Anda di halaman 1dari 219

DIKLAT TEKNIS SUBSTANTIF DASAR

KEPABEANAN DAN CUKAI

Disusun Oleh:

Tim Penyusun Modul Pusdiklat Bea dan Cukai


KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN PUSDIKLAT BEA DAN CUKAI 2011

DIKLAT TEKNIS SUBSTANTIF DASAR

KEPABEANAN DAN CUKAI

Disusun Oleh:

Tim Penyusun Modul Pusdiklat Bea dan Cukai


KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN PUSDIKLAT BEA DAN CUKAI 2011

DIKLAT TEKNIS SUBSTANTIF DASAR KEPABEANAN DAN CUKAI

KETERAMPILAN PDE

MODUL I

KETERAMPILAN PERTUKARAN DATA ELEKTRONIK

OLEH : TIM PENYUSUN MODUL PUSDIKLAT BEA DAN CUKAI

PUSAT PENDIDIKAN DAN LATIHAN BEA DAN CUKAI BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA JAKARTA 2008

DAFTAR ISI

Kata Pengantar Kepala Pusdiklat Bea dan Cukai Daftar Isi PENGANTAR APLIKASI DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI 1. Pendahuluan ... 1.1 Latar Belakang ....... 1.2 Deskripsi Singkat .................................................................................. 1.3 Tujuan Pembelajaran Umum 1.4 Tujuan Pembelajaran Khusus 2. Kegiatan Belajar (KB) 1 HARDWARE, SOFTWARE, JARINGAN DAN DATABASE 2.1 Uraian, Contoh dan Non Contoh ... 2.1.1. Hardware ....

i ii

1 1 1 1 1

2 2

2.1.2. Software ...................................................................................... 4 2.1.3. Jaringan Komputer ..................................................................... 2.1.4. Database ..................................................................................... 2.2 Latihan 1 ................................................................................................ 2.3 Rangkuman ............................................................................................ 3. Kegiatan Belajar (KB) 2 JENIS-JENIS APLIKASI KOMPUTER DI DJBC 3.1 Uraian, Contoh dan Non Contoh ... 3.1.1. Program Aplikasi Pelayanan ..... 3.1.2. Modul Perusahaan .. 3.1.3. Program Aplikasi Internal Direktorat . 3.2 Latihan 2 3.3 Rangkuman 4. Kegiatan Belajar (KB) 3 SISTEM MANUAL, DISKET, PDE DAN NSW 4.1 Uraian, Contoh dan Non Contoh . 4.1.1. Sistem Manual .... 19 19 12 12 14 16 17 17 6 9 10 11

4.1.2. Sistem Disket .............................................................................. 19 ii

4.1.3. Sistem PDE ................................................................................. 21 4.1.4. National Single Window (NSW) ................................................ 24 4.1.5. Operator Konsul ......................................................................... 4.2 Latihan 3 4.3 Rangkuman 5. Kegiatan Belajar (KB) 4 APLIKASI REGISTRASI 5.1 Uraian, Contoh dan Non Contoh 31 27 29 30

5.1.1. Registrasi Importir .. 31 a. Dasar Hukum Registrasi Impotir ...... b. Tujuan Pengembangan Aplikasi ... 32 32

c. Alur Proses Registrasi Importir ......................................................... 35 5.1.2. Registrasi PPJK .. a. Pendahuluan .. b. Dasar Hukum Registrasi PPJK ......................................................... c. Alur Proses Registrasi PPJK ............................................................ d. Aplikasi Registrasi PPJK Online ...... 38 38 38 39 41

e. Pelayanan Registrasi PPJK Di Bea dan Cukai .. 41 5.2 Latihan 4 5.3 Rangkuman 6. 7. 8. Test Formatif .. Kunci Jawaban Test Formatif Umpan Balik dan Tindak Lanjut 43 43 44 46 46

iii

MODUL I PENGANTAR APLIKASI DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI

1. Pendahuluan 1.1. Deskripsi Singkat Modul ini diharapkan dapat membantu siswa memahami dan mengetahui apakah Sistem Informasi, dan bagaimana penerapannya di instansi Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Lebih detil lagi mengenai hardware, software, database dan jaringan. Modul I ini juga membahas tentang jenis-jenis aplikasi yang ada di DJBC, serta pelayanan manual, disket dan PDE. Untuk lebih memahami tentang tugas yang berhubungan dengan aplikasi tersebut, dibahas pula tentang Operator Konsole dan tugas-tugasnya. Pada bagian akhir dibahas contoh aplikasi kepabeanan berupa registrasi importir dan registrasi PPJK. 1.2. Tujuan Instruksional Umum Setelah mengikuti mata pelajaran ini peserta diharapkan mampu untuk menjelaskan tentang dasar-dasar sistem komputer, jenis-jenis aplikasi dan penerapannya di lingkungan instansi DJBC 1.3. Tujuan Instruksional Khusus Pada akhir mata pelajaran para peserta dapat memahami: Software, hardware, jaringan, dan database Jenis-jenis aplikasi komputer yang dimiliki oleh DJBC Sistem pelayanan manual, disket, PDE, dan NSW Aplikasi registrasi importir dan PPJK.

2. Kegiatan Belajar (KB) 1

Hardware, Software, Jaringan dan Database 2.1.Uraian, Contoh dan Non Contoh Pada bagian ini kita akan mengenal unsur-unsur penyusun sistem komputer, yaitu hardware, software, jaringan dan database. 2.1.1. Hardware Hardware (perangkat keras) komputer adalah salah satu bagian dari sistem komputer yang ada. Sesuai namanya, hardware secara fisik terlihat. Jenis-jenis hardware berdasarkan fungsinya terdiri dari: input hardware, processing hardware, storage hardware, dan output hardware. Input Hardware Input hardware digunakan untuk mentransmisikan data ke processing dan storage hardware. Peralatan yang paling populer untuk memasukkan data yaitu kombinasi antara keyboard dan layar monitor. Layar monitor dianggap sebagai bagian dari input hardware karena digunakan untuk memeriksa apakah data yang akan dimasukkan telah diketik. Processing Hardware Processing hardware meliputi peralatan yang bertugas untuk menghitung, membandingkan dan melaksanakan instruksi-instruksi khusus. Dalam CPU (Central Processing Unit) terdapat control unit, ALU (Arithmetic Logic Unit), dan system memory yang kadang-kadang disebut main memory. Control unit mengambil instruksi-instruksi dari system memory dan menterjemahkannya. ALU melaksanakan instruksi yang telah diterjemahkan. System memory digunakan untuk menyimpan instruksi data dan instruksi program. Untuk menghubungkan CPU dengan peralatan komputer lainnya digunakan data bus atau processor channel. Processor channel terdapat pada mother board, mempunyai expansion slots yang berfungsi untuk menghubungkan dengan

peralatan tambahan seperti floppy disks, plotters, printers, mouse, modem, multimedia, dll. Kapasitas komputer dapat diukur dari kecepatan pemrosesan dan kemampuan ALU untuk memanipulasi data dalam 1 cycle. Kecepatan pemrosesan dapat dinyatakan dalam cycle per second (biasanya dalam satuan MHz) atau dalam instruksi per second, biasanya dalam satuan millions of instructions per second (MIPS). Jumlah data yang dapat dimanipilasi oleh ALU dalam 1 cycle diukur dalam satuan bits (binary digits) dan biasa dipakai sebagai ukuran microprocessor. Ada dua jenis dasar processor memory, yaitu ROM (read only memory) yang bersifat non-volatile dan RAM (random access memory) yang bersifat volatile (isi RAM akan hilang jika power off). Storage Hardware Jika RAM dipakai untuk menyimpan data atau program yang sedang diproses, dan tidak dapat dipakai digunakan sebagai storage karena kapasitasnya terbatas dan bersifat volatile (data akan hilang jika sistem shut down), maka sebagai gantinya dipakai external magnetic media untuk menyimpan data dan program yang sedang tidak aktif diproses. Ada dua jenis magnetic storage hardware yaitu disk dan tape. Saat ini ada external storage baru, yaitu digital storage, misalnya USB flashdisk. Disk storage banyak digunakan sebagai medium storage dalam industri sistem informasi. Disk storage terdiri atas tracks dan sectors yang merupakan tempat menyimpan data secara magnetik. Data dibaca dan direkam dengan menggunakan read/write heads. Tape storage merupakan storage yang berbentuk magnetic tape. Keuntungannya yaitu harganya relatif lebih murah, sedangkan kerugiannya yaitu data hanya dapat diakses secara berurutan.

Jenis storage hardware lainnya adalah optical storage hardware. Keuntungan optical disk ialah mempunyai kapasitas yang tinggi, compact, dan durable storage. Sedangkan kerugiannya : sulit untuk merubah data. Ada tiga macam optical storage hardware, yaitu : CD-ROM (compact disk - read only memory), populer digunakan pada multimedia. Optical storage data direkam dengan menggunakan laser untuk membakar lekukan kecil pada permukaan metal master disk. Selanjutnya seperti audio CD, hanya dapat dibaca dan tidak dapat dipakai untuk merekam lagi. WORM (write-once/read-many) optical disk, merupakan disk yang hanya dapat ditulisi sekali kemudian hanya dapat dibaca dan tidak dapat dipakai untuk merekam lagi. WORM device dipakai untuk memelihara satu record permanen yang penting dari seluruh data. Misalnya proses transaksi pada jaringan keuangan. Erasable optical disks, dapat dibaca dan ditulisi. Output Hardware Output hardware digunakan untuk mengeluarkan data hasil proses komputer. Contoh output hardware adalah printer, plotter, dan monitor. Storage device juga dapat digolongkan sebagai output device, karena hasil proses komputer dapat disimpan ke dalamnya. Untuk komputer multimedia, speaker juga dapat digolongkan dalam jenis perangkat ini. Dalam perkembangannya, dapat ditambahkan pula LCD projector sebagai output device. 2.1.2. Software Software (Perangkat lunak, piranti lunak) adalah program komputer yang berfungsi sebagai sarana interaksi antara pengguna dan perangkat keras. Perangkat lunak dapat juga dikatakan sebagai 'penterjemah' perintah-perintah yang dijalankan pengguna komputer untuk diteruskan ke atau diproses oleh perangkat keras. Perangkat lunak ini dibagi menjadi 3 tingkatan:

Program aplikasi, adalah suatu perangkat lunak komputer yang memanfaatkan kemampuan komputer langsung untuk melakukan suatu tugas yang diinginkan pengguna. Contoh utama perangkat lunak aplikasi adalah pengolah kata, lembar kerja (spreadsheet), dan pemutar media. Beberapa aplikasi yang digabung bersama menjadi suatu paket kadang disebut sebagai suatu paket atau suite aplikasi (application suite). Contohnya adalah Microsoft Office dan OpenOffice.org, yang menggabungkan suatu aplikasi pengolah kata, lembar kerja, serta beberapa aplikasi lainnya. Aplikasi-aplikasi dalam suatu paket biasanya memiliki antarmuka pengguna yang memiliki kesamaan sehingga memudahkan pengguna untuk

mempelajari dan menggunakan tiap aplikasi. Sering kali, mereka memiliki kemampuan untuk saling berinteraksi Contohnya, satu suatu sama lembar lain sehingga dapat

menguntungkan

pengguna.

kerja

dibenamkan dalam suatu dokumen pengolah kata walaupun dibuat pada aplikasi lembar kerja yang terpisah. Sistem operasi (OS, Operating System), adalah perangkat lunak yang bertugas untuk melakukan kontrol dan manajemen perangkat keras serta operasi-operasi dasar sistem, termasuk menjalankan program aplikasi. Secara umum, Sistem Operasi adalah software pada lapisan pertama yang diletakkan pada memori komputer pada saat komputer dinyalakan. Sedangkan software-software lainnya dijalankan setelah Sistem Operasi berjalan. Contoh Sistem Operasi misalnya UNIX/Linux, Windows, Mac OS. Bahasa pemrograman, adalah software untuk membuat sofware yang lain. Dibagi lagi atas bahasa pemrograman tingkat tinggi seperti Pascal, Basic dan bahasa pemrograman tingkat rendah yaitu bahasa rakitan. Menurut jenisnya, perangkat lunak juga dapat dibedakan menjadi prangkat lunak umum dan perangkat lunak khusus. Perangkat lunak umum dibuat secara masal, dan digunakan oleh banyak orang karena kebutuhan penggunaannya yang sama. Misalnya program pengolah kata, pengolah gambar, games, antivirus, dan lain-lain. Perangkat lunak khusus

dibuat hanya untuk pengguna tertentu berdasarkan pesanan, dan tidak digunakan untuk keperluan secara luas. Biasanya dibuat untuk suatu perusahaan atau instansi tertentu yang terkait dengan pekerjaan khusus. 2.1.3. Jaringan Komputer Jaringan komputer adalah sebuah sistem yang terdiri atas komputer dan perangkat jaringan lainnya yang bekerja bersama-sama untuk mencapai suatu tujuan yang sama. Tujuan dari jaringan komputer adalah: Membagi sumber daya: contohnya berbagi pemakaian printer, CPU, memori, harddisk Komunikasi: contohnya surat elektronik, instant messaging, chatting Akses informasi: contohnya web browsing

Agar dapat mencapai tujuan yang sama, setiap bagian dari jaringan komputer meminta dan memberikan layanan (service). Pihak yang meminta layanan disebut klien (client) dan yang memberikan layanan disebut pelayan (server). Arsitektur ini disebut dengan sistem client-server, dan digunakan pada hampir seluruh aplikasi jaringan komputer. Klasifikasi Berdasarkan skala Local Area Network (LAN) Metropolitant Area Network (MAN) Wide Area Network (WAN)

Berdasarkan fungsi Pada dasarnya setiap jaringan komputer ada yang berfungsi sebagai client dan juga server. Tetapi ada jaringan yang memiliki komputer yang khusus didedikasikan sebagai server sedangkan yang lain sebagai client. Ada juga yang tidak memiliki komputer yang khusus berfungsi sebagai server saja. Karena itu berdasarkan fungsinya maka ada dua jenis jaringan komputer:

Client-server Yaitu jaringan komputer dengan komputer yang didedikasikan khusus sebagai server. Sebuah service/layanan bisa diberikan oleh sebuah komputer atau lebih. Contohnya adalah sebuah domain seperti www.detik.com yang dilayani oleh banyak komputer web server. Atau bisa juga banyak service/layanan yang diberikan oleh satu komputer. Contohnya adalah server jtk.polban.ac.id yang merupakan satu komputer dengan multi service yaitu mail server, web server, file server, database server dan lainnya. Peer-to-peer Yaitu jaringan komputer dimana setiap host dapat menjadi server dan juga menjadi client secara bersamaan. Contohnya dalam file sharing antar komputer di Jaringan Windows Network Neighbourhood ada 5 komputer (kita beri nama A,B,C,D dan E) yang memberi hak akses terhadap file yang dimilikinya. Pada satu saat A mengakses file share dari B bernama data_nilai.xls dan juga memberi akses file soal_uas.doc kepada C. Saat A mengakses file dari B maka A berfungsi sebagai client dan saat A memberi akses file kepada C maka A berfungsi sebagai server. Kedua fungsi itu dilakukan oleh A secara bersamaan maka jaringan seperti ini dinamakan peer to peer. a. Berdasarkan topologi jaringan Berdasarkan [topologi jaringan], jaringan komputer dapat dibedakan atas: Topologi bus Topologi bintang Topologi cincin Topologi Mesh (Acak) Topologi Pohon (Hirarkis) Topologi Linier.

KONEKSI NASIONAL DIREKTORAT JENDERAL BEA dan CUKAI

FO

KBN. Marunda

H. Puninar Pacific H.Airin Trans porindo

G.RA.33

KOJA

UTPK.1 Gt.Out
FO

Jamrud Berlian IJCS

ICT

Gresik

H.CFS Sena wangi XTRAY TPS Baru TPS Lama Gresik

TP2 KW BC
FO

FO

CFS Nusantara G.Perca Gate 009Im TPK.Pasoso

Pasoso
FO FO

UTPK.2& Pos.E
FO

Banda Pos.Bitung
FO

Lami Citra
PALEM BANG

LinK FO Utama 1/3 Gate Imp.Eks Segoro

FO
T.PRIOK SBY

Juanda
LL
SMG

Gt.InOut

Primanata Hanggar B.C. Agung Raya Gate 009Ex MKT DHL DFDB TNS

Bitung

GARUDA.Im
Bps /128K MPLS 128 KBps LL

Halim

FEDEK LinK Utama 1/3 DHL Gate


FO

JAS.Im
FO

FO
FO

MP LS/ MP 128 LS KB ps /12 8K Bp s

Ban dung

FO

ps KB 128 LS/ MP

CKG

LL

FO

Ged.B GARUDA.Ex

M 12 PLS 8K / B JAS.Ex ps

PUSAT

s Bp 8K 12 S/ s PL Bp M 8K /12 LS MP KBps MPLS/128

MERAK

s 28KBp MPLS/1 s Bp 8K /12 LS MP

GT.Ekspor
BELAWAN

MP LS /12 8K Bp s

Polonia

LL
T.BALAI KARIM UN

Aden .LL 128 KBps LL

ps 8KB Gabion /12 PLS s M Bp 8K 12 / LS MP

MP 128K LS/ LL.4 p B8 s

Bogor

NGURAH RAI

Remote Access Service

RADIO LINK Infokom

RADIO LINK JarKot

Rencana Koneksi 2 Mbs

FO

FO

BATAM

FO

LAMPUNG

MPL S/1 28K Bps MP LS M PL /128 KB S/ ps 12 8K Bp s

Pekan baru
LL
PONTI ANAK

Dumai
FO
KPBC Pontianak

Purwa karta
MAKA SAR DENPA SAR

BALIK PAPAN

Bekasi

Link F.Optic Ke Gate

Koneksi Ke Kantor Lain

2.1.4. Database Database (basis data), adalah kumpulan data yang disimpan di dalam komputer secara sistematik sehingga dapat diperiksa menggunakan suatu program komputer untuk memperoleh informasi dari basis data tersebut. Perangkat lunak yang digunakan untuk mengelola dan memanggil kueri (query) basis data disebut sistem manajemen basis data (database management system, DBMS). Catatan yang mirip dengan basis data sebenarnya sudah ada sebelum adanya komputer, yaitu dalam bentuk buku besar, kwitansi dan kumpulan data yang berhubungan dengan bisnis. Konsep dasar dari basis data adalah kumpulan dari catatan-catatan, atau potongan dari pengetahuan. Sebuah basis data memiliki penjelasan terstruktur dari jenis fakta yang tersimpan di dalamnya: penjelasan ini disebut skema. Skema menggambarkan obyek yang diwakili suatu basis data, dan hubungan di antara obyek tersebut. Ada banyak cara untuk mengorganisasi skema, atau memodelkan struktur basis data, yang dikenal sebagai model basis data atau model data. Model yang umum digunakan sekarang adalah model relasional, yang mewakili semua informasi dalam bentuk tabel-tabel yang saling berhubungan dimana setiap tabel terdiri dari baris dan kolom. Dalam model ini, hubungan antar tabel diwakili dengan menggunakan nilai yang sama antar tabel. Unsur Penyusun database mulai dari yang terkecil: Bit, bagian terkecil dari data, terdiri dari simbol 0 dan 1 yang menyusun sebuah character Byte, dalam sebuah data melambangkan satu character, misalnya A, a, 9, $, + dan sebagainya Field/column, kumpulan beberapa character yang mengandung

kesatuan arti. Misalnya Sigit Santosa, Jl. Antara Raya 65 Bekasi, 1500000 Setiap elemen data yang dipisahkan dengan tanda koma di atas disebut satu field/column

Record/row, Kumpulan beberapa field/column. Misalnya Sigit Santosa, Jl. Antara Raya 65 Bekasi, 1500000 Data di atas adalah satu row/field

Table, Database

Kumpulan beberapa Record/row Kumpulan beberapa table yang ber-relasi/berhubungan, yaitu dengan adanya primary key.

2.2.Latihan 1 Mouse, digunakan sebagai interface titik dan click. Pergerakan mouse menghasilkan suatu gerakan yang berhubungan dengan pointer pada layar monitor. Pada umumnya mouse digunakan dalam aplikasi yang berorientasi grafis. Alat yang mirip perangkat ini adalah trackball dan joystick. Image Scanner, digunakan untuk mentransformasikan image grafis atau text ke dalam data computer. Transformasi text dapat menghemat dari pekerjaan retyping sedangkan transformasi image grafis dipakai untuk membaca logo atau simbol grafis untuk aplikasi desktop publishing. Sound recorder device, perupa perangkat untuk merekam suara menjadi data digital. Handwriting recognition device, digunakan untuk memasukkan data dengan cara menulis pada pad elektronis yang sensitif. Karakter-karakter tersebut dikenali dan dimasukkan ke dalam sistem komputer, biasanya suatu sistem PC (personal computer) dan PDA (Personal Device Assistance). Machine data input (mis : modem), merupakan salah satu jenis alat input data untuk menghubungkan komputer dengan komputer lain melalui jaringan telepon. Light pen, yang digunakan untuk menunjuk item-item pada layar monitor. Bar code reader, digunakan untuk mengidentifikasi suatu jenis barang (biasanya di supermarket), dari image/citra berupa garis-garis yang mempunyai arti. Processing hardware dapat dikelompokkan dalam tiga kategori, yaitu mainframe computer, minicomputer, dan microcomputer. Tetapi sekarang pengelompokan ini sudah agak kabur karena sering terjadi overlap di antara pengelompokan tersebut. Storege Hardware juga dapat dikategorikan sebagai input sekaligus output hardware. Jelaskan dengan singkat dan jelas kata bergaris tebal diatas pada yertas tersendiri!

2.3.Rangkuman Untuk mengetahui tentang komputer, kita perlu tahu terlebih dahulu dasar-dasar tentang komputer, yaitu hardware, software, jaringan dan database. Secara umum, hardware adalah fisik komputer, software adalah penghubung antara hardware dan pengguna, jaringan adalah sistem yang menghubungkan antar komputer. Sedangkan database adalah kumpulan data yang disimpan di dalam komputer secara sistematik.

3. Kegiatan Belajar (KB) 2

Jenis-Jenis Aplikasi Komputer di DJBC 3.1. Uraian, Contoh dan Non Contoh Secara garis besar, program aplikasi komputer yang dimiliki oleh DJBC adalah sebagai berikut: 1. Program aplikasi Pelayanan a. Aplikasi Inhouse i. Berbasis server ii. Berbasis PC b. Modul perusahaan 2. Program aplikasi Internal Direktorat Program aplikasi di atas dapat diperinci sebagai berikut: 3.1.1. Program Aplikasi pelayanan Program aplikasi pelayanan adalah program aplikasi yang secara khusus dibuat oleh Bea dan Cukai, digunakan untuk melayani masyarakat usaha. Dari sisi pengguna, aplikasi ini dibagi menjadi: a. Aplikasi Inhouse, adalah program aplikasi yang dijalankan oleh pihak Bea dan Cukai. a.1. Aplikasi Inhouse berbasis server. Program aplikasi berbasis server digunakan di kantor Bea dan Cukai yang transaksi datanya besar, dan dapat dijalankan secara multi-user. Aplikasi ini dibuat dengan menggunakan Oracle Developer Patch 6i, dengan database Oracle 9i. Komputer server menggunakan O/S (Operating System) AIX. Aplikasi diletakkan di IAS (Internet Aplication Server) berbasis web client. 1. Inhouse Manifest

Adalah program komputer untuk melayani pelaporan rencana kedatangan sarana pengangkut (RKSP) dan pelaporan barangbarang yang diangkutnya (manifest). 2. Inhouse Impor Program komputer untuk melayani Pemberitahuan Impor Barang (PIB) 3. Inhouse Ekspor Program komputer untuk melayani Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB) 4. Inhouse TPB Program komputer untuk melayani Pemberitahuan Impor Barang ke Kawasan Berikat dan Pengeluaran Barang dari KB 5. Inhouse TPB BBK Program komputer untuk melayani Pemberitahuan Impor Barang ke Kawasan Berikat dan Pengeluaran Barang dari KB khusus kawasan Batam, Bintan dan Karimun. 6. Inhouse Inhouse Cukai: Cukai HT, Cukai EA/MMEA dan Inhouse Gudang Pita Cukai Program komputer untuk melayani Permintaan Pita Cukai 7. Inhouse KITE Program komputer untuk melayani fasilitas KITE, yaitu fasilitas pembebasan atau pengembalian BM/Cukai terhadap impor bahan baku yang akan diekspor setelah diolah. Aplikasi ini terdapat di Kantor Wilayah. 8. Inhouse BC 2.4 Program komputer untuk melayani pemberitahuan barang fasilitas KITE yang tidak jadi di-ekspor.

9. Inhouse PPKP. Program komputer untuk melayani impor barang melalui paket Pos. a.2. Aplikasi Inhouse berbasis PC (Personal Computer). Selain aplikasi berbasis server, untuk beberapa kantor lain yang relatif lebih sedikit transaksi datanya, Bea dan Cukai juga mengembangkan aplikasi berbasis PC. Aplikasi ini dijalankan pada PC dengan O/S Windows, dibuat menggunakan program berbahasa VB (Visual Basic) dan data base MS Access. Aplikasi ini diantaranya adalah: 1. Inhouse Impor 2. Inhouse Ekspor 3. Inhouse TPB 4. Inhouse Cukai 5. Inhouse STTJ 6. Inhouse BC24 7. Inhouse AIDA Program AIDA adalah program aplikasi yang digunakan oleh perwakilan DJBC di Australia yang bertujuan untuk menerbitkan Surat Keterangan Pabean perwakilan DJBC di Australia. 3.1.2. Modul Perusahaan Modul perusahaan adalah program aplikasi komputer yang berada di sisi perusahaan sebagai perangkat untuk membuat dan mengajukan dokumen pabean. Modul perusahaan dibuat dengan program berbahasa VB dan data base MS Access. Aplikasi ini di antaranya adalah: 1. Modul Pengangkut/Manifest

Adalah program komputer yang berfungsi untuk membuat dokumen RKSP dan inward/outward manifest, pemecahan/penggabungan pos dan penggabungan data dari modul pengangkut lain. Media pengajuan data: EDI dan Disket 2. Modul PIB Adalah program komputer yang berfungsi untuk membuat dokumen PIB. Dengan modul ini importir dapat membuat PIB dengan mudah dan cepat karena dilengkapi dengan fasilitas validasi data, perhitungan dan ulility tertentu. Media pengajuan data: EDI dan Disket 3. Modul PEB Adalah program komputer yang berfungsi untuk membuat dokumen PEB. Dengan modul ini importir dapat membuat PEB dengan mudah dan cepat karena dilengkapi dengan fasilitas validasi data, perhitungan dan ulility tertentu. Media pengajuan data: EDI dan Disket 4. Modul TPB Adalah program komputer yang berfungsi untuk membuat dokumen BC2.3, BC 2.5 dan BC 4.0. Saat ini BC2.5 dan BC 4.0 masih dalam tahap pengembangan dan uji coba. Media pengajuan data: EDI dan Disket 5. Modul KITE Adalah program komputer yang berfungsi untuk membuat Pengajuan Fasilitas KITE, Laporan Ekspor dan BC 2.4. Media pengajuan data: Disket 6. Modul AIDA Adalah program komputer yang berfungsi untuk pengajuan dokumen AIDA, yaitu Surat Keterangan Pabean perwakilan DJBC di Australia. Media pengajuan data: Disket

7. Modul Bank Adalah program komputer yang digunakan oleh bank untuk mengirim dokumen bukti pembayaran (SSPCP = Credit Advice) ke Bea dan Cukai. Media pengajuan data: EDI dan Disket 3.1.3. Program Aplikasi Internal Direktorat Yang dimaksud dengan aplikasi internal direktorat adalah program aplikasi komputer yang berada di tingkat direktorat dalam lingkungan DJBC, untuk membantu pelaksanaan tugas dalam lingkup kerjanya. Aplikasi ini tidak langsung berhubungan dengan pelayanan kepada masyarakat umum. Aplikasi tersebut adalah: No.Nama Aplikasi 1. Audit 2. Profil Pusat (Tarif/Harga/Lain) 3. Keberatan-Banding 4. Impor Kendaraan Bermotor 5. Impor Sementara Direktorat Terkait Direktorat Verifikasi dan Audit Direktorat Teknis Kepabeanan Direktorat Teknis Kepabeanan Direktorat Teknis Kepabeanan Direktorat Teknis Kepabeanan Direktorat Teknis

6. PKSI (Penetapan Klasifikasi Sblm Impor) Kepabeanan 7. Vooruitslag 8. Pengawasan 9. Profiling 10. Blokir/unBlokir 11. NHI 12. Gaji/TKPKN 13. Kepegawaian 14. Office Automation

Direktorat Teksnis Kepabeanan Direktorat P2 Direktorat P2 Direktorat Teksnis Kepabeanan Direktorat P2 Sekretariat Sekretariat Sekretariat

15. Data WareHouse 16. Portal 17. SKDT 18. EIS

Direktorat IKC Direktorat IKC Direktorat IKC Direktorat IKC

3.2.

Latihan 2 Perbandingan Waktu Proses Dokumen Manual dan PDE


DOKUMEN DITERIMA

PENYIAPAN DOKUMEN RE-ENTRY DATA PENCETAKAN PENGIRIMAN PELAYANAN MULAI PELAYANAN SELESAI

Manual Setelah Otomasi Reduksi Waktu Proses

WAKTU

PELAYANAN SELESAI PELAYANAN MULAI DOKUMEN DITERIMA PENGIRIMAN PENYIAPAN DOKUMEN

Coba jelaskan secara tertulis berdasarkan bagan diatas tentang perbandingan waktu proses dokumen manual dan PDE! 3.3. Rangkuman Importir dalam melakukan pembuatan dan pengajuan dokumen Pemberitahuan Pabean ke Bea dan Cukai memerlukan perangkat yang mendukung. Demikian pula Bea dan Cukai untuk melayani importir dengan mudah, memerlukan perangkat yang bersesuaian. Untuk itu telah dibangun suatu sistem aplikasi komputer yang dapat memudahkan semua pihak untuk melakukan kegiatannya dengan mudah.

Untuk importir, dibuat modul importir yang dapat digunakan untuk membuat data PIB, mencetak, mengirimkan data melalui media disket atau elektronik, serta menerima respon dari Bea dan Cukai. Di sisi kepabeanan, dibuat sistem aplikasi pelayanan impor, atau biasa disebut inhouse impor untuk menerima data PIB dari media disket atau elektronik, memproses, dan memberikan respon hasil pemeriksaan dokumen PIB kepada importir. Selain untuk pelayanan impor, sistem di atas telah diberlakukan untuk manifes, ekspor, BC 2.3 dan cukai. Untuk membantu masing-masing unit kerja di Direktorat Jendar Bea dan Cukai, dibuat juga program aplikasi internal direktorat sesuai kebutuhan.

4. Kegiatan Belajar (KB) 3

Sistem Manual, Disket, PDE Dan NSW 4.1. Uraian, Contoh dan Non Contoh Dalam melakukan pelayanan kepada masyarakat usaha, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai telah menggunakan teknologi yang memungkinkan agar mutu pelayanan terjamin. Tergantung kondisi dan kebutuhan, pelayanan kepada masyarakat dibagi menjadi beberapa jenis: 1. Manual 2. Sistem Disket 3. Sistem PDE (Pertukaran Data Elektronik) Khusus untuk pelayanan perizinan, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai juga telah merintis sistem NSW (National Single Window) agar masyarakat usaha lebih mudah dalam pengurusan perizinan impor. Pada bab ini kita akan membahas sistem-sistem tersebut. 4.1.1. Sistem Manual Pada sistem ini, proses pelayanan kepada perusahaan dilakukan secara manual, tanpa menggunakan perangkat komputer. Pengusaha membuat dokumen Pemberitahuan Pabean (walaupun mungkin menggunakan komputer), mencetak, dan membawa ke kantor Pelayanan Bea dan Cukai. Petugas Bea dan Cukai menerima dokumen, melakukan pemeriksaan, dan memberikan nomor (dari buku bambu) secara langsung. Data tidak disimpan ke dalam komputer Bea dan Cukai. 4.1.2. Sistem Disket Pada tahun 1990, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai mengembangkan aplikasi komputer untuk pelayanan dengan nama CFRS (Customs Fast Release System). Sistem ini memungkinkan pelayanan di Bea dan Cukai menggunakan komputer, namun data tetap di-input oleh petugas di Pendok.

Jadi, tetap saja importir membuat datanya di perusahaannya, dokumen diserahkan berupa kertas, dan data direkam oleh petugas. Pada tahun 1995, aplikasi CFRS disempurnakan dengan membuat modul importir, yaitu program aplikasi komputer yang digunakan oleh importir untuk membuat dokumen PIB, mencetak dan memindahkan datanya ke disket untuk dibawa ke Kantor Pelayanan Bea dan Cukai. Jadi selain hasil cetak dokumen, importir juga harus membawa disket yang berisi data PIB ini. Di Kantor Pelayanan, petugas Bea dan Cukai menerima hasil cetak dokumen dan disket hasil transfer dari importir. Setelah meneliti kelengkapan dokumen, data dalam disket di-load ke dalam komputer di Bea dan Cukai. Dengan sistem ini, keuntungan yang didapatkan antara lain: Kecepatan penyiapan dokumen, di mana pembuatan dokumen dengan komputer akan lebih cepat dibanding secara manual, terutama dalam konversi harga, perhitungan pungutan dan inpu data berupa kode-kode. Efisiensi sumber daya (tidak terjadi double entry). Sekali importir memasukkan data, data ini yang akan masuk ke komputer Bea dan Cukai, tidak perlu dilakukan hal yang sama oleh petugas di kantor Bea dan Cukai. Data yang diinput oleh importir dipastikan sama dengan data yang masuk ke komputer Bea dan Cukai. Jika dilakukan input data ulang oleh petugas pendok, ada kemungkinan salah input. Penggunaan disket sebagai media transfer ini, di Kantor Pelayanan Bea dan Cukai ada 2 kemungkinan penggunaan/cara pelayanan: 1. Data akan digunakan untuk pelayanan penuh. 2. Data diambil hanya sebagai data statistik (pelayanan tetap manual). Pada point 1, data akan diperlakukan sebagai dokumen yang akan diperiksa, divalidasi, diterima dengan pemberian nomor dan perlakuan lain dengan menggunakan program aplikasi pelayanan di Bea dan Cukai. Sementara pada

point 2, setelah selesai pelayanan secara manual, maka disket akan diambil datanya agar terkumpul untuk tujuan pelaporan. 4.1.3. Sistem PDE Dengan berkembangnya teknologi, pelayanan kepada masyarakat usaha pun perlu disesuaikan. Setelah menggunakan disket, pada tahun 1996 Direktorat Jenderal Bea dan Cukai melangkah dengan menerapkan pelayanan kepada masyarakat usaha menggunakan sistem PDE (Pertukaran Data Elektronik). Sistem ini menggantikan atau melengkapi sistem disket di beberapa Kantor Pelayanan yang sebelumnya telah digunakan. Sampai saat ini, pelayanan kepabeanan yang telah menggunakan sistem PDE antara lain: Impor (PIB), 1996. Ekspor (PEB), 2004. Impor ke TPB (BC 2.3), sebagian, 2005. Manifest, 2007.

Adapun kantor-kantor yang telah menerapkan sistem ini antara lain: KPU Tanjung Priok KPPBC Sukarno Hatta KPPBC Tanjung Emas KPPBC Tanjung Perak KPPBC Juanda KPPBC Belawan KPPBC Polonia.

Untuk menjalankan sistem ini, perusahaan harus menyediakan: 1. Modul Perusahaan, disediakan oleh Bea dan Cukai. 2. Software Enabler, disediakan vendor. 3. Modem 4. Line telepon.

Modul perusahaan yang digunakan adalah sama dengan modul perusahaan pada sistem disket. Untuk pengiriman dengan sistem PDE, diperlukan software tambahan berupa enabler, yang berfungsi untuk melakukan perubahan data dalam format Edifact dan dikomunikasikan menggunakan media komunikasi (modem). Secara garis besar, pengiriman data menggunakan media PDE, misalnya dalam proses impor, dapat digambarkan sebagai berikut::

PENGIRIMAN DATA PIB dan RESPON

Jaringan EDI

SS PC P

Terima Respon
rim Ki

IB aP at D

Terima Respon
im D

Bayar BM/PDRI PC Importir/PPJK Bank

Kir

Te rim aD Kirim Respon at aP IB /S SP CP

ata

Server KPBC

1. Importir membuat data PIB, bentuk Edifact, kemudian mengirim data dengan melakukan komunikasi ke Bea dan Cukai, dan meletakkan datanya di mail box. 2. Bea dan Cukai mengambil data PIB dari mail box, mem-validasi data dan memprosesnya. Respon dikirim berdasarkan proses terhadap data tersebut. 3. Importir melakukan komunikasi untuk mengambil respon. Respon dari Bea dan Cukai ini langsung tampil di komputer importir dan dapat dicetak serta digunakan untuk proses.

Proses pembuatan dokumen, pengiriman, proses di Bea dan Cukai sampai dengan mendapatkan respon, selalu tercatat sebagai status di modul PIB. Berikut ini jenis-jenis status yang dapat diktahui: 1. EDIT 2. READY 3. QUEUED Perekaman PIB belum selesai. Perekaman sudah dianggap selesai. Dokumen sudah dalam format EDIFACT dan siap untuk dikomunikasikan. 4. DELIVERED 5. COMPLETED 6. ERRORS Dokumen sudah berada pada mail box EDI. Dokumen sudah diambil oleh trading partner (Bea dan Cukai). Komunikasi gagal

Status-status di atas merupakan status yang berhubungan dengan pengiriman dokumen dalam sistem EDI. Status berikutnya adalah juga merupakan jenis respon dari Bea dan Cukai: 7. REJECT Respon dari BC yang menyatakan bahwa terdapat kekurangan pengisian data. Atau importir masih mempunyai kewajiban yang belum dipenuhi sehingga pengajuan dokumen tidak dapat dilayani. 8. SSPCP 9. INP/DNP 10. SPPB Respon permintaan dokumen pembayaran. Respon Permintaan Informasi Nilai Pabean. Respon Pemberitahuan bahwa barang sudah dapat dikeluarkan dari daerah pabean. 11. SPJM Respon Pemberitahuan bahwa barang terkena jalur merah dan harus diperiksa fisik. 12. SPKPBM Respon Pemberitahuan Kekurangan Pembayaran Bea Masuk, Cukai, denda administrasi dan pajak dalam rangka impor. 13. Respon PIB secara umum (General Respon). Merupakan informasi umum yang dikirimkan dari Kantor Pelayanan Bea dan Cukai (Tidak mengubah status). Beberapa jenis respon yang ada antara lain:

1. Reject 2. Penerimaan Data PIB 3. Permintaan Bukti Penerimaan Jaminan 4. Konfirmasi Pembayaran/SSPCP 5. Permintaan INP 6. Konfirmasi Skep Brg Larangan/Pembatasan 7. SPPB 8. SPJM 9. SPKPBM 10. Respon Umum 4.1.4. National Single Window (NSW) INSW merupakan suatu sistem layanan publik yang terintegrasi, yang menyediakan fasilitas pengajuan, pertukaran dan pemrosesan informasi standar secara elektronik, guna menyelesaikan semua proses kegiatan dalam penanganan lalulintas barang ekspor dan impor, untuk meningkatkan daya saing perekonomian nasional INSW memadukan alur proses bisnis antara sistem kepabeanan, perijinan ekspor-impor, kepelabuhanan/ kebandarudaraan, pembayaran, pengangkutan barang dan logistik, serta sistem lain yang terkait dengan penanganan lalulintas barang ekspor-impor. Penerapan Sistem NSW, melalui penyediaan Portal INSW, akan membawa Indonesia menuju otomasi sistem pelayanan publik yang terintegrasi, guna mewujudkan Reformasi Layanan Publik di Bidang Ekspor-Impor. Portal INSW dapat diakses melalui halaman utama (homepage) situs resmi INSW dengan nama domain http://www.insw.go.id

a. Pengertian Dan Tujuan Umum National Single Window (NSW) adalah sistem yang memungkinkan dilakukannya: Single Submission of data and information; Single and Synchronous processing of data and information; Single Decision-making for customs release and clearance of cargoes.

