Anda di halaman 1dari 4

HUKUM PERDATA INTERNASIONAL

Minggu, 18 Oktober 2009

A. Awal Perkembangan Hukum Perdata Internasional Didalam perkembangan sejarah HPI, tampaknya perdagangan (pada taraf permulaan adalah pertukaran barang atau barter) dengan orang asinglah yang melahirkan kaidakaidah HPI. Pada jaman romawi kuno, segala persoalan yang timbul sebagai akibat hubungan antara orang romawi dan pedagang asing diselesaikan oleh hakim pengadilan khusus yang disebut praetor peregrinos. Hukum yang digunakan oleh hakim tersebut pada dasarnya adalah hukum yang berlaku bagi para civies Romawi,yaitu Ius Civile yang telah disesuaikan dengan pergaulan internasional.Ius Civile yang telah diadaptasi untuk hubungan internasional yang kemudian disebut Ius Gentium. Ius Gentium juga memuat kaidah kaidah yang dapat dikategorikan kedalam Ius Privatum dan Ius Publicum. Ius Gentium yang menjadi bagian Ius privatum berkembang menjadi hukum perdata internasional (HPI), sedangkan Ius Gentium yang menjadi bagian Ius Publicum telah berkembang menjadi hukum internasional politik. Pada masa romawi perkembangan asas-asas yang dilandasi prinsip atau asas teretorial, yang dewasa ini dianggab sebagi asas HPI yang penting, misalnya: 1. Asas Lex Rei Sitae (Lex Situs), yang menyatakan bahwa hukum yang harus diberlakukan atas suatu benda adalah huum dari tempat dimana benda tersebut berada atau terletak. 2. Asas Lex Loci Contractus, yang menyatakan bahwa terhadap perjanjian-perjanjian (yang bersifat HPI) berlaku kaidah-kaidah hukum dari tempat pembuatan perjanjian. 3. Asas Lex Domicilli, yang menyatakan bahwa hukum yang mengatur hak serta kewajiban perorangan adalah hukum dari tempat seseorang berkediaman tetap. Di dalam prisip teretorial, hukum yang berlaku bersifat teretorial. Setiap wilayah (teritorial) memiliki hukumnya sendiri, dan hanya ada satu hukum yang brlaku terhadap semua orang atau benda yang berada diwilayah itu, dan perbuatan-perbuatan hukum yang dilakukan di wilayah itu. B. Masa Pertumbuhan Asas Personal (Abad 6-10M) Pada akhir abad 6 M, kekaisaran Romawi ditaklukan bangsa Barbar dari Eropa. Bekas wilayah kekaisaran Romawi diduduki berbagai suku bangsa yang satu dengan lainnya berbeda secara geneologis. Kedudukan ius civile menjadi kurang penting,karena masingmasing suku bangsa tersebut tetap memberlakukan hukum personal, hukum personal, hukum yang berlaku digantungkan kepada pribadi yang bersangkutan. Sehingga didalam wilayah tertentu mungkin akn berlaku beberpa hukum sekaligus. Dalam menyelesaikan sengketa yang menyangkut dua suku bangsa yang berbeda biasanya ditentukan dulu kaidah-kaidah hukum adat masing-masing suku, barulah ditetapkan hukum mana yang akan diberlakukan. Beberapa asas HPI yang tumbuh pada masa tersebut yang dewasa ini dapat dikategorikan sebagai asas HPI misalnya: 1. Asas yang menetapkan bahwa hukum yang berlaku dalam suatu perkara dalam hukum personal dari pihak tergugat. 2. Asas yang menyatakan bahwa kemampuan untuk melakukan perbuatan hukum seseorang ditentukan hukum personal orang tersebut. Kapasitas para pihak dalam suatu perjanjian harus ditentukan oleh hukum personal dari masing-masing pihak.

