Anda di halaman 1dari 24

PENGENALAN SORTIMEN DAN PENGUKURAN KAYU GERGAJIAN RIMBA INDONESIA (KGRI)

PENGENALAN SORTIMEN DAN PENGUKURAN KAYU GERGAJIAN RIMBA INDONESIA (KGRI) Oleh : Instruktur

Oleh :

Instruktur

I. PENDAHULUAN

Kegiatan pengukuran dan pengujian

hasil hutan meliputi 3 ( tiga ) aspek pokok, yaitu :

1. Penetapan jenis hasil hutan

2. Penetapan ukuran (volume/berat) hasil hutan

3. Penetapan kualitas (mutu) hasil hutan

Maksud pelaksanaan pengukuran dan pengujian hasil hutan adalah :

● Melindungi hak-hak Negara atas hasil hutan berupa PSDH dan DR serta melindungi kepentingan masyarakat atas hasil hutan yang berkualitas. ● Melindungi kelestarian sumber daya hutan melalui perannya dalam proses pengelolaan hutan produksi lestari. ● Meningkatkan efisiensi pemanfaatan hasil hutan, sehingga dapat meningkatkan daya saing produk hasil hutan.

Tujuan Pengukuran dan Pengujian Hasil Hutan adalah :

● Sebagai dasar transaksi perdagangan

● Dasar penetapan upah

● Dasar penetapan “ Pungutan “ hak-hak negara

● Dasar perhitungan untung rugi perusahaan

● Untuk penyusunan statistik

● Dan lain-lain hal sepanjang bersangkut paut dengan jenis, ukuran maupun kualitas hasil hutan.

Dasar Hukum

Undang – undang No. 41 Tahun 1999 jo No. 19 Tahun 2004 tentang Kehutanan.

Peraturan Pemerintah No. 06 Tahun 2007 tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan, Pemanfaatan Hutan dan Penggunaan Kawasan Hutan.

Keputusan Menteri Kehutanan No. 87/Kpts-II/2003 tentang Pengukuran dan Pengujian Hasil Hutan.

Peraturan Menteri Kehutanan No. P.55/Menhut-II/2006 tentang Penatausahaan Hasi Hutan Yang Berasal Dari Hutan Negara

Keputusan Direktur Jenderal Bina Produksi Kehutanan Nomor. P.

02/VI-BPHH/2005.

Dan memperhatikan

SNI 01-5008.1-1999 : Kayu Gergajian Rimba

Maksud dan tujuan

Maksud mempelajari m.a. Pengenalan Sortimen dan Pengukuran KGRI adalah agar peserta dapat mengenal:

macam-macam ukuran KGRI pengelompokan ukuran KGRI serta mengetahui bagaimana cara mengukur dan menetapkan dimensi dan isi/volume KGRI. Tujuannya adalah agar peserta dapat ; menentukan syarat mutu dan lokasi permukaan pengujian yang tepat, karena terdapat perbedaan syarat mutu dan lokasi permukaan pengujian untuk setiap sortimen. menetapkan isi (volume) KGRI dengan tepat. memeriksa ukuran kayu gergajian dan menetapkan lulus tidaknya.

Definisi

1. Kayu gergajian adalah kayu persegi empat dengan

ukuran tertentu yang diperoleh dengan menggergaji kayu bulat atau kayu lainnya.

2. Kayu gergajian rimba adalah kayu gergajian selain Jati

3. Partai kayu gergajian adalah sejumlah kayu gergajian

yang akan diperdagangkan dan atau diperiksa mengenai kebenaran jenis, ukuran dan mutunya, yang berada di

tempat asal pengiriman maupun di tempat tujuan.

4. Sortimen kayu gergajian adalah kelompok kayu

gergajian dengan ukuran tertentu 5. Bontos adalah pnampang melintang pada kedua ujung

kayu gergajian

6.

Ukuran baku adalah ukuran kayu yang telah

ditetapkan atau disepakati sesuai dengan permintaan konsumen atau pasar.

7. Kayu pas (Bare sawn) adalah kayu gergajian yang pada waktu

pemeriksaan mempunyai ukuran yang sama dengan ukuran baku.

8. Kayu kurang (Scant sawn) adalah kayu gergajian yang pada

waktu pemeriksaan mempunyai ukuran yang kurang dari ukuran baku.

9. Kayu lebih (full sawn) adalah kayu gergajian yang pada waktu

pemeriksaan mempunyai ukuran yang lebih dari ukuran baku

(yang mempunyai Over sizes).

10. Cacat ukuran adalah bagian kayu yang sudah melebihi

toleransi ukuran lebih tetapi belum salah potong.

11. Salah potong adalah kayu gergajian yang mempunyai

perbedaan ukuran antara tebal/lebar terkecil dengan tebal/lebar

terbesar telah melebihi toleransi ukuran.

12. Kayu gergajian contoh adalah kayu gergajian dalam jumlah tertentu untuk keperluan pemeriksaan

Pengenalan Sortimen KGRI

Sortimen KGRI terdiri dari :

● Papan lebar (Boards)

Adalah kayu gergajian yang mempunyai tebal 5 cm atau kurang (maksimum 5 cm) dan lebarnya 15 cm atau lebih (minimum 15 cm).

