Anda di halaman 1dari 7

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Mahasiswa mempunyai resiko tinggi dalam melakukan suatu tindakan yang cenderung menyimpang karena mereka berada dalam masa transisi yang disebut dengan masa adolensi atau masa menuju kedewasaan. Seiring dengan berkembangnya pertumbuhan manusia, kebutuhan akan hidup semakin beragam dengan tingkat kesulitan yang lebih tinggi. Bagi mereka yang memasuki dunia remaja hingga dewasa awal seperti mahasiswa, ada banyak pilihan bagi mereka dan hendaknya seorang remaja mampu secara mandiri menentukan pilihan tanpa menggantungkan diri pada orang-orang di sekitarnya untuk menentukan pilihan yang akan diambilnya, termasuk dalam memenuhi kebutuhan. Dengan kemampuannya, seorang remaja berkesempatan melakukan banyak hal tanpa harus selalu tergantung pada orang-orang di sekitarnya, termasuk orang tua maupun teman sebaya (dalam Rahmawati, 2005). Menurut Erikson (dalam Hawabi, 2011), salah satu tugas perkembangan selama masa remaja adalah menyelesaikan krisis identitas, sehingga diharapkan terbentuk suatu identitas diri yang stabil pada akhir masa remaja. Remaja yang berhasil mencapai suatu identitas diri yang stabil, akan memperoleh suatu pandangan yang jelas tentang dirinya, memahami perbedaan dan persamaan dengan orang lain, menyadari kekurangan dan kelebihan dirinya, penuh percaya diri, tanggap terhadap

berbagai situasi, mampu mengambil keputusan penting, mampu mengantisipasi tantangan masa depan, serta mengenal perannya dalam masyarakat. Kegagalan dalam mengatasi krisis identitas dan mencapai suatu identitas yang relatif stabil, akan sangat membahayakan masa depan remaja. Sebab, seluruh masa depan remaja sangat ditentukan oleh penyelesaikan krisis tersebut. Menjadi mahasiswa yang berada jauh dari orang tua dan memasuki dunia kuliah yang masih dianggap baru serta sedang menghadapi tahap perkembangan remaja menuju dewasa mudah rnenyebabkan mereka harus menghadapi berbagai perubahan. Apalagi bila dilihat dari status dan gambaran tentang diri yang belum jelas memberikan alasan pada remaja untuk mencoba gaya hidup yang berbeda, mengikuti tren, pola perilaku, nilai, sifat, karakteristik orang lain yang mereka anggap paling sesuai dengan dirinya yang akhirnya mengarah pada perilaku-perilaku yang cenderung negatif. Belum lagi permasalahan lain yang terkait dengan perubahan sistem pendidikan dari Sekolah Menengah Umum ke Perguruan Tinggi, tuntutan tugas perkembangan dimana mereka harus belajar mandiri, tidak bergantung sepenuhnya pada orang tua dan bertanggung jawab terhadap diri sendiri, serta tuntutan untuk menyesuaikan diri dengan budaya tempat mereka menuntut ilmu yang berbeda dengan latar belakang budaya mereka. Hal ini menunjukkan bahwa banyak permasalahan yang harus mereka atasi agar mereka bisa berhasil menyelesaikan pendidikan mereka dengan baik.

Menurut Havighurst, tugas perkembangan merupakan suatu tugas yang muncul pada periode tertentu dalam rentang kehidupan individu, yang apabila tugas itu berhasil dituntaskan akan membawa kebahagiaan dan sukses dengan tugas-tugas perkembangan selanjutnya, namun apabila mengalami kegagalan akan menyebabkan ketidakbahagiaan pada diri individu yang bersangkutan. Dengan berbagai tuntutan serta tantangan yang harus dihadapi oleh seorang mahasiswa yang berada jauh dari orang tua dan rumah, yang harus tetap diingat bahwa tugas utama mahasiswa yang masih menempuh jenjang perkuliahan adalah dalam menyelesaikan pendidikannya dengan baik. Pendidikan merupakan suatu usaha atau kegiatan yang dijalankan dengan sengaja, teratur dan berencana dengan maksud mengubah atau mengembangkan perilaku yang diinginkan. Sekolah sebagai lembaga formal merupakan sarana dalam rangka pencapaian tujuan pendidikan tersebut. Melalui sekolah, siswa belajar berbagai macam hal. Dalam pendidikan formal, belajar menunjukkan adanya perubahan yang sifatnya positif sehingga pada tahap akhir akan didapat keterampilan, kecakapan dan pengetahuan baru. Hasil dari proses belajar tersebut tercermin dalam prestasi belajarnya. Namun dalam upaya meraih prestasi belajar yang memuaskan dibutuhkan proses belajar. Proses belajar yang terjadi pada individu memang merupakan sesuatu yang penting, karena melalui belajar individu mengenal lingkungannya dan menyesuaikan diri dengan lingkungan disekitarnya. Menurut Irwanto (1997) belajar merupakan proses perubahan dari belum

