Anda di halaman 1dari 5

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Kawasan Malioboro sebagai salah satu ikon dari Daerah Istimewa

Yogyakarta merupakan pengembangan dari 3 jalan (Jalan Pangeran Mangkubumi, Jalan Malioboro dan Jalan Jend. A. Yani). Jalan tersebut membentang di atas sumbu imajiner yang menghubungkan Kraton Yogyakarta, Tugu dan puncak Gunung Merapi, jalan ini terbentuk menjadi suatu lokalitas perdagangan setelah Sri Sultan Hamengku Buwono I mengembangkan sarana perdagangan melalui sebuah pasar tradisional semenjak tahun 1758. Setelah berlalu 248 tahun, tempat itu masih bertahan sebagai suatu kawasan perdagangan bahkan menjadi salah satu ikon Yogyakarta yang dikenal dengan nama Jalan Malioboro. Terletak sekitar 800 meter dari Kraton Yogyakarta, tempat ini dulunya dipenuhi dengan karangan bunga setiap kali Kraton melaksanakan perayaan. Malioboro yang dalam bahasa sansekerta berarti karangan bunga menjadi dasar penamaan jalan tersebut. Diapit pertokoan, perkantoran, rumah makan, hotel berbintang, dan bangunan bersejarah. Jalan yang dulunya sempat menjadi basis perjuangan saat agresi militer Belanda ke-2 pada tahun 1948 juga pernah menjadi lahan pengembaraan para seniman yang tergabung dalam komunitas Persada Studi Klub (PSK) pimpinan seniman Umbul Landu Paranggi semenjak tahun 1970-an hingga sekitar tahun 1990. Memasuki Malioboro, wisatawan akan disambut hotel legendaris di Yogyakarta. Semenjak pendiriannya pada tahun 1908, hotel yang mulai beroperasi semenjak 1911 ini telah membenahi dirinya, dari cottage hingga menjadi hotel megah berbintang empat dengan tetap mempertahankan pola arsitektur awalnya yang merupakan satu bangunan utama serta bangunan tambahan di sayap kanan dan kiri. Bernama awal Grand Hotel De Djokdja pada masa penjajahan Belanda yang hanya menampung tamu-tamu Gubernur Belanda

I-1

saja, kini menjadi Inna Garuda yang bisa diakses oleh masyarakat luas. Jika kebetulan wisatawan menginap di tempat ini dan menempati kamar 911 atau 912, ruangan tersebut sempat menjadi kantor MBO (Markas Besar Oemoem) TKR pimpinan Panglima Besar Jenderal Sudirman. Menikmati pengalaman berbelanja, berburu cinderamata khas Jogja, wisatawan bisa berjalan kaki sepanjang bahu jalan yang berkoridor (arcade). Di sini akan ditemui banyak pedagang kaki lima yang menggelar dagangannya. Mulai dari produk kerajinan lokal seperti batik, hiasan rotan, wayang kulit, kerajinan bambu (gantungan kunci, lampu hias dan lain sebagainya) juga blangkon (topi khas Jawa/Jogja) serta barang-barang perak, hingga pedagang yang menjual pernak pernik umum yang banyak ditemui di tempat perdagangan lain. Sepanjang arcade, wisatawan selain bisa berbelanja dengan tenang dalam kondisi cerah maupun hujan, juga bisa menikmati pengalaman belanja yang menyenangkan saat menawar harga. Jika beruntung, bisa berkurang sepertiga atau bahkan separohnya. Masih ada pasar tradisional yang harus dikunjungi. Di tempat yang dikenal dengan Pasar Beringharjo, selain wisatawan bisa menjumpai barang-barang sejenis yang dijual di sepanjang arcade, pasar ini menyediakan beraneka produk tradisional yang lebih lengkap. Selain produk lokal Jogja, juga tersedia produk daerah tetangga seperti batik Pekalongan atau batik Solo. Mencari batik tulis atau batik print, atau sekedar mencari tirai penghias jendela dengan motif unik serta sprei indah bermotif batik. Tempat ini akan memuaskan hasrat berbelanja barangbarang unik dengan harga yang lebih murah. Berbelanja di kawasan Malioboro serta Beringharjo, pastikan tidak tertipu dengan harga yang ditawarkan. Biasanya para penjual menaikkan harga dari biasanya bagi para wisatawan. Dikarenakan daerah ini ramai akan kunjungan wisatawan baik domestik maupun mancanegara, maka perlulah dibangun penginapan sebagai tempat peristirahatan. Dalam hal ini penulis merencanakan pembangunan hotel. Sasaran utama dari pembangunan hotel tersebut adalah kalangan menengah keatas antara lain turis domestik dan turis mancanegara.

