Anda di halaman 1dari 16

SISTEM POLITIK DI NEGARA ITALIA

SEPAK BOLA DAN FASISME DALAM SISTEM POLITIK ITALIA

Oleh: Muhamad Dadang Nurfalah 4115092360

UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA FAKULTAS ILMU SOSIAL JURUSAN ILMU SOSIAL POLITIK PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN 2011

SISTEM POLITIK DI NEGARA ITALIA


SEPAK BOLA DAN FASISME DALAM SISTEM POLITIK ITALIA
Oleh : Muhamad Dadang Nurfalah1 Abstrak : Fasisme merupakan suatu paham yang mencuat ketika dimulainya masa Perang Dunia II. Setidaknya perang yang muncul saat itu, terjadi sebagai akibat perkembangan ideology fasis di Italia, Jerman dan Jepang, yang ingin meluaskan pengaruh ekstra-nasionalisnya. Sehabis berlangsungnya Perang Dunia II, ideologi fasisme seakan-akan berakhir, tetapi hal yang terjadi tidak nyata demikian. Sebagai sebuah produk pemikiran, benih-benih fasisme akan terus ada selama terdapat kondisi obyektif yang membentuknya. Meskipun fasisme bukan merupakan akibat langsung dari depresi ekonomi, sebagaimana teori marxis, tetapi jelas kaum fasis memanfaatkan hal itu. Banyaknya angka pengangguran akibat depresi, melahirkan kelompok yang secara psikologis menganggap dirinya tidak berguna dan diabaikan. Saat hal ini terjadi, maka fasisme bekerja dengan memulihkan harga diri mereka, dengan menunjukkan bahwa mereka adalah ras unggul sehingga mereka merasa dimiliki. Dengan modal inilah, maka fasisme juga memperoleh dukungan dari rakyat lapisan bawah. Dengan demikian, fasisme bekerja pada setiap lapisan masyarakat. Fasisme memanfaatkan secara psikologis kesamaan-kesamaan pokok yang ada seperti: frustasi, kemarahan dan perasaan tak aman. Tidak aneh, jika dalam sejarahnya rezim fasis senantiasa mendapatkan dukungan masyarakat. Dan sekarang ini, fasisme mulai menyebar kembali di Italia setelah sebelumnya ketika masa Mussoilini fasisme mulai masuk dalam sepak bola di piala dunia 1938, kini para pemain bola di Italia tidak sungkan untuk menunjukan bahwa mereka merupakan penganut fasisme. Kata kunci : Ideologi, Fasisme, Italia, dan Sepak Bola. A. Pendahuluan Italia adalah sebuah negara di Eropa selatan yang terdiri dari sebuah semenanjung yang berbentuk sepatu boot dan dua pulau besar di Laut Tengah: Sisilia dan Sardinia. Italia berbatasan dengan Perancis, Swiss, Austria dan Slovenia. Negara San Marino
1

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Kewarganegaraan, Jurusan Ilmu Sosial Politik, Fakuktas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Jakarta, 2011.

dan Vatikan adalah enklaf di dalam wilayah Italia, sementara Campione d'Italia merupakan eksklaf Italia di Swiss. Negara Italia meliputi wilayah seluas 301.338 km (116.347 mil) yang dipengaruhi oleh iklim sedang. Dengan jumlah penduduk sebesar 60,4 juta, Italia merupakan negara dengan jumlah penduduk terbesar keenam di Eropa, dan terpadat ke-23 di dunia. Sistem pelaksanaan pemilu di Italia berlaku sistem proporsional, satu wilayah (daerah pemilihan) memilih beberapa wakil (multi-member constituency), yang jumlahnya ditentukan atas dasar rasio tertentu, misalnya satu wakil parlemen untuk 500.000 penduduk. Dalam sistem ini, suatu kesatuan administratif-pemerintahan (provinsi, kabupaten/kota) dipakai sebagai daerah pemilihan. Jumlah suara yang diperoleh setiap partai menentukan jumlah kursi di parlemen, artinya rasio perolehan suara antar partai sama dengan rasio perolehan kursi di parlemen. Italia terunifikasi pada tahun 1861 saat negara-negara regional di semenanjung bersama dengan Sardinia dan Sisilia dipersatukan di bawah Raja Victor Emmanuel II. Pada tahun 1922, Benito Mussolini mendirikan pemerintahan diktator fasis yang menunjukkan Italia semakin dekat dengan pemerintahan parlementer. Keputusannya untuk beraliansi dengan Nazi Jerman berujung pada kekalahan Italia pada Perang Dunia II. Sebuah Republik demokratis menggantikan monarki pada tahun 1946 diikuti oleh perbaikan ekonomi. Italia merupakan anggota NATO dan Uni Eropa. Masalah yang dihadapi oleh Italia termasuk imigran gelap, kejahatan teroganisir, korupsi, tingginya angka pengangguran, pertumbuhan ekonomi yang lambat, dan rendahnya pendapatan dan standar kehidupan di selatan Italia dibandingkan dengan di utara Italia yang lebih makmur. Saat ini Presiden Giorgio Napolitano adalah Presiden Italia sejak 15 Mei 2006 dengan Perdana Menteri Romano Prodi sejak 17 Mei 2006 dan pada tahun 2008 Romano Prodi digantikan oleh Silvio Berlusconi. Presiden dipilih oleh kedua kamar parlemen dan 58 perwakilan daerah untuk masa jabatan 7 tahun Perdana Menteri ditunjuk oleh Presiden dan disepakati oleh parlemen. Badan Legislatif di Italia yaitu Parlemen dua kamar yang terdiri dari Senat (315 kursi) dan 3