Tujuan Umum Penerapan Sistem NSW Meningkatkan kecepatan penyelesaian proses ekspor-impor melalui peningkatan efektifitas dan kinerja sistem layanan yang terintegrasi antar seluruh entitas yang terkait. Meminimalisasi waktu dan biaya yang diperlukan dalam penanganan lalulintas barang ekspor-impor, terutama terkait dengan proses customs release and clearance of cargoes. Meningkatkan validitas dan akurasi data dan informasi yang terkait dengan kegiatan ekspor dan impor. Meningkatkan daya saing perekonomian nasional dan mendorong masuknya investasi. b. Jadwal Penerapan Sistem Nsw Jadwal Penerapan Sistem NSW di Indonesia, secara umum mendasarkan pada strategi pentahapan yang dapat digambarkan dan dijelaskan dalam ilustrasi berikut : Akhir Tahun 2007, Indonesia Tanggal 17 Desember 2007 dilakukan Implementasi Tahap Kesatu sistem NSW di Indonesia, dimana penerapan sistem NSW tersebut baru sebatas pada sebagian kecil GA (hanya 5 GA) dan sebagian kecil pelaku usaha (hanya 100 Importir Jalur Prioritas atau IJP), sehingga Langkah Awal Penerapan Sistem NSW di

dapat dikatakan bahwa pemberlakuan sistem NSW pada akhir tahun 2007 tersebut hanya merupakan langkah awal dari keseluruhan langkah yang panjang dalam penerapan Sistem NSW di Indonesia Akhir Tahun 2008, Sistem NSW Diterapkan secara Penuh dan Dipersiapkan untuk Joint to ASW Setelah melewati berbagai tahapan implementasi sebagaimana ilustrasi tersebut, diharapkan pada akhir tahun 2008 dapat dilakukan penerapan secara penuh di tingkat nasional dan sudah dilakukan tahap-tahap persiapan untuk bergabung dengan sistem NSW negaranegara anggota lainnya melalui Sistem ASW Mulai Awal Tahun 2009, persiapan Joint to ASW dgn Pertukaran Data CoO/SKA Pada awal tahun 2009, dimulai tahap persiapan untuk Joint to ASW dengan beberapa langkah : o Persiapan teknis Sistem NSW untuk Joint to ASW o Ujicoba pertukaran data CoO/SKA dgn beberapa negara ASEAN o Pembangunan (technical-development) Portal ASW ujicoba

c. Key Factors For Success Ada beberapa faktor kunci (key-factors) yang secara dominan

mempengaruhi penerapan Sistem NSW di Indonesia, agar penerapan tersebut sesuai dengan kondisi ideal yang diharapkan dan sejalan dengan visi, misi, strategi, tujuan dan manfaat dari penerapan Sistem NSW di Indonesia. 1. Komitmen Nasional 2. Strong Lead Agency 3. Kemampuan mendefinisikan kebutuhan sistem secara utuh

4. Kesiapan Instansi Pemerintah 5. Intensitas Sosialisasi 6. Penetapan Pengelola Portal NSW 7. Aspek Legal yang Dibutuhkan 8. Model Pembiayaan 9. Dukungan Stakeholders

4.1.5.

Operator Konsul Dengan semakin pentingnya penggunaan komputer di perkantoran, maka semakin dibutuhkan tenaga yang mampu menangani dan merawat perangkat tersebut. Demikian pula di instansi Direktorat Jenderal Bea dan Cukai yang sudah menerapkan komputerisasi dalam pelayanan kepada masyarakat usaha, diperlukan tenaga profesional yang mampu menangani sistem ini, yang dikenal sebagai Operator Konsul. Mampu di sini buka berarti yang bersangkutan harus dapat menangani segala macam permasalahan yang timbul berhubungan dengan komputer, namun paling tidak ia harus dapat mengidentifikasi dan menginventarisir

permasalahan berdasarkan sumbernya. Permasalahan dapat terjadi pada perangkat program aplikasi, jaringan, ataupun hardware. Penanganan terhadap perangkat tersebut tentunya berbeda-beda, Jika mampu, operator konsul akan menanganinya, namun jika hal itu di luar kemampuannya, maka ia harus bisa menentukan siapa yang harus dihubungi dan kredibel menangani masalah tersebut. Tugas Operator Konsul Tugas Operator Konsul berkaitan dengan software aplikasi: 1. Melakukan/mendaftarkan absen petugas PFPD/PFPB aplikasi impor setiap pagi.

2. Melakukan perekaman kurs mingguan. 3. Melakukan perekaman pegawai/user baru dan set kewenangannya. 4. Melakukan setting tertentu terhadap aplikasi: set nomor, set hari libur, set parameter, dan lain-lain, sesuai kebutuhan. 5. Menerima komplain/masukan dari unit lain yang berhubungan dengan aplikasi 6. Mencari pemecahan tarhadap komplain tersebut, jika tidak dapat, meminta bantuan kepada pihak yang terkait. 7. Melakukan maintenance terhadap data referensi aplikasi jika diperlukan, misalnya jika ada kode-kode baru, dsb. Tugas Operator Konsul berkaitan dengan Hardware: 1. Menjaga keamanan dan kenyamanan ruang server (termasuk kebersihan). 2. Menghidupkan dan mematikan server melalui menu operator. 3. Memonitor arus dan tegangan listrik PLN dan UPS sebagai supplay utama server. 4. Memonitor suhu ruang server agar tidak terjadi panas yang berlebih pada ruangan/server. 5. Mengontrol setiap saat indikator LED/Sound yang muncul pada perangkat computer yang ada (Server, Network, Power supplay dan lain-lain). 6. Memonitor penggunaan file system (List Filesystems) pada menu operator. 7. Melakukan backup Harian pada kantor yang tidak terhubung dengan Kantor Pusat (offline) dan diwajibkan melakukan pengiriman hasil backup Harian. 8. Melakukan backup data Mingguan ke tape 4mm.

Contoh Perbandingan Waktu Proses Dokumen Manual dan PDE


DOKUMEN DITERIMA PENYIAPAN DOKUMEN RE-ENTRY DATA PENCETAKAN PENGIRIMAN PELAYANAN MULAI PELAYANAN SELESAI

Manual Setelah Otomasi Reduksi Waktu Proses

WAKTU

PELAYANAN SELESAI PELAYANAN MULAI DOKUMEN DITERIMA PENGIRIMAN PENYIAPAN DOKUMEN

Khusus untuk pelayanan perizinan, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai juga telah merintis sistem NSW (National Single Window) agar masyarakat usaha lebih mudah dalam pengurusan perizinan impor. Sistem ini nantinya akan menggantikan modul Analizing Point dalam sistem aplikasi Kepabeanan.

4.2.Latihan 1. Sebutkan jenis-jenis hardware dan fungsinya 2. Sebutkan contoh software dan fungsinya 3. Sebutkan jaringan komputer berdasarkan skalanya. 4. Sebutkan jenis-jenis aplikasi modul perasahaan 5. Sebutkan jenis-jenis aplikasi inhouse Bea dan Cukai 6. Sebutkan perangkat apa saja yang diperlukan untuk pengiriman dokumen secara PDE.

7. Sebutkan KPPBC yang telah menerapkan pertukaran data secara elektronik untuk penyampaian dokumen pemberitahuan pabean. 8. Sebutkan jenis-jenis respon yang dikirimkan secara elektronik pada pelayanan impor. 9. Sebutkan faktor kunci keberhasilan sistem NSW. 10. Sebutkan tugas operator konsole berkaitan dengan hardware dan software komputer di KPPBC.

4.3.Rangkuman Dalam melakukan pelayanan kepada masyarakat usaha, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai telah menggunakan teknologi yang memungkinkan agar mutu pelayanan terjamin. Tergantung kondisi dan kebutuhan, pelayanan kepada masyarakat dibagi menjadi beberapa jenis: 1. Manual, yaitu penyampaian dokumen hanya berupa formulir Pemberitahuan Pabean. 2. Sistem Disket, yaitu selain formulir Pemberitahuan Pabean, disertai dengan disket atau media penyimpan data lainnya yang berisi data Pemberitahuan Pabean. 3. Sistem PDE (Pertukaran Data Elektronik), yaitu penyampaian data Pemberitahuan Pabean secara langsung dari komputer pengguna jasa kepabeanan ke komputer Bea dan Cukai, tanpa perlu datang ke Kantor Pabean.

5. Kegiatan Belajar (KB) 4 APLIKASI REGISTRASI

5.1. Uraian 5.1.1. Registrasi Importir Registrasi importir bertujuan untuk memperjelas status importir sehingga Direktorat Jenderal Bea dan Cukai tidak mengalami kesulitan dalam menagih kekurangan pembayaran bea masuk dan Pajak Dalam Rangka Impor (PDRI), melakukan audit atau keperluan lainnya. Dengan adanya registrasi importir Direktorat Jenderal Bea dan Cukai juga dapat melakukan penilaian terhadap importir sehingga dapat menentukan klasifikasi importir dalam rangka penerapan manajemen resiko. Setelah disahkannya Undang-Undang Nomor 17 tahun 2006 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 10 tahun 1995 tentang Kepabeanan dan dalam rangka melaksanakan ketentuan pasal 6A Undang-Undang ini maka diterbitkanlah Peraturan Menteri Keuangan Nomor 124/PMK.04/2007 tanggal 5 Oktober 2007 tentang Registrasi Importir. Dalam Peraturan Menteri Keuangan ini, registrasi importir jelas diatur secara khusus. Pada pasal 2 ayat 2 disebutkan sebagai berikut : Registrasi importir sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh importir dengan mengajukan permohonan kepada Direktur Jenderal melalui media elektronik. Dari ketentuan pasal tersebut berarti DJBC harus menyediakan sistem registrasi importir yang dapat menerima data permohonan registrasi dari importir secara elektronik. Inilah yang menjadi dasar dibangunnya sistem aplikasi registrasi importir. Tidak hanya bisa menerima data permohonan registrasi secara

elektronik saja, tetapi juga harus bisa memroses data tersebut sampai diterbitkannya Nomor Induk Kepabeanan (NIK)

a. Dasar Hukum Registrasi Importir Registrasi importir mengacu kepada peraturan-peraturan sebagai berikut : Undang Undang Kepabeanan nomor 10 tahun 1995 yang diubah dengan Undang-Undang Kepabeanan nomor 17 tahun 2006. Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai nomor KEP-07/BC/2003 tanggal 31 Januari 2003 tentang Petunjuk Pelaksanaan Tatalaksana Kepabeanan di Bidang Impor, diubah dengan Peraturan Direktur Jenderal nomor P-19/BC/2005 tentang Perubahan Ketiga Atas Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai nomor KEP-07/BC/2003 tentang Petunjuk Pelaksanaan Tatalaksana Kepabeanan di Bidang Impor, diubah dengan Peraturan Direktur Jenderal P-06/BC/2007 tentang Perubahan Keempat Atas Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai nomor KEP-07/BC/2003 tentang Petunjuk Pelaksanaan

Tatalaksana Kepabeanan di Bidang Impor. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 124/PMK.04/2007 tanggal 5 Oktober 2007 tentang Registrasi Importir. b. Tujuan Pengembangan Aplikasi Aplikasi Registrasi Importir dikembangkan dengan tujuan : 1. Mempermudah Importir Untuk Melakukan Registrasi Dengan dikembangkannya Aplikasi Registrasi Importir diharapkan dapat mempermudah proses registrasi mulai dari pengisian dan pengajuan formulir registrasi oleh importir. Pengajuan formulir registrasi dapat dilakukan dari kantor importir sendiri karena pengisian formulirnya melalui jaringan internet dengan mengakses menu registrasi importir di situs www.beacukai.go.id. Selain itu importir juga dapat memantau perkembangan hasil registrasinya melalui website tersebut sampai diterbitkannya Nomor Induk Kepabenana (NIK). 2. Mempermudah Proses Penerbitan Nomor Induk Kepabeanan (NIK)

Dengan registrasi secara elektronik maka data awal dari importir yang melakukan registrasi sudah tersedia, sehingga data dapat segera dibaca dan diteliti. Dengan demikian akan memudahkan bagi analis untuk menganalisa data registrasi sehingga dapat dengan cepat dan akurat memutuskan apakah NIK untuk perusahaan yang melakukan registrasi tersebut dapat diterbitkan atau tidak. Karena semua parameter penilaian sudah dimasukkan dalam sistem. 3. Mengurangi Subyektifitas Penilaian Terhadap Importir Analis atau supervisor yang menganalisa data dan memutuskan apakah NIK dapat diterbitkan, tidak dapat mengubah data. Parameter penilaian sudah dimasukkan ke dalam sistem dan tidak memungkinkan bagi petugas analis untuk mengubah nilai pada data registrasi. Kecuali data pembanding yang merupakan data hasil pemeriksaan lapangan. Data ini dientry langsung oleh petugas yang melakukan pemeriksaan lapangan. Dari data pembanding ini pun penilaian dilakukan otomatis oleh sistem. Alur Proses registrasi Importir dapat digambarkan sebagai berikut:
Importir
Report NIK Data Importir NIK

Report pemlap

Kanwil
Data importir

Sistem Registrasi

Direktorat P2

Data Registrasi

Report NIK

beacukai.go.id

Dari gambar di atas dapat dijelaskan sebagai berikut :

Importir mengisi formulir registrasi melalui menu registrasi importir di website www.beacukai.go.id

Data registrasi dari server internet secara periodik didownload ke server in-house aplikasi registrasi importir.

Data importir dikirim ke Kantor Wilayah di mana alamat importir berada untuk dilakukan pemeriksaan lapangan (pemlap).

Hasil pemeriksaan lapangan (pemlap) berupa soft copy dikirim kembali ke Kantor Pusat untuk diupload di in-house aplikasi registrasi importir.

Setelah memenuhi syarat untuk mendapatkan NIK data awal dikirim dulu ke Direktorat P2 untuk dilakukan penilaian sebagai dasar pengklasifikasian importir berdasarkan resikonya.

Setelah P2 memberi penilaian data dan menetapkan kategori importir, dikembalikan ke sistem registrasi. NIK bersifat rahasia dan dikirimkan kepada importir.

Importir bisa melihat status registrasinya di website dengan menggunakan userid nya.

c. Alur Proses Registrasi Importir

i. Download / Upload Data Registrasi o Setelah importir mengisikan data registrasi melalui menu registrasi importir di website, secara periodik data tersebut akan didownload ke PC perantara dan diupload ke aplikasi registrasi importir. ii. Pemeriksaan Lapangan Pemeriksaan lapangan dilakukan oleh auditor Kantor Wilayah Bea dan Cukai di mana alamat importir berada. Setelah mendapatkan data awal registrasi dan surat pengantar, auditor melakukan pemeriksaan lapangan. Hasil pemeriksaan lapangan dientry di aplikasi perekaman hasil pemeriksaan lapangan.

iii. Penelitian Administrasi oleh Analis Penelitian adminstrasi oleh analis dilakukan terhadap data registrasi importir yang sudah selesai pemeriksaan lapangan. Yang dilakukan oleh analis dalam penelitian administrasi adalah sebagai berikut : Analis membandingkan data awal registrasi dengan data hasil pemeriksaan lapangan. Data yang diteliti dan dibandingkan dengan hasil pemeriksaan lapangan adalah mengenai kebenaran tentang : Eksistensi; Identitas pengurus dan penanggung jawab Jenis usaha; dan Kepastian penyelenggaraan pembukuan.

Analis memberikan rekomendasi apakah data registrasi importir dapat diterima atau ditolak.

Dalam hal diterima, maka selanjutnya proses diteruskan ke supervisor.

iv. Penelitian Administrasi oleh Supervisor Yang masuk ke supervisor hanya data yang diputuskan diterima oleh analis. Supervisor kembali meneliti keputusan yang dibuat oleh analis. v. Penolakan Registrasi Importir Penolakan yang dilakukan oleh sistem setelah proses penelitian adminstrasi oleh analis harus dibuatkan agenda penolakan. Agenda penolakan dibuat oleh operator aplikasi registrasi importir. Surat penolakan dikirim melalui email ke alamat importir yang ditolak. vi. Agenda Nomor Induk Kepabeanan (NIK) Data registrasi yang diputuskan diterima oleh supervisor segera dibuatkan nomor agendanya. Nomor agenda dibuat oleh sistem secara otomatis. Proses selanjutnya adalah pengiriman NIK (sementara) kepada importir melalui email.

vii. Pengiriman Nomor Induk Kepabeanan (NIK) Sementara via Email Data registrasi yang sudah mendapat NIK harus diproses lagi untuk menentukan tanggal penerbitan NIK nya dan barulah surat pemberitahuan NIK sementara dapat dikirimkan ke importir. viii. Pengiriman Data Registrasi ke Direktorat Penyidikan dan Pencegahan (P2) Data registrasi yang sudah mendapat nomor agenda atau NIK dikirim ke Direktorat P2 untuk penentuan kategori importirnya. Data tersebut akan dianalisa lagi dan dibandingkan dengan data yang dimiliki oleh P2. ix. Update Data Registrasi Data registrasi importir yang sudah mendapat NIK dalam hal tertentu dapat diupdate. Misal perusahaan pindah alamat. Perubahan data importir wajib segera dilaporkan kepada Direktorat Audit yang menangani masalah registrasi. Perubahan data registrasi importir dilakukan atas permohonan perubahan data dari importir.

5.1.2. Registrasi PPJK a. Pendahuluan Pengurusan Pemberitahuan Pabean atas barang impor atau ekspor dilakukan oleh pengangkut, importir, atau eksportir. Namum dalam hal tidak dilakukan sendiri, importir, atau eksportir dapat memberikan kuasanya kepada PPJK. Untuk dapat melakukan pengurusan jasa kepabeanan, PPJK wajib memiliki nomor identitas berupa Nomor Pokok Pengusaha Pengurusan Jasa Kepabeanan (NPPPJK) dalam rangka akses kepabeanan. Untuk mendapatkan NPPPJK, PPJK wajib melakukan registrasi melalui media elektronik. NPPPJK dikeluarkan oleh oleh Direktur Teknis Kepabeanan atas nama Direktur Jenderal. Sejak akhir tahun 2007, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai

menyelenggarakan registrasi Perusahaan Pengurusan Jasa Kepabeanan dan Cukai ( PPJK ) secara online dalam rangka membuat sistem registrasi yang terpusat. Tujuannya agar mudah diaplikasikan khususnya oleh PPJK dan kemudahan bagi Bea dan Cukai untuk mendata secara nasional dalam rangka meningkatkan pelayanan kepada pengguna jasa. Melalui sarana ini PPJK dapat melakukan registrasi dari kantor masingmasing dengan terhubung ke website Direktorat Jenderal Bea dan Cukai yaitu di http://www.regPPJK.beacukai.go.id. PPJK mengikuti dan

menunggu hasil dari proses registrasi yang diajukan. Bila dalam proses registrasi terdapat kendala ataupun masalah melalui alamat yang sama dapat mengirimkan pertanyaan atau saran dan mendapatkan reply juga secara online. b. Dasar Hukum Registrasi PPJK i. Peraturan Menteri Keuangan Nomor : 65/PMK.04/2007 tanggal 20 Juni 2007 tentang Pengusaha Pengurusan Jasa Kepabeanan

ii. Peraturan Jenderal Bea dan Cukai Nomor : P-22/BC/2007 tanggal 04 Juli 2007 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pemberian Nomor Pokok dan Pengawasan Pengusaha Pengurusan Jasa Kepabeanan c. Alur Proses Registrasi PPJK Alur Proses registrasi PPJK dapat digambarkan sebagai berikut:

d. Aplikasi Registrasi PPJK Online Aplikasi PPJK Online adalah sarana bagi PPJK untuk dapat melakukan registrasi tanpa harus langsung datang ke Kantor Bea dan Cukai. Untuk dapat mengakses registrasi PPJK secara elektronik, maka PPJK yang bersangkutan harus dapat mengakses internet. Jika di kantor PPJK tidak tersedia sarana internet, maka mereka dapat menggunakan jasa Warnet (Warung internet). Alamat yang harus dikunjungi adalah:

http://www.regPPJK.beacukai.go.id. Langkah Registrasi PPJK Dalam situs registrasi PPJK online, dijelaskan langkah melakukan registrasi sebagai berikut: 1. PPJK melakukan pendaftaran user registrasi, dengan klik pada menu Pendaftaran User Registrasi PPJK. 2. PPJK menerima email berisi email dan password 3. Login aplikasi registrasi 4. Melakukan pengisian formulir 5. Pengiriman data ke tim registrasi e. Pelayanan Registrasi PPJK Di Bea Dan Cukai Untuk dapat mengoperasikan aplikasi Registrasi PPJK di sisi Bea dan Cukai, pegawai harus memiliki user ID dan password sesuai dengan kewenangannya. Struktur Menu Menu utama yang muncul ketika pertama kali mengoperasikan aplikasi berbeda-beda untuk setiap user. Menu utama dari seluruh aplikasi ini terdiri dari enam (6) menu utama sesuai dengan masing-masing user. Menu-menu tersebut adalah sebagai berikut :

i. Administrator Menu utama yang aktif pada user administrator adalah File dan Administrator. Menu Administrator terdiri dari menu Browse User. ii. Sekretariat Menu utama yang aktif pada user administrator adalah File dan Sekretariat. Fungsi Utama dari menu Sekretariat adalah untuk mendistribusikan data registrasi yang sudah diisi oleh PPJK kepada Kantor Wilayah atau KPU yang membawahinya, sesuai domisili PPJK. iii. Koordinator Penelitian Lapangan (Penlap) Menu utama yang aktif pada user administrator adalah File dan Koordinator Penlap. Fungsi Utama dari menu Koordinator Penlap adalah untuk merekam data petugas Penlap, dan merekam hasil penelitian lapangannya. Setelah menyelesaikan perekaman hasil Penlap, maka data tersebut akan muncul pada menu Analis. iv. Analis Menu utama yang aktif pada user administrator adalah File dan Analis. Fungsi Utama dari menu Analis adalah menganalisa data registrasi PPJK, kemudian memberikan rekomendasi terhadapnya, apakah akan diterima atau tidak, misalnya dalam hal Sertifikat Ahli Kepabeanan. dibandingkan dengan database Sertifikat yang ada dalam aplikasi PPJK yang ada di Bea dan Cukai. v. Supervisor Menu utama yang aktif pada user administrator adalah File dan Supervisor. Fungsi Utama dari menu Supervisor adalah memberikan keputusan apakah terhadap data registrasi PPJK diterima atau tidak. Ada dua (2) jenis keputusan dari supervisor, yaitu:

1. Setuju/ Penerimaan Registrasi PPJK 2. Tidak Setuju / Penolakan Registrasi PPJK vi. P2 Menu utama yang aktif pada user administrator adalah File dan Supervisor. Fungsi Utama dari menu P2 adalah memberikan nilai/skor tambahan terhadap PPJK yang sudah diterima

registrasinya. 5.2. Rangkuman Registrasi importir dan PPJK bertujuan untuk memperjelas status importir dan PPJK, sehingga Direktorat Jenderal Bea dan Cukai tidak mengalami kesulitan dalam menagih kekurangan pembayaran bea masuk dan Pajak Dalam Rangka Impor (PDRI), melakukan audit atau keperluan lainnya. Dengan adanya registrasi importir dan PPJK, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai juga dapat melakukan penilaian terhadap perusahaan sehingga dapat menentukan klasifikasinya dalam rangka penerapan manajemen resiko. 5.3. Latihan 1. Sebutkan tujuan dikembangkannya Aplikasi Registrasi Importir. 2. Sebutkan langkah-langkah importir melakukan registrasi. 3. Sebutkan langkah-langkah PPJK melakukan registrasi.

6. Test Formatif

Silanglah B jika pernyataan benar dan S jika pernyataan salah!

1. B - S

Hardware (perangkat keras) komputer adalah salah satu bagian dari sistem komputer yang ada.

2. B - S

Dalam CPU (Central Processing Unit) terdapat control unit, ALU (Arithmetic Logic Unit), dan system memory yang kadang-kadang disebut main engineering.

3. B - S

WORM (write-once/read-many) optical disk, merupakan disk yang dapat ditulisi berulangkali kemudian hanya dapat dibaca dan tidak dapat dipakai untuk merekam lagi.

4. B - S

Program aplikasi, adalah suatu perangkat lunak komputer yang memanfaatkan kemampuan komputer langsung untuk melakukan suatu tugas yang diinginkan pengguna.

5. B - S

Client-server

yaitu

jaringan

komputer

dengan

komputer

yang

didedikasikan khusus untuk client. 6. B - S Database (basis data), adalah kumpulan data yang disimpan di dalam komputer secara sistematik sehingga dapat diperiksa menggunakan suatu program komputer untuk memperoleh informasi dari basis data tersebut. 7. B - S Image Scanner, digunakan untuk mentransformasikan image grafis atau text ke dalam data computer. 8. B - S Program aplikasi pelayanan adalah program aplikasi yang secara khusus dibuat oleh Bea dan Cukai, digunakan untuk melayani masyarakat usaha dari luar negeri. 9. B - S Modul perusahaan adalah program aplikasi komputer yang berada di sisi perusahaan sebagai perangkat untuk membuat dan mengajukan dokumen pabean.

10. B - S

Aplikasi internal direktorat adalah program aplikasi komputer yang berada di tingkat direktorat dalam lingkungan DJBC, untuk membantu pelaksanaan impor dan ekspor.

11. B - S

INSW merupakan suatu sistem layanan publik yang terintegrasi, yang menyediakan fasilitas pengajuan, pertukaran dan pemrosesan informasi standar secara elektronik, guna menyelesaikan semua proses kegiatan dalam penanganan lalulintas barang ekspor dan impor, untuk meningkatkan daya saing perekonomian nasional

12. B - S

Registrasi importir bertujuan untuk memperjelas status importir sehingga Direktorat Jenderal Bea dan Cukai lebih mengenal profil importir untuk pemberian ijin-ijin.

13. B - S

Pengurusan Pemberitahuan Pabean atas barang impor atau ekspor dilakukan oleh pengangkut, importir, atau eksportir.

14. B - S

Aplikasi PPJK Online adalah sarana bagi PPJK untuk dapat melakukan registrasi tanpa harus langsung datang ke Kantor Bea dan Cukai.

15. B - S

Khusus untuk pelayanan perizinan, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai juga telah merintis sistem NSW (National Single Window) agar masyarakat usaha lebih mudah dalam pengurusan perizinan impor.

7. Kunci Jawaban Test Formatif

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15.

B S S B S B B S B S B S B B B

6. Umpan Balik dan Tindak Lanjut Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif yang terdapat pada bagian akhir modul ini, dan hitungllah jawaban Anda untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda. Rumus : Tingkat penguasaan = Jumlah jawaban yang benar X 100 % 20 Bila anda mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat meneruskan kegiatan belajar selanjutnya. Tetapi bila penguasaan Anda kurang dari 80%, Anda harus mempelajari kembali terutama bagian yang belum Anda kuasai.

DIKLAT TEKNIS SUBSTANTIF DASAR KEPABEANAN DAN CUKAI

KETERAMPILAN PDE

MODUL II
SISTEM APLIKASI PELAYANAN MANIFES DAN SISTEM APLIKASI PELAYANAN EKSPOR

OLEH : TIM PENYUSUN MODUL PUSDIKLAT BEA DAN CUKAI

PUSAT PENDIDIKAN DAN LATIHAN BEA DAN CUKAI BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA JAKARTA 2008

DAFTAR ISI Daftar Isi .................................................................................................................. SISTEM APLIKASI PELAYANAN MANIFES DAN SISTEM APLIKASI PELAYANAN EKSPOR 1. Pendahuluan ................................................................................................. 1 1 1 1 i

1.1. Deskripsi Singkat ......................................................................................... 1.2 Tujuan Instruksional Umum ........................................................................ 1.3 Tujuan Instruksional Khusus ....................................................................... 2. Kegiatan Belajar 1: APLIKASI PELAYANAN MANIFES 2.1. Uraian dan Contoh ....................................................................................... 1. Inward Manifes ..................................................................................... 2. Outward Manifes .................................................................................. 2.2. Latihan 1 ...................................................................................................... 2.3. Rangkuman .................................................................................................. 3. Kegiatan Belajar 2: APLIKASI PELAYANAN EKSPOR 3.1. Uraian dan Contoh ....................................................................................... Sejarah Singkat Aplikasi Pelayanan Ekspor ................................................ Sistem Aplikasi Pelayanan Ekspor .............................................................. 1. Tujuan Pengembangan .......................................................................... 2. Alur Pelayanan Ekspor .......................................................................... 3.2. Latihan 2 ....................................................................................................... 3.3. Rangkuman ................................................................................................... 4. 5. 6. 7. Test Formatif ............................................................................................... Kunci Jawaban Test Formatif ................................................................... Umpan Balik dan Tindak Lanjut Daftar Pustaka

2 3 10 13 13

14 14 15 15 16 23 23 24 28 28 29

MODUL 1 SISTEM APLIKASI PELAYANAN MANIFES DAN SISTEM APLIKASI PELAYANAN EKSPOR 1. Pendahuluan 1.1. Deskripsi Singkat Modul Belajar ini berisi 2 kegiatan belajar, yaitu tentang Aplikasi Pelayanan Manifest Aplikasi Pelayanan Ekspor. Kegiatan Belajar tentang Aplikasi Pelayanan Manifes berisi tentang uraian dan contoh tentang Siatem Aplikasi Pelayanan (SAP) Manifes yang pada saat ini telah dipakai di Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai, baik Inward Manifes maupun Outward Manifes.

1.2. Tujuan Instruksional Umum Setelah mengikuti mata pelajaran ini peserta diharapkan mampu untuk menjelaskan sistem pemberitahuan pabean dalam bentuk disket dan secara Electronic Data Interchange (EDI) serta memahami implementasinya.

1.3. Tujuan Instruksional Khusus Pada akhir mata pelajaran para peserta dapat memahami: Penggunaan Sistem Aplikasi Inward Manifes Penggunaan Sistem Aplikasi Outward Manifes Penggunaan Sistem Aplikasi Ekspor

2. Kegiatan Belajar (KB) 1 APLIKASI PELAYANAN MANIFES 2.1. Uraian dan Contoh

Sistem Aplikasi Pelayanan Manifes di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai sebenar sudah mulai dikembangkan sejak tahun 2001. Akan tetapi disebabkan karena peraturan pelaksanaan yang belum ada maka pelaksanaan dan implemantasinya baru terlaksana pada tahun 2006 yaitu dengan diterbitkannya Peraturan Menteri Keuangan Nomor PMK39/PMK.04/2006 tanggal 19 Mei 2006 tentang Tatalaksana Pemberitahuan Kedatangan Sarana Pengangkut, Manifes Kedatangnan Sarana Pengangkut dan Keberangkatan Sarana Pengangkut. Sistem aplikasi manifes dibagi menjadi dua yaitu untuk manifes kedatangan sarana pengangkut (inward manifes) dan manifes keberangkatan sarana pengangkut (outward manifes) Uji coba implementasi sistem aplikasi inward manifes dilakukan di KPBC Tanjung Priok I, II dan III pada bulan Juli 2006 dan dimandatorykan ke seluruh Kantor Pelayanan pada tanggal 1 September 2006. Sedangkan untuk inward manifes baru dimandatorykan pada awal tahun 2007.

1. Inward Manifes a. Alur Dokumen Inward Manifes Alur dokumen dalam proses global inward manifes dapat digambarkan sebagai berikut :

PENGANGKUT Shipping Lines Air Lines

RKSP BC 1.0

KPBC Kantor Pelayanan Bea Cukai

MANIFES BC 1.1

Dari diagram di atas dapat dijelaskan sebagai berikut : Pengangkut yang sarana pengangkutnya datang dari luar daerah pabean atau dari dalam daerah pabean yang mengangkut barang impor, barang ekspor dan/atau barang asal Daerah Pabean yang diangkut melalui luar daerah pabean wajib menyerahkan Rencana Kedatangan Sarana Pengangkut (RKSP) atau Jadwal Kedatangan Sarana Pengangkut (JKSP) paling lambat sebelum kedatangan sarana pengangkut. RKSP atau JKSP diserahkan ke Kantor Pelayanan Bea dan Cukai melalui Pertukaran Data Elektronik (PDE) untuk KPBC yang sudah PDE, dengan disket untuk KPBC yang mempunyai server tetapi belum PDE atau secara manual untuk KPBC yang tidak mempunyai server. KPBC memberikan respon penomoran BC 1.0 atas RKSP/JKSP yang diserahkan. Ketika sarana pengangkut datang, pengangkut meyerahkan inward manifes ke Kantor Pelayanan Bea dan Cukai melalui Pertukaran Data Elektronik (PDE) untuk KPBC yang sudah PDE, dengan disket untuk KPBC yang mempunyai server tetapi belum PDE atau secara manual untuk KPBC yang tidak mempunyai server dengan merujuk pada nomor BC 1.0 nya. Jadi sebelum inward manifes diserahkan data RKSP harus sudah ada di KPBC terlebih dahulu. KPBC memberikan respon penomoran BC 1.1 atas Manifes yang diserahkan.

b. Konsep Pertukaran Data RKSP dan Manifes Konsep pertukaran data RKSP dan Manifes dapat digambarkan seperti berikut.

Dari gambar di atas dapat dijelaskan sebagai berikut : Data RKSP/JKSP dan manifes setelah dikirim oleh pengangkut ke KPBC melalui jaringan EDI akan mendapat respon BC 1.0 dan BC 1.1 dari KPBC. Data RKSP dan Manifes dan responnya (status) dipublish di website (internet). Instansi-instansi selain Bea dan Cukai juga dapat melihat informasi data manifes sesuai dengan wewenangnya, antara lain : o PELINDO dapat melihat informasi tentang keadatangan kapal dan bongkar barang o Karantina dapat mengakses data barang yang ada di manifes yang kemungkinan harus mendapat ijin dari karantina. o Importir terkait dengan pembuatan data PIBnya dapat melihat nomor BC 1.1 dan nomor pos barang yang diimpornya. Dan seterusnya.

c. Sistem PDE Manifes Sistem PDE manifes dapat digambarkan seperti berikut

Dari modul pengangkut dengan menggunakan EDI enabler data dikirim ke sistem inhouse manifes. Untuk bisa tersanbung dengan EDI network dapat menggunakan modem dengan mendial nomor telepon yang sudah ditentukan untuk mengirim data ke EDI network atau dengan menggunakan jaringan internet. d. Pengumpulan Data Manifes Data manifes tidak hanya dari pemilik sarana pengangkut saja tetapi berasal dari beberapa sumber. Proses pengumpulan data manifes dapat digambarkan seperti berikut.

Dari gambar di atas dapat dijelaskan sebagai berikut : Kalau pengangkut hanya mengangkut barang miliknya saja (tidak ada barang titipan dari slot charter atau yang lainnya), maka data manifes dapat langsung dikirim ke KPBC baik memalui jaringan EDI atau menggunakan disket. Kalau dalam satu manifes pos-posnya juga berasal dari slot charter, join charter , forwarder dan/atau partner lain, maka data manifes dikumpulkan dulu di modul pengangkut milik perusahaan pengangkut yang bertindak sebagai vessel operator/main carrier. Kalau para partner sudah mempunyai aplikasi sendiri yang formatnya berbeda maka data tersebut harus diseragamkan dengan menggunakan data converter agar bisa digabung di modul pengangkut. Khusus forwarder dimungkinkan hanya menyertakan satu pos yang sebenarnya terdiri dari lebih dari satu pos. B/L atau AWB nya adalah Master B/L atau AWB. Ketika di pelabuhan bongkar, pos tersebut dapat dipecah (redress) menjadi beberapa pos sesuai dengan jumlah Host B/L nya. Pemecahan pos dapat diajukan dengan menggunakan Modul Entry manifes atau langsung mengajukan ke Kantor Pelayanan untuk dilakukan entry pecah pos oleh petugas. e. Data Inward Manifes Data manifes selain memuat tentang informasi sarana pengangkut seperti pada RKSP, juga berisi pos-pos barang yang diangkut. Satu pos dalam manifes mewakili satu nomor Bill of Lading (B/L). Pos-pos dalam inward manifes dikelompokkan menjadi :

1. Kelompok barang impor yang diselesaikan di Kantor Pelayanan tempat pemberitahuan manifes 2. Kelompok barang impor yang diangkut lanjut 3. Kelompok barang impor yang diangkut terus 4. Kelompok barang ekspor yang diangkut lanjut 5. Kelompok barang ekspor yang diangkut terus 6. Kelompok barang asal dalam daerah pabean tujuan dalam daerah pabean yang melewati luar daerah pabean (BC 1.3) 7. Empty Container (kontainer kosong dari luar daerah pabean) f. Proses Pelayanan Inward Manifes Pelayanan inward manifes adalah sebagai berikut : Terima data RKSP (EDI atau load data) Validasi data RKSP Respon nomor BC 1.0 Terima Data Manifest (EDI atau load data) dengan merujuk ke nomor BC 1.0 Validasi data Manifest Respon nomor BC 1.1 Redress/Perbaikan Data Manifest (Kalau Ada) Penutupan Pos BC 1.1 g. Redress Data Manifes Data manifes dapat diubah diperbaiki sesuai kebutuhan asalkan memenuhi ketentuan yang berlaku. Perubahan data manifes dikenal dengan istilah redress. Untuk redress data manifes harus mendapat izin dari kepala kantor. Oelh karena itu pengangkut atau agennya harus mengajukan izin terlebih dahulu ke kepala kantor dengan melampirkan dokumen pendukungnya. Redress data manifes yang bisa dilakukan adalah sebagai berikut : 1. Penambahan pos BC 1.1 Dalam hal jumlah pos yang diberitahukan pertama kali di manifes kurang dari jumlah yang sebenarnya, pengangkut atau agennya dapat mengajukan penambahan pos manifes. Penambahan pos BC 1.1 bisa dilakukan kalau ada izin dari Kepala KPBC. Penambahan pos dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu : Menyerahkan data pendukung penambahan pos berupa dokumen pendukung dan media penyimpan data seperti disket, flash disk dan sebagainya untuk diload di in house aplikasi manifes 7

Hanya menyerahkan data pendukung penambahan pos berupa dokumen pendukung, untuk direkam datanya oleh petugas di KPBC. 2. Penggabungan pos BC 1.1 Penggabungan pos manifes (BC 1.1) ada dua kemungkinan, yaitu penggabungan pos di aplikasi milik pengangkut dan penggabungan di in house manifes KPBC. Penggabungan pos yang dilakukan di aplikasi manifes milik pengangkut tidak/belum berpengaruh di data manifes KPBC, karena data belum diterima. Sedangkan penggabungan pos di aplikasi in house manifes dilakukan dalam hal manifes sudah diberitahukan di KPBC dan sudah mendapat nomor BC 1.1. Syarat penggabungan pos BC 1.1. adalah sebagai berikut : Pos yang digabung berasal dari satu manifes (BC 1.1.) Nama dan alamat shipper/supplier, consignee dan notify party dan pelabuhan muat harus sama untuk masing-masing pos yang akan digabung. Sudah diterbitkan Bill of Lading (B/L) 3. Pemecahan pos BC 1.1 Pemecahan pos biasanya dilakukan oleh forwarder karena ia hanya menyertakan master B/L atau master AWB saja kepada pengangkut. Padahal sebenarnya dari satu master B/L atau master AWB tersebut barangnya dimiliki oleh banyak orang/perusahaan. Untuk kasus ini biasanya status pos adalah pos konsolidasi. Kalau status posnya konsolidasi, maka pos tersebut harus dipecah. Kalau tidak dipecah pos tersebut tidak akan bisa ditutup. Pemecahan pos dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu : Menyerahkan data pendukung pemecahan pos berupa dokumen pendukung dan media penyimpan data seperti disket, flash disk dan sebagainya untuk diload di in house aplikasi manifes Hanya menyerahkan data pendukung pemecahan pos berupa dokumen pendukung, untuk direkam datanya oleh petugas di KPBC. Pos yang sudah dipecah statusnya tidak dapat ditutup, tetapi yang akan ditutup adalah sub pos hasil pecahannya 4. Pembatalan Pemecahan pos BC 1.1 Pos BC 1.1 yang sebenarnya tidak dipecah tetapi sudah terlanjur dipecah, dalam hal tertentu pemecahan posnya dapat dibatalkan. Pembatalan pos BC 1.1

dilakukan oleh petugas BC dengan terlebih dahulu merekam surat izin dari kepala kantor. 5. Pemindahan kelompok pos BC 1.1 Dalam ada kesalahan pengelompokan pos yang diberitahukan, pos yang salah pengelompokannya dapat dipindahkan ke kelompok pos yang benar. Pemindahan BC 1.1 dilakukan oleh petugas BC dengan terlebih dahulu merekam surat izin dari kepala kantor. 6. Pembatalan pos BC 1.1 Dalam hal ada kesalahan kelebihan jumlah pos yang diberitahukan, maka kelebihan pos BC 1.1 tersebut dapat dibatalkan. Pembatalan pos BC 1.1 bisa dilakukan oleh petugas BC dengan terlebih dahulu merekam surat izin dari kepala kantor. 7. Perubahan Data Manifes Lainnya Data manifes yang diajukan oleh pengangkut atau agen kadang terjadi kesalahan pada isi data. Misalnya karena kesalahan nama consignee, nama shipper, jumlah container, berat brutto dan lain-lain. Perubahan data BC 1.1 dilakukan oleh petugas BC dengan terlebih dahulu merekam surat izin dari kepala kantor. h. Penutupan Pos BC 1.1 Semua pos BC 1.1 yang diberitahukan dalam manifes harus ditutup. Pos BC 1.1 ditutup dengan dokumen pabean sesuai dengan tujuannya. Dokumen yang dapat digunakan untuk menutup pos BC 1.1 (inward) adalah sebagai berikut : Dokumen Impor (PIB / BC 2.0) Dokumen Angkut Terus / Angkut Lanjut (BC 1.2) Dokumen Pengangkutan/pengeluaran tujuan Kawasan Berikat (BC 2.3) Dokumen Reekspor (PEB / BC 3.0) Dokumen untuk perpindahan antar Tempat Penimbunan Sementara (TPS) Dokumen untuk Barang Tidak Dikuasai (BCF 1.5) Pada umumnya satu pos BC 1.1 ditutup dengan satu dokumen. Namun khusus untuk penutupan dengan dokumen perpindahan antar TPS dan penutupan dengan BCF 1.5, satu dokumen dapat menutup lebih dari satu pos BC 1.1.

