P. 1
Tantangan Dewan Da'wah

Tantangan Dewan Da'wah

|Views: 93|Likes:
Dipublikasikan oleh alif fikri

More info:

Published by: alif fikri on Feb 04, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

11/29/2015

pdf

opini

Dr Adian Husaini
Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia

REPUBLIKA

Halaman >> Senin > 4 Oktober 2010

4

Tantangan Dewan Dakwah

>> tajuk <<

P

ada 4-7 Oktober 2010, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) menggelar silaturahim nasional (silaknas). Organisasi dakwah ini didirikan oleh sejumlah tokoh dan pendiri bangsa pada 26 Februari 1967. Selain Mohammad Natsir (mantan perdana menteri RI dan pahlawan nasional), ada nama-nama besar lain yang ikut mendirikan DDII, seperti Prof HM Rasjidi, menteri agama pertama RI Mr Sjafrudin Prawiranegara (gubernur BI pertama), dan Prawoto Mangkusasmito. Jadi, pada 2010 ini, DDII memasuki usia yang ke-43 tahun—satu usia yang sudah cukup matang untuk sebuah organisasi dakwah. Perjalanan DDII selama ini tidak bisa dilepaskan dari visi dan kiprah perjuangan M Natsir, pendiri dan ketua DDII pertama. Ketokohan Natsir yang dikenal luas, baik di dalam maupun di luar negeri, menjadikan DDII kemudian bisa dikatakan identik dengan Natsir. Hingga kini, banyak tokoh di dunia Islam masih mengenal DDII sebagai organisasi “warisan M Natsir”. Tidak mengherankan, jika kiprah DDII pun selama ini identik dengan gagasan dan kiprah M Natsir. Natsir lahir pada 17 Juli 1908. Ia menjalani pendidikan formal melalui HIS (Hollands Inlandsche School), MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs), dan AMS (Algemene Middelbare School). Pendidikan agama dijalaninya melalui madrasah diniyah dan berguru langsung kepada guru-guru terbaik di zamannya. Berbagai kesaksian sejarah menunjukkan, Natsir adalah tokoh yang berhasil memadukan aspek ilmu dan dakwah dalam seluruh

aspek kehidupannya. Dia tidak hanya berceramah dan menulis, tetapi juga terlibat langsung dalam urusan dakwah dan perjuangan. Bahkan, dia sendiri menjadi teladan perjuangan. Sosok, pemikiran, dan ki prah perjuangan M Natsir itulah yang selama ini menjadi aset besar DDII dalam melanjutkan kiprah dakwahnya. Secara ringkas, M Natsir merumuskan perjuangan Islam dalam dua bentuk aktivitas, yaitu “bina’an wa difa’an”, yakni “membangun” dan “mempertahankan diri”. Aktivitas DDII selama 40 tahun lebih difokuskan pada dua aktivitas tersebut. Berbagai program pendidikan dan pelatihan dikem bangkan oleh DDII. M Natsir secara khusus mendidik banyak cendekiawan sebagai ujung tombak dakwah di dunia kampus. Ratusan kader umat dikirim ke luar negeri untuk belajar berbagai bidang keilmuan. Di dalam negeri, berbagai pendidikan dan pelatihan dakwah dilakukan. Tak jarang, Natsir mendidik langsung para juru dakwah yang dikaderinya.

Tiga tantangan
Pada aktivitas “difa’an”, sejak usia belia, Natsir dikenal sangat gigih melakukan aktivitas membendung paham sekularisme dan program pemurtadan di Indonesia. Pada sejumlah cendekiawan, seperti Dr M Amien Rais, Dr Kuntowijoyo, Dr Yahya Muhaimin, Dr A Watik Pratiknya, dan Endang S Anshari, yang diwawancarainya dengan intensif pada 1986-1987, Natsir menyampaikan tiga tantangan dakwah yang perlu dihadapi dengan serius oleh umat Islam Indonesia, yaitu (1) Kristenisasi, (2) Gerakan sekularisasi, dan (3) gerakan nativisasi. Dalam wawancara yang diterbitkan menjadi sebuah buku berjudul, Percakapan Antar Generasi: Pesan Perjuangan Seorang Bapak, tersebut M Natsir mengingatkan perlunya umat Islam mencermati dengan

