Anda di halaman 1dari 9

27

MENGENAL DUNIA MAKNA A. Konsep Makna Sesungguhnya upaya memahami makna merupakan salah satu masalah filsafat yang tertua dalam umur manusia. Konsep makna telah menarik perhatian disiplin komunikasi, psikologi, sosiologi, antropologi, dan linguistik. Begitu banyaknya orang mengulas makna sehingga makna hampir kehilangan maknanya. Banyak diantara penjelasan tentang makna terlalu kabur dan spekulatif. Makna tidak dapat disusun dimana pun dalam pikiran manusia, selama makna itu merupakan produk dari pengalaman. Kalau memang benar makna telah diprogramkan atau disusun dalam bentuk bahasa di dalam pikiran manusia, maka mestinya setiap orang akan membaca makna yang sama pula. Kenyataannya, setiap orang dapat membaca kata-kata dalam sebuah teks, tetapi ia tidak membaca makna di dalam teks tersebut. Karena itu, setiap orang walaupun membaca dan mendengar teks yang sama, tetapi ia menerima pesan yang berbeda. Dengan mengutip Gadamer, Kaelan (1998; 212) mengatakan, apabila bahasa merupakan tanda dan bentuk simbolik ciptaan manusia, maka konsekuensinya kata berasal dari manusia dan manusia merupakan sebab keberadaan kata. Pada hakekatnya kata milik realitas. Manusia mencari kata yang tepat, yang merupakan ungkapan dari realitas. Dengan demikian, titik tolak pembentukan kata adalah bersumber dari realitas. Secara ontologis, bahasa tidak diciptakan manusia sebagai sarana komunikasi dan berpikir, namun bahasa dipandang sebagai pengejawantahan realitas, sementara manusia berusaha mengartikulasikan bahasa tersebut. De Vito mengatakan, makna tidak terletak pada kata-kata, melainkan pada manusia. Kita menggunakan kata-kata untuk mendekati makna yang ingin kita komunikasikan, sekalipun kata-kata itu tidak sempurna untuk menggambarkan makna yang kita maksudkan. Bahasa atau kata-kata adalah kategori-kategori untuk merujuk pada obyek tertentu. Suatu kata hanya mewakili realitas, tetapi bukan realitas itu sendiri. Dengan demikian, kata-kata pada dasarnya bersifat parsial, tidak melukiskan sesuatu secara eksak. Sebab itu, ada kalanya kita sulit menamai suatu obyek karena tidak semua kata-kata tersedia untuk itu. Selain itu, kata-kata juga bersifat ambigu, karena kata-kata merepresentasikan persepsi dan interpretasi orang-orang yang berbeda, yang menganut latar-belakang sosial budaya yang berbeda-beda pula. Sehingga terdapat berbagai kemungkinan untuk memaknai kata-kata tersebut. Konsep dan lain-lain (dll.), dan sebagainya (dsb.), dan seterusnya (dst.) sebenarnya menunjukkan bahwa tidak ada suatu pernyataan yang dapat mewakili dunia nyata, dan meskipun terdapat pengetahuan yang komprehensif mengenai suatu obyek, akan selalu ada hal lain atau hal baru untuk dipertimbangkan (Deddy Mulyana; 248). Karena itu, interpretasi sebagai metode pengungkapan makna yang terdapat dalam wacana, prilaku, dan tindakan manusia menjadi penting dalam upaya mengetahui subyektivitas dan intersubyektivitas.