● Papan tebal (Planks)

Adalah kayu gergajian yang mempunyai tebal lebih dari 5 cm dan lebarnya 15 cm atau lebih (minimum 15 cm) serta tebalnya kurang dari ½ lebarnya.

● Papan sempit (Narrow boards)

Adalah kayu gergajian yang mempunyai tebal 5 cm atau kurang (maksimum 5 cm) dan lebarnya antara 10 cm sampai dengan kurang dari 15 cm.

● Papan lis (Strips)

Adalah kayu gergajian yang mempunyai tebal kurang dari ½ lebarnya dan lebarnya kurang dari 15 cm.

Pengenalan Sortimen KGRI

Sortimen KGRI terdiri dari :

● Balok (Baulk)

Adalah kayu gergajian yang mempunyai tebal lebih dari 10 cm dan lebarnya lebih dari 20 cm serta mempunyai hati

● Broti (Scantlings)

Adalah kayu gergajian yang mempunyai tebal ½ atau lebih dari lebarnya. Terdiri dari broti besar dan broti kecil.

- Broti besar adalah broti yang luas bontosnya lebih dari 400

cm 2 .

- Broti kecil adalah broti yang luas bontosnya sama atau kurang dari 400 cm 2 .

● Kayu gergajian pendek

Adalah semua kayu gergajian yang panjangnya kurang dari 1,00 m. Sehingga akan ditemukan papan lebar pendek, papan tebal pendek, broti pendek dan lainnya.

Dalam perdagangan kayu di Indonesia dikenal juga sortimen-sortimen seperti reng, usuk (kaso) dan skuer.

Reng adalah broti kecil yang biasanya berukuran :

2 cm x 3 cm, 3 cm x 4 cm dan 2 cm x 4 cm.

Usuk/kaso adalah broti kecil yg. biasanya berukuran :

3 cm x 5 cm, 4 cm x 6 cm dan 5 cm x 7 cm.

Skuer adalah kayu gergajian yang tebal dan lebarnya sama, dapat digolongkan ke dalam sortimen broti.

SORTIMEN KAYU GERGAJIAN RIMBA

No Sortimen Tebal Lebar Keteranga n 1. Papan lebar (Boards) 5,0 15 (dalam - cm)
No
Sortimen
Tebal
Lebar
Keteranga
n
1. Papan lebar (Boards)
5,0
15
(dalam - cm)
2. Papan tebal (Planks)
> 5,0
15
t < ½ l
3. Papan sempit (Narrow
boards)
5,0
10 - <15
-
4. Papan lis (Strips)
< ½ l
< 15
-
5. Balok (Baulk)
> 10
> 20
Berhati
6. Broti (Scantlings)*)
½ l
-
-
7. Kayu gergajian pendek
(Shorts)
-
-
P < 1 m

Keterangan :

*) Terdiri dari broti besar dan broti kecil.

Alat Ukur

PENGUKURAN KGRI

● Alat ukur yang digunakan adalah alat ukur yang sudah dikalibrasi oleh instansi berwenang terdiri dari meteran (pita ukur/Roll Meter) dan jangka sorong (Calliper). 1. Sistem satuan ukuran yang digunakan adalah Sistem Satuan International/SI (mm, cm, m dan m 3 )

Cara pengukuran

Tebal diukur pada bagian tebal tertipis dari kayu gergajian, dalam satuan cm.

Lebar diukur pada bagian lebar tersempit dari kayu gergajian, dalam satuan cm.

Panjang diukur pada jarak terpendek antara kedua bontos, dalam satuan meter.

Isi ditetapkan dengan cara mengalikan: tebal, lebar dan panjang kayu gergajian dalam satuan m 3 , dengan 4 desimal (empat angka dibelakang koma). t x l x p Rumusnya adalah sbb; I s i = ----------------

Besarnya dimensi/ukuran: tebal, lebar dan panjang kayu gergajian sesuai dengan ukuran baku.

Toleransi Ukuran

No. Ukuran baku Toleransi 1. Tebal : 3 cm > 3 cm 2. Lebar :
No.
Ukuran baku
Toleransi
1. Tebal : 3 cm
> 3 cm
2. Lebar : 8 cm
> 8 cm
3. Panjang : 1 m
> 1 m
3 mm
6 mm
3 mm
6 mm
25 mm
50 mm

Kayu Gergajian Contoh Lulus Uji (LU)

Kayu gergajian dianggap lulus uji apabila; ukuran tebal, lebar dan panjangnya mempunyai ukuran lebih tidak melebihi toleransi (Sesuai Permenhut No. P.55/Kpts-II/2006 tentang PUHH Yang Berasal Dari Hutan Negara)

Sortimen kayu gergajian dianggap Tidak Lulus Uji (TLU) apabila ukuran Tebal, Lebar dan Panjang mempunyai:

● Kayu Pas

● Kayu Kurang

● Kayu Lebih yang telah melebihi toleransi

● Cacat Ukuran

● Salah Potong

Istilah-istilah

1. Kayu pas (Bare sawn) adalah kayu gergajian yang pada waktu pemeriksaan mempunyai ukuran yang sama dengan ukuran

baku.

2. Kayu kurang (Scant sawn) adalah kayu gergajian yang pada waktu pemeriksaan mempunyai ukuran yang kurang dari ukuran baku.

3. Kayu lebih (full sawn) adalah kayu gergajian yang pada waktu pemeriksaan mempunyai ukuran yang lebih dari ukuran baku (yang mempunyai Over sizes).

4. Cacat ukuran adalah bagian kayu yang sudah melebihi toleransi ukuran lebih tetapi belum salah potong.

5. Salah potong adalah kayu gergajian yang mempunyai perbedaan ukuran antara tebal/lebar terkecil dengan tebal/lebar terbesar telah melebihi toleransi ukuran.

Misal : Ukuran baku sekeping kayu gergajian adalah ; 3cm x 20cm x 4,00m Berdasarkan hasil pengukuran lebar terdapat ukuran sebagai berikut :

hasil pengukuran lebar terdapat ukuran sebagai berikut : 20,6 cm 20,2 cm 20,7 cm 20,8cm 20.9

20,6 cm 20,2 cm 20,7 cm 20,8cm 20.9 cm

Keterangan :

sebagai berikut : 20,6 cm 20,2 cm 20,7 cm 20,8cm 20.9 cm Keterangan : = kayu

= kayu lebih, masih dalam toleransi

= salah potong

sebagai berikut : 20,6 cm 20,2 cm 20,7 cm 20,8cm 20.9 cm Keterangan : = kayu

Partai Kayu Gergajian

Lulus Uji :

Partai kayu gergajian dianggap lulus uji apabila 90 % kayu gergajian contohnya lulus uji. Apabila yang lulus uji hanya 70 % s/d < 90 %, diperiksa ulang dengan jumlah KG contoh 2 kali dari jumlah KG contoh uji pertama, apabila hasilnya 90 % kayu gergajian contoh tersebut lulus uji, maka partai kayu gergajian tersebut dianggap lulus uji.

Tidak Lulus Uji

apabila yang LUnya pada pemeriksaan pertama < 70 % dan pemeriksaan ulang < 90 %

Pemeriksaan ukuran

Pemeriksaan ukuran dilakukan terhadap kayu gergajian contoh, diambil secara acak dan harus mewakili setiap sortimen kayu gergajian

Jumlah kayu gergajian contoh adalah sbb;

dalam batang

No. Populasi per partai Kayu gergajian contoh 1. 1 – 35 100% 2. 36 -
No.
Populasi per partai
Kayu gergajian
contoh
1.
1 – 35
100%
2.
36 - 500
35
3.
501 - 1000
60
4.
1001 - 2000
80
5.
2001 - 3000
125
> 3000
5 %

CONTOH

Contoh cara perhitungan jumlah batang contoh sample per sortimen/ ukuran serta kelulusannya. Diketahui : Satu partai kayu gergajian sesuai dengan DKO sebagai berikut:

No. Jenis kayu Ukuran t(cm) x l(cm) x p(m) Jumlah Volume Kete- olahan batang (m3)
No.
Jenis kayu
Ukuran
t(cm) x l(cm) x p(m)
Jumlah
Volume
Kete-
olahan
batang
(m3)
rangan
1.
P.
Lebar
3
x 20 x 4,00
255
6,1200
2.
B.
Kecil
5
x 7 x 4,00
327
4,5780
3.
P.
Tebal
8
x 20 x 4,00
152
5,8368
4.
P.
Lis
2
x 8 x 4,00
205
1,3120
Jumlah
939
17,8468

Berdasarkan pemeriksaan terdapat kesalahan dalam ukuran (TLU) untuk no.1 = 2 batang, untuk no. 2 = 1 batang untuk no. 3 = 1 batang dan no.4 = 1 batang.

Ditanya : Berapa batang setiap sortimennya yang harus diperiksa, dan bagaimana kelulusan hasil pemeriksaannya.

Jawab :

Jumlah batang sampel yang diperiksa untuk seluruh partai adalah

60 batang (lihat tabel sample), jumlah batang setiap sortimen adalah :

No. 1. : 255/939 x 60 = 16,29 dibulatkan menjadi 16 btg No. 2. : 327/939 x 60 = 20.89 dibulatkan menjadi 21 btg No. 3. : 152/939 x 60 = 9,71 dibulatkan menjadi 10 btg No. 4. : 205/939 x 60 = 13,09 dibulatkan menjadi 13 btg Jumlah = 60 btg

Jumlah yang salah = 5 batang, sehingga jumlah yang lulus uji :

60 – 5 = 55 btg.

% Kelulusan = 55/60 x 100% = 91,66 %.

Kesimpulannya partai kayu gergajian tersebut LULUS UJI, Karena > 90 %.