Anda di halaman 1dari 26

ROMANTIKA MERAJUT CINTA SEJATI (bag.

1)
0 Comments | Posted by admin in Artikel Pernikahan merupakan ladang subur untuk meraup keberkahan dalam hidup dan kecukupan dalam materi, maka tidak ada alasan bagi siapapun baik lelaki atau wanita untuk menunda-nunda pernikahan, apalagi menolak jodoh yang sudah cocok dari sisi agama dan akhlak, seperti yang telah ditegaskan Rasulullah Shallallohu Alaihi Wasalam dalam sabdanya: Jika ada seorang laki-laki datang kepadamu yang telah kalian ridhai agama dan akhlaknya maka nikahkanlah dan jika tidak kamu lakukan maka akan terjadi fitnah dan kerusakan. (H.R Tirmidzi dengan sanad yang hasan). Segera menikah terutama bagi wanita sangat bagus, untuk menjaga kehormatan dan kesucian diri. Jangan menunda-nunda pernikahan hanya karena alasan studi, kerja atau karier sebab menikah merupakan sumber kebahagian dan ketenangan hidup yang bisa mengganti kenikmatan belajar, kerja atau karier sedang nikmatnya pernikahan tidak bisa diganti dengan nikmatnya belajar, kerja atau karier meskipun sampai pada puncak kesuksesan. Pernikahan sebagai wahana untuk melestarikan keturunan paling aman, mendidik generasi umat paling manfaat, menyempurnakan agama paling tepat, menyalurkan syahwat paling sehat, memupuk cinta dan kasih sayang paling mantap, dan menjaga diri dari perkara yang diharamkan sesuai dengan fitrah manusia. Pernikahan juga menjadi faktor utama meraih ketenangan hati dan ketentraman batin sehingga masing-masing pasangan meraih kesempurnaan dalam beribadah, kesuksesan dalam mencari ilmu dan keberhasilan dalam berkarya. Dari Anas bin Malik bahwasannya Rasulullah Shallallohu Alaihi Wasalam bersabda: Barangsiapa yang telah dikaruniai isteri yang salihah maka Allah telah membantu separuh agamanya maka hendaklah bertakwa kepada Allah dalam separuh agama yang lainnya. (H.R Hakim dan beliau menyatakan sahih dan disetujui oleh Adz Dzahabi). Pernikahan merupakan kerangka dasar bagi bangunan masyarakat muslim dan tiang pancang penyangga bagi bangunan hidup bersosial dan bernegara maka sangatlah pantas bila seluruh anggota masyarakat menyambut gembira dengan memberi ucapan selamat dan doa keberkahan yang diliputi rasa gembira dan bersuka ria. Akan tetapi harus tetap berada diatas koridor dan etika Islam agar proses pendirian bangunan itu tetap terarah dan tegak dengan benar sehingga bisa terwujud masyarakat madani dan islami dengan baik. Saatnya Memupuk Cinta Rasa kasih sayang dan ketentraman yang tumbuh di dalam hati suami dan isteri merupakan bagian dari nikmat Allah Subhanahu Wataala atas semua hamba-Nya. Dengan bantuan isteri

seorang suami mampu mengatasi berbagai macam problem dan kesulitan dalam menunaikan berbagai tugas maupun beban berat pekerjaan, hati terhibur pada saat-saat dirundung berbagai musibah dan penderitaan, dan seorang isteri mampu membantu suami dalam beramal salih, beraksi sosial dan menolong orang-orang lemah. Begitu juga suami menjadi pelindung, pengayom, dan pembina bagi isterinya, serta memberikan hak-haknya secara sempurna. Telah ada contoh baik pada diri Ummul Mukminin, Khadijah Radhiyallohu anha ketika pertama kali turun wahyu kepada Rasulullah Shallallohu Alaihi Wasalam maka ibunda Khadijah Radhiyallohu anha menghiburnya ketika beliau berkata kepadanya: Sungguh aku khawatir terhadap diriku sendiri. Maka Khadijah Radhiyallohu anha berkata: Sekali-kali tidak, demi Allah, Allah tidak akan membuatmu terhina selamanya. Sungguh engkau orang yang senang menyambung silaturrahim, suka menolong, senang membantu orang dalam kesulitan, menghormati tamu dan membela pihak yang benar.[1] Meraih Kesalihan Pasutri Dengan Ilmu Bermanfaat Semua pasangan baik suami dan isteri harus mengenal Allah Subhanahu Wataala secara baik dalam hatinya, sehingga merasa dekat dan akrab pada saat sedang bermunajat. Dia merasa manisnya berdzikir, berdoa, bermunajat dan berkhidmah kepada Allah Subhanahu Wataala. Tidak ada yang bisa mendapatkan itu kecuali orang yang telah memiliki ilmu pengetahuan yang cukup tentang agama dan diwujudkan dalam realita ketaatan kepada Allah Subhanahu Wataala dalam keadaan sepi maupun ramai. Bila suami atau isteri telah merasakan cinta, takut dan berharap hanya kepada Allah Subhanahu Wataala maka dia telah mengenal tuhannya dengan baik dan pengenalan secara khusus sehingga bila meminta akan diberi dan bila memohon akan dikabulkan. Seorang hamba pasti akan mengalami kesulitan dan kesedihan baik di dunia, di alam kubur maupun di padang makhsyar, jika dia memiliki ilmu dan marifat yang mampu mengenal Allah Subhanahu Wataala secara baik maka semua itu akan menjadi ringan dan Allah Subhanahu Wataala mencukupinya. Sesungguhnya ilmu yang bermanfaat hanyalah ilmu yang bersumber dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallohu Alaihi Wasalam serta Ijma para shahabat seperti yang telah ditegaskan Imam adz-Dzahabi: Kami memohon kepada Allah Subhanahu Wataala ilmu yang bermanfaat, tahukah kamu apakah yang dimaksud dengan ilmu bermanfaat, yaitu ilmu yang datang dari alQuran dan dijelaskan Rasulullah Shallallohu Alaihi Wasalam melalui ucapan dan perbuatannya serta tidak ada dalil yang melarang untuk mempelajarinya.[2] Dan ilmu yang bermanfaat hanyalah ilmu yang mampu mengenalkan seseorang kepada Allah Subhanahu Wataala secara benar dan ilmu yang mampu menunjukkan seorang hamba hingga dekat dengan Tuhannya sehingga merasa akrab dan beribadah seakan-akan melihatnya. Imam Ahmad berkata tentang kebaikan: Sumber ilmu adalah takut kepada Allah Subhanahu Wataala.[3]

Asal ilmu adalah ilmu tentang Allah Subhanahu Wataala yang mampu menumbuhkan Khasyah, kecintaan, kedekatan dan keakraban dengan Allah Subhanahu Wataala serta kerinduan kepadaNya kemudian ilmu tentang hukum-hukum Allah Subhanahu Wataala yang berhubungan dengan apa-apa yang disenangi dan diridhai Allah Subhanahu Wataala baik berupa ucapan, perbuatan, tindakan dan keyakinan. [1] . Shahih Bukhari, 1/ 3 dan ar-Rahiqul Makhtum, Mubarak Fury, Hl. 63. [2] . Siyar Alamin Nubala, 19/340. [3] . Fadhlu Ilmis Salaf, Ibnu Rajab, Hl. 52. Dakwah Makmur, Rumah Tangga Mujur Persoalan rumah tangga dan cara menghidupkan dakwah serta usaha untuk memperbaiki keluarga merupakan masalah yang sangat penting dan urgen karena rumah adalah wahana utama pendidikan dan bangunan utama untuk membentuk sebuah masyakarat yang madani. Nikmat Allah Subhanahu Wataala yang paling agung yang dikarunikan kepada hamba-Nya adalah nikmat hidayah kepada agama hanif dan sampai kepada jalan yang lurus sehingga nanti di hari kiamat meraih kemuliaan dan surga yang penuh dengan kenikmatan. Di antara ayat yang menjelaskan tentang agungnya karunia hidayah dan demikian hanya taufik dari Allah Subhanahu Wataala sebagaimana yang telah dikisahkan Allah Subhanahu Wataala tentang orang-orang mukmin yang mengakui keanggungan nikmat tersebut. Allah Subhanahu Wataala berfirman yang artinya : Dan Kami cabut segala macam dendam yang berada di dalam dada mereka; mengalir di bawah mereka sungai-sungai dan mereka berkata: Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk. Sesungguhnya telah datang rasul-rasul tuhan kami, membawa kebenaran. Dan dan diserukan kepada mereka: Itulah surga yang diwariskan kepadamu, disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan. (Al Araaf 43)

