Anda di halaman 1dari 30

ANGGARAN DASAR ORGANDA MUKADIMAH

Bahwa dalam pembangunan nasional yang pada hakekatnya adalah pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan masyarakat Indonesia seluruhnya, kemerdekaan warga Negara Republik Indonesia untuk berserikat atau berorganisasi dijamin oleh UUD 1945 (dan perubahannya). Bahwa dalam usaha untuk lebih meningkatkan pembangunan dibidang ekonomi khususnya dibidang transportasi yang merupakan bagian penting, diperlukan langkahlangkah untuk terus mengembangkan iklim usaha yang sehat, meningkatkan pembinaan dunia usaha, mengembangkan dan mendorong pemerataan kesempatan yang seluas-luasnya dari masyarakat pengusaha angkutan untuk ikut serta dalam pelaksanaan pembangunan nasional berdasarkan Pancasila dan UUD 19945 (dan perubahannya). Bahwa karena pembinaan dunia angkutan diarahkan untuk menciptakan tata hubungan yang mendorong kerjasama yang serasi maka organisasi diharapkan mampu memegang peranan yang besar untuk mewujudkan pemerataan kesejahteraan rakyat, memperkokoh kesatuan dan persatuan bangsa serta meningkatkan ketahanan nasional, sehingga organisasi harus bebas dari pengaruh dan kepentingan politik manapun dan merupakan organisasi profesi. Untuk mencapai tujuan tersebut maka para pengusaha nasional angkutan bermotor di jalan yang meliputi seluruh Wilayah Tanah Air Indonesia memandang perlu untuk mempersatukan diri dalam satu organisasi sebagai sarana untuk menyalurkan aspirasi para pengusaha angkutan, membina dan mengembangkan dunia usaha angkutan serta sebagai mitra Pemerintah didalam mensukseskan pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila. Atas dasar pemikiran-pemikiran di atas, serta dengan Ridho Tuhan Yang Maha Esa, dan dijiwai oleh Hikmah Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan maka para pengusaha nasional angkutan bermotor di jalan secara sadar dan bertanggungjawab sejak tanggal 30 Juni 1962 menyatukan diri dalam suatu wadah organisasi profesi dengan nama Organisasi Pengusaha Nasional Angkutan Bermotor di Jalan disebut ORGANDA .

BAB I NAMA, WAKTU DIDIRIKAN DAN TEMPAT KEDUDUKAN Pasal 1 Nama Organisasi ini bernama Organisasi Pengusaha Nasional Angkutan Bermotor di Jalan, disebut ORGANDA. Pasal 2 Waktu Didirikan Organisasi ini didirikan pada tanggal 30 Juni 1962 di Selekta (Malang) untuk jangka waktu yang tidak ditentukan, berasal dari peleburan beberapa organisasi Angkutan Umum Nasional yang ada di Indonesia. Pasal 3 Tempat Kedudukan (1) (2) Dewan Pimpinan Pusat ORGANDA Berkedudukan di Ibukota Negara Republik Indonesia. Dewan Pimpinan Daerah ORGANDA berkedudukan di Ibukota Provinsi yang bersangkutan atau di salah satu pusat kegiatan ekonomi di provinsi yang bersangkutan. Dewan Pimpinan Cabang/Unit ORGANDA berkedudukan di Ibukota Kota / Kabupaten yang bersangkutan atau disalah satu pusat kegiatan ekonomi di Kota / Kabupaten yang bersangkutan. BAB II KEDAULATAN Pasal 4 Kedaulatan organisasi berada ditangan anggota dan dilaksanakan sepenuhnya oleh musyawarah Nasional. BAB III ASAS, TUJUAN, BENTUK DAN SIFAT Pasal 5 Asas Organisiasi ini berasaskan Pancasila. Pasal 6 Tujuan Organisasi ini bertujuan untuk membina dan mengembangkan kemampuan serta profesionalisme para anggota, menuju terwujudnya dunia usaha angkutan jalan di Indonesia yang kuat, efisien dan berdaya saing tinggi.

(3)

Pasal 7 Bentuk ORGANDA adalah organisasi profesi yang merupakan wadah Para Pengusaha Angkutan Jalan yang berbentuk kesatuan. Pasal 8 Sifat ORGANDA adalah organisasi terbuka dan independen yang dalam melakukan kegiatannya bersifat nirlaba. BAB IV TUGAS DAN FUNGSI Pasal 9 Tugas Memupuk dan meningkatkan kesadaran Nasional serta patriotisme para Anggota dalam tanggung jawabnya sebagai Warga Negara. Memperjuangkan aspirasi dan melindungi kepentingan serta mempertinggi derajat para Anggota dan berusaha menempatkannya pada kedudukan yang selaras dengan fungsinya yang vital dalam kehidupan masyarkat, berbangsa dan bernegara. Memperjuangkan iklim yang baik dan sehat dibidang usaha angkutan jalan, serta mencegah terjadinya persaingan yang tidak sehat diantara para anggota, dalam rangka memanfaatkan modal dan keahlian secara optimal dan efisien. Membina dan mengembangkan peran serta para Anggota dalam kegiatan ORGANDA. Pasal 10 Fungsi Organisasi berfungsi: (1). Wadah untuk menyalurkan dan memperjuangkan aspirasi anggotanya. (2). Wadah Pembina dan pengembangan anggotanya dalam usaha mewujudkan tujuan organisasi. (3). Wadah peran serta dalam usaha mensukseskan pembangunan nasional. (4). Sebagai sarana komunikasi sosial timbal balik antar anggota dan atau antar organisasi dengan organisasi kemasyarakatan lainnya, serta organisasi kekuatan sosial politik, Badan Permusyawaratan/Perwakilan Rakyat dan Pemerintah. (5). Merupakan badan representative dari dunia angkutan bermotor di jalan dengan Pemerintah dan pihak lain, baik di dalam maupun di luar negeri.

(1) (2)

(3)

(4)

BAB V ORGANISASI Pasal 11 Struktur (1) Struktur Organisasi ORGANDA terdiri atas: a. b. c. d. Ditingkat Nasional disebut Dewan Pimpinan Pusat ORGANDA disingkat DPP ORGANDA, yang dipilih oleh Musyawarah Nasional. Ditingkat Provinsi disebut Dewan Pimpinan Daerah ORGANDA disertai nama Provinsi yang bersangkutan, yang dipilih oleh Musyawarah Daerah dan dikukuhkan oleh Dewan Pimpinan Pusat. Ditingkat Kota/Kabupaten disebut Dewan Pimpinan Cabang ORGANDA disertai nama Kota / Kabupaten yang bersangkutan, yang dipilih oleh Musyawarah Cabang dan dikukuhkan oleh Dewan Pimpinan Daerah. Pada provinsi yang memiliki kekhususan, struktur organisasi setingkat Kota / Kabupaten diprovinsi disebut Dewan Pimpinan Unit (DPU) disertai dengan nama moda angkutannya masing masing, yang dipilih oleh Musyawarah Unit dan dikukuhkan oleh Dewan Pimpinan Daerah. Pada provinsi yang memiliki kekhususan, struktur organisasi setingkat Kota / Kabupaten diprovinsi disebut Dewan Pimpinan Cabang Khusus (DPC Khusus) disertai dengan nama moda angkutannya masing masing, yang dipilih oleh Musyawarah Cabang Khusus dan dikukuhkan oleh Dewan Pimpinan Daerah.

e.

(2)

Dewan Pimpinan Pusat dapat membentuk Koordinator Wilayah (KORWIL). Pasal 12 Pembina Organisasi

(1) (2) (3)

Hubungan ORGANDA dengan Pembina bersifat hubungan kemitraan dengan dasar kedudukan yang sama. Pembina terdiri dari Pembina Umum dan Pembina Teknis Pembina umum untuk: a. Tingkat Pusat adalah Menteri Dalam Negeri. b. Daerah Provinsi dan kekhususan organisasi adalah Gubernur Provinsi. c. Daerah Kabupaten /Kota adalah Bupati/Walikota. Pembina Teknis untuk tingkat Pusat adalah menteri Perhubungan, Kepala Kepolisan Republik Indonesia dan Pembina Teknis Harian adalah Direktur Jenderal Perhubungan Darat. a. Pembina teknis Daerah Provinsi KAPOLDA b. Pembina Teknis harian Daerah Provinsi adalah Kepala Dinas Perhubungan/Kepala Dinas LLAJ. Pembina teknis Cabang Kabupaten/Kota adalah Kapolres/Kapoltabes dan Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten/Kota.

