Anda di halaman 1dari 12

Laporan Konten Media Kamis, 26 Januari 2012 I. Komisi V 1.

INSA Dukung Pemangkasan Biaya Logistik di KTI Sumber: kominfo http://www.bipnewsroom.info/index.php?page=news&newsid=14214 Pelaku usaha pelayaran nasional optimistis biaya logistik di Kawasan Timur Indonesia (KTI) dapat dipangkas secara signifikan setelah pemerintah berkeinginan memperbaiki infrastruktur logistik di kawasan tersebut. Asosiasi perusahaan pelayaran di Indonesia (INSA) sudah mendengarkan langsung keinginan pemerintah untuk memangkas biaya logistik di KTI. Keinginan itu ditunjukkan dengan menghimpun masukan dari para operator pelayaran pekan lalu, baik dari pelayaran niaga nasional, perintis maupun angkutan laut roro. INSA sendiri sudah menyampaikan usulan terkait dengan langkah-langkah yang dibutuhkan untuk menurunkan biaya logistik di KTI, ujar Ketua INSA Carmelita Hartoto melalui siaran pers yang diterima Info Publik, Kamis (26/1). Menurut Carmelita, usulan itu disampaikan langsung kepada Wakil Presiden Boediono dalam pertemuan dengan INSA, Menko Perekonomian Hatta Rajasa, Menteri Keuangan Agus Martowardojo, Menteri BUMN Dahlan Iskan, Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono, perwakilan BUMN perbankan serta sejumlah pejabat lainnya. Dalam usulan tersebut, INSA menyampaikan kapal-kapal yang mengangkut barang ke pelabuhan di kawasan KTI sering terhambat akibat terjadinya antrean kapal di pelabuhan serta produktivitas bongkar muat yang masih rendah karena waktu kerja tenaga kerja bongkar muat tidak 24 jam. Menurut catatan INSA, tingkat produktivitas bongkar muat untuk muatan general kargo pada mayoritas pelabuhan di KTI berkisar antara 200 400 ton per hari. Sedangkan kontainer rata-rata 5 TEUs per jam. Sementara efektif waktu kerja bongkar muat hanya 12 jam per hari, sedangkan waktu tunggu kapal mencapai 15 hari. Untuk mengatasi kondisi tersebut, INSA mengusulkan agar infrastruktur pelabuhan di KTI segera dibenahi, baik panjang dermaga, kedalaman kolam maupun fasilitas di pelabuhan lainnya. Selain itu, modernisasi peralatan bongkar muat perlu dilakukan supaya produktivitas pelabuhan meningkat. INSA juga mengusulkan agar pemerintah melakukan perbaikan akses jalan dari dan ke pelabuhan, pengadaan fasilitas penunjang di pelabuhan seperti pergudangan dan lapangan penumpukan serta melakukan pengadaan peralatan bongkar muat terbaru sesuai dengan standar yang berlaku. Selain itu, INSA melihat kawasan KTI membutuhkan hub port supaya kegiatan distribusi logistik lebih efisien. Upaya ini telah dilakukan dengan ditandatanganinya komitmen investasi antara PT Pelindo II, IV dengan sejumlah operator pelayaran untuk membangun

hub port di Sorong. Untuk itu, kami mengusulkan agar pemerintah segera mempercepat pelaksanaan MoU tersebut sesuai jadwal yang sudah disepakati, kata Carmelita. Jika seluruh usulan tersebut dapat dilaksanakan, kami yakin biaya logistik di kawasan KTI dapat berkurang secara signifikan. Terlebih saat ini pemerintah semakin menyadari bahwa betapa pentingnya menurunkan biaya logistik di KTI bahkan di Indonesia karena daya saing logistik nasional kini berada jauh dibawah negara-negara anggota ASEAN, tambahnya. 2. Jasa Marga dan CMNP Berebut Tol Suramadu. Sumber: harian Seputar Indonesia , Kamis 26 Januari 2012. PT Jasa Marga (Persero) Tbk dan PT Citra Marga Nusaphala Persada (CMNP) Tbk siap memperebutkan konsesi pengoperasiaan jalan tol Jembatan Surabaya-Madura (Suramadu). Bersama PT Marga Mandala Sakti (MMS) dan PT Jakarta Lingkar Baratsatu (JLB), mereka ikut tender tol sepanjang 5,4 kilometer itu. "Empat badan usaha jalan tol (BUJT) itu bersaing untuk memenangkan hak pengoperasiaan tol Suramadu selama enam tahun ke depan. Pemerintah akan memutuskan satu investor yang menjadi pemenang," ujar Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Achmad Gani Ghazaly di Jakarta, Rabu (25/1). Ia mengatakan, para peserta lelang akan dites, untuk mengetahui investor yang paling siap mepgoperasikan Suramadu. Tender pengelolaan jembatan dan tol Suramadu ini dilakukan secara terpisah dari pemeliharaan kabel gantung jembatan. "Pemisahan tender pengelolaan itu dikarenakan pemeliharaan kabel jembatan gantung membutuhkan keahlian khusus," ucapnya. Gani menjelaskan, tender pengelolaan dan pemeliharaan jembatan serta sarana dan prasarananya dilakukan oleh BPJT. Sedangkan tender pemeliharaan kabel gantung akan dilakukan oleh Balai Pengelolaan Wilayah Surabaya-Madura (BPWS). Tender pengelolaan itu mencakup perbaikan jalan yang berlubang serta pemeliharaan sarana dan prasarana jalan tol Suramadu," kata Gani. Direktur Utama PT Jasa Marga Frans Setiyaki Sunito memastikan, perseroan ikut bila lelang hanya untuk pengoperasian dan pemeliharaan ringan jalan tol Suramadu, bukan pemeliharaan seluruhnya yang mencakup pula kabel gantung jembatan dan yang lainnya, Bila tender hanya untuk pengelolaan dan pemeliharaan seperti yang diterapkan di ruas tol lainnya, Jasa Marga tetap ikut," tutur dia. Jasa Marga kini mengoperasikan 678 kilometer jalan tol di Indonesia, sedangkan PT CMNP mengoperasikan jalan tol dalam kota Jakarta dan ruas Waru-Juanda di Surabaya. Sementara itu, PT MMS mengoperasikan tol Tangerang-Merak sepanjang 73 kilometer dan PT JLB mengoperasikan tol Jakarta Lingkar Luar Jakarta Outer Ring Road/JORR) W1 sepanjang 9,7 kilometer. CMNP Tetap Optimistis Di tempat terpisah, Direktur Operasi sekaligus Sekretaris Perusahaan PT CMNP Hudaya Aryanto membenarkan bahwa perusahaan ikut lelang pengoperasian tol Jembatan 2

