Anda di halaman 1dari 4

Patomekanisme  Keluhan: - keluar darah dari jalan lahir sedikit- sedikit yang dialami terutama setelah berhubungan dengan

suami - sebelumnya juga sering mengalami keputihan yang berbau  Pemeriksaan Fisik: - Vaginal discharge yang berbau - Perdarahan vagina abnormal - Perdarahan post coital - Serviks yang teraba kaku dan membesar  Proses pertumbuhan sel kanker

Pada umumnya tumor mulai tumbuh dari satu sel di suatu tempat (unisentrik), tetapi kadang tumor berasal dari beberapa organ (multisentrik) atau dari beberapa sel dalam suatu organ (multiokuler), pada waktu bersamaan (sinkron) atau berbeda (metakron). Selama pertumbuhan tumor disebut dalam fase local.

Akan tetapi bila telah terjadi infiltrasi ke organ sebkitarnya, tumor telah mencapai fase local invasive, atau local infiltrative. Penyebaran ini local ini disebut penyebaran per kontuitatum karena masih berhubungan langsung dengan tumor induknya. Untuk mengukur kecepatan pertumbuhan tumor dipakai parameter waktu ganda atau doubling time . Waktu ganda ialah waktu yang diperlukan oleh tumor untuk mencapai volume menjadi 2 kali semula. Makin pendek waktu ganda berarti makin cepat juga pertumbuhannya dan pada umumnya makin ganas tumor tersebut. Pathogenesis tumor ganas merupakan proses yang biasanya makan waktu lama sekali, pada tahap awal terjadi inisiasi karena ada inisiator yang memulai pertumbuhan sel yang abnormal. Inisiator ini dibawa oleh zat karsinogenik. Inisiasi dapat berlangsung selama puluhan tahun sebelum timbul gejala atau tanda penyakit. Sebelumnya stelah inisiasi, terjadi promosi yang dipicu oleh promoter sehingga terbentuk sel-sel polimorfis dan anaplastik. Pembawa promote mungkin merupakan karsinogen yang sama dengan pembawa inisiator, tetapi terkadang juga berbeda. Selanjutnya terjadi progresi yang ditandai dengan invasi sel- sel ganas ke membrane basalis atau kapsel. Semua proses ini terjadi pada tahap induksi tumor. Berbagai karsinogen yang menjadi inisiator yang berperan dalam karsinogenesis berbagai tumor gganas. Inisiator berperan dalam karsinogenesis berbagai tumor ganas. Inisiator, Promotor (onkologik) no Bahan karsinogen 1 Racun dalalam asap rokok 2 Kelebihan kalori 3 Kelebihan lemak hewani 4 asbes 5 alkohol Infiltrasi dan diseminasi Setelah sel mengalami transformasi sampai menunjukkan morfologi dan sifat biologi yang ganas dan khas, akhirnya tercapai tahap klinis dengan manifestasi dini berupa karsinoma in situ yang tidak (atau belum) invasive. Selanjutnya tumor berkembang menjadi menjadi karsinoma infiltrative yang dapat menyebabkan penyebaran kemana- mana. Penderita baru ada karsinoma tahap akhir setelah terjadi gejala atau tanda penyakit ganas ini. Penyebaran tumor ganas Kanker dapat menyebar perkontituitatum, limfogen, hematogen, melalui implantasi transluminal atau didalam rongga tubuh, dan secara iatrogenic. Penyebaran perkontituitatum terjadi karena sel atau jaringan kanker menyusup keluar dari organ tempat tumor induknya, kemudian menginfiltrasi organ atau jaringan di sekitarnya, artinya penyusupan langsung dari organ asalnya masuk kedalam organ atau struktur disampingnya.

Keganasan Paru, vesika urinaria Semua Prostat, kolon, payudara, uterus Pleura, paru Mulut, faring, esophagus, hepar

Penyebaran limfogen terjadi karena sel kanker menyusup ke saluran limfe , kemudian ikut aliran limfe menyebar ddan menimbulkan metastasis di kelenjar limfe regional. Ini disebut penyebaran regional. Pada umumnya kanker mula- mula menyebar dengan cara ini, kemudian menyebar dengan cara hematogen. Pada mulanya penyebaran hanya terjadi pada kelenjar limfe saja, tetapiselanjutnya terjadi pada kelenjar limfe, regional lainnya. Setelah menginfiltrasikan kelenjar limfe, sel kanker dapat menembus dinding struktur sekitar menimbulkan perlekatan kelenjar limfe satu dengan yang lain sehingga membentuk paket kelenjar limfe. Penyebaran hematogen terjai akibat sel kanker menyusup ke kapiler darah kemudian masuk ke pembuluh darah dan menyebar mengikuti aliran darah vena sampai ke organ lain. Bila organ itu ideal untuk hidupnya, sel kanker lalu tumbuh disana menjadi tumor baru yang merupakan anak sebar yang letaknya jauh dari tumor primer. Letak metastasis jauh itu dapat dimana saja dalam tubuh. Pada umumnya sarcoma menyebar denga cara ini. Penyebaran hematogen dapat terjadi melalui system v. cava, system v. porta atau system v. pulmonalis dan sering menhiggapi hati, paru, pleura. Peritoneum, ovarium, omentum, tulang, kulit, otak, sumsum tulang dan kelenjar limfe. Penyebaran transluminal terjadi dalam dinding saluran suatu system seperti saluran napas, saluran cerna, dan saluran kemih. Sel lepas kedalam lumen kemudian tertanam di satu atau beberapa tempat. Implantasi sel kanker juga dapat terjadi di dalam rongga tubuh. Kanker telah menyusup ke lapisan serosa dapat melepaskan selnya kedalam rongga tubuh, misalnya pleura atau peritoneum, lalu disebar dan menimbulkan metastasis di tempat lain. Penyebaran iatrogenic aadalah penyebaran yang terjadi akibat tindakan medis. Misalnya karena masase, palpasi kasar, atau tindakan dalam operasi, sel kanker lepas dari tempatnya, kemudian menyebar dan menimbulkan metastasis. Penyebaran iatrogen juga mungkin terjadi akibat kontaminasi lapangan operasi yang menimbulkan residif setempat. Penjelasan bagan - Perdarahan yang terjadi sesudah berhubungan/ postcoital bleeding Terjadi karena, sel- sel neoplasma melakukan mitosis tetapi sel- sel tersebut belum imatur karena maturasi terganggu sehingga sel mudah sangat mudah hancur. Jadi ketika terjadi gesekkan dengan penis saat coitus, maka sel sel tersebut bisa dengan mudah hancur, sehingga pembuluh darah pun ikut terbuka dan menyebabkan pendarahan Keputihan berbau/ Leukorea Terjadi saat sel- sel neoplasma yang tidak cukup mendapatkan asupan nutrisi dari pembuluh darah sel neoplasma sendiri, tetapi angiogenesis tidak terbentuk dengan baik sehingga pasokan nutrisi terhadap sel- sel neoplasma tersebut tidak teratur sehingga bisa

menyebabkan nekrosis/ kematian sel. Sel- sel yang mati tersebut akan lepas dan terbawa bersama lendir keputihan. Referensi: Buku Ajar Ilmu Bedah, Ed. 2. R. Sjamsuhidajat & Wim de Jong. Jakarta: EGC, 2004.