(4)

(5)

Pasal 13 Dewan Pertimbangan (1) Dewan Pertimbangan organisasi terdapat pada tingkat Pusat/Nasional, tingkat Daerah dan Tingkat Cabang/Unit. a. Anggota Dewan Pertimbangan Nasional terdiri dari Anggota dan Anggota Luar Biasa Pusat. b. Anggota Dewan Pertimbangan Daerah/Provinsi terdiri dari anggota, dan Anggota Luar Biasa Daerah/Provinsi. c. Anggota Dewan Pertimbangan Cabang/Unit terdiri dari Anggota dan Anggota Luar Biasa Cabang/Unit. Ketentuan tentang tatacara pengangkatan, susunan personalia serta fungsi, tugas pokok dan wewenang Dewan Pertimbangan diatur lebih lanjut dalam Anggaran Rumah Tangga. Pasal 14 Dewan Pimpinan (1) Dewan Pimpinan ORGANDA adalah perangkat organisasi ORGANDA yang merupakan pimpinan organisasi ORGANDA tertinggi ditingkatannya masing masing, mewakili organisasi keluar dan kedalam dengan masa jabatan lima tahun. Dewan Pimpinan ORGANDA bertugas melaksanakan tugas dan fungsi organisasi ORGANDA sebagaimana dimaksud pada Pasal 9 dan Pasal 10 serta keputusan keputusan musyawarah organisasi lainnya dan bertanggung jawab kepada Munas, Musda, Muscab/Musnit. Ketentuan tentang tatacara pengangkatan, susunan Pimpinan dan personalia serta hak, kewajiban dan wewenang Dewan Pimpinan organisasi ORGANDA diatur lebih lanjut dalam Anggaran Rumah Tangga. BAB VI KEANGGOTAAN Pasal 15 Anggota ORGANDA (1) Anggota ORGANDA terdiri dari: a. Anggota b. Anggota Luar Biasa Ketentuan tentang keanggotaan ORGANDA diatur lebih lanjut dalam Anggaran Rumah Tangga.

(2)

(3)

(2)

(3)

(2)

BAB VII MUSYAWARAH DAN RAPAT RAPAT SERTA WEWENANG Pasal 16 Musyawarah Organisasi (1) Musyawarah Organisasi tingkat Nasional terdiri dari Musyawarah Nasional (Munas), Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) dan Musyawarah Nasional Khusus (Munassus) serta Musyawarah Kerja Nasional / Badan Musyawarah Pleno (Mukernas / BMP). Musyawarah Organisasi tingkat Provinsi terdiri dari Musyawarah Daerah (Musda), Musyawarah Daerah Luar Biasa (Musdalub) dan Musyawarah Kerja Daerah (Mukerda). Musyawarah Organisasi tingkat Kota / Kabupaten terdiri dari Musyawarah Cabang/Unit (Muscab/Musnit), Musyawarah Cabang/Unit Luar Biasa (Muscablub/Musnitlub) dan Musyawarah Kerja Cabang/Unit (Mukercab/Mukernit). Pasal 17 Musyawarah Nasional (1) Musyawarah Nasional (MUNAS) adalah musyawarah organisasi tertinggi tingkat Nasional sebagai lembaga perwakilan anggota dan merupakan lembaga kekuasaan tertinggi organisasi ORGANDA. Musyawarah Nasional (Munas) diselenggarakan satu kali dalam lima tahun oleh Dewan Pimpinan Pusat. Musyawarah Nasional mempunyai wewenang untuk: a. Menilai, menerima atau menolak pertanggung jawaban Dewan Pimpinan Pusat. b. Menetapkan/merubah Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga. c. Menetapkan Program umum Organisasi. d. Memilih, menetapkan dan mengangkat Dewan Pimpinan Pusat. e. Menetapkan keputusan keputusan lainnya (4) (5) Mekanisme pemilihan dan pengangkatan Ketua Umum dan anggota Dewan Pimpinan Pusat serta Dewan Pertimbangan Nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf d. diatur lebih lanjut dalam Angaran Rumah Tangga. Peserta Musyawarah Nasional terdiri dari a. Dewan Pimpinan Pusat. b. Dewan Pimpinan Daerah. c. Dewan Pimpinan Cabang/Unit. Pasal 18 Musyawarah Nasional Luar Biasa (1) Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) diselenggarakan diluar jadwal Munas berkala untuk meminta pertanggung jawabaan Dewan Pimpinan Pusat mengenai pelanggaran pelanggaran prinsip atas Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga.

(2)

(3)

(2) (3)

(2).

Ketentuan tentang penyelengaraan Musyawarah Nasional Luar Biasa diatur lebih lanjut dalam Anggaran Rumah Tangga. Pasal 19 Musyawarah Nasional Khusus

(1).

Musyawarah Nasional Khusus (Munassus) merupakan musyawarah tingkat Nasional untuk menetapkan: a. Perubahan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga. b. Pembubaran Organisasi Ketentuan tentang penyelengaraan Musyawarah Nasional Khusus diatur lebih lanjut dalam Anggaran Rumah Tangga Pasal 20 Musyawarah Kerja Nasional / Badan Musyawarah Pleno ORGANDA

(2).

(1)

Musyawarah Kerja Nasional / Badan Musyawarah Pleno ORGANDA adalah Musyawarah kerja antar organisasi tingkat Pusat dan tingkat Daerah/Provinsi dalam rangka koordinasi dan sinkronisasi serta penyesuaian visi untuk melakukan sinergi dalam perencanaan pelaksanaan programprogram kerja antar tingkatan organisasi. Dewan Pimpinan Pusat menyelenggarakan Musyawarah Kerja Nasional / Badan Musyawarah Pleno ORGANDA sekurang kurangnya satu kali dalam setahun. Musyawarah Kerja Nasional / Badan Musyawarah Pleno ORGANDA mempunyai wewenang untuk: a. Memberikan penilaian atas pertanggung jawaban pelaksanaan Program Kerja Umum dan Program Kerja Organisasi, pengelolaan Keuangan, Perbendaharaan dan harta kekayaan organisasi dari Dewan Pimpinan Pusat dan Dewan Pimpinan Daerah, serta pertanggung jawaban pelaksanaan tugas dari Dewan Pertimbangan Nasional. b. Menetapkan sasaran program kerja umum dan program kerja organisasi tahunan, serta pembagian tugas setiap tingkatan organisasi. c. Melakukan evaluasi atas aspek koordinasi dan sinkronisasi serta kesesuaian visi dalam melakukan sinergi dalam pelaksanaan program kerja umum dan program kerja organisasi antar tingkatan organisasi yang telah dilakukan selama ini. d. Membantu Dewan Pimpinan Pusat dalam memutuskan hal hal yang tidak dapat diputuskannya sendiri dan hasilnya dipertanggung jawabkan pada Munas.

(2)

(3).

(4)

Ketentuan tentang penyelenggaraan Musyawarah Kerja Nasional Badan Musyawarah Pleno ORGANDA diatur lebih lanjut dalam Anggaran Rumah Tangga.

Pasal 21 Musyawarah Daerah (1) Musyawarah Daerah (MUSDA) adalah musyawarah organisasi tertinggi tingkat Provinsi sebagai lembaga perwakilan anggota dan merupakan lembaga kekuasaan tertinggi organisasi ORGANDA tingkat Provinsi Musyawarah Daerah (MUSDA) diselenggarakan satu kali dalam lima tahun oleh Dewan Pimpinan Daerah. Musyawarah Daerah mempunyai wewenang untuk: a. Memberikan penilaian dan keputusan atas pertanggung jawaban pelaksanaan Program Kerja Umum dan Program Kerja Organisasi. b. Menetapkan kebijakan Program Kerja Umum dan Program Kerja Organisasi Daerah sebagai Garis Besar Program kerja Organisasi Dewan Pimpinan Daerah, yang sejalan dengan Program Kerja Umum dan Program Kerja Organisasi Tingkat Nasional. c. Menetapkan keputusan untuk menyelesaikan permasalahan organisasi dan masalah masalah lainnya. d. emilih, menetapkan dan mengangkat Ketua dan anggota Dewan Pimpinan Daerah serta Dewan Pertimbangan Daerah. (4) Mekanisme pemilihan dan pengangkatan Ketua dan anggota Dewan Pimpinan Daerah serta Dewan Pertimbangan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf d. diatur lebih lanjut dalam Angaran Rumah Tangga. Keetentuan tentang penyelenggaraan Musyawarah Daerah diatur lebih lanjut dalam Anggaran Rumah Tangga. Pasal 22 Musyawarah Daerah Luar Biasa (1). Musyawarah Daerah Luar Biasa (Musdalub) diselenggarakan diluar jadwal Musda berkala untuk meminta pertanggung jawabaan Dewan Pimpinan Daerah mengenai pelanggaran pelanggaran prinsip atas Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga. Musdalub mempunyai wewenang untuk: a. Menilai, menerima dan mensyahkan atau menolak pertanggung jawaban atau kinerja Dewan Pimpinan Daerah. b. Jika Pertanggung jawaban dan atau kinerja Dewan Pimpinan Daerah sebagaimana dimaksud huruf a. ditolak atau tidak diterima, maka Musdalub dapat memberhentikan Dewan Pimpinan Daerah dan Dewan Pertimbangan Daerah. c. Dalam hal terjadi sebagaimana dimaksud pada huruf b. maka Musdalub dapat segera melaksanakan Pemilihan dan mengangkat Ketua dan anggota Dewan Pimpinan Daerah serta Dewan Pertimbangan Daerah yang baru. (4) Ketentuan tentang penyelengaraan Musyawarah Daerah Luar Biasa diatur lebih lanjut dalam Anggaran Rumah Tangga.