serius ketiga gerakan tersebut. Kristenisasi merupakan persoalan laten umat Islam yang sudah dijalankan dengan intensif sejak masa penjajahan hingga saat ini. Penjajah Belanda secara khusus menggunakan misi Kristen untuk memuluskan misinya. Sejak era politik etis, awal abad ke-20, Kristenisasi semakin sistematis dikembangkan oleh Pemerintah Belanda, dengan melakukan pendekatan khusus melalui pendidikan dan strategi budaya. Adalah Alexander Willem Frederik Idenburg (menteri urusan penja jahan/1902-1909) dan Gubernur Jenderal di Hindia Belanda (1909—1916), yang menjalankan program Kristenisasi. Idenburg dikenal konsisten melakukan ‘kerstening-politiek’ (politik pengkristenan). Ia menyatakan: “Pilihan untuk Dunia Islam bukanlah Muhammad dan Kristus. Bukan pula Muhammad atau Kristus. Tetapi, hanya Kristus. Kristus atau hancur dan mati. Islam (penyerahan kepada Tuhan) yang sebenarnya adalah menyerah kepada Kristus. Barulah boleh hidup dan bebas.” Pada era Idenburg inilah, organisasi Muhammadiyah lahir pada 1912. Berdirinya Muhammadiyah pada 1912 di Yogyakarta tidak bisa dilepaskan dari konteks zamannya. Salah satu faktor yang melatarbelakangi pendirian organisasi ini adalah adanya penetrasi misi Kristen yang berkembang pesat pada masa politik etis. Hal ini berawal ketika para penguasa keraton Yogyakarta, atas desakan pemerintah kolonial Belanda, menyetujui pencabutan larangan penginjilan terhadap masyarakat Jawa. Paham sekularisme dan gerakan sekularisasi sudah menjadi perhatian tokoh-tokoh DDII, terutama M Natsir, pada era sebelum kemerdekaan. Perdebatan Natsir-A Hasan melawan Soekarno menunjukkan bagaimana kecerdasan, kecerdikan, dan kesungguhan Natsir dalam upaya membendung pa-

ham sekularisme di Indonesia. Pada 1938, M Natsir pernah menulis sebuah artikel berjudul: “Suara Azan dan Lonceng Gereja”. Artikel ini mengomentari hasil Konferensi Zending Kristen di Amsterdam pada 2526 Oktober 1938, yang juga menyinggung pentingnya peran pendidikan Barat dalam menjauhkan kaum Muslim dari agamanya. Sementara itu, program nativisasi dilakukan dengan tujuan menjauhkan bangsa Indonesia dari akar sejarah dan budaya Islam. Program ini secara sistematis dilakukan di seluruh dunia Islam. T Ceyler Young menyebutkan: “Di setiap negara yang kami masuki, kami gali tanahnya untuk membongkar peradaban-peradaban sebelum Islam. Tujuan kami bukanlah untuk me ngembalikan umat Islam pada akidah-akidah sebelum Islam, tetapi cukuplah bagi kami membuat mereka terombangambing antara memilih Islam atau peradaban-peradaban lama tersebut.” Upaya nativisasi ini tampak jelas pada pengajaran sejarah di sekolah-sekolah. Sejarah ditulis dan diajarkan di sekolahsekolah dalam perspektif netral agama. Islam tidak ditempatkan sebagai faktor signifikan dalam perjuangan kemerdekaan dan mempertahankan kemerdekaan. Tokoh-tokoh dan budaya yang ditonjolkan bukanlah tokoh dan budaya Islam. Islam dikesankan sebagai pendatang atau tamu di negara ini. Orientalis Belanda memosisikan Islam sebagai “cat” yang melapis kayu. Sedangkan jati diri bangsa In donesia tidak tersentuh oleh Islam. Tiga tantangan dakwah yang disebutkan M Natsir itu masih sangat relevan untuk dikaji dan direspons dengan serius oleh DDII dan lembaga dakwah pada umumnya. Apalagi, ibarat kanker, tantangan itu kini semakin menggurita dan menyebar ke berbagai bagian tubuh umat Islam. I

