SURAT KETERANGAN

Nomor:
Yang bertanda tangan di bawah ini Kepala SMAN 3 Bandar Lampung menerangkan bahwa buku
Rumus-rumus Fisika SMA adalah benar ditulis oleh:
Penulis Pertama,
Nama : Dra. Damriani
NIP : 131658096
Penulis Kedua,
Nama : Zainal Abidin, S.Pd
NIP : 132003007
dan telah digunakan sebagai pelengkap material pembelajaran di SMAN 3 Bandar Lampung.
Demikian surat keterangan ini dibuat untuk digunakan seperlunya.
Bandar Lampung, 4 Mei 2008
Kepala SMAN 3 Bandar Lampung
Drs. H E R N A D I
NIP. 131870646
2
KATA PENGANTAR
Buku Rumus-rumus Fisika SMA ini ditulis bukan bermaksud untuk dihapal oleh para siswa
namun bertujuan untuk digunakan sebagai buku pendamping dalam memecahkan soal-soal fisika.
Rumus-rumus fisika merupakan bahasa sains yang konsisten dalam menjelaskan fenomena alam
dan sebagai bahasa universal yang berlaku dalam dunia ilmiah, untuk itu pemahaman pada
konsep, asas, dan prinsip fisika merupakan hal pertama yang harus dimengerti oleh para siswa,
bukan dengan cara menghapal rumus-rumus.
Dalam memecahkan soal-soal fisika, buku ini dapat digunakan untuk memberi gambaran global
dari rumus-rumus fisika dan dapat digunakan sebagai pendamping dalam melatih kemampuan
memecahkan soal-soal fisika.
Dengan selesai penulisan buku ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Drs. Hernadi
sebagai Kepala SMAN 3 Bandar Lampung, atas semua dukungannya, masukan dan saran dari
para kolega diucapkan terima kasih. Mereka adalah guru-guru fisika SMAN 3 Bandar Lampung,
yaitu Arif Santoso, S.Pd, Euis Waliah, S.Pd, Dra. Sartinem dan Fera Nofrizawati, S.Pd.
Buku ini tentu jauh dari sempurna, masukan, kritik dan saran yang membangun dapat
disampaikan melalui email: mbak_annie@yahoo.co.id atau zainal.abidin.mustofa@gmail.com.
Semoga kehadiran buku ini dapat memenuhi tujuan penulisan dan bermanfaat bagi penggunanya.
Bandar Lampung, 30 April 2008
Damriani
Zainal Abidin
3
DAFTAR ISI
Surat Keterangan 1
Kata Pengantar 2
Daftar Isi 3
1. Besaran dan Satuan 4
2. Gerak Lurus 9
3. Hukum Newton 12
4. Memadu Gerak 14
5. Gerak Rotasi 16
6. Gravitasi 20
7. Usaha-Energi 21
8. Momentum-Impuls-Tumbukan 22
9. Elastisitas 23
10. Fluida 24
11. Gelombang Bunyi 26
12. Suhu dan Kalor 30
13. Listrik Stattis 33
14. Listrik Dinamis 37
15. Medan Magnet 43
16. Imbas Elektromagnetik 47
17. Optika Geometri 49
18. Alat-alat Optik 53
19. Arus Bolak-balik 55
20. Perkembangan Teori Atom 58
21. Radioaktivitas 61
22. Kesetimbangan Benda Tegar 64
23. Teori Kinetik Gas 69
24. Hukum Termodinamika 71
25. Gelombang Elektromagnetik 75
26. Optika Fisis 77
27. Relativitas 80
28. Dualisme Gelombang Cahaya 81
4
BESARAN DAN SATUAN
Ada 7 macam besaran dasar berdimensi:
Besaran Satuan (SI) Dimensi
1. Panjang m [ L ]
2. Massa kg [ M ]
3. Waktu detik [ T ]
4. Suhu Mutlak °K [
θ
]
5. Intensitas Cahaya Cd [ J ]
6. Kuat Arus Ampere [ I ]
7. Jumlah Zat mol [ N ]
2 macam besaran tambahan tak berdimensi:
a. Sudut datar ----> satuan : radian
b. Sudut ruang ----> satuan : steradian
Satuan SI Satuan Metrik
MKS CGS
Dimensi ----> Primer ----> dan dimensi Sekunder ---> jabaran Guna dimensi
untuk : Checking persamaan Fisika.
Dimensi dicari melalui ----> Rumus atau Satuan Metrik
Contoh :
(daya)
1 - 2 -
-2 2
LT MLT
T
T ML
·
-3 2 -3 2
T ML T ML ·
5
1
1
1
]
1

¸

T
L
M
P v F
t
W
· ⋅ ·
No Besaran Rumus Sat. Metrik (SI) Dimensi
1 Kecepatan
t
s
v ·
dt
m
1 −
LT
2 Percepatan
t
v
a


·
2
dt
m
2 −
LT
3 Gaya
a m F ⋅ ·
( ) N
dt
m kg
2 2 −
MLT
4 Usaha
s F W ⋅ ·
( ) Joule
2
2
dt
m kg
2 2 −
T ML
5 Daya
t
W
P ·
( ) Watt
3
2
dt
m kg
3 2 −
T ML
6 Tekanan
A
F
P ·
( ) atm

2
dt m
kg
2 1 − −
T ML
7 Energi kinetik
2
2
1
mv Ek ·
( ) Joule
2
2
dt
m kg
2 2 −
T ML
8 Energi potensial
h g m Ep ⋅ ⋅ ·
( ) Joule
2
2
dt
m kg
2 2 −
T ML
9 Momentum
v m M ⋅ · dt
m kg
1 −
MLT
10 Impuls
t F i ⋅ · dt
m kg
1 −
MLT
11 Massa Jenis
V
m
· ρ
3
m
kg
3 −
ML
12 Berat Jenis s =
V
w
2 2
dt m
kg
2 2 − −
T ML
13 Konst. pegas
x
F
k ·
2
dt
kg
2 −
MT
14 Konst. grafitasi G =
2
2
m
Fr
2
3
kgdt
m
2 3 1 − −
T L M
15 Konst. gas R =
T n
V P
.
.
K mol dt
kgm
o 2
2
1 1 2 2 − − −
θ N T ML
16 Gravitasi
m
F
g ·
2
dt
m
2 −
LT
6
17 Momen Inersia
2
mR I ·
2
m kg
2
ML
ANGKA PENTING
Angka Penting : Semua angka yang diperoleh dari hasil pengukuran dengan alat ukur, terdiri dari :
• Angka pasti
• Angka taksiran
Aturan :
a. Penjumlahan / Pengurangan
Ditulis berdasarkan desimal paling sedikit
Contoh :
2,7481
8,41
------- +
11,1581 ------> 11,16
b. Perkalian / Pembagian
Ditulis berdasarkan angka penting paling sedikit
Contoh :
4,756
110
---------
×
0000
4756
4756
-------------- +
523,160 ----> 520
BESARAN VEKTOR
Besaran Skalar : adalah besaran yang hanya ditentukan oleh besarnya atau nilainya saja.
Contoh : panjang, massa, waktu, kelajuan, dan sebagainya.
Besaran Vektor : adalah Besaran yang selain ditentukan oleh besarnya atau nilainya,
juga ditentukan oleh arahnya.
Contoh : kecepatan, percepatan, gaya dan sebagainya.
Sifat-sifat vektor
1.
A

+
B

=
B

+
A

Sifat komutatif.
2.
A

+ (
B

+
C

) = (
A

+
B

) +
C

Sifat assosiatif.
7
3. a (
A

+
B

) = a
A

+ a
B

4. /
A

/ + /
B

/

/
A

+
B

/
RESULTAN DUA VEKTOR
α = sudut antara A dan B
/
R

/ =
/ / / / / / / / cos A B A B
− − − −
+ +
2 2
2 α
arahnya :
/ /
sin
/ /
sin
/ /
sin
R A B
− − −
· ·
α α α
1 2
Vektor sudut vx = v cos
α
vy = v sin
α
V1
1
α
vx = v cos
1
α
vy = v sin
1
α
V2
2
α
vx = v cos
2
α
vy = v sin
2
α
V3
3
α
vx = v cos
3
α
vy = v sin
3
α

....... · ∑ vx

....... · ∑ vy
8
Resultan /
v
R / =
( ) ( ) ∑ + ∑ v v
X Y
2 2
Arah resultan : tg =


v
v
Y
X
Uraian Vektor Pada Sistem Koordinat Ruang ( x, y, z )

α
,
β
,
γ
= masing-masing sudut antara vektor A
dengan sumbu-sumbu x, y dan z
A
=
A
x +
A
y +
A
z atau
A
= /
A
x /

i
+ /
A
y /

j
+ /
A
z /

k

/
A
x / =
A
cos
α
/
A
y / =
A
cos
β
/
A
z / =
A
cos
γ
Besaran vektor A
A A A A
X Y Z
· + + / / / / / /
2 2 2
dan

i
,

j
,

k
masing-masing vektor satuan pada sumbu x, y dan z
9
GERAK LURUS
Vt = kecepatan waktu t detik S = jarak yang ditempuh
Vo = kecepatan awal a = percepatan
t = waktu g = percepatan gravitasi

10
v
0
=0
h
GJB
v
o
=0

v
?
h
1
h
2
Variasi GLB
P Q
A B
A
·
B

P Q
SP
A B
SQ
Gerak Lurus Berubah Beraturan
1
v
=
1 2
1 2
t t
r r
t
r


·


11
v = gh 2
t = g h/ 2
v = ) 2 1 ( 2 h h g −
SP + SQ = AB
SA = SB
SP – SQ = AB
2.
1 2
1 2
t t
v v
t
v
a


·


·
3.
dt
dr
v
x
x
· ;
dt
dr
v
y
y
·
;
dt
dr
v
z
z
·
2 2 2
z y x
v v v v + + ·
4.
dt
dv
a
x
x
· ;
dt
dv
a
y
y
·
;
dt
dv
a
z
z
·
2 2 2
z y x
a a a a + + ·
5 Diketahui a(t)
( ) dt t a v
t
t
⋅ ·

2
1
6.

⋅ ·
2
1
t
t
dt vt r
h = tinggi
Vy = kecepatan terhadap sumbu y h
1
= ketinggian pertama Vz = kecepatan terhadap sumbu z
h
2
= ketinggian kedua |
v
| = kecepatan rata-rata mutlak
SP = jarak yang ditempuh P |ā| = percepatan rata-rata mutlak
SQ = jarak yang ditempuh Q a
x
= percepatan terhadap sumbu x
AB = panjang lintasan a
y
= percepatan terhadap sumbu y
SA = jarak yang ditempuh A a
z
= percepatan terhadap sumbu z
SB = jarak yang ditempuh B a
(t)
= a fungsi t
v
= kecepatan rata-rata V
(t)
= V fungsi t
∆r = perubahan posisi V
1
= kecepatan 1
∆t = selang waktu Vx = kecepatan terhadap sumbu x
r
2
= posisi akhir
r
1
= posisi awal
t
1
= waktu awal bergerak
t
2
= waktu akhir bergerak
ā = percepatan rata-rata
∆V = perubahan rata-rata
V
2
= kecepatan 2
12
HUKUM NEWTON
1. Hk. I Newton  Hk. kelembaman (inersia) :
Untuk benda diam dan GLB 

· 0 F 

· 0 Fx dan

· 0 Fy
2. Hk. II Newton  0 ≠ a  GLBB 

⋅ · a m F
( ) a m m
2 1 2 1
+ · − ω ω
a m T ⋅ · −
1 1
ω
3. Hukum III Newton  F aksi = - F reaksi
Aksi – reaksi tidak mungkin terjadi pada 1 benda
4. Gaya gesek (fg) : * Gaya gesek statis (fs)  diam  fs = N.µs
* Gaya gesek kinetik (fk)  bergerak  fk = N. µk
Arah selalu berlawanan dengan gerak benda/sistem.
N = w N = w – F sinα N = w + Fsinα N = w cos α
. Statika


· 0 F : *

· 0 Fx
*

· 0 Fy


· 0 λ
13
ΣFx = resultan gaya sumbu x
ΣFy = resultan gaya sumbu y
ΣF = resultan gaya
m = massa
a = percepatan
N = gaya normal
μs= koefisien gesek statis
μk= koefisien gesek kinetik
W = gaya berat
α=sudut yang dibentuk gaya berat setelah diuraikan ke sumbu
14
MEMADU GERAK
1. α cos 2
2 1
2
2
2
1
v v v v v
R
+ + · GLB – GLB

Vr = kecepatan resultan
2. Gerak Peluru V
1
= kecepatan benda 1
Pada sumbu x GLB V
2
= kecepatan benda 2
Pada sumbu y GVA – GVB
Y
Vo
α
X
α cos
0
v v
x
·
t v x ⋅ · α cos
0
t g v v
y
⋅ − · α sin
0
2
0
2
1
sin gt t v y − ⋅ · α
X = jarak yang ditempuh benda pada sb x
Y = jearak yang ditempuh benda pada sb y
Vx = kecepatan di sumbu x
Syarat : V0 = kecepatan awal
 Mencapai titik tertinggi
0 ·
y
v
t = waktu
 Jarak tembak max 0 · y g = percepatan gravitasi

H
h y − ·
 Koordinat titik puncak

,
_

¸
¸
g
v
g
v
2
sin
,
2
2 sin
2 2
0
2
0
α α
15
 Jarak tembak max tidak berlaku jika dilempar dari puncak ; jadi harus pakai
h y − ·
g
v
x
α 2 sin
2
0
max
·
16
GERAK ROTASI
GERAK TRANSLASI GERAK ROTASI Hubungannya
Pergeseran linier s Pergeseran sudut θ s = θ . R
Kecepatan linier v Kecepatan sudut ω v = ω . R
Percepatan Linier a Percepatan sudut α a = α . R
Kelembaman
translasi
( massa )
m Kelembaman rotasi
(momen inersia)
I I = ∑ m.r
2
Gaya F = m . a Torsi (momen gaya) λ = I . α λ = F . R
Energi kinetik Energi kinetik -
Daya P = F . v Daya P = λ . ω -
Momentum linier p = m.v Momentum anguler L = I .ω -
PADA GERAK DENGAN PERCEPATAN TETAP
GERAK TRANSLASI (ARAH TETAP) GERAK ROTASI (SUMBU TETAP)
vt = v
0
+ at ωt = ω
0
+ α .t
s = v
o
t +
1
/
2
a t
2
θ = ω
0
t +
1
/
2
α .t
2
v
t
2
= v
0
2
+ 2 a.s ωt
2
= ω
0
2
+ 2α.θ
s = jarak
a = percepatan
v = kecepatan
R = jari–jari lintasan
vt = kecepatan dalam waktu t detik
vo = kecepatan awal
t = waktu yang ditempuh
ωt = kecepatan sudut dalam waktu t detik
ωo= kecepatan sudut awal
Besarnya sudut :
17
θ =
S
R
radian
S = panjang busur
R = jari-jari
f . T = 1 f =
1
T
ω =

T
atau ω = 2 π f
v = ω R
v
1
= v
2
, tetapi ω
1


ω
2
v
1
= v
2
, tetapi ω
1


ω
2
ω
A
= ω
R
= ω
C
, tetapi v
A

v
B

v
C
a
r
=
v
R
2
atau a
r
= ω
2
R
F
r
= m .
v
R
2
atau F
r
= m ω
2
R
1. Gerak benda di luar dinding melingkar
18
N = m . g - m .
v
R
2
N = m . g cos θ - m .
v
R
2
2. Gerak benda di dalam dinding melingkar.
N = m . g + m .
v
R
2
N = m . g cos θ + m .
v
R
2
N = m .
v
R
2
- m . g cos θ N = m .
v
R
2
- m . g
3. Benda dihubungkan dengan tali diputar vertikal
19
T = m . g + m
v
R
2
T = m m . g cos θ + m
v
R
2

T = m .
v
R
2
- m . g cos θ
T = m .
v
R
2
- m . g
4. Benda dihubungkan dengan tali diputar mendatar (ayunan centrifugal/konis)
T cos θ = m . g
T sin θ = m .
v
R
2
Periodenya T = 2π
L
g
cosθ
Keterangan : R adalah jari-jari lingkaran
5. Gerak benda pada sebuah tikungan berbentuk lingkaran mendatar.
N . µ
k
= m .
v
R
2
N = gaya normal
N = m . g
20
GRAVITASI
1.
2
2 1
R
m m
G F

⋅ ·
VEKTOR
2.
2
R
M
G g · VEKTOR

kuat medan gravitasi
3.
R
M
G v − · massa bumi
4.
R
M m
G Ep

− ·
5.
( )
A B B A
v v m w − ·

6. HKE

,
_

¸
¸
− + ·
2 1
2
1
2
2
1 1
2
R R
GM v v
F = gaya tarik-menarik antara kedua benda
G = konstanta gravitasi
m
1
= massa benda 1
m
2
= massa benda 2
R = jarak antara dua benda
Ep = energi potensial gravitasi
V = potensial gravitasi
W
AB
= Usaha dari benda A ke B
V
1
= kecepatan benda 1
V
2
= kecepatan benda 2
21
USAHA–ENERGI
_______________
1.
s F w ⋅ · α cos
α = sudut kemiringan

v = kecepatan
2.
2
2
1
mv Ek · W = usaha
F = Gaya
3. h g m Ep ⋅ ⋅ · s = jarak
Ep = Energi Potenaial
4. Ek Ep Emek + · m = massa benda
g = percepatan gravitasi
5.
Ek w ∆ ·
h = ketinggian benda dari tanah
Ek = Energi Kinetik
6.
Ep w ∆ ·
Em = Energi mekanik
7. HKE (Hukum Kekekalan Energi)

