Anda di halaman 1dari 2

BELAJAR MEMBERSIHKAN HATI Saat janin dalam kandungan, Alah sudah mengabugrahkan kesucian jiwa, berupa tauhid.

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), Bukankah Aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab, Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi. (QS al Araf :172). Kehidupan membuat manusia cenderung lupa ikrarnya kepada Allah SWT, membiarkan hatinya diwarnai oleh noktah-noktah hitam, mengeras hingga jadi batu. Ketika hari perhitungan tiba, tidak ada alasan bagi kita untuk mengelak. Pilihan berada pada tangan kita, larut dalam kealpaan ataukah kita mulai menata kembali fitrah. Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya). Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang mensucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang-orang yang mengotori,: (QS asy-Syams :7-10) Yang dihadapi dalam hidup, hanya dua kebaikan dan keburukan. Sifat lupa ynag sangat lekat, seringkali memalingkan kita dari jalan yang lurus. Kita melupakan aib-aib kita sendiri, sehingga berpaling dari jalan yang lurus. Di antara penyakit itu adalah kesombongan dan rasa takjub pada diri sendiri (ghurur). Penyakit ini tersebar luas pada masa sekarang, akibat makin lemahnya keyakinan dan hilangnya iman. Setiap orang melihat dirinya paling alim dan paling bijak, merasa jadi manusia agung, tidak mau menoleh ke sekitarnya. Penyakit lain yang juga mengganggu adalah futur. Boleh jadi penyebabnya merasa amalnya cukup untuk membuat dirinya selamat dari azab. Maka apakah orang yang dijadikan (setan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk lalu dia meyakini pekerjaan itu baik. (QS al-Fatir :8) Ketika manusia memilih kesesatan, mereka lupa hari Akhir. Lupa bahwa Allah adalah Maha Pengawas. Mereka lebih cenderung menjerumuskan diri dalam jurang kenikmatan sesaat demi memuaskan hawa nafsunya. Terlalu banyak mengumbar katakata tanpa makna. Lupa pada firman Allah, Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu). Yang mulia di sisi Allah dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), (QS ai-Infithar :10-11) Semestinya, sebagai makhluk yang memiliki fitrah, yakni cenderung memihak kepada kebaikan, kita menelusuri kembali hati urani. Sadar, saat berpulang ke hadapan Allah fitrah kita harus kembali kita bawa. Taubat jadi jalan terbaik dalam

mengembalikan fitrah. Taubat adalah hal nyata yang dapat dilakukan untuk memulai penyucian jiw adari segala macam bentuk noda. Kesalahan tidak dianggap sebagai kesalahan dalam pandangan Islam, kecuali jika kesalahan itu dikerjakan dengan sengaja, sebab dosa dimaafkan dari orang yang lalai, tidak sengaja dan dipaksa. Dan tidak ada dosa atas kalian terhadap apa yang kalian khilaf padanya, tetapi (yang ada dosa) apa yang disengaja oleh hati kalian, (QS al-Ahzab :5) Diperlukan kebulatan tekad dalam menggapai kesucian dan kemurnian jiwa. Niat yang sungguh-sungguh yang dilambari penyesalan yang kuat. Dan, orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan, mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui, (QS Ali Imran :135) Iman yang sempurna akan dicapai melalui hati yang bersih. Penyesalan dapat jadi landasan untuk kembali menata jiwa dan ruh kita agar tak jadi orang yang merugi. Dan, (ingatlah) hari ketika itu orang yang dzalim menggigit dua tangannya, seraya berkata, Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama rasul. Kecelakaan besarlah bagiku, kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Quran ketika Al-Quran itu telah datang kepadaku. Dan, syetan itu tidak mau menolong manusia, (QS alFurqan :27-29) Pada akhirnya, diperlukan keteladanan untuk menata hati dan perilaku individu dan masyarakat yang banyak menyimpang. Keteladanan yang hidup dalam gerak raga, bukan semata kata, seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah saw dan para sahabatnya. Sebab, sebagai manusia, kita lebih butuh teladan daripada nasehat.