Imam Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat ini menukil sebuah hadits dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Shallallohu Alaihi Wasalam bersabda: Setiap penghuni surga menyaksikan tempatnya di neraka lalu berkata: Jikalau Allah tidak memberi hidayah kepada kami niscaya kami akan celaka maka bagi-Nya syukur. Hidayah memiliki peran penting dan kedudukan agung dan tidak ada yang mampu menghargai nilai hidayah kecuali orang yang telah merasakannya dan tidak ada yang mengetahui cahaya hidayah kecuali orang yang telah mencicipi pahitnya kesesatan. Apalagi ketika mereka melihat orang-orang yang tersesat dan tidak meraih taufik kepada jalan yang lurus sehingga mereka merugi di hari kiamat dan masing-masing mengungkapkan penyesalan mereka sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu Wataala berfirman (yang artinya) : Kalau sekiranya Allah memberi petunjuk kepadaku tentulah aku termasuk orang-orang yang bertakwa. (Az Zumar :57).

Ketika Cinta Mulia Bersemi


Islam merupakan dien yang Agung yang menempatkan segala sesuatu itu pada tempatnya. Rasa cinta bagaikan pohon di dalam hati yang akarnya berupa kepatuhan kepada sang Khalik, batangnya adalah marifat kepadaNya dan cabangnya adalah rasa takut kepada-Nya. Daun-daunnya adalah rasa malu terhadap-Nya dan buahnya adalah ketaatan kepada-Nya, pupuknya selalu ingat kepada-Nya. Kecintaan yang tidak memiliki faktorfaktor tersebut berarti cintanya tidak sempurna. Barangsiapa yang mampu mencintai Allah Subhanahu Wataala

berdasarkan ilmu maka ia akan mendapatkan hati yang khusyuk, jiwa yang qanaah dan doa yang didengar. Dan siapapun yang tidak bisa mencintai

Allah Subhanahu Wataala maka ia terjerat dengan empat perkara dan Rasulullah Shallallohu Alaihi Wasalam telah memohon perlindungan darinya yaitu ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyu, jiwa yang tidak pernah merasa puas dan doa yang tidak dikabulkan. Sehingga ilmunya menjadi malapetaka dan racun bagi dirinya dan ia tidak mengambil manfaat dari ilmunya karena hatinya semakin jauh dari Allah Subhanahu Wataala, jiwa bertambah kering dan tamak bahkan semakin bertambah tamak. Akhirnya doanya tidak didengar akibat pelanggaran terhadap perintah Allah Subhanahu Wataala dan tidak menjauhi apa-apa yang dibenci dan dimurkai oleh Allah Subhanahu Wataala. Allah Subhanahu Wataala menjelaskan tentang diri-Nya sendiri

bahwasannya Dia mencintai hambanya yang beriman dan merekapun mencintai-Nya dengan kecintaan yang amat sangat. Dia pun menjelaskan bahwa diri-Nya adalah al-Waddud yang maksudnya adalah mencintai dengan tulus, Al Bukhari berkata al-Wuddud artinya kecintaan yang murni dan Dia mencintai hamba-Nya yang beriman dan mereka juga mencintai-Nya dengan tulus. Imam Bukhari meriwayatkan dalam kitab shahihnya dari Anas bin Malik bahwasannya Rasulullah Shallallohu Alaihi Wasalam bersabda: Barangsiapa mengejek waliKu berarti ia telah mengumumkan

peperangan terhadapKu. HambaKu akan senantiasa mendekat kepadaKu dengan berbagai kewajiban yang diwajibkan atasnya dan senantiasa mendekat kepada Ku dengan amalan sunnah hingga aku mencintainya maka Aku akan menjadi pendengaran yang dipakainya untuk mendengar, penglihatan yang digunakan untuk melihat, tangan yang digunakan untuk memukul, kaki yang digunakannya untuk melangkah. DenganKu ia mendengar, denganKu ia melihat, denganKu ia memukul dan denganKu pula ia melangkah. Apa bila ia meminta niscaya akan aku beri. Apabila memohon perlindungan niscaya Aku lindungi . Aku sama sekali tidak ragu

melakukannya, sebagaimana keraguanKu untuk mencabut nyawa seorang hambaKu yang beriman yang tidak suka menyakitinya, sedangkan kematiannya sudah merupakan suatu keharusan.. Barangsiapa yang ingin bercinta secara benar dan sejati sehingga taman surga bisa diraih dan kebahagian abadi mampu didapat maka hendaklah mencoba mewarnai kehidupan dengan cinta yang murni dan sejati, yaitu mencintai pasangan hidup karena Allah Subhanahu Wataala dan Rasul-Nya, hamba kekasih Rab Yang Maha Pengasih. Tafsir Ibnu Katsir-Abi Al fida Ismail bin Katsir- 188, Ibnu Katsir berkata dari Hadits Riwayat An Nasai dan Ibnu Mardaweh dan lafadz dari beliau. Dan hadits di atas dihasankan Albani di dalam shahih jami 4514. No tags

posted in Munakahat & Keluarga | Share Oleh: Abu Khaulah Zainal Abidin (Seandainya ALLAH Subhaanahu wa taalaa panjangkan umurku dan memberikan kesempatan kepadaku menyaksikan pernikahan putriku tercinta, kira-kira seperti inilah yang ingin aku sampaikan): , , , , , , , , . { } } { } , { ,

Anak-anakku.., Hari ini akan menjadi satu di antara hari-hari yang paling bersejarah di dalam kehidupan kalian berdua. Sebentar lagi kalian akan menjadi sepasang suami-isteri, yang darinya kelak akan lahir anak-anak yang sholeh dan sholehah, dan kalian akan menjadi seorang bapak dan seorang ibu, untuk kemudian menjadi seorang kakek dan seorang nenek, insya . Rentang perjalanan hidup manusia yang begitu panjang sesungguhnya singkat saja. Begitu pulaliku-liku dan pernik-pernik kerumitan hidup sesungguhnya jugalah sederhana. Kita semua.. diciptakan ALLAH Subhaanahu wa taalaa tidak lain untuk beribadah kepada NYA. Maka, jika kita semua berharap kelak dapat berjumpa dengan ALLAH Subhaanahu wa taalaa dalam keadaan IA ridlo kepada kita, hendaklah kita jadikan segala tindakan kita semata-mata di dalam rangka mencari keridloan-NYA dan menyelaraskan diri kepada Sunnah Nabi-NYA Yang Mulia -Shallallahu alaihi wa sallam . (Maka barangsiapa merindukan akan perjumpaannya dengan robb-nya, hendaknya ia beramal dengan amalan yang sholeh, serta tidak menyekutukan dengan sesuatu apapun di dalam peribadatahan kepada robb-nya.) Begitu pula pernikahan ini, ijab-qabulnya, adanya wali dan dua orang saksi, termasuk hadirnya kita semua memenuhi undangan iniadalah ibadah, yang tidak luput dari keharusan untuk sesuai dengan syariat ALLAH Subhaanahu wa taalaa. Oleh karena itu, kepada calon suami anakku Saya ingatkan, bahwa wanita itu dinikahi karena empat alasan, sebagaimana sabda Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam: : : Wanita dinikahi karena empat alasan. Hartanya, keturunannya, kecantikannya,atau agamanya. Pilihlah karena agamanya, niscaya selamatlah engkau. (HR:Muslim) Maka ambilah nanti putriku sebagai isteri sekaligus sebagai amanah yang kelak kamu dituntut bertanggung jawab atasnya. Dengannya dan bersamanya lah kamu beribadah kepada ALLAH Subhaanahu wa taalaa, di dalam sukadi dalam duka. Gaulilah ia secara baik, sesuai dengan yang diharuskan menurut syariat ALLAH. Terimalah ia sepenuh hati, kelebihan dan kekurangannya, karena ALLAH Subhaanahu wa taalaa telah memerintahkan demikian:

(Dan gaulilah isteri-isterimu dengan cara yang maruf. Maka seandainya kalian membenci mereka, karena boleh jadi ada sesuatu yang kalian tidak sukai dari mereka, sedangkan ALLAH menjadikan padanya banyak kebaikan.) (An-Nisaa:19) Dan ingatlah pula wasiat Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-: (Pergaulilah isteri-isteri dengan baik. Karena sesungguhnya mereka itu mitra hidup kalian) Dan perlakuanmu terhadap isterimu ini menjadi cermin kadar keimananmu, sebagaimana Sabda Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-; ) ( (Mumin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaqnya. Dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap isterinya) Dan kamu sebagai laki-laki adalah pemimpin di dalam rumah tangga. (Lelaki itu pemimpin bagi wanita disebabkan ALLAH telah melebihkan yang satu dari yang lainnya dan disebabkan para lelaki yang memberi nafkah dengan hartanya.) (An-Nisaa: 34) Maka agar kamu dapat memimpin rumah tanggamu, penuhilah syarat-syaratnya, berupa kemampuan untuk menafkahi, mengajari, dan mengayomi. Raihlah kewibawaan agar isterimu patuh di bawah pimpinanmu. Jadilah suami yang bertanggungjawab, arif dan lemah lembut , sehingga isterimu merasa hangat dan tentram di sisimu. Berusahalah sekuat tenaga menjadi teladan yang baik baginya, sehingga ia bangga bersuamikan kamu. Ya, inilah saatnya untuk membuktikan bahwa kamu laki-laki sejati, laki-laki yang bukan hanya lahirnya. Kepada putriku Saya ingatkan kepadamu akan sabda Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- : : :- . Jika datang kepadamu (-wahai para orang tua anak gadis-) seorang pemuda yang kau sukai akhlaq dan agamanya, maka nikahkanlah ia. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah dan menyebarnya kerusakan di muka bumi. (HR: Ibnu Majah)

Dan semoga -tentunya- calon suamimu datang dan diterima karena agama dan akhlaqnya, bukan karena yang lain. Maka hendaknya kau luruskan pula niatmu. Sambutlah dia sebagai suami sekaligus pemimpinmu. Jadikanlah perkawinanmu ini sebagai wasilah ibadahmu kepada ALLAH Subhaanahu wa taalaa. Camkanlah sabda Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-: ) 1 ( (Seandainya aku boleh memerintahkan manusia untuk sujud kepada sesamanya, sungguh sudah aku perintahkan sang isteri sujud kepada suaminya.) Karenanya sekali lagi saya nasihatkan , wahai putriku Terima dan sambutlah suamimu ini dengan sepenuh cinta dan ketaatan. Layani ia dengan kehangatanmu Manjakan ia dengan kelincahan dan kecerdasanmu Bantulah ia dengan kesabaran dan doamu Hiburlah ia dengan nasihat-nasihatmu Bangkitkan ia dengan keceriaan dan kelembutanmu Tutuplah kekurangannya dengan mulianya akhlaqmu Manakala telah kamu lakukan itu semua, tak ada gelar yang lebih tepat disandangkan padamu selain Al Maratush-Shalihah, yaitu sebaik-baik perhiasan dunia. Sebagaimana Sabda Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-: ( ) (Dunia tak lain adalah perhiasan. Dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang sholihah.) Inilah satu kebahagiaan hakiki -bukan khayali- yang diidam-idamkan oleh setiap wanita beriman. Maka bersyukurlah, sekali lagi bersyukurlah kamu untuk semua itu, karena tidak semua wanita memperoleh kesempatan sedemikian berharga. Kesempatan menjadi seorang isteri, menjadi seorang ibu. Terlebih lagi, adanya kesempatan, diundang masuk ke dalam surga dari pintu mana saja yang kamu kehendaki. Yang demikian ini mungkin bagimu selagi kamu melaksanakan sholat wajib lima waktu -cukup yang lima waktu-, puasa -juga cukup yang wajib- di bulan Ramadhan, menjaga kemaluan -termasuk menutup aurat- , dan taat kepada suami. Cukup, cukup itu. Sebagaimana sabda Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-:

( : ) (Jika seorang isteri telah sholat yang lima, puasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya, dan taat kepada suaminya. Dikatakan kapadanya: Silahkan masuk ke dalam Surga dari pintu mana saja yang engkau mau.) Anak-anakku, Melalui rangkaian ayat-ayat suci Al Quran dan Hadits-Hadits Nabi Yang Mulia, kami semua yang hadir di sini mengantarkan kalian berdua memasuki gerbang kehidupan yang baru, bersiapsiap meninggalkan ruang tunggu, dan mengakhiri masa penantian kalian yang lama. Kami semua hanya dapat mengantar kalian hingga di dermaga. Untuk selanjutnya, bahtera rumah-tangga kalian akan mengarungi samudra kehidupan, yang tentunya tak sepi dari ombak, bahkan mungkin badai. Karena itu, jangan tinggalkan jalan ketaqwaan. Karena hanya dengan ketaqwaan saja ALLAH Subhaanahu wa taalaa akan mudahkan segala urusan kalian, mengeluarkan kalian dari kesulitan-kesulitan, bahkan mengaruniai kalian rizki. * (Dan barang siapa yang bertaqwa kepada ALLAH, niscaya ALLAH akan berikan bagi nya jalan keluar dan mengaruniai rizki dari sisi yang tak terduga.) (Dan barang siapa yang bertaqwa kepada ALLAH, niscaya ALLAH akan mudahkan urusannya.) Bersyukurlah kalian berdua akan nimat ini semua. ALLAH Subhaanahu wa taalaa telah mengarunia kalian separuh dari agama ini, ALLAH Subhaanahu wa taalaa telah mengarunia kalian kesempatan untuk menjalankan syariat-NYA yang mulia, ALLAH Subhaanahu wa taalaa juga telah mengaruniai kalian kesempatan untuk mencintai dan dicintai dengan jalan yang suci dan terhormat. Ketahuilah, bahwa pernikahan ini menyebabkan kalian harus lebih berbagi. Orang tua kalian bertambah, saudara kalian bertambah, bahkan sahabat-sahabat kalian pun bertambah, yang kesemua itu tentu memperpanjang tali silaturahmi, memperlebar tempat berpijak, memperluas pandangan, dan memperjauh daya pendengaran. Bukan saja semakin banyak yang perlu kalian atur dan perhatikan, sebaliknya semakin banyak pula yang akan ikut mengatur dan memperhatikan kalian. Maka, barang siapa yang tidak kokoh sebagai pribadi dia akan semakin gamang menghadapi kehidupannya yang baru. Ketahuilah, bahwa anak-anak yang sholeh dan sholehah yang kalian idam-idamkan itu sulit lahir dan tumbuh kecuali di dalam rumah tangga yang sakinah penuh cinta dan kasih sayang. Dan tentunya tak akan tercipta rumah-tangga yang sakinah, kecuali dibangun oleh suami yang sholeh dan isteri yang sholehah.