28

Dalam pemakaian sehari-hari, kata makna sering digunakan dalam berbagai konteks. Sebab itu, sudah sewajarnya jika makna juga disejajarkan pengertiannya dengan arti, gagasan, konsep, pernyataan, pesan, informasi, maksud, firasat, isi, dan pikiran. Berbagai pengertian itu begitu saja disejajarkan dengan kata makna karena keberadaannya memang tidak pernah dikenal secara cermat dan dipilah secara tepat. Dari sekian banyak pengertian yang diberikan itu hanya arti yang paling dekat pengertiannya dengan makna. Meskipun demikian, bukan berarti keduanya sinonim mutlak. Disebut demikian, karena arti adalah kata yang telah mencakup makna dan pengertian. Sementara gagasan pada dasarnya memiliki kesejajaran pengertian dengan pikiran maupun ide (Aminuddin: 2001; 50). Di samping itu, juga ada beberapa istilah lain yang nyaris berimpit antara apa yang disebut (1) terjemah, (2) tafsir atau interpretasi, (3) ekstrapolasi, dan (4) makna atau meaning. Terjemah adalah upaya mengemukakan materi atau substansi yang sama dengan media yang berbeda, media tersebut mungkin berupa bahasa satu ke bahasa lain, dari verbal ke gambar, dan sebagainya. Sedangkan pada penafsiran, kita tetap berpegang pada materi yang ada, dicari latar belakangnya, konteksnya, agar dapat dikemukakan konsep atau gagasannya lebih jelas. Dan ekstrapolasi lebih menekankan pada kemampuan daya pikir manusia untuk menangkap hal di balik yang tersajikan. Sementara makna merupakan upaya lebih jauh dari penafsiran, dan mempunyai kesejajaran dengan ekstrapolasi. Pemaknaan lebih menuntut kemampuan integratif manusia, indrawinya, daya pikirnya, dan akal budinya. Materi yang tersajikan, seperti juga ekstrapolasi, dilihat tidak lebih dari tanda-tanda atau indikator bagi sesuatu yang lebih jauh. Dibalik yang tersajikan bagi ekstrapolasi terbatas dalam arti empirik logik, sedangkan pada pemaknaan dapat pula menjangkau yang etik ataupun yang transendental (Alex Sobur: 2004; 256). Makna, seperti yang dipaparkan Nasr Hamid (1994; 221) merupakan apa yang dipahami secara langsung dari teks yang diartikulasikan, muncul dalam struktur bahasa dan dalam konteks kebudayaannya. Dengan demikian, makna memiliki ciri historis dan dapat diperoleh melalui pengetahuan konteks linguistik dan konteks kultural-sosiologis, sehingga keberadaannya memiliki aksentuasi yang relatif stabil. Pengertian makna ini berbeda dengan signifikasi (maghza). Meskipun tidak dapat dipisahkan dari makna ia memiliki corak kontemporer dalam pengertian bahwa signifikasi merupakan hasil dari pembacaan masa di luar terbentuknya teks. Selain itu, signifikasi memiliki corak yang bergerak seiring dengan perubahan horison pembacaan walaupun hubungannya dengan makna mengarahkan gerak signifikasi itu sendiri. Satu batasan mengenai pengertian makna, seperti yang dikutip Aminuddin (2001; 52) kiranya dapat memperjelas untuk mengetahui apa yang disebut makna. Makna ialah hubungan antara bahasa dengan dunia luar yang telah disepakati bersama oleh para pemakai bahasa sehingga dapat saling dimengerti. Dari batasan pengertian ini dapat diketahui adanya tiga unsur pokok yang tercakup di dalamnya, yaitu; i) makna adalah hasil hubungan antara bahasa dengan dunia luar, ii) penentuan

