasan Direktorat Jenderal Kebudayaan, periode 1962-1967 merupakan masa sulit bagi upaya untuk perencanaan mendirikan Museum Nasional dari sudut profesionalitas, karena dukungan keuangan dari perusahaan Belanda sudah tidak ada lagi. Di tengah kesulitan tersebut pemerintah membentuk bagian Urusan Museum. Urusan Museum diganti menjadi Lembaga Urusan Museum-Museum Nasional pada tahun 1964, dan diubah menjadi Direktorat Museum pada tahun 1966. Pada tahun 1975, Direktorat Museum diubah menjadi Direktorat Permuseuman. Museum Pusat diganti namanya menjadi Museum Nasional pada tanggal 28 Mei 1979, penyerahan museum ke pemerintah pusat diikuti oleh museum-museum lainnya. Yayasan Museum Bali menyerahkan museum ke pemerintah pusat pada tanggal 5 Januari 1966 dan langsung di bawah pengawasan Direktorat Museum. Begitu pula dengan Museum Zoologi, Museum Herbarium dan museum lainnnya di luar pulau Jawa mulai diserahkan kepada pemerintah Indonesia, sejak museum-museum diserahkan ke pemerintah pusat museum semakin berkembang dan museum barupun bermunculan baik diselenggarakan oleh pemerintah maupun oleh yayasan-yayasan swasta. Perubahan politik menjadi era reformasi pada tahun 1998, telah mengubah tata Negara Republik Indonesia. Perubahan ini memberikan dampak terhadap permuseuman di Indonesia. Direktorat Permuseuman diubah menjadi Direktorat Sejarah dan Museum di bawah Departemen Pendidikan Nasional pada tahun 2000. Pada tahun 2001, Direktorat Sejarah dan Museum diubah menjadi Direktorat Permuseuman dengan susunan organisasi diubah menjadi Direktorat Purbakala dan Permuseuman di bawah Badan Pengembangan Kebudayaan dan Pariwisata pada tahun 2002. Direktorat Purbakala dan Permuseuman diubah menjadi Asdep Purbakala dan Permuseuman pada tahun 2004. Akhirnya pada tahun 2005, dibentuk kembali Direktorat Museum di bawah Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.

Realita Museum di Sumatera Selatan Saat Ini Sebanyak 90 persen museum di Indonesia tidak layak kunjung, dengan keadaan yang memprihatinkan serta belum terurus dengan baik (Jero Wacik, 2010). Banyak museum di Sumatera Selatan yang kondisinya kurang terawatt sehingga fungsinya seolah-olah sebagai tempat penyimpanan barang-barang dari masa lalu. Oleh karena itu, tidak heran apabila sebagian besar masyarakat Sumsel belum menjadikan museum sebagai salah satu tempat tujuan wisata, kalaupun ada