Suramadu. Saat ini, perseroan masih menghitung nilai kontrak yang akan ditawarkan kepada pemerintah. "Tim kami sedang menghitung nilai kontrak yang akan,ditawarkan," ujarnya. CMNP, lanjut Hudaya, masih optimistis memenangkan tender. meski Jasa Marga juga ikut Jasa Marga saat ini masih mengoperasikan jalan tol Jembatan Suramadu. "Kami mempunyai pengalaman dan anak perusahaan di Surabaya juga ada. Tinggal komersialnya saja dihitung, kira-kira bisa 'masuk' apa tidak," ucapnya. Saat ini, lalu lintas harian jalan tol jembatan Suramadu tersebut mencapai 10 ribu per hari untuk kendaraan roda empat dan 15 ribu untuk kendaraan roda dua. Gani menjelaskan, PT Jasa Marga mengoperasikan tol Jembatan Suramadu sejak 2009 dan masa kontraknya sebenamya sudah habis Desember 2011. Saat ini, pemerintah sedang menyiapkan pembangunan infrastruktur dan pengembangan kawasan Surabaya-Madura selama 15 tahun ke depan. Kawasan seluas 1.800 hektare tersebut dibagi dalam tiga wilayah pembangunan, yakni 600 hektare di sisi Madura, 600 hektare di Surabaya, dan sisanya di kawasan khusus Pulau Madura berupa pelabuhan peti kemas. "Pengembangan kawasan ini di bawah pengawasan BPWS. Pengembangan dilakukan oleh kedua otoritas wilayah Surabaya dan Madura, serta investor swasta untuk sektor komersialnya," tuturnya. Sumber pembiayaannya sebagian berasal dari anggaran Badan Pelaksana (BP) BPWS sebesar Rp 292,5 miliar. Sedangkan sisanya berasal dari APBN, lewat anggaran Kementerian PU untuk peningkatan jalan dan Kementerian Perhubungan untuk pengembangan pelabuhan senilai Rp 273,5 millar. 3. Penumpang KRL Naik 11%. Sumber: harian Seputar Indonesia , Kamis 26 Januari 2012. Penerapan pola loop line perjalanan kereta rel listrik (KRL) Jabodetabek terbukti efektif meningkatkan jumlah penumpang. Meski demikian, ketepatan jadwal perjalanan masih menjadi kendala. Sekretaris Perusahaan PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) Makmur Syaheran mengatakan, penambahan jumlah penumpang tersebut sebagai imbas dari peningkatan jadwal perjalanan. Sebelum loop line diterapkan, PT KCJ hanya mengoperasikan 467 jadwal perjalanan KRL,sejak loop line pengoperasian KRL menjadi 561 jadwal perjalanan. Sejak pola loop line diterapkan, ada kenaikan penumpang hingga 11%, kata Makmur Syaheran kepada SINDO kemarin. Dia mengungkapkan, pada November 2011 jumlah penumpang KRL dalam sebulan mencapai 5,9 juta orang. Sementara pada Desember 2011 sejak pola loop line diberlakukan, jumlah penumpang mencapai 6,7 juta orang. Untuk perhitungan dengan tingkat akurasi yang tinggi dibutuhkan waktu tiga bulan,tapi gambarannya tak jauh berbeda, tandasnya. Makmur menambahkan, dengan pola yang baru,banyak penumpang KRL ekonomi berpindah ke KRL commuter line. Penyebabnya, jadwal KRL commuter line lebih banyak.Pihaknya tidak memungkiri animo masyarakat terhadap kereta meningkat drastis, bahkan dalam setiap rangkaian selalu berdesak-desakan. Mengenai usulan penambahan jadwal perjalanan,menurut Makmur 3