Penyakit Orientasi Seksual
Orientasi seksual ke sesama jenis oleh dunia Barat dinilai sebagai kenyataan sosial yang harus diterima. Hal itu disetarakan dengan orientasi seksual ke lawan jenis. Karena itu, perilaku lesbian dan homoseksual merupakan bagian dari hak asasi manusia. Tentu saja hal itu merupakan persoalan besar bagi dunia Timur dan agama. Mereka tegas menolak hal itu. Mereka menilai orientasi seksual sesama jenis sebagai bentuk penyimpangan dan merupakan suatu penyakit kejiwaan yang bisa disembuhkan. Apalagi, menurut ilmu kedokteran, peran genetik sangat kecil sekali pengaruhnya. Sebagian besar, sekitar 80 persen, orientasi seksual sesama jenis lebih karena pengaruh sosial. Jadi, homoseksualitas dan lesbian merupakan penyakit kejiwaan yang menular. Karena itu, kita harus menjaga lingkungan kita dari penyakit kejiwaan semacam ini. Namun celakanya, orientasi seksual sesama jenis ini seolah menjadi paket tak terpisahkan dari suatu kebebasan dan demokrasi. Jadi, kita belum dinilai sebagai masyarakat yang demokratis dan menghormati hak asasi manusia jika tak bisa menerima kesetaraan hak bagi kaum homo dan lesbi. Misalnya, mereka berhak membentuk keluarga dan perlakuan hukum yang sama. Jika menolak, kita akan distempel sebagai pribadi dan bangsa yang barbar, tak toleran, diskriminatif, dan seterusnya. Maka tak heran, hingga saat ini, hanya FPI yang mempunyai sikap yang jelas dan tegas terhadap penyelenggaraan Q! Film Festival alias festival film gay dan lesbian. Organisasi ini menolak penyelenggaraan festival tersebut. FPI juga mengadukan penyelenggara festival tersebut ke Polda Metro Jaya karena mengandung unsur pornografi dalam film tersebut. Pemerintah segera bersikap. Rupanya film-film tersebut belum masuk Lembaga Sensor Film. Padahal, festival sudah berlangsung sejak 29 September dan akan berakhir 3 Oktober. Sikap pemerintah yang gamang dan terlambat ini juga menunjukkan ketakutan pada stempel antitoleransi dan semacamnya. Kita jadi rindu pada ketegasan Mahathir Mohammad, mantan perdana menteri Malaysia. Ia dengan tegas menolak gay dan lesbi. Menurut dia, untuk menjadi negara dan bangsa yang maju, Malaysia tak harus menjadi gay dan lesbi terlebih dahulu. Betapa berbedanya dengan sikap para pemimpin kita yang lebih menyukai bedak dan aksesori. Betapa inferior dan tak percaya dirinya para pemimpin kita. Padahal, mereka memegang amanah dan tanggung jawab yang besar karena kedudukannya. Mereka bisa pemimpin politik ataupun pemimpin agama. Kita sedih betapa para ulama kita telah menjadi ulama salon, yang haus kedudukan, pujian, popularitas, dan segala atribut duniawi. Padahal, cukup membuat pernyataan, jumpa pers, ataupun berunjuk rasa secara damai. Itu bagian dari kebebasan berbicara, berekspresi, dan berpendapat. Itu dijamin undang-undang dan selaras dengan prinsip kebebasan, demokrasi, dan hak asasi manusia. Namun, hingga kini semuanya bungkam. Lalu, mereka ini pemimpin macam apa? Ulama macam apa? Politikus macam apa? Negarawan macam apa? Sudah saatnya negara dan lembaga agama menyikapi isu homoseksualitas dan lesbian ini secara lebih serius. Indonesia telah menjadi target untuk menjadi pusat komunitas mereka. Jika kita melihat lembaga-lembaga pendukungnya, betapa negara-negara Barat berada di belakangnya. Lembaga-lembaga itu merupakan organ resmi yang menyalurkan dana-dana pemerintah. Tentu itu bukan tanpa alasan, dan bukan sekadar soal kebebasan. Selalu saja ada unsur ketahanan nasional. Pada sisi lain, jumlah orang yang terjangkit penyakit kejiwaan ini makin besar di Indonesia. Kita bisa merasakan di sekeliling kita. Khusus untuk ormas keagamaan, sudah saatnya membentuk divisi konseling dan rehabilitasi. Banyak orang tua yang mulai mencemaskan perkembangan anak-anaknya yang menyimpang. Namun, mereka tak tahu harus mengadu ke mana. Selain itu, penyuluhan dan kampanye harus segera digalakkan sebelum semuanya terlambat. Saat ini saja, para ulama sudah kelu tak bisa berucap. Pemerintah dan anggota dewan pun gamang. Padahal, kita dalam keadaan under attack karena penyakit kejiwaan ini bisa ditularkan. I