2. Outward Manifes a. Alur Dokumen Outward Manifes Alur dokumen dalam proses global outward manifes dapat digambarkan sebagai berikut :

PENGANGKUT Shipping Lines Air Lines


MANIFES BC 1.1

KPBC Kantor Pelayanan Bea Cukai

Dari diagram di atas dapat dijelaskan sebagai berikut : sebelum sarana pengangkut berangkat, pengangkut meyerahkan outward manifes ke Kantor Pelayanan Bea dan Cukai melalui Pertukaran Data Elektronik (PDE) untuk KPBC yang sudah PDE, dengan disket untuk KPBC yang mempunyai server tetapi belum PDE atau secara manual untuk KPBC yang tidak mempunyai server. KPBC memberikan respon penomoran BC 1.1 atas outward manifes yang diserahkan.

b. Konsep Pertukaran Data Outward Manifes Konsep pertukaran data Outward Manifes dapat digambarkan seperti berikut.

10

Dari gambar di atas dapat dijelaskan sebagai berikut : Ekportir membuat PEB dan dikirm ke inhouse pelayanan ekspor kantor pelayanan dan mendapat respon nomor/tanggal PEB dan PE. Eksportir menyerahkan barangnya kepada pengangkut beserta data PEB terutama nomor dan tanggal PEB. Berdasarkan PEB sebagai penutup pos BC 1.1 pengangkut membuat data outward manifes dan mengirimkannya ke inhouse manifes kantor pelayanan. Atas outward manifes yang dikirim setelah lolos validasi, inhouse manifes mengirm respon nomor/tanggal BC 1.1 kepada pengangkut. Instansi-instansi selain Bea dan Cukai juga dapat melihat informasi data manifes sesuai dengan wewenangnya, antara lain : o PELINDO dapat melihat informasi tentang keadatangan kapal dan bongkar barang o Karantina dapat mengakses data barang yang ada di manifes yang kemungkinan harus mendapat ijin dari karantina, dsb.

c. Data Outward Manifes Data manifes selain memuat tentang informasi sarana pengangkut seperti pada RKSP, juga berisi pos-pos barang yang diangkut. Satu pos dalam manifes mewakili satu nomor Bill of Lading (B/L). Pos-pos dalam inward manifes dikelompokkan menjadi : 11

1. Barang ekspor yang didaftar dan dimuat di Kantor Pabean setempat; 2. Barang ekspor yang dimuat di Kantor Pabean setempat; 3. Barang ekspor yang diangkut lanjut; 4. Barang ekspor yang diangkut terus; 5. Barang impor yang diangkut lanjut; 6. Barang impor yang diangkut terus; 7. Barang asal Daerah Pabean yang diangkut dari satu Kawasan Pabean ke Kawasan Pabean lainnya melalui luar Daerah Pabean 8. Empty Container

d. Proses Pelayanan Outward Manifes Pelayanan outward manifes adalah sebagai berikut : Pengangkut mendapat data tentang PEB + PE dari Importir Pengangkut membuat data Outward Manifest, PEB + PE menutup pos manifest sesuai B/L atau AWB Data Outward Dikirim ke Inhouse Manifest di KPPBC (Via EDI atau Media Penyimpan Data) Data Manifest Divalidasi Respon BC 1.1 (Outward Manifest) Redress Data Manifest (Kalau Ada)

e. Redress Data Outward Manifes Data outward manifes dapat diubah diperbaiki sesuai kebutuhan asalkan memenuhi ketentuan yang berlaku. Perubahan data outward manifes harus

mendapat izin dari kepala kantor. Oleh karena itu pengangkut atau agennya harus mengajukan izin terlebih dahulu ke kepala kantor dengan melampirkan dokumen pendukungnya.

f. Penutupan Pos BC 1.1 outward Tidak seperti inward manifes, penutupan pos BC 1.1 outward berlaku terbalik dimana sebelum manifes diajukan pos Bc 1.1 harus sudah ditutup.

12

2.2. Latihan 1 2.2.1. Soal Essay 1. Jelaskan alur pelayanan PDE inward manifes! 2. Sebutkan pengelompokan pos inward manifes! 3. Jelaskan alur pelayanan PDE outward manifes! 4. Sebutkan pengelompokan pos outward manifes! 5. Jelaskan tentang redress data inward manifes! 6. Jelaskan tentang penutupan pos outward manifes!

2.3. Rangkuman

Sistem Aplikasi Pelayanan manifes baru diimplemantasikan pada tahun 2006. Untuk inward manifes dimandatorykan pada bulan September 2006. Sedangkan outward manifes baru dimandatorykan pada awal tahun 2007. Data manifes dikirimkan ke inhouse manifes kantor pelayanan dengan menggunakan PDE untuk Kantor Pelayanan yang menerapkan PDE dan menggunakan media penyimpan data untuk Kantor Pelayanan non PDE. Pos manifes dikelompokkan menjadi beberapa kelompok sesuai tujuannya. RKSP/JKSP yang diajukan ke inhouse manifes akan mendapat respon nomor dan tanggal BC 1.0 dan untuk manifesnya mendapat respon nomor dan tanggal BC 1.1. Pos BC 1.1 yang sudah diajukan dapat diubah/diredress datanya dengan izin kepala kantor. Setiap pos BC 1.1 pada akhirnya harus tertutup. Penutupan dilakukan dengan dokumen tertentu menurut tujuan barangnya.

13

3. Kegiatan Belajar (KB) 2 APLIKASI PELAYANAN EKSPOR 3.1. Uraian dan Contoh Sejarah Singkat Aplikasi Pelayanan Ekspor

Sebelum ada aplikasi pelayanan ekspor yang sekarang ini, sebelumnya aplikasi pelayanan ekspor pernah dikembangkan pada tahun 1997. Waktu itu bekerja sama dengan Bapeksta dan Sucofindo. Bapeksta selaku instansi pengelola fasilitas ekspor dan Sucofindo selaku surveyor (pemeriksa barang ekspor yang mendapat fasilitas). Akan tetapi aplikasi tersebut tidak jadi diterapkan karena infrastruktur yang belum tersedia. Pada tahun 2000 aplikasi pelayanan ekspor versi baru mulai dirancang dan awal tahun 2001 mulai dibangun. Setelah diuji coba, pada tanggal 1 Agustus 2001, aplikasi pelayanan ekspor tersebut mulai diterapkan di beberapa Kantor Pelayanan utama. Pemberitahuan ekspor menggunakan disket dan hard copy Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB). Disket diajukan di Kantor Pelayanan yang lokasinya terdekat dari tempat eksportir. Setelah mendapat persetujuan ekspor barang ekspor baru boleh dibawa ke pelabuhan muat untuk diekspor ke luar negeri. Tahun 2002 aplikasi pelayanan ekspor dikembangkan dengan sistem EDI mulai dibangun bersamaan dengan dikembangkannya aplikasi impor. Aplikasi ini selesai pada tahun 2003 dan diuji coba di KPBC Tanjung Perak dan Belawan. Tapi baru pada tahun 2004 mulai diterapkan di Kantor-kantor Pelayanan utama (KPBC Tanjung Priok I, II, III, KPBC Soekarno-Hatta, KPBC Tanjung Perak, KPBC Tanjung Emas, KPBC Belawan) dan Kantor-kantor Pelayanan tipe A. Untuk Kantor-kantor Pelayanan tipe A selain Kantor Pelayanan utama tetap memakai disket. Namun untuk Kantor Pelayanan utama terjadi perubahan yang signifikan bahkan revolusioner pada aplikasi ekspor ini yaitu tidak lagi digunakan hard copy dokumen (paperless). Eksportir tidak menyerahkan hard copy ke KPBC. Importir hanya perlu mencetak Persetujuan Ekspor dari aplikasi modulnya untuk dapat memasukkan kontainer atau barangnya ke Kawasan Pabean atau Tempat Penimbunan Sementara (TPS) menunggu barangnya dimuat ke kapal. Selain itu perbedaan dengan aplikasi pelayanan ekspor versi sebelumnya adalah pengiriman data PEB langsung ke Kantor Pelayanan pemuatan.

14

Dengan sistem paperless ini maka keamanan data menjadi sangat penting sekali. Backup data harus dilakukan sebaik mungkin, sehingga kalau sewaktu-waktu data dibutuh data tidak rusak atau hilang dan dapat dengan segara disajikan.

Sistem Aplikasi Pelayanan Ekspor 1. Tujuan Pengembangan Aplikasi pelayanan ekspor versi tahun 2003 dikembangkan dengan tujuan antara lain : a. Penyederhanaan Proses dan Meningkatkan Kecepatan Pelayanan Dengan sistem ini diharapkan pelayanan akan lebih sederhana dan mengurangi interaksi antara pengguna jasa / eksportir dengan pegawai Bea dan Cukai. Dengan demikian diharapkan pelayanan akan semakin cepat. b. Standarisasi data Data yang dikirim dalam aplikasi ini menggunakan standar data internasional yaitu UN-EDIFACT sehingga data dapat dipertukarkan dengan aplikasi lain diluar aplikasi Bea dan Cukai dengan menggunakan standar data tersebut. c. Memudahkan Dalam Pengambilan Keputusan Data yang tersimpan dalam database yang teratur dan rapi akan mudah ditampilkan kembali jika diperlukan. Proses ini tentu akan banyak membantu untuk proses pengawasan atau pelaporan. d. Menjamin Terpenuhinya Ketentuan Pelayanan Ekspor Aplikasi pelayanan impor mencakup aspek pelayanan dan pengawasan. Dari segi pelayanan khususnya masalah pendaftaran dan pelayanan PEB, telah dibuat alur yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Demikian pula setiap keputusan pejabat, dikendalikan dengan aplikasi agar standar dan memenuhi ketentuan pelayanan PEB. Di samping itu aplikasi juga membatasi akses petugas dan pejabat sesuai dengan tugas dan kewenangannya. Dan setiap kegiatan user dicatat oleh aplikasi. Sehingga penyimpangan terhadap ketentuan dapat dikurangi. e. Pengiriman Data ke Data Warehouse Data warehouse merupakan kumpulan data dari seluruh kegiatan aplikasi di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai yang ditempat di Kantor Pusat. Data aplikasi

15

impor adalah salah satu sumber datanya. Data ini secra periodik akan dikirim/ditarik ke sistem data warehouse. f. Pertukaran Data antara Aplikasi Ekspor KPBC Pemeriksaan dan Aplikasi Ekspor KPBC Pendaftaran Dalam hal proses pelayanan ekspor PEB yang diajukan ditetapkan jalur merah, sementara lokasi gudang eksportir (KPBC Pemeriksa) dan pelabuhan muat (KPBC Pendaftaran) berbeda, maka data pemberitahuan jalur merah/instruksi pemeriksaan dikirim ke KPBC pengawas gudang eksportir (KPBC Pemeriksa). Setelah pemeriksaan selesai, hasil pemeriksaan direkam di aplikasi ekspor KPBC pemeriksa untuk selanjutnya dikirim kembali ke aplikasi pelayanan ekspor KPBC pengawas pelabuhan muat (KPBC Pendaftaran).

2. Alur Pelayanan Ekspor Proses pelayanan ekspor dibagi menjadi dua yaitu : 1. Pelayanan ekspor untuk PEB umum 2. Pelayanan ekspor untuk PEB yang menggunakan fasilitas KITE

Pelayanan ekspor dimulai dari pengiriman data sampai putus jalur dan pemasukan barang ke TPS/Kawasan Pabean. Pengiriman Data PEB dan Respon PEB dapat digambarkan seperti gambar berikut.

ri m Ki

B PE ta Da

Te

rim

aD at aP EB

Proses pengiriman Data PEB dan Responnya dari dan ke KPBC Eksportir/PPJK membuat data PEB dengan menggunakan aplikasi modul PEB nya.

16

Setelah PEB statusnya READY, data PEB dijadikan data EDIFACT lalu dikirim ke KPBC melalui jaringan EDI. Provider EDI meneruskan data ke KPBC Setelah data masuk ke server KPBC, kemudian data divalidasi di aplikasi in house Pelayanan Ekspor. Hasil validasi adalah respon untuk PEB yang bersangkutan. Respon yang dikirim mulai respon penerimaan dokumen sampai respon Persetujuan Ekspor (PE)

17

2.1. Alur Pelayanan Ekspor untuk PEB Umum Proses pelayanan ekspor umum di in house KPBC dapat sebagai berikut.

FLOWCHART TATA KERJA PEB EDI UMUM


(Sistem Aplikasi Pelayanan Ekspor)
Modul

Network Eksportir

E D I

PEB

Download PEB

Reject PEB

Mandatory Check / Content Check Tidak masuk analyzing point

Check D3 / PE

Analyzing Point

Hijau PPB PE Periksa Fisik

Merah
KPBC Pemeriksa
Network

E D I

Periksa Fisik

Rekam LHP/PE

Rekam LHP/PE

Gate

Selesai

Penjelasan dari gambar di atas adalah sebagai berikut : Eksportir membuat PEB dengan modul PEB nya Data dikirim ke aplikasi in house KPBC

18

Data PEB tersebut oleh aplikasi inhouse KPBC divalidasi. Kalau data tidak valid maka PEB tersebut mendapat respon reject. Kalau datanya valid maka akan diteruskan dengan proses cek Barang yang diberitahukan termasuk dalam golongan barang D3 (Dibatasi, Diawasi, Dilarang) dengan ketentuan sebagai berikut : Dalam hal komoditi yang diberitahukan tidak termasuk barang larangan

pembatasan atau tidak memerlukan izin dari instansi lain, maka proses akan langsung ke mendapat Persetujuan Ekspor (PE). Kalau ternyata komoditi yang diberitahukan masuk golongan barang kena Pajak Ekspor atau berang D3 atau memerlukan izin dari instansi lain maka data akan masuk ke analyzing point. Dalam hal proses masuk ke analyzing point karena termasuk barang terkena Pajak Ekspor, maka eksportir harus menyerahkan bukti pembayaran atau Surat Sanggup Bayar. Dalam hal proses masuk ke analyzing point karena termasuk barang D3, maka eksportir harus menyerahkan izin dari instansi terkait. Kalau izin tidak ada maka barang ekspor harus diperiksa (jalur merah). Pemeriksaan fisik dilakukan dalam hal : Barang ekspor yang akan diimpor kembali. Barang diekspor kembali. Dalam PKB disebutkan bahwa barang ekspornya adalah eks barang impor yang belum diolah (re-ekspor). PEB termasuk katagori analyzing point dan oleh petugas diputuskan untuk pemeriksaan fisik. PEB yang terkena jalur merah barangnya harus diperiksa fisik . Pemeriksaan dapat dilakukan di gudang eksportir sebelum barang dimasukkan ke dalam kontainer atau di kawasan pabean. Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) direkam aplikasi in house dan Persetujuan Ekspor dapat diterbitkan. Dalam hal KPBC pemeriksa barang berbeda dengan KPBC pengawas pelabuhan muat maka : Pemberitahuan Pemeriksaan Barang (PPB) dikirim ke aplikasi ekspor KPBC pemeriksa melalui EDI.

19

Setelah menerima PPB, petugas di KPBC pemeriksa melakukan pemeriksaan barang. LHP direkam di aplikasi ekspor yang ada di KPBC pemeriksa. Setelah LHP direkam, Persetujuan Ekspor (PE) dapat diterbitkan bila hasil pemeriksaan dinyatakan sesuai dan datanya dikirim ke aplikasi ekspor KPBC pengawas pelabuhan muat. Setelah mendapat PE, eksportir membawa barang ekspornya ke Kawasan Pabean atau TPS dengan menunjukkan PE kepada petugas di gate pemasukan.

2.2. Alur Pelayanan Ekspor untuk PEB Fasilitas KITE PEB fasilitas KITE adalah PEB yang barang ekspornya yang seluruh atau sebagian berasal dari barang impor yang mendapat pembebasan dan/atau pengembalian Bea Masuk dan/atau Cukai serta Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah tidak dipungut atas impor barang dan/atau bahan untuk diolah, dirakit atau dipasang pada barang lain dengan tujuan untuk diekspor. Untuk proses pelayanan ekspornya diperlakukan berbeda. Proses pelayanan ekspor dengan fasilitas KITE di in house KPBC dapat digambarkan sebagai berikut.

20

FLOWCHART TATA KERJA PEB EDI FASILITAS KITE


(Sistem Aplikasi Pelayanan Ekspor)
Modul

Network Eksportir

E D I

PEB

Download PEB Reject PEB Mandatory Check / Content Check

Tidak masuk analyzing point

Check D3 / PE

Analyzing Point
White list

Hijau

Merah PPB
KPBC Pemeriksa
Network

PE Periksa Fisik

E D I

Periksa Fisik

Rekam LHP/PE

Rekam LHP/PE

Gate

LPBC

Selesai

Penjelasan dari gambar di atas adalah sebagai berikut : Eksportir membuat PEB dengan modul PEB nya Data dikirim ke aplikasi in house KPBC Data PEB tersebut oleh aplikasi inhouse KPBC divalidasi. Kalau data tidak valid maka PEB tersebut mendapat respon reject. Kalau datanya valid maka akan diteruskan dengan proses cek Barang yang diberitahukan termasuk dalam golongan barang D3 (Dibatasi, Diawasi, Dilarang) dengan ketentuan sebagai berikut :

21

Dalam hal

komoditi yang diberitahukan tidak termasuk barang larangan

pembatasan atau tidak memerlukan izin dari instansi lain, maka proses akan langsung ke mendapat Persetujuan Ekspor (PE). Kalau ternyata komoditi yang diberitahukan masuk golongan barang kena Pajak Ekspor atau berang D3 atau memerlukan izin dari instansi lain maka data akan masuk ke analyzing point. Dalam hal proses masuk ke analyzing point karena termasuk barang terkena Pajak Ekspor, maka eksportir harus menyerahkan bukti pembayaran atau Surat Sanggup Bayar. Dalam hal proses masuk ke analyzing point karena termasuk barang D3, maka eksportir harus menyerahkan izin dari instansi terkait. Kalau izin tidak ada maka barang ekspor harus diperiksa (jalur merah). Untuk PEB dengan fasilitas KITE pada prinsipnya harus mendapat jalur hijau, kecuali dalam hal : Eksportir tidak termasuk dalam daftar putih (white list) Eksportir masuk dalam daftar putih, tetapi PEB termasuk kategori analyzing point dan oleh petugas diputuskan untuk pemeriksaan fisik. PEB yang terkena jalur merah barangnya harus diperiksa fisik . Pemeriksaan dapat dilakukan di gudang eksportir sebelum barang dimasukkan ke dalam kontainer atau di kawasan pabean. Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) direkam aplikasi in house dan Persetujuan Ekspor dapat diterbitkan. Dalam hal KPBC pemeriksa barang berbeda dengan KPBC pengawas pelabuhan muat maka : Pemberitahuan Pemeriksaan Barang (PPB) dikirim ke aplikasi ekspor KPBC pemeriksa melalui EDI. Setelah menerima instruksi pemeriksaan, petugas di KPBC pemeriksa melakukan pemeriksaan barang. LHP direkam di aplikasi ekspor yang ada di KPBC pemeriksa. Setelah LHP direkam, Persetujuan Ekspor (PE) dapat diterbitkan bila hasil pemeriksaan dinyatakan sesuai dan datanya dikirim ke aplikasi ekspor KPBC pengawas pelabuhan muat. Setelah mendapat PE, eksportir membawa barang ekspornya ke Kawasan Pabean atau TPS dengan menunjukkan PE kepada petugas di gate pemasukan. 22

Setelah PE diterbitkan, barang sudah masuk gate realisasi ekspor sudah dilaksanakan maka LPBC dapat diterbitkan, yang digunakan untuk pengembalian Bea Masuk dan PDRI atau pengembalian jaminan.

3.2. Latihan 2 3.2.1. Soal Essay 1. Kapan dimulainya komputersasi pelayanan ekspor di DJBC dimulai ? Jelaskan. 2. Apa yang membedakan pelayanan ekspor EDI dengan pelayanan ekspor sebelum EDI 3. Dalam aplikasi pelayanan ekspor apa saja yang menyebabkan PEB masuk analyzing point ? 4. Apa saja yang menyebabkan pemeriksaan fisik barang ekspor ? Jelaskan. 5. Di mana sajakah dapat dilakukan pemeriksaan fisik barang ekspor. 6. Apa yang dimaksud dengan istilah paperless dalam sistem pelayanan kepabeanan.

3.3. Rangkuman Komputerisasi ekspor di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dimulai pada tahun 2001 dengan menerapkan sistem PEB disket dan tetap dengan menyerahkan hard copy PEBnya. Perkembangan selanjutnya pelayanan impor dikembangkan dengan sistem Electronic Data Interchange (EDI), di mana terjadi perubahan yang sangat besar dalam sistem pelayanan kepabeanan, karena sudah tidak menggunakan dokumen (hard copy) atau paperless. Hal ini dapat mengurangi penumpukan dokumen yang selama ini terjadi di Kantor-kantor Pelayanan Bea dan Cukai sampai ke Kantor Wilayah. Dengan sistem ini maka keamanan data menjadi sangat penting. Karena itu pemeliharaan data ekspor perlu mendapat perhatian khusus. Jangan sampai data tersebut hilang sehingga kalau terjadi suatu kasus yang memerlukan pembuktian data, dapat segera disajikan. Pelayanan ekspor dibagi menjadi dua yaitu pelayanan ekspor untuk PEB umum dan pelayanan ekspor untuk PEB fasilitas. Yang dimaksud dengan PEB fasilitas adalah PEB dimana barang ekspornya merupakan barang jadi atau rakitan yang bahan baku sebagian atau seluruhnya berasal dari barang impor yang bea masuk/cukai dan PPNnya dibebaskan atau ketika impor bea masuk/cukai dan PPNnya dibayar tetapi setelah barang jadinya diekspor, diminta pengembalian bea masuk/cukai

pengembalian PPNnya. 23

4. Test Formatif Pilihlah jawaban yang paling benar dengan cara melingkari salah satu huruf a, b, c atau d di bawah ini! 1. RKSP/JKSP diajukan sebelum .... a. pengajuan outward manifest b. pengajuan PEB c. pengajuan PIB d. pengajuan inward manifest 2. Berikut ini adalah kelompok pos dalam inward manifest, kecuali . a. barang ekspor yang diangkut lanjut b. barang impor yang diangkut lanjut c. barang asal daerah pabean yang diangkut ke daerah pabean lainnya d. kontainer kosong dari luar negeri 3. Untuk Pengangkut yang sudah mempunyai aplikasi in house sendiri tidak perlu menggunakan modul pengangkut. Agar format datanya dapat dibaca oleh aplikasi pelayanan manifest harus menggunakan.... a. Transmitter b. Converter c. Internet d. EDI Service Center 4. Dokumen yang dapat menutup banyak pos BC 1.1 sekaligus adalah .... a. PEB b. BC 2.3 c. PIB d. BCF 1.5 5. Untuk membuat data pecah pos BC 1.1 dapat menggunakan .... a. modul pengangkut b. modul forwarder c. modul entry manifes d. modul agen pelayaran 6. Respon dari pengiriman data RKSP/JKSP adalah .... a. Nomor/Tanggal BC 1.1 b. Nomor/Tanggal BC 1.0

24

c. Nomor/Tanggal BC 1.2 d. Nomor/Tanggal BC 1.3 7. Satu Pos BC 1.1 mewakili satu .... a. B/L atau AWB b. PIB c. PEB d. Kontainer 8. Pos BC 1.1 dimana barang berupa barang impor untuk dipakai ditutup dengan .... a. BC 2.3 / SPPB b. PIB / SPPB c. PEB / PE d. A 11 9. Berikut ini adalah redress data manifes, kecuali .... a. pemecahan Pos BC 1.1 b. penambahan Pos BC 1.1 c. penutupan Pos BC 1.1 d. penggabungan Pos Bc 1.1 10. Pemecahan pos BC 1.1 dengan menggunakan entry data manifes, penyampaian datanya ke inhouse Kantor Pelayanan adalah dengan menggunakan .... a. jaringan Internet b. jaringan EDI c. langsung dientry oleh petugas d. menggunakan media penyimpan data 11. Proses penyampaian data pada pelayanan ekspor di Kantor-kantor Pelayanan utama saat ini, menggunakan system .... a. PEB Disket b. PEB PDE c. Gabungan PEB Disket dan EDI d. Ketiga jawaban a, b dan c salah 12. Pada Kantor Pelayanan berikut ini untuk pelayanan ekspornya berlaku sistem paperless, kecuali .... a. KPBC Soekarno Hatta

b. KPBC Merak

25

c.

KPBC Belawan

d. KPBC Tanjung Emas 13. Dalam sistem pelayanan ekspor yang berlaku sekarang, PEB didaftarkan di . a. KPBC Pemeriksa Barang b. KPBC Pengawas Gudang Eksportir c. Kantor Wilayah Bea dan cukai d. KPBC Pengawas Pelabuhan Muat 14. Pada proses pelayanan ekspor PEB akan masuk proses analyzing point dalam hal, kecuali .... a. barang yang diberitahukan termasuk barang yang dilarang ekspornya b. barang yang diberitahukan termasuk barang yang dibatasi ekspornya c. barang yang diberitahukan termasuk barang yang akan diimpor kembali d. barang yang diberitahukan termasuk barang yang terkena pajak ekspor 15. Pada saat menerima data PEB secara elektronik, komputer kantor pabean melakukan kegiatan berikut, kecuali .... a. meneliti kelengkapan pengisian data PEB b. meneliti apakah diekspor oleh eksportir tertentu (WhiteList) c. meneliti kebenaran perhitungan dan pelunasan PE dalam hal barang ekspor terkena PE. d. meneliti apakah uraian barangnya termasuk kena PE, diatur, diawasi, atau dilarang ekspornya.

16. Dalam PEB terkena jalur merah maka hasil pemeriksaan dituangkan dalam .... a. PPB c. LHP b. PKB d. LPBC

17. Pemasukan barang ekspor ke Tempat Penimbunan Sementara (TPS) sebelum dimuat di kapal menggunakan dokumen .... a. PPB c. PKB b. PE d. PEB

18. Dalam hal PEB terkena jalur merah maka diterbitkan .... a. PPB c. PKB b. PE d. PEB

19. Eksportir atau PPJK sebelum mengirimkan data PEB ke KPBC harus merekam data PEB dengan menggunakan Aplikasi .... 26

a. In House Ekspor c. Modul PEB

b. In House Impor d. Modul PIB

20. Pada pelayanan ekspor fasilitas KITE, LPBC dapat diterbitkan setelah .... a. mendapat jalur hijau b. barang ekspor sudah masuk ke gate TPS c. barang ekspor sudah selesai diekspor. d. petugas gate sudah mengijinkan barang ekspor masuk ke TPS.

27

5. Kunci Jawaban test Formatif

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

D C B D A B A B C

11. B 12. B 13. D 14. C 15. C 16. C 17. B 18. A 19. C 20. C

10. D

6. Umpan Balik dan Tindak Lanjut Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif yang terdapat pada bagian akhir modul ini, dan hitungllah jawaban Anda untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda. Rumus : Tingkat penguasaan = Jumlah jawaban yang benar X 100 % 20 Bila anda mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat meneruskan kegiatan belajar selanjutnya. Tetapi bila penguasaan Anda kurang dari 80%, Anda harus mempelajari kembali terutama bagian yang belum Anda kuasai.

28

7. Daftar Pustaka

1. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 580/KMK.04/2003 tanggal 31 Desember 2003 tentang Tatalaksana Kemudahan Impor Tujuan Ekspor dan Pengawasannya 2. Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor KEP-205/BC/2003 tanggal 31 Desember 2003 tentang Petunjuk Pelaksanaan Tatalaksana Kemudahan Impor Tujuan Ekspor Dan Pengawasannya. 3. Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor KEP-151/BC/2003 tanggal 28 Juli 2003 tentang Petunjuk Pelaksanaan Tatalaksana Kepabeanan di Bidang Ekspor, mengatur tentang tatalaksana ekspor umum. 4. Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor KEP-152/BC/2003 tanggal 28 Juli 2003 tentang Petunjuk Pelaksanaan Tatalaksana Kepabeanan di Bidang Ekspor Untuk Barang Ekspor Yang Mendapat Fasilitas Kemudahan Impor Tujuan Ekspor. 5. Peraturan Menteri Keuangan Nomor PMK-39/PMK.04/2006 tanggal 19 Mei 2006 tentang Tatalaksana Pemberitahuan Kedatangan Sarana Pengangkut, Manifes Kedatangnan Sarana Pengangkut dan Keberangkatan Sarana Pengangkut.

29

DIKLAT TEKNIS SUBSTANTIF DASAR KEPABEANAN DAN CUKAI

KETERAMPILAN PDE

MODUL III

SISTEM APLIKASI PELAYANAN IMPOR

OLEH : TIM PENYUSUN MODUL PUSDIKLAT BEA DAN CUKAI

PUSAT PENDIDIKAN DAN LATIHAN BEA DAN CUKAI BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA JAKARTA 2008

DAFTAR ISI

Daftar Isi SISTEM APLIKASI PELAYANAN IMPOR 1. Pendahuluan ... 1.1 Deskripsi Singkat .................................................................................. 1.2 Tujuan Instruksonal Umum 1.3 Tujuan Instruksional Khusus 2. Kegiatan Belajar (KB) 1 MODUL PERUSAHAAN KITE DAN PENGELOLAAN DIPER DAN NIPER 2.1 Uraian dan Contoh ........................ 2.1.1. Modul Perusahaan KITE . 2.1.2. Aplikasi Pengelolaan DIPER dan Penerbitan

1 1 2 2

3 3

DIPER.......................................................................................... 2.2 Latihan 1 ................................................................................................ 2.3 Rangkuman ............................................................................................ 3. Kegiatan Belajar (KB) 2 PENGELOLAAN FASILITAS PEMBEBASAN 3.1 Uraian dan Contoh ....................... 3.1.1. Aplikasi Pemeriksaan Permohonan dan Penerbitan SK

4 10 10

11

Pembebasan 3.1.2. Aplikasi Pemeriksaan PIB Dan Jaminan Serta Penerbitan STTJ ........................................................................................... 3.1.3. Aplikasi Pemeriksaan Fasilitas Pembebasan Dan Penerbitan SPPJ 3.1.4. Sistem Aplikasi Pelayanan BC 2.4 ............................................ 3.2 Latihan 2 3.3 Rangkuman 4. Kegiatan Belajar (KB) 3 FASILITAS PENGEMBALIAN KITE 4.1 Uraian dan Contoh ....................... 4.1.1. Aplikasi Pemeriksaan Fasilitas Pengembalian dan Penerbitan

12

15

20 23 25 25

26

SKPFP 4.2 Latihan 2 4.3 Rangkuman 5. 6. 7. 8. Test Formatif .. Kunci Jawaban Test Formatif Umpan Balik dan Tindak Lanjut Daftar Pustaka ................................................................................................

26 30 31 32 36 36 37

ii

MODUL III SISTEM APLIKASI PELAYANAN IMPOR


1. Pendahuluan

1.1. Deskripsi Singkat Di dalam modul I ini akan mempelajari mengenai sistem aplikasi pelayanan impor (PIB). Sistem aplikasi pelayanan impor adalah sistem aplikasi untuk melakukan pelayanan terhadap dokumen/data impor (Pemberitahuan Impor Barang/PIB) yang diajukan oleh importir atau pengusaha pengurusan jasa kepabeanan (PPJK) dengan menggunakan media disket atau pertukaran data elektronik (PDE). Aplikasi pelayanan impor berdasarkan software aplikasinya, dibagi menjadi 2 (dua) yaitu aplikasi pelayanan impor PC yang didevelop dengan menggunakan software VB dan aplikasi pelayanan impor di komputer server yang didevelop dengan menggunakan software oracle developer. Sistem aplikasi pelayanan impor ini telah mulai diimplementasikan pada awal tahun 2003. Sejalan dengan otomasi pelayanan dokumen impor (PIB) di lingkungan DJBC, bagi perusahaan yang mengajukan dokumen PIB juga dibuatkan suatu aplikasi untuk mendukung otomasi tersebut. Aplikasi ini biasa disebut dengan modul PIB, yang berfungsi untuk membuat data, mencetak dokumen PIB dan mengirimkan data PIB. 1.2. Tujuan Instruksional Umum Setelah mengikuti/menyelesaikan mata pelajaran PDE Kepabeanan dan Cukai ini peserta diklat diharapkan mampu memahami sistem aplikasi untuk pelayanan pada DJBC. 1.3. Tujuan Instruksional Khusus Setelah mempelajari pelajaran ini, peserta diklat diharapkan mampu menjelaskan mengenai prinsip-prinsip dalam aplikasi pelayanan impor, ekspor dan KITE, alur proses aplikasi, hubungan antar aplikasi serta kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam pengelolaan aplikasi pelayanan impor, ekspor dan KITE.

2. Kegiatan Belajar 1

DASAR HUKUM, PRINSIP APLIKASI PELAYANAN IMPOR (PIB) DAN ALUR PROSES PELAYANAN PIB SERTA HUBUNGAN APLIKASI PELAYANAN IMPOR DENGAN APLIKASI LAIN 2.1. Uraian dan Contoh Pada kegiatan belajar 1 ini, akan diuraikan prinsip-prinsip yang ada dalam aplikasi pelayanan impor dan alur proses pelayanan PIB serta hubungan aplikasi pelayanan impor dengan aplikasi lain. A. Prinsip-prinsip Dalam Aplikasi Pelayanan Impor (PIB) 1. Pendaftaran PIB
a. Pengajuan PIB ke Kantor Pabean dilakukan untuk setiap pengimporan atau

secara berkala dalam periode tertentu. (Saat ini pengajuan PIB secara berkala belum dapat dilayani dengan aplikasi pelayanan PIB).
b. Pengajuan PIB dapat dilakukan secara manual atau melalui media

elektronik. (Apabila pelayanan PIB secara komputer/elektronik maka pengajuannya juga harus melalui media elektronik).
c. Untuk Kantor Pabean yang telah menerapkan sistem PDE Kepabeanan,

pengiriman data PIB dilakukan melalui sistem PDE.


d. PIB dan bukti pembayaran Bea Masuk, Cukai, dan PDRI diserahkan

kepada Pejabat di Kantor Pabean tempat pengeluaran barang. Kantor pelayanan yang telah menerapkan PDE Kepabeanan atas pelayanan PIB secara penuh adalah KPU Tanjung Priok, KPPBC Soekarno Hatta, KPPBC Tanjung Emas, KPPBC Tanjung Perak dan KPPBC Belawan Kantor pelayanan yang telah menerapkan PDE Kepabeanan atas pelayanan PIB tetapi belum diterapkan secara penuh adalah KPPBC Juanda dan KPPBC Medan (Polonia) 2. Syarat Pengajuan PIB Sesuai dengan KEP-07/BC/2003, pelayanan atas dokumen impor (PIB) hanya dapat dilayani apabila perusahaan/importir telah memenuhi syarat registrasi yaitu dengan mendapatkan nomor registrasi dari Direktorat Verifikasi dan Audit. Dalam hal importir belum mempunyai nomor registrasi maka secara
2

aplikasi proses pelayanan impor hanya dapat dilayani 1 (satu) kali saja, dan terhadap pengajuan PIB berikutnya secara otomatis akan dilakukan reject/penolakan. Kewajiban untuk melakukan registrasi adalah terhadap perusahaan yang melakukan kegiatan impor (importirnya) bukan terhadap pemberitahu (PPJK). Kemudian proses pengecekan registrasi dalam aplikasi pelayanan impor adalah berdasarkan pada npwp importir dalam dokumen PIB dibandingkan dengan profil importir dari hasil registrasi. NPWP yang dibandingkan adalah sepanjang 9 (sembilan) digit dari depan, karena kewajiban registrasi adalah hanya 1 (satu) kali untuk tiap-tiap importir. Ada beberapa proses importasi atas barang-barang yang dikecualikan dari kewajiban untuk melakukan proses registrasi importir berdasarkan Keputusan Bersama Direktur Jenderal Bea dan Cukai dan Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri NO: KEP-03/BC/2003 dan NO: 01/DAGLU/KP/I/2003 tanggal 17 Januari 2003 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Tertib Administrasi Importir. 3. Penyerahan Jaminan. Dalam sistem aplikasi pelayanan PIB, jika ada nilai pungutan yang ditangguhkan dalam data PIB maka harus dipertaruhkan jaminan. Jaminan tersebut adalah Surat Tanda Terima Jaminan (STTJ) untuk penangguhan pungutan dengan jenis fasilitas KITE dan Bukti Penerimaan Jaminan (BPJ) untuk penangguhan pungutan dengan jenis fasilitas selain KITE. 4. Penolakan/reject PIB Dokumen PIB yang diajukan akan ditolak/direject secara otomatis oleh aplikasi pelayanan PIB dalam hal : Data PIB tidak lengkap dan atau tidak benar. Pengisian data BC 11 tidak benar. Pemberitahu (importir dan atau PPJK) sedang diblokir. PIB dengan status konfirmasi pembayaran dan telah lewat waktu data SSPCP belum ada. PIB dengan status konfirmasi skep ijin setelah lewat 3 (tiga) hari kerja dokumen yang dipersyaratkan tidak diajukan.
3

PIB penangguhan yang wajib dipertaruhkan jaminan tetapi data jaminan belum ada pada aplikasi. Skep ijin PPJK dalam dokumen PIB tersebut belum/tidak ada. Jaminan atas PPJK telah habis atau kurang. Importir belum mendapatkan nomor registrasi dan telah melakukan satu kali proses importasi. NPWP pada PIB berbeda dengan NPWP pada data SSPCP (9 digit). 5. Jenis Pemblokiran Blokir Instruksi Khusus; Dasarnya adalah adanya surat, baik dari KPPBC, KWBC maupun KP DJBC, untuk melakukan pemblokiran atas kegiatan importasi suatu perusahaan. Blokir Hardcopy PIB; Apabila lewat tanggal jatuh tempo berkas PIB belum diserahkan ke KPPBC. Blokir Notul/SPKPBM; Apabila lewat tanggal jatuh tempo, hutang SPKPBM belum dilakukan pelunasan. Blokir Hutang Pembayaran Berkala; Apabila lewat tanggal jatuh tempo, hutang pembayaran berkala belum dilakukan pelunasan. 6. Penetapan Jalur Merah. Dalam sistem aplikasi saat ini, hal-hal yang menyebabkan dokumen PIB ditetapkan jalur merah (periksa fisik) adalah : Jenis Impor Sementara. Jenis Impor Re-impor. Jenis Impor Tempat Penimbunan Berikat. Random. Komoditi ditetapkan oleh Pemerintah. Analisis Resiko (Profil Importir dan Profil Komoditi). PIB Penangguhan Berikut ini disampaikan tentang matrikulasi penjaluran dalam sistem aplikasi berdasarkan analisis resiko untuk kantor non KPU.