Chamber of Deputies (630 kursi) yang menjabat selama periode lima tahun. Dan Badan Yudikatif di Italia yaitu Mahkamah Konstitusional atau Corte Constituzionale yang terdiri dari 15 hakim: dipilih oleh presiden, dipilih oleh Mahkamah Agung, dan dipilih oleh parlemen. Partai Politik di Italia antara lain Koalisi Tengah-Kiri Unione: Ulivo, DS, DL, SDI, Italian Radical Party, PdCI, Green Federation, RC, IdV, UDEUR, dan MRE. Selain itu ada pula Koalisi Tengah-Kanan Casa della Liberta: Forza Italia, National Alliance, Union of Christian Democrats of the Centre (UDC), Lega Nord, Christian Democracy. Dan ada pula Partai yang tidak beraliansi: PRI, New PSI, Social Alternative, MSI-Fiamma, MIS, SVP, UV. Italia terkenal pula akan strategi sepak bola bertahan yang dikenal dengan istilah catennacio. Seperti yang terjadi di belahan bumi manapun saat ini, sepak bola telah menjadi olah raga yang nomor satu di dunia ini sehingga terkadang tidak menutup kemungkinan sepak bola ini dimasuki unsur yang tidak seharusnya melekat dalam sepak bola. Politik saat ini telah melekat pada olah raga sepak bola saat ini karena para politikus sepertinya mulai melakukan pendekatan menarik simpati masyarakat lewat olah raga yang tentunya lebih mudah menarik simpati para penggila olah raga sepak bola ini. Ketika Benito Mussolini berkuasa di Italia(1922-1943), sepak bola di Italia sangat berbau aroma politik fasisme yang dicanangkan oleh Mussoilini. Yang paling menarik pada saat Mussoilini berkuasa adalah ketika pada perhelatan Piala Dunia 1938 di Perancis dimana para pemain timnas Italia membawa misi menang atau mati. Jadi, pada saat itu seluruh pemain timnas Italia diancam akan dihukum mati oleh Mussoilini jika Italia tidak juara. Dan akhirnya timnas Italia mengalahkan Hungaria dengan skor akhir 4-2 di final. Di sini membuktikan bahwa olah raga terutama sepak bola bisa menjadi alat untuk memperluas pengaruh(influence) seperti yang terjadi pada saat itu. Jadi, Mussoilini memanfaatkan simpati publik Italia terhadap olah raga sepak bola menjadi alat untuk penyebarluasan fasisme.

