Anda di halaman 1dari 22

TUGAS AKHIR PANCASILA

TUGAS AKHIR PANCASILA Nama: Mohkamad Dony Hariansah NIM: 11.11.5599 Kelompok: F Jurusan: S1Teknik Informatika Dosen:Dr. Abidarin

Nama: Mohkamad Dony Hariansah NIM: 11.11.5599 Kelompok: F Jurusan: S1Teknik Informatika Dosen:Dr. Abidarin Rosidi, M.Ma.

SEKOLAH TINGGIMANAJEMENINFORMATIKA DAN KOMPUTER AMIKOM YOGYAKARTA

2011

MAKNA PANCASILA

Abstrak

Pancasila berarti lima dasar atau lima asas yaitu nama dari dasar negara kitamempunyai arti “Berbatu sendi yang lima”(dari bahasa Sangsekerta) dan jugamempunyai arti “Pelaksanaan kesusilaan yang lima” (Pancasila Krama), yaitu: tidak boleh melakukan kekerasan, tidak boleh mencuri, tidak boleh berjiwa dengki, tidak boleh berbohong, tidak boleh mabuk minuan keras / obat-obatan terlarang. Disinikitajugabisamelihatbahwa: Pertama, Pancasila sebagai pandangan hidup Bangsa Indonesia yang disebut juga way of life, weltanschaung, wereldbeschouwing, wereld en levens beschouwing, pandangan dunia, pandangan hidup, pegangan hidup dan petunjuk hidup. Hal ini karena Pancasila Weltanschauung merupakan suatu kesatuan, tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lain, keseluruhan sila dalam Pancasila merupakan satu kesatuan organis.Kedua, Pancasila sebagai dasar Negara Republik Indonesia yang disebutsebagai falsafah negara (philosohische gronslag) dari negara, ideologi negara, dan staatside. Dalam hal ini Pancasila digunakan sebagai dasar mengatur pemerintahan atau penyelenggaraan negara. Hal ini sesuai dengan bunyi

pembukaan UUD 1945, yang dengan jelas menyatakan “……

..

maka

disusunlah

kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu undang-undang dasar negara Indonesia yang terbentuk dalam suatu susunan negara Republik Indonesia yang

berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada…

..

.

Ketiga, Pancasila sebagai

sumber hukum Republik Indonesia adalah negara Indonesia memiliki hukum nasional yang merupakan satu kesatuan sistem hukum. Sistem hukum Indonesia itu bersumber dan berdasar pada pancasila sebagai norma dasar bernegara.

A.Latar BelakangMasalah

Sejarah telah mengungkapkan bahwa Pancasila adalah jiwa seluruh rakyat

Indonesia, yang memberi kekuatan hidup kepada bangsa Indonesia serta

membimbingnya dalam mengejar kehidupan lahir batin yang makin baik, di

dalam masyarakat Indonesia yang adil dan makmur. Bahwasanya Pancasila yang

telah diterima dan ditetapkan sebagai dasar negara seperti tercantum dalam

pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 merupakan kepribadian dan pandangan

hidup bangsa, yang telah diuji kebenaran, kemampuan dan kesaktiannya, sehingga

tak ada satu kekuatan manapun juga yang mampu memisahkan Pancasila dari

kehidupan bangsa Indonesia.

Menyadari bahwa untuk kelestarian kemampuan dan kesaktian Pancasila

itu, perlu diusahakan secara nyata dan terus menerus penghayatan dan

pengamamalan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya oleh setiap warga

negara Indonesia, setiap penyelenggara negara serta setiap lembaga kenegaraan

dan lembaga kemasyarakatan, baik di pusat maupun di daerah.

  • B. Rumusan Masalah

Untuk menghidari adanya kesimpangsiuran dalam penyusunan makalah ini,

maka penulis membatasi masalah-masalah yang akan di bahas diantaranya:

  • a. Apa arti Pancsila?

  • b. Bagaimana pengertian Pancasila sebagai Pandangan Hidup Bangsa Indonesia?

  • c. Bagaimana penjabaran Pancasila sebagai Dasar Negara Republik Indonesia?

  • d. Bagaimana pengertian Pancasila sebagai Sumber Hukum Republik Indonesia?

  • e. Bagaimana penjabaran tiap-tiap sila dari Pancasila?