29

hubungan terjadi karena kesepakatan para pemakai, serta iii) perwujudan makna itu dapat digunakan untuk menyampaikan informasi sehingga dapat saling dimengerti. Dalam kaitannya hubungan makna dengan dunia luar terdapat tiga pandangan filosofis yang berbeda-beda. Pertama, realisme, yang beranggapan bahwa terhadap wujud dunia luar manusia selalu memberikan gagasan tertentu. Sebab itu, pemaknaan antara makna kata dengan wujud yang dimaknai selalu memiliki hubungan yang hakiki, yang akhirnya menimbulkan klasifikasi makna kata yang dibedakan antara yang konkrit, abstrak, jamak, tunggal, khusus maupun universal. Kedua, nominalisme, yang mengatakan bahwa hubungan antara makna kata dengan dunia luar semata-mata bersifat arbitrer, meskipun sewenang-wenang penentuan hubungannya oleh para pemakai tatapi dilatari oleh adanya konvensi. Sebab itulah, penunjukan makna kata bukan bersifat perseorangan, melainkan memiliki kebersamaan. Dari adanya fungsi simbolik bahasa yang tidak lagi diikat oleh dunia yang diacu pada akhirnya bahasa lebih membuka peluang untuk dijadikan media memahami realitas, bukan realitas yang dikaji untu memahami bahasa. Dan ketiga, konseptualisme, bagi paham ini pemaknaan sepenuhnya ditentukan oleh adanya asosiasi dan konseptualisasi pemakai bahasa, lepas dari dunia luar yang diacunya. Pandangan ini segera mengundang kritik. Seorang yang haus dan mendengar kata minum, dia pasti bukan terus tidur dan berlari, namun dalam asosiasi kesadarannya pasti hadir tanggapan dunia luar yang secara laras memiliki hubungan dengan air yang dapat diminum. Dengan demikian, kasus bahwa makna kata dapat dilepaskan sepenuhnya dari dunia luar dan sepenuhnya tumbuh dari asosiasi dan hasil konseptualisasi pemakai tidak dapat berlaku umum. Kata bunga misalnya, meskipun referennya dapat dipindahkan dan dimaknai gadis, pergeseran itu juga tidak lepas dari makna dasarnya. Keterangan di atas, sesungguhnya memiliki kesamaan dengan teori yang dikemukakan Ferdinand de Saussure dalam memahami makna kata. Menurut Saussure, setiap tanda linguistik (kata) terdiri atas dua unsur, yaitu; (1) yang mengartikan (signifiant: Prancis, signifier: Inggris = unsur bunyi), dan (2) yang diartikan (signifie: Prancis, signified: Inggris = unsur makna). Yang diartikan sebenarnya tidak lain adalah konsep atau makna dari sesuatu tanda bunyi. Sedangkan yang mengartikan itu adalah tidak lain dari bunyi-bunyi itu, yang terbentuk dari fonem-fonem bahasa yang bersangkutan. Dengan kata lain, setiap tanda linguistik terdiri dari unsur bunyi dan unsur makna. Kedua unsur ini adalah unsur dalam-bahasa (intralingual) yang biasa merujuk atau mengacu kepada referen yang merupakan unsur luar-bahasa (ekstralingual) (Abdul Chaer: 1995; 29). Misalnya tanda buku, tanda ini terdiri dari unsur makna atau yang diartikan, dan unsur bunyi dalam wujud fonem (b, u, k, u) yang mengartikan. Kemudian tanda buku mengacu kepada satu referen yang berada di luar bahasa yang menjadi kesepakatan bersama, yaitu berupa buku. B. Teori Makna