B. Perumusan Masalah Sekarang ini, olah raga sepak bola bisa dikatakan olah raga yang menjadi favorit dan nomor satu di dunia. Sehingga banyak keuntungan yang bisa diraih dalam olah raga ini karena begitu besarnya simpati masyarakat di bumi ini terhadap sepak bola. Namun, bagaimanakah pengaruh sepak bola dan fasis dalam perkembangan sistem politik di Italia setelah pada masa Mussolini olah raga sepak bola dijadikan sebagai alat untuk penyebarluasan ideologi dan memperkuat kekuasaan politik dari penguasa? Kalimat terakhir pada paragraph di atas menjadi objek yang ingin saya teliti karena pada saat ini ternyata fasisme mulai berkembang kembali di Italia. Bahkan pemain bola terkenal yang merumput di Italia seperti Mauro Zarate, Buffon, dan Di Canio tidak sungkan lagi untuk menunjukkan kebanggan mereka bahwa mereka penganut fasisme. Selain itu, Perdana Menteri Silvio Berlusconi saat ini merupakan pemilik dari klub yang penuh akan sejarah dalam persepakbolaan Eropa dan dunia, AC MILAN. Jadi, tidak menutup kemungkinan jika sepak bola bisa dijadikan alat penyebarluasan ideologi fasisme dan memperkuat atau mempertahankan kekuasaan di Italia. C. Landasan Teori a. Politik Filusuf Yunani seperti Plato dan Aristoteles mengungkapkan bahwa politics merupakan sebagai suatu usaha untuk mencapai masyarakat politik yang terbaik. Di dalam masyarakat politik itu manusia akan hidup bahagia karena memiliki peluang untuk mengembangkan bakat, bergaul dengan rasa kemanusiaan yang akrab, dan hidup dalam suasana moralitas yang tinggi. Seperti yang diungkapkan oleh Peter Merkl bahwa politik dalam bentuk yang paling baik adalah usaha mencapai suatu tatanan sosial yang baik dan berkeadilan. Jadi, keadilan dan tatanan sosial ini menjadi latar belakang dan tujuan kegiatan politik. Pada umumnya, politik merupakan usaha untuk menentukan peraturanperaturan yang dapat diterima baik oleh sebagian besar warga, untuk membawa

masyarakat ke arah kehidupan bersama yang harmonis. Jadi, ini menyangkut proses penentuan tujuan dari sistem, serta cara-cara melaksanakan tujuan tersebut. b. Ideologi Istilah ideologi pertama kali diungkapkan oleh seorang pemikir yang bernama Antoine Destutt de Tracy. Beliau berpendapat bahwa ideologi merupakan ilmu mengenai gagasan atau ide. Sedangkan Marx berpendapat bahwa ideologi merupakan kesadaran palsu yang dibuat oleh pemikir untuk melindungi kepentingannya. Selain itu, Louis Althusser juga berpendapat bahwa ideologi merupakan pedoman hidup. Jadi, berdasarkan pendapat ahli di atas dapat disimpulkan bahwa teori mengenai ideologi ini menimbulkan dua kutub pengertian ideologi. Berdasarkan pendapat para ahli di atas dapat dikatakan bahwa pengertian dari ideologi dari yang mereka ungkapkan tidak bisa dikatakan salah. Hal ini dikarenakan mereka berpendapat berdasarkan fenomena yang indera mereka tangkap pada saat itu. Jadi, bagaimanapun atau apapun sudut pandang yang diambil dalam ideologi ini tetaplah layak untuk situasi dan kondisi tertentu. Namun, yang pasti dari ideologi ini adalah bisa djadikan sebagai alat untuk mencapai tujuan negara. Tujuan dari suatu negara merupakan suatu kesepakatan bersama yang ingin dicapai oleh suatu bangsa yang bisa diwujudkan berdasarkan dari ideologi (cara bernegara) mereka. c. Fasisme Fasisme adalah gerakan radikal ideologi nasionalis otoriter politik. Fasis berusaha untuk mengatur bangsa menurut perspektif korporatis, nilai, dan sistem, termasuk sistem politik dan ekonomi. Mereka menganjurkan pembentukan partai tunggal negara totaliter yang berusaha mobilisasi massa suatu bangsa dan terciptanya "manusia baru" yang ideal untuk membentuk suatu elit pemerintahan melalui indoktrinasi, pendidikan fisik, dan eugenika kebijakan keluarga termasuk. Fasis percaya bahwa bangsa memerlukan kepemimpinan yang kuat, identitas kolektif tunggal, dan akan kemampuan untuk melakukan kekerasan dan berperang untuk menjaga bangsa yang kuat. Pemerintah Fasis melarang dan menekan oposisi terhadap 6