2 2 1 1
Ep Ek Ep Ek + · +
22
MOMENTUM–IMPULS–TUMBUKAN
1.
v m P ⋅ ·
P = momentum
m = massa
2.
t F I ∆ ⋅ ·
v = kecepatan
I = impuls
3.
( )
0
v v m I
P I
t
− ·
∆ ·
F= gaya
∆t = selang waktu
4. HKM (Hukum Kekekalan Momentum)

⋅ +

⋅ · ⋅ + ⋅
B B A A B B A A
v m v m v m v m
arah kekanan v +
arah ke kiri v -
5.
B A
B A
v v
v v
e




− · e = koefisien tumbukan (kelentingan)
6. Jenis tumbukan
 Lenting sempurna 1 · e HKE
HKM
 Lenting sebagian 1 0 < < e HKM
 Tidak lenting sama sekali 0 · e HKM
7.
0
1
h
h
e ·
h
1
= tinggi benda setelah pemantulan 1
h
o
= tinggi benda mula-mula
8.
n
n
e h h
2
0
⋅ ·
h
n
= tinggi benda setelah pemantulan ke n
9.
23
E hilang = Ek sebelum tumbukan – Ek sesudah tumbukan
=
¹
;
¹
¹
'
¹

,
_

¸
¸

+
,
_

¸
¸


¹
;
¹
¹
'
¹
+
2 2
2 2
2
1
2
1
2
1
2
1
B B A A B B A A
v m v m v m v m
ELASTISITAS
1. x k F ⋅ · F = gaya pegas
k = konstanta pegas
2.
2
2
1
x k Ep ⋅ · luasan grafik F – x x = simpangan pada pegas
Ep = energi potensial
3
2 1
k k kp + ·
susunan paralel
4.
2 1
1 1 1
k k ks
+ ·
susunan seri

5.
L A
L F P
E
∆ ⋅

· ·
0
ε
F = gaya tekan/tarik
Lo = panjang mula-mula
A = luas penampang yang tegak lurus gaya F
∆L = pertambahan panjang
E = modulus elastisitas
P = stress
ε = strain
24
FLUIDA
Fluida Tak Bergerak
1.
v
m
·
zat
ρ
2.
air
relativ
ρ
ρ
ρ
z
·
air
ρ pada 4
0
C
3
1
cm
gr
=
3
1000
m
kg
3.
B A
B A
c
v v
m m
+
+
· ρ
4.
h g
z h
⋅ ⋅ · ρ ρ
5.
A h g
A Fh
z
h
⋅ ⋅ ⋅ ·
⋅ ·
ρ
υ

6. Archimedes : Gaya ke atas yang bekerja pada benda besarnya sama dengan jumlah (berat) zat cair yang
dipindahkan.
h g F
z A
⋅ ⋅ · ρ
7. Terapung
A
F w < (jika dibenamkan seluruhnya)

·
A
F w
dalam keadaan setimbang
2
v g v g
z b bd
⋅ ⋅ · ⋅ ⋅ ρ ρ
8. Melayang
( )
2 1 2 1
v v g w w
z
+ ⋅ · + ρ
25
9. Tenggelam
A
F w >
A s
F w w − ·
10. Kohesi (K)
Adhesi (A)
11. Kapilaritas
r g
y
z
⋅ ⋅
·
ρ
θ γ cos 2
Fl ui da Bergerak
1. v A
t
Q ⋅ · ·
Vol
2. Kontinuitas
2 2 1 1
v A v A ·
3. Bernoully
2
2 2 2
2
1 1 1
2
1
2
1
v h g P v h g P ⋅ + ⋅ ⋅ + · ⋅ + ⋅ ⋅ + ρ ρ ρ ρ
ρ = massa jenis
m = massa
v = volume
A = luas permukaan
P = daya tekan
h = ketinggian dari dasar
Q = Debit
ρ
relatif
= massa jenis relatif
26
GELOMBANG BUNYI
GETARAN
k = konstanta pegas
1. W = berat
x = perubahan panjang pegas
F = gaya pegas
y = simpangan
2. Ep = energi potensial
Emek = energi mekanik
Ek = energi kinetik
3. A = amplitudo
t = waktu
ω = kecepatan sudut
4. m = massa
T = periode
k = konstanta
5. l = panjang
f = frekuensi
λ = panjang gelombang
Lo = panjang mula-mula
6. ∆L = perubahan panjang
n = nada dasar ke
Vp = kecepatan pendengar
Vs = kecepatan sumber bunyi
7. P = daya
R
1
= jarak 1
R
2
= jarak 2
8.
9.
10.
11.
27
k =
x
w
F = - k .
Ep = ½ ky
2
E mek = ½ kA
2
Ek = ½ k (A
2
-y
2
)
v =
m
y A k ) (
2 2

2
ω m k ·
t A y ω sin ·
t A v ω ω cos ·
t A a ω ω sin
2
− ·
t A m Ek ω ω
2 2 2
2
1
cos ·
12.
13.
14. 2
k
m
T π ·
15. 2
g
l
T π ·
GELOMBANG
mekanikrefleksi gel. gel.
refraksi longitudinal transversal
interferensi λ 1
Gelombang defraksi
polarisasi
λ 1
gel.
1.
t v f v ⋅ · → ⋅ · λ λ
2.
3.
4.
28
t A m Ep ω ω
2 2 2
2
1
sin ·
2 2
2
1
A m mek E ω ·
elektromagnetik
y gel. berjalan =
,
_

¸
¸

λ
π
x
T
t
A 2 sin
y diam ujung bebas 0 · ∆ ϕ

,
_

¸
¸
− ·
λ
π
λ
π
L
T
t x
A y 2 sin 2 cos 2
y diam ujung terikat
2
1
· ∆ ϕ

,
_

¸
¸
− ·
λ
π
λ
π
L
T
t x
A y 2 cos 2 sin 2
5.
6.
7.
BUNYI Gelombang Longitudinal
nada > 20.000 Hz (Ultrasonic) keras / lemah tergantung Amplitudo
Bunyi 20 Hz – 20.000 Hz
desah < 20 Hz (Infrasonic) tinggi/rendah tergantung Frekuensi

Nada Sumber
1. Dawai
ND
2 Pipa Organa Terbuka
3. Pipa Organa Tertutup
29

m F
v · · µ
µ
ρ
E
v ·
E = modulus young
L A
Lo F P
E
Lo
L
A
F
∆ ⋅

· · · ·

ε strain
stress
v gas =
ρ
γ
P
=
M
RT
γ
Cv
Cp
· γ
( )
( ) s n
P n
2
1
+
+
v
L
n
f
n
2
1 +
·
( )
( ) s n
P n
1
2
+
+
v
L
n
f
n
2
1 +
·
( )
( ) s n
P n
1
1
+
+
v
L
n
f
n
4
1 2 +
·
Sifat :
 Refleksi (Pemantulan)
 Resonansi
 Interferensi (Percobaan Quinke)
• memperkuat λ n
• memperlemah ( ) λ
2
1
1 + n
 Pelayangan (beat) Beat
 Efek Doppler
 Intensitas
 Taraf Intensitas (TI)
2
m
Watt
12
0
10

· I
dB
30
2
.tpp v
d ·
ln = ( ) λ
4
1
1 2 − n
f layangan =
B A
f f −
s
s
P
P
f
v v
v v
f ⋅
t
t
·
2
4 R
P
A
P
I
π
· ·
2
2
2
1
2 1
1
:
1
:
R R
I I ·
0
log 10
I
I
TI ·
SUHU DAN KALOR
01. C R F K
Td 100 80 212 373 C = celcius
R = reamur
Air 100 80 180 100 F = fahrenheit
t
k
= suhu dalam kelvin
Tb 0 0 32 273 t
c
= suhu dal am
cel si us
C : R : F = 5 : 4 : 9
t
K
= t
C
+ 273
Contoh :
X Y
Tb -20 40 X : Y = 150 : 200
= 3 : 4
60 ?


3
4
(60 + 20) + 40 = …
Td 130 240
enaikkan suhu
Sifat termal zat diberi kalor (panas) perubahan dimensi (ukuran)
ubahan wujud
2. Muai panjang. ∆L = perubahan panjang
= koefisien muai panjang
∆L = Lo . α . ∆t Lo = panjang mula-mula
∆t = perubahan suhu
Lt = Lo ( 1 + α . ∆t ) Lt = panjang saat t
o
∆A = perubahan luas

Ao = luas mula-mula
31
3. Muai luas. β= koefisien muai luas
∆V = perubahan volume
∆A = Ao . β . ∆t Vo = Volume awal
γ= koefisien muai volume
At = Ao ( 1 + β . ∆t )
4. Muai volume.
∆V = Vo . γ . ∆t

Vt = Vo ( 1 + . γ . ∆t )

β = 2 α
}γ = Q = kalor
γ = 3 α
m = massa
c= kalor jenis
t = perubahan suhu
5. Q = m . c. ∆t H = perambatan suhu
6. Q = H . ∆t
7. H = m . c
8. Azas Black. T
1
Q
dilepas
Q
dilepas
= Q
diterima
T
A
Q
diterima

T
2
09. Kalaor laten Kalor lebur Q = m . Kl Kl = kalor lebur

Kalor uap Q = m . Ku Ku = kalor uap
9. Perambatan kalor.
32
Konduksi Konveksi Radiasi
H =
l
t A k ∆ . .
H = h . A . ∆t I = e . σ . T
4

A = luas
k = koefisien konduksi
l = panjang bahan
h = koefisien konfeksi
I = Intensitas
e = emitivitas bahan
σ = konstanta Boltzman
T = suhu
33
LISTRIK STATIS
01.
F k
q q
r
·
1 2
2
.


k ·
1
4
0
π
ε
= 9 x 10
9
Nm
2
/Coulomb
2
ε
0
= 8,85 x 10
-12
Coulomb
2
/ newton m
2
F = gaya
Q1 = muatan benda 1
Q2 = muatan benda 2
R = jarak benda 1 ke 2
02.
E k
Q
r
·
2

E = kuat medan listrik
Q = muatan
R = jarak
03. Kuat medan listrik oleh bola konduktor.

E
R
=0.
Es k
Q
R
·
2

Ep k
Q
r
·
2
Er = kuat medan listrik di pusat bola
Es = kuat medan listrik di kulit bola
Ep = kuat medan listrik pada jarak p dari pusat bola
04. Kuat medan disekitar pelat bermuatan.
34


Ep ·
σ
ε
2
0
σ ·
Q
A

E
P
·
σ
ε 0
σ = rapat muatan Ep = kuat medan listrik
05.
W k Q q
r r
A B
B A
− − − − − >
· − . . .( )
1 1
Bila r
A
= ∼ maka
W k
Q q
r
B
B
~
.
.
− − − − − >
·
-----
E k
Q q
r
Q q
r
P
B B
· ·
.
.
. 1
4
0
π
ε
6.
V k
Q
r
Q
r
B B
· ·
1
4
0
π
ε
.
V = potensial listrik
07. W q v v
A B B A − − − − − >
· − .( )
08. POTENSI AL BOLA KONDUKTOR.

V
O
= V
K
= V k
q
R
L
· . V k
q
r
M
· .
09. HUKUM KEKEKALAN ENERGI

( ) ( ) v v
q
m
V V
2
2
1
2
1 2
2
· + − ( )
10. C
Q
V
·
35
11.
C
A
d
0
0
·
ε

C
A
d
·
ε
.
12.
C C K
K A
d
· ·
0
0
.
ε
13.
W
Q
C
·
1
2
2
atau W CV ·
1
2
2
14. Susunan Seri.

- Q
s
= Q
1
= Q
2
= Q
3
= .....
- V
s
= V
ab
+ V
bc
+ V
cd
+ V
de
+.....
-
1 1 1 1
1 2 3
C C C C
S
· + + + .....
15. Susunan paralel.

- V
p
= V
1
= V
2
= V
3

- Qp = Q
1
+ Q
2
+ Q
3
+ .....
- Cp = C
1
+ C
2
+ C
3
+ .....
36
16.
2 1
2 2 2 1
C C
V C V C
V
GAB
+
+
·
C = kapasitas listrik
Q = muatan listrik
V = beda potensial
Co = Kapasitas dalam hampa udara
d = jarak antar dua keeping
A = luas masing-masing keeping
K = konstanta dielektrik
W = energi kapasitor
37
LISTRIK DINAMIS
1. i
dq
dt
·
2. dq = n.e.V.A.dt
i
dq
dt
n e V A · · . . . Ampere
03. J
i
A
n e V · · . . Ampere/m
2
04.
i
V V
R
A B
·

05. R = ρ.
L
A

06. R
(t)
= R
0
( 1 + α.t )
07. SUSUNAN SERI

÷→ i = i
1
= i
2
= i
3
= ....
38
÷→ V
S
= V
ab
+ V
bc
+ V
cd
+ ...
÷→ R
S
= R
1
+ R
2
+ R
3
+ ...
08. SUSUNAN PARALEL

÷→ V
P
= V
1
= V
2
= V
3
÷→ i + i
1
+ i
2
+ i
3
+ ....
÷→
1 1 1 1
1 2 3
R R R R
p
· + + + ...
09. Jembatan wheatstone
R
X
. R
2
= R
1
. R
3

R
R R
R
X
·
1 3
2
.
10. AMPEREMETER/ GALVANOMETER.

R
n
R
S d
·

1
1
Ohm
11. VOLTMETER.
39

Rv = ( n - 1 ) Rd Ohm
.
W = i
2
. r . t = V . i . t Joule
1 kalori = 4,2 Joule dan 1 Joule = 0,24 Kalori
W = 0,24 i
2
. r . t = 0,24 V . i . t Kalori
13. P
dw
dt
V i · · . (Volt -Ampere = Watt)
14. Elemen PRIMER : elemen ini membutuhkan pergantian bahan pereaksi setelah sejumlah energi
dibebaskan melalui rangkaian luar misalnya : Baterai.
Pada elemen ini sering terjadi peristiwa polarisasi yaitu tertutupnya elektroda-elektroda sebuah elemen
karena hasil reaksi kimia yang mengendap pada elektroda-elektroda tersebut.
Untuk menghilangkan proses polarisasi itu ditambahkan suatu zat depolarisator.
Berdasarkan ada/tidaknya depolarisator, dibedakan dua macam elemen primer :
1. Elemen yang tidak tetap; elemen yang tidak mempunyai depolarisator, misalnya pada elemen
Volta.
2. Elemen tetap; elemen yang mempunyai depolarisator.
misalnya : pada elemen Daniel, Leclanche, Weston, dll.
b) Elemen SEKUNDER : Elemen ini dapat memperbaharui bahan pereaksinya setelah dialiri arus dari
sumber lain, yang arahnya berlawanan dengan arus yang dihasilkan, misalnya : Accu.
Misalkan : Akumulator timbal asam sulfat. Pada elemen ini sebagai Katoda adalah Pb; sedangkan
sebagai Anode dipakai PbO
2
dengan memakai elektrolit H
2
SO
4
.
c) Elemen BAHAN BAKAR : adalah elemen elektrokimia yang dapat mengubah energi kimia bahan bakar
yang diberikan secara kontinue menjadi energi listrik.
Misalkan : pada elemen Hidrogen-Oksigen yang dipakai pada penerbangan angkasa.
40
15. ε =
dW
dq
( Joule/Coulomb = Volt )

16.
i
R r
·
+
ε
17. disusun secara seri


i
n
n r R
·
+
.
.
ε
18. disusun secara paralel


i
r
m
R
·
+
ε
19. Susunan seri - paralel
41


i
n
n
m
r R
·
+
.
.
ε
20. TEGANGAN J EPI T
K = i . R
21. Hukum Kirchhoff I ( Hukum titik cabang )
∑ i = 0

i
1
+ i
2
+ i
3
= i
4
+ i
5

22. Hukum Kirchoff II ( Hukum rangkaian tertutup itu )
Σ
ε +
Σ
i.R = 0
E : negatif
E : positif
arah arus berlawanan dengan arah loop diberi tanda negatif.
I = kuat arus Ro = hambatan mula-mula
q = muatan listrik α = koefisien suhu
t = waktu P = daya
v = kecepatan electron r = hambatan dalam
n = jumlah electron per satuan volume ε = GGL
42
e = muatan electron n = jumlah rangkaian seri
A = luas penampang kawat m = jumlah rangkaian paralel
V = beda potensial Rd = hambatan dalam
R = hambatan K = tegangan jepit
ρ = hambat jenis kawat Rv = tahanan depan
43
MEDAN MAGNET
01. µ
r
·
µ
µ 0
02. B
A
·
φ
03. H
B
·
µ
04. B H r o H · · µ µ µ . .
05. Benda magnetik : nilai permeabilitas relatif lebih kecil dari satu.
Contoh : Bismuth, tembaga, emas, antimon, kaca flinta.
Benda paramagnetik : nilai permeabilitas relatif lebih besar dari pada satu.
Contoh : Aluminium, platina, oksigen, sulfat tembaga dan banyak lagi garam-garam logam adalah zat
paramagnetik.
Benda feromagnetik : nilai permeabilitas relatif sampai beberapa ribu.
Contoh : Besi, baja, nikel, cobalt dan campuran logam tertentu ( almico )
06. Rumus Biot Savart.
dB =
0
4
µ
π

2
sin .
r
d I θ ℓ
k =
0
4
µ
π
= 10
-7

Weber
A m .
07. Induksi magnetik di sekitar arus lurus
B =
0
2
µ
.
I
a π .
H =
B
µ
=
B
r
µ µ
.
0
=
I
a 2π .
44
08. Induksi Induksi magnetik pada jarak x dari pusat arus lingkaran.
B =
0
2
µ
.
a I N
r
. .
. sin
2
1
α
atau B =
0
2
µ
.
a I N
r
2
3
. .
09. Induksi magnetik di pusat lingkaran.
B =
0
2
µ
.
I N
a
.
10. Sol enoi de
Induksi magnetik di tengah-tengah solenoide :
B n I ·
0
µ
Bila p tepat di ujung-ujung solenoide

B n I ·
0
2
µ
11. Toroi da
I n B
µ
·
n =
N
R 2π
12. Gaya Lorentz
F = B I

sin α
F = B.q.v sin α
13.