Reshuffle (Paradigma) Kabinet
Irfan Ridwan Maksum
Guru Besar Tetap Ilmu Administrasi Negara FISIP UI

S

etiap wacana reshuffle bergulir, jika diamati sebelumnya terdapat eskalasi tekanan terhadap pemerintah dari para politikus, baik di Senayan maupun yang berada di balik meja partai tertentu. Seakan ada hubungan antara tekanan partai politik terhadap pemerintah dan reshuffle kabinet. Reshuffle di mata para politisi dan pemerintah (eksekutif) akan mengatasi kekisruhan yang terjadi. Terkadang juga keinginan reshuffle merupakan gertak eksekutif terhadap para politisi yang menekan mengenai soal-soal strategis terkait keberadaannya. Adakalanya reshuffle diingini oleh para politisi, justru ditanggapi dingin oleh eksekutif seperti pada mulanya terhadap Sri Mulyani yang akhirnya diganti juga. Dengan demikian, reshuffle masih berada dalam ranah sumber daya manusia seorang menteri. Mengganti menteri dianggap memecahkan masalah. Tetapi faktanya, kabinet masih lamban.

Status quo paradigma
Out put kinerja kabinet RI seolah selalu dinamis. Menurut saya, itu semua masih subsisten karena sesungguhnya berbagai elemen di dalam masyarakat bisa berjalan sendiri

tanpa intervensi sistematis terarah dari negara (baca: kabinet). Dengan kata lain, jika semua menteri tidur, niscaya negara bangsa ini masih bisa berjalan dan bergerak. Itu saja masih digerogoti tikus-tikus koruptor. Lalu buat apa pajak ditarik dari masyarakat, buat apa keuangan negara triliunan rupiah digelontorkan untuk menggerakkan kabinet? Kondisi tersebut dapat diubah jika contoh dari eksekutif sebagai penguasa (the master) bekerja efektif memengaruhi kabinet. Dengan kata lain, melalui kerja kabinet, kondisi di atas niscaya dapat diubah jika mendapat dorongan contoh dari eksekutif. Hal ini harus bersifat paradigmatik kalau mau efektif. Seperti kita tahu, gerakan paradigmatik berasal dari kegiatan empiris yang dilakukan terus-menerus. Justru inilah reshuffle yang lebih penting daripada mengganti orang (menteri). Siapa pun menterinya jika paradigmanya tidak berubah, niscaya hasilnya tidak mengalami kemajuan berarti buat bangsa Indonesia. Perubahan paradigma kabinet ini dipengaruhi oleh perubahan paradigma eksekutif. Ada tiga paradigma yang fatal di benak eksekutif yang bisa kita baca. Pertama, paradigma menunggu. Paradigma ini tampak dari kegiatan eksekutif yang tidak mampu menjadi ikon di mata kabinet dalam menyelesaikan soal-soal yang dihadapi bangsa Indonesia yang