yang mendatangi museum, tujuan utamanya bukan untuk berwisata, melainkan bertujuan untuk menyelesaikan tugas sekolah. Contoh konkret di beberapa museum kerap kali tidak ada petugas pendamping yang bisa menjelaskan berbagai koleksi didalamnya, hal itu menyebabkan pengunjung merasa kesulitan memahami nilai-nilai sejarah yang melatarbelakangi berbagai benda koleksi tersebut. Menurut Kepala Bidang Museum, Sejarah, dan Purbakala Dinas Pariwisata provinsi Sumatera Selatan, Sutardi Harun, pengunjung museum memang masih sepi karena pengelolaannya masih dalam transisi dari Dinas Pendidikan ke Dinas Pariwisata. Berbagai keluhan yang dilontarkan masyarakat tersebut seyogyanya bisa menjadi masukan bagi para pengelola museum di Sumatera Selatan untuk memperbaiki kondisi museum. Dengan demikian, museum dapat berfungsi secara optimal, bukan lagi hanya sebagai tempat penyimpanan benda-benda kuno, melainkan pula sebagai objek wisata yang menarik untuk dikunjungi (Koran Jakarta, 2009). Sebenarnya, apabila ditelusuri lebih jauh banyak hal menarik yang bisa didapati di museum. Sebagai contoh, di Museum Tekstil Palembang, terdapat 230 koleksi kain dari berbagai jenis dan corak, selain kain songket asal Sumatera Selatan dengan aneka motif, di museum itu tersimpan pula baju khitanan, pakaian pengantin, pakaian kelahiran, baju adat Sumatera Selatan, serta berbagai alat tenun dan mesin pemintal benang. Ada pula gedung Tekstil Maratex yang merupakan pabrik tekstil pertama di kota pempek tersebut. Berdasarkan sejarahnya, kain tenun Sumatera Selatan, seperti songket, blongsom, jumputan, dan batik Palembang, memiliki keterkaitan yang erat dengan kain tenun Asia Tenggara serta dipengaruhi pula oleh budaya Tiongkok. India, dan Arab. Selain Museum Tekstil, Museum Balaputra Dewa yang berlokasi di Km 5,5 Jalan Jenderal Sudirman, Palembang tersebut tersimpan berbagai koleksi purbakala peninggalan kerajaan Sriwijaya. Beberapa benda bersejarah itu antara lain Arca Ganesha, Amarawati, dan Buddha. Benda bersejarah lainnya ialah kerangka hewan yang diperkirakan hidup diberbagai area di Sumatera Selatan dan miniature rumah adat di pedalaman Sumatera Selatan. Total jumlah koleksi yang tersimpan di museum itu mencapai sekitar 2.000 buah, tidak hanya museum yang dikelola pemerintah, museum milik pihak swasta seperti Museum Mir Senen, terdapat banyak benda purbakala yang terbilang unik, seperti songket, keramik, lukisan, peralatan rumah tangga, dan bentuk pintu rumah adat.

Kebijakan Pemerintah Pusat dan Pemda Sumatera Selatan Dalam Mengatasi Kondisi Museum yang Memprihatinkan Kondisi museum yang memprihatinkan saat ini sebenarnya telah mendapat perhatian khusus dari pemerintah, baik pemerintah pusat maupun daerah. Pada 30 Desember 2009 kepala museum dari berbagai daerah di Indonesia menggelar pertemuan nasional di Mataram, Nusa Tenggara Barat, guna membahas revitalisasi museum yang harus terealisasi dalam lima tahun ke depan. Direktur Museum, Ditjen Sejarah dan Purbakala, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Intan Mardiana mengatakan, pertemuan tersebut merupakan kegiatan pemerintah dalam upaya menggalang kerja sama berbagai pihak terkait. Kerja sama berbagai

