Anda di halaman 1dari 11

EPISTEMOLOGI: Cara Mendapatkan Pengetahuan yang Benar

1. Epistimologi Masalah epistemologi bersangkutan dengan pertanyaan-pertanyaan tentang pengetahuan. Sebelum dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan kefilsafatan, perlu diperhatikan bagaimana dan sarana apakah kita dapat memperoleh pengetahuan. Jika kita mengetahui batas-batas pengetahuan, kita tidak akan mencoba untuk mengetahui hal-hal yang pada akhirnya tidak dapat diketahui. Sebenarnya kita baru dapat menganggap mempunyai suatu pengetahuan setelah kita meneliti pertanyaan-pertanyaan epistemologi. Epistemologi juga disebut teori pengetahuan (theory of knowledge). Secara etimologi, istilah epistemologi berasal dari kata Yunani episteme berarti pengetahuan, dan logos berarti teori. Dalam Epistemologi, pertanyaan pokoknya adalah apa yang dapat saya ketahui? Persoalan-persoalan dalam epistemologi adalah: 1.Bagaimanakah manusia dapat mengetahui sesuatu?; 2). Dari mana pengetahuan itu dapat diperoleh?; 3). Bagaimanakah validitas pengetahuan a priori (pengetahuan pra pengalaman) dengan pengetahuan aposteriori (pengetahuan purna pengalaman) (Tim Dosen Filsafat Ilmu UGM, 2003, hal.32). Menurut William S.Sahakian dan Mabel Lewis Sahakian, 1965, dalam Jujun S.Suriasumantri, 2005, epistemologi merupakan pembahasan mengenai bagaimana kita mendapatkan pengetahuan: apakah sumber-sumber pengetahuan ? apakah hakikat, jangkauan dan ruang lingkup pengetahuan? Sampai tahap mana pengetahuan yang mungkin untuk ditangkap manuasia Menurut Musa Asyarie, epistemologi adalah cabang filsafat yang membicarakan mengenai hakikat ilmu, dan ilmu sebagai proses adalah usaha yang sistematik dan metodik untuk menemukan prinsip kebenaran yang terdapat pada suatu obyek kajian ilmu. Sedangkan, P.Hardono Hadi menyatakan, bahwa epistemologi adalah cabang filsafat yang mempelajari dan mencoba menentukan kodrat dan skope pengetahuan, pengandaian-pengandaian dan dasarnya, serta pertanggungjawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki. Sedangkan D.W Hamlyn mendefinisikan epistemologi sebagai cabang filsafat yang berurusan dengan hakikat dan lingkup pengetahuan, dasar dan pengendaian-pengendaiannya serta secara umum hal itu dapat diandalkannya sebagai penegasan bahwa orang memiliki pengetahuan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa epistemologi adalah cabang filsafat yang mempelajari asal mula atau sumber, struktur, metode dan sahnya (validitasnya) pengetahuan. Dengan bahasa sederhana, epistemologi merupakan cara mendapatkan pengetahuan dengan benar. Jenis-jenis Epistemologi Jenis-jenis epistemologi dapat bedakan berdasarkan : a. Metode pendekatan 1. Epistemologi metafisis, yaitu Merupakan epistemologi yang mendekati gejala pengetahuan dengan bertitik tolak dari pengandaian metafisika tertentu. Epistemologi macam ini berangkat dari suatu paham tertentu tentang kenyataan, lalu membahas tentang