Besar gaya Lorentz tiap satuan panjang

F
I I
a
P Q
·
0
2
µ
π
14. Gerak Part i kel Bermuat an Dal am Medan Li st ri k
45
lintasan berupa : PARABOLA.
percepatan : a
q E
m
·
.
Usaha : W = F . d = q . E .d
Usaha = perubahan energi kin
E
k
= q . E .d

1
2 2
2
1
2 1
2
mv mv q E d − · . .
15. Lintasan partikel jika v tegak lurus E.

t
v
·


d at
q E
m v
X
· ·
1
2
2
1
2
2
2
.
.
.

Kecepatan pada saat meninggalkan medan listrik.

v v v
X Y
· +
2 2

v a t
q E
m v
Y
X
· · .
.
.

Arah kecepatan dengan bidang horisontal θ :

tg
v
v
Y
X
θ ·
16. Gerak Part i kel Bermuat an Dal am Medan Magnet
Lintasan partikel bermuatan dalam medan magnet berupa LINGKARAN.
jari-jari : R =
m v
B q
46
17. Momen koppel yang timbul pada kawat persegi dalam medan magnet
τ = B.i.A.N.Sin θ
μr = permeabilitas relative a = jari–jari lingkaran
μ = permeabilitas zat r = jarak
B = induksi magnet I = kuat arus
ф = Fluks N = banyak lilitan
H = kuat medan magnet l = panjang kawat
A = luas bidang yang ditembus F = gaya Lorentz
q = muatan listrik v = kecepatan partikel
θ = sudut antara v dengan B R = jari-jari lintasan partikel
47
IMBAS ELEKTROMAGNETIK
Perubahan fluks : E
ind
= -N
dt

Perubahan arus : E
ind
= -L
dt
di

GGL IMBAS Induktansi timbal balik : E
ind1
= -M
1
1
dt
di
, E
ind2
= -M
2
2
dt
di
Kawat memot ong gari s gaya : E
i n d
= B. l . v si n α

Kumparan berputar : E
ind
= N.B.A.ω sin ωt
L = N
i
φ
L =

A N
o
2
µ
INDUKTANSI DIRI
M = N
2
1
1
i
φ
, M = N
1

2
2
i
φ
M =

A N N
o 2 1
µ
(Induktansi Ruhmkorff)
Ideal : Np : Ns = Is : Ip
TRANSFORMATOR Np : Ns = Ep : Es
Tidak ideal : Ps = ηPp
E
ind
= GGL induksi
N = banyak lilitan
B = induksi magnet
A = luas bidang permukaan/kumparan
θ = fluks magnet
L = induktansi diri
I = kuat arus
Np = banyak lilitan kumparan primer
48
Ns = banyak lilitan kumparan sekunder
l = panjang solenoida
Pp = Daya pada kumparan primer
Ps = daya pada kumparan sekunder
Ep = tegangan pada kumparan primer
Es = tegangan pada kumparan sekunder
ω = kecepatan sudut
M = induktansi Ruhmkorff
49
OPTIKA GEOMETRI
PlatodanEuclides:adanyasinar-sinarpenglihat.
Teori melihat benda Aristoteles : Menentang sinar-sinar penglihat.
Al Hasan : Pancaran atau pantulan benda
Si r I saak Newt on : Teor i Emi si “ Sumber cahaya
menyal ur kan
Par t i kel yang keci l dan r i ngan ber kecepat an t i nggi .
Chr i st i an Huygens : Teor i Et er al am : cahaya pada
dasar nya
Sama dengan bunyi , mer ambat memer l ukan
medi um.
Thomas Young dan August i ne Fr esnel l : Cahaya
dapat l ent ur dan ber i nt er f er ensi
Jean Leon Foucaul t : Cepat rambat cahaya di zat cai r l ebi h keci l dari pada di
udara.
TEORI CAHAYA JamesClerkMaxwell:Cahayagelombangelektromagnetik.
HeinrichRudolphHertz:Cahayageloimbangtransversal
karenaMengalamipolarisasi.
PieterZeeman:Cahayadapatdipengaruhimedanmagnet
yangkuat.
JohannesStark:Cahayadapatdipengaruhimedanlistrik
yangkuat.
MichelsondanMorley:Eteralamtidakada.
MaxKarlErnestLudwigPlanck:Teorikwantumcahaya.
AlbertEinstein:Teoridualismecahaya.Cahayase-
bagaipartikeldanbersifatgelombang
Merupakangelombangelektromagnetik.
Tidakmemerlukanmediumdalamperambatannya
Merambatdalamgarislurus
SI FAT CAHAYA Kecepat an t er besar di dal am vakum 3. 10
8
m/ s
Kecepatandalammediumlebihkecildarikecepatandi
vakum.
Kecepatandidalamvakumadalahabsoluttidaktergan-
tungpadapengamat.

50
PEMANTULANCAHAYA.
01.
'
1 1 1
s s f
+ ·
02.M=-
s
s
'
=/
h
h
'
/
03.Cermindatar:R=∞sifatbayangan:maya,samabesar,tegak
n=
α
360
-1
04.cermingabungand=s1’+s2
Mtotal=M1.M2
Cermincekung:R=positifMengenal4ruang
Sifatbayangan:bendadiRuangI:Maya,tegak,diperbesar
BendadiRuangII:Nyata,terbalik,diperbesar
BendadiRuangIII:Nyata,terbalik,diperkecil
Cermincembung:R=negatifsifatbayangan:Maya,tegak,diperkecil
PEMBIASAN/REFRAKSI.
01.Indeksbiasnbenda=
m
u
m
v
c
λ
λ
· nbenda>1
nrelatifmedium1thdpmedium2n12=
1
2
1
2
2
1
λ
λ
· ·
v
v
n
n
02.bendabeningdatarnsini=n’sinr
03.kacaplanparalel(1)nsini=n’sinr(carir)
(2) t= ) sin(
cos
r i
r
d

04.Prismaδ(deviasi)umum(1)nsini1=n’sinr1(carir1)
2 (2)β=r1+i2(carii2)
(3)n’sini2=nsinr2(carir2)
(4)δ=i1+r2-β

minimumsyarat:i1=r2

β>10
o
sin½(δmin+β)=
β
2
1
sin
'
n
n
51
β>=10
o
δmin=
β ) 1 (
'

n
n

05.Permukaanlengkung.
R
n n
s
n
s
n −
· +
'
'
'
06.Lensatebal(1)
1
'
'
1
'
1
R
n n
s
n
s
n −
· +

(2)d=s1’+s2

(3)
2
'
'
2
2
'
R
n n
s
n
s
n −
· +
07.Lensatipis )
1 1
)( 1 (
1
2 1
'
R R n
n
f
− − ·

2 1
1 1 1
f f f
gab
+ ·
Cembung-cembung(bikonveks)R1+,R2-
Datar–cembungR1=takhingga,R2-
Cekung–cembungR1-,R2-
Cekung-cekung(bikonkaaf)R1-,R2+
Datar–cekungR1=takhingga,R2+
Cembung–cekungR1+,R2+
9.LensaKonvergen(positif)
'
1 1 1
s s f
+ ·
divergen(negatif)M=-
s
s
'
=/
h
h
'
/
10.Kekuatanlensa(P)P=
f
1
fdalammeter
52
P=
f
100
fdalamcm
n=banyakbayangan(untukcermindatar)R=jari-jaribidanglengkung
θ=sudutantarakeduacerminλ=panjanggelombangcahaya
f=jarakfocusP=kekuatanlensa
s=jarakbendakecermin
s’=jarakbayangankecermin
h=tinggibenda
h’=tinggibayangan
m=perbesaranbayangan
i=sudutdatang
r=sudutpantul
n=indeksbias
d=tebalkaca
t=pergeseransinar
β=sudutpembias
δ=deviasi
53
ALAT-ALAT OPTIK
Mata Emetropi (mata normal) pp = 25 cm ; pr = ∞
Mata Myopi (mata dekat/rabun jauh) pp = 25 cm ; pr < ∞
M A T A Mata Hipermetropi (rabun dekat) pp > 25 cm ; pr = ∞
Mata Presbiopi (mata tua) pp > 25 cm ; pr < ∞
Kaca Mata lensa Negatif (Untuk orang Myopi)
s = ∞ dan s’ = -pr
KACA MATA
Kaca Mata lensa Positif (Untuk orang hipermetropi)
s = 25 cm dan s’ = -pp
Akomodasi max P = 1 +
f
Sd
Ditempel dimata
Tanpa Akomodasi P =
f
Sd
LOUPE
Berjarak d cm dari mata D = -s’ + d D = daya akomodasi
P =
f D
d Sd
D
Sd
f
Sd
.
.
− +
Sd = titik baca normal
d = s’
oby
+ s
ok
54
Akomodasi max
P = ) 1 (
'
+ −
fok
Sd
s
s
oby
oby

MIKROSKOP d = jarak lensa obyektif - okuler
Tanpa Akomadasi d = s’
oby
+ f
ok

P = ) (
'
fok
Sd
s
s
oby
oby

Akomodasi max d = foby + sok
P = ) (
Sd
f Sd
f
f
ok
ok
oby
+
TEROPONG BINTANG
Tanpa akomodasi d = foby + fok
P =
ok
oby
f
f
Pp = titik jauh mata
Pp = titik dekat mata
s’ = jarak bayangan
s = jarak benda ke lup
P = kekuatan lensa
d = jarak lensa obyektif dengan lensa okuler
55
ARUS BOLAK-BALIK
Osiloskop = mengukur tegangan max
E=E
max
. Sin ω.t
E
efektif
= yang diukur oleh voltmeter
E
max
= yang belum terukur
E
pp
= dari puncak ke puncak
ω = frekwensi anguler
t = waktu
V
max
=

tegangan maksimum
I
max
= Arus maksimum
T = periode
E
efektif
=
2
max V
I
efektif
=
2
max i
 I
efektif
= I
max
{

T
dt
T T
0
2
)
2
( sin
1 π
}
E
pp
= 2.E
max
I. Resistor pada DC-AC

II. Induktor (L) pada DC-AC
Xl = reaktansi induktif
56

dt
t ax
L E
. sin . dim ϖ
·
t i L E . cos . max . . ϖ ϖ ·
L Xl . ϖ ·
(satuan X
L
= ohm)
III. Capacitor pada DC-AC
C = kapasitas kapasitor
Q=C.V
Xc = reaktansi kapasitif
dt
V dc
dt
dQ
i
.
· ·

dt
t dV c
i
. sin . max . ϖ
·
t V c i . cos . max . . ϖ ϖ ·
X
C
=
C ω
1
(Satuan X
C
= 0hm)
IV. R-L-C dirangkai seri

1. L Xl . . ϖ ·
2.
C
Xc
.
1
ϖ
·
3. Gambar fasor

4.
2 2
) ( Xc Xl R Z − + ·
5.
Z
E
i ·
57
6. R i Vab . ·
2 2
Vl Vr Vac + ·
Xc i Vcd
Xl i Vbc
.
.
·
·
2 2
) ( Vc Vl Vr Vad
Vc Vl Vbd
− + ·
− ·
7. Daya=Psemu.cos θ
Daya=Psemu.
Z
R
Psemu = V.I (Volt Amper)
a. → > Xc Xl RLC bersifat induktif
V mendahului I dengan beda fase θ
b. → · Xc Xl RLC resonansi
Z = R  kuat arus paling besar, karena hambatan total paling kecil.
C L
f
.
1
2
1
π
· C L T . 2π ·
c. → > Xl Xc RLC bersifat capasitif
I mendahului V dengan beda fase θ
8. tg θ =
R
XC XL −
Z = Impedansi
θ = sudut fase
L = induktansi diri
f = frekwensi
T = periode
R = hambatan
58
PERKEMBANGAN TEORI ATOM
- Atom-atom merupakan partikel terkecil dari suatu zat
- Atom-atom suatu zat tidak dapat diuraikan menjadi partikel
Yang lebih kecil.
- Atom suatu unsur tidak dapat diubah menjadi unsur lain.
- Atom-atom setiap zat adalah identik, artinya mempunyai
Bentuk, ukuran dan massa yang sama.
DALTON - Atom suatu zat berbeda sifat dengan atom zat lain.
- Dua atom atau lebih yang berasal dari unsur-unsur yang
berlainan dapat membentuk senyawa.
- Pada suatu reaksi atom-atom bergabung menurut perban-
Dingan tertentu.
- Bila dua macam atom membentuk dua macam senyawa
Atau lebih, maka perbandingan atom-atom yang sama dalam
kedua senyawa itu sederhana.
KELEMAHANNYA.
- Atom tidak dapat dibagi lagi bertentangan dengan ekspe-
Rimen.
- Dalton tidak membedakan pengertian atom dan molekul
Satuan molekul juga disebut atom.
- Atom merupakan bola kecil yang keras dan padat ber-
Tentangan dengan eksperimen Faraday dan J.J Thomson
- Atom merupakan suatu bola yang mempunyai muatan
Positif yang terbagi merata ke seluruh isi atom.
TEORI J.J THOMSON
ATOM - Muatan positif dalam atom ini dinetralkan oleh elektron-
Elektron yang tersebar diantara muatan-muatan positif
Itu dan jumlah elektron ini sama dengan jumlah muatan
Positif.
KELEMAHANNYA.
- Bertentangan dengan percobaan Rutherford dengan ham-
Buran sinar Alfa ternyata muatan positif tidak merata na-
Mun terkumpul jadi satu yang disebut INTI ATOM.
59
- Atom terdiri dari muatan-muatan positif, di mana seluruh
Muatan posoitif dan sebagian besar massa atom terkumpul
ditengah-tengah atom yang disebut dengan INTI ATOM.
- Di sekeliling inti atom, pada jarak yang relatif jauh beredar
RUTHERFORD Lah elektron-elektron mengelilingi inti atom.
- Muatan inti atom sama dengan muatan elektron yang me-
ngelilingi inti, sehingga atom bersifat netral.
KELEMAHANNYA.
- Model atom ini tidak dapat menunjukkan kestabilan atom
Atau tidak mendukung kemantapan atom.
- Model atom ini tidak dapat menunjukkan bahwa spektrum
Atom-atom Hidtrogen adalah spektrum garis tertentu.
Pengukuran massa elektron oleh : J.J. Thomson dengan percobaan Tetes Minyak Milikan.
SINAR KATODA Partikel bermuatan negatif
Sifat : - Bergerak cepat menurut garis lurus keluar tegak lurus dari katoda.
- Memiliki energi
- Memendarkan kaca
- Membelok dalam medan listrik dan medan magnet.
MODEL ATOM BOHR DIBUAT BERDASARKAN 2 POSTULATNYA YAITU :
1. Elektron tidak dapat berputar dalam lintasan yang sembarang, elektron hanya dapat berputar pada
lintasan tertentu tanpa memancarkan energi. Lintasan ini
Disebut lintasan stasioner. Besar momentum anguler elektron pada lintasan
Stasioner ini adalah : mvr =
π 2
nh
n disebut bilangan kwantum (kulit) utama.
2. Elektron yang menyerap energi (foton) akan berpindah ke lintasan yang ener-
ginya tinggi, dan sebaliknya.
1. Ep = -k
r
e
2
2. Ek = - ½ k
r
e
2
3. Etotal = - ½ k
r
e
2
60
4. r =
2
2
2
)
2
(
π
h
k me
n
5. r
1
: r
2
: r
3
: … = 1
2
: 2
2
: 3
2
: …
6.
)
1 1
(
1
2 2
B A
n n
R − ·
λ
R = tetapan Ridberg R = 1,097.10
7
m
-1

Deret Lyman n
A
= 1 n
B
= 2, 3, 4 ….
Deret Balmer n
A
= 2 n
B
= 3, 4, 5, ….
Deret Paschen n
A
= 3 n
B
= 4, 5, 6, ….
Deret Brackett n
A
= 4 n
B
= 5, 6, 7, ….
Deret Pfund n
A
= 5 n
B
= 6, 7, 8, ….
λ
max
f
min
n
B
= 1 lebihnya dari n
A

λ
min
f
max
nB = ∞

Energi stasioner E = eV
n
2
6 , 13
05. Energi
Energi Pancaran E = 13,6 (
)
1 1
2 2
B A
n n

eV E = h.f (J)
e = muatan electron
r = jari-jari lintasan electron
Ep = Energi potensial
Ek = energi kinetic
n = bilangan kuantum
r = jari-jari lintasan electron
λ = panjang gelombang
h = tetapan Planck

61
RADIOAKTIVITAS
Adanya Fosforecensi : berpendarnya benda setelah disinari.
Dasar penemuan
Adanya Fluorecensi : berpendarnya benda saat disinari.
Penemu: Henry Becquerel
Menghitamkan film
Dapat mengadakan ionisasi
Dapat memendarkan bahan-bahan tetentu
Sifat-sifat Merusak jaringan tubuh
Daya tembusnya besar
Sinar α
Macam sinar Sinar β Penemu: Pierre Curie dan Marrie Curie
Sinar γ
Urutan naik daya tembus: Sinar α, Sinar β, Sinar γ
Urutan naik daya ionisasi: Sinar γ , Sinar β, Sinar α
x x x x x x γx x x x x
B α
x x x x x x x x x x x x
β
x x x x x x x x x x x x
01. I = Io e
-µx
02. HVL nilai x sehingga I = ½ Io HVL =
µ µ
693 , 0 2 ln
·
03.
Z
X
A
N = A – Z
04. Deffect massa = (Σm
proton
+ Σm
netron
) – m
inti
05. E
ikat inti
= {(Σm
proton
+ Σm
netron
) – m
inti
}.931 MeV m dalam sma
62
= {(Σm
proton
+ Σm
netron
) – m
inti
}.c
2
m dalam kg
α