sebetulnya membutuhkan penanganan serius dan mudah direncanakan tetapi tidak dilakukan dengan baik. Kedua, paradigma reaktif. Kita bisa tahu dari pernyataan-pernyataan eksekutif di media massa yang terkadang tidak dilandasi oleh konsep yang kuat. Ketiga, paradigma pragmatis. Pragmatisme ini bertingkat. Mulai dari keluarga, partai, sampai negara. Kepentingan keluarga tampaknya memberi alasan terhadap pemberian grasi terhadap koruptor yang seharusnya menjalani hukuman sampai penuh. Peristiwa pemberian cenderamata pada saat upacara peringatan hari Kemerdekaan RI juga menampakkan hal tersebut. Eksekutif pun masih menjadi dewan pembina partainya sebagai bukti pragmatisme terhadap partainya. Di samping itu, eksekutif condong bersikap inward looking sehingga tidak tahu kita telah tertinggal dari negara tetangga. Eksekutif tidak serius mengacu keberhasilan negara tetangga untuk dicontoh.

Pardigma shift
Ketiga paradigma tersebut harus diubah. Pertama, dari menunggu menjadi memimpin. Eksekutif harus memiliki ketegasan dan memperlihatkan keberpihakan pilihan kebijakannya (decisive). Eksekutif perlu mengembangkan action plan yang dipantau secara kontinu dan radikal dalam membawa

kabinet ke arah kemajuan. Syaratnya, platform yang mengacu Rencana Jangka Panjang Indonesia dan Ideologi negera, diwujudkan secara serius. Kabinet harus dipengaruhi betul oleh platform tersebut melalui tangan eksekutif sendiri. Kedua, dari paradigma reaktif ke proaktif. Eksekutif harus mampu membuka mata kabinet ke arah tertentu untuk kemajuan bangsa Indonesia. Eksekutif mampu menyeleksi persoalan yang berkembang dan isunya yang terpilah menjadi urutan prioritas. Ketiga, dari pragmatis menjadi visioner. Eksekutif perlu melakukan perubahan radikal dalam segala kegiatannya yang diturunkan dari platform-nya secara kontinu agar betul-betul menjadi sebuah keyakinan di benak kabinet, sehingga memiliki tekad yang sama dalam mewujudkannya. Eksekutif harus tidak sungkan melakukan shared value untuk kabinet. Ketiga perubahan paradigma ini jika berjalan, niscaya perubahan yang berupa kocok ulang orang (menteri) tidak diperlukan. Syaratnya dari sejak awal pilihan terhadap menteri tertentu sudah melalui proses yang merit. Perubahan paradigma yang dilakukan secara serius akan berdampak pada output kerja kabinet. Siapa pun menterinya akan mengikuti irama eksekutif. Jika eksekutif tidak berparadigma, tentu berbahaya untuk efektivitas manajemen organisasi negara. I