  • C. Tujuan Yang Ingin Dicapai

Dalam penyusunan Makalah ini, penulis mempunyai beberapa tujuan,

yaitu:

1. Penulis ingin mengetahui arti Pancasila sebenarnya

2.

Pada hakikatnya, Pancasila mempunyai dua fungsi yaitu sebagai pandangan

hidup dan sebagai dasar negara oleh sebab itu penulis ingin mengetehui keduanya.

  • 3. Penulis ingin mengetahui maksud dari Pancasila Sebagai Sumber Hukum.

  • 4. Penulis ingin mendalami / menggali arti dari sila sila Pancasila

A. Historis Pancasila

PENDEKATAN

Pembahasan historis Pancasila dibatasi pada tinjauan terhadap

perkembangan rumusan Pancasila sejak tanggal 29 Mei 1945 sampai dengan

keluarnya Instruksi Presiden RI No.12 Tahun 1968. Pembatasan ini didasarkan

pada dua pengandaian, yakni:

1. Telaah tentang dasar negara Indonesia merdeka baru dimulai pada tanggal 29

Mei 1945, saat dilaksanakan sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan

Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

2. Sesudah Instruksi Presiden No.12 Tahun 1968 tersebut, kerancuan pendapat

tentang rumusan Pancasila dapat dianggap tidak ada lagi.

Permasalahan Pancasila yang masih terasa mengganjal adalah tentang

penghayatan dan pengamalannya saja. Hal ini tampaknya belum terselesaikan

oleh berbagai peraturan operasional tentangnya. Dalam hal ini, pencabutan

Ketetapan MPR No.II/MPR/1978 (Ekaprasetia Pancakarsa) tampaknya juga

belum diikuti upaya penghayatan dan pengamalan Pancasila secara lebih

'alamiah'. Tentu kita menyadari juga bahwa upaya pelestarian dan pewarisan

Pancasila tidak serta merta mengikuti Hukum Mendel.

Tinjauan historis Pancasila dalam kurun waktu tersebut kiranya cukup untuk

memperoleh gambaran yang memadai tentang proses dan dinamika Pancasila

hingga menjadi Pancasila otentik. Hal itu perlu dilakukan mengingat bahwa dalam

membahas Pancasila, kita terikat pada rumusan Pancasila yang otentik dan pola

hubungan sila-silanya yang selalu merupakan satu kebulatan yang utuh.

Sidang BPUPKI 29 Mei 1945 dan 1 Juni 1945

Dalam sidang BPUPKI tanggal 29 Mei 1945, Mr. Muhammad Yamin

menyampaikan telaah pertama tentang dasar negara Indonesia merdeka sebagai

berikut: 1) Peri Kebangsaan; 2) Peri Kemanusiaan; 3) Peri Ketuhanan; 4) Peri

Kerakyatan; 5) Kesejahteraan Rakyat. Ketika itu ia tidak memberikan nama

terhadap lima (5) azas yang diusulkannya sebagai dasar negara.

Pada tanggal 1 Juni 1945, dalam sidang yang sama, Ir. Soekarno juga

mengusulkan lima (5) dasar negara sebagai berikut: 1) Kebangsaan Indonesia; 2)

Internasionalisme; 3) Mufakat atau Demokrasi; 4) Kesejahteraan Sosial; 5)

Ketuhanan Yang Berkebudayaan. Dan dalam pidato yang disambut gegap gempita

itu, ia mengatakan: "… saja namakan ini dengan petundjuk seorang teman kita

ahli bahasa, namanja ialah Pantja Sila …" (Anjar Any, 1982:26).

Piagam Jakarta 22 Juni 1945

Rumusan lima dasar negara (Pancasila) tersebut kemudian dikembangkan

oleh "Panitia 9" yang lazim disebut demikian karena beranggotakan sembilan

orang tokoh nasional, yakni para wakil dari golongan Islam dan Nasionalisme.