(2) (3)

(5)

(3)

Pasal 23 Musyawarah Kerja Daerah (1). Musyawarah Kerja Daerah (Mukerda) adalah Musyawarah kerja antar organisasi tingkat Daerah dan tingkat Cabang/Unit dalam rangka koordinasi dan sinkronisasi serta penyesuaian visi untuk melakukan sinergi dalam pelaksanaan program program kerja antar tingkatan organisasi. Dewan Pimpinan Daerah menyelenggarakan Musyawarah (Mukerda) sekurang kurangnya satu kali dalam setahun. Musyawarah Kerja Daerah mempunyai wewenang untuk: a. Memberikan penilaian atas pertanggung jawaban pelaksanaan Program Kerja Umum dan Program Kerja Organisasi, pengelolaan keuangan, Perbendaharaan dan harta kekayaan organisasi dari Dewan Pimpinan Daerah dan Dewan Pimpinan Cabang/Unit, serta pertanggung jawaban pelaksanaan tugas dari Dewan Pertimbangan Daerah. b. Menetapkan sasaran program kerja umum dan program kerja organisasi tahunan, serta pembagian tugas setiap tingkatan organisasi. c. Melakukan evaluasi atas aspek koordinasi dan sinkronisasi serta kesesuaian visi dalam melakukan sinergi dalam pelaksanaan program kerja umum dan program kerja organisasi antar tingkatan organisasi yang telah dilakukan selama ini. d. Membantu Dewan Pimpinan Daerah dalam memutuskan hal hal yang tidak dapat diputuskannya sendiri dan hasilnya dipertanggung jawabkan pada Musda. (4). Ketentuan tentang penyelenggaraan Musyawarah Kerja Daerah (Mukerda) diatur lebih lanjut dalam Anggaran Rumah Tangga. Pasal 24 Musyawarah Cabang/Unit (1) Musyawarah Cabang /Unit (Muscab/Musnit) adalah musyawarah organisasi tertinggi tingkat Cabang/Unit sebagai lembaga perwakilan anggota dan merupakan lembaga kekuasaan tertinggi organisasi ORGANDA tingkat Kota/Kabupaten. Musyawarah Cabang /Unit (Muscab/Musnit) diselenggarakan satu kali dalam lima tahun oleh Dewan Pimpinan Cabang /Unit. Musyawarah Cabang /Unit mempunyai wewenang untuk: a. Memberikan penilaian dan keputusan atas pertanggung jawaban pelaksanaan Program Kerja Umum dan Program Kerja Organisasi b. Menetapkan kebijakan Program Kerja Umum dan Program Kerja Organisasi Cabang/Unit sebagai Garis Besar Program kerja Organisasi Dewan Pimpinan Cabang /Unit, yang sejalan dengan Program Kerja Umum dan Program Kerja Organisasi Tingkat Nasional dan Daerah/Provinsi. c. Menetapkan keputusan untuk menyelesaikan permasalahan organisasi dan masalah masalah lainnya. d. Memilih, menetapkan dan mengangkat Ketua dan anggota Dewan Pimpinan Cabang /Unit serta Dewan Pertimbangan Cabang /Unit. Kerja Daerah

(2).

(3).

(2) (3)

(4).

Ketentuan tentang penyelenggaraan Musyawarah Cabang/Unit diatur lebih lanjut dalam Anggaran Rumah Tangga. Pasal 25 Musyawarah Cabang /Unit Luar Biasa

(1)

Musyawarah Cabang /Unit Luar Biasa (Muscablub/Musnitlub) diselenggarakan diluar jadwal Muscab/Musnit berkala untuk meminta pertanggung jawabaan Dewan Pimpinan Cabang/Unit mengenai pelanggaran pelanggaran prinsip atas Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga. Muscablub/Musnitlub mempunyai wewenang untuk: a. Menilai, menerima dan mensyahkan atau menolak pertanggung jawaban atau kinerja Dewan Pimpinan Cabang/Unit. b. Jika Pertanggung jawaban dan atau kinerja Dewan Pimpinan Cabang /Unit sebagaimana dimaksud huruf a. ditolak atau tidak diterima, maka Muscablub/Musnitlub dapat memberhentikan Dewan Pimpinan Cabang /Unit dan Dewan Pertimbangan Cabang /Unit. c. Dalam hal terjadi sebagaimana dimaksud pada huruf b. maka Muscablub/Musnitlub dapat segera melaksanakan Pemilihan dan mengangkat Ketua dan anggota Dewan Pimpinan Cabang /Unit serta Dewan Pertimbangan Cabang /Unit yang baru.

(2)

(3).

Ketentuan tentang penyelengaraan Musyawarah Cabang/Unit Luar Biasa diatur lebih lanjut dalam Anggaran Rumah Tangga. Pasal 26 Musyawarah Kerja Cabang /Unit

(1).

Musyawarah Kerja Cabang/Unit (Mukercab/Mukernit) adalah Musyawarah kerja organisasi tingkat Cabang/Unit dengan KKU dan anggotanya dalam rangka koordinasi dan sinkronisasi serta penyesuaian visi untuk melakukan sinergi dalam pelaksanaan program program kerja antar jajaran organisasi dengan anggotanya, serta dalam rangka mendapatkan masukan tentang permasalahan dan kendala yang dihadapi anggota ORGANDA. Dewan Pimpinan Cabang/Unit menyelenggarakan Musyawarah Kerja Cabang/Unit (Mukercab/Mukernit) sekurang kurangnya satu kali dalam setahun. Musyawarah Kerja Cabang/Unit mempunyai wewenang untuk: a. Memberikan penilaian atas pertanggung jawaban pelaksanaan Program Kerja Umum dan Program Kerja Organisasi, pengelolaan keuangan, Perbendaharaan dan harta kekayaan organisasi dari Dewan Pimpinan Cabang/Unit. b. Menetapkan sasaran program kerja umum dan program kerja organisasi tahunan, serta pembagian tugas setiap jajaran organisasi. c. Melakukan evaluasi atas aspek koordinasi dan sinkronisasi serta kesesuaian visi dalam melakukan sinergi dalam pelaksanaan program kerja umum dan program kerja organisasi antar jajaran organisasi dengan anggotanya yang telah dilakukan selama ini.

(2).

(3).

d. Membantu Dewan Pimpinan Cabang/Unit dalam memutuskan hal hal yang tidak dapat diputuskannya sendiri dan hasilnya dipertanggung jawabkan pada Muscab/Musnit. (4). Ketentuan tentang penyelenggaraan Musyawarah Kerja Cabang/Unit diatur lebih lanjut dalam Anggaran Rumah Tangga. Pasal 27 Rapat Organisasi (1) Dewan Pimpinan Pusat (DPP), Dewan Pimpinan Daerah (DPD) dan Dewan Pimpinan Cabang/Unit (DPC/DPU) wajib menyelenggarakan Rapat Pleno organisasi minimal 1 (satu) kali setiap bulannya dengan mengundang seluruh Pimpinan yang ada. Rapat Pleno organisasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatas, penyelenggaraannya dapat diperbanyak / ditambah disesuaikan dengan kebutuhan. Disamping ketentuan ketentuan pada ayat (1) dan (2) dirmaksud diatas, jika dianggap perlu dapat diselenggarakan Rapat pleno yang diperluas, dengan mengundang anggota, Anggota Kehormatan, Dewan Pertimbangan atau DPP,DPD, DPC/DPU dan KKU dan atau pihak ketiga yang berasal dari luar organisasi. Ketentuan tentang rapat organisasi diatur lebih lanjut dalam Anggaran Rumah Tangga. Pasal 28 Mekanisme Pengambilan Keputusan (1) (2) Keputusan keputusan dalam sidang diambil atas dasar musyawarah untuk mufakat yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan. Jika tidak memperoleh mufakat, maka keputusan diambil atas dasar suara terbanyak. BAB VIII MASA JABATAN, PENDELEGASIAN WEWENANG DAN PERGANTIAN ANTAR WAKTU Pasal 29 Masa Jabatan (1). Masa jabatan Pimpinanan Dewan Pimpinan ORGANDA organisasi ditetapkan untuk jangka waktu lima tahun. diseluruh tingkatan

(2)

(3)

(4)

(2). Kepimpinan ORGANDA tidak boleh dirangkap disemua tingkatan Organisasi baik Pusat, Daerah, Cabang, kecuali khusus untuk Unit di DKI Jakarta. Apabila didalam suatu Musyawarah Nasional, Musyawarah Daerah dan Musyawarah Cabang/Unit, seseorang diangkat sebagai anggota Dewan Pimpinan pada tingkat pusat, Daerah, Cabang/unit, maka secara otomatis jabatan kepimpinanan ORGANDA yang dipegang oleh yang bersangkutan sebelumnya dinyatakan batal.

