Anda di halaman 1dari 5

Oleh Pemerintah: Lokakarya Evaluasi dan Perencanaan Program Konsorsium Pendidikan Bencana 2010-2011 29 Oktober 2010 MPBI News,

Bandung, 28/10/2010 Wilayah Indonesia dikenal sebagai wilayah supermaket bencana karena banyaknya jenis ancaman bencana dan seringnya terjadi bencana yang memakan korban jiwa dan harta benda. Salah satu upaya penanggulangan bencana (PB) yang penting adalah pendidikan kebencanaan. PB menjadi perhatian serius Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dalam pernyataannya dalam rapat koordinasi terbatas di Bandar Udara Minangkabau, Padang, Sumatra Barat, Rabu (27/10), Presiden Yudhoyono menginstruksikan provinsi-provinsi rawan bencana harus memberikan pendidikan kebencanaan lebih keras dalam menyelamatkan masyarakat . Pernyataan Presiden ini semakin mempertegas upaya-upaya yang dilakukan oleh Konsorsium Pendidikan Bencana (KPB) dalam mendorong dan mengembangkan pendidikan pengurangan risiko bencana (PRB) di Indonesia. Presidium KPB 2009-2010, Vanda Lengkong dari PLAN Indonesia mengatakan, KPB berdiri pada bulan Oktober 2006 dengan fokus pada upaya PRB di sekolah, baik formal maupun non formal. Pada saat ini anggota KPB mencapai 52 lembaga. KPB merupakan wadah koordinasi bagi lembaga-lembaga yang mempunyai program pendidikan kebencanaan. Dalam hal ini KPB tidak bertindak sebagai lembaga pelaksana operasional, tapi lebih menjalankan fungsi koordinasi antar anggota dan pihak lain, mendukung upaya pendidikan kebencanaan yang dilakukan Pemerintah beserta institusi-institusi lainnya yang relevan; serta menyediakan forum bagi anggota untuk saling bersinergi, meningkatkan kualitas sumber daya serta kualitas metode dan pendidikan kebencanaan Paparan Vanda Lengkong ini disampaikannya dalam acara Lokakarya Evaluasi KPB 2010 dan Perencanaan KPB 2011 pada tanggal 28 29 Oktober 2010 di Hotel Aston Tropicana, Bandung, Jawa Barat. Acara ini diikuti oleh 33 orang yang merupakan perwakilan dari anggota-anggota KPB dari seluruh Indonesia. Pada tahun 2010 KPB telah terlibat dalam dua kegiatan advokasi yang mendasar mengenai pentingnya pendidikan pengurangan risiko bencana. Pertama, di bulan Juli 2010 telah ditandatangani dengan peluncuran Surat Edaran Menteri Pendidikan Nasional No. 70a/MPB/SE/2010 mengenai pengarusutamaan PRB di sekolah. Kedua, KPB terlibat dalam kampanye Satu Juta Sekolah dan Rumah Sakit Aman yang diadakan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Platform Nasional (Planas) PRB sebagai kontribusi Indonesia dalam kampanye PRB di tingkat global yang diinisiasi oleh International Strategy for Disaster Reduction (ISDR). Hal ini juga didukung oleh Sekretariat KPB yang kuat sehingga dapat terus aktif dalam melakukan advokasi pendidikan PRB melalui partisipasinya di berbagai pameran. --- dp ---

Perlu Kementerian Penanggulangan Bencana Alam Madina Nusrat | Minggu, 4 Oktober 2009 | 17:53 WIB BANYUMAS, KOMPAS.com - Dalam menanggulangi bencana alam gempa bumi yang kerap terjadi di Indonesia, sebaiknya pemerintahan yang baru membentuk kementerian penanggulangan bencana alam. Kementerian itu nantinya tak hanya tanggap terhadap mobilisasi bantuan kepada korban bencana alam tetapi juga merancang antisipasi bencana gempa, seperti merancang arsitektur tata kota yang dapat meminimalkan korban bencana gempa, termasuk merancang rumah tahan gempa. Demikian disampaikan anggota Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Budiman Sujatmiko di sela-sela kegiatannya mendeklarasikan Rumah Aspirasi Budiman Sujatmiko di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Minggu (4/10). "Saya berharap dalam penyusunan kabinet besok, pemerintahan yang baru dapat membentuk kementrian yang khusus mengurus masalah bencana," katanya. Dengan bencana gempa yang terjadi belakangan ini, kata Budiman, Indonesia tak ubahnya dengan Jepang. Oleh karena itu perlu bagi pemerintah Indonesia untuk belajar antisipasi dan penanggulangan bencana gempa pada Jepang. Menurutnya, Jepang tak hanya menanggulangi bencana gempa pada saat kejadian, tetapi juga mengantisipasinya

