Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM FARMAKOLOGI I OBAT YANG MEMPENGARUHI SALURAN PENCERNAAN (ANTIDIARE)

Kelompok 3D Ghalib syukrilah (10060309115) Tristhy Novilia A (10060309117) Indah Abdilah (10060309118)

Nama Asisten: Fetri Lestari, S.Si., M.Si., Apt Hari/tanggal praktikum : Selasa/ 1 November 2011 Hari/tanggal pengumpulan: Senin/ 7 November 2011

LABORATORIUM TERPADU FARMASI UNIT D PROGRAM STUDI FARMASI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG 2011

OBAT YANG MEMPENGARUHI SALURAN PENCERNAAN (ANTIDIARE)

I.

TUJUAN 1. Mempunyai keterampilan dalam melakukan percobaan antidiare 2. Mengetahui sejauh mana antidiare dapat menghambat diare yang ditimbulkan oleh suatu pencahar.

II.

TEORI DASAR Diare adalah frekuensi dan likuiditas buang air besar (BAB) yang abnormal sehingga

penderita dapat mengalami kehilangan cairan dan elektrolit secara berlebihan yang terjadi karena frekuensi satu kali atau lebih buang air besar dengan bentuk tinja yang encer atau cair. (Sukandar, dkk, 2010), Menurut teori klasik, diare disebabkan oleh meningkatnya peristaltik usus, hingga pelintasan chymus sangat dipercepat dan masih mengandung banyak air pada saat meninggalkan tubuh sebagai tinja. Penelitian dalam tahun-tahun terakhir menunjukkan bahwa penyebab utamanya adalah bertumpuknya cairan di usus akibat terganggunya resorpsi air atau/dan terjadinya hipersekresi (Tjay,2007). Terdapat 4 mekanisme patofisiologis yang mengganggu keseimbangan air dan elektrolit yang mengakibatkan terjadinya diare, yaitu: 1. Perubahan transport ion aktif yang disebabkan oleh penurunan absorpsi natrium atau peningkatan sekresi klorida 2. Perubahan motilitas usus 3. Peningkatan osmolaritas luminal 4. Peningkatan tekanan hidrostatik jaringan (Sukandar, dkk, 2010). Berdasarkan mekanisme di atas, pengelompokan diare secara klinik, yaitu: 1. Secretory diarrhea, terjadi ketika senyawa yang strukturnya mirip meningkatkan sekresi atau menurunkan absorpsi air dan elektrolit dalam jumlah besar. 2. Osmotic diarrhea, disebabkan oleh absorpsi zat-zat yang mempertahankan cairan intestinal. 3. Exudative diarrhea, disebabkan oleh penyakit infeksi saluran pencernaan yang mengeluarkan mukus, protein atau darah ke dalam saluran pencernaan.

4. Motilitas usus dapat berubah dengan mengurangi waktu kontak di usus halus, pengosongan usus besar yang prematur dan penumbuhan bakteri yang

berlebihan.(Sukandar, dkk, 2010). Patofisiologi dasar terjadinya diare adalah absorpsi yang berkurang dan atau sekresi yang meningkat. Adapun mekanisme yang mendasarinya adalah mekanisme sekretorik, mekanisme osmotik dan gangguan motalitas usus. (Anonim 2, 2008). Gangguan osmotik, akibatnya terdapat pada makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotik dalam rongga usus meningkat sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit kedalam rongga usus. Isi rongga usus yang berlebihan akan merangsang usus untuk mengeluarkanya sehingga timbul diare. (Nenk, 2008). Gangguan sekresi, akibatnya pada rangsang tertentu, misalnya toksin pada dinding usus akan terjadi peningkatan sekresi, air dan elektrolit kedalam rongga usus selanjutnya timbul diare karena terdapat peningkatan isi rongga usus. (Nenk, 2008). Gangguan motalitas usus, hiperperistaltik akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus menyerap makan seingga timbul diare. Sebaliknya bila pristaltik menurun akan mengakibatkan bakteri tumbuh berlebihan selanjutnya timbul diare pula. (Nenk, 2008). Berdasarkan penyebabnya dapat dibedakan beberapa jenis gastroenteritis dan diare sebagai berikut: a. Diare akibat virus, misalnya influenza perut dan travellers diarrhoea yang disebabkan antara lain oleh rotavirus dan adenovirus. Virus melekat pada sel sel mukosa usus yang menjadi rusak sehingga kapasitas resorpsi menurun dan sekresi air dan elektrolit memegang peranan. b. Diare bakterial invasif (bersifat menyerbu). Kuman pada keadaan tertentu menjadi invasive dan menyerbu ke dalam mukosa, dimana terjadi perbanyakan diri sambil memebentuk toksin. Enterotoksin ini dapat diresorpsi ke dalam darah dan menimbulkan gejala hebat, seperti demam tinggi, nyeri kepala dan kejang-kejang. c. Diare parasiter akibat protozoa seperti Entamoeba histolytica dan Giardia lamblia. Yang pertama membentuk enterotoksin pula. d. Akibat penyakit, misalnya Irritable Bowel Syndrome (ISM), kanker colon dan infeksiHIV. Juga akibat gangguan-gangguan seperti alergi terhadap makanan/minuman, protein susu sapi dangluten serta intoleransi untuk laktosa karena defisiensi enzim lactase.