Pasal 30 Pendelegasian Wewenang (1). Pendelegasian wewenang di Dewan Pimpinan Pusat Apabila Ketua Umum berhalangan sementara dan atau karena sesuatu sebab tidak dapat menjalankan kewajiban organisasinya untuk jangka waktu tertentu, maka salah seorang ketua yang ditunjuk oleh rapat pengurus bertindak untuk dan atas nama Ketua Umum untuk jangka waktu tersebut. (2). Pendelegasian wewenang di Dewan Pimpinan Daerah dan atau Cabang/Unit. Apabila Ketua berhalangan sementara dan atau karena sesuatu sebab tidak dapat menjalankan kewajiban organisasinya untuk waktu tertentu, maka salah seorang wakil ketua yang ditunjuk oleh rapat pengurus bertindak untuk dan atas nama Ketua untuk jangka waktu tersebut. Pasal 31 Pergantian Antar Waktu (1). Apabila Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat, Ketua Dewan Pimpinan Daerah dan atau Cabang/Unit berhalangan tetap dan atau karena sesuatu sebab tidak dapat menjalankan dan atau menyelesaikan kewajiban organisasinya sampai masa jabatan kepemimpinannya berakhir, maka jabatan Ketua Umum DPP, Ketua DPD dan atau Ketua DPC/DPU digantikan oleh salah seorang dari pengurus, yang ditetapkan oleh dan dalam rapat pleno Dewan Pimpinan masing masing yang diagendakan untuk hal tersebut. (2). Apabila karena sesuatu sebab terjadi kelowongan dalam keanggotaan Dewan Pimpinan, maka pergantian untuk mengisi lowongan tersebut dilakukan dan ditetapkan dalam dan oleh rapat pleno Dewan Pimpinan masing masing yang di agendakan untuk hal tersebut, selambat lambatnya tiga bulan sejak terjadinya kelowongan keanggotaan tersebut. (3). Tindakan yang dilakukan Dewan Pimpinan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2) dan wajib diberitahukan kepada Dewan Pimpinan organisasi satu tingkat lebih tinggi diatasnya untuk disyahkan dan dikukuhkan, dan Kepada Dewan Pertimbangan pada tingkatan organisasinya masing masing, serta dipertanggung jawabkan pada Munas, Musda dan atau Muscab/Musnit (4). Masa jabatan Ketua Umum dan Ketua antar waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (2) adalah sampai dengan masa jabatan tersisa dari jabatan Ketua Umum dan atau Ketua yang digantikannya. (5). Ketentuan Pergantian Antar Waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1), sampai dengan ayat (4) berlaku pula bagi pergantian antar waktu Dewan Pertimbangan. BAB IX KEUANGAN Pasal 32 Sumber Keuangan (1) Keuangan Organisasi diperoleh dari: a. Uang Pangkal b. Uang Iuran

c. d. e.

Uang Sumbangan/Hibah yang tidak mengikat Usaha-usaha lainnya yang dilaksanakan yang tidak bertentangan dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku. Sumber-sumber lainnya yang sah.

(2) Asset yang dihasilkan dari sumber keuangan sebagaimana disebutkan pada ayat (1) menjadi kekayaan Organisasi. (3) Ketentuan tentang sumber keuangan diatur lebih lanjut dalam Anggaran Rumah Tangga. Pasal 33 Pengelolaan dan Pelaporan Perbendaharaan (1) Dewan Pimpinan disetiap tingkatan organisasi bertanggung jawab secara berjenjang atas penggunaan dan pengawasan penggunaan keuangan dan perbendaharaan organisasi serta pengawasan pengelolaan harta kekayaan organisasi pada tingkatannya masing masing. (2) Dewan Pimpinan disetiap tingkatan organisasi diwajibkan menyusun catatan laporan penerimaan dan penggunaan keuangan dan perbendaharaan organisasi serta pengelolaan harta kekayaan organisasi pada tingkatannya masing masing secara berkala setiap bulannya, serta memberikan pertanggung jawaban dan atau mempublikasikan catatan laporan tersebut pada Musyawarah organisasi pada tingkatannya masing masing, atau sesuai ketentuan organisasi. (3) Ketentuan tentang tatacara pencatatan dan pelaporan pengelolaan keuangan dan perbendaharaan serta harta kekayaan organisasi sebagaimana dimaksud pada pasal (1) dan (2) diatur lebih lanjut dalam Anggaran Rumah Tangga. BAB X KESEKRETARIATAN Pasal 34 Sekretariat Dewan Pimpinan Sekretariat Dewan Pimpinan Pusat, Dewan Pimpinan Daerah dan Sekretariat Dewan Pimpinan Cabang/Unit ORGANDA dapat mengangkat Sekretaris Eksekutif yang professional. BAB XI PERUBAHAN ANGGARAN DASAR DAN PEMBUBARAN ORGANISASI Pasal 35 Perubahan Anggaran Dasar (1) Penyempurnaan atau perubahan Angaran Dasar ditetapkan dan disyahkan berdasarkan ketetapan Musyawarah Nasional (Munas) dan atau Musyawarah Nasional Khusus (Munassus). (2) Ketentuan tentang perubahan Anggaran Dasar pada Munas dan Munassus diatur lebih lanjut dalam Anggaran Rumah Tangga.

Pasal 36 Pembubaran Organisasi (1) Pembubaran organisasi dilakukan harus melalui Musyawarah Nasional Khusus (Munassus). (2) Apabila organisasi dibubarkan maka Munassus sekaligus menetapkan penghibahan dan atau penyerahan sebagai sumbangan seluruh harta kekayaan organisasi kepada badan badan sosial dan atau yayasan yayasan tertentu. (3) Ketentuan tentang pembubaran organisasi diatur lebih lanjut dalam Anggaran Rumah Tangga BAB XII KETENTUAN PENUTUP Pasal 37 (1) Anggaran Dasar ini ditetapkan dan disyahkan pada Musyawarah Nasional (Munas) XIII ORGANDA yang diselenggarakan tanggal 30 November s/d 2 Desember 2004, serta dibuat kedalam suatu akte Notaris. (2) Sejak diberlakukannya Anggaran Dasar ORGANDA sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatas, maka Anggaran Dasar yang ada dan berlaku sebelum Angaran Dasar ini dinyatakan tidak berlaku lagi. (3) Agar setiap anggota ORGANDA dapat mengetahuinya, seluruh Dewan Pimpinan ORGANDA diseluruh tingkatan diperintahkan untuk mengumumkan dan atau menyebarluaskan Anggaran Dasar ini kepada seluruh anggota ORGANDA dan khalayak lainnya serta berbagai instansi terkait lainnya. (4) Hal hal yang belum atau tidak diatur dalam anggaran dasar ini diatur dalam anggaran rumah tangga dan tidak boleh bertentangan dengan ketentuan anggaran dasar. (5) Angaran Rumah Tangga sebagai penjabaran ketentuan ketentuan Anggaran Dasar disyahkan oleh Musyawarah Nasional (Munas) dan Musyawarah Nasional Khusus (Munassus).

ANGGARAN RUMAH TANGGA ORGANDA


BAB I UMUM Pasal 1 Landasan Penyusunan (1) Anggaran Rumah Tangga disusun berlandaskan kepada Anggaran Dasar ORGANDA yang ditetapkan dan disyahkan dalam Musyawarah Nasional XIII ORGANDA tanggal 2 Desember 2004. Angaran Rumah Tangga ini merupakan kesatuan yang tidak terpisahkan dari Anggaran Dasar sebagaimana dimaksud pada ayat (1). BAB II ORGANISASI Pasal 2 Pembentukan Organisasi ORGANDA pertama kali dibentuk pada tanggal 30 Juni 1962 bertempat di Selekta Malang, merupakan fusi/penggabungan organisasi organisasi pengusaha angkutan yang ada, diantaranya: Ikatan Perserikatan Pengusaha Otobis Seluruh Indonesia (IPPOSI), Organisasi Pengangkutan Nasional Indonesia (ORPENI), Federasi Gabungan Prahoto Indonesia (FEGAPRI), Gabungan Angkutan Darat Veteran Indonesia (GANDAVETRI). BAB III KEANGGOTAAN Pasal 3 (1) (2) Sistem keanggotaan ORGANDA bersifat stelsel pasif. Anggota ORGANDA adalah pengusaha angkutan jalan baik orang perseorangan, persekutuan atau badan hukum yang menjalankan suatu jenis usaha angkutan jalan secara tetap dan terus menerus serta berkedudukan diwilayah Republik Indonesia dan lembaga usaha yang manjalankan salah satu usaha angkutan jalan, yang keanggotaannya terbuka bagi Badan Usaha Milik Negara, Badan Usaha Milik Daerah, badan usaha Koperasi dan badan usaha Swasta. Anggota Luar Biasa ORGANDA adalah orang perseorangan, persekutuan atau badan hukum yang menjalankan suatu jenis usaha yang terkait dengan usaha angkutan jalan dan atau orang perseorangan, persekutuan atau badan hukum yang memiliki keahlian, pengalaman, komitmen dan perhatian serta dedikasi terhadap dunia usaha angkutan jalan. Pasal 4 Pendaftaran Keanggotaan (1) Pendaftaran anggota dan anggota Luar Biasa ORGANDA diatur dalam Peraturan Organisasi (PO).