pihak terkait itu untuk mendukung revitalisasi museum, sehubungan dengan upaya peningkatan kualitas museum dan pelayanan kepada masyarakat. Pertemuan itu bertujuan untuk menyamakan langkah dan strategi dalam menyusun konsep serta perencanaan kegiatan yang akan dilaksanakan dalam kegiatan revitalisasi museum se-Indonesia, sehingga pada saatnya nanti akan terwujud museum yang berkualitas dengan sarana edukasi dan rekreasi serta dapat memenuhi kebutuhan masyarakat. Sasarannya yaitu terumuskannya kebijakan dan acuan dalam revitalisasi museum, yang terkait pengelolaan dan penyelenggaraan museum sebagai sebuah lembaga yang strategis dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, memperkokoh kepribadian bangsa, meningkatkan ketahanan nasional serta internalisasi wawasan nusantara. Kondisi museum di Indonesia saat ini sebagian masih belum memenuhi kualitas standar baku, melalui pertemuan nasional tersebut, diharapkan seluruh instansi terkait dan para pemangku kepentingan dapat mendukung terwujudnya museum yang representatif sebagai media pelestarian dan pusat informasi budaya. Dalam lima tahun ke depan nanti sebanyak 79 unit museum diberbagai daerah di Indonesia, akan direvitalisasi (Hari Untoro Drajat, 2010). Sementara pihak yang melaksanakan revitalisasi tersebut, adalah Kemenbudpar, Pemerintah Daerah, serta komunitas. Revitalisasi museum mencakup aspek fisik, pengelolaan SDM dan koleksi, program kreatif, komunikasi, jejaring dengan komunitas, kebijakan dan pemasaran (Dirjen Sejarah dan Purbakala, 2009). Revitalisasi museum merupakan salah satu kegiatan Gerakan Nasional Cinta Museum periode 2010-2014 yang diawali dengan peluncuran Tahun Kunjung Museum (Visit Museum Year) 2010 yang diluncurkan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Ir. Jero Wacik, SE di Balairung Gedung Sapta Pesona Jakarta pada 30 Desember 2009 lalu. Sedangkan para pihak yang terlibat dalam program revitalisasi museum antara lain pengunjung, masyarakat, badan pelestari, pengembang, lembaga donor, serta badan pembuat dan pelaksana kebijakan dan regulasi. Program revitalisasi museum selama lima tahun ke depan masing-masing sebanyak 6 museum pada 2010, dan 30 museum tahun 2011, sedangkan tahun 2012 sebanyak 10 museum. Tahun 2013 sebanyak 15 museum dan 2014 sebanyak 20 museum yang direvitalisasi (Kembudpar, 2010). Pada 2011, Dinas Pariwisata Sumatera Selatan telah merancang berbagai program yang merupakan salah satu bentuk dukungan terhadap pencanangan Tahun Kunjungan Museum 2010 sampai 2014. Sedangkan di Sumatera Selatan saat ini, di Palembang terdapat 6 museum. Tiga diantaranya, yakni Museum Tekstil, Museum Balaputra Dewa, dan Museum Taman Purbakala Sriwijaya yang dikelola oleh pemerintah provinsi. Sementara dua museum lainnya, yaitu Museum Sultan Mahmud Badarudin II dan Monpera, ada di bawah pengelolaan pemerintah kota, sementara Museum Mir Senen merupakan museum milik perorangan. Pemerintah kabupaten dan kota aktif mempromosikan museum, dengan mencanangkan program Ayo ke Museum pada 2011, serta pemerintah tidak memungut biaya besar untuk masuk ke museum. Untuk satu kali berkunjung pengunjung hanya di minta membayar 1.000 rupiah. Adapun biaya perawatan museum diambil dari pemasukan lainnya, semisal melalui penyewaan auditorium museum untuk acara pernikahan.

Solusi Program Museum Terapung Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa ada empat faktor yang menjadi penyebab masyarakat enggan berkunjung ke museum, baik inovasi yang belum diwujudkan terhadap museum saat ini maupun kreativitas yang belum terealisasi. Untuk mengatasi permasalahan ini harus dilakukan secara serentak dan berkesinambungan yang diawali dengan pembenahan museum yang memiliki unsur kreativitas, untuk mengatasi permasalahan pokok yang terjadi pada museum maka dapat dilakukan program sebagai berikut: 1. melakukan peninjauan dan penyiapan lokasi berupa sungai, yang dalam hal ini menggunakan sungai Musi sebagai media tempat mengapung dan berdirinya museum, 2. pembuatan desain dan pembangunan museum yang mengangkat corak yang bersifat beranekaragam, contoh konkretnya yaitu mengkolaborasikan unsur corak dan budaya melayu, cina, dan arab. Hal tersebut ditawarkan karena Sumatera Selatan merupakan pusat kerajaan Sriwijaya sekaligus sebagai jalur perdagangan dimasanya, sehingga banyak unsur budaya luar yang tertanam di Sumatera Selatan. Pada karya ilmiah ini kami menawarkan desain museum terapung tersebut yang dapat di lihat di bawah ini,