Akan tetapi, wahai anak-anakku, jangan takut menatap masa depan dan memikul tanggung jawab ini semua. Jangan bersedih dan berkecil hati jika kalian menganggap bekal yang kalian miliki sekarang ini masih sangat kurang. ALLAH Subhaanahu wa taalaa berfirman: (Artinya: Dan janganlah berkecil hati juga jangan bersedih. Padahal kalian adalah orangorang yang mulia seandainya sungguh-sungguh beriman.) (Ali Imran: 139) Ya, selama masih ada iman di dalam dada segalanya akan menjadi mudah bagi kalian. Bukankah dengan pernikahan ini kalian bisa saling tolong-menolong di dalam kebajikan dan taqwa. Bukankah dengan pernikahan ini kalian bisa saling menutupi kelemahan dan kekurangan masing-masing. Bersungguh-sungguhlah untuk itu, untuk meraih segala kebaikan yang ALLAH Subhaanahu wa taalaa sediakan melalui pernikahan ini. Jangan lupa untuk senantiasa memohon pertolongan kepada ALLAH. kemudian jangan merasa tak mampu atau pesimis. Jangan, jangan kalian awali kehidupan rumah tangga ini dengan perasaan lemah ! . (Bersungguh-sungguhlah kepada yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada ALLAH, dan jangan merasa lemah!) (HR: Ibnu Majah) Terakhir, ingatlah bahwa nikah merupakan Sunnah Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-, sebagaimana sabdanya: (Nikah itu merupakan bagian dari Sunnahku. Maka barang siapa berpaling dari Sunnahku, ia bukanlah bagian dari umatku.) Maka janganlah justru melalui pernikahan ini atau setelah aqad ini kalian justru meninggalkan Sunnah untuk kemudian bergelimang di dalam berbagai bidah dan kemashiyatan. Kepada besanku Terimalah masing-masing mereka sebagai tambahan anak bagi kita. Malumilah kekurangankekurangannya, karena mereka memang masih muda. Bimbinglah mereka, karena inilah saatnya mereka memasuki kehidupan yang sesungguhnya. Wajar, sebagaimana seorang anak bayi yang sedang belajar berdiri dan berjalan, tentu pernah mengalami jatuh untuk kemudian bangkit dan mencoba kembali. Maka bantulah mereka sampai benar-benar kokoh untuk berdiri dan berjalan sendiri. Bantu dan bimbing mereka, tetapi jangan mengatur. Biarkan.., Karena sepenuhnya diri mereka dan keturunan yang kelak lahir dari perkawinan mereka adalah tanggung-jawab mereka sendiri

di hadapan ALLAH Subhaanahu wa taalaa. Hargailah harapan dan cita-cita yang mereka bangun di atas ilmu yang telah sampai pada mereka. Keterlibatan kita yang terlalu jauh dan tidak pada tempatnya di dalam persoalan rumah tangga mereka bukannya akan membantu. Bahkan sebaliknya, membuat mereka tak akan pernah kokoh. Sementara mereka dituntut untuk menjadi sebenar-benar bapak dan sebenar-benar ibu di hadapandan bagi anak-anak mereka sendiri. Ketahuilah, bahwa bukan mereka saja yang sedang memasuki kehidupannya yang baru, sebagai suami isteri. Kita pun, para orang tua, sedang memasuki kehidupan kita yang baru, yakni kehidupan calon seorang kakek atau nenek insya .Maka hendaknya umur dan pengalaman ini membuat kita,para orang tua, menjadi lebih arif dan sabar, bukannya semakin pandir dan dikuasai perasaan. Pengalaman hidup kita memang bisa jadi pelajaran, tetapi belum tentu harus jadi acuan bagi mereka. Jika kelak -dari pernikahan ini- lahir cucu-cucu bagi kita. Sayangilah mereka tanpa harus melecehkan dan menjatuhkan wibawa orang tuanya. Berapa banyak cerita di mana kakek atau nenek merebut superioritas ayah dan ibu. Sehingga anak-anak lebih taat kepada kakek atau neneknya ketimbang kepada kedua orang tuanya. Sungguh, akankah kelak cucu-cucu kita menjadi anak-anak yang taat kepada orang tuanya atau tidak, sedikit banyak dipengaruhi oleh cara kita memanjakan mereka. Kepada semua, baik yang pernah mengalami peristiwa semacam ini, maupun yang sedang menanti-nanti gilirannya, marilah kita doakan mereka dengan doa yang telah diajarkan oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-:

posted in Munakahat & Keluarga, Muslimah | Share Oleh: Syaikh Sholih Bin Fauzan Al Fauzan hafizhohullaah Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih Dan Maha Penyayang.

Sesungguhnya segala puji hanya bagi Allah. Kita memuji-Nya, meminta pertolongan dan memohon ampunan kepada-Nya. Dan kita berlindung kepada Allah dari keburukan diri kita dan kejelekan amal perbuatan kita. Siapa yang Allah beri hidayah, maka tiada yang dapat menyesatkannya. Dan siapa yang Allah sesatkan, maka tiada yang dapat memberinya hidayah. Dan aku bersaksi bahwa tiada sembahan yang haq melainkan Allah semata. Tiada sekutu bagiNya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, semoga Allah mencurahkan sholawat dan salam kepadanya, dan kepada keluarganya, serta para sahabatnya. Wa badu, Pembicaraan kita berkaitan dengan wanita muslimah. Dan berbicara tentang wanita muslimah di waktu sekarang ini aku pandang cukup penting. Karena wanita di masyarakat kita sedang diserang secara membabi buta oleh musuh-musuh agama ini, di mana digulirkan apa yang disebut dengan qodhiyyatu l mar`ah atau qodhooyaa l mar`ah (problematika wanita -pent). Dan yang mereka maksud dengan istilah ini adalah mengeluarkan wanita dari kondisi/keadaan yang diinginkan oleh Allah terhadapnya. Kita tidak pernah mengenal bahwa wanita memiliki problematika selain problematika umat wanita muslimah itu sendiri. Sesungguhnya kebodohan umat terhadap agama Islam ini dan kelemahan mereka dalam berpegang kepadanya adalah problematika umat dan wanita muslimah. Dan itulah yang akan kami upayakan untuk kami jelaskan dalam kuliah umum yang berjudul peran wanita dan membina keluarga ini. Namun kami memiliki beberapa komentar atas judul ini. Pertama, seputar pengertian tarbiyah. Di mana yang kami maksud dengannya adalah makna luas dari pengertian membina dan segala sesuatu yang menjadi konsekwensinya seperti mengawasi keluarga dan menjaganya. Sehingga jangan sampai ada yang mengira bahwa tarbiyah itu hanya sekedar memperbaiki dan meluruskan akhlak. Ini adalah salah satu cakupan tarbiyah. Sedang tarbiyah untuk keluarga lebih luas lagi sisinya dari hal ini. Kedua, boleh jadi dari judul ini akan dipahami bahwa wanita memiliki peran dalam membina keluarga akan tetapi peran itu adalah pekerjaan yang sekunder baginya. Padahal yang sebenarnya adalah bahwa pekerjaan wanita dalam membina keluarga itu adalah pekerjaannya yang paling utama sedang yang selainnya adalah pengecualian. Kalau judul kuliah umum ini adalah peran wanita adalah membina keluarga, maka itu lebih baik. Tempat Wanita Permasalahan ini membutuhkan penjelasan dan penerangan, maka kami katakan: sesungguhnya tempat yang wajar bagi wanita adalah di rumah dan di sanalah tempatnya bekerja. Ini adalah prinsip dasarnya. Dan inilah yang disokong oleh dalil-dalil syariy serta inilah logika fitrah yang dengannya wanita diciptakan. Berkaitan dengan dalil-dalil syariy atas hal ini, maka nash-nash dan realitas-realitas konkret yang mendukungnya cukup banyak. Di antaranya:

1. Allah berfirman dengan mengarahkan perkataan kepada para ummahaatul mu`miniin: Dan menetaplah di rumah-rumah kalian (Al Ahzab: 33). Berkata Sayyid Quthb: Dalam ayat ini terdapat isyarat halus bahwa hendaknya rumah itu menjadi tempat asal dalam kehidupan mereka. Dan rumah itu adalah sebagai maqorrun (tempat kediaman -pent). Sedang selain rumah adalah pengecualian sementara yang mereka tidak boleh menetap dan berdiam di situ kecuali untuk keperluan dan itupun hanya sekedarnya saja. (fii zhilaali l qur`aan 59, 5/28 cetakan kesepuluh, Asy Syuruq). 2. Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka (diizinkan) ke luar (Ath Tholaaq: 1) Ayat ini sekalipun berkaitan dengan wanita yang sedang menjalani masa iddah, namun para ulama mengatakan bahwa hukumnya tidak terkhususkan untuknya akan tetapi juga mencakup wanita yang lain. Penisbahan dalam rumah kalian atau rumah mereka (dalam dua ayat di atas -pent) padahal rumah itu biasanya adalah milik suami, itu adalah penisbahan yang menunjukkan penempatan, bukan pemilikan. Seolah, pada prinsipnya, rumah itu adalah tempat tinggal bagi wanita. 3. Dalam kisah-kisah para nabi ada pelajaran dan ibroh. Seperti kisah Musa dengan dua orang wanita:

Dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Mad-yan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata: Apakah maksudmu (dengan berbuat at begitu)? Kedua wanita itu menjawab: Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya. (Q.S.28:23) Hingga firman Allah: Berkatalah dia (Syuaib): Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, maka aku tidak

hendak memberati kamu. Dan kamu Insya Allah akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik. (Q.S.28:27) Mari kita perhatikan pelajaran-pelajaran dalam ayat ini. Musa mendapatkan para penggembala berada di sumber air dan di belakang mereka ada dua orang wanita yang menghalang-halangi kambing mereka agar tidak bercampur baur dengan kambing orang banyak itu. Musa bertanya kepada dua orang wanita itu, ada apa dengan kalian? Mengapa kalian tidak memberi minum kambing kalian bersama orang-orang itu? Datanglah jawabannya: kami tidak dapat memberi minum sampai para penggembala itu memulangkan ternak mereka. Dua orang wanita ini memiliki ketakwaan dan sikap waro yang mencegah mereka untuk bercampur baur dengan para lelaki. Kemudian seolah ada pertanyaan lain muncul, apa yang menyebabkan kalian keluar? Lalu muncullah jawabannya secara langsung: dan ayah kami adalah orang tua yang sudah lanjut umurnya. Ada kebutuhan dan keperluan mendesak yang mengharuskan mereka untuk keluar. Dan walaupun mereka terpaksa untuk keluar, mereka tetap menjaga akhlak dan adab dengan tidak berbaur bersama para lelaki. Kemudian ada pelajaran lain di mana salah seorang dari dua wanita itu berpikir bahwa sudah saatnya segala sesuatunya kembali pada keadaan semula (yaitu mereka tidak lagi keluar rumah untuk memberi minum ternak -pent). Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya. Syuaib pun menerima solusi tersebut dan ia mengajukan tawaran kepada Musa: Berkatalah dia (Syuaib): Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun.. (Q.S.28:27) Musa pun menerima tawaran tersebut dan segala sesuatunya pun kembali wajar. Musa bekerja menggembalakan ternak, dan wanita itu pun menjadi seorang istri yang bekerja di rumah. Demikianlah Al Quran berkisah kepada kita dan sungguh dalam kisah-kisah mereka itu ada pelajaran berharga. 4. Sholat di masjid itu adalah amalan yang masyru bagi kaum lelaki dan merupakan salah satu amalan yang paling utama.Terlebih lagi sholat di masjid Rasulullah shollallahualayhiwasallam, dan bersama beliau. Meskipun demikian, Rasulullah shollallahualayhiwasallam memerintahkan para wanita untuk sholat di rumah. Dari istri Abi Humaid As Saaidiy, bahwasanya ia datang kepada Rasulullah shollallahualayhiwasallam dan berkata: Sesungguhnya aku suka sholat bersamamu. Lalu beliau berkata: Aku tahu bahwa engkau menyukai sholat bersamaku, akan tetapi sholatmu di sudut ruangan itu lebih baik daripada sholatmu di kamar. Dan sholatmu di kamar itu lebih baik daripada sholatmu di dalam rumah. Dan sholatmu di dalam rumah itu lebih

baik dari sholatmu di masjid kaummu. Dan sholatmu di masjid kaummu itu lebih baik daripada sholatmu di masjidku. Lalu istri Abi Humaid ini pun menyuruh dibuatkan untuknya sebuah tempat sholat di tempat paling dalam dan gelap di rumahnya. Dan ia pun sholat di situ sampai akhir hayatnya. (Hadis ini dikeluarkan oleh Ahmad 6/371 dan oleh Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya 3/95. Hadis ini hasan. Lihat haasyiyatu l azhomi alaa shohiih ibni khuzaimah). Isyarat dalam hadis ini cukup jelas bahwa asalnya adalah menetapnya seorang wanita di dalam rumah. Sampai-sampai Rasulullah shollallahualayhiwasallam lebih mengutamakan sholat di rumah untuk seorang wanita, daripada sholat di masjid beliau shollallahualayhiwasallam sekalipun beliau mengizinkan seorang wanita untuk pergi ke masjid. 5. Realitas para wanita muslimah pada abad-abad permulaan -yang merupakan contoh untuk diteladani- mendukung hal ini. Di mana kita mendapatkan bahwa keluarnya seorang wanita dan bekerjanya ia di luar rumah merupakan peristiwa yang hampir bisa dihitung, dan memiliki sebabsebab yang mengharuskan untuk demikian. Bahkan yang demikian itulah yang dipahami oleh para Sahabat. Diriwayatkan bahwa Ibnu Masud diminta oleh istrinya untuk memberinya sebuah jilbab. Ibnu Masud berkata: Aku khawatir engkau akan meninggalkan jilbab yang telah Allah kenakan untukmu. Istrinya berkata: Jilbab apakah itu?. Ibnu Masud berkata: Rumahmu. 6. Yang diajarkan oleh syariat ini itulah yang sesuai dengan fitrah. Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan atau rahasiakan); dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui? (Q.S.67: 14). Sesungguhnya menetapnya seorang wanita di dalam rumah merupakan logika fitrah yang sesuai dengan tugas dan karakternya dan yang menjaganya dari keterceraiberaian dan kekontradiktifan kepribadiannya. Percobaan-percobaan ilmiah psikologis telah memberi dukungan terhadap hal ini. Sebagaimana sebagian peneliti yang cukup obyektif di Barat telah menyampaikan seruan untuk meminimalisir akibat negatif mengembankan wanita suatu pekerjaan yang bertentangan dengan fitrah dan karakternya. Akan tetapi para pemuja syahwat sudah sedemikian tuli terhadap setiap orang yang menyeru hal itu. Bahkan mereka menuduhnya sebagai orang yang mengajak para wanita untuk kembali ke masa kemunduran dan perbudakan, demikianlah mereka membuat klaim! Dan akan ada tambahan penjelasan tentang hal ini di sela-sela bahasan. Meyikapi Masalah Seputar Keluarnya Wanita Perlu dipahami bahwa keluarnya seorang wanita tidaklah terlarang secara mutlak. Telah diriwayatkan beberapa keterangan yang menunjukkan bolehnya wanita keluar dan bekerja di luar rumah, akan tetapi keadaan ini bukanlah merupakan hukum asal, melainkan sebagai pengecualian dan kebutuhan yang mendesak. Salah satu riwayat tentang hal ini adalah diizinkannya seorang wanita oleh Rasulullah shollallahualayhiwasallam untuk sholat di masjid sekalipun beliau lebih mengutamakan sholatnya wanita itu di rumah. Demikian juga riwayat tentang keikutsertaan sebagai wanita di beberapa pertempuran untuk memberi minum dan mengobati korban yang terluka. Para penyeru pembebasan wanita, atau lebih tepatnya para penyeru penghancuran wanita dari kalangan pengekor hawa nafsu, telah berpegang dengan riwayat ini. Sebagaimana sebagian