Mereka adalah: Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta, Mr. A.A. Maramis,

Abikusno Tjokrosoejoso, Abdulkahar Muzakir, H.A. Salim, Mr. Achmad

Subardjo, K.H. Wachid Hasjim, Mr. Muhammad Yamin. Rumusan sistematis

dasar negara oleh "Panitia 9" itu tercantum dalam suatu naskah Mukadimah yang

kemudian dikenal sebagai "Piagam Jakarta", yaitu: 1) Ke-Tuhanan dengan

kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemelukknya;

2)Menurutdasar kemanusiaan yang adil dan beradab; 3)Persatuan Indonesia;

4)Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan

perwakilan; 5)Mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Dalam sidang BPUPKI tanggal 14 Juli 1945, "Piagam Jakarta" diterima

sebagai rancangan Mukadimah hukum dasar (konstitusi) Negara Republik

Indonesia. Rancangan tersebut khususnya sistematika dasar negara (Pancasila)

pada tanggal 18 Agustus disempurnakan dan disahkan oleh Panitia Persiapan

Kemerdekaan Indonesia (PPKI) menjadi: 1) Ketuhanan Yang Maha Esa; 2)

Kemanusiaan yang adil dan beradab; 3) Persatuan Indonesia; 4) Kerakyatan yang

dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan; 5)

Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia; sebagaimana tercantum dalam

alinea keempat Pembukaan UUD 1945.

Konstitusi RIS (1949) dan UUD Sementara (1950)

Dalam kedua konstitusi yang pernah menggantikan UUD 1945 tersebut,

Pancasila dirumuskan secara 'lebih singkat' menjadi: 1) Pengakuan Ketuhanan

Yang Maha Esa; 2) Perikemanusiaan; 3) Kebangsaan; 4) Kerakyatan; 5) Keadilan

sosial.

Sementara itu di kalangan masyarakat pun terjadi kecenderungan

menyingkat rumusan Pancasila dengan alasan praktis/ pragmatis atau untuk lebih

mengingatnya dengan variasi sebagai berikut: 1) Ketuhanan; 2) Kemanusiaan; 3)

Kebangsaan; 4) Kerakyatan atau Kedaulatan Rakyat; 5) Keadilan sosial.

Keanekaragaman rumusan dan atau sistematika Pancasila itu bahkan tetap

berlangsung sesudah Dekrit Presiden 5 Juli 1959 yang secara implisit tentu

mengandung pula pengertian bahwa rumusan Pancasila harus sesuai dengan yang

tercantum dalam Pembukaan UUD 1945.

Instruksi Presiden RI No.12 Tahun 1968

Rumusan yang beraneka ragam itu selain membuktikan bahwa jiwa

Pancasila tetap terkandung dalam setiap konstitusi yang pernah berlaku di

Indonesia, juga memungkinkan terjadinya penafsiran individual yang

membahayakan kelestariannya sebagai dasar negara, ideologi, ajaran tentang

nilai-nilai budaya dan pandangan hidup bangsa Indonesia. Menyadari bahaya

tersebut, pada tanggal 13 April 1968, pemerintah mengeluarkan Instruksi Presiden

RI No.12 Tahun 1968 yang menyeragamkan tata urutan Pancasila seperti yang

tercantum dalam Pembukaan UUD 1945.

B. Sosiologis Pancasila

Salah satu fungsi utama pancasila sebagai ideologi negara adalah sebagai

pandangan hidup. Pancasila sebagai pandangan hidup adalah pedoman dalam

menilai dan mengatasi permasalahan yang muncul dalam kehidupan

masyarakat,berbangsa dan befnegara. Dengan menggunakan Pancasila sebagai

pandangan hidup,bangsa Indonesia memiliki pegangan yang kokoh dan tidak

terombang-ambing oleh jaman.

Penerapan Pancasila sebagai pandangan hidup akan melahirkan manusia

Pancasila. Manusia Pancasilamengamalkan Pancasila secara utuh dan satu

kesatuan,tidak boleh hanya mengamalkan satu sila dari pancasila dan

mengabaikan empat sila lainnya,dan juga tidak boleh mengamalkan empat sila

dari pancasila dan mengabaikan satu sila lainnya. Manusia pancasila

mengamalkan ke lima sila dari Pancasila sebagai satu kesatuan yang utuh.

Setiap sila dari Pancasila merupakan sebuah pedoman dan melahirkan

prinsip-prinsip kehidupan.

1.Sila ketuhanan Yang Maha Esa

Sila ketuhanan Yang Maha Esa melahirkan pedoman kehidupan untuk

hidup sesuai dengan hakikat Tuhan Yang maha Esa.Pedoman ini melahirkan

prinsip-prinsip kehidupan:

  • a. Percaya dan taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

  • b. Menjalankan perintah dan menjauhi larangan sesuai dengan ajaran agama masing-masing.

  • c. Saling hormat menghormati antar umat beragama.

