Anda di halaman 1dari 10

Masalah TKW sebagai Benang Kusut yang Sulit Diurai

Tenaga kerja wanita merupakan satu kelompok sumber daya manusia yang selama ini telah sangat membantu pemasukan devisa bagi negara. Ironisnya, mereka sendiri selalu mengalami yang rumit. Dengan segala daya upaya yang mereka lakukan, sekian banyak uang mengalir ke pundi pundi keuangan negara. Uang pajak ini kemudian diarahkan untuk pembangunan negara. Sayangnya, jumlah rupiah tersebut selalu diiringi dengan beragam masalah TKW yang tetap saja terjadi dan seakan tidak pernah terselesaikan. Masalah sosial ini terus tumbuh dan berkembang. Nyatanya, setiap saat kita masih mendengar berita di surat kabar ataupun di media elektronik bahwa ada saja tenaga kerja di luar negeri yang terjebak pada masalah TKW. Nasib para TKW Mereka harus mengalami perlakuan yang tidak manusiawi dari majikannya. Dengan berbagai alasan, para TKW ini diperlakukan tidak selayaknya manusia. Mereka dianggap tidak mempunyai kemampuan untuk membela diri, sebagaimana seharusnya manusia. Ada banyak hal yang menyebabkan masalah TKW sepertinya tidak pernah terkikis oleh air hujan, bahkan gelombang tsunami sekalipun. Masalah terus bergulir dan terjadi sebagai konsekuensi logis dari sebuah profesi. Pentingnya Pertanggungjawaban Pengelola TKW Sebenarnya, jika kita telah sejak awal, maka pada saat proses perekrutan, para pengelola TKW sudah mengetahui dengan jelas segala hal terkait dengan syarat dan ketentuan untuk dapat menjadi TKW. Hal ini untuk menjaga jangan sampai terjadi masalah TKW.

Begitu juga halnya dengan para calon TKW pada saat mereka mendaftar untuk menjadi TKW. Mereka mengetahui secara jelas segala masalah TKW di negara tempat mereka bekerja. Dan, mereka memahami kondisi tersebut, tanpa mengurungkan niat menjadi TKW. Meskipun demikian, para pengelola TKW seharusnya tetap bertanggungjawab jika ada TKW yang mengalami perlakuan tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Mereka seharusnya tidak hanya mengirimkan TKW, tetapi juga perlu memantau segala hal yang terjadi pada para TKW. Dan, yang paling penting, mereka harus ikut memikirkan dan mencarikan solusi jika ternyata ada TKW yang bermasalah di tempat kerjanya. Apapun yang mereka alami, seharusnya dipantau dan selalu ditindaklanjuti oleh pengelola TKW tersebut. Persiapan Kompetensi yang Aplikatif Untuk mengantisipasi segala hal yang terjadi akibat kondisi budaya yang berbeda, maka sudah seharusnya para pengelola TKW memperhatikan hal persiapan kompetensi para TKW ini. Persiapan kompetensi aplikatif bagi seorang TKW memang sangat diperlukan, sebab mereka akan berada di lingkungan yang sungguh berbeda dengan lingkungan hidup mereka selama ini. Begitu juga dalam banyak hal lainnya, bahasa, adat istiadat,dan gaya hidup yang berbeda dengan kondisi hidup selama ini lingkungannya. Ini sangat diperlukan, sebab sebagai seorang tenaga kerja mereka sudah seharusnya mempunyai kompetensi yang sesuai dengan bidang yang harus mereka tangani. Kompetensi ini seharusnya tidak hanya pada level bisa, tetapi harus sampai pada level mampu dan menguasai. Permasalahan yang selama ini terjadi memang berdasar pada kompetensi yang dimiliki oleh para TKW. Berbagai sanggahan yang kita dengar dari para majikan, mereka sellau mengatakan bahwa kompetensi para TKW belum sesuai dengan level yang diharapkan sehingga setiap kali bekerja, selalu membuat kesalahan. Hal tersebut yang memicu kemarahan para majikan. Jika memang hal tersebut benar, maka seharusnya kita meningkatkan kompetensi TKW, sehingga benar-benar siap menjadi tenaga kerja professional di bidangnya.