orang baik yang telah menjadi sedemikiran rendah diri di hadapan tekanan peradaban asing, juga telah menjadikan riwayat ini sebagai dalil untuk membela Islam, dalam dugaan mereka. Untuk menjawab hal ini, kami katakan: sesungguhnya keluarnya seorang wanita dan bekerjanya ia di luar rumah bukan sesuatu yang terlarang secara mutlak. Bisa jadi ada keperluan yang mendesaknya untuk keluar seperti keluarnya dua putri Syuaib. Bisa juga itu menjadi suatu hal yang sangat dibutuhkan untuk umat ini seperti seorang wanita yang mengajarkan saudarisaudarinya sesama wanita atau memberikan pengobatan untuk mereka. Untuk hal-hal seperti inilah dalil-dalil keluarnya seorang wanita itu dipahami. Dan itu merupakan keadaan pengecualian, bukan kondisi asal. Oleh karena itu kita mendapatkan Imam Ibnu Hajar mengatakan: bisa jadi keluarnya wanita bersama suatu pasukan itu telah dinasakh. Di mana ia menjelaskan dalam Al Ishoobah riwayat hidup Ummu Kabsyah Al Qodhoiyyah dan berkata: hadisnya dikeluarkan oleh Abu Bakr bin Abi Syaybah dan Ath Thobrooniy dan yang lain dari jalan Al Aswad bin Qoys dari Said bin Amr Al Qurosyiy bahwasanya Ummu Kabsyah seorang wanita dari Qodhoah berkata: Wahai Rasulullah, izinkan aku untuk keluar bersama pasukan begini dan begini. Beliau berkata: Tidak. Ummu Kabsyah berkata: Wahai Rasulullah aku bukannya ingin berperang. Tapi aku ingin mengobati orang yang terluka dan orang sakit, dan aku akan membagi-bagikan minuman. Beliau berkata: Kalau saja itu tidak menjadi suatu sunnah dan akan dikatakan orang: si fulanah pernah keluar (dalam suatu pasukan) tentu aku akan mengizinkanmu. Akan tetapi, duduklah (tidak usah ikut -pent). Hadis ini juga dikeluarkan oleh Ibnu Sad dan di bagian akhirnya, Duduklah, jangan sampai orang-orang mengatakan bahwa Muhammad berperang dengan seorang wanita. Lalu Ibnu Hajar berkata: Hadis ini dan hadis yang terdahulu dalam riwayat hidup Ummu Sinaan Al Aslamiy bisa dipadukan dengan mengatakan bahwa hadis ini menasakh hadis yang sebelumnya. Karena hadis sebelumnya pada waktu perang Khaibar, sedang hadis ini setelah Fathu Makkah. (Al Ishoobah 4/463) Bagaimanapun, dalil-dalil tersebut tsabit untuk perkara keluarnya sebagian wanita dan ikutsertanya mereka dalam mengobati orang yang terluka dan untuk membagikan minuman, akan tetapi itu adalah kondisi-kondisi terbatas yang ditakar sesuai dengan kadarnya dan tidak sampai mengalahkan kondisi yang asal. Dan cukup penting membedakan secara jelas antara kondisi bekerjanya seorang wanita di luar rumah sebagai suatu hukum asal dan antara memandangnya sebagai suatu pengecualian. Kalau ia merupakan pengecualian untuk keadaan-keadaan tertentu, maka kita tidak akan kehabisan solusi untuk mengatasi dampak-dampak negatif yang mungkin timbul dengan keluarnya seorang wanita. Namun di sini bukan tempat untuk memaparkan solusi-solusi itu. Adapun kalau keluarnya seorang wanita itu dijadikan sebagai perkara asal sebagaimana yang dipandang oleh sebagian orang-orang yang terbaratkan, di mana mereka melihat bahwa wanita akan tetap tidak bermanfaat apa-apa kalau ia bekerja di rumah. Dan ini merupakan kelumpuhan pada setengah bagian masyarakat. Aku katakan: kalau kita berjalan dengan arah seperti ini, maka dampak-dampak negatif dari keluarnya para wanita, dan segala konsekwensinya akan muncul sebagaimana yang terjadi di masyarakat Barat. Akan muncul mafsadat-mafsadat ikhtilat, dan mafsadat-mafsadat kosongnya rumah dari peran seorang ibu, walaupun kita menggunakan berbagai macam prosedur dan walaupun kita bersungguh-sungguh untuk itu, serta walaupun sebagian orang berupaya untuk menutupnutupinya dengan slogan yang menipu: keluar dalam koridor ajaran syariat dan sesuai dengan

budaya kita. Kemudian kita perlu memahami bahwa kalau sudah diterima oleh kita bahwa yang menjadi asal adalah bahwa seorang wanita bekerja di rumah dan bahwa bekerjanya ia di luar rumah merupakan suatu pengecualian serta bahwa inilah yang ditentukan berdasarkan dalil-dalil syariy, maka setelah itu kita tidak lagi memiliki pilihan lain antara beriltizam dengan hal ini atau tidak beriltizam dengannya, kalau kita memang benar-benar muslim. Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mumin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mumin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (Q.S.33:36) Ayat ini walaupun turun untuk suatu perkara tertentu, namun kandungannya bersifat umum. Kemudian ia turun setelah ayat-ayat yang memerintahkan para istri Rasulullah shollallahualayhiwasallam untuk menetap di rumah mereka. Allah telah menerangkan bahwa perbuatan meninggalkan, dan berpaling dari, syariat-Nya merupakan sebab pasti -tidak diragukan lagi- atas kesengsaraan seseorang seperti keadaan sebagian besar umat manusia di atas bumi sekarang ini. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. (Q.S.20:124) Dan sesungguhnya keadaan umat yang memiliki manhaj lurus namun mereka meninggalkan manhaj tersebut dan mencari manhaj lain dalam sampah pemikiran manusia, seperti yang diungkapan oleh penyair: Laksana unta yang mati kehausan di padang sahara Sedang air di atas punggungnya ia bawa-bawa

Sifat-sifat Wanita Yang Ideal Untuk Dinikahi


posted in Munakahat & Keluarga |

Share Oleh: Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin Pernikahan ditujukan untuk bisa mengambil kenikmatan (satu sama lainnya) dan untuk membina rumah tangga yang shalihah serta masyarakat yang baik, sebagaimana yang telah kami katakan di muka. Oleh karena itu maka wanita yang ideal untuk dinikahi ialah wanita yang diharapkan nantinya dapat mewujudkan kedua tujuan tersebut dengan sempurna yaitu wanita yang disifati dengan kecantikan paras secara fisik dan maknawi. Maka wanita yang cantik parasnya adalah wanita yang sempurna fisiknya, karena seorang wanita itu jika dia cantik saat dipandang, lembut tutur katanya, maka matapun manjadi sejuk untuk memandanginya dan telingapun tenteram mendengarkan tutur katanya, sehingga hatipun terbuka untuknya dan dada menjadi lapang menerimanya serta jiwapun tenteram bersamanya dan terwujudlah apa yang difirmankan Allah Subhaanahu wa Taala : Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang (QS. Ar Rum : 21) Kecantikan maknawi yaitu kesempurnaan agama dan akhlak, sehingga manakala wanita tersebut adalah wanita yang taat beragama dan berakhlak mulia maka dia menjadi lebih dicintai oleh setiap jiwa dan lebih selamat akibatnya. Maka wanita yang beragama, dia akan taat menjalani perintah Allah, senantiasa menjaga hak-hak suami, rumah tangga serta anak-anak dan harta suaminya. Senantiasa membantu suami untuk menunaikan ketaatan kepada Allah Subhaanahu wa Taala di kala suami ingat kepadaNya. Jika suami malas maka dia yang menyemangatinya, jika suami marah maka dia yang membuatnya ridha. Sedangkan wantia yang berakhlak adalah wanita yang memberikan belaian kasihnya kepada suami dan menghormatinya. Selalu menyegerakan apa yang disukai suami dan tidak menunda-nunda sesuatu yang disuka suami. Dan Nabi Shallallaahu alaihi wasallam pernah ditanya tentang wanita yang bagaimanakah yang baik? Maka beliau menjawab : Yaitu wanita yang menyenangkan suami jika dipandang dan mentaati suami jika diperintah dan tidak mengkhianati suami pada dirinya sendiri dan tidak mengkhianati hartanya dengan sesuatu yang ia benci. (HR. Ahmad dan Nasaai) Dan beliau Shallallaahu alaihi wasallam bersabda : Nikahilah oleh kalian wanita yang penuh kasih lagi subur karena sesungguhnya aku merasa bangga dengan banyaknya kalian dihadapan para nabi, atau beliau menyatakan: dihadapan segenap umat (HR. Abu Daud dan An Nasaai) Maka apabila memungkinkan untuk mendapatkan wanita yang memenuhi kriteria wanita yang cantik parasnya dan cantik batinnya maka ini adalah kesempurnaan dan kebahagiaan dengan taufik dari Allah Subhaanahu wa Taala. Sumber : Maka.., Menikahlah, Penulis : Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin, Penerbit : Ittibaus Salaf Press.