Gambar 2. Desain fondasi museum terapung

Gambar 3. Desain atap museum terapung

Gambar 4. Desain tampak samping

Gambar 5. Desain 3 dimensi

3. menerapkan manajemen dan merekrut SDM yang bertujuan untuk mengolah museum tersebut, seperti bagian petugas kebersihan yang berkewajiban

mengurus dan menjaga kebersihan benda-benda sejarah di museum, bagian administrasi keuangan, petugas pengarsipan data, dan pemandu bagi para pengunjung yang ingin mengetahui latar belakang sejarah isi museum tersebut, 4. mengelompokkan dan mengumpulkan benda-benda prasejarah, seperti bendabenda yang memiliki unsur sejarah kerajaan Sriwijaya, budaya Tionghoa dan sebagainya, 5. memberikan nilai lebih terhadap museum sehingga museum memiliki daya tarik tersendiri, terutama bagi anak-anak dalam rangka mengenalkan sejarah kepada mereka. Hal tersebut dapat diwujudkan dengan contoh nyata seperti menggunakan media audio visual dengan memanfaatkan televise dan DVD sebagai alat untuk mempublikasikan kisah tentang kejayaan kerajaan Sriwijaya dalam bentuk animasi kartun sehingga anak-anak lebih tertarik, 6. menyediakan modal yang berguna untuk pengolahan administrasi museum, misalnya dalam bentuk alokasi dana APBD untuk museum dari pemerintah daerah, 7. mengatur dan mengelola tata ruang museum dengan cara menerapkan pembagian wilayah untuk masing-masing benda-benda sejarah yang berbeda sumber dan asalnya. Pada dasarnya kebijakan pemerintah untuk melakukan program revitalisasi museum secara nasional merupakan sebuah kebijakan yang cukup tepat untuk dilaksanakan mengingat pemerintah mungkin belum terpikirkan untuk melakukan perombakan museum yang bersifat kreativitas (seperti museum terapung). Hal ini didasari atas kondisi museum beberapa tahun terakhir yang sepi pengunjung. Namun, sebuah program tentunya tidak akan berjalan dengan baik tanpa didukung oleh perangkat-perangkat program pendukung lainnya. Program revitalisasi pemerintah yang memberikan anggaran dana untuk perbaikan aspek fisik museum pada akhirnya hanya akan mengatasi kondisi fisik museum. Namun tidak dapat mengatasi permasalahan minimnya pengunjung museum itu sendiri. Banyaknya pengunjung suatu museum merupakan tolak ukur keberhasilan program revitalisasi tersebut, mengingat museum kini hanya sebagai tempat penyimpanan barang-barang masa lalu yang tidak terurus dan berdebu, maka dibutuhkan aspek kreativitas dan dukungan pemerintah yang sangat penting untuk diperhatikan sebab sangat erat kaitannya dengan upaya peningkatan penghargaan pengunjung terhadap barang-barang sejarah dan unsur-unsur yang terkandung didalamnya, mengingat selama ini museum hanya memanfaatkan sumber daya yang digunakan tanpa ada ide dan solusi untuk memanfaatkan sumber daya sekitar yang berpotensi seperti sungai air tawar sebagai sarana untuk mendirikan museum terapung, dan sebagainya. Untuk mendampingi program revitalisasi museum secara nasional oleh pemerintah, solusi yang ditawarkan tersebut adalah melalui pembuatan museum terapung yang memanfaatkan potensi sungai air tawar yang berada di Sumatera Selatan yang dalam hal ini adalah sungai Musi. Museum terapung ini dapat difungsikan sebagai sarana memperkenalkan museum kepada masyarakat, pelajar, dan anak-anak dengan cara yang lebih nyaman tanpa ada rasa jenuh ketika mereka berkunjung ke museum. Museum terapung dapat dibangun di daerah-daerah sentra penduduk dan memiliki sumber daya air tawar yang potensial. Dalam museum terapung tersebut disediakan berbagai sarana pendukung misalnya terkait