belum bisa diterapkan dalam waktu dekat ini. Sebenarnya kita mau penumpang kereta itu tidak berdesakan,namun kita tidak bisa menambah perjalanan sekarang sebelum infrastruktur pendukung benar-benar siap, tandasnya. Makmur Syaheran mengatakan, dalam waktu dekat 32 kereta mulai dioperasikan untuk mengganti armada yang sudah tidak layak. Uji coba 32 unit kereta tersebut sudah dilakukan, dan tinggal menunggu sertifikasi dari Dirjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan. Dirinya berharap proses sertifikasi bisa dilakukan secepatnya. Pasalnya dari uji coba, empat rangkaian tersebut sudah layak jalan. Nantinya ke empat rangkaian jika sudah disertifikasi akan digunakan untuk mengganti armada yang sudah tidak layak. Untuk menambah jadwal rasanya belum mungkin, kecuali infrastrukturnya sudah terpenuhi, ucapnya. Makmur mengaku saat ini pihaknya tengah memaksimalkan 531 perjalanan. Meskipun belum maksimal, dirinya mengatakan untuk kereta Bogor telah ditambah, yang tadinya ada 82 perjalanan, saat ini sudah menjadi 90 perjalanan per harinya. Selain dibutuhkan pembangunan infrastruktur seperti underpass dan flyover, PT KCJ juga tengah menyiapkan tempat parkir kereta. Untuk kemajuan kereta api, dukungan dari berbagai pihak sangat di butuhkan. Direktur Eksekutif Institut Studi Transportasi (Instran) Darmaningtyas mengungkapkan, peningkatan jumlah penumpang tersebut sangat positif. Hanya, tingginya animo masyarakat tersebut harus diimbangi dengan penyediaan infrastruktur. Pemerintah harus bisa melihat hal ini dan mengambil kebijakan untuk pembenahan infrastruktur guna mendukung perkembangan transportasi kereta, terangnya. Dia mengungkapkan, untuk saat ini penambahan jadwal perjalanan KRL belum memungkinkan, sebab masih banyak perlintasan kereta yang bisa mengganggu lalu lintas. Karena itulah, pembangunan flyover dan underpass mutlak dilakukan agar perjalanan kereta semakin banyak dan kemacetan di jalan raya bisa dihindari. Target untuk bisa mengangkut 1 juta penumpang per hari tidak akan bisa terlaksana sebelum infrastrukturnya mendukung, ucapnya. Eka Subagja, 29, pengguna KRL commuter line, mengaku sempat kebingungan dengan pola loop line. Namun setelah berlangsung dua minggu, Eka mulai merasakan kelebihan pola melingkar itu. Jadwalnya semakin banyak, ujarnya. Namun, dirinya mengeluhkan jadwal perjalanan KRL yang belum tepat waktu. Bahkan, di stasiun transit seperti Jatinegara ataupun Manggarai bisa menunggu kereta lebih lama.Eka berharap agar ketentuan jadwal perjalanan bisa dipastikan. Kepastian rute sudah baik, namun kepastian jadwal masih sering berbeda.Untuk itu,saya selalu berangkat lebih awal sebagai antisipasi, urainya. Anggota Komisi V DPR Yudi Widiana Adia menyoroti rendahnya pelayanan KRL Jabodetabek. Menurut dia, untuk KRL ekonomi masih banyak penumpang naik ke atap kereta. Ini tidak terjadi jika jumlah armada cukup memadahi, kataYudi kemarin. Selain itu, pihaknya juga menyoroti manajemen dan pelayanan KRL commuter line. Dia menuturkan, pelaksanaan di lapangan masih tak sesuai harapan. Ini memprihatinkan mengingat ketepatan jadwal dan kesigapan teknis armada kereta api sangat penting.