bagaimana manusia mengetahui kenyataan itu. Kelemahannya adalah (a) epistimolog secara tidak kritis begitu saja mengandaikan bahwa kita dapat mengetahui kenyataan yang ada , dialami dan dipikirkan, (b) hanya menyibukkan diri dengan uraian tentang seperti apa pengetahuan macam itu dan bagaimana diperoleh, (c) metafisika atau pandangan dasar tentang kenyataan secara menyeluruh yang diandaikan oleh epistimolog metafisis sebagai titik tolak, merupakan pengetahuan yang kontroversial 2. Epistimologi Skeptis Jenis epistemologi yang mempunyai pendekatan dengan membuktikan terlebih dahulu apa yang kita ketahui sebagai sesuatu yang sungguh nyata atau benar-benar tidak dapat diragukan lagi dengan menganggap tidak nyata segala sesuatu yang kebenarannya masih dapat diragukan. Kelemahannhya, bersifat skeptis 3. Epistemolgi Kritis Epistemologi ini berangkat dari asumsi, prosedur dan kesimpulan pemikiran akal sehat atau kesimpulan pemikiran ilmiah sebagaimana kita temukan dalam kehidupan, lalu dicoba untuk ditanggapi secara kritis akan asumsi, prosedur dan kesimpulan tersebut. b. Berdasarakan objek yang dikaji 1. Epistemologi individual Epistemologi ini mengkaji struktur pemikiran (status kognitif, proses pemerolehan) manusia sebagai individu yang bekerja dalam proses mengetahui 2. Epistemologi sosial Merupakan kajian filosofis terhadap pengetahuan sebagai data sosiologis. Hubungan sosial, kepentingan sosial dan lembaga sosial merupakan faktor yang menentukan dalam proses, cara, maupun pemerolehan pengetahuan 2. Jarum Sejarah Pengetahuan Pada awalnya, berbagai pengetahuan tidak memiliki pembedaan yang jelas. Pengetahuan hanya didasarkan pada kriteria kesamaan sebagai konsep dasarnya, bukan pembedaan atau diferensiasi antara pengetahuan yang satu dengan yang lainnya. Semuanya menyatu dalam kesatuan yang batas-batasnya kabur dan mengambang (Jujun S. 2007:101). Konsep ini baru mengalami perkembangan pada Abad Penalaran (The Age of Reason, pertengahan abad17). Yang konsekuensinya mengubah pengetahuan dengan konsep dasar kesamaan menjadi pembedaan, dan kemudian melahirkan berbagai spesialisasi pekerjaan yang merubah struktur kemasyarakatan. Pengetahuan mulai dibedakan paling tidak berdasarkan: (a) apa yang diketahui, (b) bagaimana cara mengetahui, dan (c) untuk apa pengetahuan itu digunakan. 3. Pengetahuan

Kehidupan manusia tidak tidak terlepas dari apa yang diketahuinya. Apapun yang diketahuinya (benar atau salah) pasti akan berpengaruh terhadap apa-apa yang dilakukannya. Seiring bertambahnya umur manusia semakin banyak hal yang diketahuinya (Tafsir, 2007:4).

Segala yang diketahui manusia tanpa harus dibuktikan benar atau salahnya itulah yang disebut dengan pengetahuan. Hal senada diungkapkan oleh Ahmad tafsir dalam Filsafat Ilmu (2007:5) bahwa pengetahuan merupakan segala sesuatu yang diketahui manusia. Sementara Jujun S dalam Filsafat Ilmu:sebuah pengantar populer (2007:104) mengatakan bahwa pengetahuan merupakan khasanah kekayaan mental yang secara langsung atau tidak langsung turut memperkaya kehidupan kita. 1. Landasan pengetahuan a. Landasan ontologi, landasan tentang apa yang dikaji oleh pengetahuan b. Landasan epistemology, landasan tentang bagaimana cara pengetahuan diperoleh c. Landasan aksiologi, landasan tentang kebermaknaan pengetahuan itu terhadap kehidupan, dengan kata lain untuk apa pengetahuan tersebut 2. Jenis-jenis Pengetahuan Berdasarkan cara kerja yang dipakai dalam memperoleh dan mempertanggungjawabkan kebenarannya serta berdasarkan perbedaan objek yang yang menjadi bahan kajiannya, pengetahuan dibedakan menjadi : a. Pengetahuan ilmiah / ilmu Merupakan pengetahuan yang diperoleh dan dipertanggungjawabkan kebenarannya secara ilmiah atau dengan menerapkan cara kerja ilmiah atau metode ilmiah. b. Pengetahuan Moral Dalam pengetahuan ini, tidak ada klaim kebenaran yang absah. Penilaian dan putusan moral pada dasarnya berakar pada latar belakang budaya seseorang. Terdapat dua penilaian kebenaran dalam pengetahuan moral; Relativisme , penerimaan kebenaran penilaian dan putusan moral yang bersifat relatif terhadap kebudayaan tempat penilaian dan putusan moral itu dibuat Nonkognitivisme, penilian dan putusan moral tidak termasuk wacana yang mau menegaskan benar-salah , tetapi bermaksud mengungkapkan perasaan atau sikap penilai maupun pendengar terhadap kebudayaan tempat orang lahir dan dibesarkan c. Pengetahuan Religius Pengetahuan yang kebenarannya tidak dapat ditentukan benar-salahnya baik secara apriori (pengetahuan pra pengalaman) berdasarkan penalaran logis maupun secara aposteriori (pengetahuan purna pengalaman) berdasarakan pengalaman. Kebenaran pengetahuan ini di luar lingkup pengetahuan manusia. 3. Pengetahuan, Ilmu dan Seni A. Ilmu Ilmu merupakan pengetahuan ilmiah. Ilmu mempelajari alam sebagaimana adanya dan terbatas pada lingkup pengalaman kita. Pengetahuan dikumpulkan oleh ilmu dengan