  • d. Menjaga kerukunan antar umat beragama.

  • e. Tidak memaksakan agama kepada orang lain.

2. Sila kemanusiaan yang adil dan beradab

Sila kemanusiaan yang adil dan beradab melahirkan pedoman kehidupan

untuk hidup bersesuaian dengan hakekat manusia.Pedoman ini melahirkan

prinsip-prinsip kehidupan:

  • a. Tidak membeda-bedakan suku dan keturunan dalam pergaulan,agama dan tingkat sosial ekonomi.

  • b. Tidak melakukan diskriminatif.

  • c. Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

  • d. Membela kebenaran dan keadilan.

 

e.

Menjauhi sikap politik apartheid.

 

3.Sila Persatuan Indonesia

 
 

Sila Persatuan Indonesia melahirkan pedoman kehidupan untuk hidup

bersesuaian dengan hakekat satu.Pedoman ini melahirakan prinsip-prinsip

kehidupan:

 
 

a.

Mencintaitanah air dan bangsa.

 

b.

Menjaga nama baik negara dan bangsa.

 

c.

Merasa bangga bertanah air Indonesia.

 

d.

Menjunjung persatuan dan kesatuan.

e.

Turut serta menciptakan ketertiban dunia berdasarkan keadilan sosial.

 

4.

Sila

kerakyatan

yang

dipimpin

oleh

hikmat

kebijaksanaandalampermusyawaratan perwakilan.

 
 

Sila

kerakyatan

yang

dipimpin

oleh

hikmat

kebijaksanaan

dalam

permusyawaratan

perwakilan

melahirkan

pedoman

kehidupan

untuk

hidup

bersesuaian

dengan

hakekat

rakyat.Pedoman

ini

melahirakan prinsip-prinsip

kehidupan:

 
 

a.

Ikut serta dalam pemilihan umum.

 

b.

Selalu menggunakan akal sehat dalam musyawarah.

 

c.

Menghormati dan menjunjung tinggi setiap hasil musyawarah.

 

d.

Selalu mengedepankan musyawarah untuk mencapai mufakat dalam

 

menyelesaikan masalah bersama.

 
 

e.

Mengakui bahwa setiap warga negara mempunyai kedudukan yang sama.

5. Sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia melahirkan pedoman

kehidupan untuk hidup bersesuaian dengan hakekat adil.Pedoman ini melahirakan

prinsip-prinsip kehidupan:

  • a. Menjunjung tinggi nilai-nilai kekeluargaan.

  • b. Selalu berusaha untuk mencapai kemajuan.

  • c. Selalu mengusahakan kesejahteraan bersama.

  • d. Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.

  • e. Secara aktif ikut serta mewujudkan keadilan sosial. Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa tersebut terkandung di

dalamnya konsepsi dasar mengenai kehidupan yang dicita-citakan,terkandung

dasar pikiran terdalam dan gagasan mengenai wujud kehidupan yang dianggap

baik. Oleh karena itu Pancasila digunakan sebagai petunjuk hidup sehari-hari.

Dengan kata lain Pancasila digunakan sebagai petunjuk arah semua kegiatan atau

aktivitas hidup dan kehidupan dalam segala bidang. Ini berarti,bahwa semua

tingkah laku dan tindak perbuatan manusia Indonesia harus dijiwai dan

merupakan pancaran dari semua sila di dalam Pancasila.

C. Yuridis Pancasila

Meskipun nama "Pancasila" tidak secara eksplisit disebutkan dalam UUD

1945 sebagai dasar negara, tetapi pada alinea keempat Pembukaan UUD 1945 itu

secara jelas disebutkan bahwa dasar negara Indonesia adalah keseluruhan nilai

yang dikandung Pancasila.

Dengan demikian tepatlah pernyataan Darji Darmodihardjo (1984) bahwa

secara yuridis-konstitusional, "Pancasila adalah Dasar Negara yang dipergunakan

sebagai dasar mengatur-menyelenggarakan pemerintahan negara. … Mengingat

bahwa Pancasila adalah Dasar Negara, maka mengamalkan dan mengamankan

Pancasila sebagai Dasar Negara mempunyai sifat imperatif/ memaksa, artinya

setiap warga negara Indonesia harus tunduk-taat kepadanya. Siapa saja yang

melanggar Pancasila sebagai Dasar Negara, ia harus ditindak menurut hukum,

yakni hukum yang berlaku di Negara Indonesia."