Terlebih, moda transportasi tersebut merupakan salah satu tulang punggung pergerakan warga Ibu Kota dari satu tempat ke tempat lain, ujar politikus PKS ini. 4. Pembiayaan Infrastruktur-Pembentukan Bank Infrastruktur Dimatangkan. Sumber: harian Seputar Indonesia , Kamis 26 Januari 2012. Pemerintah tengah mengkaji dua opsi pembentukan bank infrastruktur sebagai upaya untuk memperlancar pembangunan infrastruktur di Tanah Air. Kedua opsi tersebut merumuskan lembaga pembiayaan infrastruktur baru atau memanfaatkan lembaga perbankan yang sudah ada seperti Bank Mandiri maupun bank syariah. Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan,opsi menggunakan lembaga yang sudah ada ini bisa mempercepat realisasi pembangunan infrastruktur. Memang,lebih baik memperkuat apa yang sudah ada. Selama ini kita menggunakan Bank Mandiri untuk pembiayaan infrastruktur. Ini bisa kita manfaatkan lagi untuk menitipkan anggaran infrastruktur, ujar Hatta di Kantor Kepresidenan, Jakarta,kemarin. Pembahasan mengenai lembaga pembiayaan untuk infrastruktur tersebut dibahas di Kantor Presiden dalam rapat terbatas bidang perekonomian. Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution dalam keterangan persnya menjelaskan, untuk membuat lembaga pembiayaan baru memerlukan waktu dan transisi yang baik. Menurut dia,pendirian sebuah lembaga pembiayaan infrastruktur baru memerlukan dasar hukum yang jelas dan kuat sehingga membutuhkan persiapan yang lebih lama. Dia menjelaskan, kedua opsi tentang lembaga pendanaan infrastruktur masih akan dimatangkan oleh pemerintah. Pemerintah sampai saat ini belum akan membuat keputusan. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam arahannya mengatakan, Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) merupakan prioritas untuk pembangunan infrastruktur di seluruh Indonesia. Untuk itu, kebijakan dan rencana pemerintah harus didukung dengan sisi perbankan secara khusus. Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengatakan, pemerintah akan memperkuat institusi yang ada untuk menggenjot pembangunan infrastruktur. Kalangan perbankan yang selama ini memiliki kekuatan di pembiayaan infrastruktur akan diminta untuk lebih menguatkan kapasitas bagi ketersediaan infrastruktur di dalam negeri. Institusi-institusi penunjang seperti Indonesia Infrastructure Fund (IIF),PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI),dan PT Pusat Investasi Pemerintah (PIP) akan diperkuat permodalan dan kapasitasnya supaya bisa jugamempercepatpembangunan infrastruktur, ungkap Menkeu di Jakarta,kemarin. Analisis: Dengan kebutuhan dana Rp1.700 triliun untuk infratruktur, idealnya dibutuhkan dana Rp170 triliun untuk membangun lembaga tersebut. Pembahasan mengenai pembangunan lembaga pembiayaan infrastruktur tersebut dibahas dalam sidang kabinet terbatas bidang perekonomian di Kantor Kepresidenan, Istana Negara Jakarta, Rabu (25/1). Menurut Hatta Rajasa, Modalnya kecil. Kalau giring rasionya 10 kali, jadi modal yang dibutuhkan Rp170 triliun. Giring rasio yang ideal bisa sampai 10-12 kali,". Dalam Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), 5

pembiayaan untuk infrastrultur mencapai Rp 1.700 triliun dari total biaya MP3EI sebesar Rp4 ribu triliun. dimana sebagian modalnya memang APBN. Jika mendesakpemerintah akan memperkuat lembaga pembiayaan yang sudah ada selama ini, yakni sarana multi infrastruktur (SMI) dan IIF (Indonesia Infrastructure Fund). IIF adalah perusahaan pembiayaan yang memfokuskan diri untuk mengembangkan sektor infrastruktur. Bisnis utama dari anak usaha PT Sarana Multi Infrastructure (SMI) tersebut adalah untuk menarik minat calon investor, baik dalam atau luar negeri, dan membuat proyek infrastruktur menjadi layak disalurkan pinjaman bank (bankable). 5. Industri Aviasi Butuh Perbaikan. Sumber: harian Seputar Indonesia , Kamis 26 Januari 2012. Industri penerbangan di Tanah Air saat ini dinilai masih belum memenuhi standar dunia, baik dari sisi maskapai penerbangan maupun dari infrastruktur kebandarudaraan. Menurut Presiden Komisaris CSE Aviation Chappy Hakim, hal itu cukup memprihatinkan. Mengingat kebutuhan akan transportasi udara di Indonesia yang semakin tinggi, ditambah persaingan dengan maskapai asing, dia menilai maskapai nasional saat ini dalam posisi yang lemah. Maka dapat dipastikan bahwa saat Asian Open Sky diberlakukan pada 2015, akan banyak maskapai asing bermain di wilayah domestik. Dikhawatirkan, kejadian ini sama seperti di industri perhotelan. Banyak hotel asing berdiri di sini, tetapi hotel kita tidak ada yang berkibar di negara lain, ujar Chappy dalam seminar bertajuk Mengantar Industri Penerbangan Indonesia Menuju Kelas Dunia di Jakarta kemarin. Dari sisi infrastruktur pendukung, lanjut dia, perangkat kebandarudaraan Indonesia pun masih terbatas,antara lain dengan masalah kapasitas bandara yang sudah kelebihan muatan,tenaga ATC (air traffic controller) yang kurang,hingga minimnya tenaga pilot. Selain hal tersebut,lanjut Chappy,dari sisi teknologi pun banyak peralatan yang memerlukan up date untuk menyesuaikan pertumbuhan. Kondisi sekarang,kita memerlukan penyempurnaan, perbaikan, pemeliharaan dan pengawasan, tegasnya. Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Herry Bakti S Gumay mengakui, saat ini masih banyak kekurangan dalam infrastruktur kebandarudaraan di Indonesia. Namun, imbuh dia, pemerintah terus memacu peningkatan infrastruktur tersebut. Hambatan memang ada, namun kita harus tetap jalan, pemerintah akan memacu infrastruktur khususnya bandara udara di wilayah Indonesia bagian timur, kata Herry. Dia mengatakan, pada tahun ini pemerintah telah memberikan dana sisa lebih penggunaan anggaran (Silpa) APBN 2012 sebesar Rp3 triliun yang khusus diprioritaskan untuk pembangunan infrastruktur bandar udara di Indonesia bagian timur. Di sisi lain,imbuh dia,untuk mengatasi permasalahan dalam industri pener-bangan nasional agar bisa bersaing dengan penerbangan kelas dunia, undang-undang penerbangan juga harus direvisi dalam kurun waktu sepuluh tahun ke depan. Soal kurangnya infrastruktur pendukung,Ketua Asosiasi Air Traffic Control System I Gusti Susila mengakui bahwa saat ini pihaknya memang masih mengalami kekurangan sumber daya manusia (SDM) untuk pengatur lalu-lintas udara hingga 1.000 orang. Dia menjelaskan, sekolah pendidikan yang mencetak SDM berkualitas bagi pengerja ATC masih terbatas. Hal ini harus ada percepatan yang mendorong berupa lembaga yang bertanggung jawab, ujarnya. Untuk itu, Susilo meminta pemerintah untuk mempercepat 6

peresmian Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (PPNPI) dalam satu penyedia,dari saat ini yang masih terbagi dalam lima penyedia. PPNPI itu sebagai penanggung jawab dengan adanya kekurangan SDM ini, tuturnya. Selain itu,lanjutnya,dalam pengaturan lalu-lintas udara, pihaknya juga masih mengalami kekurangan teknologi baik dalam sarana maupun prasarana kebandarudaraan. Kita butuh alat komunikasi, alat surveillance dengan teknologi yang setara untuk bandara internasional lain di tingkat regional, jelasnya. Penyamaan teknologi ATC tersebut, ujar Susilo, sebagai kesinambungan antara bandara nasional dengan bandara lain di tingkat regional.Bandara di tingkat regional yang telah memiliki teknologi ATC tingkat tinggi adalah Singapura, Malaysia,dan Thailand. 6. Cuaca Buruk Hingga Akhir Februari. Sumber: harian Seputar Indonesia , Kamis 26 Januari 2012. Hujan deras disertai angin kencang yang melanda sejumlah wilayah mengakibatkan ratusan rumah rusak,puluhan pohon bertumbangan, dan merenggut korban jiwa kemarin. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewas padaan karena cuaca buruk diperkirakan terjadi hingga akhir Februari. Kepala Subbidang Informasi Meteorologi BMKG Hary Tirto Djatmiko mengungkapkan, angin kencang dipicu munculnya bibit-bibit siklon tropis di Samudra Hindia yang ditandai dengan hangatnya suhu muka laut dan penurunan tekanan udara. Keberadaan siklon tropis tersebut bisa berdampak langsung bagi cuaca di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan sekitarnya. Ekor badai dikhawatirkan memberi dampak hujan ekstrem di beberapa wilayah di Indonesia. Periode angin kencang ini akan berlangsung hingga akhir Februari, karena itu diharapkan seluruh masyarakat agar mewaspadainya, kata dia di Kantor BMKG Jakarta kemarin.Menurut Hary, bibit siklon ini terus dipantau apakah akan menjadi siklon atau justru menghilang. Hujan deras disertai angin kencang menyapu dua desa di Kecamatan Juntinyuat, Indramayu, Jawa Barat, mengakibatkan sedikitnya 97 rumah warga rusak berat dan belasan pohon bertumbangan. Di Sukabumi, puting beliung melanda tiga kecamatan memorak-porandakan 39 rumah warga. Badan Nasional Penanggulangan Bencana( BNPB) mencatat, 459 rumah rusak berat dan 35 orang mengalami lukaluka di Kepulauan Seribu. Di Situbondo, Jawa Timur, angin kencang melanda enam kecamatan. Empat orang tewas akibat kejadian ini di Jawa Tengah. Seluruhnya akibat tertimpa pohon roboh. Peristiwa tersebut terjadi di Bantul, Wonogiri, Kendal,dan Magelang. Pada kejadian di Kendal, korban tewas adalah Agustinus, 35, warga Dusun Congkrang, Desa Balekerso RT 04/I, Kecamatan Bejen. Nyawanya tidak tertolong setelah tertimpa pohon rambutan yang tumbang di jalan raya Desa Kebumen, Kecamatan Sukorejo. Korban saat itu tengah berkendara dari arah Weleri menuju Temanggung. Korban mengalami luka parah di kepala, ujar Kasubbag Humas Polres Kendal AKP Suratno saat dimintai konfirmasi tadi malam. Peristiwa serupa juga terjadi di Blitar, Jawa Timur. Dua orang tewas akibat tertimpa pohon roboh. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menuturkan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah masih