tujuan untuk menjawab permasalahan kehidupan manusia dan untuk menawarkan kemudahan. Ilmu merupakan pengetahuan ilmiah yang diperoleh dengan cara tertentu yang disebut metode ilmiah Cara mendapatkan ilmu: a. Mencari tahu bagaimana sesuatu itu bisa terjadi (menguasai pengetahuan yang menjelaskan peristiwa itu terjadi). Penelaahan diarahkan pada hubungan berbagai faktor yang terikat dalam suatu konstelasi yang menyebabkan timbulnya suatu gejala dan proses atau mekanisme terjadinya gejala itu. b. Menafsirkan gejala-gejala fisik dan mekanisme yang mengaturnya. c. Mengembangkan pengetahuan yang mempunyai kegunaan yang praktis, yang didasari pada penafsiran terhadap alam. B. Seni Seni merupakan pengetahuan yang mencoba mendeskripsikan sebuah gejala dengan sepenuh-penuhnya makna. Seni adalah produk dari daya inspirasi dan daya cipta manusia yang bebas dari cengkraman dan belenggu berbagai ikatan (Mochtar Lubis. 1978) C. Perbedaan Seni dengan Ilmu 1. Ilmu mencoba mengembangkan sebuah model yang sederhana mengenai dunia empiris dengan mengabstraksikan realitas menjadi variabel yang terikat dalam sebuah hubungan yang bersifat rasional, sedangkan seni mencoba mengungkapkan obyek penelahan itu sehingga menjadi bermakna bagi pencipta dan mereka yang meresapinya melalui berbagai kemampuan manusia untuk menangkapnya, seperti pikiran, emosi dan panca indera. 2. Ilmu mencoba mencarikan penjelasan mengenai alam menjadi kesimpulan yang bersifat umum dan impersonal (tidak mengenai orang tertentu), sedangkan seni bersifat individual dan personal dengan memusatkan perhatiannya pada pengalaman hidup manusia perseorangan Seiring perkembangan pengetahuan manusia yang mencoba menafsirkan dunia yang terlepas dari belenggu mitos, muncul pengetahuan yang disebut seni terapan, yan mempunyai kegunaan langsung daam kehidupan badani manusia sehari-hari. Seni terapan ini bersifat deskriptif dan fenomenologis(proses pengkajian menitikberatkan pada penyelidikan gejala-gejala yang bersifat empiris tanpa kecenderungan untuk pengembangan postulat yang bersifat teoritis atomistis), terbatas (tidak menunjang berkembangnya teori-teori umum). 4. Metode Ilmiah Metode ilmiah merupakan prosedur yang digunakan dalam mendapatkan yang disebut ilmu yang berupa langkah-langkah tertentu. Metode ilmiah menjadi syarat bagi suatu pengetahuan agar dapat disebut sebagai ilmu. Dengan metode ilmiah, diharapkan pengetahuan