contoh alat-alat elektronik audio visual untuk menonton film animasi sejarah dan mendengar lantunan lagu-lagu daerah yang sarat mengandung unsure budaya, sarana informasi seperti museum yang memiliki hotspot sebagai akses informasi online, dan lain sebagainya. Keberadaan program museum terapung ini adalah untuk mengimbangi program revitalisasi museum yang digulirkan oleh pemerintah, sehingga museum terapung ini diharapkan dapat menjadi solusi nyata untuk meningkatkan gairah masyarakat, pelajar, dan anak-anak untuk berkunjung ke museum. Keberadaan museum terapung ini nantinya akan berjalan secara berkesinambungan dengan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. Departemen Kebudayaan dan Pariwisata bergerak dibidang pengembangan pariwisata, sedangkan museum terapung akan berperan dalam hal mendukung pelestarian sejarah dan budaya yang bertujuan sebagai aset pariwisata daerah dan nasional.

Langkah Strategis dan Implementasi Kebijakan Pengembangan program museum terapung ini perlu melibatkan banyak pihak, terutama pemerintah dan komunitas pencinta museum, budayawan, pihak swasta, dan masyarakat sendiri. Peran pemerintah dalam hal ini adalah menyediakan dan mengalokasikan dana, serta dapat mengontrol manajemen SDM yang terealisasi di museum. Tugas dari komunitas pencinta museum adalah untuk mensosialisasikan dan memantau perkembangan program museum terapung tersebut. Peran budayawan adalah untuk mengatur strategi pengembangan program museum terapung melalui upaya penelitian atau survei pengunjung. Para budayawan inilah yang akan menjadi sumber pengetahuan utama bagi SDM yang mengelola museum sehingga terjadinya kesinambungan program yang berjalan. Peran swasta dalam program museum terapung ini dapat berupa penyediaan modal bagi museum melalui investasi perorangan, kelompok ataupun sistem kredit lunak yang disediakan untuk pengembangan museum tersebut. Museum terapung dapat dimanfaatkan oleh pihak swasta untuk membentuk semacam bisnis usaha, seperti restoran yang sarat dengan kuliner khas nusantara, dan lain sebagainya. Peran masyarakat dalam hal ini adalah sebagai objek ataupun pengambil manfaat dari adanya museum terapung tersebut. Langkah strategis yang dapat dilakukan untuk mengembangkan program museum terapung adalah: 1. membentuk sinergisme tim ahli khusus yang terdiri dari perwakilan pihakpihak yang terlibat misalnya komunitas pencinta museum, akademisi (dosen sastra atau seni, budayawan, atau mahasiswa), investor, serta masyarakat, 2. menjalin kerjasama dengan cara menghidupkan kembali komunitas-komunitas terkait, seperti Sahabat Museum (Batmus), KOTA MUSINDO (Komunitas Pencinta Museum se-Indonesia), K.R.P.M (Komunitas Remaja Pencinta Museum), dan kelembagaan museum lainnya, 3. meningkatkan kerjasama yang telah terjalin sebelumnya antara museum dengan Pemda Sumatera Selatan, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, serta dinas-dinas terkait, 4. mengalokasikan dana guna merealisasikan program museum terapung yang telah dicanangkan.

Dengan langkah-langkah strategis pengembangan program musum terapung yang didukung oleh sinergisme kerja antara pemerintah, swasta, dan akademisi maka diharapkan masyarakat dapat menjadikan museum sebagai gudang inspirasi dan tempat belajar yang berharga, serta museum sebagai sumber mempelajari sejarah peradaban sebuah bangsa, dan berimbas lahirnya kebanggaan tersendiri telah menjadi bagian dari bangsa Indonesia.

KESIMPULAN Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa: 1. Selain program revitalisasi museum secara nasional yang dicanangkan oleh pemerintah, salah satu solusi yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan minimnya pengunjung museum saat ini yaitu program museum terapung yang merupakan program pendamping yang mempunyai tujuan utama untuk meningkatkan jumlah pengunjung museum dan memanfaatkan museum sebagai sarana mempelajari sejarah dan budaya bangsa. 2. Program museum terapung ini dapat diimplementasikan dengan empat langkah strategis yaitu, 1) membentuk sinergisme tim ahli khusus yang terdiri dari perwakilan pihak-pihak yang terlibat misalnya komunitas pencinta museum, akademisi (dosen sastra atau seni, budayawan, atau mahasiswa), investor, serta masyarakat, 2) menjalin kerjasama dengan cara menghidupkan kembali komunitas-komunitas terkait, seperti Sahabat Museum (Batmus), KOTA MUSINDO (Komunitas Pencinta Museum se-Indonesia), K.R.P.M (Komunitas Remaja Pencinta Museum), dan kelembagaan museum lainnya, 3) meningkatkan kerjasama yang telah terjalin sebelumnya antara museum dengan Pemda Sumatera Selatan, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, serta dinas-dinas terkait, 4) mengalokasikan dana guna merealisasikan program museum terapung yang telah dicanangkan. 3. Output dari adanya museum terapung ini adalah diharapkan masyarakat dapat menjadikan museum sebagai gudang inspirasi dan tempat belajar yang berharga, serta museum sebagai sumber mempelajari sejarah peradaban sebuah bangsa, dan berimbas lahirnya kebanggaan tersendiri telah menjadi bagian dari bangsa Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA Arkeologi Web. 2009. Sejarah Perkembangan Museum di Indonesia. http://arkeologi.web.id/articles/permuseuman/478-sejarahperkembangan-museum-di-indonesia (2 Maret 2011). Depbudpar. 2009. Data Jumlah Pengunjung Museum 2006-2008. http://kppo.bappenas.go.id/files/-3Jumlah%20Pengunjung %20Museum%20di%20Indonesia.pdf (2 Maret 2011). Humas Pemkot Palembang. 2009. Ensiklopedia Sungai Musi. http://infokito.wordpress.com/2008/01/15/sungai-musi/ (2 Maret 2011).

Kembudpar. 2010. Pemerintah Programkan Revitalisasi Museum Hingga 2014. http://melayuonline.com/ind/news/read/11009/pemerintahprogramkan-revitalisasi-museumhingga-2014 (2 Maret 2011). Koran Jakarta. 2009. Napak Tilas Masa Kerajaan di Museum Kota Pempek. http://koran-jakarta.com/berita-detail.php?id=65781 (2 Maret 2011). Rahmat. 2010. Sejarah Kerajaan Sriwijaya. http://blog.re.or.id/sejarah-kerajaan-sriwijaya.htm (2 Maret 2011). Sumatera Ekspres. 2009. Pengunjung Museum Asal Palembang Minim. http://www.sumeks.co.id/index.php?option=com_content&view= article&id=2676:pengunjung-museum-asal-palembang minim&catid=95:kecamatan&Itemid=123 (2 Maret 2011). Untoro Drajat, Hari. 2010. Revitalisasi Museum. http://www.citydirectory.co.id/news/item/revitalizing-museums(2 Maret 2011). Wacik, Jero. 2010. 90 Persen Museum di Indonesia Tak Layak Kunjung. http://buanasumsel.com/90-persen-museum-di-indonesia-tak-layak kunjung/ (2 Maret 2011). Wikipedia. 2009. Sumatera Selatan. http://id.wikipedia.org/wiki/Sumatera_Selatan (2 Maret 2011).

Biodata Ketua Pelaksana Nama NIM Program Studi Alamat HP Email : Widi Sayanda : 05101001018 : Agribisnis : Jl. Merdeka No. 56 Bukit Kecil Palembang 30000 : 081273247234 : hayrunizar@yahoo.com

Riwayat Organisasi BWPI Fakultas Pertanian sebagai staff Biro Dana dan Usaha 2010-2011

Inderalaya, 2 Maret 2011

Widi Sayanda NIM. 05101001018

Biodata Anggota Pelaksana Nama NIM Program Studi Alamat HP Email : Hayrunizar : 05101007126 : Agroekoteknologi : Rusunawa Unsri, Jl. Raya Palembang-Prabumulih Km. 32 Kec. Inderalaya Utara Kab. Ogan Ilir. : 081271267321 : hyn_4292@yahoo.co.id