Pernyataan tersebut sesuai dengan posisi Pancasila sebagai sumber

tertinggi tertib hukum atau sumber dari segala sumber hukum. Dengan demikian,

segala hukum di Indonesia harus bersumber pada Pancasila, sehingga dalam

konteks sebagai negara yang berdasarkan hukum (Rechtsstaat), Negara dan

Pemerintah Indonesia 'tunduk' kepada Pancasila sebagai 'kekuasaan' tertinggi.

Dalam kedudukan tersebut, Pancasila juga menjadi pedoman untuk

menafsirkan UUD 1945 dan atau penjabarannya melalui peraturan-peraturan

operasional lain di bawahnya, termasuk kebijaksanaan-kebijaksanaan dan

tindakan-tindakan pemerintah di bidang pembangunan, dengan peran serta aktif

seluruh warga negara.

Oleh karena itu dapatlah dimengerti bahwa seluruh undang-undang,

peraturan-peraturan operasional dan atau hukum lain yang mengikutinya bukan

hanya tidak boleh bertentangan dengan Pancasila, sebagaimana dimaksudkan oleh

Kirdi Dipoyudo (1979:107): "… tetapi sejauh mungkin juga selaras dengan

Pancasila dan dijiwai olehnya …" sedemikian rupa sehingga seluruh hukum itu

merupakan jaminan terhadap penjabaran, pelaksanaan, penerapan Pancasila.

Pemilihan Pancasila sebagai dasar negara oleh the founding fathers

Republik Indonesia patut disyukuri oleh segenap rakyat Indonesia karena ia

bersumber pada nilai-nilai budaya dan pandangan hidup bangsa Indonesia sendiri

atau yang dengan terminologi von Savigny disebut sebagai jiwa bangsa

(volkgeist). Namun hal itu tidak akan berarti apa-apa bila Pancasila tidak

dilaksanakan dalam keseharian hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara

sedemkian rupa dengan meletakkan Pancasila secara proporsional sebagai dasar

negara, ideologi, ajaran tentang nilai-nilai budaya bangsa dan pandangan hidup

bangsa

PEMBAHASAN

A.PengertianPancasila

Pancasila artinya lima dasar atau lima asas yaitu nama dari dasar negara

kita, Negara Republik Indonesia. Istilah Pancasila telah dikenal sejak zaman

Majapahit pada abad XIV yang terdapat dalam buku Nagara Kertagama karangan

Prapanca dan buku Sutasoma karangan Tantular, dalam buku Sutasoma ini, selain

mempunyai arti “Berbatu sendi yang lima” (dari bahasa Sangsekerta) Pancasila

juga mempunyai arti “Pelaksanaan kesusilaan yang lima” (Pancasila Krama),

yaitu sebagai berikut:

  • 1. Tidak boleh melakukan kekerasan

  • 2. Tidak boleh mencuri

  • 3. Tidak boleh berjiwa dengki

  • 4. Tidak boleh berbohong

  • 5. Tidak boleh mabuk minuman keras / obat-obatan terlarang

Pancasila berasal dari kata Sansakerta (Agama Buddha) = untuk mencapai

Nirwana diperlukan 5 Dasar/Ajaran, yaitu:

  • 1. Jangan mencabut nyawa makhluk hidup/Dilarang membunuh.

  • 2. Jangan mengambil barang orang lain/Dilarang mencurri.

  • 3. Jangan berhubungan kelamin/Dilarang berjinah

  • 4. Jangan berkata palsu/Dilarang berbohong/berdusta.

  • 5. Jangan minum yang menghilangkan pikiran/Dilarang minuman keras.

Diadaptasi oleh orang jawa menjadi 5 M = Madat/Mabok, Maling/Nyuri,

Madon/Awewe, Maen/Judi, Mateni/Bunuh.

  • B. Pancasila Sebagai Pandangan Hidup Bangsa Indonesia

Dalam pengertian ini, Pancasila disebut juga way of life, weltanschaung,

wereldbeschouwing, wereld en levens beschouwing, pandangan dunia, pandangan

hidup, pegangan hidup dan petunjuk hidup. Dalam hal ini Pancasila digunakan

sebagai petunjuk arah semua semua kegiatan atau aktivitas hidup dan kehidupan

dalam segala bidang. Hal ini berarti bahwa semua tingkah laku dan tindakn

pembuatan setiap manusia Indonesia harus dijiwai dan merupakan pencatatan dari

semua sila Pancasila. Hal ini karena Pancasila Weltanschauung merupakan suatu

kesatuan, tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lain, keseluruhan sila dalam

Pancasila merupakan satu kesatuan organis.