negara. Fasisme didirikan oleh sindikalis nasional Italia dalam Perang Dunia I yang menggabungkan sayap kiri dan sayap kanan pandangan politik, tapi condong ke kanan di awal 1920-an. Para sarjana umumnya menganggap fasisme berada di paling kanan. Fasis meninggikan kekerasan, perang, dan militerisme sebagai memberikan perubahan positif dalam masyarakat, dalam memberikan renovasi spiritual, pendidikan, menanamkan sebuah keinginan untuk mendominasi dalam karakter orang, dan menciptakan persaudaraan nasional melalui dinas militer . Fasis kekerasan melihat dan perang sebagai tindakan yang menciptakan regenerasi semangat, nasional dan vitalitas. Fasisme adalah anti-komunisme, anti-demokratis, anti-individualis, antiliberal, anti-parlemen, anti-konservatif, anti-borjuis dan anti-proletar, dan dalam banyak kasus anti-kapitalis. Fasisme menolak konsep-konsep egalitarianisme, materialisme, dan rasionalisme yang mendukung tindakan, disiplin, hirarki, semangat, dan dalam ilmu ekonomi, fasis menentang liberalisme (sebagai gerakan borjuis) dan Marxisme (sebagai sebuah gerakan proletar) untuk menjadi eksklusif ekonomi berbasis kelas gerakan Fasis ini. Ideologi mereka seperti yang dilakukan oleh gerakan ekonomi trans-kelas yang mempromosikan menyelesaikan konflik kelas ekonomi untuk mengamankan solidaritas nasional. Mereka mendukung, diatur multi-kelas, sistem ekonomi nasional yang terintegrasi. Secara etimologi, fascismo adalah istilah yang berasal dari kata Latin fasces. Fasces, yang terdiri dari serumpun batang yang diikatkan di kapak, adalah simbol otoritas hakim sipil Romawi kuno. Mereka dibawa oleh para lictor dan dapat digunakan untuk hukuman fisik dan modal berdasarkan perintah-Nya. Kata fascismo juga terkait dengan organisasi politik di Italia dikenal sebagai fasci, kelompok mirip dengan serikat kerja atau sindikat. Simbolisme fasces menyarankan kekuatan melalui kesatuan: sebuah batang tunggal adalah mudah patah, sedangkan rumpunan akan sulit untuk mengalami perpecahan. Simbol serupa dikembangkan oleh gerakan fasis yang berbeda. Misalnya simbol Falange yang berbentuk sekelompok anak panah yang bergabung bersama oleh sebuah kuk. 7

Meskipun fasisme dianggap telah pertama kali muncul di Perancis pada tahun 1880-an, pengaruhnya telah dipertimbangkan kembali sejauh Julius Caesar. Thomas Hobbes, Niccol Machiavelli, dan Hegel juga telah dianggap sebagai berpengaruh, serta ide-ide kontemporer seperti sindikalisme dari Georges Sorel, yang futurisme dari Filippo Tommaso Marinetti, nasionalis dan filsafat otoriter Oswald Spengler dan konservatisme dan Darwinisme sosial Enrico Corradini. d. Negara Negara adalah suatu organisasi dalam suatu wilayah yang memiliki kekuasaan tertinggi yang sah dan ditaati oleh rakyatnya. Negara ini merupakan inti dari politik. Dalam buku Introduction to Politics, Roger F. Soltau mengatakan bahwa ilmu politik mempelajari negara, tujuan negara...dan lembaga-lembaga yang melaksanakan tujuan-tujuan itu, hubungan antara negara dengan warganya serta hubungan antarnegara. Tujuan dari suatu negara dapat dilihat dari hakikat negara tersebut yang artinya bisa dilihat dari sudut pandang terjadinya negara. Terdapat banyak teori mengenai terjadinya suatu negara yang diungkapkan oleh para ahli seperti teori kontrak sosial aliran hukum alam yang dipelopori oleh Thomas Hobbes ataupun teori aliran positivisme yang dipelopori oleh Hans Kelsen. Di dalam teori kontrak sosial tujuan negara adalah menjamin hak manusia, sedangkan di dalam aliran positivisme tujuan negara merupakan apa yang sudah tertulis di dalam States Fundamental Norm negara tersebut. Jadi, bisa dikatakan bahwa tujuan negara ini merupakan suatu kesepakatan bersama yang ingin dicapai oleh suatu bangsa yang bisa diwujudkan berdasarkan dari ideologi (cara bernegara) mereka. e. Kekuasaan Kekuasaan merupakan kemampuan suatu kelompok atau seseorang untuk mempengaruhi perilaku seseorang atau kelompok lain, sesuai dengan keinginan para pelaku. Jadi, jika seseorang melihat kekuasaan ini dari sudut pandang politik maka yang terbaca adalah semua kegiatan yang menyangkut masalah memperebutkan dan