melakukan pendataan dan memberikan bantuan kepada masyarakat. Berkaitan dengan perkiraan yang dirilis BMKG, dia juga mengimbau masyarakat untuk lebih waspada. II. Ekonomi Nasional 1. Kadin Dukung Penaikan Harga BBM. Sumber: harian Media Indonesia , Kamis 26 Januari 2012. Sikap bimbang pemerintah justru berpotensi menyebabkan gagalnya upaya menekan subsidi. Beban subsidi bahan bakar minyak (BBM) tidak boleh dibiarkan menggerogoti kemampuan anggaran pemerintah dalam meningkatkan perekonomian. Penyesuaian harga BBM bersubsidi tidak bisa dihindari. Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mengemukakan itu kemarin. Namun, besarnya penaikan perlu dibedakan antara kelompok yang berhak menerima subsidi dan kelompok yang tidak berhak. Untuk sepeda motor, kendaraan roda tiga, kendaraan umum jenis taksi dan angkutan umum roda empat, termasuk UMKM kami usulkan naik sebesar Rp1.000/liter menjadi Rp5.500/liter. Untuk kendaraan roda empat (mobil dinas, mobil pribadi dan taksi eksekutif) naik Rp3.000/liter menjadi Rp7.500 per liter, ujar Ketua Umum Kadin Suryo Bambang Sulisto dalam keterangan pers di Jakarta, kemarin. Suryo menegaskan, usulan itu disampaikan dengan catatan penghematan subsidi yang terjadi harus dimanfaatkan untuk membangun infrastruktur, memberdayakan UMKM, dan mengentaskan rakyat dari kemiskinan. Lebih jauh ia menjelaskan usulan Kadin mempertimbangkan harga minyak yang cenderung terus meningkat dan mengakibatkan subsidi semakin besar. Hal itu membuat beban anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) kian berat. Kadin khawatir subsidi BBM yang makin besar se iring kenaik an harga minyak membuat pemerintah sulit untuk menjalankan fungsi dan perannya dalam upaya meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan rakyat. Dalam APBN 2012, subsidi BBM dialokasikan sebesar Rp123,5 triliun. Jumlah tersebut mengambil porsi sekitar 13% belanja APBN. Pemerintah berencana menerapkan kebijakan pembatasan konsumsi BBM per 1 April 2012 demi menekan nilai subsidi BBM. Kebijakan yang dimulai dari wilayah Jawa dan Bali itu akan melarang kendaraan pribadi roda empat mengonsumsi premium. Timbulkan kekacauan Semula pemerintah berkukuh tidak menempuh opsi penaikan harga BBM bersubsidi. Namun, belakangan pemerintah kembali membuka opsi tersebut sehingga rencana pemerintah dalam menghemat subsidi semakin tidak jelas. Pemerintah pun hingga kini belum mengeluarkan payung hukum kebijakan pembatasan konsumsi BBM. Padahal, hanya tersisa dua bulan untuk melakukan sosialisasi dan persiapan yang diperlukan.