Komoditi Importir High Medium Low Prioritas

Low

High

Tap. Pem

MH (30%) HH HL HP

MH (100%) MM (30%) HM HP

MH (100%) MM (30%) ML (10%) MP (10 %)

Berikut ini disampaikan tentang matrikulasi penjaluran dalam sistem aplikasi pelayanan impor berdasarkan analisis resiko untuk kantor KPU Tanjung Priok. Komoditi Importir Very High High Medium Low MITA Non Prioritas MITA Prioritas 7. Penetapan klasifikasi, pembebanan, dan/atau nilai pabean KPPBC dengan sistem PDE, disket dan manual, baik PIB Jalur Hijau maupun PIB Jalur Merah proses penetapan dilakukan oleh Pejabat Pemeriksa Dokumen. 8. Penelitian PIB yang termasuk kriteria Barang Tata Niaga (lartas) pada KPU Tanjung Priok dilakukan oleh PFPD. 9. Pembayaran Bea Masuk. HP HP HP MH (100%) Kuning HH HL HT MH (100%) MH (100%) Kuning HM HT MH (100%) MH (100%) MM (30%) ML (10%) Kuning Low Medium High

Pembayaran Bea Masuk, Cukai, dan PDRI dilakukan di Bank Devisa Persepsi, dengan cara: pembayaran biasa; atau pembayaran berkala. Untuk Kantor Pabean yang telah menerapkan sistem PDE Kepabeanan, pembayaran Bea Masuk, Cukai, dan PDRI dilakukan di Bank Devisa Persepsi yang on-line dengan sistem PDE Kepabeanan yang

sekota/sewilayah kerja dengan Kantor Pabean yang bersangkutan. B. ALUR PROSES PELAYANAN DATA PIB Dengan keluarnya Peraturan Dirjen nomor P-19/2005 maka terjadi perubahan pada alur proses data PIB antara lain perubahan pada proses hasil keputusan analyzing point, tidak adanya proses ijin/cek pre-notification serta adanya pemeriksaan jabatan. Berikut ini alur proses data PIB setelah adanya perubahan pada Kep-07/2003 (sesuai P-19/2005).

FLOW DATA PELAYANAN PIB ( APLIKASI IMPOR P-19/2005 ) Kantor Pelayanan BC


Bank SSPCP PIB SSPCP Start PIB Valid Validasi Valid Cek Bayar Cek An.Point Y Merah IP Tunggu SSPCP Terima Analyzing Point Periksa Fisik T Hijau Hi.Co SPPB Asal Merah/ Tdk ada Notul PFPD Notul SSPCP SPKPBM Imp Prioritas Penjaluran Prioritas SPPB

Reject Reject I M P O R T I R

Tdk Valid Tdk Ada

Konf. Bayar

Reject (3 Hari SSPCP Tdk Ada ) Konf. Skep.

> 3 hari
SPJM

SPKPBM

Skep. Brg Lar/Bts Reject (3 Hari Skep Tdk Ada ) Reject Brg Larangan Periksa Jabatan

Penyelesaian SPKPBM SPPB (Asal Merah )

SPKPBM

SPPB SPPB

Gate

END

Barang Keluar

Adapun penjelasan dari tiap-tiap proses yang ada pada sistem aplikasi pelayanan PIB adalah sebagai berikut :

Validasi. Cek Kebenaran dan Kelengkapan Data Cek Blokir ( HC, IK , SPKPBM , Hutang ) Cek NPP ( PPJK ) Nomor dan masa berlaku Cek Registrasi Importir Cek Bayar Pembayaran melalui Bank, perekaman di perbendaharaan Beda Nilai Kurs = REJECT SSPCP Tidak Ada atau Jumlah Pungutan di SSPCP Tidak Sesuai dengan Jml

Pungutan di PIB maka Respon Konfirmasi Pembayaran ( Pemberitahuan bahwa SSPCP dari Bank Belum Ada//Belum Direkam/Nilai Pembayaran Kurang) Pengecekan PNBP Tunggu SSPCP Tunggu SSPCP dari Bank (PDE) Jika lebih dari 3 ( tiga ) hari tidak ada = REJECT Cek Analyzing Point Kriteria PIB yang memerlukan Cek Pejabat Analyzing Point adalah berdasarkan Profil Barang Larangan dan Pembatasan Pengecualian Jika Importir PRIORITAS Analyzing Point Teliti Uraian Barang dan No. Skep Pembatasan yang diserahkan. Dapat memberikan Respon Konfirmasi Skep Barang Pembatasan, jika + 3 (tiga) hari Skep Tidak Datang, PIB di reject Dalam hal ditetapkan sebagai barang larangan data PIB direject Penjaluran Penjaluran ditetapkan berdasarkan jenis impor, jenis komoditi dan Analisis Resiko pada Profil Importir dan Profil Komoditi, Random Merah, Random Hi-Co utk PIB Jalur Hijau. Periksa Fisik Penunjukan PFPB berdasarkan urutan kesiapan melakukan pemeriksaan. LHP Direkam ke Komputer

Proses pemeriksaan fisik sampai perekaman LHP maksimal 3 (tiga) hari kerja sejak penetapan jalur. Pemeriksaan dapat dilakukan dengan HiCo Scan. Hico Scan Random dari PIB Jalur Hijau per Importir Hasil Hi.co direkam ke Komputer oleh Analis Hi.Co Keputusan Pejabat Hi-Co : - Perlu dilakukan Pemeriksaan Fisik - Penunjukan Pemeriksa Barang dan Cetak IP - Penunjukan Pemeriksa Dokumen -Tidak Perlu dilakukan Pemeriksaan Fisik PFPD Untuk KPPBC Disket Untuk KPPBC PDE PFPD Tunggal ( tidak ada PFPD merah/Hijau ). PFPD Merah/ Hijau.

Meneliti Dokumen PIB: Klasifikasi, Jumlah Jenis Barang dan Harga. INP. Ajukan Contoh ke Laboratorium. Perhitungan Denda ( Notul ). Atensi PIB yg di-NI. SPKPBM Otomatis jika ada Notul dari PFPD akan terbit SPKPBM Untuk notul dan SPKPBM karena tarif anti dumping atau safe guard proses penerbitannya secara manual. Penyelesaian SPKPBM - Pelunasan di Bank on line (PDE) - Perekaman SSPCP di Perbendaharaan (Non PDE) - Keberatan, Teguran, Surat Paksa dan SP3DRI, SPMP (Penyitaan), Lelang. Gate Mencocokkan SPPB dari Importir dengan SPPB di Komputer KPPBC.

C. Hubungan Aplikasi Pelayanan Impor (PIB) Dengan Aplikasi Lain. 1. Aplikasi DJBC (Data Warehouse) Data PIB yang diproses oleh KPPBC diperlukan datanya oleh aplikasi lain di DJBC misalnya aplikasi data warehouse. Aplikasi data warehouse memerlukan data PIB sebagai sumber data untuk mengetahui realisasi data impor termasuk data penerimaan. Informasi ini juga diperlukan oleh aplikasi dan pejabat untuk membuat keputusan terkait dengan kegiatan importasi yang dilakukan oleh suatu perusahaan dan data impor secara nasional. 2. Aplikasi KITE Data PIB yang diproses oleh KPPBC diperlukan datanya oleh aplikasi pelayanan KITE di Kantor Wilayah. Aplikasi KITE di Kantor Wilayah memerlukan data PIB untuk mengetahui data-data realisasi barang impor yang diajukan oleh perusahaan fasilitas KITE yang berada dalam pengawasannya dalam rangka proses pemeriksaan dan pengujian BCLKT01 dan BCLKT02. Selain mengirimkan data PIB ke aplikasi KITE kantor wilayah, aplikasi pelayanan impor juga menerima data dari aplikasi KITE Kantor Wilayah: Data SK Pembebasan Data Surat Tanda Terima Jaminan (STTJ). 3. Aplikasi Profil Pusat Di dalam aplikasi pelayanan impor (PIB) terdapat data-data referensi yang digunakan dalam proses pelayanan maupun pengawasan data PIB. Data tersebut antara lain adalah data pos tarif, profil harga I dan data barang larangan pembatasan. Data referensi tersebut di atas pengelolaannya dilakukan oleh direktorat terkait pada kantor pusat DJBC. Untuk mengelola data tersebut digunakan aplikasi profil pusat. Pengelolaan ini meliputi update maupun insert data. Data hasil pengelolaan aplikasi profil pusat ini yang dijadikan dasar untuk melakukan perubahan atas data referensi pada aplikasi pelayanan PIB di KPPBC.

2.2. Latihan 1 1. Sebutkan aplikasi yang terkait dengan sistem aplikasi pelayanan impor ! 2. Persyaratan apa yang harus dimiliki oleh importir jika akan mengajukan dokumen PIB ? Jelaskan ! 3. Pengecekan apa saja yang dilakukan oleh aplikasi pelayanan pada saat proses validasi? 4. Sebutkan kriteria dalam sistem aplikasi, yang menyebabkan dokumen PIB ditetapkan untuk pemeriksaan fisik ! 5. Sebutkan hal-hal yang menyebabkan data PIB akan direject secara otomatis dalam sistem aplikasi ! 6. Apakah yang menjadi dasar pengecekan dokumen PIB termasuk dalam Analyzing Point? 7. Jelaskan jenis-jenis pemblokiran dalam sistem aplikasi pelayanan impor ! 8. Dalam hal apa dokumen PIB yang diajukan akan dilakukan pengecekan BPJ? 9. Jelaskan proses penetapan klasifikasi, pembebanan, dan/atau nilai pabean pada KPPBC dengan sistem PDE, disket serta manual! 10. Dalam hal apa PIB yang masuk Analyzing Point akan direject ? Jelaskan ! Kerjakan Latihan 1 di atas dan cocokkan kembali dengan Kegiatan Belajar 1 hingga Saudara yakin jawaban yang diberikan telah benar/sesuai dengan materi yang diajarkan. 2.3. Rangkuman Prinsip-prinsip dalam Aplikasi Pelayanan Impor (PIB) meliputi tata cara dan persyaratan pengajuan PIB, penyerahan jaminan, reject, pemblokiran,

pemeriksaan pabean, penetapan jalur merah, penetapan klasifikasi, pembebanan, dan/atau nilai pabean, dan pembayaran bea masuk. Alur proses pelayanan PIB berubah dengan adanya P-19/BC/2005, dimana terjadi perubahan pada proses hasil keputusan analyzing point, tidak adanya proses ijin/cek pre-notification serta adanya pemeriksaan jabatan.

10

3. Kegiatan Belajar 2

PEMBUATAN PIB, SISTEM APLIKASI PELAYANAN IMPOR (PIB) VERSI SERVER DAN PC
3.1. Uraian dan contoh Pada kegiatan belajar 2 ini, akan diuraikan mengenai proses pembuatan data PIB dengan modul aplikasi sampai dengan pengajuan data PIB ke KPPBC, proses penanganan data PIB pada KPPBC secara garis besar dengan menggunakan aplikasi pelayanan PIB versi server, pengelolaan perbendaharaan, sekilas tentang pengelolaan PNBP serta penjelasan tentang aplikasi impor versi PC. a. Pembuatan PIB pada Perusahaan 1. Modul Aplikasi PIB DJBC telah menyediakan aplikasi untuk membantu perusahaan membuat dokumen-dokumen yang berkaitan dengan sistem dan prosedur impor (PIB). Aplikasi ini lebih dikenal dengan nama Modul aplikasi PIB (Pemberitahuan Impor Barang). Modul PIB yang kompatible dengan aplikasi impor di KPPBC adalah versi 4.1 ke atas. 2. Membuat PIB Dengan menggunakan modul aplikasi PIB, perusahaan dapat membuat dokumen PIB. Modul aplikasi PIB juga telah dilengkapi dengan modul validasi yang menjamin agar data yang dibuat valid dan memenuhi standar yang dipakai oleh Bea dan Cukai. Berikut ini diuraikan sekilas tentang layar pembuatan dokumen PIB di modul aplikasi PIB, dimulai dari layar header PIB. Data-data yang perlu dimasukkan pada modul aplikasi pembuatan PIB antara lain: Jenis PIB, jenis impor dan jenis pembayaran Data Pemasok berupa Nama, Alamat, Negara Data Perusahaan (importir maupun ppjk) berupa NPWP, Nama, Alamat Data Sarana Pengangkut (Nama, Voy, Tgl Kedatangan) Data Pelabuhan (Muat dan Bongkar)
11

Kode Valuta, Brutto, Netto Data Invoice, Packing List, BL/AWB Dokumen Pendukung Lainnya (mis : SKEP Fasilitas/Ijin) Data Detail Barang (HS, Uraian, Jml Satuan, Harga Barang, Satuan Barang) Data Kontainer dan Kemasan

Gambar: Layar Header PIB pada Aplikasi Modul PIB 3. Pencetakan PIB Setelah selesai pembuatan PIB yang ditandai dengan status Ready maka kemudian dilakukan proses pencetakan data PIB. Standar pencetakan menggunakan kertas ukuran A4. Setelah proses pencetakan selesai kemudian dilakukan legalisasi terhadap hasil cetakan PIB oleh perusahaan, dalam hal ini petugas yang berwenang pada perusahaan tersebut. 4. Pembayaran Pungutan PIB Pembayaran atas pungutan impor dalam dokumen PIB dilakukan di bank devisa persepsi mengunakan dokumen SSPCP. Dokumen SSPCP dibuat berdasarkan data pungutan bayar pada cetakan PIB. Khusus untuk pengajuan

12

dokumen PIB ke KPPBC secara PDE maka bank tempat pembayaran adalah bank devisa persepsi yang sudah online/terkoneksi dengan KPPBC tersebut (sistem pembayaran impornya sudah online dengan PDE kepabeanan), karena setelah proses pembayaran dilakukan maka bank harus mengirim data pembayaran secara elektronik ke KPPBC. 5. Mempertaruhkan Jaminan Pungutan PIB Dalam hal ada pungutan dalam data PIB yang wajib dipertaruhkan jaminannya maka importir/PPJK harus menyelesaikan jaminan tersebut terlebih dahulu, baru melakukan pengiriman data PIB ke KPPBC. Dalam hal fasilitas KITE maka pengurusan jaminan dilakukan di KITE KWBC, untuk fasilitas lainnya pengurusan jaminan dilakukan di KPPBC (Seksi Perbendaharaan). 6. Pengiriman data PIB ke KPPBC Proses pengiriman data PIB ke dalam aplikasi pelayanan impor dibedakan menjadi 2, yaitu via disket dan PDE. Berikut ini penjelasan untuk masingmasing cara pengiriman. Pengiriman dengan media disket. Pengiriman dengan media disket dilakukan dalam hal pelayanan impor di kantor pelayanan adalah dengan menggunakan disket. Prosesnya adalah dengan melakukan transfer data PIB ke media disket. Data hasil transfer PIB berupa file txt, sebanyak 7 file. Pengiriman secara PDE. Pengiriman data PIB secara PDE dilakukan dalam hal pelayanan impor di kantor pelayanan adalah secara PDE. Prosesnya dimulai dari pembentukan EDIFACT ditandai dengan berubahnya status data PIB dari ready menjadi queued. Kemudian dilanjutkan dengan proses komunikasi data PIB atau CUSDEC (customs declaration), apabila komunikasi berhasil dilakukan maka status PIB akan menjadi delivered.

13

A. Sistem Aplikasi Pelayanan Impor (PIB) Versi Server/Oracle (1) Spesifikasi hardware, software dan database a. Hardware, Software Dan O/S Aplikasi pelayanan impor (PIB) versi Oracle dibuat menggunakan Oracle Developer Patch 6i. Aplikasi pelayanan ini ditempatkan pada server IBM Regatta PSeries IBM tipe P 690, P 670, P 650, P 630 dan P 610 dengan O/Snya AIX. Aplikasi diletakkan di IAS (Internet Aplication Server) berbasis web client. Sedangkan user memakai PC sebagai client dengan operating system Windows. Untuk menjalankan aplikasi pada client diperlukan software internet explorer atau browser lainnya. Disamping itu juga diperlukan adanya Oracle J-Initiator. b. Database Database aplikasi impor (PIB) merupakan database Oracle 9i. Untuk tipe server tertentu posisi server database ditempatkan terpisah dengan server aplikasi, misalnya untuk server tipe P 690 dan P 670. Sedangkan untuk server tipe P 650, P 630 dan P 610 posisi server database ditempatkan sama dengan aplikasi tetapi pada partisi yang berbeda. (2) Pelayanan PIB dengan Aplikasi Berdasarkan fungsinya maka sistem aplikasi pelayanan impor dapat dikategorikan menjadi 3 (tiga) yaitu : 1. Pelayanan Pelayanan dokumen PIB Pelayanan fasilitas impor 2. Pengawasan Barang tata niaga Pembayaran BM dan PDRI Fasilitas impor 3. Pelaporan Kegiatan importasi Barang impor
14

Pembayaran BM dan PDRI Pelunasan hutang BM dan PDRI Proses pelayanan impor Sebelum dijelaskan tentang proses pelayanan terhadap data PIB, akan diuraikan tentang status data PIB dalam sistem aplikasi pelayanan PIB. Status tersebut adalah : Uraian Status Validasi Konf.STTJ Konf. Bank Konf Lebih Bayar Analyzing Point Konf. AP Reject Brg Larangan Periksa Fisik Periksa Jabatan Hi-Co Scan PFPD Tunggu DNP SPKPBM Belum SPPB Tambah Jaminan Gate Brg. Keluar Keterangan
Waktu Selesai di-Validasi Waktu Cek STTJ Waktu terseleksi sebagai Payment Verification / Konfirmasi Pembayaran Waktu Konfirmasi Lebih Bayar Waktu terseleksi sebagai Barang Larangan / Pembatasan Waktu Respon Konfirmasi Skep. Barang Larangan / Pembatasan Waktu Ditetapkan Sebagai Barang Larangan Waktu SPJM Waktu Ditetapkan Untuk Pemeriksaan Jabatan Waktu Hico scan Waktu selesai pengisian LHP Waktu diajukan inp(informasi nilai pabean) Waktu SPKPBM ( belum SPPB ) Waktu Harus Tambah Jaminan ( PFPD ) Waktu SPPB Waktu keluar dari gate

Status tersebut di atas adalah status data PIB mulai dari selesai validasi pada saat penerimaan data sampai pengeluaran barang yaitu saat entri di gate pengeluaran barang. Status PIB akan termonitor jika semua penyelesaiannya adalah melalui aplikasi. Adapun alur proses pelayanan PIB dengan menggunakan aplikasi pelayanan adalah sebagai berikut :

15

1. Persiapan a. Seting Aplikasi Untuk bisa melakukan pelayanan data PIB perlu diperhatikan seting pada aplikasi ini. Seting yang harus dilakukan meliputi seting kode kantor, parameter aplikasi, nomor dokumen dan petugas. Seting ini biasanya dilakukan oleh petugas operator konsul. b. Scan dengan AntiVirus Untuk menghindari menularnya virus komputer, khusus bagi KPPBC yang melakukan pelayanan impor secara disket sebaiknya mempersiapkan program antivirus versi terbaru. Selanjutnya terhadap setiap disket data PIB yang diajukan sebaiknya diperiksa dengan program anti virus terbaru. Pastikan disket tersebut tidak bervirus. 2. Penerbitan BPJ (Bukti Penerimaan Jaminan) Proses penerbitan BPJ adalah proses pelayanan yang pertama kali atas dokumen PIB dalam hal ada pungutan-pungutan dalam PIB tersebut yang wajib dipertaruhkan jaminannya. Program untuk penerbitan BPJ ada pada menu Perbendaharaan Pengelolaan Jaminan Perekaman Bukti Penerimaan Jaminan. Yang harus diperhatikan dalam proses penerbitan BPJ adalah : Kebenaran atas SKEP fasilitas sebagai dasar penjaminan Nilai pungutan dalam cetakan PIB yang wajib dipertaruhkan Nilai jaminan dalam bank garansi/customs bond/jaminan tunai. Lembaga/instansi penjamin diblokir atau tidak. Setelah perekaman BPJ selesai maka secara otomatis akan terbit cetakan BPJ yang sudah ada nomor dan tanggalnya. Cetakan BPJ setelah ditandatangani oleh pegawai yang berwenang kemudian diserahkan kepada importir/ppjk yang mengurus jaminan. Nomor BPJ itulah yang kemudian dientrikan ke dalam modul PIB, sebelum data PIB ditransfer/dikirimkan ke KPPBC. 3. Penerimaan data PIB

16

Secara umum proses ini adalah awal dari proses pelayanan PIB. Proses penerimaan data PIB dalam aplikasi pelayanan impor dibedakan menjadi 2 (dua) cara, yaitu sistem disket dan sistem PDE. A. Sistem disket Pegawai yang bertugas menerima dokumen melakukan kegiatan sebagai berikut : Menerima disket dan lembar pengantar yang berisi nomor-nomor pengajuan data PIB. Menerima hasil cetakan PIB dalam rangkap 3 (tiga). Menerima dokumen pelengkap pabean yang diwajibkan, SSPCP atau bukti penerimaan jaminan/Surat Tanda Terima Jaminan, surat persetujuan/ijin yang diterbitkan oleh instansi teknis dalam hal importasi memerlukan perijinan/rekomendasi, dan mencocokkan kebenaran dokumen-dokumen tersebut. Meneliti keakuratan dan kebenaran pengisian data PIB pada cetakan PIB dengan cara membandingkannya dengan dokumen pelengkap pabean sesuai ketentuan yang berlaku. Mengembalikan berkas PIB apabila tidak lengkap. Meneliti kondisi disket dan melakukan scan virus. Apabila kondisi disket baik dan tidak terinfeksi virus, proses dapat dilanjutkan. Melakukan transfer data dalam disket ke dalam aplikasi pelayanan impor KPPBC. Setelah loading data berhasil dilakukan, kemudian dilanjutkan dengan proses validasi data PIB. Proses validasi ini berfungsi untuk melakukan pengecekan kelengkapan dan kebenaran atas data PIB yang diajukan, termasuk pengecekan data bukti penyerahan jaminan (BPJ) dan STTJ. Setelah proses validasi selesai, maka akan muncul pesan di layar yang menyatakan apakah terhadap data PIB tersebut diterima atau ditolak/reject. Dalam hal data diterima, maka terhadap data PIB tersebut akan diberikan status validasi dan asal data PIB adalah D (disket). Dalam hal direject maka data PIB akan didelete.

17

Setelah proses loading berhasil dilakukan maka disket dikembalikan kepada importir disertai bukti penerimaan. Selanjutnya berkas PIB diserahkan kepada Pejabat yang

mendistribusikan dokumen. Dalam hal ada pungutan yang wajib dibayar maka proses pelayanan selanjutnya adalah perekaman data SSPCP atas dokumen PIB. B. Sistem PDE Khusus pelayanan impor secara PDE tidak ada pegawai yang bertugas menerima data PIB. Data PIB atau CUSDEC diterima melalui jaringan elektronik. Program untuk loading data PIB PDE tepatnya pada menu OKDD Program Otomatis Load Data PIB EDI/ SSPCP / Respon EDI. Pada layar tersebut akan ditampilkan jumlah data PIB yang diterima dan ditolak/reject serta data SSPCP yang diterima dari bank dan jumlah data respon yang dikirimkan. Program loading otomatis ini berfungsi untuk : Melakukan proses penerimaan dan validasi data PIB. Proses penerimaan data dimulai dari penerimaan file data flat PIB dari jaringan komunikasi ke server aplikasi. Selanjutnya dilakukan proses validasi. Hasil proses validasi apabila kondisi valid maka terhadap data PIB tersebut akan diberikan status validasi. Dengan nilai asal data pada data PIB adalah E (elektronik). Melakukan proses penerimaan dan validasi data SSPCP. Proses penerimaan data dimulai dari penerimaan file flat SSPCP dari jaringan komunikasi ke server aplikasi. Selanjutnya file tersebut akan dilakukan proses validasi. Hasil proses validasi apabila kondisi valid maka data akan dipindahkan ke tabel data. Data SSPCP ini sebagai dasar proses rekonsiliasi dengan data PIB. Melakukan proses pengiriman respon PIB dan SSPCP. Terhadap semua respon hasil proses pelayanan dokumen PIB harus dikirimkan secara otomatis kepada importir/pemberitahu. Proses pengiriman respon dimulai dari pembentukan file respon dalam server aplikasi dan selanjutnya mengirimkannya ke jaringan komunikasi.

18

Selanjutnya terhadap data hasil penerimaan dengan status validasi, baik secara PDE maupun disket tersebut akan dilakukan pengecekan terhadap data pembayarannya. Dalam data pembayaran tidak ada atau kurang maka data PIB tersebut akan diberikan status konfirmasi pembayaran. Proses pelayanan selanjutnya adalah perekaman data SSPCP (lihat point 4). Dalam hal tidak ada pungutan yang wajib dibayar atau data pembayaran sudah sesuai maka akan dilakukan proses pengecekan barang larangan atau batasan kecuali untuk data PIB yang diajukan oleh importir yang mendapat fasilitas jalur prioritas. Apabila termasuk dalam katagori barang larangan atau batasan maka PIB akan dilanjutkan dengan proses pemeriksaan analyzing point, jika tidak termasuk dalam katagori barang larangan atau batasan maka akan dilanjutkan dengan proses penjaluran, yaitu jalur hijau atau jalur merah (pemeriksaan fisik). Terhadap data PIB yang sudah diputuskan analyzing point maka data PIB tersebut akan diberikan status analyzing point. Proses pelayanan selanjutnya adalah pemeriksaan data PIB analyzing point (lihat point 5). Untuk PIB jalur merah maka data PIB tersebut akan diberikan kode status Periksa Fisik dan terbit respon SPJM (Surat Pemberitahuan Jalur Merah). Proses pelayanan selanjutnya adalah pemeriksaan fisik barang. Untuk PIB jalur hijau maka akan terbit respon SPPB (Surat Persetujuan Pengeluaran Barang). PIB jalur hijau dibedakan menjadi 3 (tiga), yaitu jalur hijau prioritas, hijau dan jalur hijau wajib hi-co scan. Data PIB jalur hijau dan hijau prioritas akan diberikan status Gate dan proses pelayanan selanjutnya adalah pengeluaran barang/perekaman di gate. Sedang-kan untuk jalur hijau hi-co scan diberikan status Hi-co Scan dan proses selanjutnya adalah pelayanan atas x-ray container (hi-co scan). Berbeda dengan sistem disket maka di dalam aplikasi pelayanan impor secara PDE, pada saat penerimaan data PIB tidak ada proses penelitian atas cetakan dokumen PIB dan dokumen pelengkap pabean lainnya karena dokumen belum diserahkan. Proses penelitian baru dilakukan pada saat penyerahan berkas PIB oleh importir/ pemberitahu.

19

4. Perekaman penerimaan berkas PIB. Sesuai dengan Kep-07/2003 dan P-19/2005, proses penerimaan berkas PIB harus dilakukan perekamannya dalam sistem aplikasi. Proses perekaman ini berfungsi untuk memonitor dan membuka pemblokiran importir yang disebabkan oleh berkas PIB sekaligus untuk melakukan pemblokiran secara otomatis jika berkas PIB belum diserahkan. Program perekaman ada pada menu Penerimaan Dokumen Penerimaan Hard Copy PIB. Secara garis besar proses penerimaan berkas PIB dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu data PIB yang belum jalur/belum mendapatkan nomor pendaftaran (PIB konfirmasi pembayaran, PIB Analyzing Point) dan PIB yang sudah mendapatkan nomor pendaftaran/sudah jalur. Yang perlu diperhatikan dalam melakukan penerimaan dokumen PIB dan dokumen pelengkap pabean lainnya adalah : Nomor aju pada berkas PIB dengan nomor aju pada data komputer. Identitas importir. Keaslian dan kelengkapan dari berkas PIB dan dokumen pelengkap pabean yang diwajibkan. 5. Penerimaan dan perekaman data SSPCP Dalam hal ada pungutan yang dibayar pada data PIB maka data pembayaran (SSPCP) harus dimasukkan dalam sistem aplikasi pelayanan impor agar data PIB dapat diproses lebih lanjut. Jika aplikasi pelayanan impor secara PDE maka data SSPCP tidak perlu dilakukan entri oleh pegawai, karena secara otomatis data SSPCP akan dikirim secara elektronik oleh bank tempat pembayaran ke KPPBC. Perekaman SSPCP dilakukan jika sistem pelayanan impor adalah dengan disket. Perekaman SSPCP dalam aplikasi pelayanan baru dapat dilaksanakan sesudah proses loading data PIB berhasil dilakukan, yaitu jika status data PIB adalah konfirmasi pembayaran. Program untuk melakukan perekaman data SSPCP ada pada menu Perbendaharaan SSPCP Perekaman Pembayaran (SSPCP). Yang perlu diperhatikan dalam perekaman data SSPCP adalah :

20

Kesamaan data nomor pengajuan (car) pada PIB dan SSPCP Kesamaan Data importir (NPWP) pada PIB dan SSPCP Tanggal SSPCP dan nilai kurs harus sama dengan periode kurs dalam dokumen PIB Nilai pungutan yang dibayar dalam dokumen SSPCP Setelah data SSPCP selesai direkam maka data PIB dan data SSPCP akan diproses lebih lanjut. 6. Pemeriksaan data PIB yang masuk analyzing point. Untuk melakukan pengelolaan PIB analyzing point dari aplikasi, pilih menu Analyzing Point Penyelesaian PIB Analyzing Point (Larangan Pembatasan). Yang harus diperhatikan dalam penanganan PIB analyzing point : Apakah benar barang yang diberitahukan dalam PIB tersebut termasuk dalam larangan dan atau batasan. Dalam hal ditetapkan sebagai barang pembatasan, maka harus dipastikan bahwa atas importasi barang tersebut sudah ada surat ijin atau keputusan dari instansi terkait. Proses pemeriksaan data PIB analyzing point, secara garis besar dibagi menjadi 2, yaitu pemeriksaan atas PIB analyzing point yang masih baru dan PIB analyzing point yang berstatus konfirmasi aju dokumen. Uraian proses pemeriksaan data PIB status analyzing point yang masih baru adalah sebagai berikut : Semua data barang yang dikatagorikan dalam barang dibatasi dan atau dilarang (lartas) akan ditampilkan di layar pemeriksaan analyzing point. Periksa secara mendalam untuk masing-masing barang yang ditampilkan, apakah memang benar barang tersebut termasuk dalam katagori larangan atau pembatasan. Jika hasil penelitian kedapatan barang tersebut tidak termasuk dalam barang larangan atau pembatasan maka isikan hasil penelitian dan pilih keputusan bukan barang larangan/ pembatasan. Setelah keputusan ini disimpan maka terhadap data PIB akan dilakukan penjaluran sesuai profil yang ada.

21

Jika hasil penelitian kedapatan barang tersebut termasuk dalam barang pembatasan maka pastikan apakah sudah ada dokumen keputusan/surat ijin impor atas barang-barang tersebut. Jika sudah ada, periksa dokumen keputusan/surat ijin sampai dapat disimpulkan bahwa dokumen itu benar, sah dan masih valid/berlaku. Selanjutnya isikan nomor dan tanggal dokumen ijin tersebut ke dalam sistem aplikasi jika data dokumen belum diberitahukan dalam data PIB. Kemudian apabila sudah yakin bahwa keputusan/ surat ijin impor ada dan benar, maka pilih keputusan Ada Skep. Setelah keputusan ini disimpan maka terhadap data PIB akan dilakukan penjaluran sesuai profil yang ada. Jika hasil penelitian kedapatan barang tersebut termasuk dalam barang pembatasan dan belum dapat dipastikan apakah dokumen ijinnya sudah ada maka mintakan dokumen ijin yang sebenarnya untuk diajukan. Permintaan pengajuan dokumen dengan cara melakukan perekaman kirim respon umum melalui tombol Respon Konf SKEP. Setelah data disimpan maka data PIB akan berstatus konfirmasi aju dokumen dan menunggu proses pengajuan dokumen ijin dari importir/pemberitahu. Respon akan dikirimkan secara otomatis ke modul PIB di tempat importir/pemberitahu dalam hal pelayanan impor secara PDE sedangkan untuk pelayanan secara disket maka respon Konfirmasi Aju Dokumen akan tercetak ke printer kemudian diserahkan kepada importir/ pemberitahu. Apabila lewat dari 3 (tiga) hari kerja sejak tanggal keputusan konfirmasi skep ijin terhadap data PIB ini tidak diselesaikan keputusan finalnya maka data PIB akan direject/ditolak dan dihapus dari database. Dasar rejectnya adalah atas PIB tersebut dianggap belum ada skep ijinnya. Jika hasil penelitian kedapatan barang tersebut termasuk dalam barang pembatasan dan dokumen keputusan/surat ijin impor atas barang-barang tersebut tidak ada, maka pilih keputusan Tdk Ada Skep Ijin Pembatasan. Setelah keputusan ini disimpan maka terhadap data PIB akan direject/ditolak dan dihapus dari database karena skep ijinnya tidak ada. Jika hasil penelitian kedapatan barang tersebut termasuk dalam barang larangan maka pilih keputusan Barang Larangan. Setelah keputusan ini disimpan maka terhadap data PIB akan direject/ditolak karena barang yang diberitahukan termasuk dalam barang larangan. Khusus reject karena
22

diputuskan sebagai barang larangan data PIB-nya tidak dihapuskan dari database, hanya statusnya berubah menjadi Reject Barang Larangan dan atas data PIB tersebut tidak bisa diproses lebih lanjut. Proses ini adalah sesuai dengan peraturan nomor P-19/BC/2005. Sebelum terbitnya peraturan P-19, apabila PIB diputuskan sebagai barang larangan maka atas data PIB tersebut akan diproses lebih lanjut dan ditetapkan jalur merah (periksa fisik). Dengan sistem yang ada sekarang maka petugas analyzing point harus sangat berhati-hati dan yakin benar apabila akan mengambil keputusan sebagai barang larangan. Untuk proses pemeriksaan data PIB analyzing point yang berstatus konfirmasi aju dokumen sedikit berbeda dengan PIB status analyzing point yang masih baru. Perbedaannya adalah bahwa atas data PIB ini baru bisa diproses lebih lanjut oleh petugas setelah ada kepastian dari importir/pemberitahu tentang ada atau tidaknya dokumen pelengkap yang harus diajukan. Di dalam sistem aplikasi data PIB ini mempunyai status Respon Konf AP. Adapun proses pemeriksaan yang berbeda adalah sebagai berikut : Terhadap data PIB tersebut harus diambil keputusan finalnya dan tidak dapat diputuskan untuk aju dokumen kembali. Jika importir/pemberitahu sudah memberitahukan bahwa mereka tidak dapat mengajukan/tidak memiliki dokumen ijin impornya, maka pilih keputusan Tdk Ada Skep Ijin Pembatasan. Setelah keputusan ini disimpan maka terhadap data PIB akan direject/ditolak dan dihapus dari database karena skep ijinnya tidak ada. Selain proses tersebut di atas, proses penelitian yang lain sama persis dengan proses pemeriksaan PIB status analyzing point yang masih baru. 7. Proses PIB yang ditetapkan pemeriksaan fisik. Seluruh data PIB yang ditetapkan untuk dilakukan pemeriksaan fisik maka terbit respon Surat Pemberitahuan Jalur Merah (SPJM). Khusus pelayanan secara PDE maka respon secara otomatis akan terkirim ke

importir/pemberitahu sedangkan pelayanan secara disket respon akan tercetak

23

ke printer kemudian oleh petugas bea dan cukai respon ini diserahkan kepada importir/pemberitahu. Pemeriksaan fisik dilakukan setelah diserahkannya copy dokumen PIB dan pelengkap pabean oleh importir/pemberitahu, barang impor telah siap untuk diperiksa dan importir/pemberitahu hadir dalam proses pemeriksaan fisik. Setelah pemeriksaan fisik selesai dilakukan maka proses selanjutnya adalah perekaman atas hasil pemeriksaan fisik barang impor. Sesuai dengan peraturan BC nomor P-19/2005, proses pemeriksaan fisik barang impor harus sudah selesai dilaksanakan paling lambat 3 (tiga) hari kerja sejak tanggal penetapan jalur. Pejabat Pemeriksa Barang harus menyelesaikan pemeriksaan fisik termasuk membuat dan merekam LHP dalam 3 (tiga) hari kerja. Dalam hal lewat 3 (tiga) hari, pemeriksaan tidak dapat dilakukan yang disebabkan importir/kuasanya belum menyerahkan copy dokumen PIB dan dokumen pelengkap pabean, belum menyiapkan barang untuk diperiksa dan tidak hadir untuk pelaksanaan pemeriksaan fisik maka atas dokumen PIB tersebut ditetapkan untuk pemeriksaan secara jabatan atas resiko dan biaya importir. Berdasarkan P-07/BC/2007, atas atas barang impor sejenis atau barang impor yang dikemas dalam kemasan berpendingin ( refrigerated container), pemeriksaan fisik barang dapat dilakukan dengan melalui hi-co scan X Ray container. Keputusan penetapan pemeriksaan barang melalui hi-co scan adalah berdasarkan permohonan dari importir/ pemberitahu atau penetapan pejabat bea dan cukai. Proses selanjutnya lihat penetapan pemeriksaan secara jabatan. 8. Penetapan pemeriksaan secara jabatan. Program perekaman ada di menu PFPD - Penetapan Pemeriksaan Jabatan. Setelah perekaman dilakukan maka data PIB dalam sistem aplikasi statusnya akan menjadi Pemeriksaan Jabatan. Sebelum melakukan perekaman penetapan pemeriksaan jabatan, harus dipastikan lebih dahulu bahwa terhadap PIB tersebut nyata-nyata sudah

24

diputuskan untuk pemeriksaan jabatan oleh pejabat yang berwenang. Termasuk tidak adanya permohonan perpanjangan waktu/penundaan untuk dilakukan pemeriksaan fisik barang yang diajukan oleh importir/pemberitahu. 9. Perekaman hasil pemeriksaan fisik barang impor. Setelah proses pemeriksaan fisik barang dilakukan maka hasil pemeriksaan barang harus direkam dalam sistem aplikasi. Program perekaman ada di menu PFPB - Perekaman LHP. Perekaman LHP dilakukan berdasarkan ikhtisar hasil pemeriksaan fisik yang ditanda tangani oleh pemeriksa barang. Data yang direkam dalam sistem aplikasi meliputi waktu mulai dan selesainya pemeriksaan dan data hasil pemeriksaan secara lengkap. Proses perekaman ini harus sudah selesai dalam jangka waktu 3 (tiga) hari kerja sejak tanggal penetapan jalur. Setelah proses perekaman selesai data PIB mempunyai status PFPD. Dan proses selanjutnya adalah penelitian lebih lanjut oleh PFPD/Kasi Pabean. Yang harus diperhatikan dalam melakukan perekaman adalah informasi yang direkam dalam komputer harus selengkap mungkin sehingga memudahkan bagi PFPD/Kasi Pabean untuk mengambil keputusan hasil pemeriksaan. Terutama informasi tentang uraian barang yang diperiksa berikut dengan spesifikasinya dan jumlah barangnya. Selanjutnya sepanjang data LHP belum direkam dalam aplikasi maka data PIB jalur merah tidak akan dapat diproses lebih lanjut oleh PFPD/Kasi Pabean. Sedangkan untuk perekaman hasil pemeriksaan fisik melalui hi-co scan ada di menu PFPB Perekaman Hasil Hico Scan Jalur Merah. Perekaman

dilakukan berdasarkan ikhtisar hasil pemeriksaan hico yang ditanda tangani oleh analis hico. Data yang direkam dalam sistem aplikasi meliputi waktu mulai dan selesainya proses hi-co dan data hasil pemeriksaan secara lengkap. Berdasarkan hasil pemeriksaan hi-co scan, ada 2 (dua) kemungkinan hasilnya yaitu pertama tidak perlu dilakukan pemeriksaan barang dan dapat diproses lebih lanjut oleh PFPD/Kasi Pabean atau yang kedua perlu dilakukan pemeriksaan fisik barang secara detail karena adanya ketidaksesuaian.