Pancasila sebagai pandangan hidup dan dasar negara Indonesia

mempunyai beberapa fungsi pokok, yaitu:

  • 1. Pancsila dasar negara sesuai dengan pembukaan UUD 1945 dan yang pada

hakikatnya adalah sebagai sumber dari segala sumber hukum atau sumber tertib

hukum. Hal ini tentang tertuang dalam ketetapan MRP No. XX/MPRS/1966 dan

ketetapan MPR No. V/MP/1973 serta ketetapan No. IX/MPR/1978. merupakan

pengertian yuridis ketatanegaraan

  • 2. Pancasila sebagai pengatur hidup kemasyarakatan pada umumnya (merupakan

pengertian Pancasila yang bersifat sosiologis)

  • 3. Pancasila sebagai pengatur tingkah laku pribadi dan cara-cara dalam mencari

kebenaran (merupakan pengertian Pancasila yang bersifat etis dan filosofis.

  • C. Pancasila Sebagai Dasar Negara Republik Indonesia

Pancasila sebagai falsafah negara (philosohische gronslag) dari negara,

ideologi negara, dan staatside. Dalam hal ini Pancasila digunakan sebagai dasar

mengatur pemerintahan atau penyelenggaraan negara. Hal ini sesuai dengan bunyi

pembukaan UUD 1945, yang dengan jelas menyatakan “……

..

maka

disusunlah

kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu undang-undang dasar negara

Indonesia yang terbentuk dalam suatu susunan negara Republik Indonesia yang

berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada… ” ..

Pancasila sebagai pandangan hidup dan dasar negara Indonesia

mempunyai beberapa fungsi pokok, yaitu:

  • 1. Pancasila dasar negara sesuai dengan pembukaan UUD 1945 dan yang pada

hakikatnya adalah sebagai sumber dari segala sumber hukum atau sumber tertib

hukum. Hal ini tentang tertuang dalam ketetapan MRP No. XX/MPRS/1966 dan

ketetapan MPR No. V/MP/1973 serta ketetapan No. IX/MPR/1978. merupakan

pengertian yuridis ketatanegaraan.

  • 2. Pancasila sebagai pengatur hidup kemasyarakatan pada umumnya (merupakan

pengertian Pancasila yang bersifat sosiologis).

  • 3. Pancasila sebagai pengatur tingkah laku pribadi dan cara-cara dalam mencari

kebenaran (merupakan pengertian Pancasila yang bersifat etis dan filosofis).

D.Pancasila sebagai Sumber Hukum Republik Indonesia

Upaya mewujudkan Pancasila sebagai sumber hukum adalah dijadikannya

Pancasila sebagai sumber bagi penyusunan norma hukum di Indonesia. Negara

Indonesia memiliki hukum nasional yang merupakan satu kesatuan sistem hukum.

Sistem hukum Indonesia itu bersumber dan berdasar pada pancasila sebagai

norma dasar bernegara. Pancasila berkedudukan sebagai grundnorm (norma dasar)

atau staatfundamentalnorm (norma fondamental negara) dalam jenjang norma

hukumdiIndonesia.

Sistem hukum di Indonesia membentuk tata urutan peraturan perundang-

undangan. Tata urutan peraturan perundang-undangan sebagaimana diatur dalam

ketetapan MPR No. III/MPR/2000 tentang sumber hukum dan tata urutan

perundang-undangan sebagai berikut.

  • a. Undang-Undang Dasar 1945

  • b. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia

  • c. Undang-undang

  • d. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perpu)

  • e. Peraturan Pemerintah

f.Keputusan Presiden

  • g. PeraturanDaerah

E. Sila Sila Pancasila

Sila Katuhanan Yang Maha Esa

1. Manusia Indonesia percaya dan takwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sesuai

dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan

yang adil dan beradab.

2. Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama antara

pemelukagama dengan penganut kepercayaan yang berbeda-beda terhadap Tuhan

Yang Maha Esa.

3.

Membina kerukunan hidup di antara sesama umat beragama dan kepercayaan

terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

  • 4. Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah masalah yang

menyangkut hubungan pribadi manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.