Z
X
A

Z-2
X
A-4
atau
Z
X
A
Z-2
X
A-4
+ α
06. Hukum Pergeseran β

Z
X
A

Z+ 1
X
A
atau
Z
X
A
Z+ 1
X
A
+ β
Jika memancarkan γ tetap
07. T =
λ λ
2 ln 693 , 0
·
8. R = λ. N
9. N = No.2
-t/T
10. D =
m
E
11. E
reaksi
= (Σm
sebelum reaksi
-Σm
sesudah

reaksi
).931 MeV m dalam sma.
= (Σm
sebelum reaksi
-Σm
sesudah

reaksi
).c
2
m dalam kg
12. Reaksi FISI Pembelahan inti berat menjadi ringan
Terjadi pada reaktor atom dan bom atom
Menghasilkan Energi besar < enerfi reaksi FUSI
Dapat dikendalikan.
Reaksi FUSI Penggabungan inti ringan menjadi inti berat
Terjadi pada reaksi di Matahari dan bom hidrogen
Tidak dapat dikendalikan.
Pencacah Geiger Muller (pulsa listrik)
Tabung Sintilasi (pulsa listrik)
13. ALAT DETEKSI Kamar kabut Wilson (Jejak lintasan saja)
Emulsi film
X = nama atom / unsure
z = nomor atom
a = nomor massa
p = proton
n = netron
m = massa
T = waktu paruh
N = jumlah inti yang belum meluruh
63
No = jumlah inti mula2
λ = konstanta peluruhan
t = lamanya berdesintegrasi
R = aktivitas radioaktif
64
KESETIMBANGAN BENDA TEGAR
Momen: Momen Gaya : τ=F.l.sin α
Momen Kopel : dua gaya yang sama besar tetapi berlawanan arah, besarnya = F.d
Kesetimbangan Translasi : ΣFx=0,ΣFy=0
Kesetimbangan Rotasi : Στ=0
Kesetimbangan translasi dan Rotasi : ΣF=0, Στ=0
Kesetimbangan Stabil (mantap) :
Apabila gaya dihilangkan, akan kembali ke kedudukan semula.
Kesetimbangan (titik berat benda akan naik)
Kesetimbangan Indeferen :
Gaya dihilangkan, setimbang di tempat berlainan
(titik berat benda tetap)
Keseimbangan labil :
Apabila gaya dihilangkan, tidak dapat kembali semula.
(titik berat benda akan turun)
TITIK BERAT BENDA
Titik berat untuk benda yang homogen ( massa jenis tiap-tiap bagian benda sama ).
a. Untuk benda linier ( berbentuk garis )
x
l x
l
n n
0
·
∑ .
y
l y
l
n n
0
·
∑ .
b. Untuk benda luasan ( benda dua dimensi ), maka :
x
A x
A
n n
0
·
∑ .
y
A y
A
n n
0
·
∑ .
c. Untuk benda ruang ( berdimensi tiga )
x
V x
V
n n
0
·
∑ .
y
V y
V
n n
0
·
∑ .
Sifat - sifat:
1. Jika benda homogen mempunyai sumbu simetri atau bidang simetri, maka titik beratnya terletak pada
sumbu simetri atau bidang simetri tersebut.
2. Letak titik berat benda padat bersifat tetap, tidak tergantung pada posisi benda.
3. Kalau suatu benda homogen mempunyai dua bidang simetri ( bidang sumbu ) maka titik beratnya
terletak pada garis potong kedua bidang tersebut.
65
Kalau suatu benda mempunyai tiga buah bidang simetri yang tidak melalui satu garis, maka titik beratnya
terletak pada titik potong ketiga simetri tersebut.
ΣFx = resultan gaya di sumbu x
ΣFy = resultan gaya di sumbu y
Σσ = jumlah momen gaya
Tabel titik berat teratur linier
Nama benda Gambar benda letak titik berat keterangan
1. Garis lurus
x
0
=
1
2
l
z = titik tengah garis
2. Busur lingkaran
y R
tali busur AB
busur AB
0
· ×
R = jari-jari lingkaran
3. Busur setengah
lingkaran
y
R
0
2
·
π
Tabel titik berat benda teratur berbentuk luas bidang homogen
Nama benda Gambar benda Letak titik berat Keterangan
1. Bidang segitiga
y
0
=
1
3
t
t = tinggi
z = perpotongan
garis-garis berat
AD & CF
2.Jajaran genjang,
Belah ketupat,
Bujur sangkar
Persegi panjang
y
0
=
1
2
t
t = tinggi
z = perpotongan
diagonal AC dan
BD
66
3. Bidang juring
lingkaran
y R
tali busur AB
busur AB
0
2
3
· ×
R = jari-jari lingkaran
4.Bidang setengah
lingkaran
y
R
0
4
3
·
π
R = jari-jari lingkaran
Tabel titik berat benda teratur berbentu bidang ruang homogen
Nama benda Gambar benda Letak titik berat Keterangan
1. Bidang kulit
prisma z pada titik
tengah garis z
1
z
2
y
0
=
1
2
l
z
1
= titik berat
bidang alas
z
2
= titik berat
bidang atas
l = panjang sisi
tegak.
2. Bidang kulit
silinder.
( tanpa tutup )
y
0
=
1
2
t
A = 2 π R.t
t = tinggi
silinder
R = jari-jari
lingkaran alas
A = luas kulit
silinder
3. Bidang Kulit
limas
T’z =
1
3
T’ T
T’T = garis
tinggi ruang
67
4. Bidang kulit
kerucut
zT’ =
1
3
T T’
T T’ = tinggi
kerucut
T’ = pusat
lingkaran alas
5. Bidang kulit
setengah bola.
y
0
=
1
2
R
R = jari-jari
Tabel titik berat benda teratur berbentuk ruang, pejal homogen
Nama benda Gambar benda Letak titik berat Keterangan
1. Prisma
beraturan.
z pada titik tengah
garis z
1
z
2
y
0
=
1
2
l
V = luas alas kali
tinggi
z
1
= titik berat
bidang alas
z
2
= titik berat
bidang atas
l = panjang sisi
tegak
V = volume
prisma
2. Silinder Pejal
y
0
=
1
2
t
V = π R
2
t
t = tinggi silinder
R = jari-jari
lingkaran alas
68
3. Limas pejal
beraturan
y
0
=
1
4
T T’
=
1
4
t
V = luas alas x tinggi
3
T T’ = t = tinggi
limas beraturan
4. Kerucut pejal
y
0
=
1
4
t
V =
1
3
π R
2
t
t = tinggi kerucut
R = jari-jari lingkaran
alas
5. Setengah bola
pejal
y
0
=
3
8
R
R = jari-jari bola.
TEORI KINETIK GAS
GAS IDEAL
1. Gas ideal terdiri atas partikel-partikel (atom-atom ataupun molekul-molekul ) dalam jumlah yang besar
sekali.
69
2. Partikel-partikel tersebut senantiasa bergerak dengan arah random/sebarang.
3. Partikel-partikel tersebut merata dalam ruang yang kecil.
4. Jarak antara partikel-partikel jauh lebih besar dari ukuran partikel-partikel, sehingga ukurtan partikel
dapat diabaikan.
5. Tidak ada gaya antara partikel yang satu dengan yang lain, kecuali bila bertumbukan.
6. Tumbukan antara partikel ataupun antara partikel dengan dinding terjadi secara lenting sempurna,
partikel dianggap sebagai bola kecil yang keras, dinding dianggap licin dan tegar.
7. Hukum-hukum Newton tentang gerak berlaku.
1.
n
N
N
·
0
2.
v
ras =
m
kT 3
03. m
M
N
· dan
k
R
N
·
0

04. v
ras =
3RT
M
05. Pada suhu yang sama, untuk 2 macam gas kecepatannya dapat dinyatakan :
v
ras
1
:
v
ras
2
=
1
1
M
:
2
1
M
06. Pada gas yang sama, namun suhu berbeda dapat disimpulkan :
v
ras
1
:
v
ras
2
=
T
1 :
T
2
07.
Vras
L
t
2
·
08.
F
N m V ras
L
·
3
2
.
09.
V
ras V m N
P
2
.
3
·
atau ras V P
2
3
1
ρ ·
10.
P
N
mV ras
N
Ek
V V
· ·
2
3
2
3
1
2
2
. .
11. P . V = K’ . T atau P . V = N. k .T
k = Konstanta Boltman = 1,38 x 10
-23
joule/
0
K
70
12. P . V = n R T dengan
n
N
N
·
0
R = 8,317 joule/mol.
0
K
= 8,317 x 10
7
erg/mol
0
K
= 1,987 kalori/mol
0
K
= 0,08205 liter.atm/mol
0
K
13. P
R
Mr
T · ρ atau
P R T
Mr ρ
·
.
atau ρ ·
P Mr
R T
T
.
.
14.
2
2 2
1
1 1
. .
T
V P
T
V P
·
Persamaan ini sering disebut dengan Hukum Boyle-Gay Lussac.
15. T Nk Ek .
2
3
·
P = tekanan gas ideal
N = banyak partikel gas
m = massa 1 pertikel gas
V = volume gas
v = kecepatan partikel gas
n = jumlah mol gas
No = bilangan Avogadro
R = tetapan gas umum
M = massa atom relatif
k = tetapan boltzman
Ek = energi kinetic
v
ras
= kecepatan partikel gas ideal
ρ = massa jenis gas ideal
T = suhu
HUKUM TERMODINAMIKA
01. c
p
- c
v
= R
c
p
= kapasitas panas jenis ( kalor jenis ) gas ideal pada tekanan konstan.
71
c
v
= kapasitas panas jenis ( kalor jenis ) gas ideal pada volume konstan.
02. panas jenis gas ideal pada suhu sedang ,sebagai berikut:
a. Untuk gas beratom tunggal ( monoatomik ) diperoleh bahwa :
P c
R ·
5
2
V c
R ·
3
2
γ
· ·
P
V
c
c
1 67 ,
b. Untuk gas beratom dua ( diatomik ) diperoleh bahwa :
P c
R ·
7
2
V c
R ·
5
2
γ
· ·
P
V
c
c
1 4 ,
γ = konstanta Laplace.
03. Usaha yang dilakukan oleh gas terhadap udara luar : W = p.

V
04. Energi dalam suatu gas Ideal adalah : U n R T ·
3
2
. .
05. HUKUM I TERMODI NAMI KA


Q =

U +

W

Q = kalor yang masuk/keluar sistem

U = perubahan energi dalam

W = Usaha luar.
PROSES - PROSES PADA HUKUM TERMODINAMIKA I
1. Hukum I termodinamika untuk Proses Isobarik.
Pada proses ini gas dipanaskan dengan tekanan tetap.
( lihat gambar ).
sebelum dipanaskan sesudah dipanaskan
Dengan demikian pada proses ini berlaku persamaan Boyle-GayLussac
V
T
V
T
1
1
2
2
·
Jika grafik ini digambarkan dalam hubungan P dan V maka dapat grafik sebagai berikut :
72
Pemanasan Pendinginan

W =

Q -

U = m ( c
p
- c
v
) ( T
2
- T
1
)
2. Hukum I Termodinamika untuk Proses Isokhorik ( Isovolumik )
Pada proses ini volume Sistem konstan. ( lihat gambar )
Sebelum dipanaskan. Sesudah dipanaskan.
Dengan demikian dalam proses ini berlaku Hukum Boyle-Gay Lussac dalam bentuk :
P
T
P
T
1
1
2
2
·
Jika digambarkan dalam grafik hubungan P dan V maka grafiknya sebagai berikut :
Pemanasan Pendinginan


V = 0 -------à W = 0 ( tidak ada usaha luar selama proses )

Q = U
2
- U
1

Q =

U

U = m . c
v
( T
2
- T
1
)
3. Hukum I termodinamika untuk proses Isothermik.
Selama proses suhunya konstan.
( lihat gambar )
Sebelum dipanaskan. Sesudah dipanaskan.
Oleh karena suhunya tetap, maka berlaku Hukum BOYLE.
P
1
V
2
= P
2
V
2
73
Jika digambarkan grafik hubungan P dan V maka grafiknya berupa :
Pemanasan Pendinginan
T
2
= T
1 -------------->


U = 0 ( Usaha dalamnya nol )
W P V
V
V
P V
V
V
· ·
1 1
2
1
2 2
2
1
( ln ) ( ln )
W P V
P
P
P V
P
P
· ·
1 1
1
2
2 2
1
2
( ln ) ( ln )
W n R T
V
V
n R T
V
V
· ·
1
2
1
2
2
1
( ln ) ( ln )
W n R T
P
P
n R T
P
P
· ·
1
1
2
2
1
2
( ln ) ( ln )
ln x =2,303 log x
4. Hukum I Termodinamika untuk proses Adiabatik.
Selama proses tak ada panas yang masuk / keluar sistem jadi Q = 0
( lihat gambar )
Sebelum proses Selama/akhir proses
oleh karena tidak ada panas yang masuk / keluar sistem maka berlaku Hukum Boyle-Gay Lussac
PV
T
PV
T
1 1
1
2 2
2
·
Jika digambarkan dalam grafik hubungan P dan V maka berupa :
Pengembangan Pemampatan

Q = 0 ------à O =

U +

W
U
2
-U
1
= -

W
T
1
.V1
γ-1
= T
2
.V
2
γ-1
74

W = m . c
v
( T
1
- T
2
) atau W =
P V
1 1
1
.

γ
( V
2
γ-1
- V1
γ-1
)
P
1
.V1
γ
= P
2
.V
2
γ
06. HUKUM I I TERMODI NAMI KA

η ·
Energi yang bermanfaat
Energi yang asukkan dim

η · ·
− W
Q
Q Q
Q
2
2 1
2

η · − × ( ) 1 100%
1
2
Q
Q
Menurut Carnot untuk effisiensi mesin carnot berlaku pula :

η · − × ( ) 1 100%
1
2
T
T
T = suhu
η = efisiensi
P = tekanan
V = volume
W = usaha
GELOMBANG ELEKTROMAGNETIK
Gelombang Elektromagnet : Rambatan perubahan medan listrik dan medan magnet
75
Vektor perubahan medan listrik tegak lurus vektor perubahan medan magnet
Ciri-ciri GEM :
Menunjukkan gejala : pemantulan, pembiasan difraksi, polarisasi

diserap oleh konduktor dan diteruskan oleh isolator.
Coulomb : “Muatan listrik menghasilkan medan listrik yang kuat”
Oersted : “Di sekitar arus listrik ada medan magnet”
Faraday : “Perubahan medan magnet akan menimbulkan medan
listrik”
TEORI Lorentz : “kawat berarus listrik dalam medan magnet terdapat gaya”
Maxwell : “Perubahan medan listrik menimbulkan medan magnet”,
“Gahaya adalah gelombang elektromagnet”
Biot Savart : “Aliran muatan (arus) listrik menghasilkan medan
magnet”
Huygens : “Cahaya sebagai gerak gelombang”
(S)Intensitas GEM/energi rata-rata per satuan luas :
) . ( sin .
.
2
0
0 0
t kx
B E
S ϖ
µ
− ·
0
0 0.
max
µ
B E
S ·
c E S . .
2
1
2
0 0 ε ·
0 0.
1
ε µ
· c
0
2
0
. . 2 µ c
E
S ·
Radiasi Kalor :
Radiasi dari benda-benda yang dipanasi
Yang dapat menyerap seluruh radiasi adalah benda hitam mutlak
- Konduksi : partikelnya bergetar

zat padat
- Konveksi : molekul berpindah

zat cair dan gas
- Radiasi : tanpa zat perantara.
Spektrum GEM: Urutan naik frekwensinya (urutan turun panjang gelombangnya):
gel. Radio, gel radar dan TV, gel. Infra merah, cahaya tampak, sinar ultra ungu,
sinar X, sinar gamma.
76
4
. . T e
A
w
I ∇ · ·
e=emitivitas : hitam mutlak : e=1
putih : e=0
∇ = konstanta Boltzman = 5,672.10
-8
watt/m
2
K °
T
c
· τ c=tetapan Wien=2,898.10
-3
m
K °
v = kecepatan
c = kecepatan cahaya
T = suhu mutlak
λ = panjang gelombang
e = emisivitas
A = luas permukaan
S = intensitas
_
S = Intensitas rata-rata
OPTIKA FISIS
Sinar yang dapat diuraikan Polikromatik
77
CAHAYA Sinar yang tak dapat diuraikan Monokromatik
Dalam ruang hampa cepat rambat sama besar
f rekwensi masi ng warna beda
Pj. Gelomb masing warna beda
Merah (λ dan v terbesar)
Jingga
Kuning
DISPERSI (PERURAIAN WARNA) Hijau
Biru
Nila
Ungu (n, δ, f dan E
foton
terbesar)
Benda bening ∆r = /r
m
– r
u
/
Plan paralel ∆t = /t
m
– t
u
/
Prisma ∆ϕ = δ
u
- δ
m
Lensa ∆s’ = /s’
m
– s’
u
/
∆f = /f
m
– f
u
/
MENIADAKAN DISPERSI : Prisma Akromatik
(n’
u
– n’
m
)β’ = (n
u
– n
m
) β

Lensa Akromatik.

gabungu gabmerah
f f
1 1
·

· − − + − − )
1 1
)( 1 ( )
1 1
)( 1 (
2 1
'
2 1
R R n
n
R R n
n
m m
)
1 1
)( 1 ( )
1 1
)( 1 (
2 1
'
2 1
R R n
n
R R n
n
u u
− − + − −
Flinta Kerona Flinta Kerona
PRISMA PANDANG LURUS (n
h
’ – 1) )β’ = (n
h
– 1) )β
Max λ
2
1
) 2 (
.
k
d p
·

