Anda di halaman 1dari 5

PENERAPAN DERET BOWEN DALAM PENENTUAN ASOSIASI MINERAL DALAM BATUAN BEKU BENEDICT AMANDUS HANANTO 11/319263/TK/38393 MAHASISWA

JURUSAN TEKNIK GEOLOGI UGM YOGYAKARTA Jalan Grafika No. 2

Abstract Deret bowen adalah deret yang menjelaskan urutan pengkristalan magma berdasarkan temperature pembentukan magma tersebut. Dimana pembentukan magma ini ditentukan berdasarkan pada drajat kristalisasi dan lama pendinginan magma, dan berpengaruh pada sifat yang akan dibawa oleh mineral yang terbentuk, seperti apakah mineral akan bersifat ultrafic,mafic, intermeider, atau felsic, keresistensian mineral yang terbentuk, dan komposisi kimia yang ada dalam mineral tersebut. Dimana dalam deret ini semakin kebawah maka akan terbentuk pada suhu yang lebih rendah dan semakin resisten suatu mineral. Sehingga dengan mempelajari deret bowen kita dapat menentukan apakah suatu mineral dapat berasosiasi dengan mineral lain.

Deret bowen adalah hasil karya dari Novan Levi Bowen pada tahun 1922. Deret bowen

Definisi magma adalah zat cait liat - pijar, yang merupakan senyawa

gambar 1 contoh deret bowen http://en.wikipedia.org/wiki/File:Bowen%27s_Reaction_Series.png (Diakses pada hari Jumat, 30 Desember 2011 jam 12.00 WIB)

silikat dan ada di bawah kondisi tekanan dan suhu tinggi di dalam tubuh bumi yaitu mantle atau crust dimana adalah lelehan dari batuan (litosfer)

menjelaskan bagaimana proses pembentukan mineral,khususnya mineral pada batuan beku,yaitu mineral yang mengandung silikat mengkristal langsung dari magma berdasarkan penurunan temperatur.Bowen melakukan riset mengenai proses terbentuknya mineral di dalam bumi. Riset ini dilakukan dengan cara mengambil sampel magma cair dan memasukkannya ke dalam suatu alat yang fungsinya memberikan tekanan dan suhu yang dianggap sama dengan keadaan di bumi. Dengan berjalannya waktu dengan diturunkan suhu dan tekanannya dengan analogi seperti penurunan magma itu seperti magma yang sedang keluar ke permukaan bumi, maka didapat suatu hasil dari eksperimen ini yaitu ternyata magma itu mulai membeku dan terus berubah membentuk suatu urutan mineral. Sehingga dari riset ini dibuatlah deret bowen yang sampai sekarang digunakan tabel untuk menjelaskan tentang urutan pembekuan magma.

bagian bawah yang suhunya diatas 1200oC yang mengandung gas (O2,H2 S,N2,CO2) dan uap air. Sedang batuan sendiri adalah perpaduan bentukan alam yang berupa agregat padat (masif), ataupun terurai yang tersusun atas satu mineral atau lebih. Mineral silikat merupakan mineral utama pembentuk batuan atau disebut juga RMF atau Rock Forming Mineral, unsur unsur utamanya adalah O(Oksigen), Si(Silikat), Al(Alumunium), Fe (Besi), Ca (Kalsium), Na( Natrium), K (Kalium) dan Mg ( Magnesium). Sedang batuan beku adalah batuan yang terbentuk langsung dari magma. Secara umu magma dapat di bedakan menjadi 3 jenis berdasarkan analisis kimianya, yaitu : y Magma basa (basaltic magma) magma ini mengandung 50 % SiO2, dan memiliki suhu antara 900

1200 oC,

selain itu juga memiliki viskositas/ kekentalan yang

rendah sehingga mudah mengalir. Salah satu contoh batuan beku yang terbentuk dari magma berjenis basa ini adalah basalt y Magma asam (rhyolitic magma) ini mengandung mengandung

magma asam. Sedamg pada zona subduksi maka akan memiliki sifat magma intermedier karena dalam pertemuan antara 2 kerak yaitu kerak samudra yang bersifat basa dan kerak benua yang bersifat asam sehingga pada akhirnya magma yang dihasilkan pun akan bersifat intermedier. Dalam deret bowen kita dapat melihat bahwa mineral yang mengkristal dahulu atau mengkristal pada suhu yang relatif lebih tinggi maka akan bersifat ultrabasa karena banyak mengandung unsur unsur seperti Fe(besi) dan Mg( magnesium). Dan dalam deret bowen ini maka semakin ke bawah atau sejalan dengan penurunan suhu mineral mengkristal maka mineral yang terbentuk akan semakin bersifat asam. Dimana urutan pembentukan mineralnya adalah dari ultrabasa/ultramafic menjadi basa/mafic kemudian mejadi intermedier dan yang terakhir menjadi mineral asam/felsic. Dalam deret bowen maka mineral mineral ultrabasa dan basa akan mengandung banyak unsur - unsur seperti Mg

rendah dibawah 800 C, selain itu juga memiliki viskositas/ kekentalan yang tinggi sehingga tidak mudah mengalir, lebih kental dan menyebabkan mobilitasnya rendah. Salah satu contoh batuan beku yang terbentuk dari magma berjenis asam ini adalah riolit. y Magma intermedier adalah amagma yang mengandung komposisi silika diantara 50 60% dan berada sifat sifatnya berada diantara magma asam dan magma basa, contoh batuan yang terbentuk dari amgma berjenis ini adalah andesit. Dalam deret bowen ini semua magma induknya dianggap sebagai magma yang memiliki sifat ultrabasa. Hal ini dikarenakan dalam litosfer magma induk adalah magma yang banyak mengandung unsur Magnesium (Mg) dan Besi (Fe). Magma yang bersifat ultrabasa dapat ditemukan di dalam MOR( mid ocean ridge) karena di magma mulai menembus ke permukaan bumi dan mulai mengalami pendinginan karena suhu yang relatif lebih rendah dan tekanan yang lebih rendah maka akan terbentuk mineral seperti olivin dan anorthit, kemudian karena mineral mineral ultrabasa ini sudah terbentuk maka unsur unsur seperti Mg dan Fe(dikarenakan Fe dan Mg memiliki massa jenis yang cukup berat sehingga akan

gambar 2 MOR dan zona subduksi http://www.eoearth.org/files/164501_164600/164590/mid-ocean-ridge-1.gif (diakses pada tanggal 2 Januari 2012 pada jam 10.54)
mengendap lebih dulu) sudah mulai mengkristal menjadi mineral utrabasa maka kandungan magma akan bersifat lebih asam, sehingga menjadi magma bersifat basa. Sehingga kerak samudra akan bersifat basa tidak lagi ultrabasa. Sedangkan kerak benua memiliki sifat

60 hingga 70 % SiO2, dan memiliki suhu


o

(magnesium), Ca (kalsium), dan Fe (besi), sedangkan mineral mineral asam akan banyak mengandung unsur unsur seperti Si (silika), Na ( natrium), K (kalium), dan Al (alumunium).

Pembeda paling jelas dan umum digunakan adalah perbedaan warna diantara kedua sifat mineral tersebut dimana Mineral felsic/ asam akan memiliki warna terang, mineral mineral ini seperti Kuarsa (SiO2), Feldspar(X Al3 SiO8), Plagioklas Na (NaAl3SiO8), Muscovit (KAl 3Si3 O10(OH)2). Sedangkan mineral mineral yang memiliki warna warna gelap seperti olivin, piroksene, albit, amohibol, biotit, dan plagioklas Ca adalah termasuk mineral mineral mafic/basa. Warna

gelap atau hitam pada mineral ini disebabkan karena mineral ini mengandung unsur unsur seperti Magnesium (Mg) dan besi (Fe). Dalam deret bowen terdapat dua deret pembentukan mineral mineral ini dari yang terbentuk pada suhu tinggi yang bersifat ultrabasa hingga ke bawah menjadi mineral asam, yaitu deret diskontinyu dan deret kontinyu. Deret kontinyu digambarkan pada reaksi pada bagian kanan deret reaksi bowen dan discontinyu pada bagian yang kiri. Deret kontinyu menggambarkan pembentukan feldspar plagioklas yang dimulai dari anorthite yang kaya akan Ca menjadi Oligoklas yang kaya akan Na. Pada deret ini disebut deret kontinyu karena pembentukan mineral yang satu dengan mineral yang lain dalam satu deret memiliki hubungan yang dekat seperti bitownit yang memiliki rumus kimia (Na, Ca)Al(Al,Si)Si 2O8 sangat berhubungan dengan pembentukan mineral andesin yang juga memiliki rumus kimia yang sama hanya saja nanti ada perbedaan dalam komposisi Na dan Ca atau Al dan Si yaitu (Na, Ca)Al(Al,Si)Si 2O8. Pada deret diskoninyu menggambarkan pembentukan mineral mineral seperti olivine,piroksen, amfibol, dan biotit. Pembentukan ini dimulai dari Olivin kemudian semakin ke bawah menjadi biotit. Deret ini disebut deret diskontinyu dikarenakan tidak terdapat hubungan dalam pembentukan mineral mineral ini dimana sebagai contoh olivin memiliki rumus kimia XSiO4 sedangakan mineral seperti biotit memiliki rumus kimia K(Mg, Fe 2+)3(Al, Fe3+)Si 3O10(OH,F)2 dapat dilihat bahwa perbedaan rumus kimia yang sangat mencolok, oleh karena itu deret ini disebut deret diskontinyu karena tidak terdapatnya hubungan antara mineral yang terbentuk pertama dan yang terbentuk setelahnya, Akan tetapi kedua deret ini bertemu pada suatu titik dimana dalam deret ini membentuk huruf seperti (Y). Kedua deret ini bertemu pada pembentukan K feldspar, kemudian berlanjut ke pembentukan muscovite dan kuarsa.

Penerapan deret bowen ini banyak sekali selain dapat sebagai penentu sifat suatu magma, dan juga penentu mineral pada batuan metamorf seperti kita tidak akan dapat menemukan mineral olivin pada batuan metamorf karena olivin memiliki tingkat resistensi yang rendah tetapi juga dapat digunakan sebagai pedoman dalam penentuan asosiasi mineral dalam batuan beku, dimana dengan mempelajari deret ini kita bisa tahu dengan cara memperkirakan apakah suatu mineral mungkin dapat berasosiasi mineral yang lain dengan melihat deret bowen sehingga pada saat kita mengamati handspeciment kita dapat menentukan mineral apa saja yang terkandung dalam mineral tersebut dan mineral apa saja yang tidak mungkin berada padanya. Sebagai contoh adalah pada granit. Granit yang merupakan batuan beku asam/ felsic didalamnya tidak akan terdapat mineral mineral utrabasa/ultramafic seperti olivin, piroksen, ataupun anortit, karena dalam batuan beku asam tidak akan terdapat mineral mineral mafic karena terdapat perbedaan pada proses pembentukan kristalisasi magma dan terdapat perbedaan pada keresistensian pada keduanya. Akan tetapi yang akan ada dalam batuan granit adalah mineral mineral felsic seperti kuarsa, hornblende, dan feldspar Na.

gambar 3diambil dari aplikasi GEODeES.exe slide 8


Dalam deret bowen juga disebutkan bahwa keresistensian suatu mineral bergantung pada pembentukan mineral itu, dimana mineral mineral yang kaya akan Si akan lebih resisten dan mineral yang kaya akan Ca, Mg, dan Fe akan cenderung tidak resisten. Sehingga dalam deret ini dijelaskan bahwa semakin kebawah pembentukannya yaitu dari atas ke bawah (dari mineral mineral ultramafic/ultrabasa, menjadi mineral mafic/asam) maka keresistensian mineral itu akan semakin tinggi, perbedaan keresistensian ini dapat disebabkan oleh komposisi kimia dari mineral mineral ini dimana mineral mineral felsic/asam memiliki banyak kandungan silika, dan dimana komposisi kimia ini menentukan ikatan kimia yang terjadi dalam mineral. Dan hal yang lain yang menyebabkan perbedaan keresistensian ini selain komposisi mineralnya yaitu perbedaan pada temperatur pembentukannya. Dimana mineral yang terbentuk pada suhu rendah dan dalam waktu yang cukup lama akan lebih resisten daripada mineral mineral yang terbentuk dalam waktu cepat dan pada suhu yang tinggi. Sehingga dengan mempelajari deret bowen kita dapat mengaplikasikannya dalam bidang bidang geologi seperti penentuan sifat sifat magma berdasarkan batuan yang terbentuk, bentuk mineral yang memungkinkan seperti kuarsa yang terbentuk terakhir maka akan berfungsi sebagai pengisi dalam suatu batuan sehingga bentuknya jarang dapat ditemui dalam keadaan sempurna, dan juga kita dapat mengetahui mineral mineral apa saja yang mungkin Dan sebagai contoh lain adalah pada batuan basa/ mafic tidak akan dijumpai mineral mineral seperti kuarsa dan muscovite dikarenakan kuarsa dan muscovite adalah mineral mineral felsic sedangkan batuannya adalah batuan mafic. Hal ini disebabkan karena mineral mineral mafic akan terbentuk lebih dahulu pada suhu yang tinggi dan mineral mineral felsic baru terbentuk setelahnya pada suhu yang relatif lebih rendah, sehingga perbedaan waktu pembentukan itulah yang menyebabkan ketidak mungkinan asosiasi mineral mineral felsic dalam batuan mafic

terdapat dalam suatu batuan dan mineral apa yang tidak mungkin terdapat dalam suatu batuan tertentu. Karena dalam deret bowen selain dijelaskan tentang urutan pembentukan mineral, juga dijelaskan tentang sifat sifat yang dibawa yaitu komposisi kimianya, resistensi, dan juga sifat sifat dari mineral itu apakah felsic atau mafic.

DAFTAR PUSTAKA http://en.wikipedia.org/wiki/File:Bowen%27s_Reaction_Series.png (Diakses pada hari Jumat, 30 Desember 2011 jam 12.00 WIB) http://en.wikipedia.org/wiki/File:Bowen%27s_Reaction_Series.png (Diakses pada hari Jumat, 30 Desember 2011 jam 12.00 WIB) http://www.scribd.com/doc/22957184/Bab-i-Geologi (Diakses pada hari Jumat, 30 Desember 2011 jam 12.00 WIB) http://www.physicalgeography.net/fundamentals/10e.html (Diakses pada hari Jumat, 30 Desember 2011 jam 12.00 WIB) Fenton, C.L. & Fenton M.A. 1940. The Rock Book. New York: Doubleday & Company, Inc. Magetsari, N. A., Abdullah, C. A., Brahmantyo, B.. Catatan Kuliah GL-211 Geologi Fisik. Bandung: Penerbit ITB Soetoto, S.U. 2001. Geologi. Yogyakarta: Laboratorium Geologi Dinamik Jurusan teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada

Aplikasi Mineralogydatabase.exe

Aplikasi GEODeES.exe

http://www.eoearth.org/files/164501_164600/164590/mi d-ocean-ridge-1.gif (diakses pada tanggal 2 Januari 2012 pada jam 10.54)