mempunyai karakteristik tertentu yang diminta oleh pengetahuan ilmiah, yaitu sifat rasional dan teruji yang memungkinkan pengetahuan yang disusun merupakan pengetahuan yang dapat diandalkan. A. Sifat metode ilmiah - Sistematik, berisi langkah-langkah/kegiatan yang tersusun dalam urutan yang teratur. - Eksplisit, tidak terselubung, sifat ini memungkinkan terjadinya komunikasi yang intensif dalam kalangan masyarakat keilmuan. B. Cara berpikir metode ilmiah Dalam menyusun pengetahuan, metode ilmiah mengembangkan dua cara berpikir, a. Berpikir deduktif, Cara berpikir yang memberikan sifat rasional kepada pengetahuan ilmiah dan bersifat konsisten dengan pengetahuan yang yang telah dikumpulkan sebelumnya. Penjelasan yang bersifat rasional dengan kriteria kebenaran koherensi ini (suatu pernyataan benar, jika pernyataan tersebut obyektiv dan reliabel), tidak memberikan kesimpulan yang bersifat final, sebab sesuai dengan hakikat rasionalisme yang bersifat pluralistic, dimungkinkan disusunnya berbagai penjelasan tentang suatu obyek . b. Berpikir induktif, Cara berpikir yang berdasarkan kriteria kebenaran korespondensi (suatu pernyataan dianggap benar, bila materi yang terkandung dalam pernyataan tersebut bersesuaian dengan obyek faktual yang dituju). C. Langkah-langkah Metode Ilmiah Alur berpikir yang tercakup dalam metode ilmiah (logico-hypothetico-verifikasi) dapat dijabarkan dalam beberapa langkah yang mencerminkan tahap-tahap dalam kegiatan ilmiah, langkah-langkah tersebut adalah: a. Perumusan masalah Pertanyaan mengenai obyek empiris yang jelas batas-batasnya serta dapat diidentifikasikan faktor-faktor yang terkait didalamnya b. Penyusunan kerangka berpikir dalam pengajuan hipotesis Argumentasi yang menjelaskan hubungan yang mungkin ada antara berbagai faktor yang saling mengkait dan membentuk konstelasi permasalahan. Disusun secara rasional berdasarkan premis-premis ilmiah yang telah teruji dengan memperhatikan faktor-faktor empiris yang relevan

c. Perumusan hipotesis Jawaban sementara atau dugaan terhadap pertanyaan yang diajukan, materinya merupakan kesimpulan dari kerangka berpikir yang dikembangkan d. Pengujian hipotesis Pengumpulan fakta-fakta yang relevan dengan hipotesis yang diajukan untuk memperlihatkan ada/tidaknya hubungan antara fakta-fakta yang mendukung hipotesis. Dalam pengujian hipotesis,dilakukan hal-hal berikut: 1. Menyatakan asumsi-asumsi penelitian. Asumsi merupakan landasan dasar yang memberikan petunjuk penafsiran kesimpulan yang akan didapat. Sebagai contoh, jika melakukan penelitian tentang kecepatan membaca siswa SD, maka Asumsinya semua siswa SD dapat membaca 2. Membuat rancangan penelitian. Rancangan penelitian merupakan suatu bentuk strategi mengatur latar penelitian agar peneliti memperoleh data yang valid sesuai dengan karakteristik variabel dan tujuan penelitian sehingga mendapatkan validitas internal yang maksimal. Validitas internal adalah mempertanyakan apakah faktor-faktor penyebab (variabel bebas) benar-benar memberikan perubahan terhadap faktor akibat (variabel terikat) 3. Menetapkan populasi dan sampel Langkah ini merupakan strategi pengaturan latar penelitian agar peneliti memperoleh jumlah data yang memadai sesuai dengan karakteristik variabel dan tujuan penelitian sehingga mendapatkan validitas eksternal yang maksimal. Validitas eksternal mempertanyakan efek keluar dari kesimpulan yang akan diperoleh, apakah berlaku secara loka, regional atau universal. 4. Mengembangkan instrumen penelitiankan Merupakan strategi untuk mendapatkan data yang benar sehingga mendapatkan hasil pengujian hipotesisi yang maksimal 5. Menetapkan metode pengumpulan data Adalah metode tentang bagaimana cara untuk mendapatkan data yang sesuai dengan tujuan penelitian. Apakah melalui eksperimen, wawancara, angket dll 6. Pemilihan cara analisa data Langkah ini merupakan salah satu langkah penting yang mengarahkan peneliti kepada penarikan kesimpulan yang benar, sesuai dengan tujuan penelitian yang dilakukan dan berhubungan dengan hipotesis yang telah diajukan. e. Penarikan kesimpulan Penilaian apakah hipotesis yang diajukan diterima atau ditolak. Hipotesis yang diterima dianggap menjadi bagian dari pengetahuan ilmiah, karena telah memenuhi persyaratan keilmuan: (a) kerangka penjelasan yang konsisten dan (b) teruji kebenarannya(secara pragmatis).