78
Cermin Fresnell

Min λ
2
1
) 1 2 (
.
− · k
d p

Max λ
2
1
) 2 (
.
k
d p
·

Percobaan Young

Min λ
2
1
) 1 2 (
.
− · k
d p

I NTERFERENSI
(Syarat : Koheren)
(A, f, ∆ϕ sama)
Max r
k
2
= ½ R (2k-1)λ
Cincin Newton
(gelap sbg pusat) Min r
k
2
= ½ R (2k) λ
Max 2n’ d cos r = (2k-1) ½ λ
Selaput tipis
Min 2n’ d cos r = (2k) ½ λ
Max d sin θ = (2k + 1) ½ λ
Celah tunggal
Min sin θ = (2k) ½ λ
DI FRAKSI
Max d sin θ = (2k) ½ λ
Kisi
Min d sin θ = (2k – 1) ½ λ

k = 1, 2, 3 . . . .
Daya Urai (d) d = 1,22
D
L . λ
L = jarak ke layar
D = diameter lensa

n = indeks bias d = tebal lapisan
δ = deviasi r = sudut bias
β = sudut pembias r
k
= jari-jari cincin terang ke k
λ = panjang gelombang cahaya R = jari-jari lensa
79
p = jarak terang dari pusat θ = sudut difraksi/deviasi
k = orde garis terang/gelap f = fokus
RELATIVITAS
Relativitas:
a. Penjumlahan kecepatan
V
1
→ ←V
2
V
1
→ →V
2
80
2
2 1
2 1
.
1
C
V V
V V
Vr
+
+
·
2
2 1
2 1
.
1
C
V V
V V
Vr


·
b. Dilatasi waktu
2
2
0 1 '
C
V
t t − ·
t’<t
0
c. Kontraksi Lorentz
2
2
0 1 '
C
V
L L − ·
d. Massa dan Energi
2
2
0
1
'
C
V
m
m

·
m’>m
0
e. Etotal=Ediam+Ek

,
_

¸
¸


· 1
1
1
.
2
2
2
C
V
C m Ek
V1 = kecepatan partikel 1 terhadap bumi
V2 = kecepatan partikel 2 terhadap partikel 1
Vr = kecepatan partikel 2 terhadap bumi
c = kecepatan cahaya
V = kecepatan
L’ = panjang setelah mengalami perubahan
Lo = panjang mula-mula
m’ = massa benda saat bergerak
mo = massas benda saat diam
Ek = energi kinetik
to = selang waktu yang daiamati oleh pengamat diam terhadap benda
t’ = selang waktu yang diamati pengamat bergerak
DUALISME GELOMBANG CAHAYA
a. Semakin besar intensitas cahaya semakin banyak elektron elektron yang diemisikan
b. Kecepatan elektron yang diemisikan bergantung pada frekuensi; semakin besar f, makin besar pula
kecepatan elektron yang diemisikan
81
f h E . · E = Energi
h = tetapan Planck
0 E Ek E + · f = frekwensi
a E Ek − · c = kecepatan cahaya
0
2
. .
2
1
hf f h V m − · v = kecepatan

,
_

¸
¸
− ·
0
2
2
1
λ λ
C C
h mV a = energi ambang

,
_

¸
¸
− ·
0
1 1
. .
λ λ
c h Ek m = massa
λ = panjang gelombang

λ
h
p
C
f h
Pfoton · · ;
.
p = momentum
p=momentum Ek = Energi kinetik
Hypotesa de Broglie

f
c
· λ

V m
h
p
h
.
· → · λ λ

Ek m p . . 2 ·
Catatan penting :
Ek=54 ev = 54.1,6.10
-19
Joule
Massa 1e = 9,1.10
-31
kg
Hamburan Compton : ( ) θ λ λ cos 1 .
.
'
0
− · −
c m
h
82

SURAT KETERANGAN
Nomor:

Yang bertanda tangan di bawah ini Kepala SMAN 3 Bandar Lampung menerangkan bahwa buku Rumus-rumus Fisika SMA adalah benar ditulis oleh: Penulis Pertama, Nama : Dra. Damriani NIP : 131658096 Penulis Kedua, Nama : Zainal Abidin, S.Pd NIP : 132003007 dan telah digunakan sebagai pelengkap material pembelajaran di SMAN 3 Bandar Lampung. Demikian surat keterangan ini dibuat untuk digunakan seperlunya.

Bandar Lampung, 4 Mei 2008 Kepala SMAN 3 Bandar Lampung

Drs. H E R N A D I NIP. 131870646

2

KATA PENGANTAR
Buku Rumus-rumus Fisika SMA ini ditulis bukan bermaksud untuk dihapal oleh para siswa namun bertujuan untuk digunakan sebagai buku pendamping dalam memecahkan soal-soal fisika. Rumus-rumus fisika merupakan bahasa sains yang konsisten dalam menjelaskan fenomena alam dan sebagai bahasa universal yang berlaku dalam dunia ilmiah, untuk itu pemahaman pada konsep, asas, dan prinsip fisika merupakan hal pertama yang harus dimengerti oleh para siswa, bukan dengan cara menghapal rumus-rumus. Dalam memecahkan soal-soal fisika, buku ini dapat digunakan untuk memberi gambaran global dari rumus-rumus fisika dan dapat digunakan sebagai pendamping dalam melatih kemampuan memecahkan soal-soal fisika. Dengan selesai penulisan buku ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Drs. Hernadi sebagai Kepala SMAN 3 Bandar Lampung, atas semua dukungannya, masukan dan saran dari para kolega diucapkan terima kasih. Mereka adalah guru-guru fisika SMAN 3 Bandar Lampung, yaitu Arif Santoso, S.Pd, Euis Waliah, S.Pd, Dra. Sartinem dan Fera Nofrizawati, S.Pd. Buku ini tentu jauh dari sempurna, masukan, kritik dan saran yang membangun dapat disampaikan melalui email: mbak_annie@yahoo.co.id atau zainal.abidin.mustofa@gmail.com. Semoga kehadiran buku ini dapat memenuhi tujuan penulisan dan bermanfaat bagi penggunanya.

Bandar Lampung, 30 April 2008

Damriani Zainal Abidin

3

DAFTAR ISI

Surat Keterangan Kata Pengantar Daftar Isi
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28.

1 2 3 4 9 12 14 16 20 21 22 23 24 26 30 33 37 43 47 49 53 55 58 61 64 69 71 75 77 80 81

Besaran dan Satuan Gerak Lurus Hukum Newton Memadu Gerak Gerak Rotasi Gravitasi Usaha-Energi Momentum-Impuls-Tumbukan Elastisitas Fluida Gelombang Bunyi Suhu dan Kalor Listrik Stattis Listrik Dinamis Medan Magnet Imbas Elektromagnetik Optika Geometri Alat-alat Optik Arus Bolak-balik Perkembangan Teori Atom Radioaktivitas Kesetimbangan Benda Tegar Teori Kinetik Gas Hukum Termodinamika Gelombang Elektromagnetik Optika Fisis Relativitas Dualisme Gelombang Cahaya

4

Intensitas Cahaya 6. Suhu Mutlak 5. Guna dimensi Dimensi dicari melalui ----> Rumus atau Satuan Metrik Contoh : W = F ⋅ v = P (daya) t ML2 T -2 = MLT -2 LT -1 T ML2 T -3 = ML2 T -3 5 . Panjang 2. Jumlah Zat Satuan (SI) m kg detik °K Cd Ampere mol Dimensi [L] [M ] [T] [θ ] [J] [I] [N] 2 macam besaran tambahan tak berdimensi: a. b. Massa 3. Sudut datar Sudut ruang ----> ----> satuan : radian satuan : steradian Satuan SI Satuan Metrik MKS  M   CGS Dimensi ----> Primer ---->  L  dan dimensi Sekunder ---> jabaran  T   untuk : Checking persamaan Fisika.BESARAN DAN SATUAN Ada 7 macam besaran dasar berdimensi: Besaran 1. Waktu 4. Kuat Arus 7.

grafitasi Konst.T F g= m kgm 2 m ML2T − 2 N − 1θ LT − 2 −1 dt 2 6 .No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Besaran Kecepatan Percepatan Gaya Usaha Daya Tekanan Energi kinetik Energi potensial Momentum Impuls Massa Jenis Berat Jenis Konst. gas Gravitasi Fr 2 2 G= m P.V R = n. Metrik (SI) Dimensi v= s t ∆v a= ∆t F = m⋅ a m m dt LT − 1 LT − 2 dt 2 kg m dt 2 (N) ( Joule) ( Watt ) MLT − 2 ML2T − 2 ML2T − 3 ML− 1T − 2 ML2T − 2 ML2T − 2 MLT − 1 MLT − 1 ML− 3 ML− 2T − 2 MT − 2 M − 1 L3T − 2 W = F⋅s W P= t F P= A 1 Ek = mv 2 2 kg m 2 kg m 2 kg dt 2 dt 3 m dt 2 ( atm ) ( Joule) ( Joule) kg m 2 kg m 2 kg m kg m kg kg kg m3 dt 2 dt 2 Ep = m ⋅ g ⋅ h M = m⋅ v dt dt i= F⋅t m V w s= V F k= x ρ = m3 m 2 dt 2 dt 2 kgdt 2 dt 2 mol o K 14 15 16 Konst. pegas Rumus Sat.

41 ------. Besaran Vektor : adalah Besaran yang selain ditentukan oleh besarnya atau nilainya.756 110 --------.+ 523. Contoh : kecepatan.× 0000 4756 4756 -------------. gaya dan sebagainya. percepatan. massa. terdiri dari : • Angka pasti • Angka taksiran Aturan : a.+ 11. − − + ( B +C ) = ( A+ B ) +C Sifat assosiatif. 7 . Penjumlahan / Pengurangan Ditulis berdasarkan desimal paling sedikit Contoh : 2. dan sebagainya. 2. waktu. kelajuan.1581 ------> 11. Sifat-sifat vektor 1. Perkalian / Pembagian Ditulis berdasarkan angka penting paling sedikit Contoh : 4.7481 8.17 Momen Inersia I = mR 2 kg m 2 ML2 ANGKA PENTING Angka Penting : Semua angka yang diperoleh dari hasil pengukuran dengan alat ukur.16 b.160 ----> 520 BESARAN VEKTOR Besaran Skalar : adalah besaran yang hanya ditentukan oleh besarnya atau nilainya saja. A+ B A − − − − = B − − + A − − Sifat komutatif. Contoh : panjang. juga ditentukan oleh arahnya.

3. a (

A+ B

)=a

A

+a

B

4. /

A/ +/ B / ≥ / A+ B /

RESULTAN DUA VEKTOR

α = sudut antara A dan B
− − − −

/R/=

/ A/ 2 + / B / 2 + 2 / A/ / B / cosα / R/ / A/ / B/ = = sin α sin α 1 sin α 2
− − −

arahnya :

Vektor V1 V2 V3

sudut

vx = v cos vx = v cos vx = v cos vx = v cos

α
α1
α
2 3

vy = v sin vy = v sin vy = v sin vy = v sin

α

α1
α
2 3

α1
α
2 3

α

α

α

∑ vx = .......

∑ vy = .......
8

Resultan / v R / =

( ∑ v X ) 2 + ( ∑ vY ) 2

Arah resultan : tg =

∑ vY ∑ vX

Uraian Vektor Pada Sistem Koordinat Ruang ( x, y, z )

α , β ,γ
dengan sumbu-sumbu x, y dan z / A x / = A cos α / Besaran vektor A

= masing-masing sudut antara atau

vektor A

A

Ay/= A

cos

Ax+ Ay+ Az β / A z / = A cos γ
=

A

=/

A x / i + / A y /

 A k j +/ z/ 

A=
dan

/ A X / 2 + / AY / 2 + / AZ / 2

j  i ,  , k

masing-masing vektor satuan pada sumbu x, y dan z

9

GERAK LURUS

Vt = kecepatan waktu t detik Vo = kecepatan awal t = waktu

S = jarak yang ditempuh a = percepatan g = percepatan gravitasi

10

v 0=0 h

v= t=

2 gh
2h / g

GJB v o=0 v? h2 h1

v=

2 g (h1 − h 2)

Variasi GLB

P

Q

SP + SQ = AB
A B

·

A B

SA = SB

P

SP

Q

SP – SQ = AB
B SQ

A

Gerak Lurus Berubah Beraturan

1

v

=

∆ r r2 − r1 = ∆ t t 2 − t1

11

vy = v = dry dt .2. az = 2 2 dv z dt ax + a y + az 2 5 Diketahui a(t) t2 v= ∫ a( t ) ⋅ dt t1 6. ay = a = dv y dt . 3. ax = dv x dt . a= vx = ∆ v v 2 − v1 = ∆ t t 2 − t1 drx dt . vz = 2 2 drz dt vx + v y + vz 2 4. r= t2 ∫ vt ⋅ dt t1 h = tinggi Vy = kecepatan terhadap sumbu y h2 = ketinggian kedua SP = jarak yang ditempuh P SQ = jarak yang ditempuh Q AB = panjang lintasan SA = jarak yang ditempuh A SB = jarak yang ditempuh B h1 = ketinggian pertama Vz = kecepatan terhadap sumbu z | v | = kecepatan rata-rata mutlak |ā| = percepatan rata-rata mutlak ax = percepatan terhadap sumbu x ay = percepatan terhadap sumbu y az = percepatan terhadap sumbu z a(t) = a fungsi t V(t) = V fungsi t V1 = kecepatan 1 Vx = kecepatan terhadap sumbu x v = kecepatan rata-rata ∆r = perubahan posisi ∆t = selang waktu r2 = posisi akhir r1 = posisi awal t1 = waktu awal bergerak t2 = waktu akhir bergerak ā = percepatan rata-rata ∆V = perubahan rata-rata V2 = kecepatan 2 12 .

I Newton  Hk. µk Arah selalu berlawanan dengan gerak benda/sistem. Gaya gesek (fg) : * Gaya gesek statis (fs)  diam  fs = N. II Newton  a ω1−ω 2 = ( m1 + m2 ) a ≠ 0  GLBB  ∑ F = m⋅ a ω 1 − T = m1 ⋅ a 3. Hk. Statika  N = w – F sinα N = w + Fsinα N = w cos α ∑ ∑ F= 0 * : * ∑ Fy = 0 ∑ Fx = 0  λ = 0 13 . kelembaman (inersia) : Untuk benda diam dan GLB  ∑ F= 0  ∑ Fx = 0 dan ∑ Fy = 0 2. N=w . Hk.F reaksi Aksi – reaksi tidak mungkin terjadi pada 1 benda 4. Hukum III Newton  F aksi = .HUKUM NEWTON 1.µs * Gaya gesek kinetik (fk)  bergerak  fk = N.

ΣFx = resultan gaya sumbu x ΣFy = resultan gaya sumbu y ΣF = resultan gaya m = massa a = percepatan N = gaya normal μs= koefisien gesek statis μk= koefisien gesek kinetik W = gaya berat α=sudut yang dibentuk gaya berat setelah diuraikan ke sumbu 14 .

Gerak Peluru Pada sumbu x Pada sumbu y Y Vo α Vr = kecepatan resultan V1 = kecepatan benda 1 GLB V2 = kecepatan benda 2 GVA – GVB v x = v0 cos α x = v0 cos α ⋅ t X v y = v 0 sin α − g ⋅ t y = v 0 sin α ⋅ t − 1 2 gt 2 Syarat :   Mencapai titik tertinggi Jarak tembak max vy = 0 g X = jarak yang ditempuh benda pada sb x Y = jearak yang ditempuh benda pada sb y Vx = kecepatan di sumbu x V0 = kecepatan awal t = waktu = percepatan gravitasi y= 0 y = −h H  Koordinat titik puncak  v 0 2 sin 2α v 0 2 sin 2 α  .  2g 2g      15 .MEMADU GERAK 1. vR = v1 + v 2 2 2 + 2v1 v 2 cos α GLB – GLB 2.

 Jarak tembak max tidak berlaku jika dilempar dari puncak . jadi harus pakai y= −h x max v sin 2α = 0 g 2 16 .

α P=λ.R I Hubungannya s=θ.a P=F.v p = m.R a=α.R I = ∑ m.ω L = I .t 2 ωt2 = ω02 + 2α.t θ = ω0t + 1/2α .GERAK ROTASI GERAK TRANSLASI Pergeseran linier s Kecepatan linier v Percepatan Linier a Kelembaman translasi ( massa ) Gaya Energi kinetik Daya Momentum linier F=m.ω λ=F.R v=ω.v m GERAK ROTASI θ Pergeseran sudut ω Kecepatan sudut α Percepatan sudut Kelembaman rotasi (momen inersia) Torsi (momen gaya) Energi kinetik Daya Momentum anguler λ=I.s s = jarak a = percepatan v = kecepatan R = jari–jari lintasan vt = kecepatan dalam waktu t detik vo = kecepatan awal t = waktu yang ditempuh ωt = kecepatan sudut dalam waktu t detik ωo= kecepatan sudut awal GERAK ROTASI (SUMBU TETAP) ωt = ω0 + α .θ Besarnya sudut : 17 .r2 PADA GERAK DENGAN PERCEPATAN TETAP GERAK TRANSLASI (ARAH TETAP) vt = v0 + at s = vot + 1/2 a t 2 vt 2 = v0 2 + 2 a.

Gerak benda di luar dinding melingkar 18 . tetapi ω1 ω2 ≠ v1 = v2.θ = S R radian S = panjang busur R = jari-jari f. tetapi v A vB ≠ vC ar = v2 R v2 R atau a r = ω2 R Fr = m .T=1 f= ω= 2π T 1 T ω=2πf atau v=ωR ≠ v1 = v2. atau F r = m ω2 R 1. tetapi ω1 ω2 ≠ ωA = ωR = ωC .

v2 R N=m. v2 R N = m . v2 R 2.g+m. g cos θ + m . v2 R . v2 R -m.m . Gerak benda di dalam dinding melingkar. g cos θ .g 3.N=m.g-m. Benda dihubungkan dengan tali diputar vertikal 19 . v2 R N = m . N=m.m . g cos θ N=m.