25

10. Penelitian PIB oleh PFPD/Kasi Pabean. Program penelitian lebih lanjut dari PIB jalur merah/hijau terdapat pada menu PFPD Pemeriksaan Lebih Lanjut. Program ini berfungsi antara lain untuk menuangkan keputusan hasil pemeriksaan fisik, penelitian atas klasifikasi pembebanan dan penetapan harga pabean. Petugas PFPD/Kasi Pabean yang dapat melakukan penelitian PIB jalur merah di dalam sistem aplikasi adalah sesuai dengan NIP yang tertera pada SPJM. Dari menu ini PFPD/Kasi Pabean dapat melakukan perubahan data PIB yaitu khusus untuk data detail barangnya saja. Dalam aplikasi impor, proses penelitian atas dokumen PIB jalur hijau tidak jauh berbeda dengan penelitian atas dokumen PIB jalur merah. Yang membedakan adalah proses penelitian atas dokumen PIB jalur hijau dapat langsung dilakukan setelah PIB diputus jalur hijau, sementara untuk PIB jalur merah penelitian baru dapat dilakukan setelah data LHP selesai direkam. Yang perlu diperhatikan dalam penelitian disini adalah : Apakah informasi dari hasil pemeriksaan fisik barang sudah jelas dan lengkap (untuk jalur merah). Apakah barang hasil pemeriksaan sesuai atau tidak dengan yang diberitahukan dalam PIB (untuk jalur merah). Apakah ada barang yang tidak diberitahukan dalam dokumen PIB. Apakah ada NI/NHI atas PIB tersebut. Apakah klasifikasi pembebanannya sudah benar, berdasarkan informasi yang ada. Apakah barangnya termasuk dalam katagori larangan batasan atau tidak. Apakah ada pembebanan dengan tarip 999. Dalam hal ada fasilitas pembebasan/keringanan, apakah surat keputusan fasilitasnya benar dan masih berlaku. Kewajaran nilai pabean dari barang impor. Negara asal barang impor. Jumlah barang impor. Perlu tidaknya dilakukan pemeriksanan laboratorium.

26

Apakah termasuk barang yang terkena aturan tarif anti dumping atau safe guard. Pada dasarnya setiap perubahan yang dilakukan atas data PIB apabila menyebabkan terjadinya kekurangan pembayaran maka secara otomatis akan terbit nota pembetulan dan SPKPBM. Khusus untuk tambah bayar karena adanya tarif anti dumping atau safe guard maka proses nota pembetulan dan penerbitan SPKPBMnya adalah secara manual. Apabila dalam Kep-07/2003 masih memungkinkan terbitnya SPPB dalam hal ada temuan tambah bayar dan atau penambahan jaminan, maka sesuai P-19 hal ini tidak berlaku lagi. Dengan kata lain untuk PIB tambah bayar dan atau tambah jaminan, SPPB baru akan terbit setelah proses pelunasan tambah bayar dan atau proses penambahan jaminan sudah selesai dilakukan. Dalam hal ada tambah bayar maka proses selanjutnya adalah pada penerbitan SPPB untuk PIB jalur merah yang terbit SPKPBM. 11. Penerbitan SPPB untuk PIB jalur merah yang terbit SPKPBM. Program untuk menerbitkan SPPB bagi PIB jalur merah yang diterbitkan SPKPBM terletak pada menu PFPD Penyelesaian SPKPBM (eks PIB Jalur Merah). Pada menu ini PFPD atau Kasi Pabean cukup menekan tombol SPPB untuk melakukan penerbitan SPPB. Proses penerbitan SPPB baru dapat dilakukan setelah SPKPBM atas PIB yang dimaksud statusnya sudah lunas, diajukan keberatan atau dibatalkan. Dalam hal SPKPBM belum lunas, tidak keberatan atau tidak dibatalkan maka tombol SPPB akan disable (tidak bisa diakses). Dalam hal pelayanan impor secara disket, untuk melakukan pelunasan data SPKPBM maka harus dilakukan perekaman data SSPCP atas SPKPBM tersebut. Program perekaman terletak pada menu Perbendaharaan SPKPBM Pelunasan SPKPBM (SSPCP Non EDI). Yang harus diperhatikan dalam perekaman SSPCP ini adalah kebenaran atas nomor dan tanggal spkpbm, kebenaran dan ketepatan atas pungutan yang dibayar antara dokumen SPKPBM dengan dokumen SSPCP. Dalam hal ada perbedaan antara data SPKPBM dengan data SSPCP hasil perekaman maka proses pelunasannya tidak akan berhasil dilakukan.

27

Dalam hal pelayanan secara PDE, maka proses perekaman di KPPBC tidak perlu dilakukan. Data SPKPBM secara otomatis akan menjadi lunas apabila data pembayaran (SSPCP) dari bank pembayaran atas SPKPBM tersebut sudah berhasil dikirim ke KPPBC dan proses rekonsiliasi berhasil dilakukan. 12. Penerbitan SPPB untuk PIB jalur merah yang terbit respon kurang jaminan. Program untuk menerbitkan SPPB bagi PIB jalur merah yang diterbitkan SPKPBM terletak pada menu PFPD Penyelesaian Jaminan (eks PIB Jalur Merah). Pada menu ini PFPD atau Kasi Pabean cukup menekan tombol SPPB untuk melakukan penerbitan SPPB. Proses penerbitan SPPB baru dapat dilakukan setelah kekurangan jaminan atas PIB yang dimaksud statusnya sudah dilakukan penambahan atau dibatalkan. Dalam hal jaminan belum ditambah atau tidak dibatalkan maka tombol SPPB akan disable (tidak bisa diakses). Program perekaman penambahan jaminan terletak pada menu Perbendaharaan Pengelolaan Jaminan Perekaman Bukti Penerimaan Jaminan. Yang harus diperhatikan dalam perekaman jaminan ini adalah kebenaran atas nomor pengajuan PIB dan ketepatan atas nilai jaminan dan kekurangan nilai jaminan. 13. Perekaman hasil pemeriksaan Hi-Co Scan Jalur Hijau. Proses perekaman hasil pemeriksaan hi-co scan ini dilakukan setelah proses xray atas semua container dari PIB yang bersangkutan selesai dilakukan. Program perekamannya terdapat pada menu PFPB - Perekaman hasil pemeriksaan Hi-Co Scan (BCF 2.3D). Pemberlakuan kewajiban hi-co scan untuk PIB jalur hijau hanya untuk kantor-kantor tertentu saja, yaitu KPU Tanjung Priok dan KPPBC Tanjung Perak. Yang perlu diperhatikan dalam perekaman ini adalah apakah hasil pemeriksaan hi-co scan ini merekomendasikan untuk dilakukan pemeriksaan fisik atau tidak. Jika keputusannya harus dilakukan pemeriksaan fisik barang maka pada saat perekaman harus dimasuk-kan sehingga setelah disimpan data PIB akan diputus pemeriksaan fisik dan status datanya kembali menjadi Periksa Fisik. Dalam hal tidak wajib periksa fisik maka barang impornya sudah dapat dikeluarkan.

28

14. Perekaman Pengeluaran Barang. Proses pelayanan pengeluaran barang impor adalah rangkaian terakhir dari proses pelayanan PIB. Di dalam sistem aplikasi pelayanan impor kegiatan tersebut adalah perekaman data pengeluaran barang impor. Dokumen yang dijadikan dasar perekaman adalah dokumen SPPB, yang dibawa oleh importir/ppjk untuk melindungi pengeluaran barang. Menu gate impor dalam aplikasi dibedakan menjadi 2 (dua) yaitu untuk gate kontainer dan non kontainer. Menu perekaman pada aplikasi adalah Gate Pengeluaraan Barang Container atau Gate Pengeluaraan Barang Non Container. Setelah proses perekaman pengeluaran barang selesai dilakukan maka status data PIB akan menjadi Barang Keluar. Yang perlu diperhatikan dalam melakukan perekaman pengeluaran barang adalah : Apakah terhadap data PIB/kontainer tersebut terkena NI/NHI. Apakah PIB tersebut wajib hi-co scan atau tidak. Data SPPB yang diajukan harus sama jika dibandingkan dengan data yang ada dalam komputer dan data pada kemasan/kontainer. 15. Pengawasan PIB. Dalam sistem aplikasi pelayanan impor fungsi pengawasan lainnya atas dokumen PIB dapat dilakukan dengan memanfaatkan program pelaporan dan browsing data PIB yang telah ada. Fungsi pengawasan tidak akan mempengaruhi terhadap proses penjaluran. Dalam hal data PIB terkena NI/NHI maka data NI/NHI tidak akan berpengaruh terhadap data PIB menjadi merah (periksa fisik) tetapi data NI/NHI ini akan dicek pada saat pengeluaran barang di gate, sebatas memberi informasi kepada petugas gate bahwa terhadap suatu PIB terkena NI/NHI sehingga harus dikoordinasikan dengan unit pengawasan untuk proses pengeluaran barangnya. Untuk melakukan perekaman NI/NHI adalah dari menu P2 Perekaman Nota Informasi. Dalam hal ada surat untuk melakukan pemblokiran atas kegiatan impor terhadap suatu perusahaan baik dari KPPBC, KWBC maupun KP DJBC maka atas data pemblokiran harus direkam dalam sistem aplikasi. Pemblokiran seperti ini dalam aplikasi disebut blokir intruksi khusus. Untuk melakukan

29

perekaman blokir intruksi khusus adalah dari menu P2 Instruksi Khusus Perekaman Instruksi Khusus. 16. Pembatalan PIB. Di dalam sistem aplikasi setiap ada pembatalan data PIB maka keputusan pembatalannya harus dilakukan perekaman pada sistem aplikasi. Program perekaman pembatalan ada pada menu Kepala Kantor Pembatalan PIB. Proses pelayanan pembatalan lebih banyak pada proses penelitian

administrasi. Antara lain pengecekan tentang penyebab terjadinya pembatalan apakah memenuhi ketentuan yang berlaku (pasal 56 Kep-07/2003). (3) Pengelolaan Perbendaharaan Proses pengelolaan pada Perbendaharaan secara garis besar meliputi : a. Perekaman SSPCP atas PIB atau SPKPBM, dalam hal sistem pelayanan impor belum secara PDE. b. Pengelolaan jaminan, meliputi perekaman, penyelesaian maupun pembatalan. Jenis jaminan yang ada: Jaminan Tertulis, jaminan tertulis dengan persetujuan dari KaKPPBC setempat, Jaminan Bank, Customs Bond, Jaminan Tunai dan Jaminan Pusat. Jaminan tertulis dengan persetujuan dari KP DJBC/Menkeu dan dapat dipakai berulang. Jenis peruntukan jaminan : Jaminan atas impor penangguhan Jaminan atas impor sementara Jaminan PPJK Jaminan atas keberatan SPKPBM Re-impor Banding SPKPBM c. Perekaman data SPKPBM Perekaman yang dilakukan adalah terhadap data SPKPBM hasil manual atau SPKPBM yang berasal dari hasil verifikasi/audit Kantor Wilayah/ Kantor Pusat. Asal SPKPBM : Notul

30

Notul ada yang otomatis dari hasil pemeriksaan PIB (PFPD/Pabean/ Verifikator) ada yang manual. SPSA Verifikasi Kantor Wilayah Audit Kantor Wilayah Verifikasi Kantor Pusat Audit Kantor Pusat d. Keberatan SPKPBM Diajukan sebelum tanggal jatuh tempo SPKPBM (60 hari setelah tanggal SPKPBM), dengan mempertaruhkan jaminan. 60 hari sejak tanggal surat pengantar dari Ka KPPBC, keberatan sudah harus mendapatkan keputusan. Dalam hal lewat 60 hari belum ada keputusan maka keberatan dianggap diterima. Keputusan keberatan : Diterima, SPKPBM dibatalkan dan jaminan dikembalikan. Ditolak, jika tidak mengajukan banding maka jaminan dapat dicairkan untuk melunasi tagihan SPKPBM. Keberatan tagihannya ditetapkan menjadi lebih besar atau lebih kecil. Dalam hal ini yang bersangkutan juga bisa mengajukan banding. Bila tidak mengajukan banding maka yang bersangkutan harus melunasi tagihan. Kalau ditetapkan lebih kecil dapat dengan mencairkan jaminannya. Tetapi kalau ditetapkan lebih besar, selain jaminan dicairkan, yang bersangkutan juga harus membayar sisa kekurangannya. e. Banding SPKPBM Apabila hasil keputusan keberatan dari Direktur Jenderal menetapkan keberatan ditolak atau ditetapkan menjadi lebih besar atau lebih kecil, yang bersangkutan dapat mengajukan banding ke Pengadilan Pajak. Proses pengajuan banding adalah sebagai berikut : Yang bersangkutan melunasi tagihan SPKPBM minimal 50% dari total tagihan ke bank dan 50% nya lagi berupa jaminan. Bukti pelunasan diserahkan ke Seksi Perbendaharaan untuk direkam (untuk saat ini, selanjutnya akan disesuaikan dengan sistem EDI).

31

Jaminan diserahkan

ke Seksi Perbendaharaan untuk direkam dan

menggantikan jaminan untuk keberatannya. Dengan bukti sudah melunasi tagihan 50% dan Bukti Penerimaan Jaminan untuk banding, yang bersangkutan dapat mendaftarkan kasusnya ke Pengadilan Pajak. Kalau Pengadilan Pajak memutuskan banding diterima, maka SPKPBM dibatalkan, pembayaran 50% dan jaminannya dikembalikan. Kalau Pengadilan Pajak memutuskan banding ditolak maka jaminannya dapat dicairkan untuk melunasi sisa tagihan. f. Teguran SPKPBM Apabila SPKPBM sampai lewat jatuh tempo ditambah tujuh hari belum diselesaikan, maka otomatis akan terbit Surat Teguran. Surat Teguran ini tidak tercetak secara otomatis tetapi harus dicetak sendiri oleh Seksi Perbendaharaan. Atas SPKPBM ini akan timbul bunga sebesar 2% dari tagihan pabean dan bunga itu akan diperhitungkan setiap bulan sampai SPKPBM diselesaikan. g. Penerbitan Surat Paksa Apabila Surat Teguran sampai lewat jatuh tempo (21 hari sejak diterbitkan Surat Teguran) belum diselesaikan maka Surat Paksa bisa diterbitkan. Penerbitan Surat Paksa tidak secara otomatis karena harus menunjuk pegawai sebagai Juru Sita yang penetapan tidak tentu (berubah-ubah). Surat Paksa diterbitkan hanya untuk tagihan pabeannya saja. Sementara untuk tagihan Pajak Dalam Rangka Impor (PDRI) diterbitkan Surat Penyerahan Penagihan Pajak Dalam Rangka Impor (SP3DRI) ke Kantor Pelayanan Pajak yang mengawasi penanggung pajak. Seksi Perbendaharaan dapat mengecek melalui browse Surat Teguran yang sudah jatuh tempo setiap pagi apakah pada hari itu ada Surat Paksa yang harus diterbitkan atau tidak h. Penerbitan Surat Perintah Melakukan Penyitaan Apabila Surat Paksa sampai lewat jatuh tempo (dua kali 24 jam sejak diterbitkan Surat Paksa) belum diselesaikan maka diterbitkan Surat Perintah Melakukan Penyitaaan (SPMP). SPMP juga tidak secara otomatis tetapi melalui intervensi Seksi Perbendaharaan.

32

Seksi Perbendaharaan dapat mengecek melalui browse Surat Paksa yang sudah jatuh tempo setiap pagi apakah pada hari itu ada SPMP yang harus diterbitkan atau tidak. i. Pembatalan SPKPBM SPKPBM hanya bisa dibatalkan oleh Kepala Kantor Pelayanan dengan menerbitkan surat pembatalan dengan menyebutkan alasan pembatalannya. Keputusan pembatalan SPKPBM direkam melalui wewenang Kepala Kantor Pelayanan. j. Pelaporan data SPKPBM k. Penerbitan SPSA Asal SPSA : denda manifest, denda pembatalan PEB SPSA direkam datanya dan dicetak untuk dikirim kepada yang dikenakan sanksi. Jatuh tempo SPSA ditetapkan 30 hari dari tanggal diterimanya SPSA oleh yang bersangkutan. Setelah SPSA diterima, tanggal terima direkam oleh petugas di Seksi Perbendahraan. Apabila melewati jangka waktu tersebut maka penagihannya dialihkan dengan menggunakan SPKPBM. l. Pelayanan, penyelesaian dan monitoring fasilitas pembayaran berkala. Perekaman skep fasilitas pembayaran berkala. Perekaman pelunasan pembayaran atas hutang PIB fasilitas pembayaran berkala (khusus KPPBC non PDE). Monitoring pelunasan hutang fasilitas pembayaran berkala. m. Penyelesaian Impor sementara Dibayar Re-ekspor Perpanjang masa impor sementara Pemusnahan Re-lokasi n. Penyelesaian Impor penangguhan Dibayar Dibebaskan Ditanggung pemerintah Perpanjang penangguhan Keringanan

33

B. Sistem Aplikasi Pelayanan PIB Versi PC (1) Spesifikasi hardware, software dan database a. Hardware, Software Dan O/S Aplikasi pelayanan impor (PIB) versi PC dibuat dengan menggunakan software Visual Basic. Aplikasi pelayanan ini ditempatkan pada komputer PC dengan operating system Windows 2000/NT/XP, processor minimal intel pentium III, space hardisk minimal 500 MB, RAM 128 MB. b. Database Database aplikasi impor (PIB) versi PC adalah database Access. (2) Pelayanan PIB dengan aplikasi pelayanan impor versi PC. Pada prinsipnya proses pelayanan PIB dengan menggunakan aplikasi pelayanan impor versi PC sama dengan pada aplikasi pelayanan versi server dengan media disket. Beberapa hal yang membedakan dengan aplikasi versi server adalah : 1. Pada aplikasi versi PC tidak ada proses validasi atas kelengkapan pengisian data PIB. (Proses validasi kelengkapan sudah dilakukan pada aplikasi modul PIB). 2. Tidak ada proses pengecekan HS barang larangan/pembatasan (analyzing point) pada aplikasi. Proses pengecekan dilakukan secara manual pada saat penerimaan data/dokumen PIB dan pada saat pemeriksaan lebih lanjut di seksi pabean. 3. Proses penjaluran berdasarkan analisis resiko dilaksanakan secara manual yaitu berdasarkan atas hasil analisa dari pegawai. Selain itu PIB akan otomatis diputus jalur merah dalam hal : Jenis impor sementara Jenis impor reimpor Barang termasuk komoditi ditetapkan pemerintah Barang BOP (Fasilitas Pertamina) Proses impor penangguhan 4. Proses penerbitan nota pembetulan dan SPKPBM atas dokumen PIB dilakukan secara manual.

34

3.2. Latihan 2 1. Sebutkan data-data yang perlu dimasukkan pada modul aplikasi PIB ! 2. Sebutkan cara pengiriman data PIB ke dalam aplikasi pelayanan! 3. Jelaskan spesifikasi hardware, software dan database aplikasi pelayanan impor versi server! 4. Jelaskan spesifikasi hardware, software dan database aplikasi pelayanan impor versi PC! 5. Jelaskan proses penjaluran pada sistem aplikasi pelayanan impor versi PC ! 6. Jelaskan proses penyelesaian impor sementara ! 7. Hal-hal apakah yang harus diperhatikan oleh Pejabat Pemeriksa Dokumen pada saat melakukan pemeriksaan dokumen PIB jalur merah ? 8. Jelaskan keputusan hasil dari pengajuan keberatan ! 9. Jelaskan proses teguran SPKPBM pada aplikasi pelayanan impor ! 10. Apakah yang harus dilakukan oleh petugas analyzing point jika ada keraguan mengenai persyaratan impor atas data PIB yang diperiksanya? Kerjakan Latihan 2 di atas dan cocokkan kembali dengan Kegiatan Belajar 2 hingga Saudara yakin jawaban yang diberikan telah benar/sesuai dengan materi yang diajarkan.

3.3. Rangkuman DJBC telah menyediakan aplikasi untuk membantu perusahaan membuat dokumen-dokumen yang berkaitan dengan sistem dan prosedur impor (PIB) yaitu Modul Aplikasi PIB (versi 4.1). Kelengkapan data yang dimasukkan oleh importir akan diperiksa oleh modul agar nantinya bisa diterima oleh aplikasi impor di Kantor Pelayanan. Untuk mengirimkan data PIB ke KPPBC ada dua cara, yaitu melalui disket dan melalui PDE. Hal ini disesuaikan dengan kondisi dari KPPBC tempat pendaftaran PIB. Berdasarkan fungsinya maka aplikasi pelayanan PIB fungsi pelayanan, pengawasan, pelaporan. Proses pelayanan PIB meliputi penerimaan data PIB, penerimaan berkas PIB, penerimaan dan perekaman SSPCP, pemeriksaan PIB

35

yang masuk Analyzing Point, pemeriksaan fisik barang, pemeriksaan dokumen oleh PFPD/Seksi Pabean, penerbitan SPPB dan pengeluaran barang. Pengelolaan pada Perbendaharaan dimasukkan dalam aplikasi impor yang meliputi perekaman SSPCP, pengelolaan jaminan, pengelolaan SPKPBM, pengelolaan SPSA, penyelesaian impor sementara, penyelesaian impor penangguhan serta

pengelolaan PNBP. Di KPPBC yang tidak terpasang server, disediakan aplikasi pelayanan impor versi PC. Pada prinsipnya proses pelayanan PIB dengan menggunakan aplikasi pelayanan impor versi PC sama dengan pada aplikasi pelayanan versi server dengan media disket. Beberapa hal yang membedakan dengan aplikasi versi server adalah tidak ada proses validasi atas kelengkapan dan kebenaran pengisian data PIB, tidak ada proses pengecekan HS barang larangan/pembatasan (analyzing point), penjaluran berdasarkan analisis resiko dilaksanakan secara manual oleh pegawai, penerbitan nota pembetulan dan SPKPBM atas dokumen PIB dilakukan secara manual.

36

4. Tes Formatif Pilih salah satu jawaban dengan memberikan tanda silang (X) 1. Aplikasi yang tidak berhubungan dengan Aplikasi Pelayanan Impor (PIB) adalah: A. Aplikasi KITE B. Aplikasi Profil Pusat C. Aplikasi PPKP D. Data warehouse

2. Dasar hukum tentang Petunjuk Pelaksanaan Tatalaksana Kepabeanan di Bidang Impor adalah A. KEP-07/BC/2003 B. KEP-151/BC/2003 C. KEP-27/BC/2004 D. KEP-152/BC/2003

3. Kantor pelayanan yang belum menerapkan PDE Kepabeanan atas pelayanan PIB secara penuh adalah : A. KPPBC Tanjung Emas B. KPU Tanjung Priok C. KPPBC Belawan D. KPU Batam

4. Dokumen PIB yang diajukan akan ditolak/direject secara otomatis oleh aplikasi pelayanan PIB dalam hal berikut ini, kecuali : A. Data PIB tidak lengkap dan atau tidak benar C. Importir belum mendapatkan nomor registrasi dan telah melakukan satu kali proses importasi B. PIB terkena Nota Intelejen (NI) atau Nota Hasil Intelejen (NHI) D. Pemberitahu (importir dan atau PPJK) sedang diblokir

5. Yang bukan merupakan bentuk penjaluran adalah : A. Jalur Hijau B. Jalur Merah C. Jalur Hi-Co Scan D. Jalur Prioritas

6. Berdasarkan Matrix Penjaluran, apabila profil importir adalah Low Risk dan profil komoditinya terkena TapPem, maka PIB akan mendapatkan jalur A. Merah Low (Tkt. Pemeriksaan 10%) B. Merah Medium(Tk.Pemeriksaan 30%) C. Merah High (Tkt.Pemeriksaan 30%) D. Merah High (Tkt.Pemeriksaan 100%)

7. Cara pengiriman data PIB dari modul importir ke dalam sistem aplikasi pelayanan impor adalah ...

37

A. Disket B. PDE

C. Manual D. Disket dan PDE

8. Dalam hal importir mendapatkan Jalur Prioritas, maka atas PIB-nya ... A. Dilakukan pemeriksaan Dokumen saja B. Dilakukan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan dokumen C. Dilakukan pemeriksaan fisik saja D. Tidak dilakukan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan dokumen

9. Dalam proses validasi, hal-hal berikut ini dilakukan oleh sistem aplikasi impor, kecuali A. Cek Blokir B. Cek Kebenaran dan Kelengkapan Data C. Cek Jumlah Pungutan Impor D. Cek Registrasi Importir

10. Waktu pelayanan PIB dihitung dari total hari kerja sejak SPPB hingga penetapan PIB. Untuk jalur hijau, berapa hari lama waktu pelayanan tersebut? A. 14 hari B. 19 hari C. 10 hari D. 20 hari

11. Berikut ini adalah data-data yang perlu dimasukkan pada modul aplikasi PIB, kecuali A. Data Invoice, Packing List, BL/AWB C. Data PKB (Pemberitahuan Kesiapan Barang) B. Data Sarana Pengangkut (Nama, Voy, Tgl Kedatangan) D. Data Pemasok berupa Nama, Alamat, Negara

12. Database Aplikasi Impor versi server menggunakan A. Oracle B. Microsoft Access C. Microsoft Excel D. MySQL

13. Yang bukan merupakan fungsi program loading otomatis dari Aplikasi Impor yang menggunakan PDE adalah A. Melakukan proses penerimaan dan validasi data SSPCP B. Melakukan proses penerimaan dan validasi data PIB C. Melakukan proses pengiriman respon PIB dan SSPCP D. Melakukan proses penjaluran PIB

38

14. Sesuai dengan P-19/BC/2005, apabila petugas Analyzing Point memutuskan bahwa PIB termasuk barang larangan maka sistem akan ... A. Mengeluarkan respon reject barang larangan B. Menetapkan PIB dalam Jalur Merah C. Mengeluarkan respon permintaan Skep D. Melakukan proses penjaluran berdasarkan profil yang ada 15. Dalam hal apa PIB terkena penetapan pemeriksaan secara jabatan ? A. Permintaan PFPD untuk dilakukan pemeriksaan ulang C. Dalam waktu 3 hari pemeriksa barang tidak melakukan pemeriksaan fisik barang B. Dalam waktu 3 hari importir tidak bisa menunjukkan SKEP yang diminta petugas Analyzing Point 16. Penelitian PIB jalur merah oleh PFPD/Kasi Pabean berfungsi untuk hal-hal sebagai berikut, kecuali A. Menuangkan keputusan hasil pemeriksaan fisik B. Penetapan harga/nilai pabean C. Penelitian atas klasifikasi pembebanan D. Melakukan penyelesaian atas penerbitan Notul 17. Penerbitan SPPB untuk PIB jalur merah yang terbit SPKPBM adalah A. Langsung terbit bersamaan dengan terbitnya SPKPBM B. Setelah SPKPBM dilunasi dan PFPD melakukan proses penyelesaian SPKPBM 18. Dalam hal data PIB terkena NI/NHI, maka atas PIB tersebut A. Akan ditetapkan Jalur Merah dan dilakukan pemeriksaan Fisik C. Akan dilakukan pemeriksaan fisik secara jabatan C. Langsung terbit bersamaan dengan terbitnya Notul D. Langsung terbit setelah hasil pemeriksaan fisik dinyatakan sesuai D. PIB yang diberitahukan termasuk dalam barang larangan

39

B. Tidak akan berpengaruh terhadap penjaluran dan hanya sebagai informasi kepada petugas Gate dan unit pengawasan

D. Proses Importasinya akan diblokir

19. Impor sementara dapat diselesaikan dengan melakukan hal-hal di bawah ini, kecuali A. Melakukan re-ekspor dengan membuat dokumen PEB B. Melakukan pemusnahan terhadap barang yang diimpor karena rusak dan tidak dapat diperbaiki 20. Berikut ini adalah beberapa hal yang membedakan aplikasi versi PC dengan aplikasi versi server, kecuali A. Pada aplikasi versi PC tidak ada proses validasi atas kelengkapan dan kebenaran pengisian data PIB B. Proses penerbitan nota pembetulan dan SPKPBM atas dokumen PIB dilakukan secara manual D. Tidak ada proses pengecekan HS barang larangan/pembatasan (analyzing point) pada aplikasi C. Tidak ada proses pengecekan pembayaran pungutan impor C. Membayar sejumlah pungutan yang ditangguhkan D. Barang yang diimpor dijual ke dalam wilayah pabean

40

5. Kunci Jawaban Test Formatif 1. C 2. A 3. D 4. B 5. C 6. A 7. D 8. D 9. C 10. A 11. C 12. A 13. D 14. A 15. C 16. D 17. B 18. B 19. D 20. C

6. Umpan Balik dan Tindak Lanjut Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif yang terdapat pada bagian akhir modul ini, dan hitungllah jawaban Anda untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda. Rumus : Tingkat penguasaan = Jumlah jawaban yang benar X 100 % 20 Bila anda mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat meneruskan kegiatan belajar selanjutnya. Tetapi bila penguasaan Anda kurang dari 80%, Anda harus mempelajari kembali terutama bagian yang belum Anda kuasai.

41

7. Daftar Pustaka
1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 1995 Tentang Kepabeanan. 2. Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor : 453/KMK.04/2002

tanggal 30 Oktober 2002 Tentang Tatalaksana Kepabeanan Di Bidang Impor.


3. Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor : 548/KMK.04/2002

tanggal 31 Desember 2002 Tentang Perubahan atas Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor : 453/KMK.04/2002 tanggal 30 Oktober 2002 Tentang Tatalaksana Kepabeanan Di Bidang Impor.
4. Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 112 /KMK.04/2003

tanggal 31 Maret 2003 Tentang Perubahan Kedua Atas Keputusan Menteri Keuangan Nomor 453/Kmk.04/2002 Tentang Tatalaksana Kepabeanan Di Bidang Impor.
5. Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 84/KMK.04/2003

tanggal 7 Maret 2003 tentang Tatalaksana Pembayaran Dan Penyetoran Penerimaan Negara Dalam Rangka Impor Dan Penerimaan Negara Atas Barang Kena Cukai Buatan Dalam Negeri.
6. Keputusan Menteri Keuangan nomor

234/KMK.05/1996 tentang Tata Cara

Penagihan Bea Masuk, Cukai, Denda Administrasi, Bunga dan Pajak Dalam Rangka Impor .
7. Keputusan

Direktur Jenderal Bea dan Cukai KEP-64/BC/1999 tanggal 11 1999 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pengajuan,Penerusan dan

Oktober

Penyelesaian Keberatan Kepabeanan dan Cukai.


8. Keputusan Menteri Keuangan nomor

380/KMK.05/1999 tentang Tata Cara

Pengajuan Keberatan Kepabeanan dan Cukai.


9. Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor KEP-07/BC/2003 tanggal 31

Januari 2003 tentang Petunjuk Pelaksanaan Tatalaksana Kepabeanan di Bidang Impor.


10. Keputusan Direktur Jenderal Bea Dan Cukai Nomor KEP-68/BC/2003 tanggal 31

Maret 2003 tentang Perubahan Atas Keputusan Direktur Jenderal Bea Dan Cukai Nomor KEP-07/BC/2003 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Tatalaksana Kepabeanan Di Bidang Impor.
42

11. Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor KEP-178/BC/2003 tanggal 24

Juli 2003 tentang Perubahan Kedua atas Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor KEP-07/BC/2003 tanggal 31 Januari 2003 tentang Petunjuk Pelaksanaan Tatalaksana Kepabeanan di Bidang Impor.
12. Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor P-19/BC/2005 tanggal 30

September 2005 tentang Perubahan Ketiga atas Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor KEP-07/BC/2003 tanggal 31 Januari 2003 tentang Petunjuk Pelaksanaan Tatalaksana Kepabeanan di Bidang Impor.
13. Keputusan Bersama Direktur Jenderal Bea dan Cukai dan Direktur Jenderal

Perdagangan Luar Negeri NO: KEP-03/BC/2003 dan NO: 01/DAGLU/KP/I/2003 tanggal 17 Januari 2003 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Tertib Administrasi Importir.
14. Surat Edaran Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor : SE-07/BC/2003 tanggal

19 Pebruari 2003 tentang Pelaksanaan Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor KEP-07/BC/2003 tanggal 31 Januari 2003 tentang Tatalaksana Kepabeanan di Bidang Impor.
15. Surat Edaran Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor : SE-11/BC/2003 tanggal

31 Maret 2003 tentang Pelaksanaan Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor KEP-07/BC/2003 tanggal 31 Januari 2003 tentang Tatalaksana Kepabeanan di Bidang Impor Sebagaimana Telah Diubah Dengan Keputusan Direktur Jenderal Bea Dan Cukai Nomor KEP-68/BC/2003.
16. Fuad Fauzi, Petunjuk Teknis Aplikasi Perbendaharaan Impor

43

DIKLAT TEKNIS SUBSTANTIF DASAR KEPABEANAN DAN CUKAI

KETERAMPILAN PDE

MODUL IV

SISTEM APLIKASI PELAYANAN KEMUDAHAN IMPOR TUJUAN EKSPOR (KITE)

OLEH : TIM PENYUSUN MODUL PUSDIKLAT BEA DAN CUKAI

PUSAT PENDIDIKAN DAN LATIHAN BEA DAN CUKAI BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

JAKARTA 2008

DAFTAR ISI

Daftar Isi SISTEM APLIKASI PELAYANAN IMPOR 1. Pendahuluan ... 1.1 Deskripsi Singkat .................................................................................. 1.2 Tujuan Instruksonal Umum 1.3 Tujuan Instruksional Khusus 2. Kegiatan Belajar (KB) 1 MODUL PERUSAHAAN KITE DAN PENGELOLAAN DIPER DAN NIPER 2.1 Uraian dan Contoh ........................ 2.1.1. Modul Perusahaan KITE . 2.1.2. Aplikasi Pengelolaan DIPER dan Penerbitan

1 1 2 2

3 3

DIPER.......................................................................................... 2.2 Latihan 1 ................................................................................................ 2.3 Rangkuman ............................................................................................ 3. Kegiatan Belajar (KB) 2 PENGELOLAAN FASILITAS PEMBEBASAN 3.1 Uraian dan Contoh ....................... 3.1.1. Aplikasi Pemeriksaan Permohonan dan Penerbitan SK

4 10 10

11

Pembebasan 3.1.2. Aplikasi Pemeriksaan PIB Dan Jaminan Serta Penerbitan STTJ ........................................................................................... 3.1.3. Aplikasi Pemeriksaan Fasilitas Pembebasan Dan Penerbitan SPPJ 3.1.4. Sistem Aplikasi Pelayanan BC 2.4 ............................................ 3.2 Latihan 2 3.3 Rangkuman 4. Kegiatan Belajar (KB) 3 FASILITAS PENGEMBALIAN KITE 4.1 Uraian dan Contoh .......................

12

15

20 23 25 25

26

4.1.1. Aplikasi Pemeriksaan Fasilitas Pengembalian dan Penerbitan SKPFP 4.2 Latihan 2 4.3 Rangkuman 5. 6. 7. 8. Test Formatif .. Kunci Jawaban Test Formatif Umpan Balik dan Tindak Lanjut Daftar Pustaka ................................................................................................

. 26 30 31 32 36 36 37

ii

MODUL IV SISTEM APLIKASI PELAYANAN FASILITAS KEMUDAHAN IMPOR TUJUAN EKSPOR (KITE)

1. Pendahuluan

1.1. Deskripsi Singkat

Fasilitas KITE (Kemudahan Impor Tujuan Ekspor) adalah salah satu fasilitas yang dikelola oleh DJBC. Sejak fasilitas ini dikelola oleh DJBC pada tahun 2004, pengelolaan telah dilakukan dengan menggunakan sistem aplikasi pelayanan (SAP). Di dalam modul ini siswa akan mempelajari mengenai Sistem Aplikasi Pelayanan (SAP) KITE. Terdapat tiga besaran Sistem Aplikasi KITE yaitu: SAP KITE di perusahaan (biasa disebut Modul KITE). Modul KITE ini dipakai untuk menyiapkan dan mengelola data BCF.KT01, BCL.KT01, BCL.KT02 dan BC 2.4. Dalam modul belajar ini Modul KITE tidak dibahas secara mendalam. SAP KITE di Kantor Wilayah DJBC (KWBC). SAP ini dipergunakan oleh KWBC untuk pengelolaan fasilitas KITE. SAP BC 2.4 di KPPBC untuk pelayanan dokumen BC 2.4.

Sebagaimana terdapat dalam ketentuan/peraturan KITE, secara umum aplikasi KITE dibedakan atas aplikasi fasilitas pembebasan dan aplikasi fasilitas pengambalian. Namun demikian kedua fasilitas tersebut baru bisa dijalankan apabila perusahaan telah memiliki NIPER (Nomor Induk Perusahaan). Tiga hal pokok ini yang akan dibahas dalam modul ini. SAP KITE memiliki hubungan dengan SAP lainnya yang ada di DJBC, yaitu: Hubungan dengan SAP Impor: SAP KITE memperguakan data-data elektronik yang berasal dari SAP Impor di KPPBC. SAP KITE memberikan masukan ke SAP Impor berupa data NIPER, SK Pembebasan dan Surat Tanda Terima Jaminan (STTJ) Hubungan dengan SAP Ekspor:

SAP

KITE

mempergunakan

data-data

elektronik

PEB

untuk

pembuktian laporan ekspor. Hubungan dengan Sistem Datawarehouse. Data-data elektronik PIB, PEB dan sebagainya didaptkan oleh SAP KITE dari sistem datawarehouse DJBC secara online. Urutan pembahasan dalam modul ini adalah sebagai berikut: 1.2. Tujuan Instruksional Umum Setelah mengikuti mata pelajaran ini peserta diharapkan mampu untuk menjelaskan sistem pemberitahuan pabean dalam bentuk disket dan secara Electronic Data Interchange (EDI) serta memahami implementasinya. Pengelolaan DIPER dan NIPER. Pengelolaan Fasilitas Pembebasan. Pengelolaan Fasilitas Pengembalian.

1.3. Tujuan Instruksional Khusus Pada akhir mata pelajaran para peserta dapat memahami: Penggunaan Modul Perusahaan KITE Penggunaan Aplikasi Pengelolaan DIPER Penggunaan Aplikasi Pengelolaan NIPER

2. Kegiatan Belajar (KB) 1

MODUL PERUSAHAAN KITE DAN PENGELOLAAN DIPER DAN NIPER

2.1. Uraian dan Contoh Pada kegiatan belajar 1 ini, akan diuraikan mengenai fungsi-fungsi utama Modul Perusahaan KITE. Untuk mendapatkan Modul Perusahaan KITE, suatu perusahaan harus mendaptkan nomor NIPER terlenih dahulu. Oleh karena itu Kegiatan Belajar 1 ini akan dibahas juga pengelolaan Data Induk Perusahaan (DIPER) dan penerbitan Nomor Induk Perusahaan (NIPER). Pengelolaan DIPER dan NIPER ini merupakan bagian dari SAP KITE KWBC.