(2)

(3)

(2) (3) (4)

Pendaftaran anggota ORGANDA dilakukan oleh Dewan Pengurus Cabang /Unit ditempat anggota berdomisili, sesuai dengan ketentuan ayat (1). Pendaftaran anggota Luar Biasa ORGANDA tingkat Cabang/Unit dilakukan oleh Dewan Pengurus Daerah, sesuai dengan ketentuan ayat (1). Pendaftaran anggota Kehormatan ORGANDA tingkat Daerah dilakukan oleh Dewan Pengurus Pusat, sesuai dengan ketentuan ayat (1). Pasal 5 Hak Anggota dan Angota Luar Biasa

(1)

Setiap Anggota ORGANDA mempunyai hak mengeluarkan pendapat, mengajukan usul dan pertanyaan secara lisan maupun tertulis kepada Dewan Pengurus, serta hak perlindungan, hak pembinaan dari organisasi, hak membela diri jika dikenakan sanksi organisasi, dan mempunyai hak untuk memilih dan dipilih menjadi Pengurus ORGANDA. Setiap Anggota Luar Biasa ORGANDA mempunyai hak mengeluarkan pendapat, mengajukan usul dan pertanyaan secara lisan maupun tertulis kepada Dewan Pengurus, serta hak perlindungan, hak pembinaan dari organisasi, hak membela diri jika dikenakan sanksi organisasi, dan mempunyai hak untuk dipilih menjadi Pengurus ORGANDA. Pasal 6 Kewajiban Anggota dan Anggota Luar Biasa

(2)

Setiap Anggota dan Anggota Luar Biasa ORGANDA berkewajiban: (1). Mematuhi Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga, Peraturan Organisasi serta keputusan-keputusan organisasi. (2). Setia dan disiplin kepada organisasi. (3). Membayar uang pangkal dan iuran anggota, yang besaran nominalnya ditetapkan Organisasi. (4). Menjaga citra dan nama baik ORGANDA. (5). Berpartisipasi aktif dalam setiap kegiatan ORGANDA. (6). Membantu pimpinan organisasi dalam melaksanakan program kerja organisasi dan wajib membela kepentingan organisasi terhadap usaha-usaha yang menghalangi pelaksanaan program tersebut, yang dapat merugikan organisasi. (7). Tidak merangkap menjadi anggota organisasi lain yang sejenis. (8). Ketentuan tentang uang pangkal dan uang iuran Anggota dan Anggota Kehormatan diatur lebih lanjut dalam Peraturan Organisasi. Pasal 7 Kehilangan Keanggotaan (1) Anggota ORGANDA kehilangan keanggotaannya dalam ORGANDA karena: a. Mengundurkan diri b. Menghentikan usahanya c. Meninggal Dunia d. Diberhentikan oleh organisasi Anggota Luar Biasa ORGANDA kehilangan keanggotaannya dalam ORGANDA karena: a. Mengundurkan diri b. Meninggal Dunia c. Diberhentikan oleh organisasi

(2)

Pasal 8 Sanksi Terhadap Anggota dan Anggota Luar Biasa (1). Setiap Anggota dan Anggota Luar Biasa ORGANDA dapat diberi sanksi karena: a. Melanggar Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga, Peraturan Organisasi dan Kode Etik Anggota dan Anggota Luar Biasa. b. Bertindak bertentangan dengan ketentuan yang telah ditetapkan Dewan Pimpinan ORGANDA. c. Bertindak merugikan atau mencemarkan nama baik ORGANDA. (2) Sanksi yang diberikan organisasi sesuai dengan tingkat kesalahan yang telah dilakukan, dapat berupa: a. Teguran atau peringatan tertulis b. Pemberhentian sementara (skorsing) yang disertai dengan pemberhentian pelayanan Organisasi c. Pemberhentian (Pemecatan) sebagai Anggota dan atau Anggota Kehormatan. Pasal 9 Pemberhentian Sementara dan Pemberhentian Keanggotaan (1) Pemberhentian sementara atau pemberhentian anggota ORGANDA dilakukan oleh Dewan Pengurus organisasi tempat dimana anggota ORGANDA dimaksud terdaftar. Pemberhentian sementara atau pemberhentian anggota Luar Biasa ORGANDA tingkat Daerah/Unit dilakukan oleh Dewan Pimpinan Daerah. Pemberhentian sementara atau pemberhentian anggota Luar Biasa ORGANDA tingkat Daerah dilakukan oleh Dewan Pimpinan Pusat. Keputusan pemberhentian sementara atau pemberhentian Anggota dan Anggota Luar Biasa ORGANDA dilakukan setelah terlebih dahulu diberikan peringatan tertulis sebanyak 3 (tiga) kali berturut turut dalam jangka waktu tiga bulan, terkecuali untuk hal hal yang dianggap luar biasa setelah berkonsultasi terlebih dahulu dengan Dewan Pertimbangan masing masing. Dalam masa pemberhentian sementara dan atau setelah pemberhentian, anggota atau Anggota Luar Biasa yang bersangkutan kehilangan hak hak keanggotaannya, serta dibebaskan dari seluruh tugas dan fungsi keorganisasian yang melekat kepadanya. Anggota atau anggota Luar Biasa yang dikenai sanksi pemberhentian sementara dan atau pemberhentian berhak untuk melakukan pembelaan diri pada musyawarah organisasi di tingkatannya masing masing. Anggota atau anggota Luar Biasa yang kehilangan haknya karena terkena sanksi pemberhentian sementara atau Pemberhentian, akan memperoleh pemulihan hak haknya kembali, setelah sanksi tersebut dicabut oleh Dewan Pimpinan yang bersangkutan, pada musyawarah organisasi di tingkatannya masing masing.

(2) (3) (4)

(5)

(6)

(7)

BAB IV DEWAN PIMPINAN Pasal 10 Susunan Personalia Dewan Pimpinan Pusat (1) Komposisi Dewan Pimpinan Pusat sebanyak banyaknya terdiri dari: a. b. c. d. e. f. g. (2) 1 6 1 2 1 1 7 (satu) orang Ketua Umum (enam) Orang Ketua (satu) Orang Sekretaris Jenderal (dua) Orang Wakil Sekretaris Jenderal (satu) Orang Bendahara (satu) Orang Wakil Bendahara. (tujuh) Orang Ketua Departemen

Departemen sebagaimana dimaksud Ayat (1) diatas adalah: a. Departemen Organisasi, Keanggotaan dan Pembinaan Daerah b. Departemen Hukum dan Perijinan c. Departemen Angkutan dan Prasarana d. Departemen Ekonomi, Keuangan, Perpajakan,Asuransi dan Perbankan e. Departemen Pembinaan Perusahaan dan Koperasi. f. Departemen Hubungan Masyarakat dan Kerjasama Internasional. g. Departemen Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Tugas dan kewajiban, tata kerja dan ruang lingkup kegiatan/kerja Pengurus sebagaimana dimaksud Ayat (1), dan (2) diatur lebih lanjut oleh Dewan Pimpinan Pusat. Pengurus Harian Dewan Pimpinan Pusat, terdiri atas: Ketua Umum, Para Ketua, Sekretaris Jenderal dan Wakil Sekretaris Jenderal, Bendahara dan Wakil Bendahara. Dewan Pimpinan Pusat bekerja secara kolektif dan semua Keputusan yang ditetapkan harus didasarkan atas keputusan Rapat Pleno Dewan Pimpinan Pusat. Dalam hal-hal yang sangat mendesak Pengurus harian Dewan Pengurus Pusat dapat menetapkan suatu kebijaksanaan dan wajib mempertanggung jawabkannya kepada Rapat Pleno Dewan Pimpinan Pusat berikutnya. Anggota Rapat Pleno Dewan Pimpinan Pusat adalah seluruh Pengurus Dewan Pimpinan Pusat. Anggota Rapat Pleno Dewan Pimpinan Pusat diperluas terdiri dari, Dewan Pimpinan Pusat, Dewan Pertimbangan Nasional dan atau Koordinator Wilayah dan Dewan Pimpinan Daerah yang dianggap perlu. Pasal 11 Koordinator Wilayah

(3)

(4)

(5) (6)

(7) (8)

(1).

Koordinator wilayah adalah unsur fungsional dari Dewan Pimpinan Pusat ORGANDA.

(2).

Koordinator Wilayah di angkat dan di berhentikan oleh Dewan Pimpinan Pusat, atas usulan para DPD diwilayahnya. Pasal 12 Susunan Personalia Dewan Pimpinan Daerah

(1).

Komposisi Dewan Pimpinan Daerah sebanyak banyaknya terdiri dari: a. b. c. d. e. f. g. 1 3 1 1 1 1 7 (satu) orang Ketua (tiga) Orang Wakil Ketua (satu) Orang Sekretaris (satu) Orang Wakil Sekretaris (satu) Orang Bendahara (satu) Orang Wakil Bendahara. (tujuh) Orang Ketua Biro

(2).

Biro sebagaimana dimaksud Ayat (1) diatas adalah: a. b. c. d. e. f. g. Biro Biro Biro Biro Biro Biro Biro Organisasi, Keanggotaan dan Pembinaan Daerah Hukum dan Perijinan Angkutan dan Prasarana Ekonomi, Keuangan, Perpajakan,Asuransi dan Perbankan Pembinaan Perusahaan dan Koperasi. Hubungan Masyarakat dan Kerjasama Internasional. Penelitian dan Pengembangan (Litbang)

(3) (4)

Nama nama biro tersebut dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Tugas dan kewajiban, tata kerja dan ruang lingkup kegiatan/kerja Pengurus sebagaimana dimaksud Ayat (1), dan (3) diatur lebih lanjut oleh Dewan Pimpinan Daerah . Pengurus Harian Dewan Pimpinan Daerah, terdiri atas: Ketua, Wakil Ketua, Sekretaris dan Wakil Sekretaris, Bendahara dan Wakil Bendahara. Dewan Pimpinan Daerah bekerja secara kolektif dan semua Keputusan yang ditetapkan harus didasarkan atas keputusan Rapat Pleno Dewan Pimpinan Daerah. Dalam hal-hal yang sangat mendesak Pimpinan harian Dewan Pimpinan Daerah dapat menetapkan suatu kebijaksanaan dan wajib mempertanggung jawabkannya kepada Rapat Pleno Dewan Pimpinan Daerah berikutnya. Anggota Rapat Pleno Dewan Pimpinan Daerah adalah seluruh Pengurus Dewan Pimpinan Daerah. Anggota Rapat Pleno Dewan Pimpinan Daerah diperluas terdiri dari, Dewan Pertimbangan Daerah dan atau Koordinator Wilayah dan Dewan Pimpinan Cabang/Unit yang diperlukan. Pasal 13 Susunan Personalia Dewan Pimpinan Cabang/Unit