µk = m . v2 R . v2 R -m.T=m. N . g T sin θ = m .m . v2 R L cosθ g Periodenya T = 2π Keterangan : R adalah jari-jari lingkaran 5.g 20 . Benda dihubungkan dengan tali diputar mendatar (ayunan centrifugal/konis) T cos θ = m . g cos θ T=m. v2 R N = gaya normal N=m.g 4. Gerak benda pada sebuah tikungan berbentuk lingkaran mendatar.g+m v2 R T = m m . g cos θ + m v2 R T=m.

v= −G M R m⋅ M R massa bumi 4. g= G kuat medan gravitasi 3. Ep = − G 5. F = G⋅ M R2 m1 ⋅ m2 R2 VEKTOR VEKTOR 2.GRAVITASI 1. w A → B = m( v B − v A )  1 1 2 2 v 2 = v1 + 2GM  R − R 2  1     6. HKE F = gaya tarik-menarik antara kedua benda G = konstanta gravitasi m1 = massa benda 1 m2 = massa benda 2 R = jarak antara dua benda Ep = energi potensial gravitasi V = potensial gravitasi WAB = Usaha dari benda A ke B V1 = kecepatan benda 1 V2 = kecepatan benda 2 21 .

W = usaha F = Gaya 3. Ek1 + Ep1 = Ek 2 + Ep 2 22 . Ep = m ⋅ g ⋅ h Emek = Ep + Ek s = jarak Ep = Energi Potenaial 4. m = massa benda g = percepatan gravitasi 5.USAHA–ENERGI 1. w = ∆ Ek w = ∆ Ep HKE (Hukum Kekekalan Energi) h = ketinggian benda dari tanah Ek = Energi Kinetik 6. Em = Energi mekanik 7. _______________ w = F cos α ⋅ s Ek = 1 2 mv 2 α = sudut kemiringan v = kecepatan 2.

E hilang = Ek sebelum tumbukan – Ek sesudah tumbukan =  2 2 1 1 1 1 2 2 ′ ′  m A v A + mB v B  −  m A  v A  + mB  v B          2 2  2  2  23 .    Jenis tumbukan Lenting sempurna Lenting sebagian e= 1 Tidak lenting sama sekali 0< e< 1 e= 0 HKE HKM HKM HKM 7. P = m ⋅v I = F ⋅∆ t P = momentum m = massa v = kecepatan I = impuls F= gaya ∆t = selang waktu I = ∆P 3. 2. I = m( v t − v 0 ) HKM (Hukum Kekekalan Momentum) ′ ′ m A ⋅ v A + mB ⋅ v B = m A ⋅ v A + mB ⋅ v B 4. hn = h0 ⋅ e hn = tinggi benda setelah pemantulan ke n 9. e= h1 h0 2n h1 = tinggi benda setelah pemantulan 1 ho = tinggi benda mula-mula 8. arah kekanan v + arah ke kiri v - 5. e= − ′ ′ v A − vB v A − vB e = koefisien tumbukan (kelentingan) 6.MOMENTUM–IMPULS–TUMBUKAN 1.

ELASTISITAS 1. F = k⋅x Ep = 1 k ⋅ x2 2 F = gaya pegas k = konstanta pegas 2. susunan seri 5. E= P F ⋅ L0 = ε A⋅ ∆ L F = gaya tekan/tarik Lo = panjang mula-mula A = luas penampang yang tegak lurus gaya F ∆L = pertambahan panjang E = modulus elastisitas P = stress ε = strain 24 . luasan grafik F – x x = simpangan pada pegas Ep = energi potensial 3 kp = k1 + k 2 1 1 1 = + ks k1 k 2 susunan paralel 4.

FLUIDA Fluida Tak Bergerak 1. ρc = m A + mB v A + vB ρh = ρz ⋅ g ⋅ h 5. 4. Fh = υ h ⋅ A = ρ z ⋅ g ⋅ h⋅ A 6. Archimedes : Gaya ke atas yang bekerja pada benda besarnya sama dengan jumlah (berat) zat cair yang dipindahkan. Melayang w1 + w2 = ρ z ⋅ g ( v1 + v2 ) 25 . FA = ρ z ⋅ g ⋅ h 7. ρ relativ = ρz ρ air ρ air pada 40C 1 gr cm 3 = 1000 kg m3 3. ρ = m v zat 2. Terapung w < FA (jika dibenamkan seluruhnya) w = FA ′ dalam keadaan setimbang ρ bd ⋅ g ⋅ vb = ρ z ⋅ g ⋅ v 2 8.

Kapilaritas y= 2γ cosθ ρ z ⋅ g⋅r Fluida Bergerak Vol = A⋅ v t 1. Kohesi (K) Adhesi (A) 11. Tenggelam w > FA w s = w − FA 10. Q= Kontinuitas A1v1 = A2 v 2 3.9. 2. Bernoully P1 + ρ ⋅ g ⋅ h1 + 1 1 2 2 ρ ⋅ v1 = P2 + ρ ⋅ g ⋅ h2 + ρ ⋅ v 2 2 2 ρ = massa jenis m = massa v = volume A = luas permukaan P = daya tekan h = ketinggian dari dasar Q = Debit ρrelatif = massa jenis relatif 26 .

k = mω 8. a = − ω 2 A sin ω t Ek = 1 11. F=-k. y = A sin ω t v = ω A cos ω t k = konstanta pegas W = berat x = perubahan panjang pegas F = gaya pegas y = simpangan Ep = energi potensial Emek = energi mekanik Ek = energi kinetik A = amplitudo t = waktu ω = kecepatan sudut m = massa T = periode k = konstanta l = panjang f = frekuensi λ = panjang gelombang Lo = panjang mula-mula ∆L = perubahan panjang n = nada dasar ke Vp = kecepatan pendengar Vs = kecepatan sumber bunyi P = daya R 1= jarak 1 R 2 = jarak 2 9. w k = x 2. 3. Ep = ½ ky2 E mek = ½ kA2 4. 10. Ek = ½ k (A2-y2) 6. v= k ( A2 − y 2 ) m 2 7.GELOMBANG BUNYI GETARAN 1. 5. 2 mω 2 A 2 cos 2 ω t 27 .

1λ 1. longitudinal 1λ transversal Gelombang elektromagnetik gel. y gel. v = f ⋅λ → λ = v ⋅t 2. ujung terikat y = 2 A sin 2π x  t L cos 2π  −  λ T λ  28 . y diam ujung bebas y = 2 A cos 2π x  t L sin 2π  −  λ T λ  ∆ϕ = 1 2 y diam 4. Ep = 1 2 mω 2 A 2 sin 2 ω t 1 13. E mek = T = 2π 2 mω 2 A 2 14. refraksi interferensi defraksi polarisasi gel. T = 2π l g GELOMBANG mekanik refleksi gel. berjalan = A sin 2π   t x −  T λ  ∆ϕ = 0 3.12. m k 15.

5. γ γ P ρ Cp RT γ = Cv M = BUNYI Gelombang Longitudinal nada 20 Hz – desah > 20.000 Hz < 20 Hz (Infrasonic) keras / lemah tergantung Amplitudo tinggi/rendah tergantung Frekuensi Bunyi Nada 1. v= E = modulus young E= stress P = = strain ε F ∆L A Lo = F ⋅ Lo A⋅ ∆ L v gas = 7. v= F µ E ρ µ = m ℓ 6.000 Hz (Ultrasonic) 20. Dawai Sumber ND 2 Pipa Organa Terbuka ( n + 1) P ( n + 2) s fn = n+ 1 v 2L ( n + 2) P ( n + 1) s 3. Pipa Organa Tertutup fn = n+ 1 v 2L ( n + 1) P ( n + 1) s fn = 2n + 1 v 4L 29 .

tpp 2 Resonansi ln = ( 2n − 1) Interferensi (Percobaan Quinke) • memperkuat nλ 1 λ 4  •  memperlemah Beat ( n + 1) 1 λ 2 Pelayangan (beat) f layangan = f A − f B  Efek Doppler fP =  v ± vP ⋅ fs v ± vs Intensitas I= P P = A 4π R 2 1 R1 2 I1 : I 2 =  : 1 R2 2 Taraf Intensitas (TI) TI = 10 log dB I I0 I 0 = 10 − 12 Watt m 2 30 .Sifat :  Refleksi (Pemantulan) d=  v.

α . ∆L = Lo . Td Air Tb celsius C:R:F=5:4:9 tK = tC + 273 Contoh : X Tb -20 60 Y 40 ? C 100 100 0 R 80 80 0 32 F 212 K 373 180 273 100 C = celcius R = reamur F = fahrenheit tk= suhu dalam kelvin tc = suhu dalam X : Y = 150 : 200 =3:4 4 3 Td 130 240 (60 + 20) + 40 = … Sifat termal zat diberi kalor (panas) enaikkan suhu perubahan dimensi (ukuran) ubahan wujud 2. ∆t ) ∆L = perubahan panjang = koefisien muai panjang Lo = panjang mula-mula ∆t = perubahan suhu Lt = panjang saat to ∆A = perubahan luas Ao = luas mula-mula 31 . ∆t Lt = Lo ( 1 + α .SUHU DAN KALOR 01. Muai panjang.

Muai volume. γ . Ku 9. ∆t ) β=2α γ=3α }γ = Q = kalor m = massa c= kalor jenis t = perubahan suhu H = perambatan suhu 5. c. ∆t Vt = Vo ( 1 + . Q = m . Azas Black. 7.c 8. β . Q = H . Kl Kl = kalor lebur Ku = kalor uap Q = m . γ . Qdilepas = Qditerima T1 Q dilepas TA Q diterima T2 09. ∆t At = Ao ( 1 + β . ∆A = Ao . 32 . Muai luas. ∆t H=m. ∆t 6. Kalaor laten Kalor lebur Kalor uap Q = m .3. Perambatan kalor. ∆V = Vo . ∆t ) β= koefisien muai luas ∆V = perubahan volume Vo = Volume awal γ= koefisien muai volume 4.

∆ t l H = h . T4 A = luas k = koefisien konduksi l = panjang bahan h = koefisien konfeksi I = Intensitas e = emitivitas bahan σ = konstanta Boltzman T = suhu 33 .Konduksi Konveksi Radiasi H= k . σ . A . A. ∆t I = e .

R Er = kuat medan listrik di pusat bola Es = kuat medan listrik di kulit bola Es = k Q R2 Ep = k Q r2 Ep = kuat medan listrik pada jarak p dari pusat bola 04. Q r2 E = kuat medan listrik Q = muatan R = jarak 03. F= k k= q1 . Kuat medan disekitar pelat bermuatan. q 2 r2 1 4π ε 0 -12 = 9 x 10 Nm /Coulomb Coulomb2 / newton m2 9 2 2 ε0 = 8.85 x 10 F = gaya Q1 = muatan benda 1 Q2 = muatan benda 2 R = jarak benda 1 ke 2 E= k 02. E =0.LISTRIK STATIS 01. Kuat medan listrik oleh bola konduktor. 34 .

Ep = kuat medan listrik WA − − − − − > B = k .( Bila rA = ∼ maka W~ − − − − − > B = k . WA − − − − − > B = q.(v B − v A ) 08. R r 09. V O = VK = V L = k. Q. q = . Q. POTENSIAL BOLA KONDUKTOR.Ep = σ 2ε σ = 0 Q A 1 1 − ) rB rA EP = ε σ 0 σ = rapat muatan 05. rB 4π ε 0 rB 6. q q VM = k. 2q (V1 − V2 ) m C= Q V 35 . q. q 1 Q. HUKUM KEKEKALAN ENERGI ( v 2 ) 2 = ( v1 ) 2 + 10. V = k Q 1 Q = . q rB ----- EP = k Q. rB 4π ε 0 rB V = potensial listrik 07.

..A d 12.. Susunan paralel. s . . K = W= 1 2 Kε 0 A d W= 1 2 13...V = V + V + V + V +.11.. CS C1 C2 C3 15...V = V1= V2 = V3 p .. C0 = ε 0 A d C= ε ..Cp = C1 + C2 + C3 + . C = C0 ...Qp = Q1 + Q2 + Q3 + . ..... Q2 C atau CV 2 14.Q = Q1 = Q2 = Q3 = .. .... 36 . s ab bc cd de - 1 1 1 1 = + + + . Susunan Seri.

16. VGAB = C1V2 + C 2V2 C1 + C 2 C = kapasitas listrik Q = muatan listrik V = beda potensial Co = Kapasitas dalam hampa udara d = jarak antar dua keeping A = luas masing-masing keeping K = konstanta dielektrik W = energi kapasitor 37 .

.A.t ) 07.e. J= Ampere/m2 04.LISTRIK DINAMIS 1. 38 . i= dq dt 2.dt i= dq = n. dq = n. e. SUSUNAN SERI → i = i1 = i2 = i3 = . 06.V . R = ρ .. A dt i = n. i= V A − VB R L A 05.V. R(t) = R0 ( 1 + α. e..V A Ampere 03.

Jembatan wheatstone R X . AMPEREMETER/GALVANOMETER . → 1 1 1 1 = + + + . V O L T M E T E R ... 39 . R p R1 R2 R3 09... R3 R2 10. 08.→ VS = Vab + Vbc + Vcd + . → RS = R1 + R2 + R3 + .. SUSUNAN PARALEL → VP = V1 = V2 = V3 → i + i1 + i2 + i3 + ... R 3 RX = R1 . R 2 = R1 .. RS = 1 Rd n− 1 Ohm 11..

Misalkan : Akumulator timbal asam sulfat. yang arahnya berlawanan dengan arus yang dihasilkan. Pada elemen ini sebagai Katoda adalah Pb.Rv = ( n .2 Joule dan 1 Joule = 0.i. W=i2. Untuk menghilangkan proses polarisasi itu ditambahkan suatu zat depolarisator.24 V . t = 0. P= dw = V . i . b) Elemen SEKUNDER : Elemen ini dapat memperbaharui bahan pereaksinya setelah dialiri arus dari sumber lain. elemen yang tidak mempunyai depolarisator. Elemen yang tidak tetap. c) Elemen BAHAN BAKAR : adalah elemen elektrokimia yang dapat mengubah energi kimia bahan bakar yang diberikan secara kontinue menjadi energi listrik. misalnya : Accu. Leclanche.i dt (Volt -Ampere = Watt) 14. 2. Misalkan : pada elemen Hidrogen-Oksigen yang dipakai pada penerbangan angkasa.t Joule Kalori 1 kalori = 4. misalnya : pada elemen Daniel. sejumlah energi Pada elemen ini sering terjadi peristiwa polarisasi yaitu tertutupnya elektroda-elektroda sebuah elemen karena hasil reaksi kimia yang mengendap pada elektroda-elektroda tersebut. dibedakan dua macam elemen primer : 1. Elemen PRIMER : elemen ini membutuhkan pergantian bahan pereaksi setelah dibebaskan melalui rangkaian luar misalnya : Baterai. r . sedangkan sebagai Anode dipakai PbO2 dengan memakai elektrolit H2SO4. misalnya pada elemen Volta. Elemen tetap. Weston.1 ) Rd Ohm .24 Kalori W = 0.t=V.r. dll. elemen yang mempunyai depolarisator.24 i 2 . t 13. Berdasarkan ada/tidaknya depolarisator. 40 .

paralel 41 . disusun secara seri i= n. ε = dW dq ( Joule/Coulomb = Volt ) 16. disusun secara paralel i= r + R m ε 19. i= R+ r ε 17.15. Susunan seri . r + R n. ε 18.

Hukum Kirchoff II ( Hukum rangkaian tertutup itu ) Σ ε + Σ i. Hukum Kirchhoff I ( Hukum titik cabang ) ∑i=0 i1 + i2 + i3 = i4 + i5 22. TEGANGAN JEPIT K = i . R 21.i= n .R = 0 E : negatif E arah arus berlawanan dengan arah loop diberi tanda negatif. I = kuat arus q = muatan listrik t = waktu v = kecepatan electron n = jumlah electron per satuan volume : positif Ro = hambatan mula-mula α = koefisien suhu P = daya r = hambatan dalam ε = GGL 42 .r + R m n .ε 20.

e = muatan electron A = luas penampang kawat V = beda potensial R = hambatan ρ = hambat jenis kawat n = jumlah rangkaian seri m = jumlah rangkaian paralel Rd = hambatan dalam K = tegangan jepit Rv = tahanan depan 43 .

a 44 . cobalt dan campuran logam tertentu ( almico ) 05. 06. antimon. Benda paramagnetik : nilai permeabilitas relatif lebih besar dari pada satu. platina.dℓ sin θ r2 Weber A. 03. µ o. H Contoh : Bismuth.µ = 0 I 2π . baja. I π . emas. kaca flinta. Contoh : Aluminium. nikel.a H= = µ B r . dB = µ 4π 0 0 I . Benda feromagnetik : nilai permeabilitas relatif sampai beberapa ribu. m k= µ 4π = 10-7 07. φ A B H= µ B= B = µ H = µ r. Contoh : Besi. tembaga. oksigen. µr = µ µ 0 02.MEDAN MAGNET 01. Rumus Biot Savart. 04. sulfat tembaga dan banyak lagi garam-garam logam adalah zat paramagnetik. Benda magnetik : nilai permeabilitas relatif lebih kecil dari satu. Induksi magnetik di sekitar arus lurus B= µ µ 0 2 B .

q.08. Solenoide Induksi magnetik di tengah-tengah solenoide : B= µ 0 n I Bila p tepat di ujung-ujung solenoide B= µ 2 0 n I 11. 10. Induksi magnetik di pusat lingkaran. Toroida B= n= µ n I N 2π R 12. a. N r3 09. Gaya Lorentz F=BI ℓ sin α F = B. B= µ 2 0 . Induksi Induksi magnetik pada jarak x dari pusat arus lingkaran.v sin α 13. I. sin α r2 I. I . Besar gaya Lorentz tiap satuan panjang F= µ 2 0 I P IQ π a 14. N a 1 atau B= µ 2 0 . N . a2. B= µ 2 0 . Gerak Partikel Bermuatan Dalam Medan Listrik 45 .

d 15. t = vY vX Arah kecepatan dengan bidang horisontal θ : tg θ = 16. percepatan : a= q. d = q . E . E . m vX v Y = a.d Usaha = perubahan energi kin Ek = q . mv B q jari-jari : R = 46 . q. Lintasan partikel jika v tegak lurus E. v= v X 2 + vY 2 q. m vX 2 Kecepatan pada saat meninggalkan medan listrik. E m Usaha : W = F . Gerak Partikel Bermuatan Dalam Medan Magnet Lintasan partikel bermuatan dalam medan magnet berupa LINGKARAN. E ℓ2 .lintasan berupa : PARABOLA. t= d= ℓ v 1 2 at 2 = 1 2 .d 1 2 mv 2 2 − 1 2 mv1 2 = q. E ℓ . E .

i.Sin θ μr = permeabilitas relative μ = permeabilitas zat B = induksi magnet ф = Fluks H = kuat medan magnet A = luas bidang yang ditembus q = muatan listrik θ = sudut antara v dengan B a = jari–jari lingkaran r = jarak I = kuat arus N = banyak lilitan l = panjang kawat F = gaya Lorentz v = kecepatan partikel R = jari-jari lintasan partikel 47 .A.N. Momen koppel yang timbul pada kawat persegi dalam medan magnet τ = B.17.