2.1.1. MODUL PERUSAHAAN KITE Modul Perusahaan KITE (sering disingkat Modul KITE) adalah aplikasi yang dibuat oleh DJBC diperuntukkan bagi perusahaan pengguna fasilitas KITE. Kegunaan Modul KITE adalah : Membuat/Merekam dokumen KITE o BCF.KT01 (Permohonan SK Pembebasan) o BCL.KT01 (Laporan Ekspor untuk Fasilitas Pembebasan) o BCL.KT02 (Laporan Ekspor untuk Fasilitas Pengembalian) o BC 2.4 (Pemberitahuan Penyelesaian (Selain Ekspor) Untuk Barang Impor Fasilitas Pembebasan) Mencetak yang telah direkam dan telah lengkap perekamannya Mentransfer data yang akan diajukan ke DJBC Pengolahan data KITE lainnya

Modul KITE untuk masing-masing perusahaan memiliki identitas sendiri sehingga tidak bisa dipinjam oleh perusahaan lain. Kekhususan identitas tersebut diperoleh dari kode aktivasi yang diberikan pada saat pemberian Modul KITE oleh DJBC ke perusahaan. Ada beberapa manfaat/kelebihan yang diperoleh dengan penggunaan Modul KITE, antara lain sebagai berikut: Data yang telah direkam ke dalam Modul KITE akan tersimpan dan setiap kali diperlukan bisa ditampilkan kembali
3

Adanya validasi data sehingga mengurangi kemungkinan reject di KWBC/KPPBC pada saat diajukan

Adanya kemudahan dalam melakukan pencetakan dokumen Adanya beberapa bantuan dalam melakukan perhitungan Data yang direkam dapat diexport dan dipergunakan untuk keperluan pengolahan data di perusahaan

Ada beberapa menu seperti seting, copy, backup, restore yang bisa memudahkan perusahaan

Modul KITE yang dipakai saat ini adalah versi 1.3. Untuk medapatkan Moduil KITE perusahaan harus telah mendapatkan NIPER. Tatacara mendaptkan NIPER dan proses pengelolaan data DIPER dan NIPER merupakan bagian dari Siatem Aplikasi (SAP) KITE yang ada di Kantor Wilayah DJBC (KWBC).

2.1.2. APLIKASI PENGELOLAAN DIPER DAN NIPER DIPER adalah Data Induk Perusahaan yang merupakan data utama yang disampaikan oleh perusahaan pada saat pengajuan peberbitan NIPER. NIPER adalah Nomor Induk Perusahaan yang diterbitkan oleh Kantor Wilayah DJBC setelah permohonan yang bersangkutan disetujui. Pada saat ini masih banyak NIPER yang diterbitkan oleh Bapksta/Bintek Keuangan yang masih dipakai.

Membuat data DIPER dan mengajukan ke BC DIPER dibuat oleh perusahaan dengan modul Diper Offline. Data-data direkam kemudian disimpan. Setelah selesai perekaman data maka data ditransfer ke disket untuk kemudian diajukan ke Kantor Wilayah DJBC (KWBC) beserta berkas permohonan untuk mendapatkan NIPER. Apabila data DIPER diajukan secara manual maka sebagai pengganti load data dapat dilakukan perekaman secara manual. Berikut ini schema pengajuan DIPER sampai mendapatkan NIPER secara lengkap:

Skema Proses DIPER & NIPER


PERUSAHAAN Buat DIPER KWBC KPBC Database Impor/Ekspor Loading Disket Register

Transfer Disket Pengajuan

Pemeriksaan

Penolakan
T

Disetujui ?
Y

NIPER

Cetak NIPER

DIKC Sistem Pengiriman Online

Kirim ke KPBC

Penjelasan Skema: Perusahaan membuat data DIPER Perusahaan mentransfer data DIPER ke disket Perusahaan mengajukan berkas permohonan disertai disket DIPER Petugas Pendok KWBC menrima berkas, melakukan pengecekan kelengkapan berkas, meloading data disket Petugas KWBC melakukan pemeriksaan administratif dan pemeriksaan lapangan (si luar lingkup aplikasi). Hasil pemeriksaan daimasukkan ke dalam SAP KITE Petugas Pemeriksa KWBC melakukan pemeriksaan dan finalisasi Jika disetujui maka diterbitkan NIPER Data NIPER dikirim secara otomatis ke database KPPBC-KPPBC yang sudah online

Menu Pengelolaan DIPER dan NIPER Berikut ini gambar menu-menu pada Sistem Aplikasi Pelayanan (SAP) KITE yang tersedia untuk pengelolaan DIPER dan NIPER:

Menampilkan data DIPER dengan aplikasi Pada menu DIPER, data DIPER dapat ditampilkan dengan cara Query dengan parameter NPWP atau nama perusahaan atau data lainnya yang ada di layar.

Data DIPER meliputi: Data Utama Kantor Cabang Grup Perusahaan Direksi Pemegang Saham.

Akta Perusahaan Pejabat Produk Hasil Perpajakan Pembukuan Kedudukan pabrik

Pemeriksaan Administratif Data DIPER Pejabat melakukan pemeriksaan terhadap kebenaran dan kelengkapan pengisian DIPER. Hasil pemeriksaan administratif ini terdapat 2 kemungkinan yaitu: Memenuhi persyaratan maka DIPER dinyatakan diterima dan diterbitkan Surat Tugas Survey Lapangan Tidak memenuhi persyaratan maka dilakukan penolakan.

Pemeriksaan/Survey Lapangan Berdasarkan Surat Tugas, dilakukan survey lapangan dan peninjauan lokasi. Hasil survey dituangkan dalam Berita Acara berupa Hasil Survey Kesimpulan Hasil Survey

Hasil servey diserahkan ke pejabat untuk diperiksa. Penyerahan paling lambat 14 hari sejak DIPER diterima. Hasil survey direkaman ke dalam aplikasi dengan menu perekaman formulir SD-21. Layar perekaman terdiri dari 3 tab yaitu: Dokumen SD-2.1 (layar utama hasil survey) Lampiran (hasil survey lapangan standar) Daftar Pertanyaan (hasil survey lainnya)

Data ditampilkan dengan cara Query.

Kesimpulan Pemeriksaan DIPER Setelah dilakukan pemeriksaan administratif dan pemeriksaan lapangan terhadap DIPER dimaksud maka pemeriksa dapat menyimpulkan: Diterima (kemudian dilanjutkan penerbitan NIPER) Ditolak (tidak dapat diterbitkan NIPER) Diminta kelengkapan data (masih diperlukan data lainnya) Pemilihan kesimpulan pemeriksa diakhiri dengan klik button <Kesimpulan Pemeriksa> untuk menyimpan.

Penerbitan NIPER DIPER yang sudah dinyatakan Diterima dapat dilihat datanya di layar penerbitan NIPER. Menu yang dipakai adalah Penerbitan dan Update NIPER. Layar yang tampil sebagai berikut:

Data

dapat

ditampilkan

dengan

menggunakan

cara

Query

dengan

memasukkan parameter nomor DIPER. Data ini ditampilkan dengan maksud untuk pengecekan kembali sebelum penerbitan NIPER. Lanjutkan dengan menekan Enter sampai isian terakhir kemudian klik toolbar Simpan, maka akan diterbitkan NIPER.

Protek dan Membuka Protek NIPER Kegiatan memprotek NIPER artinya Pemilik NIPER dicegah untuk mendapatkan haknya untuk sementara waktu, tetapi harus tetap memenuhi kewajibannya. Kegiatan memprotek perusahaan dilakukan apabila perusahaan tidak memenuhi kewajibannya sesuai ketentuan KITE. Protek NIPER secara umum ada dua kelompok yaitu: Protek yang dilakukan setelah melakukan kegiatan di aplikasi. Misalnya setelah monitoring PIB/Jaminan, kemudian dilakukan pencairan jaminan, maka NIPER akan terprotek.

Protek yang dilakukan secara manual kemudian direkam ke dalam aplikasi. Contoh kegiatan manual: Pencabutan NIPER, Keputusan pemindahan fasilitas ke KB dan Penetapan bahwa perusahaan tidak aktif menggunakan fasilitas KITE.

Protek akan berakhir jika telah dilakukan pembukaan protek. Kegiatan membuka protek NIPER artinya mengakhiri protek NIPER. Kegiatan membuka protek NIPER dilakukan setelah kewajibannya dipenuhi dan dibuktikan dengan surat/dokumen dasar. Surat/dokumen dasar pembukaan protek direkam ke dalam aplikasi.

2.2. Latihan 1 1. Sebutkan fungsi Modul KITE! 2. Apa saja kemudahan yang bisa didapatkan dengan Modul KITE? 3. Bagaimana hubungan SAP KITE dengan SAP Impor, Ekspor dan Datawarehouse? 4. Gambarkan skema proses pengajuan DIPER sampai penerbitan NIPER dan berikan penjelasan singkat! 5. Sebutkan dua jenis pemeriksaan DIPER sebelum penerbitan NIPER dan berikan penjelasan singkat 6. Apakah kesimpulan yang dihasilkan pemeriksa pada saat akhir pemeriksaan data DIPER? 7. Apakaah yang dimaksud dengan protek NIPER? Berikan penjelasan singkat!

2.3. Rangkuman Modul KITE merupakan aplikasi yang dipergunakan oleh perusahaan pengguna fasilitas KITE untuk membuat/merekam, mencetak dan mentransfer data yang akan dipergunakan dalam permohonan atau laporanpenggunaan fasilitas KITE. Untuk mendapat fasilitas KITE, perusahaan harus mendapatkan NIPER (Nomor Induk Perusahaan). Pengajuan NIPER dilakukan dengan mengajukan permohonan disertai Data Induk Perusahaan (DIPER). Setelah data DIPER dimasukkan ke dalam SAP KITE, kemudian dilakukan pemeriksaan, dan jika disetujui maka dapat diterbitkan NIPER.
10

3. Kegiatan Belajar (KB) 2

FASILITAS PEMBEBASAN KITE

3.1. Uraian dan Contoh Karakteristik FasilitasPembebasan KITE dalam perspektif SAP KITE 1. Adanya SK Pembebasan 2. Fasilitas Impor: Bebas BM dan Cukai serta penangguhan PPN dan PPnBM untuk jangka waktu 1 tahun. 3. BM, Cukai dan pajak yang dibebaskan/ditangguhkan dicover dengan jaminan. Jenis jaminan yang bisa diterima adalah Jaminan Bank, Customs Bond, Surat Sanggup Bayar dan Coorporate Guarantee 4. Jaminan dipertaruhkan setiap kali akan impor dan per PIB 5. Laporan pertanggungjawaban paling lambat 6 bulan sekali 6. Jika laporan pertanggungjawaban diterima, jaminan bisa dikembalikan. Jika tidak maka bea-bea terutang harus dibayar atau jaminan dicairkan Skema Umum Fasilitas Pengembalian

PERUSAHAAN BCF.KT01

Skema Fasilitas PEMBEBASAN C KWBC KPB


Proses SK SK

PIB Proforma +Jaminan STTJ PIB SPPB PEB LHP Lap.Ekspor BCL.KT01 SPPJ

Proses STTJ

STTJ

IMPOR

EKSPOR

Proses LE

11

3.1.1 APLIKASI PEMERIKSAAN PERMOHONAN DAN PENERBITAN SK PEMBEBASAN

Dokumen dan Data Dokumen dan data utama: surat permohonan dan BCF.KT01 Dokumen pendukung: Lembar Perkiraan Pungutan

Skema Proses Skema proses pengajuan BCF.KT01 sampai dengan mendapatkan SK Pembebasan sebagai berikut:

SK Pembebasan
PERUSAHAAN KWBC KPBC Buat BCF.KT01/ Permohonan Transfer Disket Pengajuan Loading Disket Register Database SK

Pemeriksaan

Disetujui ?
Y

Penolakan Cetak Konsep SK Pembebasan

Finalisasi Cetak

DIKC Sistem Pengiriman Online

Kirim ke KPBC

Penjelasan Skema: Perusahaan membuat BCF.KT01 Perusahaan transfer data BCF.KT01 ke disket Perusahaan mengajukan Berkas Permohonan disertai disket BCF.KT01 Petugas Pendok KWBC menrima berkas, melakukan pengecekan kelengkapan berkas, meloading data disket Petugas Pemeriksa KWBC melakukan pemeriksaan dan menerbitkan Konsep SK Pembebasan Jika disetujui maka petugas melakukan finalisasi dan menerbitkan SK Pembebasan

12

Data SK Pembebasan dikirim secara otomatis ke database KPPBC-KPPBC yang tercantum dalam lampiran SK dan sudah online.

Pembuatan BCF.KT01 dan Pengajuannya BCF.KT01 adalah permohonan perusahaan pemilik untuk mendapatkan SK Pembebasan dalam rangka fasilitas KITE. BCF.KT01 dibuat oleh perusahaan menggunakan modul aplikasi KITE. Data BCF pada dasarnya meliputi dua hal yaitu: Rencana Produksi Rencana Penggunaan Bahan Baku Impor dan Perkiraan Pungutan Impor Rencana Pelabuhan Bongkar

BCF.KT01 diajukan ke KWBC dalam berkas yang disertai data disket.

Loading data BCF.KT01 ke dalam aplikasi Pada aplikasi KITE terdapat menu untuk loading data BCF.KT01. Setelah loading maka akan mendapatkan nomor dan tanggal register dari aplikasi. Nama pemeriksa akan ditunjuk oleh aplikasi. Sebagai bukti data telah berhasil diloading, diberikan cetakan surat tanda bukti loading dan nomor register. Data hasil loading kemudian dilakukan pemeriksaan.

Memeriksa BCF.KT01 Data hasil loading dapat ditampilkan pada layar pemeriksaan BCF.KT01. Pemeriksa antara lain memeriksa: rencana produksi rencana impor bahan baku Pelabuhan pemasukan Perkiraan pungutan

Pemeriksa dapat melihat data BCF.KT01 untuk keperluan pemeriksaan. Disamping itu layar pemeriksaan dilengkapi dengan data pendukung: SK yang pernah terbit untuk NIPER tersebut BCL.KT01 milik perusahaan tersebut

13

Pada pemeriksaan BCF.KT01 Aplikasi tidak melakukan analisa karena yang diperiksa adalah kewajaran dari permohonan (hal ini tidak bisa dilakukan oleh komputer) Aplikasi menampilkan data-data BCF.KT01 dan data pendukung seperti di atas untuk membantu pemeriksa dalam menganalisa permohonan. Pemeriksaan dan analisa dilakukan oleh pemeriksa untuk menentukan disetujui atau tidaknya penerbitan SK Pembebasan. Reputasi perusahaan bisa dilihat dari SK yang pernah terbit dan BCL.KT01nya. Perkiraan pungutan dibuat oleh perusahaan berdasarkan tarif dan NDPBM saat ini. Jika diperlukan konversi barang jadi ke bahan bakunya bisa dimintakan tersendiri (hal ini tidak diatur dalam ketentuan).

Hasil pemeriksaan ada 3 macarm yaitu: Ditolak. Diterima. Jika diterima maka dilakukan pencetakan Konsep SK Pembebasan dan lampirannya (daftar barang yang mendapatkan fasilitas pembebasan). Konsep ini diperiksa kembali dan diajukan kepada pejabat untuk mendapatkan persetujuan. Diminta kelengkapan data.

14

Menerbitkan SK pembebasan Jika pejabat menyetujui konsep SK Pembebasan maka tinggal dilakukan finaliasai untuk mendapatkan nomor. Setelah itu SK Pembebasan dicetak dan ditandatangani. Sesaat setelah penomoran SK Pembebasan maka secara otomatis aplikasi akan mengirimkan SK Pembebasan ke KPBC-KPBC tempat akan dilakukan pembongkaran barang impor dengan melalui sistem pengiriman online melalui portal DIKC. Jika diperlukan pengiriman ulang dapat dilakukan dari menu khusus pengiriman SK Pembebasan.

Mencabut dan Membatalkan SK Pembebasan SK Pembebasan yang sudah diterbitkan bisa dibatalkan atau dicabut dengan alasan tertentu. Membatalkan artinya menghentikan/ mencegah berlakunya SK

Pembebasan yang sudah disahkan tetapi belum pernah dipakai. Mencabut artinya menghentikan/membatalkan penggunaan SK

Pembebasan yang sudah pernah dipakai. Pembatalan atau Pencabutan harus direkam ke dalam aplikasi.

3.1.2. APLIKASI

PEMERIKSAAN

PIB

DAN

JAMINAN

SERTA

PENERBITAN STTJ Dokumen Dokumen yang ada dalam proses ini adalah. PIB (Pemberitahuan Impor Barang) Jaminan STTJ (Surat Tanda Terima Jaminan) SK Pembebasan

15

Skema Proses Skema proses penerbitan STTJ adalah sebagai berikut:

STTJ (Surat Tanda terima Jaminan)


PERUSAHAAN KWBC KPBC Membuat PIB Menyiapkan Jaminan Loading Disket Rekam Jaminan Database Impor Pemeriksaan Transfer Disket PIB Pengajuan Potong Quota

PIB Jaminan

Penerbitan STTJ STTJ Kirim ke KPBC

DIKC

Sistem Pengiriman Online

Penjelasan Skema: Perusahaan membuat data PIB, menyiapkan jaminan dan membayar PPh Pasal 22 atas PIB tersebut Perusahaan transfer data PIB ke disket Perusahaan mengajukan Berkas PIB dan jaminan disertai disket PIB Petugas Pendok KWBC menrima berkas, melakukan pengecekan kelengkapan berkas, meloading data disket Petugas Pemeriksa KWBC melakukan pemeriksaan dan menerbitkan Konsep SK Pembebasan Petugas melakukan pemotongan kuota pada SK Pembebasan Jika disetujui maka petugas melakukan finalisasi dan menerbitkan STTJ Data STTJ dikirim secara otomatis ke database KPPBC yang tercantum dalam PIB dan sudah online.

Pembuatan PIB dan Pengajuannya Untuk bisa melakukan impor dengan fasilitas pembebasan KITE, perusahaan harus mendapatkan STTJ (Surat Tanda Terima Jaminan) untuk setiap PIB. Untuk mendapatkan STTJ harus mengajukan PIB dan Jaminan ke KWBC. Perusahaan membuat PIB dengan modul PIB versi 4.1 atau di atasnya.

16

Jaminan dari perusahaan asuransi/bank penjamin harus disertakan pada berkas PIB.

Loading Data PIB dan Perekaman/Register Jaminan Data PIB dan data jaminan merupakan satu set data yang harus ada untuk penerbitan STTJ Data PIB dimasukkan data PIB ke dalam aplikasi dilakukan dengan loading disket PIB. Dengan loading otomatis data akan masuk ke dalam aplikasi dan data ini bisa dikenali/dicari dengan nomor ajunya. Terdapat log catatan hasil loading bisa dilihat apakah berhasil atau tidak. Data Jaminan dimasukkan ke dalam aplikasi dengan cara direkam berdasarkan berkas jaminan perusahaan asuransi/bank yang diterima. Perekaman dilakukan setelah loading disket PIB. Perekaman data jaminan harus menunjuk ke nomor aju PIB yang dijamin. Nomor aju PIB yang datanya diloading di Kanwil untuk mendapatkan STTJ harus sama persis dengan nomor aju PIB yang diajukan ke KPBC. Jika terdapat perbedaan maka akibatnya tidak akan bisa terjadi rekonsiliasi PIB dengan STTJ secara otomatis.

Pemeriksaan PIB dan Jaminan Data PIB secara detail bisa ditampilkan pada aplikasi, termasuk dokumendokumen pendukung, perhitungan bea-bea serta jaminan yang telah direkam. Di sini yang penting adalah pemeriksaan kesesuaian PIB dengan berkasnya, serta kesesuaian PIB dengan jaminannya.

17

Dari menu pemeriksaan ini perlu dilakukan pemotongan kuota (SK Pembebasan) karena jika tidak dilakukan pemotongan kuota maka STTJ tidak bisa diterbitkan oleh aplikasi.

Pemotongan Kuota Tujuan pemotongan kuota adalah untuk mencatat realisasi impor terhadap SK Pembebasan yang telah diterbitkan. Secara teknis dalam pemotongan kuota data jumlah satuan barangh pada PIB akan mengurangi jumlah barang di SK Pembebasan dengan julah yang diberitahukan di PIB. Jika jumlah sisa di SK Pembebasan tidak mencukupi maka pemotongan tidak dapat dilakukan. Kecuali jika terdapat SK Pembebasan lainnya untuk barang yang sama, pemotongan bisa dilakukan terhadap dua SK. Pemilihan item barang di Sk Pembebasan yang akan dipotong masih dialkukan secara manual oleh petugas. Aplikasi hanya membantu menampilkan SK Pembebasan yang dimilikii oleh perusahaan tersebut. Oleh karena itu ketelitian petugas masih sangat diperlukan.

Pemotongan dilakukan dengan cara: memilih item barang pada PIB kemudian klik potong kuota mencari SK Pembebasan yang digunakan mencari item barang pada SK Pembebasan yang akan dipotong melakukan ekskusi pemotongan.

Pada saat melakukan pemotongan, petugas harus memperhatikan: kevalidan SK Pembebasan yang dipakai;

18

kesesuaian uraian barang; kesesuaian HS; kesesuaian jenis satuan.

Pemotongan ini akan dicatat dalam aplikasi sebagai data histori yang bisa ditampilkan kembali. Setelah selesai pemotongan kuota maka bisa dicetak konsep STTJ. Konsep STTJ adalah bentuk preview dari STTJ tetapi belum mendapatkan nomor.

Penerbitan STTJ dan Pengiriman Online Sebelum penerbitan STTJ harus dilakukan pemeriksaan konsep STTJ terlebih dahulu apakah sudah benar atau belum. Setelah dilakukan pemeriksaan dan telah sesuai maka dilakukan penerbitan STTJ dari menu Finalisasi Konsep STTJ kemudian dicetak. Jika dilakukan pencetakan Konsep STTJ ke layar (preview) maka belum mendapatkan nomor (tercetak dalam bentuk konsep). Jika dilakukan pencetakan STTJ ke printer maka akan mendapatkan nomor sesuai urutan penerbitan STTJ. Sesaat setelah penomoran STTJ maka secara otomatis aplikasi akan mengirimkan STTJ ke KPBC tujuan dengan melalui sistem pengiriman online melalui portal DIKC. Jika diperlukan pengiriman ulang dapat dilakukan dari menu khusus pengiriman STTJ.

Rekonsiliasi STTJ dengan PIB di KPBC Data STTJ yang diterbitkan oleh KWBC akan dikirimkan secara online ke KPBC. Data ini akan terekonsiliasi dengan data PIB yang dikirim oleh importir ke KPBC. Syarat terjadinya rekonsiliasi adalah nomor aju di PIB sama dengan nomor aju di STTJ nomor dan tanggal STTJ di PIB sama dengan nomor dan tanggal STTJ jumlah pungutan di STTJ minimal sama dengan di PIB.

Dalam hal di KWBC belum tersedia sistem pengiriman online atau di KPBC tujuan belum tersedia sistem pengiriman (dan penerimaan) online maka STTJU harus direkam di aplikasi pelayanan impor KPBC. Rekonsialiasi baru akan terjadi setelah perekaman data STTJ dilakukan dan data PIB disket diloading.
19

Apabila setelah melalui penetapan pabean di KPBC terdapat penetapan yang mengakibatkan perberbedaan jumlah dan/atau jenis barang atau pungutan antara PIB di KPBC dan PIB di KWBC maka STTJ harus diganti atau ditambah sehingga jumlahnya yang mencukupi. Demikianpula data

pemotongan SK Pembebasan harus diupdate.

3.1.3. APLIKASI

PEMERIKSAAN FASILITAS PEMBEBASAN DAN

PENERBITAN SPPJ Dokumen dan Data Dokumen dan data utama: Laporan BCL.KT01 dan surat permohonan. Dokumen pendukung: PEB, PIB, SSPCP, BL/AWB, SPPB dll. Dokumen output: SPPJ (Surat Pemberitahuan Penyesuaian Jaminan)

Pembuatan BCL.KT01 dan Pengajuannya BCL.KT01 adalah laporan pertanggungjawaban realisasi penggunaan bahan baku adalah Data Realisasi Ekspor/Penyelesaian lainnya; disertai data dokumen pendukung Data penggunaan bahan baku impor; disertai data dokumen pendukung Perhitungan bea-bea (yang dijaminkan) yang telah direalisasikan ekspornya Relasi data bahan baku dengan Data realiasi/penyelesaian adalah rekap terhadap rekap. Artinya laporan tidak bisa ditelusur hubungan barang jadi dengan bahan baku secara item per item. Tetapi yang ada adalah hubungan secara rekap data. BCL.KT01 diajukan ke KWBC dalam berkas yang disertai data disket. yang diimpor dengan afsilitas pembebasan. Isi laporan BCL.KT01

Pemasukan data BCL.KT01 ke dalam aplikasi Pada aplikasi KITE terdapat menu untuk loading data BCL.KT01. Setelah loading maka akan mendapatkan nomor dan tanggal register dari aplikasi. Nama pemeriksa akan ditunjuk oleh aplikasi. Sebagai bukti data telah berhasil diloading, diberikan cetakan surat tanda bukti loading dan nomor register. Data hasil loading kemudian dilakukan pemeriksaan.
20

Loading ulang bisa dilakukan dalam hal diperlukan kelengkapan data.

Pemeriksaan BCL.KT01 Data hasil loading dapat ditampilkan pada layar pemeriksaan BCL.KT01. Pemeriksa dapat melihat data BCL.KT01 untuk keperluan pemeriksaan. Disamping itu layar pemeriksaan dilengkapi alat-alat pendukung: Validasi untuk membantu melakukan pengecekan terhadap data-data elektronik seperti: o Adanya data PEB dan PIB (data elektronik) di database o Riwayat penggunaan PIB & PEB o Kesamaan NPWP, HS, Satuan barang antara laporan dan data pendukung o Kaitan data yang dilaporkan dengan data hasil audit o Komparasi perhitungan pungutan o Umur & urutan dokumen

Pencetakan hasil validasi dilakukan oleh aplikasi. Setelah validasi, aplikasi menampilkan informasi data-data yang tidak valid berdasarkan hasil validasi. Informasi tersebut dalam bentuk flag seperti berikut: Flag-1. Dokumen tidak ada Flag-2. Dokumen pernah digunakan Flag-3. Ada PIB/BC25 setelah PEB/BC24 terakhir Flag-4. NPWP/NIPER Dok.Penyelesaian Tidak Sama

21

Flag-5. Dokumen > 6 bulan Flag-6. EksporAwal > 1 Tahun dari Impor Awal Flag-7. Ekspor Awal <= Impor Awal Flag-8. Seri Brg dan atau HS berbeda Flag-9. Satuan Brg Berbeda Flag-10. Jumlah Brg > dari Dokumen PEB Flag-11. Kode Fasilitas selain Pembebasan. Perhitungan Pemakaian Bahan Baku untuk mengetahui o BM awal, (BM yang ada pada PIB) o BM pakai lalu (BM yang telah dipertanggungjawabkan ekspornya sebelum laporan BCL.KT01 ini) o BM pakai di register ini o BM Saldo (perhitungan saldo BM yang masih harus

dipertanggungjawabkan setelah BCL.KT01 ini disetujui) Contoh Perhitungan: BM Awal BM Pakai Lalu BM Pakai BM Saldo 1.000.000 (di PIB) 500.000 (di SPPJ sebelumnya) 400.000 (di SPPJ/BCL.KT01 ini) 100.000 (yang masih harus ada jaminannya)

Demikian pula untuk Cukai, PPN dan PPnBM dilakukan perhitungan serupa. Perhitungan dilakukan per item barang. Aplikasi juga mencatat perhitungan rekap per PIB. Selain pemeriksaan data oleh aplikasi juga harus dilakukan pemeriksaan berkas oleh petugas. Hasil validasi aplikasi dan pemeriksaan petugas disimpulkan dalam keputusan: Diterima, Ditolak atau Diminta

Kelengkapan Data. Jika keputusan diterima maka dapat diterbitkan konsep SPPJ (Surat Pemberitahuan Penyesuaian Jaminan) untuk diajukan kepada pejabat untuk mendapatkan persetujuan. Sebagai catatan, persetujuan atas proses ini penyesuaian jaminan karena persetujuan bisa diberikan atas sebagian dari nilai jaminan suatu PIB. Sedangkan sebagian yang lainnya masih belum disetujui karena bahan baku dimaksud belum diekspor atau belum dilaporkan realisasi ekspornya atau

22

belum disetujui laporan realisasi ekspornya sehingga jaminannya masih diperlukan.

Menerbitkan SPPJ Jika pejabat menyetujui konsep SPPJ (Surat Pemberitahuan Penyesuaian Jaminan) maka tinggal dilakukan finaliasai untuk mendapatkan nomor. Setelah itu SPPJ Pembebasan dicetak dan ditandatangani. SPPJ antara lain berisi data-data: Bahan baku Impor yang sudah bisa dikembalikan jaminannya Bahan baku impor yang masih harus dijaminkan

Dengan diterbitkannya SPPJ maka perusahaan akan menyesuaikan jaminan yang dipertaruhkan di KWBC dengan jaminan yang lebih kecil sesuai dengan saldo pada PIB.

3.1.4. SISTEM APLIKASI PELAYANAN BC 2.4 Dokumen BC 2.4 adalah dokumen penyelesaian atas barang impor yang mendapatkan fasilitas pembebasan KITE, yang tidak diekspor. Dokumen BC.24 ini merupakan salah satu dokumen penyelesaian pada saat mengajukan pelaporan realisasi ekspor (BCL.KT-01). Jenis-jenis kegiatan atau penyelesaian atas barang asal impor yang memperoleh fasilitas pembebasan (KITE) dengan menggunakan dokumen BC.24 adalah seperti pada bagan berikut ini: 1. Penyerahan Hasil Produksi ke Kawasan Berikat. 2. Penjualan Hasil Produksi ke Dalam Negeri. 3. Penjualan Hasil Produksi Sampingan ke Dalam Negeri. 4. Penjualan Sisa Hasil Produksi ke Dalam Negeri. 5. Penjualan Hasil Produksi Rusak ke Dalam Negeri. 6. Penjualan Bahan baku Rusak ke Dalam Negeri. 7. Pemusnahan Hasil Produksi Sampingan. 8. Pemusnahan Sisa Hasil Produksi. 9. Pemusnahan Hasil Produksi Rusak. 10. Pemusnahan Bahan baku Rusak. 11. Penyelesaian Bahan Baku Sebelum Jatuh Tempo. 12. Penyelesaian Bahan Baku Setelah Jatuh Tempo.
23

PENYELESAIAN BAHAN BAKU ASAL IMPOR (PIB) UNTUK PERUSAHAAN FASILITAS KITE (PEMBEBASAN)
PIB PIB PIB
HASIL PRODUKSI KONDISI BAIK
1. Ekspor (PEB/BC3.0) - oleh Ybs - oleh Eksportir Lain (brg Gabungan)

BAHAN BAHAN BAHAN BAKU BAKU BAKU

2. Penyerahan Ke KB (BC2.4)

HASIL PRODUKSI YANG RUSAK SISA HASIL PROUKSI HASIL PRODUKSI SAMPINGAN BAHAN BAKU YANG RUSAK

3. Dijual ke DN (BC 2.4)

4. Lainnya - Dijual ke DN - Dimusnahkan - dll (BC2.4)

Dokumen BC 2.4 dibuat oleh perusahaan menggunakan modul aplikasi KITE yang diberikan oleh Bea dan Cukai, kemudian diajukan ke KPPBC pengawas. Saat in telah ada Sistem Aplikasi Pelayanan (SAP) BC 2.4 di KPPBC Pengawas. Prinsip Kerja SAP BC2.4: Loading Disket BC24 Validasi Data Pemeriksaan Fisik Barang Rekam Laporan Hasil Pemeriksaan Fisik Penerbitan Surat Persetujuan Pengeluaran Barang (SPPB) BC24

Khusus untuk pembuatan BC 2.4 tujuan Penjualan Dalam Negeri dipersyartakan telah melakukan Ekpor atau Penyerahan ke Kawasan Berikat. Sedangkan yang ditujukan untuk Penjualan ke Dalam Negeri maksimal 25 persen dari yang telah diekspor atau diserahkan ke Kawasan Berikat. Selanjytnya data BC 2.4 dapat dilaporkan dalam Laporan BCL.KT01 sebagai penyelesaian barang.

24

3.2. Latihan 2 1. Gambarkan skema dan berikan penjelasan singkat mengenai: i. Pengelolaan BCF.KT01 dan SK Pembebasan ii. Pengelolaan STTJ iii. Pengelolaan Laporan Ekspor/BCL.KT01 dan SPPJ 2. Bagaimana cara melakukan penyempurnaan SK Pembebasan dalam SAP KITE? Data apa yang bisa dilakukan penyempurnaan? 3. Bagaimana cara memasukkan data PIB dan data jaminan untuk penerbitan STTJ dalam SAP KITE? 4. Apa yang dimaksud dengan pemotongan kuota sebelum penerbitan STTJ? Bagaimana cara pemotongan kuota? 5. Bagaimana cara penyampaian data STTJ ke KPPBC yang sudah online? 6. Kapan BCL.KT01 dibuta oleh perusahaan? Bagaimana cara

membuatnya? 7. Ceritakan cara pemeriksaan BCL.KT01 dalam SAP KITE! 8. Apakah yang dimaksud dengan SPPJ? Bagaimana cara menerbitkan SPPJ pada SAP KITE?

3.3. Rangkuman Pelayanan fasilitas Pembebasan KITE dengan SAP KITE di KWBC meliputi pelayanan dokumen: Permohonan Pembebasan (BCF.KT01), SK Pembebasan, Surat Tanda Terima Jaminan (STTJ), Laporan Pertanggungjawaban penggunaan fasilitas pembebasan (BCL.KT01), dan Surat Pemberitahuan Penyesuaian Jaminan (SPPJ). Dalam melakukan pemeriksaan terhadap data dalam SAP KITE fasilitas pembebasan, pemeriksa dibantu dengan validasi, perhitungan otomatis dan pemberian tanda/flag/message terhadap data-data yang menyimpang. Hal ini memudahkan pelaksanaan pelayanan fasilitas pembebasan.

25

4. Kegiatan Belajar (KB) 3

FASILITAS PENGEMBALIAN KITE

4.1. Uraian dan Contoh Karakteristik Fasilitas Pengembalian KITE 1. Impor dengan PIB umum; BM dan pungutan lainnya dibayar, sehingga terdapat SSPCP 2. Jika laporan pertanggungjawaban diterima, maka diterbitkan SKPFP (Surat Keputusan Pemberian Fasilitas Pengembalian) disertai SPMK (Surat Perintah Membayar Kembali BM dan Cukai)

4.1.1. APLIKASI PEMERIKSAAN FASILITAS PENGEMBALIAN DAN PENERBITAN SKPFP

Dokumen dan Data Dokumen dan data utama: Laporan BCL.KT02 dan surat permohonan. Dokumen dan data pendukung: PEB, PIB, SSPCP, BL/AWB, SPPB dll. Dokumen Output: SKPFP BM-C (Surat Keputusan Pemberian Fasilitas Pengembalian Bea Masuk dan Cukai) dan SPMK (Surat Perintah Membayar Kembali BM dan/atau Cukai)

Skema Proses Skema Proses pengelolaan fasilitas pengembalian KITE dalam SAP KITE adalah sebagai berikut:.

26

Laporan Ekspor fas. Pengembalian


PERUSAHAAN

(BCL.KT02) KWBC
Loading Disket Register

KPBC Database PIB/BC25/ PEB/BC24

Buat BCL.KT02/ Permohonan Transfer Disket Pengajuan Penolakan


T

Pemeriksaan

Disetujui ?
Y

Cetak Konsep SKPFP SPMK DIKC

Finalisasi Cetak

Proses di KPN Dan Bank

Sistem Pengiriman Online

Penjelasan Skema: Perusahaan menyiapkan berkas Laporan dan membuat data BCL.KT02 Perusahaan transfer data BCL.KT02 ke disket Perusahaan mengajukan berkas permohonan disertai disket BCF.KT02 Petugas Pendok KWBC menrima berkas, melakukan pengecekan kelengkapan berkas, meloading data disket Petugas Pemeriksa KWBC melakukan pemeriksaan dan menerbitkan Konsep SK Pembebasan Jika disetujui maka petugas melakukan finalisasi dan menerbitkan SKPFP dan SPMK Pembuatan BCL.KT02 dan Pengajuannya BCL.KT02 adalah laporan laporan pengunaan barang dan/atau bahan asal impor yang mendapat pembebasan bm dan/atau cukai serta ppn dan ppnbm tidak dipungut. Lazimnya BCL.KT02 disebut sebagai permohonan

pengembalian dalam rangka KITE. Isi laporan BCL.KT02 adalah Data Realisasi Ekspor/Penyelesaian lainnya; disertai data dokumen pendukung Data penggunaan bahan baku impor; disertai data dokumen pendukung, terutama bukti pembayaran/SSPCP pada waktu impor Perhitungan bea-bea yang dimintakan pengembalian

27

Relasi data bahan baku dengan Data realiasi/penyelesaian adalah detail per item barang. Artinya setiap barang ekspor direlasikan dengan bahan baku yang digunakan secara detil. BCL.KT01 diajukan ke KWBC dalam berkas yang disertai data disket.

Pemasukan data BCL.KT02 ke dalam aplikasi Pada aplikasi KITE terdapat menu fasilitas pengembalian. Salah satu sub menunya adalah loading data BCL.KT02. Setelah loading maka akan mendapatkan nomor dan tanggal register dari aplikasi. Nama pemeriksa akan ditunjuk oleh aplikasi. Sebagai bukti data telah berhasil diloading, diberikan cetakan surat tanda bukti loading dan nomor register. Data hasil loading kemudian dilakukan pemeriksaan. Loading ulang bisa dilakukan dalam hal diperlukan kelengkapan data.

Pemeriksaan BCL.KT02 Aplikasi menampilkan data-data BCL.KT02. Pada Detil Permohonan akan ditampilkan: Detil data barang ekspor o o Data Pendukung ekspor Data Bahan baku asal impor Data pendukung impor, terutama SSPCP Data hasil loading dapat ditampilkan pada layar pemeriksaan BCL.KT01. Pemeriksa dapat melihat data BCL.KT01 untuk keperluan pemeriksaan. Disamping itu layar pemeriksaan dilengkapi alat-alat pendukung:

28

Tombol Proses untuk melakukan perhitungan secara data terhadap BCL.KT02. Beberapa hal yang dilakukan oleh aplikasi pada saat klik tombol proses antara lain: o Memeriksa adanya data PIB,PEB atau dokumen pendukung lainnya o Memeriksa data pembayaran o Memeriksa saldo BM per item barang pada PIB, dll.

Report berupa Listing/Worksheet hasil proses di atas. Catatan atas datadata yang tidak valid akan ditampilkan dalam keterangan pada listing yang berkaitan. Listing-listing dimaksud adalah: o Listing 1: PEMERIKSAAN FORMULIR BCL_KT02 o Listing 2: DATA EKSPOR (PEB) PADA FORMULIR BCL-KT02 o Listing 3: DATA SSPCP o Listing 4: KONSEP PERSETUJUAN FASILITAS o Listing 5: DATA SPPB / PIB o Listing 6: CATATAN PEMERIKSAAN Setelah disetujui maka listing tadi ditandatangani pemeriksa s.d Kepala Bidang sebagai tanda persetujuan.

29

Report Umum yang berguna untuk membantu pemeriksaan dan penganalisaan data BCL.KT02. report ini berupa: Laporan Transaksi, Pemakaian PIB, List PIB, Laporan Saldo PIB, List Data PEB, List Bukti Pembayaran, Lampiran SKPFP, Keterkaitan Laporan Ekspor serta Perbandingan Berat Ekspor dan Impor

Tombol Reset Permohonan untuk mengembalikan posisi data seperti belum diproses sama sekali. Tombol ini dipakai jika terjadi kesalahan hasil proses yang tidak bisa diperbaiki lagi.

Menerbitkan SKPFP dan SPMK Selain pemeriksaan data oleh aplikasi juga harus dilakukan pemeriksaan berkas oleh petugas. Hasil validasi aplikasi dan pemeriksaan petugas disimpulkan dalam keputusan: Diterima, Ditolak atau Diminta

Kelengkapan Data. Jika keputusan diterima maka dapat diterbitkan konsep SKPFP BM-C (Surat Keputusan Pemberian Fasilitas Pengembalian Bea Masuk dan Cukai). Yang diberikan pengembalian oleh DJBC hanya BM dan/atau Cukai. Sedangkan jika akan dimintakan pengembalian PPN dan/atau PPnBM, pengajuannya dilakukan tersendiri ke Ditjen Pajak. Penerbitan SKPFP kemudian diikuti SPMK. SPMK dipergunakan untuk mengurus realisasi pembayaran pengembalian di KPPN.