30

Seperti yang dijelaskan Ahmad Mukhtar Umar (1982; 54) dalam bukunya Ilmu al-Dalalah (ilmu semantik), bahwa teori makna meliputi; (i) teori referensial (nadzariyah isyariyah), (ii) teori ideasional (nadzariyah tashawuriyah), (iii) teori behavioral (nadzariyah sulukiyah), dan (iv) teori kontekstual (nadzariyah siyaqiyah). 1. Teori Referensial (Nadzariyah Isyariyah) Teori ini menjelaskan bahwa makna suatu ungkapan dapat diketahui dengan apa yang diacunya. Teori ini disebut juga dengan teori acuan (referen). Referen adalah hubungan antara unsur-unsur linguistik berupa kata-kata, kalimat, dan dunia pengalaman yang nonlinguistik (Alex Sobur: 2004; 259). Referen atau acuan boleh saja benda, peristiwa, proses, dan kenyataan. Referen adalah sesuatu yang ditunjuk oleh lambang. Jadi, kalau seseorang mengatakan masjid, maka yang ditunjuk oleh lambang tersebut yaitu bangunan yang berukuran besar, ada kubah dan menaranya, yang dipakai untuk melaksanakan shalat. Kata masjid langsung dihubungkan dengan acuannya, dan tidak mungkin timbul asosiasi lain. Jadi, makna menurut teori ini adalah sesuatu yang diacu oleh lambang (kata), atau hubungan antara ungkapan dengan sesuatu yang diacu (Ahmad Mukhtar Umar: 982; 5). Dalam pendekatan referensial, makna diartikan sebagai label yang berada dalam kesadaran manusia untuk menunjuk dunia luar. Sebagai label atau julukan, makna itu hadir karena adanya kesadaran pengamatan terhadap fakta dan penarikan kesimpulan yang keseluruhannya berlangsung secara subyektif. Adanya julukan simbolik dalam kesadaran individual itu, lebih lanjut memungkinkan manusia untuk menyusun dan mengembangkan skema konsep. Misalnya saja kata pohon, berdasarkan kesadaran pengamatan dan penarikan kesimpulan bukan hanya menunjuk jenis tumbuh-tumbuhan, melainkan memperoleh julukan sebagai ciptaan, hidup, dan fana. Tampaknya, teori ini telah menemukan suatu cara yang mudah untuk menjelaskan masalah makna. Teori ini menarik perhatian sejumlah besar ahli teori, sebab seolah-olah memberikan suatu jawaban atau pemecahan yang sederhana dan mudah diterima menurut cara-cara berpikir alamiah tentang masalah makna. Kita dapat mengenali makna suatu istilah atau ungkapan tersebut, dan juga berdasarkan hubungan antara istilah atau ungkapan itu dengan sesuatu yang diacunya. 2. Teori Ideasional (Nadzariyah Tashawuriyah) Teori ideasional merupakan salah satu jenis teori makna yang mengenali dan mengidentifikasi makna ungkapan dengan gagasan-gagasan yang berhubungan dengan ungkapan tersebut. Dengan kata lain, makna adalah gambaran gagasan dari suatu bentuk kebahasaan yang bersifat sewenang-wenang, tetapi memiliki konvensi sehingga dapat saling mengerti (Aminuddin: 2001; 58). Teori ini melatarbelakangi pola berpikir orang mengenai bahasa sebagai suatu makna atau alat bagi komunikasi dalam menyampaikan pikiran atau gagasan, atau