Membahas masalah TKW sama ruwetnya dengan mengurai benang kusut lagi basah. Oleh karena itu, kita perlu teliti dan hati hati agar tidak berbenturan dengan yang lainnya. Selanjutnya, mari kita antisipasi agar TKW yang kita kirimkan sebagai pahlawan devisa ini benar-benar mendapatkan perlindungan yang layak sebagai tenaga kerja profesional

Lingkaran Kemiskinan, Masalah TKW Indonesia


November 20th, 2010 sumintar

Kasus kasus memilukan yang terjadi di Indonesia hampir tiap hari kita baca, kita dengar dan kita tonton. Lingkaran kemiskinan dan masalah TKW Indonesia semakin menyadarkan kita bahwa banyak yang keliru, banyak yang salah. Akan tetapi yang semakin menyedihkan adalah banyak yang mencari kambing hitam, saling menyalahkan dan tidak memberi solusi, memeri contoh dan bekerja memperbaiki dari diri sendiri lewat keteladanan. Buruh, Pembantu Rumah Tangga, PRT, TKW Oh Malang Nasipmu. Sebenarnya persoalan ini simple kalau ada kesadaran seluruh warga indonesia, kesadaran pemerintah, dan kesadaran individu. Contoh sederhana : Jika memang anda perduli dengan masalah Kemiskinan khususnya TKW, PRT. Sudahkan kita memperlakukan mereka dengan layak? Sudahkan kita memperlakunan mereka dengan adil : baik banyaknya pekerjaan dan Gaji yang diperoleh. Kenapa banyak pembantu yang memilih ke luar negeri: karena gaji / pendapatan yang didapat jauh lebih besar dari rata rata gaji pembantu rumah tangga di Indonesia. Bahkan yang menyedihkan penganiayaan pembantu di Indonesia juga sering terjadi, sedikit sekali yang terungkap. Banyak sekali pembantu di Indonesia digaji jauh di bawah UMR. bahkan ada yang dibawah Rp.300rb/ bulan dengan pekerjaan yang segunung. Menyedihkan. Lingkaran Kemiskinan di Indonesia Inilah lingkaran kemiskinan yang sampai saat ini belum ada titik terang. Pemerintah sudah banyak mengelontorkan dana, bantuan, modal tapi apa yang tejadi : Korupsi terjadi disemua lini, sampai sampai dana bantuan untuk rakyat miskin juga dikorupsi. Masya Allah. Pejabat Korupsi>> Pembangunan Tidak Sesuai Rencana->> Dana bantuan dikorupsi / disunat>> Dana tersalur tidak sesuai rencana>> Berujung pada Kemiskinan belum teratasi. Untuk Pengusaha. Ijin usaha dipersulit, mencari modal susah, bank tidak percaya>> Usaha sulit >> Penyerapan Tenaga Kerja sedikit->> Lingkaran Kemiskinan

