Anda di halaman 1dari 9

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Perkembangan dunia usaha tumbuh semakin cepat sebagai akibat kemajuan ilmu dan teknologi yang berdampak pada semakin banyaknya perusahaan yang berdiri. Kondisi tersebut mengakibatkan meningkatnya persaingan dalam dunia usaha. Sebagai akibatnya perusahaan harus mampu bersaing untuk dapat bertahan hidup. Salah satu yang menentukan keberhasilan perusahaan untuk terus mampu bertahan hidup dalam ketatnya persaingan adalah efektivitas dan efisiensi pengelolaan sumber daya yang dimiliki dalam seluruh kegiatan operasionalnya. Setiap perusahaan selalu mempunyai tujuan yang berbeda-beda, tetapi pada dasarnya apapun bentuk dan sifatnya, tujuan utamanya adalah meningkatkan nilai perusahaan dengan cara meningkatkan laba. Di sisi lain, laba yang besar saja belumlah merupakan ukuran bahwa perusahaan itu telah dapat bekerja dengan efisien. Efisiensi baru dapat diperoleh dengan membandingkan laba yang diperoleh dengan kekayaan atau modal yang menghasilkan laba tersebut, atau dengan kata lain ialah menghitung rentabilitasnya (Riyanto, 2008:37) Penilaian terhadap kinerja dan kemampuan perusahaan dalam

menghasilkan keuntungan tercermin dalam tingkat pengembalian investasinya.

return on assets (ROA) atau yang disebut rentabilitas ekonomi merupakan ukuran pengembalian investasi dalam keseluruhan aktiva perusahaan. Sedangkan pengembalian dari modal sendiri dapat diukur melalui return on equity (ROE). ROA merupakan alat ukur yang sering digunakan untuk mengukur kinerja perusahaan dalam konteks manajemen stratejik. Nilai ROA dapat digunakan sebagai bahan evaluasi bagi perusahaan atas kegiatan operasionalnya dalam satu periode sehingga dapat digunakan untuk menentukan target keuntungan pada periode berikutnya. Selain itu, tingkat ROA juga dapat mempengaruhi ROE karena pengembalian atas total aktiva ROA menyediakan dasar-dasar yang diperlukan perusahaan untuk menghasilkan ROE yang baik. Perusahaan yang tidak memiliki ROA yang baik hampir tidak mungkin menghasilkan ROE yang memuaskan. Untuk itu penilaian terhadap kinerja dan kemampuan perusahaan dalam penelitian ini menggunakan return on assets (ROA) atau rentabilitas ekonomi. Berbagai faktor dapat mempengaruhi ROA. Namun salah satunya dapat dianalisis melalui keadaan likuiditas, aktivitas dan leverage perusahaan yang bersangkutan. Melalui rasio keuangan seorang manajer keuangan dapat melihat bagaimana likuiditas, aktivitas dan leverage turut memberikan pengaruh terhadap rentabilitas perusahaan yang dikelolanya. Likuiditas perusahaan adalah kemampuan perusahaan untuk dapat menyediakan alat-alat likuid sedemikian rupa sehingga dapat memenuhi kewajiban finansiilnya pada saat ditagih (Riyanto, 2008:26). Indikator untuk mengukur keadaan likuiditas perusahaan dalam penelitian ini adalah rasio lancar (current ratio). Rasio lancar merupakan satu-satunya indikator terbaik yang

menunjukkan sejauh mana kewajiban lancar dapat dipenuhi dengan aktiva lancar sehingga rasio lancar paling lazim digunakan sebagai ukuran dari solvensi jangka pendek (Weston & Brigham, 1993:295). Semakin besar jumlah aktiva lancar dibandingkan dengan utang lancar semakin baik likuiditas perusahaan. Namun demikian jumlah aktiva lancar yang terlalu besar tidak selalu berdampak baik bagi perusahaan karena menunjukkan adanya dana yang menganggur yang tidak dapat dikelola dengan efisien untuk meningkatkan rentabilitas. Penelitian yang dilakukan Lo (2001:315) menyatakan bahwa keadaan likuiditas yang overlikuid dapat berakibat pada profit yang dihasilkan karena jumlah aktiva lancar yang berlebihan menuntut perusahaan untuk menyediakan biaya modal yang tinggi dan hal tersebut dapat menurunkan rentabilitas. Sementara itu, aktivitas perusahaan adalah kegiatan yang dilakukan perusahaan dalam menjalankan operasinya baik dalam kegiatan penjualan, pembelian, dan kegiatan lainnya (Murwani, 2003:567). Dalam penelitian ini indikator untuk mengukur aktivitas perusahaan dalam penelitian ini adalah rasio perputaran total aktiva (total assets turnover). Menurut Harahap (2002:309) cara untuk menilai efektifitas perusahaan diantaranya dapat dilihat dari perputaran total aktiva yang menunjukkan seberapa jauh kemampuan aktiva dalam menciptakan penjualan. Sehingga perputaran total aktiva merupakan gambaran seberapa efisien aktiva tersebut telah dimanfaatkan untuk memperoleh penghasilan. Perputaran total aktiva ini penting bagi para kreditur dan pemilik perusahaan, tetapi akan lebih penting lagi bagi manajemen perusahaan, karena hal ini akan menunjukkan efisien tidaknya penggunaan seluruh aktiva didalam