  • 5. Mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah

sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing.

Sila kemanusiaan Yang Adil dan Beradab

  • 1. Mengakui persamaan derajat, persamaan hak, dan kewajiban asasi setiap

manusia, tanpa membeda-bedakan suku, keturunan, agama, kepercayaan, jenis

kelamin, kedudukan sosial, warna kulit dan sebagainya.

  • 2. Mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia.

  • 3. Mengembangkan sikap saling tenggang rasa dan tepa selira.

  • 4. Mengembangkan sikap tidak semena-mena terhadap orang lain.

  • 5. Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

Sila Persatuan Indonesia

  • 1. Sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan negara dan bangsa apabila

diperlukan.

  • 2. Mengembangkan rasa cinta kepada tanah air dan bangsa.

  • 3. Mengembangkan rasa kebanggaan berkebangsaan dan bertanah air Indonesia.

  • 4. Memelihara ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaianabadi,

dan keadilan sosial.

Sila Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam

Permusyawaratan/Perwakilan.

  • 1. Tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain.

  • 2. Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan

bersama.

  • 3. Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh semangat kekeluargaan.

  • 4. Menghormati dan menjunjung tinggi setiap keputusan yang dicapai sebagai

hasil musyawarah.

  • 5. Dengan iktikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan

hasil keputusan musyawarah.

Sila Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

  • 1. Mengembangkan sikap adil terhadap sesama.

  • 2. Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.

  • 3. Menghormati hak orang lain.

  • 4. Suka memberi pertolongan kepada orang lain agar dapat berdiri sendiri.

  • 5. Tidak menggunakan hak milik untuk usaha-usaha yang bersifat pemerasan

terhadap orang lain.

A.Kesimpulan

PENUTUP

Pancasila adalah dasar Negara Republik Indonesia, ideologi Negara

Indonesia, sekaligus menjadi pandangan hidup bangsa. Pancasila juga merupakan

sumber kejiwaan masyarakat dan negara Republik Indonesia. Maka manusia

Indonesia menjadikan pengamalan Pancasila sebagai perjuangan utama dalam

kehidupan kemasyarakatan dan kehidupan kengaraan. Oleh karena itu

pengalamannya harus dimulai dari setiap warga negara Indonesia, setiap

penyelenggara negara yang secara meluas akan berkembang menjadi pengalaman

Pancasila oleh setiap lembaga kenegaraan dan lembaga kemasyarakatan, baik

dipusat maupun di daerah.

Di dalam Pancasila terkandung nilai-nilai luhur, ajaran-ajaran moral yang

kesemuanya itu merupakan penjelmaan dari seluruh jiwa manusia Indonesia.

Menyadari bahwa untuk kelestarian nilai-nilai pancasila itu perlu diusahakan

secara nyata dan terus-menerus pengahayatan dan pengamalan nila-nilai luhur

yang terkandung di dalamnya, oleh sebab itu setiap warga Negara Indonesia,

penyelenggara Negara, serta lembaga kenegaraan dan lembaga kemasyarakatan

baik di pusat maupun di daerah harus sama-sama mengamalkan nilai-nilai

Pancasila demi kelestarianya. Oleh karena itu sebagai upaya nyata demi

kelestarian nilai-nilai luhur pancasila, perlu ditanamkan dan atau perlu ada

pemahaman kepada generasi penerus bangsa, salah satunya lewat pendidikan

pancasila.

B. Saran-Saran

Berdasarkan uraian di atas kiranya kita dapat menyadari bahwa Pancasila

merupakan falsafah negara kita republik Indonesia, maka kita harus menjunjung

tinggi dan mengamalkan sila-sila dari Pancasila tersebut dengan setulus hati dan

penuh rasa tanggung jawab.

Daftar Pustaka

Kansil C.S.T, Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, Jakarta: PT pradnya

paramita

Setiady Elly M, Panduan Kuliah Pendidikan Pancasila, Jakarta: PT Gramedia

PustakaUtama

Srijanto Djarot, Drs., Waspodo Eling, BA, Mulyadi Drs. 1994 Tata Negara

Sekolah Menengah Umum. Surakarta; PT. Pabelan.

Pangeran Alhaj S.T.S Drs., Surya Partia Usman Drs., 1995. Materi Pokok

Pendekatan Pancasila. Jakarta; Universitas Terbuka Depdikbud.