Untuk Karyawan : Gaji kecil, demo terjadi dimana mana>> Produksi menurun>>> Pengusaha Bangkrut>> PHK >> Kemiskinan. Biaya sekolah mahal>> Banyak yang Putus sekolah>> Kemampuan SDM Rendah->> Tidak banyak diserap di Perusahan>> Kemiskinan semakin bertambah. Sawah terbatas>> teknologi pertanian tidak berkembang>> Penyuluhan macet >> Hasil minim->> Petani Tetap Miskin. Gaji pegawai kecil>> membayar PRT ala kadarnya>> Menjadi TKW ke Luar negeri >> Tidak ada kecocokan>> Dianiaya>> semua orang marah>> semua TKW ditarik>>> Di Indonesia tidak ada yang menampung>> Kemiskinan Semakin merajalela. Oalah Negeriku, Indonesia. Malaysia Menghina, Arab Saudi Menganiaya, Amerika menyedot habis Kekayaaannya, Pengamat dan penghujat semakin banyak, kambing hitam dimana mana. Pengalaman Pribadi Memcoba tinggal di desa (sudah 3) tahun, membeli tanah untuk bertani dan berusaha agar bisa menyatu dengan masyarakat. Apa yang terjadi : kelompok tani belum terbentuk (apa saja yang dilakukan pejabat daerah?). Mau pinjam ke bank Pemerintah (katanya usaha saya belum 2 tahun). Orang seperti saya saja kesulitan dalam banyak hal, apalagi petani desa yang kurang informasi tentu mereka akan melakukan apa adanya, tidak berupaya melakukan usaha yang lebih untuk meningkatkan pendapatan. Pertanyaan saya: Apa saja tugas dinas pertanian, apa saja tugas pejabat daerah, mana program yang sampai ke rakyat kecil, mana bantuan petugas penyuluhan PPL, mana program yang muluk muluk di pemerintah pusat. Realisinya ? Jawab: memang ada yang saya lihat program PNPM mandiri, memperbaiki jalan, sudah bagus. Hanya saja yang dibutuhkan secara nyata adalah menyediaan lapangan kerja yang terus menerus. Membantu para pengusaha yang mau ke desa, dalam upaya penciptaan lapangan kerja. Pertanyaan lagi : jangan jangan saya yang tidak tahu, kurang bergaul, sehingga saya salah presepsi. Untuk itu saya mau dikoreksi, diajak, dan diberi pengarahan biar saya lebih gaul lagi.

Yang Jelas: Sampai sayat ini tidak ada petugas dari mana saja yang datang kepada saya : Pak sumintar sampean pendatang yah? kok mau mau ke desa, begini pak : bapak sering rapat saja ke desa, membantu rakyat sekitar, bersama kami membangun Indonesia. Ini ada program dari pemerintah butuh orang orang seperti anda. (kalau ada yang seperti ini saya bisa GR, hehehe). Memang sifat pejabat di Indonesia dari Pusat sampai daerah ada yang kurang: 1. Jangankan menjemput bola, datang saja tidak mau. 2. Sifat memerintah yang menonjol : Sifat Melayani kurang, 3. Lebih banyak pemerintah, sedikit memberi contoh. 4. Lebih suka memperkaya diri sendiri daripada memikirkan rakyat kecil, 5. Lebih suka tampil di TV daripada tampil di tengah tengah masyarakat, Tulisan ini tidak mencari kambing hitam, tapi memberi solusi bahwa: Sebenarnya yang dibutuhkan rakyat kecil, rakyat dibawah adalah keteladanan, contoh nyata yang mudah untuk dijalankan. Jangan hanya membuat program bagus, tapi realisasi di lapangan jauh lebih penting. Hampir banyak petani desa yang saya jumpai : mereka itu hanya bertani, sedikit yang berusaha lain untuk tambahan kecuali : berternak sedikit ayam dan 1s/d 2 sapi. Problem yang mereka hadapi: masalah pada anaknya, yang kadang tidak mau bertani tapi juga tidak mau bekerja jadi lebih memilih pengangguran. Anak petani saat ini hampir semua punya sepeda motor (pengeluran), dan Handphone, HP (pengeluaran), Merokok (pengeluaran), nonkrong dijalan dan njajan (pengeluaran). Sementara pendapatan petani tetap dan kadang berkurang. Sehingga makin lama petani makin miskin dan semakin miskin. Inilah Problem sementara masalah korupsi saja semakin sulit diatasi, masalah rakyat kecil semakin bertambah. Dan ini akan terus menerus menjadi lingkaran kemiskinan yang semakin sulit dipecahkan. Solusi: Marilah mulai dari diri kita sendiri dan keluarga: budayakan sifat membantu dalam banyak hal: membantu menciptakan lapangan pekerjaan, membantu menaikkan gaji TKW / pembantu rumah tangga, membantu menularkan ilmu yang bermanfaat. Membantu memberi solusi atau kalau tidak bisa : jangan malah menambah masalah baru.