mempertahankan kekuasaan. Dan perjuangan kekuasaan ini biasanya dianggap mempunyai tujuan yang menyangkut kepentingan seluruh masyarakat. f. Metode Penelitian Metode penelitian yang saya gunakan dalam membahas permasalahan di dalam artikel ini adalah dengan menggunakan metode kepustakaan dan studi empiris berdasarkan yang saya dapatkan dan amati serta analisis. Dari kedua metode ini saya dapat membahas sistem politik italia antara sepak bola dan fasisme. D. Pembahasan Petunjuk ke arah pemahaman fasisme terletak pada kekuatan dan tradisi masyarakatnya. Di Jerman, Jepang dan Italia, tradisi otoritarianisme sudah menjadi hal yang terjadi berabad-abad. Sehingga munculnya rezim fasis merupakan hal yang biasa. Dengan cara hidup otoriter maka jalan menuju otorianisme hanya menunggu waktunya saja. Munculnya kediktatoran secara politik, ditandai dengan munculnya pemimpin yang menggebu-gebu meraih kekuasaan dan memiliki hasrat yang kuat untuk mendominasi. Namun demikian antara sang diktator dan fasisme juga dipengaruhi iklim suatu masyarakat. Ada kalanya iklim suatu negara lebih mudah menerima kediktatoran dibandingkan dengan negara lainnya. Jerman, Italia dan jepang mungkin adalah tipekal negara demikian. Adanya gerakan massa yang otoriter dalam fasisme justru ditentukan oleh hasrat banyak orang untuk memasrahkan diri dengan setia. Hal ini tentunya tidak dapat diamati dari sudut pandang rasionalitas. Fasisme ibarat memanfaatkan kondisi psikologis kepatuhan sang anak kepada orang-tuanya. Dengan kepatuhan, maka sang anak akan terlindungi karena memiliki tempat bergantung. Fasisme juga memiliki ciri untuk menyesuaikan diri dengan praktek kuno yang sudah ada. Mementingkan status dan kekuatan pengaruh, kesetiaan kelompok, kedisiplinan dan kepatuhan yang membabi-buta. Hal ini menyatu dalam membentuk karakter fasis. Sehingga sebagai suatu kesatuan, mereka hanya patuh terhadap perintah tanpa harus mempersoalkan apa dan bagaimananya. 9

Tidak seperti komunisme, fasisme tidak memiliki landasan prinsipil yang baku atau mengikat perihal ajarannya. Apalagi dewasa ini dapat dipastikan, bahwa fasisme tidak memiliki organisasi yang menyatukan berbagai prinsip fasis yang bersifat universal. Namun demikian, bukan berarti fasisme tidak memiliki ajaran. Setidaknya para pelopor fasisme meninggalkan jejak ajaran mereka perihal fasisme. Hitler menulis Mein Kampft, sedangkan Mussolini menulis Doktrine of Fascism. Ajaran fasis model Italia-lah yang kemudian menjadi pegangan kaum fasis didunia, karena wawasannya yang bersifat moderat. Menurut Ebenstein, unsur-unsur pokok fasisme terdiri dari tujuh unsur seperti berikut ini : Pertama, ketidak percayaan pada kemampuan nalar. Bagi fasisme, keyakinan yang bersifat fanatik dan dogmatic adalah sesuatu yang sudah pasti benar dan tidak boleh lagi didiskusikan. Terutama pemusnahan nalar digunakan dalam rangka tabu terhadap masalah ras, kerajaan atau pemimpin. Kedua, pengingkaran derajat kemanusiaan. Bagi fasisme manusia tidaklah sama, justru pertidaksamaanlah yang mendorong munculnya idealisme mereka. Bagi fasisme, pria melampaui wanita, militer melampaui sipil, anggota partai melampaui bukan anggota partai, bangsa yang satu melampaui bangsa yang lain dan yang kuat harus melampaui yang lemah. Jadi fasisme menolak konsep persamaan tradisi yahudi-kristen (dan juga Islam) yang berdasarkan aspek kemanusiaan, dan menggantikan dengan ideology yang mengedepankan kekuatan. Ketiga, kode prilaku yang didasarkan pada kekerasan dan kebohongan. Dalam pandangan fasisme, negara adalah satu sehingga tidak dikenal istilah oposan. Jika ada yang bertentangan dengan kehendak negara, maka mereka adalah musuh yang harus dimusnahkan. Dalam pendidikan mental, mereka mengenal adanya indoktrinasi pada kamp-kamp konsentrasi. Setiap orang akan dipaksa dengan jalan apapun untuk mengakui kebenaran doktrin pemerintah. Hitler konon pernah mengatakan, bahwa kebenaran terletak pada perkataan yang berulang-ulang. Jadi, bukan terletak pada nilai obyektif kebenarannya.