dengan merancang tata kota yang dapat meminimalkan korban bencana gempa. Pemerintah di negara itu telah menjalankan penelitian gedung-gedung tinggi yang tahan gempa. "Makanya, kenapa kita tidak memikirkan kementriaan bencana untuk membicarakan soal perumahan dan gedung yang memenuhi standar tertentu yang bisa tahan gempa," jelas Budiman. Ide kementerian penanggulan bencana itu, lanjut Budiman, akan diusulkan dalam rapat fraksi PDI Perjuangan. "Ide ini akan saya bagi dengan teman-teman yang menangani masalah bencana," ucapnya.

KKP Adakan Workshop Mitigasi Bencana di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil 29 Oktober 2010 MPBI News, Jakarta, 27/10/2010 Ratusan kali wilayah pesisir Indonesia diterjang tsunami. Namun demikian setiap terjadi tsunami selalu menelan korban jiwa dalam jumlah besar. Tsunami Aceh pada 26 Desember 2004 misalnya menewaskan 220.000 orang. Kejadian terakhir adalah tsunami yang terjadi di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat pada 25 Oktober 2010 pukul 21.42 WIB. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumatera Barat di Kepulauan Mentawai hingga tanggal 28 Oktober 2010, pukul 13.00 WIB memakan korban meninggal sebanyak 343 orang, jumlah korban hilang 338 orang, luka berat 265 orang, luka ringan 140, dan mengungsi 4.000 orang. Lalu, kenapa setiap terjadi tsunami selalu menelan banyak korban jiwa? Salah satu jawabannya adalah masyarakat belum mengenal dan memahami tsunami secara benar dan baik. Kekurangpahaman terhadap fenomena tsunami inilah yang menyebabkan kita mengulangi kesalahan yang sama. Dalam rangka proses penyadaran publik terhadap ancaman tsunami itu maka Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyelenggarakan Workshop Mitigasi Bencana di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil pada 27 Oktober 2010 di Hotel Aryaduta, Jakarta. Acara ini dihadiri lebih dari 150 orang dari perwakilan Kementerian/Lembaga terkait, Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di bidang kelautan dan penanggulangan bencana (PB), lembaga non pemerintah, kalangan pendidikan (mahasiswa, siswa SMA dan SMP), serta pusat kebencanaan di perguruan tinggi. Sekretaris Jenderal KKP, Dr. Ir. Gellwynn Daniel Hamzah Jusuf, M.Sc., dalam kata sambutannya mengatakan, Dampak bencana di wilayah pesisir tidaklah sederhana karena konsentrasi pembangunan di wilayah pesisir semakin meningkat. Selain itu terbatasnya akses di wilayah pesisir menyulitkan upaya penanganan bencana. Upaya mengembangkan wilayah pesisir adalah dengan menjalankan konsep minapolitan oleh KKP dengan cara mempercepat pembangunan sentra-sentra industri perikanan. Untuk itu kawasan minapolitan agar dikembangkan menjadi kawasan yang tahan bencana. Menurut Gellwynn Daniel Hamzah Jusuf tantangan dalam hal mitigasi bencana di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil meliputi pemetaan potensi ancaman bencana, penyusunan rencana strategis, penyusunan rencana kontijensi, pembuatan rumah aman bencana, konservasi dan rehabilitasi wilayah pesisir, serta penguatan kapasitas aparatur pemerintah daerah. Direktur Pesisir dan Lautan KKP, Dr. Ir. Subandono Diposaptono, M.Eng., menyampaikan, Indonesia berada di pertemuan lempeng yang berpotensi melepaskan energi yang dapat menimbulkan bencana. Upaya untuk mitigasi antara lain membuat peta risiko bencana dan mensosialisasikan kepada masyarakat. Selain itu tiap-tiap pemerintah daerah, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota agar segera membentuk BPBD sebagai lembaga yang khusus bekerja untuk penanggulangan bencana. Subandono Diposaptono menyebutkan ada 3 cara untuk melakukan sosialisasi terhadap ancaman tsunami, yaitu melalui metode keilmuan, agama dan seni hiburan (misalkan wayang, dangdut) yang sesuai dengan konteks daerahnya. Untuk melakukan sosialisasi itu diperlukan dana cukup besar, tapi di KKP sendiri dana untuk melakukan sosialisasi cukup kecil yaitu Rp 300 juta. Paparan materi dalam workshop ini antara lain dilakukan oleh:

1. Dr. Susumu Murata, Coastal Development Institute and Technology (CDIT), Jepang: Tsunami Book
and 2010 Chile Tsunami.

2. Prof. Tomotsuku Takayama, CDIT, Jepang: Recent Progress on Tsunami Disaster Mitigation in Japan. 3. Dr. Ir. Subandono Diposaptono, M.Eng., Direktur Pesisir dan Lautan KKP: Mitigasi Bencana Laut
4. 5. 6. 7. (Tsunami, Gelombang Ekstrim, Sea Level Rise). Dr. Pariatmono, Kementerian Riset dan Teknologi: Riset dan Teknologi dalam Mitigasi Bencana. Drs. M. Riyadi, Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG): Sistem Peringatan Dini Tsunami. Ir. Lilik Kurniawan, MT., Kasubdit Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB): Peran BNPB dalam Penanggulangan Bencana. Irina Rafliana, SE., Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI): Kesiapsiagaan Berbasis Ilmu Pengetahuan bagi Upaya PRB di Indonesia.

Dalam acara Workshop Mitigasi Bencana di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil ada pemberian penghargaan Publication Culture Prize 2010 kepada Dr. Ir. Subandono Diposaptono, M.Eng. dan Penerbit Buku PT Sarana Komunika Utama (SKU) oleh Presiden CDIT, Jepang. Penghargaan ini diberikan karena kontribusi keduanya dalam memperkaya literatur di bidang tsunami melalui buku. Selain itu ada pemutaran film tsunami untuk menambah pemahaman mengenai risiko tsunami. --- dp ---

Oleh Organisasi Masyarakat: Menyiapkan Warga Waspada terhadap Bencana oleh Apollonius Gadho (FIRD, Ende-Flores), 23 November 2010 Berada di kaki Gunung Pocoranaka dengan kemiringan sekitar 35 derajat, Desa Mando Sawu, Manggarai Timur adalah daerah langganan longsor dan banjir lahar. Dan pengalaman bencana banjir dan longsor tahun 1982 yang memporakporandakan desa ini, mendorong warga mencari jalan untuk mengurangi resiko jika bencana kembali datang. Salah satunya adalah dengan membentuk Tim Siaga Bencana Desa atau TSBD. *** Bagi penduduk yang berdiam di sekitar kawasan ini, kondisi tersebut makin rawan, karena letak pemukiman penduduk berada di daerah aliran sungai. Apabila terjadi hujan dengan durasi sekitar dua jam, maka banjir dari Gunung Pocoranaka pasti mengancam penduduk setempat. Kejadian banjir seperti ini memang pemandangan biasa yang selalu terjadi setiap tahun. Jumlah penduduk Desa Mando Sawu 3.750 jiwa, sebagian besar belum memahami tentang ancaman bencana apa yang sesungguhnya mereka hadapi dan mengancam jiwa mereka. Kerentanan tersebut makin nyata, karena jumlah penduduk yang tergolong kelompok rentan cukup tinggi, sebanyak 294 balita, 300 jiwa lanjut usia, dan 13 orang penyandang cacat. Bentuk kerentanan lainnya adalah topografi lahan yang berbukit dan berada di lereng Gunung Pocoranaka, sehingga penduduk desa sangat rentan terhadap ancaman banjir lahar. Selain itu, kondisi rumah yang berada di daerah aliran sungai serta fisik rumah tidak mengikuti standar keselamatan. Fasilitas umum seperti jalan dan jemabatan pun berada di sekitar daerah aliran sungai. Berbekal pengalaman bencana tahun 1982 yang memporakporandakan warga Desa Mando Sawu, masyarakat bersama aparat desa setempat mulai berpikir kira-kira cara apa yang tepat untuk mengurangi risiko bencana yang dapat terjadi sewaktu-waktu. Untuk meningkatkan ketahanan masyarakat dalam menghadapi bencana, satu tim dari FIRD (Flores Institute for Resources Development) di Manggarai, bersama masyarakat serta aparat Desa Mando Sawu melakukan penilaian atas ancaman, kerentanan serta kapasitas yang dimiliki masyarakat. Kegiatan ini dilakukan atas dukungan Oxfam, dengan pendanaan dari Pemerintah Australia, melalui kemitraan Australia-Indonesia. Setelah melakukan penilaian bersama masyarakat beserta aparat desa, selajutnya dilakukan pemilihan para penggerak masyarakat (community organizer). Peran mereka adalah mengorganisir masyarakat desa dalam berbagai kegiatan terkait pengurangan risiko bencana. Pada tanggal 4 Agustus 2010, masyarakat serta aparat desa membentuk Tim Siaga Bencana Desa (TSBD). Tim ini dibentuk dalam beberapa seksi serta masing-masing seksi mempunyai tugas dan tanggung jawab yang

berbeda. Adapun tugas dari setiap seski TSBD antara lain: melakukan pemetaan kondisi topograpi serta analisis kapasitas masyarakat, kondisi ekonomi, serta infrastruktur. Ada seksi yang bertugas sebagai pemberi isyarat akan terjadi bencana (peringatan dini), ada seksi dapur umum, seksi kehumasan, seksi pertolongan pertama, regu evakuasi, serta seksi keamanan. Pembentukan dan pemilihan anggota TSBD tersebut dilakukan secara musyawarah yang dihadiri setiap komponen yang ada di desa termasuk kelompok perempuan. Pada pemilihan pengurus TSBD di Desa Mando Sawu, hadiri 42 orang yang terdiri dari empat orang perempuan serta 38 orang laki-laki. Kami merasa bersyukur dan berterimakasih kepada Tim FIRD yang mau meluangkan waktunya untuk berbagi pengetahuan. Karena pengetahuan tentang bencana bagi kami masih sangat minim, terutama pembentukan TSBD yang menurut kami sangat dibutuhkan, mengingat desa kami yang sangat rawan terhadap bencana banjir, letusan gunung api serta tanah longsor, ungkap Adrianus Remet, Kepala Desa Mando Sawu saat pertemuan. Ibu Yosefina Pakur, seorang tokoh perempuan berujar, mereka merasa dihargai dan karena itu berterimakasih kepada FIRD atas kesempatan yang diberikan kepada mereka dalam kegiatan tersebut. Pengetahuan tentang bencana masih sangat langka bagi kami, sementara desa kami sangat rentan terhadap bencana yang datang setiap tahun mengancam hidup kami, katanya saat pertemuan berlangsung. Beberapa tugas penting harus segera dilakukan oleh TSBD setelah terbentuk. Misalnya menyiapkan sistem peringatan dini, mengkaji kapan akan terjadi musim hujan atau kapan akan terjadi gunung meletus, mempersiapkan jalur evakuasi serta tempat evakuasi yang aman apabila terjadi bencana sesungguhnya. Selain itu, juga memastikan berapa banyak kelompok paling rentan yang ada di desa, misalnya para lansia, penyandang cacat serta wanita hamil. Mengakhiri pertemuan, masyarakat bersama aparat desa berkomitmen bersama untuk saling membantu dalam melakukan kegiatan. Mulai saat ini dan selanjutnya, masyarakat beserta aparat desa saling bergotong-royong membangun desa sehingga desa mereka mempunyai ketahanan dalam menghadapi bencana yang kemungkinan akan terjadi di waktu-waktu mendatang.***