Kalau kita mau: Masih banyak cara yang bisa diperbuat: saat ini apa saja bisa dijual: Internet sudah tersedia, majalah bisnis, majalah wirausaha sudah begitu banyak, majalah pertanian, agro juga susah banyak. Ayolah mencoba membuat usaha baru, berwira usaha meskipun anda karyawan / pegawai. Ayo jangan hanya menunggu jatuhnya bintang dari langit, menunggu belah kasih pemerintah (karena pemerintah juga butuh dikasihani, hehehe). Ayolah para pencari uang di internet di share ilmunya, ditularkan ilmunya baik dari yang gratis maupun yang bayar. jangan dipake sendiri. Saatnya menjadi bagian solusi yang memberi kontribusi, bukan menjadi beban. Itulah Jihad, Jihad melawan kemiskinan, jihad memutus lingkaran kemiskinan yang ada disekitar kita.

Tak Ada Negara Miskin Kirim TKW Kecuali Indonesia


Ditulis oleh Nenglya pada 24 Nov, 2010 | Kategori: Dalam Negeri 43Share Bila menginginkan masalah tenaga kerja wanita (TKW) di Arab Saudi selesai, satu-satunya solusi adalah dengan tidak mengirim TKI. Saat ini, selain Indonesia, tidak ada negara yang mengirim TKW. Ironis Sekarang ini di Saudi juga di negara-negara Islam di Timur Tengah sudah tidak ada lagi negara yang semiskin apa pun mengirimkan TKW pembantu rumah tangga. Itu sudah tidak ada kecuali Indonesia, kata Sekjen International Conference of Islamic Scholars (ICIS) Hasyim Muzadi. Negara-negara lain memutuskan kebijakan tidak mengirim TKW ke Arab karena untuk menyelamatkan mereka. Karena jika ada hal-hal yang tidak dinginkan terjadi, sulit bagi negara tersebut untuk menyelamatkannya. Jadi, sebenarnya, kalau memang masalah TKW ini mau selesai ya yang dikirim TKI saja. JANGAN TKW RUMAH TANGGA. Hal tersebut di ucapkan lugas dan tegas oleh Hasyim. Negara-negara lain seperti Yaman, Pakistan, Banglades, Somalia, Filipina sudah tidak ada yang mengirimkan TKW untuk pekerjaan rumah tangga. cuma Indonesia saja. Malah kadang-kadang kita dibilang bangsa tidak punya malu sama mereka, ungkap Hasyim sedih. Pengiriman TKW tidak hanya memunculkan tragedi penyiksaan, tapi juga tragedi keluarga seperti suami yang kawin lagi atau hancurnya kehormatan keluarga. Masalah TKW bukan menyanggut devisa tapi masalah kehormatan bangsa. Masalahnya mampu nggak Kementerian Tenaga Kerja menyetop pengiriman TKW? kritik Hasyim.