31

sebagai suatu gambaran fisik dan eksternal dari suatu keadaan internal, atau bilamana orang menetapkan suatu kalimat sebagai suatu rangkaian kata-kata yang mengungkapkan suatu pikiran yang lengkap. Sehingga bahasa hanya dipandang sebagai sebagai alat atau instrumen dan gambaran lahiriah dari pikiran atau gagasan manusia. Dengan mengutip pendapat Pateda, Alex (2004; 261) menyatakan, bahwa makna ideasional adalah makna yang muncul akibat penggunaan kata yang memiliki konsep. Misalnya kata partisipasi, orang mengerti ide apa yang hendak ditonjolkan di dalam kata tersebut. Orang mencari maknanya di dalam kamus, orang mendengar penggunaan kata partisipasi berdasarkan pembacaan, kenyataan dalam komunikasi, dan orang mencari ide yang terdapat dalam kata tersebut. Salah satu ide yang terkandung adalah aktivitas maksimal seseorang untuk ikut di dalam suatu kegiatan. Dalam pandangan Pateda, dengan mengetahui ide yang terkandung di dalam kata tersebut, orang dapat memikirkan bagaimana cara memotivasi seseorang untuk berpartisipasi, prasyarat-prasyarat apa yang harus dipersiapkan atau dipenuhi untuk berpartisipasi, dan sanksi apa yang dapat diberikan kalau seseorang tidak berpartisipasi. Ini semua merupakan penalaran kita terhadap makna ideasional yang terkandung di dalam kata partisipasi tersebut. 3. Teori Behavioral (Nadzariyah Sulukiyah) Teori behavioral (teori tingkah laku) ini mangatakan bahwa makna suatu kata atau ungkapan bahasa dengan rangsangan-rangsangan (stimuli) yang menimbulkan respon ucapan tersebut, dan atau tanggapan-tanggapan (respons) yang ditimbulkan oleh ucapan tersebut. Makna menurut teori ini merupakan rangsangan untuk menimbulkan prilaku tertentu sebagai respons kepada rangsangan tadi. Dalam teori behavioral ini terdapat beberapa kesamaan prinsip dengan teori ideasional. Pertama, teori tingkah laku ini juga memusatkan perhatiannya pada sesuatu yang terlibat dalam penggunaan bahasa di dalam komunikasi. Kedua, teori tingkah laku ini juga mengandaikan adanya situasi dan tanggapan tertentu yang umum sifatnya dan selalu sama manakala kata atau ungkapan bahasa itu dikatakan mempunyai makna yang sama. Perbedaannya, teori tingkah laku ini lebih memfokuskan perhatiannya pada aspek-aspek yang dapat diamati di depan umum dan situasi komunikasi (Alex Sobur: 2004; 261). Jadi, penentuan makna kata dalam sebuah ungkapan harus bertolak dari berbagai kondisi dan situasi yang melatari munculnya kata tersebut. Misalnya saja kata masuk, ini dapat berarti di dalam garis jika kata itu muncul dalam permainan bulu tangkis, berhasil bagi yang main lotere, silahkan ke dalam bagi tamu dan tuan rumah, hadir bagi mahasiswa yang dipresensi Pak Dosen, dan sebagainya tergantung dimana kata tersebut diucapkan. Dengan demikian, makna kata masuk harus disesuaikan dengan latar situasi dan bentuk interaksi sosial yang mengkondisikannya. 4. Teori Kontekstual (Nadzariyah Siyaqiyah)

32

Menurut teori ini, seperti yang dijelaskan Umar Mukhtar (1982; 68), makna sebuah kata bergantung pada penggunaannya dalam bahasa (kalimat). Misalnya kata baik, jika ia bersanding dengan seseorang maka maknanya terkait dengan budi pekerti yang dimiliki. Namun, jika kata baik diucapkan oleh seorang dokter kepada pasien, maka ia berarti sehat, begitu juga jika kata baik diucapakan oleh pedagang buah, maka artinya adalah segar, bersih, dan bergizi. Tampaknya teori kontekstual ini memiliki kesamaan dengan teori behavioral. Tetapi teori kontekstual lebih luas daripada teori behavioral, sebagaimana yang dikatakan Umar Mukhtar, dengan mengutip pendapat K. Ammer, bahwa konteks dibagi menjadi empat, yaitu (i) al-siyaq al-lughawi (linguistic context), (ii) al-siyaq al-`athifi (emotional context), (iii) al-siyaq al-mauqifi (situational context), dan (iv) al-siyaq al-tsaqafi (cultural context). Berdasarkan pembagian tersebut maka makna kata sangat bergantung dalam konteks apa ia diungkapkan. Kata hubb (mencintai) dalam kalimat ana uhibbu ummi (saya mencintai ibuku) yang disampaikan pada saat kesusahan dengan ana uhibbu ummi dalam suasana lebaran, akan berbeda kadar makna mencintai karena konteks emosinya yang berbeda. Begitu pula penggunaan kata dalam konteks-konteks yang lain. C. Jenis Makna Jenis atau tipe makna memang dapat dibedakan berdasarkan beberapa kriteria dan sudut pandang. Sehingga para ahli semantik dalam mengelompokkan jenis makna selalu terjadi perbedaan. Pateda misalnya, secara alfabetis telah mendaftarkan adanya 25 jenis makna, yaitu makna afektif, makna denotatif, makna deskriptif, makna ekstensi, makna emotif, makna gereflekter, makna idesional, makna intensi, makna gramatikal, makna kiasan, makna kognitif, makna kolokasi, makna konotatif, makna konseptual, makna konstruksi, makna leksikal, makna luas, makna piktorial, makna proposisional, makna pusat, makna referensial, makna sempit, makna stilistika, dan makna tematis. Sedangkan Leech yang karyanya banyak dikutip orang dalam studi semantik membedakan adanya 7 tipe makna, yaitu makna konseptual, makna konotatif, makna stilistika, makna afektif, makna reflektif, makna kolokatif, dan makna tematik. Sementara T. Fatimah Djajasudarma dalam bukunya Semantik 2 Pemahaman Ilmu Makna membagi jenis makna menjadi 14, yaitu makna sempit, makna luas, makna kognitif, makna konotatif, makna emotif, makna referensial, makna konstruksi, makna leksikal, makna gramatikal, makna idesional, makna proposisi, makna pusat, makna piktorial, dan makna idiomatik. 1. Makna Leksikal dan Makna Gramatikal Berdasarkan jenis semantiknya makna dapat dibedakan antara makna leksikal dan makna gramatikal. Makna leksikal adalah makna yang sesuai dengan referennya, makna yang sungguh-sungguh nyata dalam kehidupan (atau sesuai dengan makna kamus). Kata mobil dalam kalimat Mobil itu baru adalah dalam makna leksikal,