dari: http://menikahsunnah.wosrdpress.com

Isyratun Nisa`
posted in Munakahat & Keluarga | Share Penulis: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah Isyratun nisa merupakan tema yang sudah berulang dibicarakan dalam rubrik ini. Namun pertanyaan seputar masalah ini terus saja datang. Karenanya, tidak ada salahnya kita angkat kembali namun dalam kemasan lain. Satu bab dalam Kitabun Nikah dari kitab Al-Mulakhkhsash Al-Fiqhi karya Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan hafizhahullah, ingin kami nukilkan untuk pembaca yang mulia. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat. Secara bahasa yang dimaksudkan dengan isyrah adalah perkumpulan dan percampuran. Sehingga setiap jamaah atau sekumpulan orang disebut isyrah dan masyar. Yang dimaksudkan dengan kata isyratun nisa sebagaimana judul di atas adalah kedekatan yang terjalin di antara suami istri dan pergaulan keduanya, karena masing-masingnya harus bergaul dengan baik kepada pasangannya, tanpa menunda penunaian hak pasangannya, tidak merasa terpaksa memberikan hak pasangannya serta tidak menyertainya dengan gangguan dan mengungkit-ungkit kebaikan yang telah dilakukan kepada pasangannya. Telah datang perintah Rabbul Izzah agar para suami bergaul dengan maruf kepada istri mereka: Dan bergaullah kalian dengan mereka (para istri) secara patut. (An-Nisa: 19) Dalam ayat lain Rabbul Izzah berfirman: Para istri memiliki hak yang seimbang dengan kewajiban mereka menurut cara yang maruf. (Al-Baqarah: 228) Rasul yang mulia Shallallahu alaihi wa sallam menegaskan: Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya. (HR. At-Tirmidzi no. 3895, dishahihkan Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih At-Tirmidzi)

Bagaimanakah gambaran pergaulan suami dengan istrinya dalam sebuah rumah tangga? Berikut ini penjelasannya: Masing-masing pihak bergaul dengan akhlak yang baik kepada pasangannya, berlaku lembut, dan sabar dengan kekurangannya. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan: Mintalah wasiat kebaikan dalam perkara istri-istri kalian karena sungguh mereka itu hanyalah tawanan di sisi kalian. (HR. Ahmad 5/72, At-Tirmidzi no. 1173, Ibnu Majah no. 1851, hadits ini hasan sebagaimana dalam Shahih At-Tirmidzi dan Shahih Ibni Majah) Sepantasnya seorang suami tetap menahan istrinya dalam pernikahan, tidak bermudah-mudah dalam mentalak (menceraikan), walaupun ada sesuatu yang tidak disukainya dari si istri. Karena Allah Subhanahu wa Taala berfirman: Dan bergaullah kalian dengan mereka (para istri) secara patut. Jika kalian tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kalian tidak menyukai sesuatu padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak. (An-Nisa: 19) Ketika memaknai ayat yang mulia di atas, Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma menyatakan, bisa jadi si suami diberi rezeki berupa anak dari istri tersebut, lalu Allah Subhanahu wa Taala jadikan kebaikan yang banyak pada diri si anak. (Tafsir Ibni Katsir, 2/173) Rasul yang mulia Shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda: Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah. Jika ia tidak suka satu akhlak dari si mukminah maka (bisa jadi) ia ridha darinya perangai yang lain. (HR. Muslim no. 1469) Diharamkan bagi suami melakukan jima dengan istrinya yang sedang haid, karena Allah Subhanahu wa Taala berfirman: Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah, Haid itu adalah kotoran. Oleh karena itulah hendaklah kalian menjauhkan diri dari para istri (tidak menyetubuhi istri) di waktu haid dan janganlah kalian mendekati (menyetubuhi) mereka sampai mereka suci (mandi bersih dari haid). Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka di tempat yang diperintahkan Allah kepada kalian. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang menyucikan diri. (Al-Baqarah: 222)

Suami bisa memaksa istrinya menghilangkan kotoran yang ada pada si istri, menghilangkan sesuatu yang memang jiwa tidak menyukainya, seperti rambut ketiak dan kuku yang panjang. Suami juga berhak melarang istrinya memakan makanan yang memiliki bau tidak sedap, karena hal itu akan membuat si suami lari darinya. Suami dapat memaksa istrinya untuk membasuh najis yang ada pada tubuh si istri dan memerintahnya menunaikan kewajiban agama seperti shalat lima waktu. Bila si istri enggan, suami harus memaksanya dan memberikan hukuman pendidikan kepadanya. Suami juga harus memaksa istrinya meninggalkan perkara-perkara yang haram. Kenapa semua ini harus dilakukan suami? Karena Allah Subhanahu wa Taala berfirman: Kaum lelaki adalah pemimpin bagi kaum wanita disebabkan Allah telah melebihkan sebagian kalian (lelaki) di atas sebagian yang lain (wanita). (An-Nisa: 34) Wahai orang-orang yang beriman, jagalah/peliharalah diri-diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya para malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (At-Tahrim: 6) Perintahkanlah keluargamu untuk mengerjakan shalat dan bersabarlah kalian dalam mengerjakannya. (Thaha: 132) Allah Subhanahu wa Taala berfirman memuji Nabi-Nya, Ismail alaihis salam: . Dan ceritakanlah (wahai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail yang tersebut di dalam AlQuran. Sesungguhnya Ismail adalah seorang yang benar janjinya dan dia adalah seorang rasul dan nabi. Ia memerintahkan keluarganya untuk mendirikan shalat dan membayar zakat. (Maryam: 54-55) Seorang suami adalah penanggung jawab terhadap istrinya dan ia adalah pemberi arahan kepada istrinya. Kelak di hari kiamat, ia akan ditanya tentang tanggung jawab ini. Suami harus mendidik istrinya terlebih jika mengingat istri merupakan pendidik anak-anaknya. Tentunya bila rusak akhlaknya dan cacat agamanya niscaya akan merusak anak-anaknya. Termasuk pergaulan yang baik kepada istri adalah suami memberikan nafkah batin kepadanya paling tidak empat bulan sekali. Karena Allah Subhanahu wa Taala memberi tenggang waktu empat bulan kepada suami yang meng-ilaa1 istrinya, setelahnya ia harus kembali menggauli

