Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM FISIOLOGI ENZIM DAN SALIVA

DISUSUN OLEH Nama NIM Kelompok : Welli Festi Selvano : 41 10 0049 :B

Hari/Tanggal : Jumat/ 20 Januari 2012 Assisten : dr. Yanti Ivanna

PROGRAM STUDI KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN DUTA WACANA YOGYAKARTA 2012

BAB II PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Katalisator mempercepat reaksi kimia, mengalami perubahan selama reaksi, tetapi berubah kembali kepada keadaan semula setelah reaksi-reaksi selesai. Enzim merupakan biokatalisator yang bekerja spesifik. Aktivitas katalis yang dimiliki enzim merupakan alat ukur yang selektif dan sensitif terhadap aktivitas enzim. Aktivitas enzim dapat diamati dari sisa substrat, pH, suhu, dan indikator. Aktivitas enzim dapat diamati dari sisa substrat atau produk yang terbentuk. Faktor yang mempengaruhi pengukuran aktivitas enzim antara lain konsentrasi enzim dan substrat, suhu, pH, dan indikator. Saliva merupakan hasil sekresi glandura salivariidari tubuh manusia yang berfungsi dalam membantu proses pencernaan. Saliva sendiri mengandung enzim amylase dan lipase.

2. Tujuan Praktikum

A. Pada Praktikum Enzim 1. Mengetahui keberadaan dan mekanisme kerja enzim 2. Mempelajari pengaruh suhu terhadap aktivitas enzim 3. Mempelajari pengaruh pH terhadap aktivitas enzim B. Pada Praktikum Saliva 1. Untuk mengetahui komposisi ludah 2. Untuk mengetahui pencernaan oleh ludah

BAB II DASAR TEORI A. Enzim Enzim adalah polimer biologis yang mengatalisis reaksi kimia yang memungkinkan berlangsungnya kehidupan. Keberadaan dan pemeliharaan enzim yang seimbang merupakan hal esensial untuk menguraikan nutrient menjadi energy dan bahan dasar kimiawi menjadi protein, DNA, membrane sel dan lain lain.Kekurangan jumlah enzim tertentu menyebabkan kelainan genetic, kekurangan gizi, atau toksin. (Harper, hal 53) Enzim dipengaruhi oeh suhu. Peningkatan suhu menyebabkan peningkatan laju baik reaksi yang dikatalisis maupun yang tidak, dengan meningkatkan energy kinetic dan frekuensi tumbukan molekul yang bereaksi.Panas meningkatkan energy kinetic enzim hingga suatu titik yang melebihi hambatan energy untuk merusak interaksi nonkovalen yang mempertahankan struktur tiga dimensi enzim. (Harper, hal 68) Rantai polipeptida mulai terurai atau mengalami denaturasi dan hilangnya kemampuan katalik. Enzim uga dipengaruhi konsentrasi ion hydrogen. Sebagian besar enzim intrasel aktivitas optimal pada pH 5 hingga 9. Hubungan aktivitas enzim dengan pH mencerminkan keseimbangan denaturasi enzim pada pH rendah atau tinggi dan efek pada keadaan bermuatan dari enzim, substrat, atau keduanya. (Harper, hal 69)

B. Saliva Kelenjar saliva yang utama adalah kelenjar parotis, submandibularis , dan sublingalis; selain itu juga ada beberapa kelenjar bukalis yang sangat kecil. Sekresi saliva normal harian berkisar 800-1500 mililiter. Saliva mengandung dua tipe sekresi protein yang urama: (1) sekresi serosa yang mengandung ptialin (suatu -amilase) , yang merupakan enzim

mencernakan karbohidrat, dan (2) sekresi mukus yang mengandung musin untuk tujuan pelumasan dan pelindungan permukaan. (Guyton dan Hall, 2008) Kelenjar parotis hampir seluruhnya menyekresi tipe serosa, sementara kelenjar submandibularis dan sublingualis menyekresi mukus dan serosa. Kelenjar bukalis hanya menyekresi mukus. Saliva mempunyai pH antara 6,0-7,0 suatu kisaran yang menguntungkan untuk pencernaan dari ptialin. (Guyton dan Hall, 2008)