>> suarapublika <<
PENEGAKAN HUKUM Ke Mana Para Tokoh?
Kepercayaan rakyat terhadap lembaga penegakan hukum saat ini sudah sangat memprihatinkan. Oleh karena itu, perlu peran lebih aktif dari para tokoh nasional, pendekar bangsa untuk mengawasi dan membimbing terus-menerus secara tidak langsung dari luar proses penegakan hukum (misal melalui media massa), agar para pelaku penegakan hukum tidak berani berbuat macammacam. Dalam kondisi memprihatinkan seperti sekarang ini janganlah terlalu terbelenggu dengan perasaan seolah telah intervensi atau mencampuri proses peradilan. Rasa keadilan masyarakat adalah tujuan tertinggi dan berada di atas segalanya dari semua proses peradilan. Semua peraturan, hakim, jaksa, polisi, dan pengacara tak lebih hanya sebagai alat (yang setiap saat dapat diganti) untuk mencapai rasa keadilan tersebut. Bila perangkat peradilan ini sudah tidak dapat lagi bekerja dengan semestinya, sangat diharapkan para tokoh masyarakat sebagai penyambung rasa keadilan masyarakat bangkit dan berjuang kembali di garis depan. Saya melihat banyak para tokoh nasional belum bersuara. Lihat saja pada kasus-kasus besar, seperti kasus Bibit Chandra, Susno Duadji, Gayus dll. Terakhir ramai dibicarakan pengangkatan kapolri dan jaksa agung. Walaupun ini merupakan hak prerogatif Presiden, lagi-lagi ini jangan dijadikan penghalang para tokoh untuk memberikan masukan-masukan yang jernih karena Allah jauh dari kepentingan politik, ekonomi, dan kepentingan keduniaan lainnya. Presiden juga manusia biasa yang sangat memerlukan masukan dari para tokoh. Berjihadlah wahai para tokoh nasional, jadilah pahlawan dan ambillah kesempatan ini sambil menghabiskan sisa waktu hidup ini.

Marjuki Jl Jeruk, Gg Alkesa No 70 Jagakarsa, Jakarta Selatan
Penerbit: PT. Republika Media Mandiri. Alamat Redaksi: Jl. Warung Buncit Raya No. 37, Jakarta 12510, Alamat Surat: PO Box 1006/JKS-Jakarta 12010. Tel: 021-780.3747 (Hunting), Fax: 021-780.0649 (Seluruh Bagian). Fax Redaksi: 021798.3623, E-mail: sekretariat@republika.co.id. Bagian Iklan: Jl. Warung Buncit Raya No. 37, Jakarta 12510. Tel: 021794.4693, Fax: 021-798.1169. Alamat Perwakilan Iklan: Jl. Gajahmada No. 95, Jakarta 11140. Tel: 021-633.6410. Fax: 021-633.7470. Sirkulasi dan Langganan: Tel: 021-791.98441, Fax: 021-791.98442. Online: http://www.republika.co.id. Alamat Perwakilan: Bandung: Jl. LL RE Martadinata No. 126 Tel: 022-420.7671, 420.7672, 420.7675, Fax: 022-426.2829, Yogyakarta: Jl. Perahu No. 4, Kota Baru, Tel: 0274-544.972, 566028, Fax: 0274-541.582, Surabaya: Jl. Barata Jaya No. 51, Tel: 031-501.7409, Fax: 031-504.5072. Direktur Utama: Erick Thohir. Wakil Direktur Utama: Daniel Wewengkang. Direktur Operasional: Tommy Tamtomo. Direktur Marketing: Prasanti Andrini. GM Keuangan: Didik Irianto. GM Marketing dan Sales: Ismed Adrian. Manager Iklan: Yulianingsih. Manager Produksi: Nurrokhim. Manager Sirkulasi: Darkiman Ruminta. Manager Keuangan: Hery Setiawan. Harga Langganan: Rp. 69.000 per bulan, harga eceran Pulau Jawa Rp 2.900. Harga Eceran Luar Jawa: Rp. 4.000 per eksemplar (tambah ongkos kirim). Rekening Bank a.n PT Republika Media Mandiri: Bank BSM, Cab. Warung Buncit, No. Rek. 0030113448 ( Bank Mandiri, Cab. Warung Buncit, No. Rek. 1270004240642 ( Bank Lippo, Cab. Warung Buncit, No. Rek. 727.30.028988 ( Bank BCA, Cab. Graha Inti Fauzi, No. Rek. 375.305.666.8. Surat Izin Usaha Penerbitan Pers: SK Menpen No. 283/SK/MENPEN/SIUPP/A.7/1992, Anggota Serikat Penerbit Surat Kabar: Anggota SPS No. 163/1993/11/A/2002.