Riwayat Organisasi KM Muba sebagai staff Departemen Kaderisasi dan Kerohanian 20112012 BWPI Fakultas Pertanian sebagai staff Departemen Syiar 2010-2011

Inderalaya, 2 Maret 2011

Hayrunizar NIM. 05101007126

Biodata Anggota Pelaksana Nama NIM Program Studi Alamat HP Email : Zamzami : 05091007059 : Agroekoteknologi : Jl. Langgar Nuruk Hidayah RT. 05 RW.10 No. 35 : 085788425819 : zamzamizam35@yahoo.co.id

Riwayat Organisasi HIMUKTA sebagai Ketua Umum 2010-2011 BWPI Fakultas Pertanian sebagai Kepala Divisi Event Organizer 20102011 HIMAGROTEK sebagai staff Departemen PPSDM 2010-2011

Inderalaya, 2 Maret 2011

Zamzami NIM. 05091007059

Biodata Dosen Pembimbing Nama NIP HP Alamat : Selly Oktarina, S.P, M.Si : 19781015200112 2001 : 08117102908 : Jl. Demang Lebar Daun, Kompleks Kijang Mas C8 Palembang, Sumsel 30137

Riwayat Pendidikan Tahun Lulus S-1 (2000) S-2 (2008) Perguruan Tinggi Universitas Sriwijaya (Unsri) Institut Pertanian Bogor (IPB) Bidang Spesialisasi Penyuluhan Komunikasi Pertanian Komunikasi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan

Pengalaman Kerja Ketua Peneliti di Fakultas Pertanian Unsri Staff Pengajar Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian FP Unsri Tahun 2001 sampai sekarang

Daftar Publikasi/Penelitian Ilmiah 5 Tahun Terakhir Faktor Penghambat dalam Pembinaan Kelompok Tani dan Pendapatan Usahatani Kacang Panjang di Desa Tanjung Seteko, Ogan Ilir (Jurnal KPM, Vol. 1 No. 2 Agustus 2004, ISSN: 1829-5053). Dinamika Kelompok Tani Peserta Sekolah Lapang Agribisnis (SL-A) dan Ketrampilannya dalam Pemeliharaan Jagung Pioner di Desa Inderalaya, Kecamatan Inderalaya, Ogan Ilir (Jurnal KPM, Vol. 1 No. 3 Desember 2004, ISSN: 1829-5053). Tingkat Partisipasi dalam Kegiatan Kelompok dan Pendapatan Usahatani Wanita Tani di Desa Embacang Kelekar, Kec. Gelumbang, Kab. Muara Enim (Jurnal AGRIA Vol. 1 No. 2 Februari 2005, ISSN: 1829-770x). Karakteristik Sosial Ekonomi dan Aktivitas Wanita Tani dalam Kegiatan Kelompok Tani Sumber Rejeki di Desa Embacang Kelekar, Kec. Gelumbang, Kab. Muara Enim (Majalah Sriwijaya, Vol. 39 No. 3 Desember 2004, ISSN: 1269-1680). Pemanfaatan Limbah Isi Rumen Api dan Sekam Padi Melalui Proses Fermentasi untuk Wirausahawan Baru di Kelurahan Gandus (Berita Sriwijaya, Vol. 1 No. 1 April 2005, ISSN: 1858-019x). Analisis Harga Pokok dan Tingkat Keuntungan Produk Olahan pada Perusahaan X Kecamatan Prabumulih Timur (Majalah MASA, No. 10 Tahun XI/2004, ISSN: 0854-5944). Keefektifan Komunikasi dalam Pengembangan Peran-Peran Kelembagaan Agropolitan : Kasus Kecamatan Pacet dan Cugenang Kabupaten Cianjur (Ketua).

Inderalaya, 2 Maret 2011

Selly Oktarina, S.P, M.Si NIP. 19781015200112 2001

Anda mungkin juga menyukai