4.2. Latihan 3 1. Sebutkan karakteristik fasilitas pengembalian dalam sudut pandang SAP KITE! 2. Gambarkan skema pengelolaan fasilitas pengembalian dalam SAP KITE! Berikan penjelasan singkat! 3. Hal-hal apa saja yang dilakukan oleh aplikasi pada saat tombol Proses diklik pada pemeriksaan BCL.KT02? 4. Sebutkan listing pemeriksaan BCL.KT02 yang bisa dicetak dari SAP KITE! 5. Bagaimana kesimpulan pemeriksaan BCL.KT02 dan berikan penjelasan singkat untuk tiap jenis kesimpulan!

30

4.3. Rangkuman SAP KITE untuk Fasilitas Pengembalian merupakan bagian dari SAP KITE secara keseluruhan. Dokumen yang merupakan data inputnya adalah disket BCL.KT02. Data BCF.KKT02 ini diproses sampai mendapat persetujuan dengan ditandai diterbitkannya Surat Keputusan Pemberian Fasilitas Pengembalian Bea Masuk dan Cukai (SKPFP BM-C) serta Surat Perintah Membayar Kembali Bea Masuk dan Cukai (SPMK BM-C). Dalam melakukan pekerjaannya petugas pemeriksa dibantu dengan validasi dan adanya beberapa report/cetakan yang dihasilkan oleh SAP KITE

Pengembalian. SAP BC 2.4 merupakan bagian dari sistem pelayanan fasilitas KITE. SAP BC 2.4 berada di KPPBC untuk pelayanan penyelesaian barang selian ekspor terhadap yang diimpor dengan fasilitas pembebasan.

31

5. Tes Formatif

1. Kegunaan Modul KITE bagi perusahaan sebagai berikut kecuali: a. Membuat BCF.KT01 b. Membuat BCF.KT02 c. Membuat BCL.KT01 d. Membuat BCL.KT02 2. Modul KITE dapat diberikan apabila perusahaan telah memiliki a. DIPER b. NIPER c. KodeAktivasi d. Komputer 3. Kemudahan yang bisa diperoleh oleh pengguna Modul KITE antara lain: a. Mendapatkan respon dari DJBC b. Terdapat sistem pengiriman PDE c. Data tersimpan dengan baik d. Bisa dipergunakan untuk mengajukan NIPER 4. SAP KITE terkait dengan SAP Impor dalam hal a. SAP Impor mengakses data SAP KITE secara online b. SAP KITE mengakses langsung Data PIB dari SAP Impor c. SAP KITE mengirim data STTJ ke SAP Impor d. SAP Impor mengambil data Jaminan dari SAP KITE secra online 5. Apabila suatu NIPER diprotek maka: a. Protek dapat dibuka dengan membayar denda b. Protek dapat dibuka dengan merekam surat pembukaan protek c. Perusahaan tidak dapat membuat Laporan Ekspor/BCL.KT01 d. Perusahaan harus memperpanjang jaminan 6. Data PIB dan PEB diperoleh oleh SAP KITE dari a. SAP Impor dan Ekspor Di KPPBC b. Sistem PDE c. Laporan BCL.KT01 dan BCL.KT02 d. Datawarehouse DJBC

32

7. Data SK Pembebasan secara elektronik dikirimkan ke a. Semua KPPBC b. KPPBC yang sudah online c. KPPBC yang sudah online dan tercantum dalam lampiran SK Pembebasan d. KPBC yang melakukan request/permintaan 8. Berikut ini isi data disket BCF.KT01 (Permohonan Pembebasan) kecuali: a. Rencana Produksi b. Rencana Impor bahan baku c. Pelabuhan Pemasukan d. Pelabuhan Pengeluaran/Ekspor 9. Dalam SAP KITE, penyempurnaan SK Pembebasan dapat dilakukan terhadap data: a. Pelabuhan Bongkar b. Pelabuhan Muat c. Bahan Baku d. Barang Jadi 10. Pemotongan kuota sebelum penerbitan STTJ adalah proses a. Pengurangan jaminan dengan nilai BM b. Pengurangan jumlah barang SK Pembebasan dengan PIB c. Pengurangan Nilai BM bebas dengan jaminan d. Pengurangan nilai impor setelah barang jadi diekspor 11. Pada saat pemotongan kuota sebelum penerbitan STTJ, petugas harus memperhatikan data berikut kecuali: a. Kevalidan SK Pembebasan yang dipakai; b. Kebenaran nllai pabean c. Kesesuaian HS dan uraian barang; d. Kesesuaian jenis satuan. 12. Data yang diperlukan untuk penerbitan STTJ adalah sebagai berikut kecuali: a. PIB b. PEB c. Jaminan
33

d. SK Pembebasan 13. Pengiriman STTJ ke KPPBC yang sudah online dilakukan dengan sistem: a. web b. PDE c. Disket d. online via portal DIKC 14. Faktor yang menyebabkan terjadinya rekonsiliasi data PIB dengan STTJ sebagai berikut kecuali: a. STTJ dikirim secara online b. nomor aju di PIB sama dengan nomor aju di STTJ c. nomor dan tanggal STTJ di PIB dan STTJ tepat sama d. jumlah nilai jaminan di STTJ minimal sama dengan di PIB 15. BCL.KT01 dibuat dengan Modul KITE. BCL.KT01 merupakan laporan ekspor untuk pengguna fasilitas KITE: a. Keringanan b. Pembebasan c. Pengembalian d. Gabungan 16. Termasuk dalam validasi yang dilakukan oleh aplikasi terhadap data BCL.KT01 adalah.... a. Kelengkapan dokumen b. Kesamaan uraian barang c. Kesamaan NPWP d. Keaslian dokumen 17. Perhitungan Saldo akhir BM pada data SPPJ pada SAP KITE menggunakan rumus: a. BM Saldo = BM Awal BM Pakai b. BM Saldo = BM Awal + BM Pakai c. BM Saldo = BM Awal BM Pakai Lalu BM Pakai d. BM Saldo = BM Awal + BM Pakai BM Pakai Lalu 18. Keputusan terhadap Laporan Ekspor BCL.KT01/BCL.KT02 adalah a. Diterima/Ditolak/Dipending b. Diterima/Ditolak/Diterima Sebagian
34

c. Diterima/Ditolak/Diproses d. Diterima/Ditolak/Diminta Kelengkapan Data 19. Berikut ini daftar/listing yang bisa dicetak pada saat pemeriksaan Laporan BCL.KT02 pada SAP KITE kecuali a. Listing: DATA JAMINAN b. Listing: DATA EKSPOR (PEB) c. Listing: DATA SSPCP d. Listing: DATA SPPB / PIB 20. Jika permhonan pengembalian disetujui maka diterbitkan: a. SPPJ dan SPMK b. SKPFP dan SPMK c. STTJ dan SPMK d. SPMK

35

6. Kunci Jawaban tes Formatif 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. B B C C B D C D A 11. B 12. B 13. D 14. A 15. A 16. C 17. C 18. D 19. A 20. B

10. B

7. Umpan Balik dan Tindak Lanjut Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif yang terdapat pada bagian akhir modul ini, dan hitungllah jawaban Anda untuk mengetahui tingkat penguasaan anda dengan rumus : Tingkat penguasaan = Jumlah jawaban yang benar X 100 % 20 Bila anda mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat meneruskan kegiatan belajar selanjutnya. Tetapi bila penguasaan Anda kurang dari 80%, Anda harus mempelajari kembali terutama bagian yang belum Anda kuasai.

36

8. Daftar Pustaka 1. Keputusan Menteri Keuangan Nomor: 580/KMK/2003 Tatalaksana

Kemudahan Impor Tujuan Ekspor Dan Pengawasannya. 2. Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor: KEP-205/BC/2003 tentang Petunjuk Pelaksanaan Tatalaksana Kemudahan Impor Tujuan Ekspor Dan Pengawasannya. 3. Peraturan Direktur Jenderal Bea Dan Cukai Nomor: 14/BC/2005 tentang Perubahan Atas Keputusan Direktur Jenderal Bea Dan Cukai Nomor Kep205/BC/2003 tentang Petunjuk Pelaksanaan Tatalaksana Kemudahan Impor Tujuan Ekspor Dan Pengawasannya. 4. Peraturan Direktur Jenderal Bea Dan Cukai Nomor: P-25/BC/2005 tanggal 16 Desember 2005 tentang Perubahan Kedua Atas Keputusan Direktur Jenderal Bea Dan Cukai Nomor Kep-205/BC/2003 tentang Petunjuk Pelaksanaan Tatalaksana Kemudahan Impor Tujuan Ekspor Dan Pengawasannya. 5. Modul Kuliah Prodip III Bea dan Cukai Sistem Informasi Kepabeanan dan Cukai, Sigit Santosa, BPPK

37

DIKLAT TEKNIS SUBSTANTIF DASAR KEPABEANAN DAN CUKAI

KETERAMPILAN PDE

MODUL V

SISTEM APLIKASI CUKAI DAN SISTEM APLIKASI TPB

OLEH : TIM PENYUSUN MODUL PUSDIKLAT BEA DAN CUKAI

PUSAT PENDIDIKAN DAN LATIHAN BEA DAN CUKAI BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

JAKARTA 2008

DAFTAR ISI

Daftar Isi SISTEM APLIKASI CUKAI DAN SISTEM APLIKASI TPB 1. Pendahuluan ... 1.1 Deskripsi Singkat .................................................................................. 1.2 Tujuan Instruksonal Umum 1.3 Tujuan Instruksional Khusus 2. Kegiatan Belajar (KB) 1 APLIKASI CUKAI HASIL TEMBAKAU 2.1 Uraian dan Contoh ........................ 2.1.1. Sejarah Aplikasi Cukai Hasil Tembakau . 2.1.2. Tujuan Pengembangan Aplikasi Cukai Hasil Tembakau ............ 2.1.3. Arsitektur Sistem Aplikasi Pelayanan Cukai Sentralisasi ........... 2.1.4. Alur Aplikasi Pelayanan Cukai Hasil Tembakau ........................ 2.2 Latihan 1 ................................................................................................ 2.3 Rangkuman ............................................................................................ 3. Kegiatan Belajar (KB) 2 SISTEM APLIKASI PELAYANAN BC 2.3 3.1 Uraian dan Contoh ....................... 1. Tujuan Pengembangan Sistem Aplikasi Pelayanan BC 2.3 ..... 2. Hubungan Aplikasi Pelayanan BC 2.3. Dengan Aplikasi Lain ........ 3. Dasar Hukum, Prinsip dan Alur Proses Aplikasi Pelayanan BC 3.2 3.1 Latihan 2 3.2 Rangkuman 4. Kegiatan Belajar (KB) 3 PEMBUATAN BC 2.3. 4.1 Uraian dan Contoh ....................... A. Pembuatan BC 2.3. ... B. SAP BC 2.3 Versi Server .. 4.2 Latihan 2 4.3 Rangkuman

1 1 2 2

3 3 4 4 5 22 22

23 23 24 24 30 30

31 31 34 38 38 i

5. 6. 7. 8.

Test Formatif .. Kunci Jawaban Test Formatif Umpan Balik dan Tindak Lanjut Daftar Pustaka ................................................................................................

39 45 45 46

ii

MODUL V SISTEM APLIKASI CUKAI DAN SISTEM APLIKASI TPB

1. 1.1.

Pendahuluan Deskripsi Singkat Di dalam modul ini akan mempelajari mengenai sistem aplikasi pelayanan Cukai dan Tempat Penimbunan Berikat (TPB) khususnya BC 2.3. Sistem aplikasi pelayanan cukai adalah sistem aplikasi untuk melakukan pelayanan di bidang cukai akan sesuai dengan sistem prosedur dan peraturan yang berlaku. Aplikasi pelayanan Cukai berdasarkan software aplikasinya, dibagi menjadi 3 (tiga) yaitu aplikasi pelayanan versi PC yang di-develop dengan menggunakan software VB dan aplikasi pelayanan di komputer server yang dibangun dengan menggunakan software oracle developer. Pada bulan April tahun 2008, mulai dikembangkan aplikasi cukai hasil tembakau versi baru, untuk mengantisipasi akan dibentuknya Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) tipe Madya Cukai. Aplikasi ini akan diujicoba di KPPBC Malang pada awal Juli 2008. Sistem aplikasi pelayanan TPB khusus BC 2.3 adalah sistem aplikasi untuk melakukan pelayanan terhadap dokumen pemberitahuan pabean untuk

pengeluaran barang impor dari Kawasan Pabean untuk ditimbun di Tempat Penimbunan Berikat (TPB) yang diajukan oleh Pengusaha TPB dengan menggunakan media disket atau pertukaran data elektronik (PDE). Aplikasi pelayanan TPB-BC 2.3 berdasarkan software aplikasinya, dibagi menjadi 2 (dua) yaitu aplikasi pelayanan versi PC yang di-develop dengan menggunakan software VB dan aplikasi pelayanan di komputer server yang dibangun dengan menggunakan software oracle developer. Sejalan dengan otomasi pelayanan dokumen BC 2.3 di lingkungan DJBC, bagi perusahaan yang mengajukan dokumen BC 2.3 juga dibuatkan suatu aplikasi untuk mendukung otomasi tersebut. Aplikasi ini biasa disebut dengan modul TPB, yang berfungsi untuk membuat data, mencetak dokumen TPB dan membentuk file data BC 2.3.

1.2.

Tujuan Instruksional Umum

Setelah mengikuti/menyelesaikan mata pelajaran PDE Kepabeanan dan Cukai ini peserta diklat diharapkan mampu memahami sistem aplikasi untuk pelayanan pada DJBC khususnya untuk Sistem Aplikasi Pelayanan (SAP) Cukai dan TPB (BC 2.3).

1.3.

Tujuan Instruksional Khusus

Setelah mempelajari pelajaran ini, peserta diklat diharapkan mampu menjelaskan mengenai prinsip-prinsip dalam aplikasi pelayanan cukai dan BC 2.3, alur proses aplikasi, hubungan antar aplikasi serta kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam pengelolaan aplikasi pelayanan cukai dan TPB (BC 2.3).

2. Kegiatan Belajar (KB) 1 APLIKASI CUKAI HASIL TEMBAKAU 2.1. Uraian dan Contoh 2.1.1. Sejarah Aplikasi Cukai Hasil Tembakau Aplikasi Cukai Tembakau mulai dibangun pada tahun 2001. Namun karena beberapa kendala pada saat itu, aplikasi ini tidak jadi diimplementasikan. Selanjutnya pada tahun 2003 aplikasi ini dikembangkan lagi dengan disain yang baru. Aplikasi dikembangkan dengan menggunakan software oracle developer dan database yang digunakan juga database Oracle. Aplikasi ini biasa disebut aplikasi versi server, karena diimplementasikan di Kantor Pelayanan Bea dan Cukai (KPBC) yang mempunyai server. Pekerjaan dilakukan mulai bulan September hingga Desember 2003. Pada bulan Januari 2004, aplikasi ini mulai diuji coba dan diimplementasikan di KPBC Surakarta. Setelah implementasi di Surakarta berjalan, selanjutnya aplikasi ini diimplementasikan di KPBC-KPBC lain seperti Kudus, Malang, Tanjung Emas, Juanda, Kediri, Pasuruan dan Medan. Selain itu, aplikasi cukai juga dikembangkan dalam versi Personal Computer (PC). Versi ini diimplementasikan di KPPBC-KPPBC yang volume dokumen cukainya kecil, seperti KPPBC Panarukan, Bojonegoro, Blitar, Madiun, Tulungagung, Yogyakarta, Pematang Siantar dan lain-lain. Pada bulan April tahun 2008, mulai dikembangkan aplikasi cukai hasil tembakau versi baru, untuk mengantisipasi akan dibentuknya Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) tipe Madya Cukai. Aplikasi ini akan diujicoba di KPPBC Malang pada awal Juli 2008. Aplikasi ini berbeda dengan aplikasi yang lama. Perbedaan yang sangat signifikan adalah diterapkannya sistem sentralisasi. Sedangkan aplikasi yang lama menggunakan sistem desentralisasi, di mana di setiap KPPBC harus ada server untuk aplikasi dan database. Dengan sistem sentralisasi, server aplikasi dan database hanya ada satu, yang ditempatkan di Kantor Pusat. Sistem ini memungkinkan Kantor Pusat untuk mengetahui data transaksi di KPPBC pada saat itu juga.

2.1.2. Tujuan Pengembangan Aplikasi Cukai Hasil Tembakau Aplikasi Cukai Hasil Tembakau dikembangkan untuk :

a. Standarisasi Pelayanan di Bidang Cukai Dengan adanya aplikasi ini diharapkan pelayanan di bidang cukai akan sesuai dengan sistem prosedur dan peraturan yang berlaku. Sehingga sistem pelayanan di semua Kantor Pelayanan Bea dan Cukai berlaku sama (standar). b. Menyediakan Data yang Cepat dan Akurat Dalam pelayanan manual data yang disajikan selalu terlambat, terutama untuk kantor-kantor yang kegiatannya relatif banyak. Hal ini disebabkan untuk menyajikan data maka pegawai harus merekap dokumen secara manual dan mengolahnya sendiri. Belum lagi kalau laporan tersebut harus dikirim ke Kantor Pusat, yang tentu saja memerlukan waktu yang lebih lama lagi. Dengan adanya aplikasi ini diharapkan data dapat disajikan dengan cepat dan akurat. Sebab data sudah dapat diolah secara otomatis yang tentunya lebih cepat. c. Mempermudah Pemantauan Fasilitas Penundaan Pembayaran Cukai Dalam aplikasi ini disediakan fasilitas untuk memonitoring penundaan pembayaran cukai. Pemantauan meliputi anatara lain masa berlaku SKEP Penundaan, batas maksimal nilai penundaan dan jatuh tempo penundaan. d. Mempermudah Pengelolaan Inventory Pita Cukai Aplikasi ini juga menyediakan fasilitas untuk memantau pemasukan dan pengeluaran pita cukai (inventory). Sehingga jumlah persediaan dapat dipantau dimonitor setiap saat dengan cepat dengan mudah. Selain itu Laporan Pemakaian Pita Cukai juga dapat dibuat secara otomatis, karena setiap pemasukan dan pengeluaran pita cukai sudah tercatat. Aplikasi dilengkapi pula fasilitas untuk merekapitulasi permintaan penyediaan pita cukai yang dapat langsung dikirim ke Kantor Pusat. Sehingga proses penyediaan pita cukai diharapkan tepat waktu atau bahkan lebih cepat.

2.1.3. Arsitektur Sistem Aplikasi Pelayanan Cukai Sentralisasi Arsitektur Sistem Aplikasi Pelayanan Cukai adalah seperti gambar berikut :

Dari gambar di atas dapat dijelaskan : Server database hanya ada di Kantor Pusat DJBC (sentralisasi) Di KPPBC hanya ada PC yang telah diinstal program aplikasi dan jaringannya terhubung/terkoneksi dengan Kantor Pusat. Koneksi antara KPPBC dengan Kantor Pusat dapat menggunakan beberapa teknologi antara lain MPLS, VPN internet, VPN dial atau teknologi lainnya yang dinilai baik dan aman. Untuk saat ini di KPPBC tipe Madya Cukai menggunakan teknologi MPLS. Kalau ada perubahan program aplikasi di Kantor Pusat, program aplikasi yang diinstal di KPPBC otomatis akan terupdate/disesuaikan dengan program aplikasi di Kantor Pusat ketika user melakukan login ke aplikasi. Tidak diperlukan petugas khusus untuk menginstal ulang aplikasi tersebut. Data yang direkam di KPPBC secara langsung (real time) dapat dipantau oleh Kantor Pusat. Demikian juga sebaliknya. Tetapi data itu hanya bisa dibuka/dilihat sesuai dengan kewenangan yang diberikan kepada user.

2.1.4. Alur Aplikasi Pelayanan Cukai Hasil Tembakau

Alur Pelayanan Cukai Hasil Tembakau dibagi dalam beberapa proses kegiatan yaitu : Pelayanan NPPBKC Pelayanan HJE/Merk

Pelayanan Permohonan Penyediaan Pita Cukai (PPPC) Pelayanan Pemesanan Pita Cukai (CK-1) CK-2 dan CK-3 Pelayanan Laporan Produksi Harian Hasil Tembakau (CK-4) Pelayanan permohonan Penundaan Pembayaran Cukai 2.1.4.1. Pelayanan NPPBKC Setiap Perusahaan yang bergerak di bidang produksi hasil tembakau harus mempunyai identitas berupa Nomor Pokok Pengusaha Barang Kena Cukai (NPPBKC). Proses Pengelolaan data NPPBKC adalah sebagai berikut : a. Untuk mendapatkan NPPBKC pengusaha harus mengajukan

permohonan kepada Direktur Jenderal Bea dan Cukai melalui Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai di mana lokasi pabrik akan didirikan dengan terlebih dahulu menyerahkan denah lokasi pabrik. b. Berdasarkan berkas permohonan yang diajukan dilakukan pemeriksaan lapangan terhadap lokasi pabrik. c. Hasil pemeriksaan lokasi dituangkan ke dalam Berita Acara Pemeriksaan lokasi pabrik. d. Berita Acara Pemeriksaan lokasi direkam pada SAP Cukai e. Kalau berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan terhadap lokasi pabrik hasilnya dinyatakan telah memenuhi syarat, pengusaha dapat

mengajukan PMCK-6 berikut formulir registrasi yang telah diisi dengan lengkap dan benar.

f. Data registrasi direkam oleh petugas di KPPBC g. Kalau semuanya sudah sesuai ketentuan, NPPBKC dapat diterbitkan oleh Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai. h. Setelah Surat Keputusan penerbitan NPPBKC diterbitkan oleh Kepala Kantor, segera direkam di SAP Cukai. 2.1.4.2. Pelayanan HJE Merk Setelah pengusaha hasil tembakau memeperoleh NPPBKC, yang

bersangkutan harus mengajukan HJE/Merk hasil tembakau yang diproduksi ke KPPBC. Kalau HJE/Merk Hasil tembakau disetujui, barulah permohonan penyediaan pita cukai dapat dilayani. Pengelolaan data HJE/Merk dimulai

dari pengajuan HJE/Merk ker KPPBC sampai terbitnya surat keputusan penetapan HJE/merk. Prosesnya adalah seperti pada skema di bawah:

PPenjelasan skema: Pengusaha mengajukan permohonan HJE/Merk ke KPPBC Data HJE/Merk direkam Data hasil perekaman divalidasi dan dianalisa oleh petugas Petugas dapat menolak HJE/Merk dalam hal terjadi kemiripan merk atau disain kemasan hasil tembakau dengan HJE/ Merk terdahulu milik perusahaan lain Kalau datanya valid , validator memberikan rekomendasi bahwa datanya dapat diterima. Pejabat pembuat keputusan meneliti ulang rekomendasi yang diberikan oleh validator.

Kalau pejabat pembuat keputusan tidak sependapat (tidak setuju), maka permohonan HJE/Merk ditolak (direject) dengan memberitahukan alasan penolakan. Form reject otomatis tercetak setelah keputusan dibuat. Kalau pejabat pembuat keputusan sependapat dengan validator, konsep Surat Keputusan HJE/Merk dapat dicetak. Surat Keputusan HJE/Merk diberi nomor dan ditandatangani oleh Kepala KPPBC. Nomor SKEP direkam di SAP Cukai Skep penetapan oleh kepala KPPBC diverifikasi ulang oleh petugas di KP DJBC Kalu ternyata penetepan HJE/Merk menyalahi ketentuan, Kantor Pusat dapat merekomendasikan kepada Kepala KPPBC untuk membatalkan Skep HJE/Merk tersebut. Kalau ada rekomendasi pembatalan HJE/Merk dari KP DJBC, maka kepala KPPBC akan membuat surat pembatalan terhadap Skep HJE yang direkomendasikan untuk dibatalkan.. 2.1.4.3. Pelayanan Permohonan Penyediaan Pita Cukai (PPPC) Setelah pabrik hasil tembakau berproduksi dan produksi hariannya sudah dilaporkan ke Kantor Pelayanan, maka untuk proses pengeluarannya hasil tembakau dapat dilakukan. Pengeluaran hasil tembakau harus sudah dalam kemasan untuk penjualan eceran dan dilekati pita cukai. Sebelum pengusaha melakukan pemesanan pita, terlebih dahulu harus mengajukan Permohonan Penyediaan Pita Cukai (PPPC). Pengajuan PPPC paling lambat tanggal 10 setiap bulan untuk kebutuhan bulan berikutnya. Kalau permohonan penyediaan pita yang diajukan ternyata masih belum memenuhi kebutuhan pita cukai, sementara pengusaha sudah mengajukan PPPC untuk jenis pita yang sama, maka yang bersangkutan dapat mengajukan PPPC Tambahan (PPPCT). Proses pengajuan PPPC dan PPPCT tergambar seperti alur proses berikut :

Penjelasan dari gambar di atas adalah sebagai berikut : Pengusaha mengajukan PPPC ke Kantor Pelayanan. Dalam hal jumlah pita cukai di PPPC yang diajukan diperkirakan tidak mencukupi, pengusaha dapat mengajukan Permohonan Penyediaan Pita Cukai Tambahan (PPPCT). PPPC / PPPCT dapat diajukan secara manual atau Pertukaran Data Elektronik (PDE). PPPC yang diajukan secara manual direkam dan divalidasi. Validasi oleh komputer meliputi : NPPBKC Periode persediaan pita cukai Jenis pita cukai Jumlah pita cukai yang diminta untuk disediakan

Selain validasi yang dilakukan oleh komputer pada saat perekaman, validasi juga dilakukan oleh petugas dengan cara mencocokkan hasl perekaman dengan hard copy PPPC/PPPCT.. Kalau validator menyatakan datanya memang sudah valid maka PPPC/PPPCT dinomori. Penomoran dilakukan oleh komputer Data PPPC/PPPCT yang sudah diberi nomor, otomatis dapat dilihat di KP DJBC untuk diproses menjadi Order Bea Cukai (OBC). Petugas di KP DJBC memroses PPPC/PPPCT menjadi Order Bea Cukai (OBC) yang kemudian dikirim ke Peruri dalam bentuk softcopy dan hardcopy. OBC mewakili satu jenis pita yang dipesan oleh pengusaha. Peruri mencetak pita cukai berdasarkan OBC dan mengirimkan pita cukai ke Kantor Pusat / Gudang Pita dengan dokumen Daftar Pengiriman Pita Cukai (DPPC) berikut data softcopy DPPC. Untuk satu OBC kemungkinan bisa melalui lebih dari satu kali pengiriman. DPPC diload ke aplikasi pelayanan cukai di KPPBC atau direkam untuk menambah persediaan pita cukai di gudang pita cukai. Untuk pita cukai yang diambil di KPPBC, Kantor Pusat mengirimkan pita cukai ke KPPBC sesuai dengan PPPC/PPPCT nya dengan menggunakan Surat Pengantar (SP) atau Daftar Pengiriman Pita Cukai (DPPC) untuk KPPBC. Untuk satu PPPC/PPPCT kemungkinan bisa lebih dari satu kali pengiriman. SP/DPPC untuk Kantor Pelayanan direkam jumlah pengirimannya, dibandingkan jumlah yang dipesan. Kalau kurang/lebih dibuat berita acara atas kekurangan/kelebihannya. Hasil perekaman akan menambah persediaan pita cukai di Kantor Pelayanan. Setelah pita cukai tersedia di Kantor Pelayanan, pengusaha yang mengambil pita cukai di Kantor Pelayanan sudah dapat mengajukan pemesanan pita cukainya. Demikian juga pengusaha yang mengambil pita cukainya di Kantor Pusat, baru bisa mengajukan pemesanan pita cukainya apabila pita cukainya sudah tersedia di gudang pita cukai Kantor Pusat.

10

Dalam pengusaha sudah mengajukan PPPC dan PPPCT tetapi ternyata jumlah masih belum mencukupi, pengusaha dapat mengajukan PPPCT izin Direktur Jenderal melalui KPPBC. KPPBC hanya meneruskan saja berkas PPPCT izin Direktur Jenderal ke KP DJBC tanpa merekam datanya. Perekaman dilakukan di KP DJBC setelah benar-benar mendapat izin dari Direktur Jenderal. Kalau ditolak, PPPCT izin Direktur Jenderal datanya tidak perlu direkam. 2.1.4.4. Pelayanan Pemesanan Pita Cukai (CK-1) Pengeluaran hasil tembakau dari pabrik oleh pengusaha dapat dilakukan dengan terlebih dahulu mengajukan pemesanan pita cukai dengan menggunakan dokumen CK-1. CK-1 baru bisa dilayani kalau pita cukai berdasarkan PPPC yang diajukan oleh pengusaha sudah tersedia. CK-1 yang diajukan oleh pengusaha direkam oleh petugas di KPPBC. Pada saat perekaman, CK-1 ditolak (tidak dapat lanjutkan proses perekamannya) dalam hal : 1. Pengusaha yang bersangkutan selama satu tahun tidak pernah melakukan kegiatan pemesanan pita cukai. 2. Merk yang diajukan di CK-1 dalam 6 bulan terakhir tidak pernah dipesankan pita cukainya. 3. Pengusaha yang bersangkutan karena suatu hal statusnya diblokir, misal melakukan pelanggaran. 4. Akumulasi jumlah hasil tembakau yang akan dikeluarkan melebihi jumlah maksimal golongan produksinya dalam setahun, sehingga perlu naik golongan dan penyesuaian tarif cukai dan HJEnya. Untuk itu yang bersangkutan harus memecah CK-1 sampai batas maksimal produksi golongan produksinya dan untuk pengajuan CK-1. Selanjutnya harus naik golongan dan menggunakan tarif dan HJE golongan produksi yang baru. 5. Untuk pengusaha yang tidak kena PPN, akumulasi jumlah total HJE yang diajukan sampai saat pengajuan CK-1 dalam tahun tersebut ternyata melewati batas Pengusaha Kena Pajak (PKP). Sehingga untuk kelebihan total HJEnya harus dikenakan PPN. Untuk itu yang bersangkutan harus memecah CK-1 sampai batas PKP. Setelah itu pengajuan CK-1 berikutnya harus sudah kena PPN. 11

6. Untuk pengusaha yang mendapat fasilitas pembayaran cukai secara kredit/penundaan ternyata masa berlakunya SKEP penundaannya sudah habis, sehingga perlu adanya perpanjangan SKEP penundaan. 7. Pengusaha yang mendapat fasilitas pembayaran cukai secara

kredit/penundaan ternyata total nilai yang cukai yang diajukan melebihi saldo akhir penundaan yang diperbolehkan. 8. Masih ada CK-1 kredit yang melewati jatuh tempo tetapi statusnya belum lunas. Pembayaran cukai dapat dilakukan secara tunai ataupun kredit (penundaan). Penundaan pembayaran cukai dapat dilakukan kalau pengusaha sudah mendapat SKEP Penundaan. a. Pengajuan CK-1 dengan pembayaran secara tunai Proses pengajuan CK-1 dengan pembayaran cukai secara tunai dapat digambarkan seperti alur proses berikut :

Penjelasan dari gambar di atas adalah sebagai berikut : 1. Perekaman dan Validasi data CK-1 Tunai

12

Pengusaha mengirim data CK-1 (PDE) atau menyerahkan dokumen CK-1 ke penerimaan dokumen cukai di KPPBC Petugas Penerimaan dokumen merekam data CK-1 dengan cara pembayaran tunai. Pada saat perekaman validasi dilakukan oleh komputer yang meliputi : NPPBKC Nama yang diberi kuasa kalau pengurusannya dikuasakan Cara pembayaran (tunai/kredit) Kebenaran tarif dan warna pita HJE/Merk Batas produksi sesuai golongan Batas PKP Pemotongan Cukai dengan CK-2 atau CK-3 kalau ada Perhitungan cukai dan PPN

Kalau sudah valid maka hasil perekaman dapat disimpan. Sebaliknya bila data tidak valid maka data tidak bisa disimpan dan CK-1 dikembalikan kepada pengusaha. Setelah selesai perekaman, data hasil perekaman divalidasi lagi oleh petugas dengan cara mencocokkan hasil perekaman dengan hard copy CK-1 yang diajukan oleh pengusaha. Kalau data yang direkam sudah sesuai maka CK-1 otomatis diberi nomor dan diberi tanda terima yang dapat dicetak melalui aplikasi Kalau data tidak sesuai, validator memutus perekam tidak sesuai, dokumen CK-1 dikembalikan kepada perekam untuk direkam ulang. Untuk CK-1 yang sudah diberi nomor dapat dilakukan pembayaran cukai dan PPNnya ke bank. Tidak semua pengusaha harus membayar PPN. Hanya pengusaha yang total HJE pertahunnya melebihi PKP yang terkena PPN 2. Pembayaran Cukai CK-1 Tunai Proses pembayaran/pelunasan CK-1 tunai adalah segabai berikut :

13

Setelah cukai dan PPN dibayar di bank, pengusaha mendapatkan Surat Setoran Cukai dalam negeri dan Pajak (SSCP). SSCP dibawa ke Seksi Perbendaharaan untuk direkam datanya Data SSCP minimal harus ada kode kantor, nomor dan tanggal SSCP, nilai pungutan yang dibayar, Nomor Transaksi

Penerimaan Negara (NTPN), Nomor Transaksi Bank (NTB), nama bank dan cabang bank. Kalau jumlah pembayaran cukai dan PPNnya sudah sama dengan yang di CK-1 maka ketika data disimpan status CK-1 sudah lunas. Kalau jumlah pembayaran cukai dan PPNnya kurang daripada yang di CK-1 maka status CK-1 belum lunas dan harus dilakukan pembayaran kekurangannya. Jadi untuk satu CK-1 dapat dilunasi dengan lebih dari satu SSCP Khusus untuk PPN dapat dilunasi/ditutup dengan konpensasi PPN yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Pajak. Kalau nilai kompensasi sama atau lebih besar dari tagihan PPN yang ada di CK-1, maka PPN statusnya lunas dan nilai PPN tidak perlu dibayar dengan SSCP. Kalau kompensasi yang dipakai untuk CK-1 tersebut masih sisa, dapat digunakan untuk melunasi PPN CK-1 berikutnya. Jadi satu kompensasi dapat dipakai untuk melunasi PPN di lebih dari satu CK-1. Kalau nilai kompensasi lebih kecil daripada nilai PPN di CK-1, maka kekurangannya dibayar dengan menggunakan SSCP bersamaan dengan cukainya. b. Pengajuan CK-1 dengan pembayaran secara kredit Proses pengajuan CK-1 dengan pembayaran cukai secara kredit dapat digambarkan seperti alur proses berikut :

14

Penjelasan dari gambar di atas adalah sebagai berikut : 1. Perekaman dan Validasi data CK-1 Kredit : Pengusaha mengirim data CK-1 (PDE) atau menyerahkan dokumen CK-1 ke penerimaan dokumen cukai di KPPBC Petugas Penerimaan dokumen merekam data CK-1 dengan cara pembayaran tunai. Pada saat perekaman validasi dilakukan oleh komputer yang meliputi : NPPBKC Nama yang diberi kuasa kalau pengurusannya dikuasakan Cara pembayaran Kebenaran tarif dan warna pita

15

HJE/Merk Batas Golongan Produksi Batas PKP Masa berlaku SKEP Penundaan Saldo penundaan terakhir Perhitungan cukai dan PPN

Kalau saldo kredit kurang atau masa berlaku SKEP Penundaan habis maka CK-1 langsung direject Kalau sudah valid maka hasil perekaman dapat disimpan. Sebaliknya bila data tidak valid maka data tidak bisa disimpan dan CK-1 dikembalikan kepada pengusaha. Setelah selesai perekaman, data hasil perekaman divalidasi lagi oleh petugas dengan cara mencocokkan hasil perekaman dengan hard copy CK-1 yang diajukan oleh pengusaha. Kalau data yang direkam sudah sesuai maka CK-1 otomatis diberi nomor dan diberi tanda terima yang dapat dicetak melalui aplikasi Kalau data tidak sesuai, validator memutus perekam tidak sesuai, dokumen CK-1 dikembalikan kepada perekam untuk direkam ulang. Untuk CK-1 yang sudah diberi nomor dapat dilakukan proses persetujuan kreditnya. 2. Persetujuan Kredit CK-1 kredit yang sudah direkam datanya dapat dilihat di Seksi Perbendaharaan. Petugas melakukan persetujuan terhadap CK-1 kredit Setelah kredit/penundaan disetujui, tanggal jatuh tempo otomatis terisi dan nilai cukai di CK-1 tersebut otomatis mengurangi saldo penundaan Penyelesaian/Pelunasan Cukai CK-1 Kredit Penyelesaian/Pelunasan CK-1 kredit dapat menggunakan : SSCP CK-2

16

CK-3 1. Penyelesaian CK-1 kredit dengan SSCP caranya adalah sebagai berikut : Pembayaran dilakukan di bank Setelah cukai dan PPN dibayar di bank, pengusaha mendapatkan Surat Setoran Cukai dalam negeri dan Pajak (SSCP). SSCP dibawa ke Seksi Perbendaharaan untuk direkam datanya Kalau jumlah pembayaran cukai dan PPNnya sudah sama dengan yang di CK-1 maka ketikan data disimpan status CK-1 sudah lunas. Kalau jumlah pembayaran cukai dan PPNnya kurang daripada yang di CK-1 maka status CK-1 belum lunas dan harus dilakukan pembayaran kekurangannya. Jadi untuk satu CK-1 dapat dilunasi dengan lebih dari satu SSCP Khusus untuk PPN dapat dilunasi/ditutup dengan konpensasi PPN yang dikeluarkan oleh Direktorat Pajak. Kalau nilai kompensasi sama atau lebih besar dari tagihan PPN yang ada di CK-1, maka PPN statusnya lunas dan nilai PPN tidak perlu dibayar dengan SSCP. Kalau kompensasi yang dipakai untuk CK-1 tersebut masih sisa, dapat digunakan untuk melunasi PPN CK-1 berikutnya. Jadi satu kompensasi dapat dipakai untuk melunasi PPN di lebih dari satu CK-1. Kalau nilai kompensasi lebih kecil daripada nilai PPN di CK-1, maka kekurangannya dibayar dengan menggunakan SSCP bersama dengan cukainya. Setelah data disimpan nilai cukai yang dibayar akan menambah saldo penundaan. 2. Penyelesaian CK-1 kredit dengan CK-2 Penyelesaian CK-1 kredit dengan nilai pengembalian CK-2, caranya adalah sebagai berikut : CK-2 yang digunakan untuk menyelesaikan CK-1 kredit, harus sudah direkam lebih dahulu

17

Kalau nilai pengembalian cukai di CK-2 sama atau lebih besar daripada cukai di CK-1, maka status CK-1nya lunas dan nilai cukai tidak perlu dibayar dengan SSCP. Sisa pengembalian di CK-2 dapat dipakai untuk menyelesaikan CK-1 kredit berikutnya. Jadi satu CK-2 atau CK-3 dapat digunakan untuk memotong hutang lebih dari satu CK-1 kredit. Kalau nilai pengembalian di CK-2 lebih kecil dari nilai cukai di CK-1, maka kekurangannya harus dibayar dengan SSCP. Nilai pengembalian cukai yang digunakan untuk memotong hutang cukai akan menambah saldo penundaan. 3. Penyelesaian CK-1 kredit dengan CK-3 Penyelesaian CK-1 kredit dengan nilai pengembalian CK-3, caranya sama dengan penyelesaian CK-1 kredit dengan nilai pengembalian CK-2. CK-2 atau CK-3 yang dipakai untuk memotong hutang cukai harus dilunasi dulu biaya penggantinya.

c. Penyerahan Pita Cukai Penyerahan pita cukai dilakukan setelah pelunasan cukai direkam untuk CK-1 tunai atau untuk CK-1 kredit setelah kredit/penundaannya disetujui. Penyerahan pita cukai bisa dilakukan di Kantor Pelayanan atau di Kantor Pusat. Untuk pengambilan pita cukai di Kantor Pelayanan prosesnya sebagai berikut : Pengusaha atau kuasanya dapat mengambil pitanya di bagian distribusi pita cukai. Petugas distribusi pita cukai melakukan pengecekan status CK-1 di aplikasi. Kalau datanya valid, status sudah lunas atau sudah mendapat persetujuan penundaan dan tanggal jatuh tempo sudah ditetapkan, pita cukai dapat diberikan kepada pengusaha atau kuasanya. Petugas merekam jumlah pita cukai yang dikeluarkan. Atas penyerahan pita cukai dikeluarkan tanda terima pita cukai yang dicetak dari aplikasi.