Kasus TKW di malaysia, Hak libur TKW terancam diabaikan


Posted on 14 Oktober 2009 by pusatgrosir

KUALA LUMPUR, Republika Sayap perempuan partai politik yang tengah berkuasa di Malaysia, Puteri UMNO,mengingatkan pemerintah untuk tidak meladeni semua keinginan Indonesia soal tenaga kerja wanita khususnya di sektor domestik (pekerja rumah tangga). Dua hal yang disoroti organisasi itu adalah tentang permintaan hari libur dan hak memegang paspor masing-masing selama mereka bekerja. Tak semua permintaan ektrem Indonesia itu harus kita penuhi, ujar pimpinan Puteri UMNO, Datuk Rosnah Abdul Rashid Shirlin, Rabu, seperti dilaporkan The Star. Menurutnya, dalam kontrak dengan para TKW yang bekerja sebagai pekerja rumah tangga, sudah tercantum klausul hari libur yang diatur berdasar kesepakatan dengan majikan masingmasing. Masing-masing majikan juga sudah paham, bahwa para PRT itu butuh istirahat yang cukup, hari libur, bersosialisasi dan sebagainya, ujarnya. Soal paspor dipegang pekerja yang bersangkutan, ia menyatakan kurang sependapat. Menurutnya, tujuan pemegangan paspor oleh majikan adalah untuk memastikan para TKW itu tidak kabur sebelum masa kontraknya berakhir. Menurutnya, memberikan hari libur bagi TKW juga menjadi pedang bermata dua. Menurutnya, bila mereka dibiarkan mengambil hari libur sendiri, mereka akan menjadi tak terkendali. Para TKW itu akan memperbandingkan pekerjaannya dengan TKW lain, termasuk gaji, sehingga kemungkinan mereka kabur dari pekerjaannya menjadi makin besar. Di samping itu, dikhawatirkan mereka akan menjalin cinta diam-diam dan berisiko hamil di luar perkawinan. JIka hal ini terjadi, atau mereka minggat, siapa yang akan menanggung risiko itu? Tentu majikannya, bukan? ujarnya. Menurutnya, keputusan pemerintah Indonesia untuk membekukan pengiriman TKW hanyalah taktik mereka agar seluruh tuntutan itu dipenuhi. Misalnya saja, soal tuntutan gaji minimum 600 ringgit perbulan. Padahal biaya rekrutmen mereka 5.000 ringgit sendiri, tambahnya.

Rosnah mengusulkan agar Kementerian Sumber Daya Manusia mengkaji ulang kesepakatan soal TKW ini. Setiap negosiasi haruslah bersifat win-win solution baik bagi pekerja atau majikan, katanya. Sebuah regulasi baru, kata dia, tak bisa lahir hanya karena pesanan negara tetangga. Apalagi, katanya, permintaan itu merupakan wujud dari arogansi dengan permintaan ekstrem. Ia juga mengimbau agar agensi PRT Malaysia lebih kreatif dan mencari alternatif lain, tak tergantung pada pekerja dari Indonesia. (tri) Itulah malaysia yang semakin memalukan, saat ormas perempuan partai penguasa di Malaysia malah tidak menginginkan persamaan hak perempuan atas pembantu di rumah tangganya, ini keanehan terbesar dalam upaya wanita memperjuangkan kesamaan hak antara laki-laki dan perempuan, seolah-olah pembantu wanita Indonesia jauh lebih rendah derajatnya dibanding pembantu wanita asal negara lain di malaysia. Pantaskah pandangan ormas wanita tersebut mencerminkan Malaysia Truly Asia? ternyata persamaan hak asasi tidak berlaku di Malaysia, terbukti perlakuan TKW Indonesia jauh lebih buruk dari TKW asal negara lain. Pemerintah sangat perlu memandang kasus ini sebagai pertimbangan utama izin kerja TKW di Malaysia, bila perlu tarik semua TKW dan TKI di Malaysia dan difasilitasi untuk menjadi tenga kerja di negara lain yang masih menghargai hak asasi manusia Masalah dalam negeri yang harus selalu menjadi PR Depnaker adalah memberikan pelatihan kerja yang memadai bagi setiap TKI dan TKW di luar negeri. termasuk juga memahami dan bisa memperjuangkan hak-hak mereka saat sudah di negara tujuan, jangan sampai mereka menjadi sapi perahan tanpa tahu hak-haknya sebagai tenaga kerja Adapun PR aparat kepolisian adalah menghilangkan praktek penyelundupan TKI ke malaysia, termasuk juga praktek perdagangan perempuan yang marak terjadi di perbatasan Indonesia Malaysia. Kombinasi keduanya akan mengurangi terjadinya perendahan martabat Indonesia di malaysia