A. v s i n α Kumparan berputar : Eind = N.B. l.IMBAS ELEKTROMAGNETIK Perubahan fluks : Eind = -N Perubahan arus : GGL IMBAS dφ dt di Eind = -L dt di1 dt1 . M = N1 φ2 i2 (Induktansi Ruhmkorff) Ideal : Np : Ns = Is : Ip Np : Ns = Ep : Es TRANSFORMATOR Tidak ideal : Ps = ηPp Eind = GGL induksi N = banyak lilitan B = induksi magnet A = luas bidang permukaan/kumparan θ = fluks magnet L = induktansi diri I = kuat arus Np = banyak lilitan kumparan primer 48 .ω sin ωt L=N L= INDUKTANSI DIRI φ i µ oN 2A ℓ M = N2 M= φ1 i1 µ o N1 N 2 A ℓ . Eind2 = -M Induktansi timbal balik : Eind1 = -M di2 dt 2 K a w a t m e m o t o n g g a r i s g a y a : E i n d = B .

Ns = banyak lilitan kumparan sekunder l = panjang solenoida Pp = Daya pada kumparan primer Ps = daya pada kumparan sekunder Ep = tegangan pada kumparan primer Es = tegangan pada kumparan sekunder ω = kecepatan sudut M = induktansi Ruhmkorff 49 .

Tidak memerlukan medium dalam perambatannya Merambat dalam garis lurus Kecepatan terbesar di dalam vakum 3. Thomas Young dan Augustine Fresnell : Cahaya dapat lentur dan berinterferensi J ean Leon Foucaul t : C epat ram bat caha ya di zat cai r l ebi h keci l dari pada di udara.10 8 m/s Kecepatan dalam medium lebih kecil dari kecepatan di vakum. Max Karl Ernest Ludwig Planck : Teori kwantum cahaya. Heinrich Rudolph Hertz : Cahaya geloimbang transversal karena Mengalami polarisasi. SIFAT CAHAYA 50 . Albert Einstein : Teori dualisme cahaya. Pieter Zeeman : Cahaya dapat dipengaruhi medan magnet yang kuat. Cahaya sebagai partikel dan bersifat gelombang Merupakan gelombang elektromagnetik. TEORI CAHAYA James Clerk Maxwell : Cahaya gelombang elektromagnetik. Kecepatan di dalam vakum adalah absolut tidak tergantung pada pengamat. Michelson dan Morley : Eter alam tidak ada. Johannes Stark : Cahaya dapat dipengaruhi medan listrik yang kuat.OPTIKA GEOMETRI Plato dan Euclides : adanya sinar-sinar penglihat. Christian Huygens : Teori Eter alam : cahaya pada dasarnya Sama dengan bunyi. : Pancaran atau pantulan benda Sir Isaak Newton : Teori Emisi “Sumber cahaya menyalurkan Partikel yang kecil dan ringan berkecepatan tinggi. merambat memerlukan medium. Teori melihat benda Aristoteles Al Hasan : Menentang sinar-sinar penglihat.

kaca plan paralel n sin i = n’ sin r (1) n sin i = n’ sin r (cari r) (2) 04. 1 1 1 = + f s s' s' h' M==/ s h / R=∞ n= sifat bayangan : maya. 01.PEMANTULAN CAHAYA. Cermin datar : 360 -1 α d = s 1’ + s 2 Mtotal = M1. benda bening datar 03. diperkecil R = negatif sifat bayangan : Maya. cermin gabungan Cermin cekung : R = positif Mengenal 4 ruang Sifat bayangan : benda di Ruang I : Maya.β 2 minimum β > 10o syarat : i1 = r2 sin ½ (δmin + β) = n' 1 sin β n 2 51 . sama besar. diperkecil Cermin cembung : PEMBIASAN/REFRAKSI. Indeks bias nbenda = λ c = u vm λ m nbenda > 1 n relatif medium 1 thdp medium 2 n12 = n1 v 2 λ 2 = = n 2 v1 λ 1 02. diperbesar Benda di Ruang III: Nyata. 01. terbalik. tegak. Prisma δ (deviasi) umum t= d sin(i − r ) cos r (1) n sin i1 = n’ sin r1 (cari r1) (2) β = r1 + i2 (cari i2) (3) n’ sin i2 = n sin r2 (cari r2) (4) δ = i1 + r2 . 02. diperbesar Benda di Ruang II : Nyata. tegak 03.M2 04. terbalik. tegak.

Lensa Konvergen (positif) 1 1 1 = + f s s' M=- divergen (negatif) s' s =/ h' h / 10. Kekuatan lensa (P) P= 1 f f dalam meter 52 . R2 + Cembung – cekung R 1 + . n n' n' − n + = s s' R (1) 06. R2 + Datar – cekung R 1 = tak hingga . Lensa tipis 1 n' 1 1 = ( − 1)( − ) f n R1 R2 1 f gab = 1 1 + f1 f 2 Cembung-cembung (bikonveks) R 1 +. R2 Datar – cembung R 1 = tak hingga ... Lensa tebal n n' n' − n + = s1 s1 ' R1 (2)d = s1’ + s2 (3) n' n n − n' + ' = s2 s2 R2 07.β> = 10o δmin = ( n' − 1) β n 05. R2 + 9. Permukaan lengkung. R2 Cekung-cekung (bikonkaaf) R 1 . R2 Cekung – cembung R 1 .

P= 100 f f dalam cm n = banyak bayangan (untuk cermin datar) θ = sudut antara ke dua cermin f = jarak focus s = jarak benda ke cermin s’ = jarak bayangan ke cermin h = tinggi benda h’ = tinggi bayangan m = perbesaran bayangan i = sudut datang r = sudut pantul n = indeks bias d = tebal kaca t = pergeseran sinar β = sudut pembias δ = deviasi R = jari-jari bidang lengkung λ = panjang gelombang cahaya P = kekuatan lensa 53 .

pr = ∞ .d + − f D D.ALAT-ALAT OPTIK Mata Emetropi (mata normal) pp = 25 cm . pr = ∞ . pr < ∞ Mata Myopi (mata dekat/rabun jauh) pp = 25 cm MATA Mata Hipermetropi (rabun dekat) Mata Presbiopi (mata tua) pp > 25 cm pp > 25 cm . f Sd = titik baca normal d = s’ oby + sok 54 . pr < ∞ Kaca Mata lensa Negatif (Untuk orang Myopi) s = ∞ dan s’ = -pr KACA MATA Kaca Mata lensa Positif (Untuk orang hipermetropi) s = 25 cm dan s’ = -pp Akomodasi max Ditempel dimata Tanpa Akomodasi LOUPE Berjarak d cm dari mata D = -s’ + d P= P= Sd +1 f Sd f P= D = daya akomodasi Sd Sd Sd .

Akomodasi max P= s ' oby Sd − ( + 1) s oby fok MIKROSKOP d = jarak lensa obyektif .okuler Tanpa Akomadasi P= d = s’ oby + fok − s oby Sd ( ) s oby fok d = foby + sok ' Akomodasi max P= f oby Sd + f ok ( ) f ok Sd d = foby + fok TEROPONG BINTANG Tanpa akomodasi P= Pp = titik jauh mata Pp = titik dekat mata s’ = jarak bayangan s = jarak benda ke lup P = kekuatan lensa d = jarak lensa obyektif dengan lensa okuler f oby f ok 55 .

t Eefektif = yang diukur oleh voltmeter Emax = yang belum terukur Epp = dari puncak ke puncak ω = frekwensi anguler t = waktu Vmax = tegangan maksimum Imax = Arus maksimum T = periode V max 2 i max 1 T 2 2π Iefektif=  Iefektif = Imax{ sin ( )dt } 2 T ∫0 T Eefektif= Epp = 2. Induktor (L) pada DC-AC Xl = reaktansi induktif 56 . Resistor pada DC-AC II.Emax I.ARUS BOLAK-BALIK Osiloskop = mengukur tegangan max E=Emax. Sin ω.

R-L-C dirangkai seri dQ dc.L (satuan XL = ohm) III.t 1 XC = ωC i= .V = dt dt c.t Xl = ϖ .C 1.L 1 2.i max .t i= dt i = ϖ . 5.V Xc = reaktansi kapasitif (Satuan XC = 0hm) IV. cos ϖ .t dt E = L. Z= i= E Z R 2 + ( Xl − Xc) 2 57 .c.E= L dim ax. Gambar fasor 4. sin ϖ . Xl = ϖ .V max . Xc = ϖ . cos ϖ . sin ϖ .ϖ .dV max . 3. Capacitor pada DC-AC C = kapasitas kapasitor Q=C.

R Vbc = i.I (Volt Amper) a.6. Xl > Xc → RLC bersifat induktif V mendahului I dengan beda fase θ b. f = c.C T = 2π L. Xl = Xc → RLC resonansi Z = R  kuat arus paling besar. tg θ = Z = Impedansi θ = sudut fase L = induktansi diri f = frekwensi T = periode R = hambatan 58 . Daya=Psemu. Xc > Xl → RLC bersifat capasitif XL − XC R 1 2π 1 L.C I mendahului V dengan beda fase θ 8. Vab = i. karena hambatan total paling kecil.cos θ Daya=Psemu. Xl Vcd = i. Vac = Vr 2 + Vl 2 Vbd = Vl − Vc Vad = R Z Vr 2 + (Vl − Vc) 2 Psemu = V. Xc 7.

Dua atom atau lebih yang berasal dari unsur-unsur yang berlainan dapat membentuk senyawa. artinya mempunyai Bentuk.PERKEMBANGAN TEORI ATOM DALTON Atom-atom merupakan partikel terkecil dari suatu zat Atom-atom suatu zat tidak dapat diuraikan menjadi partikel Yang lebih kecil. Atom suatu zat berbeda sifat dengan atom zat lain. maka perbandingan atom-atom yang sama dalam kedua senyawa itu sederhana. Atom suatu unsur tidak dapat diubah menjadi unsur lain. Atom merupakan bola kecil yang keras dan padat berTentangan dengan eksperimen Faraday dan J. Atom-atom setiap zat adalah identik. Bila dua macam atom membentuk dua macam senyawa Atau lebih. Muatan positif dalam atom ini dinetralkan oleh elektronElektron yang tersebar diantara muatan-muatan positif Itu dan jumlah elektron ini sama dengan jumlah muatan Positif. Atom tidak dapat dibagi lagi bertentangan dengan ekspeRimen. - TEORI ATOM J. KELEMAHANNYA. Pada suatu reaksi atom-atom bergabung menurut perbanDingan tertentu. Dalton tidak membedakan pengertian atom dan molekul Satuan molekul juga disebut atom. ukuran dan massa yang sama. KELEMAHANNYA.J Thomson Atom merupakan suatu bola yang mempunyai muatan Positif yang terbagi merata ke seluruh isi atom. Bertentangan dengan percobaan Rutherford dengan hamBuran sinar Alfa ternyata muatan positif tidak merata naMun terkumpul jadi satu yang disebut INTI ATOM.J THOMSON - - 59 .

Memiliki energi . pada jarak yang relatif jauh beredar Lah elektron-elektron mengelilingi inti atom. 2. KELEMAHANNYA. SINAR KATODA Partikel bermuatan negatif Sifat : .RUTHERFORD Atom terdiri dari muatan-muatan positif. Besar momentum anguler elektron pada lintasan Stasioner ini adalah : mvr = n disebut bilangan kwantum (kulit) utama. . Elektron tidak dapat berputar dalam lintasan yang sembarang. Di sekeliling inti atom.½ k 60 . - Pengukuran massa elektron oleh : J. dan sebaliknya. nh 2π 1.Memendarkan kaca .J. Lintasan ini Disebut lintasan stasioner. Model atom ini tidak dapat menunjukkan kestabilan atom Atau tidak mendukung kemantapan atom.Membelok dalam medan listrik dan medan magnet. elektron hanya dapat berputar pada lintasan tertentu tanpa memancarkan energi. Elektron yang menyerap energi (foton) akan berpindah ke lintasan yang energinya tinggi. sehingga atom bersifat netral. Ep = -k e2 r e2 r e2 r Ek = .½ k Etotal = . Model atom ini tidak dapat menunjukkan bahwa spektrum Atom-atom Hidtrogen adalah spektrum garis tertentu. MODEL ATOM BOHR DIBUAT BERDASARKAN 2 POSTULATNYA YAITU : 1. di mana seluruh Muatan posoitif dan sebagian besar massa atom terkumpul ditengah-tengah atom yang disebut dengan INTI ATOM. 3. Muatan inti atom sama dengan muatan elektron yang mengelilingi inti. 2.Bergerak cepat menurut garis lurus keluar tegak lurus dari katoda. Thomson dengan percobaan Tetes Minyak Milikan.

f (J) e = muatan electron r = jari-jari lintasan electron Ep = Energi potensial Ek = energi kinetic n = bilangan kuantum r = jari-jari lintasan electron λ = panjang gelombang h = tetapan Planck 61 .107 m-1 nA = 1 nA = 2 nA = 3 nA = 4 nA = 5 nB = 1 lebihnya dari nA nB = ∞ Energi stasioner E= 05.4. 8. …. 5.6 ( − 1 nB 2 ) eV E = h. 3. 4.097. …. nB = 5. nB = 4.6 eV n2 1 nA 2 E = 13. R = 1. 7. …. Energi Energi Pancaran 13. 5. …. 6. 7. 5. 6. 6. r= n2 h ( )2 2 me k 2π r1 : r2 : r3 : … = 12 : 22 : 32 : … 1 1 1 = R( 2 − ) 2 λ nA nB Deret Lyman Deret Balmer Deret Paschen Deret Brackett Deret Pfund λmax λmin fmin fmax R = tetapan Ridberg nB = 2. 4 …. nB = 6. nB = 3.

Penemu: Henry Becquerel Menghitamkan film Dapat mengadakan ionisasi Dapat memendarkan bahan-bahan tetentu Merusak jaringan tubuh Daya tembusnya besar Sinar α Sinar β Sinar γ Sifat-sifat Macam sinar Penemu: Pierre Curie dan Marrie Curie Urutan naik daya tembus: Sinar α.931 MeV m dalam sma 62 . Deffect massa = (Σmproton + Σmnetron) – minti 05. Z nilai x N=A–Z sehingga I = ½ Io HVL = ln 2 0. Sinar γ Urutan naik daya ionisasi: Sinar γ . I = Io e-µx 02. Dasar penemuan Adanya Fluorecensi : berpendarnya benda saat disinari. Sinar β. HVL 03.693 = µ µ XA 04. Eikat inti = {(Σmproton + Σmnetron) – minti }. Sinar α x x x x x x γx x x x x B α xxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxx β 01.RADIOAKTIVITAS Adanya Fosforecensi : berpendarnya benda setelah disinari. Sinar β.

Hukum Pergeseran β A A A atau ZXA ZX Z+ 1X Z+ 1X + β Jika memancarkan γ 07. R = λ.2-t/T 10.931 MeV = (Σmsebelum reaksi -Σmsesudah reaksi ). Reaksi FUSI 13. ALAT DETEKSI Pencacah Geiger Muller (pulsa listrik) Tabung Sintilasi (pulsa listrik) Kamar kabut Wilson (Jejak lintasan saja) Emulsi film X = nama atom / unsure z = nomor atom a = nomor massa p = proton n = netron m = massa T = waktu paruh N = jumlah inti yang belum meluruh 63 .c2 m dalam kg α A A-4 A-4 atau ZXA +α ZX Z-2X Z-2X 06. D = E m m dalam sma.693 ln 2 = λ λ 8. Reaksi FISI Pembelahan inti berat menjadi ringan Terjadi pada reaktor atom dan bom atom Menghasilkan Energi besar < enerfi reaksi FUSI Dapat dikendalikan. 9.c2 12. Ereaksi = (Σmsebelum reaksi -Σmsesudah reaksi ). m dalam kg 11.= {(Σmproton + Σmnetron) – minti }. T = tetap 0. N N = No. Penggabungan inti ringan menjadi inti berat Terjadi pada reaksi di Matahari dan bom hidrogen Tidak dapat dikendalikan.