3. Asas yang menyatakan bahwa masalah pewarisan harus diatur berdasarkan hukum personal si pewaris. 4. Pengesahan suatu perkawinan harus dilakukan berdasarkan hukam personal sang suami. C. Pertumbuhan Asas Teritorial (Abad 11-12 M) Dikawasan Eropa Utara terjadi peralihan struktur maysrakat genealogis kemasyarakat terotoroal tampak dari tumbunya unit-unit masyarakat yang feodalistis, khususnya di wilayah inggris, Francis dan jerman sekarang. Semakin banyak tuan tanah (landlords) yang berkuasa dan memberlakukan hukum mereka sendiri terhadap semua orang dan semua hubungan hukum yang berlangsung diwilayahnya. Dengan percatan lain, tidak ada pengakuan terhadap hak-hak asing. Hak-hak yang dimiliki orang asing dapat bugitu saja dicabut penguasa, sihingga dalam keadaan demikian HPI tidak berkembang sama sekali. Kawasan Eropa bagian selatan transformasi dari asas personal genealogis keatas teritorial belangsung bersamaan dengan pertumbuhan pusat-pusat perdagangan khususnya Italia. Dasar ikatan antar manusia disini bukanlah genealogis atau feodalisme, melainkan tempat tinggal yang sama. Kota-kota yang tumbuh pesat itu antara lain Florence, Pisa, Peruggia, Venetia, Milan, padua,dan genoa.kota-kota tersebut merupakan kota perdagangan yang otonom dengan: 1. Batas-batas teritorial tersendiri; dan 2. Sistem hukum lokal sendiri yang belainan atu dengan sama lainnya dan berbeda pula dengan hukum Romawi dan Lombardi yang berlaku umum di seluruh Itali. Keanekaragaman (diversiti) sitem-sistem hukum lokal (municipallaws) ditambah dengan tingginya intensitas perdagangan antar kota sering kali menimbulkan problem pengakuan terhadap hukum dan hak-hak aing (kota lain) didalam suatu wilayah kota.secara langsung atau tidak, situasi ini mendoro pertubuhan kaidah-kaidah hukum perdata internasional. D. Perkembangan Teori Statuta di Itali (Abad 13-15) Seiring dengan makin berkembanganya perdangan antara (warga) kota-kota di italia tersebut diatas, penerapan asas teritorial tidak dapat dipertahankan lagi dan perlu peninjauan kembali. Sistem feodal memandang hanya peraturan-peraturan hukum yang dikeluarkanpenguasa yang harus diberlakukan atas semua benda atau kontrak yang dilangsungkan diwilayahnya. Selain itu hukum masing-maing kota di Itali itu berlanan. Tentunya tidak dapat dipertahankan apabila hak-hak yang telah diperolaeh atau kontrak-kontrak yang dibuat dikota A akan dikesampingkan di kota B. Situasi ini mendorong para ahli hukum di Universitas-universitas di Italia untuk mencari asas hukum yang dinanganggap lebih adil da wajar (fair and reasonabel).usaha yang dilakukan adalah dengan membuat tafsiran babru dan menyempurnakan kaidah-kaidah yang tertulis dalamukum romawi.mereka inilah yang termasuk dalam golongan posglossatoen. Dalam mencarai dasar hukum yang baru untuk mengatur hubunganhubungan di antara para pihak yang tunduk pada sisten hukum yang berbeda, kelompok ini mengacu kepada corpus iuris dari Justianus. Mereka menemukan suatu kaidah yang dimulai dengan kata: cuntos popules ques clementiae nostrae regit imperium (semua bahasa dibawah kekuasaan kami). Statuta personalia adalah statuta yang mempunyai lingkungan kuasa berlaku secara personal. Hal ini bermakna,bahwa statuta itu mengikuti orang (persoon) dimanapun ia