Dalam http://www.sciencebuddies.org/science-fair mengungapkan bahwa langkahlangkah metode ilmiah sebagai berikut:

a. Ask a question, Metode ilmiah dimulai dengan mengajukan pertanyaan tentang sesuatu yang di amati: Bagaimana, Apa, Kapan, Siapa, Mengapa, atau mana?. Dan, agar metode ilmiah dapat menjawab pertanyaan itu, pertanyaannya harus tentang sesuatu yang dapat diamati dan diukur b. Do Background Research, Dari awal dalam menyusun rencana untuk menjawab pertanyaan dengan menggunakan penelitian kepustakaan dan Internet untuk membantu menemukan cara terbaik untuk melakukan hal-hal dan memastikan bahwa tidak mengulangi kesalahan dari masa lalu. c. Construct a Hypothesis, Hipotesis adalah dugaan yang dibuat tentang bagaimana sesuatu bekerja: "Jika _____[ saya melakukan] ini _____, kemudian _____[ini ]_____ ini akan terjadi." Anda harus menyatakan hipotesis Anda dengan cara yang Anda dapat dengan mudah mengukur, dan tentu saja, hipotesis Anda harus dibangun dengan cara untuk membantu Anda menjawab pertanyaan asli Anda.

d. Test Your Hypothesis by Doing an Experiment, Tes percobaan Anda apakah hipotesis Anda benar atau salah. Hal ini penting untuk percobaan Anda untuk menjadi ujian yang adil. Anda melakukan tes adil dengan

memastikan bahwa Anda mengubah hanya satu faktor pada waktu saat menjaga semua kondisi lain yang sama. Anda juga harus mengulang percobaan beberapa kali untuk memastikan bahwa hasil pertama bukan hanya kecelakaan. e. Analyze Your Data and Draw a Conclusion, Setelah percobaan selesai, Anda mengumpulkan pengukuran dan analisis mereka untuk melihat apakah hipotesis Anda benar atau salah. Para ilmuwan sering menemukan bahwa hipotesis mereka adalah palsu, dan dalam kasus seperti itu mereka akan membangun hipotesis baru memulai seluruh proses metode ilmiah lagi. Bahkan jika mereka menemukan bahwa hipotesis mereka benar, mereka mungkin ingin menguji lagi dengan cara baru. f. Communicate Your Results, Untuk menyelesaikan proyek ilmu pengetahuan adil Anda, Anda akan mengkomunikasikan hasil-hasil Anda kepada orang lain dalam laporan akhir dan / atau papan layar. Profesional ilmuwan melakukan hampir semua hal yang persis sama dengan menerbitkan laporan akhir mereka dalam jurnal ilmiah atau dengan menyajikan hasil mereka pada poster di pertemuan ilmiah. 5. Struktur Pengetahuan ilmiah Secara umum ilmu pengetahuan ilmiah berfungsi untuk: 1. Menjelaskan a. Deduktif Mempergunakan cara berpikir deduktif dalam menjelaskan suatu gejala dengan menarik kesimpulan secara logis dari premis-premis yang telah ditetapkan sebelumnya b. Probabilistik Penjelasan yang ditarik secara induktif dari sejumlah kasus yang dengan demikian tidak memberikan kepastian seperti penjelasan deduktif c. Fungsional Penjelasan yang meletakan sebuah unsur dalam kaitannya dengan sistem secara keseluruhan yang mempunyai karakteristik /arah perkembangan tertentu d. Genetik Mempergunakan faktor-faktor yang timbul sebelumnya dalam menjelaskan gejala yang muncul kemudian 2. Meramalkan Meramalkan probabilitas yang akan terjadi dengan memperhatikan faktor-faktor atau data yang telah ada yang berkaitan dengan gejala yang diamati 3. Mengontrol Dengan memanfaatkan data dan fakta yang ada, pengetahuan ilmiah bisa melakukan pengontrolan terhadap gejala alam

Struktur pengetahuan ilmiah terdiri dari : A. Hukum Hukum merupakan suatu pernyataan yang menyatakan hubungan sebab-akibat dan bentuk hubungan yang bukan sebab-akibat yang telah teruji kebenarannya. Pernyataan yang menyatakan hubungan antara dua variabel atau lebih dalam suatu kaitaan sebab akibat 1. Sifat bersifat universal, dapat digunakan untuk meramalkan, berlaku pada kondisi terbatas (berlaku jika kondisi terpenuhi)