Oxfam Adakan Lokalatih PRB Bagi Jurnalis, 30 September 2010 MPBI News, Jakarta, 30/9/2010 Wilayah Indonesia berada di daerah rawan bencana. Karena itu tidak heran bila di Indonesia sering dilanda bencana, seperti gempa bumi, gunung meletus, longsor, banjir, kekeringan, tsunami. Banyaknya kejadian bencana itu menjadi bahan bagi media massa untuk pemberitaan-pemberitaannya. Akan tetapi, hingga saat di media massa masih banyak yang berpegangan pada ujaran bad news is good news. Berita-berita buruk seperti jumlah korban bencana (tewas, luka-luka), distribusi bantuan, respon tanggap darurat, penderitaan penyintas dan pengungsi, koordinasi penanganan bencana menjadi menu sehari-hari di media massa, baik media cetak maupun media elektronik. Melihat pentingnya hal itu maka Oxfam GB dengan didukung Pemerintah Australia melalui Kemitraan Indonesia-Australia menyelenggarakan Lokalatih Pengurangan Risiko Bencana Bagi Jurnalis: Membangun Ketahanan Masyarakat terhadap Bencana di Kawasan Timur Indonesia pada tanggal 28 30 September 2010 di Hotel Cemara, Jakarta. Acara ini diikuti oleh 15 orang dari media massa antara lain: Radio Republik Indonesia (RRI) Jayapura, RRI Manado, RRI Palu, RRI Kupang, RRI Mataram, Cendrawasih Post, Cahaya Papua, Radio Arauna Papua Barat, Manado Post, Radar Sulteng, Pos Kupang, Flores Pos, Fajar Makassar dan NTB Post. Sebagai fasilitator lokalatih antara lain Djoni Ferdiwijaya, Yulius Nakmofa (Perkumpulan Masyarakat Penanggulangan Bencana - PMPB), Hening Parlan (Humanitarian Forum Indonesia - HFI), Ahmad Arif (Kompas), Antonius Ratu Gah (Radio Netherlands), Lilik Trimaya (Oxfam) dan Didik Mulyono (Oxfam). Koordinator Pengurangan Risiko dan Adaptasi Oxfam GB, Patris Pusfomeny mengatakan, Lokalatih ini bertujuan untuk menjalin kemitraan dengan para pekerja pers, khususnya yang bekerja di sekitar wilayah proyek Membangun Ketahanan di Kawasan Timur Indonesia (Building Resilience in Eastern Indonesia) di Kawasan Timur Indonesia. Juga untuk merekatkan hubungan antar lembaga-lembaga kemanusiaan dan media massa dalam isu pengurangan risiko bencana (PRB). Bagi jurnalis itu lokalatih ini untuk memberikan pengetahuan

terkait kerangka PRB yang komprehensif serta penyadaran kepada para jurnalis akan pentingnya mengaitkan PRB dalam peliputan kejadian bencana. Peran jurnalis atau wartawan sangat penting untuk diseminasi informasi kebencanaan kepada publik. Apa-apa yang diberitakan oleh media massa seringkali juga dapat mempengaruhi pengambilan keputusan oleh pemerintah dan lembaga-lembaga kemanusiaan/kebencanaan. Dalam lokalatih ini disampaikan materi-materi agar para jurnalis mempunyai pengetahuan dan wawasan mengenai kebijakan penanggulangan bencana (PB), kelembagaan PB, anggaran, PRB, Pengelolaan Risiko Bencana Berbasis Komunitas (PRBBK), standar dan kode etik serta hal-hal terkait lainnya. Dengan demikian para jurnalis dapat memberitakan hal-hal baik dalam isu kebencanaan atau good news is good news dan tidak hanya berupa berita yang bersifat bad news is good news.

Komik penanggulangan Bencana (IDEP & Oxfam GB), 11 November 2010 Buku cerita (komik) penanggulangan Bencana ini adalah bagian dari Panduan Umum Penanggulangan Bencana Berbasis Masyarakat (PBBM) Selama ini, tindakan dalam usaha penanggulangan bencana dilakukan oleh pemerintah yang pelaksanaannya kemudian dilakukan bersama antara pemerintah daerah dengan organisasi-organisasi yang terkait dan masyarakat yang tertimpa bencana. Pada saat menghadapi bencana, masyarakat yang belum mampu untuk menanganinya sendiri harus menunggu bantuan yang kadang-kadang tidak segera datang. Perlu disadari bahwa detik-detik pertama saat bencana terjadi adalah saat yang sangat penting dalam usaha mengurangi dampak bencana yang lebih besar. Didasari pemikiran tersebut dan sejalan dengan program pengembangan masyarakat yang mandiri, masyarakat sendiri perlu mengetahui secara menyeluruh semua upaya tindakan penanggulangan bencana supaya bisa segera mengambil tindakan yang tepat pada waktu bencana terjadi. Buku ini lebih menekankan tindakan-tindakan persiapan dalam usaha mencegah kemungkinan bencana dan mengurangi dampak bencana.