Saliva dapat membantu proses digestif (pencernaan makanan) dengan mencerna polisakarida menjadi monosakarida dengan bantuan enzim amilase. Aksi lubrikasi yang terdapat dalam saliva memfasilitasi proses pengunyahan, formasi bolus makanan, menelan dan berbicara, juga melindungi permukaan mukosa yang lunak dari makanan yang keras. Aksi pembersih dari saliva menghilangkan sel epitel mulut deskuamasi, koloni bakteri dan debris makanan. (Guyton dan Hall, 2008) Saliva berperan penting bagi proses pengecapan. Saliva dapat melarutkan substansi pengecapan dari berbagai macam bentuk sifat fisik makanan baik padat maupun larutan. Substansi ini kemudian dibawa oleh saliva ke tempat sel reseptor pengecapan yang terdapat pada taste buds. (Guyton dan Hall, 2008) Komposisi saliva yang mengandung 99% air dibutuhkan untuk mencegah terjadinya kekeringan dalam rongga mulut terutama pada saat proses mastikasi dan berbicara. Cairan akan kembali normal dengan minum dan adanya cadangan dari cairan yang disimpan (Guyton dan Hall, 2008)

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Alat dan Bahan Enzim


1. Amilum 2 % 2. Saliva yang disaring 3. Tabung reaksi 4. Incubator/waterbath 5. Kertas saring 6. Bongkahan es 7. Iodium 8. Larutan HCl atau CaCl2 1 N 9. Pengaduk kaca

Saliva
1. Kertas lakmus 2. Asam cuka encer 3. HCl 1 N 4. NaOH 1 N 5. Larutan kalium oksalat 6. Larutan kanji 1% 7. Larutan yodium 8. Larutan Benedict 9. Kasa steril 10. Tabung reaksi 11. Gelas beker 12. Piring porselen 13. Penangas air 37 14. Penangas air mendidih 15. Akuades

Cara Kerja Enzim


Kasa steril dikunyah dengan tujuan merangsang keluarnya ludah. Ludah yang keluar dikumpulkan dan disaring dalam tabung reaksi yang tersedia. Dibuat 3 seri tabung reaksi (A,B,C), masing-masing seri terdiri dari 6 tabung.

3cc amilum matang dimasukkan dalam tabung no. 1, 2 dan 5, kemudian 3cc amilum segar dimasukkan dalam tabung no. 3, 4, dan 6

3cc H2 O ditambahkan ke dalam tabung no.2 dan 4, kemudian 3cc saliva saring ditambahkan dalam tabung no. 1, 3, 4, dan 5, kemudian 5 tetes iod ditambahkan ke dalam tabung no. 2, 4,5, dan 6

1 cc HCl ditambahkan ke dalam tabung no. 1 dan 3. Kemudian ke 4 tabung reaksi seri A diletakkan pada suhu kamar, 4 tabung seri B diletakkan dalam es dan 4 tabung seri C diletakkan dalam penangas air. Setiap 10 menit perubahan warna pada tabumg diamati

Saliva
Kasa steril dikunyah dengan tujuan merangsang keluarnya ludah. Ludah yang keluar dikumpulkan dan disaring dalam tabung reaksi yang tersedia. Ludah yang telah terkumpul diuji tingkat keasaman dan viskositasnya

2cc ludah dimasukkan dalam tabung kemudian 5 tetes asam cuka dimasukkan, kemudian diamati ada tidaknya endapan, dan diukur viskositasnya

1cc ludah dimasukkan dalam tabung kemudian 0.5 cc HCl dimasukkan, kemudian tabung dipanaskan dalam air mendididh selama 10 menit, kemudian diamati, kemudian NaOH 0.5 cc, kemudian ditambah benedict 5 cc dan dipanai di Bunsen perubahan warna diamati.

10 cc kanji (amilum segar) dimasukkan dalam tabung, ditambahkan 4cc ludah, kemudian ditunggu selama 3 menit. Campuran kanji dan ludah diambil 0.5 cc kemudian ditambah 5 cc benedict dicampur, dipanaskan dan diamati

1cc dari campuran sebelumnya dimasukkan dalam tabung, ditambahkan 1 tetes iod warna diamati dan ditunggu sampai pudar. Kemudian campuran ludah dan kanji diambil 2.5 cc ditambah benedict, dipanaskan dengan Bunsen kemudian diamati.