e. Akibat obat, yaitu digoksin, kinidin, garam-Mg dan litium, sorbitol, beta-blockers, perintang-ACE, reserpin, sitostatika dan antibiotika berspektrum luas amoksisilin, sefalosporin, tetrasiklin). f. Akibat keracunan makanan. Keracunan makanan didefinisikan sebagai penyakit yang besifat infeksi atau toksis dan diperkirakan atau disebabkan oleh mengkonsumsi makanan atau minuman yang tercemar (Tjay,2007). Pengobatan Diare Prinsip pengobatan diare adalah: Mencegah pengeluaran air berlebihan, elektrolit dan gangguan asam basa Menyembuhkan gejala Mengatur gangguan sekunder penyebab diare (Sukandar, dkk, 2010) Berdasarkan khasiat farmakologisnya obat-obat antidiare dapat pula dibagi dalam 5 golongan besar, yaitu obat-obat adsorben, obat-obat antisekretorik, obat-obat antimotilitas (antiperistaltik), obat-obat antikolinergik, dan obat-obat antimikroba. (Sunoto, Tanpa tahun). 1. Obat-obat adsorben Termasuk ke dalam golongan obat-obat adsorben atau pengeras tinja ini adalah kaolin, pektin, campuran kaolin-pektin, karbon aktif, tabonal, magnesium aluminium silikat, dan sebagainya. Khasiat obat-obat ini adalah mengikat atau menyerap toksin, bakteri dan hasil-hasil metabolismenya, melapisi permukaan mukosa usus sehingga toksin dan mikroorganisme tidak dapat merusak serta menembus mukosa usus. (Sunoto, Tanpa tahun). Obat-obat tradisional seperti daun jambu, jambu, salak, gambir, kunir dan obat tradisional lainnya kiranya juga mengandung bahan adsorben ini terutama tanin. (Sunoto, Tanpa tahun). 2. Obat-obat antisekretorik Penyerapan cairan dan elektrolit terjadi di daerah epitel jonjot usus sedangkan sekresi cairan dan elektrolit terjadi di daerah kripta. Dalam keadaan normal (sehat) volume cairan dan elektrolit yang diserap dan disekresikan kurang lebih seimbang. Tetapi bila terdapat infeksi oleh bakteri-bakteri yang mengeluarkan toksin (misal : heat labile toxin dari Enterotoxigenic E. coli atau cholera enterotoxin) maka aktivitas enzim adenil siklase dapat dipengaruhi sehingga menghasilkan cAMP (cyclic Adenosine Monophosphate) yang berlebihan. Absorpsi air dan elektrolit akan dihambat oleh cAMP sedangkan sekresi air dan elektrolit akan dirangsang sehingga akan menyebabkan diare sekretorik yang hebat (profuse diarrhoea). (Sunoto, Tanpa tahun). (ampisilin,

Toksin lain seperti heat stable toxin dari ETEC juga akan menyebabkan diare sekretorik melalui perubahan aktivitas enzim guanil siklase yang dapat menghasilkan peningkatan cGMP (cyclic Guanosine Monophosphate). Obat-obat anti inflamasi seperti asetosal (Aspirin), indometasin, bismut subsalisilat dan glukokortikoid termasuk obat antisekretorik karena mempunyai khasiat yang berlawanan dengan cAMP dan cGMP yaitu meningkatkan penyerapan air dan elektrolit di daerah epitel dan menghambat sekresi air dan elektrolit di daerah kripta. Klorpromazin, suatu major tranquilizer dan kolestiramin, suatu anion exchange resin termasuk pula obat anti sekretorik yang kuat. (Sunoto, Tanpa tahun). Asetosal dapat mengurangi volume tinja penderita diare. Mekanisme berkurangnya diare oleh asetosal disebabkan karena obat ini dapat menghambat sekresi prostaglandin (PGF) sehingga kadarnya di dalam plasma rendah, karenanya asetosal disebut pula Prostaglandin synthetase inhibitor (selain asetosal juga loperamid). (Sunoto, Tanpa tahun). 3. Antimotilitas (anti peristaltik) Obat-obat derivat opium seperti tingtur opiat, kodein fosfat dan opiat sintesis seperti difenoksilat, difenoksin dan loperamid selain mempunyai efek antimotilitas juga mempunyai efek antisekretorik. Di antara obat-obat tersebut di atas loperamid adalah derivate opium yang paling banyak digunakan. Loperamid dalam percobaan terbukti dapat meningkatkan absorpsi air, natrium dan klorida. Obat ini juga dapat menghambat toksin kolera, heat stable enterotoxin ETEC dan prostaglandin. Selain itu loperamid juga berperan pada metabolisme kalsium dalam membran sel serta penglepasan neurotransmitor. (Sunoto, Tanpa tahun). 4. Antikolinergik Obat-obatan golongan ini kurang bermanfaat pada pengobatan diare. Trisiklamol misalnya, mempunyai efektivitas yang lebih rendah daripada kodein dalam pengobatan diare kronik non spesifik. Begitu pula mefenzolat bromida tidak lebih baik daripada plasebo dalam pengobatan diare akut. (Sunoto, Tanpa tahun). 5. Antimikroba Antimikroba atau antibiotika dan anti parasit hanya berguna untuk diare yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Diare karena sebab lain seperti sindroma malabsorpsi, infeksi oleh virus, infeksi oleh parasit selain oleh entamuba histolitika dan giardia larnblia (misal jamur) tidak dapat disembuhkan oleh antibiotika. Sebagian besar etiologi diare adalah bukan oleh infeksi bakteri, karena itu hanya sebagian kecil saja yang memerlukan antibiotika. (Sunoto, Tanpa tahun). Beberapa mekanisme obat antidiare adalah melapisi usus yang teriritasi dan bekerja sebagai protektif (demulcents), mengabsorpsi substansi yang toxic dari usus (adsorbents) atau

menyusutkan gembung atau jaringan yang meradang (astringent). Pada situasi tertentu, sedative dan antispasmodik bisa diberikan. (Anonim 3, 2008). Oleum ricini Oleum ricini (minyak jarak) merupakan trigliserida yang berkhasiat sebagai laksansia. Di dalam usus halus, minyak ini mengalami hidrolisis dan menghasilkan asam risinoleat, suatu asam lemak tak jenuh. Di dalam usus halus sebagian zat ini diuraikan oleh enzim lipase dan menghasilkan asam risinoleat yang memiliki feel stimulasi terhadap usus halus. Yaitu merangsang mukosa usus, sehingga mempercepat gerak peristaltiknya dan mengakibatkan pengeluaran isi usus dengan cepat. Setelah 2-8 jam timbul defekasi yang cair. Dosis oleum ricini adalah 2 sampai 3 sendok makan (15 sampai 30 ml), diberikan sewaktu perut kosong (Tjay, 2007).

III. ALAT DAN BAHAN

Alat Toples untuk pengamatan Alat suntik 1 ml Sonde oral mencit Timbangan mencit Timbangan elektrik Oleum Ricini

Bahan

Hewan uji Mencit putih sekelamin

Loperamid dosis I & II NaCl Fisiologis CMC Kertas saring yang telah ditimbang

Stop watch

IV. PROSEDUR PERCOBAAN Mencit yang digunakan sebanyak 4 ekor. Semua mencit diberi bahan uji dengan rute oral, dengan pembagian sebagai berikut: y y Mencit 1 : kontrol negatif (diberi CMC), 30 menit kemudian diberi air Mencit 2 : kontrol positif (diberi CMC), 30 menit kemudian diberi oleum ricini y y Mencit 3 : diberi loperamid dosis I, 30 menit kemudian diberi oleum ricini Mencit 4 : diberi loperamid dosis II, 30 menit kemudian diberi oleum ricini

Tiap mencit dimasukkan kedalam toples yang telah diberi alas kertas saring yang beratnya telah ditimbang. Kemudian lakukan pengamatan frekuensi defekasi, konsistensi feses setiap selang 5 menit selama 60 menit. Dan pengamatan berat feses dilakukan dalam tiap selang 15 menit. Konsistensi feses dinyatakan dalam bentuk skor sebagai berikut:

Simbol N LN L LC C

Konsistensi Normal Lembek Normal Lembek Lembek Cair Cair

Skor 0 1 2 3 4

(Subarnas dkk,2008)

VI. PEMBAHASAN Praktikum kali ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana obat antidiare dapat menghambat diare yang ditimbulkan oleh pencahar. Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan jumlah tinja yang lebih banyak dari biasanya (normal 100 - 200 ml per jam tinja), dengan tinja berbentuk cairan atau setengah cair (setengah padat), dapat pula disertai frekuensi defekasi yang meningkat (Mansjoer, Arif., et all. 1999). Menurut WHO (1980), diare adalah buang air besar encer atau cair lebih dari tiga kali sehari. Pada praktikum kali ini keempat mencit diberi perlakuan berbeda, yaitu sebagai kontrol negatif, kontrol positif (diberi inductor), mencit uji yang diberi antidiare dosis I dan induktor, serta mencit uji yang diberi antidiare dosis II dan induktor. Pengamatan kemampuan antidiare dalam menghambat diare dilakukan dengan mengamati frekuensi defekasi, konsistesi feses, dan berat feses pada mencit. Frekuensi defekasi menyatakan banyaknya defekasi (buang air besar) pada mencit. Faktor-Faktor yang mempengaruhi defekasi, diantaranya umur, diet, cairan (fluid), tonus otot, faktor psikologi, gaya hidup, obat-obatan (medikasi), prosedur diagnostik, anastesi dan pembedahan, nyeri, iritan, serta gangguan saraf sensorik dan motorik (Anonim 4, 2009). Konsistensi feses pada praktikum ini dinyatakan dengan skor (seperti pada data pengamatan). Dalam keadaan normal, tinja mengandung 60-90% air, pada keadaan diare airnya bisa mencapai lebih dari 90% (anonim 1, tanpa tahun). Sedangkan berat feses ditentukan dengan menimbang feses yang dikeluarkan oleh mencit. Obat yang digunakan sebagai antidiare kali ini adalah Loperamid. Sedangkan yang bertindak sebagai inductor nya adalah oleum ricini. Oleum ricini digunakan sebagai induktor karena merupakan salah satu obat pencahar atau laksansia, yaitu zat-zat yang dapat menstimulasi gerakan peristaltik usus sebagai refleks dari rangsangan langsung terhadap dinding usus dan dengan demikian menyebabkan atau mempermudah buang air besar (defekasi) dan meredakan sembelit (Tjay,2007). Oleum ricini mengandung trigliserida dari asam risinoleat yang akan mengalami hidrolisis di dalam usus halus oleh lipase pankreas menjadi gliserida dan asam risinoleat. Sebagai surfaktan anionik, olium rinici bekerja mengurangi absorpsi neto cairan dan elektrolit serta menstimulasi peristaltik usus, sehingga berkhasiat sebagai laksansia yang mampu merangsang mukosa usus dan mempercepat gerak peristaltiknya. Sehingga frekuensi defekasi

defekasi pada mencit akan meningkat. Setelah 2-8 jam akan timbul defekasi yang cair (Tjay,2007). Kelompok kontrol negatif digunakan sebagai pembanding dalam praktikum ini. Mencit kontrol negatif merupakan mencit normal yang tidak diberikan antidiare maupun induktor. Mencit ini hanya diberi CMC dan air untuk menyamakan perlakuan terhadap mencit lain. Kelompok kontrol positif merupakan mencit yang diberikan CMC kemudian diberikan induktor diare (oleum ricini). Dari hasil pengamatan untuk mencit 1 yang bertindak sebagai kontrol negatif, mencit hanya mengalami defekasi sebanyak 4x dengan konsistensi yang masih normal pada waktu ke 50-55 menit. Untuk menit selajutnya, hingga akhir pengamatan, mencit tidak melakukan defekasi kembali. Defekasi yang terjadi pada mencit merupakan hal yang normal terjadi, bukan karena pengaruh CMC dan air. CMC merupakan larutan yang tidak memberikan efek fisiologis trhadap tubuh. Pada mencit 2 yang bertindak sebagai kontrol positif, yaitu yang diberikan oleum ricini, hingga menit ke 120 mencit masih mengalami defekasi normal, pada menit ke-135 hingga menit ke-230 barulah mencit mengalami peningkatan defekasi hingga 8x dgn skor konsistensi 2 (lembek). Hal ini menunjukkan bahwa oleum ricini memberikan efek defekasi (pencahar). Hasil pengamatan sesuai dengan teori yang mengatakan bahwa oleum ricini akan menimbulkan defekasi yang cair setelah 2-8 jam. Pada menit ke-235 hingga menit ke-255 mencit sudah berhenti berdefekasi. Kemungkinan hal ini terjadi karena dosis oleum ricini yang terdapat dalam tubuh mencit sudah habis bereaksi sehingga usus halus pada mencit tidak terangsang lagi untuk berdefekasi. Pada kelompok mencit uji, selain diberikan induktor juga diberikan antidiare. Obat antidiare diberikan terlebih dahulu pada mencit, karena mencit memiliki mekanisme pertahanan tubuh sehingga apabila diberi induktor terlebih dahulu dikhawatirkan efek antidiare yang dihasilkan bukan berasal dari obat antidiare tetapi akibat adanya mekanisme pertahanan. Selang waktu (30 menit) pemberian induktor setalah pemberian antidiare dilakukan karena pembeerian antidiare dilakukan secara per oral, yang membutuhkan waktu absorbsi dan distribusi yang lebih lama dalam tubuh mencit. Obat antidiare merupakan obat yang digunakan untuk menghentikan diare, tetapi tidak menghilangkan penyebabnya. Adapun antidiare yang digunakan pada praktikum ini, yaitu loperamid.

Loperamid adalah opoid yang paling tepat untuk efek lokal pada usus, karena tidak menembus ke dalam otak. Oleh karena itu, loperamid hanya mempunyai sedikit efek sentral dan tidak mungkin menyebabkan ketergantungan (Neal, 2005). Loperamid memiliki khasiat obstipasi kuat dengan mengurangi peristaltic. Zat ini mampu menormalisasi keseimbangan resorpsi-sekresi dari sel-sel mukosa, yaitu memulihkan sel-sel yang berada dalam keadaan hipersekresi ke keadaan resorpsi normal kembali (Tjay, 2007). Loperamid tidak diserap dengan baik melalui pemberian oral dan penetrasinya ke dalam otak tidak baik, sifat-sifat ini menunjang selektifitas kerjanya. Kadar puncak dalam plasma dicapai dalam waktu 4 jam sesudah diminum obat. Masa laten yang lama ini disebabkan oleh motilitas saluran cerna dan karena obat menglamai sirkulasi enterohepatik (Dewoto, 2007). Pada kelompok uji, seharusnya terjadi efek antidiare yang ditandai dengan penurunan frekuensi defekasi, peningkatan konsistensi feses, dan penurunan berat feses. Adanya efek antidiare tersebut seharusnya dapat dibandingkan kelompok kontol positif yang hanya diberikan induktor. Loperamid yang digunakan pada praktikum tersedia dalam 2 dosis, di mana konsentrasi dosis II lebih tinggi dari dosis I. Peningkatan efek obat pada umumnya sebanding peningkatan dosis obat. Oleh karena itu, seharusnya mencit yang diberikan loperamid dosis II akan memberikan efek antidiare yang lebih cepat dan kuat dibanding mencit yang diberi loperamid dosis I. Terdapat penyimpangan pada hasil pengamatan kali ini sehingga tidak dapat dilihat perbandingan efektifitas loperamid dosis I dan dosis II sebagai antidiare. Berdasarkan data pengamatan pada mencit uji 3 yang diberi loperamid I, pada menit ke-15 dan menit ke-220 mencit mengalami defekasi sebanyak 2x namun dengna konsistensi yang masih normal. Sedangkan pada mencit 4 yang diberi loperamid dosis II, defekasi terjadi mulai menit ke-105 hingga menit ke-120 yang rata-rata jumlah frekuensi nya adalah 1x dengan konsistensi normal dan bobot feses seberat 0,0532 gram. Pada menit ke-200 defekasi terjadi sebanyak 3x dengan konsistensi cair, selanjutnya mencit tidak melakukan defekasi kembali. Seharusnya semakin lama waktu, maka frekuensi defekasi akan menurun, konsistensi dan bobot feses meningkat. Karena mekanisme kerja Loperamide memperlambat motilitas saluran cerna dan mempengaruhi pergerakan air dan elektrolit di usus besar. Pada manusia, Loperamide memperpanjang waktu transit isi saluran cerna. loperamid menurunkan volum