33

jelas rujukannya. Makna leksikal biasanya dipertentangkan atau dioposisikan dengan makna gramatikal. Kalau makna leksikal itu berkenaan dengan makna leksem atau kata yang sesuai dengan referennya, maka makna gramatikal adalah makna yang hadir sebagai akibat adanya proses gramatika, seperti proses afiksasi, reduplikasi, dan komposisi. Atau, makna yang menyangkut hubungan intra bahasa, yang muncul sebagai akibat berfungsinya sebuah kata dalam kalimat (T. Fatimah Djajasudarma: 1993; 13). Awalan ter pada kata angkat dalam kalimat Batu seberat itu terangkat juga oleh Ahmad melahirkan makna dapat. Berbeda dengan kalimat Ketika lemari itu roboh, buku itu terangkat ke atas melahirkan makna gramatikal tidak sengaja. Karena makna sebuah kata, baik kata dasar maupun kata jadian sangat bergantung pada konteks kalimat atau konteks situasi, maka makna gramatikal sering juga disebut makna kontekstual atau makna situasional. Selain itu bisa juga disebut makna struktural karena proses dan satuan-satuan gramatikal itu selalu berkenaan dengan struktur ketatabahasaan (Abdul Chaer: 1995; 62). 2. Makna Referensial dan Makna Nonreferensial Berdasarkan ada tidaknya referen pada sebuah kata atau leksem maka makna dapat dibedakan menjadi makna referensial dan makna nonreferensial. Jika sebuah kata mempunyai referen, yaitu sesuatu di luar bahasa yang diacu oleh kata itu, maka kata tersebut bermakna referensial. Seperti kata meja dan kursi termasuk kata yang bermakna referensial karena keduanya mempunyai referen, yaitu sejenis perabot rumah tangga yang disebut meja dan kursi. Sebaliknya, seperti kata tetapi dan jika, karena tidak mempunyai referen maka kedua kata tersebut bermakna nonreferensial. Jadi, makna referensial adalah makna yang berhubungan langsung dengan kenyataan atau referen (acuan). Makna referensial disebut juga makna kognitif, karena memiliki acuan. Makna ini memiliki hubungan dengan konsep, sama halnya seperti makna kognitif. Makna referensial memiliki hubungan dengan konsep tentang sesuatu yang telah disepakati bersama (T. Fatimah Djajasudarma: 1993; 11). 3. Makna Denotatif dan Makna Konotatif Berdasarkan ada tidaknya nilai rasa pada sebuah kata, makna dapat dibedakan menjadi makna denotatif dan makna konotatif. Makna denotasi pada dasarnya sama dengan makna referensial, sebab makna denotasi ini lazim diberi penjelasan sebagai makna yang sesuai dengan hasil observasi menurut penglihatan, penciuman, pendengaran, perasaan, atau pengalaman lainnya. Makna denotasi ini menyangkut informasi-informasi faktual obyektif. Lalu karena itu makna denotasi sering disebut makna sebenarnya. Umpamanya, kata perempuan dan wanita, kedua kata ini mempunyai makna denotasi yang sama, yaitu manusia dewasa bukan laki-laki. Makna denotasi sering juga disebut makna dasar, makna asli, makna pusat, makna denotasional, makna konseptual, makna ideasional, makna referensial karena ia menunjuk kepada suatu referen, konsep, atau ide tertentu dari suatu referent. Sedangkan makna konotasi disebut sebagai makna tambahan. Seringkali sebuah kata