Ketua Komite Penghapusan Bensin Bertimbel Ahmad Safrudin mengatakan sikap bimbang pemerintah justru berpotensi menyebabkan gagalnya upaya menekan subsidi. Belum mampunya pemerintah menentukan opsi teknis tidak saja bisa menyebabkan kegagalan dalam menekan penggunaan BBM bersubsidi, bahkan bisa menimbulkan kekacauan di masyarakat, ujarnya dalam diskusi bertema Kekacauan opsi teknis pembatasan BBM bersubsidi, di Jakarta, kemarin. Pemerintah dan Komisi VII DPR RI dijadwalkan kembali membahas rencana penghematan subsidi BBM hari ini. Sebelumnya, anggota Komisi VII Satya W Yudha menyatakan pihaknya mengusulkan penyediaan BBM jenis premium nonsubsidi seharga Rp6.400 per liter. Harga itu merupakan harga keekonomian premium setelah dikurangi pajak bahan bakar. 2. Pertamina di Persimpangan Jalan. Sumber: harian Investor Daily , Kamis 26 Januari 2012. Kebijakan pembatasan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) yang rencananya diterapkan pada April 2012 menempatkan Pertamina di persimpangan jalan. Di satu sisi, Pertamina wajib mendukung setiap kebijakan pemerintah sebagai bagian dari tugas public service obligation (PSO) dalam penyediaan BBM untuk masyarakat. Di sisi lain, jika pembatasan itu diberlakukan, Pertamina bisa bangkrut. Banyak faktor yang merugikan Pertamina jika pembatasan konsumsi BBM bersubsidi diberlakukan dengan mewajibkan kendaraan pribadi menggunakan pertamax atau bahan bakar gas. Pertama, ketersediaan stasiun penyediaan bahan bakar gas (SPBG) masih terbatas, sehingga dipastikan kendaraan pribadi lari ke pertamax. Artinya, Pertamina harus bertarung dengan SPBU asing yang selama ini menjual pertamax, seperti Shell, Total, dan Petronas. Kedua, harga pertamax yang dijual SBPU asing berpotensi lebih murah karena mereka langsung impor pertamax. Sedangkan Pertamina, harus menambah HOMC (high octane mogas component) pada premium yang diproduksinya untuk menjadi pertamax. Celakanya, HOMC yang selama ini diimpor dari Shell Singapura memungkinkan perusahaan Belanda itu menjual pertamax lebih murah karena menjadi pengendali harga HOMC. Ketiga, mau dikemanakan produksi premium dari kilang Pertamina? Kalau kilang-kilang tersebut akan di-upgrade ke pertamax, tentunya membutuhkan biaya besar dan tidak bisa dilakukan dalam waktu dekat. Pertamina menyanggupi untuk memproduksi pertamax secara penuh pada 2017. Saat ini, kilang Pertamina hanya mampu memproduksi pertamax sekitar 1 juta kiloliter. Kebijakan pembatasan konsumsi BBM bersubsidi pada April yang rencananya berlaku di kawasan Jawa-Bali, diperkirakan menaikkan konsumsi pertamax menjadi 3 juta kiloliter per tahun. Potret di atas menunjukkan bagaimana amburadulnya pengambilan keputusan sebuah kebijakan besar yang menyangkut khalayak. Sungguh mengkhawatirkan jika opsi pembatasan konsumsi BBM bersubsidi akhirnya menjadi pilihan, tetapi pelaksana di lapangan, yakni Pertamina harus babak-belur menanggung beban dari kebijakan yang tidak jelas. Kita semua tahu, subsidi BBM selalu membebani APBN. Tahun lalu, besaran subsidi BBM mencapai Rp 165,2 triliun, dan tahun ini dianggarkan Rp 123,6 triliun. Kita juga gemas 9

melihat borosnya pemakaian premium. Apalagi, sebagian besar konsumen BBM bersubsidi adalah masyarakat yang tidak layak mendapatkan subsidi. Tapi, mengapa kebijakan soal BBM tidak disiapkan dengan baik? Publik khawatir, program penghematan energi hanya selesai di meja kajian. Entah sudah berapa banyak dana yang dihabiskan untuk urusan kajian dan sosialisasi. Padahal, hasilnya tidak dipakai, seperti hasil kajian dari Tim Pengendali BBM yang diketuai Anggito Abimanyu dibantu tim ahli dari berbagai universitas ternama, seperti ITB, UI, dan UGM. Waktu itu diusulkan tiga opsi, yakni menaikkan harga premium, menjaga harga pertamax di level tertentu, sekitar Rp 8.000, sehingga sebagian pengguna premium tertarik memakai pertamax, dan penjatahan konsumsi premium dengan sistem kendali. Anehnya, wacana pembatasan konsumsi BBM kembali digaungkan, bahkan telah ditetapkan jadwalnya. Lebih aneh lagi, kebijakan itu sepertinya tidak melibatkan pelaku utama PSO yakni Pertamina. Lagi-lagi, terjadi kontroversi dan bisa jadi kebijakan soal BBM mentah lagi. Pemerintah seharusnya melibatkan Pertamina dalam pengambilan keputusan soal BBM. Bukan sebaliknya, mengebiri karena kebijakan yang diambil bakal merugikan Pertamina. Bukankah kita semua menginginkan Pertamina menjadi korporasi multinasional seperti Petronas, dan lainnya? Bukankah kita menginginkan ada korporasi Indonesia bisa masuk Fortune 500, salah satunya adalah Pertamina? Di banyak negara, ada keberpihakan terhadap perusahaan Negara yang akan dijadikan pemain global. Di Indonesia, justru investor asing didewakan dan diberi kemudahan sangat besar. Sebagai contoh, Malaysia mewajibkan asing membangun kilang jika ingin memasarkan BBM, sedangkan di Indonesia tidak ada kewajiban untuk itu. Dampaknya, mereka hanya berdagang memanfaatkan pasar Indonesia yang menggiurkan, tanpa perlu investasi besar. Jika opsi pembatasan konsumsi BBM bersubsidi akhirnya menjadi pilihan, pemerintah seharusnya memberi perlindungan kepada Pertamina yang selama ini diberi tugas PSO. Pertama, SPBU asing diwajibkan membangun kilang minyak jika ingin menjual BBM di Indonesia. Kedua, pemerintah seyogianya membuat kebijakan bahwa SPBU asing boleh menjual BBM sejenis pertamax apabila pertamax yang dipasarkan Pertamina habis. Ketiga, pemerintah juga bisa mengharuskan SPBU asing membeli pertamax dari Pertamina. Kebijakan publik akan mendapat dukungan rakyat jika bisa meminimalisasi berbagai kerugian, baik untuk rakyat, pemerintah, dan Pertamina. Yang jelas, pembatasan konsumsi BBM bersubsidi telah menempatkan Pertamina di persimpangan jalan dan membuat rakyat meradang akibat ketidakjelasan. III. Politik Nasional 1. Publik Kurang Rasakan Kepedulian Parpol. Sumber: harian Seputar Indonesia , Kamis 26 Januari 2012. Peran partai politik (parpol) dalam berbagai masalah publik dinilai masih minimalis.Publik belum merasakan kehadiran parpol. Sebaliknya, hubungan parpol dengan masyarakat hanya sebatas pemilu. Hal ini dikhawatirkan dapat membuat masyarakat menjadi apatis sehingga berpotensi 10

meningkatkan angka golongan putih (golput). Publik tidak merasakan kehadiran parpol.Partai hanya butuh mereka saat pemilu. Setelah itu, ya sudah tidak ada hubungan, kata peneliti politik dariLembagaIlmuPengetahuan Indonesia (LIPI) Muridan Widjojo kepada SINDO kemarin. Muridan mempertanyakan peran parpol dalam berbagai persoalan yang dihadapi publik seperti konflik atau sengketa lahan yang berujung kekerasan. Sebaliknya, rakyat sendiri yang menyelesaikan persoalannya. Begitu pula terhadap kisruh renovasi ruang Badan Anggaran (Banggar) DPR yang menghabiskan uang rakyat Rp20 miliar. Dia menduga hal itu akan terjadi terus-menerus. Maksudnya, parpol tidak akan pernah hadir dalam persoalan publik selama sistem kepartaian di Indonesia belum diubah. Sebab, parpol tidak memiliki keanggotaan yang meluas.Artinya, iuran keanggotaan untuk partai belum maksimal. Bahkan, parpol masih tergantung pada sponsor. Itulah sebabnya, parpol hidup dari sumber-sumber keuangan siluman . Direktur Eksekutif Lingkar Madani untuk Indonesia (Lima) Ray Rangkuti menilai respons dan cara parpol dalam menangani berbagai kisruh di dalam negeri masih minimalis. Tak langsung menusuk ke jantung persoalan dan memberi solusi yang tepat dari berbagai persoalan bangsa. Parpol malah terlihat seperti rakyat kebanyakan yang tidak memiliki kekuasaan, jelasnya. Menurut Ray, parpol hanya berkreasi sebatas menegakkan bendera untuk memperlihatkan bahwa mereka seolaholah hadir, tapi faktanya tidak berbuat apa-apa.Justru rakyat yang mengadvokasi dan menemukan solusi atas persoalan yang mereka hadapi. Lihat saja Mesuji yang tanpa solusi, kasus Bima yang tak diungkap pokok soalnya, tandas dia. IV. Daerah Pemilihan 1. Pelayaran di NTT Dihentikan. Sumber: harian Media Indonesia , Kamis 26 Januari 2012. Pelayaran antarpulau di Nusa Tenggara Timur (NTT) berhenti mulai Selasa (24/1) menyusul ketinggian gelombang laut yang terus meningkat. Penghentian pelayaran sampai batas waktu yang belum ditentukan. Penghentian ini dilakukan terkait peringatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun El Tari Kupang mengenai tinggi gelombang di perairan NTT yang mencapai empat meter. Gelombang tinggi terjadi di hampir seluruh perairan daerah itu antara lain Laut Sawu yang menghubungkan Pulau Timor dengan Flores, Lembata, Alor, Sabu, dan Sumba. Selain itu Selat Rote yang menghubungkan Timor dan Rote, Laut Flores, Selat Sumba, Peraiaran selatan Sumba, selat Sape, dan Laut Timor. "Kami selalu berpatokan pada perkiraan cuaca dari BMKG. Saat ini cuaca buruk sehingga kami memilih berhenti berlayar," kata Manager Operasi PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) Indonesia Ferry (Persero) Cabang Kupang Arnoldus Yansen kepada Media Indonesia. Sesuai pantauan lima dari tujuh armada pelayaran ASDP berlindung di dermaga pelabuhan Bolok, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang yakni Kapal Motor Penyeberangan

11

(KMP) Balibo, Rokatenda, Ile Ape, Ile Mandiri, dan Uma Kalada. Dua kapal lainnya menjalani perawatan di luar daerah yakni KMP Cucut dan Namparnos. Pelabuhan Bolok yang biasanya ramai setiap hari, nyaris tidak ada aktivitas. Hanya sejumlah petugas berjaga-jaga di sekitar pelabuhan dan mengawasi sekitar 10 truk ekspedisi yang tertahan di terminal pelabuhan. Terkait penghentian pelayaran, ASDP menderita kerugian Rp100 juta per hari. Akan tetapi kerugian itu menurut Arnoldus, tidak bisa dihindari karena berkaitan dengan faktor cuaca. Kerugian operasional itu dihitung dari operasional lima kapal tersebut. "Kerugian lainnya ada pada masyarakat karena tidak bisa berlayar seperti terjadi penumpukan truk di pelabuhan," katanya.

12