Anda di halaman 1dari 13

I.

Jelaskan pengertian manajemen!

pemeriksaan

manajemen

dan

aktivitas

pemeriksaan

Pengertian sederhana dari audit manajemen adalah investigasi dari suatu organisasi dalam semua aspek kegiatan manajemen dari yang paling tinggi sampai dengan ke bawah dan pembuatan laporan audit mengenai efektifitasnya atau dari segi profitabilitas dan efisiensi kegiatan bisnisnya. Pengertian manajemen audit menurut Holmes dan Overmyer (1975): Manajemen audit mencakup penelitian dan evaluasi atas semua fungsi dari Manajemen, untuk memastikan bahwa pelaksanaan operasi perusahaan telah dijalankan dengan cara yang efektif dan efisien. Sedangkan menurut American Institute of Certified Public Accountant/AICPA: pemeriksaan manajemen adalah suatu penelaahan yang sistematis terhadap aktivitas suatu organisasi, atau suatu segmen tertentu daripadanya, dalam hubungannya dengan tujuan tertentu, dengan maksud untuk : Menilai kegiatan Mengidentifikasikan berbagai kesempatan untuk perbaikan Mengembangkan rekomendasi bagi perbaikan atau tindakan lebih lanjut. Aktivitas pemeriksaan manajemen sebagai berikut : a. Memeriksa dan menilai baik buruknya pengendalian atas akuntansi keuangan dan operasi lainnya. b. Memeriksa sampai sejauh mana hubungan para pelaksana terhadap kebijakan, rencana dan prosedur yang telah ditetapkan. c. Memeriksa sampai sejauh mana aktiva perusahaan dipertanggungjawabkan dan dijaga dari berbagai macam kerugian. d. Memeriksa kecermatan pembukuan dan data lainnya yang dihasilkan oleh perusahaan. e. Menilai prestasi kerja para pejabat atau pelaksana dalam menyelesaikan tanggung jawab yang telah ditugaskan.
II. Jelaskan perbedaan dan persamaan management audit dan finance audit!

III. Jelaskan istilah-istilah pemeriksaan operasional, pemeriksaan kepatuhan dan

performance audit! Audit Operasional adalah proses yang sistematis untuk mengevaluasi efisiensi dan efektivitas kegiatan suatu organisasi dalam prosesnya untuk mencapai tujuan organisasi tersebut, dan keekonomisan operasi organisasi yang berada dalam pengendalian manjemen serta melaporkan kepada orang-orang yang tepat atas hasil-hasil evaluasi tersebut beserta rekomendasi untuk perbaikan. Audit kepatuhan, yaitu audit yang bertujuan untuk menilai ketaatan suatu entitas atau pelaksanaan program/kegiatan tertentu terhadap ketentuan yang berlaku, meliputi peraturan perundang-undangan, kebijakan manajemen, rencana kerja dan anggaran, prosedur yang telah ditetapkan, perjanjian yang telah disepakati, dsb. Performance audit adalah sebuah audit dalam rangka mendapatkan gambaran mengenai kinerja sebuah organisasi/perusahaan secara keseluruhan. Performance audit lebih menekankan pada aspek kebutuhan organisasi dalam meningkatkan proses bisnis dan memenangkan kompetisi. Performance audit akan menghasilkan angka-angka yang dengan diolah menggunakan metode statistik akan memberikan gambaran langkahlangkah yang harus diambil oleh organisasi/perusahaan.

Performance audit adalah pengujian yang obyektif dan sistematis yang berkaitan dengan program, aktivitas, fungsi, sistem manajemen dan prosedur melalui assessmen dalam rangka pencapaian target yang ada untuk mendapatkan keuntungan secara ekonomi, efisiensi dan efektifitas penggunaan sumber daya yang ada.

IV. Kapan perusahaan membutuhkan internal audit? Pihak perusahaan harus menyadari signal yang mengindikasikan kebutuhan untuk melaksanakan audit manajemen. Berikut beberapa signal tersebut :
a.

Penurunan laba perusahaan secara kontinu dan signifikan. Audit manajemen berusaha mencari penyebab dan pemecahannya misalnya cost yang terlalu tinggi atau harga yang harus ditingkatkan. Turnover Sumber Daya Manusia (SDM) yang tinggi. Hal ini mengindikasikan inefisiensi dalam pengelolaan SDM, mungkin dalam hal kompensasi atau situasi kerja. Rasa kebutuhan yang tinggi dan mendesak dari manajemen untuk memperoleh keyakinan terhadap efektivitas, efisiensi dan ekonomisasi pengelolaan perusahaan termasuk akurasi laporan yang diterima. Performansi atau kinerja sebagian atau seluruh departemen di bawah standar. Standar yang dimaksud bisa berupa peraturan perusahaan, standar perusahaan, standar dan praktek industri (ISO 9000),prinsip organisasi dan manajemen, serta prinsip praktik yang sehat. Acquicition Audit yaitu saat akan mengakui sisiperusahaan lain.

b. c.

d.

e.

f. Masalah operasional khusus lainnya yang sulit dipecahkan oleh manajemen.

V. Bagaimana posisi internal audit dalam organisasi perusahaan?

Secara garis besar ada tiga alternatif posisi atau kedudukan dari Internal Auditor dalam struktur organisasi perusahaan yaitu:
1. Berada di bawah Dewan Komisaris.

Dalam hal ini staf internal auditing bertanggung jawab pada Dewan Komisaris. Ini disebabkan karena bentuk perusahaan membutuhkan pertanggungjawaban yang lebih besar, termasuk direktur utama dapat diteliti oleh internal auditor. Dalam cara ini, bagian pemeriksa intern sebenarnya merupakan alat pengendali terhadap performance manajemen yang dimonitor oleh komisiaris perusahaan. Dengan demikian bagian pemeriksa intern mempunyai kedudukan yang kuat dalam organisasi.
2. Berada di bawah Direktur Utama.

Menurut sistem ini staf internal auditor bertanggung jawab pada direktur utama. Sistem ini biasanya jarang dipakai mengingat direktur utama terlalu sibuk dengan tugas-tugas yang berat. Jadi kemungkinan tidak sempat untuk mempelajari laporan yang dibuat internal auditor.

3. Berada dibawah Kepala Bagian Keuangan. Menurut sistem ini kedudukan internal auditor dalam struktur organisasi perusahaan berada dibawah koordinasi kepala bagian keuangan. Bagian Internal auditor bertanggung jawab sepenuhnya kepada kepala keuangan atau ada yang menyebutnya sebagai Controller. Tapi perlu juga diketahui bahwa biasanya kepala bagian keuangan tersebut bertanggung jawab juga pada persoalan keuangan dan akuntansi.

Apabila salah satu sistem tersebut dipakai maka bentuk yang lain tidak ada.

VI. Jelaskan mengenai perusahaan berkembang dan tidak berkembang! Sertakan ciri-

cirinya! Sebutkan ciri-ciri dan kriteria bisnis going concern! Perusahaan berkembang

Perusahaan mengalami peningkatan penjualan, keuntungan, likuiditas, dan peningkatan rasio ekuitas terhadap utang, serta mulai membayar deviden. Perusahaan juga mulai melakukan diversifikasi dalam lini produk yang berhubungan erat. Net income (NI) yang diperoleh perusahaan bertambah besar Cash flow from operating (CFO) perusahaan mengalami peningkatan. Perusahaan melakukan pengeluaran investasi (CFI) yang sangat besar untuk mengembangkan dan mempertahankan pangsa pasar serta menguasai teknologi. Cash flow from financing (CFF) diperlukan lebih besar untuk meraih dana dalam membiayai sales growth dan profitability yang lebih tinggi Rasio nilai aktiva (assets in place) terhadap value of firm lebih tinggi

Perusahaan tidak berkembang

Memiliki growth opportunities yang terbatas, karena menghadapi persaingan yang semakin tajam dan kejenuhan akan permintaan barang. Permintaan akan produk yang diproduksi perusahaan sangat rendah. Perusahaan mengalami penurunan penjualan secara signifikan sehingga terjadi kerugian dan pembayaran dividen pun terhenti. Net income (NI) perusahaan akan mengalami penurunan Cash flow from operating (CFO) pada tahap ini sudah barang tentu akan semakin menurun atau bahkan negatif. Cash flow from investing (CFI) berguna bagi perusahaan untuk memberikan informasi seberapa besar dana yang diperoleh dari hasil penjualan aset-aset perusahaan untuk membayar pengembalian hutang kepada para debitur. Cash flow from financing (CFF) pada tahap ini juga berguna untuk memberikan informasi kepada perusahaan seberapa besar kemampuan perusahaan melunasi hutanghutangnya kepada para debitur.

Perusahaan Going concern Going concern (kelangsungan hidup) adalah kelangsungan hidup suatu badan usaha dan merupakan asumsi dalam pelaporan keuangan suatu entitas sehingga jika suatu entitas mengalami kondisi yang sebaliknya, entitas tersebut menjadi bermasalah (Petrone Ia, 2004). Going concern disebut juga sebagai kontinuitas yang merupakan asumsi akuntansi yang memperkirakan suatu bisnis akan berlanjut dalam jangka waktu yang tidak terbatas (Syahrul, 2000). Asumsi going concern berarti suatu badan usaha dianggap akan mampu mempertahankan kegiatan usahanya dalam jangka waktu panjang dan tidak akan dilikuidasi dalam waktu jangka pendek (Hany et. al., 2003). Opini audit going concern merupakan opini yang dikeluarkan auditor untuk memastikan apakah perusahaan dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya (SPAP. 2001). Para pemakai laporan keuangan merasa bahwa pengeluaran opini audit going concern ini sebagai prediksi kebangkrutan suatu perusahaan.

VII.

Jelaskan 3E dalam bisnis!

1. Ekonomis biasanya dikaitkan dengan biaya perolehan sumber daya. Ada dua prinsip ekonomi yang bisa digunakan, yaitu; a. Memperoleh sumber daya (barang/jasa) dalam jumlah tertentu dengan biaya (harga) yang serendah-rendahnya. Dalam hal ini batasannya adalah spesifikasi teknis yang harus dipenuhi, atau b. Mendapatkan sumber daya dalam jumlah yang sebanyak-banyaknya dengan biaya (harga) tertentu, dalam hal ini batasannya adalah dana.

2. Efisiensi biasanya dikaitkan dengan pemakaian sumber daya (volume), seperti pemakaian bahan baku, jumlah dan waktu tenaga kerja, pemakaian jam kerja mesin, bahan bakar, dan sebagainya, dibandingkan dengan standar yang telah ditetapkan untuk memperoleh output tertentu.
3. Efektivitas meliputi pencapaian hasil (output) dan manfaat yang diperoleh dari hasil

tersebut (outcome). Misalnya suatu proyek pembangunan gedung sekolah dikatakan efektif dari sisi output bila berhasil membangun sekolah sesuai bestek, dan efektif dari sisi outcome bila gedung tersebut benar-benar dimanfaatkan untuk kegiatan belajar mengajar sesuai rencana pembangunan yang ditetapkan sebelumnya.

VIII.

Jelaskan tujuan umum dan khusus internal audit dan eksternal audit! Tujuan Audit Umum Pada dasarnya tujuan umum audit adalah untuk menyatakan pendapat atas kewajaran, dalam semua hal yang material, posisi keuangan dan hasil usaha serta arus kas sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum. Untuk mencapai tujuan ini, auditor perlu menghimpun bukti kompeten yang cukup. Untuk menghimpun bukti kompeten yang cukup, auditor perlu mengidentifikasikan dan menyusun sejumlah tujuan audit spesifik untuk setiap akun laporan keuangan. Dengan melihat tujuan audit spesifik tersebut, auditor akan dapat mengidentifikasikan bukti apa yang dapat dihimpun, dan bagaimana cara menghimpun bukti tersebut. Tujuan audit khusus Tujuan audit khusus lebih diarahkan untuk pengujian terhadap pos pos yang terdapat dalam laporan keuangan yang merupakan asersi manajemen. Tujuan audit eksternal (external audit) adalah untuk mengembangkan daftar yang terbatas tentang peluang yang dapat memberi manfaat dan ancaman yang harus dihindari. Seperti yang dijelaskan oleh istilah terbatas, audit eksternal tidak ditujukan untuk mengembangkan daftar yang sangat panjang tentang semua faktor yang mungkin memengaruhi sutau bisnis; sebaliknya, ia ditujukan untuk mengidentifikasi variabel kunci yang menawarkan respons yang dapat dijalankan.

Tujuan internal Auditing adalah:


a. Membantu manajemen untuk mendapatkan administrasi perusahaan yang paling

efisien dengan memuat kebijaksanaan operasi kerja perusahaan. b. Menentukan kebenaran dari data keuangan yang dibuat dan kefektifan dari prosedur intern. c. Memberikan dan memperbaiki kerja yang tidak efisien. d. Membuat rekomendasi perubahan yang diperlukan dalam beberapa fase kerja. e. Menentukan sejauh mana perlindungan pencatatan dan pengamanan harta kekayaan perusahaan terhadap penyelewengan.

f. Menetukan tingkat koordinasi dan kerja sama dari kebijaksanaan manajemen.

IX. Jelaskan pendekatan dalam management audit!

Secara umum pendekatan audit internal dapat dikelompokkan dalam; A. Persiapan Penugasan Audit Kegiatan utama pada tahap ini adalah pengumpulan informasi umum tentang auditi, untuk ditelaah dalam rangka menentukan sasaran audit tentantif (tentative audit objectieves) atau perkiraan permasalahan yang perlu mendapat perhatian pada tahap audit pendahuluan. Secara keseluruhan aktivitas persiapan penugasan meliputi: penerbitan Surat Tugas, koordinasi dengan Inspektorat lain, pemberitahuan kepada Auditi, pengumpulan informasi umum, penyusunan rencana penugasan, penyiapan program audit untuk audit Pendahuluan. B. Audit Pendahuluan Pada tahap ini auditor berupaya memperoleh kerjasama dengan auditi, memperoleh gambaran yang lebih detil tentang auditi, serta mengumpulkan bukti awal dan melakukan berbagai penelaahan dengan memperhatikan sasaran audit tentantif (tentative audit objectives) dan mengikuti langkah-langkah pemeriksaan dalam program audit pendahuluan. Hasil pengumpulan bukti awal dan penelaahan tersebut digunakan untuk menentukan permasalahan yang perlu didalami (sasaran audit definitif/firm audit objectives) dalam rangka merencanakan prosedur audit selanjutnya. Secara keseluruhan aktivitas yang dilakukan oleh auditor pada audit pendahuluan ini, meliputi: pertemuan awal, observasi lapangan, penelaahan dokumen, evaluasi pengendalian internal, prosedur analitis, dan penyusunan program audit lanjutan. C. Pelaksanaan Pengujian Pada tahap ini dilakukan pendalaman pemeriksaan, dengan me-ngumpulkan bukti-bukti yang lebih banyak dan analisa yang lebih mendalam, dalam rangka memperkuat/melengkapi atribut terkait dengan permasalahan yang perlu mendapat perhatian sebagaimana diidentifikasi pada audit pen-dahuluan. Kegiatan pelaksanaan pengujian ini disebut juga dengan pemeriksaan lanjutan/perluasan pengujian /pengembangan temuan. D. Penyelesaian Penugasan Audit Pada tahap penyelesaian penugasan, auditor merangkum semua permasalahan yang ditemukan dalam suatu daftar permasalahan/temuan, kemudian mengkonfirmasikannya kepada pihak auditi untuk mendapatkan tanggapan dan pengembangan rekomendasi untuk persetujuan dan komitmen dari menajemen mengenai permasalahan yang dikemukakan dan pelaksanaan rekomendasi tersebut. Kegiatan konfirmasi dengan pihak auditi tersebut biasanya dilakukan dalam forum pertemuan akhir atau clossing conference. E. Pelaporan dan Tindak Lanjut 1. Pelaporan Penyusunan laporan hasil audit, yaitu aktivitas menuangkan rangkuman hasil audit kedalam laporan, biasanya dilakukan oleh Ketua Tim Audit, direviu oleh Supervisor dan

disetujui/ditanda tangani oleh Penanggung Jawab Audit. Laporan yang telah disetujui kemudian digandakan sesuai kebutuhan dan didistribusikan kepada pihak-pihak yang berhak menerimanya. 2. Pemantauan Tindak Lanjut Hasil Pemeriksaan Dalam laporan hasil audit diungkapkan pula berbagai permasalahan yang ditemukan dan rekomendasi yang perlu ditindaklanjuti oleh manajemen atau pihak lain yang terkait. Terhadap rekomendasi yang diberikan itu, auditor melakukan pemantauan dan evaluasi (monitoring dan evaluation). Maksudnya adalah untuk mencapai tujuan akhir kegiatan audit internal, yaitu adanya perbaikan, penertiban, penyempurnaan dan peningkatan kinerja auditi, sekaligus bermanfaat dalam upaya peningkatan pelayanan masyarakat dan kesejahteraan masyarakat.

X. Jelaskan pendekatan dalam audit manajement ( menurut Reider)!

a.

Planning (Perencanaan)

Pemeriksa mengumpulkan informasi mengenai jenis-jenis aktivitas perusahaan itu, sifat dan penting atau tidaknya aktivitas tersebut, dan informasi umum lainnya untuk membantu rencana di bagian awal pemeriksaan.

b.

Work Programs (Program kerja)

Pemeriksa menyiapkan program pemeriksaan operasional dan rencana kerja untuk pemeriksaan pendahuluan (preliminary review) dari setiap aktivitas yang akan diperiksa pada tahap perencanaan. Program pemeriksaan yang dikonsep dengan baik penting untuk mengadakan pemeriksaan operasional dengan efektif dan efisien. Setiap program harus dibuat khusus untuk tiap situasi dan tiap langkah kerja harus tertulis dengan jelas untuk setiap pekerjaan yang akan dikerjakan dan alasannya.

c.

Field Work (Kerja lapangan)

Pemeriksa menganalisa operasi-operasi untuk menentukan tingkat efektivitas dari manajemen dan kontrol yang bersangkutan. Fungsi-fungsi dan kontrol diuji pada operasi aktual, dengan penekanan tertentu pada daerah yang sulit untuk dikontrol dan mempunyai potensi yang tinggi akan kelemahan. Tujuan dari tahap ini adalah untuk menentukan apakah sebuah situasi membutuhkan peningkatan, apakah hal itu penting, dan apakah yang harus dilakukan dengan hal itu.

d. Development of Findings and Recommendations (Pengembangan temuan dan rekomendasi)

Berdasarkan atas daerah yang penting yang diidentifikasi selama tahap field work, temuan khusus dikembangkan untuk hal: a. Condition: Apa yang ditemukan pemeriksa? b. Criteria: Apa yang seharusnya terjadi? c. Effect: Apa pengaruhnya terhadap operasi perusahaan? d. Cause: Mengapa hal itu terjadi?
e. Recommendation: apa yang perlu dilakukan untuk memperbaiki situasi tersebut?

e. Reporting (Pelaporan) Pemeriksa mempersiapkan pelaporan tergantung pada hasil pemeriksaan. Tujuan laporan ini adalah untuk membawa hasil pemeriksaan untuk diperhatikan oleh orangorang yang berkepentingan atau bertanggungjawab atas temuan-temuan tersebut. Pada kenyataannya, sebagian besar atau keseluruhan dari temuan pemeriksaan seharusnya telah dilaporkan kepada manajemen, dengan tindakan perbaikan yang sudah dijalankan atau diselesaikan, sebelum laporan formal pemeriksa. Laporan ini menjadi rangkuman atas hasil-hasil pemeriksaan operasional.

XI. Jelaskan pengertian kode etik internal

auditor! Sertakan kegiatan-kegiatannya, tujuannya, komponennya! Jelaskan secara singkat perbedaan dan persamaan Internal dan eksternal audit dilihat dari cirinya!

Kode Etik Auditor Internal Prinsip


Auditor internal diharapkan menerapkan dan menegakkan prinsip-prinsip sebagai berikut:
1. Integritas

Integritas auditor internal membangun kepercayaan dan dengan demikian memberikan dasar untuk landasan penilaian mereka.
2. Objektivitas

Auditor internal menunjukkan objektivitas profesional tingkat tertinggi dalam mengumpulkan, mengevaluasi, dan mengkomunikasikan informasi tentang kegiatan atau proses yang sedang diperiksa. Auditor internal membuat penilaian yang seimbang dari semua keadaan yang relevan dan tidak dipengaruhi oleh kepentingan-kepentingan mereka sendiri atau pun orang lain dalam membuat penilaian
3. Kerahasiaan

Auditor internal menghormati nilai dan kepemilikan informasi yang mereka terima dan tidak mengungkapkan informasi tanpa izin kecuali ada ketentuan perundang-undangan atau kewajiban profesional untuk melakukannya.

4. Kompetensi

Auditor internal menerapkan pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman yang diperlukan dalam pelaksanaan layanan audit internal.

Aturan Perilaku
1. Integritas Auditor Internal: Harus melakukan pekerjaan mereka dengan kejujuran, ketekunan, dan tanggung jawab. Harus mentaati hukum dan membuat pengungkapan yang diharuskan oleh ketentuan perundang-undangan dan profesi. Sadar tidak boleh terlibat dalam aktivitas ilegal apapun, atau terlibat dalam tindakan yang memalukan untuk profesi audit internal atau pun organisasi. Harus menghormati dan berkontribusi pada tujuan yang sah dan etis dari organisasi. 2. Objektivitas Auditor Internal: Tidak akan berpartisipasi dalam kegiatan atau hubungan apapun yang dapat mengganggu, atau dianggap dianggap mengganggu, ketidakbiasan penilaian mereka. Partisipasi ini meliputi kegiatan-kegiatan atau hubungan-hubungan yang mungkin bertentangan dengan kepentingan organisasi. Tidak akan menerima apa pun yang dapat mengganggu, atau dianggap dianggap mengganggu, profesionalitas penilaian mereka. Harus mengungkapkan semua fakta material yang mereka ketahui yang, jika tidak diungkapkan, dapat mengganggu pelaporan kegiatan yang sedang diperiksa. 3. Kerahasiaan Auditor Internal:
Harus berhati-hati dalam penggunaan dan perlindungan informasi yang diperoleh

dalam tugas mereka.

Tidak akan menggunakan informasi untuk keuntungan pribadi atau yang dengan cara apapun akan bertentangan dengan ketentuan perundang-undangan atau merugikan tujuan yang sah dan etis dari organisasi. 4. Kompetensi Auditor Internal:
Hanya akan memberikan layanan sepanjang mereka memiliki pengetahuan,

keterampilan, dan pengalaman yang diperlukan.

Harus melakukan audit internal sesuai dengan Standar Internasional Praktik

Profesional Audit Internal.

Akan terus-menerus meningkatkan kemampuan dan efektivitas serta kualitas layanan mereka.

Persamaan auditor internal dan eksternal Dalam beberapa hal, auditor internal dan auditor eksternal memiliki kesamaan. Keduanya merupakan profesi yang memainkan peran penting dalam tata kelola organisasi serta memiliki kepentingan bersama dalam hal efektivitas pengendalian internal keuangan. Keduanya diharapkan memiliki pengetahuan yang luas tentang bisnis, industri, dan risiko strategis yang dihadapi oleh organisasi yang mereka layani. Dari sisi profesionalitas, keduanya juga memiliki kode etik dan standar profesional yang ditetapkan oleh institusi profesional masing-masing yang harus dipatuhi, serta sikap mental objektif dan posisi independen dari kegiatan yang mereka audit. Namun, selain berbagai kesamaan tersebut,audit internal dan audit eksternal adalah dua fungsi yang memiliki banyak pula perbedaan.

Perbedaan auditor internal dan eksternal


1. Perbedaan Misi. Tanggung jawab utama auditor eksternal adalah memberikan opini

atas kewajaran pelaporan keuangan organisasi, terutama dalam penyajian posisi keuangan dan hasil operasi dalam suatu periode. Mereka juga menilai apakah laporan keuangan organisasi disajikan sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang diterima secara umum, diterapkan secara konsisten dari periode ke periode, dan seterusnya. Opini ini akan digunakan para pengguna laporan keuangan, baik di dalam organisasi terlebih di luar organisasi, antara lain untuk melihat seberapa besar tingkat reliabilitas laporan keuangan yang disajikan oleh organisasi tersebut. Sementara itu, tanggung jawab utama auditor internal tidak terbatas pada pengendalian internal berkaitan dengan tujuan reliabilitas pelaporan keuangan saja, namun juga melakukan evaluasi desain dan implementasi pengendalian internal, manajemen risiko, dan governance dalam pemastian pencapaian tujuan organisasi. Selain tujuan pelaporan keuangan, auditor internal juga mengevaluasi efektivitas dan efisiensi serta kepatuhan aktivitas organisasi terhadap ketentuan perundang-undangan dan kontrak, termasuk ketentuan-ketentuan internal organisasi.

2. Perbedaan Organisasional. Auditor Internal merupakan bagian integral dari organisasi

di mana klien utama mereka adalah manajemen dan dewan direksi dan dewan komisaris, termasuk komite-komite yang ada. Biasanya auditor internal merupakan karyawan organisasi yang berasngkutan. Meskipun dalam perkembangannya pada saat ini dimungkinkan untuk dilakukan outsourcing atau co-sourcing internal auditor, namun sekurang-kurangnya penanggung jawab aktivitas audit internal (CAE) tetaplah bagian integral dari organisasi. Sebaliknya, auditor eksternal merupakan pihak ketiga alias

bukan bagian dari organisasi. Mereka melakukan penugasan berdasarkan kontrak yang diatur dengan ketentuan perundang-udangan maupun standar profesional yang berlaku untuk auditor eksternal.

3. Perbedaan Pemberlakuan. Secara umum, fungsi audit internal tidak wajib bagi

organisasi. Namun demikian untuk perusahaan yang bergerak di industri tertentu, seperti perbankan, dan juga perusahaan-perusahaan yang listing di Bursa Efek Indonesia diwajibkan untuk memiliki auditor internal. Perusahaan-perusahaan milik negara (BUMN) juga diwajibkan untuk memiliki auditor internal. Sementara itu, pemberlakuan kewajiban untuk dilakukan audit eksternal lebih luas dibandingkan audit internal. Perusahaan-perusahaan yang listing, badan-badan sosial, hingga partai politik dalam keadaan-keadaan tertentu diwajibkan oleh ketentuan perundang-undangan untuk dilakukan audit eksternal.

4. Perbedaan Fokus dan Orientasi. Auditor internal lebih berorientasi ke masa depan,

yaitu kejaidan-kejadian yang diperkirakan akan terjadi, baik yang memiliki dampak positif (peluang) maupun dampak negatif (risiko), serta bagaimana organisasi bersiap terhadap segala kemungkinan pencapaian tujuannya. Sedangkan auditor eksternal terutama berfokus pada akurasi dan bisa dipahaminya kejadian-kejadian historis sebagaimana terefleksikan pada laporan keuangan organisasi.

5. Perbedaan Kualifikasi. Kualifikasi yang diperlukan untuk seorang auditor internal tidak

harus seorang akuntan, namun juga teknisi, personil marketing, insinyur produksi, serta personil yang memiliki pengetahuan dan pengalaman lainnya tentang operasi organisasi sehingga memenuhi syarat untuk melakukan audit internal. Auditor Eksternal harus memiliki kualifikasi akuntan yang mampu memahami dan menilai risiko terjadinya errors dan irregularities, mendesain audit untuk memberikan keyakinan memadai dalam mendeteksi kesalahan material, serta melaporkan temuan tersebut. Pada kebanyakan negara, termasuk di Indonesia, auditor perusahaan publik harus menjadi anggota badan profesional akuntan yang diakui oleh ketentuan perundang-undangan.

6. Perbedaan Timing. Auditor internal melakukan review terhadap aktivitas organisasi

secara berkelanjutan, sedangkan auditor eksternal biasanya melakukan secara periodik/tahunan.

XII. Bagaimana internal audit yang efektif ( ada 6)?

Menelaah dan menilai kebaikan, memadai tidaknya dan penerapan sistem pengendalian manajemen, struktur pengendalian intern, dan pengendalian operasional lainnya serta mengembangkan pengendalian yang efektif dengan biaya yang tidak terlalu mahal, Memastikan ketaatan terhadap kebijakan, rencana dan prosedur-prosedur yang telah ditetapkan oleh manajemen

Memastikan seberapa jauh harta perusahaan dipertanggungjawabkan dan dilindungi dari kemungkinan terjadinya segala bentuk pencurian, kecurangan dan penyalahgunaan Memastikan bahwa pengelolaan data yang dikembangkan dalam organisasi dapat dipercaya Menilai mutu pekerjaan setiap bagian dalam melaksanakan tugas yang diberikan oleh manajemen Menyarankan perbaikan-perbaikan operasional dalam rangka meningkatkan efisensi dan efektifitas

XIII.

Jelaskan pengertian fraud dan error! Fraud (kecurangan) merupakan penipuan yang disengaja dilakukan yang menimbulkan kerugian tanpa disadari oleh pihak yang dirugikan tersebut dan memberikan keuntungan bagi pelaku kecurangan. Kecurangan umumnya terjadi karena adanya tekanan untuk melakukan penyelewengan atau dorongan untuk memanfaatkan kesempatan yang ada dan adanya pembenaran (diterima secara umum) terhadap tindakan tersebut.

Error yaitu kesalahan yang timbul akibat ketidak sengajaan yang mengakibatkan kesalahan teknis perhitungan pemindahan buku penerapan prinsip akuntansiyang tidak disengaja dilakukan.