(5) (6)

(7)

(8) (9)

(1)

Komposisi Dewan Pimpinan Cabang/Unit sebanyak banyaknya terdiri dari: 1 (satu) orang Ketua

3 1 1 1 1 7 (2)

(tiga) Orang Wakil Ketua (satu) Orang Sekretaris (satu) Orang Wakil Sekretaris (satu) Orang Bendahara (satu) Orang Wakil Bendahara. (tujuh) Orang Ketua Bidang

Bidang sebagaimana dimaksud Ayat (1) diatas adalah: Bidang Bidang Bidang Bidang Bidang Bidang Bidang Organisasi, Keanggotaan dan Pembinaan Daerah Hukum dan Perijinan Angkutan dan Prasarana Ekonomi, Keuangan, Perpajakan,Asuransi dan Perbankan Pembinaan Perusahaan dan Koperasi. Hubungan Masyarakat dan Kerjasama Internasional. Penelitian dan Pengembangan (Litbang)

(3) (4)

Nama nama bidang tersebut dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Tugas dan kewajiban, tata kerja dan ruang lingkup kegiatan/kerja Pengurus sebagaimana dimaksud Ayat (1), dan (3) diatur lebih lanjut oleh Dewan Pimpinan Cabang/Unit. Pengurus Harian Dewan Pimpinan Cabang/Unit, terdiri atas: Ketua, Wakil Ketua, Sekretaris dan Wakil Sekretaris, Bendahara dan Wakil Bendahara. Dewan Pimpinan Cabang/Unit bekerja secara kolektif dan semua Keputusan yang ditetapkan harus didasarkan atas keputusan Rapat Pleno Dewan Pimpinan Cabang/Unit. Dalam hal-hal yang sangat mendesak Pengurus harian Dewan Pimpinan Cabang/Unit dapat menetapkan suatu kebijaksanaan dan wajib mempertanggung jawabkannya kepada Rapat Pleno Dewan Pimpinan Cabang/Unit berikutnya. Anggota Rapat Pleno Dewan Pimpinan Cabang/Unit adalah seluruh Pengurus Dewan Pimpinan Cabang/Unit. Anggota Rapat Pleno Dewan Pimpinan Cabang/Unit diperluas terdiri dari, Dewan Pertimbangan Cabang/Unit dan anggota yang dianggap perlu. Pasal 14 Tugas tugas Dewan Pimpinan

(5) (6)

(7)

(8) (9)

Dalam memenuhi tugas dan fungsi ORGANDA sebagaimana dimaksud dalam Anggaran Dasar Pasal 9 dan Pasal 10 Dewan Pimpinan Organisasi ORGANDA diseluruh tingkatan Organisasi berkewajiban: (1) (2) Melaksanakan seluruh hasil keputusan Munas, Mukernas, Musda, Mukerda, Muscab/Musnit, Mukercab/Mukernit dan Peraturan Organisasi. Melaksanakan fungsi perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan pengendalian untuk demi mencapai tujuan dan fungsi organisasi

Pasal 15 Sanksi Terhadap Dewan Pimpinan (1) Dewan Pimpinan dapat dikenakan Sanksi organisasi berupa: Untuk tingkat DPP pemberhentian kepengurusannya. Untuk tingkat DPD Pembekuan /Pemberhentian Kepengurusannya Untuk tingkat DPC/DPU Pembekuan/Pemberhentian Kepengurusannya. Sanksi pemberhentian sebagaimana dimaksud ayat (1) huruf a b. dan c. dilakukan melalui mekanisme Munaslub/Musdalub/Muscablub/Musnitlub. Sanksi pembekuan sebagaimana dimaksud ayat (1) huruf b. dan c. dilakukan oleh Dewan Pimpinan yang lebih tinggi satu tingkat diatasnya, setelah melalui tahapan tahapan sebagai berikut: a. Adanya peringatan tertulis kepada Dewan Pimpinan yang bersangkutan oleh dan berdasarkan hasil keputusan rapat pleno Dewan Pimpinan yang lebih tinggi satu tingkat diatasnya, dengan diberikan batas waktu selama lamanya 30 hari untuk memperbaikinya. b. Jika setelah batas waktu yang diberikan sebagaimana dimaksud huruf a. peringatan dimaksud tidak diindahkan, maka peringatan kedua dapat diberikan dengan kembali memberikan batas waktu selama lamanya 30 hari untuk memperbaikinya. c. Jika setelah batas waktu yang diberikan sebagaimana dimaksud huruf b. peringatan kedua dimaksud tetap tidak diindahkan, maka sanksi organisasi sebagaimana dimaksud ayat (1) dapat diberikan setelah berkonsultasi terlebih dahulu dengan Dewan Pertimbangan yang berada pada tingkat Dewan Pimpinan yang akan memberikan sanksi. (4) Dewan Pimpinan yang memberikan Sanksi sebagaimana dimaksud ayat (3) harus segera membentuk kepengurusan Daerah, Cabang/Unit sementara di Provinsi/Kota/Kabupaten yang dikenai sanksi pembekuan kepengurusan, untuk masa jabatan selama lamanya satu tahun, dengan tugas menjaga agar tugas dan fungsi organisasi tetap berjalan, serta mempersiapkan pelaksanaan musyawarah luar biasa guna memilih ketua dan membentuk kepengurusan organisasi yang baru. Masa jabatan Dewan Pimpinan yang terbentuk pada Musyawarah Luar Biasa sebagaimana dimaksud pada Ayat (3) adalah Lima Tahun. Dewan Pimpinan yang memberikan/menjatuhkan Sanksi sebagaimana dimaksud ayat (1) (2) harus mempertanggung jawabkan kebijakannya kepada Dewan Pimpinan yang tingkatannya lebih tinggi dan kepada Munas/Musda/Muscab/Musnit yang bersangkutan. BAB V KEPUTUSAN (1) Pasal 16 Keputusan dalam sidang diambil dengan Musyawarah untuk mufakat sesuai dengan isi dan jiwa musyawarah yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan.

(2) (3)

(5) (6)

(2) (3) (4) (5)

Jika tidak diperoleh mufakat, maka keputusan diambil atas dasar sura terbanyak berdasarkan Anggaran Dasar / Anggaran Rumah Tangga. Apabila pada pemilihan pertama terdapat jumlah suara yang sama, maka pemungutan suara diulang. Bilamana tidak diperoleh sura terbanyak pada pungutan suara yang kedua maka keputusan diambil oleh Pimpinan Sidang. Pemilihan perorangan dapat dilakukan dengan pungutan sura secara tertulis dan rahasia dan keputusan diambil dengan suara terbanyak atau cara lain yang disepakati oleh peserta musyawarah. BAB VI KEPENGURUSAN Pasal 17 Tata cara Pemilihan Pengurus

(1)

Pemilihan Ketua Umum DPP, Ketua DPD dan Ketua DPC/DPU dilakukan melalui musyawarah untuk mufakat atau pemungutan suara secara langsung, bebas dan rahasia oleh peserta Munas, Musda, Muscab/Musnit dan atau Munaslub,Musdalub, Muscablub/Musnitlub. Ketua Umum/Ketua Pimpinan. terpilih adalah ketua formatur pembentukan Dewan

(2) (3)

Dalam pemilihan pengurus Dewan Pimpinan, ketua formatur dibantu oleh pembantu Formatur, yang dipilih secara musyawarah dan mufakat atau melalui pemungutan suara secara langsung, bebas dan rahasia oleh peserta Munas, Musda, Muscab/Musnit dan atau Munaslub,Musdalub, Muscablub/Musnitlub. Ketentuan tentang pemilihan Ketua Umum DPP, Ketua DPD dan Ketua DPC/DPU serta Pengurus Dewan Pimpinan, diatur lebih lanjut dalam tata tertib. Pasal 18 Pelantikan Pengurus

(4)

(1) (2) (3)

Dewan Pimpinan Pusat dilantik oleh Pimpinan Munas/Munaslub. Dewan Pimpinan Daerah dilantik oleh Dewan Pimpinan Pusat. Dewan Pimpinan Cabang/Unit dilantik oleh Dewan Pimpinan Daerah. Pasal 19 Kode Etik Anggota dan Pengurus

(1).

Kode Etik Anggota dan Pengurus ORGANDA adalah sebagai tuntunan moral dan perilaku yang mengikat seluruh Anggota dan Pengurus ORGANDA diseluruh tingkatan Organisasi. Kode etik anggota dan pengurus ORGANDA diatur lebih lanjut dalam Peraturan Organisasi.

(2).