10

Keempat, pemerintahan oleh kelompok elit. Dalam prinsip fasis, pemerintahan harus dipimpin oleh segelintir elit yang lebih tahu keinginan seluruh anggota masyarakat. Jika ada pertentangan pendapat, maka yang berlaku adalah keinginan sielit. Kelima, totaliterisme. Untuk mencapai tujuannya, fasisme bersifat total dalam meminggirkan sesuatu yang dianggap kaum pinggiran. Hal inilah yang dialami kaum wanita, dimana mereka hanya ditempatkan pada wilayah 3 K yaitu: kinder (anak-anak), kuche (dapur) dan kirche (gereja). Bagi anggota masyarakat, kaum fasis menerapkan pola pengawasan yang sangat ketat. Sedangkan bagi kaum penentang, maka totaliterisme dimunculkan dengan aksi kekerasan seperti pembunuhan dan penganiayaan. Keenam, Rasialisme dan imperialisme. Menurut doktrin fasis, dalam suatu negara kaum elit lebih unggul dari dukungan massa dan karenanya dapat memaksakan kekerasan kepada rakyatnya. Dalam pergaulan antar negara maka mereka melihat bahwa bangsa elit, yaitu mereka lebih berhak memerintah atas bangsa lainnya. Fasisme juga merambah jalur keabsahan secara rasialis, bahwa ras mereka lebih unggul dari pada lainnya, sehingga yang lain harus tunduk atau dikuasai. Dengan demikian hal ini memunculkan semangat imperialisme. Terakhir atau ketujuh, fasisime memiliki unsur menentang hukum dan ketertiban internasional. Konsensus internasional adalah menciptakan pola hubungan antar negara yang sejajar dan cinta damai. Sedangkan fasis dengan jelas menolak adanya persamaan tersebut. Dengan demikian fasisme mengangkat perang sebagai derajat tertinggi bagi peradaban manusia. Sehingga dengan kata lain bertindak menentang hukum dan ketertiban internasional. Dan dalam sepak bola, politisasi sudah menjadi barang yang tidak aneh karena hal ini telah terjadi sudah cukup lama. Bahkan terkadang masih terjadi di Negara manapun sampai saat ini. Contoh politisasi sepak bola adalah pada Piala Dunia 1934 yang diadakan di Italia. Pada Piala Dunia kedua di tahun 1934 Italia paling ngotot mengajukan diri sebagai penyelenggara. Hal ini terkait dengan ambisi dari pemimpin 11

besar mereka, Bennito Musollini, yang sedang giat-giatnya mengkampanyekan diri sebagai pemimpin Eropa. Sekalipun motif Italia mengajukan diri sebagai tuan rumah sarat aroma politik, FIFA menerima kenyataan itu lantaran Piala Dunia kali itu harus dilaksanakan di Eropa. Bagusnya, Italia dalam kongres FIFA Oktober 1932 berhasil meyakinkan organsisasi tersebut bahwa mereka paling siap menyelenggarakan event besar itu ketimbang negara lain. Yang tak kalah menarik, Mussolini juga menggunakan kekuasaan politiknya untuk memotivasi para pemain Azzurri, yang kemudian terbukti manjur. Ceritanya, ia mengancam para pemain Italia menjelang duelnya di final melawan Cekoslowakia. Ditujukan kepada kapten tim melalui faksimil, Mussolini menulis surat berisi kalimat pendek: juara atau mati. Ancaman sang diktator tentu saja membuat bulu kuduk pemain merinding. Sebab bagi diktator fasis, ancaman seperti itu bukan sekadar gertak sambal. Sangat mungkin semua pemain dibunuh jika keok melawan Ceko. Tak cukup sampai di situ. Il Duce Mussolini juga meminta kepada panitia penyelenggara untuk melakukan segala upaya agar Italia bisa menjadi juara pada Piala Dunia tersebut. Salah satu caranya adalah dengan berusaha memberikan status warganegara Italia kepada beberapa pemain yang mempunyai hubungan dan keluarga di Italia, misalnya Luis Monti dan Raimundo Ors, yang keduanya berasal dari Argentina. Entah cara mana yang lebih ampuh, (atau dua-duanya), Italia diketahui tampil sebagai juara dengan mengalahkan Cekoslowakia 2-1 di partai puncak. Pada penyelenggaraan Piala Dunia 1938 di Prancis, situasi politik semakin panas. Bayang-bayang meletusnya Perang Dunia I masih menjadi kabut yang menyelimuti hampir seluruh penduduk di kawasan Eropa. Kekhawatiran ini bukan isapan jempol sebab setahun setelah Piala Dunia 1938 Perang Dunia II yang dikobarkan Der Fuhrer Adolf Hitler dan Il Duce Benito Mussolini benar-benar pecah. Dalam pelaksanaan Piala Dunia ketiga itu terdengar isu ideologis dari Jerman. Adolf Hitler, mendapat