2. Fungsi (dalam ilmu alam) - Mengungkapkan suatu kenyataan tentang hubungan antara fakta dan gejala alam - Untuk meramalkan gejala alam B. Teori Kerlinger (1973) dalam Hedi Sutomo (2009) mengatakan bahwa teori seperangkat konstruk (konsep), definisi dan proposisi (usul) yang saling berkaitan yang menyajikan suatu pandangan yang sistematis dari fenomena dengan mengungkapkan adanya hubungan yang spesifik antar variabel dengan tujuan untuk menjelaskan dan meramalkan fenomena tersebut. Pengetahuan ilmiah yang mencakup penjelasan mengenai suatu faktor tertentu dari sebuah disiplin keilmuan, terdiri dari hukum-hukum 1. Fungsi: - Menjelaskan - Memahamkan - Meramalkan 2. Perbedaan hukum dan teori - Hukum bertolak dari suatu kenyataan, sedangkan teori dapat melayang di atas kenyataan dengan menggunakan logika deduksi. Teori dapat menambah keterangan yang diungkapkan hukum - Hukum merupakan suatu kenyataan, sedangkan teori menjelaskan mengapa kenyataan itu terjadi - Hukum bukan suatu penjelasan dn tidak bertujuan untuk menjelaskan, sedangkan teori bertujuan untuk menjelaskan C. Postulat atau asumsi Adalah anggapan dasar yang sudah dianggap benar, sehingga kebenaran tersebut tidak dipertanyakan lagi. Suatu pernyataan dapat diterima sekiranya bertumpu kepada postulat , kebenarannya dapat dibuktikan D. Prinsip atau Azas Prinsip merupakan suatu pernyataan yang mengandung kebenaran yang bersifat mendasar dan berlaku umum. Prinsip melandasi kebenaran suatu hukum.

Pernyataan yang berlaku secara umum bagi sekelompok gejala-gejala tertentu yang mampu menjelaskan kejadian yang terjadi. Menjelaskan pengertian efisiensi dan mengembangkan berbagai tekhnik untuk meningkatkan efisiensi

Kesimpulan 1. Epistemologi merupakan cabang filsafat yang mempelajari cara mendapatkan ilmu pengetahuan yang benar 2. Metode ilmiah adalah langkah-langkah/ prosedur yang digunakan dalam mendapatkan ilmu, yang berupa: a. Perumusan masalah b. Perumusan kerangka berpikir dalam menyusun hipotesis c. Pengajuan hipotesis d. Pengujian hipotesis e. Penarikan kesimpulan 3. Struktur pengetahuan terdiri dari : a. Hukum b. Teori c. Postulat d. Prinsip Saran 1. Dalam mencari pengetahuan ilmiah, sebaiknya di awali dengan keraguan akan segala sesuatu, sehingga melahirkan motivasi untuk bertanya. 2. Pembahasan dalam makalah ini sangat terbatas, perlu kiranya dilakukan kajian pustaka yang lebih banyak lagi sehingga kita mendapatkan pemahaman yang lebih dalam (deepunderstanding) tentang hal-hal yang dibahas dalam makalah ini.

DAFTAR PUSTAKA 1. Jujun, S. 2007. Filsafat Ilmu, Sebuah Pengantar Populer. Jakarta : Pustaka Harapan 2. Noor Syam, Muhammad. 2006. Filsafat Ilmu. Malang : FIP UM 3. Sudarminta, J. 2002. Epistemologi Dasar, Pengantar Filsafat Dasar. Yogyakarta : Kanisius 4. Sutomo, Hedi.2009. Filsafat Ilmu Kealaman dan Etika Lingkungan. Malang : UM 5. Tafsir, Ahmad. 2007. Filsafat Ilmu, mengurai Ontologi, Epistimologi dan aksiologi Pengetahuan. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya 6. Zainudin, M. 2006. Filsafat Ilmu, Jakarta: Lintas 7. http://www.sciencebuddies.org/science-fair (diakses tgl 24 September 2010 jam. 20.13 WIB)

8. http://www.blogger.com/profile/03249547895308622683noreply@blogger.com. (diakses tgl 26 September 2010 jam. 19.30 WIB)