BAB IV DATA DAN PEMBAHASAN A. Percobaan Enzim Perubahan warna yang terjadi pada Warna Awal Tabung SK I II III Biru Tua Biru gelap Abu abu Es Biru Tua Biru Tua Ungu PA Biru Tua Biru Tua Abu abu A Biru Biru Abu abu B Biru tua Biru tua Coklat muda IV V Ungu Ungu Ungu Ungu Ungu Keruh Ungu Bening Ungu Ungu jernih VI Bening Pink Bening Agak keruh jernih Ungu Lebih bening bening C kehitaman Biru tua Abu bening Warna Akhir

SK = Suhu kamar PA = penangas Air Waktu terjadi perubahan warna

Tabung 0 I II III IV V VI BT BT AG UM U BK Keterangan y 10 B AM BK -

A 20 BC 30 0 BT BT U U U PB 10 C UM J

B 20 30 CM 0 BT BT A UM K KK 10 -

C 20 1 3 5 6 30 2 4 -

-: tidak terjadi perubahan warna BT = Biru tua U = Ungu B = Biru C = Coklat CM = Coklat Muda KK = Kuning Keruh 1= lebih tua 2 = menjadi kehitaman 3 = ada endapan hijau, lebih bening 4 = lebih bening 5 = lebih bening 6 = ada endapan AG = Abu Gelap BK = Bening Keruh BC = Biru agak Cerah UM = Ungu Muda A = Abu UM = Ungu Muda AM = Abu Muda PB = Pink Bening J = Jernih

K = Keruh

B. Percobaan Saliva 1. Tingkat keasaman ludah (pH): basa Viskositas ludah: encer 2. Presipitasi: ada, viskositas :lebih encer 3. Perubahan warna yang terjadi: Warna mula-mula Warna akhir : putih : biru

4. Reaksi yodium dengan ludah-kanji menjadi negatif sesudah 3 menit

Perubahan warna yang terjadi (reaksi Benedict) a. Warna mula-mula : biru Warna akhir : biru

b. Warna mula-mula : biru Warna akhir : biru

5. Reaksi yodium dengan ludah-kanji menjadi negatif Perubahan warna yang terjadi (reaksi Benedict) a. Warna mula-mula : biru Warna akhir : hijau biru

b. Warna mula-mula : hijau biru Warna akhir : biru

Perubahan yang terjadi: tidak ada endapan

C. PEMBAHASAN Enzim -Amylase yang bekerja spesifik di dalam mulut, enzim ini terdapat bersama dengan air liur (saliva), enzim -Amylase berperan dalam melakukan hidrolisis awal

makanan terutama yang mengandung pati. Dalam praktikum ini.kita dapat melihat reaksi dari enzim amylase yang terdapat dalam saliva. Perlu diketahui kerja dari enzim amylase adalah mengubah pati menjadi glukosa. Prinsip percobaan ini adalah terbentuknya warna biru tua antara amilum dan dengan yodium. Amilum setelah dihidrolisis oleh enzim -Amylase secara berturut turut akan

membentuk dekstrin dan oligosakarida dengan masing-masing tingkat kemampuan yodium yang berbeda-beda. amilodekstrin dengan yodium membentuk warna biru. Eritodekstrin dengan yodium membentuk warna merah. Akrodekstrin dan maltosa tidak berwarna. Dalam praktikum terlihat bahwa kerja enzim sangat dipengaruhi oleh tingkat keasaman dan suhu. Terlihat dari perubahan warna yang terjadi pada isi tabung percobaan enzim di berbagai suhu berbeda. Terutama pada tabung no 5 dimana perlakuan yang diberikan adalah penambahan saliva dan amilum segar tanpa tambahan zat lain yang dapat mengganggu kerja enzim amylase( asam/basa) yang berbeda hanyalah suhu pada seri tabung A,B, dan C. namun setelah dilihat kembali pada hasil akhir dari percobaan. Warna dari semua tabung percobaan no 5, terjadi perubhan warna yang signifikan. Yang dapat diamati adalah suhu memengaruhi kecepatan kerja enzim. Dimana dapat dilihat pada tabung no 5 seri A pada 10 menit pertama, telah mengalami perubahan warna dari ungu menjadi bening keruh, sementara pada seri C