No = jumlah inti mula2 λ = konstanta peluruhan t = lamanya berdesintegrasi R = aktivitas radioaktif 64 .

setimbang di tempat berlainan (titik berat benda tetap) Keseimbangan labil : Apabila gaya dihilangkan. y0 = Jika benda homogen mempunyai sumbu simetri atau bidang simetri. y n A ∑ Vn .sin α Momen Kopel : dua gaya yang sama besar tetapi berlawanan arah. x n l ∑ An . Untuk benda ruang ( berdimensi tiga ) x0 = Sifat . 2. Letak titik berat benda padat bersifat tetap.KESETIMBANGAN BENDA TEGAR Momen: Momen Gaya : τ=F. Untuk benda linier ( berbentuk garis ) x0 = ∑ ln . 65 . y n l ∑ An .d Kesetimbangan Translasi : ΣFx=0. tidak tergantung pada posisi benda.ΣFy=0 Kesetimbangan Rotasi : Στ=0 Kesetimbangan translasi dan Rotasi : ΣF=0. tidak dapat kembali semula. a. x n V y0 = ∑ ln .sifat: 1. Kalau suatu benda homogen mempunyai dua bidang simetri ( bidang sumbu ) maka titik beratnya terletak pada garis potong kedua bidang tersebut. y n V b. Untuk benda luasan ( benda dua dimensi ). maka titik beratnya terletak pada sumbu simetri atau bidang simetri tersebut. 3. (titik berat benda akan turun) Kesetimbangan T I T I K B E R A T B E ND A Titik berat untuk benda yang homogen ( massa jenis tiap-tiap bagian benda sama ). akan kembali ke kedudukan semula. (titik berat benda akan naik) Kesetimbangan Indeferen : Gaya dihilangkan.l. Στ=0 Kesetimbangan Stabil (mantap) : Apabila gaya dihilangkan. maka : x0 = y0 = c. besarnya = F. x n A ∑ Vn .

Belah ketupat. Bidang segitiga Gambar benda Letak titik berat y0 = 1 3 Keterangan t = tinggi z = perpotongan garis-garis berat AD & CF t 2. Garis lurus Gambar benda letak titik berat x0 = 2.Kalau suatu benda mempunyai tiga buah bidang simetri yang tidak melalui satu garis.Jajaran genjang. Busur lingkaran 1 2 keterangan z = titik tengah garis l y0 = R × tali busur AB busur AB R = jari-jari lingkaran 3. maka titik beratnya terletak pada titik potong ketiga simetri tersebut. Bujur sangkar Persegi panjang y0 = 1 2 t t = tinggi z = perpotongan diagonal AC dan BD 66 . ΣFx = resultan gaya di sumbu x ΣFy = resultan gaya di sumbu y Σσ = jumlah momen gaya Tabel titik berat teratur linier Nama benda 1. Busur setengah lingkaran y0 = 2R π Tabel titik berat benda teratur berbentuk luas bidang homogen Nama benda 1.

t 3.Bidang setengah lingkaran y0 = 4R 3π R = jari-jari lingkaran Tabel titik berat benda teratur berbentu bidang ruang homogen Nama benda 1. Bidang kulit silinder. Bidang juring lingkaran y0 = 2 3 R× tali busur AB busur AB R = jari-jari lingkaran 4.3. Bidang Kulit limas T’z = 1 3 T’ T T’T = garis tinggi ruang 67 . l 2. ( tanpa tutup ) y0 = 1 2 t = tinggi t silinder R = jari-jari lingkaran alas A = luas kulit silinder A = 2 π R. Bidang kulit prisma Gambar benda Letak titik berat z pada titik tengah garis z1z2 y0 = 1 2 Keterangan z1 = titik berat bidang alas z2 = titik berat bidang atas l = panjang sisi tegak.

Bidang kulit kerucut zT’ = 1 3 T T’ T T’ = tinggi kerucut T’ = pusat lingkaran alas 5. Prisma beraturan. Gambar benda Letak titik berat z pada titik tengah garis z1z2 y0 = tinggi 1 2 Keterangan z1 = titik berat bidang alas z2 = titik berat bidang atas l = panjang sisi tegak V = volume prisma l V = luas alas kali 2.4. y0 = 1 2 R R = jari-jari Tabel titik berat benda teratur berbentuk ruang. pejal homogen Nama benda 1. Bidang kulit setengah bola. Silinder Pejal y0 = 1 2 t t = tinggi silinder R = jari-jari lingkaran alas V = π R2 t 68 .

Gas ideal terdiri atas partikel-partikel (atom-atom ataupun molekul-molekul ) dalam jumlah yang besar sekali. Kerucut pejal y0 = V= 1 3 1 4 t = tinggi kerucut t R = jari-jari lingkaran alas π R2 t 5. Limas pejal beraturan y0 = = 1 4 1 4 T T’ = t = tinggi T T’ t 3 limas beraturan V = luas alas x tinggi 4. 69 .3. Setengah bola pejal y0 = 3 8 R R = jari-jari bola. TEORI KINETIK GAS GAS IDEAL 1.

3 L N m V 2 ras . Partikel-partikel tersebut senantiasa bergerak dengan arah random/sebarang. Hukum-hukum Newton tentang gerak berlaku. P .2. mV 2 ras = 2 N . 6. T atau P . 3. atau P= 1 ρ V 2 ras 3 10.T k = Konstanta Boltman = 1. Pada gas yang sama. dinding dianggap licin dan tegar. kecuali bila bertumbukan. Ek 3V 11. V = K’ . 4. Tumbukan antara partikel ataupun antara partikel dengan dinding terjadi secara lenting sempurna. namun suhu berbeda dapat disimpulkan : v 07. 03. sehingga ukurtan partikel dapat diabaikan. Jarak antara partikel-partikel jauh lebih besar dari ukuran partikel-partikel. untuk 2 macam gas kecepatannya dapat dinyatakan : v v ras1 : ras2 = : 06. Partikel-partikel tersebut merata dalam ruang yang kecil. F= P= P= N m V 2 ras . 3 V 2 N . Pada suhu yang sama. Tidak ada gaya antara partikel yang satu dengan yang lain. 5. v ras1 : ras2 = T1 : T2 t= 2L Vras 08. v 3RT M 1 M1 1 M2 05. ras = 3kT m dan m= ras = M N k= R N0 04. 7. V = N. partikel dianggap sebagai bola kecil yang keras. 3V 1 2 09. 1.38 x 10-23 joule/0K 70 . k . n= v N N0 2.

987 kalori/mol0 K = 0. P= ρ R T Mr atau P R. P . Ek = 3 Nk .0K = 8.T 2 P = tekanan gas ideal N = banyak partikel gas m = massa 1 pertikel gas V = volume gas v = kecepatan partikel gas n = jumlah mol gas No = bilangan Avogadro R = tetapan gas umum M = massa atom relatif k = tetapan boltzman Ek = energi kinetic vras = kecepatan partikel gas ideal ρ = massa jenis gas ideal T = suhu HUKUM TERMODINAMIKA 01.12.cv = R cp = kapasitas panas jenis ( kalor jenis ) gas ideal pada tekanan konstan. 15. P1 .V1 P2 .317 joule/mol.08205 liter. T 14.atm/mol0K 13. V = n R T R dengan n= N N0 = 8.V2 = T1 T2 Persamaan ini sering disebut dengan Hukum Boyle-Gay Lussac. 71 . cp .317 x 107 erg/mol0K = 1. Mr T R. T = Mr ρ atau ρ = P.

02.PROSES PADA HUKUM TERMODINAMIKA I 1. sebelum dipanaskan sesudah dipanaskan Dengan demikian pada proses ini berlaku persamaan Boyle-GayLussac V1 V2 = T1 T2 Jika grafik ini digambarkan dalam hubungan P dan V maka dapat grafik sebagai berikut : 72 . Pada proses ini gas dipanaskan dengan tekanan tetap. ∆ V 04. 03. R. ( lihat gambar ). Hukum I termodinamika untuk Proses Isobarik. Untuk gas beratom tunggal ( monoatomik ) diperoleh bahwa : c P = 5 R 2 7 R 2 c V = 3 R 2 5 R 2 γ γ = b.67 V c P = c V = = γ c c P = 1. Energi dalam suatu gas Ideal adalah : U = 3 n. panas jenis gas ideal pada suhu sedang . Untuk gas beratom dua ( diatomik ) diperoleh bahwa : c c P = 1. Usaha yang dilakukan oleh gas terhadap udara luar : W = p. T 2 05.HUKUM I TERMODINAMIKA ∆ Q= ∆ U+ ∆ W ∆ Q = kalor yang masuk/keluar sistem ∆ U = perubahan energi dalam ∆ W = Usaha luar.sebagai berikut: a.4 V = konstanta Laplace.cv = kapasitas panas jenis ( kalor jenis ) gas ideal pada volume konstan. PROSES .

P1 V2 = P2 V2 73 . Hukum I termodinamika untuk proses Isothermik. maka berlaku Hukum BOYLE. ( lihat gambar ) Sebelum dipanaskan.U1 ∆ Q= ∆ U ∆ U = m . Sesudah dipanaskan. Selama proses suhunya konstan. Oleh karena suhunya tetap. W=∆ Q- ∆ U = m ( c p . Sesudah dipanaskan.T1 ) Pendinginan 3.Pemanasan Pendinginan ∆ 2.T1 ) Hukum I Termodinamika untuk Proses Isokhorik ( Isovolumik ) Pada proses ini volume Sistem konstan.c v ) ( T 2 . ( lihat gambar ) Sebelum dipanaskan. Dengan demikian dalam proses ini berlaku Hukum Boyle-Gay Lussac dalam bentuk : P1 P2 = T1 T2 Jika digambarkan dalam grafik hubungan P dan V maka grafiknya sebagai berikut : ∆ Pemanasan V = 0 -------à W = 0 ( tidak ada usaha luar selama proses ) ∆ Q = U 2 . c v ( T2 .

Hukum I Termodinamika untuk proses Adiabatik.V1 = T2.∆ W γ-1 γ-1 T1. Selama proses tak ada panas yang masuk / keluar sistem jadi Q = 0 ( lihat gambar ) Sebelum proses Selama/akhir proses oleh karena tidak ada panas yang masuk / keluar sistem maka berlaku Hukum Boyle-Gay Lussac PV1 P2V2 1 = T1 T2 Jika digambarkan dalam grafik hubungan P dan V maka berupa : ∆ Q = 0 ------à O = Pengembangan U+ ∆ W U2 -U1 = .V2 ∆ Pemampatan 74 .Jika digambarkan grafik hubungan P dan V maka grafiknya berupa : Pemanasan T2 = T1 --------------> ∆ Pendinginan U = 0 ( Usaha dalamnya nol ) V2 )= V1 P W = P1 V1 ( ln 1 ) = P2 V W = n R T1 ( ln 2 ) = V1 P W = n R T1 ( ln 1 ) = P2 W = P1 V1 ( ln V2 ) V1 P P2 V2 ( ln 1 ) P2 V n R T2 ( ln 2 ) V1 P n R T2 ( ln 1 ) P2 P2 V2 ( ln ln x =2.303 log x 4.

HUKUM II TERMODINAMIKA Energi yang bermanfaat Energi yang dim asukkan W Q2 − Q1 η = = Q2 Q2 Q η = ( 1 − 1 ) × 100% Q2 η = Menurut Carnot untuk effisiensi mesin carnot berlaku pula : η = ( 1− T = suhu η = efisiensi P = tekanan V = volume W = usaha T1 ) × 100% T2 GELOMBANG ELEKTROMAGNETIK Gelombang Elektromagnet : Rambatan perubahan medan listrik dan medan magnet 75 . c v ( T1 .V1 = P2.W = m .V1 γ-1 ) γ γ P1.V1 1− γ ( V2 γ-1 .V2 06.T2 ) atau W= P1 .

t ) µ0 E 0.E 0 2. gel radar dan TV. Radio. gel. sinar X.B 0 S max = µ0 1 S = ε 0. Spektrum GEM: Urutan naik frekwensinya (urutan turun panjang gelombangnya): gel.B 0 . 76 . sinar gamma. sin 2 (kx − ϖ . Infra merah. “Gahaya adalah gelombang elektromagnet” Biot Savart : “Aliran muatan (arus) listrik menghasilkan medan magnet” Huygens : “Cahaya sebagai gerak gelombang” (S)Intensitas GEM/energi rata-rata per satuan luas : E 0. pembiasan difraksi.c.µ 0 Radiasi Kalor : Radiasi dari benda-benda yang dipanasi Yang dapat menyerap seluruh radiasi adalah benda hitam mutlak - Konduksi : partikelnya bergetar → zat padat Konveksi : molekul berpindah → zat cair dan gas Radiasi : tanpa zat perantara. listrik” TEORI Coulomb : “Muatan listrik menghasilkan medan listrik yang kuat” Oersted : “Di sekitar arus listrik ada medan magnet” Faraday : “Perubahan medan magnet akan menimbulkan medan Lorentz : “kawat berarus listrik dalam medan magnet terdapat gaya” Maxwell : “Perubahan medan listrik menimbulkan medan magnet”. polarisasi diserap oleh konduktor dan diteruskan oleh isolator. sinar ultra ungu.c 2 1 c= µ 0. cahaya tampak.Vektor perubahan medan listrik tegak lurus vektor perubahan medan magnet Ciri-ciri GEM : Menunjukkan gejala : pemantulan.ε 0 S= E02 S= 2.

10-8 watt/m2 ° K τ = c T c=tetapan Wien=2.I= w = e.672.10-3m ° K v = kecepatan c = kecepatan cahaya T = suhu mutlak λ = panjang gelombang e = emisivitas A = luas permukaan S = intensitas _ S = Intensitas rata-rata OPTIKA FISIS Sinar yang dapat diuraikan Polikromatik 77 .T 4 A e=emitivitas : ∇ hitam mutlak : e=1 putih : e=0 = konstanta Boltzman = 5.898.∇ .

1 f gabmerah ' = 1 f gabungu ' n n n n 1 1 1 1 1 1 1 1 ( m − 1)( − ) + ( m − 1)( − ) = ( u − 1)( − ) + ( u − 1)( − ) n R1 R2 n R1 R2 n R1 R2 n R1 R2 Flinta Kerona Flinta Kerona PRISMA PANDANG LURUS (nh’ – 1) )β’ = (nh – 1) )β Max p. f dan Efoton terbesar) DISPERSI (PERURAIAN WARNA) Benda bening Plan paralel Prisma Lensa ∆r = /rm – ru/ ∆t = /tm – tu/ ∆ϕ = δu .d 1 = ( 2k ) λ ℓ 2 78 . δ. Gelomb masing warna beda Merah (λ dan v terbesar) Jingga Kuning Hijau Biru Nila Ungu (n.δm ∆s’ = /s’m – s’u/ ∆f = /fm – fu/ MENIADAKAN DISPERSI : Prisma Akromatik (n’ u – n’m)β’ = (nu – nm) β Lensa Akromatik.CAHAYA Sinar yang tak dapat diuraikan Monokromatik Dalam ruang hampa cepat rambat sama besar frekwensi masing warna beda Pj.

2.22 λ . .d 1 = (2k − 1) λ ℓ 2 Max Percobaan Young Min INTERFERENSI (Syarat : Koheren) (A. ∆ϕ sama) Cincin Newton (gelap sbg pusat) Max Min Max Selaput tipis Min Max Celah tunggal Min DIFRAKSI Max Kisi Min rk2 = ½ R (2k-1)λ rk2 = ½ R (2k) λ 2n’ d cos r = (2k-1) ½ λ 2n’ d cos r = (2k) ½ λ d sin θ = (2k + 1) ½ λ sin θ = (2k) ½ λ d sin θ = (2k) ½ λ d sin θ = (2k – 1) ½ λ k = 1. Daya Urai (d) d = 1. f. 3 .d 1 = ( 2k ) λ ℓ 2 p. .d 1 = (2k − 1) λ ℓ 2 p. .Cermin Fresnell Min p.L D L = jarak ke layar D = diameter lensa n = indeks bias δ = deviasi β = sudut pembias λ = panjang gelombang cahaya d = tebal lapisan r = sudut bias rk = jari-jari cincin terang ke k R = jari-jari lensa 79 .

Penjumlahan kecepatan V1→ ←V2 V1→ →V2 80 .p = jarak terang dari pusat k = orde garis terang/gelap θ = sudut difraksi/deviasi f = fokus RELATIVITAS Relativitas: a.

makin besar pula kecepatan elektron yang diemisikan 81 .V 2 1+ C2 V2 C2 V2 C2 Vr = V1 − V 2 V 1. m0 V2 1− 2 C m’>m0 Etotal=Ediam+Ek     1  2 Ek = m.V 2 1− C2 t' = t0 1 − c. Massa dan Energi m' = e.Vr = b. t’<t0 Kontraksi Lorentz L' = L 0 1 − d. semakin besar f. Dilatasi waktu V1 + V 2 V 1. b.C  − 1 2  1− V    C2   V1 = kecepatan partikel 1 terhadap bumi V2 = kecepatan partikel 2 terhadap partikel 1 Vr = kecepatan partikel 2 terhadap bumi c = kecepatan cahaya V = kecepatan L’ = panjang setelah mengalami perubahan Lo = panjang mula-mula m’ = massa benda saat bergerak mo = massas benda saat diam Ek = energi kinetik to = selang waktu yang daiamati oleh pengamat diam terhadap benda t’ = selang waktu yang diamati pengamat bergerak DUALISME GELOMBANG CAHAYA a. Semakin besar intensitas cahaya semakin banyak elektron elektron yang diemisikan Kecepatan elektron yang diemisikan bergantung pada frekuensi.

(1 − cos θ m0.m.10-31 kg Hamburan Compton : λ '− λ = h . −   λ λ 0 h.c.1. f − hf 0 E = Energi h = tetapan Planck f = frekwensi c = kecepatan cahaya v = kecepatan a = energi ambang m = massa λ = panjang gelombang p = momentum Ek = Energi kinetik C C h −   λ λ 0 1 1 Ek = h.V 2 = 2 1 mV 2 = 2 h. f E = Ek + E 0 Ek = E − a 1 m.c ) 82 .E = h.1. f h Pfoton = .p= C λ p=momentum Hypotesa de Broglie λ = λ = p= c f h h → λ = p m.Ek Catatan penting : Ek=54 ev = 54.6.10-19 Joule Massa 1e = 9.V 2.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful