Anda di halaman 1dari 4

Masalah Air Mani (Sperma) Kualitas air mani (sperma) merupakan hal yang penting untuk dievaluasi.

Evaluasi ini biasanya dilakukan di laboratorium dengan cara penampungan air mani dan di periksa di bawah mikroskop maksimal 2 jam sesudah dikeluarkan. Kriteria WHO untuk sperma yang normal adalah: 1. Volume (banyaknya) > 2 ml 2. Konsentrasi > 20 juta/ ml 3. Pergerakan (motilitas) > 50 % dengan pergerakan maju (dalam 60 menit sesudah ejakulasi) 4. Morfologi > 30 % bentuk normal 5. Sel-sel darah putih < 1 juta/ ml Jika tidak ditemukan kelainan baik dalam volume, konsentrasi, pergerakan, bentuk maupun jumlah sel darah putih dalam cairan sperma, berarti sang suami berada dalam kondisi sehat untuk reproduksinya. Sebab satu saja kelainan yang ditemukan dalam pemeriksaan sperma ini bisa sangat mempengaruhi kesuburan pasangan suami istri untuk menghasilkan keturunan. Masalah Vagina Kemampuan menyampaikan air mani ke dalam vagina sekitar leher rahim juga berpengaruh pada kesuburan. Masalah vagina yang dapat menghambat penyampaian ini adalah sumbatan atau peradangan. Sumbatan bisa disebabkan masalah kejiwaan (psikogen) disebut vaginismus atau dispareunia (merasa sakit waktu sanggama namun secara klinis tidak ditemukan kelainan maupun penyakit), sedangkan sumbatan anatomis dapat karena adanya kelaian bawaan atau kelainan yang didapat karena sebelumnya mengalami perlukaan atau penyakit kelamin yang lain. Radang di daerah vagina (vaginitis) karena kuman candida albicans atau trikomonas vaginalis hebat dapat merupakan masalah, bukan karena anti spermasidalnya, melainkan antisanggamanya. Masalah Leher Rahim (cerviks) Infertilitas yang berhubungan dengan faktor leher rahim dapat disebabkan oleh sumbatan saluran leher rahim (kanalis servikalis), lendir leher rahim yang abnormal, kelaianan letak atau arah (malposisi) dari leher rahim, atau kombinasinya. Terdapat berbagai keluhan anatomi leher rahim yang dapat berperan dalam infertilitas, yaitu cacat bawaan (atresia = tidak adanya saluran), polip leher rahim, sumbatan sebagian (stenosis) akibat trauma atau perlukaan, peradangan (servisitis) menahun dan lainnya. Biasanya baik tidaknya lendir leher rahim diperiksa dengan Sims Huhner tes (uji pasca sanggama) dan Kurzrock Miller test (uji geas objek). Masalah Rahim (uterus) Tidak dapat disangkal, kontraksi vagina dan rahim memegang peranan penting dalam transportasi spermatozoa ini. Pada manusia, hormon oksitosin tidak berpengaruh terhadap rahim yang tidak hamil akan tetapi hormon prostaglandin dalam air mani dapat membuat rahim berkontraksi secara ritmik. Ternyata, hormon prostaglandinlah yang memegang peranan penting dalam transportasi spermatozoa ke dalam rahim dan melewati penyempitan pada batas rahim dengan saaluran telur itu. Dengan demikian, dengan kurangnya hormon prostaglandin dalam air mani dapat merupakan masalah infertilitas. Masalah lain yang dapat mengganggu transportasi spermatozoa melalui rahim ialah distorsi kavum uteri sinekia (kelaiana bentuk rahim), mioma (tumor dalam rahim), atau polip; peradangan endometrium (di dinding rahim), dan gangguan kontraksi rahim. Kelainan-kelainan tersebut dapat mengganggu dalam hal implantasi

(perlekatan hasil pembuahan di dinding rahim), pertumbuhan intrauterin (dalam rahim) dan nutrisi serta oksigenasi janin sehinggga menyebabkan keguguran. Masalah Saluran Telur (Tuba Fallopy) Untuk mengetahui apakah da masalah di bagian ini di lakukan uji pertubasi atau uji Rubin bertujuan memeriksa potensi tuba. Dengan tes ini akan di nilai apakah ada penyumbatan atau penyempitan pada tuba yang mengakibatkan sel telur tidak dapat di temukan oleh sperma dan atau hasil pembuahan yang terjadi di tuba tidak dapat masuk ke rahim dan berimplantasi di sana. Masalah Kandung Telur (Ovarium) Dalam hal ini perlu dievaluasi apakah ovarium menghasilkan sel telur yang baik atau tidak. Terjadinya ovulasi (pelepasan sel telur) dapat diketahui dengan berbagai pemeriksaan. a.Pencatatan suhu basal dalam suastu kurve: Sesudah ovulasi terjadi kenaikan suhu basal disebabkan pengaruh hormon progesteron. b.Dengan pemeriksaan vaginal smear; pembentukan hormon progesteron menimbulkan perubahan-perubahan sitologis pada sel-sel superfisial. c.Pemeriksaan lendir leher rahim: adanya hormon progesteron menimbulkan perubahan sifat lendir leher rahim ialah lendir tersebut menjadi lebih kental, juga gambaran fem (daun pakis) yang terlihat pada lendir yang telah dikeringkan hilang. d.Pemeriksaan endometrium e.Pemeriksaan hormon seperti hormon estrogen, ICSH dan pregnandiol. Masalah Rongga Perut (Peritonium) Evaluasi rongga perut (peritonium) dengan metode yang dikenal dengan Laparoskopi diagnostik telah menjadi bagian integral terakhir pengelolaan infertilitas. Pada umumnya hal ini di lakukan untuk mendiagnosis kelainan yang samar, khususnya pada pasangan mandul yang berumur 30 tahun lebih, atau telah mengalami infertilitas selama 3 tahun lebih. Indikasi untuk melakukan laparoskopi diagnostik adalah: a.Apabila selama 1 tahun pengobatan belum terjadi kehamilan b.Kalau siklus haid tidak teratur, atau suhu basal badan monofasik (normalnya bifasik). c.Apabila istri pasangan mandul berumur 28 tahun lebih, atau mengalami infertilitas selama 3 tahun lebih. d.Kalau terdapat riwayat laparatomi (operasi rongga perut) sebelumnya. e.Kalau pernah dilakukan histerosalfingografi (pemeriksaan rahim dan saluran telur dengan memasukkan zat kontras dan kemudian di foto) dengan media kontras larut minyak. f.Kalau terdapat riwayat apendisitis (radang usus buntu). g.Kalau pertubasi berkali-kali abnormal. h.Kalau disangka endometriosis (kelainan dinding rahim) dan i.Kalau akan dilakukan inseminasi buatan Masalah imunologi

Lebih dari 20% pasangan dengan infertilitas yang tidak jelas, penyebabnya ada;ah gangguan sistem imun. Sistem imun memegang peranan yang besar dalam proses kesuburan (fertilitas). Untuk persiapan ovulasi dan implantasi, tubuh membutuhkan sel-sel tertentu dari sistem imun, contohnya, sel-sel inflamasi dibutuhkan untuk persiapan endometrium untuk implantasi. Tanpa sistem imun yang normal, proses reproduksi bisa terpengaruh, sehingga tidak terjadi kehamilan.

Antibodi antisperma (ABAS) (English : ASA) adalah sel-sel yang menyerang sperma normal. Jika ditubuh kita ada ABAS, maka sperma normal akan dianggap sebagai benda asing sehingga sperma akan diserang dan dirusak. Belum sepenuhnya dimengerti kenapa ABAS bisa timbul pada sebagian orang. Biasanya sperma terlindungi dari sistem imun dengan adanya lapisan pelindung yang disebut blood-testes barrier. Barrier (pelindung) ini mencegah sel-sel sistem imun agar tidak bisa bercampur dengan sel lainnya. Kadang-kadang , pembedahan atau cedera dapat mengganggu barrier ini, sehingga selsel sistem imun bisa kontak dengan sel sperma. ABAS pada laki2 yang subur angkanya sekitar 1% sedangkan pada laki2 yang infertil angkanya sekitar10%. Sedangkan laki2 yang pernah mengalami pembedahan saluran reproduksi angkanya bisa mencapai 70%. Kadang2 wanita juga bisa mengalami ABAS. Sekitar 5% wanita dengan infertilitas yang tak terjelaskan memiliki antibodi ini di dalam darahnya. Sehingga sperma akan mati sebelum sempat membuahi sel telur . Setiap laki2 maupun wanita berpotensi mengalami ini. Namun ada beberapa faktor yang membuat risiko terkena lebih tinggi yaitu pada pasien pembalikan vasektomi, kanker testis, biopsi testis, torsi testis dan infeksi. Terdapat bermacam2 test untuk mengecek keberadaan ABAS dalam tubuh: * Pemeriksaan darah Pada wanita, pemeriksaan darah biasa dipergunakan untuk memeriksa antibodi. * Uji paska senggama Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengecek ABAS pada cairan serviks (leher rahim). * Pemeriksan Sperma Pemeriksaan sperma adalah cara terbaik mengecek ABAS. Terdapat berbagai pengobatan yang ada untuk membantu pasangan yang mengalami masalah ABAS : * Kortikosteroid Obat ini bisa menurunkan produksi ABAS. * Intrauterine Insemination(IUI) IUI bisa membantu mengatasi masalah ABAS, karena sperma langsung mencapai sel telur tanpa melewati leher rahim. * In-Vitro Fertilization(IVF) IVF merupakan metode yang paling sukses untuk mengobati pasangan, Karena sperma langsung bertemu sel telur tanpa melewati rahim dan tuba (saluran telur)

Read more: http://www.drdidispog.com/2009/06/antibodi-antisperma.html#ixzz1jjSN7cVP