perusahaan (Syamsuddin, 2007:62). Semakin tinggi perputaran aktiva dalam satu periode, biaya modal yang dikeluarkan akan semakin rendah sehingga akan tercapai efisiensi (Lo, 2001:215), sehingga mampu meningkatkan rentabilitas. Di lain sisi, tingkat aktivitas yang rendah pada tingkat penjualan tertentu akan menyebabkan kelebihan dana yang tertanam dalam aktiva semakin besar. Hal tersebut dapat mengakibatkan penurunan keuntungan yang diperoleh. Istilah leverage biasanya dipergunakan untuk menggambarkan

kemampuan perusahaan untuk menggunakan aktiva atau dana yang mempunyai beban tetap (fixed cost assets or funds) untuk memperbesar tingkat penghasilan (return) bagi pemilik perusahaan (Syamsuddin, 2007:89). Dengan kata lain leverage dapat diartikan sebagai kemampuan perusahaan untuk membayar utangutangnya (baik jangka pendek maupun jangka panjang), sehingga menunjukkan seberapa besar perusahaan dibiayai oleh utang. Dalam penelitian ini indikator untuk mengukur leverage perusahaan adalah rasio utang (debt ratio) yang memperbandingkan antara total utang dengan total aktiva. Rasio utang mengukur bagian aktiva yang didanai dengan menggunakan utang (Moeljadi, 2006:51). Semakin tinggi rasio utang semakin besar jumlah modal pinjaman yang digunakan didalam menghasilakan keuntungan bagi perusahaan. Hal ini berarti semakin efektif penggunaan dana untuk aktiva semakin baik efektivitas operasi perusahaan sehingga dapat membuka peluang bagi perusahaan untuk meningkatkan rentabilitas. Beberapa penelitian terdahulu yang dapat dijadikan acuan untuk dalam penalitian ini, dua diantaranya yaitu penelitian yang dilakukan oleh Larasaty (2008) dan Anisah (2010). Larasaty menganalisis tentang pengaruh rasio

likuiditas, rasio aktivitas dan rasio leverage terhadap rentabilitas pada perusahaan Food and Beverage yang go public di BEI. Hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa rasio likuiditas dan rasio aktivitas secara keseluruhan variabel yang di dalamnya tidak berpengaruh signifikan terhadap rentabilitas, sedangkan rasio leverage variabel debt to total capital assets berpengaruh secara signifikan terhadap rentabilitas. Rasio likuiditas, rasio aktivitas dan rasio leverage tidak berpengaruh signifikan terhadap rentabilitas. Sedangkan penelitian Anisah (2010) yang berjudul Pengaruh Rasio Likuiditas, Rasio Aktivitas dan Rasio Leverage Terhadap Rentabilitas Ekonomi pada Perusahaan Food and Beverage yang Listing di BEI pada Tahun 2007-2010 menyimpulkan bahwa rasio likuiditas dan rasio aktivitas secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap rentabilitas sedangkan rasio leverage secara parsial berpengaruh signifikan terhadap rentabilitas. Indeks LQ45 adalah deretan 45 saham perusahaan yang paling likuid di BEI (Bursa Efek Indonesia). Indeks LQ45 telah terpilih melalui berbagai kriteria pemilihan, sehingga akan terdiri dari 45 saham dengan likuiditas dan kapitalisasi pasar yang tinggi hal itu juga merupakan indikator likuidasi . Saham perusahaan yang tercatat dalam indeks ini dipilih secara seksama, dengan likuiditas menjadi indikator utama karena dianggap sebagai penunjuk kinerja yang solid dan

mencerminkan nilai pasar sebenarnya. Saham-saham tersebut dipantau dengan ketat dan kinerja kuartalan mereka dievaluasi yaitu setiap awal bulan Februari dan Agustus. Dari uraian di atas maka peneliti menganggap penelitian ini menarik dan penting untuk dilakukan. Peneliti ingin mengetahui kondisi likuiditas, aktivitas

dan leverage serta pengaruhnya terhadap rentabilitas. Untuk itu peneliti mengambil judul Pengaruh Likuiditas, Aktivitas dan Leverage Terhadap Rentabilitas (Studi Pada Perusahaan dalam Indeks LQ45)

B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, permasalahan yang ingin diangkat dalam penelitian ini adalah: 1. Bagaimanakah kondisi likuiditas, aktivitas, leverage dan rentabilitas

perusahaan dalam Indeks LQ45 di Bursa Efek Indonesia tahun 2008-2010? 2. Apakah likuiditas, aktivitas,dan leverage secara parsial berpengaruh terhadap rentabilitas perusahaan dalam Indeks LQ45 di Bursa Efek Indonesia tahun 2008-2010? 3. Apakah likuiditas, aktivitas,dan leverage secara simultan berpengaruh terhadap rentabilitas perusahaan dalam Indeks LQ45 di Bursa Efek Indonesia tahun 2008-2010?

