Anda di halaman 1dari 6

Masalah Pengukuran Kewajiban Lainnya (Other Liability Measurement Issues)

Pembiayaan di Luar Neraca (Off-Balance Sheet Financing)


Proporsi hutang dalam struktur modal perusahaan dapat dianggap sebagai indikator tingkat risiko yang berhubungan dengan investasi di perusahaan tersebut. Beberapa perusahaan telah memanfaatkan penyusunan pembiayaan yang inovatif yang disusun sedemikian rupa sehingga pembiayaan tersebut tidak memenuhi kriteria sebagai kewajiban. Penyusunan ini diistilahkan sebagai pembiayaan di luar neraca (Off-Balance Sheet Financing). Tujuan utamanya adalah untuk menjaga proporsi utang di neraca. Sebagai contoh, beberapa perusahaan minyak dapat membentuk usaha patungan (joint venture) untuk mengebor minyak lepas pantai dan setuju untuk melakukan pembayaran guna mendukung usaha tersebut setiap saat, atau perusahaan dapat terikat dalam perjanjian sewa (lease) yang tidak perlu mengkapitalisasikan biaya aktiva produktifnya. Pada kasus tersebut, aktiva yang dipakai maupun kewajiban untuk membayar sumber daya tidak akan muncul pada neraca. Pada intinya, perusahaan telah memperoleh manfaat sumber daya ekonomi (aktiva) tanpa mencatat kewajiban ekonomi yang bersangkutan (utang). SFAS No 107, "Pengungkapan tentang Nilai Wajar Instrumen Keuangan,", mengharuskan pengungkapan nilai wajar instrumen keuangan jika ada nilai wajarnya. Metode dan asumsi yang digunakan untuk mengestimasi nilai wajar juga harus diungkapkan. Nilai wajar instrumen keuangan didefinisikan sebagai "jumlah di mana instrumen dapat ditukar dalam transaksi yang ada antara pihak- pihak yang berkepentingan, selain dalam penjualan paksa atau penjualan saat likuidasi." Harga pasar merupakan sebuah bukti terbaik dari nilai wajar. Persyaratan-persyaratan pengungkapan berlaku untuk instrumen keuangan tanpa memperhatikan apakah instrumen tersebut merupakan aktiva atau kewajiban, atau apakah instrumen tersebut dilaporkan atau tidak di dalam neraca. Berikut ini adalah instrument yang dikecualikan dari persyaratan SFAS No 107. 1. kompensasi yang ditangguhkan seperti pensiun, manfaat pensiun, dan opsi saham karyawan dan rencana pembelian 2. Penghapusan hutang dan aktiva yang dihapuskan dari neraca dalam kasus peniadaan substansi (tidak berlaku lagi) 3. Kontrak asuransi, selain jaminan keuangan dan kontrak investasi 4. Sewa 5. Jaminan kewajiban dan hak 6. Pembelian obligasi tak bersyarat 7. Investasi yang dicatat dengan metode ekuitas 8. Hak minoritas 9. Investasi kepemilikan pada anak perusahaan yang dikonsolidasi 10. Instrumen ekuitas yang diklasifikasikan dalam ekuitas pemegang saham Selain itu, pengungkapan nilai wajar tidak diharuskan untuk piutang usaha yang tercatat mendekati nilai wajar. SFAS No 133 mengamandemen SFAS No 107 dengan memuat catatan kaki mengenai ketentuan-ketentuan pengungkapan yang berkaitan dengan risiko kredit yang terkandung dalam SFAS No 105, "Pengungkapan Informasi tentang Instrumen Keuangan dengan Risiko Luar Neraca dan Instrumen Keuangan dengan Konsentrasi Risiko Kredit."

Derivatif
Derivatif adalah sebuah transaksi, atau kontrak, yang nilainya tergantung pada nilai aset yang

menjadi acuan atau indeks. Dalam suatu transaksi, pihak-pihak yang lemah dalam menanggung risiko akan memindahan sebagian atau seluruh risikonya kepada pihak yang lebih kuat dalam menanggung risiko. Ketika derivatif digunakan, pihak yang mengalihkan risiko dapat (1) mengasumsikan risiko yang berbeda dengan pihak penanggung, (2) membayar uang jasa atau fee kepada pihak yang menanggung risiko (risk taker) untuk mengasumsikan risiko, (3) menggunakan kombinasi dari keduanya. Semua transaksi derivatif berasal dari dua jenis transaksi, yaitu forward dan option. Derivatif berbasis forward: derivatif yang memberikan kewajiban kepada satu pihak untuk membeli dan pihak lain untuk menjual suatu item tertentu, dengan harga tertentu, dan pada periode tertentu di masa mendatang. Derivatif berbasis opsi: derivatif yang memberikan hak, tetapi bukan merupakan kewajiban, kepada pemegangnya untuk membeli atau menjual suatu item tertentu, dengan harga tertentu, dan pada periode tertentu di masa mendatang. Para pelaku dalam transaksi derivatif dapat dikategorikan sebagai dealer dan pengguna akhir. Dealer umumnya adalah bank, atau beberapa broker independen, sedangkan pengguna akhir adalah perusahaan-perusahaan, bank, perusahaan sekuritas, reksadana dan pensiun, unit pemerintah, dan bahkan Bank Dunia. Tujuan dari pengguna akhir bervariasi. Beberapa pengguna menggunakan derivatif agar risiko operasional keuangan dapat dikendalikan, sedangkan yang lainnya bertujuan untuk untuk mengelola risiko fluktuasi nilai tukar asing. Para spekulator dapat mencari keuntungan dari perbedaan harga secara simultan di pasar luar negeri, atau untuk melindungi nilai dari risiko perubahan nilai mata uang. Lima jenis derivatif yang mentransfer elemen-elemen risiko dapat diidentifikasi menjadi: forward contract, futures, option, asset swaps, dan hybrids.

forward contract adalah suatu persetujuan antara dua belah pihak untuk menjual atau membeli suatu aset (atau bentuk apapun juga) dengan harga yang telah disetujui sebelumnya pada waktu yang telah ditetapkan sebelumnya. Oleh karena itu, tanggal penjualan dan tanggal penyerahan barang dilakukan berbeda. Harga forward berbeda dengan harga spot atau harga pada saat asset tersebut berpindah tangan. futures contract merupakan suatu kontrak standard yang diperdagangkan pada bursa berjangka, untuk membeli ataupun menjual aset acuan dari instrumen keuangan pada suatu tanggal dimasa akan datang, dengan harga tertentu.

Persamaan Forward Contracts and Future Contracts


Kontrak penyerahan kemudian (forward contracts) sama dengan kontrak berjangka (futures), yakni sama-sama merupakan kesepakatan antara dua pihak untuk membeli dan menjual aktiva yang dilakukan pada tanggal tertentu di masa yang akan datang dan pada harga tertentu yang telah disepakati pada saat kontrak ditandatangani.

Perbedaan Forward Contracts and Future Contracts


Futures diperdagangkan di bursa yang terorganisir sementara forward contracts diperdagangkan di luar bursa atau over the counter market. Sebagai kesepakatan pribadi antara dua pihak, forward contracts diatur secara khusus untuk memenuhi kebutuhan masing-masing pihak, oleh karena itu disebut sifatnya adalah private (tergantung pada pribadi kedua belah pihak). Sedangkan future contracts bentuknya sudah standard (sudah dibuat baku), telah disekuritisasi dan diperdagangkan di pasar tertentu, di tengah-tengah masyarakat. Kontrak tidak dilakukan secara pribadi oleh dua pihak, tetapi dilakukan melalui bursa yang terorganisir. Forward contracts hanya ditransaksikan antara pihak yang saling tahu lawan transaksinya pada waktu tanggal penyelesaian, sedangkan Future contract ditransaksikan antar pihak yang saling tidak tahu lawan transaksinya sehingga nilainya setiap hari harus diubah atau mengalami penyesuaian (biasa dikenal dengan istilah "marked-to-market"). Nilai penyelesaian aset acuan pada saat tangggal penyerahan akan sama dengan nilai spot aset acuan itu pada saat itu. Faktor lain yang membedakan futures contracts dari forward contracts adalah bahwa pihak yang melakukan futures contracts harus menyerahkan margin (sejumlah uang tunai) dan nilainya disesuaikan dengan pergerakan pasar setiap hari. Dari hari ke hari besarnya margin disesuaikan dengan pasar (market-to-the market), didalam forward contracts kedua belah pihak tidak perlu menyediakan margin (uang). Opsi adalah suatu hak (bukan merupakan kewajiban) yang didasarkan pada suatu perjanjian untuk membeli atau menjual suatu komoditi, surat berharga keuangan, atau suatu mata uang asing pada suatu tingkat harga yang telah disetujui (ditetapkan di muka) pada setiap waktu dalam kontrak

Perjanjian swap adalah transaksi pertukaran dua valuta melalui pembelian atau penjualan tunai (spot) dengan penjualan/pembelian kembali secara berjangka yang dilakukan secara simultan dengan bank yang sama dan pada tingkat premi atau diskon dan kurs yang dibuat dan disepakati pada tanggal transaksi dilakukan. Sedangkan Hybrid menggabungkan berbagai ketentuan beberapa atau semua jenis derivatif di atas Masing-masing derivatif mengandung risiko yang dapat diidentifikasi sebagai risiko pasar, risiko kredit, risiko operasional, risiko hukum, dan risiko sistem. Risiko pasar adalah risiko kemungkinan kerugian finansial yang disebabkan oleh sebuah pergerakan suku bunga, nilai tukar, harga saham, atau harga komoditas yang tidak menguntungkan. Risiko kredit adalah risiko kemungkinan kerugian finansial yang disebabkan oleh kegagalan pihak lain dalam memenuhi kewajiban keuangannya. Risiko operasional adalah risiko kemungkinan kerugian finansial yang disebabkan oleh kontrol internal yang tidak memadai, penipuan, kecurangan, atau kesalahan manusia. Risiko hukum adalah risiko kemungkinan kerugian finansial sebagai akibat dari tindakan pengadilan, badan peraturan, atau badan legislatif yang membuat semua atau sebagian dari kontrak derivatif menjadi tidak berlaku. Risiko sistem adalah risiko kemungkinan kerugian finansial yang disebabkan oleh gangguan dalam perusahaan, dalam segmen pasar, atau dalam sistem yang sudah berjalan, yang dapat menyebabkan kesulitan di perusahaan lain, dalam sistem pasar lainnya, atau dalam sistem keuangan secara keseluruhan. FASB pertama kali membahas pertanyaan derivatif dalam SFAS No 105 dan menetapkan sekuritas tersebut di bawah kategori instrumen keuangan. Kategori ini tidak hanya mencakup aset dan kewajiban tradisional seperti wesel tagih dan hutang obligasi, tetapi juga instrumen keuangan yang inovatif seperti forward contract, futures, option, dan assets swaps. Pengungkapan nilai wajar dari instrumen keuangan (baik diakui atau tidak) kemudian diberlakukan oleh SFAS No 107 ketika instrument tersebut dapat diestimasi nilai wajarnya. Akhirnya, dalam SFAS No 119, "Pengungkapan tentang Instrumen Keuangan Derivatif dan Nilai Wajar Instrumen Keuangan," perusahaan-perusahaan diharuskan untuk mengungkapkan informasi mengenai instrumen keuangan derivatif dan mengubah metode pengungkapan atas informasi tersebut. Pada tahun 1998, FASB menerbitkan SFAS No 133, "Akuntansi Instrumen Derivatif dan Aktivitas Lindung Nilai (Hedging)." Pernyataan ini menetapkan standar akuntansi dan pelaporan untuk instrumen keuangan derivatif dan instrumen keuangan serupa. Pernyataan ini mengharuskan entitas untuk mengakui semua derivatif sebagai aktiva atau kewajiban dalam laporan posisi keuangan, yang diukur berdasarkan nilai wajar. Jika kondisi tertentu terpenuhi, derivatif mungkin secara khusus dijadikan sebagai (a) suatu lindung nilai terhadap risiko perubahan dalam pengakuan nilai wajar aktiva atau kewajiban, atau perjanjian perusahaan, (b) suatu lindung nilai terhadap risiko variabel arus kas atas perkiraan transaksi, atau (c) suatu lindung nilai terhadap risiko mata uang asing atas investasi bersih pada kegiatan operasi luar negeri.

1. Untuk derivatif yang dijadikan sebagai lindung nilai terhadap risiko perubahan dalam pengakuan nilai wajar aktiva atau kewajiban, atau perjanjian perusahaan (disebut sebagai lindung nilai atas nilai wajar), keuntungan atau kerugian diakui dalam pendapatan pada periode perubahan bersamaan dengan kompensasi keuntungan atau kerugian atas item yang dilindungi nilainya. 2. Untuk derivatif yang dijadikan sebagai lindung nilai terhadap risiko variable arus kas atas perkiraan transaksi (disebut sebagai lindung nilai arus kas), keuntungan atau kerugian yang terjadi dilaporkan sebagai komponen dari pendapatan komprehensif lain (di luar pendapatan) dan diakui dalam pendapatan pada tanggal yang diproyeksikan atas perkiraan transaksi tersebut. 3. Untuk derivatif yang dijadikan sebagai lindung nilai terhadap risiko mata uang asing atas investasi bersih pada kegiatan operasi luar negeri, sebagian perubahan dalam nilai wajar yang setara dengan keuntungan atau kerugian transaksi mata uang asing dilaporkan dalam pendapatan komprehensif lain (di luar pendapatan) sebagai bagian dari penjabaran laporan keuangan secara kumulatif, setiap sisa perubahan dalam nilai wajar diakui dalam pendapatan. 4. Untuk derivatif yang tidak dijadikan sebagai lindung nilai, keuntungan atau kerugian diakui dalam pendapatan pada periode perubahan. Selain FASB, SEC juga membahas masalah akuntansi untuk derivatif dalam peraturan persyaratan pengungkapan yang baru dalam amandemen Peraturan S-X. Peraturan ini mengharuskan pengungkapan informasi secara kualitatif dan kuantitatif tentang risiko pasar oleh semua perusahaan yang terdaftar di SEC untuk periode tahunan yang berakhir setelah tanggal 15 Juni 1998. Risiko pasar didefinisikan sebagai risiko kerugian yang timbul dalam tingkat dan harga pasar sebagai akibat dari perubahan suku bunga, nilai tukar, harga komoditas, dan harga ekuitas yang tidak menguntungkan. Pengungkapan harus dirancang agar dapat memberikan informasi masa depan bagi investor mengenai eksposur perusahaan terhadap risiko pasar, seperti risiko yang berhubungan dengan perubahan suku bunga, nilai mata uang asing, harga komoditas, dan harga saham. Ini merupakan antisipasi bahwa informasi yang diberikan akan mengindikasikan risiko pasar yang akan dihadapi perusahaan dan bagaimana manajemen perusahaan melihat dan mengelola risiko pasar tersebut.

Restrukturisasi Hutang Bermasalah


Perusahaan kadang-kadang mengalami kesulitan membayar kewajiban jangka panjang mereka. Kesulitan-kesulitan ini seringkali menghasilkan perjanjian antara debitur dan kreditur yang memungkinkan debitur menghindari diri dari kebangkrutan. Perjanjian jenis ini disebut dengan restrukturisasi hutang bermasalah. Menurut SFAS No 15, "Akuntansi oleh Debitur dan Kreditur untuk Restrukturisasi Hutang Bermasalah", restrukturisasi hutang bermasalah terjadi ketika "kreditur, karena alasan ekonomi atau hukum yang berhubungan dengan kesulitan keuangan debitur, memberikan kelonggaran kepada debitur karena tidak memiliki pertimbangan lain." Restrukturisasi hutang bermasalah dapat mencakup, tetapi tidak terbatas pada, satu atau kombinasi dari berikut ini:

1. Modifikasi syarat-syarat hutang sebagai salah satu atau kombinasi dari: a. Penurunan suku bunga yang ditetapkan untuk sisa umur utang. b. Perpanjangan tanggal jatuh tempo atau tanggal ditetapkannya tingkat bunga yang lebih rendah dari tingkat pasar saat ini untuk utang baru dengan risiko yang sama. c. Penurunan nilai nominal atau jumlah utang jatuh tempo sebagaimana tercantum dalam instrumen atau perjanjian lainnya. d. Potongan / pengurangan bunga yang masih harus dibayar. 2. Penerbitan atau pemberian suatu kepemilikan saham kepada kreditur oleh debitur untuk membayar penuh atau sebagian utang kecuali kepemilikan saham diberikan sesuai dengan syarat yang ada untuk mengubah utang menjadi suatu kepemilikan ekuitas. 3. Transfer dari debitur ke kreditur atas piutang dari pihak ketiga, real estate, atau aset lainnya untuk membayar penuh atau sebagian utang.