I-2

Penulis mengambil gedung hotel yang sedang dalam proses pembangunan sebagai studi kasus Laporan Tugas Akhir dengan judul Perencanaan Pembangunan Hotel Arcs Yogyakarta. Alasan gedung Hotel Arcs direncanakan menggunakan struktur beton bertulang dengan corewall adalah karena gedung tersebut terletak di kota Yogyakarta dengan wilayah gempa sedang atau menengah yaitu Wilayah Gempa 4. Menurut SNI 03-2847-2002, Tata cara perhitungan struktur beton untuk bangunan gedung (2002), pasal 23.2.3., menyebutkan bahwa untuk daerah dengan resiko gempa menengah, harus digunakan sistem rangka pemikul momen khusus atau menengah, atau sistem dinding struktur beton biasa atau khusus untuk memikul gaya-gaya yang diakibatkan oleh gempa.

1.2 Maksud dan Tujuan Maksud dan tujuan dari penulisan adalah sebagai berikut: 1. Mengetahui proses desain suatu permodelan struktur dan pembebanan berdasarkan standar nasional maupun internasional dengan akurasi permodelan struktur yang paling mendekati keadaan yang sebenarnya; 2. Merencanakan struktur bangunan gedung tahan gempa yang dapat dipertanggungjawabkan dan memiliki nilai marketable; 3. Mampu melakukan analisis struktur dengan menggunakan software komputer serta membandingkannya dengan perhitungan manual.

1.3 Pembatasan Penulisan Pembatasan penulisan dititik-beratkan pada perencanaan struktur dengan menggunakan SAP2000 dalam menganalisis. Ruang lingkup perencanaan struktur gedung meliputi: 1. Perencanaan struktur beton bertulang; 2. Perhitungan struktur gedung; 3. Pembuatan gambar struktur berdasarkan hasil perhitungan struktur; 4. Perencanaan anggaran biaya struktur.

I-3

1.4 Sistematika Penulisan Sistematika penulisan laporan terdiri dari 6 bab, yaitu: BAB I. PENDAHULUAN Bab ini berisi latar belakang, maksud dan tujuan, pembatasan penulisan, dan sistematika penulisan laporan. BAB II. TINJAUAN PUSTAKA Bab ini berisi kajian atau teori dari berbagai sumber yang dibutuhkan untuk dijadikan sebagai acuan perhitungan struktur. Kajian tersebut dirangkum menjadi konsep pemilihan jenis struktur, konsep

perencanaan struktur, pembebanan, dan analisis perhitungan. BAB III. METODOLOGI Bab ini berisi tentang metode pengumpulan data, metode analisis dan perumusan masalah. BAB IV. PERHITUNGAN STRUKTUR Bab ini merupakan bagian penting atau isi dari penulisan laporan yakni berupa perhitungan dari struktur atas (upper structure) dan struktur bawah (sub structure) bangunan serta perhitungan beban portal. Perhitungan struktur atas yang terdiri dari perhitungan pelat lantai, balok anak, core wall, balok lift, ramp, tangga, balok induk, dan kolom serta perhitungan struktur bawah, yaitu perhitungan basement, balok sloof, dan pondasi. BAB V. RENCANA ANGGARAN BIAYA STRUKTUR Bab ini berisi tentang rencana anggaran biaya struktur dari perhitungan struktur pada laporan ini. BAB VI. PENUTUP Bab ini memuat tentang kesimpulan yang didapat dari proses perencanaan dan perhitungan serta berisi beberapa hal yang disarankan khususnya untuk perhitungan bangunan gedung agar dapat lebih mengoptimalkan hasil yang diperoleh.

I-4

DAFTAR PUSTAKA Berisi tentang pustaka-pustaka dari berbagai referensi untuk

melengkapi dan mendukung penulisan laporan. LAMPIRAN Berisi tentang data tanah, administrasi atau surat-surat, network planning, kurva-s, man power, dan gambar struktur (final design drawing).

I-5