feses, meningkatkan viskositas dan kepadatan feses dan menghentikan kehilangan cairan dan elektrolit. Namun hasil pengamatan pada mencit 3 dan 4 djika dibandingkan dengan kontrol positif menunjukkan bahwa loperamid memiliki efek antidiare karena dapat melindungi mencit dari efek oleum ricini yang dapat menyebabkan diare, yang ditunujukkan dengan sedikitnya frekuensi defekasi serta konsistensi feses jikan dibandingkan dengan mencit kontrol positif. Data hasil pengamatan yang diperoleh tidak dapat menggambarkan kemapuan antidiare dalam menghambat diare. Adanya penyimpangan data pengamatan dapat disebabkan oleh berbagai faktor, di antaranya kesalahan pengamatan (human error), kondisi tubuh mencit, ketidaktepatan dosis obat atau indikator diare, faktor lingkungan, dan faktor lainnya yang mempengaruhi percobaan. Adanya keterbatasan waktu juga menghambat proses pengamatan. Contoh antidiare yang berasal dari bahan alam, yaitu daun jambu biji. Daun jambu biji memiliki efek antidiare karena adanya kandungan tannin. Tannin bersifat mengendapkan zat putih telur dan berkhasiat adstrinegns, yaitu dapat meringankan diare dengan menciutkan selaput lender usus (Tjay,2007). Kondisi dehidrasi sering terjadi ketika seseorang mengalami diare. Maka WHO mengajurkan tindakan pertama yang dapat dilakukan untuk mencegah dan mengatasi keadaan dehidrasi adalah dengan rehidrasi oral atau ORS (Oral Rehydration Solution). ORS adalah suatu larutan dari campuran NaCl 3,5 g, KCl 1,5 g. Na-trisitrat 2,5 g, dan glukosa 20 g dalam 1 liter air. Glukosa dapat menstimulasi secara aktif transport Na dan air melalui dinding usus. Dengan demikian resorpsi air dalam usus halus meningkat 25 kali. VII. KESIMPULAN y Meningkatnya frekuensi defekasi, konsistensi feses yang menurun dan bobot feses yang meningkat menunjukkan keadaan diare. y Oleum ricini memiliki efek laksansia (obat pencahar) yang dapat menyebabkan diare. Dapat terlihat pada mencit kontrol positif. y y y Loperamid mampu memberikan proteksi terhadap efek dari oleum ricini. Loperamid memiliki khasiat efek antidiare Loperamid dosis II memiliki efek antidiare yang lebih kuat dibanding loperamid dosis I

DAFTAR PUSTAKA Anonim 1, Penyebab Diare http://medicastore.com/diare/penyebab_diare.htm [diakses ,5 November 2011] Anonim 2. 2008. Antidiare. http://blogkita.info/anti-diare/ [diakses, 4 November 2011] Anonim 3. 2008. Obat Diare. http://medicastore.com/apotik_online/obat_pencernaan/obat_diare.htm [diakses 4 November 2011] Anonim 4. 2009. Feses Lembek dan Masalah Defekasi. http://kliniksehat.com/index.php?option=com_content&task=view&id=230&Itemid= 18 [diakses 4 November 2011] Dewoto, Hedi R. 2007. Analgesik Opiod dan Antagonis-Farmakologi dan Terapi edisi 5. Jakarta: Fakultas kedokteran-UI Mansjoer, Arif., et all. (1999). Kapita Selekta Kedokteran. Fakultas Kedokteran UI : Media Aescullapius. Neal, M.J. 2005. At A Glance Farmakologi Medis. Penerbit Buku EGC. Jakarta Nenk. 2008. Diare http://www.lenterabiru.com/2008/12/diare.htm [diakses, 4 November 2011]. Sukandar, Elin Yulinah, dkk. 2010, ISO Farmakoterapi. Penerbit buku : PT. ISFI. Jakarta Sunoto. Tanpa tahun. Antidiare. http://docs.google.com/ viewer?a=v&q=cache:obtrando.files.com/2010/09/anti-diare[diakses, 4 November 2011] Tjay, Tan Hoan dan Kirana Rahardja. 2007. Obat-obat Penting edisi keenam. Jakarta: Elex Media Komputindo