34

menjadi merosot nilai rasanya akibat ulah para anggota masyarakat dalam menggunakan kata itu yang tidak sesuai dengan makna denotasi. Umpamanya, kata kebijaksanaan yang makna denotasinya adalah tindakan arif dalam menghadapi masalah, menjadi negatif konotasinya akibat kasus-kasus tertentu yang terjadi di masyarakat. Misalnya, seorang pengemudi kendaraan bermotor yang ditangkap karena melanggar lalu lintas kemudian ia minta kebijaksanaan kepada petugas agar tidak diperkarakan. Si petugas juga tidak mau kalah, ia pun minta kebijaksanaan kepada pengemudi. Denotasi adalah hubungan yang digunakan di dalam tingkat pertama pada sebuah kata yang secara bebas memegang peranan penting di dalam ujaran. Makna denotasi bersifat langsung, yaitu makna khusus yang terdapat dalam sebuah tanda, dan pada intinya dapat disebut sebagai gambaran sebuah petanda. Dengan kata lain, makna denotasi adalah makna kata atau kelompok kata yang didasarkan atas penunjukan yang lugas pada sesuatu di luar bahasa atau yang didasarkan atas konvensi tertentu, dan sifatnya obyektif. Sementara makna konotasi diartikan sebagai aspek makna sebuah atau sekelompok kata yang didasarkan atas perasaan atau pikiran yang timbul atau ditimbulkan pada pembicara (penulis) dan pendengar (pembaca). Dengan kata lain, makna konotasi merupakan makna leksikal + X. Misalnya, kata amplop, ia bermakna sampul yang berfungsi tempat mengisi surat yang akan disampaikan kepada orang lain. Makna ini adalah makna denotasinya. Tetapi pada kalimat Berilah ia amplop agar urusanmu segera beres, maka kata amplop sudah bermakna konotatif, yakni berilah ia uang (Alex Sobur: 2004; 263). Jika denotasi sebuah kata adalah definisi obyektif kata tersebut dan berlaku umum, maka konotasi sebuah kata adalah makna subyektif atau emosionalnya, dalam pengertian bahwa ada pergeseran dari makna umum (denotasi) karena sudah ada penambahan rasa dan nilai tertentu. Makna konotasi disebut juga dengan makna konotasional, makna emotif, atau makna evaluatif. Konotasi dari sebuah kata dapat berbeda antara satu kelompok masyarakat tertentu dengan kelompok masyarakat lainnya sesuai dengan pandangan hidup dan norma penilaian masyarakat. Atau, makna ini dipengaruhi dan ditentukan oleh dua lingkungan, yaitu lingkungan tekstual dan lingkungan budaya. Yang dimaksud dengan lingkungan tekstual ialah semua kata di dalam paragraf dan karangan yang menentukan makna konotatif itu. Sedangkan pengaruh lingkungan budaya menjadi jelas kalau kita meletakkan kata tertentu di dalam lingkungan budaya yang berbeda. 4. Makna Kata dan Makna Istilah Berdasarkan ketepatan makna kata maka dikenal dua jenis makna, yaitu makna kata dan makna istilah, atau makna umum dan makna khusus. Makna sebuah kata, walaupun secara sinkronis tidak berubah, tetapi karena berbagai faktor dalam kehidupan sehingga dapat menjadi bersifat umum. Makna kata itu baru menjadi jelas kalau sudah digunakan dalam suatu kalimat. Kalau lepas dari kontek kalimat maka makna kata itu menjadi umum dan kabur. Misalnya, kata tahanan, mungkin yang