istrinya dengan membayar kaffarah sumpah atau mentalaknya2. Waktu empat bulan ini pun diqiyaskan untuk selain kasus ilaa. Sementara Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu berpandangan kewajiban memberi nafkah batin kepada istri ini tidak ada penetapan waktu berapa lamanya, namun disesuaikan kadar yang dirasa cukup oleh istri selama tidak memadharatkan suami atau menyibukkannya dari mencari penghidupan. Bila suami safar (bepergian) meninggalkan istrinya lebih dari setengah tahun sedangkan si istri memintanya pulang, maka suami harus pulang menemui istrinya terkecuali dalam safar haji yang wajib atau peperangan yang wajib, ataupun suami tidak memiliki kemampuan untuk pulang. Haram bagi masing-masing pihak untuk menceritakan kepada orang lain tentang hubungan intim yang berlangsung di antara mereka. Karena Nabi Shallallahu alaihi wa sallam memperingatkan: Manusia yang paling jelek kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat nanti adalah seorang suami berhubungan badan dengan istrinya dan istrinya berhubungan dengannya, kemudian ia menyebarkan rahasia istrinya. (HR. Muslim no. 1437) Siapa yang berbuat demikian, ia serupa dengan setan laki dan setan perempuan yang berhubungan di jalanan dan ditonton oleh orang-orang, sebagaimana disebutkan dalam hadits Asma bintu Yazid radhiyallahu anha, Aku sedang berada di sisi Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam sementara para lelaki dan wanita tengah duduk-duduk. Beliau pun bersabda: . : . : Mungkin ada seorang lelaki menceritakan apa yang diperbuatnya dengan istrinya dan mungkin ada seorang wanita mengabarkan apa yang dilakukannya bersama suaminya. Orang-orang yang hadir terdiam. Maka aku menjawab, Iya, demi Allah, wahai Rasulullah. Mereka para wanita melakukannya dan para lelaki pun melakukannya. Rasulullah memberi bimbingan, Jangan kalian lakukan hal tersebut, karena permisalannya tidak lain seperti setan jantan bertemu setan betina di satu jalan lalu ia menggaulinya sementara orang-orang menontonnya. (HR. Ahmad 6/456, dan dalam sanadnya ada Syahr ibnu Hausyab dan tentang dirinya ada pembicaraan. Namun hadits ini terangkat menjadi hasan dengan syawahid [penguat]nya) Suami berhak melarang istrinya keluar rumahnya tanpa ada kebutuhan darurat. Ia tidak boleh membiarkan istrinya pergi sesukanya. Haram pula bagi istri keluar rumah tanpa izin suaminya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu berkata, Tidak halal bagi seorang istri keluar dari rumah suaminya kecuali dengan izin suaminya. Beliau menegaskan, Bila sampai istri keluar dari rumah suaminya tanpa izin si suami berarti ia telah berbuat nusyuz, bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Taala dan Rasul-Nya hingga ia pantas mendapatkan hukuman. (Majmu AlFatawa, 32/281)

Tidak sepantasnya suami melarang mertuanya (ayah dan ibu dari istrinya) untuk menziarahi (mengunjungi) istrinya (putri keduanya) di rumahnya, kecuali bila ia mengkhawatirkan keduanya akan merusak hubungannya dengan istrinya atau meracuni pikiran istrinya. Suami berhak melarang istrinya bekerja, karena suamilah yang bertanggung jawab memberikan nafkah kepada istrinya. Disamping itu, bila si istri bekerja akan melalaikannya dari menunaikan sebagian hak suaminya, menelantarkan pendidikan anak-anaknya, memperhadapkan si istri kepada penyimpangan akhlak, khususnya di zaman ini di mana rasa malu semakin sedikit dan penyeru kepada kejelekan semakin banyak. Banyaklah didapati para wanita bercampur baur dengan lelaki di kantor-kantor dan lapangan pekerjaan yang lain. Tidak jarang pula terjadi khalwat (bersepi-sepi/berduaan) yang diharamkan. Istri tidak boleh menaati kedua orangtuanya bila keduanya memintanya berpisah dengan suaminya. Tidak boleh pula menuruti permintaan keduanya bila menyuruhnya mengunjungi keduanya sementara suaminya tidak ridha. Bahkan taat kepada suami lebih dikedepankan, karena suami ibaratnya surga dan neraka bagi si istri. Bibi Hushain bin Mihshan radhiyallahu anhu pernah datang kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam. Beliau Shallallahu alaihi wa sallam bertanya: : . : : . : Apakah engkau punya suami? Ia menjawab, Iya. Kata Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam lagi, Bagaimana yang engkau lakukan terhadap suamimu? Ia menjawab, Aku tidak pernah mengurang-ngurangi dalam menaatinya dan berkhidmat padanya, kecuali dalam perkara yang memang aku tidak mampu. Rasulullah memberi nasihat, Perhatikanlah di mana keberadaanmu dalam pergaulanmu dengan suamimu, karena dia adalah surgamu dan nerakamu. (HR. Ahmad 4/341, An-Nasai no. 8962, Al-Hakim 2/206, ia berkata, Sanadnya shahih, dan disepakati Adz-Dzahabi rahimahullahu. Sanadnya memang shahih, kata Al-Imam Al-Albani rahimahullahu, lihat Adabuz Zifaf, hal. 214 dan Ash-Shahihah no. 2612) Wallahu taala alam bish-shawab. (Nukilan dari Al-Mulakhkhash Al-Fiqhi, Kitabun Nikah, bab Fi Isyratun Nisa, 2/307-312, dengan beberapa perubahan dan tambahan) Footnote: 1 Suami bersumpah tidak ingin menggauli istrinya selama-lamanya atau lebih dari empat bulan. 2 Sebagaimana Allah Subhanahu wa Taala nyatakan dalam firman-Nya: . Kepada para suami yang meng-ilaa istri mereka diberi tangguh empat bulan (lamanya). Kemudian jika setelah itu mereka kembali (menggauli istri mereka) maka sesungguhnya Allah

Maha pengampun lagi Maha penyayang. Dan jika mereka berketetapan hati untuk talak maka sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui. (Al-Baqarah: 226-227) Sumber: http://www.asysyariah.com

Usia yang Pantas untuk Menikah


posted in Fatwa Ulama, Munakahat & Keluarga | Share Oleh: Asy Syaikh Abdul Aziz bin Baaz Soal: Berapa umur yang pantas bagi pria dan wanita? Karena sebagian gadis tidak mau menikah dengan pria yang terlalu tua dibanding mereka. Demikian pula sebagian pria, tidak suka menikah dengan wanita yang lebih tua. Kami mengharap jawabannya, semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan. Jawaban: Saya nasehatkan kepada para gadis untuk tidak menolak seorang pria dikarenakan umurnya yang terlampau tua, seperti pria yang lebih tua 10 tahun atau 20 tahun, maka ini bukan sebuah alasan. Sungguh Nabi shallallaahu alahi wa sallam menikah dengan Aisyah radhiyallaahu anha sementara beliau berumur 53 tahun dan Aisyah 9 tahun. Dengan demikian usia lanjut bukan suatu masalah. Jadi tidak mengapa bila suami lebih tua atau istri lebih tua. Nabi shallallaahu alaihi wa sallam menikah dengan Khadijah radhiyallaahu anha yang berumur 40 tahun dan Nabi shallallaahu alaihi wa sallam 25 tahun sebelum beliau menerima wahyu. Yakni Khadijah radhiyallaahu anha lebih tua 15 tahun dari beliau. Kemudian beliau menikah dengan Aisyah radhiyallaahu anha sementara ia masih belia, yakni berumur 6 atau 7 tahun dan baru digauli ketika berumur 9 tahun, sedangkan Nabi shallallaahu alaihi wa sallam telah berumur 53 tahun. Kebanyakan dari mereka yang berbicara di radio maupun televisi dan mereka lari dari sikap menerima adanya perbedaan umur antara suami istri, maka itu semua merupakan suatu kesalahan. Tidak boleh bagi mereka untuk mengeluarkan pernyataan seperti itu. Yang semestinya adalah seorang wanita melihat kepada calon suaminya, bila ia seorang yang shalih dan sesuai (cocok), maka sepantasnya sang wanita setuju untuk menikah meski sang pria umurnya lebih tua. Jadi, jika wanita masih muda usia atau dalam usia punya anak, maka walhasil itu tidak sepantasnya menjadi alasan bagi sang pria dan tidak pula ini menjadi aib selama pria itu adalah orang yang shalih dan wanitanya adalah shalihah.1 Footnote: 1 Fatawa Al-Marah, hal. 54.

(Dinukil dari Fatawa Al-Jamiah lil Marah Al-Muslimah bab Nikah wa Thalaq (Fatwa-fatwa Ulama Ahlus Sunnah Seputar Pernikahan, Hubungan Suami Istri dan Perceraian), perangkum: Amin bin Yahya Ad-Duwaisi, hal. 111-112, penerjemah Abu Abdirrahman Muhammad bin Munir, murajaah: Al-Ustadz Abu Muhammad Abdul Muthi, Lc., penerbit: Qaulan Karima Purwokerto, cet. ke-1 Ramadhan 1426H/Oktober 2005M, untuk http://almuslimah.wordpress.com)