Pasal 20 Sanksi Terhadap Fungsionaris Dewan Pimpinan (1). Setiap Fungsionaris Dewan Pimpinan dapat dikenai Sanksi oleh Dewan Pimpinan, karena: a. Secara sadar melanggar atau tidak mematuhi Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga. b. Bertindak merugikan dan atau mencemarkan nama baik organisasi. c. Melanggar Peraturan Organisasi (PO) dan keputusan organisasi lainnya. d. Tidak memenuhi atau melalaikan kewajibannya sebagai anggota Dewan Pimpinan. e. Menyalahgunakan kedudukan, wewenang dan kepercayaan yang diberikan organisai. Sanksi yang diberikan oleh Dewan Pimpinan sesuai dengan tingkat kesalahan yang dilakukan, adalah: Peringatan tertulis Pemberhentian sementara (skorsing). Pemberhentian tetap dari Jabatan. Keputusan pemberhentian sementara atau pemberhentian tetap kepada Fungsionaris Dewan Pimpinan yang bersangkutan dilakukan setelah terlebih dahulu diberikan peringatan tertulis sebanyak 3 (tiga) kali berturut turut, terkecuali dalam hal hal yang dianggap luar biasa dapat dilakukan melalui rapat Pleno Dewan Pimpinan. Dalam masa pemberhentian sementara dan setelah pemberhentian tetap, Fungsionaris Dewan Pimpinan yang bersangkutan kehilangan haknya sebagai pengurus. Fungsionaris Dewan Pimpinan yang dikenai Sanksi pemberhentian sementara dan pemberhentian tetap berhak melakukan pembelaan diri secara berjenjang pada forum musyawarah resmi organisasi sesuai dengan tingkatannya masing masing. Hak hak rehabilitasi dapat diberikan kepada Fungsionaris Dewan Pimpinan yang telah mendapat sanksi, dengan keputusan organisasi. Pasal 21 Kesekretariatan Organisasi Pada setiap jenjang organisasi ORGANDA harus mempunyai sekretariat organisasi, dengan uraian tugas, jabatan dan wewenang sebagai berikut: (1) (2) Sekretariat ORGANDA disetiap tingkatan bertugas melayani semua urusan Dewan Pimpinan dan Dewan Pertimbangan ORGANDA masing masing. Sekretariat ORGANDA disetiap tingkatan melaksanakan semua ketetapan dan tugas tugas harian yang dibebankan oleh Dewan Pimpinan dan Dewan Pertimbangan masing masing, yang tidak merupakan kebijakan, mengelola segala urusan administrasi, manajemen kesekretariatan, personalia, keuangan, harta benda organisasi dan berbagai tugas tugas kesekretariatan lainnya.

(2).

(3).

(4).

(5).

(6).

Pasal 22 Sekretaris Eksekutif (1) Kesekretariatan ORGANDA diseluruh tingkatan dapat dipimpin oleh seorang Sekretaris Eksekutif, yang diangkat dan diberhentikan oleh serta bertanggung jawab kepada Dewan Pimpinan masing masing, berdasarkan kontrak kerja sesuai dengan ketentuan peraturan organisasi yang ditetapkan oleh Dewan Pimpinan Organisasi masing masing. Sekretaris eksekutif bukan pengusaha angkutan karena itu jabatan Sekretaris eksekutif tidak boleh dirangkap oleh anggota Dewan Pimpinan /Dewan Pertimbangan ORGANDA. Dalam menjalankan tugas sehari hari Sekretaris eksekutif dapat dibantu oleh beberapa assisten Sekretaris Eksekutif serta staf lainnya, yang jumlah serta pembagian kerjanya diatur sesuai kebutuhan Dewan Pimpinan Organisasi atas persetujuan Dewan Pimpinan masing-masing. Sekretaris eksekutif serta staf lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (3) adalah tenaga professional yang bekerja penuh waktu, yang diangkat dan diberhentikan oleh Dewan Pimpinan masing masing serta dalam melaksanakan tugasnya bertanggung jawab kepada Sekretaris eksekutif, berdasarkan kontrak kerja sesuai dengan ketentuan peraturan organisasi yang ditetapkan oleh Dewan Pimpinan masing masing. BAB VII DEWAN PERTIMBANGAN Pasal 23 Struktur, Tugas dan Fungsi Dewan Pertimbangan (1) (2) Struktur organisasi Dewan Pertimbangan terdiri dari satu orang Ketua, satu orang Wakil Ketua dibantu beberapa orang anggota. Tugas dan fungsi Dewan Pertimbangan adalah memberikan pertimbangan, saran dan masukan, atas pelaksanaan ketentuan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga, Kode etik anggota, kode etik pengurus ORGANDA dan ketentuan ketentuan organisasi lainnya, baik diminta dan atau tidak diminta oleh Dewan Pimpinan Organisasi. BAB VIII KEUANGAN Pasal 24 Sumber Dana (1). Organisasi ORGANDA memperoleh dana sebagaimana diatur dalam Pasal 31 ketentuan Anggaran Dasar. Setiap anggota wajib membayar Uang Pangkal dan Uang Iuran: a. Uang pangkal dipungut satu kali untuk setiap anggota. b. Uang iuran dipungut dari setiap unit kendaraan anggota.

(2)

(3)

(4)

(2).

(3).

Tatacara pemungutan uang pangkal dan uang iuran anggota diatur lebih lanjut dalam Peraturan Organisasi. Untuk menciptakan sumber keuangan organisasi, Dewan Pimpinan ORGANDA diseluruh tingkatan dapat membentuk badan usaha, sepanjang tidak bertentangan dengan Ketentuan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga serta Peraturan Organisasi lainnya. Usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (4) bukan usaha angkutan jalan. Pasal 25 Perimbangan Pembagian Keuangan

(4).

(5).

(1)

Dari jumlah pendapatan keuangan yang bersumber dari uang pangkal dan uang iuran anggota pembagian perimbangan keuangannya ditetapkan sebagai berikut: a. 60 % Untuk Organisasi Cabang/Unit b. 30 % Untuk Organisasi Daerah c. 10 % Untuk Organisasi Pusat Dari jumlah pendapatan keuangan yang bersumber dari usaha usaha yang sah yang dilaksanakan oleh Dewan Pimpinan organisasi disetiap tingkatan. Tatacara pembagian keuangan yang dimaksud pada ayat (1) dan sanksinya ditetapkan dalam Peraturan Organisasi. Pasal 26 Penggunaan dan pengelolaan keuangan

(2) (3)

(1)

Kebijakan penggunaan dan pengelolaan keuangan organisasi ORGANDA diseluruh tingkatan ditetapkan dalam program kerja tahunan yang disusun sekretariat organisasi dan disetujui Dewan Pimpinan Organisasi. Pasal 27 Pertanggung Jawaban Keuangan

(1)

Rapat Dewan Pimpinan Organisasi ORGANDA disetiap tingkatan untuk membahas dan meneliti laporan keuangan dan perbendaharaan organisasi dari sekretariat masing - masing diadakan selambat lambatnya satu kali dalam tiga bulan. Dewan Pimpinan Pusat memiliki wewenang untuk melakukan audit atas laporan pertanggung jawaban keuangan yang disampaikan oleh Dewan Pimpinan Daerah dan Dewan Pimpinan Cabang/unit ORGANDA. Laporan keuangan dan perbendaharaan organisasi harus disampaikan pada setiap Mukernas, Mukerda dan Mukercab/Mukernit tahunan masing masing tingkatan organisasi. Pencatatan keuangan organisasi ORGANDA disetiap tingkatan dimulai setiap tanggal satu Januari sampai dengan tanggal tiga puluh satu Desember tahun yang sama.

(2)

(3)

(4)

(5)

Dewan Pimpinan mempertanggung jawabkan pengawasan pengelolaan keuangan dan perbendaharaan organisasi kepada Munas/Musda dan Muscab/Musnit masing masing. BAB IX MUSYAWARAH DAN RAPAT ORGANISASI Pasal 28 Musyawarah Nasional (Munas)

(1) (2)

Musyawarah Nasional dihadiri oleh Peserta dan Peninjau. Peserta Musyawarah Nasional adalah: a. b. c. Dewan Pimpinan Pusat. Dewan Pimpinan Daerah. Dewan Pimpinan Cabang/Unit.

(3)

Peninjau Musyawarah Nasional adalah: a. Dewan Pertimbangan Nasional. b. Utusan Dewan Pimpinan Daerah. c. Utusan Dewan Pimpinan Cabang/Unit. d. Undangan lainnnya yang dianggap perlu yang ditetapkan oleh Dewan Pimpinan Pusat Pasal 29 Hak Suara

(1) (2) (3)

Setiap peserta mempunyai hak suara dan Hak Bicara yang sama. Peninjau hanya memiliki hak Bicara atas persetujuan Pimpinan Sidang. Dalam Musyawarah Nasional, DPP,DPD dan DPC/DPU masing masing 1 (satu) suara. Pasal 30 Musyawarah Nasional Luar Biasa, Musyawarah Daerah Luar Biasa, Musyawarah Cabang/Unit Luar Biasa

(1) (2)

Munaslub dapat diselenggarakan atas permintaan sekurang kurangnya setengah ditambah satu jumlah Dewan Pimpinan Daerah. Mengenai tahap-tahap penyelenggaraan Munaslub, Musdalub dan Muscablub/Musnitlub, diatur lebih lanjut dalam Peraturan Organisasi. a. Setiap Dewan Pimpinan Daerah ORGANDA yang meminta diadakan Munaslub dapat menarik kembali permintaannya, jika kemudian Dewan Pimpinan Daerah yang bersangkutan berpendapat telah terjadi kesalahan dalam penilaian atas kinerja Dewan Pimpinan Pusat. b. Dewan Pimpinan Daerah ORGANDA yang menarik kembali permintan diadakannya Munaslub sebagaimana dimaksud pada huruf a. tidak dibolehkan mengulangi permintaannya atau ikut serta meminta diadakannya Munaslub untuk alasan permasalahan yang sama. Dewan Pimpinan Daerah yang meminta dilaksanakan penyelenggara dan penanggung jawab Munaslub. Munaslub menjadi

(3)

(4)