C. Hipotesis Penelitian Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap penelitian yang secara teoritis dianggap paling mungkin dan paling tinggi tingkat kebenarannya (PPKI, 2010:12). Hipotesis diajukan dalam penelitian ini adalah: H1: Likuiditas berpengaruh terhadap rentabilitas perusahaan dalam Indeks LQ45. H2: Aktivitas berpengaruh terhadap rentabilitas perusahaan dalam Indeks LQ45. H3: Leverage berpengaruh terhadap rentabilitas perusahaan dalam Indeks LQ45.

H4: Likuiditas, aktivitas dan leverage secara simultan berpengaruh terhadap rentabilitas perusahaan dalam Indeks LQ45.

D. Kegunaan Penelitian Adapun kegunaan dilakukannya penelitian ini adalah: 1. Bagi Universitas Malang Untuk menambah kepustakaan Universitas Malang yang dapat digunakan sebagai materi tambahan bagi mahasiswa yang sedang mengkaji materi serupa dan dapat memberi sumbangan terhadap ilmu pengetahuan. 2. Bagi perusahaan Membantu manajer perusahaan untuk mengetahui faktor keuangan apa saja yang dapat mempengaruhi tingkat rentabilitas dan bagaimana pengaruhnya sehingga dapat dilakukan analisa lebih lanjur mengenai bagaimana cara meningkatkan rentabilitas ekonomi. 3. Bagi peneliti Menambah wawasan sekaligus melatih untuk dapat memecahkan permasalahan yang ada dengan menerapkan ilmu pengetahuan yang dimiliki melalui analisaanalisa yang dilakukan. 4. Bagi investor Dapat dipakai sebagai dasar pertimbangan kebijakan investasi dan sebagai sarana informasi untuk mengetahui prospek keuntungan di masa mendatang dan perkembangan perusahaan selanjutnya.

E. Asumsi Penelitian Asumsi penelitian adalah anggapan-anggapan dasar tentang suatu hal yang dijadikan pijakan berpikir dan bertindak dalam melaksanakan penelitian (Universitas Negeri Malang, 2010:17). Asumsi dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Laporan keuangan yang dipublikasikan dianggap menyatakan kondisi perusahaan yang sebenarnya. 2. Variabel lain di luar model seperti rasio keuangan yang tidak diteliti diasumsikan konstan.

F. Definisi Operasional Untuk menghindari kesalahan dalam menginterpretasikan hasil penelitian, maka peneliti perlu mencantumkan dan menjelaskan definisi operasional. Adapun definisi operasional yang harus dijelaskan adalah sebagai berikut: 1. Likuiditas Likuiditas adalah kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Dalam penelitian ini indikator likuiditas diukur dengan menggunakan rasio lancar (current ratio) yaitu dengan memperbandingkan antara jumlah aktiva lancar dengan utang lancar. 2. Aktivitas Aktivitas adalah kegiatan yang dilakukan perusahaan dalam menjalankan operasinya baik dalam kegiatan penjualan, pembelian, dan kegiatan lainnya. Dalam penelitian ini indikator aktivitas diukur dengan menggunakan perputaran total aktiva (total assets turnover) yaitu dengan memperbandingkan penjualan dengan total aktiva.

3. Leverage Leverage adalah kemampuan perusahaan dalam memenuhi seluruh kewajiban jangka pendek maupun jangka panjangnya, sehingga menunjukkan seberapa besar perusahaan dibiayai oleh utang. Dalam penelitian ini indikator leverage diukur dengan menggunakan rasio utang (debt ratio) yaitu dengan memperbandingkan antara total utang dengan total aktiva. 4. Rentabilitas Rentabilitas adalah penilaian terhadap kinerja dan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan. Dalam penelitian ini indikator rentabilitas diukur dengan menggunakan ROA (return on asset) atau biasa disebut dengan rentabilitas ekonomi yaitu dengan memperbandingkan antara laba operasi (EBIT) dengan total aktiva. 5. Indeks LQ45 Indeks LQ45 adalah deretan 45 saham perusahaan yang paling likuid di Bursa Efek Indonesia dan memiliki nilai kapitalisasi yang besar yang merupakan

indikator likuidasi. Indeks LQ45 telah terpilih melalui berbagai kriteria pemilihan, sehingga akan terdiri dari 45 saham perusahaan dengan likuiditas dan kapitalisasi pasar yang tinggi.