18

Kalau pita cukai sudah diserhkan semua, maka status CK-1 di aplikasi menjadi sudah selesai (pita sudah diserahkan). Untuk pengambilan pita cukai di Kantor Pusat prosesnya sebagai berikut: Pengusaha atau kuasanya menyerahkan CK-1 kredit kepada petugas di bagian distribusi pita cukai di gudang pita Kantor Pusat. Petugas distribusi pita cukai melakukan pengecekan status CK-1 di aplikasi. Kalau datanya valid, status sudah mendapat persetujuan penundaan dan tanggal jatuh tempo sudah ditetapkan, pita cukai dapat diberikan kepada pengusaha atau kuasanya. Petugas merekam jumlah pita cukai yang dikeluarkan. Atas penyerahan pita cukai dikeluarkan tanda terima pita cukai yang dicetak dari aplikasi. Kalau pita cukai sudah diserahkan semua, maka status CK-1 di aplikasi menjadi sudah selesai (pita sudah diserahkan). 2.1.4.5. Pelayanan Pemusnahan/Pengembalian Pita Cukai (CK-2/CK-3) a. Proses Pengelolaan Data CK-2 (Pemusnahan Pita Cukai) Pemusnahan pita cukai dilakukan terhadap hasil tembakau di peredaran bebas yang sudah dilekati pita cukai. Pemusnahan dapat dilakukan misalnya hasil tembakau tersebut kadaluarsa sehingga tidak layak dikonsumsi. Pada SAP Cukai sampai saat ini tidak ada alur proses. CK-2 yang diterbitkan hanya direkam datanya berikut pelunasan biaya penggantinya bila ada. CK-2 dapat digunakan untuk memotong hutang cukai dari CK-1 kredit atau kalau tidak mempunyai hutang cukai dapat digunakan untuk memotong nilai cukai di CK-1 tunai dengan catatan biaya pengganti sudah dilunasi terlebih dahulu. b. Proses Pengelolaan Data CK-3 (Pengembalian Pita Cukai) Pengembalian pita cukai dilakukan terhadap pita cukai yang sudah diambil pengusaha tetapi kondisinya rusak atau salah cetak. Pada SAP Cukai sampai saat ini tidak ada alur proses. CK-3 yang diterbitkan hanya direkam datanya berikut pelunasan biaya penggantinya bila ada.

19

Sama seperti CK-2, CK-3 dapat digunakan untuk memotong hutang cukai dari CK-1 kredit atau kalau tidak mempunyai hutang cukai dapat digunakan untuk memotong nilai cukai di CK-1 tunai. 2.1.4.6. Pelayanan Permohonan Penundaan Pembayaran Cukai Untuk mendapatkan fasilitas penundaan pembayaran cukai, pengusaha harus memperoleh surat keputusan penundaan pembayaran cukai. Proses penerbitan surat keputusan penundaan pembayaran cukai dapat digambarkan sebagai berikut :

Penjelasan : Pengusaha mengajukan permohonan penundaan pembayaran cukai dilengkapi dengan laporan keuangan dan data pemesanan pita cukai 6 bulan terakhir serta mempertaruhkan jaminan. Petugas penerimaan dokumen merakam data permohonan Petugas KPPBC meneliti kelengkapan dokumen, laporan keuangan dan data pemesanan pita cukai 6 bulan terakhir serta memperhitungkan

besarnya nilai penundaan cukai yang akan diberikan.

20

Kalau tidak disetujui, diterbitkan surat penolakan Kalau disetujui, diterbitkan surat keputusan penundaan pembayaran cukai. Surat keputusan penundaan pembayaran cukai diterbitkan oleh Kepala KPPBC atau kepala Kantor Wilayah atau Direktur Cukai sesuai dengan besarnya nilai penundaan menurut peraturan yang berlaku. Setelah Surat Keputusan diberi nomor oleh Kepala Kantor, Kepala Kanwil atau Direktur Cukai, nomor SKEPnya direkam di SAP Cukai 2.1.4.7. Pelayanan Laporan Harian Produksi Hasil Tembakau (CK-4) Pengusaha hasil tembakau wajib melaporkan produksi hariannya. Proses laporan produksi harian adalah sebagai berikut : Pengusaha membuat laporan produksi harian dengan menggunakan formulir CK-4. Sesuai peraturan yang berlaku sekarang CK-4 wajib diserahkan pada dua kali sebulan Data CK-4 direkam oleh petugas di KPPBC Data CK-4 akan digunakan untuk perbandingan produksi hasil tembakau dengan pemesanan pita cukainya.

21

2.2. Latihan 1

1. Sebutkan apa saja yang menyebabkan pemesanan pita cukai (CK-1) ditolak. 2. Apa saja yang divalidasi dalam proses perekaman data CK-1 ? 3. Sebutkan tujuan pengembangan aplikasi cukai hasil tembakau. 4. CK-1 kredit dapat selesaikan dengan dokumen apa saja. Jelaskan. 5. Jelaskan tentang pengeluaran pita cukai di KPPBC pada aplikasi cukai hasil tembakau.

2.3. Rangkuman Pada SAP Cukai Hasil tembakau yang menjadi merupakan data pokok adalah data NPPBKC dan data HJE/merk hasil tembakau. Data ini harus sudah ada sebelum proses pelayanan. Proses pelayanan Permohonan Penyediaan Pita Cukai dimulai dari penyerahan PPPC/PPPCT oleh pengusaha hasil tembakau ke KPPBC sampai proses pemasukan pita cukai ke gudang pita cukai atau persediaan pita cukai di KPPBC Pelayanan CK-1 dibedakan menjadi dua yaitu CK-1 tunai dan CK-1 kredit. Untuk CK-1 tunai, pita cukai dapat diberikan kepada pengusaha kalau pelunasan pungutan di CK-1 sudah direkam. Sedangkan CK-1 kredit, pita cukai sudah dapat diserahkan kalau sudah mendapat persetujuan dan tanggal jatuh temponya ditetapkan. Untuk pelunasan pungutannya dapat dilakukan sampai batas tanggal jatuh tempo. Kalau lewat jatuh tempo pengusaha belum melunasi pungutan CK1 kredit, maka CK-1 berikutnya akan diblokir otomatis dan yang bersangkutan dikenakan denda. CK-1 kredit hanya diberikan untuk pengusaha yang sudah mendapat Surat Keputusan penundaaan cukai dan datanya sudah direkam di SAP Cukai. CK-2 dan CK-3 dapat digunakan untuk memotong hutang cukai atau memotong cukai yang harus dibayar pada CK-1 bila tidakmempunyai hutang cukai, dengan syarat biaya penggantinya sudah dilunasi dan direkam di SAP Cukai.

22

3. Kegiatan Belajar (KB) 2

SISTEM APLIKASI PELAYANAN BC 2.3

3.1. Uraian dan Contoh 1. Tujuan Pengembangan Sistem Aplikasi Pelayanan BC 2.3 S A. Memudahkan Pengajuan Dokumen BC 2.3 Pengajuan BC 2.3 yang melibatkan Kantor Pengawas dan Kantor Bongkar membutuhkan suatu jalur komunikasi yang cepat, aman, dan lebih murah. Hal ini disebabkan letak antara Kantor Pengawas dan Kantor Bongkar yang seringkali berjauhan. Dengan adanya aplikasi dan media komunikasi yang memadai diharapkan dapat mendukung kegiatan pelayanan sehingga lebih sederhana dan dapat mengurangi interaksi antara pengguna jasa dengan petugas. Hal ini tentu saja akan meningkatkan kecepatan

pelayanan dokumen BC 2.3 dan seharusnya dapat menghemat biaya dalam proses pengajuan BC 2.3. B. Standardisasi Data SAP dirancang sesuai dengan standard aplikasi yang ada di DJBC. Aplikasi pada DJBC telah mengadopsi beberapa standar internasional, diantaranya mengikuti rekomendasi World Customs Organization (WCO) dan standar Electronic Data Interchange for Administration, Commerce and Transportation (EDIFACT) dari United Nations. Dengan adanya standardisasi ini maka diharapkan data BC 2.3 yang diajukan memiliki keseragaman isi yang lengkap dan teratur sehingga dapat dipertukarkan dengan aplikasi lainnya. C. Memudahkan Pengambilan Keputusan Data yang tersimpan dalam database yang teratur dan rapi akan mudah ditampilkan kembali jika diperlukan. Proses ini tentu akan banyak

membantu dalam memantau aktivitas setiap perusahaan yang melakukan kegiatan pengeluaran barang impor agar selalu memenuhi ketentuan yang berlaku. D. Memudahkan Pengawasan Dari sisi pengawasan, SAP BC 2.3 sangat menunjang fungsi pengawasan. Dengan adanya aplikasi tersebut, terdapat pengaturan tugas dan wewenang 23

petugas pada proses pelayanan dan pengawasan. Pejabat yang berwenang dapat melakukan pengawasan terhadap data-data BC 2.3 yang diajukan dengan menggunakan fungsi-fungsi pada aplikasi. Selain memantau data, aplikasi juga bermanfaat dalam mengawasi aktivitas para pengguna SAP BC 2.3 karena setiap proses perubahan data dan pengambilan keputusan akan tersimpan datanya, termasuk data petugas yang melakukan kegiatan dan waktunya. Hal ini berarti akan membantu sistem pengawasan intern di DJBC. 2. Hubungan Aplikasi Pelayanan BC 2.3 Dengan Aplikasi Lain. A. Modul Hanggar Modul hanggar berguna dalam mencatat dan mengirimkan waktu keluar dan masuk gate. Selain itu, modul hanggar juga berguna dalam mencatat dan mengirimkan Laporan Hasil Pemeriksaan ke Kantor Pengawas. 3. Dasar hukum, prinsip dan alur proses aplikasi pelayanan BC 2.3. Pada kegiatan belajar ini, akan diuraikan mengenai dasar hukum Sistem Aplikasi Pelayanan (SAP) BC 2.3, serta prinsip-prinsip yang ada dalam aplikasi pelayanan tersebut. 3.1. Dasar Hukum Pelayanan BC 2.3 Dasar hukum dari SAP BC 2.3 adalah sebagai berikut : Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 48/ PMK.04 /2005 tanggal Agustus 2005 Tentang Perubahan Kedelapan Atas Keputusan Menteri Keuangan Nomor 101/KMK.05/1997 Tentang Pemberitahuan Pabean. Peraturan Direktur Jenderal Bea Cukai Nomor 38/BC/2007 Tanggal 28 Desember 2007 tentang Tata Kerja Pengeluaran Barang Impor dari Kawasan Pabean Untuk Ditimbun di Tempat Penimbunan

Berikat dengan Menggunakan Sistem Pertukaran Data Elektronik. Surat Direktur Jenderal u.p Direktur Teknis Kepabeanan Nomor S1209/BC.2/2005 tanggal 06 Juni 2005 tentang Prosedur Pengeluaran Barang dari TPS dengan SPPB BC 2.3 dalam rangka Ujicoba.

24

3.2. Prinsip Pelayanan BC 2.3 1. Pembuatan BC 2.3 Pada prinsipnya atas semua pengeluaran barang impor dari Kawasan Pabean untuk ditimbun di TPB wajib diberitahukan oleh Pengusaha TPB dengan menggunakan dokumen BC 2.3. Namun BC 2.3 tersebut tidak dapat dipergunakan untuk mengeluarkan barang impor dari Kawasan Pabean berupa makanan dan/atau minuman, yang dimaksudkan untuk dikonsumsi di TPB. BC 2.3 disampaikan oleh Pengusaha TPB ke Kantor Pengawasan. TPB yang berada dibawah pengawasan Kantor Pengawasan yang telah memiliki sistem PDE wajib menyampaikan BC 2.3 dalam bentuk data elektronik dengan menggunakan sistem PDE. 2. Kantor Pengawasan Kantor Pengawasan adalah Kantor Pabean yang mengawasi TPB. Dalam kegiatan pelayanan, kantor pengawasan berperan sebagai kantor pendaftaran. Selain sebagai tempat pendaftaran, permohonan pembatalan terhadap BC2.3 juga diajukan ke Kantor Pengawasan. Kantor Pengawasan juga melakukan kegiatan menerima dan meneliti dokumen BC 2.3 yang dikirim oleh Pengusaha TPB. Selain itu, sebagian besar kantor pengawasan juga dapat sekaligus berperan sebagai Kantor Pembongkaran (Kantor Bongkar). 3. Kantor Pembongkaran Kantor Pembongkaran adalah Kantor Pabean yang mengawasi pelabuhan pembongkaran barang impor. SAP di Kantor

Pembongkaran menerima dan mendistribusikan data BC 2.3, SPPB Merah atau SPPB dari dan kepada SAP pada Kantor Pengawasan serta mengirimkan data penutupan pos BC 1.1 dan realisasi pengeluaran barang impor ke SAP di Kantor Pengawasan. 4. Pendaftaran BC 2.3 BC 2.3 didaftarkan oleh Pengusaha TPB ke Kantor Pengawas. Pada Kantor Pengawasan yang telah menggunakan sistem PDE, pendaftaran BC 2.3 wajib dilakukan dengan menggunakan sistem PDE.

25

Pada Kantor Pengawasan yang tidak menggunakan sistem PDE, pendaftaran BC 2.3 dilakukan dengan menggunakan disket atau formulir. 5. Reject BC 2.3 Data BC 2.3 yang diajukan, secara otomatis akan direject oleh sistem aplikasi dalam hal : Data BC 2.3 tidak benar dan atau tidak lengkap; Data pemberitahu diblokir Penghitungan Bea Masuk, Cukai, PDRI, dan pelunasan PNBP tidak benar. 6. Pemeriksaan Fisik. Di dalam sistem aplikasi pelayanan BC 2.3, pemeriksaan fisik

dilakukan bila BC 2.3 mendapatkan SPPB Merah, yaitu BC 2.3 yang termasuk salah satu dari kriteria berikut ini : Barang impor merupakan barang yang diimpor kembali atau barang contoh; BC 2.3 termasuk kategori analyzing point dan oleh petugas diputuskan untuk pemeriksaan fisik. Pemeriksaan fisik tersebut dilakukan di TPB. 7. Pembatalan BC 2.3. Dalam hal terjadi pembatalan BC 2.3, pengusaha TPB wajib mengajukan permohonan pembatalan ke Kantor Pengawasan tempat BC 2.3 didaftarkan dengan dilampiri alasan dan bukti-bukti pendukung. Permohonan pembatalan tersebut harus disampaikan sebelum barang impor dikeluarkan dari Kawasan Pabean. Pembatalan dapat dilakukan bila permohonan pembatalan telah disetujui oleh Kepala Kantor Pengawasan setelah terlebih dahului dilakukan penelitian.

26

3.3. Alur Pelayanan BC 2.3 4.3.1 Alur Proses Data BC 2.3 Alur proses pelayanan data BC 2.3 PDE sesuai P-38/BC/2007 adalah sebagai berikut : 1. Validasi Proses validasi merupakan proses yang pertama kali dilakukan oleh sistem ketika data BC 2.3 masuk ke Kantor Pendaftaran (Kantor Pengawas). pengecekan terhadap hal- hal berikut ini: Status blokir pengusaha TPB; Penghitungan Bea Masuk, Cukai, PDRI, dan pelunasan PNBP; Pengecekan kelengkapan dan kevalidan data- data yang harus diisi. Jika ketiga pengecekan tersebut valid, maka akan diteruskan ke proses yang selanjutnya. 2. Pengecekan Skep Penangguhan Setelah melakukan validasi, sistem melakukan pengecekan skep penangguhan dari pengajuan BC 2.3. Bila terdapat skep penangguhan pada pengajuan BC 2.3 tersebut, maka BC 2.3 akan masuk proses analyzing point. proses akan dilanjutkan ke tahap yang berikutnya. 3. Pengecekan HS Barang Larangan dan Pembatasan (lartas) Setelah melakukan pengecekan Skep Penangguhan, sistem akan melakukan pengecekan apakah barang barang yang ada pada pengajuan BC 2.3 diduga termasuk barang yang dilarang atau dibatasi. Bila terdapat barang-barang yang Bila tidak Sistem melakukan

diduga termasuk barang yang dilarang atau dibatasi, maka BC 2.3 akan masuk proses analyzing point. 4. Analyzing Point Proses analyzing point merupakan proses perekaman hasil keputusan Petugas Analyzing Point terhadap SKep

Penangguhan atau HS barang larangan dan pembatasan pada

27

BC 2.3 yang bersangkutan. Bila petugas analyzing point memutuskan bahwa barang pada dokumen BC 2.3 merupakan barang larangan, maka sistem akan memberikan respon penolakan (reject). Bila tidak, petugas dapat

memutuskan untuk menunggu Skep Perijinan atas barang yang dimaksud. Bila demikian, maka sistem akan Untuk

memberikan respon Konfirmasi Skep Perijinan.

barang contoh, reimpor KB dan lainnya, yang tidak terkena analyzing point secara otomatis akan memperoleh respon SPPB Merah atau SPPB. 5. Gate Out Pengeluaran barang impor dari Kawasan Pabean dilakukan dengan menggunakan SPPB Merah atau SPPB. Pada proses ini juga dilakukan penyegelan oleh Pejabat Bea dan Cukai. Selain itu juga dilakukan pencatatan waktu keluarnya barang dari kantor bongkar (kawasan pabean). Pada tahap ini juga terjadi proses pencatatan jumlah kontainer/ kemasan yang keluar dari kawasan pabean. Informasi telah keluarnya

barang dari kawasan pabean ini akan dikirimkan ke kantor pengawasan. 6. Gate In Pemasukan barang impor ke TPB dilakukan dengan menggunakan SPPB Merah atau SPPB. Pada tahap gate in terjadi proses pencatatan waktu masuknya barang ke kawasan berikat (kantor pengawas). Pada tahap ini juga terjadi proses pencatatan jumlah kontainer/ kemasan yang masuk ke kawasan berikat. 7. Perekaman Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) Proses perekaman LHP dilakukan oleh Pejabat Fungsional Pemeriksa Barang (PFPB). Proses ini bertujuan merekam realisasi pemeriksaan barang apakah sesuai dengan dokumen BC 2.3 yang diajukan.

28

8. Penelitian Dokumen Proses penelitian dokumen terhadap BC 2.3 meliputi hal-hal berikut ini : a. kelengkapan dan kebenaran pengisian BC 2.3; b. kebenaran penghitungan bea masuk, cukai, PDRI, dan pelunasan PNBP; dan c. kelengkapan pengisian dokumen pelengkap pabean yang diwajibkan, berupa BL/AWB, invoice dan packing list, serta dokumen pelengkap pabean lainnya antara lain Surat Keputusan dan atau barang yang memerlukan izin dari instansi terkait . Alur proses dari pelayanan BC 2.3 secara elektronik dapat dilihat pada gambar 1.

Gambar 1. Alur Proses Pelayanan Data BC 2.3

29

3.2. Latihan 1 Jelaskan secara singkat dan jelas alur proses data BC 2.3 ! 3.3.Rangkuman Dasar Hukum Pelayanan Sistem Aplikasi BC 2.3 adalah Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 48 / PMK.04 /2005 tanggal Agustus 2005 Tentang Perubahan Kedelapan Atas Keputusan Menteri Keuangan Nomor 101/KMK.05/1997 Tentang Pemberitahuan Pabean. Sedangkan Tata Kerja Pengeluaran Barang Impor dari Kawasan Pabean Untuk Ditimbun di Tempat Penimbunan Berikat dengan

Menggunakan Sistem Pertukaran Data Elektronik diatur dalam Peraturan Direktur Jenderal Bea Cukai Nomor 38/BC/2007 Tanggal 28 Desember 2007. Pada prinsipnya semua pengeluaran barang impor dari Kawasan Pabean untuk ditimbun di TPB wajib diberitahukan oleh Pengusaha TPB dengan menggunakan dokumen BC 2.3. Namun BC 2.3 tersebut tidak dapat dipergunakan untuk mengeluarkan barang impor dari Kawasan Pabean berupa makanan dan/atau minuman, yang dimaksudkan untuk dikonsumsi di TPB. Dalam kegiatan pelayanan, Kantor Pengawasan berperan sebagai kantor pendaftaran. Kantor Pengawasan adalah Kantor Pabean yang mengawasi TPB. Kantor Pembongkaran adalah Kantor Pabean yang mengawasi pelabuhan pembongkaran barang impor. Pengajuan BC 2.3

dilakukan melalui media disket atau secara PDE atau formulir, tergantung dari KPPBC tempat BC 2.3 didaftarkan.

30

4. Kegiatan Belajar (KB) 3 PEMBUATAN BC 2.3

4.1. Uraian, Contoh dan Non Contoh A. PEMBUATAN BC 2.3 Pada kegiatan belajar ini, akan diuraikan mengenai proses pembuatan data BC 2..3 dengan modul aplikasi sampai dengan pengajuan data BC 2.3 ke Kantor Pengawas, dan proses penanganan data BC 2.3 pada KPPBC. 1. Pembuatan BC 2.3 pada Perusahaan 1. Modul Aplikasi BC 2.3 Pengusaha TPB wajib menyediakan media komunikasi data elektronik yang terhubung dengan sistem aplikasi kepabeanan dalam rangka pelayanan kepabeanan. DJBC telah menyediakan aplikasi BC 2.3 yang selanjutnya disebut modul BC 2.3 untuk membantu perusahaan membuat dokumendokumen yang berkaitan dengan sistem dan prosedur BC 2.3. Modul ini hanya diberikan kepada perusahaan yang telah mengajukan permohonan untuk mendapatkan modul aplikasi dan terhadap permohonan tersebut telah memenuhi persyaratan yang ditentukan. Modul BC 2.3 yang dipakai saat ini dibuat dengan software Visual Basic 6.0 dan database Microsoft Access yang berbasis pada PC dengan operating system Windows XP. 2. Membuat BC 2.3 Dengan menggunakan modul aplikasi BC 2.3 tersebut, perusahaan dapat membuat dokumen BC 2.3. Modul aplikasi BC 2.3 juga telah dilengkapi dengan modul validasi yang menjamin agar data yang dibuat valid dan memenuhi standard yang dipakai oleh DJBC. Uraian lebih rinci tentang tatacara pemakaian Modul Aplikasi BC 2.3 dapat dibaca pada buku petunjuk operasionalnya. Di dalam modul ini hanya akan disampaikan layar-layar yang ada di modul BC 2.3 secara garis besar saja, terutama yang terkait dengan dokumen BC 2.3.

31

Berikut ini diuraikan tentang layar-layar yang berhubungan dengan pembuatan dokumen BC 2.3 pada modul aplikasi BC 2.3, dimulai dari layar header. Perekaman data BC 2.3 terdiri dari beberapa layar, yaitu header, dokumen, kemasan, kontainer dan layar detil BC 2.3. Layar Header merupakan layar editing data-data yang merupakan data umum BC 2.3, sedangkan layar detail untuk merekam data yang berhubungan dengan data per barang. a. Layar header Layar header pada modul aplikasi BC 2.3 berguna dalam pengisian informasi berikut ini : 1. Identifikasi dokumen BC 2.3, meliputi nomor dokumen pengajuan, KPPBC pendaftaran, tujuan, tujuan pengiriman dan jenis barang. 2. Data Pemberitahuan, meliputi data pemasok, data importir, PPJK, pengangkutan, pelabuhan, KPPBC pengawas, KPPBC bongkar, tempat penimbunan, valuta, dan berat (berat bersih dan berat kotor).

32

Gambar 2 : Layar Perekaman Data Header Dokumen BC 2.3 dengan Aplikasi TPB Versi 2.5

b. Layar detail Layar detail memuat informasi setiap barang yang mencakup hal-hal sebagai berikut : 1. Identitas Barang, meliputi nomor seri barang, jenis barang, tujuan pengiriman, HS dan seri barang, uraian barang, merk, tipe, spesifikasi lain, kode barang, Negara asal barang, dan uraian fasilitas. 2. Harga, meliputi informasi CIF (Cost Insurance Freight), jumlah satuan, jenis satuan, serta FOB (Freight On Board). 3. Kemasan, meliputi jumlah, jenis, dan berat bersih kemasan.

33

4.

Tarif dan Fasilitas, meliputi tarif BM, PPN, PPnBM, PPh, dan tarif cukai untuk Komoditas cukai.

Gambar Layar Perekaman Data Detail Barang Dokumen BC 2.3 dengan Aplikasi TPB Versi 2.5

B. SAP BC 2.3 Versi Server 1. Spesifikasi hardware, software dan database a. Hardware, Software Dan O/S SAP BC 2.3 Versi Server dibuat menggunakan Oracle Developer Patch 6i. Aplikasi ini ditempatkan pada server IBM Regatta PSeries IBM tipe P 690, P 670, P 650, P 630 dan P 610 dengan O/Snya AIX. Aplikasi diletakkan di IAS (Internet Aplication Server) berbasis web client. Sedangkan user memakai PC sebagai client dengan operating system Windows. Untuk menjalankan aplikasi pada client diperlukan software internet explorer atau browser lainnya. Disamping itu juga diperlukan adanya Oracle J-Initiator. b. Database Database SAP BC 2.3 versi server adalah database TOAD.

34

2. Pelayanan BC 2.3 Versi Server Untuk SAP BC 2.3 Versi Server mengadopsi ketentuan pelayanan dokumen BC 2.3 yang berlaku. SAP BC 2.3 Versi Server terbagi atas 3 bagian yaitu : 1. Aplikasi Kantor Pusat Untuk aplikasi pada Kantor Pusat berperan dalam hal melayani permohonan pengajuan SKep Penangguhan. Aplikasi ini melayani mulai dari perekaman permohonan pengajuan Skep Penangguhan hingga pengiriman Skep Penangguhan yang telah disetujui dari Kantor Pusat ke Kantor Pengawas. 2. Aplikasi Kantor Pengawasan Untuk aplikasi pada Kantor Pusat berperan dalam hal melayani bidang perbendaharaan, penerimaan dokumen, proses analyzing point, pemeriksaan barang, pemeriksaan dokumen, pengawasan P2(Penegahan dan Penyidikan), pembatalan dan perbaikan BC 2.3 serta Gate-In manual. 3. Aplikasi Kantor Bongkar Untuk aplikasi pada Kantor Pusat berperan dalam hal melayani gate out secara manual, serta pengawasan P2. Contoh dari tampilan SAP BC 2.3 Versi Server dapat dilihat pada beberapa gambar berikut.

35

Gambar Layar Menu SAP BC 2.3 pada KPPBC Pengawas Pada TPB Versi Server

3. SAP BC 2.3 Versi PC (Personal Computer) 1. Spesifikasi hardware, software dan database a. Hardware, Software Dan O/S SAP BC 2.3 versi PC dibuat dengan menggunakan software Visual Basic. Aplikasi pelayanan ini ditempatkan pada komputer PC dengan operating system Windows 2000/NT/XP, processor minimal intel pentium II, space hardisk minimal 500 MB, RAM 128 MB. b. Database Database SAP BC 2.3 versi PC adalah database Access. 2. Pelayanan BC 2.3 dengan aplikasi pelayanan ekspor versi PC. Sistem Aplikasi Pelayanan (SAP) BC 2.3 Versi PC sangat berbeda dengan SAP BC 2.3 Versi Server yang dibahas pada bagian awal modul. SAP BC 2.3

36

versi PC ini bersifat sangat sederhana. Aplikasi ini pada dasarnya dibangun hanya untuk pengumpulan data (data collecting) saja. Aplikasi ini

menyediakan fungsi untuk loading disket BC 2.3 dan fitur-fitur standard seperti browse dan pencetakan laporan pelayanan BC 2.3. Aplikasi ini telah diimplementasikan di KPPBC Sunda Kelapa dimana frekuensi pengajuan BC 2.3-nya cukup sering. Contoh tampilan dari SAP BC 2.3 versi PC dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Gambar Layar Loading Disket BC 2.3 dari KPBC Lain Pada Inhouse TPB Versi PC

37

4.2.

Latihan 3

1. 2. 3.

Mengapa diperlukan Modul BC 2.3 dalam pembuatan BC 2.3? Data apa saja yang dimasukkan pada layar header Modul BC 2.3?! Jelaskan proses pengiriman BC 2.3 dari pengusaha TPB ke Kantor Pengawas secara elektronik!

4. 5.

Apakah perbedaan antara SAP BC 2.3 versi server dan versi PC? Jelaskan bagian-bagian dalam SAP BC 2.3 Versi Server!

4.3.

Rangkuman DJBC telah menyediakan aplikasi untuk membantu perusahaan membuat dokumen BC 2.3 yaitu Modul Aplikasi BC 2.3. Kelengkapan data yang

dimasukkan oleh pengusaha akan diperiksa oleh modul agar nantinya bisa diterima oleh aplikasi BC 2.3 di Kantor Pelayanan. Untuk mengirimkan data BC 2.3 ke KPBC ada dua cara, yaitu melalui disket dan melalui PDE. Hal ini disesuaikan dengan kondisi dari KPBC tempat pendaftaran BC 2.3. Berdasarkan fungsinya maka aplikasi pelayanan BC 2.3 meliputi fungsi pelayanan, pengawasan, pelaporan. Proses pelayanan BC 2.3 meliputi penerimaan data BC 2.3, pemeriksaan BC 2.3 yang masuk Analyzing Point, pemeriksaan fisik barang, perekaman hasil pemeriksaan fisik barang, pembetulan BC 2.3, pembatalan BC 2.3, penerbitan SPPB/SPPBM, penerbitan SPPD dan pelayanan BC 2.3 manual dan pemasukan datanya ke dalam aplikasi. Pada KPBC yang tidak terpasang server, disediakan aplikasi pelayanan BC 2.3 versi PC. Pada prinsipnya proses pelayanan BC 2.3 versi PC hanya bersifat data collecting (pengumpulan data). Di masa yang akan datang, tentu saja SAP BC 2.3 versi akan disempurnakan agar dapat menjalankan fungsi-fungsi lain yang telah diterapkan pada SAP BC 2.3 versi server.

38

5. Test Formaif 1

Pilihlah jawaban yang paling benar dengan cara melingkari salah satu huruf a, b, c atau d di bawah ini.

1. Permohonan Penyediaan Pita Cukai (PPPC) diajukan oleh pengusaha ke : a. Kantor Pusat DJBC b. Kantor Wilayah Bea dan Cukai c. Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai d. Jawaban a, b dan c benar semua

2. Sebelum mengajukan pemesanan pita cukai, pengusaha hasil tembakau paling tidak harus : a. Mempunyai NPPBKC dan Skep HJE/Merk b. Mempunyai NPPBKC, Skep HJE/Merk dan telah mengajukan PPPC c. Mempunyai NPPBKC, Skep HJE/Merk, SKEP Penundaan dan telah mengajukan PPPC d. Mempunyai NPPBKC, SKEP Penundaan dan telah mengajukan PPPC

3. CK-1 kredit dapat diselesaikan dengan dokumen berikut, kecuali: a. CK-2 b. CK-3 c. CK-4 d. SSCP

4. Berikut ini adalah KPPBC yang menggunakan aplikasi cukai versi PC, kecuali: a. Pasuruan

b. Panarukan a. Pematang Siantar

b. Yogyakarta

5. Aplikasi cukai hasil tembakau dengan sistem sentralisasi mulai dikembangkan tahun :

39

a. 2003 b. 2004 c. 2007 d. 2008

6. Elemen data SSCP yang dapat digunakan untuk melunasi pungutan cukai untuk dokumen CK-1 yang harus ada adalah, kecuali : a. Nomor dan tanggal SSCP b. Nomor Transaksi Penerimaan Pajak (NTPP) c. Nomor Transaksi Penerimaan Negara (NTPN) d. Nomor Transaksi Bank (NTB)

7. Order Bea Cukai (OBC) yang dikirim ke Peruri pada aplikasi cukai hasil tembakau dalam bentuk : a. Hardcopy b. Softcopy c. Hardcopy dan Softcopy d. Jawaban a, b dan c salah

8. Setelah CK-1 kredit disetujui maka nilai cukai di CK-1 otomatis akan : a. Mengurangi saldo penundaan b. Menambah saldo penundaan c. Mengurangi saldo pengembalian cukai di CK-2 d. Menambah saldo pengembalian cukai di CK-2

9. Dalam hal CK-3 digunakan untuk menyelesaikan/memotong hutang cukai CK-1 kredit dan nilai pengembaliannya lebih besar dari nilai cukai di CK-1 maka : a. Nilai pengembalian cukai di CK-3 dianggap sudah habis b. Sisa nilai pengembalian cukai di CK-3 tidak dapat digunakan lagi c. Sisa nilai pengembalian cukai di CK-3 dapat dicairkan d. Sisa nilai pengembalian cukai di CK-3 dapat digunakan untuk memotong tagihan cukai di CK-1 yang lain

40

10. Dalam hal CK-3 digunakan untuk menyelesaikan/memotong hutang cukai CK-1 kredit dan nilai pengembaliannya lebih kecil dari nilai cukai di CK-1 maka : a. Nilai pengembalian cukai di CK-3 tidak dapat digunakan b. Pembayaran harus dengan SSCP c. Kekurangan nilai cukai di CK-3 dapat ditambah dengan SSCP d. CK-3 hanya dapat digunakan untuk CK-1 yang nilai cukainya lebih kecil dari nilai pengembalian atau nilai CK-1 sama dengan nilai pengembalian

11. Pengeluaran hasil tembakau dengan dokumen CK-8 harus ditutup dengan dokumen : a. CK-1 b. PEB c. CK-2 d. PIB

12. Pengeluaran hasil tembakau dengan CK-8, terhadap cukainya : a. Tidak dipungut b. Dibayar setelah CK-8 mendapat nomor c. Dibayar dulu cukainya dan dapat dikembalikan setelah hasil tembakau benar-benar diekspor d. Jawaban a, b dan c benar

13. Yang merupakan data pokok dan harus ada terlebih dahulu untuk proses pelayanan cukai hasil tembakau adalah : a. Data NPPBKC dan data HJE/Merk b. Data CK-2 dan CK-3 c. Data Skep Penundaan d. Data produksi hasil tembakau

14. Yang tidak dapat menambah saldo penundaan adalah : a. SSCP b. CK-2 c. CK-3

41

d. CK-1

15. Akhir dari proses pelayanan PPPC adalah : a. Pengeluaran pita cukai b. Order Bea Cukai c. Penambahan persediaan pita cukai di gudang KP DJBC atau KPPBC d. Jawaban a, b dan c benar

16. Yang dimaksud dengan data referensi pada aplikasi cukai hasil tembakau adalah adalah : a. Data yang sering berubah dan dipakai sebagai referensi dalam aplikasi b. Data yang sifatnya tetap dan dipakai sebagai referensi dalam aplikasi c. Data transaksi yang dipakai sebagai referensi dalam aplikasi d. Data transaksi penundaan

17. Hal- hal berikut ini merupakan data-data yang harus diisi pada layar header Modul BC 2.3, kecuali a. Data Pemasok dan Data Importir b. KPPBC Pengawas dan KPPBC Bongkar c. Pelabuhan dan Pengangkutan d. Tempat Penimbunan dan Berat tiap barang

18. Sistem Aplikasi Pelayanan (SAP) BC 2.3 versi server dibangun menggunakan software a. Oracle b. Visual Basic 6.0 c. MySQL d. Microsoft Access

19. Berikut ini merupakan bagian- bagian dalam SAP BC 2.3 versi server, kecuali a. Aplikasi Kantor Pusat b. Aplikasi Kantor Pengawas c. Aplikasi Kantor Bongkar d. Aplikasi Hanggar 42

20. Berikut ini merupakan jenis respon yang diterima oleh PDKB melalui sistem PDE BC 2.3, kecuali a. Respon Umum b. Respon Analyzing Point c. Respon NPPD d. Respon Reject

21. Pengeluaran barang impor dari kawasan pabean menggunakan dokumen a. BC 1.1 b. NPP c. SPPB d. NPPD

22. Berikut ini hal-hal pada pengajuan BC 2.3 yang tidak dapat dilakukan perbaikan secara PDE, kecuali a. Pelabuhan b. Identitas Pengusaha TPB c. Kode Kantor Pabean d. Jenis barang

23. Pernyataan berikut ini benar, kecuali a. Dalam hal SAP pada Kantor Pendaftaran sistem PDE tidak berjalan sebagaimana mestinya, maka pendaftaran dilakukan dengan menyerahkan formulir. b. Permohonan pembatalan BC 2.3 disampaikan sebelum barang impor dikeluarkan dari Kawasan Pabean. c. Perbaikan pertama BC 2.3 disampaikan dengan sistem PDE. d. Untuk penyampaian BC 2.3, Pengusaha TPB wajib membayar PNBP sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

24. Berikut ini adalah layar-layar yang terdapat pada Modul BC 2.3 kecuali.. a. Layar Header b. Layar Tarif c. Layar Kemasan 43

d. Layar Dokumen

25. Berikut ini hal- hal yang harus diisikan dalam perekaman dokumen, kecuali a. Kode dokumen pendukung,serta nomor dan tanggal dokumen yang dimaksud b. Masa berlaku dokumen c. Jenis dokumen d. Uraian jenis dokumen

26. Pernyataan yang paling tepat dibawah ini adalah a. BC 2.3 yang mendapat respon SPPB dilakukan pemeriksaan fisik barang di TPB b. Pengeluaran barang impor dari Kawasan Pabean dilakukan dengan menggunakan SPPB Merah atau SPPB c. Permohonan pembatalan BC 2.3 disampaikan sebelum barang impor masuk ke Kawasan Pabean. d. Untuk penyampaian BC 2.3 menggunakan media penyimpan elektronik, Pengusaha TPB wajib membayar PNBP sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

44

6. Kunci Jawaban Test Formatif 1

1. C 2. B 3. C 4. A 5. D 6. D 7. C 8. A 9. D 10. C 11. B 12. A 13. A

14. D 15. C 16. B 17. D 18. A 19. D 20. D 21. C 22. A 23. A 24. B 25. B 26. D

7. Umpan Balik dan Tindak Lanjut Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif yang terdapat pada bagian akhir modul ini, dan hitungllah jawaban Anda untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda. Rumus : Tingkat penguasaan = Jumlah jawaban yang benar X 100 % 20 Bila anda mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat meneruskan kegiatan belajar selanjutnya. Tetapi bila penguasaan Anda kurang dari 80%, Anda harus mempelajari kembali terutama bagian yang belum Anda kuasai.

45

8. Daftar Pustaka

Undang-undang nomor 11 tahun 1995 tentang Cukai Undang-undang nomor 39 tahun 2007 tentang Perubahan atas Undang-undang nomor 11 tahun 1995 tentang Cukai. Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai nomor P-22/BC/2005 tentang Penyediaan dan Tata Cara Pemesanan Pita Cukai Hasil Tembakau. Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai nomor P-24/BC/2005 tentang Desain dan Warna Pita Cukai Hasil Tembakau. Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai nomor P-04/BC/2006 tentang Perubahan atas Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai nomor P-22/BC/2005 tentang Penyediaan dan Tata Cara Pemesanan Pita Cukai Hasil Tembakau. Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai nomor P-31/BC/2007 tentang Penyediaan dan Tata Cara Pemesanan Pita Cukai Hasil Tembakau. Peraturan Direktur Jenderal Bea Cukai Nomor 38/BC/2007 Tanggal 28 Desember 2007 tentang Tata Kerja Pengeluaran Barang Impor dari Kawasan Pabean Untuk Ditimbun di Tempat Penimbunan Berikat dengan Menggunakan Sistem Pertukaran Data Elektronik. Fuad Fauzi, Petunjuk Teknis Aplikasi Cukai Tembakau, Direktorat Informasi

Kepabeanan dan Cukai Hotmauli Simamora, Petunjuk Teknis Sistem Aplikasi BC 2.3, Direktorat Informasi Kepabeanan dan Cukai

46