Dewan Pimpinan Daerah yang meminta dilaksanakan Munaslub sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dapat membentuk Komite bersifat ad-hoch sebagai penyelenggara Munaslub. a. Pada Munaslub tidak ada Peninjau. b. Ketentuan penyelenggaraan tentang Munaslub, berlaku penyelenggaraan Musdalub dan Muscablub/Musnitlub, tingkatannya masing - masing. Pasal 31 Musyawarah Nasional Khusus (Munassus) pula untuk disesuaikan

(1).

a. Untuk melakukan sinkronisasi suatu keadan yang memaksa Munassus dapat menetapkan dan mensyahkan Perubahan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga sebagaimana dimaksud pada Anggaran Dasar Pasal 19 ayat (1) butir a. diselenggarakan oleh Dewan Pimpinan Pusat setelah mendapat persetujuan Pleno DPP diperluas. b. Munassus untuk menetapkan dan mensyahkan pembubaran Organisasi sebagaimana dimaksud pada Anggaran Dasar Pasal 19 ayat (1) butir b.diselenggarakan oleh Dewan Pimpinan Pusat berdasarkan permintaan/persetujuan sekurang kurangnya Dua Per Tiga (2/3) Jumlah Dewan Pimpinan Daerah. Ketentuan tentang peserta dan peninjau serta hak dan kewajiban Peserta dan Peninjau pada Munas berlaku pula pada Munassus, kecuali pada Munassus untuk menetapkan dan membubarkan organisasi sebagaimana dimaksud ayat (1) butir b. tidak ada Peninjau Munassus. a. Munassus untuk menetapkan dan mensyahkan perubahan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga sebagaimana dimaksud ayat (1) butir a. dinyatakan korum dan syah jika dihadiri sekurang kurangnya Dua Per tiga (2/3) Jumlah Dewan Pimpinan Daerah. b. Munassus untuk menetapkan dan mensyahkan pembubaran Organisasi sebagaimana dimaksud ayat (1) butir b. dinyatakan korum dan syah jika dihadiri seluruh utusan Dewan Pimpinan Daerah dan utusan Dewan Pimpinan Cabang/Unit. Selambat lambatnya 3 (tiga) bulan setelah pelaksanaan Munassus, Dewan Pimpinan Pusat sudah harus mengumumkan seluruh hasil keputusan Munassus. Pasal 32 Musyawarah Kerja Nasional / Badan Musyawarah Pleno ORGANDA

(2).

(3).

(4).

(1) (2)

(3)

Mukernas/BMP dihadiri oleh Peserta dan Peninjau. Peserta Musyawarah Kerja Nasional/BMP adalah: a. Dewan Pertimbangan Nasional b. Dewan Pimpinan Pusat c. Para Ketua Dewan Pimpinan Daerah Peninjau Musyawarah Kerja Nasional/BMP adalah: a. Dewan Pertimbangan Nasional. b. Utusan Dewan Pimpinan Daerah. c. Undangan lainnnya yang dianggap perlu yang ditetapkan oleh Dewan Pimpinan Pusat

Pasal 33 Musyawarah Daerah (Musda) (1) (2) Musyawarah Daerah dihadiri oleh Peserta dan Peninjau. Peserta Musyawarah Daerah adalah: Dewan Pimpinan Pusat. Dewan Pimpinan Daerah. Dewan Pimpinan Cabang/Unit. Peninjau Musyawarah Daerah adalah: a. Dewan Pertimbangan Daerah b. Tamu undangan yang dianggap perlu yang ditetapkan oleh Dewan Pimpinan Daerah. Undangan serta rancangan Acara dan rancangan Tata Tertib Musyawarah Daerah harus sudah disampaikan oleh Dewan Pimpinan Daerah kepada seluruh Peserta Musda selambat lambatnya 1 (satu) bulan sebelum pelaksanaan Musyawarah Daerah. Pasal 34 Musyawarah Kerja Daerah (Mukerda) (1) (2) Mukerda dihadiri oleh Peserta dan Peninjau. Peserta Musyawarah Kerja Daerah adalah: a. Utusan Dewan Pertimbangan Daerah. b. Dewan Pimpinan Daerah c. Utusan Dewan Pengurus Cabang/Unit. Peninjau Musyawarah Kerja Daerah adalah: a. Dewan Pimpinan Pusat b. Dewan Pertimbangan Daerah. c. Anggota Dewan Pimpinan Cabang/Unit. d. Tamu undangan yang dianggap perlu yang ditetapkan oleh Dewan Pimpinan Daerah. Pasal 35 Musyawarah Cabang/Unit (Muscab/Musnit) (1) (2) Musyawarah Cabang /Unit dihadiri oleh Peserta dan Peninjau. Peserta Musyawarah Cabang /Unit adalah: a. Utusan Dewan Pimpinan Daerah. b. Dewan Pimpinan Cabang/Unit. c. Anggota. Peninjau Musyawarah Cabang/Unit adalah: a. Dewan Pertimbangan Cabang b. Anggota Luar biasa c. Undangan yang dianggap perlu yang ditetapkan oleh Dewan Pimpinan Cabang /Unit Pasal 36 Musyawarah Kerja Cabang /Unit (Mukercab/Mukernit) (1). (2). Mukercab/Mukernit dihadiri oleh Peserta dan Peninjau. Peserta Musyawarah Kerja Cabang/Unit adalah:

(3)

(4)

(3)

(3)

a. b. (3)

Dewan Pimpinan Cabang/Unit. Anggota.

Peninjau Musyawarah Kerja Cabang/Unit adalah: a. Dewan Pimpinan Daerah b. Tamu undangan yang dianggap perlu yang ditetapkan Dewan Pimpinan Cabang/Unit. BAB X LAMBANG DAN BENDERA/PATAKA ORGANDA Pasal 37 Lambang ORGANDA

Bentuk, Warna, arti dan makna lambing ORGANDA tertera pada lampiran 1 Anggaran Rumah Tangga ini. Pasal 38 Bendera/Pataka ORGANDA (1). Organisasi ORGANDA disetiap tingkatan wajib memiliki bendera/pataka ORGANDA yang seragam bentuknya. Ketentuan mengenai bendera/pataka ORGANDA tertera pada lampiran 2 Angaran Rumah Tangga ini. Pada hari hari biasa, Bendera/Pataka ORGANDA dipasang di Kantor Sekretariat ORGANDA masing masing pada posisi disamping kiri Bendera Merah Putih. Pada acara acara resmi organisasi seperti Munas/Munassus/Munaslub/ Mukernas/Musda/Musdalub/Mukerda/Muscab/Musnit/Muscablub/Musnitlub /Mukercab/Mukernit dan pertemuan pertemuan resmi organisasi lainnya, Bendera/Pataka ORGANDA dari tingkat organisasi yang bersangkutan dipasang di depan podium berdampingan dengan bendera Merah Putih pada posisi disamping kiri Bendera Merah Putih dan dibelakang atau disampingnya dikelilingi oleh Bendera/Pataka ORGANDA dari organisasi yang tingkatannya berada langsung dibawahnya. BAB XI PERUBAHAN ANGGARAN RUMAH TANGGA Pasal 39 Perubahan Anggaran Rumah Tangga Perubahan Anggaran Rumah Tangga ORGANDA ditetapkan berdasarkan ketetapan Musyawarah Nasional (Munas), sebagaimana diatur dalam Anggaran Dasar Pasal 17 Ayat (3) huruf b. atau ketetapan Musyawarah Nasional Khusus (Munassus) sebagaimana diatur dalam Anggaran Dasar Pasal 19 ayat (1) huruf a.

(2).

(3).

BAB XII PEMBUBARAN ORGANISASI Pasal 40 Pembubaran Organisasi (1). Pembubaran ORGANDA dapat dilaksanakan apabila merupakan keputusan Mutlak dari Peserta yang memiliki hak suara yang hadir dalam Musyawarah Nasional Khusus (Munassus) sebagaimana dimaksud dalam Anggaran Dasar Pasal 19 Ayat (1) huruf b. dan Anggaran Rumah Tangga Pasal 31 Ayat (1) huruf b. Apabila ORGANDA dibubarkan maka Musyawarah Nasional Khusus (Munassus) harus menetapkan syarat pembubaran serta syarat likuidasi harta kekayaan ORGANDA. BAB XIII ATURAN PENUTUP Pasal 41 Penutup (1). Anggaran Rumah Tangga ini ditetapkan ORGANDA pada tanggal 2 Desember 2004. oleh Musyawarah Nasional XIII

(2).

(2).

Sejak berlakunya Anggaran Rumah Tangga yang baru, sebagaimana dimaksud pada ayat (1), maka Anggaran Rumah Tangga yang ada dan telah berlaku sebelum Anggaran Rumah Tangga ini dinyatakan tidak berlaku lagi. Agar setiap anggota dapat mengetahuinya dan Dewan Pimpinan ORGANDA diseluruh tingkatan Organisasi ORGANDA diperintahkan untuk mengumumkan dan atau menyebarluaskan Anggaran Rumah Tangga ini kepada setiap anggota dan khalayak lainnya. Pasal 42 Lain lain

(3).

(1).

Hal hal yang belum cukup diatur di dalam Anggaran Rumah Tangga ini, diatur lebih lanjut oleh Dewan Pimpinan Pusat ORGANDA melalui Peraturan Organisasi (PO) tersendiri, sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga ini dan dipertanggung jawabkan dalam Musyawarah Nasional berikutnya.

Anda mungkin juga menyukai