35

dimaksud adalah orang yang ditahan, atau hasil perbuatan menahan, atau tempat orang-orang yang ditahan. Berbeda dengan kata yang maknanya masih bersifat umum, maka makna istilah memiliki makna yang tetap dan pasti. Ketetapan dan kepastian makna istilah itu karena istilah itu hanya digunakan dalam bidang kegiatan atau keilmuan tertentu. Jadi, tanpa konteks makna istilah sudah pasti dan jelas. Misalnya, kata tahanan, sebagai kata makna tahanan masih bersifat umum, tetapi sebagai istilah misalnya istilah dalam bidang hukum, maka makna kata tahanan sudah jelas, yaitu orang yang ditahan karena suatu perkara. Begitu pula kata tahanan dalam bidang kelistrikan, ia memiliki makna yang jelas, yaitu daya yang menahan arus listrik. 5. Makna Konseptual dan Makna Asosiatif Berdasarkan pada ada atau tidak adanya hubungan makna sebuah kata dengan makna kata lain, jenis makna dapat dibagi menjadi makna konseptual dan makna asosiatif. Makna konseptual adalah makna yang sesuai dengan konsepnya, dan sesuai dengan referennya, atau makna yang bebas dari asosiasi dan hubungan apa pun. Sebenarnya makna konseptual ini sama dengan makna referensial, makna leksikal, dan makna denotatif. Sedangkan makna asosiatif adalah makna yang dimiliki sebuah kata berkenaan dengan adanya hubungan kata itu dengan keadaan di luar bahasa. Misalnya, kata putih, ia berasosiasi dengan kesucian, dan kata merah berasosiasi dengan keberanian. Karena makna asosiasi ini berhubungan dengan nilai-nilai moral dan pandangan hidup yang berlaku dalam suatu masyarakat bahasa yang berarti juga berurusan dengan nilai rasa bahasa, maka makna konotatif juga termasuk makna asosiatif. Dan juga termasuk ke dalam pengertian makna asosiatif diantaranya makna stilistika, makna afektif, dan makna kolokatif. Makna stilistika berkenaan dengan gaya pemilihan kata sehubungan dengan adanya perbedaan sosial dan bidang kegiatan di dalam masyarakat. Karena itu, dibedakan makna kata rumah, istana, keraton, kediaman, tempat tinggal, dan pondok. Sedangkan makna afektif berkenaan dengan perasaan pembicara pemakai bahasa secara pribadi, baik terhadap lawan bicara maupun terhadap obyek yang dibicarakan. Misalnya, Tutup mulut kalian!, Diam sebentar. Dan makna kolokatif berkenaan dengan makna kata dalam kaitannya dengan makna kata lain yang mempunyai tempat yang sama dalam sebuah frase. Misalnya, Gadis itu cantik, dan Pemuda itu tampan, sekalipun kata cantik dan tampan memiliki makna yang sama, tetapi kita tidak boleh menggunakan dalam frase sebagai berikut, Gadis itu tampan, dan Pemuda itu cantik (Abdul Chaer: 1990; 73).