12

inspirasi dari seniornya, Bennito Mussolini, melihat bahwa sepakbola bisa menjadi media efektif untuk mengkampanyekan ideologi fasis yang selama ini dianut. Hitler menginginkan Jerman menjadi juara dunia. Jauh-jauh hari sebelumnya, tepatnya saat momentum Olimpiade Berlin 1936, Hitler sudah berpropaganda politik Nazi. Di berbagai stadion olahraga di kota-kota Jerman, berbagai atraksi militer Nazi, pamflet propaganda dan pidato-pidato tentang kehebatan Nazi terus bergema. Kisah di atas sampai kini menjadi catatan khusus bahwa olahraga sepak bola masih belum bisa bebas sepenuhnya dari kepentingan dan tekanan politik. Tahuntahun selanjutnya isu politik semakin berkurang dalam dunia sepakbola. Kalaupun ada tampaknya hanya jadi hiasan sensasi berita di media massa. Misalnya pada penyelenggaraan Piala Dunia 1998, ketika pemerintah AS tiba-tiba mengancam Iran berkaitan dengan nuklir. Tapi publik dunia tidak peduli dengan omongan AS. Bahkan FIFA secara tegas menolak niatan AS menjegal Iran dari keikutsertaannya di Piala Dunia 1998. Bualan AS pun tidak digubris dunia. Iran tetap berkiprah di Prancis. Ini jelas politis dan mengada-ada. Sejarah Piala Dunia sudah terbiasa menghadapi hal-hal seperti itu. Kebanyakan politisi memang berotak bulus nan licik. Olahraga yang menekankan sisi sportivitas ditunggangi untuk kepentingan pragmatis dan sempit mereka. Setelah kekalahan kekuatan Poros dalam Perang Dunia II, istilah fasis telah digunakan sebagai kata merendahkan, sering merujuk pada gerakan yang sangat beragam di seluruh spektrum politik. Dalam wacana politik, istilah "fasis" adalah umum digunakan untuk menunjukkan kecenderungan otoriter, tetapi sering kali digunakan sebagai julukan peyoratif oleh penganut politik kedua sayap kiri dan sayap kanan untuk merendahkan mereka dengan sudut pandang yang berlawanan. George Orwell menulis pada tahun 1944 bahwa "'Fasisme' kata hampir seluruhnya berarti ... hampir semua orang Inggris akan menerima 'pengganggu' sebagai sinonim untuk 'fasis'" . Richard Griffiths pada tahun 2005 berpendapat bahwa "fasisme" adalah "yang paling disalahgunakan, dan kata lebih-digunakan, di zaman kita". "Fasis"

13

kadang-kadang diterapkan pada organisasi pasca-perang dan cara berpikir yang akademisi lebih umum istilah "neo-fasis". E. Analisis Tujuan negara merupakan cita-cita yang biasanya tertuang dalam States Fundamental Norm seperti yang menjadi kepercayaan para aliran positivisme. Dan dalam rangka mewujudkannya bukan tidak mungkin menemui kendala-kendala. Akan tetapi, jika suatu pandangan hidup bernegara yang dimiliki bisa diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara tentunya tujuan negara tersebut pasti bisa diwujudkan. Oleh karena itu, perlu untuk memahami ideologi negara yang dianut. Tulisan ebenstein mengenai fasisme, mencoba mendudukkan ideologi fasisme dalam tataran substansial. Ia melihat gejala fasisme sebagai suatu kondisi pada sebuah masyarakat, dan mungkin saja dapat terulang kembali. Tulisan ebenstein juga dikayakan dengan contoh kontemporer, yaitu kasus Spanyol. Namun demikian, terdapat juga hal yang dirasakan kurang mengenai hal bagaimana fasisme mampu mempertahankan dukungan massa. Ebenstein hanya melihat adanya kekerasan sebagai suatu faktor pendukung, seakan melupakan faktor yang lainnya. Padahal, terdapat mekanisme penting yang dilupakan Ebenstein yaitu bagaimana kaum fasis menciptakan slogan atau ritus-ritus historis demi membangun karakter nasionalisme mereka. Bagaimanapun juga, jika kita mengamati munculnya negara fasis terdapat kecenderungan bahwa fasisme muncul pada negara yang memiliki identitas historis yang kuat. Tentu bukan suatu kebetulan, selain menggunakan kekerasan, fasisme juga memanfaatkan parade atau aksi massa untuk memperkuat nasionalisme pendukungnya. Ketika Hitler atau Mussolini menciptakan gaya sapaan atau slogan dalam ritusnya, hal ini harus dilihat sebagai cara untuk menciptakan pola hubungan kharismatik antara penguasa dengan rakyatnya. Sehingga dalam konteks inilah hubungan patronase yang dikatakan ebenstein, dapat dilihat secara aktif. Secara psikologis, melihat manusia berduyun-duyun berkumpul memberi dukungan, maka