berada. Statuta realia mempunyai lingkungan kuasa secara teritorial. Hanya bendabenda yag terletak didalam wilayah pembentuk undang-undang tunduk dibawah statutastatutanya. E. Teori Statuta di Perancis Pada abad ke-16 provinsi-provinsi di Perancis memiliki sistem hukun tersendiri yang disebut coutume,yang pada hakikatnya sama dengan statuta. Karena adanya keanekaragaman coutume terebut dan makin meningkatnya perdagangan antar provinsi, maka konflik hukum antar provinsi makin meningkat pula. Dalam keadaan demikian beberapa ahli hukum perancis, seperti charles dumoulin dan bertrand Dargentre berusaha mendalami teori statuta dan menerapkannyan diperancis dengan beberapa modifiksi. Charles Duomulin memperluas pengertian statuta personalia hingga mencankup pilihan hukum (hukum yang di kehendaki oleh para pihak) sebagai hukum yang seharusnya berlaku dalam perjanjian atau kontrak. Jadi, perjanjian atau kontrak yang dalam teori statuta dari Bartolus masuk dalam statuta realia, menurut Charles Dumoulin harus masuk dalam ruang lingkup statuta personalia, karena pada hakekatnya kebebasan untuk memilih hukum adalah semacam statuta perorangan. F. Teori Statuta di Negeri Belanda (Abad 17) Teori Argentre ternyata diakui para sarjana hukum Belanda setelah pembebasan dari penjajahan Spanyol. Pada saat itu segi kedaulata sangat ditekankan. Hukum yang dibuat negara berlaku secara mutlak didalam wilayah negara tersebut. Hukum asing tidak berlaku diwilayah negara tersebut. Prinsip dasar yang digunakan penganut teori statuta di negeri Belanda adalah kedulatan ekslusif negara. Berdasarkan ajaran DArgentre, Ulrik Huber mengajukan tiga prinsip dasar yang dapat digunakan untuk menyelesaikan perkara-perkara HPI sebagai berikut: 1. Hukum dari suatu negara mempunyai daya berlaku yanhg mutlak hanya didalam batas-batas wilayah kedaulatan saja. 2. Semua orang baik yang menetap maupun sementara, yang berada didalam wilayah suatu negara berdaulat harus menjadi subjek hukum dari negara itu da terikat pada hukum negara itu. 3. Bedasarkan alasan sopan santun antar negara (asas komitas =comity), diakui pula bahwa setiap pemerintah negara yang berdaulat mengakui, bahwa hukum yang sudah berlaku di negara asalnya akan tetap memiliki kekuatan berlaku dimana-mana sejauh tidk bertentangan dengan kepentingan subyek hukum dari negara yang memberikan pengakuan itu, hakim yang berpedoman pada asas komitas tidak berarti dapat bertindak sewenang-wenang. Hakim perlu memperhatikan pula hukum asing demi kepentingan negara-negara yang bersangkutan secara timbal balik. Ulrik Huber menegaskan bahwa dalam menafsirkan ketiga hal tersebut diatas haru pula harus diperhatikan prinsip lain, yaitu, semua perbuatan yang diaggap sah berdasarkan sah berdasrkan hukum dari suatu negara tertentu, akan diakui sah pula ditempat lain di tempat lain yang sistem hukunya sebenarnya menganggap perbuatan atau transaksi semacam itu batal. Tetapi, perbuatan atau transaksi yang dilaksanakan disuatu tempat tertentu yang menganggapnya batal demi hukum juga harus dianggap batal dimanapun juga. Menurut Johanes Voet, pada hakikatnya tidak ada negara yang wajib menyatakan suatu

kaidah hukum asing berlaku dalam batas-batas walayah hukumnya. Jika ha ini terjadi, maka hal itu disebabkan semata-mata berdasarkan sopan santun pergaulan antar bangsa atau comunitas gentium. G.Teori-Teori Modern Pada abad ke sembilan belas, pemikiran HPI mengalami kemajuan berkat adanya usaha dari tiga orang pakar hukum,yaitu, Joseph Story, Friedrich Carl von Savigny, dan Stanislao Manchini. Titik tolak pandangan Von Savigny adalah bahwa suatu hubungan hukum yang sama harus memberi penyelesaian yang sama pula; baik diputuskan dinegara A maupun di negara B. Maka, penyelesaian soal-soal yang menyangkut unsurunsur asingpun hendaknya diatur demikian rupa. Satunya pergaulan internasional akan menimbulkan satu sistem hukum supra nasional, yaitu hukum perdata internasional. Oleh karena itu titik tolak berpikir Von Savigny ini adalah HPI itu bersifat hukum supra nasional, oleh karenanya bersifat universal,maka ada yang menyebut Von Savigny ini dengan istilah teori HPI universal. SUMBER:

http://www.w4kg3ng.co.cc/2009/10/hukum-perdata-internasional.html