HARIAN UMUM

REPUBLIKA
MAHAKA MEDIA

Semua naskah yang dikirim ke Redaksi dan diterbitkan menjadi milik HU Republika. Semua wartawan HU Republika dibekali tanda pengenal dan tidak menerima maupun meminta imbalan dari siapa pun. Semua isi artikel/tulisan yang berasal dari luar, sepenuhnya tanggung jawab penulis yang bersangkutan. (Semua isi artikel/tulisan yang terdapat di suplemen daerah, menjadi tanggung jawab Kepala Perwakilan Daerah bersangkutan.

Pemimpin Redaksi: Ikhwanul Kiram Mashuri. Wakil Pemimpin Redaksi: Nasihin Masha. Redaktur Pelaksana: Agung Pragitya Vazza. Kepala Newsroom: Arys Hilman. Kepala Republika Online: Irfan Junaidi. Redaktur Senior: Anif Punto Utomo. Wakil Redaktur Pelaksana: Elba Damhuri, M Ir wan Ariefyanto, S Kumara Dewatasari. Asisten Redaktur Pelaksana: Nurul S Hamami, Subroto, Rakhmat Hadi Sucipto, Nina Chairani Ibrahim, Bidramnanta, Selamat Ginting, Syahruddin El-Fikri. Staf Redaksi: Alwi Shahab, Agus Yulianto Budi Utomo, Burhanuddin Bella, C Purwatiningsih, Damanhuri Zuhri, Darmawan Sepriyossa, Djoko Suceno, Darmawan,Edi Setyoko, Eko Widiyatno,Endro Cahyono, Firkah Fansuri, Harun Husein, Heri Pur wata, Heri Ruslan, Ir wan Kelana, Johar Arief, Joko Sadewo, Khoirul Azwar, Maghfiroh Yenny, Muhammad Subarkah, M Ghufron, Natalia Endah Hapsari, M As’adi, Neni Ridarineni, Andi Nur Aminah, Nur Hasan Murtiaji, Priyantono Oemar, Siwi Tri Puji Budiwiyati, Stevy Maradona,Sunarwoto, Taufiqurrahman Bachdari, Teguh Setiawan, Wachidah Handasah, Yeyen Rostiyani, Yusuf Assidiq. Andri Saubani, Anjar Fahmiarto, Budi Rahardjo, Cepi Setiadi, Desi Susilawati, Dewi Mardiani, Didi Purwadi, Dyah Ratna Meta Novia, Edwin Dwi Putranto, EH Ismail, Endro Yuwanto, Fernan Rahadi, Ferry Kisihandi, Indah Wulandari, Indira Rezkisari, M Ikhsan Shiddieqy, Mansyur Faqih, Mohammad Akbar, M Anis Fathoni, Mohamad Amin Madani, Nidia Zuraya, Palupi Annisa Auliani, Prima Restri Ludfiani, R Hiru Muhammad, Rachmat Santosa Basarah, Rahmat Budi Harto, Ratna Puspita, Reiny Dwinanda, Rosyid Nurul Hakim, Rusdy Nurdiansyah, Susie Evidia Yuvidianti, Teguh Firmansyah, Wardianto, Wulan Tunjung Palupi, Yogi Ardhi Cahyadi, Yoebal Ganesha Rasyid,Yogie Respati, Zaky Al Hamzah. Kepala Desain: Sarjono. Kepala Perwakilan Jawa Barat: Maman Sudiaman. Kepala Perwakilan DIY - Jawa Tengah: Indra Wisnu Wardhana. Kepala Perwakilan Jawa Timur: Asep Nurzaman. Nian Poloan (Medan), Maspril Aries (Palembang), Ahmad Baraas (Bali). Sekretaris Redaksi: Fachrul Ratzi.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->