14

akan menimbulkan nuansa sakralitas dan mitologis mengenai kemampuan komunal yang tak terkalahkan. Hitler lebih kuat fasismenya bukan hanya karena ia lebih kejam, melainkan juga karena ia mampu memanipulasi dengan cerdas simbol-simbol yang ada dalam masyarakat. Faktor sejarah, juga merupakan kekuatan tersendiri. Hitler selalu mendengungkan Third Reich, Mussolini senantiasa mengatakan Italia la Prima, sedangkan Jepang senantiasa menunjukkan propaganda sebagai Pemimpin Asia. Ketika Hitler dan Mussolini menjabat sebagai kepala pemerintahan, maka keduanya juga membangun bangunan-bangunan megah sebagai simbol kejayaan suatu kekaisaran masa lampau. Bahkan Mussolini memperbaharui beberapa monumen Romawinya. Dengan kenangan masa lalulah, fasisme bergerak untuk menciptakan kejayaan di masa sekarang. Karena bagi mereka, hanya negara yang pernah unggul berhak atas sejarah dimasa sekarang. Dan inilah yang juga diandalkan oleh Hitler maupun Mussolini, dimana mereka mampu meyakinkan rakyatnya atas dasar keyakinan sejarah yang demikian. Dalam konteks hubungan masa sekarang, ternyata saya berpendapat bahwa masa depan fasisme masih ada. Hal ini karena fasisme yang rasis, sebagai suatu gagasan dan tindakan juga berada di mana-mana. Jadi, dalam sudut pandang saya kekuatan kaum fasis sedang merasuki generasi muda lewat gelombang musik punk dan skin head, dimana simbol nazisme senantiasa menjadi ikonnya. Dan kelompok fasis sedang berupaya membangkitkan jati-dirinya kembali dengan hooliganisme di kancah sepak bola terutama di Italia dan Inggris yang terkenal dengan supporter garis kerasnya. F. Penutup Berdasarkan uraian dan pembahasan serta analisis tentang fasisme dan sepak bola dalam politik di Italia, saya berkesimpulan : 1. Sangat penting untuk kita pahami bahwa fasisme merupakan suatu ideologi yang akan bertahan sesuai dengan perkembangan masyarakat.

15

2. Perkembangan fasisme saat ini tidak hanya dalam bidang politik seperti di masa lalu tapi juga dalam lingkungan kelompok sosial seperti kelompok suporter sepak bola atau bahkan dalam genre musik. 3. Sepak bola di Italia tidak dapat lepas dari fasisme karena di Italia ini fasisme pernah berjaya dan bukan tidak mungkin akan kembali menguat pengaruhnya. 4. Selama yang berkuasa bisa mengendalikan media massa, maka pengaruhnya akan sulit ditumbangkan meskipun terlihat penyelewengan. Referensi: Budiardjo, Miriam. 2008. Dasar-dasar Ilmu Politik, edisi revisi: cetakan pertama. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Ebenstein, William dan Edwin Fogelman. 1990. Isme-Isme Dewasa Ini, penerjemah: Alex Jemadu. Jakarta: Erlangga. http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20091006052632AAh9XED, diakses 30 Oktober 2011. http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_Perdana_Menteri_Italia, 2011. http://id.wikipedia.org/wiki/Fasisme, diakses 30 Oktober 2011. http://id.wikipedia.org/wiki/Italia, diakses 30 Oktober 2011. http://www.harunyahya.com/indo/buku/fasisme3.htm, diakses 30 Oktober 2011. http://www.scribd.com/doc/45513085/Sistem-Pemerintahan-Italia, Oktober 2011. Soehino. 2005. Ilmu Negara. Yogyakarta: Liberty Yogyakarta. Syafiie, Inu Kencana. 2004. Birokrasi Pemerintahan Indonesia. Bandung: C.V. Mandar Maju. diakses 30 diakses 30 Oktober

16