mampu menjadi mampu dan terjadi dalam jangka waktu tertentu. Dengan belajar, siswa dapat mewujudkan cita-cita yang diharapkan. Begitu juga dengan proses belajar yang terjadi pada mahasiswa Psikologi Universitas Negeri Malang yang baru saja memasuki jenjang perkuliahan. Dengan berbagai permasalahan, tantangan serta adaptasi yang begitu banyak dilingkungan barunya, diharapkan mereka tetap mampu mengikuti setiap proses perkuliahan dan bisa berhasil menyelesaikan pendidikan mereka dengan baik. Dalam proses belajar akan menghasilkan perubahan-perubahan dalam diri seseorang. Seorang mahasiswa yang mengikuti suatu pendidikan selalu diadakan penilaian dari hasil belajarnya. Penilaian terhadap hasil belajar seorang siswa untuk mengetahui sejauh mana telah mencapai sasaran belajar inilah yang disebut sebagai prestasi belajar. Prestasi belajar menurut Yaspir Gandhi Wirawan adalah: Hasil yang dicapai seorang siswa dalam usaha belajarnya sebagaimana dicantumkan di dalam nilai rapornya. Melalui prestasi belajar seorang siswa dapat mengetahui kemajuan-kemajuan yang telah dicapainya dalam belajar. Permasalahan, tantangan dan kesulitan merupakan fenomena hidup yang tidak bisa dihindari. Namun reaksi setiap orang terhadap berbagai tantangan atau permasalahan dalam hidup mereka temyata berbeda-beda. Perbedaan reaksi ini temyata disebabkan oleh cara pandang yang berbeda terhadap permasalahan yang ada. Salah satu faktor yang mempenganuhi perbedaan itu adalah resiliensi. Wagnild dan Young mendefinisikan

resiliensi sebagai karakteristik seseorang untuk mengembangkan kemampuan beradaptasi terhadap situasi-situasi berat dalam hidupnya (dalam Hutapea, 2006). Untuk mencegah dan menghadapi situasi yang tidak menyenangkan. Tingkat resiliensi remaja sangat dibutuhkan untuk meredam perilaku-perilaku negatif akibat dari ketidakstabilan emosi remaja. Menurut Block, resiliensi merupakan sebuah kecakapan umum yang melibatkan kemampuan menyesuaikan diri yang tinggi dan luwes saat dihadapkan pada tekanan internal maupun eksternal (dalam Hawabi, 2011). Kapasitas resiliensi, yang dimiliki seseorang atau kelompok yang memungkinkannya untuk menghadapi, mencegah dampak yang merugikan dari situasi yang tidak menyenangkan dan bahkan mengubahnya menjadi kondisi yang lebih baik. Tingkat resiliensi remaja yang baik akan menjadi pondasi dari semua karakter positif dalam membangun kekuatan emosional dan psikologikal seseorang. Sejumlah riset yang telah dilakukan meyakinkan bahwa gaya berfikir seseorang sangat ditentukan oleh resiliensinya, dan resiliensi juga menentukan keberhasilan seseorang dalam hidupnya. Tanpa adanya resiliensi, tidak aka nada keberanian, ketekunan, tidak ada rasionalitas, tidak ada insight. Rendahnya tingkat resiliensi jelas memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap diri remaja. Remaja menjadi terombang ambing, sulit untuk menentukan pilihan dalam hidup, pola perilaku yang tidak

stabil, sehingga terkadang mereka cenderung mengambil jalan pintas dan tidak mau pusing-pusing memikirkan dampak negatifnya. Bagi mereka yang resilien, resiliensi membuat hidupnya menjadi lebih kuat. Artinya, resiliensi akan membuat seseorang berhasil menyesuaikan diri dalam berhadapan dengan kondisi-kondisi yang tidak menyenangkan, perkembangan sosial, akademis, dan bahkan dengan tekanan hebat yang melekat dalam dunia sekarang sekalipun (Desmita, 2009). Berdasar uraian yang telah dipaparkan diatas, peneliti merasa tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul Hubungan Antara Resiliensi Dengan Prestasi Akademik Pada Mahasiswa Psikologi Universitas Negeri Malang.

B. Rumusan Masalah Sehubungan dengan latar belakang yang telah diuraikan, rumusan masalah yang diteliti adalah sebagai berikut: 1. Bagaimana resiliensi mahasiswa Psikologi Universitas Negeri Malang? 2. Bagaimana prestasi akademik mahasiswa Psikologi Universitas Negeri Malang? 3. Apakah ada hubungan antara resiliensi dengan prestasi akademik mahasiswa Psikologi Universitas Negeri Malang?

C. Tujuan Penelitian Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Mengungkap resiliensi mahasiswa Psikologi Universitas Negeri Malang. 2. Mengungkap prestasi akademik mahasiswa Psikologi Universitas Negeri Malang. 3. Mengungkap hubungan antara resiliensi dengan prestasi akademik mahasiswa Psikologi Universitas Negeri Malang.

D. Manfaat Penelitian Manfaat yang dapat diperoleh dalam penelitian ini antara lain: 1. Manfaat teoritis Dapat menambah khasanah pengetahuan dalam bidang psikologi khususnya dalam bidang psikologi klinis dan psikologi perkembangan serta memperkaya hasil penelitian yang telah ada dan dapat memberi gambaran mengenai resiliensi dan prestasi akademik. 2. Manfaat praktis Dapat memberikan informasi tentang resiliensi kepada mahasiswa tingkat pertama khususnya sebagai bahan pertimbangan dalam mempertahankan prestasi akademiknya di perguruan tinggi.