BAB I PRESENTASI KASUS

A.

IDENTITAS PENDERITA a. Nama b. Umur c. Jenis Kelamin d. Alamat e. Agama f. Pekerjaan g. Status h. Tanggal Masuk RS i. Tanggal Periksa : Tn Triyoko : 33 tahun : Laki-laki : Cilongok 03/03, Banyumas, Jawa Tengah : Islam : Wiraswasta : Menikah : 27 Januari 2012 : 31 Januari 2012

B.

ANAMNESIS a. Keluhan Utama b. Keluhan Tambahan : Sesak nafas : Batuk berdahak, nyeri dada, lemas, berkeringat

malam, dan penurunan berat badan. c. Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien laki-laki usia 33 tahun datang ke IGD diantar keluarganya pada tanggal 27 Januari 2012 dengan keluhan sesak nafas sejak satu minggu sebelum masuk rumah sakit. Sesak nafas dirasakan apabila pasien batuk terus menerus, tetapi tidak terlalu mengganggu aktivitas sehari-hari. Sesak nafas ini akan berkurang dengan istirahat. Keluhan sesak nafas ini akan semakin terasa berat bila dipengaruhi oleh aktivitas berat. Sesak nafas inipun tidak disertai bunyi suara nafas ³ngik-ngik´. Selain itu, ia juga mengeluhkan batuk berdahak, nyeri dada, keringat malam hari dan penurunan berat badan. Keluhan batuk berdahak dirasakan sejak satu bulan sebelum masuk rumah sakit. Batuk dirasakan terus-menerus, tetapi tidak sampai menganggu aktivitas pasien. Keluhan batuk dirasakan semakin memberat jika malam hari dan akan berkurang jika pasien beristirahat. Keluhan nyeri dada dirasakan sejak satu bulan bersamaan dengan keluhan batuk berdahak. Keluhan nyeri dada dirasakan saat pasien batuk 1

Riwayat Penyakit Dahulu y : Riwayat keluhan serupa (penyakit paru) : keluhan yang sama pernah diderita pasien sekitar 2 tahun sebelum masuk rumah sakit. Penurunan berat badan terjadi pada pasien sejak pasien sakit. Awal mulanya berat badan pasien 50 kg dan sekarang 40 kg. Keluhan ini mengganggu aktiviatas pasien. Nafsu makan pasien menurun sejak keluhan sakit pasien dirasakan. Keluhan yang sama kembali muncul lagi sekitar 1 bulan sebelum masuk rumah sakit. BAK dan BAB lancar. Sampai akhirnya pasien merasa batuk dan sesak semakin memberat sejak satu minggu sebelum masuk RSMS. kemudian pasien ke BP4 dan mendapatkan pengobatan.berdahak. tetapi sudah dinyatakan sembuh setelah melakukan pengobatan yang menyebabkan kencing berwarna merah selama 6 bulan. Riwayat Penyakit Keluarga y y y y : : disangkal : disangkal : disangkal : disangkal 2 Riwayat keluhan serupa Riwayat tekanan darah tinggi Riwayat diabates melitus Riwayat Jantung . d. Keluar keringat malam dirasakan pasien sampai membasahi pakaiannya. y y y y Riwayat infeksi Riwayat tekanan darah tinggi Riwayat diabetes melitus Riwayat pengobatan : disangkal : disangkal : disangkal : pasien mengkonsumsi obat yang menyebabkan kencing merah selama 6 bulan pada tahun 2009. Keluhan keringat di malam hari dirasakan kurang lebih 4 hari sebelum masuk Rumah Sakit. y y Riwayat alergi Riwayat mondok : disangkal : disangkal e. namun tidak kunjung sembuh. Nyeri akan semakin memberat jika pasien batuk terus menerus dan akan terasa ringan jika pasien beristirahat.

Respirasi Rate f. Keadaan umum b. Suhu g. Pasien berobat ke RSMS dengan menggunakan jaminan kesehatan masyarakat. y Drugs and Diet Ia rutin minum mengkonsumsi obat TB selama pengobatan. C. BB i. Nadi e. y Occupational Ia bekerja sebagai buruh. Status Generalis y Kepala : Venektasi temporal (-/-) 3 : Baik : Composmentis : 90/60 mmHg : 72x/menit : 24 x/menit : 36. Rumah terbuat dari dinding tembok dan lantai semen. dapur. nafsu makan pasien tidak ada masalah. y Home Dirumah ia tinggal bersama kedua orang tuanya. Ia sering berinteraksi dengan tetangganya tetapi sejak mempunyai keluhan batuk tersebut. TB h. sehingga cahayapun dapat masuk. ruang keluarga.y y Riwayat alergi Riwayat penyakit paru : disangkal : disangkal f. Rumah pasien memiliki beberapa jendela dan ventilasi udara disetiap ruangan. Sejak ia mempunyai keluhan tersebut. Kesadaran c. Rumahnya terdiri dari 4 kamar tidur. hanya saja pasien mengalami penurunan berat badan. Tekanan Darah d. istrinya.2 0 C : 165 cm : 40 kg . Riwayat Sosial dan Ekonomi : y Community Lingkungan rumah pasien adalah kawasan pertanian. dan dua orang anaknya. ruang tamu. dan kamar mandi. PEMERIKSAAN FISIK a. ia jarang berinteraksi dengan tetangganya.

Kiri bawah SIC IV LMCS Auskultasi y Abdomen Inspeksi Auskultasi Perkusi Palpasi y y y y Hepar Lien : Datar. PEMERIKSAAN PENUNJANG Spesimen dahak Hasil Pemeriksaan Mikrobiologi tanggal 30 Januari 2012 Pewarnaan ZN 1x : BTA I 4 . Kanan bawah SIC IV LPSD. nafas cuping hidung (-). sianosis (-/-) Ektremitas bawah : edema (-/-). gallop (-) Ektremitas atas : edema (-/-). reguler. ronkhi basah kasar (+/-) di apex paru kanan. tidak ada wheezing. sianosis (-/-) D. supel : Bising usus (+) normal : Timpani. mumur (-). y Jantung Inspeksi Palpasi Perkusi : Ictus cordis terlihat pada SIC V LMCS : Ictus cordis teraba pada SIC V LMCS : Batas jantung : Kanan atas SIC II LPSD. pekak alih (-). deformitas (-) : Discharge (-/-). ketinggalan gerak (-) : Vocal fremitus lobus superior dextra sama dengan sinistra serta vocal fremitus lobus inferior dextra sama dengan sinistra Perkusi Auskultasi : Sonor pada kedua lapang paru : Suara dasar vesikuler ( /+). nyeri tekan (-) : ttb : ttb : S1 > S2. deformitas (-) : Sianosis (-) : Deviasi trakhea (-). pembesaran KGB (-) Status Lokalis y Paru Inspeksi Palpasi : dinding dada simetris. pekak sisi (-) : undulasi (-). Mata Hidung Telinga Mulut Leher : Konjungtiva anemis (+/+) : Discharge (-/-). Kiri atas SIC II LPSD.y y y y y j.

00 %) (40.800 /uL) (42 ± 52 %) (10 ^6/uL) (150.0 %) (25.2 % : 2.0 %) (2.0 % : 0.8 gr/dL : 15200 QL : 33 % : 4.1 mmol/L) ( 98-107 mmol/L) 5 .1 pgr : 29.0 %) (0.0 ± 1.0 ± 70.4 % % (2.Ditemukan BTA positif 1 (1+) Bahan pemeriksaan epitel lekosit : sputum : positif : positif Darah Lengkap Hasil Pemeriksaan darah lengkap tgl 27 Januari 2011 Hb Leukosit Hematokrit Eritrosit Trombosit MCV MCH MCHC LED : 9.5 % : 3.0 ± 4.0 ± 8.9 : 6.5 ± 5.00 % : 87.0 %) Kimia Klinik Hasil Pemeriksaan Kimia Klinik tgl 16 Desember 2011 SGOT/AST SGPT/ALT Glukosa Sewaktu Natrium Kalium Klorida : 16 : 11 : 112 : 139 : 3.4 juta/QL : 726.9 fl : 22.0 ± 40.0 %) (2.00 ± 5.000/QL : 74.000 /ul) (79 ± 99 pg) (27 ± 31 %) (33 ± 37 g/dl) (0-15 mm/jam) Hitung jenis Basofil Eosinofil Batang Segmen Limfosit Monosit : 0.5 % : 10 mm/jam (14 ± 18 g/dl) (4800± 10.000 ± 450.9 : 94 ( 15-37 U/L) ( 30-65 U/L) (<= 200 mg/dl) (136 ± 145 mmol/L) (3.

Batuk berdahak berwarna putih kecoklatan .Rontgen Thorax Hasil Pemeriksaan Rontgen Thorax PA Tanggal 30 Januari 2012 Kesan : Cor sulit dinilai Gambaran TB Paru Efusi Pleura Dupleks E.Vital Sign : Sedang/ CM : T : 90/60 mmHg N: R: .Sesak . RESUME (KESIMPULAN PEMERIKSAAN) Anamnesa : . tidak ada wheezing.Riwayat pengobatan TB Pemeriksaan Fisik : .Keringat dimalam hari . ketinggalan gerak (-) : Vocal fremitus lobus superior dextra sama dengan 72 x/menit 0 24 x/menit C S : 36.Lemas .KU/Kes . ronkhi basah kasar (+/-) di apex paru kanan 6 .Thorak : Inspeksi Palpasi : dinding dada simetris.Nafsu makan menurun .Nyeri dada .Berat badan menurun .2 sinistra serta vocal fremitus lobus inferior dextra sama dengan sinistra Perkusi Auskultasi : Sonor pada kedua lapang paru : Suara dasar vesikuler ( /+).

Edukasi Makan makanan bergizi Pengobatan teratur tidak terputus 7 .Infus RL 20 tetes/menit.Dopamine drips micro 7 meq .Injeksi Ceftazidine 2x1 gram IV .Ambroxol 3x1 c .Injeksi Metilprednisolom 3x125 mg IV . .Ranitidin 2x1 amp 3. .Bed rest tidak total .Kultur BTA .Kultur resistensi obat F. TERAPI 1. Farmakologi .Pemeriksaan Penunjang : .2HRZES/1HRZE/5H3R3E3 (Sebelum ada hasil uji resistensi dapat di dapat diberikan selama 2 bulan menggunakan HRZE (+) suntikan streptomisin (S) setiap hari. DIAGNOSIS TB Paru BTA positif Lesi Luas Kasus Kambuh G.Diet tinggi kalori.Kegiatan fisik dikurangi . Non Farmakologis .O2 2 liter/menit . Atau obat kombinasi untuk kategori II yaitu 3 tab 4FDC + 750 mg Streptomisin Inj.Sulfat Ferosus 2x1 . selama 1 bulan kemudian dilanjutkan HRZE tiap hari tanpa suntikan. Fase lanjutan sesuai dengan hasil uji resistensi dapat diberikan obat RHE selama lima bulan yang diberikan tiga kali satu minggu. tinggi protein 2.

Riwayat pengobatan OAT selama 6 bulan dua tahun yang lalu dan telah dinyatakan sembuh 9. Tahun ini terkena kembali keluhan yang sama. Batuk diikuti dengan dahak yang bercampur darah. Pasien ini terdapat gejala-gejala klinis yang telah disebutkan. Keringat pada malam hari 5. dan selaput otak. Definisi Tuberkulosis Merupakan penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman Mycrobacterium Tuberkulosis yang sebagian besar menyerang paru-paru. 3. Alasan mendiagnosis pasien TB Paru BTA + Lesi Luas Kasus Kambuh : 1. Pasien mengeluh sesak nafas sejak satu minggu sebelum masuk rumah sakit 2. Gejala klinis TB Pasien TB mengalami batuk berdahak selama 2-3 minggu atau lebih.BAB II PEMBAHASAN 1. sesak nafas. kasus TB paru BTA positif sekitar 110 dari 100. Indonesia sendiri meruipakan penyakit ke-3 terbanyak didunia dengan jumlah pasien kurang lebih 10 % dari total jumlah pasien TB seluruh dunia pada tahun 2004. Kuman penyebab penyakit tuberkulosis merupakan termasuk bakteri tahan asam (BTA) cepat mati dengan sinar matahari langsung tetapi dapat bertahan hidup beberapa jam di tempat yang gelap dan lembek. Nafsu makan menurun 7. Nyeri dada pada saat batuk 4. Mengeluh batuk berdahak berwarna putih kecoklatan selama satu bulan 3.000orang.000 kasus baru dan kematian 101. nafsu makan menurun. malaise. 5. badan lemas. Epidemiologi Angka penyakit TB pada tahun 1995 sebanyak 9 juta pasien dan 3 juta kematian diseluruh dunia. Diagnosis TB 8 .000 penduduk. tetapi juga dapat menyerang organ lain seperti : kelenjar limfe. batuk darah. tulang. Setiap tahunnya terdapat 539. 4. Berat badan menurun 8. berkeringat malam hari tanpa aktivitas. 2. Lemas 6.

Bakteriologi : BTA positif atau negatif 9 .sewaktu Hasil BTA +++ + +- Hasil BTA +-- Hasil BTA --- Antibiotik non-OAT Tidak ada perbaika Foto toraks dan pertimbangan dokter Pemeriksaan dahak mikroskopis ada perbaikan TB Hasil BTA +++ + ++.Pasien suspek TB Pemeriksaan dahak mikroskopis. Klasifikasi Penyakit dan Tipe Pasien Penentuan kalsifikasi penyakit dan tipe pasien meliputi : 1.sewaktu ± pagi. Lokasi atau organ tubuh yang sakit : paru atau ekstraparu 2.- Hasil BTA --- Foto toraks dan pertimbangan dokter Bukan TB 6.

pleuritis. alat kelamin. Tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotik non OAT d. TB ekstraparu : 1. TB ekstraparu ringan : TB kelenjar limfe. TB saluran kemih dan alat kelamin. TB ekstraparu berat : meningitis. Riwayat pengobatan TB sebelumnya : baru atau sudah pernah diobati. Dipertimbangkan oleh dokter untuk diberi pengobatan. 1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA + dan foto thorkas dada menunjukkan gambaran TB c. 10 . TB BTA ± a. tulang. Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS menunjukkan BTA + b. a. TB usus. eksudativa unilateral. Klasifikasi berdasarkan organ tubuh yang terkena : 1. Kasus baru : pasien yang belum pernah diobati dengan OAT atau sudah pernah menelan OAT kurang dari satu bulan. usus. tulang. ginjal. dan lain-lain. d. Foto thoraks abnormal menunjukkan gambran tuberkulosis c. Tuberkulosis paru 2. TB BTA + a. Klasifikasi berdasarkan riwayat pengobatan OAT sebelumnya. c. perikarditis. TB Paru BTA negatif foto thoraks positif dibagi menjadi tingkat keparahan penyakit ringan dan berat. pleuritis eksudativa bilateral. Klasifikasi berdasarkan hasil pemeriksaan dahak mikroskopik : yaitu pada TB paru : 1. Klasifikasi berdasarkan tingkat keparahan penyakit : 1. peritonitis. milier. persendian. 1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA + dan biakan kuman TB + d. selaput otak.3. kulit. TB tulang belakang. Tingkat keparahan penyakit : ringan atau berat 4. Tuberkulosis ekstraparu : pleura. 2. 1 atau lebih spesimen dahak hasilnya positif setelah 3 spesimen dahak SPS pada pemeriksaan sebelumnya hasilnya BTA negatif dan tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotik non OAT. sendi dan kelenjar adrenal 2. saluran kencing. b. Bentuk berat bila didapatkan pada radiologi gambaran kerusakan paru yang luasatau keadaan pasien yang buruk. 2. perikardium. 1. Paling tidak 3 spesimen dahak SPS menunjukkan BTA negatif b. kelenjar limfe.

Kasus setelah putus berobat (Default) : pasien yang telah berobat 2 bulan atau lebih dengan BTA positif. 4. 3. Karena pasien mengalami batuk berdahak berwarna putih kecoklatan dan sesak nafas dengan pemeriksaan satu kali menunjukkan hasil BTA positif lesi luas dan pasien pernah mendapatkan pengobatan OAT selama 6 bulan dan dinyatakan sembuh 2 tahun yang lalu tetapi muncul lagi gejala batuk selama 1 bulan dan sesak nafas 1 minggu sebelum masuk rumah sakit. Kasus pindahan (Transfer In) : pasien yang dipindahkan dari UPK yang memiliki register TB lain untuk menlanjutkan pengobatannya. Kasus kambuh (Relaps) : pasien TB yang sebelumnya pernah mendapatkan pengobatan TB dan telah dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap. memutuskan rantai penularan dan mencagah terjadinya resistensi kuman terhadap OAT. didiagnosis kembali dengan BTA + (apusan atau kultur). Kasus setelah gagal (Failure) : pasien yang hasil peneriksaan dahaknya tetep positif atau kembali menjadi positif pada bulan kelima atau lebih selaman masa pengobatan. 5. Pada kasus pasien ini termasuk ke dalam TB Paru BTA + lesi luas kasus kambuh. dimana pasien dengan hasil pemeriksaan BTA positif setelah seleseai pengobatan ulangan. sifat dan dosis OAT Jenis OAT Sifat Dosis yang direkomendasikan (mg/kg) Harian Isoniazid (H) Bakterisid 5 (4-6) Rifampisin (R) Bakterisid 10 (8-12) 3xseminggu 10 (8-12) 10 (8-12) 11 .2. mencegah kekambuhan. Jenis. Pengobatan Tuberkulosis Tujuan Pengobatan : Pengobatan Tb bertujuan untuk menyembuhkan pasien. 7. 6. Kasus lain : semua kasus yang tidak memenuhi ketentuan di atas yakni termasuk kasus kronik. mencegah kematian.

biasanya pasien menular menjadi tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu. namun dalam jangka waktu yang lebih lama. telah dilakukan pengawasan langsung (DOT : Directly Observed Treatment) oleh seorang Pengawas Menelan Obat (PMO).Pyrazinamide (Z) Bakterisid 25 (20-30) 35 (30-40) 15 (12-18) 30 (20-35) Streptomycin (S) Bakterisid 15 (12-18) Ethambutol (E) Bakteriostatik 15 (15-20) Prinsip Pengobatan Pengobatan tuberkulosis dilakukan dengan prinsip-prinsip sebagai berikut : y OAT harus diberikan dalam bentuk kombinasi jenis obat. Pemakaian OAT ± Kombinasi Dosis Tetap (OAT-FDC) lebih menguntungkan dan sangat dianjurkan.  Sebagian besar pasien TB BTA positif menjadi BTA negatif (konversi dalam 2 bulan)  Tahap lanjutan  Pada tahap lanjutan pasien mendapat jenis obat lebih sedikit. Jangan gunakan OAT tunggal (monoterapi). dalam jumlah cukup dan dosis tepat sesuai dalam kategori pengobatan.  Bila pengobatan tahap intensif tersebut diberikan secara tepat. y Untuk menjamin kepatuhan pasien menelan obat. Kategori 1 : 2(HRZE)/ 4(HR) 12 . yaitu tahap intensif dan lanjutan:  Tahap awal (intensif)  Pada tahap intensif (awal) pasien mendapat obat setiap hari dan perlu diawasi secara langsung untuk mencegah terjadinya resistensi obat. Paduan OAT yang digunakan di Indonesia y Paduan OAT yang digunakan oleh program Nasional Penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia.  Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman persister sehingga mencegah terjadinya kekambuhan. y Pengobatan TB diberikan dalam tahap.

Pasien baru TB paru BTA positif 2. Padua ini dikemas dalam satu paket untuk satu pasien. Pasien TB ekstraparu 13 . Jumlah tablet yang ditelan jauh lebih sedikit sehingga pemberian obat menjadi sederhana dan meningkatkan kepatuhan pasien Paduan OAT dan Peruntukannya. Pirazinamid. sedangkan kategori anak sementara ini disediakan dalam bentuk OAT kombipak. Tablet OAT FDC ini terdiri dari kombinasi 2 atau 4 jenis obat dalam satu tablet. Mencegah penggunaan obat tunggal sehingga menurunkan resiko terjadinya resistensi obat ganda dan mengurangi kesalahan penulisan resep. Paduan Obat Anti Tuberculosis (OAT) disediakan dalam bentuk paket. dengan tujuan untuk memudahkan pemberian obat dan menjamin kelangsungan (kontinuitas) pengobatan sampai selesai. Dosisnya disesuaikan dengan berat badan pasien. dan Etambutol yang dikemas dalam bentuk blister. 3. Pasien TB paru BTA negatif foto toraks positif 3.disediakan paduan obat sisipan (HRZE) y Kategori Anak : 2HRZ/4HR Paduan OAT kategori 1 dan kategori 2 disediakan dalam bentuk paket berupa obat kombinasi dosis tetap (OAT-FDC). Dosis obat dapat disesuaikan dengan berat badan sehingga menjamin efektifitas obat dan mengurangi efek samping. 2.- Kategori 2 : 2 (HRZE) S/ (HRZE)/ 5 (HR) 3E3 Disamping kedua faktor ini. Rifampisin. y Paket Kombipak Adalah paket obat lepas yang terdiri dari Isoniasid. Kategori 1 (2HRZE/4H3R3) Paduan OAT ini diberikan untuk pasien baru: 1. a. Satu (1) paket untuk satu (1) pasien dalam satu (1) masa pengobatan FDC mempunyai beberapa keuntungan dalam pengobatan TB: 1. Paduan OAT ini disediakan program untuk digunakan dalam pengobatan pasien yang mengalami efek samping OAT FDC.

Kategori 2 (2HRZES/ HRZE/ 5H3R3E3) Paduan OAT ini diberikan untuk pasien BTA positif yang telah diobati sebelumnya: 1.Dosis Untuk Paduan OAT FDC untuk Kategori 1 Berat Badan Tahap intensif tiap hari selama 50 hari RHZE (150/400/275) 30-37 kg 38-54 kg 55-70 kg •71 kg 2 tablet 4FDC 3 tablet 4FDC 4 tablet 4FDC 5 tablet 4 FDC Tahap Lanjutan 3 kali seminggu selama 16 minggu RH(150/150) 2 tablet 2 FDC 3 tablet 2FDC 4 tablet 2FDC 5 tablet 2FDC Dosis Paduan OAT-Kombipak untuk kategori 1 Tahap Lama Tablet Isoniazid @300mgr Intensif lanjutan 2 bulan 4 bulan 1 2 Dosis perhari/kali Kaplet Tablet Tablet Jumlah hari /kali menelan obat 56 48 Pengobatan Pengobatan Rifampisin Pirazinamid Etambutol @450mgr 1 1 @500mgr 3 @250mgr 3 - b. Pasien pengobatan setelah default (terputus) Dosis untuk paduan OAT FDC Kategori 2 Berat Badan Tahap Intensif tiap hari RHZE (150/75/400/275)+S Tahap Lanjutan 3 kali seminggu RH (150/150) + E (400) Selama 56 hari 30-37 kg 2 tab 4 FDC +500 mg Selama 28 hari 2 tab 4FDC Selama 20 minggu 2 tab 2 FDC +2 tab Etambutol 14 . Pasien gagal 3. Pasien kambuh 2.

Streptomisin inj 38-54 kg 3 tab 4 FDC +750 mg Streptomisin inj 55-70kg 4 tab 4 FDC +1000 mg Streptomisin inj •71 kg 5 tab 4 FDC +1000 mg Streptomisin inj 5 tab 4FDC 5 tab 2 FDC +5 tab Etambutol 4 tab 4FDC 4 tab 2 FDC +4 tab Etambutol 3 tab 4FDC 3 tab 2 FDC +3 tab Etambutol Dosis paduan OAT Kombipak untuk kategori 2 Tahap Pengoba tan Lama Pengoba tan Tablet Isoniazi d @300m gr Kaplet Rifampi sin @500m gr Tablet Pirazina mid @500mg r Etambutol Tablet @250m gr Table t@ 400m gr Streptomi cin injeksi Jumla h hari/k ali menel an obat Tahap Intensif (dosis harian) Tahap Lanjutan (dosis 3x semingg 15 4 bulan 2 1 1 2 60 2 bulan 1 bulan 1 1 1 1 3 3 3 3 0.75 gr 56 28 .

2.7ml sehingga menjadi 4 ml (1ml=250mg) c. Untuk perempuan hamil lihat pengobatan TB dalam keadaan khusus. Untuk pasien yang berumur 60 tahun ke atas dosis maksimal untuk streptomicin adalah 500mg tanpa memperhatikan berat badan. OAT Sisipan (HRZE) Paket sisipan FDC adalah sama seperti paduan paket untuk tahap intensif kategori 1 yang diberikan selama sebulan (28hari) Dosis FDC untuk dewasa Berat Badan Tahap intensif tiap hari selama 28 hari RHZE (150/75/400/275) 30-37kg 38-54 kg 55-70kg •71 kg 2 tablet 4 FDC 3 tablet 4 FDC 4 tablet 4 FDC 5tablet 4 FDC Dosis OAT Kombipak untuk Sisipan Tahap pengobat -an Lamanya pengobat -an Tablet Isoniasi d @300m g Tahap intensif (dosis harian) 16 1 bulan 1 1 3 1 Kaplet Rirampisi n @450mg Tablet Pirazinami d @500mg Tablet Etambuto l @250mg Jumalh hari/kal i menela n obat 28 . Cara melarutkan streptomisin vial 1 gram yaitu dengan menambahkan aquabidest sebanyak 3.u) Catatan: 1. 3.

Penggunaan OAT lapis kedua misalnya golongan aminoglikosida (misalnya kanamisin) dan golongan kuinolon tidak dianjurkan diberikan kepada pasien baru tanpa indikasi yang jelas karena potensi obat tersebut jauh lebih rendah daripada OAT lapis pertama. Fase lanjutan sesuai dengan hasil uji resistensi dapat diberikan obat RHE selama lima bulan yang diberikan tiga kali satu minggu.aeroginosa. Golongan ini juga aktif terhadap P. e) Injeksi Metilprednisolon 3x125 mg IV f) Sulfat Ferosus 2x1 g) Ambroxol 3x1 c h) Dopamine drips micro 7 meq i) Rantin 2x1 amp Merupakan termasuk obat anatgonis reseptor H2 sebagai penghenti produksi asam lambung. tetapi jauh lebih aktif terhadap Entereobacteriaceaae. obat ini dapat digunakan sebagai anti mual. 8. Bila daya tahan baik dapat sembuh sendiri. Prognosis 1. Pengobatan a) O2 2 liter/menit b) Infus RL 20 tetes/menit. Disamping itu dapat juga meningkatkan terjadinya resiko resistensi pada OAT lapis kedua. 17 . d) Injeksi Ceftazidine 2x1 gram IV Merupakan obat antibiotik sefalosporin golongan ke tiga. j) Streptomycin 1x750mg 9. Atau obat kombinasi untuk kategori II yaitu 3 tab 4FDC + 750 mg Streptomisin Inj. Obat ini kurang aktif dibandingkan dengan generasi pertama terhadap kokus gram positif. selama 1 bulan kemudian dilanjutkan HRZE tiap hari tanpa suntikan. Terapi yang cepat dan legeartis akan sembuh baik 2. c) 2HRZES/1HRZE/5H3R3E3 (Sebelum ada hasil uji resistensi dapat di dapat diberikan selama 2 bulan menggunakan HRZE (+) suntikan streptomisin (S) setiap hari.

Jakarta.22-23 2. Anonim. Depkes. 2007. Edisi 5. hal : 6. Penerbit : FK UI Jakarta.Edisi 2.2007. Penerbit : Depkes. hal 283. 18 . Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis.DAFTAR PUSTAKA 1. 681.16-19. Farmakologi dan Terapi. Cetakan pertama.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful